Archive for March, 2006

Eksposisi Injil Matius 4 : TO WORSHIP GOD (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, March 29th, 2006

Ringkasan Khotbah : 18 Juli 2004

To Worship God

Nats: Mat. 4:10-11

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pencobaan iblis ketiga merupakan pencobaan yang paling dahsyat di antara semua pencobaan - iblis ingin supaya Tuhan Yesus berorientasi pada dunia saja - kerajaan dunia dan seluruh kemegahannya akan diberikan pada-Nya asal Tuhan Yesus sujud menyembah dia. Manusia mana yang tidak tergoda kalau ditawari dunia dan seluruh kemegahannya namun manusia tidak menyadari dibalik tawaran manis yang menggiurkan itu justru yang membinasakan. Manusia sulit menyadarinya karena di satu sisi, tawaran tersebut sangat menggoda dan cocok dengan keinginan daging kita maka tidaklah heran kalau orang mudah terkecoh dan akhirnya masuk dalam jebakan iblis. Berbeda halnya kalau tawaran tersebut bersifat negatif dan tidak sesuai dengan keinginan kita maka dengan mudah kita dapat langsung menolaknya. Namun kita harus lebih berhati-hati dan waspada kalau tawaran tersebut “sepertinya benar“ dan menguntungkan justru itu yang membinasakan.

Merupakan sifat manusia berdosa kalau manusia tidak suka dipimpin dalam kebenaran yang membawanya dalam pertumbuhan iman – manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Manusia, di satu sisi tidak suka kalau dibohongi tapi di sisi lain orang menjadi marah kalau kita berkata jujur. Sebagai contoh, kalau kita berkata jujur tentang sesuatu mengenai dirinya yang dalam hal ini dirinya sendiri pun tidak menyukainya, misalnya hal yang menyangkut keburukannya maka dia akan menjadi marah. Orang akan marah kalau dia dikatakan bodoh padahal semakin dia marah justru semakin menunjukkan kebodohannya - orang pandai tidak akan bergeming kalau dia dikatakan bodoh karena orang yang pandai adalah orang yang selalu sadar kalau dirinya bodoh. Itulah paradoxical kehidupan. Manusia pada hakekatnya tidak ingin kebenaran, mereka hanya menginginkan sesuatu menyenangkan hatinya saja.

Dosa kalau sudah mencengkeram hidup manusia maka segala sesuatu menjadi gelap. Jangankan dunia dan seluruh kemegahannya, demi uang 1 milyar saja orang sudah mau melakukan apa saja. Kalau kekayaan dan kemuliaan sudah mencengkeram manusia maka itulah titik awal kehancuran manusia. Secara logika seharusnya orang sudah tahu bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan; banyak penjelasan dan realita dunia telah membuktikannya namun orang tidak peduli. Cara iblis menggoda manusia supaya jatuh dalam pencobaan sangat licik lalu bagaimana cara kita mengantisipasinya? Hanya dengan cara Tuhan, yaitu dengan Firman seperti yang dilakukan oleh Kristus. Puncak dari pencobaan Tuhan Yesus adalah kunci bagaimana kita mengerti manusia hidup maka Tuhan Yesus mengajak kita untuk balik pada inti iman Kristen, yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Tuhan Yesus melihat tawaran iblis ini sudah tidak dapat ditolerir lagi, itulah sebabnya Yesus langsung mengusir iblis, “Enyahlah, Iblis! Beranikah kita berbuat demikian, yakni mengusir iblis ketika tawaran yang menggiurkan menghampiri kita? Hari ini kalau kita mendengar ada gereja yang mengusir setan, sesungguhnya bukan setan yang diusir tapi lebih tepatnya adalah gejala setan sedang setan yang asli masih bercokol dalam gereja. Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Mat. 4:10; Ul. 6:13) merupakan kunci bagi kita untuk melepaskan diri dari jeratan iblis. Perhatikan, dalam kalimat ini ada dua perintah, yaitu: menyembah dan berbakti. Menyembah tidak sama dengan berbakti karena dua kata ini mempunyai pengertian berbeda namun orang seringkali mencampur aduk dua kata ini. Konsep menyembah dan berbakti telah ada sejak jaman Perjanjian Lama dan tertulis juga dalam hukum Taurat - Tuhan Yesus mengajarkan konsep ini kembali di Perjanjian Baru. Konsep menyembah dan berbakti masih berlaku meski berbeda tempat dan selang waktu yang sangat panjang. Hal ini membuktikan bahwa konsep itu adalah kebenaran sejati. Jadi, “sesuatu“ dapat dikatakan sebagai kebenaran sejati kalau “sesuatu“ itu tidak dapat digeser oleh ruang dan waktu. Hari ini banyak orang yang mengklaim hasil risetnya sebagai kebenaran dan akibatnya kita jugalah yang dibingungkan. Ada riset yang mengatakan makan “itu“ menyembuhkan kanker tapi riset yang lain justru mengatakan makan “itu“ penyebab kanker. Akibatnya, orang jadi permainan si researcher karena di antara semua hasil riset tidak ada seorang pun tahu mana yang benar-benar benar? Kebenaran sejati tidak dapat digeser oleh waktu dan ruang. Riset, seharusnya menghasilkan sesuatu yang baru namun kita menjumpai para researcher justru meriset sesuatu yang dibutuhkan manusia dan yang sudah diasumsikan sebelumnya. Kesimpulan sudah ada terlebih dahulu barulah orang melakukan riset, misal: ada kesimpulan yang menyatakan makan bayam menyebabkan kanker maka dari kesimpulan yang ada inilah orang kemudian melakukan riset. Dan orang yang mau mengeluarkan dana besar untuk membiayai riset tersebut pastilah orang yang mempunyai kepentingan dan dia pasti ingin diuntungkan maka tidaklah heran kalau hasil riset pun dapat diatur sedemikian rupa. Hasil riset yang seharusnya “makan bayam tidak menyebabkan kanker“ maka demi untuk memperoleh keuntungan, hasil riset dibuat sama dengan kesimpulan, “makan bayam akan menyebabkan kanker“. Inilah sifat dunia berdosa yang menuju pada kebinasaan, manusia menjadi humanis materialis. Iblis merusak pikiran manusia dengan tawaran-tawaran manis yang membinasakan, karena itu manusia harus kembali pada kebenaran sejati.

I. Menyembah

Menyembah berasal dari bahasa Yunani, proskuneo berarti to worship, manusia harus mengabdi pada Tuan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Pros dari bahasa Yunani yang berarti “menuju“ atau “pergi ke“, jadi menyembah pada Tuhan Allah berarti manusia secara sadar, aktif datang pada Tuhan dengan sikap hormat. Hati-hati, jangan menafsirkan kata aktif sama seperti pengertian dunia karena sikap aktif yang diajarkan dunia malah justru menghancurkan hidup. Menurut konsep dunia, kita aktif kalau hal tersebut menguntungkan kita namun aktif datang pada Allah berarti kita yang berinisiatif datang pada-Nya, menundukkan diri dan taat pada pimpinan-Nya dan keaktifan ini yang tidak disukai manusia. Kesombongan dalam diri manusia inilah yang membuat orang sukar untuk tunduk dan taat pada perintah Allah. Orang menjadi malu kalau harus maju untuk menyerah, orang lebih memilih mati daripada menyerah untuk kalah. Kita harus mengubah konsep kita yang salah tersebut karena menyerah bukan berarti kita kalah, kita menyerah justru untuk menang.

Menyembah Allah berarti dengan sungguh hati kita datang pada Tuhan dan menyatakan diri bahwa kita mau takluk, tunduk dan taat pada-Nya. Sikap inilah yang tidak dapat dilakukan oleh iblis maka Alkitab mencatat iblis lalu meninggalkan Yesus karena iblis mempunyai karakter yang selalu ingin melawan dan memberontak pada Tuhan. Hendaklah kita taat pada-Nya dan ketaatan seseorang ini dapat kita lihat pada sikapnya apakah ia mau taat pada orang lain? Kalau pada manusia yang kelihatan saja ia tidak mau taat apalagi pada Tuhan yang tidak kelihatan. Dunia selalu mengajarkan supaya kita selalu memberontak pada-Nya, kita diajar tidak taat pada siapapun. Orang yang tidak taat pada Tuhan maka ia tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin yang baik karena dia tidak bisa melihat Allah sebagai pusat kebenaran. Sebagai anak Tuhan, kita harus aktif menyembah Tuhan dan taat dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan iblis. Utamakanlah Tuhan Yesus dalam hidupmu. Hendaklah pikiran dan hatimu selalu mengarah pada-Nya, apapun yang kita lakukan biarlah hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Apakah kita sudah mempunyai sikap hati yang sungguh-sungguh menyembah dan taat kepada Tuhan?

Manusia harus berubah untuk semakin hari semakin serupa Kristus dan proses itu terus berlangsung di seumur hidup kita. Di dunia, kita menjumpai dua macam golongan manusia, yaitu: pertama, orang yang hidup untuk menyenangkan dunia tapi mempunyai sikap hidup yang baik, sebaliknya; kedua, orang yang hidup untuk menyenangkan hati Tuhan tapi hidupnya penuh dosa. Di antara kedua golongan ini yang manakah Tuhan suka?  Memang, di antara kedua golongan di atas tidak ada satu golongan pun yang baik; yang paling baik dan idealnya adalah orang yang hidupnya seperti Henokh, hidup menyenangkan Tuhan dan mempunyai sikap hidup baik; di surga maupun di bumi baik. Namun andai kita disuruh memilih di antara kedua golongan tersebut, golongan manakah yang kita pilih? Contoh dalam Alkitab, orang yang termasuk dalam golongan pertama adalah Esau dan Saul; dan orang yang termasuk dalam golongan kedua adalah Yakub dan Daud tetapi kenapa Tuhan justru berkenan pada Yakub dan Daud yang mempunyai catatan hidup lebih buruk dari Esau dan Saul? Jawabnya karena Yakub dan Daud selalu mengutamakan Tuhan di setiap aspek hidupnya bahkan Daud mendapat atribusi seperti Tuhan Yesus, kepadanya Allah berkata “Inilah anak-Ku yang Kukasihi dan kepadanya Aku berkenan“. Anak muda dalam Perjanjian Baru yang katanya “hidup saleh“, tetapi hartanya yang banyak itu justru menghalanginya untuk datang pada Tuhan, ia tidak sepenuhnya menjalankan seluruh hukum Taurat karena sesungguhnya ia hanya menjalankan sebagian dari hukum Taurat, yakni hukum yang ke lima sampai ke sepuluh. Kalau kita tidak mengutamakan Tuhan maka sia-sialah semua hukum Taurat ke lima sampai dengan ke sepuluh yang kita jalankan.

II. Berbakti

Berbakti berasal dari bahasa Yunani, latreia, artinya seluruh aspek hidup kita berada dalam satu ikatan dengan oknum yang kita sembah. Kalau kita tidak tahu siapa yang kita sembah maka kita tidak dapat beribadah dengan baik. Itulah sebabnya ibadah dan penyembahan tidak dapat dipisahkan. Kalau kita menyembah pada Allah yang sejati maka seluruh aspek hidup semuanya harus mengarah pada Allah yang kita sembah, apakah kita sudah menyenangkan hati Tuhan yang kita sembah? Dua hal yang tidak dapat dilakukan iblis adalah menyembah pada Allah dan menyenangkan hati Tuhan. Dengan segala macam cara, iblis selalu berusaha agar manusia menyembah dan menyenangkan dia saja, yaitu dengan jalan menuruti segala keinginan nafsu kita dengan demikian manusia jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, hal yang dibenci oleh Tuhan justru itulah yang menyenangkan hati iblis.

Iblis tahu kalau Yesus adalah Allah yang berkuasa atas seluruh alam semesta, Allah yang berdaulat namun iblis sengaja melawan Tuhan dengan tidak mau menyembah dan berbakti pada-Nya. Kalau kita hanya menyembah dan tidak berbakti maka penyembahan kita tersebut hanya bersifat referensi saja, hal itu yang membuat hidup manusia mudah tergoyahkan oleh bujuk rayu si iblis. Kita dapat memperkecil kemungkinan jatuh dalam dosa kalau kita berbakti pada-Nya, di setiap aspek hidup, kita selalu mengaitkan tindakan, pikiran dan tingkah laku kita pada satu tujuan, yakni untuk menyenangkan hati Tuhan. Itulah arti berbakti atau latreia. Jadi, berbakti bukan pada hari Minggu saja ketika kita pergi ke gereja dan kebaktian bukanlah tempat kita belajar Firman Tuhan. Kita akan mendapatkan sukacita sejati kalau kita mempunyai ibadah yang sejati, hidup menyenangkan hati Tuhan. Ibadah di hari Minggu, hari pertama menjadi dasar bagi kita melangkah menapaki hari-hari selanjutnya. Hati yang selalu berpaut pada Tuhan akan memperkecil kita untuk jatuh dalam jebakan iblis. Firman Tuhan mendidik kita untuk sungguh berbakti pada-Nya maka Firman yang kita dengar seharusnya merefleksi diri kita untuk kita diubahkan semakin serupa Dia.

Liturgi ibadah di gereja hendaklah disusun sedemikian rupa - dengan sikap hormat kita menghampiri tahta-Nya dan memuji kebesaran Tuhan - kebaktian diawali dengan Firman Tuhan yang mengajak jemaat melihat kebesaran dan kasih Tuhan setelah itu kita memohon pada-Nya untuk memimpin seluruh ibadah sampai akhir yang ditutup dengan pujian pada Allah Tritunggal, Sumber Berkat. Tapi sayang, hari ini banyak gereja yang menganggap liturgi sebagai hal yang tidak penting sehingga dihilangkan dari ibadah. Dunia modern telah menyelewengkan arti berbakti yang sejati, akibatnya liturgi dibuat sedemikian rupa yakni hanya menyenangkan hati orang mencari tempat yang dianggap paling cocok dengan dirinya untuk berbakti, yaitu yang dapat menyenangkan dan melegakan hatinya karena stress setelah enam hari bekerja. Dan celakanya, kini orang sudah mulai terang-terangan menjadikan gereja sebagai ajang bisnis karena dianggap menguntungkan. Hati-hati, iblis selalu mempermainkan orang-orang yang berada dalam gereja, orang yang tidak hidup rohani, orang yang tidak mau kembali pada kebenaran Firman supaya kita masuk dalam jebakan iblis yang memang bertujuan merusak sikap ibadah kita pada Tuhan.

Umat pilihan bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Tidak! Sebagai contoh, Yakub, Daud, Paulus dan masih banyak lagi; namun hidup mereka adalah hidup yang mau menyenangkan hati Tuhan. Cara Tuhan memimpin anak-anak-Nya berbeda dengan cara iblis. Hendaklah seluruh aspek hidup kita hanya menyembah dan menyenangkan hati Tuhan saja maka kita akan mendapatkan sukacita sejati. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20040718.htm

Eksposisi Injil Matius 4 : THE WAY OF THE DEVIL (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, March 22nd, 2006

Ringkasan Khotbah : 11 Juli 2004

The Way of the Devil

Nats: Mat. 4:1-11

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Orang Kristen hendaklah sadar dan berjaga-jaga karena lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (I Ptr. 5:8). Tuhan sudah menyiapkan peralatan yang cukup bagi kita untuk melawan si iblis, yaitu Firman. Namun, sangatlah disayangkan manusia merasa kurang dengan senjata perang yang telah disediakan Tuhan; manusia merasa diri mampu melawan iblis dengan kekuatannya sendiri. Akibatnya manusia jatuh ke dalam jebakan iblis, tanpa kita sadari cara berpikir, sikap hidup dan tindakan kita sehari-hari justru lebih mirip dengan cara iblis, the way of the devil. Calvin menegaskan bahwa kerusakan total, total depravity inilah yang menjadi penyebab rusaknya tatanan dunia dan hal ini ditegaskan kembali oleh para teolog dalam sinode Dort.

Karena perbuatan dosa yang dilakukan Adam, manusia pertama, yang merupakan perwalian (representative) dari seluruh umat manusia di dunia maka kita pun ikut berdosa. Dosa menyebabkan manusia jauh dari Tuhan bahkan segala perbuatan baik tidak dilakukan dengan tulus melainkan hanya demi untuk keuntungan diri sendiri. Dan sifat dosa ini diturunkan pada manusia maka tidaklah heran kalau seorang anak kecil lebih mudah melakukan perbuatan dosa tanpa ada yang mengajarinya. Manusia tidak dapat hidup serupa dengan gambar dan rupa Allah. Puji Tuhan, Kristus datang sebagai Adam kedua yang di dalam-Nya kita beroleh segala berkat sorgawi; di dalam Kristus kita menjadi anak Allah dan beroleh pembenaran hidup, di dalam Kristus pula kita menerima segala janji dan kekayaan karunia. Dan hal ini sangat dipahami iblis, oleh sebab itu, dengan segala cara iblis mencobai Tuhan Yesus supaya jatuh dalam dosa dengan demikian tidak ada satu pun manusia dapat diselamatkan. 

Bukan hal yang mudah merombak tatanan dunia yang sudah rusak total. Kita harus bersandar mutlak dan taat pada pimpinan Tuhan, jangan mengandalkan kekuatan sendiri karena cara Tuhan berbeda dengan cara iblis. Hati-hati dengan mereka yang mengaku diri anak Tuhan padahal sesungguhnya anak iblis karena tidak semua orang yang mengaku diri Kristen pasti beriman pada Kristus dan percaya pada Alkitab sebagai prinsip dasar iman. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita masing-masing apakah setiap tindakan dan sikap hidup kita telah memancarkan kasih dan keadilan Kristus ataukah kita justru lebih mirip dengan cara iblis. Karena itu kita harus waspada dengan segala tipu muslihat iblis, yaitu:

I. Menggeser Prioritas Hidup

Tuhan Yesus berpuasa 40 hari 40 malam adalah demi  untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah - membangun spiritualitas dan kualitas pelayanan. Iblis mau mencoba menggeser prioritas utama Tuhan Yesus dari tujuan agung, yaitu melakukan kehendak Bapa ke hal yang bersifat materi, yaitu mengubah batu menjadi roti. Dan sifat humanis materialis ini telah merasuki dunia, orang tidak sadar kalau mereka telah masuk dalam jebakan iblis. Banyak orang tua salah mendidik anaknya, sebagai contoh: orang tua tidak suka kalau anaknya aktif melayani Tuhan karena mereka berpendapat bahwa pelayanan tidak dapat menghasilkan uang padahal di sisi lain mereka menyadari bahwa dekat pada Tuhan justru membuat hidup si anak menjadi lebih baik.

Semakin kaya dan semakin tinggi kedudukan seseorang maka dunia akan menilai orang tersebut sukses. Bukankah hal ini menjadi prioritas utama si iblis. Bagaimana dengan kita? Saat kita sedang beribadah dan melayani apa yang menjadi prioritas utama kita? Untuk Tuhan ataukah sekedar memenuhi kebutuhan “perut“? Kebutuhan akan makanan selalu menjadi prioritas utama manusia, first think first. Hal ini pun ditegaskan oleh Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan makanan. Iblis tahu akan hal ini, itulah sebabnya iblis menantang Yesus supaya mengubah batu menjadi roti, yaitu untuk memenuhi kebutuhan “perut“. Celakalah, kalau prioritas hidup kita hanya untuk “perut“ saja; lalu apa bedanya kita dengan binatang? Bukankah binatang hidup hanya untk makan? Iblis telah menggeser prioritas hidup manusia yang kepadanya

diberikan “nafas hidup“ - makhluk yang paling mulia di antara semua ciptaan menjadi makhluk yang rendah, yakni binatang berkaki dua. Ingat, kenikmatan yang diberikan iblis hanya sementara dan berakhir pada kebinasaan kekal. Ironisnya, manusia tidak sadar kalau telah masuk dalam jebakan iblis. Spiritualitas sejati akan menjaga kita dari kerusakan moral dunia dan menyadarkan kita bahwa hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.

Sangatlah disayangkan, kalau manusia justru lebih memilih “roti“ yang bersifat sementara daripada Firman Hidup yang bersifat kekal. Betapa bodohnya manusia, demi untuk kenikmatan sementara justru mengorbankan Tuhan, orang lebih memilih pekerjaan daripada pelayanan. Sebagai anak Tuhan, biarlah Firman yang hidup itu menjadi prioritas hidup kita yang utama; apapun yang kita lakukan adalah demi untuk kemuliaan-Nya. Apakah Firman Tuhan sudah menguasai hidupmu? waspadalah, jangan tertipu oleh godaan iblis yang memang ingin supaya kita jatuh ke dalam dosa dan jauh dari Tuhan.

II. Menggeser Orientasi Hidup

Prioritas kita akan menentukan seluruh orientasi hidup kalau kita ada di dalam Kristus maka seluruh prioritas pasti berorientasi pada Kristus, yaitu untuk menjadi semakin serupa Dia. Kerohanian sejati akan mengontrol semua aspek kejasmanian kita. Hidup Kristus berorientasi pada hal yang spiritual, Ia berpuasa membuktikan bahwa Ia taat pada Bapa-Nya. Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hidup manusia hanya Firman saja dan tidak perlu roti. Tidak! Manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah, berarti selain roti manusia juga perlu Firman dan yang terutama adalah Firman. Kalau orientasi hidup kita hanya pada Tuhan bukan berarti kita menjadi sok rohani tetapi justru akan mendatangkan kebaikan - mewarnai semua aspek dalam hidup kita dan kita juga tidak mudah tergoda oleh rayuan iblis.

