Archive for November, 2005

Eksposisi Injil Matius 1 : THE GENEOLOGY-1 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, November 25th, 2005

Ringkasan Khotbah : 25 Januari 2004

The Geneology (1)

Nats: Mat. 1:1-6

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Adalah salah kalau orang menganggap bahwa silsilah yang tertulis dalam Alkitab tidaklah terlalu penting. Prinsip iman kristen menegaskan bahwa segala Firman Allah bersifat kebenaran. Allah tidak pernah mewahyukan Firman dengan sembarangan atau sia-sia. Matius membagi silsilah Kristus menjadi tiga bagian dimana setiap bagiannya terdiri dari 14 keturunan (Mat. 1:17). Sesungguhnya, ada nama-nama lain yang tidak tercantum maka kalau Matius hanya memilih 14 nama, berarti ada keistimewaan dari nama-nama tersebut yang patut kita teladani. Cara Matius menulis silsilah Yesus Kristus berbeda dengan Lukas. Matius meletakkan Abraham di urutan pertama kemudian turun sampai kepada Tuhan Yesus sedang Lukas terbalik, dari Tuhan Yesus terlebih dahulu sampai akhirnya ia menyimpulkan bahwa Yesus adalah anak Allah (Luk.  3:23-38).

Ada misi yang ingin Lukas sampaikan pada para pembacanya, yakni orang-orang non Yahudi bahwa keberadaan Yesus bukan secara tiba-tiba tetapi sudah direncanakan sejak kekekalan oleh Allah. Yesus bukan berasal dari dewa Venus, dewa Merkurius atau dewa-dewa Yunani lain tapi Dia berasal dari Allah Yehovah. Lukas menekankan hal ini karena pada jaman itu, orang selalu mengaitkan silsilah manusia dengan dewa-dewa Yunani. Berbeda dengan Matius, silsilah Yesus dimulai dari Abraham terlebih dahulu karena nama Abraham sangat terkait dengan orang Yahudi. Mereka mengetahui bahwa dari Abraham inilah Allah memilih umatNya untuk menggenapkan kerajaanNya di dunia. Tapi sayang, umat Israel gagal menggenapkan misi tersebut sehingga Allah mengalihkannya pada gerejaNya dengan Kristus sebagai raja.

Allah sangat mengasihi manusia meski manusia berulang kali mendukakan hati Tuhan. Ingat, Tuhan tidak menciptakan manusia untuk berdosa karena kehendak manusia sendirilah ia jatuh ke dalam dosa; manusia mulai melawan Allah, hidup mereka bergelimang dengan dosa. Puji Tuhan, Dia tidak melupakan janjiNya untuk menyelamat-kan manusia. Tuhan menghukum dunia dengan air bah dan menyelamatkan keluarga Nuh. Ironis, kejadian air bah tidak membuat manusia menjadi takut pada Tuhan; anak Nuh kembali berbuat dosa. Dunia selalu mengulang kesalahan yang sama dan jatuh kembali dalam dosa. Tapi Allah itu setia, Dia memilih Abraham untuk menggenapkan rencanaNya yang kekal.

Dan yang lebih mengherankan lagi, manusia mempunyai ide ingin sampai pada Tuhan dengan membangun menara Babel hingga ke langit. Padahal secara nalar semakin tinggi lapisan udara, oksigen akan semakin berkurang. Tuhan membenci kesombongan manusia sehingga Dia memporak porandakan bahasa mereka dan menara Babelpun gagal dibangun. Peristiwa Babel membuktikan bahwa bahasa bukanlah hasil budaya manusia melainkan sarana yang Allah berikan kepada manusia untuk berkomunikasi. Melalui bahasa pula, Allah ingin agar kita memuliakan Dia. 

Nama Abraham yang tertulis dalam silsilah Yesus Kristus menunjukkan sifat Allah, yaitu: 

I. Kedaulatan Allah. Abraham dipilih bukan karena kehebatannya tetapi mutlak karena kedaulatan Allah (Kej. 12). Melalui Abraham inilah konsep kerajaan Allah dan umat pilihan mulai dipahami oleh bangsa Israel. Karena itu, bangsa Israel sangat bangga akan status dirinya. Manusia tidak suka Allah yang berdaulat karena manusia ingin dirinya yang berdaulat dan mendirikan kerajaannya di dunia. Manusia mau mengatur segala sesuatu demi untuk kepentingan sendiri; konsep menara Babel tidak pernah hilang. Alkitab menegaskan kerajaan sejati bukanlah di tangan manusia karena manusia tidak berdaulat dan mempunyai kuasa menjadi Raja atas alam semesta. Konsep kerajaan Allah yang sejati akan kita mengerti kalau kita memahami Dia sebagai Raja yang berdaulat. Kerajaan Allah yang sejati menjadi ancaman tersendiri bagi umat Israel. Mereka tidak menyadari, hidup paling indah justru didapatkan kalau kerajaan Allah digenapkan di muka bumi.

