Eksposisi Injil Matius 18: LIFE-COMMUNITY OF THE KINGDOM OF HEAVEN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

July 13th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah: 01 Juni 2008

Life-community of the Kingdom of Heaven

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 18:1-5

Khotbah minggu ini membahas tentang Matius 18. Pada minggu-minggu yang lalu kita telah membahas tentang Matius 17 yang bertemakan IMAN. Iman yang sejati adalah reaksi yang benar kepada objek iman yang benar yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita memiliki reaksi yang benar tapi bukan kepada objek iman yang benar atau sebaliknya, maka itu tidak bisa disebut sebagai iman yang benar. Reaksi para murid tidak seperti yang Kristus inginkan, sehingga perlu masuk ke dalam pembahasan lebih lanjut dalam Matius 18.

Menurut John Nolland, tema pembahasan Matius 18 merupakan kelanjutan dari Matius 17 yaitu bagaimana kita hidup kembali kepada apa yang Tuhan inginkan sehingga kita bisa hidup dalam suatu komunitas iman. Sedangkan Leon Morris mengatakan bahwa tema yang tepat dari Matius 18 adalah bagaimana kita hidup dalam komunitas kehidupan Kerajaan Surga.

Orang yang hidup dekat dengan Kristus ternyata tidak sama dengan hidup berbagian di dalam Kristus. Para murid yang hidup dekat dengan Kristus, ketika tidak memiliki konsep hidup yang benar, mereka menjadi tidak berbagian di dalam Kristus. Kita harus mengejar hidup bukan sekedar dekat dengan Kristus tetapi bagaimana berbagian di dalam Kristus atau di dalam Kerajaan Surga. Hidup di dalam komunitas Kerajaan Surga ternyata tidaklah mudah, kita harus mengalami koreksi total seluruh pola pikir kita, seluruh cara kita, seluruh apa yang kita hidupi, semuanya terbalik total.

Matius 18:1-5 ini merupakan titik tolak bagaimana kita hidup berbagian di dalam Kerajaan Surga. Diceritakan dalam Matius 18:1 bahwa ketika Tuhan Yesus sampai di Kapernaum, Tuhan Yesus mendapat satu pertanyaan klasik yang terus dipertanyakan sejak 2000 tahun yang lalu hingga saat ini yaitu: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Pertanyaan ini ada di benak semua murid bahkan juga di dalam benak orang Kristen abad ini. Orang selalu ingin untuk menjadi yang terbesar. Murid-murid selalu berusaha dan bersaing untuk menjadi yang terbesar. Kita juga sering dipacu dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar. Ambisi ini akan memukul dan mencelakakan diri sendiri, karena kehidupan anak Tuhan ditetapkan bukan untuk menjadi yang terbesar.

3 hal yang perlu dipikirkan mengenai keinginan untuk menjadi yang terbesar yaitu :

1. Sesuaikah dengan kehendak Tuhan?

Waktu ingin menjadi yang terbesar, kita tidak pernah memikirkan apakah hal ini sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Menjadi yang terbesar bukanlah keinginan Allah Sang Pemilik Kerajaan Surga, jadi kalau kita berkeinginan menjadi yang terbesar berarti kita sudah berlawanan dengan Allah.

Pergumulan yang paling serius dalam kehidupan orang Kristen adalah pertentangan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Ketika kita mengutamakan ambisi kita, kita akan menjadi orang yang tidak pernah dapat taat kepada Tuhan, kita tidak peduli kepada kehendak Tuhan. Ambisi seperti ini memposisikan kita sebagai lawan Allah. Kalau Allah mau kita ke kanan, kita mau ke kiri; kalau Allah mau kita maju, kita malah mundur.

Manusia ingin menjadi yang terbesar karena manusia ingin menggantikan posisi Tuhan. Inilah yang dikatakan sebagai dosa. Di era new age ini, manusia menyatakan diri sebagai allah; Allah itu tidak ada, kalaupun ada Allah, Allah yang harus taat kepada manusia. Kalau manusia bersikap seperti ini, manusia tidak dapat berbagian dalam Kerajaan Surga. Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Surga (Matius 7:21).

Kalau kita bisa taat, sejalan dengan kehendak Tuhan, itulah ciri bahwa kita berbagian di dalam Kerajaan Surga. Berbagian di dalam Kerajaan Surga berarti kita percaya penuh kepada Kristus, kita menjadikan Kristus sebagai raja yang berotoritas penuh atas hidup kita. Banyak orang yang mengaku percaya kepada Kristus tapi sebenarnya tidak percaya karena orang tersebut tidak mempedulikan dan melakukan apa yang Kristus inginkan tetapi hanya menuruti keinginan diri. Percaya yang dituntut oleh Kristus adalah percaya yang disertai dengan ketaatan mutlak kepada Kristus, bersikap sebagai budak di hadapan Kristus.

2. Menjadi terbesar di tempat yang terbesar.

Manusia menginginkan bukan sekedar menjadi yang terbesar tapi juga berada dalam tempat yang terbesar, bukan sekedar di dunia tapi juga di Kerajaan Surga. Banyak orang Kristen yang konsepnya sangat duniawi, sangat humanis, yang menghantar kita masuk ke dalam era

dispensasional. Aliran dispensasi ini mengajarkan bahwa nanti waktu Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya ke dalam dunia ini, Dia akan duduk di singgasana di Yerusalem sebagai raja, umat Tuhan juga akan turut memerintah sebagai punggawa-punggawaNya atas orang-orang kafir; orang Kristen akan menjadi orang yang berkuasa, menjadi pemimpin atas dunia ini. Konsep eskatologi ini sangat diterima oleh mayoritas orang Kristen karena cocok dengan ambisi manusia untuk menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Tuhan Yesus justru mengajarkan bahwa untuk menjadi yang terbesar harus menjadi yang terkecil.

3. Gereja memotivasi untuk menjadi yang terbesar.

Gereja juga ingin menjadi yang terbesar. Ajaran yang memotivasi diri untuk menjadi yang terbesar diajarkan di gereja-gereja. Ajaran Tuhan diputarbalik menjadi ajaran yang berbau  psikologi, hedonisme modern, humanis. Gereja tidak lagi mengajarkan bagaimana kita harus merendahkan diri dan taat kepada Tuhan tetapi justru mengajarkan bagaimana kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Kita beriman, maka apa yang kita inginkan akan tercapai.

Celakalah kita kalau sudah bertahun-tahun ke gereja tapi nantinya dibuang ke neraka. Jalan yang lebar, arus yang besar justru menuju ke neraka, sedangkan jalan yang sempit, pintu yang sempit yang menuju ke Surga.

Apa yang dipandang sebagai sukses oleh dunia bukanlah sukses menurut kacamata kekristenan yang asli. Apa yang hebat menurut dunia adalah kehinaan menurut kekristenan yang asli. Sukses bukan ketika apa yang kita inginkan tercapai tetapi sukses adalah waktu kita menjalankan apa yang Tuhan inginkan, hidup yang menggenapkan rencana Allah, sampai nanti waktu kita berjumpa dengan Tuhan kita akan mendengar Dia berkata :”Masuklah hambaKu yang setia, mari ikut ke dalam perjamuanKu.” Semua sukses duniawi kalau tidak kembali kepada Tuhan hanya akan berakhir kepada kebinasaan.

Matius 18:2 menceritakan bahwa Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan pada Matius 18:1 tetapi Tuhan Yesus memanggil seorang anak kecil. Di sini Tuhan Yesus ingin mengajarkan sesuatu yang penting. Anak kecil di ayat di atas menggunakan kata “infant” yang berarti bayi, tapi dalam konteks ayat ini anak kecil pasti bukan bayi karena dapat dipanggil oleh Tuhan Yesus, jadi perkiraan umur anak kecil tersebut di bawah lima tahun. Anak kecil ini menjadi alat peraga atau contoh dari pengajaran yang hendak disampaikan oleh Tuhan Yesus. Para murid seharusnya sadar bahwa konsep untuk menjadi yang terbesar adalah salah dengan dipanggilnya seorang anak kecil ini.

Dalam Matius 18:3 Tuhan Yesus menyerukan kepada para murid untuk bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini untuk bisa berbagian dalam Kerajaan Surga. Arti kata bertobat di sini adalah bukan sekedar percaya kepada Tuhan Yesus (kata: metanoia) tetapi kata yang dipakai dalam ayat di atas adalah stravein yang berarti diputar balik 180 derajat. Bertobat yang dimaksud di sini adalah putar arah, seluruh format hidup kita harus diputar balik, kalau kita semula ingin menjadi yang terbesar harus berubah menjadi: ingin menjadi yang terkecil. Menjadi yang terkecil ini sepertinya meniadakan harga diri. Orang dunia sangat sulit untuk bisa meniadakan nilai diri ini, orang tidak bisa terima kalau dianggap tidak ada apa-apanya, orang mau menjadi yang terbesar. Justru kekristenan yang asli menuntut kita untuk menjadi tidak ada apa-apanya. Putar arah nilai hidup kita.

Kita seringkali terjepit dengan konsep nilai diri. Orang yang jujur sulit untuk menjadi kaya, orang yang tidak kaya (tidak memiliki mobil mewah) tidak dihargai oleh orang lain; sedangkan orang yang korupsi akan menjadi kaya (memiliki mobil mewah) dan dihormati oleh orang lain. Bagaimana seharusnya kita memberikan penilaian diri yang tepat, pada sesuatu yang ditempelkan pada dirikah atau pada esensi dari diri. Manusia berdosa dinilai oleh iblis. Putar arah nilai kita untuk dapat berbagian dalam Kerajaan Surga.

Tahun lalu ada satu seminar yang berjudul “The Up Side Down World” (dunia yang terbalik). Dunia, uang, diri menjadi di atas, Tuhan yang di bawah; Allah dipermainkan menjadi alat. Keadaan seperti ini sebenarnya bukan up side down world tetapi up side down self (diri yang terbalik). Allah tetap di atas karena esensinya memang di atas, Allah tidak bisa berada di bawah. Waktu diri kita terbalik, yang kita lihat di atas adalah setan, dunia, dan uang, yang kita lihat di bawah adalah Tuhan. Waktu itu, di kala kita merasa maju justru kita sebenarnya mundur dan menuju kematian. Jalan satu-satunya supaya kita bisa naik adalah kita harus putar balik. Hanya saja, waktu kita putar balik, kita akan ditertawakan oleh dunia yang orang-orangnya mayoritas terbalik karena sudut pandangnya dari mayoritas. Mari kita balik arah, tidak menuju kepada kebinasaan.

Orang yang mau berbagian dalam Kerajaan Surga adalah orang yang mau menjadi yang terkecil, yang sangat bergantung seperti seorang anak kecil. Seorang anak kecil merasa dirinya lemah, perlu bantuan orang tuanya atau orang lain, perlu percaya kepada orang lain. Kalau seorang anak kecil tidak dapat menemukan orang yang dapat dipercayai, yang dapat dijadikan pegangan, dia akan bertumbuh menjadi orang yang merasa tidak perlu orang lain dan akhirnya merasa tidak perlu Tuhan. Dia sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa konsultasi dengan orang tua, semuanya tergantung pada pikirannya sendiri, di dalam kekristenanpun dia akan berjalan menurut pikirannya sendiri dan tidak peduli kepada Tuhan.

Apakah ketika kita merasa lemah seperti seorang anak kecil berarti kita kehilangan nilai diri? Matius 18:4 mengajarkan bahwa barangsiapa yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Point yang terpenting di sini adalah merendahkan diri, menjadi tidak ada apa-apanya. Dunia mengejar kesombongan diri, merendahkan diri merupakan kelemahan bagi dunia. Dunia memotivasi orang untuk meninggikan diri, mengangkat diri, meninggikan nilai diri, sedangkan kekristenan mengajar orang untuk merendahkan diri, manusia tidak memiliki apa-apa yang patut dibanggakan, semua manusia sudah berdosa. 2 nilai ini begitu berlawanan.

Manusia sangat peduli dengan nilai diri, dengan kesombongan diri, tapi di sisi lain manusia juga benci dengan orang yang sombong. Orang yang sering mengatai orang lain sombong adalah orang yang paling sombong. Kenapa kita harus pusing kalau ada orang lain yang sombong, itu menunjukkan bahwa kita lebih sombong; kalau kita tidak ada apa-apanya, kita tidak akan pusing kalau orang lain sombong. Kita harus bisa merendahkan diri yaitu menempatkan diri di posisi yang sebenarnya yaitu sebagai manusia berdosa, yang rendah, yang bisa hidup hanya karena anugerah Tuhan.

Kalau orang dunia merendahkan diri, dia akan habis; tapi kalau anak Tuhan yang merendahkan diri, Tuhan akan semakin ditinggikan, Tuhan akan semakin pakai kita. Waktu kita merendahkan diri sekecil-kecilnya, kita akan bisa mentaati Tuhan sebesar-besarnya. Contoh dalam Alkitab : Saulus memiliki ambisi rohani yang luar biasa besar untuk menghabisi orang Kristen, ketika Tuhan mencelikkan dia, dia merasa ambisinya tidak berarti apa-apa, dia berganti nama menjadi Paulus. Saulus berarti si besar, Paulus berarti si kecil. Waktu menjadi Paulus, dia sangat dipakai Tuhan.

Waktu kita merendahkan diri, Tuhan akan pakai kita sehingga hidup kita bukan untuk aktualisasi diri tapi untuk aktualisasi rencana Allah. Waktu kita membiarkan Tuhan membentuk dan mengarahkan hidup kita, hidup kita baru menjadi besar dan memiliki nilai. Tapi jangan kita jatuh ke dalam kesalahan sebaliknya yaitu kita mengecilkan diri untuk menjadi besar, ini motivasi yang salah. Kita juga seringkali ingin meniru kehebatan seseorang seperti Paulus tapi kita lupa untuk meniru bagaimana Paulus mengecilkan diri. Orang yang besar di mata Tuhan adalah orang yang berhasil mengecilkan diri.

Kita dituntut bukan merendahkan diri hanya sebatas diri, hanya untuk kepentingan diri, hanya untuk membentuk diri tapi supaya kita juga dapat menolong orang lain. Orang berusaha menempatkan diri di posisi atas supaya bisa memakai orang lain, inilah kebrengsekan manusia.

Matius 18:5 mengatakan bahwa barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama Tuhan, ia menyambut Tuhan. Banyak orang tidak menghargai anak kecil, anak kecil dianggap sebagai aset semata. Para murid juga tidak menghargai anak kecil, anak kecil dianggap mengganggu dan bikin repot, Tuhan Yesus tidaklah demikian. Banyak orang juga seperti para murid, memandang orang lain hanya sebatas manfaat, apakah memberikan manfaat atau tidak bagi diri kita, karena orang hanya mau mendapatkan sesuatu tanpa mau berbagi sesuatu. Ketika akan melayani juga menanyakan apa manfaat yang diperoleh, pelayanan yang tampil di depan publik itu yang banyak disukai orang. Sebagai anak Tuhan kita seharusnya memandang orang lain dari esensi hidupnya bukan dari ekstensi hidupnya (semua yang nempel di permukaan). Mari kita meneladani Kristus yang mau datang dan mati untuk orang berdosa, Dia begitu menghargai kita.

Jadi untuk dapat berbagian dalam komunitas Kerajaan Surga kita harus bertobat, dalam arti putar arah nilai hidup kita, merendahkan atau mengecilkan diri, dan menjadi seperti anak kecil yang percaya penuh dan bergantung sepenuhnya hanya pada Tuhan Yesus. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080601.htm

Eksposisi Injil Matius 17: IMAN BUKAN KEBIASAAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

July 7th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 25 Mei 2008

 
   
      

   

 

      

Iman
Bukan Kebiasaan

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius
17:24-27

 

   
 

 

Tema yang hendak
disampaikan dalam Matius 17 adalah tentang IMAN. Iman sejati adalah reaksi yang
tepat kepada Kristus sebagai objek iman yang sejati. Banyak penafsir beranggapan
bahwa  Matius 17:24-27 adalah berbicara mengenai bea Bait Allah. Kalau memang
demikian, berarti pembahasan ayat di atas lepas dari tema IMAN yang sedang
dibahas pada ayat-ayat sebelumnya.

Matius 17:1-13 membahas
tentang bagaimana kita seharusnya beriman yaitu dengan mendengarkan Kristus
kemudian taat kepada Dia. Iman sejati mempunyai 2 unsur yaitu reaksi yang tepat
dan objek iman yang benar dan tepat yaitu Kristus. Kalau hanya terpenuhi 1 unsur
saja maka dapat dikatakan bukan merupakan iman sejati.

Matius 17:14-21
membahas tentang iman bukan dilihat dari besar atau kecilnya iman. Iman
dikatakan besar atau kecil hanya dalam hal pertumbuhan iman, yaitu bagaimana
kita semakin mengerti iman kita, seharusnya kita semakin taat dan setia kepada
Kristus.  Masalah yang utama adalah punya iman atau tidak. Kalau punya iman,
walau sebiji sesawi pun akan sanggup memindahkan gunung. Kalau kita taat kepada
Kristus sebagai objek iman sejati maka kita akan berhasil, bukan karena kita
yang hebat tapi karena Kristus sendiri yang bekerja; tapi kalau kita menuruti
ambisi diri maka kita akan gagal dan hancur. Kalau Tuhan yang mau, maka jadilah.

Matius 17:22-23
membahas tentang implikasi iman dalam hidup kita. Problem iman yang besar adalah
bagaimana kita bereaksi kepada Kristus yang adalah Mesias dan Anak Allah yang
hidup. Dalam ayat di atas diceritakan bahwa murid-murid Tuhan Yesus masih belum
bisa percaya bahwa salib adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, salib
adalah satu-satunya jalan mengatasi problema dosa.

Matius 17:24-27 bukan
membahas tentang bea Bait Allah, tetapi membahas tentang di mana letak
permasalahannya dan bagaimana caranya supaya kita bisa beriman dengan tepat.

