Archive for April, 2006

Eksposisi Injil Matius 4 : THE ESSENCE OF CALLING, SUFFERING AND KERYGMA-4 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Thursday, April 27th, 2006

Ringkasan Khotbah : 22 Agustus 2004

The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (4)

Nats: Mat. 4: 12-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita telah memahami bahwa konsep panggilan Tuhan berbeda dengan dunia dan merupakan suatu anugerah kalau Tuhan perkenankan kita turut menderita bersama-sama dengan Dia. Namun penderitaan yang kita alami tersebut bukanlah penderitaan yang seperti dunia pikir, yakni menderita yang tidak ada pahalanya. Tidak! Penderitaan yang dari Tuhan tersebut mempunyai kuasa rohani, yakni kuasa yang dapat mengubahkan hidup seseorang dari gelap menuju kepada terang. Alkitab mencatat, sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ (ay. 17), hal ini menunjukkan satu hal, yakni “sejak waktu itu“ adalah kairos yang menjadi titik putar yang membedakan antara waktu sebelumnya dan sesudahnya berarti “sejak waktu itu“ ada perubahan signifikan yang terjadi di dalam sejarah pekerjaan Tuhan.

Kalau kita hanya menjalani hidup sekedar rutinitas maka kita akan melewatkan suatu momen-momen yang sifatnya kairos, yakni sejak waktu itu menjadi momen yang sangat penting; ingat, momen itu tidak akan pernah terulang kembali. Sudahkah kita menyadari momen penting dan bersejarah yang terjadi dalam hidup kita? Momen penting apa yang menjadi sejarah di dalam hidup kita? Banyak momen penting dalam hidup kita namun momen terpenting yang menjadi kairos, yakni momen dimana Tuhan memanggil kita untuk bertobat dari gelap menuju kepada terang. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Tim. 3:16). Puji Tuhan, Dia yang adalah Raja alam semesta masih mengingat kita, manusia berdosa yang seharusnya dibuang ini untuk turut ambil bagian dalam kerajaan-Nya.

Kristus memulai pelayanan-Nya secara aktif di dunia pada saat yang tepat, yakni usia 30 tahun. Menurut tradisi Yahudi, seseorang dianggap dewasa ketika ia berusia 30 tahun. Kini, konsep kedewasaan telah terdegradasi, usia 17 tahun  telah dianggap sebagai usia dewasa. Memang secara usia, ia cukup matang namun tidak demikian secara pengalaman. Usia matang ditambah dengan pengalaman yang cukup barulah ia dapat dikatakan dewasa karena hal itu akan membentuk pola berpikir yang menuju pada realita. Karena kalau tidak demikian ia hanya akan menjadi seorang yang idealis, orang hanya tahu konsep bagus tapi tidak demikian ketika konsep itu diterapkan. Hari ini di dunia modern, banyak kita jumpai anak-anak kecil yang sudah dewasa. Anak-anak tersebut dipaksa dewasa sebelum waktunya, anak dipacu sedemikian rupa untuk berprestasi setinggi mungkin. Para orang tua akan sangat bangga kalau pada usia dini anaknya bersekolah pada jenjang tinggi, usia sekolah dasar tapi mereka sudah masuk universitas. Secara ilmu, si anak mampu tetapi di sisi lain, pertumbuhan moralnya tidak sesuai dengan usianya karena lingkungan pergaulannya tidak sesuai dengan usianya.

Kalau kita tidak tahu bagaimana menangkap momen dengan tepat maka itu menjadi penyebab kehancuran. Ingat, sejarah terus berjalan tetapi momen hanya tiba satu kali di sepanjang sejarah perjalanan hidup kita; momen itu tidak akan pernah kembali lagi. Menyadari suatu kejadian sebagai momen yang bersifat kairos, bukanlah hal yang mudah. Kita harus mengkaitkan setiap momen dalam rencana kekekalan Allah karena itu diperlukan kedewasaan rohani sehingga cara pikir kita tidak dikendalikan oleh dunia. Kita harus kembali pada Firman yang menjadi dasar untuk kita menerapkan semua ide pemikiran kita ke dunia masyarakat dengan bijaksana yang dari Tuhan. Hendaklah Firman Tuhan itu menjadi kompas hidup kita dengan demikian kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil dari diri sendiri tidaklah sah karena diri bukan penentu kebenaran dan diri bukanlah kebenaran maka keputusan yang ia ambil pastilah hanyalah yang menguntungkan dirinya saja dan itu pasti mengandung unsur nafsu dan segala macam kepentingan pribadi akan mempengaruhi keputusannya. Orang tidak menyadari keputusan yang dikuasai oleh dosa tersebut justru akan menghancurkan diri sendiri. Kembalinya manusia pada Kristus sang kebenaran sejati merupakan momen yang sangat penting, itulah sebabnya berita utama yang Yesus wartakan adalah supaya manusia kembali pada konsep utama, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Berita yang sama diteriakkan juga oleh Yohanes Pembaptis sebelumnya yang memulai pelayanan ketika ia berusia 30 tahun. Saat terindah dalam hidup kita adalah pada saat Tuhan memanggil kita untuk bertobat. Bertobat bukan hanya sekedar menyesal tapi berbalik arah dari hidup yang gelap menuju kepada terang dan tidak melakukan hal yang sama lagi. Hidup yang tanpa pertobatan sangatlah hampa, semua yang kita kerjakan hanyalah sia-sia karena semua akan berakhir dengan kehancuran. Satu-satunya cara agar orang keluar dari dosa maka ia harus menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa.  Bagaimana dengan kita, apakah kita sudah menyadari momen dimana Tuhan memanggil kita?

