Archive for February, 2006

Eksposisi Injil Matius-3 : CALL FOR MISSION (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, February 24th, 2006

Eksposisi Injil Matius-3

Ringkasan Khotbah : 06 Juni 2004

Call for Mission

Nats: Mat. 3: 16-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Baptisan merupakan tanda pertobatan (Mat. 3:11) namun kalau Tuhan Yesus dibaptis, itu bukan karena Dia berdosa lalu bertobat atau hanya sekedar mengikuti tradisi. Tidak! Karena sudah menjadi kehendak Allah, Tuhan Yesus harus dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis menyadari bahwa dirinya tidak layak namun ia taat menjalankan kehendak Bapa. Sesudah Tuhan Yesus dibaptis, pada waktu itu juga langit terbuka dan Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.“ This is the very big moment karena peristiwa ini tidak pernah terjadi pada orang lain di dunia dan peristiwa ini menjadi starting point bagi Tuhan Yesus untuk menjalankan misi-Nya di dunia dan menggenapkan seluruh rencana Allah.

Alkitab mulai mencatat seluruh misi pelayanan Tuhan Yesus saat Dia berusia 30 tahun. Peristiwa kelahiran-Nya pun hanya dicatat dalam injil Matius dan injil Lukas begitu pula dengan masa kanak-kanak Tuhan Yesus hanya satu kali ditulis, yakni ketika usia-Nya 12 tahun. Pada jaman itu seorang anak harus ditahbiskan dan menjadi anak Taurat saat berusia 12 tahun untuk kemudian dididik secara iman Yahudi selama 18 tahun oleh para imam. Setelah berumur 30 tahun barulah seseorang dianggap dewasa dan ia berhak mengambil keputusan hukum atas dirinya sendiri. Itulah sebabnya kenapa umur 0-30 tahun tidak banyak catatan mengenai diri Tuhan Yesus karena umur 0-12 Tuhan Yesus masih berada dibawah bimbingan orang tua dan usia 12-30 Tuhan Yesus dibimbing oleh para imam untuk belajar tentang Taurat. Pelayanan Tuhan Yesus di dunia sangatlah singkat, hanya 3 tahun yakni dari usia 30 tahun hingga usia 33 tahun. Namun justru di waktu yang singkat itu banyak hal mengenai diri-Nya yang tidak pernah habis untuk diungkapkan dan dicatat hingga kini.

Tidak adanya catatan mengenai diri Yesus ketika Ia berusia 0 tahun hingga 30 tahun membuat manusia berpikir negatif tentang diri Yesus. Pikiran manusia berdosa mencoba menerapkan hal yang biasa terjadi pada manusia dalam diri Tuhan Yesus, seperti masa muda jaman modern yang dilewati dengan berpacaran. Manusia bukannya mau belajar dan mengerti kebenaran, mereka justru sok tahu lalu menuduh dan berpikir negatif terhadap diri Tuhan Yesus. Ingat, biografi tidak mencatat semua peristiwa yang dianggap tidak penting, yang sifatnya rutinitas seperti makan apa, tidur jam berapa dsb. Biografi hanya mencatat peristiwa yang mempunyai makna sejarah dalam kehidupan. Hidup manusia bukan dibatasi oleh panjang pendeknya umur seseorang melainkan bagaimana kita mengukir sejarah kehidupan. Kalau hidup kita tidak bermakan maka hidup kita bagaikan selembar kertas putih kosong yang nantinya dibuang dan dibakar. Karena itu, selama di dunia janganlah lewatkan hidupmu dengan percuma tapi isilah hidupmu dengan hal yang bermakna dengan demikian kita menancapkan tonggak sejarah dalam dunia dan menjadi berkat bagi dunia.

Manusia selalu terbiasa berpikir dengan sistem tertutup, yaitu segala sesuatu yang dikerjakan adalah dari saya, untuk saya, oleh saya dan hasilnya untuk saya. Sebagai anak Tuhan, segala sesuatu yang kita kerjakan seharusnya bukan untuk diri sendiri melainkan untuk kalangan luas dan menjadi berkat bagi dunia. Kita seringkali merasa takut dan gentar mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar karena kita tidak bersandar pada Tuhan tapi bersandar pada diri sendiri; orang selalu mementingkan untung rugi seperti layaknya bisnis di dunia. Ingat, pekerjaan Tuhan yang besar bukan tergantung banyak orang karena Tuhan dapat memakai batu andai tidak ada satu orang pun yang mau melakukan pekerjaan-Nya. Hendaklah kita senantiasa meneladani Kristus dimana seluruh hidup-Nya hanyalah untuk menggenapkan rencana Allah dan menjadi berkat. Pelayanan-Nya singkat di dunia namun sangatlah bermakna. Bagaimana dengan hidup kita? Sudahkah hidup kita dipakai menjadi berkat?

1. Baptisan sebagai Starting Point

Misi Kristus dimulai sesudah Ia dibaptis namun hari ini banyak orang justru berpikir sebaliknya, yakni  baptisan merupakan akhir dari segalanya, the end of everything. Sebelum dibaptis orang bergiat melayani tapi setelah dibaptis kebanyakan orang cenderung menjadi suam-suam kuku. Celakalah hidup kita kalau kita melihat segala sesuatu sebagai akhir dari segalanya. Hal ini biasanya dialami oleh mereka yang putus cinta dimana segala sesuatunya menjadi suram, tidak ada pengharapan. Kekristenan justru melihat everything is beginning of the new one. Jangan pernah sekalipun kita memberhentikan seluruh pengharapan, seluruh ide yang ada pada dirimu sebagai titik akhir. Nilai sejarah seseorang justru dimulai setelah ia dibaptis; baptisan merupakan awal bagi kita untuk merencanakan segala sesuatu yang menjadi kehendak Tuhan untuk digenapkan di dunia. yaitu bagaimana seluruh perencanaan dan masa depan hidup kita kembalikan kepada kehendak-Nya. Hidup Paulus menjadi bermakna setelah ia bertobat dan mengenal Tuhan dan Alkitab mencatat seluruh sejarah hidup Paulus setelah ia bertobat.

Kalau hidup kita tidak mempunyai nilai sejarah maka hidup kita akan dibuang percuma di dunia. Biarlah orang merasakan dan mendapatkan berkat dari kehadiran kita bukan sebaliknya justru orang merasa sukacita dengan ketidakhadiran kita. Ingat, dunia tidak akan mendukung bila kita sedang terpuruk sebaliknya dunia justru akan membuang kita kalau diri kita sudah tidak menguntungkan baginya. Itulah dunia yang egois namun sebagai Anak Tuhan janganlah kita menjadi serupa dengan dunia. Biarlah kita mau bertekad seluruh hidup kita mau dipakai sebagai alat untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah di dunia sehingga hidup menjadi bermakna dalam sejarah. Seberapa jauhkah kita sudah menata hidup kita? Dan bagaimana kita melihat pentingnya sebuah baptisan? Baptisan tidak hanya berurusan dengan keselamatan dan menjadikan diri kita egois. Baptisan merupakan proklamasi diri bahwa anugerah keselamatan Tuhan telah turun atas kita sehingga kita tahu bagaimana berespon dengan tepat atas anugerah tersebut.

