Archive for September, 2005

BIMBINGAN DAN RENCANA ALLAH-1 (oleh : Prof. James C. Petty, M.Div., D.Min.)

Saturday, September 24th, 2005

BIMBINGAN DAN RENCANA ALLAH (1)

oleh : Prof. James C. Petty, M.Div., D.Min.


RICK adalah perancang grafis berbakat yang saya kenal beberapa tahun lalu. Ia telah sepuluh tahun bekerja di sebuah perusahaan periklanan yang sukses, namun ia tertekan oleh persaingan yang tajam di antara para karyawan yang berebut untuk menjadi rekanan di perusahaan tersebut. Ia juga mencemaskan kondisi moral yang rendah dan tekanan kerja yang berat. Wajar jika ia mulai berpikir untuk berwiraswasta, namun ia sangat takut untuk bersaing dengan perusahaan lamanya. Ia bermimpi bahwa jika ia dapat memulai perusahaannya sendiri, ia tentu akan dapat mengatur hidupnya sendiri. Ia dapat menetapkan jam kerjanya dan dapat lebih banyak terlibat dalam pelayanan. Namun, ia juga memiliki seorang istri dengan tiga anak yang masih kecil. Jika ia gagal dalam usahanya untuk berwiraswasta, semua akan menderita. Ia mungkin akan kehilangan rumah dan tabungannya.

Rick berdoa agar Allah menyatakan rencana-Nya. Ia bertanya apakah Allah mau memanggilnya untuk berwiraswasta atau tetap bertahan dengan pekerjaannya sekarang. Ia mulai mencari cara-cara yang mungkin Allah gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Ia mencari pelanggan potensial yang mungkin datang dengan cara yang tidak seperti biasanya. Ia mulai berusaha mendengarkan suara Allah dalam pikirannya beberapa "kesan" khusus yang akan meyakinkannya bahwa pikiran tersebut sungguh berasal dari Allah. Ia mencari-cari alat uji yang dapat ia pakai untuk mengambil keputusan. Misalnya, jika ada fitnah, gosip yang tidak wajar, atau hal-hal buruk lain saat ia merayakan hari pertobatannya, mungkin itu menjadi tanda bahwa tempat kerjanya sudah terlalu rusak.

Saat ia merenungkan semua ini, sebuah gagasan yang menggelisahkan mulai menyusup dalam benaknya. Ia tidak yakin, tapi ia takut kalau- kalau ia sudah keluar dari rencana Allah sejak saat ia masih kuliah dulu. Ia telah menghadiri Konvensi Misionaris Mahasiswa Urbana dan telah menyerahkan diri untuk pelayanan misi. Namun saat kembali ke kampus, dengan mudah pembimbing akademisnya meyakinkannya untuk meninggalkan niat tersebut. Apa yang akan terjadi seandainya ia memakai kemampuan komunikasinya bukan untuk menciptakan iklan, melainkan untuk menyebarkan Injil? Mungkin ia telah berada jauh dari kehendak Allah bagi hidupnya sehingga sia-sia untuk mencoba kembali, atau untuk meminta Allah membimbingnya dalam rencana yang "tidak taat" ini.

Masalah yang dihadapi Rick dalam mencari bimbingan Allah sangat lazim terjadi pada umat Kristen. Bagi Rick dan sebagian besar orang, pemahaman mereka tentang rencana dan kehendak Allah tidak pernah dipertajam oleh konsep yang alkitabiah. Salah satu masalah utama yang dihadapi Rick adalah mencampuradukkan dua penggunaan yang sangat berbeda di dalam Alkitab untuk istilah "kehendak Allah".

Dalam Alkitab, frasa "kehendak Allah" bisa berarti rencana atau perintah Allah. Para teolog menjelaskan hal ini sebagai dua bentuk kehendak Allah: "Kehendak-Nya yang dekritif" (dekrit/ketetapan atau rencana Allah) dan "kehendak-Nya yang preseptif" (titah atau perintah Allah) (Hodge 1865, 1:405). Kehendak Allah yang dekritif mengarahkan segala sesuatu yang terjadi di bawah kendali Allah. Kehendak Allah yang preseptif berkaitan dengan perintah Allah apa yang Ia perintahkan supaya kita lakukan. Karena Alkitab memakai kata "kehendak Allah" untuk menyebut keduanya, maka kerancuan mudah sekali terjadi dan mengacaukan upaya kita dalam mencari bimbingan. Inilah salah satu masalah Rick.

Supaya Anda terhindar dari jebakan ini, mari kita memeriksa kedua konsep yang Alkitab ajarkan tentang kehendak Allah ini. Dalam bab ini kita akan melihat "kehendak Allah" yang merujuk kepada rencana Allah yang berdaulat (yang dalam teologi sering disebut sebagai ketetapan atau kehendak-Nya yang dekritif). Dalam bab berikut kita akan mempelajari "kehendak Allah" sebagai perintah-perintah Allah.

Kehendak Allah: Rencana-Nya

Alkitab sering memakai frasa "kehendak Allah" untuk menyebut rencana Allah. Paulus dalam Efesus 1:5 berbicara tentang rencana Allah yang berdaulat, "Ia [Allah] telah menentukan kita dari semula … sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya." Setiap orang percaya seharusnya terhibur jika mengetahui bahwa ia telah dipilih sebelum penciptaan untuk mewarisi keselamatan. Pilihan itu dilakukan oleh Allah dalam rencana-Nya yang berdaulat. Paulus melanjutkan tema ini dalam Efesus 1:11, "Di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan — kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya."

Yakobus 4:15 merupakan contoh lain yang serupa. Yakobus mendorong pembacanya untuk tidak membuat rencana (berangkat ke sebuah kota, tinggal dan berdagang) dengan bersandar pada diri sendiri. Mereka seharusnya berkata, "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini atau itu." Yakobus tidak mengecam perencanaan; ia mengecam rencana yang tidak melibatkan rencana Allah di dalamnya. Yakobus mengajarkan kepada kita untuk tidak memberikan perhatian yang berlebihan pada rencana kita, karena hidup kita adalah seperti uap yang terlihat hanya sebentar kemudian lenyap begitu saja.

Dalam Roma 15:32, Paulus menerapkan ajaran Yakobus. Ia meminta jemaat Roma untuk berdoa demikian, "Agar aku yang dengan sukacita datang kepadamu oleh kehendak Allah, beroleh kesegaran bersama-sama dengan kamu." Paulus ingin mengunjungi orang-orang Kristen di Roma, namun ia sadar bahwa ia bisa datang hanya oleh karena providensi dan rencana Allah, yaitu jika Allah menetapkannya.

Jika kita bermaksud memaksakan makna lain kepada frasa "kehendak Allah" yang ada dalam perikop ini, hasilnya tidak akan masuk akal. Paulus tidak meminta agar orang-orang Roma berdoa supaya ia dapat melakukan kehendak Allah (seperti memenuhi perintah Allah). Paulus ingin mereka berdoa supaya Allah mengizinkannya datang ke Roma dengan menyediakan kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi.

Contoh terakhir: Petrus memakai kata "kehendak Allah" juga dalam arti ini di 1Petrus 3:17: "Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat." Ketika mendorong umat Kristen untuk menderita karena berbuat baik daripada menderita karena berbuat jahat, Petrus mengemukakan pokok tambahan bahwa penderitaan itu sendiri datang melalui izin dan rencana Allah. Karena itu, ia berbicara tentang penderitaan yang bisa terjadi "jika hal itu dikehendaki Allah". Sekali lagi, kita bertemu dengan pelaksanaan rencana Allah.

Rick tidak hanya mengacaukan kedua istilah ini, tetapi kekacauan ini menjeratnya ke dalam apa yang saya sebut sebagai "Sindrom Rencana B". Menurut pemikiran Rick: jika Allah memiliki rencana yang sudah ditetapkan secara mendetail bagi kehidupan setiap orang percaya dan Ia ingin kita mengikuti rencana itu, apa yang harus kita lakukan ketika kita terlanjur menyimpang dari rencana itu? Kita akan turun ke Rencana B dan harus memulainya dari sana.

Saya akan memberikan contoh. Setiap tahun saya menghadapi rutinitas yang menyusahkan karena harus menentukan rencana mana yang akan saya pilih untuk kontrak servis bagi alat panggangan tua saya. Menurut penjual bensin langganan kami yang ramah, Rencana A tampaknya akan menjauhkan semua kekuatiran saya. Dengan Rencana A mereka akan memperbaiki segala kerusakan, tetapi tentu biayanya mahal. Biaya Rencana B lebih terjangkau, tapi hanya mengatasi permasalahan yang perlu saja. Rencana C hanya memberikan servis tanpa perbaikan apa-apa. Jika saya memiliki uang cukup, maka saya cenderung memilih Rencana A. Jika tidak, maka saya akan memilih Rencana C, dan dengan Rencana C itu berarti tukang reparasi akan sering datang ke rumah saya tiap tahun.

Kita pun cenderung berpikir bahwa meskipun Allah memiliki sebuah rencana yang "terbaik" bagi hidup kita, Ia juga memiliki rencana lain yang "lebih murah" bagi mereka yang telah meleset dari rencana yang terbaik itu. Kita teringat keputusan bodoh dan berdosa yang pernah kita ambil dan, akibatnya, kita melihat diri kita berada dalam "Rencana B" kehendak Allah bagi hidup kita. Jika kita tetap membuat keputusan yang jelek, maka kita akan turun lagi ke Rencana C, Rencana D, dan karena kita orang berdosa kita akan segera kehabisan daftar abjad yang tersedia. Kita berpikir tentang "apa yang mungkin terjadi" seandainya kita tidak menikahi pasangan hidup kita yang sekarang, seandainya kita tidak hamil sebelum hari pernikahan, seandainya kita tidak mengambil pekerjaan yang mengerikan ini dan menerima pekerjaan satunya yang mungkin akan membuat kita sukses, atau seandainya kita tidak meledak dalam kemarahan kepada anak kita yang masih remaja.

Dalam bab ini kita akan melihat bahwa bagi mereka yang berada di dalam Kristus, hanya ada satu rencana, Rencana A. Rencana ini tetap tergenapi meskipun kita melakukan berbagai dosa dan kesalahan. Kita akan melihat keajaiban perhatian Allah sebagai Gembala, dan detail kasih-Nya di sepanjang rencana yang telah Ia tetapkan bagi hidup kita. Kebenaran agung ini sungguh mencerahkan, menghiburkan, dan terkadang menakutkan ciptaan Allah yang sombong.

Satu Rencana yang Berdaulat

Alkitab mengajarkan bahwa (1) Allah memiliki satu rencana khusus bagi hidup Anda dan (2) peristiwa-peristiwa dan pilihan-pilihan dalam hidup Anda secara tak dapat ditolak dan secara berdaulat mengerjakan rencana itu dalam setiap detailnya. Berlawanan dengan pandangan Rick tentang rencana Allah, seseorang tidak mungkin bisa "gagal ujian" dalam rencana itu. Semua kesalahan, kebutaan, dan dosa Anda telah diperhitungkan sebelumnya. Kebenaran ini diajarkan dalam doktrin providensi Allah. Tanpa memahami providensi, kita tidak akan dapat memahami keterlibatan Allah secara jelas dalam hidup kita sehari-hari. Kekacauan dalam hal bimbingan Allah di kalangan Kristen banyak disebabkan oleh kurangnya pemahaman akan doktrin ini.

Doktrin providensi telah diringkaskan dengan sangat cemerlang pada tahun 1648 dalam Pengakuan Iman Westminster (Westminster Confession of Faith, dokumen yang mendasari theologi gereja Kongregasional, Reformed, Presbiterian, dan Baptis yang berbahasa Inggris). Bab 5 yang diberi judul "Mengenai Providensi" dimulai demikian:

"Allah, Pencipta yang agung atas segala sesuatu, menopang, memimpin, mengatur, dan memerintah atas semua ciptaan, tindakan, dan segala sesuatu; mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil; dengan providensi-Nya yang agung dan suci; menurut pra-pengetahuan-Nya yang tak dapat bersalah (infallible) dan pertimbangan kehendak-Nya yang bebas dan kekal; untuk mendatangkan pujian bagi kemuliaan hikmat, kuasa, keadilan, kebaikan, dan kemurahan-Nya."

Pernyataan ini meringkaskan jawaban bagi banyak pertanyaan yang muncul saat kita mencoba memahami apa yang Alkitab katakan tentang pengendalian Allah atas dunia ini. Perhatikan, doktrin ini menegaskan bahwa Allah mengerjakan setiap detail "menurut pertimbangan kehendak- Nya yang kekal [tidak berubah]". Jika hal ini benar, dampaknya sangat luas sekali terhadap Rick ketika ia mengevaluasi pilihannya. Rick tidak perlu memanjat keluar dari lubang yang telah ia gali sendiri agar dapat kembali pada kehendak Allah bagi hidupnya. Sejarah hidup Rick dan keputusan-keputusan yang menyebabkan hal itu terjadi, berada di dalam rencana keselamatan yang Allah siapkan baginya.

Jika hal ini benar, itu berarti keputusan yang harus diambilnya sekarang juga adalah sah, karena ia tidak terjerat dalam situasi terbaik kedua atau situasi terbaik kedua puluh. Ia berada dalam program providensi Allah yang Mahabijaksana dan Mahasempurna. Ia bukan seperti pemain golf yang harus memulai pertandingan dengan dua puluh pukulan penalti. Jika doktrin ini benar, ada harapan yang besar ketika kita membuat keputusan-keputusan dalam hidup kita.

Namun sebelum kita melihat lebih jauh implikasi dari kebenaran ini, kita harus bertanya, "Apakah ini sungguh-sungguh benar?" Dan jika ini benar, bagaimana dengan tanggung jawab dan kebebasan manusia? Bagaimana dengan masalah yang diakibatkan oleh dosa dan kebebalan kita? Bagaimana dengan masalah kejahatan yang ada di dunia ini? Apakah itu menempatkan Allah sebagai sumber kejahatan? Mari kita uji beberapa bagian kunci Alkitab yang dipakai untuk mendasari doktrin providensi. Semua ini akan menolong kita memahami implikasi providensi terhadap banyak bidang kehidupan kita yang penting.

Berbagai Situasi

Apakah Allah mengendalikan segala keadaan dalam semua situasi? Kristus sendiri menjawab pertanyaan itu dalam Matius 10:29-31. Ia berkata, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya." Yesus menjelaskan pemeliharaan dan pengendalian Allah yang luar biasa ini untuk menenangkan ketakutan para murid ketika mereka menghadapi ujian dan penganiayaan. Hal-hal yang terlihat kebetulan (menemukan seekor burung mati di tepi jalan) tidak terjadi tanpa seizin Allah. Kristus berkata (ay. 31), "Sebab itu janganlah kamu takut karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."

Perhatikan tujuan pengajaran Yesus. Ia tidak bertujuan menyusun suatu prinsip abstrak yang dapat diterapkan dalam segala hal yang kita angankan. Ia mengajarkan hal ini untuk mengatasi ketakutan umat-Nya akan kehilangan, kematian, penderitaan, penganiayaan, dan lain-lain. Pengajaran ini dengan jelas menegaskan pengendalian Allah yang berdaulat dan menyeluruh atas kehidupan, tetapi doktrin ini juga memiliki maksud pastoral yang harus dihormati.

Sebagian orang mungkin bertanya, "Bagaimana saya dapat menerima penghiburan dari doktrin yang mengajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan, yang implikasinya adalah bahwa tidak ada gunanya saya berdoa dan berupaya?" Orang non-Kristen mungkin akan menolak dan berkata, "Mengapa saya harus menerima pandangan yang menempatkan Allah sebagai sumber kejahatan?" Kesalahan mereka adalah melihat doktrin ini sebagai kebenaran yang terisolasi, yang bertentangan dengan logika mereka. Alkitab tidak pernah memakai doktrin kedaulatan Allah untuk meremehkan doa atau upaya manusia, yang benar justru sebaliknya. Karena Allah dapat campur tangan, kita harus berdoa dan berupaya. Doktrin ini tidak pernah dipakai untuk mengesahkan Allah sebagai sumber kejahatan. Hal ini jelas dibantah dalam Yakobus 1:13 dan banyak bagian Alkitab lain. Iblis dan dosa umat manusialah yang dilihat sebagai penyebab semua kejahatan.

Mari kita perhatikan tujuan doktrin ini dalam Alkitab. Doktrin ini bertujuan menjadikan makhluk ciptaan Allah rendah hati (Roma 9:20), membangkitkan pujian bagi kasih Allah yang besar atas para pendosa (Efesus 1:11), meyakinkan orang percaya kepada kasih Allah yang tidak dapat dirusak dan sangat praktis (Roma 8:28), dan untuk menegur para musuh akan pemberontakan dan perlawanan mereka yang sia-sia (Mazmur 2:9-10; Daniel 4:34-35). Doktrin ini menggarisbawahi fakta bahwa individualitas dan musim-musim kehidupan kita diatur oleh Allah (Mazmur 139:13-16). Daud merenungkan betapa bernilainya pemahaman bahwa Allah terus memperhatikannya. Ia berkata:

"Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir." (Mazmur 139:17-18)

Berapa banyak dari antara kita yang sungguh-sungguh percaya bahwa Allah yang kita sembah begitu menyadari kondisi-kondisi kehidupan kita? Bahwa Ia memperhatikan kondisi-kondisi kita bahkan secara lebih mendetail daripada yang kita bayangkan? Daud berkata bahwa kita bahkan tidak dapat menghitung pikiran Allah, apa lagi memberikan perhatian yang begitu berlimpah dan mendetail kepada kondisi-kondisi kita sendiri. Saya menangisi orang Kristen yang telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat menikmati keyakinan kepada providensi Allah karena takut membuat Allah menjadi sumber kejahatan.

Kita mungkin pernah bertemu dengan orang-orang yang menyalahgunakan doktrin providensi, seperti seorang Calvinis garis keras (yang percaya bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu) yang suatu pagi terjatuh di tangga saat ia akan sarapan pagi. "Untungnya" tangga itu dilapisi karpet sehingga ia masih mampu bangkit berdiri, mengebaskan debu, dan berjalan terpincang-pincang menuju meja. Ia duduk, memandang istrinya, dan berkata, "Saya lega semua ini telah berakhir." Meski secara logis (dan humoris) respons itu mungkin menarik, respons itu hanya mengalihkan perhatiannya dari tugas untuk memikirkan apa yang salah dan mengambil langkah pencegahan untuk masa mendatang. Allah tidak menyingkapkan realitas providensi-Nya untuk membuat kita tidak lagi mengurus hidup kita. Tetapi panggilan intim seperti itu terkadang memang mengingatkan kita kepada perhatian Allah yang tidak kelihatan.

Saya pernah mendengar kisah tentang John Witherspoon, presiden Princeton University dan juga penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Suatu hari dalam perjalanan menuju Princeton, ia terlempar dari kereta kudanya. Kereta kuda itu masuk ke selokan, dan ia terlempar sampai tergeletak di tanah dan berlumuran kotoran. Sesampainya di kantor, ia mulai membersihkan diri dan mengomentari providensi Allah yang begitu ajaib dalam melindungi hidupnya pada situasi yang amat berbahaya. Asistennya yang masih muda mengamati dengan bijak, "Tetapi Dr. Witherspoon, bukankah perhatian Allah bahkan lebih ajaib dalam ratusan pagi hari saat Anda berangkat kerja tanpa mengalami kecelakaan?" Witherspoon mendapat pelajaran berharga tentang mensyukuri providensi Allah saat hal itu tidak terlihat dan tidak dramatis.

