Archive for October, 2005

DOA YABES, DIABAIKAN ATAU DIEKSPLOITASIKAN ? (oleh : Pdt. Drs. Yonky Karman, M.Th., Ph.D.)

Monday, October 24th, 2005

DOA YABES, DIABAIKAN ATAU DIEKSPLOITASIKAN ?

oleh : Pdt. Drs. Yonky Karman, M.Th., Ph.D.

Akhir-akhir ini doa Yabes dipopulerkan lewat Bruce H. Wilkinson dan pelayanannya. Bukunya Doa Yabes: Menerobos ke Hidup Penuh Berkat amat laris, demikian juga macam-macam aplikasi dari buku itu seperti doa Yabes untuk remaja, untuk pemuda, untuk bahan renungan setiap hari dalam sebulan. Padahal, kisah tentang Yabes di seluruh Alkitab hanya tercatat dalam dua ayat. Selain itu, banyak tokoh lain dalam Alkitab yang doanya dikabulkan. Namun belakangan ini tokoh Yabes diekpos besar-besaran. Di samping itu, banyak juga orang menganggap doa Yabes terlalu dibesar-besarkan. Ron Gleason bahkan tidak merekomendasikan orang lain untuk membaca buku Wilkinson itu. Daripada kita masuk ke dalam pro-kontra yang membingungkan tentang doa Yabes, baiklah kita mempelajari teks Alkitabnya.

1 Taw. 4:9-10
9Yabes lebih dihormati daripada saudara-saudaranya,
Ibunya memanggil namanya Yabes,
“Karena aku melahirkan dengan kesakitan.”
10Namun Yabes berseru kepada Allah Israel,
“Semoga engkau memberkati aku¾berkatilah¾,
memperluas daerahku,
tangan-Mu menyertaiku,
dan menyingkirkan kemalangan supaya aku tidak sakit.”
Allah mengabulkan permintaannya.

A.  Analisa Struktural, Retorik, dan Bentuk
Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang tokoh Alkitab yang bernama Yabes. Ada yang mengaitkan Yabes dengan nama tempat berdiamnya kaum ahli kitab (1 Taw. 2:55; Curtis and Madsen 107). Namun keterkaitan itu diragukan (Williamson 59). Yang jelas Yabes termasuk suku Yehuda, suku Raja Daud. Dan salah satu fokus Kitab Tawarikh adalah dinasti Daud dan silsilahnya. Konteks 1 Taw. 4:2-23 adalah silsilah Yehuda dari cabang lain (begitu subjudul yang diberikan penerjemah LAI) dan Yabes termasuk di dalamnya.
Struktur kalimat 1 Taw. 4:9-10 dapat diuraikan sebagai berikut.
Eksposisi (ay 9a)
Ucapan langsung dari ibu Yabes (ay 9b)
Ucapan langsung dari Yabes sendiri (ay 10a)
Kesimpulan (ay 10b)
Dalam eksposisi, dijelaskan Yabes istimewa dibandingkan saudara-saudaranya. Ihwal Yabes menjadi istimewa itu dijelaskan dalam kesimpulan, karena Tuhan mengabulkan doanya. Dalam bahasa Ibrani, panjang bagian eksposisi dan kesimpulan adalah sama, masing-masing terdiri atas empat kata yang dimulai dengan imperfek-konsekutif.
Bagian eksposisi dan kesimpulan membungkus bagian yang penting dari perikop itu, yakni ucapan langsung dari ibu Yabes maupun Yabes sendiri (ay 9b-10a). Kedua ucapan langsung juga memiliki kesejajaran. Keduanya mengandung kata le’mor (“katanya”) dan masing-masing mengandung kata kerja qara’ (har. “memanggil”). Kata kerja itu dipakai ketika sang ibu menamakan anaknya Yabes dan ketika Yabes berseru kepada Allah.
Kembali kepada kesejajaran bagian eksposisi dan kesimpulan. Yabes lebih menonjol dan dihormati daripada saudara-saudaranya disebabkan Tuhan mengabulkan doanya. Itu berarti sebelum itu, Yabes telah berdoa (ay 10a). Doa Yabes, doa yang dijawab Tuhan, membuat nasib hidupnya lebih baik daripada saudara-saudaranya. Secara retorik, isi doa Yabes mempunyai irama sajak yang diakhiri bunyi -i. Begitulah keistimewaan doa Yabes. Doa sendiri mendapat tekanan khusus dalam Kitab Tawarikh dan penulis Tawarikh meyakini betul khasiat doa (Brown 58; Williamson 59f.). Dalam kerangka itu, doa Yabes merupakan salah satu contoh doa yang dijawab Tuhan.

B.  Etiologi Yabes
Terdapat permainan kata yang amat jelas dalam bahasa Ibrani. Ketika lahir, anak itu diberi nama Yabes (#Be[.y:) sebab sang ibu melahirkan dengan kesakitan (‘oseb). Selanjutnya, Yabes mohon supaya dijauhkan dari sakit (akar kata kerja ‘sb). Jadi, nama Yabes pertama-tama untuk mengenang pengalaman sakit sang ibu ketika melahirkan anak itu. Yabes berarti “Ia (Yahweh) membuat sakit.” Mungkin proses persalinan yang dialaminya terlalu lama dan sang ibu mengalami kesakitan yang lama. Tetapi selain sang ibu, Yabes sendiri lahir menderita sakit atau setidaknya di bawah kondisi normal. Tidak dijelaskan bagaimana persisnya kondisi Yabes. Akibat proses persalinan terlalu lama, bayi di dalam perut bisa kekurangan oksigen. Akibatnya, ketika lahir badan bayi biru, tangan dan kakinya terkulai lemah, bayi tidak menangis menjerit-jerit sebagaimana normalnya, nafasnya satu-satu, denyut jantungnya lemah di bawah 100. Pokoknya, profil anak itu ketika lahir tidak menjanjikan masa depan yang cerah.
Pemberian sebuah nama yang ada asal-usulnya disebut etiologi dan biasanya dihubungkan dengan peristiwa yang memunculkan nama itu. Dalam Alkitab, hubungan antara nama dan peristiwa itu terlihat dalam bentuk akar kata yang sama. Nama tempat Bersyeba dikarenakan di tempat itu orang “telah bersumpah” (Kej. 21:31 < [syaba‘]). Betel disebut demikian karena tempat itu ternyata adalah “rumah Allah” (Kej. 28:17-19 < beyt-’el). Kitab I Tawarikh sendiri mengenal banyak etiologi. Nama Peleg dijelaskan sebab pada zamannya penduduk bumi terbagi (1:19 < [palag] “terbagi”). Nama Ahar (sebaiknya “Akar”; bdk. BIS “Akhan”) dijelaskan sebab ia yang mencelakakan orang Israel (2:7 < [‘akar] “mencelakakan”). Nama Yair dijelaskan sebab ia mempunyai 23 perkampungan (2:22 < ‘ir “perkampungan”). Nama Ge Harashim (NIV; TB “Lembah Tukang-Tukang”) dijelaskan sebab penduduknya terkenal berprofesi sebagai tukang (4:14 < harasim “tukang-tukang”). Nama Beria dijelaskan sebab malapetaka telah menimpa keluarga Efraim (7:23 < bera‘ah “malapetaka”).
Nama Yabes juga sebuah etiologi namun ada keistimewaannya. Penjelasannya tidak bersifat asal-usul namun akar kata yang dimaksud tidak persis sama. Secara etimologis, Yabes seharusnya berasal dari akar kata ‘sb (“sakit”). Dua kali akar kata itu muncul (ay 9, 10) dan pada ay 9 jelas dimaksudkan sebagai akar kata nama Yabes. Secara etimologis, terdapat kesalahan disengaja dengan mengasalkan Yabes dari akar kata ‘bs dan bukan ‘sb (Japhet 109). Antara ‘bs dan ‘sb perbedaannya adalah huruf kedua dan ketiga bertukar tempat. Pertukaran huruf seperti itu disebut metatesis. Sang ibu rupanya menghindar mengasalkan nama Yabes dari akar kata ‘sb (“kesakitan”)? Adakah maksud terselubung di balik penukaran huruf itu?
Penukaran huruf dalam kasus Yabes mungkin memperlihatkan kesadaran orang kuno akan kekuatan sebuah nama. Dalam tradisi Timur, nama tidak sekadar nama tetapi memiliki makna simbolik. Nama berkaitan dengan hidup sang penyandang nama, bahkan diyakini membentuk nasib orangnya. Lalu apa maksud pemberian nama Yabes yang seharusnya Yaseb? Rupanya sang ibu mengharapkan dengan penukaran huruf itu utusan dewa yang mendatangkan sakit tidak akan mengenali korbannya lagi sehingga loloslah anaknya dari sakit. Dalam bahasa kita, kira-kira daripada memberi nama “Malang,” namanya adalah “Lamang” dan anak itu tidak jadi malang.
Pemberian nama Yabes setidaknya memperlihatkan keyakinan sang ibu bahwa sakit yang dialaminya dan efeknya pada sang anak merupakan peristiwa yang tidak lepas dari tangan Tuhan. Menyadari kondisinya yang tidak normal seperti orang lain, Yabes ketika sudah dewasa berdoa memohon supaya nasibnya tidak malang dan tidak sakit-sakitan, sebuah harapan yang mungkin juga tersirat ketika ibunya memberikan nama Yabes kepadanya.

C.  Isi Doa
Berikut adalah lebih jauh lagi dengan isi doa Yabes. Yabes memohon Tuhan memberkatinya. Dalam bahasa Ibrani ’im-barek tebarakeni, adalah gabungan bentuk imperatif dan imperfek dari akar kata yang sama. Biasanya ’im berarti “jika.” Menurut Gesenius, diikuti imperfek arti ’im-tebarakeni adalah menyatakan keinginan (GKC §151e). Bentuk yang sama ditemui dalam Ams. 24:11 (“selamatkan”; BIS Mzm. 139:19 “Kiranya orang jahat Kautumpas”). Maka ’im-barek tebarakeni boleh diterjemahkan “berkati aku, berkatilah!”
Pengulangan akar kata kerja yang sama namun dalam bentuk imperatif dimaksudkan untuk menegaskan permintaan (Brown 56, cat. 10a, “may you indeed bless me”; bdk. BIS “Ya Allah, berkatilah aku”; NJPSV “Oh, bless me!”). Terjemahan TB (“Kiranya Engkau memberkati berlimpah-limpah”) memberikan tekanan pada berkat yang berlimpah-limpah dan urgensi dari permohonan untuk diberkati menjadi luput. Dengan berdoa ’im-barek tebarakeni, seolah-olah Yabes berkata, “Tuhan berkatilah aku, lakukanlah sekarang!” Terselip nada urgensi. Seakan-akan tanpa Tuhan memberkati, Yabes tidak tahu lagi harus mengandalkan siapa. Doa Yabes tidak basa-basi. Doa basa-basi adalah di mulut mengatakan “Tuhan berkatilah aku,” namun doa itu tidak disertai hati yang sungguh-sungguh berharap. Bila diberkati, baik. Bila tidak, juga tidak apa-apa. Sejujurnya orang yang berdoa cuma basa-basi tidak merasa hidupnya bergantung pada berkat Tuhan. Ia masih bisa berharap pada sumber-sumber lain yang kelihatan seperti kekayaan, kepintaran, posisi tinggi, kenalan orang penting, dan seterusnya.
Tetapi Yabes tidak bisa demikian. Tampaknya ia tidak punya pilihan lain. Diberkati Tuhan atau nasibnya akan tetap sakit seperti diisyaratkan dari nama pemberian ibunya. Tidak ada jalan lain selain mengandalkan Tuhan. Ia minta Tuhan

memberkatinya. Ia berdoa untuk dirinya sendiri. Itu bukan ungkapan egoisme, tetapi ungkapan iman yang mengandalkan Tuhan. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:7-8).
Kemudian Yabes merinci isi doanya: daerahnya diperluas, tangan Tuhan menyertainya, ia dijauhkan dari kemalangan dan sakit-sakitan.” Ia minta diberkati dalam tiga hal: perluasan daerah, kuasa Allah, dan jauh dari sakit.
Pertama, Yabes minta daerahnya diperluas. Sebagai anggota kaum Israel, ia maupun kaumnya tentu sudah mempunyai batas-batas wilayah sendiri. Namun, ia berdoa untuk wilayah yang lebih luas lagi. Dalam konteks Perjanjian Lama, perluasan wilayah tidak identik dengan penjajahan, melainkan supaya bangsa-bangsa lain mengenal Allah Israel. “Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu” (Mzm. 2:8). Ketika Yosua sudah lanjut usia, Allah berfirman kepadanya, “Engkau telah tua dan lanjut umur, dan dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki” (Yos. 13:2). Lalu Tuhan menyebutkan beberapa daerah dari Filistin, Sidon sampai daerah orang Amori.
Kedua, Yabes minta penyertaan kuasa Allah yang dalam hal ini dilambangkan dengan tangan Tuhan. Permintaan ini terkait dengan permintaan pertama, sebab perluasan wilayah tidak akan berhasil tanpa Allah yang berjalan di depan membuka jalan untuk itu. “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita” (Mzm. 60:14). “Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami” (Yes. 26:12). Yabes menyadari keharusan bersandar pada kuasa Tuhan untuk perluasan daerahnya.
Akhirnya, isi doa yang ketiga adalah Yabes minta supaya tidak sakit sebagaimana dari namanya sebenarnya ia akrab dengan sakit. Tentu yang dimaksud bukan ia ingin menjadi manusia super yang tubuhnya kebal tidak bisa sakit. Yang dimintanya adalah tidak menderita karena sakit. Sakit dan menderita karena sakit adalah dua hal berbeda. Dalam hal ini, mungkin dapat dibandingkan dengan keinginan sebagian orang untuk tidak hidup lebih dari usia enam puluh tahun karena ia tidak mau tuanya sakit-sakitan. Atau, ada yang berharap lebih baik cepat mati saja daripada sakit-sakitan. Ada juga penderita kanker yang mau mati saja daripada menahan rasa sakit yang begitu hebat. Dalam hal Yabes, tidak jelas macam sakit apa yang mau dihindarinya. Sehubungan dengan permintaannya untuk wilayah yang lebih luas, hal itu baru dapat terjadi bila ia tidak mengalami kemalangan dan sakit macam-macam.
D.  Relevansi Doa Yabes
Begitulah Yabes memohon hidupnya diberkati dan itu menjadi kenyataan. Di telinga orang Israel, sungguh aneh orang bernama Yabes yang mestinya akrab dengan sakit-sakitan namun akhirnya menjadi lebih terhormat melebihi saudara-saudaranya. Kenyataan hidupnya paradoks dengan arti namanya. Dan, kunci sukses Yabes adalah karena ia mempunyai doa yang berani dan Tuhan mengabulkan doanya. Hidup Yabes berubah karena Tuhan mengabulkan doanya. Kendati penerapan doa Yabes tidak sama persis untuk masa kini yang konteksnya berbeda, secara prinsip doa Yabes tetap relevan.

1.  Prinsip Doa
Ada dua prinsip yang melandasi doanya. Pertama, ia mendoakan diri sendiri. Tindakan itu tidak egois bila ada keperluannya seperti Yabes. Janji pertama Allah kepada Abraham adalah memberkatinya, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej. 12:2). Maka, minta diberkati agar hidup dapat menjadi berkat sama sekali tidak salah. Sebelum menjadi berkat, kita harus diberkati dulu.
Kedua, kesederhanaan doa Yabes (minta diberkati) tidak berarti doa adalah perkara yang sederhana. Doa tidak pernah sederhana karena Allah, kepada siapa Yabes berdoa, adalah “Allah Israel.” Dalam Perjanjian Lama sebutan untuk Allah (’elohim) jarang berdiri sendiri, karena kata Ibrani yang sama bisa dipakai juga untuk menyebut allah-allah dari bangsa lain. Maka, sering ada embel-embel lain untuk kata “Allah,” misalnya Allah disebut Allah yang cemburuan, Allah Betel, Allah Yang Mahatinggi. Dalam doanya, Yabes menyapa dengan sebutan “Allah Israel,” sekaligus menggambarkan pengenalannya akan Allah nenek moyangnya, Allah yang dapat melakukan intervensi dalam sejarah hidup umat-Nya, Allah yang hidup dan berkuasa.
Ketika kita berdoa, pengenalan akan Allah adalah penting. Pengenalan itu seharusnya melandasi keyakinan kita dalam berdoa. Doa mesti disertai iman. Dengan iman, kita mengklaim janji Tuhan. Dengan iman, kita percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doa. Dengan iman, kita bersabar menunggu datangnya jawaban doa. Tuhan sering terhalang untuk mengubah hidup kita, karena kita terpaku pada apa yang ada dan mengabaikan potensi untuk perubahan dalam hidup kita. “Saya dilahirkan dari keluarga yang berantakan, maka sudah nasib kehidupan saya sekarang kacau.” “Saya dulu gagal, itu sebabnya sekarang saya gagal lagi.” Kita lupa bahwa di samping masa lalu ikut mempengaruhi masa sekarang kita, masa depan kita dapat berubah tidak seperti sekarang. Dengan kata lain, manusia sebenarnya tidak terbelenggu pada masa lalu. Tuhan dapat memutuskan belenggu-belenggu masa lalu dan untuk itu tidak ada yang mustahil bagi Allah. Maka yang lebih menentukan bukan masa lalu kita, tetapi apakah Tuhan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik.
Dalam dunia manajemen berlaku prinsip to make the impossible possible (membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin). Manajemen berupaya untuk menghapus kata “tidak” dari kata “mungkin.” Untuk Allah Yang Maha Kuasa, jauh lebih mudah lagi untuk menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Karena itu, kita mesti optimis mengharapkan dari Allah perubahan yang lebih baik dalam hidup kita. Allah jauh lebih besar daripada para manajer. Allah adalah manajer dari alam semesta. Ia meninggikan mereka yang rendah, juga merendahkan mereka yang tinggi.
Tidak salah bila dikatakan bahwa Yabes memiliki ambisi yang secara fisiknya saat itu sebenarnya mustahil. Hanya karena intervensi Tuhan dalam kehidupannya, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itulah sebuah contoh ambisi yang dikuduskan (Sanders 115-23; Karman). Kata “ambisi” sering mendapat label jelek sebagai sesuatu yang tidak rohani. Dalam salah satu karya Shakespeare, Kardinal Wolsey berkata kepada Cromwell, “Cromwell, kuperintahkan untuk mencampakkan jauh-jauh ambisi; oleh dosa itu para malaikat jatuh.” Tetapi William Carey, bapak misi modern, berkata, “Harapkan perkara-perkara yang besar dari Allah dan lakukan perkara-perkara yang besar bagi Allah.” Sepanjang sebuah ambisi tidak bercita-cita untuk membangun kerajaan dan popularitas diri, tetapi untuk kemuliaan Tuhan, maka Tuhan mempunyai alasan untuk memberkati ambisi itu.