2. Konfirmasi Bapa dan Roh Kudus

Setelah Tuhan Yesus dibaptis maka turunlah Roh Kudus yang seperti burung merpati dan ada suara dari Allah Bapa yang mengkonfirmasi bahwa Yesus adalah Anak Allah. Peristiwa ini merupakan satu-satunya peristiwa dimana Allah Tritunggal menyatakan diri secara bersama-sama dalam satu peristiwa. Sebenarnya, konsep Allah Tritunggal sudah tertulis dalam kitab Perjanjian Lama namun mereka tidak menyadarinya; Allah Anak ditulis dengan Malaikat (dengan huruf besar), yaitu kristofani artinya penampakan Allah Anak kepada orang-orang di jaman PL. Celakanya, orang mencoba menafsirkan Allah Tritunggal dengan konsep manusia berdosa. Orang menafsir Allah Tritunggal sebagai satu orang tapi mempunyai tiga jabatan, sebagai contoh kalau ia berada di kantor maka ia adalah seorang direktur, kalau ia sedang mengemudikan mobil maka ia menjadi seorang supir dan kalau di rumah maka ia menjadi seorang ayah. Kita menolak dengan keras ajaran bidat yang dikenal dengan ajaran Sabellianisme atau Modalisme ini. Karena jika demikan ketika Allah Anak berinkarnasi berarti surga kosong dan sifat Allah Tritunggal terbatas. Tidak!

Kehadiran Allah Tritunggal yang datang secara bersamaan adalah bukti nyata bahwa Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Tuhan Yesus tidak pernah memproklamasikan siapa sesungguhnya diri-Nya, Allah Bapa sendiri yang memproklamasikan-Nya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kepada-Nya Ia berkenan. Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus adalah tiga pribadi tetapi bukan tiga oknum tetapi satu Allah. Hal inilah yang sukar dimengerti oleh dunia tiga tapi satu. Hal ini disebabkan karena orang biasa berpikir bahwa x + x + x = 3x. Allah bukanlah faktor x, Allah adalah Allah yang kekal sehingga ~ + ~ + ~ = ~ bukan  ~ + ~ + ~ ≠ 3~. Allah yang kekal tidak bisa dijumlah dengan angka yang bersifat sementara. Dunia sukar menghubungkan antara kekekalan dan kesementaraan.

Ketika Tuhan Yesus mau memulai pelayanan-Nya, dua hal yang terjadi: Roh Kudus turun dalam bentuk merpati dan ada suara dari Allah Bapa. Dua hal ini juga harus terjadi dalam setiap aspek hidup ketika kita mau memulai mengerjakan segala sesuatu apakah kita seperti Tuhan Yesus yang meminta agar Bapa memberikan konfirmasi atas diri-Nya. Dalam mengerjakan segala sesuatu di dunia kita tidak lepas dari dukungan orang lain namun pernahkah kita bertanya apakah Tuhan berkenan atas pekerjaan yang aku lakukan? Celakanya, manusia lebih peduli pendapat orang lain daripada Tuhan; kita lebih suka kalau orang lain yang memuji diri kita dan kita tidak peduli meski Tuhan tidak berkenan atas hal itu. Celakalah kita kalau kita sudah dibelenggu dan diperbudak setan. Sebagai anak Tuhan justru seharusnya kita takut pada Tuhan bukan pada setan. Kalau kita tahu bahwa Tuhan berkenan atas apa yang kita kerjakan maka kita tidak akan takut dan takluk pada dunia. Ingat, semua pujian manusia hanyalah bersifat semu belaka; dunia akan membuang kita kalau kita sudah tidak menguntungkan lagi. Karena itu, utamakanlah Tuhan dalam hidupmu dan biarlah semua hal yang kita kerjakan hanyalah demi untuk kemuliaan nama-Nya dan kita akan merasakan sukacita sejati.

3. Misi melalui Tantangan

Perkenanan Allah menjadi pondasi bagi kita untuk melangkah tapi kita masih butuh pimpinan Roh Kudus. Melangkah di dalam perkenanan Allah dan dipimpin oleh Roh Kudus menjadi kekuatan bagi kita untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah di dunia; kita tidak takut meski tantangan di dunia menghadang. Jangan pernah berpikir bahwa dengan kekuatan sendiri, manusia mampu menghadapi semua tantangan. Ingat, kesombongan merupakan awal kehancuran hidup manusia, sepandai-pandainya tupai melompat suatu kali pasti jatuh juga. Kesombongan nampak jelas pada ilustrasi berikut, yakni seekor anak katak dan induknya yang tinggal dalam sumur dan tidak pernah melihat dunia luar hingga suatu kali si anak katak melompat keluar dari sumur dan ia melihat kerbau yang sangat besar. Si anak lalu kembali ke dalam sumur dan menceritakan pengalamannya tersebut pada ibunya. Tentu saja si induk tidak mau dikalahkan dan dengan sombongnya ia menunjukkan pada anaknya bahwa dirinya bisa menjadi sebesar kerbau dengan mengembungkan dirinya terus dan terus dan akhirnya ia mati meledak. Inilah akhir dari kesombongan, yaitu kehancuran dirinya sendiri.

Kebodohan yang seringkali tidak disadari manusia adalah disaat ia merasa dirinya hebat. Bijaksana yang sejati adalah kita menyadari bahwa kita tidak mampu kalau kita berjalan sendiri karena itu kita butuh pimpinan Roh Kudus. Kalau kita mengerti hal ini maka kita tidak ragu untuk menapaki hari esok dalam memenuhi panggilan-Nya dimanapun kita berada. Hidup kita menjadi bernilai di hadapan Tuhan dan menjadi berkat bagi dunia. Tuhan Yesus pun sesudah dibaptis, Ia dibawa oleh Roh Tuhan ke padang gurun untuk dicobai. Seringkali orang berpikir baptisan akan memberikan kekuatan bagi kita untuk melangkah, bekerja bagi Tuhan. Tapi hendaklah kita ingat, perkenanan dari Allah dan pimpinan dari Roh Kudus juga membutuhkan respon dan komitmen yang tepat.

