Archive for December, 2005

Eksposisi Injil Matius 1 : THE GENEOLOGY-5 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, December 30th, 2005

Ringkasan Khotbah : 22 Februari 2004

The Geneology (5)

Nats: Mat 1: 7-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Hari ini kita kembali merenungkan bagian ketiga, yaitu  bagian terakhir dari silsilah Yesus Kristus yang setiap bagiannya ada 14 keturunan (3 bagian x 14 keturunan). Alkitab tidak pernah menuliskan hal-hal yang tidak penting tidak terkecuali silsilah. Orang selalu menganggap bahwa silsilah tidak terlalu penting dan membosankan. Salah! Karena silsilahpun memang Tuhan wahyukan demi untuk kebaikan manusia; ada arti atau makna yang dalam di balik nama-nama tersebut. Jadi, semua yang tertulis dalam Alkitab adalah kebenaran mutlak dan Alkitab tidak mungkin bersalah maka kalau sampai terjadi kesalahan dalam menafsirkan Alkitab, kesalahan ada pada diri kita bukan pada Firman Tuhan. Dunia modern membuat orang Kristen selalu berpikir pragmatis; orang tidak mau berkorban harta dan waktu demi untuk memperoleh kebenaran sejati yang terdapat dalam Alkitab. Orang hanya menginginkan segala sesuatu secara instant. Setiap orang Kristen hendaklah mempunyai hati yang selalu ingin belajar sehingga kita dapat saling membangun dan gereja dapat bertumbuh.

Bukan suatu kebetulan atau tanpa tujuan Matius membagi silsilah Yesus Kristus menjadi tiga segmen di dalam seluruh sejarah perencanaan Allah (Mat. 1:17). Segmen pertama, Tuhan memakai orang-orang patriakh untuk menegakkan umatNya; segmen kedua, Tuhan memakai orang-orang dari keturunan kerajaan; dan segmen ketiga, Tuhan memakai orang-orang yang beriman dan masih setia di tengah-tengah reruntuhan umat Israel setelah pembuangan di Babel. Sejak masa pembuangan, bangsa Israel mengalami masa-masa sulit; mereka dijajah terus menerus sehingga iman mereka terombang ambing dan pada saat yang sama Tuhan berhenti berfirman kurang lebih 400 tahun lamanya. Puji Tuhan, ternyata Allah tidak diam; Ia tetap menjaga sejarah KerajaanNya. Tuhan memilih 14 keturunan yang beriman kokoh dan setia untuk meneruskan garis benang merah sejarah kerajaanNya diantara mereka yang sudah mulai melupakan Allah.

Ayat 17 merupakan titik penghubung antara ayat 16, yang berbicara tentang kehadiran Kristus dengan ayat 18 yang berbicara tentang bagaimana kelahiran Kristus. Beberapa penafsir berpendapat bahwa Matius sepertinya “memaksakan“ angka 14 karena di setiap bagian sebenarnya ada lebih dari 14 nama. Catatan sejarah dalam Alkitab berbeda dengan catatan sejarah manusia. Alkitab hanya mencantumkan nama-nama yang mengandung makna dan mempunyai signifikansi; mereka yang tidak mempunyai nilai akan dihilangkan dari catatan sejarah. Pada hakekatnya, manusia tidak suka bila ditiadakan atau dianggap tidak ada, keberadaannya tidak berpengaruh apapun. Celakanya, kalau keberadaan seseorang tersebut sangat menganggu lingkungan sekitar dan ketika dia tidak ada justru menjadi kelegaan bagi orang di sekitar. Manusia dicipta dengan tuntutan makna karena itu jadikanlah hidupmu penuh makna sehingga nama kita ada dalam catatan sejarah Kerajaan Allah.

Matius ingin menyampaikan berita kebenaran, yaitu perjanjian (covenant) Allah dengan Abraham tetap berlangsung dan digenapi dalam Kristus Yesus. Jadi, Kristus merupakan titik pusat dari covenant karena itu Matius meletakkannya di tengah (ay. 16). Untuk lebih jelasnya, kita harus kembali pada teks Alkitab yang asli yang hanya berisi tulisan, tanpa pasal, ayat ataupun judul maka kita akan melihat ayat 16 berada tepat di tengah antara ay. 1 - ay. 25. Adanya pasal, ayat dan judul dalam Alkitab dapat menguntungkan sekaligus merugikan, yaitu memudahkan bagi kita dalam membaca tapi juga dapat memotong pemikiran dalam Alkitab yang sebenarnya mengalir.

Beberapa penafsir berpendapat, angka 14 hanyalah simbol. Dalam beberapa aspek ini bukan sekedar simbol, Matius memang sengaja meletakkan 14 nama di setiap bagiannya. Empat belas keturunan di bagian ketiga dianggap yang paling sulit karena mereka harus mempertahankan imannya di tengah dunia yang sudah mulai kehilangan iman. Pada jaman itu banyak tekanan, ancaman, penjajahan dan konsep-konsep dunia yang mulai menyimpang dari Firman maka tidaklah heran kalau muncul golongan Parisi, golongan 

Saduki, golongan Herodian, dan lain-lain. Signifikansi Matius mencantum 3 x 14 pada silsilah Yesus Kristus :

1. Gambaran Kesempurnaan (The Perfectness) Pekerjaan Allah.

Di satu aspek manusia mengaku beriman dengan sungguh namun pada saat yang sama manusia seringkali meragukan Tuhan karena pertolongan Tuhan yang datang tepat waktu justru dirasakan sebagai keterlambatan. Pada saat kita tidak bersandar mutlak pada Tuhan maka pada saat itu juga keyakinan, confidence kita mulai goyah sehingga dengan mudah iblis akan menguasai kita. Hati-hati, janganlah engkau merasa  yakin bahwa engkau mempunyai iman yang kuat karena pada saat itulah justru menampakkan bahwa imanmu sudah mulai goyah. Iman dan keyakinan merupakan dua hal berbeda. Kalau kita menggabungkan iman dan keyakinan maka kita masuk dalam empirisme dimana pengalaman dianggap sebagai iman. Sesungguhnya, iman menghasilkan pengalaman dan iman menghasilkan keyakinan bukan sebaliknya. Kesalahan yang fatal, kalau kita menggabungkan keduanya seperti yang dilakukan oleh aliran karismatik dan positive thinkers.  Orang tidak mengerti definisi iman dan keyakinan dengan tepat maka wajarlah kalau mereka menjadi sesat.

Melalui tulisannya Matius ingin agar para pembacanya mempunyai kebenaran iman sejati yang berobyek pada Kristus yang adalah sempurna. Jangan pernah berpikir bahwa kerajaan Tuhan bisa digagalkan di tengah dunia ini. Tuhan sudah mengatur sejarah kerajaanNya sedemikian rupa dengan sempurna. Allah berfirman bahwa akan datang seorang Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan maka hal itu pasti terjadi. Tidak ada satu manusiapun yang dapat menggagalkan rencana Allah. Dia adalah Allah sang pemilik sejarah; Dialah yang memulai dan yang sekaligus mengakhiri sejarah dunia ini. Janganlah mudah tergoda dengan berbagai macam iman yang ditawarkan dunia. Iman yang ditawarkan dunia tidak akan membawa kita pada kesempurnaan.

Sebagai contoh, Kant mengemukakan bahwa tidak ada satupun obyektifitas iman di dunia yang perlu untuk manusia percayai. Salah! Masih ada obyektifitas iman yang dapat kita percayai, yaitu Firman yang mengajarkan kesempurnaan iman. Matius menawarkan kerajaan surga yang sempurna yang dihadirkan dalam diri Kristus yang adalah sempurna. Kerajaan surga yang Allah janjikan berbeda dengan kerajaan dunia. Sepintas lalu, manusia melihat kesuksesan raja-raja dunia, seperti Saul, Daud dan Salomo. Ternyata masa kejayaan Raja Salomo tidak berlangsung selamanya; kerajaan Israel mulai hancur, terpecah belah dan saling bermusuhan sampai akhirnya nama Yekhonya (bukan raja) yang tertulis dan berakhir di pembuangan. Inikah kerajaan dunia yang dibanggakan oleh manusia? 3 x 14 menggambarkan kesempurnaan total kerajaan Surga; Kristus Juruselamat yang dijanjikan itu lahir.

2. Gambaran Kesempurnaan Total Rencana Allah, Total Planning of God.

Angka 7 mempunyai arti yang sangat istimewa bagi orang Yahudi, 3×14=3×2x7. Angka 7 merupakan gambaran sempurna maka tidaklah heran orang Yahudi sangat suka dengan kelipatan 7. Tuhan mencipta 7 hari lamanya dan Tuhan menguduskan pada hari ke-7.  Bahkan sampai hari ini kelipatan 7 menjadi angka sempurna, bukankah dalam kalender ada 7 hari yang dimulai dari Minggu dan berakhir di hari Sabtu? Petrus memulai khotbah penginjilan yang pertama, yaitu berita tentang Kristus Juruselamat pada hari Minggu dan di hari yang sama itu 3000 orang bertobat. Tapi sayang, hari ini justru banyak orang Kristen tidak berani secara terang-terangan memberitakan kebenaran bahwa kita adalah manusia berdosa dan hanya melalui Yesus Kristuslah kita diselamatkan. Orang Kristen ketika memberitakan injil justru menghilangkan inti berita dan mereka justru menawarkan hal-hal duniawi seperti kesembuhan, kemakmuran, dan lain-lain. Iman Kristen yang kehilangan esensi Kristus bukanlah iman sejati.