Sebuah gambaran indah mengenai providensi Allah tercatat di Kejadian 50:20. Pada bagian itu dikisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf menjualnya menjadi budak, bagaimana ia secara keliru dituduh memperkosa dan dipenjara secara tidak adil, bagaimana ia mendapat kekuasaan yang besar di Mesir, lalu menyelamatkan Mesir dan keluarganya dari bencana kelaparan. Setelah semua itu, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya mengapa ia tidak membalas dendam atas pengkhianatan mereka. Katanya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." Setiap tindakan saudara-saudara Yusuf, Yusuf sendiri, Firaun, dan bahkan cuaca yang mendatangkan bencana, semua sesuai dengan kendali Allah yang berdaulat.

Singkatnya, tidak ada situasi mulai dari jumlah rambut hingga pergerakan bangsa-bangsa yang dalam segala halnya tidak menggenapi rencana Allah.

Jika kita mengakui bahwa semua situasi ditentukan oleh providensi Allah, bagaimana dengan akibat tindakan umat manusia yang jahat? Kisah Yusuf memperlihatkan jawabannya.

Orang Baik, Orang Jahat, dan Politikus

Apakah rencana Allah digenapi oleh tindakan manusia yang bebas dan bertanggung jawab, entah itu baik atau jahat? Inilah pertanyaan yang ditimbulkan oleh Hitler, Pol Pot, dan penjahat keji yang menyerang anak Anda. Inilah pertanyaan Wilberforce dan Martin Luther King, yang memperjuangkan hak asasi dan martabat keturunan Afrika.

Pertanyaan ini wajar sehubungan dengan realitas penghakiman terakhir yang akan menuntut setiap pria, wanita, dan anak-anak untuk bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Menurut Yohanes 5:28-29:

"Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum."

Implikasi dari kisah Yusuf di atas secara khusus diajarkan dalam Alkitab: setiap tindakan yang dilakukan setiap individu adalah sesuai dengan cetak biru Allah yang tidak dapat berubah. Alkitab menekankan fakta bahwa orang yang paling "bebas" (para raja dan penguasa) mengerjakan rencana Allah. Amsal 21:1 menyatakan, "Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini." Bagian-bagian lain Alkitab juga membawa pesan yang sama tentang kedaulatan Allah:

"Tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun." (Mazmur 33:11)

"Tuhan semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?" (Yesaya 14:27)

"Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, Yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, Yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan." (Yesaya 46:9-10)

"Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21)

Tidak ada tindakan musuh-musuh Allah atau para penguasa yang berpengaruh terhadap kemampuan Allah untuk melaksanakan setiap detail dari rencana-Nya. Sebaliknya, tindakan-tindakan mereka tidak terpisah dari rencana yang telah Allah tetapkan, sama seperti tindakan Firaun yang sia-sia ketika menentang Musa dalam Keluaran. Roma 9:17 mencatat perkataan Allah kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi." Sangat menarik bahwa di dalam catatan Keluaran tentang pemberontakan Firaun, dikatakan Allah mengeraskan hati Firaun tetapi juga dikatakan bahwa Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Keluaran 14:4; 9:34). Firaun bertindak menurut kehendaknya sendiri, namun kehendaknya itu melaksanakan rencana kekal Allah.

Kedaulatan Allah atas tindakan jahat manusia dinyatakan dengan paling murni dalam khotbah Petrus di Kisah Para Rasul 2:23. "Dia [Yesus] yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka." Perhatikan, sekalipun Petrus menyatakan bahwa kejahatan terkeji dalam sejarah manusia itu telah ditetapkan oleh rencana Allah, namun ia tetap berani meletakkan tanggung jawab atas kejahatan itu secara langsung kepada para permimpin rohani bangsa Israel.

Pemahaman bahwa semua tindakan manusia tercakup di dalam rencana Allah sungguh sangat menghibur saya setiap hari. Istri saya adalah staf pengerja kampus di InterVarsity Christian Fellowship [Perkantas]. Tiga atau empat kali dalam seminggu ia pergi ke kampus hingga larut malam (anak-anak kami sudah beranjak remaja). Baru-baru ini, seorang siswi diculik di pinggiran jalan sekitar jam delapan malam. Padahal istri saya baru saja melewati jalan itu sekitar sepuluh menit sebelumnya. Siswi itu dibawa ke sebuah parkiran kosong lalu diperkosa. Dengan kondisi seperti itu, saya sangat mengkuatirkan istri saya yang sering keluar malam, dan kami mengambil beberapa langkah pencegahan. Tetapi hal yang paling menghibur kami adalah pemahaman bahwa tak seorang pun, termasuk pemerkosa paling tangguh, yang dapat menyentuh istri saya tanpa menggenapi rencana keselamatan Allah.

Anda mungkin bertanya, "Bukankah mustahil, bahwa Allah yang mengendalikan, namun manusia tetap menjadi penyebab bagi kebaikan dan kejahatan?" Hal ini terbukti tidak mustahil bagi Allah. Pikiran kita tidak dapat memahami bagaimana Allah dapat menciptakan makhluk bertanggung jawab yang benar-benar harus memberi pertanggungjawaban kepada-Nya meskipun semua dosa mereka, sejak Adam di taman hingga pedihnya kebinasaan akhir si Iblis, terlaksana sesuai dengan rencana- Nya. Kehidupan berada di bawah kendali yang sedemikian rumit, yang melampaui kemampuan manusia untuk memahaminya. Dengan kehendak kita sendiri yang bertanggung jawab, kita mengerjakan rencana Allah meskipun Allah sama sekali tidak mencobai atau secara langsung memaksa kehendak kita. Meski kita tidak tahu bagaimana Allah mengendalikan segala sesuatu, tampaknya Ia biasanya tetap "lepas tangan" terhadap mekanisme kehendak kita. Tetapi kita bertanggung jawab dan dengan bebas memilih untuk melakukan semua yang Ia rencanakan.

Selama bertahun-tahun begitu banyak orang percaya berkata kepada saya, "Anda tidak mungkin bisa mempercayai kedua-duanya secara bersamaan; Anda harus memilih antara tindakan manusia yang sepenuhnya bertanggung jawab, atau rencana Allah yang sedang bekerja." Kita harus dengan tegas menolak pendapat bahwa karena kita tidak tahu bagaimana Allah melakukan hal ini, maka kita harus memilih antara tanggung jawab manusia atau kedaulatan ilahi; kita menolak anggapan bahwa kita hanya bisa memilih satu, dan bukan kedua-duanya.

Fakta bahwa keduanya benar merupakan kemuliaan bagi hikmat Allah. Kita harus sujud dan menyembah, bukannya terhanyut dalam pikiran kita yang dengan sombong memikirkan apa yang bisa atau tidak bisa Allah kerjakan. Kita adalah ciptaan yang terbatas dan tidak memiliki akses untuk menjangkau tingkat pemikiran atau eksistensi Allah. Sesungguhnya ini merupakan inti dari logika dan pemahaman yang baik, yang mempercayai pewahyuan Allah tentang diri-Nya. Kita harus menikmati kepenuhan providensi Allah yang begitu mulia, dan penghiburan dari pengendalian-Nya yang misterius dan berdaulat. Seharusnya ini mendorong kita untuk menanggapi dengan gentar sebagai orang-orang yang mengetahui bahwa diri mereka yang harus bertanggung jawab, sebagai penyandang gambar dan rupa Allah.

Bukan hanya perbuatan-perbuatan jahat yang tercakup di dalam providensi Allah, tetapi perbuatan-perbuatan baik manusia juga telah ditetapkan sebelumnya. Efesus 2:10 menyatakan, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Tetapi kita tetap berulang kali diperintahkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik (1Timotius 6:18; Ibrani 10:24). Dalam Filipi 2:12-13, Paulus menyingkapkan tirai metafisika dan mengizinkan kita melihat dua fakta ini berfungsi bersamaan. Ia berkata, "… tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, … karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Bukannya mengurangi tanggung jawab orang Kristen, kebenaran ini justru meningkatkan tanggung jawab dengan mengaitkannya kepada kuasa yang tidak dapat ditolak Allah sedang mengerjakan rencana-Nya yang baik di dalam diri kita. Dari sini kita melihat providensi Allah sedang berkarya di dalam keselamatan kita.

(Redaksi: Bagian 2 dari artikel di atas akan dikirimkan pada pengiriman e-Reformed edisi berikutnya.)

Bahan di atas diedit dari sumber:

Judul buku : Step By Step
Penulis : James C. Petty
Penerbit : Penerbit Momentum, Surabaya, 2004
Hal : 41 - 54

Profil Prof. James C. Petty :

Prof. Dr. James C. Petty meraih gelar Doctor of Ministry (D.Min.) dari Westminster Theological Seminary, USA dan beliau menjadi dosen/Profesor pada seminari yang sama.

Tinjauan Iman Kristen Terhadap Visualisasi, “Theologia” Sukses, dll

Saturday, September 24th, 2005

TELAAH KRITIS “KITAB-KITAB APOKRIPA” (oleh : Sonny Prayitno)

Saturday, September 24th, 2005

TELAAH KRITIS "KITAB-KITAB APOKRIPA"

oleh :

Sonny Prayitno

(Webmaster www.geocities.com/reformed_movement)

2Makabe 2:23Kutipan di atas itu menentang kebenaran bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah (bandingkan 2Tim. 3:16) serta tidak ada nubuat atau kitab dihasilkan oleh pikiran manusia (2Pet. 1:20-21).

3. Kesalahan doktrin

a. Membenarkan bunuh diri

2Makabe 14:41-46

(41) Ketika pasukan itu sudah siap untuk merebut menara itu dan sudah meretas pintu masuh dan menyuruh untuk memasang api buat menyalakan pintu-pintu, maka Razis yang rapat terkepung menikam dirinya dengan pedang. (42) Ia lebih suka mati secara muliawan dari pada jatuh di tangan orang-orang berdosa itu dan diperlakukan oleh mereka secara tak layak bagi keluhuran budinya. (43) Tetapi tikaman itu kurang kena, oleh karena ia berbuat tergesa-gesa karena perjuangan itu dan oleh sebab pasukan prajurit itu sudah berduyun-duyun di dalam pintu gerbang. Maka dari itu dengan berani larilah ia naik ke atas tembok lalu secara jantan menjatuhkan diri ke atas orang banyak itu. (44) Tetapi orang-orang itu cepat-cepat mundur, sehingga ada tempat kosong di tengah. Maka Razis jatuh di tempat yang kosong itu. (45) Tetapi ia masih hidup juga. Maka dengan geramnya yang berapi-api bangkitlah ia, meskipun darahnya bercucuran dan luka-lukanya nyeri. Lalu ia lari menerobos orang banyak itu lalu berdiri di atas sebuah batu karang yang tinggi. (46) Meskipun darahnya hampir keluar semuanya, namun ia menarik isi perutnya ke luar, mengambilnya dengan kedua tangannya, lalu dilemparkannya ke atas orang banyak itu. Dalam pada itu berserulah ia kepada Penguasa hidup dan nyawa, semoga Ia kelak memberikannya kembali kepadanya. Demikian Razis berpulang.

Alkitab tidak pernah menyetujui bunuh diri sebab itu bertentangan dengan Hukum Keenam "Jangan Membunuh" (Kel. 20:13). Tidak seorang pun yang berhak mengambil nyawanya sendiri. Allahlah yang berhak atas hidup manusia sebab Dialah yang menciptakannya (Ul. 32:39, 1Sam. 2:6, 2Raj. 5:7, Ayb. 1:21, Mzm. 68:20).

b. Menyetujui doa untuk orang mati

2Makabe 12:41-45

Lalu semua memuliakan tindakan Tuhan Hakim Yang Adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi. Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

Ajaran tentang doa demi orang-orang mati menentang kebenaran Alkitab bahwa kesempatan untuk menerima dan menolak pengampunan dosa melalui iman kepada Yesus Kristus hanyalah pada waktu manusia masih hidup sebab setelah kematian adalah penghakiman: "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi". (Ibr 9:27, TB-LAI)

c. Membenarkan kekejaman terhadap budak-budak.

SIRAKH 33:28-19

(28) Bebankanlah pekerjaan kepada budakmu, sehingga ia tidak menganggur, sebab pengangguran mengajar banyak kejahatan. (29) Hendaklah menyuruh dia bekerja sebagaimana mestinya, dan kalau ia tidak menurut, beratkanlah rantainya.

Kekejaman dalam bentuk apapun bertentangan dengan prinsip hidup yang berdasarkan kasih, khususnya bagi orang-orang percaya.

d. Mengajarkan pra-eksistensi jiwa.

Kebijakan Salomo 8:19-20

Memang aku seorang pemuda yang baik budi pekertinya, dan aku mendapat jiwa yang baik; atau sebaliknya; oleh karena aku ini baik, maka aku masuk ke dalam tubuh yang tak tercela.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa jiwa manusia ber-pra-eksistensi sebelum manusia dilahirkan. Dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan manusia secara utuh, tanpa memisahkan tubuh dan jiwa (Kej. 1:26-27,2:7).

e. Mengajarkan Pengutukan dan Penistaan.

YUDIT 9:9-10

TOBIT 3:13, 15

TOBIT 3:6

Kini berbuatlah kepadaku menurut apa yang berkenan kepada-Mu, dan sudilah mencabut nyawaku, sehingga leyaplah aku dari muka bumi dan kembali menjadi debu. Sebab mati lebih berguna bagiku dari hidup, karena aku mesti mendengar nista dan fitnah dan sangat sedih rasa hatiku. Ya, Tuhan, suruhlah supaya aku lepas dari susah ini, biarlah aku lenyap menuju tempat abadi; janganlah Wajah-Mu Kaupalingkan daripadaku, ya Tuhan. Sebab lebih bergunalah mati saja daripada melihat banyak susah dalam hidupku. Nista tidak dapat kudengar lagi!(13) Aku mohon: Biarlah aku dileyapkan dari muka bumi ini, nista tidak mau kudengar lagi. (15) …Aku sudah kehilangan tujuh orang; apalagi gunanya hidup bagiku? Apabila Engkau tidak berkenan membiarkan aku mati, maka dengarlah nistaku ini, ya Tuhan.(9) Pandanglah kecongkakan mereka dan kirimkanlah kemurkaan-Mu ke atas kepala mereka. Berikanlah kepada tanganku, tangan seorang janda, tenaga untuk melaksanakan rencanaku. (10) Hantamkanlah dengan akal bibirku dan akalku itu mendatangkan luka-luka dan bilur-bilur kepada mereka yang merencanakan yang pahit-pahit terhadap perjanjian-Mu, terhadap Rumah-Mu yang Suci, puncak bukit Sion dan rumah milik anak-anak-Mu.

TOBIT 12:9

Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.

SIRAKH 3:14

Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan hanya melalui Yesus Kristus (Yoh. 3:16, 14:6, Kis. 4:12) dan diterima melalui iman (Rm. 3:23, 9:31-32, 10:10, 10:17, Gal. 2:16, 3:11) dan perbuatan baik sama sekali tidak mempunyai andil dalam keselamatan. Dalam iman Kristen Protestan, kita berbuat baik karena sudah diselamatkan dan bukan berbuat baik untuk diselamatkan.

TOBIT 1:3

TOBIT 1:6-8

TOBIT 1:16-17

YUDIT 8:24

YUDIT 16:1, 6

Dalam Injil Lukas 18:9-14 terdapat kisah dua orang yang berdoa, yaitu seorang Farisi yang meninggikan diri atas perbuatan baiknya dan seorang pemungut cukai yang mengaku dosa dihadapan Allah. Yesus mengakhiri kisah tersebut dengan mengatakan: "Siapa saja yang meninggikan diri akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Luk. 18:14b, TB2-LAI).Makanya, saudara-saudara, baiklah kita membuktikan kepada saudara-saudara kita, bahwa nyawa mereka boleh digantungkannya kepada kita dan bahwa yang tersucipun, yakni Bait Allah dan mezbah, dapat disandarkan pada kita ini.(1) Kata Yudit… (6) Sebab pahlawan mereka tidaklah jatuh karena kaum muda dan mereka tidak dihantamkan oleh anak-anak perkasa; mereka tidak disergap oleh buta jangkung, melainkan dilumpuhkan oleh Yudit anak Merari dengan keelokan tubuhnya.(16) Di zaman Salmaneser aku telah banyak melakukan kebajikan kepada para saudara-saudara sebangsaku. (17) Makananku kuberikan kepada orang yang kelaparan dan pakaianku kepada orang yang telanjang. Apabila kulihat seseorang sebangsa yang telah meninggal dan terbuang di belakang tembok kota Niniwe, maka kukuburkan. (18) Manakala seseorang dibunuh oleh raja Sanherib, setelah raja pulang kalah dari daerah Yehuda di masa ia dihukum oleh Raja Surgawi karena hujatnya, maka kukuburkan juga. Sebab banyak dari orang Israel dibunuh oleh raja Sanherib karena murkanya. Tetapi dengan diam-diam kukuburkan semua. Memang mayat-mayat mereka dicari raja, tetapi tidak ditemukan.Aku, Tobit menempuh jalan kebenaran dan kesalehan seumur hidupku dan banyak melakukan kebajikan kepada para saudara dan segenap bangsaku yang bersama dengan daku telah berangkat ke pembuangan, ke negeri Asyur ke kota Niniwe.(6) Pada hari-hari raya sering kali hanya aku seorang diri sajalah yang pergi ke Yerusalem, sebagaimana yang tersurat bagi segenap Israel sebagai hukum abadi. Pergilah aku ke Yerusalem dengan membawa buah bungaran dan anak sulung dari ternak serta bagian sepersepuluh dari hewan dan lagi guntingan pertama bulu domba.          (7) Semuanya kuberikan kepada para imam, keturunan Harun, untuk mezbah. Bagian sepersepuluh dari gandum, anggur, minyak, buah zaitun, buah delima dan hasil bumi lainnya kuberikan kepada kaum Lewi yang menyelenggarakan kebaktian di Yerusalem. Selama enam tahun akupun memungut bagian sepersepuluh yang kedua dan setiap tahun aku pergi membiayakannya ke Yerusalem. (8) Adapun bagian sepersepuluh yang ketiga kuberikan kepada para yatim piatu, para janda dan kaum perantau yang tinggal ditengah-tengah orang Israel. Tiga tahun sekali bagian sepersepuluh itu kubawa untuk diberikan kepada mereka. Itupun kami makan pula menurut aturan yang ditetapkan perihal mereka dalam hukum Taurat Musa dan sesuai dengan perintah yang diberikan Debora, yaitu ibu Anamiel ayahku. Sebab waktu berpulang ayahku meninggalkan aku sebagai yatim piatu.

Pengutukan dan penistaan sangat bertentangan dengan sifat-sifat Allah sebagai Allah yang Mahasuci dan apa yang dikatakan Alkitab tentang perkataan yang baik dan benar (Mzm. 19:14, Ef. 1:4, 1Pet. 1:15-16, Rm. 12:14, Mzm. 101:7, 1Pet. 2:1).

f.

TOBIT 4:10-11

(10) Memang sedekah melepaskan dari maut dan tidak membiarkan orang masuk ke dalam kegelapan. (11) Sedekah merupakan persembahan yang baik ke hadapan Yang Maha Tinggi bagi semua orang uang memberikannya. Mengajarkan bahwa sedekah dan kebaikan kepada orang tua dapat melepaskan dari maut.

g. Mengajarkan Kesombongan

Memang sedekah melepaskan dari maut dan menghapus setiap dosa. (Kata malaikat Rafael)

Kitab-kitab Apokrip mengandung kesalahan, diantaranya:

1. Tidak mengaku pengilhaman ilahi, khususnya pada:

Semuanya itu telah diuraikan oleh Yason dari Kirene dalam lima buku lima buah. Kami ini hendak berusaha mengikhtisarkan semuanya dalam satu jilid saja.

2Makabe 15:37b – 38

Maka aku sediripun mau mengakhiri kisah ini. Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku.

2. Kesalahan sejarah – Kitab Tobit 14:15 salah menyatakan bahwa Nebukadnezar dan Ahasyweros menaklukkan Niniwe. Namun sejarah mencatat bahwa Nebopolasar dan Cyaxareslah yang terlibat di dalamnya. Demikian pula Tobit 1:1 menunjukkan ketidaktahuan tentang sejarah; Barukh 1:8 berkontradiksi dengan Ezra 1:7 yang benar berdasarkan sejarah.