2.  Isi Doa
Yabes memohon supaya wilayahnya diperluas. Dalam konteks gereja, doa Yabes itu dapat dihubungkan dengan pesan Tuhan Yesus untuk memperluas kerajaan-Nya. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15). Rasul Paulus belum puas sebelum membawa Injil ke Roma (Rm. 1:10; 15:32), bahkan kalau bisa sampai ke Spanyol (Rm. 15:28), yakni ujung dunianya orang zaman itu. Utusan Injil kepada suku-suku Indian di Amerika, David Brainerd, berkata, “Saya tak peduli di mana atau bagaimana saya hidup, atau kesukaran apa yang saya tanggung, yang penting saya dapat memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Ketika saya tidur, saya memimpikan hal itu dan ketika saya terjaga, hal pertama yang saya pikirkan adalah memenangkan jiwa bagi Kristus.” Pengkhutbah besar kebangunan rohani George Whitefield juga mengatakan hal senada, “Jika Allah tidak memberikan saya jiwa-jiwa, saya percaya bahwa saya pasti mati.”
Kerinduan supaya orang lain mengenal Tuhan Yesus tidak sama dengan Kristenisasi. Kristenisasi adalah usaha untuk mengkristenkan orang lain. Golnya adalah asal jumlah yang dibaptis banyak. Untuk itu, ditempuh berbagai macam cara dari paksaan seperti pada zaman kolonialisme Barat di Indonesia sampai kepada membujuk orang menjadi Kristen dengan iming-iming materi. Alkitab tidak pernah membenarkan Kristenisasi, tetapi yang dibenarkan adalah memberikan kesaksian tentang Tuhan yang hidup. Memberikan kesaksian adalah ungkapan hidup yang wajar dari seorang Kristen yang sudah mengalami anugrah Tuhan, anugrah yang begitu mahal dan istimewa.
Pada suatu kali Rasul Petrus dan Yohanes ditangkap penguasa majelis agama Yahudi karena pemberitaan mereka tentang Yesus Kristus. Ketika sidang digelar untuk mengadili kesalahan mereka, majelis agama tidak dapat berbuat apa-apa karena kedua rasul itu memaparkan bukti-bukti yang tidak dapat dibantah. Orang sakit yang sudah disembuhkan hadir di sana sebagai kesaksian hidup bahwa Yesus yang diberitakan benar-benar hidup dan berkuasa. Akhirnya, majelis agama melarang Petrus dan Yohanes untuk berbicara atau mengajar dalam nama Yesus. Apa jawab kedua rasul itu? “Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis. 4:20). Meski di bawah ancaman serius, mereka tetap bersaksi tentang Yesus yang sudah mati dan bangkit.
Tanpa kesaksian murid-murid Kristus seperti tercatat dalam Kitab Kisah Para Rasul, gereja tidak akan ada seperti sekarang. Kita sendiri mungkin masih menjadi penganut agama leluhur. Tetapi berkat kesaksian dan keberanian mereka, yang tidak segan-segan mati dalam kesaksiannya sebagai orang Kristen, gereja lahir dan berkembang. Di atas benih darah kaum martir itu gereja bertumbuh, kita disatukan dalam Tubuh Kristus.
Dalam pemberitaan Injil, dibutuhkan kuasa Tuhan. Ketika Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi menjadikan segala bangsa murid-Nya, Ia menjamin mereka dengan kuasa yang diperlukan. “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepada-Mu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:18-20). Tanpa dilengkapi dengan kuasa Tuhan, niscaya kita akan gagal melakukan mission impossible itu. Kuasa Tuhan dibutuhkan bukan untuk pamer tetapi demi efektivitas pelayanan dan hidup yang berbuah lebat bagi Tuhan.
Bencana, sakit, atau halangan dapat membuat kesaksian dan pelayanan kita tidak efektif. Di tengah-tengah berita kecelakaan setiap hari, bukankah suatu mukjizat Tuhan untuk menjauhkan kita dari semua itu. Keadaan baik kita dimaksudkan untuk bisa melayani dan bersaksi bagi Kristus yang hidup. Tidak salah meminta hidup sehat, namun mau apa dengan kesehatan kita? Bila untuk memuliakan Tuhan, untuk melayani orang lain, itu baik sekali.

E.  Evaluasi “Doa Yabes”-nya Wilkinson
Kini tiba saatnya kita mengevaluasi buku Wilkinson. Pikiran pokok Wilkinson lebih dijabarkan dalam buku-buku pendampingnya. Inti dari semua yang ditekankannya terangkum dalam prakata buku utamanya, “Saya ingin mengajar Anda bagaimana caranya memanjatkan sebuah doa yang berani yang Tuhan selalu jawab” (2000:3). Wilkinson menawarkan “resep” berdoa yang mujarab. Ia percaya betul kuasa doa, “Dengan doa yang sederhana dan penuh percaya, Anda dapat mengubah masa depan Anda. Anda dapat mengubah apa yang terjadi satu menit dari sekarang” (2000:33).
Tidak mudah sebenarnya menjabarkan pokok-pokok pemikiran Wilkinson karena ia menulis semua bukunya dalam bentuk populer untuk awam. Wilkinson juga sulit mengkritik sebab yang bersangkutan telah menjalani prinsip doa Yabes dalam kehidupan pelayanannya dan pelayanannya sungguh diberkati. Kendati demikian, di balik keyakinan Wilkinson akan kuasa doa atau doa yang mujarab dapat juga kita tarik benang merah yang melandasi pemahamannya atas doa Yabes.

1.  Pokok Pikiran Wilkinson
Pertama, Wilkinson menekankan sifat Tuhan sebagai Tuhan yang memberkati. Dalam salah satu ilustrasinya, ia berkata, “Seperti seorang ayah merasa dihormati memiliki anak yang meminta berkatnya, demikian pulalah Bapa Anda senang merespons dengan murah hati saat berkat-Nyalah yang paling Anda dambakan” (2000:30). Allah dalam pemahaman Wilkinson adalah Allah yang penyayang, baik, murah hati, inginnya memberkati anak-anak-Nya, royal dan cepat memberkati.
Kedua, dalam pemahaman Wilkinson Allah sebenarnya menyediakan banyak berkat untuk setiap anak-Nya namun itu hanya sebagian kecil saja dinikmati. Kehidupan Kristen yang normal adalah bila semua berkat yang disediakan itu dinikmati. Wilkinson melihat berkat rohani “di dalam surga” (Ef. 1:3) otomatis sudah dinikmati ketika kita diselamatkan, di antaranya adalah dosa diampuni, memperoleh status sebagai anak Allah, menerima Roh Kudus, menerima hidup kekal. Namun itu baru separuh berkat rohani yang dimaksudkan. Separuh berkat rohani lagi dialami di bumi dan hampir semuanya itu merupakan “berkat-berkat potensial” (2002:22). Menurut Wilkinson, kita tidak boleh terlalu cepat puas dengan keadaan kita karena keberadaan kita belum optimal sesuai rencana dan kehendak Tuhan. Berdoa seperti Yabes adalah menginginkan “bagi diri kita sendiri tidak lebih dan tidak kurang dari apa yang Tuhan inginkan bagi kita” (2000:26) atau “berdoa meminta apa tepatnya yang Tuhan inginkan” (2000:27).
Ketiga, hidup yang penuh berkat tidak sama dengan kaya raya secara materi. Dengan tegas Wilkinson (2000:25f.) berkata bahwa “tidak ada kesamaan sama sekali dengan Injil populer bahwa Anda harus meminta kepada Tuhan sebuah Cadillac, pendapatan dengan enam angka, atau … keuntungan sebanyak-banyaknya.” Sukses kesaksian-kesaksiannya berkisar pada pelayanan, pemberitaan Injil, dan ihwal menjadi berkat bagi mereka yang memerlukan Tuhan. Mukjizat yang dimaksudnya juga bukan dibatasi seperti dalam Kesembuhan Ilahi tetapi mukjizat dalam penginjilan. Pokoknya, Wilkinson mengharapkan orang Kristen tidak puas menjadi orang Kristen biasa-biasa saja. Mukjizat, tidak harus yang spektakuler, harus dialami sehari-hari sebagai bagian hidup yang memang diperuntukkan Tuhan bagi kita. Maka, meminta yang dimaksud Wilkinson tidak asal meminta, tetapi meminta dengan berani, “Tuhan menjawab doa-doa yang berani” (2000:114). Begitulah, untuk pekabaran Injil ia berani meminta banyak kepada Tuhan. Hidupnya sungguh dipakai Tuhan. Ia tidak hanya bicara di depan massa tetapi juga kepada pribadi-pribadi yang ditemuinya di mana saja dalam perjalanan. Doanya adalah agar ia menjadi berkat dipakai Tuhan secara maksimal. Maka, analisanya tentang banyak orang Kristen yang hidupnya miskin kesaksian, disebabkan mereka tidak berani meminta atau kalau pun meminta, meminta terlalu sedikit. Padahal, menurut Wilkinson Tuhan siap mencurahkan berkat secara berlimpah.
Keempat, jalan satu-satunya untuk menikmati “berkat-berkat potensial” adalah memintanya kepada Tuhan, berdoa. Menurut Wilkinson (2000:29f.), kebaikan Tuhan tanpa batas, namun “bila Anda tidak meminta berkat kepada-Nya, Anda tak akan memperoleh semua yang sebenarnya Anda miliki.” Tuhan akan “membuka perbendaharaan surga” karena kita berdoa (2000:105). Bahkan, lebih lanjut lagi ditegaskan bahwa orang Kristen hidup di dunia untuk meminta berkat, “Anda ditebus untuk ini: meminta kepada-Nya yang terbaik menurut ukuran Tuhan yang Ia rencanakan bagi Anda, dan memintanya dengan segenap hati Anda” (2000:115). “Ubahlah kehidupan Anda sekarang dengan meminta … dan meminta lagi” (2002:23).

2.  Kritik terhadap Wilkinson
Wilkinson memahami doa Yabes sebagai gabungan antara teologi tentang Allah dan teologi berkat. Tidak ada yang salah dengan konsep tentang Tuhan adalah Tuhan yang memberkati. Tidak ada yang salah juga dengan konsep doa “mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Mat. 7:7). Tanpa mengurangi kesaksian hidup dan pelayanannya yang dinamis, menerobos, sukses, sebagai bukti penerapan doa Yabes dalam praktik hidupnya, saya melihat Wilkinson akhirnya tidak dapat menghindar dari eksploitasi konsep berkat dan jatuh ke dalam beberapa ekstrem.
Pertama, Wilkinson cenderung menekankan sifat Allah yang kompleks menjadi Allah pemberi berkat. Reduksi demikian berbahaya sebab sifat Allah yang lain seperti kudus dan adil, misalnya, tidak mendapat tempat dalam teologi doa Wilkinson.
Kedua, dalam rangka mendorong orang Kristen untuk berani meminta, orang dianjurkan untuk lebih mengejar berkat Tuhan daripada Tuhannya sendiri. Tidak dibedakan oleh Wilkinson antara Pemberi berkat dan berkat-Nya itu sendiri. Padahal, dalam kehidupan Kristen yang semakin dewasa, dari mengejar berkat-berkat Tuhan orang Kristen mencari Tuhan itu sendiri. Tetapi dalam Wilkinson, mengejar berkat Tuhan sama saja dengan mencari Tuhan.
Ketiga, akibat tekanan yang berlebihan pada keberanian untuk meminta, Wilkinson menegaskan bahwa Tuhan punya “favorit” (2000:94f.). Tuhan lebih sayang orang yang berani meminta dengan berani, meminta dengan ambisius, untuk menjadi orang yang “lebih dihormati” seperti Yabes. Pandangan ini tidak sesuai dengan Alkitab. Allah juga menyukai “jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk” (Mzm. 51:19). Meminta yang besar kepada Tuhan adalah baik, tetapi itu tidak berarti tuhan lebih menyukai orang itu dibandingkan orang lainnya.
Keempat, menurut Wilkinson (2000:30) berkat terhalang dikarenakan orang Kristen tidak meminta, “Anda kehilangan berkat-berkat yang datang kepada Anda hanya bila Anda meminta.” Menjelang akhir bukunya ia mengatakan dosalah yang menyebabkan penghalang berkat, “Satu-satunya yang bisa memutus siklus hidup berlimpah ini adalah dosa, karena dosa memutus aliran kuasa Tuhan” (2000:106). Dilihat dari kata-kata yang miring (“hanya,” “satu-satunya”) kesannya Wilkinson menganggap “tidak meminta” sebagai “dosa.” Kalau benar bahwa tidak meminta kepada Tuhan adalah dosa, begitu banyak orang Kristen berdosa karena lalai tidak meminta. Tentu saja ini bertentangan dengan pemahaman biasa yang membedakan antara kehidupan Kristen yang tidak optimal¾yang belum tentu dosa¾ dan dosa yang terang-terangan melanggar firman Tuhan.
Kelima, doa Yabes dijadikan seperti mantera yang dapat mengubah hidup orang yang mengucapkan doa itu. Ia menuturkan, “Yang penting adalah mengetahui Anda ingin menjadi siapa dan memintanya. Optimisme Wilkinson bahwa kita bisa tahu kondisi optimal kita yang seharusnya, dalam praktiknya justru tidak mudah. Yang lebih realistis untuk kita adalah berusaha melakukan yang terbaik dari kita dan lihat sejauh mana Tuhan memberkati usaha kita. Cara Tuhan memberkati pelayanan kita tidak dibatasi dengan kondisi fixed yang seolah-olah sudah ditakdirkan bagi setiap. Tuhan bisa menambahkan talenta sesuai dengan kebutuhan kita di lapangan. Tuhan juga bisa membuka pintu kesempatan yang lebih luas.
Akhirnya, jangan dilupakan bahwa Yabes berdoa demikian karena keadaannya amat sulit. Dari kesulitannya dan dari masa depannya yang suram itulah, ia berdoa dengan isi doa yang luar biasa. Kebanyakan kita, kondisinya tidak ekstrem seperti Yabes. Apa urgensinya Tuhan menjawab doa kita minta tidak sakit, bila kita punya uang untuk biaya sakit? Apa urgensinya Tuhan menjawab doa kita untuk menjadi kaya sekalipun dengan janji akan mengembalikan separuh kekayaan kita nantinya kepada Tuhan, bila dengan kondisi cukup seperti sekarang kita tidak mengerti memberikan perpuluhan kepada Tuhan? Apa urgensinya Tuhan menjawab doa kita supaya diberikan lima talenta, bila satu talenta yang kita miliki sekarang belum dipakai? Sekadar pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan.

Kepustakaan

Brown, Roddy. 1 Chronicles. Word Biblical Commentary 14. Waco: Word, 1986.
Curtis, Edward L. and Albert A. Madsen. A Critical and Exegetical Commentary on the Books of
Chronicles. International Critical Commentary. Edinburgh: T. & T. Clark, 1910.
Gesenius. Hebrew Grammar. E. Kautzsch (ed.), A. E. Cowley (rev.). Oxford: Clarendon, 1910.
Gleason, Ron. The Prayer of Jabez: Is It for Me? 2 Parts. Magazine Online, Volume 3, Nr 27 July 2-8 and Nr 28 July 9-15 (2000).
Japhet, Sara. I & II Chronicles. Old Testament Library. Louisville: Westminster/John Knox,
1993.
Karman, Yonky. “Ambisi Yang Dikuduskan.” Pelita Zaman 10 (1995) 17-24.
Sanders, J. Oswald. A Spiritual Clinic: A Suggestive Diagnosis and Prescription for Problems in
Christian Life and Service. Chicago: Moody, 1958.
Wilkinson, Bruce H. The Prayer of Jabez (Doa Yabes): Menerobos ke Hidup Penuh Berkat. Tr. Jennifer T. Silas. Batam: Interaksara, 2000.
Wilkinson, Bruce H. dan David Kopp. The Prayer of Jabez (Doa Yabes): Renungan. Tr. Jennifer T. Silas. Batam: Interaksara, 2002.
Williamson, H. G. M. 1 and 2 Chronicles. New Century Bible Commentary. Grand Rapids: Eerdmans, 1982.

Profil Pdt. Dr. Yonky Karman :
Pdt. Drs. Yonky Karman, M.Th., Ph.D. ditahbiskan sebagai pendeta di Gereja Kristen Setia Indonesia, sejak tahun 2003 ia menjadi dosen tetap untuk mata kuliah Perjanjian Lama dan Filsafat di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Cipanas dan kini merangkap sebagai Pembantu Ketua Bidang Kemahasiswaan. Pendidikan yang ditempuh adalah S-1 Teologi (1985, B.Th dari Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang), S-1 Filsafat (1992, Drs. dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta), S-2 dalam bidang Perjanjian Lama (1993, Th.M. dari Calvin Theological Seminary, Grand Rapids - USA), dan S-3 dalam bidang Perjanjian Lama (2004, Ph.D dari Evangelische Theologische Faculteit, Leuven - Belgia).
Sebelum itu, pelayanan penggembalaan yang dipegang adalah di Gereja Kristus Tuhan Jemaat Kediri (1984-1987) dan Gereja Kristen Jakarta Jemaat Kartini (1987-1998); pelayanan dalam dunia pendidikan teologi adalah di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Bandung (1994-1998). Sejak tahun 1999, ia juga menjadi anggota Tim Revisi Perjanjian Lama untuk Lembaga Alkitab Indonesia dengan tanggung jawab atas Kitab Rut, 1-2 Samuel, 1-2 Raja-raja, dan 1-2 Tawarikh. Menikah dengan Dr. Dewi Saraswati Gaduh, SpOG, ia dikaruniai seorang putra bernama Adrian.

BERTHEOLOGI TANPA ALLAH, BAGAIMANA JADINYA ? (oleh : Pdt. Manati Immanuel Zega, S.Th.)