Angka 6 menggambarkan manusia yang dicipta pada hari ke-6; angka 7 menggambarkan kerajaan Allah; angka 3 menggambarkan Allah Tritunggal. Itulah sebabnya Matius memakai angka 3×2x7. Matius mengkontraskan antara angka manusia dengan angka Allah. Angka 666 (enam ratus enam puluh enam) yang tertulis dalam Wahyu melambangkan kesempurnaan manusia. Matius membukakan pikiran para pembacanya agar mempunyai cara pandang yang berbeda, yaitu dari memikirkan hal yang bersifat manusia ke hal yang bersifat Allah. Sejak awal Matius telah memberitakan tentang hal Kerajaan meski kata “Kerajaan“ baru muncul di pasal 3. Tuhan ketika berencana, Dia pasti merencanakan secara totalitas. 3 x 14 menunjukkan tatanan yang simultan yang menggabungkan seluruh aspek dan mencakup semua unsur. Ini merupakan total planning dimana Tuhan merencanakan kerajaanNya.

Manusia yang tidak mau taat pada rencana Allah maka dia akan terbuang dari sejarah. Pembentukkan Kerajaan Allah harus melewati sejarah yang bersifat totalitas. Cara Tuhan membentuk hidup anak-anakNya sangatlah unik; terkadang Tuhan mengijinkan manusia untuk mengalami kesusahan dan penderitaan terlebih dahulu sebelum ia mengalami kesuksesan. Tuhan membentuk Musa, Daud, Yusuf dan masih banyak lagi melalui penderitaan dan tantangan berat sebelum akhirnya mereka menjadi berhasil dan mempunyai hidup yang bernilai. Hal ini sangat disadari Socrates bahwa hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dihidupi, unexamined live unworth living.

Seseorang dapatlah dikatakan “sukses“ bila: pertama, dapat melewati setiap ujian dalam hidupnya. Hal ini tidaklah mudah hanya kekuatan Tuhan saja yang dapat memampukan kita. Tetaplah bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus meski kita berada dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Jangan pernah berkompromi dengan iblis. Ingat, saat kita mengalami ujian dalam hidup, Tuhan tahu seberapa kekuatan kita (I Kor. 10:13). Tuhan memberikan batasan pada iblis ketika Ayub hendak dicobai. Kita tidak akan pernah tahu seberapa kekuatan iman kita kecuali kalau kita melewati kesulitan tersebut. Kedua, tidak menjadi lupa diri ketika ia berada di kesuksesan. Setiap orang pasti ingin sukses akan tetapi kesuksesan tanpa disertai iman yang kuat akan membuat kita mudah jatuh dalam dosa. Pada umumnya, orang akan beriman dengan sungguh ketika ia berada dalam kesusahan tapi ia akan melupakan Tuhan ketika berada dalam kesuksesan. Jangan pernah berpikir bahwa kekayaan menjadikan hidup kita nikmat. Tuhan akan memberikan kekayaan ketika Dia merasa kita sudah cukup kuat menanggungnya dan Tuhan tahu sampai dimana kekuatan kita. Fakta menunjukkan kekayaan tidak membuat hidup menjadi nikmat tetapi justru mematikan iman, merusak hubungan antar manusia, dan membunuh diri kita sendiri. Karena itu, benarlah kalau Tuhan Yesus mengajarkan berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya supaya kita tidak mencuri dan mencemarkan nama Tuhan atau kita tidak menyangkali Tuhan ketika kita kenyang (Ams. 30:8-9).

Sejarah adalah ceritanya Tuhan, history is His story. Sejarah selalu mempunyai 2 unsur, yaitu sejarah utama dan sejarah figuran. Kita berada di posisi yang mana? Kalau kita ingin menjadi pemeran utama dalam sejarah Kerajaan Allah maka taatlah dan bersandarlah hanya kepadaNya; Ia akan membentuk hidup kita secara total. Sayangnya, hari ini banyak orang tidak suka untuk dibentuk; kita mulai melarikan diri dari Tuhan. Ingat, setiap penderitaan yang kita alami memang Tuhan maksudkan untuk membentuk kita supaya semakin serupa Kristus. Iman Kristen bukanlah iman yang fanatisme akan tetapi kita tahu dengan pasti kenapa kita hanya beriman pada Kristus, the King of kings yang diturunkan dari 3×14. Karena itu jangan pernah sekalipun imanmu goyah dan meninggalkan Tuhan supaya penuh sukacitamu. Kristus adalah Raja di atas segala raja maka Dia pasti memperhatikan dan memelihara setiap umatNya. Dan hanya Kristus satu-satunya kekuatan dan Juruselamat yang kepadaNya kita dapat berharap. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Bina Iman Kristen-42 : EMPIRICISM : THE SOURCE OF KNOWLEDGE (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, December 30th, 2005
Ringkasan Khotbah : 30 Januari 2004

Empiricism: The Source of Knowledge

Nats: Rom 1:17, 10:1-3, Mat 7:21-23

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pada akhir perang dunia ke-2 yang berawal dari Inggris muncullah epistemologi empiricism yang dalam perjalanannya ternyata sangat mempengaruhi hingga ke seluruh dunia. Epistemologi empiricism adalah bagaimana pengetahuan atau kebenaran didapatkan/dibangun melalui pengalaman. Jadi ketika seseorang diberitahu oleh orang lain tentang sebuah kebenaran, dia tidak akan mau percaya hingga dia mengalaminya sendiri. Dan ketika dia mengalami sesuatu yang berlawanan dengan Alkitab, orang tersebut akan lebih percaya pengalamannya daripada Firman Tuhan. Orang seperti itu selalu memutlakkan pengalamannya sebagai satu-satunya kebenaran. Problem yang paling utama disini adalah masalah sumber pengetahuan.

Rasul Paulus rupanya cukup mengenal masyarakat Roma. Dia tahu bahwa masyarakat Roma bukanlah orang pengangguran melainkan mereka adalah orang-orang yang sangat giat “melayani” Tuhan. Tetapi kenapa  Paulus berdoa agar sekiranya mereka diselamatkan ? karena mereka telah bekerja dengan semangat tinggi tetapi digunakan dengan pengertian yang salah. Betapa kasihan orang seperti ini. Mereka pikir mereka mengetahui padahal mereka tidak tahu bahwa mereka sedang tidak mengetahui. Jadi bagaimana caranya kita mengetahui kalau kita mengetahui ? inilah yang disebut epistemologi.

Satu alasan kenapa orang-orang yang didoakan oleh Paulus belum diselamatkan adalah karena mereka telah kehilangan akan kebenaran Allah. Kenapa harus mengenal kebenaran Allah terlebih dahulu ? karena Allah adalah sumber kebenaran sejati. Mereka telah kehilangan sumber kebenaran yang sejati tetapi mereka tetap perlu kebenaran, itu sebabnya mereka membangun kebenaran sendiri. Dengan kalimat lain, mereka sudah tidak tunduk kepada Allah dan tidak takluk kepada kebenaranNya. Dalam dosa seperti ini hanya ada 2 kemungkinan : pertama, mereka mungkin bertobat karena berita injil yang mempunyai kekuatan untuk menghancurkan segala konsep pikiran mereka yang salah. Kedua, mereka tetap tidak mau bertobat bahkan hingga didepan pengadilan Allah mereka tetap sok tahu dan sok pintar merasa diri pantas masuk surga. Mereka mungkin adalah orang-orang kristen karena siapa lagi yang bisa mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan selain orang kristen ? tetapi Tuhan tetap tidak mengenal mereka bahkan mengusirnya. Kenapa mereka diusir padahal mereka adalah orang-orang yang beriman dan juga memiliki banyak pengalaman ? karena iman mereka ternyata tidak sesuai dengan keinginan Tuhan sehingga justru pengalaman-pengalaman tersebut berakibat mematikan bagi mereka.. Mereka begitu merasa yakin akan masuk surga karena begitu banyaknya pengalaman yang sudah mereka dapatkan sepanjang hidup mereka mulai dari melakukan mujizat, bernubuat, sampai mengusir setan dengan memakai nama Yesus. Tetapi tetap semua pengalaman itu tetap membawa mereka ke neraka.

Lalu bagaimanakah melihat dan mengukur sebuah pengalaman ? Pengalaman itu memang benar pernah terjadi tetapi pengalaman tersebut bernilai benar atau salah ? Sekian banyak orang yang mendengar satu pengalaman saja bisa mengambil makna yang berbeda-beda. Maka disinilah kita baru tahu betapa pentingnya kita untuk kembali kepada sumber kebenaran sejati karena sumber itulah yang akan kita gunakan untuk menginterpretasikan setiap pengalaman demi pengalaman. Surat Roma yang kita baca hari ini memberitahu kita bahwa orang yang sejati dan kebenaran yang sejati selalu hidup mulai dari iman menuju kepada iman dan melalui iman. Semua orang didunia juga mengerti betapa pentingnya sebuah iman untuk belajar segala sesuatu tetapi masalahnya adalah iman seperti apa yang mereka miliki ?