Pengertian kedaulatan berbeda dengan kekuasaan akan tetapi kekuasaan merupakan bagian dari kedaulatan. Di dunia, orang yang mempunyai kekuatan dan kuasa besar seringkali hanya menjadi alat belaka; mereka tidak berdaulat untuk menentukan apapun. Dan, Allah kita adalah Allah yang berdaulat karena itu, manusia tidak suka akan konsep kedaulatan dan menggantinya dengan Allah berkuasa. Kitalah “tuan“ yang berdaulat dan Tuhan “budaknya“ sehingga kita dapat meminta apapun pada Allah yang berkuasa. Konsep ini sama seperti cerita Aladin dan lampu ajaibnya; kuasa jin tunduk dibawah kedaulatan Aladin. Alkitab menegaskan kitalah hamba dan Allahlah Tuhan, Tuan atas segala tuan yang berdaulat/berhak atas hidup kita.

Sebagai orang yang telah dipilih untuk menggenapkan kerajaanNya hendaklah kita bertekad untuk hidup benar dan bukan seperti orang fasik. Kita akan merasakan indahnya kalau kita hidup sebagai orang benar (Ams. 10:16-25). Kita tidak terikat dengan hal-hal duniawi yang menjerat hidup kita. Orang Yahudi sangat ingin membangun kerajaan Allah tapi dengan konsep manusia berdosa dimana manusialah yang berdaulat. Hati-hati, pada mereka yang mengajarkan bahwa suatu hari nanti kita sebagai orang benar akan berkuasa atas orang-orang fasik. Salah! Bayangkan, masalah seperti apa yang akan kita hadapi kalau seandainya kita “orang benar“ menjadi penguasa dan orang fasik sebagai rakyatnya. Bukankah itu akan menjadi  kesusahan tersendiri dalam hidup kita?

Allah berdaulat memilih Abraham untuk menggenapkan kerajaanNya. Karena iman, Abraham taat dan meninggalkan segala milik kepunyaannya menuju tanah perjanjian. Matius ingin agar umat Israel meneladani kembali Abraham, nenek moyangnya. Sudahkah dan maukah anda menjadi seperti Abraham yang taat mutlak pada kedaulatan Allah tanpa mempedulikan harta, kedudukan maupun kekuasaan. Ingat, apa yang pikir manusia baik belum tentu baik bagi Tuhan justru di saat kita merasa diri nyaman, Tuhan panggil kita untuk pergi memberitakan Injil. Bersiapkah anda? Karena Allah mengasihi umat pilihanNya maka Dia akan menguji setiap kita untuk belajar taat perintahNya. Nama-nama yang dituliskan Matius dalam silsilah Yesus bukanlah orang istimewa dalam arti bukan orang yang berdosa. Tidak! Mereka juga manusia berdosa tetapi bedanya adalah mereka taat perintah Tuhan, mereka mencintai Tuhan dan mengerti kedaulatan Allah.

II. Kesetiaan Allah. Tuhan berjanji pada Abraham bahwa dari keturunannyalah akan lahir suatu bangsa yang besar dan banyaknya seperti pasir di laut dan bintang di langit. Secara manusia, hal ini dirasakan oleh Abraham dan Sarah mustahil sebab mereka sudah lanjut usia dan Sarah mandul; mereka mentertawakan janji Tuhan. Ingat, Tuhan tidak pernah berfirman sembarangan dan sia-sia; di balik setiap janji ada rencana indah yang Tuhan sediakan bagi kita dan ketahuilah janji Tuhan bukan untuk kepentingan diri kita sendiri tetapi menyangkut kepentingan orang lain. Jadi, anak yang dijanjikan Tuhan pada Abraham bukan demi untuk kepentingan keluarga Abraham semata. Justru dari keturunan yang dijanjikan inilah akan lahir suatu bangsa besar yang menjadi tempat perwakilan kerajaan Allah di dunia. Itulah sebabnya ketika Matius menuliskan silsilah Yesus Kristus dengan anak Daud, anak Abraham mereka langsung disadarkan bahwa dirinyalah umat pilihan tersebut, bangsa besar yang dijanjikan Allah pada Abraham.