Monday, October 24th, 2005

Berteologi Tanpa Allah, Bagaimana Jadinya?
oleh : Pdt. Manati Immanuel Zega, S.Th.

Berteologi tanpa Allah, bagaimana jadinya? Judul ini tentunya aneh bukan? Sebelum membahas lebih lanjut, terlebih dahulu kita harus  memahami apa arti berteologi.

Sederhananya, berteologi adalah melakukan tindakan atau aktifitas teologi. Tindakan tersebut bisa berupa mempelajari teologi melalui buku-buku teologi atau mempelajari Kitab Suci dengan menggunakan metode ilmiah dan langkah-langkah teologis sehingga dapat memunculkan suatu teori mengenai Allah. Kemudian, teori tersebut akhirnya memunculkan suatu doktrin yang dapat menjadi gaya hidup orang beriman.

Secara etimologis, Teologi berasal dari dua akar kata Yunani (Theos  = Allah dan Logos  =  Ilmu). Apabila didefiniskan secara sederhana, maka dapat dikatakan bahwa Teologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang Allah.

Dari pemahaman ini, sebagian orang beranggapan skeptis dengan berkata "apabila seorang telah belajar teologi, maka dia mampu memahami tentang pribadi Allah secara utuh". Benarkah demikian ? Mungkinkah dengan belajar teologi seseorang bisa mengerti pribadi yang Mahakudus? Bagaimana menurut Anda?

Disiplin ilmu teologi sangat berbeda dengan disiplin ilmu-ilmu sekuler lainnya. Dalam ilmu-ilmu sekuler, seseorang hanya berhadapan dengan teori dan metode ilmiah semata-mata, sedangkah teologi berbeda. Selain berhadapan dengan teori, juga harus bertanggungjawab kepada Allah. Secara horizontal harus mampu mengerti teori, sekaligus secara vertikal harus berhubungan dengan pribadi yang tidak terbatas, yakni Allah sendiri. Antara yang terbatas dengan yang tak terbatas, di sinilah teologi memainkan perannya, untuk menyatakan kebenaran Allah secara bertanggung jawab dan jujur.

Yang harus dipikirkan adalah, bagaimana jikalau dalam berteologi Allah tidak diizinkan intervensi dalam segala aspek kebenaran yang sedang digumulkan. Beranikah kita mengklaim bahwa yang sedang kita pikirkan adalah kebenaran Allah.

Sebagai contoh sederhana, ketika Anda disuruh untuk menyampaikan renungan atau ketika Anda sedang membuat konsep khotbah, Apakah Anda masih memohon Roh Kudus menguasai seluruh pemikiran dan rasio Anda? Ataukah Anda hanya bergantung pada "hermeneutika" (metode penafsiran Alkitab) dan "homelitika" (metode berkhotbah) yang kaku? Ketika Anda hanya bergantung penuh pada metode di atas, masihkah Anda berani mengklaim bahwa yang Anda sampaikan bersumber dari Allah? Masihkah Anda berdoa dengan serius dan memohon pimpinan-Nya? Apa yang penulis sampaikan di sini merupakan realitas yang sering terjadi dalam pelayanan kita.

Dalam Teologi seseorang belajar banyak hal tentang Allah. Belajar banyak hal tentang kebenaran Alkitab yang secara pribadi,  penulis akui sebagai Firman Allah yang Kudus yang telah diilhami oleh Roh Kudus. Persoalannya apakah dengan belajar teologi, merupakan garansi bagi manusia untuk menyelami pribadi Allah yang Agung, Kudus, dan Mulia?  Pribadi yang Kudus tidak mungkin mampu diselami oleh pribadi yang telah rusak akibat dosa.

Seorang Teolog berkata: "sangat tidak mungkin bagi seseorang menyelami pikiran dan kekudusan Allah secara utuh, meskipun belajar Teologi, berpuluh-puluh tahun."  Hal senada masih dikuatkan melalui pernyataan Rev. Dr. Stephen Tong dalam sebuah bukunya yang berbunyi demikian "Walaupun seseorang belajar Teologi sampai mendapatkan gelar Profesor, Doktor, semakin belajar semakin sadarlah dia bahwa Alkitab adalah buku yang sungguh mengagungkan dan menyatakan dengan jujur kebesaran dan kehebatan Allah sebab di dalamnya ditemukan dengan tidak habis-habisnya mutiara-mutiara berharga yang setiap saat mengilhami dan mempengaruhi pemikiran manusia, apabila digumuli dengan serius disertai takut akan Allah."

Benarkah Teologi ilmu yang mempelajari tentang Allah? Ya, secara etimologis kita harus mengakui hal itu. Tetapi dalam praktek setiap hari, Penulis berpendapat bahwa Teologi adalah belajar tentang Allah dari Allah. Maksudnya, seorang teolog, seorang pelayan Tuhan awam, seorang aktifis gereja harus bergantung penuh kepada Allah, sebab sumber kebenaran hakiki adalah Allah sendiri. Kebenaran mutlak bersumber dari Allah melalui FirmanNya. Karena itu, Allah harus menjadi sentral (Theo Centris) dalam setiap aktifitas teologi dan praktek hidup semua orang percaya dan para teolog.

Apabila Allah "dibuang" dalam bidang teologi, maka teologi tidak ada bedanya dengan Filsafat, Biologi, Psikologi dan ilmu-ilmu eksakta atau ilmu-ilmu sosial lainya. Teolog yang bergantung hanya pada disiplin ilmu teologi yang ditekuninya dan tidak punya hubungan pribadi dengan sumber kebenaran, kemungkinan dia tidak mampu membawa manusia kepada pengenalan akan Allah melalui pertobatan dan kehidupan yang suci. Mengapa? Kitab Suci dengan tegas menyatakan: "Bahwa orang datang kepada Tuhan hanya melalui kuasa Roh Kudus yang menginsyafkannya akan dosa dan kebenaran", dan bukan melalui teologi.

Saya adalah orang yang mempercayai bahwa tidak semua teolog masuk ke dalam kerajaan surga, meskipun telah belajar teologi selama bertahun-tahun. Mengapa? Karena hanya teolog yang mengenal dan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang akan masuk kerajaan surga. Percaya kepada Tuhan tidak hanya sebatas konsep,  tetapi harus menjadi gaya hidup.

Apakah hal ini berarti teologi tidak diperlukan? Tentunya bukan. Penulis berpendirian bahwa teologi bisa dipakai Allah sebagai sarana bagiNya untuk menyadarkan kaum intelektual, para filsuf, para cerdik pandai agar mereka datang kepada kesucian Allah.

Apabila orientasi seseorang hanya berpusat pada teologi semata-mata, kita harus waspadai. Mengapa? Sebab bahaya besar sedang menunggu. Artinya, iman seseorang hanya sebatas ilmu yang dapat dipahami dengan nalar, dihafalkan, atau dianalisa. Pada hal kalau kita berbicara mengenai iman bukanlah hanya sebatas ilmu yang bisa dipelajari,  tetapi iman adalah penyerahan diri secara mutlak dan total di hadapan Allah. Artinya percaya tanpa bertanya dan berdebat.

Orang yang beriman adalah seseorang yang sampai pada pemahaman seperti tersebut di atas. Bagi penulis, tidak layak seseorang menyebut dirinya sebagai orang beriman, apabila tak pernah menyerahkan diri kepada Allah di dalam Kristus.

Apakah hal ini berarti menjadi orang Kristen tidak perlu kritis terhadap iman yang diyakininya? Tentunya bukan juga! Alasannya adalah Iman yang hanya sebatas tingkat intelektual dan tidak pernah mengundang Yesus sebagai Tuhan dan penguasa hidupnya, tidak mungkn mampu bertahan dalam menapaki realita kehidupan yang penuh pergumulan dan tantangan di dalam dunia.

Adakalanya dalam perjalanan iman, kita harus melewati tempat-tempat yang menantang kita untuk mempertanyakan eksistensi Allah. Benarkah Allah eksis? Benarkah Allah mampu menolong saya? Di sinilah teologia kurang mampu memberi solusi. Yang mampu memberi solusi adalah pengenalan dan perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan.

Dalam hal ini, sekali lagi penulis tidak bermaksud merendahkan arti Teologi, sebab penulis sendiri sedang berjuang dengan terus belajar dengan sungguh-sungguh tentang teologi. Bahkan penulis berharap, setiap hamba Tuhan, juga sekaligus menjadi seorang teolog. Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah supaya dalam setiap aktifitas teologi para teolog, para Intelektual Kristen, dan semua anak Tuhan, kiranya tidak lupa menghadirkan Allah dalam kehidupannya. Prof. DR. Stanley Health dalam bukunya "Sains, Iman dan Teknologi" berkata "Sarjana yang tidak melibatkan Allah dalam setiap aktifitas ilmiahnya adalah sarjana yang tidak berbobot."

Harapan penulis, kiranya Allah selalu dinantikan kehadiranNya dalam setiap aspek intelektual dan kehidupan kita, termasuk aktifitas ilmiah. Kiranya, semua anak-anak Tuhan, hati dan pemikirannya dikuasai kehadiran Allah. Kita adalah manusia yang terbatas untuk mengerti kehendak dan pikiranNya yang tak terselami.

Allah dan firman-Nya harus menjadi standart dan prioritas tertinggi dalam kehidupan pribadi dan aktifitas teologi para teolog, intelektual Kristen setiap pribadi yang menyebut dirinya sebagai anak Tuhan.

APOKRIPA (oleh : Prof. Norman L. Geisler, Ph.D.)

Monday, October 24th, 2005

Apokripa

oleh : Prof. Norman L. Geisler, Ph.D.
Ada perdebatan tentang kitab-kitab mana yang termasuk dalam kanon Perjanjian Lama. Ada yang berpendapat bahwa kitab-kitab Apokripa yang ditulis tahun 250 SM sampai dengan Kristus termasuk kanon Perjanjian Lama.

Katolik Roma berpendapat  bahwa kitab-kitab yang termasuk dalam kanon Aleksandria harus dimasukkan dalam kanon  Perjanjian  Lama.

Kristen Protestan berpendapat bahwa hanya kitab-kitab yang yang termasuk dalam kanon Palestina bangsa Yahudi yang diwahyukan.

Kitab-kitab yang diperdebatkan adalah:
1. Esdras (III Esdras)
2. II Esdras (IV Esdras)
3. Tobit
4. Yudit
5. Tambahan kitab Ester (Ester 10:4 -  16:24)
6. Hikmast Salomo
7. Sirak
8. Baruk dan surat Yeremia (Baruk)
9. Doa Azaria dan Nyanyian tiga orang muda (Daniel 3:24-90)
10. Susanna (Daniel 13)
11. Bel dan Dragon (Daniel 14)
12.Doa Manase
13. I Makabe
14. II Makabe

Alasan-alasan penerimaan kitab-kitab Apokripa:
1. Perjanjian Baru mengutip langsung buku Henok (Yudas 14) dan menyinggung II Makabe (Ibrani 11:35)
2. Beberapa kitab apokripa ditemukan dalam komunitas Yahudi abad pertama di Qumran
3. Beberapa Bapa Gereja awal yaitu Origen (185-253M), Atanasius (293-273M), dan Cyril di Yerusalem (315-386M) mengutip dari beberapa kitab Apokripa.
4. Beberapa manuskrip Yunani awal seperti Kodex Vatikanus (325 M) dan Kodex Sinaitikus (350M) mengandung apokripa
5. Agustinus menerima semua kitab-kitab apokripa yang diumumkan oleh Trent (1546)
6. Beberapa Sinode awal seperti Sinode Paus Damaskus (382 M),Sinode Hippo, dan 3 sinode di Kartage (393,297,419) menerima apokripa
7. Beberapa bishop dan dewan?  di antara abad ke 9 dan 15 mencamtumkan kitab-kitab apokripa sebagai kitab yang diwahyukan.
8. Konsili Trent menyatakan kitab-kitab apokripa sebagai bagian kanon kitab suci.

Meski banyak yang mendukung kitab-kitab aprokripa, namun argument di atas ditolak dengan mempertimbangkan:
1. Tidak ada kitab-kitab apokripa yang dikutip sebagai Firman Tuhan oleh Perjanjian Baru. Perjanjian Baru juga menyinggung dan mengutip puisi dari kitab milik bangsa yang tidak percaya Allah Yahweh.
2. Komunitas Qumran bukan suara resmi bangsa Yahudi
3. Banyak Bapa Gereja awal termasuk Origen, Cyril dari Yerusalem, Atanasius. dan Bapa-Bapa gereja penting sebelum Agustinus dengan jelas menolak Apokripa. Mereka mengutip bukan sebagai kitab yang diwahyukan.
4. Penerimaan Agustinus terhadap Apokripa ditolak oleh Yerome, yang merupakan sarjana Alkitab terbesar saat itu
5. Tidak ada sinode atau kanon yang mencantumkan kitab-kitab apokripa dalam 4 abad pertama gereja.
6.  Saat reformasi (1517) beberapa sarjana Katolik Roma termasuk Kardinal Cajetan yang bertolak belakang dengan Luther tidak menerima kitab-kitab Apokripa sebagai bagian Perjanjian Lama.
7. Ketidakseragaman pemakaian kitab-kitab apokripa tahun demi tahun.
8. Trent tidak konsisten karena hanya menerima 11 dari 14 kitab apokripa. Mereka menolak Doa Manasse, 1 Esdras (3 Edras), dan 2 Esdras (4 Esdras) yang mengandung  ayat-ayat yang kuat menentang doa  untuk orang mati  dan menerima buku-buku yang mendukung doa untuk orang mati (1 Makabe 12:45(46))

Ada pertanyaan yang harus dipertimbangkan, buku-buka mana yang termasuk dalam Perjanjian Lama di mana Yesus menyatakannya sebagai Firman Allah yang berotoritas dan tidak dapat dibatalkan?
Jawabannya: tidak lebih dan tidak kurang daripada 24 (39) buku dalam Perjanjian Lama bangsa Yahudi, di mana Kristus mengakuinya.

a. Kitab suci Yahudi pada zaman Yesus
Sumber yang layak dipercaya untuk menentukan kanon Perjanjian Lama bangsa Yahudi adalah sejarahwan Yosepus.

Yosepus mencantumkan 22 buku,
"5 buku Musa,
nabi-nabi setelah Musa … dalam 13 buku,
4 buku sisanya berisi hymn kepada Tuhan dan aturan-aturan dalam kehidupan manusia". Ruth dijadikan satu dengan Hakim-hakim, Ratapan dijadikan satu dengan Yeremia.
Kanon ini sama dengan yang dipunyai Protestan yang berjumlah 39 buku, karena dalam dalam kanon Yosepus ini:
1 Samuel dan 2 Samuel dijadikan 1 buku,
1 Raja-raja dan 2 Raja-raja dijadikan 1 buku,
1 Tawarikh dan 2 Tawarikh dijadikan 1 buku,
Ezra dan Nehemia dijadikan 1 buku,
12 nabi-nabi kecil dijadikan 1 buku,
Ruth dijadikan satu dengan Hakim-hakim,
Ratapan dijadikan satu dengan Yeremia.

Yosefus menyatakan ke 22 kitab (39 kitab PL Protestan) sebagai lengkap dan final, dapat dibaca jelas dalam pernyataannnya bahwa suksesi nabi-nabi Yahudi berakhir pada abad 4 SM. Dan juga Talmud mengajarkan, "Setelah nabi Hagai, Zakaria, dan Maleaki, Roh Kudus pegi dari Israel’.

b. Kanon Perjanjian Lama dari Yesus dan para rasul
Yesus dan para rasul menerima secara tegas kanon yang berisi 22 atau 24 atau 39 buku Perjanjian lama Protestan. Ini dibuktikan dengan tidak ada satu buku apokripa yang yang pernah dikutip sebagai ‘Kitab Suci’ baik oleh Yesus maupun para rasul, meskipun mereka memilikinya dan kadang menyinggungnya. Fakta bahwa Yesus dam para rasul pernah mengutip 18 kitab dari 22 (24) kitab Perjanjian Lama Yahudi menunjukkan penolakan Yesus dan para rasul terhadap kita apokripa.

Kesimpulan
Dengan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kitab-kitab Apokripa tidak termasuk dalam kanon, dan harus ditolak sebagai Firman Tuhan. Tetapi meskipun demikian kitab-kitab itu punya andil di mana kita bisa belajar banyak hal mengenai sejarah dan situasi masayarakat saat itu.

Sumber :
Geisler, Norman L. Christian Apologetics. Baker Book House, Grand Rapids, Michigan 49516

HERMENEUTIK : ILMU TAFSIR (oleh : Rev. DR. R. C. SPROUL, L.H.D.)

Monday, October 24th, 2005

JIKA YA KATAKAN YA, JIKA TIDAK KATAKAN TIDAK (oleh : Ev. Ferry Yang, M.A.Ed.Min.)

Monday, October 24th, 2005

Jika Ya Katakan Ya, Jika Tidak Katakan Tidak

Oleh : Ev. Ferry Yang, M.A.Ed.Min.

(Ev. Ferry Yang meraih gelar Master of Arts in Christian Ministry-M.A.Ed.Min. dari Calvin Theological Seminary USA dan sedang menempuh program Doctor of  Philosophy-Ph.D. Candidate di seminari theologia yang sama).

Tema kita berbicara mengenai kejujuran. Istilah yang sering kita dengar adalah Honesty is the best policy (Kejujuran adalah kebijakan yang terbaik). Tetapi, apakah menyatakan kebenaran, menyatakan sesuatu yang benar dalam setiap waktu adalah kejujuran? Apakah kejujuran tersebut akan membawa suatu dampak yang baik bagi masyarakat, bagi kehidupan orang bersama? Bahkan apakah itu menyenangkan hati Tuhan? Apakah menyatakan kebenaran sejujur-jujurnya pada satu detik tertentu, itu adalah hal yang diinginkan Tuhan?