Sebelum kita menggunakan rasio kita untuk menyerap apa yang diajarkan oleh guru disekolah, kita terlebih dahulu menggunakan iman kita. Sebelum kita diajar oleh seorang guru kita terlebih dahulu beriman bahwa guru tersebut pasti mampu mengajari kita. Bayangkan kalau kita tidak percaya kepada semua guru, kita pasti tidak akan mungkin bisa belajar apapun karena sudah tidak percaya kepada siapapun dan apapun. Hal yang demikian juga terjadi pada Paulus. Ketika belum bertobat Paulus adalah seorang yang mempunyai otak yang sangat cerdas dan jenius tetapi sekaligus amat sangat bodoh. Walaupun dulu dia memiliki “pengetahuan” yang begitu banyaknya sehingga dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh filsuf yang paling besar sekalipun tetapi ketika dia mendengar tentang injil dari Tuhan Yesus, dia tetap tidak bisa mengerti. Kenapa ? hanya karena Paulus tidak percaya kepada Tuhan Yesus sehingga dia menganggap semua ajaran Tuhan Yesus adalah salah.  Sampai suatu saat ketika dia sudah bertobat baru mengaku kepada Timotius bahwa sebelum bertobat, segala tindakannya dilakukan tanpa pengetahuan dan diluar iman (1Tim 1:13). Aneh bukan ? dia tahu kalau dirinya sangat pintar tetapi kenapa bisa mengeluarkan pengakuan seperti itu ? Sebenarnya, pada waktu itulah Paulus dapat menghubungkan antara iman dan pengetahuan. Pengetahuan yang sejati harus dibangun dengan dasar iman yang benar. Jadi pengetahuan yang tidak dibangun berdasarkan iman yang benar bukanlah sebuah pengetahuan tetapi sampah.

Orang pada zaman sekarang begitu takut kalau dirinya merasa tidak tahu. Tetapi ironisnya mereka tidak tahu apa yang mereka ingin tahu sehingga segala macam informasi diserap. Internet yang katanya adalah dunia informasi tanpa batas bisa memberikan segala macam informasi, lantas apakah kita akan menyerap semuanya ? tidak mungkin bisa. Walaupun mungkin, akhirnya kita pasti menjadi gila karena semuanya itu adalah sampah. Informasi yang berantakan, saling berkontradiksi, dan semua kekacauan masuk ke dalam otak kita. apakah ini yang disebut orang hebat ? orang seperti itu tidak pernah tahu darimana dia tahu kalau dia sudah mengetahui. Ketika orang tersebut mengaku tahu, apakah itu berarti dia sudah benar-benar tahu ? inilah pergumulan yang akan kita coba untuk pelajari. Ketika Francis A. Schaeffer mempersoalkan How do i know that i know, maka pertanyaan yang paling penting adalah kenapa harus tahu dan bagamana bisa tahu.

Kita harus tahu karena apa yang kita tahu belum tentu benar-benar kita ketahui. Kalau kita sudah tahu maka kita tidak perlu bertanya. Tetapi kenyataannya banyak manusia yang merasa kalau dirinya sudah tahu sehingga mereka tidak bertanya kepada siapapun. Jadi orang yang tidak pernah belajar/bertanya pasti semakin merasa kalau dirinya pintar karena dia sudah tahu semuanya. Padahal sebenarnya dia tidak tahu apa-apa dan itu mengakibatkan diotaknya sama sekali tidak ada pertanyaan. Justru orang yang semakin mencari tahu bakal menemukan banyak sekali ketidak tahuan. Kenapa kita belajar ? karena kita tahu kalau diri kita belum tahu. Lantas setelah kita belajar, kita menjadi tahu. Tetapi pengetahuan itu akan selalu memancing banyak pertanyaan baru yang akhirnya membuat kita tahu kalau kita ternyata banyak tidak tahu. Oleh sebab itu kita belajar terus. Menjawab satu ketidak tahuan mengakibatkan muncul banyak ketidak tahuan baru.

Maka ketika orang sadar bahwa ternyata untuk menjadi benar-benar tahu ternyata sulitnya luar biasa, mereka akhirnya menjadi skeptik. Mereka merasa pusing antara bagaimana mengetahui, mengetahui, belum mengetahui sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak mau tahu apapun. Maka tidak heran jika hari ini kita bertanya tentang kebenaran, orang-orang postmodern selalu memberikan respon yang skeptik, “saya sendiri juga tidak tahu”, dll. Mereka berpikir kalau diri mereka tidak tahu maka orang lain juga tidak mungkin tahu sehingga ketika kita mengaku tahu, mereka tidak percaya. Mereka menyederhanakan segala persoalan bagaikan katak dalam tempurung. Mereka anggap pengetahuan yang mereka miliki sudah cukup sehingga tidak perlu cari tahu lagi. Benarkan demikian ?

Pertama, Kalau kita selalu merasa pengetahuan yang kita miliki sudah cukup, maka pemikiran tersebut akan mengakibatkan kita sering menjadi korban penipuan. Seseorang bisa menjadi korban penipuan hanya karena orang tersebut kurang informasi atau pengetahuan sehingga dia mudah dibohongi oleh orang lain. Misalnya kalau kita mengerti bidang peralatan elektronik, seorang tukang servis tidak akan mudah untuk membohongi kita ketika kita ingin memperbaiki sebuah radio. Maka dari contoh yang sangat sederhana ini kita bisa membayangkan berapa besar dan banyaknya kerugian yang menimpa kita kalau kita selalu malas untuk mencari tahu.

Kedua, sebuah pengetahuan tidak pernah independen atau berdiri sendiri melainkan saling berhubungan. Jadi kalau kita merasa sudah cukup tahu dengan apa yang ada diotak kita, maka sebenarnya kita sudah memutus pengetahuan kita sampai sebatas itu. Ketika ada hal baru, kita tidak bisa menghubungkan pengetahuan kita dengan hal tersebut. Dengan kalimat lain, pengetahuan kita menjadi fragmental atau terpecah-pecah. Kemudian, pengetahuan yang kita dapatkan pertama kali akan selalu menjadi dasar bagi bangunan pengetahuan seumur hidup kita. Jadi kalau semasa kecil kita diajarkan pengetahuan yang salah, seluruh pengetahuan kita pada hari ini kemungkinannya adalah pengetahuan yang salah. Dan parahnya, untuk memperbaiki seluruh pemikiran kita bukanlah hal yang mudah. Ketika kita bertekad untuk kembali kepada sumber kebenaran yaitu Tuhan, kita harus rela menghancurkan semua pemikiran lama kita dan perjuangan itu mungkin harus disertai dengan air mata.

Dari beberapa hal ini kita baru sadar betapa pentingnya untuk kembali kepada Sumber pengetahuan yang sejati. Setiap pengetahuan yang kita miliki/pelajari perlu untuk diuji oleh Tuhan sebagai sumber pengetahuan karena kita sebagai manusia tidak layak dan tidak mempunyai kapasitas untuk menguji sebuah pengetahuan. Siapakah diri kita sehingga bisa sok pintar mau menguji pengetahuan ? apalagi kalau hasil pengujian kita berbeda dengan hasil pengujian orang lain, lalu siapakah yang paling benar ? jawaban yang paling tepat adalah kita harus kembali kepada iman yang sejati, takut kepada Tuhan.

Sumber pengetahuan tidak mungkin bisa lepas dari iman kita. Setiap orang bisa memperdebatkan Alkitab karena mereka tidak percaya kalau Alkitab adalah Firman Tuhan. Maka kalau kita berdebat dengan orang yang seperti ini, perdebatan itu tidak akan pernah selesai karena memang pada dasarnya orang tersebut tidak percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Kalau orang tersebut percaya Alkitab adalah Firman Tuhan, apapun yang kita jelaskan dia pasti mengerti. Inilah alasan kenapa kita harus berhati-hati dalam memilih sekolah bagi anak-anak kita. Kalau sekolah itu sudah tidak percaya Kej 1:1, sekolah seperti itu pasti merasa wajar untuk mengajarkan “teori” evolusi. Kalau ada sekolah yang dibangun berdasarkan Alkitab yang difirmankan oleh Sang Sumber Kebenaran, maka kebenaran sejati itu pasti menjadi nafas dari setiap mata pelajaran dan semua proses pendidikan. Tetapi kalau kita kembali kepada kenyataan, ternyata banyak sekali manusia dan sekolah yang walaupun katanya kristen tetapi “tidak suka” dengan Firman Tuhan. Berapa banyak sekolah yang dibangun dengan motivasi keuntungan besar ? Lalu apakah iman dari sekolah ini bakal beres ? tidak. Inilah pentingnya sumber pengetahuan yang sejati.