SEMANGAT REFORMASI (oleh : Pdt. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th.)

Saturday, September 24th, 2005

SEMANGAT REFORMASI

oleh : Pdt. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th.

"Bila kita menimbang dan mencermati dengan hati-hati seluruh perjalanan reformasi ini, kita akan mendapati bahwa Ia telah mengendalikan penuh, melalui metode-metode yang menakjubkan bahkan bertentangan dengan semua yang kita harapkan. Kepada kekuatan inilah, karena itu, yang telah seringkali Ia kedepankan demi kita. Marilah di tengah segala kerumitan pergumulan kita, kita gantungkan diri penuh dan utuh." (John Calvin)

"Sejauh gereja menyesuaikan diri dengan dunia, dan kedua komunitas itu tampak kepada para pengamat mereka sebagai sekadar dua versi dari satu hal yang sama, gereja tengah menentang jati diri sejatinya. Tidak ada komentar lebih menyakitkan bagi orang Kristen daripada kata-kata. ‘Tetapi Anda tidak beda dari orang lain.’" (John Stott)

Gereja, dan kehidupan Kristen yang tidak terus-menerus mengalami reformasi dapat diumpamakan seperti kehidupan dan alam yang mengalami kemerosotan tanpa peremajaan.

Untuk mempertahankan kehidupan, Allah mengatur agar sel-sel tubuh kita terus-menerus mengalami proses penggantian dan peremajaan. Sel-sel tubuh kita sampai usia tertentu diganti dengan sel-sel baru. Demikian juga dalam alam terjadi hal yang sama. Tanah gersang musim kemarau berganti menjadi tanah subur musim penghujan. Daun-daun tua layu dan rontok, tetapi daun-daun muda bersemi segar menggantikan yang tua dan mati tadi. Apa yang kita saksikan dan alami dalam kehidupan dan alam, tadi adalah lukisan nyata bekerjanya kuasa pembaruan Allah yang beroperasi terus-menerus menopang dan mempertahankan kehidupan. Dia yang menciptakan segala sesuatu terus menopang mempertahankan ciptaan-ciptaan-Nya agar dapat berlangsung terus.

Reformasi pada dasarnya seirama dan seprinsip dengan rehabilitasi, rekonsiliasi, regenerasi yang terjadi dalam alam dan kehidupan. Bila demikian, bolehlah kita katakan bahwa gereja dan orang Kristen yang tidak terus-menerus mengalami reformasi bertentangan dengan kerinduan Allah agar ciptaan-Nya (baik alam maupun Gereja sebagai ciptaan baru) terus diperbarui-Nya. Tidak mengalami reformasi seumpama menggunakan gergaji tua, usang, dan tumpul untuk menggergaji batang kayu yang liat dengan akibat gergajinya yang rompal dan bukan kayunya yang putus.

MENGAPA DIPERLUKAN REFORMASI TERUS-MENERUS?

Di dalam realitas dunia ini, beroperasi dua kekuatan: kekuatan kehidupan dan kekuatan kematian. Kekuatan kematianlah yang menyebabkan sel-sel tubuh kita menua, organisme-organisme mengalami pelapukan dan peluruhan. Secara langsung atau tidak langsung, penyebab penuaan yang menuju kematian pada manusia itu adalah dosa. Andaikata manusia tidak berdosa di dalam Adam, untuk manusia mungkin sekali proses tersebut tidak berakhir di jurang kematian, tetapi ke gelombang-gelombang samudera kematangan dan keindahan hidup.

Kekuatan kehidupan adalah cara Allah untuk mempertahankan kelanggengan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, reformasi pada intinya selaras dengan maksud Allah untuk menjaga kelestarian hidup ini.

Mengapa gereja dan kehidupan Kristen harus dan perlu mengalami reformasi terus-menerus? Karena gereja masih dalam dunia yang berdosa dan dosa masih dapat menyusup dalam bentuk struktur dan kehidupan gereja yang tidak selaras dengan dinamika kebenaran firman Allah. Bahaya-bahaya penyimpangan dalam gereja-gereja yang disurati para rasul, baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam era selanjutnya terutama dalam era pra reformasi membuktikan perlunya pembaruan terus- menerus.

Selain harus setia memelihara Injil dan bertumpu pada kebenaran firman Allah, gereja dari zaman ke zaman bertugas mengkontekstualkan isi dan penghayatan imannya ke dalam situasi dunianya. Dunia kita kini tidak lagi sama dengan dunia para apologet atau para bapa gereja abad pertengahan, bahkan sudah jauh berbeda dari zaman era reformasi sendiri. Berbagai perumusan teologis yang pernah dibuat para pendahulu kita perlu dikaji ulang sebab perumusan tersebut dibuat agar relevan dengan zaman mereka. Mereka mencoba menyajikan kebenaran firman Allah dalam paradigma yang diambil dari konteks pemahaman zaman itu. Jika kita ingin lebih segar memahami isi iman kita dan lebih mampu mengkomunikasikan apa yang kita imani kepada orang sezaman kita, kita pun perlu menggumuli dan mengungkapkan ulang kebenaran firman yang kekal itu dalam paradigma-paradigma baru yang lebih sesuai dengan zaman ini. Sebagai contoh, menjelaskan kelahiran kembali kepada para cendekiawan zaman ini mungkin lebih tepat menggunakan gambaran "format ulang" dari dunia komputer. Alasan lain mengapa kita perlu menggumuli ulang cara mengungkapkan isi iman kita ialah karena tradisi yang kita pegang kini merupakan warisan teologi Barat. Adalah lebih efektif bila sari kebenaran Ilahi itu coba kita tuangkan dalam pola pikir yang lebih sesuai dengan konteks kita di Indonesia.

APA SAJA YANG PERLU DIREFORMASI?

Semua segi pemahaman iman dan penghayatan kehidupan Kristen kita sehari-hari! PERTAMA, isi iman yang kita pahami haruslah benar-benar bersumberkan Alkitab, bergumul di tengah-tengah konteks kebudayaan dan kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini, sehingga isinya sekaligus sinambung dengan tradisi gereja dari abad ke abad, namun kontekstual dan kontemporer.

KEDUA, kita memerlukan kuasa firman yang dihidupkan Roh Kudus agar mampu menghayati iman kita kepada Kristus secara riil, segar, dinamis. Penghayatan iman Kristen kita tidak boleh berpuas diri sebatas penghayatan iman pribadi seperti perihal keselamatan pribadi, tetapi harus mampu mewujudkan dirinya dalam keterlibatan yang nyata di tengah-tengah pergumulan masyarakat Indonesia yang pluralistis masa kini. Dalam garis ini, perlu sekali diperhatikan ketulusan orang-orang Kristen dalam berbangsa dan bernegara sebagai manifestasi pengabdian kita kepada Allah, Tuhan atas sejarah. Juga kebutuhan sangat mendesak masa kini ialah keberanian orang-orang Kristen untuk mempraktikkan kebenaran dan menyuarakan kebenaran seiring dengan menyatakan kesalahan dan konsisten menghindari hal-hal yang tidak etis.

KETIGA, dalam dunia yang sedemikian pesat dibanjiri oleh kemudahan- kemudahan karena teknologi tinggi, ibadah-ibadah kita harus diisi dengan seluruh aspek liturgis yang sejati, segar dan riil. Bila khotbah-khotbah loyo membosankan, bila puji-pujian lesu menjemukan, bila persekutuan semu dan dangkal, akan habislah ibadah kita ditelan imbas banjir alat hiburan yang membanjiri pasar. Untuk itu kita memerlukan keberanian agar tidak kolot mempertahankan pola, bentuk, dan isi liturgi yang tidak lagi menampung kesegaran Injil, kehangatan kasih, kekayaan kreativitas untuk menampung penyampaian uraian firman, puja sembah, dan persekutuan kita satu dengan lain.

INTI SEMANGAT REFORMASI

Jiwa reformasi seperti yang ditemukan Luther, Zwingli, Calvin, John Knox, dan lain-lain. itu tidak lain adalah seperti yang disiratkan dalam moto reformasi: Sola Gracia, Sola Fide, Solo Christo, Sola Scriptura. PERTAMA, Reformasi menemukan ulang realitas anugerah penyelamatan Allah dalam Kristus melalui iman semata. Dengan kata lain, hubungan yang riil dan intim dengan Allah, itulah yang ditemukan Luther dan Calvin dan yang menopang mereka terus sampai ajal mereka.

KEDUA, media yang melaluinya Allah memimpin mereka menemukan pemahaman dan penghayatan segar indah itu ialah Alkitab. Alkitab sejak itu menjadi suatu kitab terbuka. Seluruh umat bebas membaca dan menimba dari dalamnya aliran-aliran air kehidupan dan arus tenaga pembaruan. Problem masa kini ialah tanpa sadar umat telah kembali bergantung pada "kepausan" baru, yaitu para teolog dan pengkhotbah. Reformasi ulang akan terjadi bila awam tidak lagi awam dalam pemahaman Alkitab!

KETIGA, Reformasi pada intinya mensyukuri fakta bahwa semua warga gereja adalah imam-imam Perjanjian Baru. Kita semua adalah gereja, imamat yang rajani. Masing-masing kita memiliki karunia untuk dibagikan dan tanggung jawab untuk dipikul, yaitu mewartakan pekerjaan-pekerjaan besar Allah kepada sesama kita dan saling melayani membangun tubuh Kristus.

KEEMPAT, Reformasi sebenarnya adalah penolakan terhadap teologi skolastisisme. Teologi pra reformasi telah membuat iman menjadi sesuatu yang rumit dan ruwet. Bukan saja teologi telah dilacurkan dengan filsafat zamannya, melainkan juga kesalehan pun telah dibuat rumit dengan berbagai aturan selibat, ziarah, penyembahan patung, dan lain sebagainya. Reformasi menemukan bahwa iman Kristen adalah kemerdekaan, adalah perayaan, adalah kesukaan yang dapat dipahami dan dihayati siapa saja yang terbuka pada kasih karunia-Nya.

Iman yang riil, kuasa firman, kenyataan tubuh Kristus, dan kesalehan yang ceria, itulah yang kita sangat perlukan terjadi kembali secara baru masa kini!

Bahan di atas diedit dari sumber:

Judul buku : Menerbangi Terowongan Cahaya
Penulis : Paul Hidayat
Penerbit : PPA, Jakarta, 2002
Hal : 54 - 58

Profil Pdt. Paul S. Hidayat :

Pdt. Paul S. Hidayat, S.Th., M.Th. adalah Direktur Persekutuan dan Pembaca Alkitab (PPA) Jakarta dan dosen di Institut Reformed, Jakarta. Beliau meraih gelar Sarjana Muda Theologia dari Sekolah Tinggi Theologia Institut Injil Indonesia (STT-I3) Batu, Malang, gelar Sarjana Theologia (S.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan gelar Master of Theology (M.Th.) dari Reformed Theological Seminary, USA.

SIAPAKAH KAUM INJILI SEJATI ? (oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG)

Saturday, September 24th, 2005

Siapakah Kaum Injili Sejati?

oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Renungan ini ditranskrip dari Persekutuan Doa Momentum ke-72 di Jakarta, Juni 1993

        Di dalam pelayanan kita ada suatu inti yang menjadikan pelayanan itu hidup. Inti itu menjadi pendorong yang terbesar, motivator yang menggairahkan semua pelayanan yang mengelilinginya. Apakah inti itu? Yaitu pelayanan bagi sesama kita untuk menerima Injil dan mengalami kuasa keselamatan Tuhan di mana kita sudah mengalami dan menerimanya. Untuk hal ini Paulus mengatakan satu kalimat yang begitu agung, "Segala sesuatu yang kukerjakan hanya demi Injil". Berarti semua pelayanan sekitar itu melayani suatu inti, semua kegiatan di luar itu melayani suatu pusat dan pusat ini adalah penginjilan.

        Mengapa seseorang belajar teologi? Supaya bisa menginjil dengan lebih baik. Mengapa kita perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang? Supaya Injil tidak dihalangi oleh kita. Mengapa harus belajar banyak bahasa asing? Supaya pada waktu memberitakan Injil bahasa tidak menghalangi pemberitaan yang disampaikan. Mengapa harus hidup hati-hati di dalam kesucian? Supaya orang lain tidak mencela kita karena kita sedang mengabarkan Injil. Jadi dengan titik pusat ini kita melihat semua pelayanan yang lain dikaitkan dengan pelayanan yang paling penting ini. Paulus berkata, "Aku mengerjakan segala sesuatu hanya demi Injil" (1Kor. 9:23). Segala sesuatu yang aku kerjakan mungkin kurasa aneh, tapi jika ditelusuri dan diselidiki sampai tuntas, dasarnya hanya satu: supaya aku boleh mengabarkan Injil seefisien mungkin. Jikalau kita mengerti akan makna dari ayat ini pasti sikap pelayanan kita akan berubah. Pasti corak dan cara kita mendekati orang akan berubah. Karena begitu banyak hal yang bukan langsung pemberitaan Injil sudah ikut campur di dalam merusak penginjilan tanpa kita sadari. Begitu banyak hal kita anggap remeh dan tidak penting, padahal itu mau tidak mau sudah menyangkut keberhasilan di dalam mengabarkan Injil, baik pergaulan, cara berpikir, cara bertingkah laku, atau cara berkata-kata. Paulus mengingatkan hal ini dengan mengatakan, "Meskipun aku bebas, tetapi aku tidak mau memakai hakku di dalam mengabarkan Injil." Hak terbesar adalah hak untuk menyerahkan hak. Inilah rahasia kerohanian. "Apakah aku tidak berhak membawa istri ke sana-sini seperti Kefas?" (1Kor. 9:5). Paulus berkata, "aku berhak. Tidak ada orang yang bisa menyalahkan aku. Apakah aku berhak mendapatkan uang sebanyak mungkin karena aku memberitakan Injil kepada banyak orang? Aku berhak. Orang yang mengabarkan Injil boleh hidup dari Injil. Tetapi untuk Injil itu aku tidak menerimanya karena dalam ini aku menyerahkan hak." Di sini rahasia penginjilan bisa efektif dan berhasil di mana orang-orang itu tidak mempertahankan hak yang sepatutnya ia terima. Barangsiapa selalu berbicara tentang hak, pasti sedang terjadi kesulitan pada kerohaniannya. Tidak berarti kita tidak memikirkan tentang hukum, keadilan dan apa yang sewajarnya kita terima. Tetapi pada saat-saat tertentu sesungguhnya seorang pelayan tidak mementingkan untung rugi pribadi, tidak mempertahankan hak itu bagi dirinya sendiri. Asal Injil diberitakan, Tuhan dipermuliakan, dan manusia boleh dibawa kepada Tuhan, ia rela menyerahkan hak demi mempertahankan hak yang lebih besar.

        Siapakah yang lebih berkuasa daripada Kristus? Siapakah yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan yang melampaui Dia? Tidak ada. Tapi justru Ia rela meninggalkan surga yang mulia dan datang ke dalam dunia yang rendah dan menyerahkan hak yang seharusnya ada pada-Nya. Semua perjuangan hak asazi manusia adalah perjuangan untuk mempertahankan sesuatu yang memang dicipta oleh Tuhan menurut peta dan teladan-Nya, yang memang secara lahiriah diberikan pada diri manusia. Tetapi hak asazi manusia yang berada di dalam diri Kristus justru direbut habis di zaman-Nya atas kerelaan-Nya menyerahkan hak. Sebab itu hak yang kita terima di dalam Kristus dan kuasa yang kita alami di dalam Dia justru adalah kuasa yang paling tinggi dan paling terhormat. Setelah Kristus menyerahkan hak asazi yang sepatutnya Ia miliki, Allah memberikan kuasa di langit dan di bumi seluruhnya kepada Dia. Sebab itu sebelum mengutus manusia mengabarkan Injil ke seluruh dunia, Yesus Kristus berkata, "Sesungguhnya kuasa di surga dan di bumi sudah diberikan kepada-Ku, maka pergilah engkau." (Mat. 28:18). Pengutusan tidak pernah diberikan tanpa dibubuhi dengan hak dan kuasa dari surga. Penginjilan tidak pernah menjadi sukses kalau tidak memperoleh hak yang berasal dari Tuhan sendiri. Penginjilan berhasil karena mengerti di mana inti hak dan kuasa itu. Jikalau kita makin banyak memegang kuasa di dalam tangan kita sendiri, makin tidak ada kuasa dari diri kita untuk melepaskan orang dari tangan setan. Jika kita memegang kuasa organisasi dan kebanggaan diri pribadi belaka makin tidak ada kuasa untuk menghantam setan yang mencengkeram orang berdosa. Kalimat ini penting sekali bagi mereka yang betul-betul mau dipakai di dalam melayani Tuhan. Pada waktu engkau mengerti bahwa demi Injil, demi Tuhan, engkau menyerahkan hak, itulah saatnya engkau memperoleh hak yang lebih besar dari Tuhan. Bagaimana kita bisa mempertahankan kuasa? Kalau kita tidak gila hormat, tidak gila kuasa dan hak yang ada pada kita yang kita anggap patut kita terima.

        Paulus dengan jelas mengatakan di sini, "aku adalah seorang yang mengabarkan Injil." Pengabaran Injil adalah pelayanan inti yang harus ditunjang oleh pelayanan yang lain dan mempengaruhi pelayanan yang lain, sehingga apa yang kita perbuat adalah demi Injil. Dengan demikian kita harus bertanya: Siapakah penginjil itu? Apakah hanya mereka yang lulus dari sekolah teologi saja? Apakah mereka yang hanya mengabarkan Injil dari mimbar saja? Alkitab memberitahukan kepada kita penginjil adalah mereka yang membawa kabar kesukaan. "Betapa indahnya kaki-kaki mereka…" (band. Yes. 52:7, Rm. 10:15). Berarti di sini penginjil harus kita mengerti sebagai orang yang bertindak sesuai dengan Injil. Jikalau yang dibicarakan Injil, tapi yang dilakukan bukan Injil, ia bukan penginjil yang sejati. "Kaki-kaki mereka begitu indah", berarti terletak pada apa yang kau jalankan dan laksanakan lebih dari apa yang kau bicarakan.

        Siapakah kaum Injili yang murni dan sejati? Karl Barth menulis satu buku berjudul, "Theology of Evangelism" atau "Evangelical Theology". Pada waktu membacanya saya diliputi oleh tanda tanya yang besar, mengapa seorang seperti Karl Barth bisa menulis buku tentang teologi penginjilan atau teologi kaum Injili padahal ia bukan kaum Injili? Orang Injili hampir semua tidak mengaku Karl Barth golongan Injili. Siapakah sebenarnya kaum Injili? Apakah orang yang pergi ke sana-sini membagi traktat dan mengabarkan tentang Yesus Kristus? Kalau dari fenomena kelihatannya memang Injili, tetapi kalau dilihat kembali apa tujuan mereka menginjili ternyata mereka hanya propaganda gedung gereja dan denominasi mereka belaka, supaya golongan mereka boleh berkembang. Tetapi kalau menerima Injil dan masuk gereja lain, mereka tidak terlalu senang. Kalau demikian, siapakah kaum Injili? What is the true Evangelical?