Tuhan Yesus mengajar kepada kita, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak." (Matius 5:37). Apakah benar kalau kita mengetahui suatu kebenaran, itu harus diucapkan terus menerus setiap waktu berhadapan dengan siapa saja, dalam kondisi apapun? Satu prinsip utama dalam etika adalah jangan menyakiti orang lain. Seringkali kita menggunakan apa yang namanya kebenaran itu untuk menyakiti orang. Mari kita lihat Ulangan 5:20 perintah yang ke 9 dikatakan: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu." Di dalam terjemahan yang lebih tepat: "Jangan menyalahi saudaramu dengan kata-katamu." Ini berarti ada dua kemungkinan yaitu: jangan menyalahi saudaramu dengan saksi dusta, atau jangan dengan mengatakan kebenaran kamu menyalahi saudaramu. Pada momen seperti apakah kita menyakiti orang lain ketika kita mengatakan kebenaran?

Di Kaisarea, Filipi, ketika Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya mengenai siapakah Dia, dan Petrus menjawab: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup", Tuhan Yesus melarang mereka untuk memberitahukan hal itu kepada orang lain. Apa yang Petrus katakan adalah kebenaran yang sangat besar, ditunggu-tunggu oleh Israel. 400 tahun sebelumnya Tuhan menubuatkan melalui nabi-nabi-Nya, akan datang Mesias yang akan menebus, yang akan menyelamatkan seluruh orang Israel. Ini berita yang terlalu besar, tetapi Tuhan Yesus berpesan kepada murid-murid-Nya untuk tidak menceritakan kepada orang lain. Karena kalau mereka mendengar berita ini, mereka tentu ingin menjadikan Tuhan Yesus sebagai Raja. Hal itu justru akan menghambat pelayanan Tuhan Yesus. Kebenaran, ada waktunya untuk disampaikan.

Pada saat apakah Tuhan Yesus mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah? Pada saat Tuhan Yesus dituduh di hadapan Kayafas. Di situlah Tuhan Yesus mengakui: "Ya, Aku adalah Anak Allah." Seringkali kita mengatakan kebenaran kalau itu menguntungkan kita. Tapi kalau merugikan kita, tunggu dulu. Tidak demikian dengan Tuhan Yesus. Dia menyatakan kebenaran bukan pada saat yang menguntungkan diri-Nya, tapi ketika sebentar lagi Dia akan disalibkan. Dia mengatakan: "Ya, Aku adalah Anak Allah," di mana pengakuan Tuhan Yesus dijadikan alasan orang Israel mengutuk Tuhan Yesus dan mengatakan Tuhan Yesus harus mati disalib. Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak. Hati-hati, kita bisa menggunakan perintah ini untuk keuntungan diri sendiri. Pada saat itu kita sudah memanipulasi firman Tuhan demi diri sendiri.

Jangan menyalahi saudaramu dengan perkataanmu, berarti ada time factor, ada waktu di mana kita perlu mengatakannya, ada waktu di mana kita perlu diam. Berbicara mengenai waktu, kita berbicara mengenai wisdom. Pertanyaannya sekarang: "Where does wisdom come from?" Wisdom datang dari Tuhan. Bukan wisdom menurut pikiran manusia yang terbatas. Tuhan menggunakan orang-orang yang dalam tanda petik kelihatannya sama sekali tidak punya wisdom, untuk memutar balikkan wisdom dunia ini. Sebelas murid Tuhan Yesus bukan merupakan orang-orang dari kalangan tinggi, bahkan Petrus, Yohanes, dan Yakobus adalah nelayan. Tetapi nelayan-nelayan itu diberi wisdom yang luar biasa oleh Tuhan sehingga mereka dapat berhadapan dengan kelompok elit penguasa Israel dan berbicara kepada mereka dengan sangat bijaksana.

To search for wisdom berarti memiliki hati yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, mengakui bahwa Allah adalah Allah yang maha besar, Allah yang maha kuasa, Allah yang tahu segala-galanya. Sebagai kaum cendekiawan yang memperoleh pendidikan tinggi, bagaimana mengasah intelektual kita, pengalaman kita supaya kita menjadi orang-orang berguna bukan hanya di Indonesia, tetapi di dalam Kerajaan Sorga, karena kita adalah warga negara Indonesia dan Kerajaan Sorga.

Kontribusi yang kita berikan sebagai kaum cendekiawan meliputi juga soal kejujuran. Tetapi ingatlah, jangan sampai kejujuran kita adalah kejujuran yang egois. Jangan sampai kejujuran kita adalah kejujuran untuk menguntungkan diri sendiri. Kejujuran yang harus kita lakukan adalah kejujuran yang bijaksana seperti yang diteladankan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus.

KEKRISTENAN YANG DANGKAL (oleh : Ev. Rusdi Tanuwidjaya, S.Th.)

Monday, October 24th, 2005
Ringkasan Khotbah GRII Andhika Surabaya : 9 Mei 1999
Kekristenan yang Dangkal
Nats : Matius 7:21-27
oleh : Ev. Rusdi Tanuwidjaya, S.Th.

(Ev. Rusdi Tanuwidjaya adalah gembala sidang Mimbar Reformed Injili Indonesia-MRII Batam dan Sarjana Theologia-S.Th. lulusan Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia-STTRII Jakarta).

Terdapat satu ilustrasi dimana suatu ketika ada seorang yang ingin membuat kapal yang terlihat demikian besar, megah dan agung sehingga orang yang melihat akan kagum dan memujinya. Dia berani membayar harga dengan kayu jati yang terbaik, dengan kain yang indah dibuatnya layarnya disertai dengan tali-tali yang kuat untuk layar tersebut dan akhirnya terwujudlah kapal tersebut. Pada suatu saat, bersama-sama dengan beberapa kapal yang lain, mereka akan berlayar menuju ke suatu tempat. Ketika berlabuh di pelabuhan, banyak orang yang hadir disana memandang kapalnya dan kagum karena kapal itu terlihat begitu indah dan megah. Singkat cerita, ketika kapal-kapal itu mulai berlayar, di suatu tempat mendadak ada badai yang mengamuk dan menerpa semua kapal-kapal itu. Karena tidak kuat akhirnya semua kapal kembali ke tempat semula, kecuali kapal milik laki-laki itu. Karena kapal itu telah porak poranda di terjang badai sementara nakhodanya tewas. Banyak orang bertanya-tanya, apa yang salah? Ternyata, walaupun dengan biaya yang sangat mahal, ia membangun bagian kapal yang terlihat oleh mata dan ia mengabaikan dasar kapal yang tidak terlihat. Karena dasar kapal itu tidak kokoh, begitu terhantam oleh badai, kapal itu hancur porak poranda.

Gereja itu seumpama perahu. Masalahnya adalah perahu macam apa? Apakah gereja itu terlihat maju hanya oleh karena banyak aktivitas yang bisa dilihat oleh mata banyak jemaat yang datang, uang persembahannya banyak, banyak anak muda yang melayani dengan setia dan karena banyak orang yang belajar teologia? Inikah gereja yang maju dan berkualitas itu? Memang, gereja Reformed tidak didirikan berdasarkan jumlah, tetapi didirikan berdasarkan kualitas. Tetapi kualitas itu kualitas seperti apa? Jumlah yang banyak seharusnya merupakan bukti dari kualitas yang baik. Aktivitas pelayanan seharusnya merupakan akibat dari orang yang cinta Tuhan dan ingin mendukung pekerjaan Tuhan secara bertanggung jawab tetapi realitanya sering tidak demikian. Banyak aktivitas pelayanan yang hanya sekedar tingkah laku agama dan bukannya masalah spiritual. Orang melayani kadang karena ada orang yang dia segani atau dekat dengan seseorang yang lain, dan bukannya berdasarkan satu relasi dengan Allah.

Bagi saya, Matius pasal 5-7 itulah jawabannya. Lepas dari pemahaman terhadap pasal tersebut, hidup kita akan collapse. Kita bisa mendengar khotbah dan mempunyai pengetahuan teologi yang banyak tetapi seringkali ini justru membentuk close system dalam praktika hidup kita. Kita mungkin tahu betul apa itu open system, tetapi jika hidup kita tidak mau diubah oleh Tuhan, secara praktika kita sebenarnya berada dalam close system. Dalam pasal-pasal itu membukakan suatu hal yang sangat penting yang seharusnya dianalisa oleh umat Kerajaan Allah, karena bagian ini merupakan etika dari anak-anak Kerajaan Allah. Kehidupan kita ditentukan oleh bagaimana etika kita dihadapan Allah. Kita yang mau memahami kebenaran – segala kebenaran adalah kebenaran Allah – tetapi tidak mau kembali kepada Allah, maka kita hanyalah sekedar mengetahui bidang-bidang tersebut tanpa memiliki relasi dengan Tuhan. Ada tiga pelajaran yang dapat dipetik dari nats kita yang dimulai dari ayat 21, yaitu: (1) Adanya pengakuan iman yang dangkal. Pengakuan kita terhadap Tuhan, seringkali hanyalah pengakuan yang dangkal, hanya sekedar satu ucapan di bibir saja. Pengakuan dan isi pengakuan itu memang benar, tetapi apa yang keluar dari mulut seringkali berbeda dengan apa yang ada di dalam hati. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan, "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga." Karena itu jika mengucapkan satu pengakuan iman, benarkah itu berasal dari hati kita?

Banyak orang yang belajar theologi dan mengutarakan pengertiannya dengan mantap, tetapi pengertian itu hanya berada di kepala saja, dan bukan juga di hati. Di dalam ibadah, pengenalan yang hanya di otak, dan bukan di hati, itu bukanlah satu tindakan menyembah di hadapan Tuhan, melainkan hanya ingin mendengar satu khotbah yang bagus dan bersifat informatif saja. Ibadah seharusnya merupakan satu sikap dimana kita sungguh-sungguh menyiapkan hati untuk mendengarkan firman Tuhan, apa yang Tuhan ingin untuk kita kerjakan dan apa yang Tuhan ingin koreksi terhadap kehidupan kita sehari-hari. Jiwa seperti inilah yang jarang terlihat. Jika semangat semacam ini tidak ada di dalam gereja, tidak heran jika gereja menjadi kering. Mungkin gereja itu memiliki doktrin yang baik, tetapi orang-orang yang ada di dalamnya tetap hidup di luar kebenaran. Bukan berarti kita harus menjadi orang yang sempurna, tetapi kita harus memiliki satu motifasi yakni memiliki kerinduan untuk berubah.

(2) Adanya pengalaman yang dangkal. Istilah "nubuat" dalam Perjanjian Lama (ayat 22), selalu berarti memberitakan firman yang Tuhan pakai untuk menunjuk kepada sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. Bagi orang-orang yang bernubuat, mengusir setan dan melakukan banyak mujizat demi nama Tuhan seperti ayat 22 ini Tuhan berkata, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Tuhan mengatakan bahwa Ia akan berterus terang, maksudnya Tuhan akan mengucapkan satu pengakuan di hadapan mereka bahwa mereka tidak dikenalNya dan mereka adalah pembuat kejahatan. Apa sebab? Karena mereka mau membangun iman mereka di atas pengalaman-pengalaman yang spektakuler, dan pengalaman itu bukannya satu pengalaman secara pribadi dengan Tuhan.

Gereja harus berdiri di atas kebenaran firman dan bukan di atas pengalaman hidup seseorang. Tetapi satu hal yang penting ialah, pada waktu kita mau mengenal kebenaran, memang tidak akan lepas dari pengalaman. Pengalaman semacam apa yang harus kita miliki? Yakni pengalaman berelasi dengan Tuhan. Bangsa Israel yang paling banyak mengalami mujizat dan sebagainya, justru adalah bangsa yang paling ditegur keras. Dari ujung kepala hingga ujung kaki sudah penuh dengan borok, sehingga entah di bagian mana lagi Tuhan harus menghajar. Mereka yang tahu dan mengalami pekerjaan Tuhan yang ajaib, justru adalah yang paling berani melawan Tuhan. Jika seseorang mengatakan bahwa pengalaman bisa membawa orang datang kepada Kristus, pengertian ini sangatlah dangkal. Roh Kudus, melalui firman yang kita dengar, itulah yang bekerja dan melahirbarukan kita. Being (keberadaan) kita yang diubah mempengaruhi knowing (pengetahuan) dan doings (tindakan) kita.

(3) Adanya pengetahuan yang dangkal (ayat 24-27). Seringkali antara yang kita dengar dan dengan yang kita lakukan, terdapat satu gap (kesenjangan). Jadi, ada yang banyak tahu dan sedikit yang dikerjakan, ada juga yang sedikit tahu tetapi banyak yang dikerjakan. Celakanya yang dikerjakan adalah mengajar, padahal sedikit tahu. Di dalam Alkitab terdapat 2 macam pengetahuan: 1) Pengetahuan akibat dari sesuatu akumulatif di dalam otak, dan 2) Pengetahuan akibat dari suatu relasi dengan obyek/subyek-nya. Kita yang tahu banyak data diri seseorang tanpa berelasi dengan dia, mungkin bisa menjawab dengan lancar. Tetapi pengenalan ini hanya di otak saja. Berbeda dengan pengetahuan yang kedua (cf. Yoh 17:3; Kej 4:1). Karena di sini ada satu relasi dan persekutuan yang intim. Itulah sebabnya Reformed Theology (Teologi Reformed) perlu Reformed Spirituality (Spiritualitas Reformed). Karena teologi yang benar adalah teologi yang berelasi dengan Allah, yakni teologi yang mengajarkan Allah, yang diajarkan Allah dan yang memimpin kepada Allah. Ayat 24-27 jelas mengatakan, orang yang mendengar firman dan melakukan bagaikan orang yang mendirikan rumah di atas batu, sedang orang yang mendengar firman dan tidak melakukan bagaikan orang yang mendirikan rumah di atas pasir. Maka, apakah berarti iman kita ditentukan oleh kelakuan kita? Tidak! Karena jika kita melihat pasal 5, orang yang miskin secara rohani dan bergantung kepada belas kasihan dan anugerah Allah-lah yang empunya Kerajaan Sorga. Jika demikian, sebagai apakah kelakuan itu? Kelakuan itu sebagai bukti bahwa kita mengalami perubahan.

Ada seseorang yang berasal dari keluarga broken home, hidupnya tidak beres, main pelacur, minum minuman keras, obat-obat terlarang, dsb sementara yang lain berasal agama tertentu, yang terdidik dalam suatu pola tingkah laku agama tertentu; keduanya datang dalam suatu ibadah. Ketika firman diberitakan, mereka sadar bahwa mereka orang berdosa dan membutuhkan Kristus. Merekapun percaya dan menerima Kristus. Dari kedua orang ini, manakah yang mempunyai kelakuan yang baik? Secara penampakan luar, yang berasal dari agama tertentu itu, yang memang sudah terdidik dalam suatu pola tingkah laku agama, akan terlihat lebih suci, lebih saleh dan lebih terhormat daripada orang yang berasal dari keluarga broken home. Tetapi dalam masalah kerohanian, ini susah terlihat, karena ini berkenaan dengan suatu relasi dengan Tuhan, yakni suatu pergumulan di dalam hati dengan Tuhan akibat mendengarkan firman. Seberapa maju sebuah gereja, dapat dilihat dari seberapa dalam gereja itu berelasi dengan Tuhan. Tidak ada seorang hamba Tuhan yang bisa memiliki kuasa di dalam khotbahnya jika dia tidak tidak disertai oleh Tuhan dan bergumul dihadapan Tuhan melalui doa. Doa bukanlah sesuatu yang mekanis. Tetapi, bagi saya, doa yang mekanis itu lebih baik daripada tidak berdoa.

Doa sangat dibutuhkan oleh gereja, tetapi doa sering dianaktirikan oleh gereja. Kita berdoa hanya ketika kita berada dalam kesulitan saja. Pernahkah kita berdoa dalam kesendirian? Hamba-hamba Tuhan yang berhasil, selalu menjadikan doa sebagai satu prioritas yang paling penting, inilah juga yang harus kita kerjakan! Sekolah Teologi didirikan seharusnya menjadi satu pertanggungjawaban bahwa kita sungguh-sungguh mengenal Allah dan isi hatiNya, dan kemudian kita aplikasikan di dalam hidup. Maka, itu merupakan satu tindakan penyembahan yang benar di hadapan Tuhan. Belajar Teologi itu baik, tetapi jangan hanya berhenti di otak saja. Pengalaman itu baik, tetapi diperlukan satu pengalaman yang merubah hati kita. Pengakuan itu baik, tetapi mulut yang mengaku harus disertai hati yang beriman. Sekarang, bagaimana kita melakukan hal-hal yang sesuai dengan kehendak Allah? Kita harus memiliki karakter dari umat Kerajaan Sorga (lihat, Mat 5:4-12), tujuan dan misi dari umat Kerajaan Allah di dalam dunia (5:13-16), ibadah dari umat Kerajaan Allah (Mat 4:17-6:18), ambisi dari umat Kerajaan Allah (Mat 6:19-34), relasi antara manusia dengan sesamanya dan dengan Bapa (Mat 7:1-14), menghadapi pengajaran yang sesat (Mat 7:15-23), dan Matius 7:24-27 merupakan konklusi akhirnya. Amin.

KECEWA KEPADA ALLAH (oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG)

Monday, October 24th, 2005

KECEWA KEPADA ALLAH
oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Artikel ini ditranskrip dari renungan yang disampaikan pada
Persekutuan Doa Mahasiswa STRII dan Institut Reformed hari Selasa
tanggal 16 Februari 1999

Dua hari yang lalu dalam suatu kesempatan yang baik, saya
bertemu dengan dua orang saudara saya, Pdt. Dr. Caleb Tong dan Pdt.
Dr. Joseph Tong. Saya menjemput mereka di bandara dan waktu di
bandara seseorang datang kepada saya dan bertanya, "Pak Stephen ya?"
Saya bilang, "Ya". Kami berjabat tangan. "Anda ikut kebaktian di
mana?" Saya bertanya padanya dan dia menjawab, "Ya, dulu pernah satu
dua kali mendengar khotbah Pak Stephen Tong. Kemudian saya ke gereja-
gereja yang lain. Sesudah itu keliling sini, keliling sana, tidak
menetap." Lalu saya bertanya, "Sekarang ke gereja mana?"
Jawabannya, "Tidak ke gereja." Saya bertanya, "Sekarang tidak ke
gereja?" Dia merokok dengan satu tangannya ditaruh di belakang. Asap
rokoknya terus mengepul seraya berbicara dan ngomong dengan saya.
Saya rasa dia sudah melarikan diri dari Tuhan. Lalu saya
bertanya, "Mengapa tidak ke gereja?" Dia menjawab, "Kecewa." "Kecewa
dengan siapa?" tanya saya. "Terus terang kecewa kepada Tuhan,"
setelah mengatakan kalimat itu, dia lalu pergi.