Orang Kristen yang ada di dunia sekarang merupakan penggenapan dari janji Tuhan di Mat. 28:19-20. Kita inilah “Israel Baru“ dimana Allah akan menggenapkan kerajaanNya kembali. Sebagai umat Allah sudahkah kita mengakui Dia sebagai Raja di atas segala raja? Ataukah kita akan seperti umat Israel yang selalu melawan dan tidak percaya janji Allah. Apakah kita hanya memegang janji-janji Tuhan sejauh janji tersebut menguntungkan kita? Dan kita menjadi tidak percaya kalau janji tersebut berkaitan dengan penggenapan kerajaan Allah. Ingat, jangan selalu berpikir pragmatis bahwa setiap janji Tuhan hanya demi untuk kepentingan diri tetapi mulai sekarang cobalah untuk memahami ada rencana Tuhan yang indah dibalik janji tersebut yang Allah maksudkan demi untuk menggenapkan kerajaan Allah di dunia.

Karena ada Abraham maka Ishak, Yakub, Yehuda dan yang lain-lain ada hingga sampailah pada kelahiran Yesus Kristus. Silsilah sangat penting dan membuktikan bahwa Allah setia, Dia tidak melupakan janjiNya.

III. Pemeliharaan Allah. Allah sangat mengasihi umatNya, Dia memelihara perjalanan kerajaanNya sehingga tidak ada satu silsilah yang terputus. Padahal sejarah menunjukkan dari dulu hingga kini orang selalu ingin membinasakan umat Allah. Seperti, di jaman Musa, Ester, dan masih banyak lagi. Kalau hari ini orang kristen masih ada itu semua tidak lepas dari rencana kekal Allah. Sesuatu yang bersifat kekal tidak boleh berubah; ia tidak terkena proses waktu atau ruang. Allah kita adalah Allah yang kekal. Banyak orang yang mempertanyakan kekekalan Allah dan mengaitkannya dengan Hizkia. Kalau Allah kekal kenapa Allah bisa berubah ketika Hizkia meminta perpanjangan umur dalam doanya? Pertanyaan tersebut hanya membuktikan satu, yaitu orang tersebut tidak mengerti Firman. Ingat, doa tidak bisa merubah Tuhan. Kalau Tuhan bisa berubah berarti Dia tidak kekal.

Doa Hizkia (2 Raj. 20:1-6) lebih indah dibandingkan dengan doa Yabes yang hari ini banyak dibicarakan. Untuk memahami doa Yabes maka kita harus mengerti konteksnya secara keseluruhan. Jawaban yang Tuhan berikan pada Yabes sangat unik; dia mengalami penderitan berat di situasi yang sulit karena itu Tuhan memberikan suatu timbal balik yang seimbang. Berbeda dengan Hizkia, justru dari vonis mati ini muncul doa yang indah dari Hizkia. Kita perlu mengevaluasi diri bisakah kita berdoa seperi Hizkia? Hizkia adalah seorang yang sangat mencintai Tuhan, ia seorang yang setia dan hidup dengan tulus hati. Di jaman sekarang ini, masih adakah seseorang yang menjelang ajalnya berani mengatakan bahwa seluruh hidupnya tidak tercemar dan telah melakukan apa yang baik di mata Tuhan? Mempunyai hidup yang berkenan di mata Tuhan bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan waktu yang panjang sehingga Hizkia dapat memberikan pertanggung jawaban yang baik pada Tuhan.

Tuhan berketetapan memberikan perpanjangan umur 15 tahun lagi pada Hizkia dan itu berarti ada rencana Tuhan yang indah, yakni kelahiran anaknya Manasye. Setelah melewati 3 tahun perpanjangan umur lahirlah Manasye dan ia menggantikan ayahnya menjadi raja di usia 12 tahun (2 Raj. 21:3). Jadi, perpanjangan umur tersebut sudah ada dalam rencana kekal Allah. Kalau umur Hizkia tidak diperpanjang maka tidak akan lahir Manasye, tidak akan ada Amon dan tentu saja tidak akan ada silsilah Yesus Kristus (Mat. 1:3). Manusia berulang kali mencoba menggagalkan rencana kekal Allah seperti di jaman Ester dimana Haman mencoba membinasakan seluruh bangsa Yahudi. Bayangkan, andai seluruh bangsa Yahudi binasa, tentu Kristus tidak akan lahir. Puji Tuhan, Dia memelihara kerajaanNya mulai dari dulu hingga kini. Seperti kita ketahui, kekristenan begitu dibenci orang di sepanjang sejarah; mereka berusaha membinasakan anak-anak Tuhan tapi Allah tidak pernah tinggal diam; Dia memelihara umatNya.