Jangan pernah berpikir bahwa orang yang mempunyai intelegensi tinggi tidak akan dapat tertipu. Salah! Justru orang yang demikian yang paling mudah masuk dalam jebakan karena cara berpikirnya sama dengan iblis. Orientasi hidup tepat akan mendatangkan sukacita sejati karena seluruh tenaga, pemikiran kita akan terarah dengan tepat. Barang siapa mau hidup dalam Tuhan maka Tuhan pasti akan memimpin dan melindungi kita akan tetapi bukan berarti kita akan luput dari pencobaan. Tidak! Hidup di  dunia kita tidak akan luput dari berbagai macam godaan tapi kalau orientasi hidup kita adalah Kristus maka kita menjadi lebih waspada dan peka terhadap segala macam godaan si iblis. Tuhan tidak mengajarkan kepada kita supaya kita lebih mementingkan hal yang rohani sehingga mengabaikan hal yang jasmani. Tidak! Justru Tuhan mengajarkan ora et labora, berdoa dan bekerja. Ketika bekerja biarlah orientasi kita bekerja itu adalah demi untuk kemuliaan nama Tuhan bukan demi egoisme diri kita. Orientasi hidup yang tepat akan mempengaruhi seluruh aspek hidup kita.

III. Menggeser Sikap Hidup

Iblis menempatkan Yesus di bubungan Bait Allah dan menantang Yesus supaya menjatuhkan dirinya sebab iblis tahu bahwa tentang Yesus ada tertulis: Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu (Mzm. 91:11-12). Dalam hal ini, iblis sangat “rohani“. Rohani disini hanya sebatas fenomena saja. Ingat, kuasa spiritual yang ditunjukkan seseorang tidak membuktikan kerohaniannya baik; iblis dapat membuat seseorang sepertinya “rohani“ tapi bukan secara esensi tapi hanya gejala rohani belaka. Dengan licik, iblis menggoda manusia supaya jatuh dalam kesombongan rohani.

Tuhan justru mengajarkan agar kita rendah hati dan bersandar pada Allah saja karena tanpa Dia kita bukanlah apa-apa, we are nothing. Tuhan Yesus, Pencipta alam semesta rela mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:7); Tuhan Yesus tidak memakai hak ke-Allahan-Nya; Dia taat sampai mati di kayu salib. Itulah kerendahan hati sejati. Dan iblis tidak suka akan hal ini karena itu iblis menawarkan jalan pintas supaya Tuhan Yesus dikenal banyak orang dengan cepat mengenal Dia sebagai Anak Allah, yaitu dengan jalan menjatuhkan diri dari Bait Allah. Puji Tuhan, Yesus tidak masuk dalam jebakan iblis. Cara Tuhan adalah rendah hati taat pada pimpinan Tuhan. Orang yang hanya mengutamakan kesombongan diri maka ia akan sulit menerima pendapat orang lain apalagi untuk ia mau taat pada kehendak Tuhan. Kesombongan diri tersebut haruslah dihancurkan terlebih dahulu barulah orang menyadari keterbatasan dirinya dan merupakan suatu anugerah kalau Tuhan memukul karena itu berarti Tuhan masih berkenan memanggil kita untuk kembali pada-Nya. Terkadang Tuhan memakai penderitaan untuk mendidik anak-Nya untuk semakin bertumbuh. Tuhan Yesus berpuasa menunjukkan bahwa manusia terbatas; puasa bukan sarana untuk memaksakan kehendak diri sendiri pada Allah. Penyangkalan diri menjadi kunci utama taat pimpinan Tuhan.

IV. Menggeser Panggilan hidup

Iblis tidak suka melihat anak Tuhan yang hidup benar sesuai dengan Firman dan menggenapkan rencana-Nya. Dengan berbagai cara, iblis akan berusaha menjauhkan anak Tuhan dari panggilan-Nya dan mengalihkannya pada kehendak diri sendiri. Berhati-hatilah dengan akal licik si iblis yang selalu mengiming-iming kita dengan segala kenikmatan dunia yang semu. Syarat mengikut Tuhan adalah memikul salib dan menyangkal diri; dan iblis tahu bahwa syarat tersebut sangat sulit dijalankan karena itu iblis menawarkan pada manusia untuk jauh dari kehendak Tuhan dan menjalankan kehendak diri sendiri. Adalah anugerah kalau Tuhan berkenan memanggil kita dari dunia yang bergelimang dosa. Diri sendiri tidak dapat memanggil diri sendiri; lebih tepatnya bukan diri sendiri yang memanggil melainkan iblis. Untuk menjadi manusia sejati maka kita harus kembali pada Tuhan sang Pencipta. Kalau kita semakin jauh dari Tuhan maka itu menjadi kesuksesan iblis. Jadi, kesuksesan diri kita sebenarnya merupakan kesuksesan iblis. Kristus sukses menjalankan perintah Bapa-Nya sampai akhir, yaitu mati di kayu salib sehingga ia dapat berkata “Tetelestai“, sudah genap. Telah tersedia bagi kita, anak-anakNya yang telah menggenapkan rencana-Nya, yaitu sebuah mahkota kebenaran.

V. Menggeser Nilai Hidup

Iblis menggeser keinginan kita dari mencintai Tuhan kepada keinginan daging yang dikuasai nafsu. Iblis membawa Tuhan Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi lalu memperlihatkan seluruh isi dunia dan kemegahan-Nya dan semuanya itu akan diberikan kepada-Nya asal Ia mau tunduk dan menyembah padanya. Iblis memberikan dalam jumlah yang sangat besar dan kemegahan, keagungan yang berkilauan. Kuantitas dan kualitas yang demikian yang seringkali membuat manusia jatuh dalam pencobaan. Manusia kalau sudah tergoda dengan keinginan nafsu maka itu berarti awal kehancuran diri kita. Apalah artinya kita mendapatkan seluruh isi dunia kalau kita kehilangan nyawa kita. Iblis mencoba mengalihkan keinginan manusia tersebut pada hal yang bersifat duniawi, yakni keinginan untuk menjadi kaya, kemegahan dunia. Jangan sia-siakan hidupmu dan menggantinya dengan hal yang tidak layak. Biarlah kita mengarahkan hidup kita pada hal-hal yang bersifat rohani, mengejar kekudusan, dan keinginan untuk lebih mengenal kebenaran dan keadilan. Hendaklah keinginan kita adalah keinginan untuk menjadi serupa Kristus, bersekutu dalam hidup-Nya supaya bersama-sama dalam kebangkitan-Nya; keinginan untuk menggenapkan rencana-Nya di dalam hidup kita dan seluruh hidup kita hanyalah untuk menyenangkan hati Tuhan, yakni memuliakan nama-Nya.

VI. Menggeser Pengabdian

Kelima cara yang dipakai iblis tersebut sebenarnya bertujuan agar manusia menyembah pada iblis. Ibadah artinya kepala yang menunduk hingga menyentuh tanah hal ini menunjukkan pengabdian yang penuh pada obyek pengabdian kita. Kalau kita menyembah pada Tuhan maka kita adalah budak dan Tuhan adalah Tuan kita. Di seluruh alam semesta ini hanya Tuhan saja yang patut kita sembah. Manusia tidak dapat menyembah pada dua tuan. Orang yang menyembah Tuhan tetapi juga menyembah iblis maka ia adalah pezinah. Ibadah kita pada Tuhan tidak dapat dikompromikan karena itu jangan mempermainkan ibadah. Tuhan tidak mau diri-Nya diduakan tetapi sebaliknya iblis justru memperbolehkan kita menyembah pada dua tuan, yaitu iblis dan Tuhan karena iblis tahu bahwa pada akhirnya Tuhanlah yang justru akan membuang manusia. Dengan semakin jauhnya manusia dari Tuhan maka keinginan iblis telah tercapai dan hal ini berarti iblis telah sukses.

Keenam cara iblis ini muncul di sekeliling kita lalu dimanakah posisi kita? Dunia pasti mengikut the way of Satan. Kita sudah tahu akibatnya kalau kita mengikut jalan iblis, yaitu kebinasaan kekal dan memahami bahwa kalau kita mengikut jalan iblis maka seluruh tatanan hidup kita pun pasti akan dipengaruhi olehnya maka itu berarti kita telah berada pada jalur yang salah sehingga mata kita tidak akan pernah dapat melihat kebenaran. Di tengah dunia yang kacau ini biarlah kita tahu bagaimana seharusnya kita menempatkan diri sehingga kita tidak menjadi korban dari setan.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20040711.htm

Eksposisi Injil Matius 4 : THE POWER OF THE WORD (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Thursday, March 16th, 2006

Eksposisi Injil Matius 4

Ringkasan Khotbah : 4 Juli 2004

The Power of the Word

Nats: Mat. 4:4

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Dengan memahami berbagai macam tipu muslihat dan akal licik si iblis, manusia seharusnya lebih waspada dan peka dengan demikian kita tidak mudah masuk dalam jebakan si iblis dan juga kita menjadi semakin berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku, apakah tindakan kita sudah sesuai dengan cara Tuhan atau justru lebih mirip dengan cara hantu? Adalah tujuan utama iblis untuk membuat manusia jatuh dalam dosa karena itu dengan berbagai cara Iblis selalu berusaha menjauhkan manusia dari kebenaran sejati. Puji Tuhan, Yesus telah memberikan teladan supaya kita dapat menang melawan iblis seperti halnya Yesus yang telah menang, yaitu hanya dengan Firman saja, “sebab ada tertulis“.

Dunia modern tidak suka dengan Firman malahan hendak menghancurkan kebenaran sejati. Gejala ini sudah nampak dengan munculnya berbagai macam aliran filsafat, seperti postmodernisme. “Sebab ada tertulis…“ berarti kita harus kembali pada obyektifitas kebenaran yang dituliskan dalam Firman Tuhan bahkan manusia sudah mulai terang-terangan menegaskan bahwa standar kebenaran ada pada diri sendiri oleh karena itu manusia tidak perlu taat pada kebenaran Firman. Inilah sifat humanisme, yaitu manusia menjadi pusat dan standart dari segala sesuatu, manusia tidak perlu tunduk pada siapapun dan apapun. Tidak! Alkitab menegaskan Tuhanlah yang menjadi pusat dari segala sesuatu bukan manusia, “sebab ada tertulis…“ Hati-hati dengan gerakan postmodern yang hendak memutarbalikkan kebenaran dengan mempermainkan bahasa. Gerakan ini muncul pada pertengahan abad 20 dimulai dari pertemuan para filsuf di lingkaran Vienna dan salah satu pelopor filsafat postmodern ini adalah Jacques Derrida yang menulis buku Of Grammatology. Dalam bukunya tersebut ia mempermainkan makna  sebuah bahasa dalam hermeneutika modern atau biasa dikenal dengan istilah language game.

Dalam Kekristenan, hermeneutika mempunyai pengertian ilmu menafsir Alkitab dengan tepat tapi kini istilah hermeneutik telah berubah maknanya yakni ilmu menafsirkan bahasa tapi menurut pengertian sendiri. Bayangkan, apa jadinya Alkitab kalau kita menafsir secara sembarangan menurut pengertian kita sendiri tanpa melihat konteks dan latar belakang sejarahnya maka Alkitab tidak lebih hanya sebuah buku dongeng yang dengan mudah dapat dipermainkan. Permainan bahasa ini dikenal dengan istilah plesetan dimana satu kalimat bahasa bisa mempunyai beberapa arti, sebagai contoh kalimat berikut: Hari ini harga-harga perlu disesuaikan. Istilah “disesuaikan“ disini bisa mempunyai beberapa arti terserah penafsiran kita masing-masing, ada yang menafsirkan harga dinaikkan, ada juga yang menafsir harga yang diturunkan, dan lain-lain. Orang lebih suka menggunakan kata-kata yang mengandung banyak arti daripada kata-kata yang mempunyai arti yang akurat seperti “sebab ada tertulis“ karena mereka sebenarnya hendak menghindar dari tuntutan pertanggung jawaban dari sesuatu yang dianggap benar.

Manusia mau menegakkan kebenarannya sendiri tapi tidak berani mengatakannya secara terus terang pada dunia karena sesungguhnya dia sadar bahwa kebenaran menurut diri sendiri tersebut merupakan ekspresi dari keegoisan dirinya jadi bukanlah kebenaran sejati. Orang yang demikian pasti akan mengalami kehancuran dalam hidupnya karena dia telah terbiasa menipu orang lain maka suatu hari nanti ia pasti menjadi korban dari penipuan. Kalau kita bisa menipu diri sendiri tentu kita lebih mudah ditipu oleh orang lain, bukan? Celakalah kalau kebenaran menurut kita masing-masing maka itu berarti kalau ada 100 orang maka berarti ada 100 kebenaran.  Kebenaran relatif menjadikan kebenaran subyektif yang pluralistik, banyak kebenaran tetapi tidak ada satupun yang mau bertanggung jawab kalau ternyata kebenaran yang mereka ungkapkan tersebut salah. Ketika kebenaran subyektif bertemu dengan kebenaran obyektif maka dengan sendirinya kebenaran subyektif akan hancur. Itulah sebabnya orang tidak suka dengan “sebab ada tertulis…“ Orang berdosa paling takut jika harus berhadapan dengan kebenaran sejati, yaitu Firman Tuhan karena mereka seakan ditelanjangi akan dosa-dosanya. Ironisnya mereka tidak bertobat dan kembali pada kebenaran Firman tapi mereka justru menjauh dari Firman seperti peribahasa buruk muka cermin dibelah. Di satu sisi manusia sadar bahwa kebenaran subyektif bukanlah kebenaran sejati tapi manusia tidak mau kembali pada kebenaran obyektif, manusia sadar kalau dirinya butuh sandaran sehingga mereka menyandarkan kebenaran dengan logika.

Iblis pun tak ketinggalan juga menggunakan logika ketika ia mencobai Tuhan Yesus di padang gurun begitu juga Tuhan Yesus yang juga menggunakan logika ketika menjawab untuk melawan si iblis. Logika Iblis dan logika Tuhan Yesus berbeda bahkan bertentangan. Karena  iman menjadi dasar yang melandasi setiap pemikiran dan keputusan yang kita buat maka hendaklah kita menguji iman kita. Apakah kita mempunyai iman yang sejati, yaitu iman kepada Tuhan Yesus Kristus? Lalu dengan apakah kita menguji iman? Apakah dengan logika? Tidak! Iman tidak dapat diuji dengan logika karena jika demikian berarti logika lebih tinggi dari iman padahal logika hanyalah sebagai sarana iman. Iman hanya dapat diuji dengan:

I. Sola Scriptura

Sejarah mencatat seorang bernama Martin Luther, tokoh reformasi berteriak dengan keras supaya manusia kembali pada Alkitab ketika manusia mulai menyelewengkan Firman Tuhan. Karena pada jaman itu ada kepercayaan bahwa jiwa manusia akan dapat diselamatkan kalau sanak keluarganya membeli surat pengampunan dosa. Setiap uang persembahan yang berdenting dalam kotak persembahan akan membuat satu nyawa melompat dari neraka ke surga. Ide untuk menjual surat pengampunan dosa ini muncul dari seorang arsitek, Johan Tetzel dalam rangka mencari dana untuk membangun gereja St. Peter di Roma. Sejarah mencatat kemegahan gereja St. Peter, Roma dan menjadi kebanggaan manusia di dunia hingga kini. Namun sangatlah disayangkan, keindahan dan kemegahannya tidak diiringi dengan kesaksian yang indah. Melihat lukisan indah Michael Angelo yang berada pada atap dinding, orang akan terkenang dengan hal yang buruk, yaitu si pelukis hanya melakukan sebatas tugas, tidak ada hati yang melayani.

Michael Angelo merasa dipersulit dengan melukis atap gereja yang berbentuk melengkung sedang rekannya yang junior, Raphael hanya melukis di bagian dinding. Andai, ia mengerjakannya dengan kesadaran bahwa semuanya ini ia kerjakan demi untuk kemuliaan Tuhan maka pasti akan menjadi kesaksian yang indah. Ingat, dentingan uang tidak dapat menyelamatkan nyawa kita. Sola Fide, Sola Scriptura, Sola Gracia, yakni hanya kembali pada iman, kembali pada Alkitab dan hanya karena anugerah saja maka manusia diselamatkan. Inilah dasar reformasi yang ditegakkan oleh Martin Luther dalam 95 dalil yang dipakukan di depan gereja Wittenberg. Manusia sangatlah terbatas sehingga manusia tidak berhak menegakkan kebenarannya sendiri. Hanya kembali pada Firman saja barulah kita akan menemukan kebenaran sejati.

Kalimat yang diungkapkan iblis pada Yesus, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti“ menggunakan logika yang tidak logis. Kenapa?

Pertama, karena tidak pada semua manusia, iblis mengeluarkan kalimat demikian; kalimat ini hanya ditujukan pada Tuhan Yesus saja hal ini berarti iblis sudah tahu bahwa Yesus adalah anak Allah; kata “jika“ iblis sepertinya meragukan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Anggaplah iblis ragu bahwa Yesus adalah Anak Allah lalu kenapa ia meminta pada Yesus untuk mengubah batu menjadi roti? Bukankah cara yang sama juga dipakai oleh iblis untuk menggoda Adam dan Hawa supaya jatuh ke dalam pencobaan? Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? (Kej. 3:1). Dengan licik Iblis menggunakan kalimat sedemikian rupa untuk menjebak manusia supaya jatuh ke dalam pencobaan. Kalimat tersebut bukanlah kalimat pernyataan tapi hanyalah kalimat pertanyaan. Inilah yang dinamakan dengan permainan logika yang tidak logis. Iblis tahu jawabannya tapi ia sengaja menjebak manusia dengan kalimat pertanyaan tersebut.

Kedua, Yesus adalah Anak Allah tentu Ia dapat mencipta roti hanya dengan berfirman seperti ketika Ia menciptakan seluruh alam semesta ini. Tuhan Yesus tidak perlu batu, bahan yang sudah ada untuk membuat sekeping roti. Iblis tidak dapat mencipta seperti Allah; Allah mencipta dari tidak ada menjadi ada. Iblis tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah, Sang Pencipta tapi antara pengertian dengan pertanyaan iblis yang memerintahkan Yesus supaya mengubah batu menjadi roti sangatlah tidak logis.

Ketiga, Yesus, Anak Allah maka logisnya seorang Anak Allah tidak membutuhkan makanan atau sesuatu yang lain yang bersifat materi untuk memenuhi kebutuhan jasmani-Nya. Hanya anak manusia saja yang dapat lapar dan membutuhkan makanan. Iblis dengan licik mau mencoba mengadu domba antara ke-Allah-an Yesus dengan kemanusiaan Yesus. Namun Yesus tidak mudah terjebak masuk dalam jebakan iblis sehingga tidak terjadi perdebatan yang sifatnya sekunder. Hal yang esensi adalah manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Ini menjadi dasar bagi kita untuk berapologetik, yaitu ketika kita diminta untuk memberikan pertanggung jawaban mengenai iman kita maka janganlah beragumen di dalam logika lawan tapi justru kita bawa mereka masuk ke dalam logika kebenaran sejati, yaitu logika berdasarkan yang iman pada Tuhan Yesus. Logika Tuhan Yesus dan logika iblis berbeda baik pendekatan, struktur dan caranya, semuanya berbeda. Namun, ada baiknya juga kalau kita juga memahami semua logika iblis dengan demikian kita tidak akan masuk dalam jebakan iblis.

II. Interpretasi Akurat

Tuhan Yesus melawan iblis dengan Firman dan Tuhan Yesus mengajak iblis untuk masuk dalam logika-Nya. Setelah pencobaan pertama tidak berhasil, kali ini iblis pun mencoba menggunakan firman untuk mencobai Yesus lagi. Dengan licik, iblis menggunakan firman untuk mencobai Tuhan Yesus yang kedua kalinya, yaitu: Mzm. 91:11-12. Pada pencobaan yang kedua, Iblis menggunakan sarana rohani, yaitu Bait Allah dan Firman Allah. Kita akan menemukan sesuatu yang unik dalam diri Tuhan Yesus saat melawan iblis, yaitu tiga kali dicobai, Yesus hanya menggunakan satu ayat saja dan ketiga-tiganya berasal dari satu kitab Taurat, yaitu kitab Ulangan 8:3; 6:16; 6:13. Tuhan Yesus menangkal hanya menggunakan satu ayat tapi iblis lebih dari satu ayat.

Jadi, banyaknya ayat yang dipakai oleh seorang hamba Tuhan dalam kotbahnya bukanlah jaminan kalau yang dikotbahkan tersebut pastilah benar. Justru semakin banyak ayat yang digunakan maka peluang seseorang menjadi bidat semakin besar karena ayat-ayat tersebut tidak beda seperti halnya kalau kita bermain puzzle. Ingat, setiap ayat yang ditulis dalam Alkitab berbeda konteks, latar belakang budaya, dan lain-lain karena itu jangan menafsir Alkitab dengan sembarangan. Karena itu kita harus belajar Alkitab lebih sungguh sehingga kita tidak mudah digoyahkan. Kalau pada pencobaan pertama setan menggunakan logika dunia maka pada pencobaan yang kedua, ia menyamakan logikanya seperti Tuhan Yesus, yaitu menggunakan logika Firman. Hati-hati, setan tidak segan-segan menggunakan firman untuk menjatuhkan manusia. Orang Kristen kalau melihat dari sudut pandang Alkitab dengan tepat maka kita tidak akan mudah tertipu, kita harus tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular, kedua hal ini harus ada dalam diri kita.