Saya tidak habis-habisnya memikirkan kalimat itu.
Berhakkah? Berhakkah manusia yang dicipta kecewa terhadap Sang
Penciptanya? Ini yang menjadi pemikiran saya. Who are we? We think we
deserve the right to claim we are disappointed by God.
Siapakah kita
yang berhak mengatakan, "Aku dikecewakan oleh Tuhan. Aku kecewa
terhadap Tuhan."

Kalimat ini membuat saya memutar pikiran sepanjang satu
hari itu. Teologi apakah ini? Teologi ajaran apakah yang mengajar
manusia, sehingga berani mengatakan, "Allah mengecewakan saya." Kalau
Allah mengecewakan seseorang, hanya karena beberapa sebab, yaitu:
Pertama, Allah berhutang kepada saya dan Dia lupa bayar, maka saya
kecewa. Kedua, Allah menipu saya, akhirnya saya dirugikan, maka saya
kecewa. Ketiga, Allah berjanji sesuatu, akhirnya Dia tidak
melunaskannya, sehingga saya kecewa. Tiga presuposisi ini, semuanya
tidak memiliki dasar Alkitab. Allah tidak pernah berhutang kepada
manusia. Teologi yang benar mengatakan, manusia berhutang kemuliaan
Allah dan tidak bisa membayar sendiri. Yang seharusnya dikatakan
adalah kitalah yang mengecewakan Tuhan, bukan Tuhan yang mengecewakan
kita. Allah tidak pernah menjanjikan sesuatu yang Dia sendiri tidak
melunaskannya, kecuali janji itu adalah semacam tafsiran manusia
dan "misleading" (penyesatan) dari orang yang salah mengerti Alkitab.
Jadi, Allah tidak berhutang kepada saya, Allah tidak sembarang
berjanji kepada saya, Allah tidak mungkin menipu saya.

Jika demikian apakah penyebabnya? Penyebab pertama adalah
adanya pengkhotbah-pengkhotbah yang memberikan tafsiran yang salah
terhadap ayat-ayat Alkitab. Misalnya, yang percaya kepada Tuhan pasti
dapat kekayaan, pasti dapat hidup yang subur, makmur di dalam materi.
Yang percaya kepada Tuhan pasti tidak ada mara-bahaya, penyakit,
kesulitan, dan kemiskinan. Misalnya lagi, jikalau engkau memberikan
persembahan, Tuhan akan mengembalikan sepuluh kali lipat ganda.
Apakah saudara pernah mendengar khotbah semacam ini? Hal ini terjadi
sejak kira-kira 25 tahun yang lalu, selangkah demi selangkah merambat
masuk ke dalam mimbar-mimbar gereja yang tidak bertanggung jawab.
Tetapi setiap statement yang tidak benar, bisa juga mendapatkan
tunjangan dari Kitab Suci. Jadi ada ayat-ayat yang sepertinya
mendukung statement itu, karena dimengerti secara fragmentaris, dan
bukan secara totalitas. Karena mengambil ayat sebagian-sebagian lalu
mengkhotbahkannya, sangat mungkin terjadi misleading bagi orang lain
yang mendengarnya.

Kedua, pengertian yang tidak membandingkan antara satu
ayat dengan ayat yang lain, mengakibatkan tidak diperolehnya prinsip
total Kitab Suci. Mengambil suatu keputusan melalui bagian-bagian,
lalu membuat statement. Hal ini sangat membahayakan. Saudara sebagai
pengkhotbah, sebagai pemimpin gereja, sebagai pembawa firman, sebagai
pemberita kehendak Tuhan, harus menghindarkan diri dari hal-hal
semacam itu.

Saya percaya, bukan dia saja, mungkin seluruh Indonesia
berani mengatakan, "Aku kecewa terhadap Tuhan." Mungkin sudah puluhan juta orang pernah mempunyai ajaran salah yang menuju pada konklusi bahwa Allah menipu dia, Allah tidak melunaskan janji-Nya, Allah
berhutang kepada dia sehingga dia berani mengatakan, "Saya kecewa
kepada Tuhan."

Tahun 1965, kalau saya tidak salah ingat, gunung Agung
meletus di Bali. Lavanya mengalir begitu cepat, sehingga banyak orang
yang tidak sempat mengungsi, mendadak terkena lava. Pada waktu itu
saya berada di Bandung, lalu seorang wartawan datang kepada
saya, "Pak Stephen, bolehkah saya tunjukkan kira-kira 180 foto yang
saya ambil dengan cepat pada waktu orang-orang terkena lava itu?"
Saya sedang makan ketika wartawan itu datang dan duduk di samping
saya. Waktu saya melihat foto-foto tersebut, rasanya saya ingin
muntah. Ada orang yang sedang tidur, lavanya datang dan saat itu juga
separuh badannya menjadi tulang, dan separuhnya masih daging. Di
tengah-tengah sambungan antara daging dan tempat tulang itu, ada satu
garis putih yang besar dan bengkak, seperti kulit babi yang digoreng
jadi rambak / krupuk. Bagian yang terkena api panas itu langsung
melembung. Satu bagian masih daging biasa, bagian yang lain, matang
menjadi seperti rambak. Meskipun saya mau muntah tapi saya dikejar
oleh kuriositas, jadi satu per satu foto tersebut saya lihat sambil
mau mengeluarkan air mata, sambil mau menangis, sambil mau berteriak,
tetapi tidak bisa. Namun ada beberapa foto yang menggugah teologi
saya, yaitu lava yang sudah dekat kira-kira tiga meter lagi, dan
dalam beberapa detik akan terkena lava, tetapi orang tersebut tidak
lari, ia sedang berlutut berdoa kepada dewa. Waktu saya lihat, saya
berpikir, "Wah! Ini begitu beda dengan orang Kristen. Mengapa ada
orang Kristen pada hari lancar, dia berani berdosa. Sedikit rugi,
langsung mencacimaki Tuhan Allah. Mengapa orang kafir waktu mereka
menghadapi kecelakaan, mereka tidak memaki-maki dewa mereka. Mereka minta pertolongan dewa, jangan sampai memusnahkan mereka. Mereka mengaku kesalahan, mengaku dosa." Pemikiran ini terus mempengaruhi saya sampai sekarang, sudah lebih dari 30 tahun.

Pemikiran itu adalah, Why?…Why? … What causes that? What
causes it to be like that? Apa salahnya pemberitaan kita? Apa
salahnya khotbah kita, sehingga anggota kita selalu merasa dia
sepatutnya menerima anugerah Tuhan dan tidak boleh dirugikan apapun
oleh Tuhan, kalau tidak, Allah harus dicela, dimaki, dipersalahkan,
dan akhirnya dia keluar dari gereja.

Lalu dari situ, pemikiran saya mulai berkembang pada the
theology of suffering, the theology of worship, the teology of
understanding grace, theology of resistant to the tribulation.
Berkembanglah begitu banyak pemikiran saya semenjak melihat 180 foto
tersebut. Mengapakah orang-orang Asia dengan sedikit kesulitan,
meninggalkan gereja, keluar dari gereja? Mengapa orang Yahudi yang
dibantai, dibunuh dengan gas, dihancurkan hidupnya, enam juta
setengah jiwa, di dalam holocaust, tetapi mereka tetap menyembah
Allah, tetap takut kepada Tuhan dan mereka tidak pernah meninggalkan
iman mereka? Jadi, what’s wrong? Apa yang salah di dalam pemberitaan
kekristenan? Jawaban saya adalah satu kalimat, "Kita lebih suka
memberitakan Allah itu kasih adanya, mengobral murah kasih Allah
daripada berani mengkhotbahkan Allah itu suci dan adil, Dia akan
menghakimi dosa seluruh dunia."

Dari konklusi ini, pemikiran saya berkembang lagi, di
manakah hamba-hamba Tuhan yang berani menyatakan tahta kemarahan
Tuhan, keadilan Tuhan, kesucian Tuhan, untuk mengingatkan bangsa dan
zaman ini? Semakin lama semakin sedikit. Tetapi pendeta yang berusaha
memberikan injil palsu supaya gerejanya bertumbuh, supaya lebih
banyak orang mendengar khotbahnya dengan kalimat, "Percayalah Tuhan,
semua penyakit akan disembuhkan, semua kesulitan diatasi, semua akan
diberikan kepada engkau" begitu banyak sekali, bahkan di dalam aliran
Pantekosta dan Kharismatik sudah teracun satu pikiran: dengan banyak
mujizat yang dilihat, orang akan beriman.

Namun hari ini saya akan menunjukkan dua prinsip. Prinsip
pertama, Yohanes Pembaptis tidak pernah melakukan satu mujizat pun,
namun banyak orang yang percaya melalui dia. Karena sifat lurus,
jujur, berani, dan tidak mau dipengaruhi oleh dosa sehingga dia
berkhotbah dengan kuasa luar biasa. Itu catatan Alkitab. Yohanes
tidak pernah melakukan satu mujizat pun, teatpi yang percaya karena
dia banyak sekali. Kedua, Islam adalah satu agama yang tidak pernah
mengembangkan anggota mereka melalui daya tarik mujizat. Tidak pernah
hal itu terjadi. Pada zaman filsuf David Hume, one of the greatest
scepticist in the history of human philosophy, ia mengatakan bahwa
salah satu sebab yang dipakai oleh orang Kristen untuk membuktikan
agama Kristen sebagai satu-satunya agama yang sah adalah tidak adanya
mujizat pada agama lain, tetapi hanya ada pada agama Kristen dan
dimuat di dalam Kitab Suci. Tetapi cara dia melawan kekristenan
justru dengan pertanyaan pernahkah mujizat yang dicatat dalam Kitab
Suci orang Kristen, terjadi? Itupun belum bisa dibuktikan. Maka
memakai bukti bahwa Kristen ada mujizat maka Kristen itu sah, pada
hakekatnya tidak pernah mempunyai dukungan bukti. Apakah yang dicatat
dalam Kitab Suci sungguh-sungguh pernah terjadi? Jadi dia menjadi
scepticist. Itu namanya to destroy from the foundation the seeking of
Christian foundation.

Orang Kristen pada zaman itu selalu memakai fondasi-
fondasi yang salah yang sebenarnya bukan fondasi untuk membangun
iman. Kalau kita membiasakan diri menjadi pemberita, hoki, fat choi,
property, kesuksesan sebagai imbalan kalau percaya kepada Tuhan, maka
kita akan menciptakan orang-orang yang akhirnya melarikan diri dari
kekristenan dengan kalimat, "Aku tidak lagi ke gereja karena aku
kecewa kepada Tuhan." Saudara seharusnya mempersiapkan diri menjadi
hamba Tuhan yang bertanggung jawab dalam pemberitaan firman, sehingga
anggotamu selalu menuntut, "Saya jangan menipu Tuhan, saya jangan
berhutang kepada Tuhan, saya harus menepati apa yang saya janjikan
kepada Tuhan." Dan bukan berkata, "Tuhan berutang kepada saya, Tuhan
menipu saya, apa yang Tuhan janjikan, tidak saya dapatkan, maka saya
berhak melawan dan kecewa kepada Dia." Kiranya renungan pendek ini
menjadi kekuatan bagi kita untuk menegakkan kembali kebenaran di
dalam zaman ini.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 39 - Maret 1999

KOMITMEN TOTAL (oleh : Pdt. Ir. Amin Tjung, M.Div., M.Th.)

Monday, October 24th, 2005

KOMITMEN TOTAL

oleh : Pdt. Ir. Amin Tjung, M.Div., M.Th.

(Pdt. Amin Tjung adalah hamba Tuhan yang melayani di Mimbar Reformed Injili Indonesia-MRII, Master of Divinity-M.Div. lulusan Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia-STTRII Jakarta dan Master of Theology-M.Th. dalam Pendidikan Kristen lulusan Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Sekarang selain menggembalakan jemaat MRII di Jakarta, beliau juga melayani di Yayasan Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar-STT SETIA).

Nats: Matius 16:21-26


Abstrak: Komitmen Total sangat penting dalam dunia fisik dan rohani. Orang Kristen juga harus memiliki komitmen yang total kepada Kristus. Sejak semula orang Kristen yang sedikit, sederhana dan terbatas, hidup tertekan di tengah zaman pluralistik, tetapi mereka mempengaruhi dan mengubah dunia. Ini dikarenakan hidup dan konsep mereka berubah. Mereka berkomitmen total dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Tuhan Yesus setiap hari.


Komitmen dalam Dunia Fisik

        Ketika kita menonton pertandingan bola basket NBA di TV, kita tahu ada satu pemain basket legendaris, yaitu Michael Jordan. Ia pernah mengatakan demikian: Begitu banyak pemain yang berbakat. Begitu banyak pemain yang baik. Tetapi apa yang membedakan antara pemain baik, pemain yang berbakat dengan pemain yang terhebat? Yang membedakan adalah hatinya1, komitmennya. Di mana dengan bakat yang ada ia berjuang keras, berlatih mati-matian sebelum dia masuk ke dalam pertandingan. Ketika bertandingpun, ia menjalankan pertandingan itu dengan sepenuh hati dan sebaik mungkin.

        Apa beda pelukis-pelukis dan seniman-seniman hebat? Kita mungkin pernah membaca atau mendengar cerita tentang Michaelangelo Buonorotti (1475-1564), seorang pelukis legendaris, seorang pemahat yang ternama zaman itu. Apa yang membuat ia bisa mempengaruhi zaman renaissance, sehingga Raphael pun mengubah gaya lukisannya karena melihat lukisan Michaelangelo? Penafsir lukisan mengatakan itu karena komitmen dan kesungguhan Michaelangelo. Tatkala ia diminta Paus Julius II untuk melukis langit-langit Sistine Chapel, dia melukis dengan sungguh-sungguh, dia melukis dengan sekuat tenaga. Padahal orang mengharapkan agar ia tidak mau, sehingga Paus marah dengan dia, atau ketika ia disuruh melukis dia tidak memberikan yang terbaik sehingga merusak reputasinya. Tetapi ia mengerjakannya dengan segenap hatinya. Ia melukiskan tentang 18 peristiwa dari Kitab Kejadian dan ia juga melukis 400 orang lebih tokoh. Lukisan-lukisan yang demikian agung, demikian besar itu dia kerjakan 4 tahun, tanpa pernah mengenal lelah. Ia kerjakan terus-menerus. Ia beristirahat hanya untuk tidur, makan, minum atau berberes sebentar. Tetapi waktu yang dia gunakan adalah untuk melukis, melukis dan melukis. Ia rela mengorbankan dirinya selama 4 tahun. Selesai ia melukis pada tahun 1512, ia baru berumur 37 tahun, tetapi ia berkata bahwa ia seperti orang yang sudah tua-renta. Orang-orang tidak mengenalnya lagi, dan matanya pun rusak karena ia memberi waktu secara total untuk melukis. Orang agung ini bisa diingat karena apa? Karena komitmennya, karena kesungguhan hatinya untuk memberikan yang terbaik dalam apa yang ia kerjakan.2

Komitmen dalam Dunia Rohani

        Kita ingat peristiwa menyedihkan yang terjadi pada tanggal 11 September 2001, di mana Twin Tower di New York hancur terbakar karena pesawat menabraknya. Kita tidak suka peristiwa ini. Tetapi ada satu hal yang penting, yaitu para teroris yang menabrakkan diri itu punya satu keyakinan yang pasti: mereka commited pada apa yang mereka yakini, mereka berani memberikan nyawanya untuk apa yang mereka percayai. Peristiwa ini dikoordinator oleh Mohammand Atta, yang ditemukan diary-nya. Ia begitu yakin pada iman dan pengharapannya. Ia begitu tahu apa yang sedang dia kerjakan menurut iman kepercayaannya. Hidupnya diarahkan pada satu tujuan. Sebagian isi diary itu berkata: ‘Ingatlah semua janji ‘Allah’ yang diberikan kepada syuhada, saat kematian dan keberadaan kamu di ’sorga’ sangat pendek. Setelah itu akan mulai hidup yang berbahagia’3. Memang kejadian itu adalah penyerangan yang jahat, yang tidak baik. Tetapi satu hal kita perlu pikirkan: Mengapa orang dunia, orang yang tidak mengenal kasih Allah, berani berkomitmen demikian?

        Tatkala saya memberitakan Injil dan mulai merintis jemaat MRII di Palembang tahun 1996, saya mencari orang untuk hadir dalam kebaktian dengan membesuk dan memberitakan Injil dari rumah ke rumah. Saya bertemu satu keluarga Saksi Yehovah dan saya memperkenalkan diri bahwa saya dari MRII. Mereka langsung menyerang dan berkata kira-kira demikian, "Kamu orang Kristen, ya? Bukankah orang Kristen termasuk kelompok orang malas?" Saya bertanya, "Apa maksud kamu?" Ia menjawab, "Orang Kristen boleh banyak jumlahnya, tetapi tidak sampai 10% yang aktif." Kemudian ia melanjutkan, "Kami Saksi Yehovah. Kami boleh dilarang4, kami boleh diancam, tetapi kami berani, kami committed, kami belajar kitab suci sungguh-sungguh." Saya menyadari dan mengakui bahwa mereka menguasai banyak sekali ayat hafalan yang sesuai dengan ajaran dan pikiran mereka. Mereka belajar dari buku-buku yang ditulis oleh para pendiri atau para pemimpin Saksi Yehovah. Mereka membeli buku-buku itu dengan uang mereka sendiri, kemudian mereka membaca, mempelajari dan mendiskusikannya. Setelah mereka mengerti, mereka pergi untuk memberitakan ajaran yang dipecayanya dari rumah ke rumah. Mereka rela ditolak, rela dihina, rela ditangkap demi kepercayaan mereka. Lalu dia bertanya begini kepada saya, "Kami orang Saksi Yehovah, lebih dari 60% anggota kami yang aktif. Semua pergi untuk memberitakan apa yang diajarkan Saksi Yehovah." Saya hanya menjawab, "Satu hal yang pasti sekarang ini bukan kamu yang mencari saya, tetapi saya yang mencari kami. Bukan kamu yang mendatangi saya, tetapi sebaliknya. Saya undang kalian datang ke tempat tinggal saya untuk diskusi". Mereka tidak datang.