Tuhan tidak menjamin hidup kita akan lancar dan enak setelah dibaptis. Tidak! Terkadang Tuhan ingin menguji komitmen kita sehingga Ia memberikan ujian supaya kita menjadi semakin bertumbuh dalam iman. Seperti kesaksian yang dialami oleh seseorang dimana setelah dibaptis ia justru mengalami ujian berat, seluruh usahanya hancur dalam kebakaran namun puji Tuhan, ia tetap berteguh dalam iman. Mengikut Tuhan membutuhkan komitmen dan komitmen itu akan terlihat ketika kita berada dalam kesulitan dan penderitaan. Apakah kita tetap setia mengikut Dia meski kita menderita? Dalam setiap pergumulan, kita tahu kalau Tuhan berkenan atas apa yang kita lakukan maka langkah berikutnya adalah dibutuhkan komitmen maka Tuhan akan memimpin hidup kita selangkah demi selangkah. Bersama Tuhan, kita akan merasakan berkemenangan dan hidup kita akan mendatangkan makna yang bersifat kekal.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Eksposisi Injil Matius 3 : THE PARADOXICAL POSITION (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, February 17th, 2006

Ringkasan Khotbah : 23 Mei 2004

The Paradoxical Position

Nats: Mat. 3: 13-15

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita telah memahami bahwa keselamatan manusia bukan didasarkan pada baptisan karena dengan demikian hal itu berarti kita telah melecehkan Kritus dan Karya Penebusan-Nya dan kita juga melecehkan anugerah Allah yang telah memilih kita dari dunia ini bahkan sebelum dunia dijadikan. Kalau keselamatan hanya diperoleh melalui baptisan, lalu bagaimana dengan pernyataan Tuhan Yesus pada penjahat yang bertobat di sisi-Nya: Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus (Luk. 23:43). Iman Kristen sejati mutlak didasarkan pada Kritus dan karya penebusan-Nya maka orang yang melawan pribadi Kristus adalah bidat. Hal itu berarti ia telah meresikokan diri untuk  dibuang ke dalam api yang tak terpadamkan. Ingat, manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dapat merelasikan unsur kekekalan dan kesementaraan maka manusia harus bertanggung jawab terhadap seluruh perbuatannya di dunia.

Matius 3:13-17 seharusnya tidak boleh dilepaskan dari perikop sebelumnya karena ayat ini   berkesinambungan dengan ayat sebelumnya. Dengan adanya judul yang diberikan LAI seolah-olah memberikan gambaran ada dua kejadian yang berbeda, yakni ayat 1-12 merupakan pendahuluan dan ayat 13-17 merupakan inti dari kejadian dimana tokoh utamanya, Yesus Kristus yang dibicarakan Yohanes Pembaptis sebelumnya telah muncul. Untuk lebih memahami ayat ini maka kita harus kembali pada kondisi jaman saat itu, abad 27M dimana semua orang ketika itu mengenal Tuhan Yesus hanya sebatas seorang anak tukang kayu atau sebatas saudara sepupu Yohanes Pembaptis; dan sama seperti yang lain Ia datang untuk dibaptiskan. Maka dapatlah disimpulkan, orang pasti lebih mengenal Yohanes Pembaptis daripada Tuhan Yesus. Orang Farisi dan orang Saduki pun meminta diri untuk dibaptis bahkan mereka tidak membantah sepatah kata pun ketika Yohanes Pembaptis menegur mereka.

I. The Paradoxical Position

Perjumpaan yang terjadi antara Yesus dengan Yohanes Pembaptis ini merupakan perjumpaan yang sangat penting dan kritis. Orang lebih menghormati Yohanes Pembaptis dibanding Yesus terbukti orang Farisi dan orang Saduki, orang yang terhormat datang minta dibaptis. Mereka tidak tahu dan tidak menyangka kalau yang datang itu adalah Yesus, Mesias yang dinantikan namun Yohanes Pembaptis peka karena itu ia dapat berkata, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu“ (Mat. 3:14). Bandingkanlah dengan pertemuan yang terjadi antara Yesus dan Pilatus; pada saat itu banyak orang sudah mengenal siapa Yesus bahkan Pilatus pun tahu namun ia justru tidak mau mengenal kebenaran sejati tetapi malah menghina kebenaran dengan kalimat yang mengejek, “Apa itu kebenaran?“ Pilatus menganggap bahwa dirinyalah yang paling berkuasa karena mati hidupnya Yesus berada di tangan-Nya; ia tidak menyadari bahwa kuasa yang ada padanya sekarang adalah pemberian dari Bapa dan sifatnya sementara.  Biarlah pertemuan yang terjadi, yaitu pribadi kita dengan Kristus, kita sadari sebagai momentum yang terpenting dalam hidup kita.

Dalam hal ini Yohanes Pembaptis mempunyai posisi lebih tinggi namun ia justru memposisikan dirinya di tingkat yang lebih rendah dan memposisikan Kristus di posisi yang paling sentral di tengah-tengah dunia. Dapatlah dibayangkan pada saat itu orang tentu kaget mendengar perkataan Yohanes Pembaptis yang selama ini bagi mereka adalah seorang yang terhormat yang dapat disejajarkan dengan orang Farisi dan orang Yahudi. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dan dihormati masyarakat merendahkan diri di hadapan orang lain karena itu dibutuhkan suatu kerelaan hati. Apalagi sekarang manusia di dunia telah dididik, ditipu, ditekan dan dimanipulasi untuk menyatakan diri sebagai yang nomor satu, I am the one, I am the highest, I am the most important. Merupakan hal yang sulit bagi manusia untuk menyadari dan mengakui bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa meski di dunia ia dihormati. Inilah paradoxical position.

Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menempatkan diri kita di tengah-tengah alam semesta karena banyak godaan dan keinginan untuk kita menjadi the most important person, kecuali kita kembali pada Tuhan Yesus maka kita akan tahu dengan jelas esensi manusia sejati. Orang yang selalu mempunyai keinginan untuk menjadi nomor satu dan dihormati maka ia semakin dihinakan orang dan Tuhan. First thing first, put yourself in right position, hal yang utama tempatkan dirimu di posisi yang tepat di hadapan Tuhan maka hidupmu akan tertata dengan baik. Yohanes Pembaptis telah memberikan teladan bagi kita supaya kita menyadari akan keberadaan diri di hadapan Yesus sehingga kita dapat berkata, “Dia yang harus makin bertambah dan aku yang harus makin berkurang“.

II. Ketaatan Menjalankan Kehendak Allah

Yohanes Pembaptis menyadari kalau dirinya tidak layak membaptis Tuhan Yesus justru Yesuslah yang seharusnya membaptiskan dia namun Tuhan Yesus tahu bahwa sudah menjadi rencana dan kehendak Allah kalau Diri-Nya dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus pun taat. Yohanes Pembaptis menyadarkan kita agar tidak mudah terjebak dengan fenomena karena topeng  dapat membutakan kita untuk melihat realita dengan tepat. Dua macam topeng yang biasa dgunakan: 1) dia ingin menjadi seperti siapa maka topeng itulah yang akan ia kenakan. Biasanya, orang akan meniru semua tingkah laku, gaya hidup, dan lain-lain dari tokoh yang diidolakan; 2) orang ingin dia untuk menjadi seperti apa maka topeng itulah yang akan  ia kenakan. Orang akan melakukan apa saja untuk menutupi segala kekurangan yang ada pada dirinya supaya ia dihormati dan orang mempunyai kesan baik terhadap dirinya.