Tuhan Yesus adalah Anak Allah, maka sebenarnya Ia tidak perlu mengatakan, “Sebab ada tertulis…“ karena Dia sendiri adalah Firman yang telah menjadi daging namun Dia menggunakan Firman ketika melawan iblis demi untuk kita, yaitu supaya kita dapat meneladani-Nya. Jadi, setiap anak Tuhan yang sejati pun dapat melawan dan mengalahkan iblis dengan kuasa Firman. Lalu siapakah anak Tuhan yang sejati? Anak Tuhan yang sejati adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34) sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Iblis memakai ayat Alkitab bukan untuk taat pada Tuhan tetapi untuk memanipulasi dan menuntut orang lain; dalam hal ini iblis ingin supaya Tuhan Yesus taat dan tunduk padanya. Inilah cara iblis bekerja bahkan tanpa kita sadari kita sebenarnya telah menggunakan cara yang sama seperti cara iblis namun berapa banyak di antara kita yang sadar, memohon ampun dan bertobat kembali pada Tuhan?

Dunia semakin hari tidak menjadi semakin baik tapi dunia semakin menuju pada titik kehancuran, manusia sudah menjadi serigala terhadap sesamanya, homo homini lupus maka jangan percaya kalau ada orang berpendapat bahwa hari esok akan lebih cerah dari hari ini. Manusia hidup di dunia tidak akan luput dari pencobaan bahkan iblis pun berani mencobai Tuhan Yesus, Anak Allah. Puji Tuhan, Yesus telah memberikan teladan bagi kita sehingg kita pun dapat melawan iblis dan menjadi berkemenangan. Tetaplah setia pada Firman supaya kita tidak mudah digoyahkan oleh segala macam tipu daya iblis. Bacalah keseluruhan isi Alkitab secara berurutan mulai dari Kejadian sampai Wahyu sehingga kita dapat mengerti isi Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh. Percayalah, Firman yang sudah kita baca tidak akan pernah berbalik dengan sia-sia karena Firman tersebut akan menjadi berkat di kala kita mengalami suka dan duka.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT-Tinjauan Kritis Terhadap Theologia Religionum (oleh : Pdt. Tumpal H. Hutahaean, S.Th., M.A.)

Friday, March 10th, 2006

FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT

Tinjauan Kritis terhadap Teologi Religionum

oleh : Pdt. Tumpal H. Hutahean, S.Th., M.A.

BAB I : PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Pembahasan

Keberadaan agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan keunikan agama, sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya toleransi. Keberadaan toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh subur di Indonesia.

Namun tanpa disadari metode tolerasi (dialog lintas agama) yang dikembangkan oleh Gereja di Indonesia secara khusus dan dunia secara umum telah merubah arti dan hakekat dari iman Kristen itu sendiri. Metode dialog antar umat beragama yang pada mulanya hanya sekedar wadah persekutuan dan sebagai ekspresi saling menghargai dan menghormati. Dalam perkembangannya berubah menjadi usaha dari masing-masing agama dan antar umat beragama yang lainnya untuk saling mempelajari kesamaan-kesamaan kebenaran yang mereka anut, sampai taraf dimana mereka dapat saling menerima keabsahan dan kebenaran semua agama (Pluralisme Agama).[1] Dan dalam perkembangannya  gerakan ini yaitu “Pluralisme Agama” akhirnya melahirkan suatu teologi yang mereka sebut sebagai “Teologi Religionum”.

Jika gerakan “Pluralisme Agama” hanya sekedar menerima dan mengakui ada kebenaran-kebenaran dalam semua agama-agama, tanpa membuang keunikan kebenaran agama-agama yang mereka percayai. Tetapi lain dengan “Teologi Religionum”, gerakan teologi ini lebih maju lagi, yaitu mau menggabungkan semua kebenaran-kebenaran yang ada di dalam agama-agama dan menolak semua kemutlakan yang ada di dalam agama-agama, yang dapat menjadi benteng pemisah di antara mereka. Dalam hal ini termasuk juga “Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat” di dalam kekristenan. Dengan kata lain mereka menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Karena bagi mereka semua kebenaran dalam agama dan tentang agama itu adalah “relative”. Semboyan dari gerakan “Teologi Religionum” yang sering mereka kumandangkan adalah “Deep down, all religions are the same – different paths leading to the same goal”.[2]

Jadi gerakan pluralisme agama[3] dan Teologi Religionum ini adalah suatu gerakan yang sangat berbahaya di dalam menghancurkan identitas iman Kristen dan juga menjadi tantangan bagi iman Kristen. Teologi Religionum ini bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, antropologis, melainkan konsep filsafat agama yang bukan bertolak dari Alkitab, melainkan dari fakta kemajemukan yang diikuti oleh tuntutan toleransi dan di dukung oleh keberadaan social-politik yang mendukung kemajemukan etnis, budaya dan agama, serta disponsori oleh semangat globalisasi, filsafat relativisme dan filsafat postmodernisme.

B.   Batasan Pembahasan Seminar

Di dalam seminar hari ini pembahasanya hanya memfokuskan pada “Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat” yang ditolak oleh “Teologi Religionum”. Karena mengingat seminar kita ini waktunya sangat pendek, & pembahasan teologi religionum” sendiri itu sangat luas isinya. Maka kita harus mempersempit  pengulasannya pada pandangan teologi religionum dalam dunia kekristenan yang menolak “Keunikan Yesus Kristus”,  yang menjadi inti pengajaran “Teologi Religionum” di dalam kekristenan.

Walaupun kita memfokuskan pembahasannya pada “Keunikan Yesus Kristus”. Hal ini bukan berarti kita tidak akan menyinggung bidang-bidang yang lain dari “Teologi Religionum”, misalnya pandangan mereka tentang Alkitab, Manusia & Dosa, Hermeneutika.

Besar harapan saya para peserta seminar ditempat ini dapat mengembangkan studi kritis tentang teologi religionum di depan demi kemuliaan Kristus, sehingga kita tidak membiarkan virus ajaran ini masuk gereja.

BAB II : LATAR BELAKANG & SEJARAH BANGKITNYA TEOLOGI RELIGIONUM

A.   Pengertian Kata: Pluralitas,  Pluralisme dan Teologi Religionum.

Kata “Plural” berasal dari kata bahasa Inggris yang artinya “jamak” dan ketika kata ini ditambah akhirannya menjadi “Pluralitas” ini berarti “kemajemukan”. Dan jika akhir dari kata “plural” ini ditambah dengan kata “isme” ini berarti ada ajaran-ajaran/isme-isme di dalam kemajemukan agama. Jadi arti “Pluralisme Agama” adalah gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama agar kebenaran-kebenaran yang beragam dapat saling mengisi dan melengkapi. Jadi dengan kata lain mereka saling membuka diri untuk saling dapat menerima semua keberadaan agama-agama yang lainnya, dengan tidak membicarakan atau mempertajam keberbedaan pengajaran mereka masing-masing.

Kata “Teologi” berasal dari Yunani “Theos” dan “Logos”. Kata Theos artinya Allah, dan kata logos sendiri artinya Firman/Kebenaran yang dinyatakan.[4] Jadi “Teologi“ artinya suatu peryataan atau interprestasi kebenaran tentang Allah. Jadi “Theology is taught by God, teaches of God, and leads to God.“[5] Sedangkan kata “Religionum“ berasal dari bahasa Inggris “Religions“ yang artinya agama-agama. Jadi pada waktu kata ini digabung menjadi teologi religionum (Theology of Religions) secara umum pengertian  ini oke-oke saja. Tetapi secara khusus saya tidak setuju karena jika ke dua kata ini dilihat dari iman Kristen, ini tidak mungkin dapat digabung, mari kita ulas. Pengertian teologi secara umum dimengerti sebagai bentuk studi tentang Tuhan (Atribut-atribut-Nya dan sifat-sifat-Nya) yang telah Ia nyatakan melalui Alkitab sebagai wahyu khusus. Jika istilah kata “teologi“  digabung dengan kata “religionum“ menjadi “teologi religionum“ ini artinya kita mengakui adanya Tuhan yang benar di dalam agama-agama yang lain, di luar kekristenan. Jika demikian arti teologi religionum adalah suatu gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama yang ada   dengan spirit  menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Mereka memiliki cita-cita untuk melahirkan suatu konsep agama yang baru dan agama ini saya sebut sebagai agama bersama (Together Religion).

Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri. Gerakan ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti Allah tidak akan turut campur.

Sebagai kesimpulan, jadi gerakan “teologi religionum” di dalam kekristenan adalah suatu gerakan yang berupaya untuk membuang dan menolak “Finalitas Karya Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya”. Teologi Religionum memakai pendekatan “The Christology from Below“ yaitu suatu teologi yang dibangun dari bawah ke atas. Teologi seperti  ini lebih mementingkan kontekstual dari pada teks  dan juga mementing teologi fungsional daripada ontological. [6]

Teologi dari bawah ke atas ini sangat disenangi dikalangan mereka. Seperti juga yang ditekankan oleh Th. Sumartana, bahwa yang diperlukan bukan hanya sekedar Kritologi agama-agama, Inklusif, lebih dalam lagi kita memerlukan teologi religionum.[7]

B.   Sejarah Pluralisme di dalam Alkitab

1.  Perjanjian Lama

Ketika Tuhan memanggil Abraham sebagai Bapa orang Israel untuk keluar dari Urkasdim. Panggilan Tuhan ini disertai  dengan penyataan khusus (Special Revelation) dari Allah. Panggilan khusus inilah yang menjadi asal-muasal agama orang Israel, yaitu agama yang lahir dari atas (Tuhan) ke bawah (manusia). Sedangkan agama-agama lain di luar Israel adalah agama-agama yang lahir dari manusia sebagai ekspresi terhadap wahyu umum (General Revelation).

Ketika dua sumber agama ini hadir di PL, berarti pada saat itu sudah ada persoalan dalam kemajemukan agama yaitu agama penyataan khusus dan agama penyataan umum. Dimana agama penyataan umum berusaha untuk membuang keunikan iman bangsa Israel, supaya dapat beribadah dengan agama mereka yang menyembah berhala-berhala. Sebagai contoh ketika raja Israel yaitu Ahab menikah dengan Izebel anak raja Tirus, maka akhirnya raja Ahab dipengaruhi istrinya untuk menyembah Baal dari Tirus, agar dijadikan sebagai resmi di Israel. Tetapi upaya Izebel ini di lawan oleh nabi Elia (1 Raja 18) dengan cara menantang para nabi-nabi palsu mereka. Dan Elia pada saat itu  membuktikan bahwa Allah Yahweh adalah Allah yang sejati yang layak untuk disembah dan bukan berhala-berhala (Kel 20:2-5). Jadi di PL Allah sangat mengecam dan tidak kompromi dengan kegiatan-kegiatan ibadah dari ilah-ilah asing untuk masuk dalam komunitas umat-Nya (dengan sikap Eksklusif).

Allah memang mengajarkan umat-Nya agar memiliki sikap yang eksklusif terhadap agama-agama asing yang tidak mempercayai Allah Yahweh atau Allah yang esa (Ul 6:4). Agama-agama asing yang ada pada saat itu sangatlah tidak cukup untuk mengerti wahyu umum karena sifatnya mereka hanya dapat berespon terhadap wahyu umum. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan “penerangan dari kepercayaan bangsa Israel“ dan penerangan itu di dapat hanya melalui pengenalan terhadap Allah Yahweh, sebagai agama resmi bangsa Israel pada saat  itu.[8]

2. Perjanjian Baru

Kemajemukan agama di dalam era Perjanjian Baru sangat nampak  terjadi. Hal ini nyata dengan adanya agama-agama rakyat yang tersebar di berbagai tempat pada era pemerintahan kaisar Romawi (Pantheon Greko Romawi).[9] Mereka pada saat itu menyembah kepada “Realitas Ilahi“ yang tidak berpribadi, namun ada dan diam di alam semesta dan diri manusia (Pantheisme & dualisme), misalnya kepada dewi Diana di Korintus, dewi Isis dan Osiris di Mesir, para Baal di Siria, dewa Mitras di Persia dan dewi Kybele di Asia kecil. Hal ditambah lagi dengan agama rakyat Yunani yang percaya pada Jupiter (Zeus), Juno (Hera), Neptune (Posedon), Marcury (Hermes).

Selain berhadapan dengan kemajemukan agama pada saat itu. Gereja mula-mula juga berhadapan dengan kemajemukan iman yang pada saat itu ada, yaitu: penyembahan kepada Kaisar, Agama Yudaisme dan Filsafat Helenistik.[10] Penyembahan kepada kaisar pada saat itu bersifat mutlak dan tidak dapat di tawar-tawar lagi. Mereka percaya bahwa kaisar merupakan titisan dewa yang memiliki kuasa ilahi karena berasal dari dunia metafisik. Penyembahan kepada kaisar ini juga merupakan ekspresi kesetiaan rakyat kepada kaisar. Oleh karena jika para pengikut Kristus pada saat menolak untuk menyembah Kaisar dan tetap mempertahankan imannya kepada Yesus, mesti resikonya mengalami penganiayaan dan hukuman mati (band. Kol 2:18-19). Mereka tetap setia kepada Kristus dan tetap bersikap Ekslusifitas.

Sikap gereja saat menghadapi kemajemukan agama pada saat itu  tetap eksklusif. Pengikut Kristus pada saat itu disebut sebagai “Kristen”. Kata ini saja sudah menjelaskan sikap yang eksklusif dan special (Kis 11:26, 26:28 & I Pet 4:16). Sebutan kata “Kristen” ini sering dipakai oleh mereka yang tidak percaya kepada Kristus sebagai bentuk kata pengejekan. Walaupun demikian orang-orang Kristen pada saat itu tetap bangga dengan kepercayaannya kepada Kristus dan menolak agama-agama lain di luar Kristus. Walaupun orang-orang Kristen pada saat itu bersikap eksklusif bukan berarti mereka tidak bergaul dengan mereka (Yudaisme dan Helenistik, dll). Sebagai contoh, ketika Barnabas dan Paulus berhadapan dengan agama-agama lain, yang memuja dewa Zeus dan Hermes. Mereka menghadapinya dengan sopan, arif dan menghargai. Maksudnya tidak ada sikap untuk menghakimi kepercayaan mereka itu. (KPR 14). Jemaat di Korintus juga hidup berdampingan dengan agama-agama lain (1 Kor 8-11).

Contoh yang lainnya adalah tentang latar belakang dari penulis Injil Matius yang mengalamatkan Injilnya pada orang-orang Kristen Yahudi, dengan tidak mengambil pengajaran Yudaisme. Demikian juga dengan penulis Injil Lukas dan Injil Yohanes, yang mengalamatkan suratnya kepada orang Kristen Yunani. Baik Lukas dan Yohanes tidak memakai pemikiran Helenistik di dalam tulisannya, kecuali penggunaan istilah. Sikap para penulis Injil menunjukkan kepada kita bahwa sikap eksklusif sangat Alkitabiah.

C.   Di dalam Sejarah

1.      Clement & Origenes (Universalisme)

Clement (150-215) berpendapat bahwa “pengenalan akan Allah bagi orang Yahudi adalah melalui “Torat”, sedangkan bagi orang Yunani adalah melalui filsafat inspirasi “Logos”.

Origenes juga berpendapat bahwa “pada akhirnya, semua mahluk akan diselamatkan, termasuk setan.”[11] Pandangan mereka ini mempunyai dampak sampai abad pertengahan.

2.      Renaisance (abad ke-14 akhir) & Enlightenment (abad ke-18)

Johann Wilhelm Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721). Ke dua tokoh ini mengajarkan mengenai konsep pemulihan akhir dari jiwa-jiwa kepada Allah. Pengajaran mereka ini sampai membangkitkan “Universalisme” di Amerika.

3.      Friedric Schleiermacher (1768-1834)

Pengaruh konsep universalisme sangat mempengaruhi pemikiran Friedric S dan tokoh ini sering disebut sebagai bapak Teologi Liberal karena konsep-konsep pemikirannya yang radikal. Ia berani mengkritik Alkitab, bahkan menghasilkan suatu konsep yang menyatakan bahwa Alkitab bukanlah Firman Tuhan, tulisan Injil-injil bukanlah laporan tentang Yesus yang histories, melainkan Yesus yang di percayai (diimani). Maksudnya para penulis Injil tidak menulis Yesus yang sesungguhnya, yaitu Yesus yang histories yang sungguh-sungguh pernah ada. Jadi bagi Schleirmacher para penulis Injil hanya menulis Yesus berdasarkan apa yang mereka tangkap dengan iman dan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Bahkan ia percaya ada unsure rekaan dari para penulis Injil. Karena ada jurang pemisah antara waktu Yesus hidup dengan waktu penulisan Injil itu sendiri. Oleh karena itu bagi Schleirmacher setiap para penafsir Alkitab harus menyingkirkan mitos-mitos, khususnya yang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa mujijat yang tidak rasional seperti apa yang dilakukan oleh Yesus dan karya-karya-Nya.

Konsep Schleirmacher yang mendukung teologi religionum adalah:

a.       Ia menerima konsep universalisme dengan mutlak. Ia percaya bahwa keselamatan diberikan Allah bagi semua orang, termasuk agama-agama lain.[12]

b.      Ia menolak konsep “Predestinasi”. Ia menolak konsep bahwa keselamatan melalui penebusan Kristus adalah satu-satu jalan. Ia percaya bahwa hal itu hanya salah satu jalan di dalam kekristenan dan agama lain juga mempunyai jalan keselamatan.

c.       Ia hanya menekan konsep “Kasih & Kemurahan Allah“ saja. Bagi konsep Liberal, Allah tidak akan menyediakan dan mengirim seorang pun untuk dihukum dalam hukuman kekal, karena jika hal ini terjadi bertentangan dengan sifat kasih Allah.

Pandangan Schleirmacher ini sangat mendukung untuk berkembangnya teologi religionum di kalangan kekristenan, khususnya yang beraliran teologi Liberal. Yang dari mulanya menolak ke allahan Yesus, yang sungguh-sungguh Allah (100%).

4.      Konsili Vatikan II (1962-1965)

Melalui konsili ini sikap katholik yang tadinya eksklusif berubah menjadi inklusif. Mereka memutuskan bahwa “Kebenaran bukan hanya milik orang Kristen saja.“ Keputusan konsili ini menjadi pijakan baru di dalam menjawab tuntutan dalam hidup bersama dengan agama-agama lain. Konsili melahirkan konsep demikian:

“Mereka (agama-agama lain) juga dapat memperoleh keselamatan yang kekal, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Injil Kristen atau gerejanya, namun toh dengan tulus ikhlas mencari Allah dan tergerak oleh anugerah, berupaya dengan perbuatan-perbuatan mereka melakukan kehendak-Nya sebagaimana diketahui melalui hati nuraninya.“[13]

Konsep VatiKan II ini telah mempengaruhi para teolog-teolog modern katholik hingga pada saat ini, seperti:

a.      Karl Rahner

Di dalam bukunya “Christianity and Non Christian Religions,“[14] Ia mengatakan sesungguhnya setiap manusia terbuka terhadap pengaruh rahmat ilahi yang adi-kodrati. Orang-orang dapat diselamatkan karena kasih karunia Kristus, sekalipun tanpa disadari oleh mereka. Ia dulu bersikap eksklusif, tetapi akhirnya berubah oleh karena pengalaman-pengalaman spritualitas dan pengamatannya terhadap perkembangan agama-agama yang ada. Sikap inklusifnya dibangun berdasarkan konsep “Anonymous Christian“ yang artinya bahwa sesungguhnya orang-orang dapat memperoleh keselamatan sekalipun ia tidak memeluk agama Kristen. Mereka-mereka inilah yang disebut Kristen tanpa nama atau tanpa agama Kristen. Yang penting mereka menjalankan agamanya dan bermoral.

b.      Paul F. Knitter

Di dalam bukunya “No Other Name“[15] ia mengatakan bahwa tidak ada klaim yang eksklusif yang menjadi milik inti ajaran Kristen. Ia menekankan sikap inklusif dari gereja katholik di dalam bersikap dengan agama-agama lain. Dengan kata lain Knitter mengatakan bahwa ada juga kebenaran tentang keselamatan di luar iman Kristen. Karena Allah ada juga di dalam agama-agama lain di luar kekristenan. Judul buku yang diberikan oleh Knitter ini bermaksud untuk mengejek kaum eksklusif yang percaya tidak ada nama lain yang menyelamatkan selain nama Kristus. Knitter justru melalui tulisannya memaparkan justru ada nama yang lain (the other) yang dapat menyelamat umat manusia yang ada di agama-agama lain. Konsep Knitter ini telah meracuni juga pemikir teologi religionum di Indonesia yang Emanuel G. Singgih. Singgih mengusulkan untuk membangun sebuah gambaran teologis mengenai “the other”, yang dimaksud “the other” ini adalah agama-agama lain.[16] Walaupun ia menyebut teologis yang dapat dipertangung jawabkan secara Alkitabiah dan kontekstual. Tetap ia lebih mengutamakan konteks dari pada teks Alkitab itu sendiri. Jadi istilah teologis yang dimaksud oleh Kitter dan Singgih adalah teologi kompromi.

c.       Hans Hung

Walaupun Hans Kung tidak menjadi teolog di Vatican lagi, namun ajarannya sudah mempengaruhi pemikir-pemikir Katholik dan juga beberapa dari kalangan Protestan. Di dalam bukunya “Christianity and The World Religions“[17] dan “Theology of Third Millenium”[18] . Khususnya pembahasannya tentang sikap misi gereja yang kontekstual. Ia menyarankan bersikap inklusif. Dengan asumsi dasar pertanya tentang “What is True Religion“ Towards an Ecumenical Criteriology“.[19] Ia mengemukakan ada 4 sikap di observasinya terhadap agama-agama lain.