        Istilah "Evangelical" menjadi begitu penting pada waktu Reformasi. Namun akhirnya pada abad 19 istilah ini tidak vokal lagi. Dan pada abad 20 istilah ini justru konfrontatif dengan kaum Liberal, khususnya pada permulaan abad 20 sampai dengan tahun 30-an. Sehingga akhirnya menghasilkan suatu konklusi untuk menggolongkan seseorang: kalau bukan kaum Liberal, berarti kaum Injili; kalau bukan Injili berarti Liberal. Tetapi sesudah tahun 60-70an istilah ini sudah diterima baik. Tahun 1966 di Berlin, tahun 1968 di Singapura, tahun 1974 di Lausanne, tahun 1983 dan 1986 di Amsterdam, tahun 1989 di Manila, semua konferensi penginjilan seluruh dunia menjadi momen-momen yang penting. Di Lausanne tahun 1974 berkumpul 4.000 pemimpin Injili seluruh dunia, lebih besar jumlahnya daripada yang hadir di forum PBB. Tahun 1989 di Lausanne II (Manila) bahkan semua group Timur seperti Rusia, Yugoslavia ikut serta.

        Dalam perkembangan ini gereja merasa kaum Injili penting sekali tetapi saya tidak mau puas dan terus menuntut dengan pertanyaan yang tajam: siapakah kaum Injili yang sejati? Jika kita berani menamakan diri Reformed Injili, apakah artinya Injili? Melalui adanya STRII Jakarta, STRI Surabaya, dan STRI Malang, saya ingin bertanya: istilah Reformed sudah banyak dimengerti, tetapi apakah istilah Injili sudah digarap dengan baik? Saya katakan: tidak. Kita masih timpang, lebih pentingkan Reformed tapi kurang pentingkan Injili.

        Siapakah kaum Injili? Bagaimanakah menjadi kaum Injili yang sejati? Saya membagi 5 macam kaum Injili:

1. Traditional Evangelical

        Orang yang dibesarkan di dalam tradisi gereja Injili. Mereka hanya tahu Injil itu baik tapi tidak tahu Injil itu apa. Begitu banyak gereja di Indonesia yang memakai label atau denominasi Injili, seperti GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa), GMIT (Gereja Masehi Injili Timor), GMIST (Gereja Masehi Injili Sangir Talaud). Gereja-gereja yang memakai label Injili ini adalah gereja Protestan. Namun kalau engkau kunjungi engkau tidak mendengar ada Injil, orangnya tidak mengabarkan Injil. Inilah Injili tradisi. Karena dilahirkan dalam satu gereja Protestan yang pada permulaannya ada semangat Injili, maka mengaku diri Injili juga. Ini bukan kaum Injili yang sejati. Sebagaimana anak yang dilahirkan dari keluarga Kristen dianggap otomatis Kristen. Tetapi di dalam kerajaan Allah, hanya mereka yang diperanakkan pula oleh Roh Kudus adalah orang Kristen yang sejati. (Billy Graham mengatakan, "kalau demikian orang yang dilahirkan di dalam garasi otomatis jadi mobil.") Orang yang dilahirkan dalam keluarga Kristen boleh mendapat berkat lebih banyak daripada orang lain, sejak kecil boleh dididik di dalam ajaran Kristen tapi kecuali dia sendiri betul-betul mendalami Injil dan diperanakkan pula di dalam kerajaan Allah oleh kuasa Roh Kudus, ia belum menjadi orang Kristen yang sejati. A traditional Christian is not a true Christian.

2. Ideological Evangelical

        Orang Injili ideologis yaitu mereka yang mengenal, mempelajari, bahkan sampai mengetahui akan struktur pikiran dan semua teologi di dalam ide-ide Injili. Mereka belajar di dalam sekolah teologi Injili, mereka menyetujui segala pemahaman dari iman Injili, mereka mengerti secara kognitif dan rasional akan Injili dan menyetujui doktrin-doktrin Injili. Tetapi bagi saya meskipun mereka lebih baik daripada golongan pertama di atas, mereka tetap bukan kaum Injili yang sejati. Hanya semacam pengertian di otak, ‘aku setuju, aku mengerti, aku sudah belajar, aku tahu, bahkan bisa menulis buku tentang apa itu Injili’, tapi bagi saya engkau tetap bukan Injili yang sejati.

        Pada waktu saya berumur 10 tahun, saya pernah belajar piano di bawah seorang pendeta. Pendeta itu begitu pandai belajar dan mengerti bahasa asli Alkitab, baik Gerika maupun Ibrani. Pada waktu saya berumur 17 tahun, pendeta ini menunjukkan satu buku yang ia tulis mengenai Parakletos, yaitu Roh Kudus. Namun pada waktu saya berumur 24 tahun, saya mendengar kabar pendeta itu tidak lagi menjadi orang Kristen. Ia pergi bertapa di satu gunung di Jawa Tengah sampai mati di situ. Ia meninggalkan kekristenan sama sekali. Ia begitu hafal kitab suci, mengetahui banyak tentang teologi, bahkan menulis buku tentang Roh Kudus. Tetapi akhirnya ia tidak percaya kepada Roh Kudus, ia tidak percaya Yesus Kristus. Ia hanya mempunyai pengertian di otak tetapi tidak di hatinya dan jiwanya. Sebab itu saya kira tidak sulit bagi orang untuk menulis tentang "Evangelical Theology" yang begitu indah, bisa menulis thesis dan paper mengenai penginjilan dan apa itu Injil, tapi sesungguhnya orang yang demikian belum menjadi orang Injili yang sejati.

3. Empirical Evangelical

        Orang-orang yang mengalami digarap oleh Injil. Kelompok ketiga ini jauh lebih baik daripada yang pertama dan kedua. Mungkin di dalam suatu kebaktian Tuhan bekerja dengan kuasa Injil mengubah engkau; mungkin melalui buku atau traktat, Roh Kudus menggugah hatimu untuk bertobat dan meninggalkan dosamu, menerima Yesus Kristus. Mungkin juga melalui suatu peristiwa khusus di mana tidak ada teori atau khotbah yang bisa melakukan, engkau merasa dipukul Tuhan sehingga engkau harus rendah hati dan bertobat mengalami kuasa Injil. Martin Luther termasuk orang semacam ini. Pada suatu hari di tengah-tengah hujan besar, Luther berjalan bersama temannya. Tidak lama kemudian halilintar menyambar temannya yang tewas seketika itu juga. Luther sadar betapa kecilnya manusia. Ia langsung rebah di sana dan meminta pengampunan dosa. Dan suatu perasaan yang begitu dahsyat menyebabkan dia bertobat dan mengenal kuasa Tuhan. Pada suatu hari ia pergi ke kota Roma untuk berziarah. Ia mengira kota Roma itu begitu rohani dan banyak orang suci. tapi pada waktu ia sampai di sana baru ia sadari begitu banyak kerusakan dan korupsi serta kemunafikan, dosa kecongkakan dan keadaan yang begitu tidak sesuai. Di tengah kekecewaan ia mengatakan, "sudah berapa lama saya berusaha berjuang menyiksa diri dengan asketisisme untuk mendapat berkat dan anugerah Allah." Akhirnya ia sadar dengan satu kalimat dari Roma 1:17, "Orang benar akan hidup bukan karena kelakuan dan hidup menyiksa diri, tetapi karena iman." Pengalaman Injil itu menyebabkan ia berubah total. Sesudah menerima pekerjaan Roh Kudus, ia sadar akan Injil. Kesadaran dan pengalaman ini memasukkan ia ke dalam kelompok ketiga.

        Saya tidak tahu ada berapa orang di antara kita yang mengalami kuasa Injil yang mengubah dirimu. Mengapa ada orang Kristen seumur hidup tidak pernah membawa satu orangpun kepada Tuhan dan malah sebaliknya menyebabkan orang satu persatu keluar dari gereja karena tersandung olehnya? Mengapa ada orang yang baru Kristen tiga tahun tapi sudah berbuah banyak, sedangkan yang sudah begitu lama malah tidak berbuah? Ada sesuatu yang salah. Kita harus menyelidiki, introspeksi dan menghakimi diri sendiri akan hal ini. Orang yang berani menghakimi diri sebanyak mungkin makin membuktikan ia dipenuhi oleh Roh Kudus. Penghakiman yang destruktif dan menghancurkan iman kita datangnya dari setan, tetapi introspeksi dan penghakiman yang konstruktif adalah pekerjaan Roh Kudus. Orang yang mengalami kuasa Injil hingga mengalami perubahan dan orang yang belum pernah mengalami kuasa Injil dan belum pernah mengalami perubahan itu berbeda. Karena orang yang sudah mengalami kuasa Injil suka membagi-bagikan, suka orang lain juga sama-sama mendapatkan kuasa Injil itu pula. Sudahkah engkau mengalami hal itu? Sudahkah engkau mengalami perubahan sehingga orang lain melihatmu lalu ingin menjadi orang Kristen pula?

4. Pragmatical Evangelical

        Orang Injili yang pragmatis. Orang seperti ini secara praktis memberikan pelayanan kepada orang lain, menginjili, membagi traktat, mengundang orang ke gereja, dsb. Hal ini selalu terjadi pada diri orang yang baru bertobat. Orang yang baru bertobat merasa sudah sewajarnya dan seharusnya memberitakan Injil kepada orang lain. Tanpa perlu disuruh, tidak perlu dilatih, tak usah dipaksa langsung mengetahui bagaimana membagikan kabar baik kepada orang lain. Ia memberanikan dan mendorong diri untuk hal itu. Saya senang sekali melihat orang Kristen baru dan melihat pengalaman mereka membawa jiwa baru untuk mengenal Injil melalui pelayanannya. Mari kita kembali mengoreksi diri apakah kita sudah kehilangan cinta kasih semula seperti itu? Saya harap sampai saya mati jiwa untuk Injil tetap bebannya sama seperti hari pertama saya menerima Tuhan. Tuhan bisa memelihara negkau dan saya. Masih ingatkah kali pertama engkau begitu giat memberitakan kepada orang lain, tidak ada waktu untuk mengeritik gereja di sana-sini? Yang ada adalah perasaan yang sama seperti Paulus, "Celakalah aku kalau tidak mengabarkan Injil." Itu adalah semacam pengaliran hidup yang begitu natural dan otomatis sehingga tidak ada paksaan dan kesulitan yang dipertahankan untuk mengabarkan Injil.

        Tetapi di dalam hal keempat ini saya minta saudara perhatikan, orang yang langsung mengabarkan Injil karena semangat hidup baru harus mendapatkan pengertian yang seimbang akan Injil dan kegiatan penginjilan, pengertian Injil yang disesuaikan dengan kegiatan penginjilan. Dengan demikian pertumbuhan kerohaniannya akan sehat. Sebab kalau tidak, mungkin akan timbul dua macam gejala yang berbahaya:

a. Penginjilannya berhasil tapi pertumbuhan rohaninya tidak memadai, ia akan menjadi orang yang congkak dan menghina orang Kristen yang lain. Sejarah membuktikan barangsiapa menjadi orang Kristen yang berkobar-kobar mengabarkan Injil, pasti diundang ke sana-sini, laku sekali tapi tidak ada waktu belajar. Sudah terlalu laku sehingga menjadi sombong dan menghina orang Kristen lama, sehingga macet di situ tidak pernah tumbuh lagi. Banyak penginjil yang khotbahnya itu-itu saja berpuluh-puluh tahun. Lalu mengira kekristenan hanya ini saja. Padahal apa yang ia beritakan hanya sebagian kecil saja dari pengertian kitab suci yang begitu limpah, yang kalau tidak digali engkau kira hanya sebegitu saja. Engkau tidak maju-maju. Saya kira kekristenan di Indonesia sudah dilanda oleh semacam tahayul di mana orang tidak percaya kekristenan lebih banyak daripada yang ia mengerti. Lalu ia akan katakan, "Semua pendeta kalau khotbah sama saja isinya." Pada waktu menyelidiki sampai begitu dalam baru tahu ternyata betul-betul tidak sama! Satu ayat yang sama, 10 pendeta khotbahkan pasti berlainan isinya. Apalagi kalau yang khotbah tidak berdasarkan ayat, tapi melenceng ke kanan ke kiri. Tapi engkau yang menggali ayat itu sampai mendalam baru akan menyadari limpahnya ayat itu lebih daripada apa yang kita mungkin pikirkan.

b. Jika pengertiannya tidak bertumbuh, waktu penginjilannya gagal, ia akan langsung mencurigai dan bimbang akan Tuhan yang ia percaya dan akan macet di dalam pelayana selanjutnya. Kedua hal ini amat berbahaya!

        Dengan demikian kita melihat perlu adanya pengertian yang seimbang dengan kegiatan penginjilan. Kalau engkau sudah banyak melakukan penginjilan tapi tidak mau belajar baik-baik, berhentilah dari kegiatanmu itu. Kenapa engkau hanya mau jadi pemimpin, mau hanya jadi pengkhotbah didengar banyak orang tapi waktu disuruh belajar tidak mau?

Petrus mengatakan, biarlah kamu bertumbuh dan bertambah-tambah di dalam anugerah dan pengertian. Pengertian macam apa? Aktivitas harus bertumbuh bersama pengetahuan dan pemahaman akan firman Tuhan. Di dalam pengertian yang bertambah, kegiatan jangan luntur; di dalam kegiatan bertambah, penuntutan akan pengertian firman jangan kendor. Inilah yang harus kita kerjakan mempersiapkan generasi muda untuk menyambut abad 21 dengan bobot yang berlainan dengan apa yang kita lihat pada abad 20 di Indonesia.

        Yang disebut Injili Pragmatis adalah mereka yang tidak mau mengerti dan tidak mau belajar dan peduli akan teologi, pokoknya hanya mau tahu secara pragmatis apa yang bisa dipakai untuk mengabarkan Injil, cukuplah. Bagi mereka yang penting asal orang yang diinjili menerima Tuhan, tidak peduli teologinya Reformed-kah, Armenian-kah, Pentakosta-kah, Kharismatik-kah, Katolik-kah. Khotbah ngawur tidak apa-apa, asal orang bisa jadi Kristen. Kabar kekristenan seperti ini mau jadi apa? Yesus yang bagaimana yang dikabarkan?

Pragmatical Evangelical di dalam penginjilan memakai segala cara asal orang mau jadi Kristen. Kepastian dari iman kepercayaan tidak pernah dibagikan oleh mereka. Kita harus memberikan kepastian di dalam Kristus ada hidup kekal, Kristus adalah jalan satu-satunya menuju surga, di dalam Kristus ada kepastian keselamatan dengan pengampunan dosa dan kesukaan yang sejati.

5. Integrated Evangelical

Orang yang mengintegrasikan teologi, visi, pengalaman dan kepekaan pimpinan Tuhan di dalam aktivitas penginjilan. Inilah kaum Injili yang sejati, yaitu mereka yang betul-betul mengerti rencana Allah di dalam kekekalan berdasarkan teologi yang benar.

a. Integrasi dengan Teologi

        Rencana kekekalan Allah harus ditetapkan di dalam proses dinamis dari sejarah. Eternal decree, eternal planning of God and the process of dynamic history must be integrated. "Tuhan, aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu. Aku mengabarkan Injil yang sudah Engkau tetapkan sebelum dunia dijadikan. Aku mencari kaum pilihan yang sudah Engkau pilih sebelum dunia diciptakan, melalui kuasa Injil mengubah dan menyatakan mereka adalah milik-Mu melalui pertobatan." Dengan demikian teologi diterapkan di dalam kegiatan penginjilan.

b. Integrasi dengan Visi

Tuhan memberi mandat beban tertentu, bagaimana kita harus kerjakan sesuai dengan visi itu.

c. Kepekaan pimpinan Tuhan

        Roh Kudus memimpinmu untuk mengerjakan apa. Dari bakat yang kau miliki dan kebutuhan sekitar ada encounter, dari kemungkinan kesanggupan pikiranmu dengan apa yang dibutuhkan levelnya cocok. Dengan demikian engkau akan efektif dan betul-betul berhasil di dalam penginjilan. Peka akan pimpinan Roh Kudus dan apa yang sesuai untuk kau kerjakan. Orang yang demikian sensitif akan pimpinan Tuhan salah satunya di dalam Alkitab adalah Filipus (Kis. 8). Ia adalah penginjil. Bukan rasul, ia tidak sebesar Petrus, Paulus, Barnabas. Ia adalah seorang yang begitu sederhana tetapi begitu peka akan pimpinan Roh Kudus. Pelayanannya sukses besar di tanah Samaria, namun pada waktu Roh Kudus mengatakan kepadanya, "Aku akan membawa engkau ke tempat yang sunyi di padang belantara." Filipus mau pergi karena ia peka pimpinan Tuhan.

        Di sini mungkin banyak orang bisa garap, di sana hanya engkau yang bisa, engkau mesti pergi. Kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus menjadikan kita efektif dan bisa dipakai di dalam tangan Tuhan menurut rencana yang ditetapkan dari awal. Ini amat penting. Kaum Injili bukan hanya orang yang bisa tulis thesis lalu dapat nilai A, atau dapat summa cum laude. Seorang Injili bukan seorang yang dari dulu nenek moyang sudah Injili maka otomatis menjadi Injili juga. Seorang Injili bukan hanya karena sudah pernah mengalami pertobatan dan menangis di hadapan Tuhan. Injili juga bukan asal ketemu orang berikan traktat dan ajak orang ke gereja. Seorang Injili yang sejati mengintegrasikan 3 hal penting di atas: mengerti firman Tuhan dengan baik dan limpah, mempunyai teologi yang benar, mempunyai visi yang jelas dari Tuhan apa yang harus dikerjakan; mematuhkan diri di bawah pimpinan Roh Kudus secara peka dan taat; betul-betul berapi dari Kalvari untuk membagikan cinta Tuhan kepada orang lain, true concern, true love to others, bukan hanya di dalam teori dan perkataan tetapi di dalam kelakuan dan perbuatan yang sesungguhnya mencintai orang lain. Rela mengorbankan diri.

        Kalau ketiga hal ini sudah diintegrasikan ke dalam tindakan aktifitas pelayanan penginjilan, itulah orang Injili yang sejati. Saya tidak menggabungkan hal sosical concern. Itu adalah buah Injil atau persiapan hati untuk menerima Injil, tapi bukan Injil. Hal yang menjadi pre evangelization ataupun post evangelization beda dengan evangelization. Kaum Injili tidak akan menggabungkan persiapan dan follow up pada penginjilan. Penginjilan adalah penginjilan. Penginjilan harus dilakukan dengan pengertian firman dan renaca yang kekal. Penginjilan harus dilakukan dengan visi dan mandat yang Tuhan berikan sebagai panggilan pribadi. Penginjilan harus dikerjakan dengan api yang mau membagikan pengalaman pribadi kepada orang lain. Barangsiapa mengabarkan Injil, membawa orang bukan Kristen untuk mengenal Kristus, membawa mereka mengalami perubahan, inilah Injili yang sejati. Kalau engkau pandai mengajar orang lain, berkhotbah, tapi secara pribadi tidak memperkenalkan Kristus kepada orang lain dan tidak mencari pimpinan Tuhan, saya anggap engkau bukan kaum Injili yang sejati. Di dunia tidak kurang orang yang mengerti apa itu Injil bahkan bisa mengajar penginjilan di dalam sekolah teologi, tapi kurang orang yang betul-betul mendekati orang berdosa dan memperkenalkan Kristus dengan cinta kasih membawa mereka satu persatu kepada Tuhan.

        Kiranya ini menjadi pedoman bagi pelayanan kita masing-masing dan Tuhan memberkati kita untuk berbuah banyak dalam kerajaan-Nya.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 22 - April 1994

REVOLUSI IBADAH DAN MUSIK GEREJA (oleh : Pdt. Alex Lim, B.C.M., M.RE.)

Saturday, September 24th, 2005

REVOLUSI IBADAH DAN MUSIK GEREJA
oleh : Pdt. Alex Lim, B.C.M., M.RE.