Tuhan Yesus sepanjang hidup-Nya tidak pernah menampilkan diri-Nya seperti yang dipikirkan manusia. Dengan kacamata manusia berdosa maka orang akan sulit melihat diri Yesus yang sejati; manusia selalu melihat apa yang di depan mata. Kita sudah terbiasa dengan segala bentuk topeng akibatnya kita sulit mengerti esensi yang sejati; kita sudah terbiasa dengan segala macam kebohongan sehingga kita sulit melihat kejujuran. Biarlah kita mempunyai kepekaan sehingga mata rohani kita dapat melihat Kristus yang sejati. Yohanes Pembaptis terbiasa dengan konsep bahwa orang yang datang untuk dibaptis pastilah orang berdosa dan sudah bertobat tetapi ada juga orang yang tidak mau bertobat namun minta dibaptis seperti orang Farisi dan orang Saduki. Berbeda dengan Tuhan Yesus, Ia tidak berdosa sehingga tidak perlu dibaptiskan namun Dia datang untuk dibaptis demi untuk menggenapkan rencana Allah. Hal ini mengubah seluruh konsep berpikir Yohanes Pembaptis, dengan waktu singkat.

Hal yang paling menakutkan dan memprihatinkan adalah konsep dunia modern telah berhasil masuk dalam gereja dan orang terjebak dengan ajaran teologi humanistik, yaitu teologi yang mengajarkan bahwa Tuhan membutuhkan manusia sebagai obyek kasih-Nya dan supaya nama Tuhan tidak menjadi rusak maka Ia melimpahkan berkat untuk manusia. Salah! Justru manusia yang membutuhkan Tuhan karena tanpa Tuhan, hidup manusia hampa dan sia-sia. Kita juga menolak konsep deistik, yaitu suatu konsep yang menyatakan bahwa Tuhan tidak tahu akan apa yang terjadi esok hari sehingga segala sesuatunya tergantung manusia. Hati-hati, dengan akal licik iblis yang selalu memutarbalikkan Firman; Allah adalah Allah yang Maha Tahu sebaliknya justru iblis tidak pernah tahu hari esok karena kalau iblis tahu Yesus akan bangkit, pasti ia tidak akan membunuh Kristus.

Konsep dunia telah merasuk manusia maka tidaklah heran kalau konsep pelayanan pun menjadi rusak. Para hamba Tuhan beranggapan bahwa hidupnya tergantung pada jemaat yang dilayani. Lalu dimana posisi kita, menjadi hamba Tuhan atau hamba jemaat? Jangan pernah anda berpikir bahwa kekayaan, kepandaian, talenta dan segala sesuatu yang ada padamu dapat menguasai Tuhan dan gereja. Ingat, semua itu asalnya dari Tuhan maka kita harus mengembalikannya pada Tuhan. Hati-hati jangan menilai segala sesuatu secara fenomena sehingga kita tidak menjadi salah langkah dan jangan memakai cara-cara dunia untuk menggarap hal yang bersifat spiritual dengan mengadakan berbagai macam kegiatan sosial seperti bazaar, kegiatan seni, dll karena dengan demikian kita berarti menurunkan ke titik terendah. Akan tetapi, biarlah kita tetap mengandalkan kekeuatan Tuhan karena Dia pasti akan menolong setiap anak-Nya untuk menggenapkan rencana-Nya di dunia. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita dikecohkan dengan segala macam tampilan luar. Biarlah orang melihat keaslian harkat hidup kita tanpa ditutupi oleh berbagai macam topeng sehingga kita dapat menjadi saksi-Nya yang hidup.

III. Momentum Penggenapan Rencana Allah

Yohanes Pembaptis menyadari bahwa pertemuannya dengan Tuhan Yesus bukanlah pertemuan yang biasa tetapi merupakan suatu momentum yang dinamis, yakni pertemuan yang menggenapkan rencana Allah. Perjumpaan ini menjadi titik final karena beberapa saat setelah dibaptis, Tuhan Yesus kemudian berpuasa selama 40 hari 40 malam untuk menyiapkan diri masuk dalam pelayanan dan iblis mencobai-Nya di padang gurun tapi Tuhan Yesus menang dalam pencobaan itu. Mulai saat itu, Tuhan Yesus memberitakan berita yang sama seperti Yohanes Pembaptis, yaitu: “Bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“. Pertemuan antara Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis bukan untuk mementingkan kepentingan salah satu dari mereka tapi demi untuk menggenapkan rencana Allah.

Dalam berbagai aspek, kita selalu bertemu dengan orang lain namun hendaklah dalam setiap pertemuan, kita senantiasa memikirkan kepentingan Tuhan sehingga setiap momen menjadi titik penggenapan rencana Allah. Hal inilah yang membedakan anak Tuhan dengan dunia. Kalau kita bertemu dengan anak dunia maka mereka pasti hanya memikirkan kepentingan salah satu pihak karena mereka tidak mengerti apa yang menjadi rencana Allah. Ingat, setiap anak Tuhan harus menggenapkan rencana Allah di dunia maka hendaklah kita melihat setiap momentum dengan mata rohani yang memandang pada Kristus. Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis tahu bahwa pertemuan mereka merupakan hal yang istimewa dan sudah direncanakan Allah dari sejak kekekalan.

Secara manusia, Kristus tidak perlu dibaptis karena Ia tidak berdosa; secara Allah, Ia juga tidak perlu dibaptiskan justru Ia yang seharusnya membaptis. Namun Yesus taat pada kehendak Bapa; Ia harus menggenapkan hukum Taurat sama halnya dengan Yohanes Pembaptis yang sadar bahwa ia tidak layak membaptis Kristus tetapi ia taat kehendak Bapa. Biarlah di tengah dunia ini ketika anak Tuhan saling bertemu, kita boleh menggenapkan rencana Tuhan sehingga pekerjaan Tuhan boleh dikerjakan meski hanya segelintir orang. Adalah salah kalau kita selalu berpikir bahwa pekerjaan Tuhan di dunia harus dikerjakan oleh banyak orang. Tuhan Yesus hanya memakai sedikit orang untuk menggarap dunia tapi kita tahu pasti kuasa-Nya akan memampukan kita yang kecil dan sedikit ini untuk menggarap dunia. Biarlah gereja Tuhan dibangun oleh anak-anak Tuhan sejati yang rela menanggalkan segala kepentingan pribadi demi untuk menggenapkan rencana Tuhan.