1.      Sikap Ateistik.

Sikap ini berpendapat bahwa semua agama yang ada sama-sama tidak benar. Tokoh dari sikap ini adalah Friedrich Nietzsche, yang berpendapat bahwa tidak ada agama yang benar. Argumen ini diperkuat lagi dengan filsafat agamanya yang mengatakan bahwa “Allah sudah mati”. Ia menyatakan bahwa agama-agama adalah sia-sia dan tidak berguna bagi orang yang bebas dan yang telah maju. Bagi Nietzsche, Allah adalah sesuatu yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan empiris.[20]

2.      Sikap Katholik Tradisional.

Sikap Katholik Tradisional ini lahir dari Konsili Latheran ke-4 (1215), yang mengatakan bahwa “hanya satu saja agama yang benar yaitu Katholik Roma dan keselamatan hanya ada di dalam gereja dan bukan di dalam Kristus”.

Sikap seperti ini dibangun agar setiap orang yang mau melakukan gerakan untuk mencoba memisahkan diri dari Roma Katholik dan mencoba untuk mengkritik kepausan dari gereja Roma. Diperingatkan akan mendapatkan kutuk dengan cap sebagai bidat dan tidak memperoleh keselamatan.

3.      Sikap Relativistik.[21]

Sikap ini mengatakan bahwa semua agama adalah sama benar atau benar secara sama. Tidak ada agama yang tidak berasal dari dalamnya. Bagi orang-orang pluralis kontemporer, Allah sebagai Realitas Tertinggi dan mutlak, serta tidak terbagi-bagi adalah dasar bagi keberadaan agama-agama. Baik di dalam kekristenan maupun di dalam agama-agama lain sama sekali tidak ada keunikan di dalamnya. Agama-agama yang ada mempunyai keselamatannya sendiri dari dalam agama itu sendiri.

4.      Sikap Inklusivistik.

Menurut pengertian Hans Kung “inklusif” adalah hanya ada satu agama yang benar dan semua agama mendapat bagian dari kebenaran agama yang satu itu. Sikap ini diperlukan dalam rangka membangun toleransi beragama, sehingga mengkompromikan juga suatu kebenaran agama. Pendukung pendapat ini adalah Raimundo Panikkar yang mengatakan bahwa agama-agama lain juga mempunyai kebenaran sebagian dan sebagai pendahuluan serta ikut dalam kebenaran yang universal, sehingga orang lain dari agama lain dapat diselamatkan. Dan orang-orang ini disebut sebagai “Orang Kristen Anonim.”

d.      Raimundo Panikkar (Inclusive)

Di dalam bukunya “Dialog Intra Religios“[22] dan “The Unknown Christ of Hinduism, Asia Trading Corporation“[23] Panikkar percaya bahwa agama-agama lain juga mempunyai kebenaran sebagian dan sebagai pendahuluan serta ikut dalam kebenaran yang universal, mereka disebut sebagai “Anonymous Christian“. Ia percaya seorang dari agama Budha, Hindu, Islam adalah orang Kristen, walaupun mereka belum sempat datang secara aktual ke dalam kekristenan, namun mereka tetap akan diselamatkan karena kebenaran Kristen ada di dalam agama-agama mereka. Panikkar percaya bahwa penyataan Allah ada di dalam semua agama dan Yesus Kristus hanyalah salah satu penyataan Allah yang juga ada di dalam agama-agama lain, dimana menyadari ada realitas ilahi. Oleh karena itu bagi Panikkar Yesus bukan Tuhan dan Juruselamat yang Final dan satu-satunya.[24]

D.   Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja se-Dunia di Uppsala (1968)

Sidang ini berhasil merumuskan sikap teologis dari kalangan protestan terhadap agama-agama lain yang harus terbuka. Misalnya, aspek Perintah Amanat Agung (PI) dihilangkan di dalam tugas gereja dan diarahkan pada dialog lintas agama. Konsep keselamatan, diubah menjadi keselamatan manusia dari penderitaan di dunia, konsep berita Injil diubah menjadi “Social Gospel.“.[25]

Sidang di Uppsala ini menjadi benih awal, terbuka protestan terhadap agama-agama lain dan juga konsep teologis tentang misi dan hakekat gereja. Dan rumusan-rumusan Uppsala menjadi pemicu dan pendorong untuk teologi religionum berkembang di gereja-gereja di dunia dan juga di Indonesia.[26]

E.   Kalangan Teolog Modern (Kontemporer)

1.      John Hick (Pluralisme-Relativisme)

Hink adalah seorang dosen di “Claremont School of Theology, USA“. Sekolah ini sangat terkenal di Amerika sebagai sekolah yang Liberal. John Hick sangat dipengaruhi oleh pemikiran “Johann Wilhelm Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721)“ tentang “Universalisme“.

John Hick di dalam pendekatannya terhadap agama-agama lain lebih menekankan filsafat dan society dari pada pandangan Alkitab sendiri. Ia merupakan seorang pelopor utama pluralism yang merubah konsepnya tentang Allah dan lebih melihat Allah dari sifat kasih-Nya saja. Baginya penderitaan dan kejahatan dari dunia ini dapat dibenarkan jika Allah dapat membawa manusia kepada pemulihan akhir setiap pribadi manusia.[27]

Ia menolak pendekatan “Kristosentris“ terhadap agama-agama lain karena pendekatan ini tidak sesuai lagi dengan konteks pada jaman ini lagi. Ia mengusulkan pendekatan “Teosentris“ dimana Allah yang menjadi pusat dari agama-agama yang lain.[28] Hick dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh konsep Karl Rahner dengan konsepnya “Anonymous Christian“. Oleh karena itu ia menolak peryataan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:3).[29] Bagi Hick apa yang tercatat di dalam Injil mitos atau lagenda sifatnya termasuk juga tentang pribadi dan karya Yesus.  Hick berani menyerukan agar untuk setiap orang Kristen untuk membuka diri untuk mencari pengertian yang baru tentang Yesus di dalam sejarah dan di dalam konteks sekarang.[30]

2. Choan-Seng Song (Pluralisme)

Ia adalah teolog dari Taiwan yang beraliran Pluralisme. Bagi Song “Semua sejarah adalah sejarah Allah dan sekaligus sejarah keselamatan dan tidak ada sejarah, bahkan sejarah Cina atau Vietnam yang berada di luar sejarah Allah. Sejarah ada di dalam Allah dan kembali kepada Allah.“[31] Song tidak percaya adanya “Wahyu Umum“ dan “Wahyu Khusus“, khususnya ia menolak adanya wahyu khusus di dalam dan melalui Yesus Kristus.

Bagi Song orang Kristen yang menyembah Yesus sebagai Allah yang hidup, mereka ini sedang hidup dalam penyembahan berhala. Bagi Song Yesus sendiri tidak memahami diri-Nya sebagai Allah dan Yesus justru memberitakan tentang Allah Bapa dan bukan diri-Nya sebagai Allah.[32]

Song berusaha juga untuk membuang konsep “Sentrisme“ yang sudah berakar dalam pemahaman doktrin Kristen, bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat.[33] Ia juga tidak  percaya bahwa bahwa Israel, Yesus Kristus dan Gereja-Nya sebagai pusat sejarah keselamatan, yang dimulai dari penciptaan sampai penggenapan akhir.[34]

Song sangat dipengaruhi oleh sidang raya gereja-gereja se-dunia di Upsalla (1968) dan hal ini nyata melalui konsep-konsepnya. Song menekankan bahwa sejarah keselamatan bukan hanya menyangkut aspek keselamatan yang bersifat rohani saja, melainkan juga berkaitan dengan keselamatan manusia dari dehumanisasinya karena masalah sosial, politik dan ekonomi. Bagi Song semua sejarah umat manusia merupakan penyataan Allah.

F.    Perkembangan Teologi Religionum di Indonesia

Keberadaan negara Indonesia yang memiliki keragaman (kemajemukan) budaya, suku, bahasa dan agama. Dan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang memayungi dan mengayomi secara hukum adanya keberagaman agama ini. Sangat mendorong di dalam perkembangan teologi religionum di Indonesia.

Berkembangnya teologi religionum di Indonesia juga sangat didukung oleh para pimpinan-pimpinan gereja yang sangat mendukung gerakan teologi ini. Sebagai contoh adalah surat Gembala “Majelis Sinode Am Gereja Protestan Di Indonesia“, point ke-3, yang mengatakan:

“Operasionalisasi dalam kemajemukan keagamaan berarti mengembangkan dan membudayakan paham pluralism sebagai sikap hidup yang menghormati dan menghargai agama dan keyakinan orang lain. Pluralisme tidak identik dengan Relativisme yang menganggap semua agama sama saja. Namun Pluralisme itu mengakui dan menghargai kebenaran yang terdapat di dalam semua agama. Pilihan terhadap agama manapun adalah bagian fundamental dari Hak Azasi Manusia. Bagi kita umat Kristen, Yesus Kristus adalah mutlak! Tetapi keyakinan ini tidak harus membuat kita menutup diri terhadap Kemahakuasaan TUHAN Allah yang dapat menmpuh berbagai cara untuk menjumpai umat manusia yang diciptakan-Nya segambar dengan Dia. Dengan demikian mengakui dan menghargai kebenaran agama lain tidak berarti merelatifkan kebenaran penyataan Allah di dalam Yesus Kristus.”[35]

Isi surat gembala Majelis Sinode Am GPI di atas sangat kental nuansa “Pluralisme”. Dan hal ini hanya sedikit contoh yang ada dan nyata, belum lagi yang belum ketahuan tetapi secara diam-diam ajaran dan sikap pluralisme sudah masuk ke dalam gereja secara halus dan mulus.

Agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan keunikan agama, memang sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya toleransi. Oleh karena itulah  toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh subur di Indonesia. Namun tolerasi ini yang pada mulanya dalam bentuk dialog lintas agama. Dalam perkembangannya berubah ke arah saling menerima ajaran-ajaran dan mengakuinya sebagai kebenaran yang dari Tuhan dan membuang semua keunikan, keabsolutan, finalitas dari ajaran agama-agama lain. Dan yang lebih ekstrim lagi mereka (yang bersikap: Inklusivisme Relativisme, Akomodasi, Pluralisme) merindukan adanya gerakan untuk menghadirkan konsep agama yang baru yaitu agama bersama (Together Religions) dengan basic teologi adalah  “Teologi Religionum”.

Perkembangan gerakan teologi religionum  di Indonesia yang pesat ini bukan begitu saja berkembang. Tetapi sudah melalui proses waktu 15-20 tahun terakhir ini.  Apalagi semakin gencar-gencarnya konflik antara agama yang terjadi di Indonesia, yang menuntut adanya pertemuan-pertemuan antara para pemimpin agama di Indonesia. Membuat para pemikir kristiani untuk mencoba merefleksikan ulang tentang teologi yang tepat pada konteks Indonesia yang majemuk ini.

Adapun tokoh-tokoh nya yang mencoba mempengaruhi teologi Kristen di Indonesia adalah Victor Tanja, Eka Darmaputera, Th. Sumartana, A.A. Yewangoe, Ioanes Rahmat, dll. Dan puncak dari buah pemikiran-pemikiran mereka tentang “Teologi Religionum”  ini tertuang dalam buku “Merentas Jalan Teologi Agama-Agama di Indoensia – Theologia Religionum.” Yang disusun oleh Tim Balitbang PGI. Penulis dari buku ini bersumber dari lintas agama dan bukan hanya dari Kristen & Katholik saja, tetapi ada juga dari kalangan pemikiran Islam. Adapun di antara mereka yang sangat mendukung dan menyonsong teologi ini supaya dapat hadir di Indonesia, khususnya kalangan Kristen dan Katholik adalah Martin L. Sinaga; Th. Sumartana; B.J Banawiratma, SJ; Franz Von Magnis-Suseno, SJ; E.G Singgih; John A. Titaley. Buku ini telah diterbitkan tiga kali, tahun 1999, 2000, dan 2003. Buku ini merupakan hasil-hasil seminar agama-agama selama 15 tahun yang disimpulkan sebagai puncak pergulatan Balitbang PGI tentang toleransi beragama dan sebagai dasar dialog lintas agama.

BAB III : FINALITAS KRISTUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT

(Tinjauan Kritis Terhadap Kristologi Religionum)

A. Yesus Kristus adalah Pusat dari Kekristenan

Kekristenan adalah Kristus dan Kristus adalah pusat dari kekristenan. Mengapa demikian? Karena segala sesuatu tentang kekristenan ditentukan oleh pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bahkan seluruh kehidupan dan sifat kekristenan sampai hal-hal yang sederhana juga ditentukan oleh Yesus Kristus. Kristuslah asal mula adanya  kekristenan dan yang akan menggenapkan seluruh rencana keselamatan bagi umat manusia.

Finalitas Kristus ada pada diri-Nya sendiri dan tidak tergantung pada apapun juga, seperti teologi Kristen, Pengakuan Iman Gereja, dan Apologetika Kristen. Walaupun hal itu penting, namun finalitas Kristus melampui semuanya itu karena Dia Allah yang Omniprence, Omnipotence, Omniscience dan Immutability. Maksudnya Finalitas Kristus tidak tercipta di dalam proses waktu karena Ia adalah yang awal (Alfa) dan yang akhir (Omega).

Jati diri Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat ada karena Ia sendiri yang menyatakan-Nya. Yesus berkata :

“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?“ Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!“ Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.[36]

Jika kita mengaku sebagai seorang Kristen, tetapi salah di dalam pengenalan kita akan Yesus, maka hal ini akan berakibat fatal dalam keseluruhan hidup kita. Kefatalan ini akan tersingkap di dalam hal bersikap, berpikir, berbicara dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang Yesus ajaran. Demikianpun dengan penganut teologi religionum yang menolak finalitas Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya. Walaupun Alkitab sudah jelas-jelas menyaksikan bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat satu-satunya.  Yesus berkata,

“Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku.”[37]

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain. Yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”[38]

Kaum Universalisme, Inklusivisme, Relativisme dan Pluralisme, tetap saja menolak perkataan Yesus dan kesaksian dari Lukas ini tentang keselamatan di dalam Yesus.

Penolakan kaum Teologi Religionum terhadap finalitas karya Yesus ini nyata, seperti apa yang dikatakan oleh Stanley Samartha (Teolog India),

“All Christian approaches to other religions based on a theory of anonymous Christianity or cosmic Christology.”[39]

Dan juga apa yang dikatakan oleh Ioanes Rakhmat, yang memegang konsep sub-ordinasionisme dan menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat,

“Dengan adanya sub-ordinasionisme fungsional di dalam Injil Yohanes, penulis Injil ini (Yohanes) memandang figur “Anak Manusia” sebagai suatu “oknum” atau “hakikat” adikodrati yang lebih rendah kedudukan-Nya dari Allah, yang dalam ketaklukan-Nya kepada Allah menerima tugas pengutusan untuk turun ke dalam dunia. Kedudukan Anak Manusia yang “lebih rendah“ ini menyiratkan bahwa oknum “Anak Manusia“ itu adalah oknum atau suatu hakikat adikodrati yang terpisah dari Allah.“[40]

Apa yang tercatat di di dalam Injil Yohanes justru tidak sama dengan apa yang dipaparkan oleh Ioanes. Jadi mana yang salah, yach sudah jelas adalah Ioanes dan Alkitab itu tidak salah di dalam penyataannya. Seluruh isi dari Injil Yohanes yang mempunyai  tujuan yaitu:

“Supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.“[41]

Jadi apa yang di duga oleh Ioanes dan juga Hick bahwa Yesus Kristus bukan Tuhan dan Juruselamat menurut Injil Yohanes adalah salah dan tidak sesuai dengan maksud atau tujuan dari Yohanes sendiri sebagai penulis.

Jika kita membaca Injil Yohanes justru kita akan menemukan konsep tentang ke Allahan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Misalnya apa yang tercatat di dalam:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“[42]

“Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.“[43]

Dan lebih jauh lagi penyataan ajaran Yohanes tentang “Ego Emi“ yang diikuti predikat:

“Akulah Roti Hidup“[44]

“Akulah Terang Dunia“[45] 

“Akulah Pintu“[46]

“Akulah Gembala yang baik“[47]

“Akulah kebangkitan dan hidup“[48]

“Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup“[49]

“Akulah Pokok Anggur yang benar“[50]

Setelah kita melihat tujuh predikat “Ego Emi“ diatas, Injil Yohanes mencatat ada lagi  “Ego Emi“ yang tidak diikuti predikat, misalnya:

“Sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.“[51]

“Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa ’Akulah Dia’“[52]

Perkataan di atas menjelaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan dan Juruselamat. Jadi Yohanes tidak pernah bermaksud mengajarkan supaya orang Kristen bersikap Universalisme, Relativisme, Inklusive dan Pluralisme. Justru sebaliknya melalui Injil Yohanes kita di ajar untuk Eksklusive di dalam mempertahan kebenaran Kristus yang bersifat absolut,[53] mutlak dan Final.

B. Yesus Kristus adalah Pencipta

Firman Tuhan berkata bahwa Yesus Kristus adalah Pencipta, Pemelihara dan Penopang alam semesta ini. Untuk lebih jelasnya mari kita memperhatikan ayat-ayat yang menyatakannya:

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari   segala yang telah dijadikan.“[54]

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tertinggi.“[55]

Ayat-ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan Pecipta. Jika Yesus bukan Tuhan mengapa ia mau menerima sembah dari manusia, dimana sembah ini layak ditujukan kepada Tuhan. Yesus menerima pujian dari Tomas dan bukannya Ia menegur Tomas yang bimbang imannya. Dengan rasa hormat Tomas menyembah Yesus dan berkata:

“Ya Tuhanku dan Allahku! Kata Yesus kepadanya: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.“[56]

Yesus yang sama pula yang menolak ketika Iblis menyuruh Dia untuk menyembahnya. Yesus mengusir Iblis itu dan berkata:

“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!“[57]

Jadi jika Yesus bukan Allah tidak mungkin ia mau menerima penyembahan dari manusia dan dapat menghardik Iblis agar tunduk kepada prinsip penyembahan yang benar.

Tokoh Pluralisme Asia yaitu Choan Seng Song sangat tidak menyetujui jika orang Kristen menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena bagi dia tindakan itu adalah penyembahan kepada berhala.[58] Bagi Song Yesus sendiri bukan Tuhan dan Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya Tuhan. Saya kira Song dan tokoh-tokoh Inklusive-Relativisme (Paul F. Knitter, Lesslie Newbigin & Raimundo Pannikar, dll) yang lainnya tidak mempercayai penyataan Alkitab yang bersifat absolute (mutlak), khusus dan tidak ada salahnya dalam isinya (Infallibility). Karena sudah jelas-jelas ayat-ayat yang kita bahas di atas menunjukan Yesus Kristus itu Tuhan dan Juruselamat.

Para tokoh-tokoh teologi Religionum ini selalu mempunyai presuposisi bahwa semua sejarah dalam dunia ini adalah penyataan  Allah dan kebenaran Allah, termasuk di dalamnya aspek keselamatan. Dengan pandangan yang seperti ini mereka menganggap Yesus hanya manusia biasa yang ada dalam sejarah dan tidak unik. Karena bagi mereka Yesus sama dengan tokoh-tokoh dari pendiri agama yang lain.  Mereka lupa bahwa Yesus Kristus itu adalah Allah Pencipta.

Kita percaya bahwa Allah ada di dalam sejarah dan diatas sejarah. Yang mengontrol sejarah dan yang melampaui sejarah. Tokoh-tokoh teologi religionum tidak memisahkan antara sejarah dunia sebagai bentuk Kronos dan sejarah kebenaran sebagai penyataan Allah yang bersifat khusus sebagai bentuk Kairos.  Jadi bagi mereka semua sejarah di dalam proses waktu keberadaannya sama dan tidak ada yang unik. Dengan demikian mereka juga tidak dapat membedakan mana tindakan Iblis dan juga tindakan Allah, bagi mereka semuanya ini dapat campur aduk.

Yesus Kristus sudah ada sebelum dunia dijadikan dan sebelum Ia turun ke dunia menjadi serupa dengan manusia. Kristus tidak pernah “menjadi” Anak Allah, pada saat kelahiran-Nya di dunia dan pada saat Ia hidup di dunia ini (Inkarnasi). Pada mulanya “Dahulu” sampai “Sekarang” Yesus Kristus tetap adalah Anak Kekal Allah, yang ada dan kekal bersama-sama dengan Allah Bapa. Yesus Kristus berani berkata bahwa:

“Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”[59]

Perkataan Yesus ini tidak mungkin bohong, karena apa yang dilakukan Yesus di dalam karya-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat dapat membuktikan bahwa ia bukan penipu (pembohong) dan juga bukan orang yang berkata-kata seperti orang gila saja.

C.   Yesus Kristus adalah Allah

Menurut John Hick dan Paul F. Knitter Yesus bukanlah Anak Allah dan Mesias. Karena menurut mereka Yesus tidak mengatakan hal itu secara langsung. Jika ada orang-orang Kristen yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Kristus, dan oknum ke dua dari Allah Tritunggal. Hal ini dikarenakan kesalahan para penulis Injil yang telah menambahkannya menurut iman dan pemikiran mereka sendiri tentang Yesus. Jadi bagi mereka semuanya itu hanya mitos dari para penulis Injil. [60] Pandangan mereka ini sangat tidak sesuai dengan apa yang Yesus katakan sendiri, siapa Dia (Yesus) sesungguhnya.