1.
Dengan iman yang tepat kita akan bisa menerobos batas (break through)

Dalam Matius 17:24-27
diceritakan bahwa Petrus didatangi pemungut bea Bait Allah. Tidak jelas sejak
kapan bea ini menjadi sesuatu yang rutin dan wajib dikerjakan. Semula bea ini
merupakan persembahan untuk pendamaian nyawa (Keluaran 38:25-26). Persembahan
ini sebenarnya hanya sekali saja dilakukan, tapi dalam perjalanannya menjadi
iuran wajib. Hal seperti ini seringkali terjadi di dalam gereja, misalnya
persembahan persepuluhan yang semula merupakan komitmen kita untuk
mempersembahkan kepada Tuhan 10% dari berkat yang telah kita terima dari Tuhan
kemudian dijadikan iuran wajib oleh gereja. Bagaimana seharusnya reaksi yang
tepat terhadap hal seperti ini? Bagaimana kita bisa menghidupi reaksi yang tepat
kepada Tuhan dalam menghadapi setiap persoalan dalam hidup ini? Kalau kita tidak
bisa bereaksi dengan tepat kepada Tuhan maka kita akan bereaksi tidak tepat pula
(ngawur) terhadap dunia ini.

Cerita dalam Matius
17:24-27 ini dimulai dengan Tuhan Yesus dan murid-muridNya kembali ke Kapernaum,
yaitu markas Tuhan Yesus. Kapernaum adalah kota kecil di dekat Galilea tapi
tidak nempel dengan danau. Dugaan beberapa penafsir, Tuhan Yesus menginap di
rumah Petrus di Kapernaum, tapi agak sulit diterima kalau Petrus sebagai nelayan
tinggal di Kapernaum yang tidak nempel dengan danau, tapi mungkin juga Petrus
sudah tidak lagi menjadi nelayan. Petrus menjadi juru bicara Tuhan Yesus. Tuhan
Yesus sudah 3 tahun di Kapernaum, jadi orang-orang di Kapernaum pasti tahu Tuhan
Yesus. Konyolnya, pemungut bea tidak bertanya langsung kepada Tuhan Yesus tapi
bertanya kepada Petrus.

Ketika Petrus ditanya
apakah Gurunya membayar bea, dia menjawab dengan spontan, “Memang membayar.”
Jawaban spontan ini keluar karena hal membayar bea dianggap sebagai hal biasa.
Di dunia ini banyak orang yang hanya bisa menjadi ekor yang hanya mengikuti
orang lain tanpa alasan yang tepat tetapi hanya karena alasan “biasa”. Orang
yang “sukses” adalah orang yang bisa menerobos batas. Pembentuk trend adalah
orang yang tidak “biasa”, nanti akan ada yang menjadi pengikutnya.

Menerobos batas ada 2
macam yaitu :

  1. eksentrik (keluar
    dari pusat, arus putar ke luar), membentuk orang nyentrik, orang yang tambah
    gila, misalnya baju yang sebelah kiri warna hijau dan sebelah kanan warna
    merah.

  2. konsentrik (menuju
    ke pusat yaitu arus putar ke dalam). Orang Kristen seharusnya demikian,
    kalau dunia putar ke luar, kita putar balik ke dalam. Reformed Theology
    meneriakkan kembali kepada Alkitab, tambah hari tambah balik ke pusat yang
    asli yaitu kebenaran sejati. Konsentrik akan menjadikan kita  stabil,
    sedangkan eksentrik akan menjadikan kita labil dan bingung.

2.
Dengan iman yang tepat kita akan bisa memberikan jawaban yang tepat.

Dalam Matius 17:25
diceritakan bahwa Tuhan Yesus mendahului bertanya kepada Petrus sebelum Petrus
masuk ke rumah. “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini
memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Petrus menjawab,
“Dari orang asing!” Jawaban ini tidak cocok dengan jawaban Petrus kepada
pemungut bea. Berarti Petrus menjawab dengan ngawur, sehingga kepada tiap orang
jawabannya lain dan tidak sambung / bertentangan satu sama lain. Hal ini terjadi
karena reaksi Petrus kepada Kristus tidak tepat. Respon sejati seharusnya
dipikir baiik-baik, sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Kalau kita menjawab
karena takut kepada manusia dan ingin menyenangkan manusia maka jawaban kita
menjadi ngawur. Basis jawaban kita seharusnya berpusat kepada Kristus yang
berdaulat atas kita. Jangan asal jawab ! Iman sejati memberikan kepada kita
jawaban sejati.

Iman bukan hanya ada di
awang-awang tapi iman itu nyata, yaitu bagaimana kita menghadapi persoalan di
dunia ini, bagaimana kita bereaksi dengan tepat kepada Kristus ketika kita
menghadapi persoalan di dunia ini. Kalalu iman kita tepat maka jawaban kita juga
tepat.

Raja dunia kalau
menarik pajak dari siapa ? Petrus mengakui Kristus adalah Tuhan, Raja di atas
segala raja. Kalau memang demikian, seharusnya Petrus menjawab bahwa Tuhan Yesus
tidak perlu bayar bea, Dialah pemilik alam semesta ini, justru seharusnya
manusia yang harus bayar kepada Tuhan Yesus. Semua persembahan seharusnya
diberikan kepada Tuhan. Kita seringkali tidak menempatkan Kristus sebagai Allah
kita. Kalau ada yang tanya tentang Kristus, seharusnya kita jawab bahwa Dia
adalah Tuhan, Raja di atas segala raja. Kita seringkali takut menyatakan
kebenaran. Konsep tentang Allah adalah pemilik hidup kita seringkali tidak
diaplikasikan dalam hidup kita. Iman sejati adalah iman yang menyatakan siapakah
Kristus itu. Hampir seluruh kekristenan sudah salah memandang kepada Kristus.
Kristus diperlakukan sebagai pembantu, sebagai teman baik. Kristus adalah
satu-satunya objek iman yang patut kita pegang. Kalau kita berpegang kepada
Kristus kita tidak akan hanyut oleh arus dunia.

Bea Bait Allah sebesar
2 dinar adalah setara dengan gaji 2 hari kerja waktu itu, tidak terlalu besar.
Masalah besarnya uang 2 dinar tidaklah penting tapi yang penting adalah harus
bayar atau tidak. Respon kita benar atau tidak dalam hal ini. Petrus gagal
melihat bahwa Tuhan Yesus adalah Allah, sehingga orang lain juga hanya bisa
melihat Tuhan Yesus sebagai Guru bukan Tuhan. Seberapa jauh kita menjadi pembawa
berita kebenaran yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Raja di atas
segala raja?

3.
Dengan iman yang tepat kita akan melihat perubahan drastis.

Iman bukan sekedar
teori tapi terobosan yang dasyat di dalam bijaksana terbesar. Iman Kristen bukan
iman duniawi, memakai cara duniawi dengan format duniawi. Itu bukan iman
Kristen. Kekristenan asli adalah menerobos dengan iman sejati berdasarkan
bijaksana sejati.

Matius 17:27
memperlihatkan bijaksana yang dasyat dari Kristus. Petrus sadar dia sudah salah
jawab kepada pemungut bea. Dalam kondisi seperti ini, ada macam-macam pilihan
reaksi yang dapat timbul yaitu :

  1. Karena sudah berani
    bicara, maka harus lakukan, dalam hal ini bayar bea. Tetapi hal ini dapat
    berdampak buruk terhadap status  Tuhan Yesus. Dia yang adalah Allah, Raja di
    atas segala raja masakan dibayarkan oleh anak buah.

  2. Mencabut
    omongan, katakan kalau tidak mau bayar. Hal ini akan memalukan Petrus.

  3. Yesus yang bayarkan.
    Hal ini salah juga, karena Raja di atas segala raja seharusnya tidak perlu
    bayar.

Situasi ini cukup pelik.
Cara penyelesaian yang dilakukan Kristus adalah secara totalitas (keseluruhan),
merupakan cara neither nor. Kalau diberi pilihan a atau b, jawabnya adalah z.
Jangan mau di dikte. Tuhan kita adalah satu-satunya pemberi solusi terbaik,
jawaban terbaik. Waktu Kristus dihadapkan dengan perempuan yang berzinah, Dia
ditanya oleh orang banyak, perempuan itu harus dirajam atau tidak. Tuhan Yesus
dihadapkan pada 2 pilihan saja yaitu rajam atau tidak. Jawaban Yesus : siapa
yang tidak berdosa lempar batu pertama; Tuhan Yesus tidak dikunci oleh pilihan.

Jawaban Tuhan Yesus
atas persoalan yang dihadapi Petrus di atas adalah : Petrus harus jalan ke danau,
lalu mancing, di dalam mulut ikan pertama yang diperoleh ada uang 4 dirham,
pakai uang tersebut untuk bayar bea. Jadi yang bayarkan bea adalah ikan yang
dipakai Tuhan. Petrus tidak menjadi malu, Tuhan Yesus sebagai Raja di atas
segala raja juga tidak melakukan pembayaran.

Tuhan punya cara dan
sistim yang diluar pemikiran kita. Otak kita cuman 300 cc, tidak sanggup
memikirkan pemecahan persoalan dunia. Percayakan kepada Kristus, maka Dia yang
akan menyelesaikannya. Iman Kristen adalah realistis. Beriman kepada Kristus
berarti kita melakukan terobosan. Saat kita terjepit, Tuhan akan menaruh
perkataan dalam mulut kita. Allah memelihara kita  senantiasa (providensia
Allah). Cara kita sendiri tidak akan sanggup menyelesaikan masalah, perlu balik
kepada Tuhan sebagai bijaksana tertinggi. Dunia tidak butuh orang pintar tapi
butuh orang bijaksana yang setiap kali jalan berdasarkan ketaatan kepada
kehendak Tuhan. Mari kita pakai cara Tuhan. Kita harus kembali kepada Tuhan,
beriman kepada Tuhan.

Matius 17:27 meminta
kita untuk tahu bagaimana menyelesaikan pergumulan hidup, tahu bagaimana
bijaksana Tuhan menyelesaikan setiap persoalan, tahu beriman kepada Tuhan. Hal
ini akan membawa kita kepada kebahagiaan. Iman Kristen bukan hanya untuk hari
ini saja, tapi untuk seluruh perjalanan waktu hidup kita, kita harus jatuh
bangun dalam menghidupi iman kita, yang akan membawa kita semakin hari semakin
bersandar kepada Tuhan. Itulah pertumbuhan, itulah proses pengudusan
(sanctification). Amin 

?

 

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa
oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080525.htm

Eksposisi Matius 17:22-23: IMAN DAN REAKSI IMAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

June 30th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah: 18 Mei 2008

Iman dan Reaksi Iman

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 17:22-23

Tema totalitas dari Injil Matius adalah Kerajaan Surga. Kitab Injil ini isinya bersifat tematik, mulai dari Sang Raja hadir, Sang Raja bekerja, Sang Raja memberi aturan-aturan, Sang Raja melakukan manifestasi dari peraturan, Sang Raja membangun kerajaanNya dan reaksi-reaksi yang timbul.

Matius 16 berbicara tentang siapa Sang Raja itu, Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dalam Matius 17 dibahas tentang bagaimana kita hidup di hadapan Mesias, Anak Allah yang hidup itu, bagaimana kita beriman kepada Dia. Iman adalah bagaimana kita berespon dengan tepat kepada Allah yang hidup. Seorang beriman adalah bagaimana ia taat sebagai budak kepada Kristus Sang Raja. Jadi tema Matius 17 adalah IMAN.

Matius 17:22-23 merupakan salah satu bagian dari 4 kali pemberitahuan Kristus tentang penderitaanNya, kematianNya dan kebangkitanNya. Berita ini diulangi untuk yang kedua kalinya dalam ayat di atas. Beberapa penafsir setuju bahwa berita ini adalah suatu berita besar, dan merupakan berita sentral tentang misi utama Kristus datang ke dalam dunia. Kristus datang ke dalam dunia bukan sekedar untuk mengajarkan doktrin, bukan sekedar untuk menyembuhkan penyakit, bukan sekedar untuk mengusir setan dan bukan sekedar untuk melakukan mujizat. Misi Kristus adalah menegakkan Kerajaan Surga dan bagaimana orang kembali kepada Kristus.

Pada saat misi ini diungkapkan kepada murid-murid Tuhan, murid-murid menjadi kaget dan melakukan reaksi keras. Reaksi para murid yang diungkapkan dalam Matius 17 :22-23 ini adalah reaksi melankolis yaitu dikatakan bahwa hati murid-murid sedih sekali. Mari kita melihat suatu posisi paradoksikal bagaimana kita melihat berbagai hal yang terjadi di dunia ini, yaitu :

1.  Reaksi ini sangat manusiawi karena adalah sangat wajar kalau manusia menjadi sedih bila melihat orang yang sangat baik harus menderita.

Seringkali kita juga berpikir bahwa kalau kita hidup baik, tidak pernah membuat orang lain menderita, maka seharusnya kita tidak hidup menderita. Kalau kemudian kita menderita maka kita akan sedih sekali. Kristus tidak pernah mengajar kita bahwa kalau kita ikut Dia kita tidak akan menderita, justru Kristus mengajarkan bahwa murid-murid pun harus turut minum cawan penderitaanNya. Kondisi ini membuat orang menjadi sedih. Kondisi ini menunjukkan bahwa inilah dunia yang berdosa, dunia yang kejam.

Ketika Kristus berbuat baik, Dia mendapatkan reaksi yang sangat keras dari orang Farisi, para ahli taurat, para Sanhedrin, hingga mencapai puncaknya yaitu menyalibkan Kristus. Di tengah dunia ini, jangan mengira bahwa kalau kita berbuat baik maka kita akan mendapatkan reaksi yang baik dari orang lain. Ketika kita hidup suci, hidup benar, sekeliling kita justru akan mencemooh dan mencelakakan kita. Kristus telah menjadi contoh yang menunjukkan bahwa dunia ini adalah jahat.

Iman Kristen sejati bukan iman yang membawa kita keluar dari realita, melainkan akan menyadarkan kita akan realita dunia berdosa. Dunia berdosa sulit untuk bereaksi dengan benar. Kondisi dunia yang jahat ini dapat mendorong kita untuk ikut berbuat jahat.

Keadaan perekonomian dunia semakin hari semakin memburuk, hidup akan semakin sulit. Dalam kondisi yang demikian ini orang banyak yang ketakutan dan dapat berbuat nekat. Orang yang menderita akan benci terhadap orang lain yang hidupnya enak. Kebencian akan semakin mudah tersulut. Hal ini akan sangat mengerikan kalau kondisi ini masuk ke dalam kekristenan. Iblis sangat diuntungkan dengan kondisi seperti ini.

Sebagai anak Tuhan, kita jangan sampai bereaksi salah terhadap dunia ini. Janganlah kita menyalahkan Tuhan atas penderitaan hidup ini. Alkitab sudah membukakan bagi kita bahwa sebelum kita sengsara, Kristus sudah terlebih dahulu mengalami sengsara. Contohlah Kristus !

2.  Kesedihan murid-murid juga diakibatkan karena harapan mereka tidak menjadi kenyataan.

Harapan para murid adalah Kerajaan Surga seperti kerajaan dunia, bahkan first decree (dekrit pertama) mereka ini terus ada dalam pikiran mereka sampai menjelang Kristus akan naik ke surga. Harapan itu habis dengan kematian Kristus. Kesedihan karena hilangnya harapan adalah kesedihan yang tidak tepat.

Kita pun sering dipacu untuk memiliki pengharapan-pengharapan yang membuat kita semakin tidak bisa bersikap realis. Kegagalan kita seharusnya menyadarkan kita bahwa kita telah salah jalan, tapi justru kita seringkali memaksakan apa yang menjadi pengharapan kita, dan kita marah kepada Tuhan.

Tuhan Yesus sejak pertama sudah mengingatkan murid-murid untuk selalu menjadi seperti pelayan yang melayani dengan sepenuh hati, senantiasa memberikan yang terbaik untuk yang dilayani, bukan kepentingan diri yang didahulukan tetapi kepentingan orang yang dilayani.

Jika realita tidak sesuai dengan pengharapan, akan terjadi konflik dalam diri manusia, dan kemudian manusia akan berkata : “Wajar !” Secara manusiawi memang wajar tapi secara surgawi tidak wajar. Iman sejati adalah bagaimana kita bisa bereaksi dengan tepat kepada apa yang Kristus inginkan, bukan kepada pengharapan kita. Iman kita bisa rusak kalau kita mau menunggangi Kristus untuk kepentingan kita.

Kita harus bisa mematahkan pengharapan kita sendiri dan tunduk kepada apa yang Tuhan inginkan. Hal ini akan membawa kita kepada keberhasilan. Dan nantinya kalau kita berhasil, itu bukan karena kita hebat tetapi karena Tuhan yang menjalankan kehendakNya.

3. Kesedihan murid-murid juga dikarenakan Anak Manusia dikhianati.

Kristus menderita karena ada pengkhianat dari dalam bukan dari luar. Kekristenan harus terima fakta bahwa rusaknya kekristenan disebabkan oleh orang dalam. Ketika dikhianati sakitnya melebihi kalau kita ditikam oleh orang luar. Hal ini bisa mengakibatkan kita tidak bisa percaya lagi kepada semua orang di sekitar kita. Karena itu, lakukan semua hal dengan terbuka dan jelas, agar orang lain tidak menemukan celah untuk menjatuhkan kita. Semua hal harus dilakukan secara beres. Jangan anggap remeh atau gampang semua persoalan karena akan berakibat tidak gampang di kemudian hari, bahkan antar orang Kristen sekalipun. Realita ini sangat sulit kita terima dan bisa menjadikan orang bersifat paranoid (sakit jiwa dengan wujud takut kepada semua orang). Kita harus dapat bereaksi dengan tepat waktu kita dikhianati.