Menjalankan rencana Tuhan bukanlah hal yang mudah karena dengan akal liciknya iblis akan selalu berusaha menggoda kita tapi janganlah takut dan kuatir karena Dia pasti akan menolong kita. Pengenalan akan Kristus harus mengubah paradigma kita yang salah; kita harus dapat merelasikan antara kesementaraan dengan kekekalan. Janganlah kita menjadi serupa dengan dunia yang melakukan segala sesuatu hanya untuk kepentingan diri. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Setiap hal dalam hidup yang kita jalani setiap harinya adalah momentum untuk menggenapkan rencana Allah. Setiap pertemuan kita pasti bukanlah hal yang kebetulan karena itu hendaklah kita peka terhadap setiap momentum yang Tuhan perkenankan untuk kita alami sehingga seperti Yohanes Pembaptis kita dapat berkata, “Tuhan, aku turut kehendak-Mu.“ Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

 

Eksposisi Injil Matius 3 : BAPTISAN : RESPON TERHADAP ANUGERAH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, February 10th, 2006

Eksposisi Injil Matius-3

Ringkasan Khotbah : 9 Mei 2004

Baptisan: Respon terhadap Anugerah

Nats: Mat. 3:11-12

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Dengan tajam Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa Dia yaitu Yesus Kristus akan datang membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api; dan alat penampi telah siap di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan (Mat. 3:11-12). Hal ini seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi seseorang ketika mereka datang pada Tuhan. Yohanes Pembaptis menegur dengan keras dan mengatai orang Farisi dan orang Saduki, dua golongan pimpinan masyarakat pada jaman itu dengan sebutan ular beludak ketika mereka datang meminta diri untuk dibaptis.  Orang Farisi adalah orang yang merasa dirinya paling mengerti Taurat dan orang Saduki adalah orang merasa dirinya paling mencintai bangsa.

Bukan penghormatan atau pujian yang mereka dapatkan namun justru teguran keras yang mereka terima karena Yohanes Pembaptis tahu apa yang menjadi motivasi mereka. Orang Farisi dan orang Saduki bukannya bertobat tetapi mereka hanya sekedar ingin mendapatkan legalitas dalam status sosial mereka saja, mereka menganggap dengan dibaptis mereka akan mendapatkan kekuasaan dan kekuatan lebih besar. Yohanes Pembaptis tidak mudah terkecoh dengan penampilan luar mereka yang indah karena itu ia merasa perlu untuk mengkoreksi dan menegur mereka secara terbuka dan langsung di depan mata mereka sendiri. Sebutan ular beludak untuk mereka merupakan fakta yang ingin dikatakan oleh Yohanes Pembaptis. Bahkan Tuhan Yesus sendiri di Matius 23 juga memberikan gambaran yang sama seperti Yohanes Pembaptis; kalimat yang senada juga diucapkan sendiri oleh Tuhan Yesus. Orang Farisi dan orang Saduki tidak membantah hal tersebut karena mereka sesungguhnya menyadari realita bahwa sebutan ular beludak memang sesuai untuk dirinya. Orang yang katanya “cinta Tuhan dan cinta bangsa“ sesungguhnya tidak lebih hanya seorang manipulator belaka.

Yohanes Pembaptis membukakan tentang kehadiran Yesus Kristus yang menjadi inti dari Firman, hanya karena Dialah, dirinya mau menjadi pembuka jalan. Yohanes Pembaptis memberikan perbandingan kualitatif antara dirinya dengan Yesus; baptisan yang dia berikan hanyalah sebagai tanda pertobatan akan tetapi Kristus Yesus akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api (Mat. 3:11). Apa yang dikerjakan Yohanes Pembaptis di dalam baptisan hanya bersifat fenomenal belaka yakni merupakan respon dari pertobatan tetapi baptisan yang dilakukan oleh Kristus bersifat hakiki. Baptisan yang dilakukan Yohanes berbeda kualitas dengan baptisan yang dilakukan oleh Kristus maka kita perlu memahami kedua konsep baptisan ini.

Baptisan merupakan sakramen yang ditetapkan sendiri oleh Tuhan Yesus (Mat. 28:19). Namun, sejak abad ke 18 muncul aliran anabaptis, aliran yang tidak bertanggung jawab dalam memberikan gagasan teologis. Aliran anabaptis mau mengubah pengertian baptisan yang telah diajarkan Alkitab dan telah dimengerti manusia sejak ribuan tahun lalu. Mereka mempersempit arti baptisan dengan selam karena baptisan berasal dari kata baptizo (bahasa Yunani) yang artinya adalah selam. Dengan demikian orang yang dibaptis harus diselam ke dalam air bukan mencurahkan air di atas kepala.

Menurut logika, kalau arti kata baptizo berarti selam maka seharusnya di Alkitab tidak boleh ada kata baptis (Mat. 3:11) karena setiap kata “baptis“ harus diganti dengan kata “selam“. Baptizo tidak boleh dipahami sekedar dari arti kata saja. Kata Baptizo di Alkitab diterjemahkan dengan baptisan, yaitu sakramen baptisan. Kita tidak menjumpai satu kata pun di Alkitab ditulis dengan selam, sebagai contoh di Luk. 11:38 kata baptizo di sana diterjemahkan dengan mencuci tangan. Karena itu kita menolak pendapat yang dikemukakan oleh aliran anabaptis. Kata “selam“ sebagai arti kata “baptizo“ bukan arti kata dalam kekristenan tapi pikiran dunia diselipkan masuk dalam kekristenan.

Kata logos (bahasa Yunani) di Alkitab artinya adalah “Firman“ akan tetapi kata logos oleh seorang filsuf, yakni Heraklitos diartikan sebagai pikiran universal. Inilah kesalahan fatal yang dilakukan oleh banyak orang yakni menafsirkan kata-kata dalam Alkitab dengan sembrono. Baptizo atau baptis jangan hanya dimengerti secara ekstensi, yakni selam atau percik tapi kita harus mengerti baptis secara esensi, yakni sebagai sakramen yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Alkitab mendefinisikan baptisan sebagai tanda pertobatan sesuai dengan isi berita yang diserukan: “Bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“. Yohanes Pembaptis hanya membaptis dari fenomena karena bagaimanapun juga ia hanyalah seorang manusia biasa sehingga sukar baginya untuk dapat mengerti secara tepat apa yang menjadi motivasi orang ingin dibaptis. Tidaklah mudah bagi kita dapat mengerti apakah seseorang sudah bertobat atau belum?

Ingat, Kristus akan datang dan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api yang menghanguskan karena Dia sudah siap untuk menampi, membersihkan dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung dan debu jerami akan dibakar dalam api yang tidak terpadamkan. Mendengar hal ini seharusnya orang Farisi dan orang Saduki disadarkan akan motivasi mereka yang salah namun sayang, mereka justru menganggap baptisan sebagai hal yang menyenangkan karena dapat mengangkat status sosial mereka. Sampai hari ini pun banyak orang yang berpendapat bahwa baptisan hanyalah sekedar upacara biasa. Kekristenan menyadarkan kita bahwa baptisan tidak boleh dimengerti hanya sebatas upacara tetapi baptisan harus dimengerti secara esensi, yaitu suatu momen yang menunjukkan bahwa Roh Kudus sudah bekerja terlebih dahulu atas kita dan kita hanya bereaksi saja. Calvin pun menegaskan bahwa baptisan adalah anugerah Allah yang mendahului respon manusia, the grace of God is prior to human response.