Pendahuluan
Hazrat Inayat Khan dalam bukunya, " Dimensi Mistik Musik dan Bunyi " mengangkat pandangan para pemikir Timur, bahwa ada empat perkara yang memabukkan. Pertama , mabuk kecantikan, masa muda dan kekuatan. Kedua , mabuk kekayaan. Ketiga , mabuk kekuasaan, kewenangan, dan perintah. Dan yang keempat , mabuk pengetahuan, belajar mengejar ilmu setinggi mungkin. Tetapi, keempat hal yang memabukkan ini musnah seperti bintang di hadapan matahari karena adanya mabuk musik. Alasannya, karena musik menyentuh bagian terdalam dari diri manusia . Untuk mebuktikan hal itu, diangkatnya kisah syair Hafiz dari Persia, bahwa, ketika Tuhan menciptakan tubuh, lalu roh diminta untuk masuk ke dalam tubuhnya, tetapi roh orang itu menolak. Maka Tuhan memerintahkan para malaikat menyanyi, dan ketika mendengarkan para malaikat menyanyi, roh masuk ke dalam tubuh yang ia takutkan menjadi sebuah penjara. Hal ini menunjukkan, roh manusia gampang diperdaya oleh musik. Sama halnya dengan Confusius (551-479 BC) menghubungkan musik dengan hati manusia dan dunia kekal. Demikian juga Plato (427-347 BC) menekankan pentingnya pendidikan melalui musik, karena "Irama dan harmoni meresapi jiwa manusia secara kuat."

Konon hal ini bukan rahasia lagi, para ahli kebatinan dari berbagai aliran dan zaman paling menyukai musik, sebab musik dianggap sebagai suatu kekuatan dan bahkan menjadi pusat kultus atau upacara ritual mereka. Karena itulah para Sufi menganggap musik sebagai sumber meditasi. Kaitan musik dengan dunia rohani bukanlah suatu hal yang baru, juga bukan hanya dimonopoli oleh orang Kristen. Jika demikian, dimana letak perbedaan musik gereja, musik dunia dan musik kepercayaan-kepercayaan agama lainnya?

Reformasi atau Degradasi?
Dalam Ef. 5:18 Paulus mengingatkan, jangan mabuk anggur! Sebab orang yang mabuk tidak sadar dengan apa yang ia katakan maupun perbuat, tidak ada arah dan tidak ada maknanya. Fenomena semacam ini "bisa terjadi" dalam menjalankan ‘role’ musik gereja, dimana fungsi itu tidak berfokus lagi sesuai panggilan gereja menjadi terang dan garam dunia. Pada dasarnya, Gereja menghendaki ada pembaruan ibadah dan musik gereja. Namun apa standar "pembaruan" itu, masing-masing berjuang dan menentukan jalannya sendiri. Anehnya, konsep pembaruan itu disamakan atau identik dengan penggunaan IPTEK yang canggih, dengan mengesampingkan nilai-nilai tradisi yang alkitabiah yang diperjuangkan oleh bapak-bapak gereja pendahulu, baik nilai musiknya maupun makna liturginya. Perubahan secara arsitektur, akustik, aestetik, dan simbol-simbol rohani diabaikan begitu saja. Misalnya, gedung kebaktian tidak perlu dalam bentuk gereja yang tradisionil, tapi lebih tampak moderen dengan menggunakan segala ruangan, bisa di ruko, hotel, restoran dan gedung-gedung lainnya. Salib boleh ada boleh tidak, ruangan kebaktian ditata sengaja tidak menonjolkan nuansa rohani, seduniawi mungkin, agar tampak netral.

Fenomena ini seperti menjadi ‘trendy’ orang-orang Kristen. Alat-alat musik band dianggap pembawa berkah dan menjamin ibadah yang bisa menarik banyak orang, di banding dengan yang tradisionil, kurang diminati. Organ, piano dan nyanyian himne dianggap penghambat ibadah. Apakah ini yang dimaksudkan ‘pembaruan’ musik gereja dan ibadah? Atau, sebaliknya terjadi ‘degradasi’ nila-nilai kristiani yang luhur. Apakah pembaruan harus diartikan dengan mengesampingkan bentuk-bentuk tradisionil, tanpa memperhatikan nilai rohaninya, segala cara dihalalkan, tanpa menjaga aspek kekudusan? John Mac Arthur, dalam bukunya, "Prioritas Utama dalam Penyembahan" mengatakan, "Untuk berada di hadirat Allah seseorang harus kudus." Karena, "Kekudusan-Nya adalah mahkota dari semua sifat-Nya yang menunjukkan siapa Dia." Pembaruan harusnya berpijak pada konsep kekudusan Allah, dengan demikian gereja tidak sembarang menyelenggarakan ibadah atau bermusik seenaknya. Sebab Allah sendiri menghendaki umatNya bersikap demikian, " Berilah kepada Tuhan kemuliaan namaNya, sujudlah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan!" (Maz. 29:2). Aspek ini bukan pilihan, namun tuntutan mutlak dari Allah, baik ibadah ala tradisionil maupun moderen. Ada yang mencari alternatif ‘bijak’ dengan menggunakan istilah Blended Worship yaitu, gabungan antara bentuk tardisionil dan moderen. Kedenganrannya cukup memuaskan kedua belah pihak. Namun ada baiknya, falsafah musik gereja diluruskan terlebih dahulu, cara dan bentuk atau alat bisa disesuaikan kebutuhan. Adalah keliru jika asal menyenangkan si penyembah, tanpa menghiraukan yang disembah.

Falsafah yang benar adalah mengutamakan Allah sebagai objek ibadah, dengan demikian cara dan bentuk disesuaikan dengan apa yang diperkenan oleh Allah. Inilah yang membedakan musik gereja dengan penggunaan musik pada agama-agama lain. Sama-sama menggunakan musik sebagai sarana, tapi teologisnya berbeda, yaitu kita bermazmur dan menyanyi untuk kemuliaan Tuhan (Maz 96:4), sedangkan kepercayaan lainnya bukan untuk kemuliaan tuhan/dewanya, tapi hanya sebagai sarana. Karena itu Agustinus (354-430) berkata, " that hymns are praises to God with singing ." Martin Luther (1483-1546) pada masa Reformasi menegaskan, " Music is a gift of God, not a gift of men..After theology I accord to music the highest place and greatest honour . Demikian juga Johann Sebastian Bach (1685-1750) telah memberikan sumbangsih yang besar dalam musik gereja. Beliau selalu membubuhkan kata-kata yang sangat mulia, "Soli Deo Gloria" hanya untuk kemuliaan Allah pada komposisinya. Kesannya sangat alkitabiah, tidak berbau komersial atau mencari popularitas diri. Unsur mencari kemuliaan diri atau menyenangkan manusiawi-manusiawi tidak tampak, Allah lebih diutamakan.

Apa yang perlu diperbaharui dalam gereja? Mulai dari esensi ibadah itu sendiri serta peran musik gereja yang tak terfokus. Barangkali orang-orang penting di gereja perlu ‘tuning’ sejenak tentang konsep bergereja bahwa, bergereja tidak identik dengan perusahaan atau perkumpulan sosial. Kendati gereja juga berorganisasi dan melayani manusianya, namun hakekat Allah dan kehendak Allah harus diutamakan. Seperti kata pemazmur, " Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada Tuhan kemuliaan namaNya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataranNya! Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapanNya, hai segenap bumi!" (Maz 96:7-9).

Bobot ibadah bukan terletak pada fenomena fisik tapi dimensi nuansa rohani dan nilai kekudusan sesuai permintaan Allah pada umatNya., bukan semaraknya atau ramainya. Apa yang menjadi ukuran pembaruan kita? Sarana dan cara? Itu hal yang sekunder. Pembaruan harus dimulai dari inward- nya bukan outward- nya (Yoh 4:24).

Revolusi atau Polusi?
Non liturgi, tepuk tangan, suasana-hura-hura, dan disertai dengan alat musik electron bahkan dilengkapi digital system, membuat suasana kebaktian benar-benar panas dan ramai. Salah satu gereja terkenal di Amerika, dilengkapi lampu sorot sebanyak ratusan buah. Bayangkan gemerlapan ruangan kebaktian, bagaiamana tidak menyenangkan? Karena yang datang merasa tidak ada bedanya pergi ke ‘night club’ mereka bisa mendapat kesenangan yang sama yang disajikan diluar gereja. Mungkin ini adalah falsafah pemimpin gereja tersebut. Mereka tidak bicara benar tidaknya suatu kenenaran, tidak peduli baik buruknya. Yang penting dapat menarik banyak orang datang. Seolah-olah human effort better than spirtual effort . Physical movement more than spiritual movement . Perkataan C. Kirk Hadaway dan David A. Roozen perlu ditanggapi dengan serius, " We should be less concerned about making churches full of people and more concerned about making people full of God " . Satu segi gereja takut takut hampa manusia, dilain pihak mengabaikan perinsip yang dasar.

Dilema demi dilema berjalan sambil menggeser esensi ibadah yang menyimpang kehendak Allah. Karena itu kata Sally Morgenthaler penulis buku Worship Evangelical , " Not surprisingly, many evangelical pastors and worship leaders have been doing just that, tossing out their old worship models to make room for this year’s trend ." Memang kesan "entertainment" sangat kental sekali, dari ornamen-ornamen atau ikon-ikon non rohani tampak menonjol berkilauan seperti lampu sorot (sport light), laser system, dan perlengkapan sound yang tak sedikit biayanya. Sedangkan simbol rohani seperti salib, atau bentuk architecture bernuansa rohani pun tak diperlukan lagi. Apakah ini yang dimaksud revolusi, atau polusi sebaliknya?

Sikap Gereja
Bagaimana sikap pemimpin gereja terhadap perubahan ini? "Trend" yang berlangsung tidak semua bisa dijadikan patokan atau strategi bergereja. Apabila gereja ‘membabibuta’ mengikuti "trend" yang berkembang tanpa diseleksi dan melihat bahayanya, gereja semakin mirip perkumpulan dunia, persekutuan orang-orang kudus. Pemahaman bergereja perlu ditata ulang, konsep ibadah yang alkitabiah, dan filosofi musik gereja perlu mendapat porsi yang tepat dan benar. Khususnya, tentang arti ibadah kian kabur, lebih cenderung toleransi pada selera manusia ketimbang Allah. Seharusnya Allah diutamakan, namun kebutuhan manusia tidak diabaikan.

Secara terminologi dalam istilah German " Gottesdienst " berarti " God’service (to us) and our service to God ." Istilah Perancis " le culte " dan Itali " il culto " keduanya menunjuk "persekutuan abadi, memberi dan menerima." Allah diagungkan manusia diberkati, intinya itu. Menurut Gerrit Gustafson , " Worship is the act and attitude of wholeheartedly giving ourselves to God, spirit, soul and body " . Singkatnya ibadah adalah penyataan hormat dan kasih kita kepada Allah dilakukan dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24), disertai dengan penyerahan atau pemberian yang kudus dan hidup (Roma 12:1). Jika dinilai dari sini valuenya, kualitas lebih diutamakan dari kuantitasnya, namun kenyataanya lebih menekankan kuantitas daripada kualitasnya. Paradigma bergereja apabila sudah betul, yang lain bisa ditata sebagaimana mestinya.

Selama ini bagaimana Anda menjalankan roda pertumbuhan gereja, baik dalam hal ibadah maupun fungsi musik gereja?


Daftar Kepustakaan

- Inayat Khan, Dimensi Mistik, Musik dan Bunyi , Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002
- Sally M. , Worship Evangelism , Zondervan: Grand Rapids, Michigan 1999
- Alex Lim, The Influence of Contemporary Christian Music in The Church , Thesis 1997
- Jane Stuart and Betty Carlson, A Gift of Music , Westchester: Cornerstone Books 1979
- Warren D. A. , Philosophies of Music History , New York: Dover Publications 1962
- John Mac Arthur, Prioritas Utama dalam Penyembahan , Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1994.
- Don Campbell, Efek Mozart, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Profil Pdt. Alem Lim :

Pdt. Alex Lim, B.C.M., M.RE. adalah hamba Tuhan yang melayani di Gereja Kristen Abdiel (GKA) Gloria, Surabaya. Beliau adalah lulusan Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, lalu melanjutkan pendidikan di Singapore Bible College (jurusan musik gereja) dan meraih gelar Bachelor of Church Music (B.C.M.) serta meraih gelar Master of Religion Education (M.R.E.) dari Far East Bible College, Singapore.

ROH KUDUS DAN ALKITAB (oleh : Rev. DR. JOHN R. W. STOTT)

Saturday, September 24th, 2005

ROH KUDUS DAN ALKITAB

ROH KUDUS DAN ALKITAB

oleh : Rev. DR. JOHN R. W. STOTT

Semua orang Kristen sadar bahwa antara Kitab Suci dan Roh Suci, pasti terdapat suatu hubungan yang erat. Sebenarnya semua orang Kristen percaya bahwa dalam arti tertentu Alkitab adalah hasil karya cipta Roh Kudus. Karena setiap kali kita mengikrarkan Pengakuan Iman Nicea, kita menegaskan salah satu pokok kepercayaan kita tentang Roh Kudus bahwa ‘Dia telah berfirman dengan perantaraan para nabi’. Ungkapan tadi merupakan gema ungkapan-ungkapan serupa di Perjanjian Baru. Sebagai contoh, Tuhan kita Yesus Kristus sendiri suatu ketika mengutip Mazmur 110 dan menjelaskan: ‘Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: …’ (Markus 12:36). Petrus dalam suratnya yang kedua, sama menulis ‘oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah’ (2Petrus 1:21), atau bila diterjemahkan harafiah dari istilah Yunaninya, ‘mereka diombang-ambingkan oleh Roh Kudus’, (istilah yang sama digunakan dalam Kisah Para Rasul 27:18), persis seperti kapal diombang-ambingkan angin. Jelas ada hubungan penting antara Alkitab dan Roh Kudus. Hal ini kini akan kita selidiki.

Sejauh ini sudah kita pikirkan bahwa Allah adalah sumber dari penyataan yang diungkapkan-Nya dan bahwa Yesus Kristus adalah pokok utama penyataan-Nya. Kini perlu kita tambahkan bahwa Roh Kudus adalah perantara-Nya. Dengan demikian, pemahaman Kristen tentang Alkitab bersumber pada pemahaman tentang Tritunggal. Alkitab berasal dari Allah, berpusat pada Kristus dan diilhamkan oleh Roh Kudus. Karena itu definisi terbaik tentang Alkitab pun bernafaskan Tritunggal: "Alkitab adalah kesaksian Bapa tentang Anak melalui Roh Kudus."

Jadi persisnya, apakah peran Roh Kudus dalam proses penyataan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita beralih kepada Alkitab sendiri, terutama 1Korintus 2:6-16.

Penting kita melihat bagian Alkitab ini dalam konteksnya yang lebih luas. Sampai di bagian ini, Paulus sedang menegaskan tentang ‘kebodohan’ Injil. Sebagai contoh, ‘pemberitaan tentang salib memang adalah ‘kebodohan’ (1Korintus 1:18), dan ‘kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan’ (1Korintus 1:23). Katakanlah sekarang bahwa berita tentang salib terdengar bodoh bahkan tak mengandung arti bagi para intelektual sekular. Paulus sekarang mengkoreksi agar jangan timbul kesan pada para pembacanya bahwa dia sama sekali menolak pentingnya hikmat dan bermegah dalam kebodohan. Apakah rasul anti intelek? Apakah dia menghina pengertian dan penggunaan akal? Tidak, sama sekali tidak.

1Korintus 2:6-7 menuliskan, "Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat … hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, . . . yang telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita." Perbandingan yang Paulus buat tidak boleh kita lewati. Kami jelas menyampaikan hikmat, tulisnya, tetapi:

  1. hanya kepada yang telah dewasa, bukan kepada yang bukan Kristen atau bahkan bukan kepada Kristen yang masih muda iman;
  2. hikmat tersebut adalah hikmat Allah, bukan hikmat duniawi;
  3. yaitu agar kita menerima kemuliaan, maksudnya kesempurnaan akhir kita kelak melalui keikutsertaan kita dalam kemuliaan Allah dan bukan hanya membawa kita pada pembenaran di dalam Kristus.

Dalam usaha menginjili orang yang bukan Kristen, kita harus memusatkan perhatian pada ‘kebodohan’ Injil tentang Kristus yang tersalib bagi orang berdosa. Dalam usaha membangun orang Kristen menuju kedewasaan penuh, kita harus memimpin mereka ke dalam pengertian tentang keseluruhan rencana Allah. Paulus menyebut hal tersebut di ayat 7 sebagai ‘hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia’ dan di ayat 9 ’semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia’. Hal itu hanya dapat diketahui, tegas Paulus, melalui penyataan. ‘Penguasa- penguasa dunia ini’ (para pemimpin dunia) tidak mengertinya, atau mereka tidak akan menyalibkan ‘Tuhan yang mulia’ (ayat 8). Bukan mereka saja, semua manusia, pada diri mereka sendiri, tidak memahami hikmat dan maksud Allah.

Rencana Allah, menurut Paulus di ayat 9 adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, atau didengar telinga, atau diselami hati. Hikmat Allah itu di luar jangkauan mata, telinga, dan pikiran manusia. Ia tidak tunduk kepada penelitian ilmiah, juga terhadap imajinasi. Hikmat Allah sama sekali di luar batas dan daya ukur akal kita yang sempit dan terbatas, kecuali Allah sendiri menyatakannya. Memang itulah yang sudah Allah buat! "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Rencana mulia-Nya yang tak terbayangkan ini, ‘telah Allah nyatakan kepada kita melalui Roh-Nya’. Kata ‘kita’ sedemikian kuat tekanannya, dan diartikan dalam konteksnya bukan menunjuk kepada kita semua tanpa perbedaan, tetapi dimaksudkan untuk Rasul Paulus yang menulis dan untuk sesama rekan rasul lainnya. Allah memberikan penyataan khusus tentang kebenaran-kebenaran tersebut kepada alat-alat penyataan-Nya yang khusus (yaitu para nabi Perjanjian Lama dan para rasul Perjanjian Baru), dan Allah melakukan ini ‘melalui Roh-Nya’. Roh Kudus menjadi perantara penyataan tersebut.

Saya kuatir bahwa pengantar yang dimaksudkan untuk menolong kita mengerti konteks pembicaraan Paulus tentang Roh Kudus sebagai perantara penyataan ini terasa agak panjang. Apa yang diuraikannya selanjutnya adalah pernyataan luas yang sangat menakjubkan. Dia menggarisbesarkan empat tahap karya Roh Kudus, sebagai perantara penyataan Ilahi.

  1. Roh yang menyelidik

    Roh Kudus adalah Roh yang menyelidik (ayat 10-11). Sambil lalu patut kita perhatikan bahwa ungkapan ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah pribadi. Hanya pribadi-pribadi yang dapat terlibat dalam usaha menyelidik atau ‘penyelidikan’. Tentu kita ketahui bahwa komputer- komputer modern dapat mengadakan riset yang sangat rumit yang bersifat mekanis dan analitis. Tetapi riset sejati (seperti yang sangat dikenal oleh para mahasiswa pasca sarjana) bukan hanya mengandung penyusunan dan analisis data secara statistik, tetapi menuntut pemikiran orisinal baik dalam bentuk penelitian maupun refleksi. Inilah bentuk pekerjaan yang dilakukan Roh Kudus karena Dia memiliki akal yang melaluinya Dia berpikir. Karena berkeberadaan sebagai Pribadi Ilahi (bukan komputer atau pengaruh atau kekuatan belaka), kita harus membiasakan diri menyebut-Nya sebagai ‘Dia’ (Pribadi) dan bukan ‘ini’ (benda).

    Paulus menggunakan dua lukisan menarik untuk menyatakan kemampuan- kemampuan unik Roh Kudus dalam karya penyataan.