Di dalam Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah, hal itu disampaikannya dengan jelas dan tuntas. Yesus berkata:

“Aku dan Bapa adalah satu”[61]

Perkataan Yesus ini merupakan perkataan yang revolusioner pada saat itu karena tidak pernah mereka mendengar perkataan yang seperti itu. Sehingga pada waktu para pemimpin agama mendengar perkataan ini. Yesus dianggap menghujat karena Ia menganggap diri-Nya Anak Allah.[62] Ketika persidangan berlangsung Imam besar  bertanya kepada Yesus,

“Katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak“

Jawab Yesus, “Engkau telah mengatakannya.“[63]

Yesus berkata dengan benar bahwa Ia adalah Allah, tetapi penyataan Yesus ini tidak dapat diterima oleh para pemimpin agama pada saat itu. Dan berdasarkan kalimat Yesus ini mereka sepakat untuk menyalibkan Yesus. Ketika Yesus dipersalahkan, Ia tetap menghadapinya dengan keanggunan dan kesabaran. Tindakan Yesus ini menunjukan  bahwa Ia merupakan pribadi yang agung dan memiliki mutual hidup yang berbeda dari manusia biasa. Jikalau Yesus bukan Allah bagaimana Ia dapat melalui semuanya itu dengan baik dan mendoakan orang-orang yang menyalibkan diri-Nya di kayu salib.

Keunikan[64] Yesus Kristus sebagai Tuhan, juga Ia nyatakan melalui hak istimewa dan wewenang Allah yang Ia miliki, yaitu:

1.      Yesus mengatakan bahwa Ia mempunyai wewenang untuk mengampuni dosa.[65]

2.      Yesus juga berkata, bahwa Ia akan datang ditengah-tengah awan-awan di langit, duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa.[66]

3.      Yesus juga berkata bahwa “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.“[67]

4.      Yesus juga memiliki wewenang dan kuasa untuk membangkitkan orang mati.[68]

Yesus juga memiliki sifat-sifat yang hanya Allah miliki sendiri. Misalnya, Yesus menyatakan bahwa Ia itu Mahakuasa dan memiliki segala kuasa.[69] Sebagai contoh:

1.      Di dalam kehidupan-Nya, Yesus mendemonstrasikan kuasa-Nya atas alam dan meneduhkan angin rebut.[70]

2.      Mengubah air menjadi anggur.[71]

3.      Berkuasa atas penyakit tubuh.[72]

4.      Berkuasa atas dunia roh jahat.[73]

5.      Berkuasa atas kematian dengan membangkitkan Lazarus dari kubur.[74]

6.      Mempunyai kuasa atas segala penguasa di udara.[75]

7.      Yesus Mahatahu dengan mengetahui segala sesuatu, apa yang ada di dalam pikiran manusia sebelum mereka mengucapkannya.[76]

8.      Yesus Mahahadir dan berjanji untuk menyertai semua murid-Nya sampai akhir jaman.[77]

D.   Yesus Kristus adalah Manusia

Yesus bukan saja sungguh-sungguh Allah (100%) tetapi juga sungguh-sungguh manusia (100%). Pemahaman tentang pribadi Kristus yang utuh ini (Kristologi) akan membuat kita sadar dan bangga punya Allah seperti Yesus. Jika Yesus bukan manusia yang sungguh-sungguh, bagaimana Ia dapat menebus dosa-dosa kita melalui diri-Nya sebagai pengganti (Redemtion by substitutions) di kayu Salib. Dan bagaimana Yesus dapat menjadi Imam Besar yang dapat menghibur dan menguatkan kita. Karena Ia sudah pernah mengalami apa yang kita alami sebagai manusia dan oleh karena itu Ia sangat mengerti setiap pergumulan kita dan berempati kepada kita, sebagai anak-anak-Nya. Firman Tuhan berkata:

“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.“[78]

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”[79]

Walaupun keberadaan Yesus di dalam kandungan Maria hadir secara supranatural, tetapi proses persalinannya normal sebagaimana seorang anak lahir dari rahim ibunya.[80] Yesus sebagai anak yang tumbuh dengan normal juga mengalami pertumbuhan secara jasmani dan mental. Firman Tuhan berkata:

“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat…Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”[81]

Yesus juga memiliki tubuh dan jiwa, sama seperti layaknya manusia. Yesus dapat merasakan lapar[82] dan haus.[83] Yesus dapat mengalami kelelahan karena perjalanan yang jauh,[84] Ia memerlukan tidur.[85] Yesus memiliki belas kasihan dan kasih.[86] Yesus dapat marah kepada orang-orang yang menajiskan rumah Bapa-Nya[87] dan kepada mereka yang menolak kebenaran Allah.[88] Yesus dapat menangis dan bersedih. Puncaknya pada waktu Ia mengalami penderitaan dan jiwanya mengalami kesusahkan yang luar biasa ketika di kayu Salib.[89]

Alkitab mencatat 72 kali di dalam empat Injil Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah. Pada waktu Yesus menyebut dirinya Anak Allah, saat yang bersamaan Ia juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah, kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Kemanusian dan keallahan Yesus tidak saling bercampur, walaupun ada di dalam keberadaannya. Oleh karena itulah kemanusiaan Yesus itu sangat unik dan sempurna. Mengapa saya katakan demikian, karena sebagai manusia,

“Yesus tidak mempunyai dosa keturunan dan juga tidak pernah berbuat dosa“

“Yesus tidak pernah memberikan persembahan korban dan

meminta pengampunan dosa bagi diri-Nya sendiri“

“Yesus mengajarkan supaya setiap orang bertobat dan perlu mengalami kelahiran kembali,

kecuali diri-Nya tidak“

“Yesus menantang orang-orang untuk menunjukan dosa sekecil apapun yang pernah Ia lakukan,

jika memang ada“

Jadi kemanusia Yesus itu sungguh-sungguh (100%), demikian juga dengan keallahan-Nya (100%). Ke dua esensi ini harus kita percayai dan kita pertahankan dari serang-serangan “Defective Theology“ termasuk juga teologi religionum. Dan kita juga tidak perlu memperdebatkan manakah dari ke dua tabiat Yesus ini yang lebih besar atau lebih super dan akhirnya mengorbankan keunikan jati diri Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.[90]

John Hick sebagai tokoh teologi religionum menolak konsep inkarnasi Yesus datang ke dunia sebagai manusia. Di dalam bukunya “The Myth of God Incarnate“[91] ia percaya bahwa peristiwa inkarnasi Yesus adalah “mitos”. Setelah tidak puas dengan pemikirannya ini, lalu ia mengeluarkan buku baru yaitu “The Metaphor of God Incarnate”.[92] Di dalam buku ini Hick berubah konsepnya tentang “inkarnasi sebagai mitos dan ke inkarnasi sebagai metaphor”. Semua ini dilakukan untuk mengkritik kaum eksklusif yang percaya peristiwa inkarnasi Yesus adalah sebagai peristiwa supranatural. Bagi Hick keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga tidak perlu pengampunan dari Yesus. Karena Yesus hanya manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa. Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dimana kita diminta untuk meminta pengampunan kepada Bapa dan juga tentang perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara.[93] Bagi Hick semuanya menjelaskan bahwa pusat dari kekristen dan keselamatan adalah Bapa dan bukan Kristus.

Hick tidak melihat teks dalam konteks yang tepat di dalam keseluruhan Alkitab, sehingga bangunan Kristologinya berantakan dan bersifat partsial. Hick tidak melihat Alkitab secara menyeluruh tentang Kristologi.  Sebagai contoh Alkitab berkata:

“Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”[94]

“Hai anakKu, dosamu sudah diampuni…..Supaya kamu tahu , bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”[95]

Ayat-ayat di atas dengan jelas mengatakan bahwa konsep pengampunan harus melalui darah dan Yesus telah mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Dan Yesus pada waktu ia hidup juga memiliki hak prerogative Allah Bapa untuk mengampuni dan menyelamatkan.

Jadi dalam bagian ini baik Hick dan tokoh-tokoh teologi religionum yang lain tidak konsisten di dalam membaca dan memahami teks secara keseluruhan. Mereka berani mengambil teks sebagian-sebagian demi mendukung pendapat mereka yang sesat dan ini sangat tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika.

E.   Yesus Kristus adalah Juruselamat

Jikalau Yesus bukan sepenuhnya Allah, bagaimana mungkin Ia dapat menjadi Juruselamat bagi kita semua. Dan jika Ia adalah Allah tetapi tidak melakukan sesuatu untuk menebus dosa-dosa kita, maka Ia juga bukan Juruselamat bagi kita. Alkitab menyaksikan bahwa Yesus menjadi Juruselamat karena Ia melakukan pekerjaan penebusan bagi dosa-dosa kita dan Yesus dapat memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat kita semua. Perlu saya ingatkan Yesus bukan hanya dapat menyelamatkan manusia berdosa, tetapi Ia sudah menyelamatkan manusia berdosa.

Kesempurnaan hidup Yesus merupakan suatu keharusan yang mutlak sebagai pra-syarat sebagai Tuhan dan Juruselamat:

1.      Kesucian hidup yang sempurna. Yesus berkata “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?”[96] dan musuh-musuh-Nya tidak membuktikan. Hal ini menunjukkan Yesus sungguh-sungguh manusia yang sempurna. Di dalam PL semua korban yang dipersembahkan harus baik dan tak bercacat cela. Ini sebagai syarat mutlak di dalam pengampunan. Jika demikian Yesus memenuhi syarat sebagai korban penghapus dosa-dosa umat manusia.

2.      Ketaatan yang sempurna. Setelah Adam pertama gagal di dalam menjalankan ketaatannya, maka Yesus sebagai Adam kedua dapat membuktikan bahwa Ia sempurna di dalam menjalankan ke taatanya kepda Allah.[97]

3.      Pengantara dan Imam Besar yang sempurna. Keterhilangan dan keterjualan manusia ke  dalam dosa, membuat manusia terbelenggu dengan dosa. Hanya Yesus yang dapat meyelesaikan problema keberdosaan manusia ini, dengan jalan Ia sendiri menjadi penebus dan pengantara antara manusia yang berdosa kepada Allah yang suci. Yesus adalah Allah yang mengerti pergumulan dan penderitaan dari anak-anak-Nya dan Yesus merindukan supaya anak-anak-Nya ini selalu hidup berkenan kepada Allah dan memuliakan Allah dalam keseluruhan hidupnya.[98]

Dinamika hidup berkemenangan di dalam kekristenan karena Yesus yang telah mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Yesus sendiri yang menubuatkan tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.[99] Kematian Yesus yang pro-aktif dan kebangkitan-Nya yang nyata membuktikan bahwa Ia sungguh Allah yang layak menjadi Juruselamat. Tidak ada pemimpin agama atau pendiri-pendiri agama yang seperti Yesus, dimana Ia tetap hidup menyertai pengikut-Nya.

Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa apa yang tercatat di dalam Injil dan keseluruhan  Alkitab tentang Kristus itu bukan “mitos dan metaphor” seperti apa yang dipercayai oleh tokoh-tokoh teologi religionum. Kebangkitan Yesus memberi kepastian bahwa yang kita percayai tentang Yesus di dalam sejarah Alkitab, sungguh-sungguh benar dan bukan rekayasa dari para penulis Alkitab, tetapi sungguh-sungguh inspirasi dari Allah. Paulus berkata,

“Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.”[100]

Kepastian keselamatan dan pengampunan yang di dasarkan pada kubur yang kosong dan Kristus yang telah bangkit dari kematian. Membuktikan apa yang Yesus katakan mengenai seluruh hidup dan karya-Nya adalah sungguh-sungguh benar, bukan mitos dan hal itu menyatakan Yesus adalah Tuhan.

Tuhan Yesus bukan saja menubuatkan kematian-Nya dan kebangkitan-Nya saja, tetapi juga mengenai kenaikan-Nya ke sorga dan pemuliaan-Nya.[101] Para murid Yesus dapat melihat peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.[102] Setelah naik ke sorga, Allah Bapa memberikan kepada-Nya tempat yang mulia di sorga. Allah telah,

“mendudukkan Dia disebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut.”[103]

Kristus mempunyai kedudukan yang berkuasa dan mulia di sorga. Kenaikkan-Nya ke sorga dan pemuliaan-Nya sangat mendukung seluruh karya penebusan-Nya sebagai Juruselamat satu-satunya. Kita percaya bahwa Kristus sudah pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita di sorga.[104]

BAB VI : KESIMPULAN

1.  Gereja secara umum dan jemaat tidak menyadari tentang bahayanya ajaran teologi religionum ini. Mengapa sangat berbahaya karena teologi ini dapat melahirkan bentuk agama yang baru dan termasuk membuang segala keunikan iman Kristiani yang kita percayai.

2.  Gereja tidak berani mengkritiskan ajaran teologi ini, sebagai bentuk ajaran yang salah dan menyesatkan (Defective Theology). Hal ini dapat terjadi karena banyak gereja yang sudah tidak memiliki spirit lagi di dalam menegakan kebenaran Firman Tuhan dan akhirnya gereja menjadi gereja yang kompromi dan toleransi dengan semua ajaran agama-agama lain. Dengan kata lain gereja sudah kehilangan jati dirinya dan fungsinya sebagai alat Tuhan. Hal ini bukan berarti semua gereja telah sakit, saya percaya masih ada gereja-gereja  yang sehat di dalam keberadaan dan pertumbuhannya.

3.  Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri (khususnya dari kaum theology Liberal). Gerakan ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti Allah tidak akan turut campur.

4.   Kesulitan kita di dalam menghadapi kaum “Teologi Religionum” secara umum adalah:

A.   Secara Antropologis mereka menyakini bahwa setiap manusia adalah sebagai insan yang beragama dan mereka berhak untuk membangun dimensi religiositas yang unik secara sendiri-sendiri.

B.   Secara Theologis semua system agama di dunia ini, besar atau kecil, yang amat primitif, sederhana maupun yang telah berkembang, maju dan komplek, semuanya mengakui adanya keselamatan menurut jalan mereka masing-masing.

Dan setiap agama yang sudah mapan umumnya mempunyai Kitab Sucinya masing-masing sebagai perwujudan baku dari wahyu yang mereka terima dari “Realitas Ilahi”. Orang Muslim mempunyai Al Quran dan orang Hindu memiliki Kitab Weda dan orang Budha memiliki Kitab Tripitaka, dll.

C.   Secara Filosofi setiap para penganut agama-agama tertentu secara umum pandangannya sudah dipengaruhi oleh konsep nilai-nilai keimanan yang mereka yakini itu benar. Sehingga hal ini mempengaruhi pandangan hidupnya dan perilakunya sehari-hari. Terkadang phenomena ini dapat menjadi lapisan kebudayaan yang menutupi lapisan yang lebih dalam lagi, yaitu persoalan agama itu sendiri.

Perbandingan Teologi Liberal, Teologi Religionum dan Teologi Reformed

No.

Pembahasan

Teologi Liberal

Teologi Religionum

Teologi Reformed

1.

Alkitab

a.

Alkitab (Penyataan)

Bukan Wahyu Allah secara full (Limited)

Bukan Wahyu Umum & juga Wahyu Khusus

Sebagai Wahyu Allah secara khusus

b.

Sumber

Dari Allah, Manusia & Setan

Produk sejarah secara umum (keselamatan)

100% dari Allah (Inspirasi Allah melalui para penulis Alkitab)

c.

Sifat

Dapat salah (Mitos)

Interpretasi para penulis saja (Methapore-rekaan)

Unik, Final

2.

Allah

a.

Hakekat-Nya

Umum: bagi semua orang (Universal)

Umum: ada dalam semua agama

Khusus & tidak pernah berubah

b.

Sifat-Nya: Kasih & Keadilan

Kasih yang lebih menonjol

Kasih bagi semua orang

Kasih & keadilan-Nya seimbang

c.

Penyataan-Nya

Ada di dalam sejarah

Pusat Sejarah (keselamatan)

Progresif di dalam Trinitas

3.

Kristus

b.

Juruselamat

Bukan Juruselamat melainkan Bapa

Salah satu Juruselamat

Satu-satunya Juruselamat

c.

Pengampunan

Bukan sumber pengampunan

Bukan sumber pengampunan

Sumber pengampunan dosa

4.

Penginjilan

a.

Pusat

Manusia

Manusia

Kristus

b.

Berita

Sosial Gospel

Freedom of Dehumanisation

Keberdosaan manusia, Pengampunan melalui Kristus dan Keselamatan di dalam Kristus

5.

Theologi

a.

Pusat

Allah Bapa

Allah Bapa

Kristus

b.

Berita

Toleransi Agama

Teologi Agama-agama

Allah Tritunggal di dalam fungsi & hakekat-Nya, dll.

Salam dan Doa

Pdt. Tumpal H. Hutahaean.



[1]. Stevri I. Lumintang, Theologia Abu-abu, ed., (Malang: Gandum Mas, 2004), hlm. 14

[2]. Paul F. Knitter, No Other Name (New York: Orbis Books, 1985), hlm. 37

[3]. Mengapa saya kata bahwa teologi Religionum ini merupakan “Gerakan” karena mereka sudah memiliki teologi  dan sistem hermeneutika sendiri. Di Indonesia mereka memakai kendaraan “Tim Balitbang PGI” secara intitusi dan para pimpinan Gereja melalui seminar-seminar yang mereka adakan. Dan tidak berhenti disitu saja mereka juga giat menyajikan buku-buku yang mendukung seluruh pemikiran mereka. Adapun beberapa buku yang sangat mendukung adanya gerakan ini adalah: 

a. Tim Balitbang PGI, Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia – Theologia Religionum (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003). Tokoh yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pemikiran teologi religionum adalah Martin Sinaga dan Th. Sumartana, dll.

b. Soetarman SP, Weinata Sairin, Ioanes Rakhmat, Fundamentalis, Agama-agama & Teknologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

c. Victor I, Tanja, Spritualitas, Pluralisme & Pembangunan di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

d. World Council of Churches, trans. Eka Darmaputera, Iman sesamaku & imanku (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Buku ini dipakai untuk memperkaya penghayatan teologi kita melalui  “Dialog antar Agama“.

e. Leslie Newbigin, Injil Dalam Masyrakat Majemuk (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1999). Pemikiran dia sangat jelas “Pluralism-Inklusif“ dalam bab 13 & 14.

f. A.A. Yewangoe, Agama-agama & Kerukunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001). Penulis sekarang menjabat sebagai ketua PGI dan pemikiran beliau sangat dipengaruhi oleh pemikiran Paul F. Knitter.

g. Paul F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), dengan kata pengantar: HansKung

h. Olaf H. Schumann, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), dengan pengantar: Prof. DR. Komaruddin Hidayat (Salah satu pemikir Islam yang modern).

i. Asnath N. Natar, Cahyana E. Purnama, Karmito, Teologi Operatif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004).

j. John Hick, ed, The Myth of God Incarnate (London: SCM Press, 1977) & John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology in a Pluralistic Age (Louisville: Wesminster Press, 1993).

k. Dll.

[4] Barclay M. Newman, A Consice Greek-English Dictionary of the New Testament (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, …), hlm.100.

[5]. D.F. Wright, “Theology,” New Dictionary of Theology, ed. by Sinclair B. Ferguson (Leicester: Inter-Varsity Press, 1994), hlm. 681

[6]. Theology yang benar dibangun dengan prinsip “The Christology from Above” yaitu teologi yang dibangun dari atas ke bawah. Berteologi dengan cara ini sangat mementingkan teks dibandingkan dengan konteks dan bersifat ontological.

[7]. Th. Sumartana, “Theologi Religionum,” dalam Merentas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hlm. 23

[8]. Richard S. Hess, Pluralisme agama di Israel Kuno “Satu Allah Satu Tuhan” (Jakarta: BPK Gunung Mulai, 1997), hlm. 32.

[9].  Pantheon Greko Romawi artinya pemujaan yang bebas terhadap banyak dewa.

[10]. Tim Dowley (ed), The History of Christianity (Oxford: A Lion Book, 1977), hlm. 21.

[11]. N.T. Wright, Universalism “New Dictionary of Theology”, Sinclair B. Ferguson (ed) , hlm. 702

[12].  J.B. Webster, Friedrich Schleiermacher “ New Dictionary of Theology“, hlm. 619.

[13].  Tony Lane, Runtut Pijar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm 275.

[14].  Karl Rahner, Christianity and The Non Christian Religions, hlm 63.

[15]. Paul F. Knitter, No Other Name? (London: SCM 1985), hlm. 120.

[16]. Emanuel Gerrit Singgih, Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Inonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 25

[17]. Hans Kung, Christianity and The World Religions (Garden City, New York: Dobleday, 1986).

[18]. Hans Kung , Theology of Third Millenium (Garden City, New York: Doubleday, 1987)

[19]. ibid, hlm. 227-256.

[20]. Nietzsche juga mengkritik apa yang diajarkan Alkitab tentang etika moral. Bagi dia etika Kristen ini membuat kemandegan kemanusiaan dan ketidakbebasan manusia (lihat, bukunya Nietzsche, Ecce Homo: Lihatlah Dia, terj., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

[21]. Istilah kata “Relative” ini timbul jika ada sesuatu yang dapat “dihubungkan dan diperbandingkan“ antara satu dengan yang lainnya. Relativisme percaya tidak ada kemutlakan dan keunikan dalam satu kebenaran. Jadi bagi mereka kebenaran itu sifatnya relatif. Kebenaran dapat disebut kebenaran karena tergantung “kebudayaan“, “lingkungan“ dan “orang-orang dalam yang mengiterprestasikan“. Jadi maksudnya sesuatu kebenaran atau ajaran belum tentu benar jika masuk dalam kebudayaan, lingkungan yang sesudah berubah. Iman Kristen sangat menolak pandangan ini.

[22]. Raimundo Panikkar, Dialog Intra Religius (Yogyakarta: Kanisius, 1992)

[23]. Raimundo Panikkar, The unknown Christ of Hinduism, Asia Trading Corporation (Bangelore, 1992)

[24].  Victor I. Tanja, Spritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia,…hlm. 123-124.