Selanjutnya, sumber pengetahuan yang sejati haruslah jelas karena yang disebut sebagai sumber pastilah Cuma ada satu. Jadi kalau kita memiliki sumber pengetahuan selain iman kepada Tuhan, pengetahuan kita akan menjadi kacau balau. Itu pula sebabnya kenapa begitu penting untuk mempunyai pengetahuan yang terintegrasi. Ketika kita berhasil mencari kebenaran yang esa, maka setiap aspek dan bidang pengertian kita akan utuh dan tidak saling berbenturan. Mana ada dua kebenaran yang keluar dari satu sumber bisa bertentangan ? Justru kalau sumbernya ada dua kemungkinan yang paling sering adalah saling berbenturan. Dan kebenaran yang saling berbenturan akan mengakibatkan kita menjadi gila atau berkepribadian ganda. Maka kalau dunia sangat benci kepada sumber kebenaran yang esa, kekristenan justru menuntut kita untuk kembali mencari kebenaran yang esa tersebut. Sumber kebenaran yang esa dan sejati akan membuat seluruh hidup kita menjadi teratur dan mempunyai pengertian yang kokoh dan tepat.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)

Eksposisi Injil Matius 1 : THE GENEOLOGY-4 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Saturday, December 24th, 2005

Ringkasan Khotbah : 15 Februari 2004

The Geneology (4)

Nats: Mat. 1:6-11

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Hari ini kita akan merenungkan bagian kedua dari tiga bagian silsilah yang oleh Matius di setiap bagiannya dituliskan hanya 14 keturunan saja (Mat. 1:17). Tuhan tidak dengan sembarangan menuliskan nama-nama tersebut dalam Alkitab. Setiap nama yang tertulis pasti mengandung makna dan ada signifikansi besar yang memang Tuhan maksudkan demi untuk kebaikan manusia. Dan celakanya, kita yang kurang pengetahuan merasa sok tahu lalu menghakimi Alkitab dan berpendapat bahwa nama-nama tersebut tidaklah penting. Dunia modern menyebabkan orang Kristen semakin bersikap pragmatis terhadap Firman Tuhan.

Orang menafsirkan ayat dengan sembarangan tanpa melihat konteks secara keseluruhan. Firman Tuhan dimanipulasi demi untuk kepentingan diri sendiri maka wajarlah bila mereka berpendapat bahwa tidak semua ayat dalam Alkitab “bagus“ dalam arti yang menyukakan hatinya. Ingat, Alkitab adalah Firman Tuhan jadi semua yang tertulis pastilah bersifat kebenaran dan mengandung makna. Hendaklah kita melihat Firman Tuhan sebagai sesuatu yang otoritatif dan terpenting dalam hidup sehingga dengan rendah hati kita mau rela dibentuk dan semakin serupa Kristus. Untuk mencapai kesempurnaan tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi maka diperlukan perjuangan. Ironisnya, orang tidak mau berjuang untuk memperoleh kebenaran sejati tetapi untuk mendapat kesenangan dunia yang semu, orang rela mengorbankan apapun.

Dalam perjalanan sejarah hidup ini apa yang menjadi tujuan hidup anda, Firman ataukah hal duniawi yang bersifat materi? Kalau untuk hal-hal duniawi kita mau berjuang maka untuk mengerti kebenaran sejati kita harus berjuang lebih keras lagi. Empat belas nama di bagian pertama silsilah tersebut adalah orang-orang pertama yang berperan ketika umat pilihan Allah dibentuk. Namun, pada silsilah bagian kedua ini empat belas nama tersebut semuanya adalah raja yang dipimpin Tuhan sepanjang sejarah, hanya Yekhonya yang bukan. Alkitab mau membuktikan bahwa Kristus adalah Mesias yang dinubuatkan ribuan tahun lalu dan Dia lahir dari keturunan raja Daud. Kalau pada silsilah bagian pertama titik pusatnya pada Abraham maka bagian kedua dari silsilah ini titik pusatnya terletak pada Daud (Mat 1:17) dan di bagian ketiga merupakan bagian yang paling desperate; banyak nama yang hilang dalam sejarah. Hal ini terjadi sampai pada masa 400 tahun Tuhan tidak berfirman.

Kristus akan menjadi Raja dan bertahta atas kerajaanNya yang akan ditegakkan di dunia. Kerajaan Surga akan digenapkan ketika sejarah dunia ini berakhir di titik Omega (Why. 1:5-6). Titik omega sekarang belum terjadi tapi suatu hari kelak hal itu pasti terjadi. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan akan tibanya titik Omega; titik Omega bukan titik tak terhingga. Banyak sekolah yang mengajarkan bahwa suatu garis bilangan terdiri dari 0, 1, 2, 3,…, tak terhingga (~) padahal pergeseran garis bilangan terjadi dalam ruang dan waktu maka tidak mungkin bilangan ~ ada dalam garis bilangan. Ironisnya, banyak orang pandai mengajarkan bilangan terakhir sebelum ~ adalah ~-1, ~-2,… secara logika, bukankah ~-1=~. Bilangan ~ seharusnya bukan terletak pada garis bilangan yang dapat berubah. Jadi, suatu hari kelak sejarah pasti berakhir di titik Omega dan manusia akan masuk dalam kekekalan. Dalam realm kekekalan itulah bilangan ~ seharusnya berada karena ia tidak dapat berubah. Allah Tritunggal adalah Allah yang kekal maka ~+~+~≠3~ melainkan ~+~+~=~.

Dunia tidak mengerti konsep kekekalan ini maka wajarlah kalau banyak orang yang memperdebatkan konsep Allah Tritunggal. Orang sulit menerima bahwa Allah Tritunggal bukan Allah yang berjumlah tiga tapi Allah yang satu dengan tiga pribadi. Kalau kita perhatikan garis sejarah, waktu terbagi dengan kehadiran Kristus. Kristus merupakan titik point dan titik itu terus berjalan hingga titik Omega, yaitu kerajaan Tuhan digenapkan dan setiap anak Tuhan menjadi bagian dalam kerajaan Allah. He’s The King of kings. Di injil Matius istilah “Raja dan Kerajaan“ muncul sebanyak 52 kali, yaitu mulai dari pasal 3-26 berarti 1/3 bagian dari keseluruhan kitab PB. Khusus di pasal 1 meskipun istilah kerajaan tidak muncul tapi 14 raja yang sesungguhnya hadir di sana. Kita telah memahami sebelumnya bahwa tidak setiap nama dicantumkan oleh Matius, misal dari Uzia ke Yotam ada 3 nama yang dilewatkan, yakni Ahazia, Yoas dan Amazia. Jadi, kalau Matius memilih 14 nama raja dimasukkan dalam silsilah Kristus karena ia ingin menunjukkan bahwa janji Kerajaan telah digenapkan (Kej. 49:10). Kondisi bangsa Israel pada saat itu hanya tinggal 2 suku karena 10 suku yang lain telah bersinkretis atau bercampur dengan bangsa lain. Di jaman Tuhan Yesus mereka lebih dikenal sebagai orang Samaria.

Kerajaan Surga tidak bersifat dunia dan berbentuk wilayah melainkan bersifat spiritual. Bahkan Tuhan Yesus sendiri sudah berkali-kali menjelaskan namun mereka tetap tidak mau percaya bahkan sampai Tuhan Yesus bangkit mereka masih menanyakan tentang hal kerajaan. Puji Tuhan, akhirnya mereka mulai sadar dan bertobat bahwa kerajaan tersebut bukanlah kerajaan duniawi melainkan rohani. Hati-hati dengan ajaran sesat yang mengajarkan bahwa Yesus menjadi Raja atas kerajaan Yerusalem dan semua orang Kristen akan dibangkitkan dan turut memerintah bersama Dia; kita akan menjadi perdana menteri, panglima, dan pembesar-pembesar lain. Hal ini sangatlah tidak masuk akal karena kalau hal itu terjadi maka:

1) Bumi semakin penuh sesak dengan manusia. Hari ini saja tanpa orang-orang yang dibangkitkan dunia sudah penuh sesak apalagi kalau ada orang Kristen yang dibangkitkan dan turut memerintah di Yerusalem. Sesungguhnya kebanggaan duniawilah yang diinginkan manusia dan hal ini bukanlah hal baru karena murid Tuhan Yesuspun pernah mempunyai keinginan yang sama, yaitu duduk di sebelah kanan atau kiri Tuhan Yesus; 2) Bayangkan, andai seluruh orang Kristen memerintah atas orang-orang fasik, pastilah banyak masalah yang akan timbul, bukan? Orang melihat hal ini sebagai percampuran antara kebaikan dan kejahatan. Salah! Surga tidak pernah berkompromi, tidak ada orang jahat masuk surga. Mereka yang masuk surga adalah orang yang sudah disucikan, dikuduskan, dibenarkan dan dimuliakan karena itu semua sesuai dengan sifat Allah.

Pertama, Konsep tongkat kerajaan Yehuda haruslah dilihat secara spiritual. Dunia diperkenankan mempunyai raja maka seharusnya kerajaan dunia menyatakan kerajaan surga yang akan digenapkan di dunia, yaitu dengan kedatangan Yesus Kristus, King of Kings. Bangsa Israel seharusnya sejak dari Kejadian sudah dapat melihat pembukaan dimensi dari satu konsep kerajaan yang bersifat lokal menjadi kerajaan yang bersifat universal. Inilah titik yang oleh Matius diangkat kembali untuk memperlihatkan bahwa Kristuslah raja yang dimaksudkan yang tongkat kerajaanNya tidak akan beranjak (Kej. 49:10). Hal ini dapat kita lihat pada 14 generasi yang kedua; mulai dari Daud yang dimengerti orang Israel sebagai pemegang tongkat kerajaan Yehuda dan turun terus hingga ke Yosia.