    PERTAMA, ‘Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah’ (ayat 10). Istilah yang sama digunakan Yesus tentang orang Yahudi yang ‘menyelidiki Kitab-kitab Suci’, dan menurut Moulton dan Milligan (dalam buku mereka ‘Vocabulary of the Greek New Testament’), berdasarkan kutipan naskah dari abad ketiga, ‘para penyelidik’ adalah para petugas beacukai. Dalam arti mana pun, Roh Kudus digambarkan sebagai penyelidik yang giat dan teliti, atau bahkan sebagai penyelam yang berusaha mengarungi kedalaman Diri Allah yang Maha Kuasa yang tak terselami itu. (Mungkin Paulus meminjam istilah ‘dalam’ dari perbendaharaan kata bidat Gnostik.) Keberadaan Allah tak terukur kedalaman-Nya, dan secara terus terang Paulus menyatakan bahwa Roh Kudus menyelidiki kedalaman-kedalaman Allah. Dengan kata lain, Allah sendiri menjelajahi kelimpahan keberadaan-Nya sendiri.

    Contoh KEDUA yang Paulus kemukakan, diambilnya dari pengertian diri manusia. "Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia?" (ayat 11) ‘Apa yang terdapat’ menunjuk kepada ‘hal-hal’ khas ciri kemanusiaan kita. Seekor semut tak mungkin menyelami bagaimana keberadaan hidup manusia. Katak, kelinci, atau monyet tercerdas sekalipun tidak mampu. Juga seorang manusia tak mungkin menyelami sepenuhnya keberadaan diri seorang manusia lainnya. Betapa sering kita berkata, terutama ketika masih remaja, "Anda tak mengerti saya; tak seorang pun mengerti saya." Benar ucapan tadi! Tak seorang pun mengerti saya kecuali saya sendiri, bahkan pengertian saya tentang diri sendiri pun masih terbatas. Demikian pula, tak seorang pun mengerti Anda kecuali Anda sendiri. Ukuran pengertian diri atau kesadaran diri ini diterapkan Paulus kepada Roh Kudus (ayat 11): "Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah." Roh Kudus Allah di sini hampir disamakan dengan pengertian diri Ilahi atau kesadaran diri Ilahi. Sama seperti halnya tak seorang pun dapat mengerti seseorang kecuali orang itu sendiri, demikian pula tak seorang pun dapat mengerti Allah kecuali Allah sendiri. Ada lagu yang mengatakan, "Allah saja mengetahui kasih Allah." Senada dengan itu dapat pula kita tegaskan bahwa Allah saja yang mengetahui hikmat Allah, sesungguhnya Allah saja yang mengetahui keberadaan Allah.

    Dengan demikian, Roh menyelidiki kedalaman-kedalaman diri Allah, dan Roh mengetahui perkara-perkara Allah. Dia memiliki pemahaman yang unik tentang diri Allah. Masalahnya sekarang ialah: Apa yang dibuat-Nya dengan apa yang sudah diselidiki dan diketahui-Nya itu? Apakah disimpan-Nya sendiri pengetahuan unik-Nya itu? Tidak. Dia sudah melakukan hal yang hanya Dia patut dan mampu melakukannya; Dia telah menyatakannya. Roh yang menyelidik menjadi pula Roh yang menyatakan.

  2. Roh yang menyatakan

    Apa yang diketahui hanya oleh Roh Kudus, Dia pula yang dapat menyatakannya. Hal ini sudah ditegaskan di ayat 10, "Karena kepada kita (para rasul) Allah telah menyatakannya oleh Roh." Kemudian Paulus menguraikannya di ayat 12: "Kita (kita yang sama yaitu para rasul) tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah (yaitu Roh yang menyelidik din yang mengetahui), supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita." Sebenarnya, para rasul telah menerima dua karunia istimewa dari Allah, PERTAMA karunia keselamatan (apa yang dikaruniakan Allah kepada kita) dan KEDUA, Roh memampukan mereka untuk mengerti keselamatan anugerah-Nya.

    Paulus sendiri merupakan contoh terbaik tentang proses rangkap ini. Sambil kita membaca surat-suratnya, dia memberikan suatu uraian yang indah sekali tentang Injil kasih karunia Allah. Dia menyatakan apa yang telah Allah buat untuk orang-orang berdosa seperti kita yang tidak pantas menerima yang lain kecuali hukuman-Nya. Dia menyatakan bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya untuk mati disalib bagi dosa-dosa kita dan bangkit kembali, dan jika kita melalui iman di hati dan baptisan di depan umum maka kita turut mati bersama Dia dan bangkit kembali dengan Dia, mengalami suatu kehidupan baru di dalam Dia. Injil ajaib seperti inilah yang Paulus ungkapkan kepada kita dalam surat- suratnya. Tetapi bagaimana dia dapat mengetahui semua ini? Bagaimana dia dapat membuat uraian seluas itu tentang keselamatan? Jawabnya tentunya ialah karena PERTAMA dia sendiri sudah menerimanya. Dia mengetahui kasih karunia Allah dalam pengalamannya. KEDUA, Roh Kudus telah diberikan kepadanya untuk menafsirkan pengalamannya itu kepada dirinya. Jadi, Roh Kudus menyatakan kepadanya rencana keselamatan Allah, yang dalam surat-suratnya yang lain disebutnya sebagai ‘rahasia’ Allah. Roh yang menyelidik menjadi Roh yang menyatakan.

  3. Roh yang mengilhamkan

    Kini kita tiba ke tahap ketiga: Roh yang menyatakan menjadi Roh yang mengilhamkan. "Kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh." (Ayat 13) Perhatikan bahwa di ayat 12 Paulus menulis tentang apa yang dia terima dan di ayat 13 tentang apa yang dia sampaikan. Mungkin baik bila saya mengupas alur pikirannya ini sebagai berikut: "Kami telah menerima karunia-karunia besar ini dari Allah; kami telah menerima Roh-Nya untuk menafsirkan bagi kami apa yang sudah Allah buat dan berikan untuk kami; kini, kami menyatakan apa yang sudah kami terima itu kepada orang-orang lain." Roh yang menyelidik yang sudah menyatakan rencana keselamatan dari Allah kepada para rasul, meneruskan penyampaian Injil ini melalui para rasul kepada orang-orang lain. Sama seperti halnya Roh tidak menyimpan hasil-hasil penyelidikan-Nya untuk diri-Nya sendiri, demikian pula para rasul tidak menyimpan penyataan dari-Nya itu untuk diri mereka sendiri. Tidak. Mereka mengerti bahwa mereka dipercayakan sebagai penatalayan. Mereka harus meneruskan apa yang sudah mereka terima kepada orang- orang lain.

    Lagi pula, apa yang mereka sampaikan itu berbentuk kata-kata dan kata- kata itu menurut mereka bukan berasal dari hikmat manusia tetapi diajarkan oleh Roh Kudus (ayat 13). Lihatlah di sini bagaimana Roh Kudus disinggung kembali, tetapi kali ini sebagai Roh yang mengilhamkan. Dalam ayat 13 ini tertampung pernyataan rangkap Paulus tentang ‘pengilhaman verbal’. Artinya, kata-kata yang melaluinya para rasul meneruskan berita yang telah dinyatakan Roh kepada mereka, adalah kata-kata yang sama yang telah diajarkan kepada mereka oleh Roh.

    Menurut dugaan saya, penyebab mengapa ungkapan ‘pengilhaman verbal’ kurang disenangi orang adalah kesalahmengertian tentang artinya. Akibatnya, apa yang mereka tolak bukan arti sesungguhnya, melainkan karikaturnya. Izinkan saya menjernihkan beberapa kesalahan konsep berikut. PERTAMA, ‘pengilhaman verbal’ tidak berarti bahwa ’setiap kata dalam Alkitab harus dianggap benar secara harafiah’. Tidak, kita tahu benar bahwa para penulis Alkitab sering menggunakan berbagai jenis gaya tulisan, yang masing-masing harus ditafsirkan menurut peraturannya sendiri-sendiri — sejarah sebagai sejarah, puisi sebagai puisi, perumpamaan sebagai perumpamaan, dan sebagainya. Yang diilhamkan adalah arti wajar masing-masing kata, sesuai dengan maksud pengarangnya sendiri, entah harfiah ataupun simbolik.

    KEDUA, ‘pengilhaman verbal’ bukan berarti dikte lisan. Kaum Muslim percaya bahwa Allah mendiktekan Quran kepada Muhammad, kata demi kata dalam bahasa Arab. Bukan begini yang dipercaya orang Kristen tentang Alkitab, sebab, sebagaimana sudah kita lihat sebelum ini dan yang kelak akan lebih saya tegaskan, Roh Kudus memperlakukan para penulis Alkitab sebagai pribadi, bukan sebagai mesin. Walaupun ada beberapa kasus perkecualian, umumnya mereka sepenuhnya menguasai seluruh kemampuan manusia mereka sementara Roh mengkomunikasikan firman-Nya melalui kata-kata mereka.

    KETIGA, ‘pengilhaman verbal’ tidak berarti bahwa setiap kalimat dalam Alkitab adalah firman Allah, biarpun bila dilepaskan dari konteksnya, misalnya. Tidak semua hal yang ditampung dalam Alkitab disetujui oleh Alkitab. Kisah khotbah-khotbah panjang para sahabat Ayub adalah contoh baik tentang hal ini. Pernyataan utama mereka bahwa Allah menghukum Ayub karena dosa-dosanya, sama sekali salah. Di pasal terakhir, dua kali Allah berkata, "Kamu tidak berkata benar." (Ayub 42:7-8) Jadi, kata-kata mereka tidak bisa dianggap sebagai kata-kata Allah. Ucapan- ucapan mereka diikutsertakan bukan untuk disetujui, melainkan untuk disalahkan. Firman Allah yang diilhamkan ialah yang disetujui dan ditandaskan, entah berbentuk perintah, petunjuk, atau janji.

    Yang dimaksud dengan ‘pengilhaman verbal’ ialah bahwa apa yang sudah dan masih dikatakan oleh Roh Kudus melalui penulis-penulis Alkitab, bila dimengerti sesuai dengan arti jelas dan wajar dari kata-kata yang tertulis itu adalah benar tanpa salah. Tak perlu kita merasa dibuat malu oleh pokok iman Kristen ini, atau merasa dipermalukan atau takut mengakuinya. Sebaliknya, doktrin ini jelas jelas masuk akal, sebab kata-kata adalah bangun dasar yang membentuk kalimat-kalimat. Kata- kata adalah sel-sel dasar yang membangun ucapan. Tidak mungkin memolakan pesan yang tepat tanpa membentuk kalimat-kalimat tepat yang terdiri dari kata-kata yang tepat pula.

    Bayangkanlah bagaimana sulitnya menyusun sebuah telegram. Katakanlah kita diberi batas hanya dua belas kata. Pada saat yang sama kita diminta untuk menyusun bukan saja pesan yang dapat dimengerti, melainkan juga pesan yang tak akan disalahmengertikan. Untuk itu kita menyusun, menyusun, dan menyusunnya ulang. Kita buang satu kata di sini dan menambah sebuah kata lagi di sana, sampai pesan kita tersusun rapi, jelas, dan memuaskan. Kata-kata sedemikian penting artinya. Setiap pengkhotbah yang ingin mengkomunikasikan pesan yang dapat dimengerti dan tak akan disalahmengertikan, tahu pentingnya kata-kata. Setiap pengkhotbah yang berhati-hati mempersiapkan khotbah-khotbahnya, memilih kata-katanya dengan teliti. Setiap penulis, entah menulis surat atau artikel atau buku, tahu bahwa kata itu penting artinya. Dengarkanlah apa yang pernah ditulis seseorang berikut ini: "Betapa agung milik manusia yang satu ini: kata-kata … Tanpa kata, tak mungkin kita memahami hati dan pikiran sesama kita. Bila demikian, tak ada bedanya manusia dari binatang … sebab, begitu kita ingin berpikir dan memahami sesuatu, kita selalu memikirkannya dalam kata- kata, walaupun itu tidak kita utarakan kuat-kuat; tanpa kata, segala isi pikiran kita tinggal sekadar tumpukan kerinduan dan perasaan yang gelap tak terselami dan tak terpahami bahkan oleh diri kita sendiri." Jadi, kita selalu harus membungkus pikiran-pikiran kita dalam kata- kata.

    Hal inilah sebenarnya yang dicanangkan para rasul bahwa Roh Kudus Allah yang sama yang menyelidiki kedalaman-kedalaman Allah dan yang menyatakan penyelidikan-penyelidikan-Nya itu kepada para rasul, meneruskannya melalui para rasul dalam kata-kata yang berasal dari pilihan para rasul sendiri. Roh mengutarakan kata-kata-Nya melalui kata-kata mereka, supaya kata-kata itu sekaligus merupakan kata-kata Allah dan kata-kata manusia. Inilah yang dimaksud bahwa Alkitab dikarang secara rangkap. Ini pula maksud ‘pengilhaman’. Pengilhaman Alkitab bukan suatu proses mekanis. Pengilhaman sepenuhnya melibatkan Pribadi (Roh Kudus) yang berbicara melalui pribadi-pribadi (para nabi dan para rasul) sedemikian rupa sehingga secara serempak kata-kata-Nya menjadi kata-kata mereka sendiri, dan mereka menjadi kata-kata Dia.

  4. Roh yang menerangi

    Kini kita tiba pada tahap kerja Roh Kudus yang keempat sebagai perantara penyataan, dan dalam tahap ini saya sebut Dia sebagai Roh yang ‘menerangi’. Mari kita telusuri bersama.

    Bagaimanakah anggapan kita tentang mereka yang mendengar khotbah- khotbah rasul dan kemudian membaca surat-surat rasul? Adakah mereka dibiarkan sendiri tanpa bantuan? Haruskah mereka bergumul sekuat tenaga untuk mengerti pesan-pesan rasuli itu? Tidak! Roh yang sama yang giat bekerja di dalam diri mereka yang menulis surat-surat rasuli, giat pula di dalam diri mereka yang membaca surat tersebut. Jadi, Roh Kudus bekerja di dalam keduanya, mengilhamkan firman-Nya kepada para rasul dan menerangi para pendengar mereka. Secara tidak langsung hal ini disinggung dalam ayat 13, ayat yang rumit dan sering ditafsirkan berbeda-beda. Saya cenderung menerjemahkan, "Roh Kudus menafsirkan kebenaran-kebenaran rohani kepada mereka yang memiliki Roh." Hal memiliki Roh tidak terbatas hanya pada para penulis Alkitab. Tentu saja karya pengilhaman-Nya di dalam mereka bersifat unik; namun sebagai tambahan Roh Kudus berkarya pula dalam penafsiran.

    Ayat 14 dan 15 mengupas kebenaran ini dan menekankan segi-segi yang berbeda tajam. Ayat 14 mulai dengan menunjuk pada ‘manusia duniawi’, yaitu mereka yang tidak diperbaharui yakni orang non-Kristen. Sebaliknya, ayat 15 mulai dengan ‘manusia rohani’, yang memiliki Roh Kudus. Dengan demikian, Paulus membagi manusia ke dalam dua kategori yang terpisah tajam: ‘yang duniawi’ dan ‘yang rohani’, yaitu mereka yang memiliki kehidupan alami, atau jasmani di satu pihak dan mereka yang sudah menerima kehidupan rohani atau kehidupan kekal di lain pihak. Golongan pertama tidak memiliki Roh Kudus karena mereka belum dilahirkan kembali, tetapi Roh Kudus mendiami mereka yang telah dilahirkan-Nya baru, didiami oleh Roh Kudus, merupakan ciri orang Kristen sejati (Roma 8:9).

    Apa bedanya bila kita memiliki Roh Kudus atau tidak? Besar sekali! Terutama (walaupun ada perbedaan lainnya), dalam pengertian kita tentang kebenaran rohani. Manusia tidak rohani atau yang belum diperbaharui, yaitu yang tidak menerima Roh Kudus, tidak juga menerima perkara-perkara dari Roh Kudus karena hal itu merupakan kebodohan bagi mereka (ayat 14). Bukan saja tidak mengerti, melainkan juga tidak sanggup lagi mengerti karena sudah ‘terlalu paham’. Manusia rohani di lain pihak, Kristen yang sudah dilahirkan kembali dan di dalam siapa Roh Kudus berdiam, ‘menilai’ (istilah Yunaninya sama dengan memahami di ayat 14) ’segala sesuatu’. Bukan berarti dia menjadi maha tahu seperti Allah, melainkan semua perkara yang dulu tidak dilihat dan dipahaminya, yaitu yang telah Allah nyatakan dalam Alkitab, kini menjadi berarti baginya. Dia mengerti apa yang dulu tidak dimengertinya walaupun karena itu dia sendiri tidak dapat dimengerti orang lain. Secara harfiah berarti ‘dia tidak dipahami oleh siapa pun’. Dia menjadi semacam teka-teki, sebab ada rahasia yang dalam tentang kebenaran dan kehidupan rohaninya yang tidak masuk akal bagi orang-orang tak beriman. Sebenarnya ini tidak perlu diherankan, sebab tak seorang pun tahu pikiran Allah atau mampu mengajari Dia. Karena mereka tidak mengerti pikiran Kristus, mereka tidak mengerti kita pula walaupun kita yang telah diterangi Roh Kudus dapat berkata dengan berani, "Kami memiliki pikiran Kristus." (ayat 16) Betapa ajaib!

    Inikah pengalaman Anda? Sudahkah Alkitab menjadi suatu buku berarti bagi Anda? Seseorang pernah berkata kepada sahabatnya sesaat sesudah pertobatannya, "Jika Allah menarik kembali Alkitabnya dan menukarnya dengan yang lain, Alkitab lain itu bukan lagi barang baru baginya." Hal yang sama saya alami sendiri. Sebelum saya bertobat, saya membaca Alkitab setiap hari karena diharuskan ibu saya. Tetapi saya menghadapi banyak sekali kesulitan. Tak sedikit pun saya mengerti isinya. Tetapi ketika saya dilahirkan kembali dan Roh Kudus datang berdiam di dalam diri saya, tiba-tiba Alkitab menjadi sesuatu yang baru bagi saya. Tentu, saya tidak menganggap bahwa saya tahu segala sesuatu. Saat ini pun saya masih jauh dari mengerti segala perkara. Tetapi saya mulai mengerti hal-hal yang tadinya tidak saya mengerti. Betapa ajaibnya pengalaman ini! Anda jangan menganggap Alkitab sebagai kumpulan naskah-naskah kuno berbau apek yang harus dipajang di perpustakaan. Jangan beranggapan bahwa halaman-halaman Alkitab seumpama fosil-fosil yang harus ditempatkan di balik kaca-kaca museum. Tidak, Allah masih berbicara melalui apa yang sudah dibicarakan-Nya. Melalui teks kuno dalam Alkitab, Roh Kudus dapat berkomunikasi kembali dengan kita kini, secara segar, pribadi dan penuh kuasa. "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan (ditulis dalam bentuk waktu sekarang) Roh (melalui Alkitab) kepada jemaat jemaat." (Wahyu 2:7)

    Jika Roh Kudus pada zaman ini masih berbicara kepada kita melalui Alkitab, mungkin Anda akan bertanya, "Mengapa tidak terjadi persetujuan pendapat tentang segala sesuatu, jika selain menjadi perantara penyataan, Roh Kudus juga adalah penafsir, mengapa Dia tidak memimpin kita kepada suatu pemikiran yang sama?" Jawaban saya mungkin akan membuat Anda kaget. Sesungguhnya, Dia memungkinkan kita untuk lebih mengalami kesepakatan ketimbang tidak. Kita akan memiliki pemahaman yang sama asal saja kita mengikuti empat persyaratan berikut.