[25]. Roger Hedlund, “Document Seventeen, Section II of the Uppasala Report”, Roots of the Great Debate in Mission (Bangalore: Theological Book Trust, 1997), hlm. 243. 

[26]. Ioanes Rakhmat, Pluralitas Agama, Dialog dan Perspektif, ….hlm. 70. dan juga, Olaf Schumann, Dialog antar Umat Beragama, Di manakah kita berada kini? (Jakarta: LPS-DGI, 1980), hlm. 57.

[27]. Bong Rin Ro, “Salvation In Asia Contexts,” Salvation, Some Asian Perspective, ed by Ken Gnanakan (Bangalore: Asia Theological Association, 1992), hlm. 20.

Ken Gnanakan di dalam bukunya “Pluralist Predicament” (Banglore: Theological Trust Book, 1992). Ia melihat tiga sikap pendekatan gereja di dalam memahami agama-agama lain. Pertama, Eksklusivisme; Kedua, Inklusif-Sinkretisme; Ketiga, Pluralisme-Relativisme.

[28]. John Hick, Christianity and Other Religions (Philadelphia: Fortress, 1980), hlm. 171.

[29]. John Hick, Philosophy of Religion (Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1985), hlm. 35.

[30]. John Hick, The Metaphore of God Incarnat: Christology in Pluralistic Age (Philadelphia: Westminster/John Knox, 1993), hlm. 163.

[31]. Choan Seng Song, The Compassionate God, ….. hlm. 57.

[32]. Choan Seng Song, Jesus and the Reign of God (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 31.

[33].  Choan Seng Song, The Compassionate God, ….. hlm. 16.

[34].  Ibid., hlm. 25.

[35]. Surat Gembala “Majelis Sinode Am Gereja Protestan di Indonesia”, yang bersidang di Jemaat GPIB Paulus dari tgl 30 Juli sampai 2 Agustus 2005, sungguh menggumuli dan membahas tentang berbagai persoalan yang menjadi kelemahan serta tantangan Gereja dalam pelayanannya ke masa depan….Persoalan yang krusial adalah menyangkut kinerja dan partisipasi Gereja Prostestan di Indonesia di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia dalam krisis multidimensional.

[36]. Matius 16:15-17                                                                                                                                                         

[37]. Yohanes 14:6

[38]. Kisah Para Rasul 4:12

[39]. Paul F. Knitter, No Other Name? …, hlm 158.

[40]. Ioanes Rakhmat, “Kristologi Anak Manusia,” di dalam Injil Yohanes dan Monotheisme Yahudi, Dalam kumpulan Allah Kumpulan Karangan dalam Rangka Dies Natalis STT Jakarta ke-60, 1990, hlm. 63.  Ioanes juga setuju dengan dengan konsep “Teosentris” dan bukan “Christosentris”. Dalam hal ini ia sama konsepnya dengan John Hick. Hick juga menganggap Yesus di dalam Injil adalah Mitos dan akhirnya berubah menjadi “inkarnasi Metafor“.

[41]. Yohanes 20:30-31

[42]. Yohanes 3:16

[43]. Yohanes 14:6

[44]. Yohanes 6:35,48

[45]. Yohanes 8:12, 9:5

[46]. Yohanes 10:7

[47]. Yohanes 10:11

[48]. Yohanes 11:25

[49]. Yohanes 14:6

[50]. Yohanes 15:1

[51]. Yohanes 8:24

[52]. Yohanes 8:28 band. Yes 43:10

[53]. Kata “Absolute“ itu berasal dari bahasa Latin “Ab-Solvere“ artinya “dibebaskan dari“. Jadi keberadaan Yesus itu tidak bergantung kepada interprestasi  manusia di dalam sejarah dan juga tanggapan-tanggapan agama-agama lain.

[54]. Yohanes 1:3

[55]. Ibrani 1:3

[56]. Yohanes 20:28-29

[57]. Matius 4:10 (band. Ulangan 6:13 “Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.”)

[58].Choan Seng Song, Jesus and the Reign of God (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 31.

[59]. Yohanes 8:58

[60]. Paul F. Knitter, No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions (Maryknoll: Orbis Books, 1985)

[61]. Yohanes 10:30

[62]. Yohanes 19:7

[63]. Matius 26:63-64

[64]. Kata “Unik” berasal dari kata bahasa Inggris “Unique” yang artinya “berbeda, tidak sama tetapi memiliki kualitas dari yang lainnya.”

[65]. Markus 2:10

[66]. Markus 16:42

[67]. Yohanes 5:22

[68]. Yohanes 6:39,40,54; 10:17,18)

[69]. Matius 28:18

[70]. Markus 4:39

[71]. Yohanes 2:7-11

[72]. Markus 3:10

[73]. Lukas 4:35

[74]. Yohanes 11:43-44

[75]. Efesus 1:20-22

[76]. Markus 2:8 & Yohanes 2:25

[77]. Matius 28:20.

[78]. Ibrani 2:18

[79]. Ibrani 4:15

[80]. Matius 1:18 (band. Kej 3:15 & Ibra 2:16)

[81]. Lukas 2:40,52

[82]. Matius 4:2; 8:2

[83]. Yohanes 19:28

[84]. Yohanes 4:6

[85]. Matius 8:24

[86]. Matius 9:36

[87]. Matius 21:13

[88]. Markus 3:5

[89]. Yohanes 12:27

[90]. Sebelum teologi religionum tampil, di dalam sejarah gereja sudah tercatat ada aliran-aliran teologi yang sesat, seperti:

a.        Kristologi Ebionitisme: Menyangkal ke allahan Yesus. Bagi mereka Yesus hanya seperti manusia biasa, walaupun dikandung secara supranatural. Jadi Yesus hanya mempunyai hubungan yang istimewa saja dengan Allah, secara khusus melalui peristiwa baptisan Yesus. Konsep ini sangat mempengaruhi pemikiran C.S. Song dan Paul F. Knitter, dll.

b.        Kristologi Docetisme: Menyangkal kemanusiaan Yesus yang sungguh-sungguh. Mereka mengatakan bahwa tubuh Yesus itu sifatnya “maya” tetapi nampak seperti manusia. Bagi mereka tubuh ini jahat. Mereka percaya bahwa kehidupan Yesus di dunia ini hanyalah ilusi saja.

c.        Kristologi Arius-Unitarianisme: Yesus itu dicipta oleh Bapa, oleh karena itu kedudukan Yesus lebih rendah dari Bapa. Pengaruh ajaran ini pengaruhi konsepnya Ioanes Rakmat dan John Hick, dll.

d.       Kristologi Appollinarius: Yesus tidak sepenuhnya manusia karena keberadaan tubuh dan jiwa-Nya ditempati oleh wujud Ilahi-Nya. Aliran ini dipengaruhi oleh Helenistik dan sudah dianggap sesat oleh Sidang Konstantinopel pada tahun 381.

e.        Kristologi Nestorius: Mereka menolak persatuan Kristus di dalam dua tabiat Ilahi dan Insani. Bagi mereka persatuannya hanya dari aspek moral saja dan bukan bersifat organis atau pribadi. Mereka percaya di dalam tubuh Yesus ada dua pribadi dan bukan dua tabiat dalam satu tubuh.

f.         Kristologi Eutychus: Mereka percaya persatuan ke dua tabiat Kristus itu bersifat campur antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka percaya bahwa tabiat insani Yesus itu diserap oleh tabiat ilahi-Nya dan mengakibatnya tabiat ilahi-Nya mengalami perubahan. Aliran ini sudah dianggap bidat pada Sidang di Chalcedon pada tahun 451.

[91]. John Hick, ed, The Myth of God Incarnate (London: SCM Press, 1977)

[92]. John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology in a Pluralistic Age (Louisville: Westminster Press, 1993)

[93]. Ibid., hlm 127.

[94]. Ibrani 9:22

[95]. Markus 2:5,10

[96]. Yohanes 8:46

[97]. Roma 5:19; Ibrani 10:6,7

[98]. Ibrani 2:11-18

[99]. Markus 8:31; 10:32-34

[100]. 1 Korintus 15:17

[101]. Yohanes 6:62; 17:1

[102]. KPR 1:9-11

[103]. Efesus 1:20-21

[104]. Yohanes 14:3-4

UMR (UPAH MINIMUM REGIONAL) : HAK ATAU ANUGERAH ? (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, March 10th, 2006

UMR : HAK atau anugerah

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, s.th., m.div.

UMR (Upah Minimum Regional) seringkali menjadi anjang keributan antara pengusaha dan pekerja. Hal ini terjadi karena masalah UMR hanya dilihat dari satu sisi yang, - saya pikir - , menjadi pola pikir dasar dari penetapan UMR itu, yaitu bagaimana seseorang bisa hidup dengan gaji yang diperoleh. Pemikiran ini tidak salah, tetapi pemikiran ini belum selesai. Mengapa? Karena isu masalah UMR hanya menyentuh sebagian dari seluruh pekerja atau dunia kerja.

Mengapa orang-orang yang duduk menjadi staf atau bahkan manager tidak pernah ribut dengan UMR atau bertanya berapa UMR tahun ini dikotanya? Karena gajinya sudah jauh di atas UMR. Mengapa orang-orang ini bisa mendapatkan penghasilan di atas UMR, bahkan berpuluh kali lipat dari nilai UMR? Jika hari ini UMR ditetapkan 700 ribu rupiah, maka ada manager yang bergaji 7 juta rupiah, bahkan 70 juga rupiah. Disini kita perlu mengerti hakekat UMR, sehingga para pengambil kebijakan dan juga para orang-orang yang terkait dengan masalah UMR meletakkan problematika UMR di posisi yang tepat. Jika hakekat UMR bisa dikembalikan ke posisinya yang tepat, maka setiap pengambilan keputusan dan landasan pijak yang dipakai akan menjadi kokoh dan tidak memberikan kesempatan untuk terjadinya keributan atau polemik masalah UMR. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. UMR terjadi karena kualitas kerja yang tak memadai dengan kualitas hidup

Seorang yang bekerja akan mendapat upahnya. Yang tidak bekerja tidak usah makan. Demikian kebenaran dasar hidup. Orang yang tidak bekerja tetapi mau menikmati hidup, ia akan menjadi parasit bagi sesamanya. Jika negara dipenuhi orang seperti ini, maka negara itu akan celaka, bangsa itu akan menjadi bangsa yang tidak adil dan miskin, karena orang yang bekerja dengan susah payah, hasilnya disedot oleh mereka yang tidak bekerja tetapi mau hidup nikmat. Orang yang bekerja baik, dia mendapat upah yang baik pula. Jika satu perusahaan tidak mau memberikan upah yang baik kepadanya, maka orang itu akan "dibajak" dan ditarik ke perusahaan lain yang bisa menghargai dia lebih. Maka semakin orang itu berkualitas, semakin tinggi penghasilan yang didapat, dan tentu semakin baik juga kualitas hidupnya. Seseorang yang mempunyai penghasilan di atas 50 juta rupiah, tentulah secara standard ia akan berkendaraan mobil pribadi ke tempat kerja, berbeda dengan dia yang bergaji 1 juta rupiah. Yang berpenghasilan 1 juta rupiah sulit untuk berkendaraan mobil pribadi, karena penghasilannya tidak mampu menutup biaya operasi dan perawatan mobilnya. Demikian juga dengan pola makan, fasilitas studi, kemampuan menikmati berbagai kemudahan dan kemewahan hidup tertentu. Orang yang berpenghasilan 50 juta rupiah, pasti memberikan kualitas kerja yang memadai dengan penghasilannya tersebut (kecuali ia melakukan kejahatan.)

UMR terjadi karena kualitas kerja yang dilakukan ternyata tidak memadai jika diberlakukan hukum umum di atas. Artinya, kualitas kerja itu hanya menghasilkan nilai kerja mungkin separuh UMR atau sepertiga UMR. Maka kalau dia dibayar sesuai kapasitasnya, ia tidak bisa hidup yang paling sederhana. Jadi dengan kata lain, orang-orang yang masih memerlukan UMR adalah orang-orang yang secara mendasar kualitas kerjanya tidak mencapai kualitas yang dituntut oleh pemberi kerja untuk mendapatkan penghasilan seperti yang diinginkan. Boleh saja seorang buruh meminta gaji 2 juta rupiah, asal saja ia mempunyai kualitas kerja di atas atau memadai dengan itu. Dan mereka yang memang sudah memadai dengan itu, perusahaan memang membayarnya dengan nilai tersebut, dan kalau tidak diperlakukan demikian, orang ini akan ditarik oleh perusahaan lain yang lebih menghargai hasil kerjanya. Maka, untuk buruh mau meningkatkan penghasilannya, yang harus diupayakan adalah peningkatan kualitas kerjanya. Ini yang seringkali tidak dikerjakan dan diperjuangkan sekeras perjuangan UMR. Banyak buruh mau UMR tinggi, tetapi mereka tidak berjuang bagaimana kualitas kerja mereka melampaui UMR sehingga ia menjadi "rebutan" perusahaan yang mau membayar dia di atas UMR. Ini yang harus diperjuangkan oleh serikat buruh dan semua instansi terkait, khususnya Departemen Tenaga Kerja. Mentalitas kerja perlu diubah, bukan mau mempunyai kualitas hidup di atas kualitas kerja, tetapi mempunyai kualitas kerja di atas kualitas hidup. Jika rakyat mempunyai kualitas kerja di atas kualitas hidup, maka rakyat itu akan makmur dan maju. Maka negara akan berubah dan menjadi negara yang maju.

2. UMR terjadi karena hak lebih dibicarakan ketimbang kewajiban

Perdebatan dan pergunjingan UMR seringkali lebih kepada seberapa saya berhak hidup layak. Lalu mereka menghitung berapa biaya transport, berapa uang makan, pakaian, sekolah dll. Seluruh tindakan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi ini seharusnya bukan isu utama. Isu utama adalah bagaimana menciptakan keseimbangan di dalam dunia kerja. Ketika buruh memperjuangkan UMR, ia tidak bertanya bagaimana kewajiban kerjanya? Kalau memang ia dibutuhkan sedemikian hebat oleh perusahaan, maka seharusnya ia bisa keluar dari perusahaan itu jika tidak dibayar sesuai yang dia harapkan. Tetapi ketika ia keluar, apakah ada perusahaan lain yang mau membayar dia lebih tinggi? Kalau tidak ada perusahaan lain mau membayar dia lebih tinggi, berarti kewajiban kerjanya belum memadai, dan itu berarti ia harus memenuhi kewajiban kerja yang memadai untuk honor atau penghasilan yang dia inginkan.

Penetapan UMR belum pernah disertai dengan sangsi kewajiban kerja dari pihak buruh. Berapa kualitas yang diharapkan oleh perusahaan sehingga ia dibayar dengan nilai UMR tersebut. Dan ketika UMR tidak dibayarkan sesuai dengan nilainya, buruh marah, tetapi ketika kualitas kerja begitu rendah dan tidak memadai, perusahaan tidak bisa marah atau menurunkan gaji mereka sesuai dengan nilai kerja. Disini semangat UMR menjadi semangat yang menuntut hak dan merugikan perusahaan. Hal seperti ini tidak terjadi di kalangan pekerja yang lebih tinggi kualitas kerjanya. Seluruh pekerja yang berkualitas baik, dengan sendirinya mereka dibayar secara wajar, melalui pertanggung-jawaban kerja. Seorang pekerja yang bekerja bertanggung jawab, ia akan mendapatkan penghasilan yang semakin baik, bahkan menjadi rebutan dari banyak perusahaan yang menginginkan keberadaan pegawai tersebut di perusahaan mereka. Sebaliknya, yang tidak bertanggung jawab , disisihkan dari dunia kerja. Pergumulan menuntut hak akan selalu merugikan hak orang lain, ini kesadaran yang harus dimiliki oleh pemerintah dan semua instansi yang membicarkaan masalah UMR. Sebaliknya, yang harus ditekankan adalah tuntutan tanggung jawab. Tuntut perusahaan bertanggung jawab sebagai perusahaan, dan tuntut pekerja bertanggung jawab sebagai pekerja. Tuntut pimpinan bertanggung jawab sebagai pimpinan dan tuntut buruh bertanggung jawab sebagai buruh. Dengan semua menjalankan kewajiban, maka semua hak akan lebih dipenuhi.

3. UMR adalah Anugerah

Jika kita mengkaji lebih dalam, maka UMR adalah anugerah dari perusahaan terhadap para pekerja yang belum mencapai kualitas kerja. Jika UMR adalah anugerah, maka hal ini seharusnya diletakkan secara proporsional dalam rangka kesehatan perusahaan. Itu berarti ada orang-orang di atas (para pegawai yang lebih tinggi) yang dikorbankan penghasilannya untuk menunjang mereka yang disubsidi dengan UMR. Mengapa muncul pengertian ini? Karena perusahaan akan terus menjalankan keseimbangan secara natural. Kalau perusahaan memiliki pengeluaran yang lebih besar dari efisiensi perusahaan, maka perusahaan itu cepat atau lambat akan bangkrut. Ini yang menyebabkan banyak perusahaan hengkang dari Indonesia, karena merasa kesulitan untuk memelihara keseimbangan perusahaan. Jika mau tetap seimbang, perusahaan bisa mencapai keuntungan yang memadai, maka ia harus menjaga agar produksi bisa dipelihara seimbang. Itu berarti, seluruh total penghasilan harus dijaga tidak melampaui nilai tertentu. Semakin besar subsidi UMR, maka uang subsidi terhadap efisiensi kerja, harus diambil dari gaji orang-orang yang lain, yang seharusnya bisa dibayar lebih tinggi. Sampai batas tertentu mungkin para atasan masih rela sebagian honornya (meskipun tidak kentara) diambil untuk mendukung UMR. Tetapi kalau terlalu besar, maka gaji bagi para staf dan manager menjadi kecil, maka mereka-mereka akan ditarik oleh perusahaan-perusahaan lain yang lebih mampu membayar mereka. Ketika perusahaan kehilangan top manager dan orang-orang yang baik dalam perusahaan, maka perusahaan itu akhirnya goncang dan ambruk. Maka semua akhirnya rugi, dan terjadilah PHK besar-besaran seperti belakangan ini. Sebaliknya, perusahaan yang bisa menjaga keseimbangan dan membayar tenaga menengah ke atas dengan baik, maka kinerja perusahaan akan terjaga baik, dan itu membuat perusahaan mampu bertahan dalam persaingan yang semakin sulit belakangan ini. Disini para buruh harus menyadari bahwa dengan mereka mendapat UMR, mereka telah merugikan orang lain, dan mereka mendapat anugerah dari orang-orang yang dirugikan ini. Dengan demikian, maka semua instansi terkait perlu memikirkan secara total, bukan sekedar menyatakan bahwa untuk bisa hidup layak seseorang membutuhkan sekian rupiah. Memang untuk hidup layak seseorang membutuhkan sekian rupiah, dan seharusnya Departemen Sosial yang menunjang gap (kekurangan) antara kualitas kerja dan kualitas hidup yang diharap. Tetapi ternyata ini tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi dialihkan menjadi subsidi dari semua pegawai atasan lainnya.

Penutup

Maka dalam kaitan masalah UMR, ada baiknya seluruh bangsa ini merubah seluruh mentalitas dengan tidak menciptakan bangsa pengemis, tidak mentolerir semua bentuk pengemis, baik yang kelihatan nyata di pinggir jalan, maupun yang tak kentara seperti di dalam berbagai format UMR atau berbagai cara dunia kerja lainnya. Kita harus memacu diri, sehingga tidak perlu lagi ada UMR, karena setiap orang memang layak dibayar dan berpenghasilan di atas UMR, setara dengan kualitas kerjanya yang memang cukup baik. Dari mana dimulai? Pertama, dari para pemimpin negara, yang tidak mencari fasilitas, tetapi menyatakan kualitas kerjanya, sampai orang merasa senang memberikan penghasilan yang memadai, dan tidak marah-marah ketika gaji para pejabat mau dinaikkan; dan kedua, dari sekolah, dari anak-anak, yang dibangun mentalitas kerjanya, tidak biasa meminta-minta anugerah, mendapatkan dispensasi dan berbagai kemudahan, tetapi dilatih belajar keras dan bekerja keras, dengan para pimpinan menjadi teladan. Mungkinkah usulan ini suatu saat bisa dipertimbangkan?

Oleh: Sutjipto Subeno, wong cilik yang mau melihat bangsa tercinta ini maju, berubah, berkembang menjadi bangsa yang kuat, yang punya harga diri dan berkualitas kerja yang mampu bersaing di dunia kini dan yang akan datang.

Eksposisi Injil Matius-4 : THE DEVIL’S DEEDS (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, March 10th, 2006

Ringkasan Khotbah : 27 Juni 2004

The Devil’s Deeds

Nats: Mat. 4:3

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Seseorang dapat menjadi Juruselamat dunia kalau ia telah memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat dan ia haruslah orang yang tidak berdosa. Satu-satunya manusia di dunia yang dapat memenuhi syarat tersebut sehingga ia layak menjadi seorang Juruselamat hanyalah Yesus. Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang Juruselamat dunia, banyak proses yang harus dilewati dimana proses tersebut menuntut manusia untuk taat mutlak pada pimpinan Tuhan. Yesus, Allah Anak, pribadi kedua dari Allah Tritunggal harus dibaptiskan oleh seorang Yohanes Pembaptis dan tidak cukup sampai di situ setelah dibaptis Dia harus melewati “padang gurun“ - Yesus dicobai oleh Iblis. Cara Roh Kudus memimpin berbeda dengan konsep manusia. Orang berpendapat kalau Roh Kudus memimpin maka orang menjadi berkuasa sehingga memudahkan manusia untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah. Namun Roh Kudus justru memimpin Kristus masuk ke padang gurun untuk dicobai Iblis.