Kita harus dapat mengembalikan posisi hidup kita kepada posisi yang seharusnya yaitu menghadapi segala persoalan dengan iman yang sejati. Kita harus dapat melakukan kontra format terhadap reaksi secara duniawi. Kita harus dapat menerobos keluar dari kenormalan dunia.

Kontra format / kontra posisi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Mengejar kualitas dengan ujian secara bertahap, bukan dengan cara instant.

Dalam Matius 17 : 22 Kristus berkata bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Inilah bijaksana tertinggi. Hal ini tidak dapat masuk ke dalam pikiran manusia, dan hanya dapat diterima dengan iman. Cara ini adalah cara yang dasyat dari Allah untuk menyelesaikan masalah dosa manusia. Masalah dosa manusia tidak bisa diselesaikan dengan berbuat baik, karena tambah berbuat baik tambah berdosa; hal ini menunjukkan ketidak berdayaan manusia.

Untuk mengerjakan hal yang dasyat diperlukan kualitas yang dasyat pula. Kita harus kembali kepada sumber bijaksana kalau mau menjadi bijaksana. Allah adalah sumber bijaksana dan dirinya bijaksana sejati. Persoalan dunia harus diselesaikan dengan cara penebusan. Kita harus menjadikan penebusan menjadi format hidup kita, seperti menebus waktu kita.

Hidup harus teruji untuk menjadi hidup yang layak dihidupi. Konfusius mengatakan bahwa orang harus diperas habis dulu baru bisa dipakai. Kita harus berjuang mati-matian untuk mencapai kualitas yang baik. Makin tinggi kualitas yang dihasilkan, makin tinggi pula tingkat kesulitan yang harus dihadapi.

Tuhan tidak mengajar kita untuk menangisi penderitaan tapi harus menghadapinya dengan bijaksana yaitu dengan memberi diri diuji oleh penderitaan supaya lebih berkualitas. Setelah Pentakosta, murid-murid baru dapat melakukan terobosan. Mereka menjadi berani menghadapi penderitaan dan selalu berusaha mengatasi penderitaan / kesengsaraan, mereka rela keluar masuk penjara karena Injil.

2. Menjadikan kasih sebagai motivator segala perbuatan kita.

Dunia ini jahat luar biasa, tapi Tuhan mengajak kita untuk meniru Dia yaitu dalam hal mengasihi / mencintai, sejahat apapun dunia ini. Cinta adalah kekuatan yang dasyat untuk membangun. Benci juga kekuatan yang dasyat untuk merusak orang. Orang yang jatuh cinta bisa mengalahkan rasa sakit, rasa sulit, untuk bisa bertemu dengan kekasih. Orang dunia sulit untuk menjalankan kasih yang murni. Setan melakukan “kebaikan” dengan motivasi menggaet lebih banyak bahkan yang diincar adalah nyawa manusia. Kristus melakukan yang terbaik dengan motivasi kasih. Kebencian dapat tersiram oleh kasih. Kasih dapat memberi kekuatan untuk menerobos.

Orang kolerik berjuang keras supaya tidak gagal supaya tidak merusak nama sendiri (motivasi diri sendiri), sehingga cenderung akan memanipulasi orang untuk kepentingan diri. Alangkah indahnya kalau motivasi / pendorong itu diganti dengan kasih, lakukan demi orang lain yang dilayani.

Orang melankolik punya keunggulan perasaan, perasaan yang kuat, tetapi yang cenderung negatif, seperti menangisi keadaan. Alangkah indahnya kalau diganti dengan perasaan kasih yang besar supaya bisa menggarap hal yang positif.

Mari kita meneladani Kristus dengan menjadikan kasih sebagai motivator segala tindakan kita. Dunia tidak mungkin melakukan hal ini karena tidak memiliki Sumber Kasih itu yaitu Tuhan Yesus Kristus.

3. Mengejar kemenangan total.

Pendidikan yang kita terima selama ini sudah menjadikan pikiran kita ter-fragmented (terpecah-pecah), hidup kita juga terpecah, sehingga setan dapat dengan mudah menyerang hidup kita, kalau dari sisi ini gagal, dapat dari sisi lain yang terpecah.

Kemenangan yang harus kita kejar adalah kemenangan secara totalitas, bukan per segmen. Kita jangan tertipu dengan kemenangan pada awal langkah tapi yang menuju kepada kekalahan total. Iblis juga memberikan kepada kita kemenangan pada awal langkah tapi nantinya dia akan mendapatkan kemenangan atas nyawa kita. Waktu Kristus mati, iblis merasa menang, tapi waktu Kristus bangkit, iblis dikalahkan. Inilah kemenangan total dari Kristus.

Kembalilah kepada Kristus, taat kepada Dia, maka kita akan menang secara total dalam menghadapi dunia ini. Iman kepada Tuhan akan membawa kita hidup berkemenangan bahkan lebih dari pada pemenang.

Sekali lagi, IMAN bukan masalah besar atau kecilnya iman, tetapi masalah ada atau tidak ada iman; iman sebiji sesawi pun dapat memindahkan gunung, dan menjadikan kita lebih dari pada pemenang. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080518.htm

Eksposisi Injil Matius 17:14-21: IMAN: ADA ATAU TIDAK? (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

June 22nd, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah: 11 Mei 2008

Iman: Ada atau Tidak?

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 17:14-21

Tema utama Injil Matius adalah Kerajaan Allah. Kitab Injil ini isinya bersifat topical yaitu mulai dari Sang Raja datang, bagaimana Sang Raja bekerja, aturan-aturan Kerajaan Surga, penerapan aturan Sang Raja, misi Kerajaan Surga, dan sekarang kita akan membahas tentang keTuhanan dari Sang Raja. Hal ini mulai diungkapkan dari Matius 15, sedangkan mulai Matius 17 ini kita akan melihat kaitan iman terhadap Sang Raja, dimana Kristus sebagai pusat iman kita.

Matius 17:1-13 mengisahkan bagaimana Petrus bermaksud mendirikan kemah untuk Tuhan Yesus, Elia dan Musa, bahkan dia tidak berpikir untuk dirinya sendiri, ketika Kristus berubah rupa di depan mata murid-murid Tuhan. Tetapi tiba-tiba terdengarlah suara yang berkata : “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa iman yang sejati bukan kita yang mengatur, bukan kita menurut apa yang kita mau, tetapi kita harus mendengarkan Kristus, percaya kepada Kristus. Kalau kita percaya kepada Kristus, berarti kita meletakkan objek iman kita kepada Kristus, percaya kepada apa yang diatur oleh Kristus. Seringkali orang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi sebenarnya percaya kepada dirinya sendiri dan memenuhi keinginan diri sendiri.

Dalam Matius 17:14-21 tidak diceritakan secara detail tentang siapa anak yang sakit ayan itu dan bagaimana penyakit tersebut menyerang anak itu. Matius ingin kita melihat bagian yang penting sehubungan dengan penyembuhan anak yang sakit ayan itu yaitu IMAN.

1. Iman menyangkut reaksi dan objek iman.

Problemnya adalah murid-murid Tuhan tidak dapat menyembuhkan anak tersebut. Langkah pertama yang Tuhan Yesus lakukan bukan menyembuhkan tetapi menghardik murid-muridNya. Dia berkata : “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?” Yang diungkapkan di sini adalah masalah IMAN. Kata tidak percaya dalam ayat ini dalam bahasa aslinya adalah memakai kata apistos yang berarti tidak punya iman, tidak percaya. Dalam terjemahan ayat 20 dipakai kata kurang percaya, hal ini tidak tepat karena dalam bahasa aslinya dipakai kata apistos yang berarti tidak percaya. Orang yang tidak punya iman adalah orang yang sesat, yang menyeleweng dari iman yang sesungguhnya. Iman yang sesungguhnya adalah kembalinya iman kepada objek iman yang sejati yaitu Yesus Kristus.

John Knowlen menyatakan bahwa iman adalah bagaimana kita bereaksi di hadapan Kristus. Jadi orang yang beriman adalah orang yang bereaksi dengan tepat kepada Kristus.

Dunia kita percaya kepada berbagai hal, pikiran filsafat yang akan hancur atau berubah seiring dengan perubahan waktu. Landasan iman yang sejati harus kembali kepada absoluditas yang sejati, kebenaran yang sejati yaitu Kristus. Itu satu-satunya iman.

Perkataan Kristus tentang angkatan yang sesat atau tidak beriman ini ditujukan kepada lingkaran terdekat dari Tuhan Yesus. Apakah orang Kristen pasti beriman kepada Kristus? Belum tentu. Kita perlu kembali menguji : betulkah kita beriman, sudah percaya; betulkah kita sudah bereaksi dengan tepat

kepada Kristus. Iman sejati adalah kalau kita men-Tuhankan Kristus, bereaksi dengan tepat kepada Kristus. Kita seharusnya menempatkan diri kita sebagai budak di hadapan Kristus.

Budak tidak punya hak, yang dipunyai hanyalah kewajiban. Kristus adalah Tuan diatas segala tuan dan kita adalah budakNya. Perintahlah saya Tuhan maka akan saya jalankan. Inilah reaksi yang tepat. Iman yang sejati bukan menjadikan kita “sakti” tapi justru menampilkan ketaatan kita kepada Tuhan. Tuhan Yesus menjadi yang terutama dalam setiap aspek hidup kita. Kalau reaksi kita terhadap Kristus benar berarti iman kita benar. Murid-murid sudah bersama dengan Tuhan Yesus selama 3 tahun tapi waktu 3 tahun tidak menjamin mereka sungguh-sungguh telah meletakkan objek iman mereka  pada Tuhan Yesus. Kalau tidak ada iman, hidup kita akan hampa, kosong dan menjadi sia-sia. Hidup kita akan menuju kebinasaan.

Mari kita mengkoreksi hidup kita, seberapa kita bereaksi kepada Kristus baik di dalam lingkungan kerja, keluarga, kuliah, pelayanan; ataukah kita hanya beriman kepada diri kita sendiri; ataukah kita berpegang kepada materialisme, diri, kenikmatan dunia, uang. Mari kita bereskan iman kita sehingga ibadah kita tidak sia-sia.

2. Sorotan iman yang pertama adalah pada iman pelayan Tuhan.

Hari ini ada gejala yang aneh dan brengsek yaitu menuduh orang yang dilayani tidak beriman ketika pelayanan yang dikerjakan tidak berhasil. Prinsip ketaatan iman adalah pada yang melayani. Banyak orang ingin kelihatan “hebat, sakti” tapi tidak mau taat kepada Tuhan. Pelayan Tuhan harus taat, setia kepada Tuhan. Kalau pelayanan kita tidak berhasil itu berarti kita yang salah, kita sudah tidak taat kepada Tuhan, kita sibuk pelayanan tapi inti iman tidak ada.

Orang melayani dengan berbagai alasan, yaitu ada yang takut diomeli pendeta sehingga melayani dengan asal-asalan tapi waktu dikritik akan marah besar, ada yang mencari aktualisasi diri sehingga ketika kurang dihargai menjadi marah, ada juga yang ingin menjalankan otorisasi diri.

Pelayanan yang benar adalah bagaimana kita menjadi budak yang siap melayani setiap waktu. Pelayanan harus dimulai dengan iman yang tepat sehingga pelayan Tuhan akan bereaksi dengan tepat dalam menjalankan pelayanannya. Gereja akan bertumbuh kalau memiliki pelayan yang beriman benar. Kalalu iman pelayan sudah kacau maka yang dilayani pun imannya menjadi kacau.

3. Ada atau tidak adanya iman.

Orang sering berpikir secara humanitas dan dipengaruhi oleh pikiran dinamisme-animisme. Hal ini berpengaruh terhadap cara pandang terhadap iman atau percaya. Percaya juga diberi tingkatan secara kuantitatif. Ada orang yang kurang percaya, ada yang lebih percaya. Dalam perdukunan atau lingkup kuasa kegelapan memang ada kesaktian yang kurang, yang lebih, ada setan yang sedikit, ada setan yang banyak. Kekristenan memandang iman tidak seperti di atas. Tidak ada iman sedikit, atau banyak, kurang, atau lebih; dalam kekristenan yang ada hanya percaya atau tidak percaya, beriman atau tidak beriman. Iman yang sebesar biji sesawi (ukuran yang sangat kecil) saja sudah cukup. Hal ini menunjukkan bahwa bukan besar atau kecilnya tapi keberadaannya. Iman kepada Kristus bukan sedikit atau banyak tapi ada atau tidak ada.

Kalau kita kembali kepada Kristus, menjalankan apa yang Kristus kehendaki maka kita akan memiliki kuasa yang besar. Iman sebiji sesawi cukup untuk bisa memindahkan gunung. Ketika kita bereaksi dengan tepat di hadapan Kristus tidak ada hal yang terlalu besar, yang mustahil untuk dapat dilakukan. Kalalu kita main dengan kemauan kita sendiri justru kita tidak akan mendapatkan karena Tuhan tidak akan beri, tapi kalau kita main dengan kuasa kegelapan kita pasti mendapatkan apa yang kita mau. Setan pasti memberi apapun yang kita minta karena yang diincar setan adalah nyawa kita. Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Tuhan yang mengatur. Kalau Tuhan menghendaki apa saja, kita harus jalan. Kita seringkali menuntut Tuhan yang nurut kita.

Orang sering mengatakan bahwa dalam gerakan reformed tidak ada mujizat. Justru gerakan reformed sering mengalami mujizat yang besar bukannya mujizat kelas “sampah”, seperti miskin menjadi kaya, sakit menjadi sembuh, karena apa yang dipikirkan manusia adalah sampah. Origen (salah satu bapa gereja) mengatakan : gunung adalah hambatan terbesar yang kita hadapi (zaman dulu : gunung dan laut adalah hambatan terbesar yang sulit diterobos). Kita punya kuasa yang dasyat untuk memindahkan gunung sekalipun asalkan Tuhan berkehendak. Kalalu Tuhan menginginkan, tidak ada yang bisa menghalangi.

Gereja kita sudah mengalami mujizat yang besar seperti : dikeluarkannya izin membangun untuk gereja di  Kertajaya walau diajukan dengan menuruti prosedur yang benar dan tidak main akal-akalan, ruko di Andhika Plaza ini sudah berubah peruntukan secara resmi menjadi gereja, kita bisa bikin KKR yang membawa orang kembali kepada Tuhan. Di dalam KKR, orang berdosa ditegur dosanya, sadar akan dosanya, menangis dan kemudian bertobat, ini adalah pekerjaan Roh Kudus, ini adalah mujizat, ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Orang berdosa akan marah kalau ditegur dosanya, tidak mungkin bertobat tanpa anugerah Tuhan; jadi kalau ada orang bertobat berarti mujizat telah terjadi.

Jangan jalan sendiri menuruti ambisi diri. Biarkan Tuhan yang kerja, kita ini hanya pekerjaNya. Jadi bukan masalah iman besar atau kecil, yang penting adalah kita mau taat atau tidak kepada Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa. Semakin kita jalan sendiri, kita semakin tidak mengalami bahwa Tuhan kita hidup dan berkuasa. Sejauh kita taat kepada Tuhan, kita akan selalu mengalami mujizat. Di tengah dunia yang penuh kesulitan ini jangan sampai kita berjalan sendiri, karena akan mendatangkan kehancuran pada diri kita sendiri.

4. Iman yang benar akan menyenangkan hati Tuhan.

Seperti yang sudah disinggung di depan bahwa pelayanan yang benar adalah menempatkan diri kita sebagai budak di hadapan Tuan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus. Budak paling takut kalau tuannya marah, maka budak akan selalu berusaha bekerja sebaik mungkin, memberikan yang terbaik untuk menyenangkan hati tuannya. Seorang budak akan merasa bahagia kalalu bisa melihat tuannya tersenyum atas hasil kerjanya. Kita sebagai budak Tuhan juga seharusnya mencari “senyum” Tuan kita. Kalau Tuhan tersenyum kepada kita itulah sukses kita. Sukses bukan berarti semakin banyak materi yang diperoleh dan ditumpuk, seberapa banyak kepandaian (gelar akademis) yang diperoleh, kedudukan setinggi apapun. Semuanya itu tidak bertahan lama, patut disyukuri kalau bisa bertahan sampai mati. Nilai sukses sejati adalah kalau kita mendapatkan perkenanan Allah.Kalau kita mendapatkan perkenanan Allah, di waktu akhir nanti Tuhan akan berkata kepada kita :” Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21b)

Marilah kita terus menggarap hidup iman kita agar semakin dikoreksi dan bertumbuh agar kita dapat dipakai Tuhan dengan semakin heran dan pelayanan kita boleh menyenangkan hati Tuhan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080511.htm

Kej. 22:1-9: ISHAK DAN KRISTUS (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

June 15th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 20 April 2008

Ishak & Kristus

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Kej. 22:1-9

Perenungan kita hari ini masih tentang Kristologi yang diambil dari kitab Kejadian. Sepintas kalau kita membaca kitab Kejadian, kita tidak melihat ada kaitan antara Abraham dengan Kristologi. Abraham disebut sebagai bapa orang beriman sehingga beberapa penafsiran memberikan penekanan pada iman Abraham. Allah memanggil Abraham untuk keluar dari tanah Ur ke tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan namun Abraham tidak diberitahu dimanakah tempatnya. Adalah penafsiran yang salah yang menyatakan kalau Abraham adalah orang yang tidak berpengharapan sehingga ketika Allah memanggil, dia berharap mendapatkan hal yang lebih baik. Salah! Abraham adalah orang sukses dan kaya tapi Abraham rela dan taat dipanggil Allah untuk meninggalkan segala kenyamanan dan hidup berjalan dalam pimpinan Allah. Abraham tidak protes atau bertanya-tanya pada Tuhan, itulah sebabnya Abraham disebut sebagai Bapa orang beriman. 