    PERTAMA, kita harus menerima otoritas mutlak Alkitab dan bersungguh hati tunduk kepadanya. Di antara mereka yang bersikap seperti ini terciptalah sejumlah konsensus Kristen yang berarti. Perbedaan besar dan menyakitkan yang ada, misalnya antara Gereja Roma Katholik dan Gereja-gereja Protestan, terutama terjadi karena yang pertama terus saja enggan menyatakan bahwa Alkitab memiliki otoritas mutlak melampaui tradisi gereja. Posisi resmi Gereja Roma (walaupun sudah diubah namun tidak cukup memadai oleh Konsili Vatikan kedua), masih menegaskan bahwa ‘baik Tradisi Suci dan Kitab Suci harus diterima dan dihornytti dengan sikap ibadah dan khidmat yang sama’. Gereja-gereja Protestan tidak menyangkal pentingnya tradisi, dan sebagian dari kita sangat menghormatinya, sebab Roh Kudus sudah sejak generasi-generasi yang lampau mengajar, dan Dia bukan baru saja mengajarkan kebenaran kepada kita. Namun bila di antara keduanya terjadi benturan, kita harus mengizinkan Alkitab untuk membentuk ulang tradisi, sama seperti yang Yesus tegaskan terhadap tradisi orang Yahudi (Markus 7:1-13). Jika Gereja Roma Katholik memiliki keberanian untuk menolak tradisi- tradisi yang tidak alkitabiah (misalnya, dogma mereka tentang ketidakberdosaan Maria dan pengangkatan Maria ke Surga), kemajuan cepat akan tercapai ke arah persetujuan di bawah firman Allah.

    KEDUA, kita harus ingat hal yang sudah kita bahas sebelum ini bahwa maksud utama Alkitab ialah memberi kesaksian kepada Kristus, Sang Juruselamat sempurna bagi orang-orang berdosa. Ketika para perintis Reformasi di abad keenam belas menekankan pentingnya kejelasan Alkitab dicapai dengan menerjemahkannya agar orang biasa dapat membacanya sendiri, mereka sebenarnya sedang menunjuk pada jalan keselamatan. Mereka tidak menyangkal bahwa Alkitab mengandung ‘hal-hal yang sukar dipahami’ (komentar Petrus tentang surat-surat Paulus di 2Petrus 3:16); apa yang mati-matian mereka tegaskan ialah bahwa kebenaran- kebenaran hakiki untuk keselamatan, dapat dimengerti oleh semua orang dengan jelas.

    KETIGA, kita harus menerapkan prinsip-prinsip penafsiran yang sehat. Tentu mudah sekali memutarbalikkan Alkitab sesuka keinginan kita mengertinya. Tetapi tugas kita ialah menafsirkan, bukan memutarbalikkan Alkitab. Yang terutama harus kita cari ialah arti asal dan arti wajar Alkitab sesuai dengan maksud penulisnya. Mungkin bisa harfiah bisa pula kiasan, lagi-lagi tergantung niat penulisnya. Apa yang kita sebut tadi ialah prinsip historis dan prinsip kesederhanaan. Bila keduanya diterapkan secara lurus dan ketat, maka Alkitab akan mengontrol kita, bukan kita mengontrol Alkitab. Akibatnya, wilayah- wilayah tentang mana kita bersepakat akan bertambah luas.

    KEEMPAT, kita harus mendatangi teks Alkitab dengan kesadaran tentang adanya prasangka-prasangka budaya kita dan kesediaan untuk mengizinkan prasangka tadi ditantang dan diubah. Jika kita datang kepada Alkitab dengan sikap angkuh dan menganggap semua pemahaman iman dan kebiasaan yang kita warisi benar adanya, tentu saja di dalam Alkitab hanya akan kita temukan hal-hal yang memang ingin kita temukan, yaitu dukungan untuk status quo kita. Selain itu, kita pun akan berada dalam pertentangan tajam dengan orang lain yang datang kepada Alkitab dari latar belakang dan keyakinan yang berbeda, namun ternyata mendapatkan ‘dukungan’ Alkitab untuk pandangan mereka. Mungkin tak ada penyebab lebih lazim timbulnya pertentangan daripada faktor tadi. Hanya jika kita cukup berani dan rendah hati, mengizinkan Roh Allah melalui firman. Allah mempertanyakan secara radikal pandangan-pandangan yang paling kita sayangi, baru kita akan mendapatkan keesaan dan pengertian yang segar.

    Pemahaman rohani yang dijanjikan Roh Kudus tidak bertentangan dengan keempat syarat ini, tetapi syarat-syarat ini merupakan pengandaian yang harus kita terima dan penuhi lebih dulu.

Kesimpulan

Kita telah menyelidiki tentang Roh Kudus dalam empat peran: Roh yang menyelidik, Roh yang menyatakan, Roh yang mengilhamkan, dan Roh yang menerangi. Inilah keempat tahap pelayanan Roh Kudus mengajar umat-Nya. PERTAMA, Dia menyelidiki kedalaman Allah dan pikiran Allah. KEDUA, Dia menyatakan penyelidikan-Nya itu kepada para rasul. KETIGA, Dia menyampaikan apa yang telah dinyatakan-Nya kepada para rasul melalui para rasul dengan kata-kata yang disediakan-Nya sendiri. KEEMPAT, Dia menerangi pikiran para pendengar agar mereka dapat memahami apa yang sudah dinyatakan kepada dan melalui para rasul, dan masih melanjutkan karya iluminasi-Nya ini bagi mereka yang ingin menerimanya sampai saat ini.

Dua pelajaran singkat sederhana akan mengakhiri pembahasan ini. Yang PERTAMA menyangkut pandangan kita tentang Roh Kudus. Sekarang ini Pribadi dan karya Roh Kudus banyak diperbincangkan orang. Bagian Alkitab kita ini hanya salah satu dari banyak bagian Alkitab lainnya tentang Roh Kudus. Tetapi izinkan saya bertanya kepada Anda, "Adakah tempat dalam doktrin Anda tentang Roh Kudus untuk bagian ini?" Yesus menyebut-Nya ‘Roh Kebenaran’. Berarti kebenaran penting bagi Roh Kudus. Ya, saya tahu bahwa Dia juga adalah Roh kekudusan, Roh kasih dan Roh kuasa, tetapi apakah Dia merupakan Roh Kebenaran untuk Anda? Menurut ayat-ayat yang sudah kita pelajari, Dia sangat mementingkan kebenaran. Dia menyelidikinya, menyatakannya, mengkomunikasikannya, dan menerangi pikiran kita agar mampu mengertinya. Sahabat, jangan sekali-kali meremehkan kebenaran! Jika Anda lakukan itu, Anda mendukai Roh Kudus kebenaran. Bagian ini seharusnya membawa dampak nyata pada pandangan kita tentang Roh Kudus.

KEDUA, kebutuhan kita akan Roh Kudus. Inginkah Anda bertumbuh dalam pengenalan Anda tentang hikmat Allah dan rencana menyeluruh-Nya menjadikan kita serupa Kristus dalam kemuliaan-Nya kelak? Tentu ingin, seperti halnya saya juga. Berarti kita butuh Roh Kudus, Roh kebenaran, untuk menerangi pikiran kita. Untuk itu kita perlu dilahirkan kembali. Kadang-kadang terpikir oleh saya, mengapa sementara teolog sekuler mengeluarkan ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan serendah nilai sampah (yang saya maksudkan, misalnya ialah penolakan mereka akan kepribadian Allah dan Keilahian Yesus) adalah karena mereka belum dilahirkan kembali. Mungkin saja seseorang menjadi teolog tanpa dilahirkan kembali. Inikah sebabnya mereka tidak memahami kebenaran-kebenaran ajaib dalam Alkitab? Alkitab dapat dipahami secara rohani. Karena itu kita perlu datang kepada Alkitab dengan rendah hati, hormat, dan penuh harap. Kita perlu mengakui bahwa kebenaran-kebenaran yang dinyatakan di dalam Alkitab masih terkunci dan termeterai sampai Roh kudus membukakannya bagi kita dan membukakan pikiran kita untuk kebenaran tersebut. Allah menyembunyikan kebenaran-Nya dari orang berhikmat dan orang pandai, dan menyatakannya kepada ‘bayi-bayi’, yaitu mereka yang dengan rendah hati dan hormat datang kepada-Nya. Jadi, sebelum kita, para pengkhotbah, membuat persiapan; sebelum warga jemaat mendengarkan, sebelum seseorang atau sekelompok orang mulai membaca Alkitab dalam masing-masing situasi ini, kita harus berdoa agar Roh Kudus memberikan penerangan-Nya: "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." (Mazmur 119:18) Maka pasti Dia akan melakukannya.

Bahan di atas dikutip dari sumber:

Judul buku : Alkitab: Buku untuk Masa Kini
Penulis : John R.W. Stott
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 1990
Hal : 30 - 49

PEMUDA DAN KRISIS ZAMAN (oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG)

Saturday, September 24th, 2005

PEMUDA DAN KRISIS ZAMAN

oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG, D.L.C.E.

Berapa banyak pemuda dan remaja yang sadar atau insyaf akan pentingnya masa ini? Menurut statistik, usia orang yang paling banyak bertobat dan kembali kepada Tuhan dapat dikategorikan dalam empat periode, dan periode yang terakhir adalah pada usia 18-19 tahun. Sesudah itu, sangat sedikit orang yang dijamah oleh kuasa Tuhan atau mempunyai hasrat untuk mencari Tuhan.

Di usia 17 tahun, seringkali seseorang masuk ke dalam situasi keraguan, skeptik dan tidak tahu mau mau kemana mengarahkan hidupnya, sehingga begitu banyak kesulitan dan pemberontakan yang timbul. Sesudah itu, pada usia 18-19 tahun, merupakan periode yang terakhir dimana anak muda akan memikirkan untuk mau kembali kepada Tuhan, sehingga ketika memasuki dunia universitas, ia akan terus mengejar kebenaran. Atau jika ia menolak, maka ia akan terjerumus ke dalam arus dunia ini. Oleh sebab itu, saya dengan serius berharap agar setiap orang bergumul dan berdoa untuk mendapatkan bijaksana surgawi untuk membentuk dan mengolah diri menjadi seorang pemuda yang bertanggung jawab kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi zamannya.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa generasi demi generasi datang dan berlalu, tetapi bumi tidak berubah (Pkh. 1:4). Satu generasi datang dan satu generasi digeser, namun bumi ini tetap tidak mengalami perubahan. Kalimat ini memberikan suatu sifat relativitas, yaitu yang dapat berlalu dan yang masih ada. Siapakah saya? Apakah saya adalah tuan rumah dari bumi ini, ataukah saya hanya sekedar seorang tamu bagi bumi ini? Apakah saya yang menguasai bumi ini, atau saya yang akan dikuasai oleh bumi ini? Apakah saya yang akan menggeser zaman ini, ataukah zaman ini yang akan menggeser saya?

Mengapa ketika kita mempelajari sejarah, kita mempelajari tokoh-tokoh yang begitu hebat, yang begitu berpengaruh, yang pikirannya tidak luntur dan selama beribu-ribu tahun tetap memberikan pengajaran dan inspirasi kepada manusia. Mereka adalah orang-orang yang tidak digeser oleh zaman, tetapi mereka yang menggeser zaman. Meskipun tubuh mereka bisa mati, jasmani mereka dikuburkan, tetapi pikiran mereka terus mempengaruhi seluruh umat.
"Aku" dalam Zaman yang Kritis.

Di dalam setiap zaman, kita harus senantiasa dapat melihat kesempatan, krisis dan segala kemungkinan potensi dari zaman itu. Tuhan, tidak melahirkan kita di zaman yang sudah lalu dan Tuhan juga tidak melahirkan kita di zaman yang akan datang. Maka "aku" yang dilahirkan di dalam zaman ini, harus dikaitkan dengan zaman ini. Mengapa saya tidak dilahirkan 50 tahun yang lalu, atau dilahirkan 100 tahun yang akan datang? Mengapa saya bisa menjadi pemuda yang dilahirkan pada zaman ini? Pasti ada maksud Tuhan di balik semua itu.

Saya berharap dapat mengundang setiap pemuda dan remaja, bahkan setiap orang, untuk memikirkan secara serius pertanyaan: "Mengapa aku ada di sini ?" Mengapa saya dilahirkan di zaman ini; apa yang seharusnya saya lakukan di zaman ini dimana dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan segala keadaan yang sedang mengelilingi saya?

Yesus Kristus menyinggung orang orang yang hidup di zaman-Nya dengan berkata, "Rupa langit kamu tahu membedakannya, tetapi tanda-tanda zaman tidak" (Mat. 16:3b). Melalui kalimat ini, Yesus ingin mengajak manusia untuk peka: mengapa ia ada dan hidup di dalam zaman itu, lalu kemudian berusaha mengerti tanda-tanda zaman di mana ia berada, apa saja krisis dan potensi yang terkandung di dalam zaman itu, dan apa tugasnya di dalam zaman itu.

Jikalau Saudara sudah mempunyai kepekaan seperti itu, saya jamin, di hari-hari berikutnya pasti Saudara tidak hidup secara sia-sia seperti pada waktu sebelum Saudara mengenal tanda zaman itu. Begitu banyak pemuda-pemudi yang dihanyutkan oleh zaman. Mereka tidak sadar. Mereka menganggap bahwa diri mereka sedang menikmati sesuatu, padahal mereka sedang memboroskan hidup, masa muda, kebebasan, kesempatan, dan potensi-potensi yang tidak mungkin terulang lagi di hari-hari yang akan datang. Setiap hari adalah hari yang sangat berharga, setiap tahun adalah tahun yang sangat berharga. Itu merupakan hari hari yang indah dan yang tidak terulang lagi. Setiap tahun adalah tahun yang tidak akan terulang lagi dan tidak akan kembali. Waktu dan hidup kita hanya dapat berjalan maju, tanpa bisa mundur kembali. Waktu-waktu dan hidup kita merupakan harta milik, properti yang paling penting di dalam hidup jasmaniah kita.

Waktu kita, merupakan properti, yang ketika kita gunakan, atau tidak gunakan, ia akan berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Maka kini, Saudara perlu sungguh-sungguh mengerti dan memanfaatkannya dengan baik. Untuk itu diperlukan kepekaan yang luar biasa. Kita berada di dalam waktu dan kita dicipta dalam kurun waktu.

Diambil dengan seijin penerbit dari buku karya Pdt. Dr. Stephen Tong, Pemuda dan Krisis Zaman, hal. 1-4. Buku ini diterbitkan oleh STEMI dan LRII, 1996.

Profil Pdt. Dr. Stephen Tong :

Pdt. Dr. Stephen Tong, D.L.C.E. dilahirkan di Fukien, RRC tahun 1940. Beliau melayani Tuhan sejak 1957, baik di dalam bidang penginjilan, theologia maupun penggembalaan. Pelayanan beliau telah menjadi berkat bagi jaman ini, dan banyak menarik perhatian pimpinan gereja di Indonesia maupun di luar negeri. Pada tahun 1971, beliau menikah dengan Alice di gereja dan ditahbiskan oleh Pdt. Philip Wongso. Khususnya kepada Theologia Reformed yang ditegaskan oleh beliau sejak tahun 1974, beliau mengadakan seminar-seminar di Surabaya. Dr. Andrew Gih, pendiri Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang menggerakkan beliau menjadi hamba Tuhan. Tahun 1982, beliau ditahbiskan menjadi pendeta. Beliau dikaruniai 4 orang anak yang bernama David, Rebecca, Elisabeth dan Eunice. Pada tahun 1984, beliau mulai mengadakan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta, untuk menegakkan doktrin Reformed dan semangat Injili (setelah mengajar theologia selama 20 tahun). Beliau dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dalam bidang Kepemimpinan Penginjilan Kristen/Honorary Doctor of Leadership in Christian Evangelism (D.L.C.E.) dari La Madrid International Academy of Leadership, Philipina oleh Bishop Castro tahun 1985. Pdt. Dr. Stephen Tong adalah anggota International Consultant of Lausanne Comitte of World Evangelization. Beliau sering diundang menjadi pembicara utama seperti dalam International Prayer Assembly di Seoul tahun 1984 dan Amsterdam 1986.

Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) juga dipimpin Tuhan untuk menjadi pendahuluan bagi berdirinya LRII (1986), dimana Pdt. Dr. Stephen Tong mengajak Pdt. Yakub B. Susabda, M.C.E., M.Th., Ph.D. dan Pdt. Prof. Caleb Tong, D.Min. untuk menjadi pendiri bersama.

Selain SPIK, Pdt. Dr. Stephen Tong juga mendirikan Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (1986), Sekolah Theologia Reformed Injili Jakarta (STRIJ) tahun 1987 dan Sekolah Theologia Reformed Injili Malang  tahun 1990. Beliau juga memperluas seminar-seminar pembinaan iman tersebut dalam kota-kota besar yang lain di Indonesia (yang diserahkan kepada LRII) dan kota-kota di luar negeri (yang diserahkan di bawah STEMI). Sejak tahun 1991 Pdt. Dr. Stephen Tong menjabat sebagai Rektor Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII) hingga sekarang.

Selain menggalakkan gerakan doktrin Reformed di Indonesia, Pdt. Dr. Stephen Tong juga menjadi pembicara pada kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab dan persekutuan Kristen di kampus-kampus di Amerika, antara lain di Massachusetts Institute of Technology, Columbia University, University of California Berkeley, Stanford University, University of Maryland, Cornell University. Beliau juga pernah menjadi dosen tamu pada seminari-seminari di luar negeri. Termasuk China Graduate School of Theology di Hongkong (1975, 1979), China Evangelical Seminary di Taiwan (1976), Trinity College di Singapore (1980), dan memberikan ceramah-ceramah termasuk Westminster Seminary, Regent College, dll di USA.

Di samping itu Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menjabat sebagai dosen theologia dan filsafat di Seminari Alkitab Asia Tenggara (1964-1988), Pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia (1989), dan Gembala Sidang GRII Pusat, Ketua Sinode GRII, Pendiri Jakarta Oratorio Society (1986), Stephen Tong Evangelistic Ministries International (1979), STEMI (Stephen Tong Evangelistic Ministries International) Institute (1996) dan Christianity and 21st Century Insitute (mulai th. 1996) di USA.

PANGGILAN HIDUP KUDUS (oleh : Pdt. Liem Kok Han, S.Th.)

Saturday, September 24th, 2005

Panggilan Hidup Kudus

Nats: 1 Ptr 1:13-16

oleh : Pdt. Liem Kok Han, S.Th.

Petrus sebagai rasul Tuhan dan gembala menulis surat tersebut untuk menasihati dan membangun orang Kristen yang tinggal di perantauan atau di tengah orang non Yahudi dan mengalami banyak kesulitan, tantangan, penderitaan serta aniaya. Di ayat 1 tercatat, “… kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.” Padahal dulu mereka tersebar karena dianiaya oleh orang Yahudi.

Di ayat 8-9 ia mengatakan, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihiNya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihatNya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” Dalam perjalanan mengikut Tuhan, iman mereka justru makin kuat dan bertumbuh. Bahkan mereka mengalami sukacita rohani dan suasana surgawi, tetap setia serta mengasihi Allah bukan secara emosional melainkan karena telah mencapai kedewasaan rohani penuh. Kalau emosi mudah pudar dan berubah tapi affection merupakan gairah yang memancar dalam hidup.       

Bukan berarti iman mereka sempurna melainkan sedang dalam proses. Tantangan yang harus mereka hadapi yaitu pengaruh dosa. Pada waktu itu mereka tinggal di tengah budaya non Kristen yang belum kenal Tuhan serta masih hidup secara amoral dan duniawi. Maka mereka ditantang sekaligus diharapkan serta dimungkinkan untuk hidup kudus di dunia sekuler/hedonis yang cemar, licik dan rusak.

+ 2 juta orang Israel berhasil keluar dari Mesir menuju ke Kanaan. Tapi yang akhirnya diijinkan oleh Allah untuk masuk ke Kanaan hanya 2 orang yaitu Caleb dan Yosua. Sedangkan yang lain mati di padang gurun. Padahal selama 40 tahun mereka mengalami berkat dan mujizat Tuhan. Tapi rohani mereka tak pernah dewasa.

Meskipun orang Kristen sungguh giat dan semangat melayani Tuhan serta punya banyak karunia antara lain pandai berkhotbah tapi kalau hidupnya tak kudus maka semua prestasi pelayanannya jadi sia-sia. Kekudusan hidup sebenarnya lebih penting daripada karunia dan prestasi. Orang yang memilikinya mungkin tak terkenal atau berprestasi tapi dipakai oleh Allah.