Logika manusia sulit untuk memahami kenapa Tuhan memimpin orang masuk dalam berbagai tantangan setelah dibaptis? Ironisnya, manusia merasa diri lebih pandai dan lebih berbijaksana dari Tuhan sehingga orang seringkali menyalahkan cara Tuhan yang dirasakan tidak sesuai dengan dirinya. Hanya Roh Kudus saja yang dapat menyadarkan dan mengubah paradigma dengan demikian kita dapat membedakan cara Tuhan dan cara Iblis bekerja. Ketika kita sedang memilah dua aspek ini maka kita dapat mengkoreksi diri berada di posisi sebelah manakah kita? Apakah cara bertingkah laku, cara berpikir kita sama serupa Tuhan ataukah serupa hantu? Oleh karena itu kita harus memahami perilaku dan cara Iblis sehingga menjadikan manusia lebih waspada, yaitu:

1. Tindakan yang Cerdik dan Licik

Kata “lalu“ yang tertulis dalam Mat. 4:3 merupakan kata sambung yang menjadi penyambung dari kejadian sebelumnya. Iblis datang untuk mencobai Yesus pada saat yang tepat, yakni pada saat Tuhan Yesus lapar setelah berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Iblis datang di saat manusia berada dalam keadaan yang paling lemah dan berputus asa. Sebagai anak Tuhan, kita pun diajar untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16) dengan demikian setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil mempunyai motivasi yang murni. Kecerdikan dan ketulusan ini tidak boleh dipisahkan karena hanya cerdik saja akan menjadikan kita seorang yang licik sebaliknya kalau hanya tulus saja maka tak ayal kita akan menjadi bulan-bulanan orang lain. Hati-hati dengan akal licik si Iblis yang datang ketika manusia sedang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan.

Iblis datang seolah-olah memberikan pada kita solusi. Ingat, solusi yang diberikan Iblis hanyalah bersifat sementara malahan akan mencelakakan diri sendiri. Manusia menganggap bahwa dipimpin Roh Kudus berarti kita tidak akan pernah mengalami  kesulitan dan semua pelayanan yang berhubungan dengan misi Kerajaan Allah akan berjalan lancar. Alkitab menegaskan iman kita justru diuji di saat kita berada dalam kesulitan. Dalam hal ini iman Ayub telah teruji ketika ia tetap taat meski untuk mempertahankan imannya ia harus menderita. Pada saat kita berada dalam penderitaan, sakit penyakit apakah kita masih bisa memuji Tuhan dan tetap teguh beriman? Hati-hati, ketika kita berada dalam kondisi yang sangat kritis, panik dan tanpa pengharapan maka Iblis akan datang dengan menawarkan berbagai solusi. Dalam hal ini Iblis mengambil kesempatan dalam kesempitan. Iblis tidak mengembalikan manusia pada hakekat dan tujuan awal Tuhan mencipta tetapi Iblis justru semakin menjauhkan kita dari Tuhan. Iblis mengajar manusia supaya lari dari kesulitan dengan cara yang diajarkan olehnya dan biasanya cara Iblis ini sangat cocok dengan konsep manusia berdosa. Maka tidaklah heran kalau di dunia banyak manusia yang jatuh ke dalam dosa karena godaan si Iblis.

Sebelum menjalankan misi-Nya di dunia Kristus harus melewati “padang gurun“ untuk menyatakan komitmen dan kualitas pelayanan, to proclaim His comitment. Dengan demikian barulah kita memahami cara Roh Kudus memimpin setiap anak Tuhan. Di sepanjang sejarah Alkitab, setiap orang yang dipakai Tuhan seperti Abraham, Musa, Daud dan masih banyak lagi pun harus melewati “padang gurun“ terlebih dahulu. Tujuan Roh Kudus membiarkan kita masuk berjalan dalam padang gurun adalah untuk memperkokoh kekuatan iman kita sehingga kita siap dipakai Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang besar. Seperti halnya ulat untuk berubah menjadi kupu-kupu dibutuhkan perjuangan yang keras; ia harus memecahkan kepompong yang menyelimuti dirinya terlebih dahulu. Berbeda halnya kalau kita berusaha menolong si ulat keluar dari kepompongnya maka pertolongan itu justru menyebabkan kematian bagi si ulat.

Kalau kita hanya mau segala sesuatunya beres berarti kita telah melewatkan proses yang Tuhan mau kerjakan dalam hidup kita. Hal itu tidak akan membuat kita menjadi seorang yang beriman tetapi akan menjadikan kita lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan memimpin masuk ke padang gurun adalah demi untuk kebaikan kita, yaitu untuk memperkokoh iman namun logika manusia sulit untuk mengerti pimpinan Tuhan. Manusia seringkali beranggapan bahwa pimpinan Tuhan pastilah indah, lancar dan senang jalannya. Keputusan ada pada kita sekarang mau ikut cara Tuhan ataukah cara iblis?

2. Kebaikan Palsu

Di tengah dunia modern muncul gerakan humanisme dimana manusia ingin menjadi penolong bagi sesamanya bahkan gerakan ini telah menjadi trend. Orang yang demikian sebenarnya dibagi menjadi dua kategori, yakni: 1) orang kaya yang kelebihan uang dan tidak tahu bagaimana cara menghabiskan uangnya, 2) orang yang “gila“ hormat. Dua macam kategori ini jika bersatu mengerjakan segala sesuatu pasti mempunyai beberapa motivasi, yaitu: pertama, berharap mendapatkan imbalan berkat yang lebih besar dengan memberi berkat sedikit. Dalam hal ini berlaku prinsip ekonomi, yaitu dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Akibatnya, jika ia tidak mendapatkan keuntungan seperti yang diharapkan maka orang menjadi marah dan menyalahkan Tuhan karena Dia sebagai sang pemberi berkat tidak melimpahkan berkat. Jadi, perbuatan baik yang mereka lakukan sebenarnya bukanlah perbuatan baik karena mereka hanya ingin mendapatkan keuntungan saja. Kedua, dari perbuatan baik tersebut orang ingin dihormati. Maka tidaklah heran kalau orang ingin melakukan perbuatan baik maka ia akan mencari tempat dimana di sana ia disanjung dan dipuji bak dewa penolong. Ketiga, orang melakukan perbuatan baik untuk menutupi dosa/kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga orang tidak melihat hal yang buruk tapi hanya melihat yang baiknya saja. Keempat, perbuatan baik menjadi ajang bisnis, yakni berbuat baik sama dengan iklan.

Alkitab mengajarkan jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (Mat. 6:3). Hal itu berarti berbuat baik haruslah dilakukan dengan motivasi murni. Manusia tidak berhak mengambil keuntungan dari perbuatan baik yang kita lakukan tersebut, seperti hormat dan pujian atau imbalan, If you do goodness then you do it with pure motivation with clear heart. Setelah kita memahami berbagai motivasi orang melakukan kebaikan maka hendaklah kita waspada dengan akal licik si Iblis. Hati-hati, dengan tipu muslihat si Iblis yang menginginkan relasi antar manusia, relasi suami istri rusak karena uang. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang (1Tim. 10:10a) oleh sebab itu jangan jadikan uang sebagai yang terutama dalam hidupmu, uang akan mencelakakan diri kita sendiri.

3. Pembalikan Posisi

Kedatangan Iblis sepertinya mau menolong Tuhan Yesus dengan memberikan solusi untuk mengubah batu menjadi roti. Sebenarnya kalau Iblis mau menolong, ia pun dapat mengubahkan batu menjadi roti tapi dalam hal ini ia tidak melakukannya karena ia memang bukan seorang penolong sejati. Cara Iblis sangatlah licik, ia seolah-olah memberikan pernyataan dengan mengatakan,“Jika Engkau Anak Allah…“ padahal itu bukan pernyataan melainkan suatu pertanyaan yang mengandung unsur tantangan dan menuntut pembuktian karena jika memang benar Yesus adalah Anak Allah maka seharusnya Ia bisa mengubah batu menjadi roti. Puji Tuhan, Yesus tidak jatuh dalam godaan iblis, Yesus tahu akal licik iblis yang hendak memutar posisi; Iblis yang harus tunduk pada Yesus bukan sebaliknya karena Yesus adalah Anak Allah. Hati-hati dengan akal licik si Iblis yang selalu berusaha menjatuhkan manusia dengan kata-kata sanjungan dan pujian. Sebagai Anak Tuhan, saat kita memuji hendaklah setiap pujian yang keluar dari mulut kita keluar dari hati dan motivasi yang murni. Hendaklah kita senantiasa mengevaluasi diri kita apakah setiap tindakan yang kita lakukan berkenan di hati Tuhan? Jangan biarkan ambisi pribadi menjadi penyebab dari kehancuran tubuh Kristus. Oleh karena itu hendaklah:

Pertama, menguji terlebih dahulu setiap ide/gagasan apakah ide/gagasan tersebut adalah benar demi untuk kemajuan pekerjaan Tuhan dan merupakan kehendak Tuhan atau sekedar ambisi pribadi? Reformed menjalankan prinsip: orang yang mempunyai ide/gagasan itulah yang terlebih dahulu harus menjalankan gagasannya tersebut. Ingat, jika bukan kehendak Tuhan maka sebaik apapun ide/gagasan kita pasti akan hancur. Biarlah tiap-tiap orang menggumulkannya secara pribadi, apakah Tuhan berkenan/tidak atas semua hal yang kita lakukan?

Kedua, kalau memang sudah menjadi kehendak Tuhan maka tugas kita adalah taat mutlak pada pimpinan Tuhan. Meski kehendak Tuhan tersebut tidaklah sesuai dengan kehendak manusia bahkan bertentangan namun kita harus taat mutlak pada pimpinanNya karena pimpinan-Nya pastilah yang terbaik. Percayalah, Dia tidak akan pernah meninggalkan anak-Nya sendiri dalam menghadapi segala tantangan dan kesulitan karena Tuhan pasti akan menolong dan memberikan kekuatan; kita akan merasakan sukacita sejati ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan. Cara Tuhan memimpin berbeda dengan cara iblis. Tuhan memberikan beban pada setiap anak-Nya dan kepada setiap orang yang diberikan beban itulah yang harus mengerjakannya terlebih dahulu. Namun cara iblis berbeda, ia selalu memperbudak dan memanfaatkan orang lain demi untuk mencapai keinginannya.

4. Orientasi pada Kebutuhan Perut

Iblis hanya peduli dengan hal-hal yang bersifat fisik belaka bukan hal yang bersifat esensi. Iblis tidak pernah peduli dengan spiritualitas atau hal-hal yang bersifat rohani. Tidak! Maka tidaklah heran kalau hal pertama yang diperhatikan Iblis adalah kelaparan yang dialami Yesus. Berbeda dengan cara Tuhan yang lebih memperhatikan kehidupan rohani dan pertumbuhan iman kita daripada kebutuhan fisik. Kalau kita hanya memperhatikan kebutuhan fisik saja, yakni kebutuhan akan makanan lebih dari spritualitas kita maka apa bedanya manusia dengan binatang? Bukankah demi untuk memenuhi kebutuhan makanan seekor binatang dapat saling membunuh? Manusia telah menggantikan kemuliaan Allah dengan gambaran yang mirip binatang dan hal ini sudah tertulis dalam Rom 1: 20-24.

Hari ini bahkan orang sudah tidak malu lagi mengakui dirinya sebagai humanimal (human-animal), manusia menyamakan dirinya dengan binatang sehingga segala tindakan manusia selalu disamakan dengan binatang. Maka tidaklah heran kalau hari ini kita menjumpai tingkah laku dan berbagai macam gaya manusia yang mirip dengan binatang. Inilah kekontrasan cara Tuhan dengan cara iblis yang berbeda seratus delapan puluh derajat; iblis membawa manusia pada kehinaan sebaliknya Tuhan membawa manusia pada kemuliaan. Manusia tidak memahami cara Tuhan sehingga cara Tuhan yang tidak sesuai dengan kehendaknya tersebut dianggap sebagai hal yang mencelakakan justru celaka yang terbesar adalah kalau manusia hanya mau menuruti keinginan dagingnya. Manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Hanya kembali pada Firman saja maka kita tahu apa arti dan tujuan hidup kita. Biarlah setiap orang Kristen waspada dengan akal licik si iblis dan hendaklah selalu bersandar pada Tuhan dengan demikian kita tidak akan mudah jatuh ke dalam pencobaan.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20040627.htm

Cabang-cabang GEREJA/MIMBAR/PERSEKUTUAN REFORMED INJILI INDONESIA (GRII/MRII/PRII) di seluruh Indonesia dan dunia

Monday, March 6th, 2006

GEREJA/MIMBAR/PERSEKUTUAN REFORMED INJILI INDONESIA (GRII/MRII/PRII) di seluruh Indonesia dan dunia

Ketua Sinode GRII : Bp. Pdt. DR. STEPHEN TONG, D.L.C.E.

PUSAT SINODE
Sekretariat: Jl. Tanah Abang III no. 1
Jakarta Pusat 10160
Telp. (+62-21) 381 0912    Fax. (+62-21) 381 1021

GRII PUSAT

Kebaktian Umum I : 07.00 wib

Gembala Sidang: Rev. Dr. Stephen Tong

Tempat: Aula Kampus Emas - Universitas Indonusa Esa Unggul

(samping tol Kebon Jeruk)

Jl. Terusan Tol Arjuna Utara - Jakarta Barat

Sekretariat: Jl. Tanah Abang III no. 1

Jakarta Pusat 10160

Telp. (+62-21) 381 0912    Fax. (+62-21) 381 1021

Email: sekretariat@grii.org

GRII Jemaat Mandarin

Kebaktian Umum I : 09.30 wib

Gembala Sidang:  Rev. Dr. Stephen Tong

                            Ev. Michael Hsu

                            Ev. Eunice Liauw, S.Th.

Tempat: Aula Kampus Emas - Universitas Indonusa Esa Unggul

(samping tol Kebon Jeruk)

Jl. Terusan Tol Arjuna Utara - Jakarta Barat

Sekretariat: 

Telp. (+62-21) 6513815

Email: sekretariat@grii.org

MRII Kuningan

Kebaktian Umum: 17.00 wib

Gembala Sidang: Pdt. Rudie Gunawan, S.Th.

Tempat: Gedung Menara Duta (Seberang Menara Imperium) Lt. Semi Basement Wing B

Jl. Rasuna Said / Kuningan - Jakarta

Sekretariat: Jl. Tanah Abang III no. 1

Jakarta Pusat 10160

Telp. (+62-21) 381 0912    Fax. (+62-21) 381 1021

GRII Bintaro

Kebaktian Umum I : 07.00 wib

Gembala Sidang: Pdt. Johannes Aurelius W., S.Th., M.Div.

Tempat: Ruko Sektor IX Blok G/8-9, Bintaro Jaya - Tangerang

Kebaktian Umum II : pk. 10.00 wib

Tempat: Gedung Gereja Immanuel

Jl. Maleo Raya, Sektor IX, Bintaro Jaya - Tangerang

Sekretariat: Ruko Sektor IX  Blok G/9, Bintaro Jaya - Tangerang

Telp. (+62-21) 745 2277 / 745 1901   Fax. (+62-21) 745 1950

Email: grii-bintaro@telkom.net

GRII Pondok Indah

Kebaktian Umum I: 10.00 wib

Kebaktian Umum II: 17.00 wib

Gembala Sidang: Pdt. Ir. Benyamin F. Intan, M.A.T.S., M.A.R., Ph.D.

Tempat: Gedung Sekolah Ora Et Labora

Jl. Gedung Hijau Raya No. 1

Pondok Indah - Jakarta Selatan

Sekretariat: Gedung Sekolah Ora Et Labora

Jl. Gedung Hijau Raya No. 1

Pondok Indah - Jakarta Selatan

Telp. (+62-21) 75914116    Fax. (+62-21) 75914117

Email: griipondokindah@yahoo.com

GRII Karawaci

Kebaktian Umum: 17.00 wib

Gembala Sidang: Rev. Romeo Q. Mazo, B.S.B.A., M.Div.

Tempat: Ruko Gajah mada, Blok 2019-2031

Cyber Park, Lippo Karawaci, Tangerang

Sekretariat: Ruko Gajah mada, Blok 2019-2031

Cyber Park, Lippo Karawaci, Tangerang

Telp. (+62-21) 55769919    Fax. (+62-21) 55769920

Email: griikarawaci@cbn.net.id

MRII Tanah Abang

Kebaktian Umum: 17.00 wib

Gembala Sidang:

Tempat: Jl. Tanah Abang III/1 - Jakarta 10160

Sekretariat: Jl. Tanah Abang III/1 - Jakarta 10160

Telp. (+62-21) 3810912     Fax. (+62-21) 3811021

GRII Kelapa Gading

Kebaktian Umum I: 07.30

Kebaktian Umum II: 10.00

Gembala Sidang:

Tempat: Kompleks Pertokoan Mandiri

Jl. Mandiri Tengah Blok M, 4D No. 18-19

Kelapa Gading Permai - Jakarta Utara

Sekretariat: Kompleks Pertokoan Mandiri

Jl. Mandiri Tengah Blok M, 4D No. 18-19

Kelapa Gading Permai - Jakarta Utara

Telp. (+62-21) 4520965

MRII Matraman

Kebaktian Umum: 10.00 WIB
Gembala Sidang: Ev. Ronald H. A. Oroh, S.Si., M.Div.

TB. Momentum Jl, Matraman Raya 24 - Jakarta Timur

Sekretariat:

Jl, Matraman Raya 24 - Jakarta Timur

Telp (+62-21) 8509068/ 8580668

MRII Sunter

Kebaktian Umum: 17.30 WIB
Gembala Sidang: Ev. Amin Kho

Institut Reformed, Kompleks Ruko Prima Sunter Blok B-C
Jl. Danau Sunter Utara, Jakarta 14350

Sekretariat:

Kompleks Ruko Prima Sunter Blok B-C
Jl. Danau Sunter Utara, Jakarta 14350

Telp. +62 (21) 6513815   Fax. +62 (21) 6513463

PRII Depok

Kebaktian Umum: 16.30 WIB
Gembala Sidang: Ev. Jimmy G. Miharja, S.Th.

Jl. Pemuda 9, Kel Depok/ Kec. Pancoran Mas - Depok
Sekretariat: Jl. Pemuda 9, Kel Depok/ Kec. Pancoran Mas - Depok

Telp. (+62-21) 7752287

GRII Surabaya-Andhika

Kebaktian Umum I: 07.30 wib

Kebaktian Umum II: 16.30 wib

Gembala Sidang: Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Andhika Plaza Blok C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya

Sekretariat: Andhika Plaza C/6-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40

Telp. (+62-31) 547 2422   Fax. (+62-31) 545 9275

Email: info@griis.org

Website: www.griis.org

GRII Surabaya-Ngagel

Kebaktian Umum I: 08.00 wib

Kebaktian Umum II: 16.30 wib

Gembala Sidang: Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th.

Komp.Manyar Megah Indah Plaza Blok K1-3 (Ex Kebun Bibit)

Jl.Ngagel Jaya Selatan, Surabaya

Sekretariat: Komp.Manyar Megah Indah Plaza Blok K1-3 (Ex Kebun Bibit)

Jl.Ngagel Jaya Selatan, Surabaya

Telp. (+62-31) 5047759, 5055754  Fax. (+62-31) 5047758

Email: aha@mitra.net.id

MRII Surabaya-Sidoarjo

Kebaktian Umum: 08.00 wib

Gembala Sidang: Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Ruko Taman Tiara Regensi No. 11-12 Pager Wojo - Sidoarjo

Sekretariat:

Ruko Taman Tiara Regensi No. 11-12 Pager Wojo - Sidoarjo

Telp. (+62-31) 70974382

MRII Surabaya-Kertajaya

Kebaktian Umum: 10.00 wib

Gembala Sidang: Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kertajaya Indah II/3 (F-628), Surabaya

Sekretariat:

Andhika Plaza C/6-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40

Telp. (+62-31) 547 2422   Fax. (+62-31) 545 9275

GRII Malang

Kebaktian Umum I: 08.00 wib

Kebaktian Umum II: 17.00 wib

Gembala Sidang: Ev. Antonius Un

Jl. Semeru 40, Malang

Sekretariat: Jl. Semeru 40, Malang

Telp. (+62-341) 364 699  Fax.(+62-341) 321 198

GRII Gempol

Kebaktian Umum: 06.00, 15.30 wib

Gembala Sidang: Rev. Rudy Pranoto

Jl. Raya 2A, Gempol Pasuruan (sebelah sungai Porong)

Sekretariat: Jl. Raya 2A, Gempol Pasuruan

Telp. (+62-343) 852306, 852072

MRII Palembang

Kebaktian Umum: 08.30 wib

Gembala Sidang: Ev. Radjali, S.T., M.C.S.

Jl. Mayor Ruslan 2754, RT. 022/RW. 06, 20 Ilir D I

Palembang

Sekretariat:

Jl. Mayor Ruslan 2754, RT. 022/RW. 06, 20 Ilir D I

Palembang

Telp. (+62-711) 360342  Fax (+62-711) 360343

MRII Yogyakarta

Kebaktian Umum: 08.00 wib

Gembala Sidang: Ev. Julio Kristano

Jl. Magelang 53, Yogyakarta

Sekretariat: Jl. Magelang 53, Yogyakarta

Telp. (+62-274) 589 403

Email: mriiy@yahoo.com

PRII Semarang

Kebaktian Umum: 17.00 wib

Caretaker: Ev. Hendry Ongkowidjojo, S.E., M.Div.