Calvin menyoroti pergumulan iman Abraham bukanlah hal yang sederhana. Abraham dipanggil keluar dari tengah masyarakat dan keluarga, ia pergi bersama-sama dengan istri, ayah dan keponakan namun di tengah perjalanan, ayahnya meninggal dunia, keponakannya berseteru dengannya dan pergi meninggalkan Abraham, kini tinggal dia yang bergumul dan berjalan sendiri bersama Tuhan. Disini jelaslah bahwa iman tidak bergantung pada siapapun, situasi atau kondisi. Pergumulan iman adalah pergumulan pribadi. Abraham bergumul bagaimana hidup berpaut dengan Tuhan dan dalam situasi yang paling pelik, yakni pada saat Tuhan menginginkan supaya Abraham mengorbankan Ishak, anak satu-satunya yang ia kasihi maka pada saat seperti itu, Abraham bersandar penuh pada Tuhan. Pada saat Abraham mendapatkan panggilan tersebut, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Sarah, istrinya mengetahui tentang hal ini? Alkitab tidak mencatat tentang hal ini namun kalau kita melihat kecepatan Abraham bereaksi maka kemungkinan besar, istrinya tidak tahu menahu akan hal ini. 

Dapatlah dibayangkan apa yang terjadi kalau Sarah mengetahui akan hal ini pastilah bukannya memperkuat iman Abraham tetapi sebaliknya, ia justru akan menjadi penghalang dan merusak iman Abraham. Terkadang, orang-orang yang berada di sekeliling kita tidak mendukung malah merusak iman kita di hadapan Tuhan. Mengorbankan anak yang dikasihi dan satu-satunya adalah pergumulan yang paling berat di sepanjang hidup Abraham berjalan bersama dengan Tuhan. Hampir 100 tahun Abraham menanti-nantikan seorang anak kini, ia harus mengorbankan anak yang dikasihi dan tunggal. Dua kali dituliskan tentang anaknya yang tunggal. Peristiwa ini merupakan gambaran dari pergumulan Allah Bapa di sorga ketika ia harus menyerahkan anak-Nya yang tunggal, yakni Kristus Yesus menjadi korban bakaran, korban sembelihan, korban penebusan dosa. 

Hari ini kita akan melihat 3 aspek yang sangat penting:

1. Allah Menebus

Allah dengan tegas meminta Abraham untuk mengorbankan anaknya sebagai korban bakaran, korban tebusan untuk orang berdosa. Dalam ketidakjelasannya, Abraham mungkin bertanya-tanya menebus dosa siapa? Bangsa Israelkah? Atau dosanyakah? Ishak yang dikorbankan ini menjadi figurasi Kristologi – Anak Tunggal akan disembelih untuk jadi domba paskah, domba penebus dosa. Alkitab mencatat, Abraham adalah seorang yang hidup benar, taat tapi meski demikian Abraham sadar kalau ia telah berbuat dosa, ia telah berbohong pada raja tentang Sarah yang dikatakan bukan sebagai isterinya. Abraham menyadari dosa manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan sekedar mengorbankan seekor anak domba tetapi yang menjadi inti dosa adalah harus diselesaikan dengan penebusan, harus ada korban tebusan. Ketika Adam berdosa harus ada darah anak domba yang dicurahkan sebagai korban penebus dosa. Hal tentang anak domba yang harus dikorbankan sebagai penebus dosa ini terus berlangsung dalam jaman Perjanjian Lama dan orang sudah merasa dosanya telah terselesaikan dengan mengorbankan anak domba. 

Abraham menyadari korban tebusan bukan hanya seekor domba; domba tidak mampu menyelesaikan dosa manusia. Darah anak domba yang tercurah seharusnya menyadarkan kita kalau dosa harus dibayar mahal, tapi anak domba tidak dapat menyelesaikan penebusan; dibutuhkan anak domba sejati. Penyerahan Ishak menjadi figurasi Kristus yang adalah anak domba sejati. Secara logika, manusia tidak akan pernah mengerti mengapa harus mengorbankan seorang Anak Manusia, bukankah hal ini melawan konsep theologi? Bukankah Allah sangat benci ada korban manusia untuk persembahan pada dewa Baal? Titik permasalahannya bukan pada menyembelih anak tetapi yang menjadi persoalan adalah Allah tidak suka dengan motivasi dibalik persembahan itu, yakni untuk menyuap dewa atau oknum supranatural. Persembahan korban bukan barter bisnis tapi disini Allah mau menekankan satu hal penting, yaitu dosa membutuhkan penebusan. 

Sejak jaman Perjanjian Lama, konsep propisiasi ini sudah ditekankan. Dosa bukanlah hal sederhana yang bisa dipermainkan sedemikian rupa dan dapat diselesaikan dengan sekedar menyembelih anak domba. Tidak! Dosa menuntut bayaran yang sangat mahal harganya dan harus dibayar lunas. Manusia tidak mungkin bisa membayarnya maka Allah yang penuh cinta kasih itu merelakan Anak-Nya yang tunggal menjadi korban tebusan bagi manusia berdosa sehingga manusia dapat diselamatkan namun Allah tidak meniadakan penghukuman itu. Dosa menuntut korban sebagai korban tebusan. Ide ini tidak keluar dari para rasul atau dari para imam tetapi ini adalah perintah Allah. 

Upah dosa adalah maut, kalimat itu belum muncul di Perjanjian Lama tetapi secara konseptual sudah muncul di jaman Abraham. Sebenarnya, orang Yahudi telah memahami konsep dosa harus diselesaikan dengan kematian Anak Tunggal Allah. Dunia modern berusaha meniadakan konsep penebusan dosa, tugas kita sebagai anak Tuhan sejati menyadarkan orang akan dosa dan kembali pada Allah sejati. Namun hendaklah kita tidak jatuh dalam euforia, kita menjadi terkagum-kagum dan berpuas diri ketika kita melihat ribuan orang bertobat. Ingatlah, semua itu bukan karena jasa kita tetapi karena Tuhan semata. Kita harus menangisi dan terbeban melihat jiwa-jiwa yang tersesat untuk membawa mereka kembali pada Tuhan dan diselamatkan. Manusia diselamatkan karena ada darah Anak Tunggal yang dikorbankan. Konsep ini seharusnya menyadarkan kita bahwa betapa dahsyat korban penebusan. 

2. Allah Menyediakan

Pastilah bukan hal yang mudah ketika Tuhan menuntut Abraham untuk mempersembahkan Ishak ke atas gunung dan di tengah perjalanan, Ishak bertanya pada bapanya dimanakah anak domba yang akan dipersembahkan? Abraham pastilah sangat berat menjawab pertanyaan Ishak tersebut namun jawaban yang diberikan Abraham sangatlah dahsyat yang menunjukkan iman Abraham, yakni: Allah akan menyediakan, Jehovah Jireh. Perhatikan, kata Jehovah Jireh adalah untuk penebusan Allah menyediakan keselamatan untuk mendamaikan kembali hubungan Allah dan manusia yang telah terputus. Celakanya, orang mengartikannya keliru, Allah menyediakan diartikan dengan Allah menyediakan hal-hal yang sifatnya duniawi seperti Allah menyediakan uang ketika orang sedang kekurangan atau menyediakan makanan, dan lain-lain. Tidak!   

Abraham meminta kedua bujangnya untuk menunggu sementara ia dan Ishak naik ke atas gunung untuk mempersembahkan korban. Abraham menaruh kayu bakar di atas bahu Ishak, hal ini menjadi gambaran Kristus memanggul kayu salib untuk dipakai bagi diri-Nya sendiri. Perjalanan Ishak ke atas gunung adalah gambaran Kristus yang naik ke atas bukit Golgota. Abraham tidak mungkin mengajak bujangnya bersama-sama dengan dia dan Ishak ke atas gunung sebab bujangnya tidak mungkin bisa mngerti. Abraham juga tidak tahu apa yang terjadi di depan namun satu hal Abraham tahu pasti bahwa Tuhan menyediakan. Abraham beriman dan percaya bahwa Ishak akan bangkit. Hanya didalam Tuhan sajalah, kita dapat menyelesaikan segala pergumulan yang paling sulit. 

Allah menyediakan adalah Allah yang merancangkan rencana keselamatan atas manusia. Selama perjalanan itu Abraham makin mengerti dan mengenal Allah sejati, jalan Tuhan adalah jalan terindah. Banyak hal yang tidak kita mengerti tapi satu hal yang pasti Tuhan tidak pernah meninggalkan kita ketika kita berada dalam pencobaan, saat itulah Tuhan akan menyediakan. Karya Penebusan bukan sekedar di awang-awang belaka tetapi realita. Tidak ada cara lain yang dapat menyelesaikan dosa, kecuali melalui Kristus Tuhan.

Alkitab mencatat Abraham telah siap dengan pisau di tangannya untuk menyembelih Ishak dan pada detik terakhir itu, MALAIKAT TUHAN menghentikan Abraham. Tuhan datang tepat pada waktu-Nya. Tuhan sampai dimana kekuatan kita menahan segala ketegangan. Hari ini kita hidup di tengah jaman yang penuh dengan tantangan, segala sesuatu serba sulit dalam segala aspek maka janganlah kaget kalau kita menjumpai begitu banyak orang yang gila karena tidak kuat menahan ketegangan hidup yang sangat berat. Sebuah logam punya titik kelenturan dimana logam akan patah kalau melebihi batas titik kelenturan.

Abraham mempunya iman yang luar biasa dan itu menjadi kekuatan dahsyat. Abraham tahu Tuhan akan menyediakan meskipun ia harus mengorbankan Ishak. Betapa indah ketika hidup beriman dan bersandar mutlak penuh pada Tuhan, kita tidak akan takut melangkah di tengah jaman yang penuh dengan tantangan karena kita tahu pasti, jalan Tuhan adalah jalan yang terindah. Pdt. Stephen Tong mengungkapkan janganlah kita menjadi rendah diri dengan satu talenta yang kita miliki. Tuhan sudah merasa senang kalau kita mengembalikan seluruh talenta yang kita miliki, kita memberikan seluruh hidup pada Tuhan. Sudahkah kita mengerjakan seluruh talenta yang diberikan pada kita dengan penuh tanggung jawab? Tuhan telah menebus kita dari dosa dan harganya telah dibayar lunas, sekarang tugas kita adalah mengerjakan talenta yang Tuhan telah beri dan dikembalikan untuk kemuliaan-Nya. 

3. Allah Mengasihi

Abraham menyerahkan anaknya menjadi korban tebusan menjadi gambaran dari Allah Bapa yang menyerahkan Anak Tunggal. Dapatlah dibayangkan, apa jadinya kalau Abraham menunda sebulan atau mungkin seminggu dari hari pertama Tuhan memerintahkan supaya ia mengorbankan Ishak, pastilah sangat berat bagi Abraham menghadapi hari-hari di depan. Abraham langsung menyelesaikan tugasnya, ia taat meskipun ia merasa berat karena akan kehilangan anak tunggalnya. Abraham tetaplah manusia biasa, Ishak adalah anak satu-satunya yang ia tunggu selama bertahun-tahun, pastilah pergumulan Abraham sangatlah berat karena begitu beratnya namun ia tetap taat maka Abraham disebut sebagai bapa orang beriman. Pertanyaannya adalah bagaimana kalau hal yang sama diimplikasikan ke kita? Maukah kita berkorban untuk Tuhan? 

Ketaatan dan iman saling terkait erat. Iman bukan sekedar berkata: ”aku percaya.” Tidak! Abraham pastilah bergumul berat meskipun ia tahu bahwa Tuhan pasti bisa bangkitkan Ishak namun ayah mana yang tidak merasa sedih dan berat hati kalau ia harus membunuh anak kandung dengan tangannya sendiri? Allah Bapa juga merasakan hal yang sama seperti Abraham ketika Ia harus menyerahkan Anak-Nya untuk disembelih demi manusia berdosa yang harusnya dihukum. Betapa pedih hati Allah Bapa di sorga ketika Ia mendengar Kristus berteriak,”Eli, Eli, lama sabakhtani.” Itulah adalah detik-detik yang sangat krusial dan menyakitkan. Tuhan membawa Abraham sampai pada pengalaman itu namun Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatan Abraham menahan semua beban berat itu. Tuhan langsung menghentikannya ketika pisau ditangan sudah siap menghunus Ishak. Kemungkinan Abraham menjadi trauma dan gila menyaksikan anak tunggal yang dikasihinya dibunuh oleh tangannya sendiri, karena itu Tuhan menghentikan semua itu. Kematian Ishak tetap tidak dapat menyelesaikan dosa. 

Peristiwa pengorbanan Ishak ini adalah gambaran betapa dahsyatnya Allah semesta turun ke dunia menuju ke via dolorosa, jalan salib dan menjadi domba paskah demi manusia diselamatkan. Pengorbanan Tuhan yang sedemikian besar itu harusnya menjadikan kita semakin mengasihi Tuhan. Siapakah kita sehingga Dia rela Anak-Nya yang tunggal supaya kita diselamatkan, diperdamaikan kembali dengan Allah dan masuk ke dalam sorga mulia bersama dia. Kematian dan kebangkitan Kristus bukanlah peristiwa sederhana. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia rela menyerahkan anak-Nya yang Tunggal itu mati untuk kita. 

Biarlah hal ini menyadarkan kita untuk hidup lebih mengasihi Dia, hidup kita menyenangkan Dia selalu dan mau taat pada-Nya karena Dia lebih dahulu mengasihi kita. Maukah kita dipakai menjadi alat di tangan-Nya? Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080420.htm

KEBANGKITAN DAN HIDUP (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

June 8th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 13 April 2008

Kebangkitan dan Hidup

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Kis. 4:1-2

Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas Kebangkitan Kristus. Inilah yang membedakan Kekristenan dengan agama lain yang ada di dunia. Semua agama yang lain berdiri di atas ajaran-ajaran moral yang tak lebih hanyalah berupa aturan-aturan hukum agama, yakni aturan bagaimana hidup baik dan benar supaya bisa masuk sorga. Itulah kegagalan total dari agama sekuler, agama tidak lebih hanyalah religiusitas semu belaka. Kalau Kristus tidak dibangkitkan dari kematian maka sia-sialah seluruh kepercayaan kita dan Kekristenan tidak ada  sampai detik ini. Esensi iman Kristen adalah kebangkitan Kristus.      Kristus yang bangkit inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian pada Yohanes dan Petrus untuk bersaksi di hadapan Mahkamah Agama tentang Yesus Kristus yang disalibkan itu ada batu penjuru dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

Hal ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa dari para imam, kepala pengawal Bait Allah, dan orang Saduki. Di tengah-tengah bangsa Israel terdapat dua golongan, yakni:

1)orang Farisi yang mendukung Kebangkitan, 2) orang Saduki yang tidak percaya  adanya kebangkitan setelah kematian; agama tidak lebih hanya sebatas etika dan perbuatan saja. Pada saat itu, orang-orang Sadukilah dari keturunan Imam Sadokh yang duduk sebagai penguasa. Orang Saduki ini lebih cenderung ke Herodian dan orang Romawi; mereka sama-sama sekuler sedangkan orang Farisi lebih cenderung jadi oposisi pemerintah. Itulah sebabnya, secara politik mereka lebih suka orang Saduki yang duduk sebagai pemimpin agama dan orang Saduki ini sangat menentang kebangkitan. 

Musuh terbesar Kekristenan adalah orang-orang yang melawan kebangkitan dan hingga detik ini, orang tidak pernah berhenti melawan kebenaran tentang Yesus Kristus yang bangkit. Perhatikan dalam sistim kalender Indonesia, tidak ada hari Paskah; tentang Isa Almasih yang lahir, mati dan naik ada dalam sistim kalender Indonesia tapi tidak demikian halnya dengan Isa Almasih yang bangkit. Tidak cukup sampai disitu perlawanan yang dilakukan untuk menentang kebangkitan Kristus, muncul film yang dibuat oleh muslim Iran yang mengisahkan bahwa Yesus tidak bangkit sebab Yesus tidak pernah mati disalib tetapi Yudaslah yang disalibkan. Dunia berdosa tidak suka dengan berita kebangkitan Kristus karena terkait dengan kehidupan manusia berdosa. 

Upah dosa adalah maut. Manusia berdosa tidak suka akan fakta ini maka cara terbaik adalah menghilangkan dan menganulir fakta dosa dengan meletakkan Kekristenan di wilayah batas moral. Dosa tidak lagi menjadi inti berita agama sebab ketika orang berbicara tentang dosa berarti terkait erat dengan kematian dan hal itu sangatlah menakutkan. Hanya ada satu jalan keluar untuk keluar dari kematian, yaitu maut harus dikalahkan dengan kebangkitan dan Kristuslah yang menang atas kuasa maut. Perbuatan baik tidak dapat melepaskan kita dari perbuatan dosa. Sebagai contoh, tidak mungkin perbuatan membunuh dapat diselesaikan dengan perbuatan baik, bukan? Tindakan  kejahatan selalu menuntut keadilan, kita tidak bisa lari dari dosa. Dosa selalu menuntut kematian. Semakin kita berbuat baik untuk motivasi mendapatkan sorga, semakin kita berdosa. 