Bahkan providensia umum Allah masih menyertai bangsa Yahudi hingga kini. Tuhan tidak pernah melupakan jasa mereka sehingga Tuhan tidak membiarkan bangsa ini menjadi punah. Ingat, kalau sampai hari ini Tuhan masih berkenan memelihara hidup kita, itu karena Tuhan menginginkan agar kita menjadi saksiNya dan memuliakan namaNya. Jangan terjerat dengan janji-janji manis yang ditawarkan dunia; itu semua hanya tipuan kita. Hati-hati, ketika ketaatanmu pada dunia merusak relasimu dengan Tuhan maka itu berarti tanda bagi anda untuk menghentikan ketaatanmu pada dunia. Apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah semuanya itu demi untuk menggenapkan rencanaNya, yakni mendirikan Kerajaan Allah yang sejati di dunia. Tuhan ingin agar kita mengutamakan Dia dalam hidup kita dan itu semua adalah demi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : www.griis.org

Profil Pdt. Sutjipto Subeno :

Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1959. Beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan ketika sedang kuliah di Fakultas Teknik Elektro Universitas Trisakti Jakarta. Menyelesaikan studi Sarjana Theologi-nya di STT Reformed Injili Indonesia di Jakarta tahun 1995 dan tahun 1996 menyeleselaikan gelar Master Divinity-nya di sekolah yang sama.

Setelah pelayanan di Malang dan Madura, sejak tahun 1990 beliau bergabung dengan Kantor Nasional Lembaga Reformed Injili Indonesia di Jakarta. Beliau melayani di bidang literatur yang meliputi penerjemahan dan penerbitan buku-buku teologi. Selain itu beliau juga mengelola Literatur Kristen Momentum di Jl. Tanah Abang III/1 (sejak tahun 1993) dan di Jl. Cideng Timur 5A-5B (sejak tahun 1995).

Beliau ditahbiskan sebagai pendeta pada Mei 1996 dan mulai Juni 1996 menjadi gembala sidang GRII Surabaya. Selain sebagai gembala sidang, saat ini beliau juga sebagai direktur operasional dari penerbitan dan jaringan toko buku Momentum, direktur dari Sekolah Teologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) di Andhika, Surabaya dan direktur International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS), sebuah sekolah teologi korespondensi untuk awam berbahasa Indonesia dengan jangkauan secara internasional. Selain itu beliau adalah dosen terbang di STRI Jakarta dan Institut Reformed di Jakarta.

Beliau juga banyak melayani kotbah dan seminar di berbagai gereja, persekutuan kampus dan persekutuan kantor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri; seperti Yogyakarta, Palembang, Batam, Singapura, Australia dan Eropa (Jerman dan Belanda).

Beliau menikah dengan Ev. Susiana J Subeno dan dikaruniai dua orang anak bernama Samantha Subeno (6 tahun) dan Sebastian Subeno (3 tahun).

Eksposisi Injil Matius 1 : THE KINGDOM (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, November 18th, 2005

Ringkasan Khotbah : 18 Januari 2004

The Kingdom

Nats: Mat. 1:1

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Banyak orang yang memperdebatkan injil Matius ataukah injil Markus yang terletak pada bagian pertama dari kitab Perjanjian Baru. Higher Criticism tidak percaya Alkitab adalah Firman Tuhan sehingga muncullah berbagai isu tentang kitab-kitab dalam Alkitab, seperti sumber penulisan Matius diambil dari injil Markus yang isinya lebih pendek. Mereka juga berpendapat bahwa tulisan Matius dan Markus diambil dari sumber Quele, yakni sumber yang diambil secara lisan, tradisi, budaya, dll. Alasan itulah yang meyakinkan mereka kalau Markus seharusnya diletakkan di urutan pertama sedang Matius di urutan kedua dalam PB. Namun mereka yang tetap setia dan berpegang pada Firman justru berpendapat lain yakni Matius atau Lewi, seorang pemungut cukai memperoleh anugerah menjadi murid Tuhan Yesus dan hidup bersama-sama denganNya selama kurang lebih tiga tahun maka tidak menutup kemungkinan kalau Matius mendapat informasi dari orang lain akan tetapi injil Matius tidak harus bergantung dari injil yang lain.