Orang Yahudi sangat menghormati Daud sehingga bintang Daud berbentuk segienam dipakai sebagai lambang negara Israel. Bisakah kita lebih hormat ketika mendengar nama Kristus lebih dari orang Israel saat mendengar nama Daud? Dunia modern kini semakin merendahkan konsep Kerajaan Surga sehingga rasa hormat pada Kristus, Raja di atas segala raja mulai hilang. Orang mulai dipengaruhi aliran filsafat yang dicetuskan Michael Foucoult, yaitu tidak mau menghargai otoritas atau semua hal yang berkuasa atas hidup kita termasuk Tuhan pemegang otoritas tertinggi. Manusia mau menegakkan otorisasi diri akibatnya manusia berani memerintah, mengatur bahkan melawan Kristus, Raja di atas segala raja. Bandingkan dengan pemerintahan dunia, bukankah rakyat yang melawan raja seharusnya dihukum?

Dunia menganggap Kristus penuh cinta kasih sehingga mereka merasa tidak perlu berlaku sedemikian rupa. Ingat, Kristus adalah Allah yang penuh kasih sekaligus adil. Dunia mengerti konsep kasih dan keadilan berbeda dengan Kristus. Cinta kasih bagi dunia adalah reduksi dari keadilan dan sebaliknya keadilan merupakan reduksi dari cinta kasih. Salah! Keunggulan iman Kristen justru mengajarkan kasih dan keadilan harus berjalan sejajar dan terintegritas. Apa artinya kasih tanpa keadilan atau kasih tanpa penghukuman? Bagaimana sikap kita saat kita beribadah, menghadap raja di atas segala Raja? Sikap hormat seharusnya muncul dalam diri kita saat kita mendengar sabda Tuhan; Dia masih berkenan berbicara melalui Firman membuktikan kasihNya pada kita.

Kedua, Nama-nama raja yang tertulis disusun Matius secara unik, yaitu nama raja yang baik dan jahat disusun secara bergantian. Dalam bagian ini Matius ingin menunjukkan bahwa setiap orang yang menjadi raja tidak lepas dari rencana Tuhan termasuk raja yang jahat sekalipun. Tuhan tidak pernah melepaskan garis benang merah sejarah dunia. Sebagai contoh, Hizkia adalah anak dari Ahas, raja yang kejam namun ia tidak seperti ayahnya. Hizkia adalah salah satu raja yang diperkenan Tuhan. Dalam doanya Hizkia berani mengatakan bahwa ia telah hidup benar di hadapan Tuhan, setia mengikut Tuhan dan senantiasa menyenangkan hati Tuhan. Beranikah mempertanggung jawabkan hidup seperti Hizkia pada Tuhan?

Allah bisa memakai siapa saja dan apa saja untuk menjadi alatNya, tidak peduli mereka baik atau jahat. Ketika kedaulatan Allah dinyatakan, bukan berarti kejahatan ditiadakan. Tidak! Kejahatan tetap ada tapi keadilan Allah akan nyata atas orang-orang fasik. Tuhan telah mempersiapkan misi Kerajaan Surga sejak dari kekekalan karena itu “Bertobatlah, kerajaan Allah sudah dekat“. Sejarah harus dikaitkan dengan momen hidup. Sejarah tanpa momen hanya akan menjadi kumpulan cerita dan data belaka. Ingat, kalau sekarang kita berada dalam sejarah dunia apakah hidup kita sudah terkait dengan sejarah kerajaan Allah?

Ketiga, Matius mengkontraskan antara kerajaan dunia dan kerajaan surga yang akan ditegakkan. Kalau kita bandingkan dengan Daud maka Daud adalah Raja yang paling sukses secara nilai dan puncak kejayaan berada di tangan Salomo dengan kerajaannya yang besar. Akan tetapi setelah masa pemerintahan Salomo, kerajaan Yehuda semakin merosot. Hal ini nampak di nama terakhir yang tertulis, yakni Yekhonya bukanlah seorang raja. Matius mau menggambarkan anti klimaks sejarah manusia. Semua pergerakan dunia pasti mengalami anti klimaks dan kemudian terus merosot dan berakhir di pembuangan. Inilah akhir dari kerajaan dunia, kerajaan yang diinginkan bangsa Israel. Tuhan sendiri yang akan menjadi raja dengan memerintah bangsa Israel namun justru penolakan yang diterima; mereka menginginkan raja dunia. Sifat manusia berdosa selalu menolak yang baik dari Tuhan.

Matius memang sengaja menaruh nama Yekhonya (bukan raja) bukannya raja Yoahas membuktikan anti klimaks berakhir dengan kehancuran total. Apalah jadinya kalau kita mengandalkan kekuatan dunia. Dunia menawarkan segala sesuatu yang manis di depan tapi berakhir dengan kehancuran, seperti racun yang dibalut dengan gula. Seperti orang berjudi, pertama kali ia akan diuntungkan dan kemudian akan menjadi lupa diri. Iblis sangat pandai menawarkan sesuatu yang indah di depan tapi kemudian berakhir dengan kehancuran. Kerajaan surga tidak dimulai dengan booming yang besar tapi dari biji sesawi dan bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung-burung dapat bernaung di bawahnya. Konsep ini dapat kita jalankan kalau kita taat pada Tuhan. Bagaimana dengan hidup anda? Hidup seperti apa yang anda inginkan? Pilihan tergantung pada anda.

Tuhan mengajak kita untuk melihat nilai hidup yang lebih bermakna. Banyak filsuf menawarkan teori baru tetapi kemudian lenyap dan diganti dengan teori lain yang lebih baru lagi dan seterusnya. Dunia selalu berubah namun Kerajaan Surga bersifat kekal. Dunia kekekalan akan terus maju hingga sampai di titik klimaks dan kemudian selesailah perjalanan sejarah dunia. Pertumbuhan iman Kristen harus dimulai dari kecil terlebih dahulu dan berproses hingga sampai menuju kesempurnaan sebagai titik klimaks. Bayangkan, kalau sudah sampai pada titik klimaks kita masih terus berproses lalu kita akan menuju kemana? Tidak ada lagi yang harus dicapai bukankah sudah sampai titik klimaks? Sekarang, kita sedang berproses menuju ke kesempurnaan, yaitu sampai Kristus datang sebagai Raja.

Cara Tuhan menata sejarah sangat unik. Marilah kita belajar menerapkan pattern kerajaan surga dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk memulai segala sesuatu haruslah dari kecil terlebih dahulu dan kemudian terus berkembang. Jangan mengikut cara dunia yang dari besar ke kecil. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil kalau Dia mau membuat besar terlebih dahulu tapi Tuhan tidak memakai cara seperti itu. Dia membangun kerajaanNya dari dua belas murid dan berkembang hingga besar. Hendaklah sebagai murid kita mau mengikut prinsip Kristus. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Eksposisi Injil Matius 1 : THE GENEOLOGY-3 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, December 9th, 2005

Ringkasan Khotbah : 08 Februari 2004

The Geneology (3)

Nats: Matius 1:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Matius membagi silsilah Yesus Kristus menjadi tiga bagian yang setiap bagiannya mencantum 14 keturunan. Salah satu aspek orang menjadi tidak suka dan tidak peduli akan silsilah adalah karena nama-nama yang tercantum dalam silsilah tersebut sebagian besar tidak kita kenal maka wajarlah kalau silsilah menjadi membosankan. Berbeda kalau kita mengenal dan mengetahui setiap peristiwa sejarah di setiap nama pastilah silsilah menjadi sangat menarik. Kita dapat memetakan perjalanan iman seorang bernama Abraham, Ishak dan Yakub namun nama Ram, Aminadab, Nahason, Salmon dan lain-lain (Mat. 1:4-15) sangatlah asing di telinga kita. Menjadi tugas kitalah, sebagai orang Kristen untuk mempelajari siapakah mereka dan kenapa nama mereka yang tercantum dalam silsilah Yesus Kristus?

Letak nama Ram yang berada tepat di bawah nama Hezron (Mat.1:3-4) bukan berarti bahwa Ram adalah anak kandung Hezron. Istilah “memperanakkan“ di Alkitab bukan berarti melahirkan anak (satu generasi) bisa juga menunjuk dua atau tiga generasi di bawahnya, misal dari kakek ke cucu tanpa melewati anak terlebih dahulu atau kakek ke cicit. Ram berasal dari arus Hezron dari garis Yehuda bukan dari posisi sejajar.

Yehuda mempunyai 5 anak dari 2 istri; istri pertama, seorang Kanaan ia mendapat 3 anak laki-laki, yakni Er, Onan dan Syela sedang 2 anak yang lain dari Tamar dan diberi nama Peres dan Zerah. Sebelum menjadi istri Yehuda, Tamar adalah menantu Yehuda, yaitu istri Er; sepeninggal suaminya Tamar diperistri saudara Er, yaitu Onan. Yehuda beranggapan kematian Er dan Onan karena Tamar sehingga Yehuda tidak mau menyerahkan Syela, anak laki satu-satunya untuk menjadi suami Tamar. Tamar berbalik menghampiri Yehuda, ayah mertuanya dan akhirnya ia mengandung dan melahirkan 2 anak kembar, yaitu Peres dan Zerah (Kej. 38). Tuhan memakai Peres, si “anak haram“ masuk dalam silsilah yang akan menurunkan Yesus Kristus. Secara prinsip iman Kristen, kita tidak berhak menghakimi seseorang karena statusnya sebagai anak haram. Anak  haram belum tentu ia menjadi haram; ia akan menjadi berkat besar bagi banyak orang kalau Tuhan mau berkenan memakai dia sebagai alat.

Bencana kelaparan yang terjadi di tanah Kanaan mengharuskan Yakub yang adalah nenek moyang Peres untuk pindah ke tanah Mesir. Dan di tanah Mesir inilah Peres “memperanakkan“ Hezron. Ingat, memperanakkan bukan berarti melahirkan anak. Jadi, Hezron bukan anak kandung dari Peres melainkan keturunan dari garis Peres. Tuhan tidak pernah melupakan janjiNya, Dia memelihara umatNya sehingga Dia mengirim Yusuf untuk menjadi Raja Muda di Mesir. Bagi bangsa Mesir, pekerjaan orang Israel menggembalakan kambing domba dianggap sebagai pekerjaan yang hina dan keji maka seharusnya bangsa Israel dibinasakan. Karena jasa Yusuf maka Firaun mengijinkan Yusuf untuk membawa ayah dan saudara-saudaranya beserta seluruh keturunannya tinggal di Mesir. Seluruhnya ada 66 jiwa ditambah dengan keluarga Yusuf sebanyak 4 orang; jadi, jumlah keseluruhan ada 70 jiwa (Kej. 46:26-27). Agar tidak tercampur dengan bangsa Mesir maka Firaun menempatkan mereka terpisah, yakni di tanah Gosyen. Di tanah Gosyen inilah bangsa Israel berkembang dan menjadi banyak.

Jadi, Peres adalah keturunan terakhir yang lahir di tanah Kanaan, generasi berikutnya lahir di tanah Mesir, termasuk Hezron. Sepeninggal Yusuf, bangsa Israel mulai menghadapi tantangan yang sangat berat namun demikian Hezron tetap menjaga dan menegakkan adat, agama dan budaya Israel meski minoritas dan berada di tanah asing. Keturunan Yehuda sempat masuk ke dalam suku Lewi yang dibawa oleh Aminadab (Kel. 6:22). Aminadab adalah mertua Harun, kakak kandung Musa dan pada saat itu posisi bangsa Israel sudah mau keluar dari tanah Mesir. Harun menjadi kepala imam bangsa Israel begitu juga dengan keempat anaknya, Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar. Sejarah semakin menguatkan kita bahwa “memperanakkan“ bukan melahirkan anak melainkan “mempunyai keturunan“.

Pertama, Rentang waktu dari jaman Peres hingga jaman Harun adalah 430 tahun dan diperkirakan juga Aminadab ikut keluar dari Mesir. Jadi, mengingat rentang waktu yang panjang tersebut maka mustahil kalau Peres hanya mempunyai tiga keturunan, yakni Hezron, Ram dan Aminadab (Mat. 1:3). Hati-hati dengan mereka yang menafsir silsilah dengan sembarangan dan celakanya, mereka berani menyimpulkan umur bumi dan waktu kedatangan Tuhan Yesus ke dua padahal Alkitab tidak mencatat semua keturunan secara turun temurun secara keseluruhan. Nama-nama yang tercantum adalah orang yang dipilih berdasarkan kepentingan historis-teologis dan demi untuk kepentingan sejarah Kerajaan Allah. Dari Peres hingga Ram ada generasi lain yang namanya tidak tercatat, hanya mereka yang berperan sajalah yang namanya tercatat dalam Alkitab.   

Kedua, Alkitab mencatat, pertama kali bangsa Israel masuk ke Mesir sebanyak 70 jiwa (Kej. 46:26-27), tidak termasuk istri dan anak-anak. Jika dihitung secara keseluruhan kemungkinan mencapai 150-160 jiwa dan jumlah bangsa Israel saat keluar dari Mesir mencapai 603.550 jiwa belum termasuk istri dan anak-anak (Bil. 1). Jadi, diperkirakan jumlah keseluruhan yang keluar dua kali lipat lebih. Jumlah yang sedemikian banyak tidak bisa hanya dicapai dalam waktu yang singkat. Hal ini semakin menguatkan kita bahwa rentang waktu dari Peres hingga ke Aminadab bukan hanya 2 generasi saja tapi diperkirakan ada 10 generasi atau lebih. Manusia seringkali memaksakan konsep berpikirnya dalam menginterpretasikan Alkitab, Firman Tuhan yang agung.

Aminadab hidup dan tinggal bersama bangsa Israel yang lain selama 400-an tahun di tanah Gosyen, Mesir. Kini, ia beserta seluruh keluarga termasuk Harun, menantunya akan keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Mengingat lamanya waktu Aminadab tinggal di Mesir, kemungkinan bisa ber-sinkretis atau bercampur dengan bangsa Mesir, yakni agama Yahudi bercampur dengan dewa-dewa Mesir dan membentuk budaya baru. Namun tidak demikian dengan Aminadab, ia tetap memelihara dan menegakkan jiwa nasionalis sebagai orang Israel. Nama Aminadab layak dicantumkan dalam Alkitab karena:

1. Berhasil mendidik anak berkarakter. Tuhan berkenan memakai dua orang anak Aminadab menjadi alatNya (Kel. 6:22). Eliseba menikah dengan Harun seorang yang dipakai Tuhan menjadi pemimpin spiritual bangsa Israel dan Nahason dipakai Tuhan menjadi pemimpin suku Yehuda dan dihormati oleh seluruh bangsa Israel. Aminadab berhasil mendidik kedua orang anaknya menjadi seorang anak yang “sukses“ rohani. Sebagai orang tua, sudahkah kita mendidik anak-anak yang Tuhan karuniakan tersebut menjadi seorang anak yang “sukses“? Mendidik seorang anak untuk menjadi sukses di dunia bukanlah hal yang mudah. Setiap manusia pasti ingin sukses dan demi kesuksesan orang akan melakukan apa saja dan menghalalkan berbagai cara.

Dalam menjalani hidupnya kita menjumpai 1) seorang yang hanya sekedar menjalankan rutinitas belaka; bangun pagi, bekerja, tidur, bangun pagi lagi, bekerja lagi, dan tidur begitu seterusnya dan berakhir dengan kematian, desperate live. Hidup jadi membosankan, lama kelamaan manusia menjadi putus asa dan bosan hidup, 2) seorang yang mempunyai semangat hidup tinggi demi untuk mendapatkan kesuksesan. Apalah artinya semua kesuksesan dunia kalau akhirnya kita dibuang Tuhan. Kita telah memahami untuk mencapai kesuksesan tidaklah mudah banyak tantangan yang harus dihadapi akan tetapi bukankah lebih sulit membuat seorang anak menjadi sukses?

Di dunia, banyak orang tua yang sukses tapi hidup anaknya berantakan karena pendidikan yang salah. Pendidikan dunia modern, semakin hari semakin merusak moral anak. Tidak banyak sekolah yang mengajarkan iman sejati sekaligus berintelektual tinggi. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Ams. 1:7) harus termanifestasi ke seluruh hidup kita. Hari ini banyak sekolah tak terkecuali sekolah kristen hanya memberikan pengetahuan pada anak bukan mendidik anak. Mereka beranggapan bahwa pendidikan yang baik adalah kalau semakin banyak pengetahuan yang didapat si anak. Salah! Bukankah manusia pertama kali jatuh ke dalam dosa karena ingin “tahu“? Ada pohon pengetahuan baik dan jahat dimana hal-hal yang baik perlu kita ketahui dan perlu kita alami sedang hal-hal yang jahat tidak perlu kita ketahui bahkan tidak untuk dialami. Dunia membalik prinsip ini, orang justru berusaha keras untuk tahu tentang hal-hal yang jahat ketimbang hal-hal yang baik.

Sebagai orang tua, sudahkah anda mendidik anak sehingga menjadi anak yang sukses di dalam Tuhan? Didikan keras belum tentu membuat anak menjadi sukses dan sebaliknya kasih yang berlebihan juga tidak akan membuat anak menjadi baik; diperlukan hikmat dan bijaksana dari Tuhan dalam mendidik anak. Adalah tanggung jawab setiap keluarga Kristen untuk mendidik anak dalam Tuhan dan dalam hal ini ditandai dengan baptisan anak. Baptisan merupakan tanda Tuhan sudah beranugerah terlebih dahulu atas orang tua dan tugas kitalah untuk mendidik anak, bertumbuh dalam iman yang sejati. Biarlah kita dipakai Tuhan sebagai seorang pendidik yang baik seperti teladan Aminadab.