Metro Hotel Semarang, Jl. H. Agus Salim 2-4, Semarang

Sekretariat: Jl. Bintoro 7a/11, Semarang

Telp. (+62-24) 6716947

Contact : Bpk. Harianto

PRII Medan

Kebaktian Umum: 17.00 wib

Gembala Sidang: Pdt. Aiter, M.Div.

BiNus Center, Jl. Gajahmada 3 B, Medan

email: prii_medan@yahoo.com

Contact : Bpk. Kian Wie (+62-8126478627)

PRII Denpasar

Kebaktian Umum: 17.00 wita

Caretaker: Ev. Baju Widjotomo

Hotel Perdana Dadi, Jl. Bypass Ngurah Rai no. 7, Tuban Kuta Bali (sementara)

Contact : Pak Jefri Cussoy 08179728286 ; Apri 0361-7459335

MRII Batam

Kebaktian Umum: 08.00 wib

Gembala Sidang: Pdt. Aiter, M.Div.

Kompleks Inti Batam Blok i no. 6-8, Sei Panas, Batam - Centre
Sekretariat:

Kompleks Inti Batam Blok i no. 6-8, Sei Panas, Batam - Centre
Telp: (0778) 7039553

Email: info@mriibatam.org

Website: www.mriibatam.org

MRII Melbourne

Kebaktian Umum: 17.00

Gembala Sidang: Pdt. Budi Setiawan, S.Th., M.Div.

Church of Christ, 54 Lygon St. - Carlton

Vic. 3053 - Melbourne

Sekretariat: 28 Cousin Drive, Bayswater

Melbourne 3153 Victoria - Australia

Telp. 61-3-87114724

Email: irwanwidianto@yahoo.com

GRII Sydney

Kebaktian & Sekolah Minggu: 09.30

Gembala Sidang: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

University Technology of Sydney (UTS)
Building 2, Main Hall Level 4 (Street Level)
Broadway St. No.1 Broadway, Sydney

Sekretariat:

13/20-22 College Cres, Hornsby, NSW 2077

Telp. 02-9482 5220

Email: sekretariat@mriisydney.org

Website: www.mriisydney.org.

MRII Perth

Kebaktian Umum : 10.00

Gembala Sidang: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

The boulevard, Floreat WA 6014

Western Australia

Sekretariat:

Level 4, 50 Colin St. West Perth WA 6005

Telp. 61-8-93216311     Fax. 61-8-93216716

Mail: PO BOX 132 West Perth, WA 6872

MRII Taipei

Kebaktian : Minggu 8:30 dan 10:30

Gembala Sidang: Rev. Nico Ong, M.Div.

Sekretariat:

6F, Section 3, No. 126 Roosevelt Road

(MRT Taipower Builing, Exit no. 5)

Taipei - Taiwan,

Contack person: Rev. Nico Ong (886-2-23687695 & 886-930041122)

                          Susan Cahyadi (886-958364008), Farida (886-963364490)

Email: nicoong@yahoo.com.tw

MRII Taichung

Kebaktian Minggu : 15.00

Gembala Sidang: Rev. Nico Ong, M.Div.

No. 16, 1st Alley East, Hua Shia Lane (dekat Fung Chia University)

West District Taichung - Taiwan, ROC

Contack person: Susan Cahyadi (886-958364008)

MRII Guangzhou

Kebaktian Minggu : 10.00

Gembala Sidang: Rev. Nico Ong, M.Div.

Contack person: David Tzai (86-13922145380)

                          Lina Ng (86-13600081957)

MRII Beijing

Kebaktian Minggu : 10.00

Gembala Sidang: Rev. Nico Ong

Contack person: Rev Nico Ong (886-2-23687695 & 886-930041122 )

                          Rudy (86-10-62310139 / 86-13167524293)

                          Ev. Daniel Santoso (62-8161117102)

MRII Shanghai

Kebaktian : Sabtu 10.00

Gembala Sidang: Rev. Nico Ong, M.Div.

Contack person: Ibu Lisa Loka (86-13918048866 / 86-21-62682833) email: lisakosasih@hotmail.com

                          Ibu Chris Furio (86-13764304101) email: chris-furio@hotmail.com

                          Ibu Aylie (86-13661819084)

PRII Hongkong

Kebaktian : Sabtu 17.00

Gembala Sidang: Rev. Nico Ong

Contack person: Christ & Jenny ( 852-91097560)

                          Chi-chi (852-98546248)

PRII Xiamen

Gembala Sidang: Rev. Nico Ong, M.Div.

Contack person: Rev Nico Ong (886-930041122 )

                          Ev. Daniel Santoso (62-8161117102)

                          Peter (86-13606051452)

GRII Singapore

Kebaktian Umum I : 09.00

Gembala Sidang:  Rev. Amin Tjung

Tempat: 420 North Bridge Road #05-04

Singapore 188727

Kebaktian Umum II : 15.00

Tempat: True Way Presbyterian Church (3rd Floor)

156 B Stirling Road, Singapore 148947

Sekretariat:

420 North Bridge Road #05-04

Singapore 188727

Telp : 001-65-63346725 / 63346774

Email: sekretariat@grii-singapore.org

Website: http://www.grii-singapore.org

MRII Berlin

Kebaktian Umum: 16.00

Gembala Sidang: Ev. Hendra Wijaya, M.C.S.

Martin Luther Gemeinde

Fuldastr. 50 Berlin 12045, Jerman
Sekretariat: Fuldastr. 16 Berlin 12045, Jerman

c/o Daniel Cahyadi
Tel. (+49)30-68081042 / (+49)1791458691
Website: http://www.grii.de/berlin

MRII Hamburg

Kebaktian Umum: Minggu, 15.00

Gembala Sidang: Ev. Hendra Wijaya, M.C.S.

FeG Holstenwall Michaelispassage 1
20459 Hamburg

Sekretariat: Rennbahnstrasse 125 e
22111 Hamburg
Telp: (+49) 40-3193912

E-mail: info.hamburg@grii.de

Website: http://www.grii.de/hamburg

MRII Toronto

Kebaktian Umum: 16.00

Gembala Sidang: Rev. Joshua Lie, Ph.M., Ph.D. (Cand.)

3535 South Common Court

Mississauga L5L2B3 Ontario, Canada

Sekretariat: 2367 Marisa Court

Mississauga L5K2P7 Ontario, Canada

Tel. 905-823-1801

Email: info@grii-toronto.org

Website: http://www.grii-toronto.org

PRII Boston

Focus Conference Room (Wallpaper Room atau Mission Conference Room)

Park Street Church, One Park Street, Boston MA 02108

Telp: 001-617-2430755

Email: boston@reformed.injili.org

PRII Los Angeles

Kebaktian: Kamis 8 pm

1527 S Santa Anita Ave

Arcadia, CA 91006-4016, USA

Contact: Jos Budi ( +1626.586.4949 , +1626.445.7282)

Website: http://www.prila.org

PRII Kuala Lumpur

Kebaktian: Jumat, 19.30

Gembala Sidang: Pdt. Budi Setiawan, S.Th., M.Div.

                          Ev. Hendra Wijaya, M.C.S.

Ridzuan Condominium Block C#23A - 05, Bandar Sunway

Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia

Contact: Helviana ( +60163086903)

Eksposisi Injil Matius-4 : START WITH THE WILDERNESS (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, March 3rd, 2006

Ringkasan Khotbah : 13 Juni 2004

Start with The Wilderness

Nats: Mat. 4: 1-11

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita telah memahami bahwa Tuhan Yesus dibaptis karena Ia taat menjalankan kehendak Bapa-Nya. Manusia akan merasakan sukacita sejati kalau mau kembali pada tujuan awal Allah mencipta manusia, yaitu menggenapkan seluruh kehendak-Nya. Pada saat Yesus dibaptis, Allah Tritunggal menyatakan diri secara bersama-sama dan peristiwa ini merupakan satu-satunya di sepanjang sejarah Alkitab. Yesus telah mendapat perkenanan dari Allah Bapa dan pimpinan Roh Kudus; Yesus sudah siap memulai pelayanan-Nya di dunia namun Roh Tuhan malah membawa-Nya ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Pola ini sulit dimengerti logika manusia bahkan tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran manusia karena bertentangan dengan konsep manusia. Bukanlah hal yang mudah untuk mengubah paradigma atau cara berpikir manusia yang telah terpola dan mengakar kuat dalam diri. Hanya Roh Kudus saja yang dapat mengubahkan konsep berpikir kita yang salah. Padang gurun merupakan kunci kesuksesan sejati hidup manusia.

Dunia modern mengajarkan konsep knowing, being, and doing, yakni suatu konsep yang  mengajarkan bahwa manusia harus tahu terlebih dahulu supaya ia dapat menjadi seperti yang diinginkan setelah itu barulah ditentukan langkah-langkah selanjutnya demi untuk mencapai tujuan tersebut. Alkitab justru mengajarkan being yang pertama barulah kemudian knowing and doing; bagaimana kita akan menjadi itulah yang menentukan seluruh pengetahuan apa yang hendak kita dapatkan barulah kemudian kita menentukan langkah selanjutnya. Ketika seseorang menetapkan untuk menjadi seorang atheis maka ia pasti akan memilah-milah pengetahuan yang masuk dalam dirinya; ia akan menolak seluruh pengetahuan yang berkaitan dengan Tuhan begitu pula kalau orang telah menetapkan diri untuk mau menjadi seorang materialis maka ia pasti akan mencari pengetahuan yang mendukung langkah berikutnya sebagai seorang materialis.

Berhati-hatilah kalau sejak dari awal kita salah menentukan being maka hidup kita akan berakhir dengan kehancuran. Hanya iman kepada Tuhan Yesus sajalah yang dapat membuat manusia dapat menetapkan being dengan tepat. Tapi sayang, dunia telah berhasil membentuk pola berpikir manusia sedemikian rupa dan menjadikan manusia humanis materialis. Manusia di dunia umumnya dibagi dalam dua wilayah besar, yaitu: 1) orang yang taat Allah dan Firman, 2) orang yang humanis-materialis. Adalah salah kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa ambisi mendorong orang untuk mempunyai semangat hidup. Ingat, semangat hidup itu bukan karena ambisi  diri. Alkitab mengajarkan semangat hidup akan kita miliki kalau tujuan hidup kita untuk memuliakan Tuhan dan mau menjadi serupa Kristus. Celakanya, manusia mulai mencampur iman dengan ambisi pribadinya, akibatnya manusia akan kecewa asa bahkan ia tidak segan mengakhiri hidupnya kalau ambisinya tidak dapat terpenuhi. Betapa tragisnya hidup manusia kalau hanya berakhir dengan kebinasaan yang sia-sia. 

I. The Guidance of The Holy Spirit

Hidup berada dibawah pimpinan Tuhan, tidak akan membuat kita kecewa pada-Nya, hal ini diungkapkan oleh Pdt. Stephen Tong di salah satu khotbahnya namun, ada orang yang tidak setuju dan berargumen: bukankah perasaan marah dan kecewa ada pada setiap manusia maka wajarlah kalau manusia juga menjadi marah dan kecewa pada Tuhan? Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah manusia berhak kecewa dan marah pada Tuhan yang memberikan hidup pada manusia? Keinginan/ambisi yang tidak terpenuhilah yang menyebabkan orang menjadi kecewa dan marah. Lalu kenapa Tuhan yang dipersalahkan? Seharusnya ambisi pribadi yang ada pada diri kita itulah yang patut dipersalahkan. Namun, orang lainlah yang justru dipersalahkan sedang diri sendiri tidak mau disalahkan dan ironisnya, setelah tidak ada orang lagi yang dapat disalahkan maka Tuhanlah yang disalahkan. Inilah sifat manusia berdosa. Kalau manusia tidak mau kembali pada Tuhan dan taat pimpinan Tuhan maka itulah dimulainya titik kehancuran. Tuhan ingin menunjukkan pada kita bagaimana Roh Kudus memimpin hidup seseorang yang dipanggil untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya, yaitu untuk menggenapkan rencana-Nya. Roh Kudus ingin menata hidup kita terlebih dahulu sebelum kita pergi mengerjakan tugas panggilan-Nya; kita harus taat mutlak untuk dibentuk sesuai kehendak Bapa. Hendaklah kita mencontoh teladan Abraham yang taat pada Bapa ketika Tuhan memerintahkan dia untuk keluar menuju tanah Perjanjian begitu juga ketika Tuhan meminta ia untuk mempersembahkan Ishak, anak Perjanjian; iman Abraham bukanlah iman yang fanatik oleh karena itu ia layak disebut sebagai Bapa orang beriman. Bagaimana dengan hidup beriman kita? Dasar iman Kristen adalah Alkitab, Firman Allah yang benar.

Jangan terjebak dengan konsep positive thinking, you believe it and you get it yang diajarkan dunia. Cara Tuhan memimpin setiap orang sangatlah unik. Tuhan memanggil Saulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel dan Tuhan sendiri akan menunjukkan kepadanya banyaknya penderitaan yang harus ditanggung (Kis. 9:15-16). Namun, Tuhan tidak langsung membawa Saulus untuk melakukan tugas panggilan-Nya; Tuhan mendidik dengan cara “mendiamkan“ Paulus selama 12 tahun supaya Paulus menaklukkan ambisi pribadinya terlebih dahulu. Hari ini, banyak orang yang setelah bertobat dan masih dengan semangat yang menggebu langsung ingin melayani. Celakanya, mereka tidak belajar teologi dengan benar tapi langsung mengabarkan Injil. Setelah bertobat jangan terburu untuk melayani, Tuhan ingin agar berdiam diri sejenak, menaklukkan semua ambisi pribadi kita dan belajar taat pada kehendak-Nya. Kesuksesan Paulus justru setelah Tuhan mendiamkannya selama 12 tahun, setiap pekerjaan yang dilakukan Paulus dicatat di sepanjang sejarah; hidup Paulus menjadi bermakna. Cara Tuhan memimpin terkadang sulit kita mengerti namun percayalah rencana-Nya adalah yang terbaik dalam hidup kita.

II. The Test from The Holy Spirit

Allah memimpin Yesus masuk ke padang gurun untuk berpuasa, masuk ke dalam titik pengujian yang paling berat. Allah ingin menguji kualitas Yesus sebelum Ia memulai pekerjaan-Nya di dunia sebagai Penebus umat manusia. Setiap orang pasti ingin mengerjakan pekerjaan besar dan sukses dalam hidupnya namun satu hal yang manusia sulit untuk menerima adalah proses panjang dan penuh tantangan yang harus dilalui. Ingat, setiap tantangan dan penderitaan yang Tuhan ijinkan untuk kita alami adalah demi untuk kebaikan kita, yaitu supaya kita semakin bertumbuh dalam iman dan kita tahu berjalan dalam pimpinan Tuhan kita merasakan sukacita sejati. Hati-hati dengan konsep Yin Yang yang mengajarkan bahwa penderitaan wajar dialami oleh setiap orang demi untuk kebaikan mereka sendiri, yaitu orang jadi mengerti akan arti kebahagiaan, orang harus merasakan berat terlebih dahulu supaya dapat mengerti apa itu ringan; hidup seperti roda yang berputar, terkadang manusia di atas dan terkadang di bawah.

Sepintas konsep Yin Yang ini baik karena menghibur dan memberikan pengharapan bagi orang yang sedang menderita. Namun, kelemahan konsep ini, yaitu: pertama, orang selalu berharap akan datang kebahagiaan suatu hari kelak tapi ketika kebahagiaan itu tak kunjung datang, akhirnya orang menjadi marah dan mempersalahkan Tuhan karena sepertinya Dia tidak menepati janji. Dan bagi mereka yang hidupnya sudah bahagia berarti kini hanya menunggu waktu giliran untuk hidup menderita, sesuai dengan konsep Yin Yang yang mengajarkan hidup manusia selalu berputar, hari ini kaya maka besok hidup miskin; kedua, konsep perbandingan Yin Yang ini membuat gap semakin dalam, manusia menjadi rusak karena orang tidak lagi membandingkan dirinya dengan yang lebih tingggi tapi mereka selalu membandingkan dengan sesuatu yang lebih rendah. Manusia terlarut dalam konsep passive negative, akibatnya orang hanya mau bergaul dengan mereka yang tingkatannya lebih rendah maka tidaklah heran kalau orang tidak menjadi semakin baik tapi justru semakin rusak karena orang merasa rendah diri kalau harus bergaul dengan mereka yang berkualitas.

Alkitab dengan tegas menyatakan kejahatan dengan kebaikan adalah dua hal yang berbeda dan saling bertentangan. Penderitaan yang kita alami seharusnya menjadi waktu bagi kita untuk mengevaluasi diri: pertama, apakah kita telah berbuat dosa sehingga Tuhan yang adil memberikan hukuman atas kita? Jikalau kita telah berbuat dosa maka sudah sewajarnya kalau kita menerima hukuman, punishment of God sebagai konsekuensi dari dosa yang kita lakukan. Manusia pasti akan berusaha dengan segala cara melepaskan diri dari penghukuman dunia namun ingat, manusia tidak bisa lepas dari keadilan Allah. Satu-satunya jalan supaya manusia dapat diampuni dosanya, yaitu manusia harus kembali pada Tuhan dan bertobat. Kedua, Tuhan ingin menguji sampai dimanakah ketahanan iman kita dengan penderitaan. Tuhan menguji iman Ayub, seorang yang hidup benar. Puji Tuhan,  Ayub menang sehingga di sepanjang sejarah diingat dan menjadi kesaksian yang harum. Setiap orang Kristen, memang Tuhan perkenankan untuk melewati ujian supaya kita semakin bertumbuh dalam iman. Dari tanah liat, kita tidak hanya sekedar membuat kendi tapi dari bahan yang sama setelah dipanaskan dapat dihasilkan sebuah porselen yang indah. Kalau kita mau dipakai Tuhan menjadi perabot yang indah dan mulia maka kita harus melewati ujian terlebih dahulu. Cara Tuhan menguji setiap manusia berbeda, buah anggur yang tidak diperas tidak akan menjadi arak, buah zaitun yang tak ditekan takkan menjadi minyak. Tuhan mau mengembleng kita agar kita menjadi lebih murni.

Tuhan akan mempersiapkan setiap orang yang Tuhan panggil untuk menjadi hamba-Nya dengan cara yang unik. Seperti halnya, Pdt. DR. Stephen Tong yang Tuhan persiapkan sedemikian rupa sejak masa mudanya sehingga dengan pengetahuan teologi yang benar dan kekuatan fisik sehingga detik ini, beliau sudah berkhotbah pada puluhan ribu orang di dunia. Manusia seringkali hanya menginginkan jalan pintas saja; manusia mau sukses tapi tidak mau melalui proses yang panjang berliku dan penuh tantangan. Kesuksesan tidak dapat dicapai dengan cara instant, manusia harus berproses untuk membuktikan kualitas hidup seseorang. Orang yang hidupnya tidak pernah diuji dan tidak teruji maka hidup itu tidak layak dihidupi seperti kata Socrates, unexcement live unworth living. Bukan tanpa maksud kalau Tuhan memimpin kita masuk ke dalam padang gurun. Tidak! Semua itu Tuhan maksudkan demi untuk kebaikan kita, Tuhan ingin menguji kualitas hidup kita. Jalan yang dipimpin Tuhan akan membawa kita pada pimpinan yang paling indah.

III. The Suffer of The Holy Spirit

Setelah Tuhan Yesus berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam maka laparlah Yesus. Pemikiran modern langsung menyimpulkan bahwa “lapar“ merupakan kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Hal ini juga diungkapkan oleh Abraham Maslow yang menggambarkan kebutuhan manusia seperti sebuah piramid dimana yang paling mendasar adalah: 1) kebutuhan jasmani, yakni kebutuhan akan makanan dan minuman, 2) kebutuhan akan cinta kasih, 3) kebutuhan estetika/keindahan, dan 4) kebutuhan aktualisasi diri. Kalau kebutuhan yang paling mendasar tidak terpenuhi  maka manusia bisa menjadi gila. Inilah sifat humanis yang dikembangkan manusia. Orang yang hanya memikirkan lapar, tidak beda dengan binatang yang hanya punya keinginan naluriah. Celakalah hidup kita kalau kita memutlakkan apa yang seharusnya bukan kebutuhan menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Di tengah dunia ada banyak kebutuhan yang bukan kebutuhan mutlak karena itu dibutuhkan bijaksana supaya kita dapat memilih dengan tepat kebutuhan yang mana dan yang bagaimana yang seharusnya dimutlakkan atau tidak. Orang yang dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan utama dan mana yang bukan maka ia akan menjadi orang yang berbahagia. Ketika Tuhan Yesus lapar maka Iblis berpikir hal itu adalah kesempatan emas bagi dia untuk mencobai Kristus. Yesus tahu apa yang seharusnya menjadi kebutuhan utama, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kunci utama adalah menyangkali diri, menyangkali semua yang hanya menjadi keinginan ambisi diri. Adalah hal yang wajar kalau setiap manusia mempunyai keinginan pribadi akan tetapi bisakah kita mengatakan “tidak“ pada setiap keinginan kita? Orang yang bisa mengatakan “tidak“ pada dirinya sendiri adalah orang yang peka akan pimpinan Tuhan. Banyak orang yang ingin mengerti pimpinan Tuhan tapi  banyak orang yang tidak mau menyangkal diri. Biarlah kita mau hidup taat dipimpin oleh Roh Kudus maka kita akan merasakan sukacita; Tuhan akan membukakan cakrawala hidup kita. Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita kalau kita mau taat pimpinan-Nya.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)