Banyak terjadi kesimpang siuran apakah Markus ditulis terlebih dahulu dari Matius atau sebaliknya tetapi menurut penafsiran perbedaan kedua injil tersebut ditulis tidak terlalu jauh yaitu sekitar tahun ah Tuhan Yesus naik ke surga. Pada saat itu konsep pengenalan orang terhadap Kristus sudah mulai beragam sehingga Matius merasa perlu untuk mengembalikan tatanan tersebut. Tulisan Matius ditujukan untuk orang Yahudi sedang injil Markus untuk orang non Yahudi itulah sebabnya kata-kata yang sensitif bagi orang Yahudi seperti kata “Allah“ ditulisnya dengan bebas. Berbeda dengan Matius yang mengganti kerajaan “Allah“ dengan kerajaan “Surga“. Bagi orang Yahudi, surga sudah berkonotasi tentang Allah; mereka tidak mau menyebut kata “Allah“ karena mereka takut melanggar hukum Taurat yang berbunyi “jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan…“ (Kel. 20:7). Matius juga merasa tidak perlu menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi orang Yahudi karena dia beranggapan pembacanya adalah orang Yahudi berbeda dengan Markus yang menjelaskan secara terinci mengenai tradisi Yahudi karena para pembacanya kebanyakan bukan dari kalangan Yahudi.

Kekristenan pertama kali berkembang di Israel di antara orang Yahudi sehingga dapatlah disimpulkan injil Matius ditulis terlebih dahulu dari Markus. Setelah perjalanan Paulus keluar barulah kekristenan menyentuh orang-orang non Yahudi, yaitu sekitar tahun 50-an menjelang sidang raya di Yerusalem. Adalah salah jikalau ada pendapat yang mengatakan injil tidak perlu ada empat dan mempertanyakan kenapa isi keempat injil tersebut berbeda. Justru sebaliknya kalau sama lalu kenapa injil ada empat? Untuk menyoroti pribadi atau otobiografi Kristus tidak cukup hanya satu orang saja. Bahkan empat pandangan mengenai Kristus tersebut sangatlah terbatas. Injil adalah sebuah biografi maka semua peristiwa harus berpusat dan berkait pada tokoh biografi tersebut. Keempat injil dalam Alkitab menyoroti Kristus sebagai pusat, melihat bagaimana Kristus hidup dan berkarya di tengah dunia dimana setiap injil mempunyai keunikan tersendiri yang berbeda dan saling melengkapi tetapi tetap berpusat pada Kristus.

Keunikan injil Matius berbicara tentang kerajaan surga, the true Kingdom berkaitan dengan seluruh sejarah yang sedang dipergumulkan oleh bangsa Israel. Bangsa Yahudi sangat mengerti dengan istilah kerajaan surga meskipun pengertiannya salah. Kalimat pertama dari injil Matius sangat signifikan karena menentukan isi keseluruhan tulisannya, yaitu tentang hal “Kerajaan Surga“. Di sepanjang injil Matius kita akan menjumpai banyak istilah “kerajaan“ mulai dari pasal 3 s/d 26. Hanya tiga pasal, yakni di pasal 14, 15 dan 17 istilah “kerajaan“ hilang meskipun konsepnya sama. Matius menulis silsilah Yesus yakni Kristus atau sama dengan Mesias, anak Daud, anak Abraham menjadi inti iman Kristen.

I. “Yesus Kristus“

Kedatangan Mesias, Raja yang akan memerintah sangatlah diharapkan bangsa Israel hingga kini. Kalimat pembuka injil Matius berbicara mengenai konsep anak Daud, raja yang dijanjikan dan di akhir tulisannya berbicara tentang kerajaan Allah yang bersifat am dan semesta dimana kuasa di surga dan di bumi ada di tanganNya (Mat. 28:18-20). Istilah kerajaan muncul sebanyak 162 kali di seluruh kitab PB dan khusus di injil Matius istilah kerajaan muncul sebanyak 55 kali berarti 1/3 dari keseluruhan. Matius banyak berbicara mengenai hal kerajaan surga karena ia ingin menyampaikan berita bahwa kehadiran Kristus  adalah untuk menggenapkan kerajaan surga di dunia.