        Dari semua ini saya sadar dan juga mengakui, bahwa memang banyak orang yang mengaku orang Kristen, tetapi kalah komitmennya dibandingkan pemain basket, dibandingkan pelukis, dibandingkan orang yang tidak kenal Tuhan, dibandingkan orang yang mempunyai ajaran lain dan yang tidak benar. Apakah orang Kristen tidak berani sungguh-sungguh menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang sudah menyerahkan dirinya dengan tubuh-Nya yang dipecahkan bagi kita dan darah-Nya menjadi darah perjanjian baru, bahkan Dia adalah Raja segala raja, segala kuasa diberikan kepada-Nya baik di sorga dan di bumi, yang sudah mengalahkan dunia ini, dosa, kematian dan Iblis? Tidak. Orang Kristen seharusnya berani dan seharusnya menjalankan ini.

Komitmen Orang Kristen Mula-mula

        Kita bisa melihat orang Kristen mula-mula. Jika kita membaca Matius 16:21-26, kita bisa mengerti bahwa ketika Injil disampaikan atau ditulis saat itu, jumlah jemaat mula-mula itu sangat sedikit. Ketika peristiwa Pentakosta terjadi, anak Tuhan tidak banyak. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak banyak. Tetapi mereka adalah orang yang ‘mengacaukan’ seluruh dunia (Kis. 17:26). Billy Graham dalam salah satu tulisannya5 mengatakan keadaan orang Kristen saat itu adalah bahwa secara jumlah mereka sangat sedikit. Untuk menjangkau manusia berdosa di dunia yang begitu banyak, mereka hanya berjumlah sekitar 120 orang. Mereka yang sedikit itu harus menjangkau dunia yang secara fisik dan geografis belum diketahui dengan jelas, karena peta dunia saat itu belum dikuasai dengan baik. Columbus dan penjelajah lain belum menjelajahi bumi ini. Satelit untuk mengetahui bumi ini dengan jelas belum ada. Mereka terbatas dan ada banyak hal yang mereka tidak tahu. Secara fasilitas, kendaraan dan sarana saat itu tidak banyak mendukung dan belum secanggih seperti saat ini. Saat itu belum ada pesawat terbang, belum ada kapal-kapal laut yang canggih. Secara keuangan, yang mereka milikipun, sedikit sekali, jika di total hanya kira-kira 50.000 US Dollar pada saat itu. Bagaimana dengan uang yang sedikit bisa menjangkau dunia? Saat itu sudah banyak kepercayaan, filsafat dan ada Yudaisme di bawah jajahan Romawi. Secara hukumpun, Kristen bukanlah agama yang diakui secara resmi. Dan bahkan Yesus yang mereka percayai itu adalah Yesus yang telah dipakukan di kayu salib, yang sudah dipermalukan, yang sudah dihina di depam umum. Tetapi mengapa mereka bisa memberitakan Injil ke ’seluruh dunia’ yang mereka ketahui saat itu? Mengapa mereka bisa menjalankan amanat agung itu? Satu hal yang pasti: Mereka percaya pada apa yang Yesus katakan kepada mereka. Mereka menyerahkan diri mereka secara mutlak mengikut Yesus. "Komitmen total mereka," demikian kata Billy Graham.

Keadaan Zaman Sekarang

        Kita melihat dalam zaman sekarang, dalam kehidupan di Indonesia, orang Kristen tidak banyak jumlahnya dibandingkan orang yang beragama Islam dan kepercayaan lain. Bagaimana seharusnya kita hidup? Bagaimana kita menjalankan kehendak Tuhan? Di dalam dunia pun kita tidak banyak. Kalau dijumlah dengan Katholik Roma, Orthodox Yunani, Kristen hanya sekitar 20-30%. Tidak banyak. Tetapi yang pasti sudah lebih banyak daripada zaman para rasul dan murid-murid gereja mula-mula.

        Tetapi hal yang paling penting adalah bagaimana kita hidup di tengah zaman yang demikian. Kita adalah orang yang diutus Tuhan Yesus ke dalam dunia ini (Yoh. 17:15, 18), maka kita tahu posisi kita dan seharusnya juga kita tahu bagaimana kita harus hidup saat ini. Kita mengerti bahwa saat ini banyak tantangan lain. Di dalam kehidupan dunia yang pluralistik ini, apakah ada kebenaran yang mutlak? Secara realita, orang melihat ada begitu banyak kepercayaan dan agama lain, mengapa harus Kristen? Iman Kristen juga menghadapi begitu banyak tantangan. Bahkan, bukankah ada juga kesaksian yang tidak baik dari orang Kristen itu sendiri? Tantangan dunia filsafat juga mempertanyakan soal adanya kebenaran mutlak atau kebenaran itu hanya relatif, tergantung komunitas itu saja. Dalam dunia postmodern, banyak pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak. Richard Rorty dalam bukunya Philosophy and the Mirror of Nature mengatakan: Tidak ada kebenaran yang mutlak. Kebenaran hanya satu percakapan komunitas. Kebenaran orang Kristen untuk orang Kristen. Kebenaran orang Islam untuk orang Islam, kebenaran orang Buddha untuk orang Buddha. Orang yang mempunyai kepercayaan lain, hidup berdasarkan dan untuk kepercayaan itu. Etika pun, menurut Alasdair McIntyre dalam buku After Virtue, tidak ada yang mutlak. Itu hanya wacana, kepercayaan, kesepakatan, kegiatan komunitas bersama. Itu saja.

        Bagaimana kita menghadapi tantangan yang demikian banyak? Pertama, secara logika, kita sadari pasti ada kebenaran mutlak. Kalau orang yang mengatakan: ‘Tidak ada kebenaran mutlak’, dengan sikap meminta orang agar pendapatnya harus diterima sebagai hal yang mutlak, itu sudah masuk dalam wilayah kemutlakkan. Jadi ada kemutlakkan. Ada kebenaran yang mutlak. Kedua, hal pertama ini juga mendukung dan koheren dengan kepercayaan bahwa ada kebenaran mutlak. Kebenaran itu bukan ada pada diri kita, tetapi kepada Allah, sumber kebenaran mutlak itu. Dan kita percaya, kebenaran mutlak dari Allah itu sudah Allah nyatakan dalam Alkitab. Injil keselamatan yang kita percayai itu adalah berita dari Allah. Berita salib dan kebangkitan itu adalah satu berita kebenaran dan memberikan jaminan keselamatan. Tuhan Yesus adalah satu-satunya juruselamat atau jalan keselamatan dunia ini. Ini bukan hanya berlaku pada zaman dulu, tetapi juga berlaku pada zaman sekarang. Ketiga, selain itu terhadap banyak pandangan di dunia saat ini. Richard L. Pratt6 mengingatkan kita untuk menyadari bahwa pendidikan, sifat psikologis bawaan, kebudayaan dan filsafat-filsafat duniapun bisa membukakan cakrawala dan mempengaruhi epistemologi kita, sehingga mempengaruhi cara kita menafsirkan sesuatu. Kita tidak bisa menolaknya. Namun kita percaya bahwa Allah turut bekerja, maka semua hal itu kita sadari, tetapi tetap menjadikan Alkitab sebagai otoritas tertinggi. Pratt mengusulkan ‘authority-dialogue‘ model, di mana Alkitab adalah otoritas tertinggi, tetapi kita menyadari juga bahwa dalam kita menafsirkan, tidak mungkin tidak ada pemikiran; tatkala pikiran kita tidak sesuai dengan Alkitab, kita harus kembali kepada Alkitab.

        Selain hal di atas, kalau kita mau belajar dari sejarah, kita bisa melihat bahwa dari dulu sudah ada kesulitan yang mirip. Zaman Tuhan Yesus, para rasul dan para bapak gereja jgua sudah pluralistik, banyak agama atau kepercayaan lainnya. Tetapi bagaimana orang Kristen menyatakan kepada dunia? Ini harus mengingatkan kita kembali, bagaimana kita memberitakan Injil kepada orang lain, kepada dunia sekeliling kita dan memenangkan mereka kepada Kristus saat ini.

Hidup Bukan dengan Konsep Sendiri

        Bagaimana seharusnya orang Kristen hidup dalam dunia yang demikian? Sebagai manusia baru, hidup kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi harus berubah sesuai juga dengan pembaharuan akal budi kita (Rm. 12:1-2). Kita melihat bagaimana Matius menggambarkan perbandingan nilai di Matius 6:25-34, bahwa Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya harus didahulukan dari yang lain. Selain itu, kalau kita melihat yang berharga, kita berani bayar dengan semua yang kita miliki (Mat. 13:44-46). Konteks Tuhan Yeswus ketika berkata dalam Injil Matius adalah ketika itu Tuhan Yesus diakui oleh Petrus, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup". Tuhan mengatakan kepada Petrus, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus karena Bapa di surga yang membertahukan ini kepadamu." Saat itu Petrus memberi jawaban yang benar. Dan kemudian Tuhan Yesus mengatakan juga, "Di atas batu karang ini…" Di atas petra, bukan petros. Di atas petra, di atas pengakuan iman yang benar ini, doktrin yang benar, Aku akan mendirikan jemaat-Ku.

        Tetapi kemudian Dia melanjutkan cerita-Nya. Kita hidup harus mengikuti Tuhan Yesus, tetapi mengikut Tuhan jangan dengan konsep mereka tentang Mesias saat itu. Mereka memikirkan, "Ya, kalau Yesus nanti masuk ke Yerusalem, waktu Yesus menjadi raja, kami bisa mendapatkan kedudukan atau posisi-posisi penting. Kami bisa menjadi menteri-menteri. Kami menjadi orang-orang penting." Ini cara berpikir mengikuti Tuhan dengan konsep atau kepentingan sendiri. Tetapi sebaliknya, orang Kristen harus hidup sesuai dengan konsep dan keinginan Tuhan. Tuhan Yesus menantang orang muda kaya itu agar menjual hartanya sebagai komitmen total dalam mengikut Tuhan Yesus (Mat. 19:21-22).

        Dalam gereja mula-mula, banyak orang yang menjalankan hal demikian (Kis. 2:45). Prinsip yang terkandung dibalik semuanya ini adalah komitmen total kita kepada Tuhan Yesus; bukan masalah hartanya, tetapi bagaimana kita menyadari kalau hati kita sudah sungguh-sungguh percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Kalau kita percaya penuh, maka kita akan tahu bagaimana memakai harta kita untuk Tuhan. Karena di mana harta kita untuk Tuhan. Karena di mana harta kita berada di situ hati kita berada. Harta adalah satu bukti yang kelihatan.

Hidup dengan Cara Tuhan Yesus

        Tetapi Yesus memberitahukan, bahwa Dia bukan raja dalam konsep mereka. Ia adalah Raja yang dirajakan melalui penderitaan dan kematian-Nya. Dia memberitakan bahwa Dia, Anak Manusia, akan menderita dan dianiaya oleh para ahli taurat, para tua-tua, pemimpin agama waktu itu. Dia akan menderita, akan mati dan kemudian Dia akan bangkit. Cara hidup yang Tuhan Yesus tawarkan adalah kemuliaan melalui penderitaan: no cross, no crown.

        Dalam membaca Injil pararel lain, nampak bahwa Petrus tidak suka hal itu. Petrus tidak setuju dengan apa yang Kristus katakan karena ia mempunyai konsep lain. Petrus merupakan wakil kita yang tidak suka cara ini. Tetapi Tuhan Yesus menegur dia, "Enyahlah Iblis." Saat itu Petrus seperti Iblis yang menawarkan semua kerajaan dunia dan kemegahannya dan berkata, "Semuanya ini akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau mau bersujud kepadaku" (Mat. 4:8-9). Satu tawaran yang mudah, yang indah tanpa penderitaan, tanpa salib, tanpa kematian. Satu tawaran untuk memiliki dunia.

        Tetapi Kristus tahu untuk apa Ia datang. Ia datang untuk menderita dan kemudian mati, menggantikan, menebus dosa manusia dan kemudian Dia bangkit menyatakan kemenangan-Nya. Ini diucapkan terus-menerus dalam pemberitaan kematian-Nya sampai 4 kali, mulai Matius 16:21 ini. Kemudian Ia berkata bahwa setiap orang yang mau mengikut Yesus, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Dia. Ini satu hal yang harus diikuti sebagai murid Kristus.

        Satu hal yang harus kita tahu: Waktu Saudara percaya kepada Tuhan Yesus, waktu Saudara mau menjadi murid-Nya, ingatlah Tuhan Yesus memberikan satu syarat, satu ujian yang membedakan apakah Saudara seorang Kristen yang sejati atau tidak? Apakah Saudara sungguh-sungguh mau mengikuti Dia, mau mengenal Dia atau tidak? Jika ya, Saudara harus menyangkal diri, memikul salin, dan setiap hari mengikut Dia.

Menyangkal Diri

        Kata menyangkal diri dapat kita hubungkan dengan peristiwa Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus 3 kali. Ia mengatakan, "Saya tidak kenal Dia." Tiga kali dia berkata bahwa dia tidak mengenal Tuhan. Seorang penafsir berkata: Menyangkal diri berarti tidak kenal diri lagi, bukan apa yang kita mau lagi. Bukan apa yang menjadi keinginan kita, tetapi apa yang Tuhan inginkan, apa yang Tuhan mau, apa yang Tuhan kehendaki.

        Dalam hidup orang percaya, seumur hidup kita harus bergumul mencari kehendak Tuhan, bukan kehendak diri. Kehendak Tuhan yang harus terjadi, bukan kehendak kita. Bukan keinginan diri kita, bukan apa yang kita mau, tetapi apa yang Tuhan mau. Orang Kristen harus mempunyai tekad untuk makin mengenal Dia, makin mengenal kebenaran-Nya, makin mengetahui kehendak-Nya, dan menjalankan apa yang Dia mau, bukan apa yang kita mau. Dalam zaman yang penuh dengan tantangan dari begitu banyak ajaran lain, kita harus belajar sungguh-sungguh. Biarlah kita boleh mengenal Dia sungguh-sungguh. Boleh mempelajari firman Tuhan sungguh-sungguh dalam hidup kita.

        Waktu saya pertama kali bertobat, dengan sukacita saya ingin mengabarkan Injil kepada kawan-kawan saya. Saya berjumpa dengan teman SD saya yang akrab sekali. Kami pergi sekolah bersama-sama, pulang sekolah bersama-sama, main, mandi di sungai, main gundu, main apa pun bersama-sama. Saya mencari dia. Ketika bertemu, saya coba memberitakan Injil kepadanya. Dia bertanya kepada saya, "Min, omong-omong kamu sudah baca Alkitab habis belum, ya?" Wah saya langsung lihat Alkitab saya begitu tebal. Kapan habisnya, ya? Kapan saya bisa selesaikan? Itu yang menjadi pemikiran saya. Dia berkata, "Heh, kamu orang Kristen, baca Alkitab kamu saja belum habis mau memberitakan kepada saya. Saya belum Kristen, tetapi saya sudah baca Alkitab 2 kali tamat."

        Dan benar, dia kemudian mulai menceritakan Alkitab kepada saya, tetapi tentu berdasarkan tafsiran dia. Tritunggal dia jelaskan dengan cara dia; tentang Alkitab, Yesus, Perjanjian Lama, dia tafsirkan menurut dia mau. Tetapi satu hal itu menggungah saya: dia lebih rajin dari saya.

        Sewaktu baru bertobat juga, saya suka membaca buku biografi dari orang-orang yang Tuhan pakai. Termasuk buku cerita tentang John Sung, C.T. Studd, Sadhu Sundar Singh, Joni Erickson, William Bordern, C.H. Spurgeon, kesaksian orang Kristen dalam buku Kristus yang Hidup di Hati Orang Korea. Ini memang bacaan-bacaan ringan, tetapi bacaan-bacaan yang mendorong saya hidup bagi Tuhan, mencontoh teladan-teladan orang-orang yang Tuhan pakai luar biasa.

        John Sung7 dulu ikut Union Theological Seminary yang sudah menjadi liberal, maka imannya berubah. Dia tidak lagi percaya Alkitab. Dia tidak lagi percaya Tuhan Yesus. Dia gelisah. Dia ikut kebaktian kecil yang dipimpin penginjil wanita yang dia tidak ingat lagi namanya. Hari itu Tuhan menyentuh dia kembali, membawa dia kembali kepada Tuhan. Waktu dia bertobat, saking senangnya ia mendekati dosen-dosennya yang liberal di Union Theological Seminary dan meminta mereka bertobat, satu-satu, kepada Tuhan Yesus. Karena begitu giat, dia dianggap gila, dimasukkan penjara. Di penjara dalam tempo setengah tahun lebih sedikit (193 hari), ia telah membaca habis Alkitab sebanyak 40 kali, dari Kejadian sampai Wahyu, dengan berbagai cara berbeda. Karena cintanya akan Tuhan, karena hidupnya yang diubah oleh Tuhan, maka dia membaca paling tidak 8 pasal setiap hari. Dan ia bisa mengajar Alkitab habis, semua dalam waktu hanya satu minggu. Karena firman Tuhan ia hidupi sungguh-sungguh dan begitu mendarah daging. Dia menyangkal diri, tidak mencari diri. Dia mencari kehendak Tuhan, kebenaran firman-Nya, mengenal Tuhan dan menjalankan apa yang Tuhan mau dalam hidupnya. Dia berani memberikan dirinya, karena apa yang dia tahu dari firman Tuhan, dia percayai sungguh-sungguh. Dia berani menjalankannya, membagikannya kepada orang lain. Satu hal yang nyata, satu komitmen yang sungguh-sungguh.

        Di zaman sekarang, biarlah kita boleh punya semangat mencintai firman Tuhan, mengenal kebenaran-Nya sungguh-sungguh, dan kemudian kita boleh menjalankan kehendak-Nya. Kita mengatakan tidak terhadap diri sendiri dan mengiyakan terhadap apa yang Tuhan mau dalam kehidupan kita.