Manusia tidak mungkin dapat meresponi panggilan Allah hanya Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk dapat meresponi panggilan-Nya. Iman Kristen adalah iman reaksi bukan iman aksi maka jangan pernah sekali pun anda berpikir bahwa apa yang kita lakukan  saat ini adalah demi untuk membantu orang lain. Tidak! Kita bukan sedang membantu orang lain melainkan kita sedang menggenapkan kehendak Tuhan dan memberikan respon yang tepat terhadap anugerah Tuhan. Ingat, kalau sampai detik ini kita masih dapat hidup dan melayani Tuhan itu bukan karena kehebatan kita melainkan hanya karena anugerah Tuhan semata. Tuhan masih berkenan menjadikan kita manusia berdosa menjadi rekan sekerja Allah, turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Lalu bagaimana respon kita?

Jadi, baptisan merupakan proklamasi diri kita yaitu bagaimana kita bereaksi terhadap anugerah Tuhan. Kalau kita tidak mengerti akan hal ini maka kita hanya menjadi orang-orang yang sekedar melakukan aksi dan hanya menunggu reaksi. Sebagai contoh, orang selalu ingin mendapat reaksi yang positif sebagai hasil dari aksi perbuatan baik yang mereka lakukan dan orang akan menjadi marah kalau reaksi yang ia terima tidak sesuai dengan aksi yang mereka lakukan. Ketika orang berbuat baik maka ia pasti ingin mendapatkan imbalan dan ia akan menjadi marah kalau orang bereaksi negatif. Orang Kristen seharusnya bereaksi terlebih dahulu bukan aksi. Reaksi yang menyadari akan cinta kasih Tuhan yang besar yang telah menebus kita maka kita pasti akan menunjukkan aksi kita, yaitu ingin membalas cinta Tuhan tersebut dengan berbuat kasih pada orang lain dengan kasih yang seperti Tuhan. Anak Tuhan yang menyadari anugerah Tuhan pasti ingin menyenangkan hati Tuhan dengan segala sesuatu yang dikerjakannya.

Yohanes Pembaptis ingin menyadarkan orang Farisi dan orang Saduki bahwa mereka seharusnya bereaksi atas anugerah Tuhan. Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Tuhan sungguh beranugerah atas mereka? Kita akan mengalami pertumbuhan dalam iman kalau hidup kita dibangun di atas esensi baptisan. Amanat Agung yang Tuhan Yesus berikan adalah supaya kita pergi memuridkan terlebih dahulu dan barulah kemudian membaptis mereka (Mat. 28:19-20) bukan sebaliknya dengan demikian baptisan tidak dilakukan dengan sembarangan. Lalu bagaimana dengan baptisan anak? Baptisan anak pun dilakukan karena anugerah Tuhan turun terlebih dahulu atas orang tua mereka sehingga mereka dapat lahir di tengah-tengah keluarga Kristen. Orang tua harus bertanggung jawab mendidik anak dalam iman pada Kristus; orang tua menjadi saluran berkat dan wakil Tuhan untuk mendidik anak yang dititipkan Tuhan tersebut. Hari ini, dengan dalih menyerahkan pilihan pada si anak banyak orang tua Kristen yang tidak mau membaptiskan anaknya. Namun sesungguhnya adalah mereka tidak mau bertanggung jawab mendidik anak dalam takut akan Tuhan Kristus. Anak yang lahir dalam anugerah harus mendapat anugerah juga. Konsep baptisan yang benar seharusnya semakin menyadarkan orang akan anugerah Tuhan yang penuh melimpah dan kita dapat bertumbuh dalam pengertian baptizo yang sejati.

Ingat, di balik baptisan ada tanggung jawab penampian, ada seleksi yang akan membuang kita ke dalam api kalau kita tidak beres. Ironisnya, hari ini orang justru meributkan baptisan hanya sebatas fenomena saja, yaitu hanya sampai sebatas caranya apakah diselam atau dipercik. Kalau kita hanya mengerti baptisan sampai sebatas selam atau percik maka itu berarti kita telah menggeser esensi penampian; kita telah melecehkan arti baptisan ke tempat yang paling rendah. Ingat, baptisan bukanlah tiket menuju ke surga karena ada pendapat yang mengatakan bahwa hanya dengan dibaptis selam maka kita akan selamat. Salah! Kalau keselamatan hanya diperoleh melalui selam, lalu bagaimana dengan kematian Tuhan Yesus di atas salib untuk menebus dosa? Keselamatan bukan terletak di masalah selam atau airnya melainkan di dalam Kristus Yesus. Kalau demi untuk memperoleh keselamatan, orang harus dibaptis selam lalu bagaimana dengan orang yang sakit yang tidak dapat diselam?

Jadi, keselamatan merupakan anugerah Tuhan dan merupakan anugerah Tuhan pula kalau kita dapat menyadari hal itu maka sebagai ucapan syukur, kita harus berespon atas anugerah itu. Ingat dan camkanlah bahwa: “Anugerah Allah mendahului respon manusia, the Grace of God is prior to human response“; Tuhan beranugerah manusia bereaksi terhadap anugerah, Tuhan yang berbuat baik terlebih dahulu pada kita dan manusia harus bereaksi atas kebaikan Tuhan tersebut yaitu dengan mengasihi sesamanya dengan kasih seperti kasih Tuhan. Tuhan yang beraksi terlebih dahulu dan manusia bereaksi dengan demikian kita mengerti siapa Tuhan dan siapa saya. Biarlah sebagai orang Kristen kita senantiasa menyadari bahwa hidup dan semua yang ada pada kita adalah anugerah-Nya; semua itu adalah milik kepunyaan-Nya jadi kita harus kembalikan semua yang ada pada kita demi untuk kemuliaan nama-Nya saja. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Please click : http://www.griis.org

Eksposisi Injil Matius 3 : THE PROBLEM OF FAITH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, February 3rd, 2006

Ringkasan Khotbah : 2 Mei 2004

The Problem of Faith

Nats: Mat. 3:7-12

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Tugas Yohanes Pembaptis adalah menjadi pembuka jalan untuk Tuhan Yesus dan mewartakan berita pertobatan; dan sebagai tanda pertobatan yaitu mereka dibaptis dengan air. Baptisan Yohanes menyadarkan manusia untuk hidup dalam kebenaran. Yohanes Pembaptis membaptis dengan air tetapi Ia, Yesus akan datang dan membaptis engkau dengan Roh Kudus dan dengan api (ay. 11). Dilihat dari konteksnya berita kedatangan Kristus ini seharusnya menggentarkan setiap manusia karena manusia harus berhadapan dengan kematian. Ironisnya, orang berpikir hal ini justru sebagai suatu kenikmatan, berarti telah terjadi penyimpangan iman manusia.