Berita pertama ketika Kristus melayani, yaitu “Bertobatlah karena kerajaan surga sudah datang.“ Matius ingin mengajak seluruh pembaca masuk ke dalam tema yang sentral. Kerajaan surga yang sejati yaitu kerajaan yang teokrasi dengan Kristus yang menjadi raja atas umatNya; Dia yang akan memimpin umatNya, memelihara umatNya dan Ia hanya menginginkan agar umatNya taat akan semua perintahNya. Tuhan adalah raja yang tidak dibatasi oleh tempat dan waktu. Berbeda dengan konsep ilah yang ada pada diri manusia, yakni hanya terbatas pada satu tempat tertentu. Allah ingin agar kita menjadikanNya Raja di atas segala raja dalam hidup kita, God is our King.

Allah tahu setiap penderitaan yang dirasakan oleh umatNya di Mesir. Memang terkadang sepertinya Tuhan membiarkan kita di dalam penderitaan tapi di balik penderitaan itu percayalah ada rencana indah yang Tuhan persiapkan. Karena Dia Raja maka Dia berhak melakukan semuanya itu tapi bukan berarti Tuhan diam dan membiarkan umatNya berada dalam penderitaan. Tidak! Allah tetap memperhatikan umatNya; Ia membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Firaun merasa diri kuat dan berkuasa akan tetapi kuasa kedaulatan Tuhan lebih besar dari kuasa manapun dan siapapun. Tuhan memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian yang penuh melimpah dengan susu dan madu dengan cara yang ajaib seperti mujizat manna, laut terbelah dua, dll. Ironisnya, mujizat tersebut tidak membuat mereka berterima kasih; mereka justru protes dan berkeluh kesah.

Itulah sifat manusia berdosa yang tidak percaya pada pemeliharaan Tuhan yang maha Agung; Tuhan telah mengatur segala sesuatunya cukup bagi kita, tidak kekurangan ataupun kelebihan. Manusialah yang serakah selalu merasa kurang. Bangsa Israel adalah bangsa yang bebal dan tegar tengkuk, padahal Tuhan Raja Semesta Alam sendiri yang memimpin mereka keluar namun mereka justru menginginkan raja dunia. Secara logika, raja dunia tidak lebih baik; bukankah raja-raja di dunia justru sangat menyengsarakan rakyat? Alasan yang paling rasionalpun tidak dapat mereka mengerti. Itulah sebabnya Matius ingin agar umat Tuhan kembali pada Kerajaan sejati yang dipimpin oleh Raja yang sejati.

II. “Anak Daud“

Matius menuliskan silsilah Yesus Kristus sebagai anak Daud untuk mengingatkan kembali kerajaan Mesianic yang ingin Allah genapkan, Mesias yang lahir dari keturunan Daud. Yang menjadi pertanyaan kenapa harus Daud dan bukan Saul, Salomo atau raja yang lain? Daud merupakan raja yang diperkenan Allah padahal kalau kita perhatikan secara humanistik seharusnya Salomo dan Saul lebih baik. Secara manusiawi, kerajaan Salomo lebih besar dan jaya, dia mempunyai kepandaian dan bijaksana yang tidak dimiliki raja lain. Pada jaman pemerintahannya tidak ada peperangan dan rakyat hidup sejahtera bahkan Tuhan memilih Salomo untuk mendirikan Bait Allah. Manusia melihatnya sebagai raja yang baik tetapi Tuhan tidak melihatnya demikian. Sejarah membuktikan, kehancuran Israel dimulai setelah pemerintahan Salomo karena dia gagal mendidik anak-anaknya takut akan Tuhan.

Begitu juga kalau dibandingkan dengan Saul, kepemimpinannya masih lebih baik dibandingkan dengan Daud. Sejarah menunjukkan Saul tidak pernah berbuat salah ketika memimpin, ia selalu menang dalam peperangan dan ia sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan dia lebih memilih tidak mematuhi perintah Tuhan demi untuk mendapatkan simpati dari rakyat ketika Tuhan memerintahkan agar seluruh harta, binatang dan segala bentuk materi apapun untuk dimusnahkan. Kesalahan fatal yang dibuat Saul yaitu dia telah menganggap remeh perintah Tuhan dan ia mengambil alih semua perintah Tuhan.