        Saat ini pun saya sungguh bersyukur, di zaman sekarang buku begitu berlimpah yang boleh membantu kita membukakan kebenaran-kebenaran. Seharusnya kita boleh memiliki, membaca dengan disiplin. Kalau Saudara membaca riwayat hidup Paul Ricoreur8, seorang filsuf saat ini, dia mempunyai satu disiplin. Setiap tahun dia menyelesaikan membaca kelompok buku tertentu dari pengarang tertentu. Dia mulai dari Plato. Dia selesaikan semua tulisan tentang Plato. Tahun berikutnya, dia belajar tentang Aristoteles. Tahun berikutnya lagi, dia belajar tentang Agustinus, lalu Thomas Aquinas dan seterusnya. Dia terus belajar. Untuk apa dia berdisiplin seperti itu? Dia berdisiplin seperti itu agar dia dapat siap menghadapi tantangan zaman, perkembangan-perkembangan pemikiran.

        Saya bersyukur sekali banyak penerbit yang menerbitkan buku-buku yang baik saat ini. Buku-buku ini membantu kita memiliki wawasan Kristen yang jelas, mengerti ajaran kebenaran firman Tuhan, dan kita boleh juga menjadi berkat membagikan kepada orang lain. Saya rindu juga melihat hidup kita dapat menjadi hidup yang mencari kehendak Tuhan. Kita menyangkal diri, mencari apa yang Tuhan mau dalam hidup kita dan menjalankannya, serta siap menghadapi tantangan-tantangan pemikiran zaman.

Memikul Salib

        Yang kedua, orang yang mau mengikut Yesus selain harus menyangkal dirinya, juga harus memikul salibnya setiap hari. Di sini bukan mengatakan bahwa kita memakai tanda salib. Memang saat ini orang Kristen banyak memakai tanda salib. Kalungnya kalung salib, jepitan dasinya berbentuk salib, cincinnya cincin salib, penitinya juga gambar salib. Banyak tanda salib, tanda yang begitu mulia, tetapi adakah yang rela memikul salib? Memikul salib ini jangan kita mengerti atau kita bayangkan dengan hanya diomongi, dijelekkan atau difitnah oleh orang lain karena Saudara percaya. Tetapi Saudara harus ingat pada konteks mula-mula orang memikul salib.

        Orang yang sedang memikul salib itu berarti sedang menuju kematian. Dikatakan oleh F.F. Bruce9 bahwa pada waktu Yesus berusia 12 tahun, ada pemberontakkan yang dipimpin oleh seorang bernama Yehuda atau Yudas. Pemberontakan itu akhirnya dipadamkan oleh prajurit Romawi. Beberapa orang ditangkap. Supaya yang lain tidak ikut memberontak, mereka yang tertangkap itu diberi hukuman yang paling mengerikan: salib. Orang yang akan disalib itu diarak-arak memikul patibulum berjalan menuju tempat kematian. Dengan kata lain, memikul salib berarti apa? Berarti kita mati terhadap diri sendiri, dan kita siap mati. Kita sedang dibawa ke tempat pembantaian. Kita sedang dibawa untuk dibunuh, disalibkan. Ini hal yang digambarkan saat itu. Memang ada Simon Kirene yang menggantikan Tuhan Yesus memikul salib-Nya. Tetapi umumnya, orang yang memikul salib saat itu adalah seorang yang sedang dihukum mati. Dia sebentar lagi akan mati.

        Pengertian ini diterima oleh Rasul Paulus. Dia mengatakan, "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari." (Rm. 8:36). Setiap hari kami sperti sedang dibawa ke pembantaian, untuk dibinasakan, untuk dibunuh. Setiap hari, dalam tubuh kami, kami membawa kematian Kristus itu. Ini yang digambarkan tentang memikul salib. Bukan penderitaan-penderitaan yang ringan, tetapi kita siap sebagai orang percaya, siap untuk mati di dalam kehendak Tuhan. Setiap orang percaya, setelah dia mencari kehendak Tuhan, dia menyangkal diri dan harus siap mati untuk kebenaran, karena Tuhan menginginkan hal itu. Orang Kristen abad pertama yang pergi mengabarkan Injil, pergi saja dan tidak memikirkan pulang. Siap untuk dibunuh, siap untuk disalibkan, siap untuk menghadapi berbagai macam cara kematian. Mereka menyiapkan diri. Orang demikian tidak lagi ambisi untuk diri atau kepentigan diri, tetapi hanya untuk Tuhan. Satu komitmen yang total, siap mati untuk Tuhan. Kalau orang Islam menjalankan dengan berani bagaimana dengan kita orang Kristen? Bagaimana kita melihat salib Kristus, memikul salib-Nya setiap hari itu?

        Ada penafsir mengatakan ini bukan berarti kita tidak memiliki kesenangan sama sekali. Orang Kristen digambarkan sebagai orang yang selalu berjalan tertunduk, selalu serius, tidak pernah tersenyum, selalu mengerutkan keningnya. Tidaklah demikian. Orang Kristen adalah orang yang menikmati kehidupan. Beberapa penafsir menambahkan dalam ilustrasi mereka. Mereka mengatakan memikul salib itu bukan berarti menyangkal kesenangan dalam hal-hal yang bersifat intelektual. Orang Kristen yang senang sekolah, senang belajar, senang untuk mencapai gelar itu tidak dipermasalahkan, asal motivasinya benar. Kalau motivasinya untuk kebanggaan diri, untuk kelihatan ada Ph.D. adalah suatu yang hebat. Itu salah. Kalau orang Kristen malas, tidak mau belajar, itu juga salah.

        Tetapi kalau orang tersebut memiliki motivasi: saya mau melayani Tuhan, makin mengenal Dia; Saya dituntut untuk belajar lebih tinggi, untuk makin mengenal kebenaran-Nya, sehingga bisa membagikan lebih baik dan kepada lebih banyak orang, itu tidak salah. Karena tujuannya untuk makin mengenal Tuhan, bukan untuk mendapat kedudukan. Tidak disalahkan juga jika orang Kristen menikmati kesenian, hal-hal yang bersifat keindahan. Orang Kristen boleh menikmati lukisan yang indah, orang Kristen boleh menikmati hasil pahatan yang indah. Orang Kristen boleh melihat karunia Tuhan pada banyak orang, bahkan membuat lukisan, menciptakan musik dan lain sebagainya.Tetapi hal itu tidak boleh lebih dipentingkan daripada kebenaran Tuhan. Kalau orang mementingkan itu sampai mengejar dan mendapatkan, tetapi sampai melupakan ibadah kepada Tuhan, itu tidak benar. Setiap yang kita lakukan harus untuk Tuhan (Kol. 3:23). Memikul salib juga adalah satu keindahan. Hal ini yang sulit kita bayangkan, kalau kita tidak mengalaminya.

        Kita melihat lagi Matius 13:44-46, gambaran ini adalah waktu mereka melihat kerajaan Sorga. Ketika mereka melihat karya Kristus, penyaliban Kristus, mereka melihat itu sebagai hal yang paling bernilai, yang paling indah. Ketika orang melihat hal yang paling bernilai, yang paling indah, ia akan rela menjual seluruh miliknya. Salib Kristus belum banyak dilihat nilai keindahannya, sampai satu saat kita menyadari, mengerti keindahan.

        Dalam buku sejarah gereja tentang Justin Martir, dikatakan di sana bahwa dia adalah seorang yang mencari kebenaran, seumur hidup mau mencari kebenaran. Terhadap filsuf Stoicisme ia tidak puas. Terhadap filsuf Aristotelian, ia melihat ada yang mata duitan. Justin Martir mencari kebenaran pada murid Plato, tetapi tetap tidak puas. Sampai ia bertemu seorang tua dan ia menerima Kitab Perjanjian Lama dan sebagian Perjanjian Baru. Ia berani meninggalkan segala yang lain. Ia mencintai firman sungguh-sungguh. Ini yang terindah dalam hidupnya. Makin ia menikmati, makin ia rela. Bromiley10 mengatakan ia memeteraikan pengajarannya, pembelaannya tentang kekristenan dengan nyawanya. Sewaktu kita menyangkal diri, siap mati bagi Tuhan, kita menikmati keindahan bersama Tuhan. Waktu kita siap sedemikian, kita dekat sekali dengan Tuhan, hingga Pauluspun berkata ia ingin serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya (Flp. 3:10).

        Waktu saya sakit kanker, saya bergumul dua-tiga hari. Pergumulan itu membuat saya sadar bahwa diri saya tidak harus ada. Jika saya ada itu semata-mata kasih karunia Tuhan. Saya tidak bisa mempertahankan diri saya dan apa yang saya mau. Saya tidak bisa mempertahankan nyawa saya. Saya sebentar lagi menghadap Tuhan. Jika saya sebentar lagi mati, apa yang harus saya jalankan agar kelak ada sukacita?

        Kita harus sadari bahwa memang kita tidak bisa mempertahankan diri, mempertahankan kesehatan kita. Orang bisa kelihatan sehat kuat, seperti bintang film laga Bruce Lee, tetapi bisa mati mendadak. Jadi kita harus siap senantiasa. Justru ini adalah keindahan mengerjakan pekerjaan Tuhan sebaik mungkin. Ketika kita sebagai manusia, mempersiapkan diri dengan benar untuk menghadap Tuhan. Kita akan merasakan kekuatan dari Dia dan kita merasakan hidup dekat dengan Dia. Justru itulah hidup yang begitu indah: tatkala kita siap mati, kita terus memberikan yang terbaik kepada Tuhan setiap hari. Jika Saudara memikirkan hidup yang enak, kita akan hidup seenak kita, kita akan kendor. Kita tidak memberikan yang terbaik untuk Tuhan hari ini, sebab masih ada hari esok. Tetapi kalau kita menyangkal diri setiap hari, memikul salib seperti orang yang dihukum mati, mengerjakan sebaik mungkin apa yang Tuhan mau, sebab besok belum tentu kita hidup, kita akan mengalami keindahan penyertaan kekuatan penghiburan Tuhan setiap hari. Setiap hari makin mencintai Tuhan, makin berguna bagi kerajaan-Nya.

        Kadang kita melatih diri sehat dengan olahraga. Tetapi orang bisa kecelakaan mobil atau terkena bom. Kematian merupakan hal yang tidak terduga. Harta-benda pun tak bisa dipertahankan. Justru orang yang memberikan nyawanya akan menikmati hidup yang sesungguhnya, melihat keindahan. Tuhan Yesus mengatakan yang mau memberikan nyawanya, saat kita menyerahkan hidup bagi Tuhan, itu adalah saat yang paling indah, yang paling berarti. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita.

        Saya mulai memikirkan bahwa ada orang yang mengaku orang Kristen, bahkan ada penginjil, pendeta, tetapi Tuhan menyangkal dia pada akhir zaman: ‘Aku tidak mengenal kamu, enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan’ (Mat. 7:21-23). Ini merupakan satu koreksi, satu peringatan kepada kita: Adakah kita sungguh-sungguh? Yang sungguh akan masuk kerajaan sorga adalah dia yang melakukan kehendak Bapa yang di sorga, orang yang percaya dan menjalankan kehendak Tuhan dalam hidupnya.

        Ada orang percaya yang hanya merupakan persetujuan intelektual, tetapi tidak melakukan. Tetapi ada pula orang yang percaya dan menjalankannya. Misalnya saya percaya minuman yang disediakan itu tidak ada racunnya, maka saya berani meminumnya. Percaya mengandung mempercayakan diri. Kalau kita sungguh percaya Tuhan Yesus, kita tidak akan menyangkal Dia. Kita melakukan apa yang Dia mau, kehendak-Nya dalam hidup kita. Karena kita tahu, berapapun banyaknya harga yang harus dibayar, saya rela, karena saya mendapatkan yang lebih indah, yang lebih mulia. Seperti penemu harta karun yang rela menjual semua miliknya demi membeli ladang yang di dalamnya ada harta karun itu. Seperti saudagar yang rela menjual segala miliknya untuk mendapatkan mutiara yang indah dan sangat berharga (Mat. 13:44-45).

   

Mengikut Dia Setiap Hari

        Sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk mengerti apa yang Tuhan katakan. Orang yang mau mengikut Kristus harus rela menyangkal dirinya dan mencari tahu apa yang Tuhan mau. Mau mencari khususnya melalui penggalian Alkitab dan dibantu buku-buku rohani yang baik. Buku rohani yang baik sering mencerahkan kebenaran itu. Kita juga harus siap mati setiap hari. Kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan untuk hari itu, setiap hari. Kita mengalami penyertaan-Nya setiap hari seumur hidup, bukan sebentar. Karena keindahan itu, Saudara mau menikmatinya setiap hari. Dalam buku Setia Sampai Mati, diceritakan bahwa orang Kristen yang dihukum mati karena Kristus itu mati dengan sukacita. Hal ini mengherankan mereka yang tidak percaya: Mengapa mereka mati dengan sukacita? Mereka mengalami kesukaan, tidak melihat kematian itu sebagai kesedihan. Orang yang dihukum mati itu menyanyikan pujian bahwa mereka sebagai persembahan yang hidup, mereka melihat keindahan dan kemuliaan dan boleh mengambil bagian dalam karunia menderita. Ini yang dialami orang-orang Kristen yang sungguh.

        Saya ingat satu cerita yang mengubah saya. Ada seorang pelukis diminta untuk melukis Kristus yang menderita. Ketika ia mau melukis, ia mulai mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan mulai membaca tafsiran-tafsiran untuk bisa menghayati peristiwa penyaliban itu. Ia seorang pelukis profesional, sebab itu untuk dapat melukiskan bagaimana penderitaan Kristus, ia perlu menghayatinya dulu. Tetapi ketika ia mempelajari itu semua, iapun bertobat, karena ia tahu bahwa Kristus adalah Allah yang mau menjadi manusia: Kristus mati karena saya yang berdosa. Kemudian ia coba mengekspresikan semua itu dalam lukisannya dengan sungguh-sungguh. Ia mulai merenungkan kasih Tuhan, mulai merenungkan bagaimana Tuhan mengasihi dia dan melukis lukisan itu. Setelah selesai, lukisan Tuhan Yesus yang sedang menderita disalib itu ditaruh di tempat umum, di mana orang bisa melihat lukisan itu. Ada seorang muda kaya yang tertarik melihat kerumunan orang yang melihat lukisan itu, lalu ia datang ke sana dan melihat lukisan itu. Ia membaca satu tulisan di bawah lukisan itu: Nyawa-Ku Kuberikan padamu, apa kau beri pada-Ku? Orang muda ini masuk ke ruang kebaktian samboi terus merenungkan cinta kasih Tuhan. Di akhir kebaktian, dia menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan. Dialah Zinzendoorf dari kelompok Moravia, yang menjadi utusan Injil terkenal.

        Bagaimana kita saat ini? Bagaimana hidup kita sebagai orang Kristen saat ini? Adakah kita sungguh menghayati apa yang Kristus katakan agar kita menyangkal diri kita, memikul salib kita dan mengikut Dia setiap hari? Apa yang telah Saudara berikan? Beranikah Saudara hidup seturut dengan kehendak Dia dan mempercayakan hidup Saudara sepenuhnya kepada Dia?

1 John C. Maxwell, The 21 Indispensable Qualities of a Leader, Alih Bahasa: Arvin Saputra (Batam: Interaksa, 2001), hlm. 31-32; buku asli hlm. 16.

2 ibid. Hlm. 28-30. Bandingkan Robert Cumming, Annotated Art (London: Covent Garden Books, 2000), hlm. 30-31.

3 Tempo, 8-14 Oktober 2001, hlm. 154.

4 Pada saat itu kepercayaan saksi Yehovah memang masih dilarang oleh pemerintah resmi Indonesia.

5 Billy Graham, "Mission Imposible: Your Commitment to Christ" di dalam Confessing Christ as Lord diedit oleh John W. Alexander (Downers Grove: Illinois: InterVarsity Press, 1982), hlm. 119-120.

6 Richard L. Pratt Jr, He Gave Us Stories (Brentwood, Tennessee: Wolgemuth & Hyatt Publishers, 1990), hlm. 25-33.

7 Leslie T. Lyall, John Sung: Obor Allah di Asia, diterjemahkan oleh: P.S. Naipospos (Jakarta: YKBK/OMF, 1999), hlm. 21-31.

8 Kees Bertens. Filsafat Barat Abad XX: Perancis (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 255.

9 F.F. Bruce, The Hard Saying of Jesus (Downers Grove, Illionois: InterVarsity Press, 1983), hlm. 150-152.

10 George W. Bromiley, Historical Theology: An Introduction (Grand Rapids. Ml: Wm. Eerdmans, 1978), hlm. 13.

SAKRAMEN (oleh : John Calvin)

Monday, October 24th, 2005

Sakramen

(bagian pertama)

oleh : John Calvin

Dalam sakramen kita mendapatkan pertolongan lain bagi iman yang berkaitan dengan pemberitaan Injil. Sakramen adalah tanda lahiriah di mana Tuhan memeteraikan dalam hati nurani kita janji rencana-Nya yang baik terhadap kita, supaya iman kita yang lemah diteguhkan; dan supaya kita menyatakan kasih setia kita kepada-Nya di hadapan Tuhan, malaikat-malaikat-Nya, dan di hadapan manusia. Singkat kata, sakramen adalah kesaksian tentang anugerah Allah kepada kita, yang dikonfirmasikan oleh tanda lahiriah, dan yang direspons oleh kita dengan menegaskan kasih setia kita kepada-Nya.

Kata “sakramen” dalam bahasa Latin memiliki makna yang sama dengan kata “misteri” dalam bahasa Yunani (Ef. 1:9; 3:2-3; Kol. 1:26-27; 1Tim. 3:16). Tetapi kita lebih suka memakai kata “sakramen.” Suatu sakramen tidak pernah ada tanpa janji yang diberikan sebelumnya, dengan tujuan untuk mengonfirmasikan dan memeteraikan janji itu sendiri, dan untuk membuatnya menjadi semakin jelas bagi kita. Sakramen diperlukan bukan untuk meneguhkan Firman-Nya yang kudus, tetapi untuk meneguhkan iman kita kepada Firman-Nya, sebab kita ini lemah dan mudah goyah.

Ketika dikatakan bahwa sakramen terdiri dari Firman dan tanda lahiriah, kita harus memahami bahwa Firman bukan untuk disebutkan tanpa makna dan tanpa iman – hanya suara. Sebaliknya, ketika diberitakan, Firman itu harus membuat kita memahami makna tanda lahiriah itu. Setiap tanda ini harus dikaitkan dengan pengajaran, jika tidak, maka indra kita hanya akan memandang tanda-tanda itu dengan nanar (tanpa pengertian). Orang percaya, ketika melihat sakramen dengan matanya, tidak berhenti pada tanda lahiriah itu, tetapi menengadah dengan saleh merenungkan keagungan misteri yang tersimpan di balik sakramen itu. Karena Tuhan menyebut janji-Nya sebagai “kovenan” (Kej. 6:18; 9:9; 17:2) dan sakramen-sakramen-Nya sebagai “simbol” kovenan, maka kita diajar bahwa kata-kata harus mendahului tindakan. Karena itu, sakramen adalah praktik yang membuat kita lebih meyakini bahwa Firman Allah itu dapat dipercaya.