Matthew Henry menyatakan Kekristenan sampai kapanpun akan menghadapi musuh yang selalu berusaha melawan fakta tentang kebangkitan Kristus yang menjadi inti dari iman Kristen; musuh itu bukan datang dari luar Kekristenan tapi dari dalam Kekristenan itu sendiri. Dunia bisa menerima bahkan sangat setuju dengan ajaran moral dan etika yang Tuhan Yesus ajarkan tetapi tidak demikian halnya dengan kebangkitan Kristus, orang langsung marah dan menolak. Hal ini bukan hanya terjadi pada jaman ini saja tetapi hal yang sama terjadi pada jaman Petrus bahkan ia harus berhadapan dengan Mahkamah Agama. Pertanyaan sekaligus evaluasi bagi kita apakah arti kebangkitan Kristus bagi diri kita secara pribadi? Sudahkah kita mewartakan kebangkitan Kristus di tengah dunia berdosa? Ataukah justru kita ikut mereduksi berita kebenaran tentang kebangkitan-Nya? Luther menegaskan bahwa hanya iman dalam Kristuslah, manusia dapat diselamatkan, hal ini digambarkan oleh materai dengan mawar putih, hati merah dan salib Kristus hitam di tengah-tengah. Luther menentang keras kebijakan Roma Katolik hari itu yang mengajarkan keselamatan tergantung dari uang persembahan yang kita masukkan dalam kotak persembahan. Perlawanan keras yang dilakukan Luther membuat para pemimpin Roma Katolik menjadi marah dan ingin membunuh Luther. Disini kita melihat, dari jaman ke jaman Kekristenan selalu mendapat tantangan; orang akan menerima ajaran Kristen selama masih di batas etika namun ketika masuk pada inti Kekristenan maka orang akan mereduksinya. Kegagalan orang Saduki adalah mereduksi kitab Perjanjian Lama, hanya berhenti di Taurat.   

Yesus Kristus bangkit adalah satu-satunya pengharapan dan sungguh amatlah disayangkan, ketika kita mewartakan berita sukacita ini, orang malah menganggapnya sebagai ancaman dalam hidup mereka dan menolak Kristus. Banyaknya kesulitan dan tantangan tidak membuat Petrus dan Yohanes mundur tetapi Kebangkitan Kristus justru menjadi kekuatan bagi orang Kristen.

1. Kebangkitan Kristus menyelamatkan manusia dari kematian kekal

Petrus dan Yohanes tidak mau berkompromi dengan dunia. Berita Kristus yang mati dan bangkit menjadi inti berita Kekristenan. Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari Kristus. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) sejati harus memberitakan tentang Yesus Kristus yang menjadi inti Kekristenan namun sangatlah mengenaskan orang mulai mereduksi inti berita Kristen dan justru mengganti dengan berita-berita lain. Petrus dan Yohanes tetap memberitakan tentang Kristus yang disalib dan bangkit sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita dapat diselamatkan. Mereka tidak peduli dengan segala resiko yang dihadapi. Orang-orang Sanhedrin sangat heran melihat keberanian mereka sebab mereka hanyalah nelayan Galilea yang tidak terpelajar.

Hanya di dalam Yesus Kristus sajalah kita dapat diselamatkan, seluruh perbuatan baik tidak dapat menyelamatkan manusia berdosa. Semakin kita berbuat baik karena motivasi sorga akan membawa kita ke dalam neraka. Ketika saya (pengkhotbah) di Jerman berjumpa dan berdiskusi dengan seorang atheis, dia melawan Kekristenan namun ironisnya ia selalu hadir dalam setiap seminar yang diadakan oleh gereja. Satu hal yang dia tidak bisa terima adalah manusia harus taat kepada yang otoritas lain di atasnya karena baginya, manusialah yang pemegang otoritas mutlak. Adalah pendapat yang salah kalau subjektifitas dapat menentukan keabsahan. Ketika subjektifitas ditegakkan berarti menghilangkan semua kebenaran, tidak ada kebenaran atau nilai sejati karena setiap individu mempunyai kebenarannya masing-masing.

Berapa banyak orang yang semacam ini yang tidak dapat menemukan jawaban dan masih terus berusaha mencari dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Sesungguhnya, di satu sisi orang berusaha menegakkan apa yang kita pikirkan sendiri tapi di sisi lain, orang sadar itu bukan jawaban maka timbul konflik dalam diri mereka. Sungguh amatlah disayangkan kalau sepanjang hidup kita hanya bergumul untuk sesuatu yang ambigu. Biarlah kita meneladani Petrus dan Yohanes yang tahu mengambil langkah dengan tepat, yakni memberitakan kebenaran sejati – berita kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.

2. Kebangkitan Kristus memberikan kekuatan dan keberanian

Petrus dan Yohanes yang hanyalah orang biasa, seorang yang dipandang rendah karena profesinya sebagai nelayan kini mereka harus berhadapan para pejabat seperti orang Sanhedrin dan yang sangat mencengangkan dan mengherankan, mereka dapat berbicara dan mempunyai keberanian berbicara di depan mahkamah agama. Mereka mempunyai kekuatan yang dahsyat dan kekuatan itu didapatkan semata-mata karena kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja. Sama sepertinya halnya orang yang terlepas dari pergumulan berat maka ia akan mendapatkan kekuatan dahsyat demikian pula dengan Petrus dan Yohanes, ia mendapatkan kekuatan ketika kembali pada kebenaran sejati. Lepasnya kita dari kebenaran palsu dan masuk dalam kebenaran sejati menjadikan kita punya satu keyakinan untuk berdiri, tidak takut dengan segala tantangan yang menghadang di hadapan kita.

Berbeda halnya kalau orang berdiri di atas kebenaran subyektifitas, kebenaran diri sendiri yang sifatnya relatif dimana setiap orang merasa diri benar akibatnya kekacauan dan keributan yang didapat, tidak ada penyelesaian untuk jawaban yang dicari. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Roh Kudus mengingatkan kita kembali akan kebenaran sejati, itu saatnya bagi kita untuk bertobat. Kuasa kebangkitan Kristus memberikan keberanian dan kekuatan untuk menghadapi tantangan jaman. Hal itu pula yang menjadikan Petrus dan Yohanes berani bertindak di hadapan Mahkamah Agama bahkan Sanhedrin tidak bisa berbuat apa-apa sebab kebenaran yang diberitakan Petrus adalah kebenaran obyektif. Petrus tidak mengatakan “menurut saya” sebab ia tahu di bawah kolong langit hanya Dia yang bisa menyelamatkan manusia. Para pemuka agama, orang-orang Saduki tidak dapat berkata apa-apa, karena kebenaran dari subjektifitas masuk ke kebenaran objektifitas. Pertanyaanya adalah apakah kita mau taat atau tidak. Hari ini kita hidup di jaman yang dibangun di atas relativitas yang mencoba mangombang-ambingkan hidup kita karena itu hendaklah kita kembali pada kuasa kebangkitan Kristus yang memberikan kita kekuatan untuk melangkah dan kepastian di tengah jaman ini.

3. Kebangkitan Kristus menghidupkan dari kematian kekal

Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati (Kis. 4:2). Kalimat “kebangkitan dari antara orang mati” bukan hanya menunjuk pada Tuhan Yesus yang bangkit, tetapi menunjuk pada kita yang bangkit. Hal ini menerobos sesuatu relasi yang di potong oleh liberal masa kini dan saduki waktu lalu. Berdoa adalah terobosan dari dunia yang sementara masuk ke dalam dunia kekekalan, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh manusia. Sejak manusia jatuh dalam dosa, bibit agama itu sudah ada pada manusia, manusia terus berusaha mengkaitkan diri yang sementara dengan kekekalan namun tidak berhasil. Satu-satunya cara yang bisa menghubungkan manusia dengan Allah, kesementaraan dan kekekalan hanya melalui Yesus Kristus dan hanya anugerah semata kalau kita dapat percaya Yesus Kristus. Pada abad pertengahan, manusia membuang semua spiritualitas, manusia meninggikan hal duniawi dan materi dan mereka pikir ini sebuah penyelesaian. Ternyata orang salah! Dan orang mulai mencari hal-hal yang sifatnya spiritual dan jatuh dalam gerakan new age  namun hal ini tidak menyelesaikan masalah sebab manusia hanya berputar – hidup dan mati, kematian menjadi pengunci semua aspek. Orang tidak dapat lepas dari kematian. Manusia butuh hidup, butuh dibangkitkan dari kematian dan hanya Kristus Yesus yang memungkinkan hal itu terjadi. Kebangkitan Kristus menjadikan Kristus berposisi balik menjadi mediator antara manusia dengan Allah.

Kebangkitan Kristus menjadikan kita mempunyai semangat untuk hidup di tengah jaman yang sulit ini. Dunia semakin ke belakang semakin bertambah sulit, dan sesungguhnya, manusia sudah sangat lelah menghadapi situasi jaman yang semakin sulit tak terkecuali di negara maju seperti Eropa. Manusia lebih banyak tergantung drive dari luar bukan dari dalam diri. Manusia seperti layakanya benda mati yang hanya mengikut arus, seperti yang diungkapkan oleh Pdt. Stephen Tong, yakni hanya ikan mati yang ikut arus, yang hidup akan melawan arus. Namun Petrus dan Yohanes punya terobosan yang membuat banyak orang terkejut,  semua itu karena kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan. Kuasa yang sama diberikan oleh Roh Kudus pada setiap anak Tuhan sejati. Hendaklah kita tidak hanyut dengan dunia tetapi kita harus melawan arus dunia karena kita telah dihidupkan oleh kuasa kebangkitan Kristus. Sangatlah mengenaskan, hari ini Kekristenan sudah beku, orang sudah menjadi legalis, aturan-aturan hukum sudah mengunci hidup manusia demikian juga halnya dengan keagamaan, semua hanyalah religiusitas semu belaka. Adalah kegagalan fatal, orang hanya menangkap apa yang menjadi kalimat-kalimat hukum padahal hukum itu dibuat untuk membuat hidup manusia lebih baik jadi jiwa hukum itulah yang harusnya ditangkap.

Andai Petrus terikat pada aturan agama Yahudi yang ditata sedemikian rupa maka ia tidak akan memberitakan Kristus. Petrus disidang karena ia membicarakan esensi hidup dan ia berani mengambil semua resikoa yang ada. Sayang, hari ini orang sangat takut melawan arus karena takut dengan resiko yang harus dihadapi akibatnya orang lebih memilih ikut arus dunia dan berkompromi dengan dosa. Sebagai anak Tuhan sejati kita harus berani berkorban, menghadapi segala resiko yang ada demi kebenaran sejati. Kita harus taat kepada Tuhan lebih dari manusia. Jangan demi keselamatan diri kita berusaha cari aman tetapi Tuhan benci kita. Apalah artinya hidup aman dan nyaman di dunia kalau kita akan menderita selamanya di kekekalan kelak. Kiranya kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan kita juga menghidupkan kita sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita diselamatkan. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080413.htm

Kis. 2:24: THE NATURE OF THE POWER OF RESURRECTION (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

June 2nd, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 16 Maret 2008

The Nature of the Power Resurrection

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Kis. 2:24

Khotbah pertama Petrus di hari Pentakosta adalah Yesus dari Nazaret yang disalibkan itu sesungguhnya adalah Anak Allah dan Dia telah bangkit. Kebangkitan Kristus menjadi esensi iman Kristen dan hari itu menjadi permulaan gereja dan menjadi inti dari berita Paskah. Kalau Yesus Kristus lahir dan mati tetapi Ia tidak bangkit maka sia-sialah seluruh kepercayaan iman kita. Kalau Kristus tidak bangkit maka tidak ada khotbah Petrus, tidak ada 3000 orang bertobat dan dibaptis, tidak ada Kekristenan sampai hari ini. Perhatikan, iman Kristen tidak didasarkan pada mujizat-mujizat atau kenikmatan duniawi yang bersifat kedagingan belaka. Tidak! Iman Kristen didasarkan atas kebangkitan Kristus, kebangkitan-Nya mengalahkan kuasa dosa sehingga melalui kematian dan kebangkitan-Nya, manusia berdosa diselamatkan. 

Semua pemimpin agama di dunia lahir dan mati tetapi tidak ada satu pun pemimpin agama yang bangkit. Hanya Yesus Kristus satu-satunya yang bangkit seperti yang dikatakan-Nya sendiri: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Sangatlah menyedihkan, hari ini Kekristenan sendiri mengabaikan Paskah dengan menghilangkan Paskah di kalender kita. Yesus lahir, Yesus wafat, Yesus naik ke sorga ada tertulis dalam kalender tetapi tentang kebangkitan Tuhan Yesus dihilangkan dari sistim kalender di Indonesia dan celakanya, konon orang Kristen sendiri yang menghapusnya karena mereka menganggap kebangkitan Kristus hanya mitos belaka. Pernyataan yang salah! Kebangkitan Yesus Kristus adalah realita; Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kis. 2:24).

Kuasa kebangkitan Kristus seharusnya memberikan kekuatan pada kita sebagai anak Tuhan sejati untuk memberitakan kebenaran di tengah dunia berdosa. Kita harus berani menerobos hal-hal yang menyeleweng dan menyatakan kebenaran. Banyak tantangan yang harus kita hadapi ketika kita memberitakan kebenaran tentang Kebangkitan Yesus. Namun itulah esensi iman Kristen yang menjadi perenungan kita pada hari ini. 

Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kis. 2:24). Ayat ini memberikan gambaran dahsyat tentang kebangkitan. Ada satu kata yang istimewa di ayat 24, yaitu kata “sengsara” dan di Alkitab Inggris memakai kata “agony”, artinya penderitaan yang mendalam namun kedua bahasa ini, baik bahasa Indonesia maupun Inggris tidak dapat mewakili arti kata tersebut. Menurut bahasa aslinya, memakai kata “odinas,” artinya “sakit melahirkan”. Kalau diterjemahkan menurut bahawa aslinya berbunyi: ”Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari “sakit melahirkan yang bersifat maut”, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.”

Simon Kistemaker, seorang ahli dalam Perjanjian Baru melihat kata “odinas” ini sangat unik dan signifikan. Istilah “odinas” atau “birth pain” atau “sakit melahirkan” disini berarti Allah melepaskan Kristus dari ikatan sakit melahirkan maut. Beberapa penafsir berpendapat kata “odinas” merupakan bahasa Aram, bahasa daerah, yakni daerah darimana Petrus berasal yang terselip dalam bahasa Yunani. Seperti saat ini, bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional namun dalam pemakaian bahasa Indonesia terkadang terselip bahasa daerah asal kita seperti bahasa Jawa. Demikian pula halnya dengan Petrus karena Petrus bukan berasal dari kalangan elite Yunani atau Athena, Petrus hanyalah nelayan dari Galilea yang sangat fasih berbahasa aram. 

Simon Kistemaker dan beberapa pakar Injil yang lain tidak setuju dengan penafsiran ini sebab sepertinya ada kesalahan dalam Alkitab dan untuk menghindari kemungkinan kesalahan itu, orang sengaja mencocokkannya. Sama halnya dengan Simon Kistemaker, kita tidak setuju dengan pendapat ini. Petrus punya tujuan memakai istilah ”sakit melahirkan.” Kata ini menjadi inti atau pusat dari kebangkitan Kristus. Esensi dari Kis. 2:24 adalah Allah bertindak membangkitkan Dia dan melepaskan Dia dari the birth pain of death, sakit melahirkan kematian artinya Dia tidak bisa diikat oleh kematian. Kata “Birth pain”  pertama kali muncul di kitab Kejadian 3:16, yakni ketika manusia jatuh di dalam dosa, Allah langsung membereskan masalah dosa, yaitu Allah menyatakan antara kamu dan dia akan terjadi permusuhan laten, keturunannya akan terus menyerang, tetapi tidak bisa menghancurkan, ia hanya bisa menggigit tumit tetapi sebaliknya, engkau akan menghancurkan kepalanya. Inilah berita Injil pertama kali membicarakan tentang kematian Kristus Yesus di atas kayu salib, iblis mematok tumitnya tetapi Kristus menghancurkan ia melalui kebangkitan-Nya. 

Ketika manusia jatuh, pertama kali Allah mengatakan kepada Hawa: ”… dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu…” (Kej. 3:16). Hukuman kedua ditujukan pada Adam: “… dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu… dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu…” (Kej. 3:17-19). Itulah sebabnya ketika orang Israel mendengar Petrus mengatakan kata birth pain mereka langsung mengkaitkan dengan kejatuhan manusia dalam dosa. Mengapa Kristus dibangkitkan? Jawabannya adalah karena manusia telah berdosa. Seandainya manusia tidak berdosa maka Kristus tidak  mati dan tidak akan ada kebangkitan. Setiap orang harusnya disadarkan ketika melihat atau bahkan mengalami sakit melahirkan dan para pria harus berpeluh, bersusah payah, bekerja semua itu karena dosa telah mencengkeram manusia.

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memilih kata “sengsara” mengambarkan esensi dosa. Namun sangatlah mengenaskan, hari ini dunia mencoba membuang realita dosa dan celakanya gereja tidak lagi menegur orang akan dosa supaya kembali pada Tuhan Allah. Tidak! Sebaliknya, kita melihat banyak ajaran justru semakin menjerumuskan manusia ke dalam dosa, orang tidak lagi disadarkan akan realita dosa, yakni realita sakit melahirkan dan bekerja untuk kemudian dibawa kembali pada Tuhan dan bertobat tetapi kita justru melihat banyak ajaran sesat seperti retire rich retire young dan ilmu kedokteran menawarkan jalan keluar untuk tidak sakit saat melahirkan. Dunia mencoba menggeser esensi dosa. Semakin manusia tidak mau menyadari dosa, hal itu akan menjadikan manusia hidup lebih sengsara. 

Adalah mustahil, orang hidup di dalam dosa, akan hidup nyaman dibandingkan dengan orang yang hidup dalam kebenaran. Satu-satunya jalan orang dapat hidup berbahagia adalah lepas dari belenggu dosa dan hanya kuasa kebangkitan Kristuslah yang dapat melepaskan kita dari kutuk dosa. Pdt. Stephen Tong dalam khotbah Paskahnya menegaskan kita harus terlebih dahulu disadarkan akan dosa barulah kita dapat memahami apa arti substitution sacrifice, redemptive sacrifice, propitiation sacrifice, reconciliation sacrifice. Tidak ada kesadaran akan dos maka semua pengorbanan yang dilakukan Kristus di atas salib dan kebangkitan-Nya tidak berarti. Iman kristen sejati dimulai dari kesadaran akan realita dosa. Kebangkitan Kristus adalah kelepasan yang Allah kerjakan untuk melepaskan kita dari kutuk dosa, sakit melahirkan, dimana impact terakhirnya adalah maut. Ini bukan sekedar sakit melahirkan biasa tetapi the birth pain of death, kematian yang membinasakan manusia dan hal ini tidak bisa dikerjakan oleh manusia biasa.