Bagaimana dengan Daud? Di masa pemerintahannya banyak terjadi peperangan, bahkan dengan akal liciknya dia mengatur siasat demi untuk mendapatkan seorang wanita, istri panglimanya. Secara manusia kita menilai Daud memiliki moral yang rusak, bukan? Akan tetapi cara berpikir manusia berbeda dengan Tuhan. Daud adalah seorang yang sangat mengasihi Tuhan bahkan dia rela mengorbankan apapun juga demi untuk Tuhan. Ingat, bukan berarti kita boleh melakukan kejahatan asal berkenan pada Tuhan. Tidak! Karena Tuhan setia dan adil; Dia setia mengampuni dosa tetapi Dia akan menghukum setiap perbuatan yang kita lakukan. Tuhan menghukum Daud atas perbuatannya.

Inilah konsep Mesianis yang Tuhan inginkan agar kita mengutamakan Dia sebagai Raja dalam hidup kita. Sebagai seorang raja, Daud sangat memahami bahwa ada Raja sejati, Raja di atas segala raja. Hal ini sangat dipahami oleh Matius itulah sebabnya dia menuliskan silsilah Yesus sebagai anak Daud. Bagaimana dengan hidup kita? Di tengah tantangan dunia yang menghimpit sudahkah anda mengutamakan Kristus sebagai yang terutama dalam hidup kita? Janganlah kamu kuatir tetapi bersandarlah padaNya, Tuhan pasti memelihara hidup kita, Dia adalah Mesias, Raja di atas segala raja.

III. “Anak Abraham“

Merupakan kebanggaan orang Israel kalau mereka disebut sebagai keturunan Abraham karena dari sinilah pengertian mereka sebagai umat pilihan dicerahkan. Konsep predestinasi, Allah memilih umatNya muncul dalam diri Abraham. Mulai dari Abraham inilah berdiri bangsa Israel; Abraham menyadari anugerah Tuhan ini sehingga ia taat dan ketika Tuhan memerintahkannya untuk meninggalkan tanah kelahirannya menuju tanah perjanjian. Abraham percaya mutlak pada janji Tuhan itulah sebabnya Abraham disebut sebagai Bapa orang beriman. Ironisnya, hari ini banyak orang yang lebih percaya janji manusia meski selalu ingkar daripada janji Tuhan yang pasti dan amin.

Bangsa Israel tidak menghargai anugerah Tuhan yang telah menjadikan mereka sebagai umat pilihan. Bangsa Israel tidak mau dipimpin oleh Raja sejati, mereka hanya membutuhkan Tuhan ketika mereka sedang dalam kesulitan saja. Akibatnya Tuhan menghentikan perjanjianNya dengan Abraham dan sebagai gantinya Dia memindahkannya pada orang-orang yang mau kembali pada kerajaan yang sejati. Bangsa Israel seharusnya belajar dari iman Abraham yang percaya mutlak pada kedaulatan Tuhan. Iman Abraham diuji ketika dia harus mengorbankan satu-satunya keturunan, anak yang dijanjikan Tuhan. Sebab Abraham tahu, Allah yang berdaulat tidak pernah ingkar janji maka kalaupun ia meminta Ishak untuk dikorbankan pastilah ia akan membangkitkannya kembali.

Kalau Abraham percaya penuh janji Tuhan lalu bagaimana dengan saudara? Janganlah mudah digiurkan oleh semua janji-janji manis yang ditawarkan dunia tapi percayalah dan bersandarlah hanya pada Tuhan. Sebab Dia tidak pernah lupa janjiNya dan hal ini telah teruji (Mat 1:17). Matius ingin menunjukkan satu hal bahwa Tuhan berkuasa atas sejarah. Ingat, Tuhan bukanlah budak kita karena itu jangan mempermainkan Tuhan demi untuk kepentingan dirimu sendiri. Sebagai seorang warga kerajaan surga hendaklah kita taat dipimpin oleh Kristus yang adalah Raja di atas segala raja. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : www.griis.org

Setiap hari Sabtu, Friendster Blog di halaman REFORMED-INJILI, saya akan mendownload dan memasukkan pelajaran eksposisi Alkitab dari Injil Matius yang dikhotbahkan di mimbar GRII Andhika, Surabaya oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

(gembala sidang GRII Andhika, Surabaya)