Janji anugerah Allah yang diberikan Allah dalam Firman dan sakramen, hanya dapat dimengerti oleh mereka yang menyambut Firman dan sakramen dengan iman, dengan demikian, imannya dikuatkan. Tidak benar jika dikatakan bahwa karena iman kita sudah baik maka tidak bisa dipertumbuhkan kembali, sebab sesungguhnya Tuhan masih dapat menumbuhkan iman kita (Luk. 17:5). Filipus berkata kepada sida-sida Ethiopia itu bahwa dia dapat dibaptis jika dia percaya dengan sepenuh hatinya (Kis. 8:37), “percaya dengan sepenuh hati” bukan berarti mempercayai Kristus dengan sempurna; tetapi menyambut Dia dari hati dan akal budi yang tulus; merasa lapar dan haus akan Dia dengan mencari-Nya dengan sungguh-sungguh.

Sakramen memenuhi fungsinya hanya ketika Roh Kudus, Guru yang berdiam di dalam hati kita, datang ke dalam hati kita dan mempengaruhinya. Roh Kuduslah yang meyakinkan kita, menopang kita, mempertumbuhkan kita, dan meneguhkan iman kita. Karena itu, jika kita mengatakan pertumbuhan adalah hasil usaha kita sendiri, kita telah bersalah kepada Roh Kudus yang adalah sumber pertumbuhan kita. Sebab sebagaimana kita tidak dapat meyakinkan orang lain dengan kata-kata kita untuk melakukan sesuatu kecuali dia telah memiliki disposisi (sifat) seorang yang mau belajar, demikianlah Roh Kudus melembutkan kebebalan hati kita sehingga kita tidak mendengarkan Firman dengan sia-sia. Demikianlah, Roh Kudus menyalurkan kata-kata dan sakramen yang lahiriah itu dari telinga ke hati kita.

Firman dan sakramen bekerja sama dalam meneguhkan iman kita. Sebagaimana dari benih dihasilkan gandum: bertumbuh, dan semakin dewasa, demikian juga dari Firman timbullah iman: bertumbuh, dan menjadi sempurna, yaitu jika Roh Kudus memberi pertumbuhan kepadanya (1Kor. 3:6-9). Sakramen memiliki nilainya hanya sebagai alat Allah. Karena itu, keyakinan kita tidak boleh pada sakramen itu sendiri, tidak juga kemuliaan Allah yang ditransferkan ke dalamnya. Sebaliknya, iman dan pengakuan kita harus bangkit terarah kepada Dia yang adalah pencipta sakramen dan segala sesuatu. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.14., disadur oleh syo)

Sakramen

(bagian kedua)

Ada orang yang secara salah menganggap sakramen memiliki kuasa magis, padahal  hal ini tidak pernah diajarkan sekali pun dalam Alkitab. Mereka mengajarkan bahwa sakramen di dalam gereja Kristus membenarkan dan memberikan anugerah, asal kita tidak melakukan hal yang membuat dosa kita tidak dapat diampuni. Dengan menjanjikan pembenaran dapat diperoleh dari sakramen maka mereka membuat orang-orang yang lemah jatuh ke dalam ketahyulan, sehingga mengandalkan benda fisik, dan bukannya Allah sendiri. Kita menegaskan bahwa jaminan keselamatan tidak didasarkan pada partisipasi kita dalam sakramen. Kristus adalah substansi dari sakramen, di dalam Dialah sakramen memiliki peneguhannya; sakramen tidak mengandung janji apa pun di luar Kristus. Sakramen memiliki nilainya bagi kita, jika kita menerimanya dengan iman dalam Kristus. Kekuatan dan kebenaran sakramen tidak tergantung pada kondisi orang yang menerimanya. Jika kita menerimanya dengan cara yang tidak layak, sakramen tidak dengan sendirinya menjadi tidak rohani, hanya kita tidak akan mendapat manfaatnya. Dua hal ini harus kita hindari: (1) menerima tanda-tanda ini seakan-akan hal yang sia-sia, sehingga kita menolak makna atau signifikansinya; (2) tidak melihat melampaui tanda yang kelihatan itu, yaitu kepada Kristus, satu-satunya pemberi berkat sejati. Sakramen memiliki peranan yang sama dengan Firman Allah, yaitu menawarkan dan menghadapkan Kristus kepada kita; bahwa di dalam Dia, tersedia harta anugerah sorgawi. Allah sendiri hadir dalam institusi sakramen-Nya melalui kehadiran Roh Kudus-Nya. Dan anugerah Roh Kudus di dalam batin kita yang dilambangkan oleh sakramen itu harus kita perhatikan dan renungkan sebagai hal berbeda dari pelayanan lahiriahnya. Oleh kemurahan-Nya Allah memberikan sakramen-Nya untuk membangun kesalehan, yaitu sebagai kesaksian mengenai anugerah dan keselamatan dari Tuhan, sedangkan dari kita adalah tanda pengakuan iman, yang melaluinya kita bersumpah setia kepada Allah, dan mengikatkan diri kepada-Nya. 

Ada bermacam-macam sakramen yang diberikan Allah sesuai dengan keadaan zaman yang berbeda dalam rencana keselamatan-Nya. Kepada Abraham dan keturunannya diberikan sunat (Kej. 17:10), lalu ditambahkan penyucian (Im. 1-10). Inilah sakramen-sakramen orang-orang Yahudi hingga kedatangan Kristus. Dan waktu sakramen itu dihapus, ditetapkanlah dua sakramen yang sekarang dipakai dalam gereja Kristen, yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan (Mat. 28:19; 26:26-28). Namun sakramen Perjanjian Lama itu mempunyai tujuan yang sama dengan Perjanjian Baru, yaitu mengarahkan dan menuntun orang kepada Kristus, atau dengan ditampilkan-Nya sebagai gambaran, agar kita dapat mengenal-Nya. Sakramen Perjanjian Lama terkait erat dengan sakramen Perjanjian Baru sebagai bayangan yang mendapatkan pemenuhannya yang sempurna dalam Kristus. Bagi orang Yahudi, sunat  merupakan simbol yang menegaskan bahwa seluruh natur manusia penuh kecemaran sehingga perlu dibersihkan. Sunat adalah ingatan untuk meneguhkan mereka akan janji Allah kepada Abraham tentang keturunan, yang melaluinya seluruh bangsa di muka bumi akan diberkati (Kej. 22:18; Gal. 3:16). Jadi, sunat bagi orang Yahudi, adalah sama bagi Abraham, yaitu sebagai tanda pembenaran oleh iman (Rm. 4:11). Sedangkan baptisan dan penyucian mengungkapkan tentang kenajisan mereka, sehingga ritus ini membawa mereka kepada suatu janji penyucian lain, yaitu di dalam Yesus Kristus (Ibr. 9:10,14). Dan korban persembahan menyadarkan mereka tentang ketidakbenaran mereka, dan mengajarkan perlunya pemenuhan tuntutan keadilan Allah; bahwa ada imam besar, yang berperan sebagai pengantara antara Allah dan manusia, yang akan membuat dosa-dosa mereka diampuni melalui penumpahan darah korban. Namun di dalam sakramen Kristen, Kristus diungkapkan secara lebih penuh. Dalam sakramen kita, baptisan menegaskan kepada kita bahwa kita telah disucikan dan dibasuh; Perjamuan Kudus, menunjukkan bahwa kita telah ditebus. Sementara air merepresentasikan pembasuhan, dan air menunjukkan pemuasan (tuntutan hukum Allah), Roh Kudus adalah saksi ketiga dan yang utama, yang membuat kita yakin akan kesaksian ini. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.14., disadur oleh syo)

God offers his word indiscriminately to the good and the bad, but it works by his Spirit in the elect … as to the reprobate … it renders them without excuse.

"ALLAH MEMBERIKAN FIRMAN-NYA YANG SAMA KEPADA ORANG YANG BAIK DAN YANG JAHAT, TETAPI FIRMAN-NYA MENGHASILKAN BUAH DALAM DIRI ORANG PILIHAN-NYA MELALUI KARYA ROH KUDUS-NYA … SEDANGKAN DALAM DIRI ORANG YANG DITOLAK-NYA, FIRMAN-NYA ITU MEMBUAT MEREKA TIDAK DAPAT BERDALIH ATAS DOSA MEREKA."

John Calvin.

BAHAGIA, DEKAT DENGAN TUHAN (oleh : Pdt. Bigman Sirait, S.Th.)

Monday, October 24th, 2005

BAHAGIA, DEKAT DENGAN TUHAN

oleh : Pdt. Bigman Sirait, S.Th.

Beragam definisi tentang “kebahagiaan”. Stoa yang hidup di Yunani ratusan tahun silam, misalnya, berpendapat bahwa kebahagiaan diperoleh melalui penderitaan secara terus-menerus. Kebahagiaan kita peroleh jika kita kuat menderita. Dengan kata lain, bagi Stoa, kebahagiaan itu ada pada penderitaan. Artinya, orang harus berani menderita tetapi dalam konteks askese (menyiksa diri). Penyiksaan diri pada tingkat tertentu akan membawa orang menemukan kebahagiaan, demikian pendapat Stoa. Sementara, pemikir lain, Epicuros mengatakan hal yang sebaliknya, bahwa kebahagiaan itu adalah kenikmatan inderawi. Artinya, semua hal yang bisa menye-nangkan tubuh, boleh saja dinikmati, sebab itulah yang disebut dengan kebahagiaan. Selanjutnya pemikiran Epicuros ini berkembang hingga melahirkan istilah hedo-nisme. Dewasa ini, hedonisme identik dengan gaya hidup penuh hura-hura, pesta pora, drugs (narkoba), dan segala hal yang dapat menyenangkan tubuh. “Dengan menikmati ini semua, kita menemukan kebahagiaan,” kata Epicuros.

Belakangan, pemikiran Stoa (stoaisme), tidak terlalu mendapat tempat di tengah-tengah kehidu-pan karena hanya “menjual” penderitaan. Semakin modern kehidupan, semakin tersingkir pula pemikiran Stoa, karena banyak yang berpendapat, stoaisme lebih cocok bagi manusia-manusia jaman dulu, atau orang yang sedang bertapa. Sebaliknya pemikiran Epicuros lebih laku, karena produk di jaman yang semakin maju ini adalah produk hura-hura dan pesta pora. Maka hedonisme di era modern ini adalah konsep pikir yang sangat populer, khususnya di kalangan anak-anak muda. Belakangan, kaum tua pun ternyata banyak yang bersikap sami mawon (sama saja) dengan kaum muda dalam hal menyikapi gaya hidup serba enak seperti yang digagas oleh Epicuros ini.

Kebahagiaan Berdasarkan Alkitab
Lalu, bagaimana kebahagiaan itu menurut pemahaman Kristen? Kebahagiaan atau kesenangan menurut Alkitab, sebetulnya adalah menyangkut posisi, yaitu di mana kita di hadapan Tuhan. Sebuah ilustrasi: jika disuruh memilih, semua orang tentu ingin sehat dibanding sakit. Sebab orang pada umumnya beranggapan bahwa kebahagiaan ada pada saat kita sehat. Dengan kata lain, orang yang sedang sakit tidak mungkin merasakan kebahagiaan. Tetapi jangan lupa, ada orang yang saking sehatnya jadi gemar berbuat dosa. Sementara orang yang sakit-sakitan, karena kondisinya yang sakit-sakitan itu, dia selalu berdoa kepada Tuhan. Dalam ketidakberdayaannya, dia semakin dekat, semakin akrab dengan Tuhan di dalam doa dan perenungannya. Jadi, masalah kebahagiaan itu bukan pada kondisi sehat atau sakit, tetapi seperti apa posisi kita di hadapan Tuhan: bersama dengan Tuhan atau beroposisi dengan Tuhan?

Tetapi banyak orang Kristen sering memperlihatkan mental payah, murahan, sangat jauh dari ajaran Alkitab. Orang-orang bermental seperti ini yang juga selalu sibuk dalam mencari kebahagiaan, mengartikan keba-hagiaan itu hanya sebatas sehat. Bagi mereka, sakit itu adalah sesuatu yang terkutuk, dosa. Sedangkan kemiskinan merupakan aib, dan seterusnya. Terhormatlah mereka yang miskin di dalam kejujuran daripada kaya dengan cara yang tidak benar.

Memang adalah hal yang sangat membahagiakan kalau kita sehat dan ikut Tuhan. Hidup dalam kondisi ekonomi yang berke-limpahan (kaya), dan memuliakan Tuhan, adalah sikap yang sangat tepat. Tuhan tidak anti terhadap kekayaan atau kemiskinan, tetapi jangan mendiskreditkan orang miskin dan orang sakit sebagai orang yang tidak beriman dan berdosa. Ingat, posisi di hadapan Tuhan, itu yang paling penting dalam menilai seseorang itu berbahagia atau tidak.

Rasa bahagia juga adalah aktualisasi daripada iman itu sendiri. Kalau kita memang seorang yang beriman, hal itu harus ter-aktualisasi. Wujudnya bagaimana? Kita berjalan dalam pengharapan menuju kepada kenyataan sampai akhirnya meraih kemenangan. Kebahagiaan bukan terletak pada saat kita menerima, tetapi pada waktu kita memberi. Itulah sebabnya orang yang miskin itu belum tentu kurang merasa berbahagia dibandingkan dengan orang yang kaya.

Banyak orang kaya tidak mampu memberi dalam jumlah yang cukup, sebab dia cuma bisa “berhitung” saja. Sebab dalam memberikan sesuatu, dia juga menuntut penghormatan. Rasa-nya tidak salah untuk mengatakan orang semacam ini sebagai gila hormat. Dia tidak merasa puas jika tidak dihormati orang lain. Dalam rangka ingin dihormati, orang seperti ini tidak merasa rugi menghambur-hamburkan duit ke segala penjuru, membagi-bagi uang ke sana ke mari. Jika uangnya habis, sirna pula rasa kehorma-tannya. Sungguh suatu kebodo-han memang. Sebaliknya, tidak sedikit orang miskin, namun berusaha memberikan apa yang bisa diberikannya. Mungkin bukan uang atau hal-hal berupa materi yang bisa dia berikan, tetapi waktu, kesetiaan, kualitas diri, sikap bisa dipercaya, dan sebagainya. Di dalam kekristenan, bahagia dan menderita adalah paradoks yang absolut dan ada dalam kehidupan. Kebahagiaan ini kita dapatkan justru karena kita berani menyangkal diri. Tetapi menurut teori orang-orang umum, penyangkalan diri adalah sebuah penderitaan dan kehilangan. Tetapi bagi kita, menyangkal diri justru suatu kehormatan, sebab di sanalah letak kebahagiaan itu. Suatu paradoks, memang. Jadi keberhasilan memikul salib di dalam kehidupan kita oleh karena anugerah dan pertolongan Tuhan, itulah kebahagiaan kita.

Kebahagiaanlah yang membuat kita tersenyum sekali pun kita berada di dalam kesulitan yang luar biasa. Realita semacam ini yang memang banyak ditemui. Tetapi ini merupakan kemenangan iman Kristen yang paling solid dan paling kuat. Karena itu, di tengah-tengah perjalanan hidup, sebagai seorang pekerja misalnya, janganlah kita terlalu terikat kepada fenomena-fenomena kesulitan hidup. Teroboslah segala kesulitan itu, dan bertarunglah secara elegan. Jangan cengeng. Jangan melarikan diri dari pertarungan yang sedang kita alami.*

(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

Profil Pdt. Bigman Sirait :

Menikah dengan Greta Mulyati pada tanggal 3 Oktober 1987.

Keluarga ini diberkati Tuhan dengan 3 orang anak : Kezhia Bianta (13-08-88), Keithy Dorothy (23-04-90) dan Kennan Yonathan (04-07-94).

Memulai pelayanan sebagai guru Sekolah Minggu sejak tahun 1981 di GKI Gunung Sahari, kemudian pelayanan Remaja, Pemuda dan pelayanan Kampus sejak tahun 1984.
   

1989

Bersama Bpk. Paul Hidayat MTh. dan rekan sepelayanan mendirikan Yayasan Channel of Blessing / COB (Scholarship bagi mahasiswa STT).

1999

Bersama sdr. Anton Budianto dan sdr. Yuke Sugihono serta rekan-rekan mendirikan Yayasan Misi Kalimantan / MIKA (Pendidikan dan pemberdayaan SDM di Kalimantan Barat).

1999

Bersama ibu Artin Utomo dan rekan-rekan mendirikan Lembaga Aktualisasi Iman Kristen / LAIK (pengadaan kurikulum persekutuan dan pembinaan karyawan).

1995 - 1999

mengikuti pendidikan Theologi di Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII).

1998 - sekarang

Bergabung dan melayani di GKSI dengan mempelopori berdirinya GKSI Antiokhia.


Secara pribadi telah menyusun kurikulum tiga tahun pelayanan taruna (SMP kelas 1 - 3) dan dalam proses penyelesaian kurikulum tiga tahun pelayanan remaja (SMU kelas 1 - 3).

Dalam pelayanan radio telah merekam dan mengkasetkan 25 volume khotbah seri.

Oleh kemurahan Tuhan telah berkhotbah lebih dari 2000 kali dan melayani di berbagai kota di pulau Jawa dan luar Jawa (Medan, Kupang, Alor, Bali dan Kalimantan).

Pelayanan luar negeri di Jerman pada bulan Maret 1999 dan April 2000 (Aachen, Mainz, Köln, Berlin, Mardorf, Danstard, Cottingen).

Ditahbiskan menjadi Pendeta pada tanggal 20 Januari 2000.

Sekarang, beliau menjadi hamba Tuhan di Gereja Presbyterian Indonesia (GPI) Antiokhia, Pemimpin Umum Tabloid REFORMATA (www.reformata.org) dan sedang mengambil program Master of Divinity (M.Div.) di STTRII Jakarta.