Beribu-ribu orang dari segala penjuru datang untuk dibaptis tak terkecuali orang Parisi dan orang Saduki, orang yang katanya “rohani“. Namun, bukannya pujian yang diterima oleh mereka, Yohanes Pembaptis malah mengatai mereka dengan ular beludak. Kalimat ini sangat menusuk hati setiap orang yang mendengarnya karena ular beludak menggambarkan kemunafikan dan kejahatan. Ular beludak, vipers mempunyai warna kulit yang sangat indah akan tetapi racunnya sangat mematikan. Yohanes Pembaptis tidak mudah terkecoh dengan tampilan luar yang indah karena dia tahu, di mata Tuhan hal itu justru kejijikan. Dalam hal ini Yohanes Pembaptis mewakili suara Tuhan dan menegaskan bahwa manusia boleh menyanjung dan menghormati namun Tuhan tidak memandang semuanya, karena tampilan luar tidak lebih hanya seperti seekor ular beludak yang penuh dengan kemunafikan.

Kalau kita tidak masuk dalam esensi iman yang sejati maka kita mudah terkecoh dengan segala bentuk tampilan luar yang bagus. Dan celakanya, diri sendiri juga terkecoh sehingga masuk dalam jebakan yang sama; kita memproses “kerohanian“ kita dengan cara yang tidak rohani. Kita akan sulit membedakan orang-orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Yohanes Pembaptis bukan tanpa alasan menuduh orang Parisi dan orang Saduki sebagai ular beludak. Ia tahu bahwa tugasnya adalah mewartakan kebenaran karena itu ia harus membukakan realita tentang siapakah diri mereka yang sesungguhnya. The problem of faith seseorang kenapa tidak mempunyai iman yang sejati adalah:

Pertama, Manusia menegakkan kebenaran di atas sesuatu yang sifatnya belum pasti, yakni hanya perkiraan saja. Janganlah mengira…(ay. 9) merupakan konsep apologia dan epistemologi yang dibangun oleh dunia. Manusia seharusnya mempunyai akal  budi dan hikmat lebih tinggi dari binatang, mempunyai cara pikir dan analisa yang lebih hebat dari binatang. Manusia mempunyai konsep sebab akibat yang tidak dipunyai binatang, manusia mempunyai semua kapasitas untuk menjadi lebih bijaksana. Namun, kita justru melihat hal yang sebaliknya, manusia tidak mempunyai bijak yang dari “sana“ melainkan bijak yang dari “sini“ (diri sendiri). Bijak yang sejati bukan berasal dari diri melainkan berasal dari luar diri dan diberikan ke dalam diri. Hari ini banyak orang yang merasa diri bijaksana namun sesungguhnya bukan bijak yang dari “sana“ melainkan bijak yang dari “sini“ maka tidaklah heran kalau dunia semakin hari semakin rusak.

Alkitab menegaskan bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rm. 11:36). Orang humanis tidak suka sehingga mereka memutar balik konsep tersebut, yakni manusialah yang menjadi tolak ukur untuk segala sesuatu, homo men sura. Kehancuran dunia dimulai dari ketika manusia mengira dirinya hebat, dia kira dia tahu segala hal, dan dia kira dia benar. Tidak! Justru semua perkiraan tersebut akan menghancurkan diri mereka karena semua perkiraan tersebut sifatnya belum pasti. Do not think that, jangan pernah kau pikir bahwa…! Inilah sifat manusia berdosa, yakni membangun kebenaran berdasar pada dirinya sendiri. Dan ketika bangunan kebenaran yang didirikan tersebut mulai dipertanyakan, maka ia menjadi marah karena kita meragukan kebenaran yang dia pikirkan, hal itu sama dengan mencurigai dan menghancurkan dirinya.

Bukan hal yang mudah bagi seseorang untuk mengubah dasar bangunan yang telah berdiri sekian lama; dia harus rela membongkar hati dan semua hal yang tersembunyi. Pada umumnya, manusia tidak suka dan tidak mau disadarkan dari kesalahannya. Manusia sudah mencapai titik kebekuan yang fatal. Hal ini dialami oleh orang Parisi dan orang Saduki, mereka tidak menyadari kalau mereka telah berada pada jalur yang salah. Orang Yahudi berjuang keras demi untuk menjadi orang Parisi maupun orang Saduki supaya dihormati. Mereka berjuang keras menghafal seluruh aturan Taurat dan menjalankannya. Namun sayang, semua usaha keras tersebut hanyalah sekedar ritual belaka.

Orang Yahudi tidak pernah tahu bahwa semua usaha yang mereka lakukan tersebut salah dan sia-sia. Hal ini disebabkan karena mereka mempunyai pra asumsi atau menetapkan terlebih dahulu bahwa semua hal yang mereka pikir dan mereka lakukan sebagai suatu kebenaran. Apa yang menjadi standar ukuran tertinggi suatu kebenaran? Dan siapa yang menetapkan suatu kebenaran? Darimana orang tahu bahwa sesuatu yang dianggap benar itu benar? Manusia berdosa pasti menjawab: diri saya sendiri. Maka tidaklah heran manusia menjadi marah jika dirinya diusik. Bukanlah hal yang mudah bagi manusia untuk mempunyai konsep bahwa segala hal yang ditetapkan diri sendiri itu belum tentu benar karena itu berarti melampaui pikiran manusia berdosa. Segala sesuatu yang sifatnya belum pasti, yakni hanya perkiraan saja dapatlah dikatakan bukan sebagai kebenaran.

Seseorang barulah menyadari bahwa yang dianggap benar ternyata salah setelah dia dihancurkan, mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk menyadarkan manusia bahwa kebenaran sejati hanya ada dalam Kristus dan hanya anugerah Tuhan kalau orang mau bertobat dan kembali pada kebenaran sejati. Logika manusia tidak akan dapat mengerti cara Roh Kudus yang dapat membuat orang mengakui segala perbuatan dosanya. Hal ini terjadi di negeri Cina pada saat John Sung berkhotbah. Para polisi yang ditugaskan untuk mengawasi segala gerak gerik John Sung menjadi heran karena banyak orang yang mengakui dosanya padahal untuk membuat seseorang mengakui dosanya tidaklah mudah. Jadi, semua hanya karena anugerah.