Perhatikan di Kis. 2:22, Petrus dengan tegas menyatakan bahwa Yesus dari Nazareth, dalam hal ini Petrus ingin membawa mereka melihat kemanusiaan Kristus secara tajam: “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.” Petrus menegaskan tanda dan mujizat yang dilakukan oleh Kristus adalah semata-mata karena Kedaulatan Allah dan Kristus taat. Semua tanda atau mujizat yang dilakukan Kristus bukan untuk kenikmatan manusia tetapi demi menyatakan siapakah Kristus, yakni Dia adalah Tuhan yang diutus oleh Allah.

Di titik-titik yang paling krusial di mana seharusnya Kristus mempunyai kapasitas untuk menolong diri-Nya tetapi Dia tidak melakukan mujizat. Ketika di padang gurun, dalam keadaan paling menderita, Ia tidak membuat mujizat. Bahkan Tuhan Yesus tidak banyak melakukan mujizat pada murid-murid yang paling dekat dengan Dia. Pada orang-orang lain (di luar 12 murid Tuhan Yesus) justru paling banyak mendapat dan mengalami mujizat. Ini menjadi prinsip pelayanan yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Perhatikan juga Kis. 2:23: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” Yang dimaksud disini adalah orang-orang Romawi, bangsa-bangsa yang melawan Allah, orang yang jahat, durhaka. Mereka tidak menghargai Allah, mereka adalah orang fasik maka kalau mereka dapat menangkap dan menyalibkan Tuhan Yesus, itu karena Allah yang menyerahkan Tuhan Yesus ke tangan bangsa-bangsa durhaka. Di Kis 2:24 dituliskan: “Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sakit melahirkan maut, ….” Banyak perdebatan yang muncul karena kalimat ini sepertinya, Tuhan Yesus tidak punya kuasa kebangkitan dan Allah yang harus menolong Dia. Perlu diperhatikan, ayat ini tidak membicarakan siapa bisa atau tidak bisa. Tidak! Tuhan Yesus adalah Allah maka Dia dapat bangkit. Penekanan ayat ini, yaitu kebangkitan berarti tindakan Ilahi menolong manusia dari ikatan dosa sebab mustahil orang berdosa melepaskan diri sendiri dari ikatan dosa.

Orang dapat lepas dari ikatan dosa itu semata-mata karena Allah yang melepaskan, inilah kekuatan untuk mengerti kebangkitan. Kebangkitan adalah tindakan utk melepaskan manusia dari dosa. Kristus menyerahkan diri-Nya untuk menggantikan kita. Inilah redemptive sacrifice. Kristus menanggung dosa kita, Dia harus bayar harga dosa, membayar tuntutan dosa, dan Dia harus di buang oleh Allah dari hadapan kebinasaan. Segera iblis, kuasa maut mengikat Dia mengharapkan bisa memegang Dia namun Kristus melepaskan diri, Dia bangkit dan menang atas kuasa maut. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian. Sungguh konyol, kalau ada orang hidup mengatakan: “aku bangkit.” Untuk bisa bangkit maka orang harus mati terlebih dahulu. Tuhan Yesus harus jadi manusia supaya Ia bisa mati dan bangkit. Sebab Allah tidak bisa mati, jadi Allah tidak mungkin mati. Inilah alasan kenapa ayat ini menekankan kemanusiaan Kristus. Inkarnasi menjadikan diri manusia taat, mati dan bangkit. Urutan ini tidak bisa dilepas. Adalah pemikiran yang salah dan bodoh kalau dengan melakukan perbuatan baik maka orang bisa masuk sorga. Coba kita pikirkan kembali, kalau kita berbuat baik demi motivasi mendapatkan sorga apakah perbuatan baik itu dapat dikatakan baik? Justru ia semakin berbuat baik ia makin berdosa. Di sisi hukum, adalah mustahil sebagai contoh, kita membunuh satu orang dan kemudian kita melakukan perbuatan baik kepada sepuluh orang dengan pemikiran perbuatan baik yang kita lakukan dapat menghilangkan satu kesalahan kita toh kita masih punya sembilan? Bisakah hal itu diberlakukan demikian? Tidak! Perbuatan baik tidak dapat meniadakan kejahatan yang kita lakukan. Tuntutan keadilan harus terus berjalan. 

Setiap dosa harus dibayar dan upah dosa adalah maut. Orang berdosa tidak dapat menggantikan hukuman orang berdosa maka satu-satunya cara Kristus, Dia harus bayar utang dosa kepada Allah maka iblis tidak punya hak untuk memiliki lagi, karena ia bukan pemilik; iblis hanya mengambil keuntungan. Ketika Allah memalingkan muka, iblis menangkapnya. Kuasa pelepasan Kristus menjadi satu-satunya jawaban kita lepas dari dosa. Sakit melahirkan bukan berakhir di sakit saja tetapi harus berakhir di proses melahirkan. Setalah melahirkan maka semua sakit itu hilang. Petrus memakai istilah tajam, yaitu sakit melahirkan, artinya orang kristen hidup bukan terus menerus hidup sengsara di dalam penderitaan. Tidak! Tetapi karena Kristus  Tuhan membebaskan kita dari cenkeraman setan. Inilah esensi kebangkitan. 

Ketiga sakit melahirkan itu bukan selama-lamanya tapi segala sesuatu ada waktunya. Kuasa kebangkitan jauh lebih besar dari kuasa negatif. Hati-hati dengan berbagai konsep dunia yang salah, diantaranya: 1) antara kekuatan positif dan negatif seimbang, 2) konsep dualisme, dua kekuatan saling berlawanan dan sama-sama kuat, 3) filsafat timur menyatakan tidak mungkin ada kebaikan kalau tidak ada kejahatan, 4) ajaran lain yang muncul 350 thn sebelum Kristus di jaman plato dan neo platonik bahkan 1200 tahun sebelum Tuhan Yesus, yakni di jaman mesopotamia, 5) ajaran lao tze, confucius, 6) di Jawa pun ada ajaran hanacaraka, datasawala, padajayanya, magabatanga, artinya di tengah dunia ada dua kekuatan yang saling bertentangan, keduanya sama kuat dan sama besar dan semua berakhir dengan kebinasaan total. 

Alkitab menegaskan kebaikan adalah the entity asli. Kebaikan pasti mengalahkan kejahatan sebab  kejahatan submissive, berada di bawah kuasa kebaikan. Untuk lebih jelasnya, terang dan gelap; terang adalah the entity asli, gelap akan hilang ketika terang itu muncul karena gelap itu bukan entity. Terang tidak bisa dikalahkan oleh kegelapan. Hati-hati dengan konsep Yin Yang yang mengajarkan bahwa ditengah-tengah kejahatan ada setitik kebaikan dan sebaliknya yang ditandai dengan simbol mereka. Alkitab melawan, kuasa kematian boleh merengut Kristus tetapi tidak mungkin Dia terus berada di dalam kuasa maut. Secarik kertas yang sobek di bagian tengah ketika diperlihatkan pada kita, bagian lubang itu akan menjadi perhatian kita. Orang cenderung menjawab: kertas itu ada lobangnya. Salah! Tapi ada bagian yang hilang. Lubang bukan sesuatu keberadaan. Inilah esensi dosa. Alkitab menegaskan kuasa kematian boleh menekan kita tapi sampai batas tertentu, dia harus keluar. Itulah sebabnya Petrus memakai kata “sakit melahirkan” karena tidak selamanya sakit, tiba waktunya, bayi itu harus keluar. 

Hingga tiba waktunya, kuasa kematian tidak mampu menahan Kristus; tidak ada satu kekuatan yang dapat mencengkeram Dia. Itulah sebabnya, Paulus dengan sinis dapat berkata: ”Hai maut, dimanakah kekuatanmu, dimanakah sengatmu?” Natur kebangkitan bukan kesejajaran dengan kejahatan; kuasa maut harus tunduk. Jadi, istilah sakit melahirkan sangat tepat sekali, inilah jalan menuju lahir baru, kebangkitan, kemenangan, hidup dalam pimpinan Tuhan. Alangkah indah hidup berada dalam Kristus Tuhan karena kita akan mengalami kuasa kemenangan yang sudah menjadi natur. Janganlah terjebak dengan bujukan iblis yang menawarkan kenikmatan sesaat, setan akan mencengkeram kita. Hanya kembali pada Tuhan Yesus yang adalah “Kebangkitan dan Hidup” maka kita akan dilepaskan dari belenggu dosa dan kita akan berkemenangan di dalam Dia. Maukah kita kembali pada Dia Sang Kebangkitan dan Hidup?  Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080316.htm

THE CROSS THE COST OF THE TRUTH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

May 26th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 9 Maret 2008

The Cross the Cost of the Truth

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Yoh. 18:37-38

Kehidupan di dunia yang kita jalani semakin hari semakin sulit. Keluhan demi keluhan selalu kita dengar, orang mengeluh tentang harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, kita melihat antrian minyak tanah dimana-mana, kekerasan dan kejahatan terjadi hampir di seluruh bagian di penjuru dunia. Ini merupakan efek dari gerakan pencerahan, enlightment sekitar abad pertengahan dimana manusia memutlakkan rasionalisme dan atheisme. Orang mulai meninggalkan Allah, merasa tidak memerlukan Tuhan lagi karena mereka merasa sudah dewasa. Nietszche dengan berani menyatakan bahwa Tuhan sudah mati dan dialah pembunuhnya. Itulah puncak dari semangat humanitas; rasio menjadi “allah” bagi manusia. Titik humanitas ini memuncak di abad 19 dan terus berlanjut di abad ke-20 dimana kebebasan, freedom menjadi teriakan manusia modern. 

Pdt. Stephen Tong menegaskan abad 20 adalah abad yang bodoh, karena abad 20 mengadopsi semua pemikiran bodoh dari abad sebelumnya. Manusia telah rusak moral secara total. Sejarah mencatat sepanjang abad 20 adalah bukti kehancuran kehidupan manusia secara mendasar. Peperangan paling mematikan dan memakan banyak korban terjadi di abad 20, dibandingkan dengan 19 abad sebelumnya. Kebrutalan manusia sangatlah mengerikan, apa yang dilakukan oleh Hitler menjadi catatan hitam sejarah dunia, kebiadaban Jepang yang menjadikan para wanita jajahannya sebagai pemuas nafsu, dan masih banyak lagi kebrutalan manusia. Dunia modern dimana teknologi semakin canggih namun justru merenggut nyawa manusia semakin besar, berbagai jenis penyakit baru muncul, kecelakaan transportasi, bencana alam, kehancuran ekonomi dunia, dan lain-lain. Ironisnya, manusia tidak menyadari realita, konsep pemikiran manusia dipelintir sedemikian rupa, orang tidak kembali kepada kebenaran, orang mempermainkan kebenaran. 

Kebenaran tidak lagi menjadi esensi karena mereka telah membuang Tuhan. Kalau kita menajamkan ontological argumentasi Kant untuk masalah etika maka kebenaran yang diungkapkan itu sangat relativistik. Etika dipermainkan sedemikian rupa demi kepentingan manusia seperti konsep utilitarianisme yang dicetuskan oleh John Stuart Mill, dimana segala sesuatu diukur berdasarkan konsep manfaat. Etika sejati harus kembali kepada Tuhan Allah, setiap langkah dan keputusan yang diambil harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Sangatlah disayangkan, Kekristenan yang seharusnya membawa orang kembali pada kebenaran sejati ternyata diterpa oleh relativitas humanitas di dalam masalah etika. Bahkan dalam hal ibadah pun, orang ingin mendapatkan keuntungan diri. Ibadah sejati harus kembali pada Allah. Segala kemuliaan bagi Allah di dalam setiap aspek hidup kita. Cara kita menilai sesuatu, bertingkah laku, berpikir, berkata-kata haruslah seturut dengan kehendak Tuhan. Inilah esensi etika. 

Hari ini kita akan merenungkan bagaimana membangun sistem etika seperti yang Tuhan inginkan. Pilatus dengan sinis bertanya pada Yesus,”Jadi Engkau adalah raja?” Tuhan Yesus mengkonfirmasi jawaban Pilatus “Engkau mengatakan, bahwa Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku” (Yoh. 18:37-38). Pilatus balik mempertanyakan: “Apa itu kebenaran?” Intonasi tidak nampak jelas pada bagian ini, karena pertanyaan “Apa itu benaran” bisa mempunyai 2 pengertian, yakni: 1) ingin tahu kebenaran, 2) nada mengejek. Alkitab dengan jelas mencatat setelah Pilatus bertanya: ”Apa itu kebenaran?” ia langsung pergi meninggalkan Yesus (ay. 38b). 

Pilatus seorang yang skeptis, dia penganut filsafat skeptisisme. Tiga arus filsafat terbesar Yunani kuno adalah epikurianisme, stoiksisme, dan skeptisisme. Perhatikan, apa yang dikatakan Pilatus ketika ia tidak menemui kesalahan pada Tuhan Yesus: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.” Dengan kata lain, Pilatus mau mengatakan bahwa Tuhan Yesus benar tapi ia tidak memakai kata “benar.” Pilatus memberikan jawaban skeptis kepada masyarakat. Kristus dengan tegas menunjukkan bagaimana kita harus bersikap di tengah-tengah kondisi yang begitu sulit. 

Orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi kebenaran, mewartakan kebenaran dan membawa orang kembali pada kebenaran sejati di tengah dunia yang bobrok dan rusak moral ini. Namun hari ini, orang takut menjadi saksi kebenaran sejati. Ada tiga aspek yang menjadi penyebab mengapa orang takut mewartakan dan menjadi saksi kebenaran, yakni:

1. World Spirit (Roh Dunia), Konsep pemikiran duniawi yang humanis egois lebih banyak meracuni pemikiran manusia dibandingkan dengan Firman Tuhan mengisi dan menguasai pikiran kita. Roh dunia merembes masuk dan mempengaruhi pemikiran kita sedemikian rupa tak terkecuali orang Kristen. Pertanyaan sekaligus evaluasi bagi kita apakah dalam setiap keputusan yang kita ambil Kristus menjadi pertimbangan dan perhatian utama kita? Sangatlah mengenaskan, hari ini banyak orang mengaku Kristen. Manusia begitu serakah, selalu ingin mendapatkan keuntungan lebih besar dan lebih besar lagi dan iblis tahu akan hal ini maka dengan caranya yang licik, tentang hal investasi dibalut sedemikian rupa sehingga orang menjadi tergiur dan terjebak. Orang ingin mengeruk keuntungan sebanyak- banyaknya dari orang lain, tidak peduli meski orang lain menderita asal dirinya memperoleh keuntungan. Inilah cara iblis dan cara ini yang hari ini dipakai oleh hampir seluruh perusahaan yang menawarkan investasi ”menguntungkan.” Sesungguhnya, kalau kita mau teliti, data statis yang diberikan tidak pernah valid, data yang diberikan menunjukkan keuntungan besar, yakni 33% karena data diambil dari tahun 2002 s/d 2008, tetapi kalau kita hanya ambil data dari tahun 2005 s/d 2008 maka keuntungan turun hanya 14% dan kalau kita ambil data satu tahun terakhir maka keuntungan semakin turun hanya 7%. 

Jelaslah disini, orang menipu dengan memakai data palsu untuk mendapatkan keuntungan dan celakanya, manusia tidak menyadari karena manusia berdosa sangat agresif, tergiur dengan keuntungan besar yang semu. Celakanya, bukan hanya perorangan yang bermain-main dalam investasi tetapi negara juga ikut bermain di dalamnya akibatnya rakyat semakin menderita karena ikut menanggung hutang negara. Semua bahan pokok mengalami kenaikan harga, pajak naik, listrik naik, dan masih banyak lagi. Inilah kondisi dunia berdosa maka wajarlah kalau kita meratap, justru aneh kalau kita tidak meratap karena kita berada dalam jurang yang paling dalam. Sangatlah disayangkan, tidak semua orang sadar seperti pemazmur kalau saat ini, ia berada di dalam jurang. Orang menjadi pragmatis terhadap kondisi di sekitar. Firman Tuhan telah membukakan pada kita bagaimana jalan keluar dari jurang dosa.   

1. Kesadaran dalam Jurang Dosa (Mazmur 130:1-2)

Pemazmur tidak berhenti menikmati hidup dalam jurang penderitaan, non posse non peccare. Hidup di dalam jurang berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mengandalkan belas kasihan si tuan, kalau si tuan senang maka ia akan memberi kita makan sebaliknya ketika si tuan sudah tidak suka maka ia akan membuang kita. Dari jurang yang dalam itu, pemazmur berseru dan meminta pertolongan Tuhan, ia menerobos ke luar. Hari ini kita hidup dalam dunia berdosa, kita berada dalam jurang dosa namun perhatikan, Tuhan tidak pernah menginginkan kita terbelenggu dalam jerat dosa. Tidak! Alkitab menegaskan ketika kita hidup di dalam Tuhan maka Dia mengeluarkan kita dari dalam jurang. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak memahami hal ini, ketika mereka berada dalam jurang, mereka tidak berseru meminta tolong malah marah dan mengeluh pada Tuhan. Hanya Tuhan satu-satunya yang bisa mengangkat kita keluar, hanya Dia satu-satunya pengharapan kita dan yang memberikan kemenangan pada kita.Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku (Mzm. 130:2) biarlah juga menjadi permohonan kita.