Di keluarga, lingkungan pekerjaan dan pergaulan, anak Tuhan seharusnya dikenal sebagai orang kudus. Kehadirannya membuat suasana jadi beda. Pikiran, emosi dan motivasi hidupnya makin dikuduskan serta menyenangkan Allah setelah sekian lama belajar Firman.

Orang percaya terus dicobai, dirongrong dan diserang oleh godaan agar terjerat lalu jatuh ke dalam dosa. Tapi setelah beriman kepada Tuhan dan darahNya menebus serta menyucikannya, ia disebut orang kudus secara status serta dipanggil untuk jadi garam dan terang dunia. Secara kondisi, ia masih berdosa. Tapi dalam pandangan Allah melalui pengorbanan Kristus, ia telah dikuduskan. Meskipun di kalangan jemaat Korintus sering terjadi perselisihan, selingkuh dll, Alkitab tetap menyebut mereka orang kudus.

Pemahaman serta kesadaran orang Kristen akan statusnya sangat mempengaruhi langkah dan sikap hidup selanjutnya. Seringkali orang punya double standard atau perspektif kurang luas hingga menganggap orang kudus yaitu pendeta, penginjil, misionari, rohaniawan dan majelis. Kalau mereka hidup secara tak benar atau tak berkenan kepada Tuhan, langsung dikritik. Padahal jemaat juga tak boleh hidup semacam itu.

Di ayat 14-15 Petrus berkata, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.”

Ada anak majelis aktif di Gereja tapi juga jadi bandar narkoba. Di Amerika, tiap hari ada 1000 gadis remaja jadi ibu tanpa menikah, 1106 gadis remaja menjalani abortus, 4219 anak remaja terjangkit penyakit kelamin, 1000 anak remaja belajar minum minuman keras, 135 ribu anak membawa pistol dan senjata tajam ke sekolah, 3610 anak remaja diserang dan diperkosa serta 6 juta orang (sebagian besar mahasiswa) membuka situs porno di internet. Di Blitar, jumlah orang yang kawin-cerai paling banyak di antara kota lain di Jatim.

Orang tua Kristen seharusnya mampu dan bersedia investasi waktu, tenaga serta uang untuk melengkapi dan mendidik anaknya sejak kecil menurut ajaran Tuhan agar tak tercemar serta selalu waspada terhadap kondisi membahayakan semacam itu. Kalau dulu orang percaya, banyak anak banyak rejeki tapi sekarang banyak anak banyak kekuatiran.   

Sejarah membuktikan, ketika ditekan, Kekristenan justru makin berkembang. Tapi orang Kristen sendiri malah menghambat pertumbuhan dan membuatnya mundur. Maka Petrus menasihati agar mereka memprioritaskan dan berupaya mengejar visi kekudusan hidup meskipun harus bayar harga. Fokus hidup tersebut harus diperjuangkan dalam tubuh Kristus. Karena Tuhan menghendakinya, Ia pasti menolong. Di Mat 5:48 tercatat standardNya mengenai kekudusan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Kudus berarti orang Kristen dipisahkan dan dikhususkan untuk hidup hanya bagi kemuliaan Allah. Maka hidup sesungguhnya bukan miliknya lagi tapi milik Kristus yang telah mati dan bangkit. Inilah progressive sanctification (proses pengudusan terus menerus seumur hidup hingga makin serupa Dia sampai tiba saat bertemu denganNya).

Di tengah angkatan yang melawan Tuhan, Alkitab mengkonfirmasikan, nabi Nuh telah hidup saleh di hadapanNya. Keluarganya termasuk minoritas tapi mampu hidup kudus oleh anugerah­Nya. Di Ayb1:1 tercatat, “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Di antara 11 saudaranya, Yusuf juga tampil beda. Ia punya integritas baik hingga membuat saudaranya marah dan menjualnya. Di keluarga Potifar, ia mampu mempertahankan kekudusan dalam pencobaan yaitu ketika digoda oleh istri Potifar. Di Kej 5:22 tercatat, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, …” Ia telah menyerahkan hak hidup kepadaNya.

Gereja sebagai mempelai Kristus harus mampu memberi kesaksian mengenai kekudusan. Dengan kata lain, memelihara kesucian hidup sampai Tuhan datang kembali. Tindakan tersebut merupakan peperangan rohani. Mereka tak hanya melawan pengaruh kebudayaan belaka tapi juga penguasa kerajaan angkasa (Ef 6:10-18) yang mencoba menghancurkan Kekristenan. Di 1 Ptr 5:8 tercatat, “… Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”

Orang Kristen hendaknya senantiasa kudus dalam segala aspek hidupnya. Seharusnya tak hanya di Gereja ia kelihatan saleh seperti malaikat dengan tutur kata teratur baik dan mukanya selalu tersenyum. Tapi di rumah ia jadi seperti setan dengan pikiran yang selalu kotor dan cara hidup/kebiasaan tak sopan.

Manusia telah mengalami total depravity dan akhirnya berada dalam keadaan total inability untuk menyelesaikan masalah dosa. Kecuali pekerjaan Roh Kudus memampukannya mengalahkan kecenderungan berbuat dosa.

Ada orang baru jadi Kristen ketika dewasa, contohnya usia 30 tahun. Sejak usia 1-30 tahun, ia punya cara pikir non Kristen serta emosi, perasaan dan habit diwarnai oleh kedagingan. Setelah jadi Kristen, ia punya rohani dan iman ‘kue lapis’. Ia mengenakan etika Kristen seperti ramah, rendah hati dsb. Tapi pola pikir serta karakter lama tetap ada di lapisan bawah dan tak terlihat. Ketika ada masalah, lapisan tersebut muncul kembali dan mempengaruhi tindakannya. Kadang sudah di bawah kesadarannya.

Pergumulan semacam ini tak hanya dialami oleh orang Kristen baru tapi juga yang lama termasuk hamba Tuhan. Di Rm 7:24 dan 26 Paulus berkata, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” Di dalam dirinya ada pertentangan.

Orang Kristen perlu memeriksa hidup dan introspeksi diri senantiasa. Jangan mau ditipu oleh pujian manusia atau prestasi hidupnya sendiri karena pandangan Tuhan lebih menentukan. Ia bisa menipu diri sendiri maupun orang lain tapi tidak dengan Allah.

Keluarga Jonathan Edwards termasuk sederhana tapi saleh. Si ayah ialah pendeta dan si ibu ialah putri pendeta. Di antara keturunan mereka, 14 orang jadi rektor universitas di Amerika, 100 lebih orang jadi dosen dan profesor, 100 lebih orang jadi hakim dan pengacara, 30 orang jadi hakim, 60 orang jadi dokter, 100 orang jadi pendeta dan utusan Injil serta hampir tiap industri di Amerika, keluarganya punya andil dalam pendirian. Hidup mereka dapat dijadikan contoh/inspirasi bagi orang di sekitar.

Kekudusan hidup tak dapat dikejar dengan usaha manusia sendiri melainkan merupakan buah relasi/persekutuan/komitmen yang benar bersama Tuhan. Di Yoh 15:5 Kristus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. …, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Di Yoh 17:17 Ia berdoa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran.” Di Mzm 119:9-11 tercatat, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman­Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, … supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”      

Orang Kristen harus dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus karena tanpa kuasa­Nya ia takkan mampu menjalankan Firman. Akibatnya, ia menghasilkan buah Roh antara lain penguasaan diri (Gal 5:22-23). Ketika pencobaan datang, ia diberi kekuatan untuk menahan diri. 

Orang Kristen juga harus hidup dalam penyangkalan diri. Di Mat 16:24 Tuhan berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Kadang terasa tak enak tapi harus disertai kerelaan.

Ketika mengikut Tuhan, Paulus juga mengalami banyak kesulitan. Kadang keinginannya beda dengan Allah. Lama kelamaan ia mempercayakan hidupnya secara total kepadaNya. Dan ia menyaksikan Kristus berkarya menguduskan hidupnya. Amin.

Sumber : www.griis.org

Profil Pdt. Liem Kok Han :

Pdt. Thomas Liem (Liem Kok Han), S.Th. dilahirkan pada tanggal 10 Januari 1961 dan memperoleh gelar Sarjana Theologia (S.Th.) nya dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang dengan skripsinya "Penginjilan di Kota". Sejak studi, beliau giat merintis pelayanan melalui penginjilan di Kota Lama, Malang dan penginjilan di penjara, serta di Sorong, Irian Jaya. Beban perintisan ini nampak dalam pelayanannya di Malang dengan merintis dan memulai LRII (1990) dan MRI (1991). Pelayanannya telah berbuah melalui STRI Malang, yang telah mendidik lebih dari 250 orang dan MRI.

Beliau menikah dengan Dra. Alicia Christiana Anggraini dan mempunyai 2 orang anak.

Saat ini beliau melayani sebagai Ketua BPW LRII Malang, dosen STRI Malang dan gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Malang.

MUSIK DENGAN PRINSIP KOMPOSISI YANG ALKITABIAH (oleh : Pdt. Billy Kristanto, Dip.Mus., M.C.S.)

Saturday, September 24th, 2005

MUSIK DENGAN PRINSIP KOMPOSISI YANG ALKITABIAH

oleh : Pdt. Billy Kristanto, Dip.Mus., M.C.S.

Lebih daripada memberikan penilaian atau tinjauan kritis negatif akan sesuatu hal (misalnya dalam hal ini musik), kita sebagai orang Kristen harus dengan lebih lagi memiliki kepekaan terhadap anugerah serta kebaikan Tuhan. Sehingga hidup kita tidak hanya terdiri atas sikap waspada dan
anti-tetik (against) terhadap apa yang tidak baik, melainkan juga bagaimana mengagumi serta mensyukuri anugerah Tuhan yang dinyatakanNya dalam berbagai kebajikan serta ciptaanNya (termasuk dalam dunia musik).

Belakangan ini banyak diselidiki tentang "Efek Mozart" yang dianggap memiliki pengaruh yang baik untuk jiwa maupun tubuh. Beberapa orang Kristen mungkin segera akan menaruh perasaan curiga apakah yang dikembangkan di sini sebenarnya merupakan spirit New Age yang ditata sedemikian rupa sehingga terselubung penyajiannya. Kemungkinan ini memang ada, latihan-latihan yang diusulkan untuk mendengar musik tertentu kadang disertai dengan latihan-latihan meditasi transendental yang memang merupakan kesukaan para
pengikut New Age (meditasi transendental adalah satu perenungan yang banyak menggunakan visualisasi, dan membayangkan serta percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi dan dialami oleh diri kita).

Namun terlepas dari kekuatiran yang wajar ini, sebenarnya musik Mozart memang memiliki pengaruh, bahkan kepada bayi yang masih berada dalam kandungan, dan penjelasannya dapat kita pertanggung-jawabkan, terlepas dari orang-orang New Age yang hendak menunggangi musiktherapie ini dengan agenda
mereka. Musik therapi sebaliknya memang sudah dikenal sejak zaman kuno, bahkan Alkitab pun mencatat adanya Musik therapie (yaitu ketika Daud bermain kecapi untuk menghibur Saul yang diganggu oleh roh jahat), jadi kita tidak dapat dengan begitu gampangnya memberikan label New Age kepada setiap bentuk Musiktherapie, karena itu adalah pendapat yang dangkal dan generalisasi.

Mengapa saya perlu untuk menyatakan hal ini terlebih dahulu? Karena memang merupakan sebuah kenyataan bahwa Musiktherapie ini banyak digunakan oleh pengikut New Age, dan bukan hanya dengan menggunakan musik-musik mereka
sendiri, melainkan juga musik-musik yang lain (termasuk musik Klassik).

Tatanan komposisi yang terdapat dalam karya Mozart memiliki kecemerlangan struktur yang luar biasa sehingga siapa pun yang mendengarnya akan mendapatkan satu pengaruh yang lahir dari keteraturan struktur musik yang
ada dalam komposisi tersebut. Bahkan beberapa kali diadakan percobaan tes kecerdasan di mana para peserta diuji tanpa mendengarkan musik dan dengan mendengarkan musik Mozart sebelum tes dilakukan, menunjukkan kenaikan angka sampai dengan 9 point. Ini berarti musik Mozart memiliki pengaruh yang positiv kepada para pendengarnya.

Bagaimana struktur yang terdapat dalam musiknya, dan mengapa struktur yang sedemikian bisa menolong seseorang untuk menata pikiran dan jiwanya dalam
keteraturan dan keseimbangan? Jawabnya adalah struktur dalam karya itulah yang memberikan rangsangan kepada otak kita (melalui getaran-getaran yang kompleks yang diterima oleh telinga maupun organ tubuh yang lain).

Sebagai contoh sebuah karya Mozart yang terkenal "Eine kleine Nachtmusik" pada gerakan yang pertama (first movement) dibuka dengan sebuah thema yang merupakan satu tanya jawab yang simetris (bagi mereka yang tidak mengenal
karya ini dapat mencarinya dengan mudah melalui internet atau toko CD).

Solmisasinya adalah sebagai berikut:

1 0 5 1 0 5 1 5 1 3 5 . |  4 0 2 4 0 2 4 2 7 2 5 .

Dalam dua bar ini kita mendapati 2 frase yang simetris serta balance. Dua frase ini sekaligus merupakan tanya jawab yang berkait satu sama lain. Perhatikan bahwa harmoni yang digunakan di sini sangat sederhana modalnya, yaitu harmoni I (1 3 5) dan harmoni V7 (5 7 2 4). Frase pertama melodi bergerak ke atas, frase kedua melodi bergerak ke bawah (bentuk simetri yang sempurna). Sementara ritmenya, frase yang kedua merupakan echo dari frase yang pertama karena thema introduksi ini memang menggunakan ritme yang sama, baru setelah itu ritme mengalami perubahan pada bar berikutnya.

Struktur musik yang seperti ini sangat membantu kita untuk memfokuskan pikiran kita dari kekacauan kehidupan yang keras ini. Sedangkan kita tahu bahwa Alkitab sendiri berbicara tentang penciptaan sebagai pengaturan dari kekacauan (chaos) menuju kepada keteraturan. Maka musik Mozart mengekspresikan prinsip teologis ini dalam musiknya. Inilah yang kita sebut sebagai tekhnik komposisi yang biblical. Thomas Aquinas, seorang teolog abad pertengahan, pernah membahas tentang prinsip estetika yang baginya haruslah mencakup tiga hal yaitu proportio, integritas dan claritas.

Sesuatu yang indah dan baik adalah sesuatu yang memiliki proporsi yang benar. Integritas menekankan keutuhan sebuah karya seni (sebagai lawan kata fragmented atau terpecah-belah). Claritas adalah kejernihan atau kecemerlangan sebuah karya seni, di mana ada satu akses yang jelas bagi mereka yang mengapresiasinya, claritas adalah kejelasan, bukan pengaburan.
Ketiga prinsip ini sebenarnya diambil dari prinsip firman Tuhan sendiri.

Baik proporsi, integritas maupun claritas, ketiganya sudah dibicarakan oleh firman Tuhan.

Paulus berkali-kali menekankan tentang prinsip keseimbangan (baik keseimbangan suami istri, keseimbangan kelebihan seseorang mencukupkan kekurangan yang lain). Tuhan menciptakan seluruh alam semesta dengan proporsi serta keseimbangan yang sempurna, contoh yang paling indah adalah
tubuh manusia. Akan tidak cukup untuk membahas keindahan setiap organ tubuh serta fungsinya yang menakjubkan pada tulisan ini. Jarak planet-planet sudah diatur sedemikian rupa sehingga gaya gravitasi tidak menyebabkan
benturan dalam peredaran planet dan jarak bumi terhadap matahari yang just on the right place (tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin). Sekali lagi proportion and balance adalah prinsip yang sebenarnya tercermin pada banyak bagian Alkitab.

Sementara tentang integritas atau keutuhan juga dapat kita jumpai pada diri manusia, yang memiliki faculties seperti reason/mind, affection and will. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang utuh, memiliki tubuh dan
jiwa/roh. Ketika kita membaca Kejadian 1 tentang penciptaan alam semesta, di situ kita juga dapat menyaksikan prinsip integritas ini, di mana keanekaragaman ciptaan itu membentuk satu kesatuan yang indah, seperti sebuah orchestra yang terus-menerus memuji dan memuliakan Tuhan. Justru masuknya dosa membuat dunia ciptaan menjadi fragmented, tidak ada kesatuan yang utuh sebagaimana pada mulanya. Integritas atau keutuhan (complete) adalah apa yang saat ini sedang dikerjakan Tuhan dalam proses redemption.

Klaritas kita dapatkan berdasarkan konsep bahwa Tuhan kita adalah Allah yang hendak menyatakan diriNya. Wahyu adalah self-disclosure, satu penyingkapan dari sesuatu yang tidak jelas atau kabur menjadi sesuatu yang jernih dan cemerlang. Kecemerlangan adalah salah satu gambaran yang diberikan tentang Surga. Sebaliknya dosa menyebabkan kekaburan dan
ketidak-jelasan. Maka clarity adalah satu prinsip yang Alkitabiah.

Musik Mozart memiliki ketiga prinsip tersebut, karena proporsinya sangat baik (ditinjau dari struktur yang simetris serta balance dalam musiknya), integritas didapatkan dari form atau bentuk keseluruhan yang menjadi satu kesatuan utuh dalam musiknya, sementara claritas didapatkan karena musik Mozart memiliki transparensi yang tinggi, dapat diterima dan didengar secara gamblang. Ada buku yang menulis tentang musik Mozart di mana : The experts would appreciate all the subtleties, while the amateurs would be pleased "without knowing why". Ini membuktikan bahwa musik Mozart memiliki accessibility yang tinggi karena clarity yang ada di dalamnya.

Akhir kata, seorang teolog besar yang bernama Karl Barth pernah menulis tentang Mozart di mana dia menggambarkan Mozart sebagai seorang yang memancarkan kemuliaan Allah dengan bebas melalui musiknya, demikian bebasnya hingga terbebas dari kecenderungan untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Mozart adalah alat anugerah di tangan Tuhan.

God bless us.

NB : harap saudara/i tidak salah mengerti, saya bukan missionari musik Klassik, karena sebagaimana sudah pernah saya katakan dalam musik Klassik pun ada karya-karya yang digubah dengan berdasarkan prinsip yang melawan firman Tuhan, sehingga kita tetap harus jujur dan berani untuk berkata tidak terdapat musik2 semacam itu. Panggilan kita adalah menyatakan apa yang baik, yang berkenan di hadapan Allah, agar hidup kita menjadi satu kehidupan yang senantiasa melimpah dengan ucapan syukur karena anugerahNya yang begitu besar.

Profil Pdt. Billy Kristanto :

Pdt. Billy Kristanto, Dip.Mus., M.C.S. lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan study musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).

Setelah lulus dari situ melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory) di Den Haag, a conservatory with the largest early music department in the world (mempelajari historical performance practice). Belajar di bawah Ton Koopman, seorang dirigen, organis, cembalis dan musicolog yang sangat ahli dalam interpretasi karya J.S. Bach. Selain itu juga mempelajari fortepiano di bawah Prof. Stanley Hoogland.

Setelah lulus dari situ pada tahun 1998 pulang ke Indonesia, lalu melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia/GRII di Jakarta (Februari 1999). Pada tahun yang sama memulai study Teologi di Institut Reformed di Jakarta. Lulus pada tahun 2002 dengan Master of Christian Studies. Sejak tahun 2002 sampai sekarang menjabat sebagai Dekan School of Music di Institut Reformed Jakarta serta menggembalakan jemaat GRII di Singapura. Pada tahun 2005, Ev. Billy Kristanto ditahbiskan menjadi pendeta (Pdt.) oleh sinode Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII).