Archive for January, 2006

Eksposisi Injil Matius 3 : LIVE IN CONTRIBUTE (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Saturday, January 28th, 2006

Ringkasan Khotbah : 25 April 2004

Live in Contribute

Nats: Mat. 3:1-5

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pola hidup Yohanes Pembaptis sangatlah unik dan berbeda dengan orang lain pada umumnya bahkan dapat dikatakan mendobrak tatanan hidup manusia. Hidup Yohanes Pembaptis bukan untuk diri sendiri melainkan untuk menjadi berkat bagi dunia. Prinsip hidupnya adalah hidup itu untuk memberi, sangat kontras dengan konsep hidup dunia yang mengajarkan bahwa hidup harus menerima atau mendapatkan sesuatu, to get something. Manusia hanya dididik untuk mementingkan diri sendiri. Dan yang sangat memprihatinkan konsep ini ditanamkan pada para hamba Tuhan yang hendak diutus untuk melayani; mereka diajarkan supaya memperoleh berkat dari tempat dimana dia berada. Seorang anak Tuhan sejati, hidupnya harus menjadi berkat, hidup untuk memberi bukan menerima berkat. Bagaimana dengan hidup kita? Sudahkah kita menjadi berkat bagi dunia?

Setiap orang tua pasti menginginkan hidup anaknya sukses namun sayang kesuksesan tersebut hanyalah kesuksesan yang bersifat materi belaka. Karena itu sejak dari kecil orang tua selalu menanamkan konsep tentang mendapat. Anak selalu diajar untuk mencari uang sebanyak-banyaknya kemudian uang yang didapat tersebut harus disimpan baik-baik untuk jaminan hari depan. Oleh sebab itu maka wajarlah kalau orang lebih mementingkan fasilitas dan bila ia tidak mendapatkan keuntungan maka ia akan mencari tempat lain yang lebih menguntungkan. Kalau kita hanya berpikir untuk “mendapat dan mendapat“ saja maka kita akan menjadi seorang yang tamak. Celakanya, orang tidak menyadari bahwa ketamakan akan mempengaruhi relasi kita dengan sesama bahkan merusak hubungan keluarga.

Tuhan menciptakan manusia supaya menjadi berkat bagi orang lain tetapi justru yang terjadi adalah manusia saling menghancurkan demi untuk keuntungan diri sendiri. Iblis telah berhasil merusak paradigma atau cara pikir dasar manusia sehingga manusia gagal menjalankan esensi hidup yang sesungguhnya. Ingat, jika tujuan hidup manusia hanya untuk “mendapat“ saja maka manusia akan hidup dalam ketegangan; manusia tidak akan pernah puas. Kita akan merasakan sukacita yang sejati dan kedamaian bila kita memberi karena Tuhan memanggil manusia di dunia untuk hidup saling berbagi.

Yohanes Pembaptis tahu bahwa Allah telah menetapkannya untuk menjadi pembuka jalan bagi Tuhan Yesus dan hal ini tidaklah mudah karena banyak tantangan dan resiko yang harus dihadapi. Tidak semua tokoh iman dicatat oleh Alkitab secara terperinci hingga  ke pakaian dan makanannya seperti Yohanes Pembaptis. Kalau Alkitab sampai mencatat pakaiannya terbuat dari bulu onta dan makanannya adalah belalang dan madu hutan berarti ada sesuatu yang bermakna yang ditujukan untuk kita.

Sebagian besar hidup pelayanan Yohanes Pembaptis berada di padang gurun karena itu dibutuhkan pakaian dengan bahan tertentu yang dapat melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. Dalam hal ini jubah dari bulu unta dan ikat pinggang dari kulit sangat tepat karena kuat dan tahan lama. Di Palestina, khususnya di daerah padang gurun belalang sangat banyak dijumpai bahkan menyulitkan karena merusak tanaman. Belalang dengan jenis tertentu memang biasa dikonsumsi oleh rakyat miskin atau ketika masa kelaparan datang menimpa negeri itu. Madu hutan banyak terdapat di daerah Palestina bahkan sampai sekarang mereka masih memproduksi madu hutan. Tubuh yang sehat dan kuat diperoleh Yohanes Pembaptis dari madu hutan yang mengandung banyak karbohidrat.

Dengan demikian Yohanes Pembaptis tidak bergantung pada siapapun sehingga ia tidak takut untuk memberitakan berita yang kontroversial itu. Berita yang dikabarkan Yohanes Pembaptis sangat keras dan tidak disukai oleh orang karena itu ia tidak boleh berada di bawah otoritas tertentu supaya tidak mudah didikte oleh mereka yang kepadanya dia menggantungkan diri. Kalau kita berada di bawah otoritas maka kita tidak akan berani mengambil suatu keputusan karena nasib hidup kita ada ditangannya; kita harus taat pada semua perintahnya dengan demikian panggilan Tuhan dalam hidup kita menjadi terhambat karena kita gagal mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah kita mempunyai keberanian untuk mau hidup berkontribusi dan tanpa mengharapkan imbalan? Hidup Yohanes Pembaptis dengan misi yang unik dan sukar untuk kita boleh mengerti sebuah kehidupan tapi dia tahu yang terbaik. Empat aspek yang akan kita soroti dari cara hidup Yohanes Pembaptis yang dapat kita jadikan teladan, yaitu:

1. Hidup tertata dengan baik, live to manage. Manusia tidak menyadari bahwa selama ini hidup seringkali dilewatkan bahkan dihamburkan dengan sia-sia. Banyak orang yang tidak menggunakan waktu, uang dan tenaga dengan baik, semua dibuang dengan percuma untuk sesuatu hal yang sia-sia. Manusia selalu ingin mendapatkan sesuatu yang menguntungkan demi untuk memuaskan nafsunya. Inilah sifat manusia berdosa. Ketika manusia mulai menyadari akan betapa berharganya waktu maka manusia mencoba membuat sistem mekanisme. Dan akhirnya, manusia tidak ubahnya seperti robot, selalu diatur dan dikendalikan oleh suatu mekanisme yang bersifat mati. Ingat, penyesalan kita tidak akan dapat mengulang waktu kembali jadi gunakanlah hidupmu dengan sebaik mungkin, untuk sesuatu yang bermanfaat, yaitu demi untuk kemuliaan namaNya. Hidup manusia menjadi lebih indah jika ditata dengan baik. Hendaklah tiap-tiap hari kita mengevaluasi diri sudahkah hari ini lebih baik dari hari kemarin dan apakah semua waktu telah kita pergunakan dengan baik dan menghasilkan kualitas yang lebih baik dari kemarin?

Mengatur waktu dengan mekanisme merupakan suatu hal baik akan tetapi janganlah kita dijepit oleh waktu dan akhirnya malah membuat hidup kita menjadi stress. Inilah paradoks yang harus kita mengerti. Di satu sisi kita tidak boleh dijepit waktu tetapi di sisi yang lain kita harus memacu diri untuk menggunakan waktu sesingkat mungkin namun berkualitas baik. Waktu pelayanan Yohanes Pembaptis sangat singkat namun ia telah sukses menata hidupnya dan menghasilkan kualitas yang baik. Yohanes Pembaptis tahu bahwa Yesuslah yang terutama karena itu ia mulai mengurangi pelayanannya sebab Dia yang harus makin bertambah dan aku harus semakin berkurang. Meski waktu pelayanannya di dunia sangat singkat namun hal itu tidak menurunkan kualitas pelayanannya. Yohanes Pembaptis telah sukses menata hidupnya.

2. Hidup berorientasi untuk memberi, live to give. Yohanes Pembaptis tidak pernah bosan dan tiada henti-hentinya setiap saat menyadarkan orang akan dosa supaya kembali pada jalan Tuhan, mewartakan berita pertobatan. Di sepanjang hidupnya, Yohanes Pembaptis tidak mengerjakan banyak hal tetapi dia telah memberi yang terbaik untuk seluruh manusia dan beritanya telah dicatat di sepanjang sejarah jaman dan didengar oleh seluruh umat manusia di dunia. Kita akan merasakan sukacita sejati kalau orientasi hidup kita adalah untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Jangan takut meski orang Kristen minoritas namun kita akan menjadi mayoritas jika telah menjadi berkat buat mayoritas. Dengan demikian jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada yang minoritas tentu yang mayoritas tidak akan  tinggal diam karena kita yang telah menjadi bagian dari mayoritas.

Konsep dunia sangat kontras dengan ajaran Tuhan Yesus. Dunia mengajarkan semakin banyak menerima maka hidup menjadi bahagia. Salah! Hal itu justru akan menjadi bumerang yang mencelakakan hidup kita sendiri. Keegoisan diri kita membuat kita dibenci dunia. Lalu apakah kalau hidup kita menjadi berkat bagi orang lain, dunia tidak akan membenci kita? Tidak! Dunia juga pasti akan membenci karena ketika anak Tuhan memancarkan terang maka tidak akan ada tempat untuk bersembunyi. Inilah paradoks yang harus kita mengerti. Anak Tuhan yang sejati hendaklah menjadi garam dan terang sehingga dengan demikian kita dapat menjadi berkat. Hati-hati dengan orang yang berkedok kasih melakukan segala perbuatan baik akan tetapi semua itu hanya demi untuk kemegahan diri. Alkitab menegaskan jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (Mat. 6:3). Hidup manusia di dunia sangat singkat karena itu pergunakanlah waktu yang sangat singkat ini dengan menjadi berkat bagi orang lain dan engkau akan merasakan sukacita sejati. Bagaimana dengan hidup kita? Dimanapun kita berada sudahkah kita menjadi berkat?

3. Hidup untuk memuliakan nama Tuhan, live for glory. Apa yang menjadi motivasi kita ketika memberi? Yohanes Pembaptis melakukannya dengan motivasi murni, yaitu untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kemegahan diri. Dia berani berkorban demi untuk memberitakan berita yang kontroversial, ia tidak pernah memperhitungkan nama baiknya. Yohanes Pembaptis melakukan perbuatan baik bukan untuk mendapatkan pujian dan demi untuk kepentingan diri sendiri. Hari ini banyak orang Kristen mau berbuat baik tetapi tidak mau berkorban, mereka takut menghadapi resiko. Lalu apa bedanya dengan dunia?

Sebagai orang Kristen, kita harus siap dibenci oleh dunia dan siap berkorban oleh sebab kebenaran. Kita harus mempunyai motivasi yang murni dan sejati, yaitu to glorify God, mempermuliakan Tuhan di sepanjang hidup kita. Biarlah kita mau meneladani sikap hidup Yohanes Pembaptis, yakni Dia yang harus makin bertambah dan aku yang harus makin berkurang. Di dunia ini banyak orang yang hanya ingin mementingkan diri, mencari kemuliaan diri dan kesenangan diri tapi Tuhan justru mengajarkan supaya kita memberi dengan demikian hidup kita menjadi berkat sehingga orang lain dapat melihat, mengenal dan menerima Yesus sebagai Juruselamat.

4. Hidup limpah dalam anugerah Tuhan, live for richness. Kalau kita punya sesuatu yang dapat kita berikan pada orang lain, ingatlah itu semua bukan milik kita tapi semua itu berasal dari Allah. Jangan pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran kita bahwa uang yang kita berikan itu adalah dari hasil kerja kita. Tidak! Pekerjaan itu pun asalnya juga dari Tuhan maka tidak ada seorang pun yang berhak memegahkan diri. Segala kepandaian, kekayaan dan kehebatan kita asalnya dari Tuhan. Jadi, merupakan suatu anugerah kalau kita dapat memperoleh semuanya itu. Ingat, Tuhan yang memberi maka Dia berhak mengambil. Bersyukurlah kalau sampai detik ini kita masih dapat menghirup udara, kita masih hidup dan merasakan anugerah kasih Tuhan. Hendaklah kita menyadari bahwa kalau Tuhan masih berkenan memakai kita menjadi saluran berkat itu merupakan suatu anugerah besar. Siapakah kita sehingga Tuhan berkenan memakai kita?

Kalau kita dapat memberi menunjukkan bahwa kita adalah orang kaya sejati. Coba pikir, kalau kita tidak kaya bagaimana mungkin kita dapat memberi, bukan? Ukuran orang kaya bukan uang atau deposito yang ada di bank. Tuhan sangat menghargai orang yang memberi dengan sepenuh hati. Tuhan memuji persembahan janda miskin yang hanya 2 peser karena ia memberi dengan sepenuh hati; ibu janda itu menyadari bahwa semua yang ada pada dirinya adalah berasal dari Tuhan. Ingat, kita tidak akan menjadi miskin karena kita memberi justru dengan memberi menunjukkan bahwa kita hidup dalam berkelimpahan. Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkatNya ketika kita memberi. Hati-hati, banyak orang yang salah menafsirkan ayat ini, mereka pikir dengan memberi sedikit maka Tuhan akan memberi lebih banyak, seperti orang berharap mendapat ikan kakap dengan umpan ikan teri. Salah!

Orang seringkali beranggapan bahwa Tuhan seperti layaknya seorang Raja yang kejam yang ingin mengeruk harta saja. Tidak, Tuhan kita justru seorang Raja yang kasih, Dia senantiasa memeliharakan hidup kita. Namun seandainya hal itu benar, Dia layak mengambil kembali semua harta kita toh semua itu asalnya dari Tuhan. Puji Tuhan, Dia justru menunjukkan pada kita bahwa Ia adalah Allah yang penuh cinta kasih, Ia melimpahkan berkat yang berkelimpahan pada kita. Yohanes Pembaptis tidak pernah mengharapkan imbalan sedikit pun dari semua hal yang ia lakukan, mempertobatkan orang banyak dan ia tidak pernah merasa berjasa karena dirinya sebagai pembuka jalan bagi Tuhan Yesus. Sebaliknya, justru dengan rendah hati ia mundur dari pelayanan ketika Tuhan Yesus datang ke dunia. Paulus juga merasakan kasih karunia dan kelimpahan hidup di dalam Kristus setelah bertobat.

Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagi kita semua; Dia yang adalah Tuhan pemilik alam semesta rela datang ke dunia, Ia mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba untuk berbagi, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan Dia memberikan nyawa untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Maukah kita dipakai menjadi alatNya?  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

 

Bina Iman Kristen-46 : FILSAFAT MANUSIA (oleh : Pdt. Billy Kristanto, Dip.Mus., M.C.S.)

Saturday, January 28th, 2006

Bina Iman Kristen-46

FILSAFAT MANUSIA

oleh : Pdt. Billy Kristanto, Dip.Mus., M.C.S.

PENDAHULUAN

Banyak tulisan modern sarat dengan perasaan absurditas, kebosanan, kemuakan dan ketidak-artian. Bagaimana timbulnya semua perasaan muram ini? Jelaslah antara lain karena dua kali terjadi perang dunia yang disertai badai kekerasan, kebencian serta ketidak-manusiawian dan mengakibatkan korban berjuta-juta, ditambah lagi semua pengungsi dan orang yang kehilangan tempat tinggal. Barangkali yang paling buruk bukanlah kekerasan fisik, melainkan pembusukan kepribadian serta hati nurani karena perang memaksa manusia memainkan peranan-peranan di mana ia tidak lagi mengenal dirinya sendiri dan mengkhianati keterlibatannya. Perang seolah-olah mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menghancurkan kemungkinan untuk bertindak dengan cara yang sungguh-sungguh manusiawi. Pertanyaan yang menarik bagi kita ialah apakah kita sebagai pribadi atau sebagai masyarakat, masih sanggup memberikan suatu makna kepada kehidupan kita. Kita berefleksi tentang diri kita sendiri dan tentang pertanyaan eksistensial ini: apakah hidup kita masih mempunyai makna? Dan kalau masih ada makna yang bagaimana? Dalam tulisan ini kami berusaha untuk menampilkan beberapa filsuf yang representatif berbicara mengenai manusia. Beberapa thema yang penting yang menjadi pokok pembahasan yang digeluti misalnya seperti tentang siapakah manusia (Sokrates), makna tertinggi keberadaan manusia (Plato), esensi atau hakekat manusia (Descartes), eksistensi manusia (Kierkegaard, Sartre), tubuh manusia (Plato, Marcel). Dan akhirnya kami mengakhiri tulisan ini dengan sebuah mini eksegese dari tulisan Paulus kepada jemaat di Roma (pasal 12:1-2) yang menurut hemat kami menjadi jawaban yang mengakhiri semua perdebatan filsuf-filsuf tentang manusia.

PRE-SOKRATES ─ SOKRATES

Pada permulaan perkembangan pemikiran filsafat Yunani, tampaknya semata-mata berurusan dengan dunia fisik saja. Kosmologi jelas amat mengungguli penyelidikan-penyelidikan dalam cabang-cabang filsafat lainnya.

·         Mazhab Milesian mengembangkan filsafat jasmaniah.

·         Mazhab Pythagorean mengembangkan filsafat matematis. Aliran ini berpendapat bahwa unsur-unsur kualitatif kosmos berasal dari unsur-unsur kuantitatif, yaitu bilangan-bilangan. Mazhab ini juga menaruh perhatian yang dalam pada masalah manusia, tetapi terutama dari sudut keagamaan di dalam kelompok tertutup tempat mereka hidup.

·         Para pemikir Eleatik menjadi orang-orang pertama yang menggariskan cita-cita logika. Mereka menegaskan bahwa hanya rasio yang dapat membuka jalan ke arah Ada yang benar dan nyata.

·         Heraklitos berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis dan pemikiran antropologis. Dia menolak konsep tentang Ada yang dikemukakan Mazhab Eleatik. Bagi dia, pengenalan indrawi menjadi titik tolak yang terpecaya meskipun ia sangat menjunjung tinggi rasio (logos) sebagai kemampuan untuk mengenal, namun rasio itu sama bergerak dan terlibat dalam proses menjadi seperti segala sesuatu yang ada.

·         Protagoras, seorang sofis, mengatakan bahwa bukanlah Ada yang menentukan pengenalan kita, melainkan pengenalan kita yang menentukan Ada. Jadi bukan obyektivisme, melainkan subyektivisme. Oleh sebab itu dia berpendapat bahwa "manusia adalah tolok ukur untuk segala-galanya".

Meskipun mereka tergolong filsuf alam, namun Heraklitos sudah yakin bahwa mustahil menyelami rahasia alam tanpa mempelajari rahasia manusia. Kita harus memenuhi tuntutan akan pengenalan diri bila kita hendak tetap menguasai realitas dan memahami maknanya. Oleh sebab itu Heraklitos menyebut seluruh filsafatnya dengan dua kata edizesamen emeoton ("Aku mencari diriku sendiri"). Namun kecendrungan berpikir yang baru ini, baru matang pada masa Sokrates, sehingga persoalan tentang manusia merupakan patokan yang membedakan pemikiran Sokrates dengan pemikiran pre-Sokrates. Ungkapan Sokrates yang sangat terkenal adalah "kenalilah dirimu sendiri". Manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencari dirinya sendiri dan yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, "Hidup yang tidak dikaji" adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Bagi Sokrates, manusia adalah makhluk yang bila disoroti pertanyaan yang rasional dapat menjawab secara rasional pula. Menurut Sokrates, hakekat manusia tidak ditentukan oleh tambahan-tambahan dari luar, ia semata-mata tergantung pada penilaian diri atau pada nilai yang diberikannya kepada dirinya sendiri. Semua hal yang ‘ditambahkan dari luar’ kepada manusia adalah kosong dan hampa. Kekayaan, pangkat, kemasyhuran dan bahkan kesehatan atau kepandaian semuanya tidak pokok (adiaphoron). Satu-satunya persoalan adalah kecendrungan sikap terdalam pada hati manusia. Hati nurani merupakan "hal yang tidak dapat memperburuk diri manusia, tidak dapat juga melukainya baik dari luar maupun dari dalam".

PLATO (427 - 347 SM)

Terjadi titik balik dalam kebudayaan dan pemikiran Yunani ketika Plato menafsirkan semboyan "kenalilah dirimu sendiri" (gnothi seauton) dengan cara yang sama sekali baru. Penafsiran ini memunculkan persoalan yang tidak hanya tidak terdapat pada pemikiran pre-Sokrates, tetapi juga di luar jangkauan metode Sokrates sendiri. Untuk memenuhi permintaan orakel Delphi, untuk memenuhi kewajiban religius berupa pengkajian diri serta pengenalan diri, Sokrates mendekati manusia sebagai individu. Pendekatan Sokrates ini oleh Plato dianggap punya keterbatasan-keterbatasan. Bagi Plato, untuk memecahkan persoalan tersebut kita harus membuat rancangan yang lebih luas. Dalam pengalaman individual, kita menghadapi gejala-gejala yang demikian beraneka, rumit dan saling bertentangan, sehingga kita sulit melihatnya secara jelas. Manusia seharusnya dipelajari dari sudut kehidupan sosial dan politis. Menurut Plato, manusia adalah ibarat teks yang sulit, maknanya harus diuraikan oleh filsafat. Tapi dalam pengalaman kita sebagai pribadi, teks itu ditulis dengan huruf-huruf yang terlampau kecil sehingga tidak terbaca. Maka sebagai tugas pertama, filsafat harus ‘memperbesar’ tulisan-tulisan tersebut. Filsafat hanya dapat mengajukan teori yang memadai tentang manusia apabila sampai pada teori tentang negara. Dalam teori tentang negara, sifat-sifat manusia ditulis dengan huruf-huruf besar. Dalam teori tentang negara, arti ‘teks’ yang semula tersembunyi seketika muncul, dan apa yang semula kabur dan ruwet menjadi jelas dan dapat dibaca. Namun negara bukanlah segala-galanya, serta negara tidak mencerminkan dan tidak menyerap seluruh aktivitas manusia, meskipun kegiatan manusia dalam perkembangan sejarahnya berhubungan erat dengan bertumbuhnya negara. Plato bertitik tolak dari manusia yang harmonis serta adil dan dalam hal itu ia menggunakan pembagian jiwa atas 3 fungsi, yaitu:

·         Epithymia (suatu bagian keinginan dalam jiwa).

·         Thymos, (suatu bagian energik dalam jiwa).

·         Logos, (suatu bagian rasional dalam jiwa dan sebagai puncak dan pelingkup).

Menurut Plato, negara diibaratkan sebagai Manusia Besar, sebagai organisme yang terdiri atas 3 bagian atau golongan yang masing-masing sepadan dengan suatu bagian jiwa, yaitu:

·         Epithymia, golongan produktif yang terdiri dari buruh, petani, dan pedagang.

·         Thymos, golongan penjaga yang terdiri dari prajurit-prajurit.

·         Logos, golongan pejabat yang memegang pucuk pimpinan dan kekuasaan.

Plato juga mengajarkan teori tentang pra-eksistensi jiwa. Dia mengatakan sebelum kita dilahirkan, atau sebelum kita memperoleh suatu status badani, kita sudah berada sebagai jiwa-jiwa murni dan hidup di kawasan lebih tinggi di mana kita memandang suatu dunia rohani. Sejak kita dilahirkan, kita berada di bumi dan jiwa kita meringkuk dalam penjara tubuh, terbuang dari daerah tinggi itu. Karena penjelmaan dalam tubuh itu, jiwa kita tidak lagi menyadarkan diri dan dengan mendadak tidak lagi menyadari pengetahuan tentang idea-idea dalam dunia kayangan dulu. Dari sini Plato kemudian mengembangkan teori tentang manusia. Manusia pada mulanya adalah roh murni yang hidup dari kontemplasi akan yang ideal dan yang ilahi. Jadi, kemungkinan dan makna ultimate keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Tetapi kita gagal mencapai kehidupan yang sebagaimana mestinya karena kita menyimpang dari kiblat idea-idea tersebut, sehingga kita langsung terhukum dengan dipenjarakannya jiwa ke dalam tubuh. Kita harus berusaha naik ke atas dan memperoleh perhatian dan cinta besar untuk dunia ideal dan ilahi itu. Akan tetapi kemungkinan untuk mewujudkan makna ini sangat dibatasi karena kita terbelenggu dalam materi. Bagi kita, dunia jasmani dan tubuh menjadi kemungkinan-kemungkinan buruk untuk tersesat lebih jauh lagi dan tenggelam dalam rawa-rawa materi dan sensual. Kemungkinan yang paling jahat ialah menyerahkan diri sepenuhnya kepada dirinya sendiri (egoisme radikal) dan kepada benda-benda jasmani (materialisme dan sensualisme). Jadi, bagi manusia, dunia dan tubuh itu bersifat ambivalen, artinya dunia serta tubuh dapat merayu dia ke arah kemungkinan-kemungkinan yang jahat, tetapi dapat juga mendorong dia kepada kemungkinan-kemungkinan yang baik. Manusia memiliki suatu daya yang kuat dan gemilang yang dapat mendorong dia ke atas, yaitu cinta (eros). Eros adalah daya kreatif dalam diri manusia, pencetus kehidupan, inspirator para penemu, seniman dan genius. Eros memenuhi kita dengan semangat kebersamaan, membebaskan kita dari kesendirian kita, dan mengajak kita ke pesta, musik, tarian, dan permaian. Plato menyebutnya sebagai "bapak segala kehalusan, segala kepuasan dan kelimpahan, segala daya tarik, keinginan dan asmara". Eros mendorong kita semakin tinggi, sehingga kita dapat beralih dari cinta yang kelihatan kepada cinta yang tidak kelihatan, ideal, ilahi. Menurut Plato, kematian hanyalah permulaan suatu reinkarnasi baru yang lebih rendah atau lebih tinggi daripada keberadaannya sebelumnya. Dalam karyanya: Phaidros, Plato berkata bahwa setelah 10.000 tahun, jiwa akan kembali ke asal usulnya. Jadi menurut pandangan Plato, manusia mempunyai banyak jiwa dan banyak manusia individu.

RENE DESCARTES (1596-1650)

Filsafat Rasionalismenya membawa dampak terhadap pandangan tentang manusia. Pemikiran-pemikiran penting dalam filsafatnya:

·         Ada dua bentuk realitas yang berbeda, dua "substansi". Yang pertama adalah gagasan (res cogitan), atau "pikiran", dan yang kedua adalah perluasan (res extensa). Pikiran itu adalah kesadaran, tidak mengambil tempat dalam ruang. Materi adalah perluasan, mengambil tempat dalam ruang dan tidak mempunyai kesadaran.

·         Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.

·         Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai pikiran dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak terjadi di dalam badan - itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak tergantung pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara "roh" dan "materi". Pikiran dapat selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan badaniah. Namun pikiran dapat menjauhkan diri dari impuls-impuls ‘tercela’ semacam itu dan bekerja tanpa tergantung pada badan (jika aku merasakan sakit yang amat-sangat pada perutku, jumlah sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat. Maka manusia mempunyai kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan badaniah dan bertindak secara rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul daripada badan.

SÖREN KIERKEGAARD (1813-1855)

Sebagai Bapak Eksistensialisme, pandangan filosofis Kierkegaard tentunya banyak membahas tentang manusia, khususnya eksistensinya. Beberapa point yang penting dalam filsafatnya:

·         Individu tidak ditempatkan di hadapan Ketiadaan, melainkan di hadapan Tuhan.

·        Dia menganggap Hegelianisme sebagai ancaman besar untuk individu, untuk manusia selaku persona.

· Yang harus dipersoalkan terutama subyektivitas dari kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam kehidupan individu. Kebenaran obyektif - termasuk agama - harus mendarah daging dalam si individu.

· Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa kulihat dengan jelas apa yang Tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat. Yang terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran yang adalah benar untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan kematianku. Apakah gunanya menemukan suatu kebenaran yang disebut obyektif dan mempelajari semua sistem filosofis . Sejauh mana ada baiknya bagiku dapat menjelaskan arti agama Kristen bila agama itu tidak mempunyai arti mendalam untuk aku sendiri dan kehidupanku ." Kierkegaard mencari kebenaran yang konkret serta eksistensial, suatu pengetahuan yang dihayati (connaissance vécue), a real knowledge.

·         Dia membedakan manusia dalam stadium estetis, etis dan religius.

·         Pada stadium estetis manusia membiarkan diri dipimpin oleh sejumlah besar kesan-kesan indrawi, mengikuti prinsip kesenangannya, lebih dijadikan hidup daripada ia hidup sendiri. Manusia menyibukkan diri dengan rupa-rupa hal, tetapi ia tidak melibatkan diri; ia hanya tinggal seorang penonton yang berminat. Ia bisa menjadi seorang hedonis yang sempurna, seorang "perayu" seperti Don Juan, atau seorang yang "sok tahu" dan seorang Sofis (mis. Mendalami filsafat dan teologi).

·         Kebosanan, kekurangsenangan dan kecemasan memimpin seseorang ke arah stadium etis. Mulai mekar keinsafan akan kemungkinan-kemungkinan kita, akan kebebasan, tanggung jawab dan kewajiban kita. Kita sampai pada diri kita sendiri, menggantungkan kehidupan kita pada norma, bertumbuh menjadi persona. Kita semakin mengikat diri, dari penonton menjadi pelaku, kita melibatkan diri. Dalam stadium ini juga, manusia menyadari keadaannya yang tragis dan bercacat; ia menginsafi bahwa ia penuh kekurangan. Ia akan merasa jengkel karena ketidaksempurnaannya serta ketidaksanggupan morilnya dan mungkin akan memberontak terhadap seluruh tatanan etis.

·         Manusia bisa merasa dirinya kecil dan tidak berdaya sambil mendambakan topangan serta bantuan Tuhan, yang mengulurkan tangan-Nya untuk membantu manusia yang terkoyak-koyak (bandingkan Mat 5:3). Bila kita menangkap tangan ini dan membuka diri untuk Tuhan, maka kita tiba pada stadium religius. Sebagai orang Kristen - ia berani menerjunkan diri ke dalam petualangan untuk - dengan ketidakpastian intelektual yang besar - mempertaruhkan seluruh jiwa raganya demi mengikuti jejak Kristus. Iman kepercayan Kristiani itu bersifat paradoks, sebagaimana Kristus merupakan Paradoks besar yang mempersatukan keabadian serta keduniawian, keilahian serta kemanusiawian. Hidup sebagai Kristen adalah cara hidup tertinggi yang merupakan kemungkinan ultim dan makna keberadaan manusia.

GABRIEL MARCEL (1889-1973)

Salah satu thema utama dalam filsafatnya adalah mengenai tubuh. Beberapa hal yang penting:

·         Masalah mengenai "mempunyai" dan "Ada" dikaitkan dengan tubuh. Saya mempunyai tubuhku atau saya adalah tubuhku? Tubuhku bagi saya bukan obyek, melainkan selalu melibatkan pengalaman saya sendiri tentang organisme fisis-kimiawi, inilah yang ingin diselidiki oleh Marcel.

·         Analogi "saya mempunyai tubuhku" dengan "saya mempunyai anjingku" harus dihentikan karena tiga aspek: 1) antara saya dan tubuhku tidak terdapat struktur qui-quid (subyek yang mempunyai dan yang dipunyai) seperti antara saya dan anjingku; 2) tubuh tidak berada di luar saya seperti halnya dengan anjing; 3) saya tidak merupakan "yang lain" terhadap tubuhku seperti saya memang merupakan "yang lain" terhadap anjingku.

·         Tubuh bukanlah alat. Martil berada antara tukang kayu dan papan yang sedang dikerjakan. Tubuh tidak berada antara aku dan apa yang sedang dikerjakan. Bila saya menulis, tubuh tidak berada antara "aku" dan kertas.

·         Tubuh adalah "alat absolut", artinya alat yang memungkinkan alat2 tetapi tidak merupakan alat bagi sesuatu yang lain.

·         Tubuh adalah "prototipe" di bidang "mempunyai", yang memungkinkan untuk mempunyai tetapi tidak dipunyai oleh sesuatu yang lain.

·         Sekalipun demikian saya tidak identik begitu saja dengan tubuhku. Tetapi jelas penengahan antara saya dan tubuhku tidak bersifat instrumental. Marcel menyebutnya sympathetic mediation: penengahan pada taraf "merasakan" (sentir). Saya adalah tubuhku, hanya sejauh saya adalah makhluk yang merasakan.

·         Proses "merasakan" harus dimengerti sebagai suatu "message" dari luar yang diterima di dalam subyek. Garis pemisah yang ditarik antara "di luar" dan "di dalam" harus ditolak karena "menerima" dalam hal perasaan tidak pernah sama dengan "menerima semata-mata pasif". "Menerima" di sini harus dimengerti sebagai partisipasi, membuka diri, memberikan diri; "menerima" seperti tuan rumah menyambut tamu-tamunya. "Merasakan" berarti menerima dalam wilayah yang merupakan wilayah saya.

·         "Inkarnasi" manusia hanya mungkin karena dengan tubuhku saya berada dalam dunia, bukan saja dalam arti bahwa saya dapat mempengaruhi benda-benda, tetapi juga dalam arti bahwa saya terpengaruhi oleh benda-benda. Dualisme antara "di luar" dan "di dalam" harus ditinggalkan. Inkarnasi itu merupakan titik tolak refleksi filosofis dan bukan cogito atau kesadaran.

JEAN PAUL SARTRE (1905 -1980)

Manusia merupakan suatu proyek ke masa depan yang tidak mungkin didefinisikan. Manusia adalah sebagaimana ia diperbuat oleh dirinya sendiri. Ia adalah masa depannya. Moral dan etika harus diciptakan oleh manusia sendiri. Kita adalah kebebasan total, "kita dihukum untuk bertindak bebas". Inilah kemegahan dan sekaligus kemalangan bagi kita, sebab kebebasan mengandung juga tanggung-jawab. Kita bertanggung-jawab atas seluruh eksistensi kita dan bahkan kita bertanggung-jawab atas semua manusia karena terus-menerus kita adalah manusia yang memilih dan dengan memilih diri kita sendiri, kita sekaligus memilih untuk semua orang. Dari tanggung-jawab yang mengerikan ini lahirlah kecemasan atau keputus-asaan. Kita berusaha meloloskan diri dari kecemasan serta keputusasaan itu melalui sikap malafide (mauvaise foi) serta keikhlasan (sincerite), dengan berlagak seolah-olah kita bisa ada sebagaimana seharusnya kita ada dan secara diam-diam menyisipkan suatu identifikasi antara en-soi (Ada-pada-dirinya) dan pour-soi (kesadaran kita).

Mungkinkah kehidupan manusia tanpa Tuhan? Apakah hidup manusia masih mempunyai makna? Secara obyektif kehidupan kita memang tidak mempunyai makna sedikitpun dan absurd sama sekali. Kita tidak mempunyai alasan untuk berada. Manusia merupakan une pasion inutile, suatu gairah yang tidak berguna. Namun kita bisa memberi makna kepada kehidupan kita dan dengan itu kehidupan manusiawi sebetulnya baru menjadi mungkin. Jadi seorang manusia dapat memberi makna kepada keberadaannya dengan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan yang ada, dengan merancang dirinya. Sartre pernah menyebut orang lain "neraka", tetapi kemudian ia menginginkan suatu ikatan dan ia menemukan orang lain sebagai syarat untuk eksistensinya sendiri. Untuk memperoleh kebenaran tentang diri saya sendiri, saya memerlukan orang lain. Jadi Sartre yang sebagai atheis ingin menciptakan suatu way of life yang baru, yaitu semacam moral manusiawi yang baru. Karena saya terikat dengan orang lain, maka kebebasan saya harus memperhitungkan juga kebebasan orang lain itu. Saya tidak boleh membuat kebebasan saya menjadi tujuan tanpa membuat hal yang sama dengan kebebasan orang lain. Setelah semua manusia mati, seluruh sejarah umat manusia dapat disingkatkan dengan mengatakan, "begitulah manusia". Akan tetapi, siapakah yang dapat mengetahui serta mengatakan hal itu karena tidak ada lagi manusia? Selama masih ada manusia hidup, selalu terlalu pagi untuk mengatakan "begitulah manusia". Bagi manusia individu, kemungkinan ultimate adalah kematian, tetapi kemungkinan ultimate seluruh umat manusia tidak kita ketahui.

RASUL PAULUS

Kita akan mengkonsentrasikan pandangan Paulus, khususnya dalam suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 12:1-2). Di sini Paulus mengaitkan tubuh (sebagai persembahan yang hidup kepada Allah), keberbedaan kita dengan dunia, pembaharuan budi dan mengetahui kehendak Allah (yang baik dan sempurna).

·         Berbeda dengan Plato dan Descartes yang cenderung melihat tubuh sebagai penjara jiwa, yang seringkali menghalangi akal sehat yang seharusnya memimpin, berbeda juga dengan Marcel yang cenderung memberhalakan tubuh sebagai "alat absolut" yang tidak dijadikan oleh sesuatu apapun yang lain, maka Paulus menasihatkan kita untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup kepada Allah. Di sini kita melihat pandangan yang positif tentang tubuh (bukan sesuatu yang jahat), sekaligus dilarang untuk memberhalakannya, karena Allah sebagai Pencipta tubuh kita berhak untuk memakainya, bahkan "mempunyainya" sebagai "alat" di tangan-Nya.

·         Berbeda dengan Marcel yang mengatakan bahwa kita seharusnya terbuka terhadap setiap "message" dari luar yang diterima (dirasakan) oleh tubuh, terpengaruhi oleh benda-benda dlsb, Paulus mengatakan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Permasalahannya di sini bukanlah bahwa kita harus memiliki satu sikap eksistensial berani ditransformasi oleh segala sesuatu "yang lain", melainkan pertanyaan "apa yang mentransformasi kita?" Alkitab mengatakan bahwa transformasi itu terjadi dalam "pikiran" (mind) yang mengenal kehendak Allah. Transformasi pikiran inilah sebenarnya yang dikejar dan didambakan oleh Plato dan yang disebutnya sebagai "kontemplasi akan yang ideal dan yang ilahi". Alkitab tidak pernah mengajarkan agar kita memberikan diri untuk ditransformasi oleh apa saja (asal bersedia ditransformasi), melainkan bahwa yang mentransformasi kita adalah firman Tuhan. Transformasi yang dikerjakan oleh firman Tuhan membuat kita semakin mengerti dan mengenal kehendak Allah. Di sini kita melihat bahwa Alkitab menghendaki pengertian pikiran kita (understanding of our mind) terus-menerus disempurnakan, sehingga menjadi orang kristen yang berkenan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari mengerti dan memikirkan apa yang kita percaya karena di situlah transformasi itu terjadi. Sebagaimana dikatakan oleh John Piper, orang Kristen seharusnya menjadi seseorang yang memiliki "a mind in love with God". Mind corresponds to the understanding of the truth of God’s perfections. Love corresponds to the delight in the worth and beauty of those perfections. God is glorified both by being understood and by being delighted in. He is not glorified so much by one brand of evangelicals who divorce delight from understanding. And he is not glorified so much by another branch of evangelicals who divorce understanding from delight (John Piper, God’s Passion for His Glory. Wheaton: Crossway Books, 1998, p.82).

·         Plato mengatakan bahwa kemungkinan dan makna ultimate keberadaan manusia mula-mula terletak dalam kehidupan yang berkaitan erat dengan yang baik, yang benar, dan yang indah. Paulus mengatakan bahwa mengetahui dan dapat membedakan kehendak Allah adalah apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Plato secara samar-samar memiliki pengertian tentang makna ultimate keberadaan manusia, namun Pauluslah yang dipercayakan Tuhan untuk menyatakan apa yang baik itu, yang benar, yang indah, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna yaitu mengetahui kehendak Allah. Dengan mengetahui kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya manusia menemukan makna ultimate keberadaan dirinya.

Soli Deo Gloria!

——————————————————————————–

G e T e K

Pdt. Billy Kristanto, Dip.Mus., M.C.S. adalah pendeta sinode Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), dan saat ini sedang melayani di Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Berlin. Beliua menempuh pendidikan musik di Jerman dan pendidikan theologia di Institut Reformed, Jakarta hingga gelar Master of Christian Studies (M.C.S.). Saat ini selain sebagai gembala sidang MRII Berlin, beliau juga menjadi Dekan Fakultas Musik di Institut Reformed, Jakarta. Beliau telah menikah.

Eksposisi Injil Matius 3 : LIFE IN TRUST (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, January 20th, 2006

Eksposisi Injil Matius 3

Ringkasan Khotbah : 18 April 2004

Live in Trusth

Nats: Mat. 3:5-8

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kelahiran Yohanes Pembaptis memang telah direncanakan untuk menjadi pembuka jalan, fore rider bagi Tuhan Yesus. Dia harus terlebih dahulu memberitakan berita yang akan disampaikan oleh Tuhan Yesus, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“ Berita ini tegas dan sangat jelas bahkan tidak memerlukan penafsiran untuk dapat mengerti isi berita tersebut. “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“ menjadi berita yang kontroversial dan tidak disuka oleh manusia berdosa namun berita ini harus dikabarkan ke seluruh dunia karena merupakan berita inti dari Kekristenan. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau orang mau meniadakan berita ini dan orang Kristen yang mau menghilangkan inti berita Kekristenan, ia tidak layak disebut Kristen.

Kedatangan Kristus ke dunia adalah untuk membawa manusia kembali ke tujuan awal penciptaan, yaitu seluruh hidup manusia hanya untuk memuliakan Dia begitu pula dengan seluruh isi alam semesta harus dikelola manusia dengan bertanggung jawab dan hasil akhirnya hanya untuk kemuliaan namaNya. Dengan demikian manusia tidak mendirikan kerajaannya sendiri tetapi dia menjadi warga Kerajaan Sorga dan manusia akan merasakan kebahagiaan sejati. Misi ini diungkapkan Kristus dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan kepada para murid “Datanglah KerajaanMu di bumi seperti di sorga“. Dunia telah jatuh ke dalam dosa karena itu berita “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“ sangat dibutuhkan. Sudahkah kita memberitakan berita pertobatan pada dunia? Kalau hari ini kita tidak berani memberitakan berita yang kontroversial ini, apakah kita layak disebut sebagai seorang Kristen sejati?

Tugas setiap anak Tuhan sejati adalah mengabarkan Injil akan tetapi sebelum kita pergi menjadi saksi Kristus, sudahkah kita secara pribadi mengalami pertobatan sejati? Kalau kita sendiri masih hidup bergelimang dosa dan tidak pernah mengalami pertobatan secara pribadi maka kita pasti tidak akan mempunyai kemampuan, keberanian dan kuasa mengajak orang lain untuk hidup dalam Kerajaan Tuhan. Dan akhirnya kegagalanlah yang kita peroleh. Karena itu, sebelum engkau pergi menjadi saksi Kristus, kita harus mengalami pertobatan itu secara pribadi. Dengan demikian kita mempunyai keberanian untuk pergi memberitakan Injil karena Tuhan yang memampukan dan Dia selalu beserta.  Dan ingat, hanya Roh Kudus yang dapat mempertobatkan seseorang dan bukan karena fasih lidah dan kepandaian kita maka jangan seorang pun yang memegahkan diri.

Kita menolak pendapat kaum Armenian yang menyatakan bahwa pertobatan seseorang tergantung bagaimana cara kita dan tawaran seperti apa yang kita berikan padanya. Tawaran manis justru tidak dapat mempertobatkan seseorang sebaliknya dia hanya akan menjadi seorang peminta-minta saja. Seseorang akan mengalami pertobatan sejati ketika dia disadarkan akan segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat dan dia mau kembali pada Kristus. Namun, hari ini kita menjumpai gereja-gereja di dunia modern takut untuk menegur manusia akan dosa maka tidaklah heran kalau di dalam gereja kita menjumpai jemaat yang mengikut cara dunia, iblis yang berwajah malaikat. Karena ulah mereka yang mengaku diri “Kristen“ tapi berkelakuan seperti iblis inilah yang membuat dunia sukar untuk bertobat. Kelakuan mereka sangat mempermalukan nama Tuhan. Orang juga kuatir jika memberitakan berita kontroversial: “Bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“ terlalu keras maka tidak akan ada orang yang datang. Salah!

Ketika Yohanes Pembaptis memberitakan berita ini, orang berdatangan dari segala penjuru, mengaku dosa dan mereka meminta diri untuk dibaptis (Mat. 3:5-6). Hanya anugerah Tuhan kalau manusia dapat mengakui dosanya dan kembali pada Tuhan. Ini merupakan gambaran orang bertobat sebaliknya orang berdosa akan marah kalau ditegur dosanya karena berita Injil bagi manusia berdosa seperti bau kematian yang menyengat dan mematikan sebaliknya bagi anak Tuhan, menjadi bau yang harum. Namun, berhati-hati dan waspadalah pada mereka yang kelihatannya “bertobat“ bahkan meminta diri untuk dibaptiskan tetapi ternyata semua itu hanya palsu.

Hal ini terjadi di jaman Yohanes Pembaptis dimana orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis. Akan tetapi yang terjadi justru di luar dugaan mereka, bukan pujian yang diterima melainkan teguran yang keras (Mat. 3:7). Kedudukan mereka lebih tinggi dari rakyat biasa maka tidaklah heran kalau mereka berharap mendapat perlakuan khusus dan pujian dari Yohanes Pembaptis. Secara duniawi, orang pasti akan kagum pada Yohanes Pembaptis karena ia yang hanya seorang nabi padang gurun tapi membaptis “orang besar“. Dan orang akan beranggapan Yohanes Pembaptis akan menjadi rendah diri. Tetapi Yohanes bukanlah orang sembarangan yang hanya melihat tampilan luar.

Orang Farisi dan orang Saduki mengerti “Kerajaan Allah“ hanya sebatas materi saja karena itu mereka menginginkan Kerajaan Allah juga ada dalam dirinya. Bukan hal yang salah kalau orang yang bereligius ingin memperkaya religiusitasnya akan tetapi dalam hal ini mereka tidak bertobat. Banyak orang yang berpenampilan seperti seorang teolog tapi ketika melayani yang diidekan bukan pertobatannya melainkan demi untuk kemuliaan diri. Kalimat keras seperti yang diucapkan Yohanes Pembaptis, “Hai kamu keturunan ular beludak“ memang diperlukan untuk orang yang merasa diri bereligius. Ular beludak atau vipers adalah ular yang sangat indah, berkulit keemasan tapi mematikan. Yohanes Pembaptis ingin menyadarkan akan esensi manusia yang sesungguhnya. Biarlah sebagai seorang Kristen sejati, kita perlu mempunyai:

1. Christian Ritual and Christian Essence

Tampilan luar yang indah tentang bentuk Kekristenan tidaklah berarti apa-apa kalau tidak diimbangi dengan esensi Kristen, yaitu kerohanian dan iman yang sejati. Hal inilah yang membedakan Yohanes Pembaptis dengan orang Parisi maupun orang Saduki. Kalau dunia disuruh memilih di antara mereka berdua, dunia pasti lebih memilih orang Parisi atau orang Saduki yang berpenampilan bagus daripada Yohanes Pembaptis, seorang nabi padang gurun yang berpakaian bulu onta. Konsep ini juga pernah terlintas pada Samuel ketika ia hendak mengurapi Daud untuk menjadi Raja Israel. Secara kasat mata, manusia akan berpendapat bahwa Daud yang masih muda dan yang kulitnya kemerah-merahan tidak pantas untuk menjadi seorang Raja Israel.  Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah: manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1Sam. 16:7).

Kalau kita gagal melihat hal yang esensi maka kita akan mudah sekali terkecoh dan tergiur oleh hal-hal yang berpenampilan indah. Kini di dunia modern, orang Kristen pun masih terkecoh dengan tampilan luar sehingga menggeser hal yang esensi, yaitu Firman. Sebagai seorang Kristen, hendaklah kita mempunyai kepekaan sehingga kita tidak mudah terkecoh oleh hal-hal yang secara penampilan luar kelihatan indah. Hal ini bukan berarti kita anti dengan keindahan. Tidak! Akan tetapi biarlah penampilan luar tidak menggantikan hal yang esensi. Yohanes Pembaptis dalam hal ini ia peka. Orang Parisi dan Saduki seharusnya bertobat ketika ditegur, namun Alkitab mencatat mereka tidak pernah bertobat.

2. Christian Repentance & Fear of God

Ritual-ritual agama seringkali dipakai oleh dunia untuk membayar atau menutupi dosa. Bukankah konsep ini tidak beda seperti halnya konsep bisnis? Dunia berpendapat bahwa dosa dapat diselesaikan dengan berbuat baik dan orang dapat masuk surga kalau berbuat baik. Orang memikirkan dan menghalalkan segala cara untuk menutup dosanya, salah satunya menggunakan kedok ritual agama dan aktivitas-aktivitas rohani. Ingat, Tuhan mengetahui pikiran dan motivasi manusia melakukan semua ritual agama atau istilah yang lebih rohaninya “pelayanan“. Tuhan menuntut manusia untuk bertobat supaya dapat masuk dalam Kerajaan Allah. Baptisan tidak dapat menghindarkan manusia dari murka Allah.

Pergi ke gereja setiap minggu bahkan setiap hari dan melakukan berbagai macam pelayanan adalah sia-sia kalau kita tidak ada pertobatan dalam diri kita. Semua ritual agama tidak menyelesaikan murka Allah; ritual agama hanyalah tampilan luar. Tuhan menetapkan  Sakramen Perjamuan Kudus untuk dilakukan oleh setiap orang Kristen tetapi Tuhan tidak menetapkan waktunya kapan dan harus berapa kali, setiap minggu, setiap bulan, dan lain-lain. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bisakah kita menjaga kesakralan Perjamuan Kudus ini dan tidak menghilangkan makna dari roti dan anggur sehingga Perjamuan Kudus ini tidak mendatangkan kutuk bagi kita?

Andai, setiap minggu kita melakukan sakramen Perjamuan Kudus apakah kita masih bisa mempunyai hati yang sakral, hati yang gentar ketika hendak menerima Roti dan Anggur? Apakah kita masih mempersiapkan hati dengan sungguh-sungguh sebelum masuk dalam meja perjamuan? Yohanes Pembaptis tajam melihat gejala yang terjadi dimana orang lebih mementingkan ritual ketimbang esensi dari ritual agama karena itu ia menegur dengan keras. Ironisnya, hari ini orang hanya ingin sesuatu yang dari luar kelihatan hebat tapi tidak mau bertobat. Teguran yang keras sangat diperlukan oleh mereka yang hidup di dunia modern yang mempunyai banyak problematik dan tantangan kehidupan yang sangat kompleks.

3. Christian Ritual & Fruitful Life 

Alkitab menegaskan bahwa semua ritual agama tidak dapat menyelesaikan dosa. Bagi seorang Kristen sejati, semua ritual agama seharusnya menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan (Mat. 3:8). Buah merupakan bukti dari pertobatan karena orang yang telah lahir baru pasti mempunyai hati yang berubah, sikap dan cara berpikirnya diubahkan. Alkitab tidak menuntut kita langsung sempurna pada saat kita bertobat tetapi Alkitab menuntut supaya kita ada perubahan drastis yang menjadi citra setelah pertobatan itu terjadi. Ini merupakan esensi hidup; dimana ada hidup sejati maka disana pasti ada hidup yang mau taat pada Tuhan. Kalau dulu sebelum kita bertobat, kita selalu melawan kebenaran tetapi setelah menjadi anak Tuhan sejati harus mempunyai tekad untuk hidup taat dan menjadi sempurna seperti Kristus.

Jangan mudah terkecoh dengan mereka yang suka berdebat teologi karena penguasaan teologi yang hebat kalau tidak ada pertobatan, hanyalah sia-sia belaka. Dalam hal ini kaum Liberal sangat suka belajar dan berdiskusi teologi dengan para teolog namun mereka akan marah dan menolak ketika diajak untuk kembali pada Firman. Hati-hati dengan ajaran dari para kaum Liberal yang menganggap Alkitab sebagai buku bacaan biasa seperti buku pada umumnya dan tidak percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Orang yang sudah bertobat harus menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan, diantaranya yaitu ketaatan dan kerelaan melayani Tuhan dengan sungguh tanpa mengharapkan pamrih. Sudahkah kita mempunyai hati seorang hamba dalam melayani Tuhan?

Setiap orang Kristen pasti ingin yang terbaik demi untuk mengembangkan tubuh Kristus namun di dalam setiap pemikiran pasti ada perbedaan tapi biarlah perbedaan itu tidak memecah belah tapi justru mempersatukan demi untuk kemuliaan namaNya. Itulah sebabnya, kita memegang prinsip: mereka yang mempunyai usul demi untuk pengembangan pelayanan maka dia yang harus menjalankannya terlebih dahulu. Apakah motivasi kita melayani untuk kemuliaan Tuhan atau kemuliaan diri? Hati-hati pada akhir jaman ini akan ada banyak nabi-nabi palsu yang bernubuat, mengusir setan dan mengadakan mujizat demi nama Tuhan namun sesungguhnya itu semua hanya demi untuk kemuliaan diri sendiri. Dari buahnyalah kita dapat membedakan yang asli dan yang palsu. Nabi yang sejati yaitu dia yang melakukan kehendak Bapa di sorga.

Di tengah jaman yang sedang bergolak ini, hendaklah kita menjadi terang dan garam sehingga tidak mempermalukan nama Tuhan. Jangan memakai nama Tuhan atau berkedok melayani tapi sesungguhnya pelayanan itu dilakukan demi kemegahan diri. Hari ini banyak orang yang sepertinya melayani namun sesungguhnya dia sedang berbisnis, ingin mendapat keuntungan dari pelayanan. Dunia selalu berupaya mencemari Kekristenan lalu bagaimana kita menyaring segala macam bentuk ajaran sehingga pelayanan kita tetap kudus di hadapan Tuhan? Hanya dengan Firman Tuhan. Hendaklah masing-masing kita mengoreksi setiap motivasi pelayanan, apakah kita melakukannya untuk Tuhan atau untuk diri? Kalau kita mempunyai motivasi yang benar dalam pelayanan, kita akan merasakan sukacita dan indahnya pimpinan Tuhan. Biarlah kita dipakai menjadi alatNya dan menjadi berkat bagi dunia. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : www.griis.org

Eksposisi Injil Matius 3 : BERTOBATLAH (oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, January 13th, 2006

Ringkasan Khotbah : 28 Maret 2004

Bertobatlah!

Nats: Mat. 3: 1-5

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Minggu lalu kita telah merenungkan sisi kehidupan Yohanes Pembaptis sebagai si pembawa berita dan pembuka jalan bagi Tuhan Yesus. Kalau kita bandingkan pada jaman sekarang, si pembuka jalan ini biasanya sangat diperlukan untuk melancarkan tugas seorang pejabat/pembesar ketika ia sedang melakukan kunjungan khususnya di daerah. Peranan si pembuka jalan ini sangat penting dan mengandung resiko tinggi karena ia harus berada di posisi depan, menjadi ujung tombak untuk membuka jalan yang kacau. Jadi, kita tahu sekarang, peranan Yohanes Pembaptis sangat berat dan sulit namun ia tahu dengan jelas apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan karena itu dengan rela hati ia mengerjakan pelayanan ini.

Tuhan Yesus mau dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis membuktikan bahwa Ia sangat menghargai pelayanan yang dikerjakan Yohanes Pembaptis namun dengan rendah hati si pembuka jalan ini menyadari bahwa ia bukanlah siapa-siapa karena itu ia merasa tidak layak untuk membaptiskannya bahkan untuk melepas tali kasut-Nya (Mat. 3:11). Banyak orang Kristen mau melayani Tuhan tapi tidak mau resikonya. Namun Yohanes Pembaptis telah memberikan teladan yang indah; dia tahu konsekuensi menjadi si pembuka jalan dan untuk menggenapkan rencana-Nya, ia rela berkorban. Bagaimana dengan kita, maukah kita dipakai Tuhan menjadi alat-Nya untuk menggenapkan kehendak-Nya di muka bumi ini?

Menjadi pengikut Kristus tidaklah semudah seperti yang kita bayangkan. Berita kontroversi yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, yaitu “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ tidak disukai oleh orang Yahudi pada jaman itu bahkan hingga saat ini orang masih membenci berita kontroversi ini. Dunia akan membenci anak-anak-Nya karena ia telah membenci Kristus lebih dahulu (Yoh. 15:18-19). Namun berita ini tetap harus disampaikan pada dunia berdosa yang humanis materialis. Maukah kita melayani dan dipakai Tuhan meski untuk itu kita harus berkorban?

Karena akan tiba waktunya dimana manusia tidak mau lagi membuka telinga bagi kebenaran. Dunia hanya suka mendengar berita-berita yang sedap didengar saja. Iblis telah berhasil meninabobokkan orang Kristen, membuatnya tertidur dan terlena dalam buaian mimpi. “Bertobatlah, Kerajaan Sorga sudah dekat!“ seharusnya membangunkan jiwa setiap orang Kristen dan mengingatkan kita akan tugas amanat Agung yang diberikan Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil dan menyadarkan manusia akan dosa.

Dunia ingin melarikan diri dari realita dengan cara membius diri dengan narkoba dan minuman keras. Manusia berdosa harus dibangunkan dari tidurnya yang panjang dan disadarkan bahwa dia adalah manusia berdosa. Menyadarkan manusia akan dosa justru dianggap sebagai penyerangan oleh kaum post-mo namun ironisnya mereka tidak merasa mengganggu orang lain dengan segala bentuk kekacauan (chaos) yang dituangkannya dalam bentuk lukisan, arsitektur, dan lain-lain bahkan moralitas pun telah dirusak dengan berbagai macam filsafat yang bertentangan dengan Firman. Karena itu berita “pertobatan“ sangat penting dan harus diwartakan ke seluruh dunia.

Pertama, Seseorang yang bertobat berarti dia sadar bahwa dirinya adalah seorang yang berdosa dan mau kembali pada kebenaran sejati. Hanya anugerah Tuhan kalau seseorang dapat bertobat, kembali ke jalan yang benar. Tugas setiap orang Kristen adalah terus menerus menyerukan berita pertobatan dan selanjutnya Roh Kudus yang bekerja. Roh Kuduslah yang dapat mempertobatkan seseorang karena itu kita menolak ajaran Arminianisme yang mengajarkan bahwa keselamatan tergantung dari pilihan manusianya, dari perbuatan baik yang dilakukannya. Orang Kristen seringkali menganggap pemberitaan Injil sebagai hal yang sia-sia karena kita tidak melihat hasilnya secara langsung. Ingat, kalau seseorang dapat bertobat, itu bukan karena kepandaian kita berkata-kata kalau. Tidak! Semua itu hanya karena anugerah. Orang menganggap seruan Yohanes Pembaptis agar manusia bertobat di padang gurun sebagai hal yang sia-sia namun Allah bekerja dengan luar biasa sehingga penduduk dari segala penjuru bertobat dan dibaptis (Mat. 3:5). Anak Tuhan yang sejati harus menyadari akan keberadaan dirinya sebagai manusia berdosa. Pengampunan dosa akan kita dapatkan kalau kita mau bertobat, yaitu kembali pada kebenaran. Setiap orang Kristen hendaklah menjadi seperti seorang anak dalam perumpamaan anak yang hilang, menyadari bahwa dirinya adalah hamba yang tidak mempunyai hak sebagai anak. Pertobatan menyadarkan kita dari tidur panjang di siang hari bolong.

Biarlah kita mau dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya, memberitakan berita pertobatan: “Bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“. Sudahkah kita memberitakan hal ini kepada rekan, teman maupun saudara kita? Dan biarlah karena kasih, mendorong kita untuk memberitakan kebenaran dan bukannya berkompromi dengan dosa. Tentu kita tidak mau orang-orang yang kita kasihi menjadi binasa, bukan? Kita tahu, bahwa semua manusia pasti berdosa akan tetapi hal ini janganlah menghalangi kita untuk bertobat. Kita harus membuktikan diri bahwa kita sudah bertobat terlebih dahulu sebelum kita memberitakan Injil pada orang lain sehingga orang dapat melihat kuasa Injil yang merubah hidup kita dengan demikian mereka menjadi percaya. Dan demi untuk mewartakan berita kebenaran itu, kita harus berani dan rela berkorban karena hati nurani dunia akan terusik ketika kebenaran dinyatakan.

Sebelum kita dipakai Tuhan untuk membangunkan orang dari tidurnya yang panjang, maka kita harus dibangunkan terlebih dahulu. Biarlah kita dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat, menjadi alatNya dimanapun kita berada untuk memberitakan ”Bertobatlah, Kerajaan Sorga sudah dekat”. Di jaman Perjanjian Baru, berita ini menjadi berita sentral dan berita ini pun tetap dan terus menerus harus kita kabarkan ke seluruh dunia. Jangan selewengkan kebenaran sejati dan juga jangan pernah berkompromi dengan dunia.  Maukah anda bertekad untuk memberitakan berita kontoversi ini dimanapun kita berada sebelum dunia berakhir? Ingat, pertobatan seseorang bukan karena jasa atau fasih lidah kita. Hanya Roh Kudus yang dapat menyadarkan manusia akan dosa dan membangunkan manusia dari tidurnya yang panjang.

Kedua, Berita kebenaran mutlak dan penting untuk didengar dan dikabarkan pada manusia, yaitu: semua manusia berdosa dan manusia pasti binasa jika mereka tidak kembali pada Yesus Kristus yang adalah satu-satunya jalan, dan kebenaran dan hidup. Dunia modern seringkali menyelewengkan berita utama, orang tidak dibawa untuk mengerti pada hal yang esensial karena dunia sendiri tidak dapat memberikannya, dunia hanya mengerti sebatas yang ekstensial. Pada dasarnya, semua manusia bahkan orang atheis sangat menyadari kalau dirinya berdosa. Manusia tidak dapat mengingkari realita tapi orang mencoba menipu diri dengan berpikir positif (positive thinking). Ironisnya, orang menjadi marah ketika kita menyampaikan kebenaran sejati. Orang lebih suka mendengar berita sekunder, berita yang enak didengar, yakni tentang dunia dan segala kenikmatannya.

Kekristenan menolak positive thinking yang diajarkan dunia, yaitu reality according to what you think, realita tergantung dari apa yang kita pikirkan. Tapi kita menerima ajaran positive thinking yang diajarkan dalm Filipi 4:8-9. Jadi, kalau kita berpikir sehat maka kita akan sehat meski saat itu kita dalam keadaan sakit dan sebaliknya kalau kita berpikir sakit maka kita yang sebelumnya sehat akan menjadi sakit. Tokohnya yang terkenal adalah Robert Schuler, Norman Vincent Peale, Anthony Robbins, Napoleon Hill. Pikiran kita yang selama ini salah tapi kita justru menganggapnya benar, sedikit demi sedikit akan dicerahkan kalau kita mau bertobat. Kita akan menyadari bahwa ternyata segala yang ditawarkan dunia hanya berakhir dengan kebinasaan dan kita akan melihat kebenaran sejati. Lalu kenapa kita sulit dan takut untuk memberitakan berita pertobatan?

Ketiga, Berita Injil merupakan berita kebenaran sejati yang harus diberitakan untuk membawa manusia kembali pada hal esensial yang paling dibutuhkan. Injillah jawaban bagi kekosongan jiwa, kepapaan dan kemiskinan rohani. Pascal menyadari bahwa di setiap hati manusia pasti ada kekosongan yang hanya dapat diisi oleh Tuhan saja. Manusia mencoba mengisi kekosongan dengan berbagai macam teori filsafat, dengan kekuasaan dan uang namun semua itu tetap tidak dapat menutup lubang yang kosong itu. Ingat, jangan mengutamakan kebutuhan jasmani lebih daripada kebutuhan rohani dan jangan karena hal yang jasmani pula kita tidak mau dan takut untuk memberitakan Injil. Tuhan pasti memelihara hidup kita, Dia tidak akan membiarkan anak-anakNya seorang diri menanggung beban penderitaan.

Di dunia modern ini kita masih menjumpai anak Tuhan yang egois, menghalalkan segala cara demi untuk mendapat kesenangan di dunia, seperti menjalankan MLM (Multi Level Marketing). Segala macam cara digunakan untuk menipu, yaitu menyelewengkan ajaran cinta kasih dalam Firman. Hati-hati, jangan tertipu dengan MLM yang seolah-olah menawarkan keuntungan. Itu semua hanya kebohongan belaka. Dengan sistim yang diterapkan MLM, sesungguhnya, semakin banyak orang yang menjadi anggota maka keuntungan orang yang berada di posisi atas semakin besar pula tanpa dia harus berusaha dan tidak ada resiko yang harus ditanggungnya. Apakah merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri seperti itu yang dinamakan dengan cinta kasih? Bertobatlah, jangan memanipulasi ajaran cinta kasih demi untuk memperoleh hal yang bersifat materi. Materialisme adalah musuh Kekristenan; cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan.

Uang seharusnya berada di bawah kekuasaan kita dan bukannya menguasai hidup kita. Yohanes Pembaptis sangat keras mewartakan kabar ”bertobatlah” di tengah-tengah bangsa Yahudi yang materialis humanis. Bertobat berarti berbalik dari yang salah dan kembali pada jalan yang benar. Pertobatan tidak menjadikan diri kita sempurna seratus persen, tanpa cacat dan tidak berdosa. Bukan! Karena itu janganlah kita menuntut orang Kristen yang lain untuk sempurna. Namun kita berhak menuntut orang Kristen untuk bertobat, kembali ke jalan yang benar kalau dia berbuat dosa. “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” merupakan berita yang relevan hingga sekarang dan berita ini harus terus kita beritakan. Tugas kita, setiap orang Kristen untuk memberitakan berita kontroversi ini. Maukah anda dipakai Tuhan menjadi alat memberitakan Injil?  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Klik pada Logo GRII untuk kembali ke Halaman Utama

Bina Iman Kristen-44 : FALL AND CULTURE-Ekses Kejatuhan Manusia Ke Dalam Kebudayaan (oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG)

Friday, January 13th, 2006

Bina Iman Kristen-44 :

FALL & CULTURE

 

Ekses Kejatuhan Manusia Dalam Kebudayaan

 

oleh : Pdt. DR. STEPHEN TONG

Renungan ini di transkripkan dari paparan Pdt. Stephen Tong (dengan judul yang sama) di Singapura Theological Seminar 1992

 

 

            Alkitab bukan hanya membicarakan soal masuk sorga dan soal kepercayaan saja. Alkitab juga mengajar kita memakai prinsip firman Allah yang orisinil untuk menyelesaikan masalah – masalah yang timbul, baik di bidang politik, masyarakat, seni dan lain – lain. Kita perlu memahami bukan hanya sistematika teologi tradisionil yang membahas tentang keselamatan, Kerajaan Allah, dan rencana Allah yang kekal, tetapi juga topik – topik yang berkenaan dengan konsep politik, konsep nilai, konsep kebudayaan, maupun konsep sejarah.

 

            Kita yang hidup di dalam dunia ini tidak dapat menghindari pembahasan semacam ini, karena konsep dasar dapat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi reaksi hidup kita. Bila kita merenungkan secara mendalam dan mempunyai pemahaman konsep yang tepat, maka kita akan menjadi orang kristen yang mampu memuliakan Allah dan membawa berkat bagi sesama.

 

            Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : “ Beranak cuculah dan bertambah banyak ; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan -–kan di laut dan burung – burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. “ TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkan dalam taman eden untuk mengusahakan dan memeliharataman itu. ( Kejadian 1 : 28 dan 2 : 15 ).

 

Istilah cultivate ( LAI : mengusahakan ) yang terdapat dalam ayat ini adalah hubungannya dengan istilah culture. Berarti, manusia diciptakan menjadi mahluk yang mempunyai sifat kultur.

 

Jika kita memandang sejarah sebagai satu sistem sirkulasi, kiat akan menemukan bahwa di dalam sistem dan sirkulasi ini terdapat definisi – definisi yang seolah – olah tidak nampak namun sebenarnya ada. Bagaimana sirkulasi ini terjadi ? Pada saat seorang yang bijaksana mendisiplinkan tindakan yang kurang bijaksana, maka keprimitifan akan di kikis secara perlahan – lahan, sebab itu wisdom is conqueing the Barbarianism. Pendidikan tampil ke permukaan dan membentuk masyarakat yang berbudaya, dan bijaksana mulai melayani penguasa yang dominan. Seorang politikus yang mengerti hal ini kemusian akan bertekad untuk merebut dan menguasai orang – orang yang berbijaksana untuk melayani ambisi mereka. Ambisi politik terdapat dalam diri para pemimpin yang bengis, yang menganut pemikiran diktator. Padahal kuasa diktator secara mutlak akan menjadi penghancur kuasa politik. Pada saat kuasa kuasa tertinggi hancur kembalilah irama sejarah pada Barbarisme yang mendominasi kuasa politik yang tertinggi. Sirkulasi ini berlangsung sampai abad XX dan berkembang menjadi satu pengharapan bahwa demikrasi dapat menyelesaikan masalah ini.

 

Demokrasi perlu di bangun di atas dasar neutral information ( informasi yang netral, tidak terdistorsi ) dan pendidikan kultur, secara menyeluruh. Dengan demikian barulah demokrasi bisa berkembang. Namun hal seperti ini adalah idealisme yang tidak mungkin. ( Bagi saya, kemengan demokrasi mungkin sekali merupakan wujud pemikiran Barbarisme dari orang – orang zaman modern. Jangan heran apabila suatu hari kelak kita menemukan negara Amerika – yang mempunyai hikmat dan pengetahuan tinggi – akan jatuh ke dalam tangan orang – orang yang menyebut dirinya demokrat tetapi memberikan toleransi terhadap perdagangan narkotika, homoseksual, aborsi, dan lain – lain. Hal tersebut terjadi karena pada saat pemilihan Presiden sang calon kuat kalau – kalau rakyat tidak mau mendukungnya, sehingga dengan terpaksa dia harus mengadakan toleransi untuk bisa memperoleh kemenangan pada saat pemilihan. Dengan demikian sebenarnya dia telah mengganti demokrasi dengan kuasa ).

 

Di tengah – tengah sistem sirkulasi ini sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan yang manusia bangun dengan susah payah telah membuat diri sendiri berada dalam satu krisis, suatu masalah yang mendalam dan serius.

 

Siapakah manusia ? Berapa pentingkah nilai sifat manusia ? Berapa potensi dan krisis sifat manusia ? Berapa besar potensi dan krisis sifat manusia ? Sesungguhnya manusia mempunyai potensi yang cukup untuk memahami masalah krisis ini hanya di dalam terang firman Tuhan, yang bahkan dapat menembus dan memahami sampai sedalam – dalamnya. Jadi seharusnya kristenlah satu – satunya yang dapat memberi penjelasan akan krisi ini. Jika kristenan hanya meraba – raba masalah superfisial yang manusia temui tiap – tiap hari dan tidak menemukan prinsip dasar yang Allah wahyukan, maka sumbangsih kekristenan terhadap dunia hanya untuk menghadapi kesementaraan dan tidak mampu bertahan lama.

 

Adakah unsur kejatuhan manusia di dalam dosa juga mencakup dalam kebudayaan ? Apakah kebudayaan di hasilkan setelah sejatuhan ? Atau kebudayaan sendir mempunyai kemungkinan untuk mencegah datangnya kejatuhan ? semua ini merupakan hal yang istimewa.

 

Ketika pemerintah menganjurkan rakyat untuk ber KB, mereka mengira ber KB dapat menyelesaikan ekonomi dan masyarakat. Maka mereka memakai berbagai alasan untuk menunjang ketetapan ini. Tapi 10 – 20 tahun kemudian, waktu mereka menemukan mayoritas rakyatnya adalah ‘manula‘ mereka kembali memberi semangat kepada rakyat untuk melahirkan banyak anak, sementara rakyat sudah terlanjur tidak suka mempunyai banyak anak. Saat mereka menemukan arah sejarah sudah susah di kembalikan, mereka baru menyesal akan keputusan yang pernah mereka tetapkan.

 

Lalu apakah setiap kali strategi dan aksi masyarakat yang kita pilih akan selalu menelurkan kesalahan – kesalahan yang baru di sadari pada kemudian hari ? ini hanya salah satu contoh untuk memikirkan apakah kejatuhan sendiri memang sudah tercakup di dalam kebudayaan.

 

Dari buku – buku dan hasil pemikiran rasio manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, kita tidak berhasil menemukan penyebab kejatuhan. Hanya di dalam firman Tuhan kita menemukan sebab utama dari semuanya ini.

 

Ketika kuasa politik berubah, ketika sistem dan cara pendidikan telah tersingkirkan, ada hal-hal yang lebih mendalam da yang sama sekali tidak berubah, yaitu :

 

1.      Kebudayaan/kultur

 

2.      Agama

 

Hal yang bersifat kultur dan agama selalu melampaui hal yang bersifat politik, masyarakat, ekonomi dan pendidikan. Komunis yang ingin mendongkel ajaran Konfusionisme justru binasa sendiri, dan pendidikan. Komunisme dan atheisme yang mengunggulkan konsep kosmologi mereka sebagai kebenaran yang mutlak dan memakainya untuk menyerang sistem pemikiran lama serta memperalat kuasa politik untuk memperoleh posisi yang menguntungkan. Tapi taktik politik bukanlah hal yang kekal. Tatkala komunisme dan atheisme sudah lenyap, kultur dan agama tetap ada. Yang membinasakan, tetapi yang dibinasakan tetap berada.

Allah adalah pencipta manusia yang adalah gambar dan rupaNya, sifat manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah itu mencapai sampai puncaknya dengan memiliki dua sifat besar : sifat kebudayaan dan sifat agama. Manusia disebut manusia, karena manusia mempunyai sifat kultur dan sifat agama, dengan demikian barulah manusia bisa hidup mandiri, bisa melampaui alam, mengalahkan alam, kecuali sampai pada hari di mana batasan yang alam berikan kepadanya telah sampai. Manusia bukan hanya hidup selama beberapa puluh tahun di dunia, setelah manusia manusia meninggal, sifat kultur masih bisa berpengaruh bagi generasi berikut, sedangkan sifat agamanya membawa dia pulang ke tempat kekekalan dengan sejahtera.

 

Dari manakah datangnya sifat kultur dan sifat agama yang telah membentuk manusia ? Singkatnya memang ada secara alami. Begitu manusia lahir, dia sudah mempunyai sifat agama dan sifat kultur. Tetapi perhatikan bahwa tujuan dari sifat agama dan sifat kultur tidak bisa disejajarkan dengan alam.Jika kultur adalah produk alam, maka kultur tidak mungkin menjadi alat untuk menguasai alam. Jika sifat agama adalah produk alam, mengapa agama sering kali melampaui, menentang dan bahkan menggeser alam ? Jadi bila yang bersifat agama dan yang bersifat kultur bukan berasal dari alam, pasti hal – hal itu berasal dari sifat yang supraalami.

 

Itulah sebabnya para ahli ilmu alam seperti Herbert Spencer dan Thomas Henry Huxley, di dalam keheranannya mengatakan kalimat yang istimewa : “ Rasio dan hati nurani manusia sama sekali bukan produk evolusi “. Mereka sama sekali tidak memberitahukan dari mana asal ratio dan hati nurani manusia. Mereka hanya secara terpaksa mengakui adanya bagian supraalami di dalam diri manusia.

 

Kita menemukan dua macam unsur yang sama sekali berbeda telah membentuk sifat manusia kita, yakni : kita mempunyai tubuh yang hampir sama dengan binatang, membutuhkan makanan dan seks ; namun di dalam diri manusia masih terdapat satu unsur lain, yang ikut membentuk bagian yang lebih dalam dan lebih penting, yang bisa membuat kita tidak mengindahkan kemuliaan dan kemewahan dunia, memandang enteng akan kesengsaraan hidup, dan membuat kita mempunyai sifat – sifat transendental, seperti : tidak merasa iri, tidak membenci dan tidak merendahkan mereka yang lebih hina dari kita. Jika manusia hanya mempunyai kebutuhan makan dan seks saja, hidup kita di dunia ini tidaklah memiliki nilai istimewa.

 

Dari manakah datangnya unsur trasendental itu ? Tidak ada satu kultur yang bisa memberi jawab pada pertanyaan tersebut, karena tatkala manusia mencari tahu kebenaran ini, mereka langsung menetapkan bahwa unsur tersebut adalah produk kultur, sehingga mereka tidak betul – betul mempelajari dari mana unsur itu berasal. Hanya firman Tuhan menguraikan asal usul unsur itu dengan jelas. (sayang, hari ini banyak orang sudah keburu mati sebelum mereka mengerti kekristenan yang benar. Tapi yang paling kasihan adalah orang – orang yang setiap hari memperkenalkan kekristenan kepada orang lain, padahal diri mereka sendiri sama sekali tidak tahu apa – apa. Jadi bukan saja ada orang yang belum sempat memahami sudah mati, ada juga yang belum sempat memahami sudah berani mengajar orang lain, sehingga mereka bukan hanya tidak bisa menunjukkan nilai kekristenan yang sesungguhnya kepada dunia, bahkan diri mereka sendiri juga tidak menikmatinya, dan hidup mereka tentu tidak berbeda dengan mereka yang bergumul dengan alam : tanpa arah dan tanpa prinsip ).

 

Kultur membuat manusia mau dan harus melampaui alam. Maksudnya, tak perduli di dalam masyrakat yang paling maju teknologinya atau di antara bangsa yang paling primitif dan belum beradab sekalipun, kita akan menemukan sifat yang sama, yang melampaui alam, yang menguasai alam, yang menang atas alam yang memanfaatkan alam, dan yang membuat alam takluk dibawah dirinya.

 

Inilah yang menyebabkan manusia tidak dapat dimusnahkan oleh binatang buas, karena manusia telah mempunyai kultur dan telah menaklukkan alam, sehingga manusia dapat menggunakan benda sebagai alat, dapat menjadikan hasil tanah sebagai suplai kebutuhan hidup, dan dapat memakai semua fungsi yang transendental ini untuk mengubah prinsip alam sebagai hamba manusia.

 

Bila kita pergi ke pedalaman, kita menemukan alat – alat mereka pakai, baik yang terbuat dari batu, kayu, bambu yang sangat sederhana, tetapi tetap terdapat hikmat yang tinggi. Orang – orang primitif memakai alat – alat itu untuk memelihara hidup mereka, dan khasiatnya tidak berbeda dengan bom atom yang digunakan oleh manusia modern.

 

Menaklukkan alam adaalh satu fungsi terbesar dari manusia, namun menusia juga menemukan bahwa sifat manusia yang bisa menaklukkan alam ini akan dihancurkan oleh alam. Maksudnya, manusia menaklukkan alam, tapi pada waktu tua dan mati, manusia dikebumikan oleh alam. Jadi sebenarnya manusia yang menaklukkan alam  atau alam yang menaklukkan manusia ? Saling menaklukkan dan akhirnya ditaklukkan.

 

Manusia melampaui alam, tapi akhirnya manusia harus dikebumikan oelh alam. Manusia boleh saja memiliki tanah yang amat luas, tapi yang akhirnya dia peroleh hanyalah sebidang tanah yang luasnya 2 x 1 meter saja. Kultur pada akhirnya telah mendatangkan kehancuran bagi sifat manusia. Betapa ironis !

Lalu muncullah sifat lain yang ingin melebihi sifat pertama, yaitu yang di sebut sifat agama. Sifat agama bukan saja memberikan rasa tanggung jawab moral dan kelakuan, memberikan “ rasa “ kekal yang melampaui ke sementaraan, juga memberikan arah ibadah kepada Dia yang kekal. Lalu apakah akibat dari sifat agama ini ?

 

Mengaharapkan bahwa di balik fakta yang menaklukkan kita dan pengalaman yang kejam itu terdapat sesuatu yang melampaui semuai ini, sehingga suatu hari pada waktu kita tinggalkan dunia ini, kita masih tetap berada bahkan sampai selama – lamanya di dalam kebahagiaan yang kekal, di dalam nilai pengharapan yang kekal. Itulah sebabnya segala yang bersifat masyarakat, yang bersifat politik maupun yang bersifat ekonomi tidak mampu membasmi yang bersifat kultur dan agama. Manusia diesebut manusia karena dapat melampaui dan menaklukkan alam. Manusia yang hanya bisa menaklukkan alam tidak termasuk orang hebat, tapi mereka yang bisa sungguh – sungguh melampaui alam baru disebut orang hebat. Jadi kita bukan hanya memiliki hukum untuk menaklukkan alam, tapi juga memiliki arah dan hukum kekal. Deangan demikian barulah kita memiliki pengharapan dan arah yang kekal.

 

Kita telah membahas tentang pentingnya sifat kultur dan sifat agama dengan jelas. Lalu dari manakah sifat agama ? Dari manakah sifat kultur itu ? kita tidak boleh mengganggap sifat kultur dan sifat agama sebagai produk alam, juga tidak bisa menyebutnya sebagai produk dari proses evolusi. Bukan saja orang kristen menolak pendapat ini, bahkan para ahli evolusi juga mengakui bahwa sifat ini sendiri pasti mempunyai sumber lain, dan sumber ini adalah Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya.

 

Manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, jadi keberadaan Allah adalah dasar dari sifat kultur dan sifat agama. Allah adalah sumber utama dari sifat kultur dan sifat agama manusia. Sifat kultur dan sifat agama membuat manusia tidak bisa tidak memikirkan tentang kebenaran – kebanaran penting, seperti keberadaan Allah dan hubungan langsung antara manusia denganNya. Ahli agama memikirkan tentang Allah, para ahli kultur juga demikian. Ahli agama merenungkan tentang relasi manusia dengan kekekalan, ahli kultur merenungkan tentang nilai kekekalan itu sendiri. Ahli agama merenungkan tentang hal – hal yang melampaui alam, ahli kultur juga merenungkan bagaimana menaklukkan alam.

 

Agama dan kultur mempunyai topik dan wawasan pemikiran yang sama, tapi apakah agama itu kultur, atau kultur itu agama ? Bolehkah kita memperlakukan kultur sebagai agama, atau memperlakukan agama sebagai kultur ? Bolehkah kita mengkulturka agama atau ‘ mengagamakan  ‘kultur‘ Apakah agama yang dikulturkan adalah agama murni atau kultur yang sudah diagamakan adala kultur yang murni ? siapakah yang menetapkan jaminan dari sifat agama ini ? Disepanjang sejarah, manusia terus ‘mengorek–ngorek‘ kultur yang dulu untuk dikukuhkan ulang atau ditolak ulang.

 

Tatkala orang Spanyol ingin memperingati jasa columbus yang ke 500 tahun, banyak orang menolak karena menganggap dia sebagai seorang pembunuh, seornag berambisi besar dan seorang perampok. Jadi siapa columbus, pahlawan atau penjahat ? ini relatif sekali.

 

Maka penetapan nilai dari sifat agama dan manusia, penetapan nilai dari sifat agama dan sifat kultur tidaklah dilakukan pada manusia, karena manusia adalah relatif, tidak mempunyai kuasa dan kemampuan untuk memberikan penetapan yang mutlak. Jadi penetapan itu hanya dapat dilakukan oleh Allah.

 

 

Apakah dasar dari penetapan itu ? Kedaulatan dan wahyu Allah yang mutlak bijaksanan. Kedaulatan Allah yang mutlak dan wahyuNya yang penuh hikmat bukan saja menetapkan, tapi juga memeberikan inspirasi dan menggerakkan. Dengan inisiatifNya sendiri Allah memberikan inspirasi yang berdasarkan kedaulatanNya untuk menyatakan hikmatNya, yang adalah sumber dari kultur. Adapun agama kultur adalah respon manusia terhadap wahyu Allah, yaitu wahyu umum (yang berlainan dengan wahyu khusus ). Wahyu umum lebih berkaitan dengan alam, sementara wahyu khusus berkaitan dengan hal yang bersifat keselamatan. Yang kita bahas sekarang adalah wahyu umum. Pada saat wahyu umum diberikan, manusia memberikan respons, karena manusia adalah satu-satunya mahluk yang dapat memberikan respons kepada Allah.

 

Pernahkan saudara mengunjungi pameran lukisan, pameran barang – barang seni, pameran sutera, atau pameran barang antik ? Ada sebagian orang yang melihat-lihat lalu pergi, sama sekali tidak memberikan respons, tapi ada yang sambil melihat menyatakan kekagumannya, dan mulai berbicara dan berkomentar. Ini memperlihatkan dia mulai memebrikan respons. Pernahkan kita melihat seekor kucing yang bisa berdialog dengan barang – barang seni ? Sekalipun kita membawa seekor anjing yang sangat pandai ke museum seni, dia juga tidak akan memberi respons, karena kemampuan untuk memebri respon hanya ada pada manusia.

 

Tatkala orang lain sedang membahas sebuah topik yang penting, sudahkah anda menerima apa yang dibahasnya atau anda hanya memperhatikan kesalahan tata bahasanya ?

 

Manusia yang bisa berespons terhadap wahyu barulah dapat menggunakan sifat manusia yang Allah ciptakan dengan baik.

 

Mengapa ada orang yang sambil membaca Alkitab sambil mengumpat kekristenan ? karena dia tidak dapat menerima kebenaran yang ada di dalamnya, dia hanya mencari kesalahan saja. Maka orang yang sama sekali tidak tergerak pada saat dia mendengarkan kebenaran yang penting, masalahnya bukan terdapat pada kebenaran itu tapi pada dirinya sendiri.

 

Wahyu umum yang diwahyukan Allah sudah selayaknya mendapatkan respons, dan manusia adalah satu – satunya mahluk yang dapat memberikan respon terhadap wahyu Allah. Pada saat manusia tidak memanfaatkan fungsi respons ini, hidupnya oasti sangat mekanis, superfisial dan membosankan, sekalipun mungkin dia masih dapat menikmati kebahagiaan dari materi, dari jasmani, dari yang sementara dan yang bersifat sensasi, tapi dia tetap mendapati bahwa hidupnya adalah hampa.

 

Respon manusia terhadap Allah akan timbul dari dua segi :

 

1.      Respons Eksternal terhadap wahyu umum Allah, yakni timbulnya tindakan kultural atau aktivitas kultural.

2.      Respons Internal terhadap wahyu umum Allah, yaitu timbulnya aktivitas agama.

 

 

Secara ketat dapat dikatakan, bahwa kultur dan agama adalah respons dasar manusia terhaap wahyu Allah. Jika kita tidak menemukan hubungan dan sebabnya, kita condong menganggap agama adalah suatu hal yang biasa, padahal tidaklah demikian. Renungan yang paling mendalam bagi seorang ahli agama adalah hubungan antara Allah dengan manusia, dan bagi seorang ahli kultur adalah bagaimana memanifestasikan Allah. Dengan demikian agama merupakan satu perasaan yang agak bersifat internal, perasaan yang menerima wahyu, sedangkan kultur merupakan semacam ekspresi eksternal. Sebab itu sebuah karya sastra yang teragung akan mengungkapkan hubungan manusia dengan Allah yang melampaui sejarah dan yang transenden. Demikian juga karya seni yang teragung bukan hanya sekedar mengekspresikan perasaan rohani yang terdapat di dalam sifat manusia, tapi juga mengekspresikan hubungan antara perasaan tersebut dengan Allah. Jelas semua hal yang melampaui alam ini bukan merupakan produk alam, melainkan berasal dari Allah yang transenden. Itulah sebabnya manusia harus berespons terhadap Allah. Inilah yang disebut berasal dari Dia, tergantung pada Dia dan bagi Dia, karena Alkitab mengatakan “manusia diciptakan oleh Allah , melalui Allah, bersandar pada Allah dan bagi Allah“ (Roma 11:36).

Pusat dari kultur dan agama adalah hikmat Allah sendiri, sehingga manusia dapat mengenal Allah melalui hakmatnya. Agama dan kultur mencapai puncaknya yang sungguh pada kesadaran akan nilai. Manusia beragama adalah manusia yang mempunyai hikmat. Mereka yang memiliki bakat melukis, bakat mengarang lagu yang agung juga merupakan orang yang memiliki hikmat. Tapi sampai di manakan manusia menuntut akan hikmat ? Lalu siapakah pusat hikmat yang dicarinya? Alkitab langsung memberitahukan kita pusat hikmat adalah Yesus Kristus.

 

Respons terhadap wahyu umum Allah membuat menemukan tiga jenis kewajiban yang harus dia penuhi :

 

1. Kewajiban karena keberadaanku, keberadaan trancending nature, yaitu keberadaan untuk menopang alam. Jadi bukan hanya sekedar mengontrol dan mengatur alam saja, tapi juga memperbaiki alam.

 

 

Alkitab mengajukan tiga macam prinsip: mengelola, mengatur, dan memperbaiki. Kita mengatur alam, berarti kita harus menjadi tuan atas alam. Kita mengelola alam berarti kita berkewajiban mengurus dan mengatur alam. Kita memperbaiki alam berarti kita berkewajiban memperbaiki, memelihara dan melindungi alam.

Memasuki akhir abad XX ini, kita menemukan bahwa krisis karena perusakan alam sudah berada di depan kita, berarti kita tidak melaksanakan prinsip penciptaan Allah yang terdapat dalam kejadian 1 dan 2. Saat kita mencapai puncak dari kemajuan teknologi, kita juga menemukan bahwa manusia tidak berdaya mengatur alam dengan baik, juga tidak berdaya melindungi alam yang indah ini. Jika kultur tidak mengaku telah dukuasai oleh kejatuhan, berarti kultur telah menipu diri sendiri juga menipu orang lain.

2.  Respon terhadap wahyu umum Allah yang kedua adalah begaimana mengurus diri kita sendiri. Bagaimana kita mampu melintasi diri sehingga kita bisa menjadi manusia yang bertanggung jawab, baik terhadap alam, terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap Allah. Mengatur diri sendiri berada di atas hal mengatur alam.

3.  Karena kuasa mengatur alam dan diri sendiri inilah maka timbullah respons beribadah dan takut kepada Allah.

” Saya mau bersyukur kepadaMu karena alam. Saya mau bertanggung jawab atas alam karena Engkau telah mempercayakan soal mengatur alam ini kepadaku. Saya memuliakanMu karena rahasia yang kudapatkan pada saat meneliti alam. Saya merasa kagum terhadap rahasia hikmat dan desain penciptaan yang tersembunyi dalam alam.”

Akibat dari penemuan terhadap rahasia ciptaan adalah rasa takut kepada Allah adalh rasa tanggung jawab terhadap alam. Ini adalah kelakuan yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Karena ilmuwan mewakili seluruh umat manusia untuk menemukan fungsi yang tuhan berikan pada manusia dalam hal mengatur, memahami dan memperbaiki alam. Sedangkan ahli agama mewakili seluruh umat manusia untuk mengembalikan kemuliaan kepada Allah. Dengan demikian, agama dan kultur telah melakukan fungsi yang sebenarnya.

Di dalam proses hukum alam ini, kultur telah berusaha dengan keras, begitu juga dengan agama, namun nyatanya telah terjadi suatu hal yang ironis, yaitu hal yang seharusnya dicapai oleh kultur justru tidak dicapai, demikian juga hal yang seharusnya dicapai oleh agama tidak tercapai dengan sungguh. Berarti di dalam tugas mengatur mengatur alam, manusia menemukan dirinya tidak berdaya menaklukkan alam, juga tidak berdaya menaklukkan diri sendiri. Di dalam proses mengelola dan mengatur alam inilah manusia menjasi perusak alam yang paling hebat.

Di manakah posisi manusia di tengah – tengah alam ini? Apa yang harus dilakukan di bidang kultur?  Pada saat orang hutan merusakkan barang kita, atau ketika anjing kita memecahkan barang yang berharga, kita ingin membunuhnya. Tapi di lihat – lihat lagi akhirnya kita mendapati bahwa mereka tidak mempunyai rasio, tidak mempunyai latar belakang kultur, sehingga meskipun kita marah setengah mati tapi tidak bisa berbuat apa – apa. Kuasa merusak alam yang manakah yang lebih habat : kuasa manusia atau binatang ? manusia mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk merusak alam. Alam semesta hari ini bukan di rusak oelh binatang tapi oelh manusia. Limbah air sungai dari daerah industri yang telah tercemar itu mengalir ke laut dan mengakibatkan semua mahluk di laut di sana menyimpan racun –racun kimia. Bukan saja demikian, hari ini pencemaran udara yang terjadi di kota – kota besar Asia telah beberapa kali lebih parah dari meksiko. Kita tahu soal o – zone, juga soal pembabatan hutan – hutan tropis semua di sebabkan oleh ulah manusia. Alah berfirman, “ Hai manusia kelolalah alam, aturlah alam.” Tapi sudahkah manusia mengelola alam dengan sukses ? Tidak ! Sudahkah manusia sukses dalam hal menaklukkan alam ? Sudah menaklukkan sebagian, tapi sudah congkak sebelum mengalami banyak kegagalan, mereka mulai marah terhadap Allah.

Apakah artinya tidak berhasil menaklukkan alam? Dan apakah artinya tidak berhasil menaklukkan dan mengatur alam? Mengapa kuasa pengrusakan kita terhadap alam demikian besar ? Hanya ada satu jawaban: kejatuhan manusai dalam dosa merupakan sebuah fakta. Jika kejatuhan bukan merupakan fakta, mengapa hari ini terjadi ketidak – seimbangan yang begitu parah ? Akhirnya tibalah pada kesimpulan : Di manakah posisi manusia yang sebenarnya ? Jika posisi asal manusia berada dalam sifat kebinatangan yang mengerikan itu, seharusnya kita akan merasa sangat bangga terhadap keberhasilan kita. Tapi apakah posisi asal manusia memang demikian ? Jika benar, lalu adakah keberadaan yang di sebut evolusi di dalam proses sejarah kita yang begitu panjang ? Mengapa PL sama sekali tidak menyinggung akan pandangan ini ? Alkitab orang kristen memberitahukan bahwa leluhur kita lebih tinggi dari kita. Meskipun hati ini ada keberhasilan yang hebat di bidang kultur, ilmiah dan teknologi, tapi tidak mampu membawa manusia kepada posisi asal pada saat diciptakan.

Apakah lawan kata dari kejatuhan ? Evolusi. Sebab itu evolusi bukansaja merupakan topik ilmu alam, juga merupakan masalah teologi. Kita memang tidak boleh sembarangan mengkritik ilmiah, karena hal tersebut tidak dilakukan oleh orang – orang yang sungguh mencintai kebenaran. Tetapi kita juga tidak boleh menerima hal – hal yang tidak ilmiah sebagai yang ilmiah. Jika evolusi itu benar, maka kejatuhan tentu salah. Jika evolusi salah, maka kejatuhan benar. Apakah manusia puncaknya pada hari ini? Atau manusia justru dari posisi asal yang tinggi lalu jatuh ke posisi yang demikian rendah? Ini adalah topik yang sangat penting dan perlu di renungkan. Pertanyaan pertama yang diajukan pada manusia yang telah berdosa, “ Di manakah engkau ? “ (Kej 3 : 9 ), menunjukkan posisi manusia dari tempat yang tinggi merosot ke tempat yang rendah! Apakah timbulnya kultur adalah akibat dari kejatuhan? Apakah timbulnya kultur juga mengandung akibat dari kejatuhan ? Apakah hasil dari kultur tidak dapat luput dari unsur kejatuhan? Harapan saya pertanyaan – pertanyaan tersebut dapat merangsang kita untuk lebih banyak berpikir.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 18 - Maret 1993


http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/pi_fall.html

Profil Pdt. Dr. Stephen Tong :

Pdt. Dr. Stephen Tong melayani Tuhan sejak 1957, baik di dalam bidang penginjilan, theologi maupun penggembalaan. Pelayanan beliau telah menjadi berkat bagi jaman ini, dan banyak menarik perhatian pimpinan gereja di Indonesia maupun di luar negeri. Khususnya kepada Theologi Reformed yang ditegaskan oleh beliau sejak th. 1974, beliau mengadakan seminar-seminar di Surabaya.

Pada th. 1984, beliau mulai mengadakan Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta, untuk menegakkan doktrin Reformed dan semangat Injili (setelah mengajar theologi selama 20 tahun). Seminar Pembinaan Iman Kristen juga dipimpin Tuhan untuk menjadi pendahuluan bagi berdirinya LRII (1986), dimana Pdt. Dr. Stephen Tong mengajak Pdt. Dr. Yakub Susabda Pdt. Dr. Caleb Tong untuk menjadi pendiri bersama.

Selain SPIK, Pdt. Dr. Stephen Tong juga mendirikan Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (1986), STRI Jakarta (1987) dan STRI Malang (1990). Beliau juga memperluas seminar-seminar pembinaan iman tersebut dalam kota-kota besar yang lain di Indonesia (yang diserahkan kepada LRII) dan kota-kota di luar negeri (yang diserahkan di bawah STEMI). Sejak th.1991 Pdt. Dr. Stephen Tong menjabat sebagai Rektor STTRII hingga sekarang.

Selain menggalakkan gerakan doktrin Reformed di Indonesia, beliau juga pernah menjadi dosen tamu pada seminar-seminar di luar negeri. Termasuk China Graduate School of Teology di Hongkong (1975, 1979), China Evangelical Seminary di Taiwan (1976), Trinity College di Singapore (1980), dan memberikan ceramah-ceramah termasuk Westminster Seminary, Regent College, dll di USA.

Di samping itu Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menjabat sebagai dosen theologi dan filsafat di Seminari Alkitab Asia Tenggara (1964-1988), Pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia (1989), dan Gembala Sidang GRII Pusat, Ketua Sinode GRII, Pendiri Jakarta Oratorio Society (1986), Stephen Tong Evangelistic Ministries International (1979), STEMI Institute (1996) dan Christianity and 21st Century Insitute (mulai th. 1996) di USA.

1

Bina Iman Kristen-43 : ETOS POSTMODERN (oleh : Stanley J. Grenz, Th.D.)

Saturday, January 7th, 2006

Etos Postmodern

(oleh : Stanley J. Grenz, Th.D.)

Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme.

Masyarakat kita berada dalam pergolakan dan pergeseran kebudayaan. Seperti proyek bangunan Pruitt-Igoe, pemikiran dan kebudayaan modernisme sedang hancur berkeping-keping. Ketika modernisme mati di sekeliling kita, kita sedang memasuki sebuah era baru - postmodern.

Fenomena postmodern mencakup banyak dimensi dari masyarakat kontemporer. Pada intinya, Postmodern adalah suasana intelektual atau "isme"- postmodernisme.

Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernism. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universal. Etos postmodern menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains, yang merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Pada dasarnya, postmodernisme adalah anti-modern.

Tetapi kata "postmodern" mencakup lebih dari sekedar suasana intelektual. Penolakan postmodernisme terhadap rasionalitas terwujud dalam banyak dimensi dari masyarakat kini. Tahun-tahun belakangan ini, pola pikir postmodern terwujud dalam banyak aspek kebudayaan, termasuk arsitektur, seni, dan drama. Postmodernisme telah merasuk ke dalam seluruh masyarakat. Kita dapat mencium pergeseran dari modern kepada postmodern dalam budaya pop, mulai dari video musik sampai kepada serial Star Trek. Tidak terkecuali, hal-hal seperti spiritualitas dan cara berpakaian juga terpengaruh.

Postmoderisme menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme. Postmodernitas menunjuk kepada era yang sedang muncul, era di mana kita hidup, zaman di mana postmodernisme mencetak masyarakat kita. Postmodernitas adalah era di mana ide-ide, sikap-sikap, dan nilai-nilai postmodern bertahta - ketika postmodernisme membentuk kebudayaan. Inilah era masyarakat postmodern. Tujuan kita dalam bab ini adalah melihat dari dekat fenomena postmodern dan memahami sedikit tentang etos postmodernisme. Apakah tanda-tanda ekspresi budaya dan dimensi hidup sehari-hari dari "generasi mendatang ini?" Apakah buktinya bahwa pola pikir baru sedang menyerbu kehidupan masyarakat sekarang ini?

FENOMENA POSTMODERN

Postmodernisme menunjuk kepada suasana intelektual dan ekspresi kebudayaan yang sedang mendominasi masyarakat kini. Sekonyong-konyong kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru, postmodernisme, tetapi kita harus memperinci apa saja yang tercakup dalam fenomena postmodern.

KESADARAN POSTMODERN

Bukti-bukti awal dari etos postmodernisme senantiasa negatif. Etos tersebut merupakan penolakan terhadap pola pikir Pencerahan yang melahirkan modernisme. Kita dapat melacak etos postmodern di mana-mana dalam masyarakat kita. Yang terpenting, postmodernisme telah merasuk jiwa dan kesadaran generasi sekarang ini. Ini merupakan perceraian radikal dengan pola pikir masa lalu.

Kesadaran postmodern telah melenyapkan optimisme "kemajuan" (progress) dari Pencerahan. Postmodern tidak mau mengambil sikap optimisme dari masa lalu. Mereka menumbuhkan sikap pesimisme. Untuk pertama kalinya, anak-anak pada masa kini berbeda keyakinan dengan orang tuanya. Mereka tidak percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik. Dari lubang yang besar di lapisan Ozon sampai kepada kekerasan antar remaja, mereka menyaksikan permasalahan semakin besar. Mereka tidak lagi percaya kalau manusia dapat menyelesaikan masalahnya dan kehidupan mereka akan lebih baik daripada orangtua mereka.

Generasi postmodern yakin bahwa hidup di muka bumi bersifat rawan. Mereka melihat bahwa model "manusia menguasai alam" dari Francis Bacon harus segera digantikan dengan sikap kooperatif dengan alam. Masa depan umat manusia sedang di persimpangan jalan.

Selain sikap pesimis, orang-orang postmodern mempunyai konsep kebenaran yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Pemahaman modern menghubungkan kebenaran dengan rasio sehingga rasio dan logika menjadi tolok ukur kebenaran. Kaum postmodern meragukan konsep kebenaran universal yang dibuktikan melalui usaha-usaha rasio. Mereka tidak mau menjadi rasio sebagai tolok ukur kebenaran. Postmodern mencari sesuatu yang lebih tinggi daripada rasio. Mereka menemukan cara-cara nonrasial untuk mencari pengetahuan, yaitu: melalui emosi dan intuisi.

Keinginan mencari model kooperatif dan penghargaan kepada cara nonrasional menciptakan sebuah dimensi holistik bagi kaum postmodern. Postmodern dengan holismenya menolak cita-cita Pencerahan, individu yang tidak berperasaan, otonom, dan rasional. Orang-orang postmodern tidak berusaha menjadi individu-individu yang mengatur dirinya secara penuh, tetapi menjadi pribadi-pribadi "seutuhnya".

Postmodern dengan holisme-nya mencakup integrasi seluruh dimensi dari kehidupan pribadi - perasaan, intuisi, dan kognitif. Keutuhan juga mencakup kesadaran akan lingkungan dari mana kita berasal. Tentu saja area ini mencakup "alam" (ekosistem). Tetapi ia juga komunitas. Konsep "keutuhan" postmodernisme mencakup aspek-aspek agama dan kerohanian. Postmodernisme menegaskan bahwa keberadaan diri dapat dikenal dalam lingkup ketuhanan.

Karena setiap orang selalu termasuk dalam konteks komunitas tertentu, maka memahami kebenaran haruslah bersama-sama. Keyakinan dan pemahaman kita akan kebenaran, berakar kepada komunitas dimana kita berada. Mereka menolak konsep Pencerahan yang universal, supra-kultur, dan permanen. Mereka lebih suka melihat kebenaran sebagai ekspresi dari komunitas tertentu. Mereka yakin bahwa kebenaran adalah aturan-aturan dasar yang bertujuan bagi kesejahteraan diri dan komunitas bersama- sama.

Dalam pengertian ini, kebenaran postmodern berhubungan dengan komunitas. Karena ada banyak komunitas, pasti ada kebenaran yang berbeda-beda. Banyak kaum postmodern percaya bahwa keanekaragaman kebenaran ini dapat hidup berdampingan bersama-sama. Kesadaran postmodern menganut sikap relativisme dan pluralisme.

Tentu saja, relativisme dan pluralisme bukanlah barang baru. Tetapi jenis pluralisme dan relativisme dari postmodern ini berbeda. Relatif pluralisme dari modernisme bersifat individualistik: pilihan dan cita rasa pribadi diagung-agungkan. Mottonya adalah "setiap orang berhak mengeluarkan pendapat."

Sebaliknya postmodernisme menekankan kelompok. Kaum postmodern hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang memadai, dengan bahasa, keyakinan, dan nilai-nilainya tersendiri. Akibatnya pluralisme dan relativisme postmodern menyempitkan lingkup kebenaran menjadi "lokal". Suatu kepercayaan dianggap benar hanya dalam konteks komunitas yang meyakininya.

Karena itu ketika kaum postmodern memikirkan tentang kebenaran. Mereka tidak terlalu mementingkan pemikiran yang sistematis atau logis. Apa yang dahulu dianggap tidak cocok, kaum postmodern dengan tenang mengawinkannya. Mereka mengkombinasikan sistem-sistem kepercayaan yang dulu dianggap saling berbenturan, Misalnya, seorang Kristen postmodern percaya kepada doktrin-doktrin gereja sekaligus juga percaya kepada ajaran non-Kristen seperti reinkarnasi.

Orang-orang postmodern tidak merasa perlu membuktikan diri mereka benar dan orang lain salah. Bagi mereka, masalah keyakinan/kepercayaan adalah masalah konteks sosial. Mereka menyimpulkan,"Apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi Anda," dan "Apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam konteks anda."

KELAHIRAN POSTMODERNITAS

Sebenarnya postmodernisme telah mengalami masa-masa inkubasi yang cukup lama. Meskipun para ahli saling berdebat mengenai siapakah yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, terdapat kesepakatan bahwa istilah tersebut muncul pada suatu waktu pada tahun 1930-an.

Salah satu pemikir postmodernisme, Charles Jencks, menegaskan bahwa lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol Frederico de Onis. Dalam tulisannya "Antologia de la poesia espanola e hispanoamericana" (1934), de Onis memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme.

Yang lebih sering dianggap sebagai pencetus istilah tersebut adalah Arnold Toynbee, dengan bukunya yang terkenal berjudul "Study of History". Toynbee yakin benar bahwa sebuah era sejarah baru telah dimulai, meskipun ia sendiri berubah pikirannya mengenai awal munculnya, entah pada saat Perang Dunia I berlangsung atau semenjak tahun 1870-an.

Menurut analisa Toynbee, era postmodern ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat dan semakin merosotnya individualisme, kapitalisme, dan Kekristenan. Ia mengatakan bahwa transisi ini terjadi ketika peradaban Barat bergeser ke arah irasionalitas dan relativisme. Ketika hal ini terjadi, kekuasaan berpindah dari kebudayaan Barat ke kebudayaan non- Barat dan muncullah kebudayaan dunia pluralis yang baru.

Meskipun istilah ini muncul pada tahun 1930-an, postmodernisme sebagai sebuah fenomena kultural belum menjadi sebuah momentum sampai 40 tahun setelahnya. Ia muncul pertama-tama dalam lingkup kecil masyarakat. Selama tahun 1960-an, suasana yang menandai postmodernisme sangat menarik bagi para seniman, arsitek, dan pemikir yang sedang mencari alternatif untuk melawan dominasi kebudayaan modern. Bahkan beberapa teolog ikut tertarik dengan trend tersebut, antara lain William Hamilton dan Thomas J.J. Altizer yang "mengundang arwah" Nietzsche untuk memberitakan matinya Allah. Perkembangan yang beraneka ragam ini membuat "pengamat kebudayaan" Leslie Fiedler pada tahun 1965 menambahkan istilah "post" kepada kata modern sehingga menjadi postmodernisme yang menjadi simbol kontra-kultural pada zaman itu.

Selama tahun 1970-an tantangan postmodern menembus kepada arus budaya utama. Pada pertengahan tahun tersebut, muncullah seorang pembela postmodern yang paling konsisten mempropagandakan ide postmodern, yakni: Ihab Hassan. Ia menghubungkan postmodernisme dengan eksperimentalisme dalam bidang seni dan ultra teknologi dalam bidang arsitektur.

Tetapi etos postmodern secara tepat menjalar terus ke bidang-bidang lain. Profesor-profesor di universitas dalam berbagai fakultas mulai berbicara mengenai postmodernisme. Bahkan beberapa di antara mereka tenggelam dalam konsep-konsep postmodern.

Akhirnya penerimaan etos baru begitu menjalar terus ke mana-mana sehingga istilah "postmodern" menjadi label yang digunakan bagi berbagai fenomena sosial dan budaya. Gelombang postmodern menyeret berbagai aspek kebudayaan dan beberapa disiplin ilmu, khususnya sastra, arstektur, film, dan filsafat.

Pada tahun 1980-an, pergeseran dari lingkup kecil kepada lingkup besar terjadi. Secara bertahap, suasana postmodern menyerang budaya pop bahkan juga hidup sehari-hari masyarakat. Konsep-konsep postmodern bahkan bukan hanya diterima tetapi populer: sangat menyenangkan menjadi seorang postmodern. Akibatnya, para kritikus kebudayaan dapat berbicara mengenai "nikmatnya menjadi seorang postmodern." Ketika postmodernisme diterima sebagai bagian dari kebudayaan, lahirlah postmodernitas.

PENCETUS POSTMODERNITAS

Antara tahun 1960 dan 1990, postmodernisme muncul sebagai sebuah fenomena kebudayaan. Mengapa? Bagaimana kita menjelaskan munculnya etos ini dalam masyarakat kita? Banyak pengamat menghubungkan transisi ini dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada paruh kedua dari abad ke-20. Faktor pencetus terbesar adalah lahirnya era informasi. Penyebaran postmodernisme sejajar dan bergantung kepada transisi ke era informasi.

Banyak sejarahwan menyebut era modern sebagai "era" industrialisasi, karena era ini didominasi oleh produksi barang-barang. Karena fokusnya pada produksi material-material, modernisme menghasilkan masyarakat industri. Simbolnya adalah pabrik. Sebaliknya era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan sebuah transisi dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah komputer.

Statistik kerja membuktikan bahwa kita sedang mengalami perubahan dari masyarakat industri kepada masyarakat informasi. Pada era modern, mayoritas lapangan pekerjaan terbuka dalam bidang produksi barang. Pada tahun 1970-an, hanya 13% dari buruh-buruh di Amerika bekerja dalam produksi barang; 60% bekerja dalam bidang informasi. Pelatihan untuk karir yang berkaitan dengan informasi - baik prosesor data maupun konsultan - menjadi sangat penting.

Masyarakat informasi menghasilkan sekelompok orang baru. Ploretariat telah menyerahkan tempatnya kepada "cognitariat." Dan untuk bisnis, munculnya masyarakat postmodern berarti perubahan dari model "sentralisasi" kepada model "network." Struktur hirarki dalam pengambilan keputusan diganti dengan keputusan bersama.

Era informasi bukan hanya mengubah pekerjaan kita tetapi juga menghubungkan seluruh belahan dunia. Masyarakat informasi berfungsi berdasarkan jaringan komunikasi yang meliputi seluruh muka bumi. Efisiensi sistem tersebut sangat mengejutkan. Pada masa lalu, informasi tidak secepat perjalanan manusia. Tetapi sekarang informasi dapat mengalir ke seluruh dunia secepat cahaya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kemampuan era postmodern untuk mendapatkan informasi dari mana saja secara cepat.

Karena sistem komunikasi global yang begitu canggih, kita dapat mengetahui peristiwa apa saja di mana saja di dunia ini. Kita sedang menghuni sebuah desa global.

Munculnya desa global menghasilkan dampak yang kontradiktif. Budaya massal dan ekonomi global yang dihasilkan era informasi berusaha menyatukan dunia menjadi "McWorld." Ketika planet ini menyatu pada satu sisi, saat yang sama ia hancur berantakan pada sisi lainnya. Munculnya postmodernisme menghasilkan kesadaran global dan menipiskan nasionalisme.

Nasionalisme semakin suram dengan munculnya gerakan menuju "retribalisasi," menuju loyalitas kepada lingkungan lokal seseorang. Ini bukan hanya terjadi di Afrika tetapi juga di Kanada. Kanada berkali-kali terancam oleh disintegrasi antara kelompok berbahasa Perancis di propinsi Quebec dan propinsi-propinsi di sebelah barat. Orang-orang sedang mengikuti motto: "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal."

Munculnya masyarakat informasi memberikan dasar berpijak bagi etos postmodern. Hidup di desa global menyadarkan penduduknya mengenai keanekaragaman budaya di bumi ini. Kesadaran ini memaksa kita mengadopsi pola pikir pluralisme. Pola pikir ini bukan hanya bersikap toleran kepada kelompok lain, tetapi ia menegaskan dan merayakan keanekaragaman. Perayaan keanekaragaman budaya menuntut gaya baru - eklektisisme - gaya postmodernitas.

Masyarakat informasi telah menyaksikan perubahan besar dari poduksi massal kepada produksi segmen. Produksi barang-barang yang sama telah berubah menjadi produksi barang-barang yang beraneka ragam. Kita berada pada "budaya citarasa" yang menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya. Dulu siswa-siswi SMP dan SMU hanya memiliki tren suka-olahraga dan malas-belajar, sekarang mereka dapat mengadopsi tren apa saja sesuai cita-rasa dan gaya yang mereka sukai.

ALAM POSTMODERNISME TANPA TITIK PUSAT

Ciri khas postmodernisme adalah tidak adanya titik pusat yang mengontrol segala sesuatu. Meskipun postmodern dalam masyarakat bermacam-macam bentuknya, mereka sama-sama sepakat bahwa tidak ada fokus atau titik pusat. Tidak ada lagi standar umum yang dapat dipakai mengukur, menilai atau mengevaluasi konsep-konsep dan gaya hidup tertentu. Lenyaplah sudah usaha mencari sumber otoritas pusat. Lenyaplah sudah usaha untuk mencari kekuasaan yang absah dan berlaku untuk semua.

Titik pusat sudah bergeser, masyarakat kita seperti kumpulan barang- barang yang beraneka ragam. Unit-unit sosial yang lebih kecil hanya disatukan secara geografis.

Filsuf postmodern, Michel Foucault, menawarkan sebuah usulan nama bagi dunia tanpa titik pusat, yaitu "heterotopia." istilah Foucault menggarisbawahi perubahan besar yang sedang kita alami. Keyakinan Pencerahan akan suatu kemajuan ayng terus-menerus melahirkan visi modernisme. Arsitek modernisme berusaha membangun sebuah bangunan masyarakat yang sempurna. Kasih, keadilan, dan perdamaian akan memerintah masyarakat tersebut. kaum postmodern membuang jauh-jauh impian kosong tersebut. Mereka hanya menawarkan keanekaragaman yang tak terhitung banyaknya, "multiverse" telah menggantikan model "universe" dari modernisme.

POSTMODERNISME SEBAGAI SEBUAH FENOMENA KULTURAL

"Lenyapnya titik pusat" yang dipopulerkan oleh etos postmodern merupakan ciri utama situasi masa kini. Ini nampak jelas dalam kehidupan kultur masyarakat kita. Seni telah mengalami perubahan bersamaan dengan perubahan modern menjadi postmodern.

POSTMODERN MERAYAKAN KEANEKARAGAMAN

Ciri utama budaya postmodern adalah pluralisme. Untuk merayakan pluralisme ini, para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme, tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi tertentu dari modernisme.

Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda,ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme.

Charles Jencks, What is Post-Modernisme? 3d ed. (New York: St Martin’s Press, 1989), hal. 7

Salah satu tehnik campuran yang sering digunakan adalah "collage". "Collage" menawarkan suatu cara alamiah untuk mencampurkan bahan-bahan yang saling bertentangan. "Collage" menjadi wahana kritik postmodern terhadap mitos pengarang/seniman tunggal. Teknik lainnya adalah "bricolage", yaitu: penyusunan kembali berbagai objek untuk menyampaikan pesan ironis bagi situasi masa kini.

Seniman postmodern menggunakan berbagai gaya yang mencerminkan suatu eklektisisme yang diambil dari berbagai era dalam sejarah. Seniman umumnya menganggap cara demikian harus ditolak karena menghancurkan keutuhan gaya-gaya historis. Para kritikus tersebut menyalahkan gaya postmodern karena tidak ada ke dalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah hanya demi memberikan kesan untuk masa kini. Gaya dan historis dibuat saling tumpang tindih. Mereka mendapatkan postmodernisme sangat kurang dalam orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali.

Namun ada prinsip lebih mendalam yang ditampilkan melalui ekspresi budaya postmodernisme. Maksud dan tujuan karya-karya postmodernisme bukanlah asal-asalan saja. Sebaliknya postmodern berusaha menyingkirkan konsep mengenai "seorang pengarang/pelukis asli yang merupakan pencetus suatu karya seni". Mereka berusaha menghancurkan ideologi "gaya tunggal" dari modernisme dan menggantikannya dengan budaya "banyak gaya". Untuk mencapai maksud tersebut, para seniman ini memperhadapkan para peminatnya dengan beraneka ragam gaya yang saling bertentangan dan tidak harmonis. Teknik ini - yang mencabut gaya dari akar sejarahnya - dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan berusaha meruntuhkan sejarah.

Seniman-seniman postmodern sangat berpengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya.

ARSITEKTUR POSTMODERN

Modernisme mendominasi arsitektur (juga bidang lainnya) sampai pada tahun 1970-an. Para arsitek modern mengembangkan gaya yang terkenal dengan International style (gaya internasional). Arsitektur modern mempunyai keyakinan kepada rasio manusia dan pengharapan untuk menciptakan manusia idaman.

Berdasarkan prinsip tersebut, arsitek-arsitek modern mendirikan bangunan sesuai dengan prinsip kesatuan (unity). Frank Llyod Wright menjadi contoh bagi arsitek lainnya. Ia mengatakan bangunan-bangunan modern harus merupakan sebuah kesatuan organis. Bangunan harus merupakan "kesatuan yang agung" (one great thing) dan bukan kumpulan "bahan yang tidak agung" (little things). Sebuah bangunan harus mengekspresikan makna tunggal.

Karena memegang prinsip kesatuan, arsitektur modern mempunyai ciri khas "univalence." Bangunan-bangunan modern menunjukkan bentuk yang sederhana dan ini nyata dari pola glass-and-steel boxes. Arsitektur mencari bentuk sederhana yang dapat menyampaikan sebuah makna tunggal. Cara yang digunakan adalah "repetisi"(pengulangan). Karena mereka juga hendak sempurna dalam geometri, bangunan-bangunannya menyerupai model "dunia lain."

Arsitektur modern berkembang dan menjadi arus yang dominan. Ia memajukan program industrialisasi dan menyingkirkan aneka ragam corak lokal. Akibatnya ekspansi arsitektur modern sering menghancurkan struktur bangunan tradisional. Ia hampir meratakan semua bangunan tradisional dengan bulldozer. Bulldozer adalah alat yang merupakan cetusan jiwa modern untuk "maju"(progress).

Beberapa arsitek modern belum puas jika perubahan hanya dalam bidang arsitektur. Mereka ingin agar perubahan dalam bidang arsitek, terjadi juga dalam bidang-bidang seni, ilmu pengetahuan, dan industri.

Mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis, sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal.

Walter Gropius," Programme of the staatloches Bauhaus in Weimar" (1919), dalam Programmes and Manifestos on Twentieth-Century Architecture,ed. Ulrich Conrads, terj. Michael Bullock (London: Lund Humphries, 1970), Hal. 25.

Arsitektur postmodern muncul sebagai reaksi terhadap arsitektur modern. Postmodern merayakan sebuah konsep "Multivalence" (melawan "univalence" dari modernisme). Arsitektur postmodern menolak tuntutan modern di mana sebuah bangunan harus mencerminkan kesatuan. Justru sebaliknya buah karya postmodern berusaha menunjukkan dan memperlihatkan gaya, bentuk, corak, yang saling bertentangan.

Penolakan terhadap arsitektur modern nampak jelas dalam beberapa contoh. Misalnya, arsiterktur postmodern sengaja memberikan ornamen (hiasan). Ini merupakan lawan dari arsitektur modern yang membuang segala hiasan-hiasan yang tidak perlu. Contoh lain, arsitektur postmodern menggunakan beberapa teknik dan gaya seni tradisional, sedangkan arsitektur modern membuang segala gaya dan teknik seni tradisional.

Penolakan oleh postmodern terhadap modern di dasarkan kepada sebuah prinsip. Prinsip arsitektur postmodern adalah semua arsitektur bersifat simbolik. Semua bangunan, termasuk banguan modern, sebenarnya sedang berbahasa dengan bahasa tertentu. Karena terlalu memikirkan fungsi banyak arsitek modern menyingkirkan dimensi tersebut. Justru karena terlalu berfokus kepada fungsi (utility), karya seni modern hanya, merupakan sebuah teknik membangun tanpa nuansa artistik. Dimensi artistik telah lenyap dari karya seni modern. Padahal sebuah struktur bangunan memerlukan dimensi artistik agar dapat menyampaikan suatu kisah atau melambangkan suatu dunia imajiner. Karena terlalu menekankan fungsi. keajaiban dunia seperti bangunan Katedral masa silam tidak lagi populer pada zaman modern. Padahal bangunan seperti Katedral mengarahkan mata kita kepada suatu dunia lain. Ini yang dikritik oleh kaum postmodern terhadap kaum modern.

Sebuah bangunan mempunyai kekuatan untuk menjadi apa yang diinginkannya, mengatakan apa yang ingin dikatakannya sehingga telinga kita mulai mendengar apa yang ingin disampaikan oleh bangunan tersebut.

Charles Moore, dalam Conversations with Architecs, ed. John Cook Heeinrich dan Klotz (New York: Praeger, 1973), hal. 243.

Kaum Postmodern berusaha mengembalikan elemen "fiksi" dari sebuah arsitektur maka mereka menambahkan ornamen-ornamen pada arsitektur. Mereka ingin agar bidang arsitektur tidak terperangkap oleh pertanyaan "apa fungsinya?" Arsitektur harus kembali berperan untuk menciptakan "bangunan-bangunan yang kreatif dan imajinatif."

Kritik postmodern terhadap modern semakin menjadi-jadi. Kaum modern menekankan adanya universalitas dan adanya nilai-nilai yang tidak terbatas sejarah, dan ini ditolak secara tegas oleh kaum postmodern. Selama ini kaum kodern menganggap karya-karya mereka sebagai hasil rasio dan logika. Padahal kaum postmodern melihat dengan jelas semuanya itu hanyalah usaha mendapatkan kekuasaan dan menguasai orang lain. Bahasa modern adalah bahasa kekuasaan. Bangunan-bangunan modern menggunakan bahan-bahan industri dan mereka melayani sistem industri. Bentuk-bentuk demikian mewujudkan dunia baru yang dikuasai sains dan teknologi.

Kaum postmodern mau melenyapkan bahasa kekuasaan tersebut. Kaum modern menekankan konsep kesatuan dan keseragaman (uniformity) arsitektur yang ternyata sangat tidak manusiawi. Arsitektur demikian berbicara dengan bahasa produksi massal dan standar. Kaum postmodern menolak secara tegas konsep dan bahasa demikian. Mereka ingin menemukan sebuah bahasa baru yang menghargai keanekaragaman dan pluralisme.

POSTMODERN DALAM BIDANG SENI

Arsitektur postmodern lahir sebagai penolakan terhadap prinsip-prinsip arsitektur modern pada abad ke-20. Kehadiran postmodern dalam bidang seni juga menampakkan gejala penolakan yang serupa.

Arsitektur modern tidak menghargai gaya masa lalu. Pakar seni seperti Clement Greenberg menyatakan bahwa seni modern juga menolak gaya-gaya seni sebelumnya. Kaum modern menemukan identitas dirinya dengan membuang segala sesuatu yang lain dari dirinya; dengan cara ini, para seniman modern mengatakan bahwa hasil karya seni mereka bersifat "murni" (orisinal). Kecenderungan modern dalam bidang seni sama dengan bidang arsitektur, yaitu: "univalence". Melalui ini, kebanggaan seniman modern hanyalah jika mereka mempunyai "stylistic integrity" (integritas gaya).

Sebaliknya seni postmodern berangkat dengan kesadaran adanya hubungan erat antara miliknya dan milik orang lain. Karena itulah, seni postmodern menganut keanekaragaman gaya atau "multivalence". Kalau modern menyukai "murni." maka postmodern menyukai "tidak murni."

Pada dasarnya seni postmodern tidak eksklusif dan sempit tetapi berbauran (sintetis). Karya seni tersebut dengan bebas memasukkan berbagai macam kondisi, pengalaman, dan pengetahuan jauh melampaui obyek yang ada. Karya ini tidak melukiskan pengalaman tunggal dan utuh. Justru yang hendak dicapai adalah keadaan seperti sebuah ensiklopedia, yaitu: masuknya jutaan elemen, penafsiran, dan respons.

Howard Fox, "Avant-Garde in the Eighties", dalam The Post-Avant- Garde: Painting in the Eighties, ed. Charles Jencks (London: Academy Editions, 1987), hal. 29-30.

Banyak seniman postmodern menggabungkan keanekaragaman dengan teknik pencampuradukan. Seperti kita ketahui, teknik yang mereka sukai adalah "collage". Kenyataanya, Jacques Derrida (dijuluki "Aristoteles tukang campur") menegaskan collage sebagai bentuk utama dari wacana postmodern. Perlahan namun pasti, "collage" menarik para pecinta seni ke dalam makna yang dihasilkan "collage" tersebut. Karena "collage" bersifat heterogen, maka makna yang dihasilkannya tidak mungkin tunggal dan stabil. "Collage" menarik para pecinta seni untuk selalu memperoleh makna baru melalui aneka ragam campuran di dalamnya.

Akhirnya seni pencampuradukan menjadi sebuah "pastiche". Tujuan teknik ini (yang digunakan oleh high-culture dan Video MTV) adalah memperhadapkan para penonton dengan gambar-gambar yang saling bertentangan sehingga tidak ada lagi makna objektif. Dengan pola yang saling bertentangan, warna yang tidak selaras, dan tata huruf yang kacau, "pastiche" menyebar dari dunia seni menuju kehidupan sehari- hari. Ini nampak dari sampul buku, sampul majalah, dan iklan-iklan yang ada.

Segala campuran dan keanekaragaman itu bukan hanya untuk menarik perhatian. Daya tarik sebenarnya tidak sedangkal itu, namun jauh lebih dalam. Ini merupakan bagian dari sikap postmodern, yaitu: menantang kekuatan modernisme yang ada dalam berbagai lembaga, tradisi, dan aturan. Seniman postmodern tidak suka kepada pengagung-agungan seorang seniman modern karena kemurnian hasil karyanya. Mereka tidak suka kepada apa yang disebut "stylistic integrity" (integritas gaya). Bagi mereka, tidak ada hasil karya seni yang tunggal. Mereka sengaja menggunakan metode pinjaman dari hasil karya lain, kutipan, petikan, kumpulan, dan pengulangan dari karya-karya yang ada. bagi mereka, "seniman tunggal yang menghasilkan karya tunggal" hanyalah dongeng belaka.

Kritik postmodern sangat radikal. Kritik tersebut dapat ditemukan dalam karya fotografi seorang bernama Sherrie Levine. Levine memfoto ulang foto-foto indah hasil karya dua fotografer terkenal Walker Evans dan Edward Weston. Setelah memfoto ulang, Levine menegaskan bahwa foto- foto itu adalah karya pribadinya. Pembajakannya sangat jelas sehingga orang lain tidak mudah mengecapnya sebagai plagiat (pengekor) biasa. Memang tujuannya bukanlah menipu orang-orang dengan mengatakan bahwa itu adalah hasil karyanya dan bukan hasil karya orang lain. Tujuan utamanya adalah membuat orang berfikir keras untuk membedakan manakah "yang asli" dan manakah yang "tiruan". Maka kesimpulannya: tidak ada perbedaan antara "karya asli" dan "karya tiruan."

POSTMODERN DALAM BIDANG TEATER

Teater adalah wujud penolakan postmodern terhadap modern yang paling jelas. Kaum modern melihat jelas sebuah karya seni sebagai karya yang tidak terikat waktu dan ide-ide yang tidak dibatasi waktu. Etos postmodern menyukai tragedi, dan tragedi selalu ada dalam setiap karya seni. Kaum postmodern melihat hidup ini seperti sebuah kumpulan cerita sandiwara yang terpotong-potong. Maka teater adalah sarana terbaik untuk menggambarkan tragedi dan pertunjukan.

Tidak setiap karya teater merupakan wujud nyata etos postmodern. Karya teater postmodern mulai timbul pada tahun 1960-an. Akarnya sudah ada sebelum tahun 1960-an, yaitu karya seorang penulis Perancis bernama Antonin Artaud pada tahun 1930-an.

Artaud menantang para seniman (khususnya dalam bidang drama) untuk memprotes dan menghancurkan pemujaan kepada karya seni klasik. Ia sangat mendukung pergantian drama tradisional dengan ‘teater keberingasan." Ia berseru agar dihapuskannya gaya kuno yang berpusat kepada naskah. Ia mengusulkan gaya baru yang berpusat kepada simbol- simbol teater termasuk di dalamnya adalah: pencahayaan, susunan warna, pergerakan, gaya tubuh, dan lokasi. Artaud juga meniadakan perbedaan antara aktor dan penonton. Ia ingin agar penonton juga mengalami suasana dramatis seperti sang aktor. Tujuan Artaud adalah memaksa penonton untuk berhadapan dengan momentum kenyataan hidup secara langsung pada saat itu, yang bagaimanapun juga tidak akan terulang melalui aturan-aturan sosial sehari-hari.

Pada tahun 1960-an, sebagian impian Artaud menjadi kenyataan. Para ahli mulai memikirkan kembali hakikat dari teater. Maka mereka menyerukan agar terdapat kebebasan dalam penampilan. Penampilan tidak boleh diatur oleh otoritas apa pun.

Beberapa ahli ini menemukan bahwa naskah atau teks adalah otoritas yang menindas kebebasan. Untuk memecahkan masalah ini, mereka mengurangi naskah atau teks sehingga setiap penampilan menjadi spontan dan unik. Setelah beberapa sekali ditampilkan, tidak ada lagi pengulangan. Penampilan itu sekali saja dan akan hilang selama-lamanya setelah itu.

Ahli lainnya menganggap sutradara adalah orang yang menindas kebebasan penampilan. Mereka berusaha memecahkan masalah ini, dengan menekankan improvisasi dan memakai sutradara lebih dari satu orang. Maka produksi teater/film bukan lagi produksi tunggal dan utuh.

Teater postmodern menampilkan usulan-usulan para ahli di atas. Mereka membuat berbagai elemen dalam teater, seperti suara, cahaya, musik, bahasa, latar-belakang, dan gerakan saling berbenturan. Dengan demikian, teater postmodern sedang menggunakan teori tertentu yang disebut dengan estetika ketiadaan (berbeda dengan estetika kehadiran). Teori estetika ketiadaan menolak adanya konsep kebenaran yang mendasari dan mewarnai setiap penampilan. Yang ada dalam setia penampilan adalah kekosongan ("empty presence"). Seperti etos postmodern, makna sebuah penampilan hanya bersifat sementara, tergantung dari situasi dan konteksnya.

Panggung teater tidak lagi menjadi tempat pengulangan suatu peristiwa atau suatu obyek, entah yang ada sekarang atau sebelumnya. Teater tetap berfungsi tanpa kehadiran Allah.

Jacques Darrida, Writing and Difference, terj: Alan Bass (Chicago: Chicago University Press, 1978), hal. 237.

POSTMODERN DALAM BIDANG TULISAN-TULISAN FIKSI

Pengaruh etos postmodern dalam literatur sulit dicari. Para ahli sastra terus berdebat mengenai ciri utama fiksi postmodern yang membedakannya dari fiksi-fiksi sebelumnya. Namun gaya penulisan ini mencerminkan ciri utama yang telah kita saksikan dalam bidang-bidang lain.

Seperti gaya postmodern umumnya, tulisan fiksi postmodern menggunakan teknik pencampuradukan. Beberapa penulis mengambil elemen-elemen tradisional dan mencampurkannya secara berantakan untuk menyampaikan suatu ironi mengenai topik-topik yang biasa dibahas. Bahkan beberapa penulis lainnnya mencampurkan kejadian nyata dan khayalan.

Pencampuradukan ini terjadi bahkan kepada tokoh-tokoh fiksi tersebut. Beberapa penulis postmodern memusatkan perhatian kepada tokoh-tokoh khayalan dengan segala perilakunya. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh khayalan itu adalah tokoh-tokoh yang nyata dalam sejarah manusia. Dengan cara ini, sang penulis berhasil menarik perhatian dan respons emosional dan moral para pembaca.

Beberapa penulis postmodern mencampuradukkan yang nyata dan yang khayal dengan menyisipkan diri mereka ke dalam cerita itu. Bahkan mereka pun turut membicarakan berbagai masalah dan proses yang diceritakannya. Melalui ini, sang penulis mencampurkan yang nyata dan yang fiksi. Teknik ini menekankan hubungan yang erat antara penulis dan tulisan fiksinya.

Tulisan fiksi adalah sarana yang dipakai oleh penulis untuk berbicara sehingga suara penulis tidak dapat dipisahkan dari kisah fiksi tersebut. Tulisan fiksi postmodern mencampuradukan dua dunia yang tidak ada hubungan satu sama lain. Dunia-dunia tersebut masing-masing otonom. Tokoh-tokoh dalam tulisan fiksi itu merasa bingung di dunia mana mereka berada, dan apa tindakan mereka berikutnya di tengah dunia- dunia yang saling bertubrukan.

Teknik pencampuradukan ini digunakan untuk menunjukkan sikap anti- modernisme. Tujuan para penulis modern adalah memperoleh makna tunggal. Sebaliknya, kaum postmodern ingin mengetahui bagaimana kenyataan-kenyataan yang amat berbeda, dapat berjalan dan saling bercampur.

Seperti kebudayaan postmodern lainnya, tulisan-tulisan ini memusatkan perhatian kepada kefanaan dan kesementaraan. Mereka menolak konsep kebenaran kekal dari kaum modern. Tulisan fiksi ini sengaja mengarahkan fokus kepada kesementaraan agar para pembaca tidak lagi melihat dunia ini dari titik puncak yang tidak terbatas oleh waktu. Mereka ingin agar para pembaca menyaksikan sebuah dunia yang hampa, tanpa adanya hal-hal yang kekal dan selalu berada dalam gelombang kesementaraan.

Dan perlukah kita berkata bahwa semakin jelas sang penulis menyatakan dirinya sendiri dalam teks-teks yang dia buat, secara paradoks juga makin tidak terelakan adanya kenyataan bahwa sang penulis tersebut, sebagai sebuah suara, hanyalah sebuah fungsi dari fiksinya sendiri, sebuah bangunan retorika, bukan seorang yang berotoritas tetapi justru menjadi obyek dan sasaran penafsiran pembaca?

David Lodge,"Mimesis and Diegesis in Modern Fiction," dalam The Post-Modern Reader, ed. Charles Jencks (New York: St. Martin’s Press,1992), hal. 194-195.

Kadang-kadang para penulis tersebut menciptakan efek serupa dengan memasukkan bahasa yang membongkar struktur pikiran yang sudah baku. Mereka juga menolak rasio sebagai hakim yang memutuskan apakah sebuah cerita mampu memaparkan kejadian nyata.

Contoh umum dari fiksi modern adalah kisah detektif. Katakanlah cerita mengenai seorang detektif bernama Sherlock Holmes. Ia bertugas membongkar kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Kisah seperti ini hendak menunjukkan kekuatan rasio dan logika dalam memecahkan sebuah masalah atau misteri. Maka cerita ini merupakan sebuah cerita yang lengkap dan selesai.

Contoh dari fiksi postmodern adalah kisah mata-mata. Meskipun terjadinya dalam dunia nyata, kisah demikian selalu mencampurkan dua macam dunia yang berbeda. Apa yang dianggap nyata, ternyata terbukti hanyalah khayalan. Ada suatu dunia lain di balik dunia nyata ini, yang lebih jahat namun lebih nyata daripada dunia nyata.

Dengan mencampurkan dua macam dunia itu, kisah tersebut membuat pembaca merasa tidak tenang dan tidak nyaman. Apakah penampilan seseorang menunjukkan dirinya yang sesungguhnya? Manakah yang sebenarnya dan manakah yang tipuan?

Kisah mata-mata mendorong kita mempertanyakan dunia kehidupan kita. Apakah kita juga hidup dalam dua macam dunia? Apakah orang-orang di sekitar kita benar-benar seperti penampilan mereka di hadapan kita? Apakah peristiwa-peristiwa di sekitar kita benar-benar seperti yang nampak di depan mata kita?

Novel fiksi sains adalah salah satu bentuk sastra postmodern. Novel ini merupakan penolakan terhadap penelitian modern. Novel fiksi ini lebih suka mencari sesuatu yang baru, dan bukan menyibak misteri alam untuk menemukan rumus-rumus pasti. Novel ini mempertentangkan berbagai dunia dan realitas supaya nampak perbedaan dan pertentangan di antara mereka.

Novel fiksi sains tersebut membuat kita bertanya-tanya mengenai dunia kita: Apakah realitas itu? Apa yang mungkin? Kekuatan apa yang sedang bekerja sekarang?

POSTMODERNISME SEBUAH FENOMENA DALAM BUDAYA POP

Kebanyakan dari kita berhubungan langsung postmodernisme melalui novel fiksi sains dan novel mata-mata. Keduanya sangat berpengaruh dalam budaya populer kita sekarang. Namun secara tidak sadar, kita telah terbuka kepada etos postmodern.

Keterbukaan kepada etos postmodern melalui budaya pop adalah ciri khas postmodern. Ciri khas lainnya adalah tidak mau menempatkan "seni klasik tinggi" di atas budaya "pop." Postmodern unik karena ia menjangkau bukan kelas elite tetapi kelas masyarakat biasa, masyarakat yang terbiasa dengan budaya pop dan media massa.

Hasil karya postmodern juga bermakna ganda. Mereka berbicara dengan sebuah bahasa dan menggunakan elemen-elemen yang dapat diterima oleh orang-orang awam ataupun seniman dan arsitek handal. Dengan cara demikian, postmodernisme berhasil menyatukan dua alam yang berbeda, yaitu profesional dan populer.

PEMBUATAN FILM SEBAGAI DASAR PIJAKAN BUDAYA POSTMODERN

Perkembangan teknologi membantu penyebaran postmodern ke dalam sisi- sisi penting dan budaya pop. Salah satu sisi terpenting adalah industri film.

Teknologi pembuatan film sangat cocok dengan etos postmodern, yakni: film menggambarkan yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Sekilas lalu, film adalah sebuah cerita utuh yang ditampilkan oleh para aktor dan aktris. Kenyataannya, film adalah rekayasa teknologi dengan bantuan ahli-ahli spesialis dari berbagai bidang yang tidak jarang kelihatan dalam film. Adanya kesatuan dalam sebuah film sebenarnya adalah ilusi.

Film berbeda dengan teater. Film tidak pernah berisi penampilan sekelompok aktor/aktris sekaligus secara utuh dan berkesinambungan. Apa yang penonton lihat "berkesinambungan" adalah semacam sisa dari berbagai adegan dalam proses pembuatan film itu sendiri, yang tidak saling berhubungan baik secara waktu maupun tempat.

Alur cerita sebuah film hanyalah tipuan. Apa yang nampak "berhubungan" atau "berkesinambungan" sebenarnya hanyalah kumpulan adegan yang diambil pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Alur sebuah film yang kita lihat, ternyata tidak seperti demikian alurnya pada waktu film berada dalam proses pembuatan tersebut. Yang menyatukan adegan-adegan yang terpecah-pecah itu adalah seorang editor. Dialah yang menyambungkan adegan-adegan yang tidak ada hubungannya satu sama lain.

Kadang-kadang peran yang sama belum tentu diperankan oleh satu aktor. Sutradara sering menggunakan peran pengganti (stunt-man) untuk adegan- adegan berbahaya. Kemajuan teknologi memungkinkan edit untuk menduplikasi wajah sang aktor sehingga wajahnya dalam film lama dapat diambil dan dimasukkan dalam film yang baru. Semuanya ini adalah hasil rekayasa komputer.

Akhirnya, film yang kita tonton adalah produk kecanggihan teknologi. Tim-tim yang berbeda menggunakan fotografi dan metode lainnya untuk mengumpulkan bahan-bahan. Bahan-bahan ini digabungkan oleh editor untuk menghasilkan apa yang nampak sebagai "kesatuan" di depan mata penonton. Berbeda dengan teater, kesatuan dan kesinambungan sebuah film adalah jasa teknologi, dan bukan jasa aktor-aktornya.

Karena kesatuan sebuah film terletak dalam teknik pembuatannya, maka sutradara dan editor mempunyai kebebasan untuk mengatur dan memanipulasi jalannya cerita dengan berbagai cara. Mereka dapat mencampurkan adegan-adegan yang tidak saling berhubungan tanpa harus mengorbankan kesatuan film itu.

Pembuat film postmodern senang mengubah konsep tempat dan konsep waktu menjadi di sini dan kini selamanya. Usaha mereka dalam hal ini dipacu oleh banyaknya film yang telah diproduksi sebelumnya sehinga mereka mempunyai bahan untuk mencampurkannya. Misalnya: adegan Humphrey Bogart dalam film "The Last Action Hero" dan Groucho Marx dalam iklan Diet Pepsi. Kemajuan teknologi memungkinkan penggabungan keduanya, penggabungan "dunia nyata" dengan kenyataan lain. Contoh lain adalah penggabungan tokoh kartun dan tokoh manusia dalam film "Who Framed Roger Rabbit?"

Kemampuan seorang sutradara menggabungkan berbagai potongan menjadi sebuah film yang utuh, memungkinkannya untuk melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan dongeng, kenyataan dan khayalan. Sutradara- sutradara postmodern menggunakan kesempatan ini untuk mewujudnyatakan etos postmodern. Misalnya, film-film postmodern membuat film fiksi dan fantasi seperti layaknya kejadian nyata (film "Groundhog Day"). Mereka menggabungkan kisah film fiksi dengan aspek dokumenter (film "The Gods Must Be Crazy"). Mereka mencampurkan sebagian catatan sejarah dengan spekulasi dan mencampurkan dunia-dunia yang tidak berhubungan yang dihuni oleh tokoh-tokoh yang tidak jelas majakah yang asli (film "Blue Velvet").

Hidup dalam era postmodern berarti hidup di dalam dunia yang menyerupai film. Sebuah dunia dimana kebenaran dan dongeng bercampur. Kita melihat dunia sama seperti kita melihat film, dan kita curiga apakah yang kita lihat hanyalah sebuah ilusi. Kita dapat memahami sesuatu dalam pikiran sang sutradara. Ia mengajak kita melihat sesuatu yang sering terabaikan/terlupakan dalam dunia yang film itu gambarkan. Sebaliknya ketika melihat dunia sebenarnya, kaum postmodern tidak lagi percaya adanya sebuah Pikiran di baliknya.

TELEVISI DAN PENYEBARAN BUDAYA POSTMODERN

Teknologi pembuatan film memberikan dasar pijakan untuk budaya pop postmodern. Namun televisi merupakan sarana yang lebih efisien untuk menyebarkan etos postmodern ke seluruh lapisan masyarakat.

Dilihat dari satu sisi, televisi hanyalah saranan yang efektif untuk menantikan turunnya film dari bioskop ke televisi. Banyak program televisi yang isinya hanya film-film, mulai dari yang pendek sampai miniseri. Televisi adalah sebuah sarana yang digunakan oleh film-film untuk menyerbu kehidupan sehari-hari jutaan orang. Sejauh ini, televisi hanyalah perpanjangangan tangan dari industri film.

Tetapi lepas dari hubungan dengan film, televisi memperlihatkan ciri khasnya sendiri. Dalam banyak hal, televisi jauh lebih fleksibel daripada film. Televisi melampaui film dengan menyajikan siaran langsung. Kamera televisi dapat menayangkan gambar kejadian langsung kepada pemirsa di seluruh belahan dunia.

Kemampuan untuk menyiarkan secara langsung membuat orang percaya bahwa televisi menyajikan peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, tanpa adanya penafsiran, edit, atau komentar. Karena inilah televisi telah menjadi kriteria untuk membedakan yang nyata dan tidak. Banyak pemirsa tidak menganggap penting banyak hal. Tetapi jika CNN, Sixty Minutes menayangkannya, mereka akan segera merasa hal tersebut penting. Segala sesuatu tidak penting jika tidak ditayangkan televisi.

Televisi mampu menayangkan fakta secara langsung dan mampu menyebutkan produksi-produksi film. Kemampuan ganda demikian membuat televisi memiliki kekuatan yang unik. Ia mampu mencampurkan "kebenaran" (apa yang orang banyak anggap sebagai kejadian nyata) dengan "fiksi" (apa yang orang banyak anggap sebagai khayalan yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan). Film tidak dapat melakukan ini. Televisi masa kini melakukan hal tersebut terus-menerus. Ketika ada siaran langsung, di tengah-tengah siaran itu selalu diputus oleh "pesan dari sponsor."

Televisi melampaui film untuk mewujudkan etos postmodern. Televisi komersil menyajikan berbagai gambar kepada permirsa. Berita sore akan menghantam penonton dengan gambar-gambar yang tidak saling berhubungan: perang di suatu daerah terpencil, pembunuhan di dekat rumah, ucapan dari seorang politikus, skandal seks terbaru, penemuan ilmiah baru, berita olahraga. Campuran-campuran ini disisipkan dengan iklan baterai yang tahan lama, sabun mandi yang lebih bersih, makan pagi yang lebih sehat, dan liburan yang lebih menyenangkan. Dengan menampilkan berbagai gambar tersebut (berita dan iklan), televisi menciptakan kesan bahwa berita dan iklan sama pentingnya.

Siaran berita diikuti oleh program-program utama yang terlalu banyak untuk menarik dan membuat pemirsa bertahan. Maka isi program-program tersebut adalah film laga, skandal, kekerasan, dan seks. Drama-drama malam hari mempunyai bobot yang sama dengan berita sebelumnya. Dengan cara ini, televisi melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan fiksi, antara peristiwa yang benar-benar memilukan hati dan peristiwa sepele.

Ini terjadi bukan hanya pada satu saluran televisi, tetapi berpuluh bahkan ratusan saluran yang berbeda-beda. Hanya dengan sebuah remote control di tangan, seseorang dapat memilih apa pun yang ia suka, mulai dari berita terbaru, pertandingan tinju, laporan ekonomi, film kuno, laporan cuaca, film komedi, film dokumenter, dan sebagainya.

Dengan menawarkan begitu banyak campuran gambar, secara tidak sengaja televisi menyejajarkan hal-hal yang tidak saling cocok. Televisi membutuhkan kejelasan waktu dan tempat. Televisi mencampuradukkan masa lalu dan masa kini, yang jauh dan yang dekat, segala sesuatunya di- bawa menjadi kini dan di sini, di hadapan pemirsa televisi. Dengan cara ini, televisi memperlihatkan dua ciri khas postmodern: menghapus batas antara masa lalu dan masa kini; dan menempatkan pemirsa dalam ketegangan terus-menerus. Banyak pengamat sosial menganggap televisi sebagai cermin dari kondisi psikologis dan budaya postmodern. Televisi menyajikan begitu banyak gambar yang tidak berhubungan dengan realitas, gambar-gambar yang saling berinteraksi terus-menerus tanpa henti.

Film dan televisi telah di persatukan oleh sebuah alat yang lebih baru - komputer pribadi.

Lenyapnya ego adalah tanda kemenangan postmodernisme…. Sang diri diubahkan menjadi sebuah tampilan kosong yang berisi kebudayaan yang telah jenuh namun hiperteknis.

Arthur Kroker, Marilouise Kroker dan David Cook, "Panic Alphabet", dalam Panic Encyclopedia: The Definitive Guide to the Postmodern Scene (Montreal: New World Perspectives, 1989), hal. 16.

Munculnya "monitor" - layar bioskop, layar kaca televisi ataupun monitor computer, melenyapkan perbedaan antara diri sebagai subjek dan dunia sebagai objek. "Monitor" bukan sekadar objek di luar diri kita yang kita sedang lihat. Yang terjadi dalam monitor bukan sesuatu kejadian di luar sana dan diri kita di sini. "Monitor" membawa kita ke dunia luar sama seperti dunia luar masuk ke dalam diri kita. Yang terjadi dalam televisi merupakan manifestasi diri kita, yang terjadi dalam diri kita adalah penjelmaan televisi. Televisi telah menjadi sebuah wujud nyata dari jiwa kita.

Hidup dalam era postmodern berarti hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai gambar yang bercampur-aduk. Dunia televisi memecahkan gambar-gambar menjadi potongan-potongan dan kaum postmodern tetap yakin bahwa itu hanyalah campuran gambar-gambar.

WUJUD-WUJUD LAIN POSTMOERNISME DALAM BUDAYA POP

Film telah menyajikan budaya postmodern, dan televisi menyebarkannya , tetapi musik rock merupakan ciri yang paling khas dari budaya pop postmodern. Lirik lagu-lagu rock mencerminkan semboyan postmodern. Hubungan antara music rock dan budaya postmodern lebih mendalam lagi. Musik rock memiliki ciri utama dari postmodern, yaitu: fokus kepada global dan lokal.

Musik rock kontemporer mendapatkan banyak penggemar dan mampu menyatukan seluruh dunia. Tentunya kita ingat dengan tokoh-tokoh musik rock yang melakukan tur keliling dunia. Pada saat yang sama, musik rock mempertahankan selera lokal. Dalam penampilan grup-grup rock yang besar maupun yang kecil (tidak terkenal), musik rock memperlihatkan pluralitas gaya yang diambil dari gaya musik setempat (lokal dan etnis tertentu).

Yang tidak kalah penting, musik rock juga menggunakan sarana produksi elektronik sebagaimana televisi dan film. Dimensi penting dari budaya rock adalah penampilan langsung dari bintang-bintangnya. Konser musik rock tidak seperti konser tradisional dimana sang penyanyi berusaha berkomunikasi secara akrab dengan penonton. Yang terjadi dalam konser musik rock adalah "kedekatan massal yang dibuat-buat."

Konser rock kini merupakan peristiwa massal, melibatkan puluhan ribu penggemar. Kebanyakan penggemar tidak dapat melihat penampilan sang bintang dari dekat. Namun mereka masih berusaha mengalami pengalaman tersebut. Penampilan tersebut diperlihatkan kepada mereka melalui banyak layar video yang menyorot wajah sang bintang dari dekat.

Tehnik ini menciptakan jarak antara sang bintang dan penonton. Penggemar kelompok rock Jubilant merasa dekat dengan idola mereka sekalipun hanya lewat layar televisi. Teknologi mengubah kedekatan dalam sebuah pertunjukkan langsung menjadi kumpulan ribuan penggemar yang menonton layar video bersama-sama sementara mereka diserbu dengan berbagai-bagai efek cahaya, suara dan sebagainya.

Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan aslinya dan tayangannya di televisi. Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan langsung dan duplikasinya dalam musik. Penampilan langsung bukan lagi realitas yang terdapat dalam konteks khusus. Ia adalah campuran antara apa yang sang bintang tampilkan dan apa yang teknologi hasilkan. Penampilan itu dibungkus dalam kemasan teknologi setelah itu baru disajikan kepada para penggemar.

Wujud etos postmodern yang lebih sederhana adalah cara berpakaian. Model pakaian postmodern mempunyai kecenderungan yang mirip dengan budaya pop lainnya. Kita melihat ditonjolkannya merek dan label produk. Ini melenyapkan perbedaan antara pakaian dan iklan pakaian.

Wajah postmodern nampak dalam "bricolage." Berbeda dengan pola pakaian tradisional yang menyatukan berbagai corak secara harmonis, gaya postmodern sengaja menggabungkan elemen-elemen yang bertentangan, misalnya: pakaian dan aksesoris dari 10, 20, 30 dan 40 tahun lalu dipakai bersama-sama.

Percampuran yang bertentangan tersebut dimaksudkan sebagai sebuah ironi atau ejekan terhadap model pakaian modern, bahkan terhadap seluruh industri pakaian modern.

Dari musik rock ke turisme ke televisi sampai ke bidang pendidikan, yang dipromosikan oleh iklan dan yang dicari oleh konsumen bukan lagi barang-barang, tetapi pengalaman.

Steven Connor, Postmodernist Culture (Oxford: Basil Blackwell, 1989), hal 154.

Budaya pop zaman kita mempunyai dua ciri khas postmodern: pluralisme dan anti-rasionalisme. Seperti nyata dari cara mereka berpakaian dan musik yang mereka dengar, kaum postmodern tidak lagi percaya kalau dunia mereka mempunyai sebuah fokus. mereka tidak lagi percaya bahwa rasio manusia dapat menangkap struktur logika alam semesta. Mereka hidup dalam dunia yang tidak membedakan antara kebenaran dan dongeng. Akibatnya mereka menjadi pengumpul bermacam-macam pengalaman, gudang yang brisi berbagai hal sementara, jembatan yang dilintasi bermacam-macam gambar, dan dihujani dengan aneka ragam media dalam masyarakat postmodern.

Postmodernisme memiliki asumsi yang bermacam-macam. Ini terbukti dari berbagai sikap dan ekspresi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan tersebut, kita menemukan bermacam-macam orang dalam masyarakat. Ekpresinya bervariasi dari cara berpakaian sampai televisi, termasuk musik dan film di dalamnya. Postmodernisme menjelma dalam beraneka ragam ekspresi budaya, termasuk arsitektur, seni, dan sastra. Lebih dari segalanya, postmodernisme adalah sebuah pemandangan intelektual.

Postmodernisme menolak gambaran mengenai seorang pemikir tunggal yang dilahirkan oleh Pencerahan. Postmodern mengejek mereka yang merasa yakin dapat melihat dunia dari suatu titik puncak seolah-olah mereka dapat berbicara demi kepentingan seluruh umat manusia. Postmodernisme telah menggantikan cita-cita pencerahan tersebut dengan keyakinan baru, yaitu: semua pernyataan mengenai kebenaran dan kebenaran itu sendiri terbatas oleh kondisi sosial.

Sumber :

Judul Buku
Penulis
Penterjemah
Penerbit
:
:
:
:
Postmodernisme; Sebuah Pengenalan
Stanley J. Grenz
Wilson Suwanto
Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia

Eksposisi Injil Matius 3 : YOHANES PEMBAPTIS (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, January 6th, 2006

Ringkasan Khotbah : 21 Maret 2004

Yohanes Pembaptis

Nats: Mat. 3: 1-5

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Matius mengakhiri berita kelahiran Yesus dengan berita kepindahan Yusuf ke Galilea di kota Nazaret supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret (Mat. 2:23). Matius tidak mencatat masa kecil Yesus seperti halnya Lukas; karena Matius merasa tidak ada sesuatu yang signifikan untuk manusia. Matius justru melihat signifikansi peranan Yohanes Pembaptis sebagai fore rider, dan dimulainya misi Kerajaan Allah untuk diberitakan pada manusia. Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan bagi Tuhan Yesus, telah mencetuskan prinsip “Kerajaan Sorga“ terlebih dahulu. Semua ini tidak lepas dari campur tangan Allah yang telah menetapkan Yohanes Pembaptis sebagai fore rider termasuk kelahirannya yang 6 bulan lebih cepat dari Yesus dan hubungan kekerabatannya sebagai saudara sepupu.

Hubungannya yang dekat dengan Tuhan Yesus seharusnya bisa membuat dirinya menjadi “besar“, dia dapat menyombongkan diri namun dengan rendah hati ia mengaku di hadapan Yesus akan keberadaan dirinya yang tidak layak  (Mat. 3:11,14). Yohanes Pembaptis telah memberikan teladan yang baik bagi setiap orang Kristen to how to be a good Christian. Kenapa? Orang yang mempunyai jabatan/posisi tinggi, biasanya sulit untuk dia tidak menjadi sombong; sebaliknya orang akan menjadi rendah diri bila tidak mempunyai sesuatu yang dapat dibanggakan akibatnya orang akan berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, seperti jabatan atau kekayaan supaya dihormati. Dosa telah mencengkeram hidup manusia dengan kuat sehingga sukar bagi manusia untuk lepas.

Ironisnya, hari ini tidak hanya para pejabat atau orang kaya saja yang “belagu“, anaknya pun ikut-ikutan “belagu“ bahkan cenderung mempunyai pola tingkah laku rusak; mereka hanya mendompleng untuk menaikkan pamor dirinya. Sayang, mereka telah menyia-nyiakan semua kapasitas dan kesempatan yang ada pada dirinya. Padahal “anak“ itu sendiri mempunyai dua arti, yakni: 1) secara esensial, berarti ada kesamaan natur antara orang tua dan anaknya, contoh: anak kambing berarti induknya juga kambing 2) secara ekstensial, contoh: anak dokter, anak pejabat, dll bukan berarti dia seorang dokter. Semua arti ekstensial bila dipaksakan menjadi esensial pasti timbul kerusakan yang fatal. Matius ingin agar kita meneladani sikap hidup dan pelayanan Yohanes Pembaptis dengan demikian kita dapat menjadi seorang hamba Tuhan yang baik dan yang berkenan kepada  Allah. 

1. Low Profile Ministry

Dengan kelahirannya yang mengherankan seharusnya Yohanes Pembaptis bisa menyombongkan diri; ia dikandung oleh Elizabeth yang mandul, ayahnya bisu selama ia dikandung dan dapat berbicara kembali setelah dilahirkan; ia mempunyai hubungan saudara dengan Tuhan Yesus. Namun, keistimewaan tersebut tidak membuatnya menjadi tinggi hati, ia justru memandang dirinya rendah. Sama seperti Paulus yang menganggap semua kelebihan yang ada pada dirinya sebagai sampah karena pengenalan akan Yesus Kristus (Flp. 3:8). Dunia modern selalu menuntut kita agar mempunyai identitas diri/ sesuatu yang bernilai untuk menjadi kebanggaan tetapi melalui Yohanes Pembaptis kita disadarkan bahwa seorang hamba Tuhan yang baik harus low profile dan ingat, Tuhan memandang rendah segala sesuatu yang menjadi kesombongan manusia.   

Teladan lain yang ditunjukkan Yohanes Pembaptis, yaitu ia tidak mementingkan sarana dan prasarana disaat melayani; dia tidak berkhotbah di tempat yang besar seperti di Bait Allah tapi ia justru berkhotbah di padang gurun Yudea. Ironisnya, hari ini banyak hamba Tuhan lebih mengutamakan sarana daripada isi Firman, itulah sebabnya kita lebih memilih menggunakan istilah “mimbar“ daripada “pos PI“ karena kata “pos“ lebih menunjuk pada gedung. Kita harus mengutamakan hal yang primer maka dengan sendirinya semua yang sekunder tetap menjadi sekunder sebaliknya kalau hal-hal sekunder kita jadikan primer maka posisi menjadi terbalik. Jadi, Firman Tuhan lebih utama dibanding gedung gereja ataupun sarana yang lain.

Waspadalah dengan akal si iblis yang selalu ingin memutarbalikkan kebenaran. Hendaklah prinsip Yohanes Pembaptis yang sadar bahwa Dia yang harus makin bertambah dan dirinya harus semakin berkurang boleh menjiwai hidup pelayanan kita. Yohanes Pembaptis lebih mengutamakan misi Kerajaan Surga; dia tidak peduli dengan segala keistimewaan dan keunggulan yang ada pada dirinya. Paulus pun juga menyadari bahwa Kristus yang adalah Allah namun Ia telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:6-7). Biarlah kita mempunyai sikap rendah hati dalam pelayanan sehingga bersama-sama kita membangun tubuh Kristus.

2. Controversy Ministry

Di tengah-tengah kesombongan orang Yahudi yang selalu ingin menaklukkan setiap musuh-musuhnya dan menegakkan Yudaisme, Yohanes Pembaptis justru memberitakan: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Berita ini sangat mengejutkan orang-orang Yahudi pada jaman itu bahkan sampai detik ini, berita ”Kerajaan Sorga sudah dekat” masih dianggap berita kontroversi. Banyak orang Kristen takut mewartakan kebenaran, yaitu semua manusia di dunia berdosa dan satu-satunya jalan supaya manusia diselamatkan hanya melalui Yesus Kristus. Inilah berita Injil yang sejati yang menjadi berita kontroversial sejak jaman Yohanes Pembaptis hingga sekarang. Kita dapat melihat hal ini dengan banyaknya perdebatan dan pertentangan yang timbul ketika gerakan Reformed hendak memberitakan ”Yesus Kristus Juruselamat Dunia” melalui KKR di beberapa kota.

Orang Kristen yang takut memberitakan berita Injil karena dianggap sebagai berita yang kontroversi tidak berhak menyebut dirinya ”Kristen”. Jangan pernah berpikir, suatu saat nanti berita Injil tidak akan menjadi berita yang kontroversi justru berita yang kontroversi itulah berita kebenaran yang sejati. Tuhan Yesus pun sama seperti Yohanes Pembaptis memberitakan berita yang kontroversi, yaitu: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17); Dia tidak takut meskipun untuk itu banyak musuh dan dibenci dunia. Orang Kristen dapat menjalankan misi Kerajaan Allah bila ia mempunyai sikap rendah hati, low profile. Hati-hati rendah hati berbeda dengan rendah diri dan low profile jangan membuat low spiri. Orang rendah diri adalah orang yang ingin mencapai sesuatu yang bernilai tinggi supaya dapat dipakai untuk menyombongkan diri namun karena ia tidak dapat mencapainya akibatnya ia tidak mempunyai daya juang untuk mengerjakan segala sesuatu termasuk memberitakan berita kontroversi. Sebaliknya, orang yang rendah hati bukanlah orang yang kehilangan spirit tapi ia justru berani memberitakan berita kontroversi.

Filsafat timur berpendapat bahwa dalam menjalankan hidup, manusia harus menjadi seperti air yang senantiasa mengalir; kerikil bahkan batu sebesar apapun tidak akan membuat air berhenti mengalir. Kini, filsafat ini telah mempengaruhi dunia modern, sebagai contoh: gerakan new age telah menyebar ke seluruh dunia. Setiap kesulitan yang menghadang di saat berita Injil disampaikan tidak boleh membuat anak Tuhan menjadi ciut justru dengan kekuatan Tuhan kita harus berani menghadapinya. Jadi, filosofi ini tidak cocok untuk seorang anak Tuhan sejati. Jangan takut kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa dunia; Dia pasti akan memberikan kekuatan dan penghiburan ketika kita menghadapi tantangan. 

Hati-hati dengan ajaran liberal yang sudah merasuki kekristenan. Kaum liberal tidak mau memberitakan berita Injil yang utama, yaitu berita Yesus Kristuslah satu-satunya Juruselamat Dunia (Yoh. 14:6) karena dianggap sebagai berita kontroversi yang hanya akan menimbulkan pertentangan. Kebenaran sejati selalu dimusuhi oleh ketidakbenaran karena kebenaran sejati akan menelanjangi ketidakbenaran; kebenaran sejati akan mencoreng ketidakbenaran. Ironisnya, orang justru menganggap ketidakbenaran sebagai kebenaran dan kebenaran itu sendiri dianggap sebagai eksklusivitas. Ingat, jangan mudah terpengaruh dengan segala ajaran dunia karena semua yang diajarkan dunia pasti bertentangan dengan Firman Tuhan. Karena itu, bertobatlah, hai, engkau yang mengaku diri Kristen tapi telah menyelewengkan berita kebenaran.

Hanya iman sejati, yaitu iman dalam Yesus Kristus yang dapat membuat kita taat melakukan firmanNya. Manusia harus taat dulu barulah kemudian ia memperoleh pengertian sejati karena kalau logika manusia yang membuat orang taat pada Tuhan maka dapat dikatakan ia tidak mempunyai iman sejati. Justru karena kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana dan maksud Tuhan itulah maka kita berjalan dengan iman setelah itu barulah kita akan memperoleh pengertian yang benar. Bukankah setiap hari setiap saat kita melangkah dengan iman  karena jalan Tuhan sukar dimengerti logika manusia? Sebagai anak Tuhan, kita harus berani menyatakan kebenaran meski kebenaran itu bersifat kontroversi, yakni setiap manusia di dunia berdosa dan hanya Yesus satu-satunya Juruselamat. Dosa adalah dosa, tidak ada setitik pun alasan yang dapat membenarkan kita untuk kita dapat berbuat dosa. Alasan dibuat manusia untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya.

3. Sacrifice Ministry

Ketika melayani Tuhan, seorang Kristen sejati harus berani berkorban, berani menderita, dan berani menghadapi segala tantangan maupub resiko; orang Kristen harus berani melawan arus dunia. Pada umumnya, orang Kristen takut memberitakan Injil karena takut akan resiko yang harus dihadapi. Dunia menjuluki mereka sebagai ”smallman”, yaitu orang yang mau enak saja tetapi tidak mau susahnya, dia tidak mau bertanggung jawab, dia lari ketika menghadapi resiko. Sebaliknya orang yang berani menghadapi resiko sebagai akibat dari tanggung jawab yang harus dihadapinya disebut ”gentleman”, dialah orang bernilai tinggi. Orang Kristen harus menjadi seorang gentleman, berani berbuat harus berani bertanggung jawab dan menghadapi segala resiko. Di dunia bisnis, banyak orang yang takut rugi, tidak berani menghadapi resiko ketika hendak menjalankan bisnisnya sehingga solusi yang dianggap paling tepat adalah MLM (Multi Level Marketing). Ingat, orang Kristen tidak boleh menjalankan MLM. Apakah seseorang dapat dikatakan sukses bila kesuksesan tersebut didapat dari hasil berjudi?

Seorang pemimpin yang baik adalah seorang yang berani memperjuangkan segala hal tanpa harus takut menghadapi segala resiko. Akan tetapi orang yang demikian belum dapat dikatakan sebagai seorang Kristen sejati because he just do it by responsibility. Kristen sejati harus mempunyai komitmen, bukan sekedar tanggung jawab. Komitmen mengandung unsur inisiatif, kerelaan hati. Jadi, jangan mengerjakan tugas atau berkorban karena sebatas tanggung jawab. Yohanes Pembaptis tahu bahwa untuk membela kebenaran, ia harus berani berkorban. Yohanes Pembaptis rela berkorban nyawa, dipenggal kepalanya oleh Herodes demi untuk membela kebenaran. Bagaimana dengan kita? Relakah kita berkorban demi untuk Kerajaan Sorga diberitakan di muka bumi ini?

Orang yang berinisiatif, yaitu orang yang mengajukan usul demi untuk perbaikan dalam pelayanan, demi untuk mengembangkan Kerajaan Sorga di bumi maka dialah yang terlebih dahulu harus mengerjakannya dan ia harus berani menerima segala resiko. Pengorbanan yang agung itu dapat kita lihat dari teladan Kristus. Dia adalah Allah, Dia berhak menolak tapi karena kasihNya pada manusia membuatNya berinisiatif datang ke dunia dan menjadi serupa dengan dunia untuk menebus dosa. Itulah arti pengorbanan yang sesungguhnya; dengan kuasa yang ada pada diriNya Dia berhak dan tidak harus mati disalib tetapi karena kasihNya Dia rela berkorban untuk kita dan menggenapkan misi Kerajaan Sorga di bumi.

4. Godly Ministry

Sia-silah semua pengorbanan kalau dilakukan untuk dunia tetapi semua pengorbanan tidak akan menjadi sia-sia kalau kita melakukannya demi untuk kemuliaan Tuhan. Allah akan akan menghargai semuanya itu. Biarlah seluruh hidup dan pelayanan kita hanya berpusat pada Tuhan. Seperti Yohanes Pembaptis yang tidak hanya sekedar berteriak–teriak untuk sesuatu hal yang sia-sia tetapi ia tahu dengan jelas tujuannya, yaitu memberitakan misi Kerajaan Sorga. Banyak aspek yang masih harus dikerjakan oleh setiap anak Tuhan tapi adakah orang yang berani berkorban demi berita Injil yang kontroversif digenapkan di dunia? Hendaklah dalam segala aspek hidup, kita peka akan pimpinan Tuhan dan biarlah kita mau bertekad untuk mau hidup menyenangkan hati Tuhan sehingga hidup kita bukan hidup yang berambisi dan kemudian dibuang dunia. Untuk mengerti kehendak Tuhan kita harus bergaul erat dengan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita termasuk hal yang kecil dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian kita menjadi seorang yang godly, saleh, yaitu orang yang mau taat pimpinan Tuhan, peka terhadap kehendak Tuhan dan hidup mau menyenangkan Tuhan. Biarlah hidup dan pelayanan Yohanes Pembaptis boleh menjadi teladan bagi kita dan memberi kekuatan dan keberanian pada kita untuk hidup melayani Tuhan di sepanjang hidup kita. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)