Yohanes Pembaptis tahu beda antara iman sejati dan iman yang palsu karena itu ia menegur dengan keras orang Parisi dan orang Saduki. Mereka sepertinya memperjuangkan kepentingan Tuhan namun sesungguhnya tidaklah demikian, sesungguhnya mereka hanya mementingkan kepentingan duniawi. Janganlah terkecoh dengan segala penampilan luar. Aktivitas rohani yang dilakukan selama bertahun-tahun bukanlah jaminan bagi seseorang bisa mempunyai iman sejati. Keagamaan dan kerohanian menyangkut hidup kita, sekali kita menentukan basis salah maka semua tingkah laku kita akan salah dan akibatnya kematian. Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (Mat. 3:10). Manusia mempunyai iman sejati kalau ia mau taat pada perintah Tuhan.

Kedua, merasa diri sebagai keturunan Abraham dan menjalankan segala ritual agama Kristen. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami (Mat. 3:9). Yohanes Pembaptis tahu apa yang menjadi pikiran mereka dan hal ini pun diulang kembali oleh orang Yahudi ketika mereka berdebat dengan Tuhan Yesus (Yoh. 8). Orang seringkali mempunyai konsep yang salah; mereka merasa diri sudah “Kristen“ karena:

1) Dilahirkan dari keluarga Kristen, I am Christian by born. “Bapa kami adalah Abraham“ merupakan kebanggaan orang Yahudi bahkan kalimat ini seringkali diucapkan. Mereka mengira bahwa mereka adalah umat pilihan maka pasti selamat. Salah! Perhatikanlah, daerah-daerah dimana orang menjadi Kristen sejak lahir justru mengalami kehancuran karena mereka merasa diri dari keturunan Kristen. Kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana dan maksud Tuhan tapi kita tahu pasti kalau Tuhan mengijinkan hal ini terjadi pasti demi untuk kebaikan anak-anakNya. Tuhan ingin menguji iman mereka, apakah mereka sungguh beriman sejati? Sebab, orang yang berasal dari keluarga Kristen belum tentu punya iman sejati. Alkitab menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham bukanlah jaminan keselamatan karena Tuhan dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu (Mat. 3:9). Hal ini berarti batu lebih berharga dibandingkan dengan keturunan Yahudi. Celakanya, hari ini banyak orang Kristen yang tidak menjadi saksi dan berkat namun justru mempermalukan nama Tuhan. Ingat, Kerajaan Tuhan bukan didirikan atas fenomena.

2) Sudah melakukan segala macam ritual agama. Orang Parisi sudah merasa “rohani“ karena  telah menjalankan semua tradisi nenek moyang dan menjalankan Taurat. Tradisi sudah menjadi kebiasaan yang harus dijalankan turun temurun. Alkitab menegaskan iman Kristen bukan karena kita menjalankan ritual justru dampak iman sejatilah yang membuat kita menjalankan segala ritual ibadah dengan sungguh-sungguh. Jadi, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh dan melakukan berbagai macam “pelayanan“ belum dapat disimpulkan sebagai orang Kristen sejati. Iman sejati akan mengeluarkan buah yang sesuai pertobatan. Dengan tajam dan keras Yohanes Pembaptis menegur orang Parisi bahwa segala ritual dan kebanggaan mereka sebagai keturunan Abraham bukanlah jaminan; hal itu justru menghancurkan mereka. Persembahan uang yang kita berikan pun tidak identik dengan iman sejati. Iman Kristen menekankan kesucian dan tingkat hidup moral yang tinggi. Iman sejati seharusnya mendorong kita untuk melayani Tuhan dengan lebih baik, tidak menjadikan diri kita egois.

Orang Kristen harus menjadi saluran berkat. Apakah kita mempunyai iman yang sejati? Ingat, jika hanya menjadi seorang Kristen ritual maka kita pasti ditebang dan dibuang ke dalam api (Mat. 3:11). Orang Parisi mempunyai semangat tinggi dalam melayani bahkan berani berkorban, seperti Saulus. Agama digunakan untuk membunuh orang beragama. Puji Tuhan, anugerahNya menyadarkan Paulus bahwa tanpa pertobatan semua perjuangan keras kita hanyalah sia-sia belaka; itu bukan iman sejati tapi ritual yang merupakan ekspresi dari arogansi keegoisan manusia. Biarlah cinta Tuhan di kayu salib yang berkenan menyelamatkan kita menyadarkan setiap anak Tuhan untuk mau melayani dan menjadi saluran berkat; menjadi saksi Kristus sehingga orang lain menjadi percaya dan bertobat.

Ketiga, Kita tidak asal percaya tapi mengkritisi diri sendiri sehingga kita terbuka untuk melihat kebenaran Firman lebih tajam, kita berproses dalam iman. Kata “api“ diulang sebanyak tiga kali, yakni di ayat 10, 11, dan 12 berarti ada hal yang serius dan bermakna yang harus kita perhatikan. Yohanes Pembaptis ingin menunjukkan pada orang Parisi bahwa apa yang selama ini mereka pikir baik dan benar ternyata salah! Orang yang sudah menaruh iman kepercayaannya pada sesuatu, misalnya uang maka ia pasti tidak akan pernah memikirkan resiko yang harus dihadapi, what’s the risk in my faith? Orang yang menjadikan uang sebagai “tuhan“ akan sulit disadarkan akan bahayanya uang; mereka tidak dapat menerima konsep Alkitab yang menegaskan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1Tim. 6:10).

Sebagai orang Kristen, setiap orang hendaklah mengkritisi imannya sendiri. Dan hanya teologi reform yang mengajarkan dan berani diuji. Iman sejati menuntut pengujian sebaliknya iman dunia tidak mau diuji. Iman Kristen dapat dipertanggung jawabkan dan diuji termasuk oleh diri sendiri. Caranya yaitu ketika kita mempunyai konsep, ujilah dengan Firman; jangan mencari ayat yang mendukung konsep kita tapi justru carilah ayat yang melawan, self critic. Diri sendiri tidak berhak mengkritisi diri sendiri karena jika demikian maka hanya kebenaran diri yang kita dapatkan. Libatkan saudara seiman kita karena mungkin sekali kita mengira tidak ada ayat yang melawan dan kemudian bersama-sama mencoba menguji konsep tersebut. Ingat, dengan rendah hati kita harus menghancurkan konsep kita yang salah dan membiarkan Kristus membangunnya kembali. Inilah self critic.

Reformed is always to be re reformed. Ingat, kapak ada di akar maka kalau kita tidak mempunyai iman sejati, kita pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Biarlah kita mau menuntut diri untuk belajar dan belajar sehingga iman kita dibangun bukan berdasar fanatisme tapi kita tahu pasti mengapa kita beriman Kristen sehingga di dunia yang makin kacau ini kita tidak takut menghadapi serangan tapi malah membuat iman kita semakin kokoh. Hendaklah setiap orang Kristen menuntut dirinya sendiri untuk belajar memahami Firman, semakin mengenal dan taat pada Allah dengan demikian bersama-sama bertumbuh dalam iman. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)