2. Berhasil mendidik anak berohani. Eliseba, anak perempuan Aminadab dari suku Yehuda dipakai Tuhan untuk mendampingi Harun dari suku Lewi; ia berhasil menjadi seorang istri yang baik, setia mendampingi suami dalam melakukan tugasnya sebagai kepala imam dan ia juga berhasil mendidik keempat anaknya (Kel. 6:22) menjadi seorang imam, anak yang berohani. Keberhasilan Eliseba tidak lepas dari jasa ayahnya, Aminadab sehingga ia mempunyai rohani yang baik meski pada jaman itu anak perempuan selalu diabaikan. Maka tidak heran kalau seorang wanita tidak pernah tertulis dalam silsilah sehingga kalau nama wanita ada tercantum di Alkitab maka berarti Eliseba telah berperan besar.

Kekristenan tidak pernah menomorduakan wanita, sejak pertama Allah telah mencantumkan nama Adam dan Hawa secara bersama namun ada ordo yang harus dijalankan, yaitu pria sebagai kepala. Ini dinamakan dengan konsep paradoxical yang setara dan bertingkat. Allah Tritunggal telah memberikan teladan yang baik bagi kita. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus secara esensi sejajar namun dalam menjalankan tugasnya tetap harus sesuai dengan ordo. Betapa indah bila setiap keluarga Kristen meneladani hal ini. Tidak ada satu keluargapun di lingkungan sekitar Aminadab yang mempunyai konsep keluarga dengan benar.

Jadi, kalau Aminadab mempunyai keluarga yang berohani baik itu karena ia selalu menjaganya sesuai dengan Firman Tuhan. Aminadab berada di Mesir ratusan tahun tetapi tidak terkontaminasi sedikitpun demikian juga Musa. Dalam hal ini seorang ibu mempunyai peranan yang sangat besar dalam mendidik anaknya karena intensitas waktu bertemu dengan anak lebih banyak dibanding seorang ayah. Selain mendidik anak, seorang wanita juga berperan penting mendampingi suami. Banyak orang mengatakan kesuksesan suami tergantung dari siapa yang ada di belakang layarnya. Dalam hal ini Aminadab sukses mendidik Eliseba, anaknya perempuan.

3. Berhasil menurunkan garis sejarah yang bermakna. Tidak hanya diri sendiri yang sukses tapi yang terpenting Aminadab sudah dipilih masuk dalam silsilah kerajaan Allah dengan menurunkan Yesus Kristus. Di antara berjuta umat Israel, Tuhan memilih Aminadab, Tuhan telah menancapkan posisi, pinpoint. Banyak nama yang tercantum dalam Alkitab tapi hanya sedikit yang di-pinpoint oleh Tuhan dan salah satunya Aminadab. Banyak manusia hidup di dunia tapi tidak setiap orang mempunyai nilai sejarah; banyak orang yang numpang lewat di dunia ini. Apalah arti hidup ini kalau nama kita tidak masuk dalam garis sejarah Kerajaan Allah. Melalui silsilah, Matius ingin menyadarkan setiap kita, bagaimana seharusnya kita berada dalam sejarah garis sejarah Kerajaan Allah. Hidup kita hanya sementara di dunia lalu apa yang sekarang sedang engkau kerjakan?

Apakah kita hanya mengerjakan sesuatu yang tidak berguna dan kemudian dibuang dari sejarah? Orang yang bijaksana adalah yang mampu mem-pinpoint hidupnya dalam perputaran waktu sejarah dan merelasikannya dengan nilai kekekalan. Dimanakah sejarah kita? Sudahkah anda bertekad untuk mau hidup dalam garis sejarah Allah? Ataukah hidup kita hanya sekedar numpang lewat belaka? Kita akan berada dalam sejarah kerajaan Allah kalau kita berjalan dan hidup bersama dengan Tuhan. Siapa yang ada di dalam Aku dan Aku dalam dia maka dia akan berbuah banyak. Jangan buang waktumu dengan percuma, waktu begitu cepat berlalu dan tidak dapat terulang. Mulai hari ini biarlah kita menata ulang kembali hidup kita sehingga seluruh hidup kita dihubungkan dengan kekekalan dan nama kita tercantum dalam sejarah kerajaan Allah. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : www.griis.org

Eksposisi Injil Matius 1 : THE GENEOLOGY-2 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Saturday, December 3rd, 2005

Ringkasan Khotbah : 01 Februari 2004

The Geneology (2)

Nats : Matius 1:1-6

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pada umumnya orang tidak suka akan silsilah bahkan cenderung tidak peduli. Hal ini disebabkan karena: 1) orang tidak mengerti kegunaan silsilah sehingga menganggapnya tidak berarti, 2) orang tidak mengenal sebagian besar nama-nama yang tercantum dalam silsilah tersebut. Berbeda kalau kita mengenal setiap nama pastilah silsilah menjadi menarik. Matius menempatkan nama Abraham di posisi signifikan dari keseluruhan silsilah yang dicatatnya karena Matius ingin menegakkan kembali topik “Kerajaan Allah“, The Kingdom of Heaven. Dalam hal ini Matius tidak menggunakan istilah kerajaan Allah tetapi kerajaan surga karena orang Yahudi takut berdosa jika menyebut nama Allah dengan sembarang. Inilah ironisnya manusia yang mempunyai perasaan takut akan Tuhan tapi ketika rasa takut itu mulai hilang orang menjadi tidak peduli apapun.

Akan tetapi dunia modern mulai menampakkan gejala untuk bertindak secara hati-hati dalam melakukan apapun akibatnya orang cenderung untuk tidak berbuat apapun. Padahal berhati-hati dan tidak berbuat merupakan dua hal yang berbeda. Orang yang tidak menggunakan atau tidak melakukan apapun membuktikan satu hal, yaitu manusia ingin lari dari realita. Everything is empty, nothing but nothing, segala sesuatu hampa, manusia hidup di dalam kekosongan itulah yang diajarkan dunia modern sekarang. Dunia selalu memasukkan konsep nihilisme dalam kehidupan nyata seperti yang kita jumpai di dunia arsitektur dengan trend minimalis.

Istilah surga bagi setiap orang mempunyai pengertian berbeda-beda. Bagi orang Indonesia surga berbeda dengan Allah; surga adalah tempat Allah bertahta dan kaum Tionghoa biasa menyebut surga dengan “thien“ (langit). Namun kaum Tionghoa tidak memahami bahwa “thien“ mempunyai pribadi, yakni Tuhan yang berkuasa, Tuhan yang bisa marah ketika melihat umatNya melanggar perintah. Akibatnya mereka mengganti Tuhan yang berkepribadian tersebut dengan orang-orang yang dihormati maka muncullah penyembahan terhadap nenek moyang yang telah meninggal, seperti Kwan Im, Lao Tze, Konfusius, dll. Konsep ini sangat mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari maka wajarlah kalau mereka melihat surga seperti halnya di dunia; kalau di dunia orang punya rumah, uang, kendaraan, dll maka di surgapun demikian juga. Manusia sulit menerima konsep kekekalan dan kesementaraan.

Konsep “kerajaan“ yang dimaksudkan Matius dan yang dituliskannya dalam silsilah bukanlah bersifat sementara melainkan bersifat kekal. Silsilah tidak dapat dilepaskan dari sejarah yang berkait dengan kekekalan maka orang yang tidak mengerti silsilah pasti kehilangan konsep kekekalan. Semakin modern, dunia semakin tidak peduli silsilah bahkan ingin meniadakan silsilah dengan alasan sepele, yaitu tidak mau repot. Dengan kecanggihan teknologi sekarang, alasan tersebut sangatlah tidak masuk akal karena dibandingkan jaman dulu dimana orang harus berjalan berhari-hari hanya untuk mencatatkan diri masuk dalam silsilah menunjukkan mereka sangat menghargai pentingnya silsilah.

Matius ingin supaya para pembacanya tidak melihat silsilah hanya sekedar catatan urutan nama belaka tetapi di balik silsilah ada rencana kekal Allah, the geneology of the Kingdom of God. Hanya orang-orang tertentu yang dianggap Matius mempunyai integritas sempurna sajalah yang masuk dalam silsilah dan penulisan itupun bukan secara sembarangan; ada Roh Kudus yang memimpin. Maka bukanlah suatu kebetulan kalau Matius membagi silsilah Kristus menjadi 3 bagian dimana di setiap bagiannya ada 14 keturunan. Kata “memperanakkan“ dalam bahasa Indonesia tidak sama dengan “melahirkan anak“. Silsilah ditulis agar manusia mempunyai:

1. Kesadaran Sejarah Adanya kekekalan dalam sejarah seharusnya menyadarkan manusia bahwa pergerakan sejarah berada di bawah kendali Allah, yakni demi untuk menggenapkan kerajaanNya di dunia. Sampai hari ini orang Israel masih memperhatikan silsilah yang disebut toledoth. Secara struktur orang Israel sudah kehilangan silsilah sejak mereka dibuang ke Babel dan terserak lagi tahun 70 AD, yaitu ketika jenderal Titus menghancurkan orang Israel. Sejak itulah bangsa Israel mulai terpencar ke seluruh dunia hingga tahun 1948 mulai terbentuk kembali. Meskipun demikian bangsa Israel tidak pernah lupa sejarah, mereka tetap menyusun toledoth/silsilah. Itulah sebabnya ketika nama Abraham tertulis dalam silsilah, mereka langsung mengingat sejarah yang terjadi. Setiap nama menyadarkan kita: 1) Allah sedang menggenap-kan rencanaNya dan 2) manusia mengalami proses sejarah. Hanya manusia yang dapat menghubungkan antara waktu dengan kekekalan.

Dunia modern mulai dipengaruhi oleh filsafat rasionalistik bahwa tidak ada kehidupan lain setelah kematian. Akibatnya, manusia tidak takut akan pertanggung jawaban hidup sehingga manusia bertingkah laku dengan sembarangan. Manusia menurunkan derajatnya sedemikian rupa dan hampir sama seperti binatang. Maka muncullah filosofi humanimal gabungan dari kata human-animal, yakni menyamakan tingkah laku binatang seperti manusia dan sebaliknya. Pemikiran ini sangatlah rendah dan merusak moral manusia, itulah sebabnya orang sulit memahami konsep kekekalan. Hanya manusia, satu-satunya makhluk di dunia yang mempunyai kualitas moral yang terkait dengan proses kekekalan. Kalau kita menyadari akan hal ini maka kita tidak akan melewati hari dengan sia-sia. Alkitab membedakan antara kairos, yakni waktu yang berjalan begitu saja dan kronos, yakni ada makna di dalam waktu yang dilalui. Ingat, kita tidak dapat mengulang sejarah karena itu isilah setiap momen dengan hal-hal bermakna, yaitu demi untuk kemuliaanNya.

2. Kesadaran Ordo Kata “memperanakkan“ disini bukan berarti melahirkan anak. Kata “memperanakkan“ ditulis berulang; Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, dst sehingga setiap nama disebut sebanyak dua kali, berarti ada meaning yang sangat besar. Ingat, setiap kata dalam Alkitab bukan ditulis secara sembarangan tapi setiap kata sarat dengan makna. Dari kata “memperanakkan“ kita dapat melihat posisi seseorang yang berkaitan dengan ordo/urutan struktur vertikal. Kita harus menyadari keberadaan posisi kita, yakni siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah  dengan demikian kita tidak kehilangan posisi.

Manusia modern tidak suka dengan adanya ordo dan menggantinya dengan networking/jeja-ring yakni posisi yang sejajar. Manusia tidak suka diatur oleh siapapun juga bahkan Tuhan sekalipun; manusia hanya mau mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang yang bijak adalah orang yang mau diatur sebelum ia mengatur orang lain. Andaikan, dunia mengerti konsep ordo dengan tepat maka pastilah seluruh tatanan dunia akan terjaga rapi. Namun, dunia tidak suka dengan adanya ordo dan kedaulatan akibatnya dunia makin menuju kehancuran. Hendaklah kita sebagai anak Tuhan sadar akan posisi kita; belajar tunduk pada orang yang berada di atas kita dan tidak semena-mena dengan mereka yang berada di bawah kita, seperti Daud tidak mau membunuh Saul meski ada kesempatan karena ia tahu bagaimanapun juga Saul adalah orang yang harus ia taati. Adanya ordo/urutan inilah yang membuat manusia tidak menyukai silsilah.

3. Kesadaran Pertanggung jawaban Hidup Adalah salah kalau orang menganggap kematian sebagai akhir dari segala-galanya. Tidak! Ada catatan yang harus dipertanggung jawabkan selama hidup kita di dunia; ada catatan sejarah yang membuktikan kalau kita pernah ada di dunia. Kalau kita ada di dunia, berarti tidak akan pernah dapat ditiadakan lalu bagaimana keberadaan kita menjadi sesuatu yang bermakna? Hanya manusia berakal budi yang dapat berpikir tentang “ada/being“ dan hal ini menjadi pergumulan manusia sejak abad pertengahan hingga kini. Para filsuf seperti Heidegger, Nietzsche, dll mengemukakan bahwa “ada“ berarti adanya sesuatu yang “tidak ada“.

“Keberadaan“ selalu menjadi perdebatan manusia di dunia karena manusia tidak dapat menghindar dari keberadaan dirinya. If you are exist and you always be exist, eternally exist. Alkitab menegaskan hidup tanpa makna seperti bunga rumput yang hari ini ada dan besok hilang (Yes. 5:24). Manusia berbeda dengan binatang ataupun rumput kering; keberadaan manusia tidak dapat dihilangkan atau dilupakan begitu saja, dia harus mempertanggung jawabkan setiap yang apa yang dilakukannya selama hidupnya di dunia. Sekali dia ada berarti dia sudah ada dalam sejarah dan silsilah akan mencatatnya sehingga setiap orang dapat melihat hidup kita. Hidup kita lebih mendekat pada kekudusan dan kesalehan ataukah lebih mendekat pada kerusakan moral; hidup kita hanya untuk mengejar keegoisan diri ataukah hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang. Ingat, pertanggung jawaban hidup bukan hanya ada di dalam sejarah saja melainkan di dalam kekekalan.

4. Kesadaran ada Rencana Allah sejak Kekekalan Konsep kesadaran sejarah, kesadaran ordo dan kesadaran akan adanya pertanggung jawaban masih dapat diterima khalayak umum sebagai suatu realita termasuk orang ateis. Matius melihat silsilah dari sudut pandang masa lampau tapi orang hanya melihat atau menilai dari sudut luarnya saja seperti kesuksesan, kekayaan , jabatan, dll. Ada kesuksean lain yang tidak dapat dilihat manusia, yaitu bagaimana seseorang mempersiapkan hidupnya di dalam kekekalan. Silsilah bukan sekedar sebuah proses kebetulan dalam sejarah; silsilah tidak dapat dirancang atau direncanakan oleh manusia akan tetapi ada otoritas yang lebih tinggi yang mengharuskan silsilah terjadi. Manusia bisa memilih melawan atau taat kehendak Tuhan, seperti memilih sekolah, pekerjaan bahkan agama meskipun secara prinsip Alkitab hanya seseorang yang Tuhan pilih saja yang dapat melihat keselamatan kekal. Hanya satu hal, manusia tidak dapat memilih, yaitu tentang kelahirannya; orang tidak dapat memilih di keluarga siapa ia akan dilahirkan.

Melalui silsilah, kedaulatan Allah yang dinyatakan. Matius ingin menunjukkan bahwa keberadaan kita sudah ada dalam rencana kekal Allah. Tidak ada satu manusiapun yang berhak memilih tempat kelahirannya, termasuk Abraham, Ishak, Yakub, Yehuda, Peres dan nama-nama lain yang tercantum dalam silsilah Yesus Kristus (Mat. 1:1-17). Keberadaan mereka ditetapkan berdasarkan rencana kekal Allah begitu juga dengan perpanjangan umur Hizkia. Silsilah merupakan manifestasi bahwa Allah itu hidup dan Allah bekerja sehingga harus kita sadari keberadaan manusia di dunia bukan karena kebetulan tapi telah direncanakan. Dalam pergerakan sejarah, manusia hanya ada dua pilihan, sebagai pemeran utama atau hanya figuran. Dalam sejarah kerajaan Allah kita harus mengerti dan memahami silsilah sebagai rencana kekal Allah. Dimanakah posisi kita, sebagai pemain utama atau hanya sekedar figuran yang sekedar lewat dan kemudian dilupakan? Ingat, hidup manusia di dunia sangat terbatas maka celakalah kalau kita gagal menghubungkan antara keberadaan kita dengan rencana kekal Allah. Bertobatlah kerajaan Allah sudah dekat.

5. Kesadaran Iman Silsilah kerajaan Allah tidak disusun berdasarkan silsilah lahir. Hanya anak Tuhan yang beriman sejati saja yang dicantum dalam injil Matius; mereka dianggap mempunyai catatan sejarah yang sempurna. Puji Tuhan, Alkitab mencatat sejarah iman secara mendetail sehingga kita dapat meneladaninya. Orang yang mengerti kehendak Tuhan adalah orang yang mempunyai iman yang sejati. Alkitab mencatat berbahagialah engkau yang pergi memberitakan kabar baik sehingga orang dapat percaya; kita akan mendapatkan sukacita sejati ketika ada satu orang bertobat. Karena itu kita harus pergi untuk melaksanakan amanat Agung yang Kristus perintahkan (Mat. 28:19-20) maka silsilah kerajaan Allah tidak akan musnah. Silsilah yang bermakna bukanlah silsilah yang ada nama kita di dunia tapi silsilah sejati adalah ketika ada nama kita di kerajaan Allah.

Kalau kita berada dalam kesadaran iman, mengerti iman yang sejati dan kita tahu berada dalam jalur rencana kekal Allah maka tugas dan tanggung jawab kitalah untuk melanjutkan silsilah kerajaan Allah di dunia. Kesadaran inilah yang membuat Yohanes Pembaptis bisa berkata, “Bertobatlah kerajaan Allah sudah dekat“ dan Tuhan Yesus memberikan amanat AgungNya sehingga silsilah kerajaan Allah tidak berhenti begitu saja. Masih banyak orang di dunia yang hidup dalam kehancuran dan tidak berpengharapan, itu menjadi tugas kita sebagai orang Kristen membawa mereka kepada pengharapan sejati dalam Tuhan. Betapa sukacita hati kita jika melalui kita orang boleh diselamatkan dan hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : www.griis.org