Ratapan adalah suatu pengakuan, confession dan biasanya diletakkan pada bagian depan dari suatu ibadah. Perlu diakui kita, gereja reformed masih kurang meskipun secara keseluruhan ibadah telah mengikuti format yang berlaku sejak berabad-abad tahun yang lalu. Ratapan yang diletakkan pada bagian depan ibadah seharusnya menyadarkan siapakah kita di hadapan Allah yang Maha Besar, kita tidak lebih hanyalah manusia berdosa. Maka ada baiknya sebelum masuk dalam ibadah, ada pengakuan dosa, dengan rendah hati kita mengaku di hadapan Tuhan, dan kita memohon supaya Tuhan mendengarkan suara permohonan kita. Sayang, sikap rendah hati ini tidak muncul dalam ibadah. Dunia merasa diri hebat dan merasa diri adalah ”allah” yang dapat mengatur segala sesuatu akibatnya kehancuran bagi diri. Dia telah menutup satu-satunya jalan yang membawa ke luar dari jurang.

2. Kesadaran bahwa Tuhan Berdaulat (Mazmur 130:3)

Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? (Mzm. 130:3) Kalimat yang paradoks, di satu sisi, kita hanya tahu satu yakni Tuhanlah jawabanku namun di sisi lain, kalau Tuhan menahan, tidak mau menyelesaikan kesalahan kita maka kita tidak akan dapat tahan. Jelas disini kita melihat, otorisasi di tengan Tuhan. Celakalah hidup kita kalau Tuhan tidak lagi peduli dengan kita.Tidak ada cara manusia harus kembali pada Tuhan. Kedaulatan pertama kembalikan pada Tuhan, manusia harus taat pada apa yang menjadi kehendak Allah.

3. Kesadaran Pengharapan hanya pada Pengampunan Allah (Mazmur 130:4)

Tidak cukup sampai disitu, ada paradoks yang lain: Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang (Mzm. 130:4). Disatu pihak, Tuhan Maha Besar namun di pihak lain, Tuhan menyediakan pengampunan. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memberikan pengampunan pada kita. Ingat, Allah itu Maha Pengampun namun bukan berarti Ia dapat dipermainkan. Allah Maha Pengampun itu juga menyediakan neraka bagi mereka yang melawan Allah. Jalan ke sorga itu sempit sebaliknya jalan ke neraka itu lebar, bebas hambatan maka tidak heran kalau banyak orang yang mau ke sana. Anugerah pengampunan Tuhan harusnya membuat kita takut gentar, kita tidak berani berbuat dosa sebab sesungguhnya, kita tidak layak menerimanya. Adalah pernyataan yang salah kalau menjadi Kristen, kita dapat berbuat dosa dari hari Senin s/d Sabtu dan kita kembali suci pada hari Minggu. Salah! Ini konsep humanis. Anugerah Tuhan itu harusnya menggentarkan kita. Kita adalah orang berdosa tetapi mendapatkan anugerah keselamatan maka jangan permainkan anugerah Tuhan itu. Ratapan orang kristen bukan berakhir dengan ratapan tetapi berakhir dengan keselamatan kekal sebaliknya, ratapan dunia berakhir dengan ratapan kekal. Semua agama tidak dapat menyelesaikan secara tuntas, mereka menyatakan kalau ingin masuk surga harus usaha sendiri, yakni dengan berbuat baik. Dengan usaha sendiri, mustahil manusia dapat keluar dari lumpur dosa. Hanya Kristus Tuhan yang sanggup mengeluarkan kita dari lumpur dosa, dari sorga mulia Dia turun ke dunia. Hati-hati iblis yang licik akan menawarkan jalan keluar tetapi perhatikan, ia tidak pernah memberi gratis. Iblis pasti mengharapkan imbalan. Hanya Tuhan yang mampu melepaskan kita dari jerat dosa. 

3. Kesadaran Pengharapan hanya pada Anugerah Allah (Mazmur 130:5-6)

Ketika kita hidup menanti-nantikan Tuhan maka disana ada suatu pengharapan sejati. Pada ayat ke-6 diulang sebanyak 2 kali menjadi cetusan hati si pemazmur setelah dibuang. Dalam situasi pelik itu, posisi seorang pengawal itu sangatlah berarti. Tidaklah mudah menjadi seorang pengawal, ia harus terus berjaga sepanjang malam hingga pagi. Waktu menjelang pagi adalah waktu yang sangat berat untuk melawan kantuk sekaligus saat yang berbahaya dimana pencuri mudah untuk masuk maka ia berharap akan datangnya pagi. Itulah pengharapan yang sungguh. Betapa indah hidup kita kalau kita  senantiasa berharap pada Tuhan karena Dialah satu-satunya pengharapan sejati. 

4. Melihat Keselamatan bagi Bangsa (Mazmur 130:7-8)

Mazmur 130 juga mempunyai kesan mendalam di hati Luther selain Mazmur pasal 32 dan pasal 43. Ketiga mazmur ini disebut juga sebagai psalm Pauline sebab seperti theologi Paulus. Paulus menyadari sebelum dilepaskan oleh Kristus, seluruh jiwa raganya terbelenggu dosa, ia telah melakukan perbuatan bodoh, membunuh pengikut Tuhan dan membela orang Yahudi yang munafik. Tuhan melepaskan maka terlepas, kita dipanggil untuk menjadi pelepas dan melihat pembebasan Tuhan. Jawaban terakhir dari ratapan bukan kesengsaraan, tapi kebebasan. Kemerdekaan yang Tuhan berikan berbeda dengan kemerdekaan yang diberikan oleh dunia. Kebebasan yang diberikan dunia berarti bebas berbuat dosa. Berbahagialah hidup kita kalau Tuhan masih peduli dan menegur ketika kita berbuat dosa. Apakah kemerdekaan sejati? Jajahan berarti tidak punya hak, orang menuntut kemerdekaan namun setelah merdeka, tidak mengerjakan kemerdekaan malah tertidur. Hidup setelah merdeka justru menjadi lebih sengsara. Pada saat sengsara, manusia meratap dan meminta tolong pada Tuhan untuk mengeluarkan dari jurang. Kemerdekaan yang Tuhan berikan adalah kemerdekaan dalam kebenaran dan menjadikan hidup kita berkualitas; apapun yang kita lakukan adalah untuk Tuhan yang telah memerdekakan kita. Hidup berkualitas disini bukan berarti kita harus mempunyai intelektualitas yang tinggi. Tidak! Apalah artinya intelektualitas tinggi tetapi kita tidak mempunyai hati yang mengasihi sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.

Biarlah kebebasan sejati yang Tuhan berikan menerobos dan mengubahkan konsep pemikiran kita yang selama ini salah dan kita hidup menjadi semakin serupa dengan Kristus dan hidup memuliakan Dia. "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yoh. 8:31-32). Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber: http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080309.htm

THE CONCEPT OF WORSHIP-4: The Lament in Worship (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

May 18th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 2 Maret 2008

The Lament in Worship

Nats: Mzm. 130

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

 

Hal yang tak kalah pentingnya dalam ibadah adalah ratapan. Meratap merupakan hal yang unik yang ada dalam ibadah namun pada hari ini banyak gereja yang menghilangkan unsur ratapan. Akibatnya banyak orang meratap di luar gereja, orang pergi ke psikolog dan bukan penyelesaian yang didapatkan tetapi masalah baru. Meratap sering dilakukan oleh para nabi Tuhan yang hidup dalam jaman yang rusak moral. Yang menjadi pertanyaan adalah samakah meratap dengan marah? Bukankah ketika kita sedang marah pada Tuhan, keluar ungkapan kemarahan sebagai ratapan di hadapan Tuhan? Alkitab memperkenankan kita meratap dan menyatakan keluhan-keluhan kita di hadapan-Nya bukan kemarahan yang kita ungkapkan ke hadapan Tuhan. Ketika kita meratap maka ratapan yang keluar itu seharusnya menjadi ungkapan yang keluar karena kita orang berdosa yang hidup dalam kesengsaraan. Berbeda halnya dengan marah, ketika orang marah maka kemarahan itu lebih didasarkan karena diri merasa benar dan Tuhan salah. Perhatikan, manusia selamanya tidak mungkin akan lebih benar dari Tuhan. Tuhan adalah kebenaran sejati. Maka jelaslah disini meratap berbeda dengan marah. 

Kitab Ratapan yang ditulis nabi Yeremia begitu indah, terdiri dari lima pasal dimana setiap pasal terdiri dari 22 ayat dimana ke-22 ayat ini merupakan jumlah abjad Ibrani, setiap ayat dimulai dari abjad Ibrani dan khusus pasal 3 terdiri dari 66 ayat. Ternyata, dalam ratapan ada keindahan. Ratapan Yeremia berisi tentang keluhan kondisi Yerusalaem bukan kemarahan sebab orang marah tidak mungkin menulis sedemikian indah dan teratur. Sangatlah wajar kalau hari ini banyak manusia meratap mengingat kondisi dunia berdosa, banyak kesulitan yang harus dihadapi, bencana alam dimana-mana, kehancuran sistim ekonomi dunia, dan tantangan lain di depan yang harus dihadapi. 

Adalah pendapat yang salah yang menyatakan bahwa tidak ada kaitan antara bencana dengan dosa. Tidak! Akibat ulah manusia berdosa, kejahatan makin meraja lela, bencana alam melanda hampir seluruh penjuru dunia. Dunia makin menuju pada kehancuran dan sifat dosa begitu mencengkeram hidup sehingga sulit bagi manusia untuk lepas dari belenggu dosa. Bencana alam yang terjadi tidak lepas dari tangan Tuhan. Tuhan memakai bencana untuk memperingati dan menghukum manusia berdosa, Tuhan juga mengirim bangsa-bangsa lain yang jahat untuk berperang dan menawan mereka. Penderitaan demi penderitaan sepertinya tidak pernah berhenti, manusia merasa seperti berada dalam lembah maut. Di tengah segala kesulitan, orang harusnya mengevaluasi diri mengapa hal itu terjadi dalam hidup kita? Orang harusnya datang, meratap ke hadapan Tuhan, memohon ampunan dan bertobat. Pemazmur berseru kepada Tuhan dari jurang yang dalam, ia meratap kepada Tuhan. Sebagai anak Tuhan, seharusnya sadar bahwa kita hidup dalam realita dunia berdosa; dosa itu begitu mengerikan sehingga sulit bagi kita untuk keluar dari jurang yang begitu dalam kecuali tangan Tuhan mengangkat dan melepaskan kita. 

Penderitaan tidak hanya datang dari bencana alam semata tetapi juga karena ulah manusia itu sendiri. Hari ini kita melihat ekonomi dunia khususnya ekonomi Amerika mulai berada di ambang kejatuhan karena manusia mulai bermain-main dengan saham seperti layaknya berjudi. Orang tidak lagi menggunakan kaidah-kaidah investasi seperti seharusnya tetapi orang berinvestasi, membeli saham dan dalam hitungan detik menjualnya kembali dengan keuntungan lebih besar. Seorang pakar ekonomi Amerika, Paul B. Farrel dalam tulisannya di Harian Kompas menganalisa ternyata 516 triliun US dollar dipermainkan sedemikian rupa dalam bursa saham padahal jumlah seluruh produk domestik bruto manusia hanya 48 triuliun US dollar. Lalu darimanakah dana sebesar 516 triliun US dollar itu? Komiditi utama negara seperti minyak, emas, dan lain-lain itulah yang dimasukkan dalam permainan saham akibatnya harga minyak melambung tinggi, begitu juga halnya dengan emas maupun komoditi yang lain. Hidup manusia yang sudah menderita semakin bertambah sulit. Celakanya, manusia yang sudah hidup dalam penderitaan juga dimanipulasi orang lain; orang masih tega menarik keuntungan dari penderitaan orang lain. Perhatikan, pialang saham pasti tidak mau rugi maka ia mempermainkan uang orang lain dan dari situ, ia mendapatkan keuntungan. Inilah dunia berdosa. Manusia begitu serakah, selalu ingin mendapatkan keuntungan lebih besar dan lebih besar lagi dan iblis tahu akan hal ini maka dengan caranya yang licik, tentang hal investasi dibalut sedemikian rupa sehingga orang menjadi tergiur dan terjebak. Orang ingin mengeruk keuntungan sebanyak- banyaknya dari orang lain, tidak peduli meski orang lain menderita asal dirinya memperoleh keuntungan. Inilah cara iblis dan cara ini yang hari ini dipakai oleh hampir seluruh perusahaan yang menawarkan investasi ”menguntungkan.” Sesungguhnya, kalau kita mau teliti, data statis yang diberikan tidak pernah valid, data yang diberikan menunjukkan keuntungan besar, yakni 33% karena data diambil dari tahun 2002 s/d 2008, tetapi kalau kita hanya ambil data dari tahun 2005 s/d 2008 maka keuntungan turun hanya 14% dan kalau kita ambil data satu tahun terakhir maka keuntungan semakin turun hanya 7%. 

Jelaslah disini, orang menipu dengan memakai data palsu untuk mendapatkan keuntungan dan celakanya, manusia tidak menyadari karena manusia berdosa sangat agresif, tergiur dengan keuntungan besar yang semu. Celakanya, bukan hanya perorangan yang bermain-main dalam investasi tetapi negara juga ikut bermain di dalamnya akibatnya rakyat semakin menderita karena ikut menanggung hutang negara. Semua bahan pokok mengalami kenaikan harga, pajak naik, listrik naik, dan masih banyak lagi. Inilah kondisi dunia berdosa maka wajarlah kalau kita meratap, justru aneh kalau kita tidak meratap karena kita berada dalam jurang yang paling dalam. Sangatlah disayangkan, tidak semua orang sadar seperti pemazmur kalau saat ini, ia berada di dalam jurang. Orang menjadi pragmatis terhadap kondisi di sekitar. Firman Tuhan telah membukakan pada kita bagaimana jalan keluar dari jurang dosa.   

1. Kesadaran dalam Jurang Dosa (Mazmur 130:1-2)

Pemazmur tidak berhenti menikmati hidup dalam jurang penderitaan, non posse non peccare. Hidup di dalam jurang berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mengandalkan belas kasihan si tuan, kalau si tuan senang maka ia akan memberi kita makan sebaliknya ketika si tuan sudah tidak suka maka ia akan membuang kita. Dari jurang yang dalam itu, pemazmur berseru dan meminta pertolongan Tuhan, ia menerobos ke luar. Hari ini kita hidup dalam dunia berdosa, kita berada dalam jurang dosa namun perhatikan, Tuhan tidak pernah menginginkan kita terbelenggu dalam jerat dosa. Tidak! Alkitab menegaskan ketika kita hidup di dalam Tuhan maka Dia mengeluarkan kita dari dalam jurang. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak memahami hal ini, ketika mereka berada dalam jurang, mereka tidak berseru meminta tolong malah marah dan mengeluh pada Tuhan. Hanya Tuhan satu-satunya yang bisa mengangkat kita keluar, hanya Dia satu-satunya pengharapan kita dan yang memberikan kemenangan pada kita.Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku (Mzm. 130:2) biarlah juga menjadi permohonan kita.

Ratapan adalah suatu pengakuan, confession dan biasanya diletakkan pada bagian depan dari suatu ibadah. Perlu diakui kita, gereja reformed masih kurang meskipun secara keseluruhan ibadah telah mengikuti format yang berlaku sejak berabad-abad tahun yang lalu. Ratapan yang diletakkan pada bagian depan ibadah seharusnya menyadarkan siapakah kita di hadapan Allah yang Maha Besar, kita tidak lebih hanyalah manusia berdosa. Maka ada baiknya sebelum masuk dalam ibadah, ada pengakuan dosa, dengan rendah hati kita mengaku di hadapan Tuhan, dan kita memohon supaya Tuhan mendengarkan suara permohonan kita. Sayang, sikap rendah hati ini tidak muncul dalam ibadah. Dunia merasa diri hebat dan merasa diri adalah ”allah” yang dapat mengatur segala sesuatu akibatnya kehancuran bagi diri. Dia telah menutup satu-satunya jalan yang membawa ke luar dari jurang.

2. Kesadaran bahwa Tuhan Berdaulat (Mazmur 130:3)

Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? (Mzm. 130:3) Kalimat yang paradoks, di satu sisi, kita hanya tahu satu yakni Tuhanlah jawabanku namun di sisi lain, kalau Tuhan menahan, tidak mau menyelesaikan kesalahan kita maka kita tidak akan dapat tahan. Jelas disini kita melihat, otorisasi di tengan Tuhan. Celakalah hidup kita kalau Tuhan tidak lagi peduli dengan kita.Tidak ada cara manusia harus kembali pada Tuhan. Kedaulatan pertama kembalikan pada Tuhan, manusia harus taat pada apa yang menjadi kehendak Allah. 

3. Kesadaran Pengharapan hanya pada Pengampunan Allah (Mazmur 130:4)

Tidak cukup sampai disitu, ada paradoks yang lain: Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang (Mzm. 130:4). Disatu pihak, Tuhan Maha Besar namun di pihak lain, Tuhan menyediakan pengampunan. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memberikan pengampunan pada kita. Ingat, Allah itu Maha Pengampun namun bukan berarti Ia dapat dipermainkan. Allah Maha Pengampun itu juga menyediakan neraka bagi mereka yang melawan Allah. Jalan ke sorga itu sempit sebaliknya jalan ke neraka itu lebar, bebas hambatan maka tidak heran kalau banyak orang yang mau ke sana. Anugerah pengampunan Tuhan harusnya membuat kita takut gentar, kita tidak berani berbuat dosa sebab sesungguhnya, kita tidak layak menerimanya. Adalah pernyataan yang salah kalau menjadi Kristen, kita dapat berbuat dosa dari hari Senin s/d Sabtu dan kita kembali suci pada hari Minggu. Salah! Ini konsep humanis. Anugerah Tuhan itu harusnya menggentarkan kita. Kita adalah orang berdosa tetapi mendapatkan anugerah keselamatan maka jangan permainkan anugerah Tuhan itu. Ratapan orang kristen bukan berakhir dengan ratapan tetapi berakhir dengan keselamatan kekal sebaliknya, ratapan dunia berakhir dengan ratapan kekal. Semua agama tidak dapat menyelesaikan secara tuntas, mereka menyatakan kalau ingin masuk surga harus usaha sendiri, yakni dengan berbuat baik. Dengan usaha sendiri, mustahil manusia dapat keluar dari lumpur dosa. Hanya Kristus Tuhan yang sanggup mengeluarkan kita dari lumpur dosa, dari sorga mulia Dia turun ke dunia. Hati-hati iblis yang licik akan menawarkan jalan keluar tetapi perhatikan, ia tidak pernah memberi gratis. Iblis pasti mengharapkan imbalan. Hanya Tuhan yang mampu melepaskan kita dari jerat dosa. 

3. Kesadaran Pengharapan hanya pada Anugerah Allah (Mazmur 130:5-6)

Ketika kita hidup menanti-nantikan Tuhan maka disana ada suatu pengharapan sejati. Pada ayat ke-6 diulang sebanyak 2 kali menjadi cetusan hati si pemazmur setelah dibuang. Dalam situasi pelik itu, posisi seorang pengawal itu sangatlah berarti. Tidaklah mudah menjadi seorang pengawal, ia harus terus berjaga sepanjang malam hingga pagi. Waktu menjelang pagi adalah waktu yang sangat berat untuk melawan kantuk sekaligus saat yang berbahaya dimana pencuri mudah untuk masuk maka ia berharap akan datangnya pagi. Itulah pengharapan yang sungguh. Betapa indah hidup kita kalau kita  senantiasa berharap pada Tuhan karena Dialah satu-satunya pengharapan sejati. 

4. Melihat Keselamatan bagi Bangsa (Mazmur 130:7-8)

Mazmur 130 juga mempunyai kesan mendalam di hati Luther selain Mazmur pasal 32 dan pasal 43. Ketiga mazmur ini disebut juga sebagai psalm Pauline sebab seperti theologi Paulus. Paulus menyadari sebelum dilepaskan oleh Kristus, seluruh jiwa raganya terbelenggu dosa, ia telah melakukan perbuatan bodoh, membunuh pengikut Tuhan dan membela orang Yahudi yang munafik. Tuhan melepaskan maka terlepas, kita dipanggil untuk menjadi pelepas dan melihat pembebasan Tuhan. Jawaban terakhir dari ratapan bukan kesengsaraan, tapi kebebasan. Kemerdekaan yang Tuhan berikan berbeda dengan kemerdekaan yang diberikan oleh dunia. Kebebasan yang diberikan dunia berarti bebas berbuat dosa. Berbahagialah hidup kita kalau Tuhan masih peduli dan menegur ketika kita berbuat dosa. Apakah kemerdekaan sejati? Jajahan berarti tidak punya hak, orang menuntut kemerdekaan namun setelah merdeka, tidak mengerjakan kemerdekaan malah tertidur. Hidup setelah merdeka justru menjadi lebih sengsara. Pada saat sengsara, manusia meratap dan meminta tolong pada Tuhan untuk mengeluarkan dari jurang. Kemerdekaan yang Tuhan berikan adalah kemerdekaan dalam kebenaran dan menjadikan hidup kita berkualitas; apapun yang kita lakukan adalah untuk Tuhan yang telah memerdekakan kita. Hidup berkualitas disini bukan berarti kita harus mempunyai intelektualitas yang tinggi. Tidak! Apalah artinya intelektualitas tinggi tetapi kita tidak mempunyai hati yang mengasihi sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. 

Biarlah kebebasan sejati yang Tuhan berikan menerobos dan mengubahkan konsep pemikiran kita yang selama ini salah dan kita hidup menjadi semakin serupa dengan Kristus dan hidup memuliakan Dia. "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yoh. 8:31-32). Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080302.htm

THE CONCEPT OF WORSHIP-3: The Community of Worship (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

May 12th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 24 Februari 2008

The Community of Worship

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats

: Ibr. 10:19-25

Ibadah Kristen menyangkut seluruh aspek hidup kita setiap harinya, hidup yang berpusat pada Kristus. Ibadah Minggu menjadi dasar hidup kita yang menentukan setiap langkah kita ke depan. Kristus adalah Raja di atas segala raja, Dialah obyek yang kita sembah yang membuat kita sukacita, hormat, dan gentar. Ibadah bukan tergantung dari subyektifitas manusia; manusia bukanlah yang menentukan sukacita atau tidaknya dalam suatu ibadah. Sungguh merupakan suatu anugerah dan sukacita tersendiri kalau kita bisa datang ke dalam rumah Allah yang Maha Agung karenanya kita harus mempersiapkan hati dan diri dengan sebaik-baiknya. 

Liturgi menjadi elemen penting dalam suatu ibadah. Liturgi yang kita pakai hari ini bukanlah sembarangan tetapi telah dipikirkan dan disusun sedemikian rupa selama 300 tahun. Allah adalah obyek ibadah. Ketika kita datang pada Kaisar atau Presiden maka ada aturan protokol dunia yang harus kita hadapi maka kini, kita datang menghadap Raja yang Maha Agung dan Mulia maka harus ada tata cara yang mengaturnya. Seluruh ibadah adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Kita datang beribadah bersama-sama dengan jemaat yang disebut sebagai ibadah komunitas. Konsep ibadah komunitas yang diajarkan oleh Alkitab berbeda dengan konsep dunia. Ibadah komunitas ini akan menjadi perenungan kita hari ini. 

Istilah komunitas seringkali diteriakkan oleh orang-orang postmodern demikian juga dengan konsep ibadah. Julie Gorman menyatakan ibadah komunitas yang diteriakkan oleh postmodern adalah community life dimana manusia yang menjadi yang pusat maka ibadah diatur dan dibuat sedemikian rupa untuk memuaskan dan menyenangkan diri. Pemikiran yang salah! Ibadah sejati harus berpusat pada Allah Tritunggal. Alkitab menegaskan community worship berarti kembalinya kita kepada Allah yang sejati. Bagaimana kita mengenal Allah yang sejati? Allah seperti apa yang kita sembah itu menentukan seluruh konsep pemikiran dan seluruh tindakan kita. Allah Tritunggal menjadi perdebatan sengit hingga saat ini. Beberapa theolog percaya Allah Kristen adalah Allah monotheis murni dan sebagian yang lain menyatakan Allah Kristen adalah Allah polytheis karena Allah ada tiga. Hati-hati dengan ajaran bidat seperti modalime atau sabelianisme yang diajarkan oleh Sabelius yang mengajarkan bahwa Allah Tritunggal itu satu tetapi mempunyai 3 peran, sebagai contoh seorang ayah kalau di rumah maka jadi papa, kalau di kantor, ia direktur tetapi kalau sedang mengemudi mobil, ia adalah supir. Ajaran yang salah!

Allah kita bukan Allah yang banyak atau politeisme. Terbukti allah yang banyak justru saling menghancurkan antara allah yang satu dengan allah yang lain. Salah satu kepercayaan mengajarkan tentang allah yang mencipta, allah yang memelihara dan allah yang merusak dan manusia takut kalau dirusak maka orang lebih memilih “allah perusak” sebab orang berpikir hidup akan aman kalau pro “allah perusak.” Orang memilih allah karena alasan egoisme. Inilah sifat manusia berdosa. Orang menyadari allah yang banyak justru mencelakakan manusia tetapi ironisnya, orang justru jatuh ke ekstrim yang lain, orang percaya pada monotheis, allah hanya satu. Kalau Allah hanya satu berarti tidak obyek bagi Allah untuk mengasihi atau membenci. Hati-hati janganlah kita jatuh pada ajaran bidat lain yang menyatakan bahwa Allah kasih maka Allah membutuhkan obyek kasih sehingga Dia mencipta manusia. Disini Allah sepertinya bergantung mutlak pada manusia. Manusia menjadi absolute necessity, keharusan mutlak. 

Alkitab dengan jelas menegaskan di dalam Tritunggal, Bapa itu satu pribadi, Anak itu satu pribadi, Roh Kudus itu satu pribadi. Bapa dan Anak bisa saling berkomunikasi. Anak bisa mempunyai keinginan berbeda dengan Bapa seperti yang terjadi di Getsemani: “Bapa kalau boleh cawan ini lalu daripada-Ku….” Meskipun Anak dan Bapa bisa mempunyai keinginan berbeda namun tidak akan pecah sebab terakhirnya Anak harus taat pada apa yang menjadi kehendak Bapa. Inilah obidience. Roh Kudus harus taat pada Anak.

Allah mempunyai 3 pribadi tetapi bukan berarti menjadi 3 Allah. Tidak! Kalau 1+1+1=3 maka ~+~+~≠3~  tetapi ~+~+~=~ sebab tak terhingga sifatnya kekal, tidak berubah. Allah ini kekal adanya maka Dia tidak berubah. Sedikit saja ada perubahan esensi maka ia tidak lagi bersifat kekal. Kekal selamanya menjadi tunggal, karena Allah Bapa itu kekal, Allah Anak itu kekal dan Allah Roh Kudus itu kekal maka Allah Tritunggal itu kekal, tiga pribadi tetapi satu esensi. Trinitas Allah menyangkut esensi komunitas. Allah adalah Allah yang sempurna: 1) Ia sempurna secara esensi, sempurna pada diri-Nya. sehingga Ia tidak membutuhkan manusia sebagai obyek kasih-Nya, 2) Allah sempurna dalam seluruh aspek tindakan sehingga Dia tidak perlu menggantungkan pada siapapun. Disini kita tahu Tritunggal begitu penting karena seluruh sistem komuniti kembali ke sifat Allah itu sendiri. Allah Bapa bisa mengasihi Allah Anak dan Allah Anak bisa mengasihi Allah Roh Kudus dan sebaliknya. Ketiga pribadi bisa saling mengasihi karena esensinya tunggal. Puji Tuhan, Allah Kristen adalah Allah yang menyelesaikan semua bentuk relasi dan menyelesaikan semua ketidakharmonisan.

1. Redemptive Community

Komunitas ibadah Kristen berarti seluruh ibadah harus berpusat pada Allah Tritunggal sebab dalam diri Allah Tritunggal kita mendapati pengertian komunitas sejati. Inilah ibadah sejati. Komunitas Kristen berbeda dengan komunitas posmodern. Satu-satunya yang memungkinkan kita dapat berada dalam komunitas ibadah adalah Tuhan Yesus yang menarik kita terlebih dahulu. Komunitas Kristen adalah komunitas penebusan. Kita dapat bersekutu itu karena kita ditarik oleh Tugab dan dengan penuh keberanian masuk ke dalam pengharapan Allah, tempat kudus Allah (Ibr. 10:19-21). Tuhan Yesuslah yang memungkinkan kita masuk dalam hadirat-Nya, Ia sudah berkorban untuk kita. dengan darah. Masuk ke dalam hadirat Allah yang Maha Kudus haruslah disertai suatu perasaan takut dan gentar. Mungkinkah kita mebicarakan keberanian tanpa ada rasa gentar didalamnya? Kalau sudah tidak ada lagi kegentaran maka keberanian itupun tidak ada nilainya. Berani tanpa disertai rasa takut dan gentar maka itu yang dinamakan dengan istilah “nekad.”

Kita masuk ke dalam rumah Tuhan dengan keberanian tanpa disertai rasa takut maka kita berani bersikap kurang ajar. Tiket yang kita bawa itulah yang menentukan dan tiket kita adalah darah Kristus. Bayangkan, kalau kita masuk dalam istana Negara pasti takut, lebih takut kalau kita tidak membawa suatu undangan. Berbeda halnya kalau kita punya undangan, hal itu menunjukkan bahwa kita tamu istimewa. Jadi, sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat datang ke dalam hadirat-Nya sebab melalui darah Anak-Nya sehingga kita dihidupkan kembali oleh darah-Nya. Yesus Kristus telah menjadi Imam Besar yang memungkinkan kita untuk beribadah. Komunitas Kristen dibangun di atas penebusan Yesus Kristus sehingga memungkinkan umat Kristen untuk beribadah.

Salah satu masalah terpelik di tengah dunia adalah kita kehilangan dasar esensi pemersatu akibatnya dunia persekutuan menjadi dunia kompetisi. Tak terkecuali gereja pun saling berkompetisi antara komisi satu dengan komisi lain, antara gereja satu dengan gereja lain. Ini cara iblis. Sadarlah, sesungguhnya kita tidak layak melayani Allah yang Maha Agung tetapi karena penebusan sehingga kita dilayakkan. Merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berikan kesempatan kita dapat datang ke dalam hadirat Tuhan dan memuliakan Tuhan.

2. Holy Community

Komunitas ibadah Kristen haruslah komunitas yang menyucikan, yang mempertanggung

jawabkan pengharapan kita. Betapa indah persekutuan Kristen kalau setiap kita datang dengan hati yang murni, hati yang tulus ikhlas ketika datang ke hadapan hadirat Allah. Pengorbanan hati, sacrifice of heart ini menjadi inti theologi Reformed. Ibadah Kristen adalah seluruh hidup yang dipersembahkan kepada Allah sangatlah menentukan seluruh aspek hidup kita dan hal ini sangat dipahami oleh Calvin. Tentang hal ini digambarkan dalam suatu lukisan, yakni dua tangan yang terbuka mempersembahkan hati dan ada sinar yang menyala. Allah adalah Allah yang murni, tidak bercacat cela, kudus, dan tulus, maka Tuhan ingin ketika kita masuk ke dalam rumah-Nya, kita harus datang kepada-Nya dengan hati yang tulus. Tuhan berhak membuat peraturan karena Dia Sang Pemilik maka kita harus taat kepada aturan-Nya. Bukankah sebagai seorang tamu kita harus turut pada apa yang menjadi peraturan si pemilik rumah demikian juga sebaliknya, ada peraturan dalam rumah kita. Celakanya, hari ini orang membuat peraturan seenaknya sendiri di dalam rumah Tuhan. Orang datang demi memuaskan ego diri.

Persekutuan indah dengan Tuhan akan kita rasakan kalau kita datang dengan hati yang bersih dan tulus ikhlas. David Wells dalam bukunya menyatakan bahwa hari ini kita hidup dalam jaman yang disebut sebagai jaman ”kita.” Semuanya serba kita, kemauan kita, suka-suka kita. Dunia semakin hari semakin merosot dalam moralitas. Bukanlah hal yang mudah hidup di tengah jaman yang rusak moral sekarang ini tapi Tuhan menuntut kita untuk melawan arus dunia dan hidup mengutamakan Tuhan, hidup dengan kemurnian dan hati yang tulus ikhlas. Komunitas sejati adalah komunitas bersih, tidak cacat.

3. Love and Kind Community

Allah adalah kasih, Allah adalah baik maka atribut Allah ini harus turun juga ke dalam diri setiap anak Tuhan. Karena Allah telah mengasihi kita terlebih dahulu maka kita pun harus saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik, saling menasihati dan semakin giat melakukan menjelang hari Tuhan yang mendekat (Ibr. 10:24-25). Konsep cinta di dalam persekutuan berbeda dengan konsep cinta dunia. Kalau dunia mencintai itu karena egois diri, orang mencintai karena cantik atau ganteng, kekayaan, kekuasaan, dan lain-lain. Dunia memanipulasi cinta untuk kepentingan diri. Berbeda halnya dengan konsep cinta yang diajarkan oleh Alkitab. Ketika Allah mencintai manusia, Dia dari sorga mulia turun ke tengah dunia berdosa dan berkorban nyawa demi manusia berdosa. Kasih sejati adalah kasih yang membangun, kasih yang menopang dan menjadi berkat bagi orang lain, mengorbankan diri untuk kebaikan orang lain. Sangatlah mengerikan, perbuatan baik itu tidak datang dari hati yang tulus tetapi orang berbuat baik karena ada motivasi lain. Manusia berdosa juga memanfaatkan kebaikan orang. Tuhan ingin kita mempunyai cinta kasih yang sejati, seluruh hidup kita untuk menguatkan orang lain.

Memang sangatlah indah kalau seluruh ibadah berpusat pada Kristus namun janganlah kita mengabaikan, Tuhan juga memerintahkan pada kita saling memperhatikan dan mengasihi. Hendaklah kita sebagai saudara seiman kita mempunyai persekutuan yang indah di tengah komunitas ibadah, saling membangun dan saling menopang. Celakanya, hari ini seringkali di dalam persekutuan orang tidak lagi saling membangun, saling menopang dan saling menguatkan di dalam Tuhan tetapi orang justru memakai persekutuan sebagai ajang untuk berbisnis, bergosip dan lain-lain. Di satu sisi, ibadah yang terlalu vertikal tidaklah baik karena kita mengacuhkan saudara seiman namun di sisi lain, persekutuan yang hanya bersifat horizontal, memperhatikan komunitas tanpa ada Tuhan di dalamnya tidaklah baik. Disini, kita harus bijaksana bagaimana menjaga keseimbangan sehingga kita dengan tepat dan proposional mengasihi orang lain seperti Tuhan inginkan.

Alkitab menegaskan supaya kita jangan menjauhkan diri dari ibadah. Karena Tuhan Yesus telah mengasihi kita terlebih dahulu maka kita pun harus mengasihi sesama manusia. Pertanyaan sudahkah kita memiliki cinta kasih sejati? Sudahkah kita memperhatikan, menopang dan mengasihi seperti teladan Kristus? Kristus telah menebus dan menarik kita dari dunia berdosa, karena penebusan Kristus itulah kita bisa bersekutu dan datang ke dalam hadirat Tuhan dan menjadi suatu persekutuan indah dengan Tuhan. Keindahan bersekutu di dalam Tuhan akan mendatangkan sukacita sejati ketika kita datang ke dalam hadirat Tuhan dengan hati yang murni. Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita maka Dia pun memerintahkan pada kita untuk saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik, saling menasihati dan semakin giat dalam melakukan menjelang hari Tuhan yang mendekat. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080224.htm