“Sejak waktu itu…“ kalau belum pernah kita alami maka itu berarti belum ada perubahan sedikitpun dalam hidup kita. “Sejak waktu itu…“ yaitu sejak Tuhan memanggil seharusnya merubah hidup kita secara esensial. Adalah anugerah kalau Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran karena tidak semua orang mau kembali pada kebenaran. Manusia telah jatuh ke dalam dosa sehingga mempunyai pola pikir yang rasionalis rasionalis humanis. Bayangkan, seandainya kita menolak panggilan-Nya ketika momen itu datang, maka apa jadinya hidup kita, semua berlalu dengan sia-sia. Bagaimana dengan anda? Apakah momen “sejak waktu itu…“ sudah merubah hidup kita? Inilah teriakan Tuhan Yesus: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Konsep ini bukan hanya sekedar teori tetapi menjadi titik yang dapat merubah hidup kita, yaitu hidup kekal bersama Tuhan.

I. Waktu yang Tanpa Syarat

Orang pasti menginginkan semua hal yang baik dan indah dalam hidupnya terjadi “sejak waktu itu“, yaitu sejak kita menetapkan momen. Setiap orang pasti menginginkan momen pertobatannya menjadi momen yang terindah dalam hidupnya namun Alkitab menegaskan momen indah belum tentu  kita dapati. Kita mungkin bisa mengalami momen surgawi tetapi kemungkinan juga tidak. Momen surgawi yang indah itu mungkin Tuhan perkenankan untuk kita lewati tetapi mungkin juga tidak. Pengalaman yang dialami Tuhan Yesus justru berbeda. Pengalaman pertama Kristus melayani, “sejak waktu itu“ adalah sejak yang tidak kondisional, semua yang diharapkan paling indah tidak terjadi. Kristus harus memulai melayani di sebuah desa kecil, sebuah tempat yang jauh dari Yerusalem, tempat yang nantinya menjadi pusat pemberitaan-Nya.

Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus yang senantiasa bersiap sedia memberitakan Firman baik atau tidak baik waktunya. Pelayanan pekerjaan Tuhan tidak tergantung situasi dan kondisi baik atau tidak baik karena Tuhan mungkin justru mau memakai kita di dalam situasi yang paling sulit. Kristus taat mutlak pada Bapa itulah sebabnya dalam kondisi yang secara logika manusia tidak mungkin, unconditional, Dia tetap melayani; dalam hal ini tidak ada syarat, batasan maupun pertimbangan duniawi apapun. Di dunia yang kacau balau khususnya di Indonesia inilah waktunya bagi kita untuk memberitakan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat pada dunia.

Pimpinan Tuhan terkadang sulit untuk kita mengerti namun ketika kita taat mutlak pada-Nya maka kita akan merasakan pimpinan Tuhan sangatlah indah. Rancangan Tuhan sangat jauh berbeda dengan rancangan manusia; kita mungkin merasa rencana Tuhan tidak sesuai dengan logika namun percayalah rancangan-Nya adalah yang terindah. Kapankah terakhir anda mengerjakan pekerjaan Tuhan? Apakah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan hanya ketika situasi dan kondisi baik? Ingat, panggilan Tuhan dalam hidup kita adalah kairos, bukan tergantung baik atau tidak baik waktunya dan ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani sangatlah mungkin kalau Tuhan memanggil kita menderita.

II. Kuasa Rohani

Panggilan Tuhan tidak meniadakan penderitaan dan kesulitan kita. Hanya satu pertanyaan apakah kita mau taat panggilan-Nya dan dipakai menjadi alat di tangan-Nya? Merupakan suatu anugerah besar bagi kita kalau Tuhan, Raja semesta alam memakai kita menjadi alat-Nya untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang besar. Karena itu jangan biarkan hidupmu dikendalikan oleh manusia. Jangan samakan kesulitan dan penderitaan yang kita alami karena nama-Nya itu sebagai suatu kecelakaan. Ketika Tuhan memperkenankan kita mengalami penderitaan apakah itu berarti kecelakaan bagi kita? Tidak! Sejauh penderitaan itu adalah di dalam panggilan dan perkenan Allah maka Allah turut bertanggung jawab di dalamnya. Tuhan berjanji kesulitan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita karena Tuhan pasti menjagai kita. Tuhan mengijinkan iblis untuk mencobai Ayub namun Tuhan memberikan batasan, yaitu tidak boleh mengambil nyawanya. Tuhan tahu sampai dimana kekuatan setiap anak-anak-Nya untuk dapat menanggung semua penderitaan. Hari ini banyak orang yang beranggapan salah, yaitu seseorang yang dapat dan berhasil melewati penderitaan berarti ia mempunyai iman yang besar. Salah! Justru kalau Tuhan memperkenankan kita mengalami penderitaan yang lebih besar buat Tuhan dan kita dapat bertahan seperti Ayub, hal itu membuktikan bahwa kita mempunyai iman yang besar.

Kesaksian mereka yang mampu bertahan sampai akhir dalam penderitaan dan tidak bergoyah imannya inilah yang dapat menguatkan dan membangun iman orang lain. Bukan kesaksian sebaliknya, anak Tuhan pasti hidup lancar dan sukses; kesaksian seperti ini justru tidak membangun iman karena secara tidak langsung ia mengatakan bahwa orang yang mengalami penderitaan apakah itu berarti ia tidak mempunyai iman? Kristus harus menderita ketika Ia dipanggil untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya begitu juga dengan Paulus dan murid-murid lain di sepanjang sejarah jaman. Orang seperti inilah yang berhak memberikan kesaksian. Tuhan tidak janjikan hidup kita akan senang dan lancar ketika Ia memanggil kita namun Tuhan janjikan hidup kuat, ujian dan bahaya disertai-Nya. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu; dan pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya (1Kor. 10:13).

Penderitaan bukanlah akhir dari segala sesuatu; penderitaan justru akan membuat kita mempunyai kuasa kerygma yang besar. Mereka yang dapat melewati penderitaan itulah yang justru Tuhan pakai untuk memberitakan kuasa Firman dan dapat menyadarkan orang akan dosa untuk kembali bertobat. Dunia sangat membenci orang demikian itulah sebabnya kedatangan John Sung ke Cina untuk mengabarkan Injil dianggap sebagai pengacau oleh pemerintah setempat dan yang membuat para prajurit terheran-heran adalah sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang bertobat; mereka mengaku diri bahwa mereka orang berdosa dan hal ini mereka lakukan dengan tanpa paksaan. Kalau bukan kuasa dari Tuhan maka kuasa dari manakah yang bisa membuat orang bertobat? Banyak penderitaan yang harus dialami oleh John Sung dalam memberitakan Injil namun hal itu tidak membuatnya mundur dan kehilangan kuasa rohani.

III. Tugas Progresif

Cara Tuhan memanggil berbeda dengan dunia. Dunia selalu menggunakan uang untuk mendapatkan kuasa, kedudukan dan lain-lain dan semuanya itu justru akan membawa orang menuju pada kehancuran. Murid-murid Tuhan Yesus pun bukan orang kaya atau orang yang mempunyai kedudukan, mereka hanyalah seorang nelayan namun Tuhan pakai mereka dengan luar biasa. Esensi panggilan Tuhan dan penderitaan yang Kristus alami justru membuat berita Kristus mempunyai kuasa rohani: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat“. Biarlah setiap kita mempunyai kerinduan untuk mau diubahkan oleh Kristus dengan demikian kita mempunyai kuasa rohani dan dipakai Tuhan menjadi alat di tangan-Nya. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk mengabarkan Injil sehingga orang kembali disadarkan akan dosa dan kembali pada kebenaran.

Hendaklah setiap kita mempunyai kerinduan untuk dipakai Tuhan, bukan hanya sekedar mengerti doktrin yang benar meski ajaran yang benar juga penting namun apa artinya semua doktrin kalau kita tidak mengabarkan Injil. Kita hanya akan menjadi orang-orang Kristen yang tidak seimbang, kepala besar tetapi kaki dan lengan tidak berkembang karena tidak pernah kita gunakan. Biarlah pengalaman iman kita berjalan bersama Kristus dapat dirasakan oleh orang lain juga maka Tuhan akan memakai kita lebih heran lagi. Ingat, hidup di dunia hanya sementara oleh sebab itu jangan cari kesuksesan di dunia tetapi carilah kesuksesan di surga. Suatu sukacita besar kalau Tuhan berkenan memuji kita kelak di surga. Penderitaan karena menggenapkan Kerajaan-Nya di muka bumi tidak akan sia-sia karena Tuhan pasti akan memberikan mahkota.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Eksposisi Injil Matius 4 : THE ESSENCE OF CALLING, SUFFERING AND KERYGMA-3 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Tuesday, April 18th, 2006

Eksposisi Injil Matius 4

Ringkasan Khotbah : 15 Agustus 2004

The Essence of Calling, Suffering & Kerygma (3)

Nats: Mat. 4: 12-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Matius menuliskan kembali berita tentang tanah Zebulon dan tanah Naftali yang diungkapkan nabi Yesaya (Yes. 8:23-9:1) sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Zebulon merupakan anak ke lima sedang Naftali merupakan anak ke sepuluh dari Yakub yang disebut Israel. Zebulon dan Naftali menempati sebagian kecil wilayah yang berada di sebelah Timur, seberang sungai Yordan. Karena letak geografisnya yang berada di seberang sungai Yordan maka daerah ini dapat berkembang hingga ke wilayah Dekapolis. Namun perkembangan ini justru menyebabkan penderitaan karena di satu sisi, mereka terpisah dari sepuluh suku lain yang berada di sebelah barat sungai Yordan dan karena wilayahnya tidak dibatasi oleh sungai dimana sungai menjadi benteng pertahanan paling efektif akibatnya wilayah Naftali, Zebulon dan wilayah lain yang berada di sisi timur sungai Yordan sangat mudah diserang oleh bangsa Asyur, bangsa Babel dan bangsa lain.

Hal ini membuktikan bahwa besarnya wilayah tidak menjadikan hidup mereka lebih aman, lebih makmur atau lebih kaya. Konsep ini sangat penting untuk kita pahami dan Alkitab telah berulang kali memberikan gambaran bahwa kalau kita salah mengkategorikan nilai dan panggilan Tuhan maka itu menjadi titik awal kehancuran, manusia akan mengalami penderitaan yang tidak ada pahalanya. Kita dapat memetik pelajaran dari peristiwa berpisahnya Abraham dan Lot. Lot, sang keponakan yang tidak tahu diri ini memilih tempat yang paling baik, tanah yang paling subur dan paling menguntungkan. Secara manusia, Abraham tentu merasa dirugikan dengan tanah gersang tersebut namun Abraham tidak marah melihat kelakuan Lot karena ia menyadari tanah merupakan anugerah Tuhan, ia senantiasa berpaut pada Tuhan maka Dia tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi pada anak-anak-Nya. Andai, kita disuruh memilih maka kita pasti akan berlaku sama seperti Lot namun apa yang dipandang manusia baik justru berakhir dengan kehancuran.

Secara duniawi, tanah Naftali dan tanah Zebulon sangatlah menguntungkan dan hal ini membuat iri kesepuluh suku lain namun realita berbicara lain. Sejak jaman Hakim-hakim sampai Perjanjian Baru, daerah ini selalu menjadi bulan-bulanan dari bangsa Asyur, bangsa Babel, dan bangsa-bangsa lain. Alkitab mencatat negeri ini sebagai suatu negeri yang dinaungi maut. Sampai akhirnya, negeri ini mendapat serangan dari tentara Asyur yang paling kejam di bawah pimpinan raja Tiglat Pileser III dimana seluruh rakyat di negeri ini menjadi tawanan bangsa Asyur. Hal ini menjadikan daerah Zebulon dan Naftali sangat gersang dan mereka pun bercampur dengan bangsa-bangsa kafir. Kondisi bangsa Israel yang menderita ini telah digambarkan oleh Nabi Yesaya sejak jaman Perjanjian Lama namun demikian Tuhan tidak pernah melupakan apalagi meninggalkan mereka. 

Manusia selalu berpikir dengan cara dunia sehingga semua tindakan yang dilakukan, kita selalu berpikir untung-rugi dan mencari daerah strategis. Seperti halnya ketika kita hendak mengembangkan pelayanan, cara siapa yang kita pakai, cara dunia atau cara Tuhan? Ingat, cara Tuhan berbeda dengan cara iblis begitu pula pengertian strategis Tuhan berbeda dengan manusia. Celakanya, hari ini banyak gereja yang menggunakan cara dunia untuk mengembangkan pelayanan; orang Kristen bukan lagi menjadi alat Tuhan tapi menjadi alat dunia. Kristus telah memberikan teladan yang indah pada kita, Dia datang dan melayani bangsa yang berada dalam kegelapan dan dinaungi maut. Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Luk. 5:12). Jangan biarkan dirimu dikendalikan oleh dunia tapi biarlah Tuhan yang memanggil kita untuk menjadi pemberita kebenaran itu saja yang mengendalikan hidup kita maka kita akan melihat tangan Tuhan yang bekerja dengan indah dan ajaib. Tuhan memanggil kita menjadi saksi-Nya yang memancarkan terang dimanapun kita berada. 

Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis karena sekali kita masuk maka akan sulit bagi kita untuk keluar dari cengkeramannya. Berbeda dengan Tuhan, ketika Tuhan memimpin Ia tidak pernah mencengkeram siapapun. Tuhan memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih apakah ia mau taat pada pimpinan Tuhan atau tidak? Tuhan tidak pernah merasuk siapapun, jadi barang siapa yang merasa terpaksa atau tanpa sadar melakukan sesuatu maka dapatlah dipastikan itu pasti bukan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah menguasai seseorang sehingga orang menjadi kehilangan kesadaran, kehilangan kebebasan, kehilangan cara berpikir. Tidak! Tuhan sudah memberikan jalan yang terbaik, kini keputusan ada di tangan manusia, apakah kita mau taat/tidak pada-Nya? Ingat, siapa memilih maka dia yang harus bertanggung jawab akan akibatnya berbeda halnya kalau ia dipaksa melakukan tugas maka dia bisa lepas dari tanggung jawab. Tuhan pun memberikan kebebasan memilih pada Adam dan Hawa dan Tuhan pun sudah memberitahukan akibatnya, makan buah pengetahuan baik dan jahat berarti mati.

Bukan berarti Tuhan kurang bijaksana ketika Ia memilih nelayan-nelayan Galilea, bangsa yang katanya berada dalam kegelapan untuk menjadi alat-Nya. Karena pada jaman itu, selain penggembala domba, nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang juga dipandang hina oleh bangsa Israel. Namun Tuhan memanggil orang yang dianggap “bodoh“ untuk membodohkan orang yang merasa diri pandai. Inilah panggilan Tuhan sejati. Apakah cara Tuhan yang berbeda dengan cara dunia ini akan menggagalkan seluruh misi Kerajaan Tuhan? Tidak! Alkitab mencatat murid-murid Kristus yang hanyalah seorang nelayan justru sukses menjalankan misi Kerajaan Allah. Secara logika manusia adalah tidak mungkin namun Tuhan memakai Petrus sebagai pemberita Injil dan 3000 orang bertobat dan masih banyak lagi. Lalu dimana kunci kesuksesan mereka sehingga seorang nelayan dapat mengerjakan pekerjaan besar sedemikian rupa?

Kuncinya adalah mereka telah berhasil keluar dari keadaan yang paling sulit. Seorang nelayan telah terbiasa hidup menderita, ia tahu apa arti penderitaan dan ia tahu bagaimana caranya keluar dari penderitaan maka oleh sebab itu Tuhan Yesus memilih mereka menjadi pengikut-Nya dan mengerjakan misi Kerajaan Allah. Orang yang terbiasa hidup dalam kenyamanan, tidak pernah menderita sepanjang hidupnya pada umumnya tidak memiliki daya juang karena untuk mencapai kesuksesan ia harus lewat dalam bayangan maut dan lembah kekelaman. Esensi panggilan Tuhan, yaitu melihat kembali kepada penderitaan yang sudah dilewati dengan demikian ia dapat membawa Terang pada setiap orang. Inilah jalur yang Tuhan mau pakai pada setiap kita maka kita akan melihat:

1. Kuasa Injil dapat mengubah seseorang. Secara logika, adalah mustahil untuk mengubahkan seseorang karena logika manusia dibangun dengan kausalitas sekuler atau sebab akibat. Manusia sudah dikuasai oleh dosa sehingga sukar baginya untuk keluar dari jeratan dosa. Agustinus mengatakan non-posse non- peccare, manusia tidak mungkin tidak berdosa. Namun ketika Terang itu datang dan kuasa Kristus menyadarkan manusia berdosa maka itu saatnya manusia berubah, manusia yang dulunya berada dalam kegelapan kini ia berada dalam terang. Seorang anak Tuhan yang belum pernah mengalami mujizat diubahkan, yaitu bagaimana Tuhan mengubah dari orang berdosa kembali pada kebenaran maka ia tidak akan pernah mendapatkan kuasa atau power. Ingat, kuasa bukan otoritas, kuasa dari kata dinamos yang berarti kekuatan atau kemampuan untuk mendobrak. Ingat, kekuatan atau kuasa itu bukanlah berasal dari diri sendiri melainkan dari Tuhan karena kalau dari Tuhan maka tidak mungkin manusia yang terbatas bisa mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sangatlah disayangkan, Kekristenan kini telah kehilangan kuasa Injil, manusia telah dikunci oleh sekularisme dan dibutakan oleh materialisme. Berjalan bersama Tuhan maka tidak ada hal yang mustahil bagi kita untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah, yakni memberitakan Injil pada mereka yang masih berada dalam gelap.

2. Kuasa Injil mempunyai Otoritas Ilahi. Sebagai anak Tuhan, kita harus menyadari bahwa Tuhan, Raja alam semesta yang seharusnya berotoritas atas hidup kita. Logika manusia mungkin melihat bahwa pilihan kita lebih baik namun percayalah pimpinan Tuhan pasti lebih indah meski kelihatan susah jalannya. Jangan pakai otoritas manusia untuk menindas otoritas Tuhan. Ketika kita melihat otoritas Tuhan diinjak-injak maka itulah saatnya anak Tuhan untuk bertindak dan menyatakan kebenaran; jangan takut Tuhan akan memberikan kemampuan dan kekuatan untuk melawan musuh. Membiarkan diri dikuasai oleh otoritasasi dunia sama halnya menyerahkan hidup pada jurang kehancuran. Selama kita tidak kembali pada Tuhan dan bertobat maka kita akan mudah dipermainkan dunia. Memang, bukanlah hal yang mudah menggenapkan rencana Tuhan di dunia yang kacau ini namun percayalah otorisasi Tuhan lebih berkuasa dari otorisasi siapun di dunia sehingga rencana Tuhan tidak mungkin digagalkan oleh manusia. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen takut menghadapi tantangan, mereka selalu menggunakan logika ketika hendak mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar. Seorang pelayan sejati mau tunduk mutlak dan mempunyai jiwa yang taat dan hal ini berlaku di semua aspek hidup kita, baik ketika kita memilih pekerjaan, studi, teman hidup, dan lain-lain. Ketika otorisasi Tuhan sedang dijalankan pasti banyak tantangan yang harus dihadapi namun jangan takut dengan kekuatan dari Tuhan kita pasti bisa menghadapinya dengan demikian kita mempunyai kesaksian indah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan telah memberikan pada kita untuk hidup dalam Terang sehingga kita dapat merasakan indahnya berjalan dalam kuasa Terang karena itu jangan sia-siakan kesempatan.   

3. Kuasa Injil memberikan Bijaksana Ilahi. Rencana Allah sungguh amat bijaksana, Ia sudah menata sedemikian rupa supaya Kristus pergi ke utara, daerah yang berada dalam kegelapan dan kemudian turun lagi ke daerah selatan. Manusia tidak pernah mengerti kenapa harus Kapernaum yang menjadi pusat dari pelayanan Kristus pertama kali? Begitu pula di kehidupan kita terkadang kita tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan pekerjaan yang kita rasa tidak berarti, kenapa Tuhan menempatkan kita di kota yang kecil? Janganlah kita mempercepat sejarah yang Tuhan sedang tata dengan bijaksana. Manusia selalu ingin melihat hasil akhir yang berakhir dengan kesuksesan namun itu justru membuat kita hancur. Rencana dan waktu Tuhan adalah yang terbaik, Ia tahu dari mana harus dimulai, bagaimana harus mencapai kesuksesan dan waktunya berapa lama. Kalau kita dihadapkan pada dua pilihan pekerjaan, yaitu memilih menggenapkan rencana Tuhan namun gaji kecil atau gaji besar dengan pekerjaan yang menyita waktu sehingga kita tidak dapat menggenapkan rencana Tuhan; manakah yang akan kita pilih? Orang Kristen yang materialisme humanis pasti akan memilih pilihan kedua meskipun kita tidak dapat mengerjakan panggilan Tuhan. Apakah itu merupakan keputusan yang bijaksana?

Bijak adalah tahu mengambil keputusan apa yang paling tepat dengan demikian kita tidak menjadi salah langkah karena keputusan itu akan menentukan posisi kita, yaitu sebagai anak Tuhan atau anak iblis. Tidak setiap orang pandai yang berintelektual tinggi mempunyai bijaksana karena orang pandai biasanya selalu terkunci dengan rasio sehingga sukar baginya untuk melihat pekerjaan Tuhan. Kepandaian bukanlah hal yang utama tapi kecermatan melihat segala sesuatu secara integratif itulah hikmat sejati yang melampaui intelektualitas, empirisme dan pikiran manusia. Dunia hanya menuju pada kehancuran maka hendaklah kita balik pada bijaksana Ilahi yang menjadikan sebagai pemberita Terang Tuhan. Tuhan memanggil kita dan memberikan kuasa pada kita untuk melewati tantangan dan kuasa itu tidak menjadikan kita egois sebaliknya Ia mau supaya kita membawa Terang. Kuasa pemberitaan akan muncul kalau kita hidup bersama Tuhan yang memberikan hikmat dan bijaksana. Inilah kekuatan kerygma.

Puji Tuhan kalau Ia masih berkenan memakai kita manusia yang terbatas ini sebagai pembawa berita kebenaran sehingga orang-orang yang berada dalam kegelapan kembali pada Terang sejati. Panggilan Tuhan, penderitaan yang kita alami dan berita yang kita sampaikan merupakan satu ikatan yang saling terkait. Bagaimana mungkin buah zaitun akan menjadi minyak kalau ia tak ditekan? Bagaimana mungkin buah anggur akan menjadi anggur kalau ia tak diperas? Tiap pukulan Tuhan pasti berguna karena Dia sedang menggembleng kita dengan demikian kita semakin jelas melihat esensi panggilan Tuhan sehingga kita mempunyai kekuatan dan kuasa untuk memberitakan Injil dan dengan bijaksana Ilahi hendaklah kita dipakai menjadi saksi bagi-Nya, memancarkan terang di tengah dunia yang gelap ini.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20040815.htm

Eksposisi Injil Matius 4 : ESSENCE OF CALLING, SUFFERING AND KERYGMA-2 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, April 12th, 2006

Eksposisi Injil Matius-4

Ringkasan Khotbah : 1 Agustus 2004

Essence of Calling, Suffering & Kerygma (2)

Nats: Mat. 4:12-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Alkitab mencatat Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya setelah Yohanes ditangkap. Hal ini membuat orang berpandangan negatif pada pelayanan yang Yesus kerjakan karena “sepertinya“ Tuhan Yesus memang sedang menantikan Yohanes Pembaptis berhenti melayani untuk kemudian digantikan posisinya. Manusia pada umumnya ingin kalau ia menggantikan posisi atau pekerjaan seseorang maka segala sesuatunya haruslah sudah dipersiapkan dan berjalan lancar dengan demikian ia tidak akan menemui kesulitan. Akibatnya ia tidak siap ketika mendapati situasi dan kondisi berbeda dengan yang diharapkan. Puji Tuhan, Tuhan Yesus tidak terjebak dengan situasi, Ia telah siap dengan segala situasi bahkan situasi yang terburuk sekalipun karena pelayanan yang Tuhan Yesus gantikan ternyata tidaklah mengenakkan malahan sangat membahayakan namun dari sinilah kita melihat esensi panggilan sejati.

Bentuk pelayanan Yesus berbeda dengan yang dipikirkan manusia. Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak pernah menjanjikan segala sesuatu akan berjalan lancar dan enak, Tuhan juga tidak janjikan hidup kita tidak jumpa susah dan penderitaan. Tidak! Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal itupun menderita ketika Ia datang ke dunia. Kini tiba waktunya bagi Tuhan Yesus, sang Mesias yang menjadi berita utama itu untuk tampil melayani setelah Yohanes Pembaptis, sang pembuka jalan itu ditangkap. Namun tantangan yang harus dihadapi Tuhan Yesus sangat berat karena sama halnya seperti Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus juga mendapat penolakan dari Herodes, penguasa pada jaman itu. Bayangkan, bagaimana Herodes tidak murka, dengan ditangkapnya Yohanes, ia berharap tidak akan ada lagi orang yang memberitakan berita: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ Kini Herodes justru mendapati orang yang berbeda namun memberitakan berita yang sama dan hal ini membuat geram hati Raja Herodes. Maka dengan segala cara dan upaya Herodes menghancurkan setiap orang yang memberitakan berita kebenaran tersebut namun tantangan berat ini tidak menggentarkan hati Tuhan Yesus, Ia tidak menggeser sedikitpun berita kebenaran.

Banyak orang yang menafsirkan salah dengan kembalinya Yesus ke Galilea. Ingat, Yesus menyingkir ke Galilea bukan karena Ia mau menghindar dari ancaman Herodes. Tidak! Karena itu diperlukan empat Injil untuk melihat satu pribadi Yesus. Satu buku atau satu pandangan saja tidaklah cukup untuk menuliskan biografi seseorang. Injil Lukas melihat Kristus secara sejarah dan kronologis, yakni mulai dari Dia lahir sampai kematian-Nya sebaliknya injil Yohanes melihat Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia. Injil Markus melihat Kristus sebagai seorang hamba Allah, seorang yang melayani Allah, maka kalau kita membaca tulisan Markus kita akan merasakan Yesus layaknya seorang manusia yang melayani yang pernah ada di bumi namun kontras dengan injil Matius yang menggambarkan Kristus sebagai seorang Raja yang berkuasa, maka kita akan menjumpai kata “Kerajaan Sorga“ di setiap tulisannya; kerajaan Kristus dimulai dari Yesus memanggil dua belas murid kemudian berkembang menjadi kerajaan Sorga yang besar.

Kalau kita melihat Yesus secara segmentasi, yaitu Yesus sebatas manusia, atau Yesus  sebatas Raja atau Yesus sebatas Allah berarti kita gagal mengenal Yesus yang adalah Allah dan manusia. Kegagalan ini disebabkan karena orang telah terpaku pada subyektifitas diri. Injil Matius mau melihat Kristus dari sudut pandang Yesus Kristus, seorang Raja yang sedang memberitakan Kerajaan Sorga mulai dari biji sesawi sampai menjadi pohon besar dimana burung dapat berteduh dalamnya. Ingat, Matius maupun Injil yang lain tidak menulis semua hal tentang Kristus secara detail, hanya hal-hal yang mereka anggap sangat penting saja itulah yang ditulis. Dari injil Matius, kita melihat Yesus tidak sepenuhnya berada di Galilea tapi kalau kita bandingkan dengan Injil yang lain maka kita akan menjumpai Yesus pernah ke daerah Yordan bahkan ke Yerusalem. Namun hal ini tidak ditulis oleh Matius karena bukan di sana fokusnya.

Matius mau menunjukkan bahwa pelayanan Yesus dimulai dari Galilea karena Matius ingin supaya pembacanya melihat mulainya pelayanan Yesus, kemudian kita melihat bagaimana Tuhan Yesus melangkah selangkah demi selangkah memulai misi-Nya hingga berakhir di Yerusalem. Matius melihat Tuhan memanggil secara progresif, yakni kita melihat pimpinan Tuhan selangkah demi selangkah. Namun dunia modern dimana teknologi telah berkembang pesat menjadikan manusia ingin segala sesuatu haruslah serba cepat, orang selalu ingin melihat hasil akhirnya terlebih dahulu sebelum ia melangkah lebih jauh. Cara Tuhan memimpin berbeda, Ia menuntun kita selangkah demi selangkah, Ia tidak menunjukkan pada kita hasil akhirnya. Seperti halnya orang yang sedang berjalan di kegelapan malam yang pekat dengan membawa sebuah lentera kecil sehingga ia hanya dapat melihat dengan jarak pandang yang terbatas, ia tidak dapat melihat jalan tersebut akan berakhir dimana namun seiring dengan langkahnya maka lentera itupun turut menerangi jalannya. Tuhan ingin supaya manusia selalu bersandar pada pimpinan Tuhan.

I. Pelayanan yang Taat Pimpinan Tuhan

Tuhan Yesus ketika hendak memulai pelayanannya, Ia tidak langsung terjun melayani melainkan Ia retreat berdiam diri di Kapernaum sehingga hal ini dapatlah kita teladani bahwa saat kita melayani mungkin Tuhan ingin supaya kita mundur terlebih dahulu. Secara manusia terkadang kita tidak rela ketika Tuhan meminta kita untuk mundur apalagi kalau kita sudah tahu hasil akhirnya. Retreatnya Tuhan Yesus justru mempunyai makna yang sangat besar. Galilea merupakan awal bagi Kristus menjalankan misi-Nya, yaitu dari dua belas murid. Tuhan membentuk setiap anak-Nya seiring dengan berjalannya waktu yang terus berproses dengan demikian kita mempunyai pondasi yang kuat sehingga tidak mudah digoncangkan oleh bujuk rayu iblis. Ketika melangkah kita harus belajar untuk mundur dan melihat apa rencana Tuhan atas hidup kita.

Kita telah memahami bahwa cara Tuhan memimpin berbeda dengan cara iblis. Tuhan memimpin manusia selangkah demi selangkah berbeda dengan iblis yang menawarkan jalan pintas. Manusia melihat jalan pintas yang ditawarkan iblis itu nampak indah namun manusia tidak menyadari jalan pintas yang dipilih tersebut justru merupakan titik kehancuran. Karena itu sebagai anak Tuhan hendaklah kita senantiasa waspada supaya kita tidak masuk dalam jebakan iblis. Jalan Tuhan memang sulit untuk kita pahami; tujuan sudah nampak di depan mata tapi terkadang Tuhan menuntun memimpin kita untuk berputar. Tuhan tahu justru jalan yang terbaik bagi setiap anak-Nya adalah jalan yang memutar dan panjang bukan jalan pintas. Bukankah untuk sampai pada puncak gunung lebih mudah bagi kita kalau jalan tersebut berkelok-kelok? Namun manusia berdosa merasa diri lebih pandai, lebih bijaksana sehingga ia merasa tidak perlu untuk taat pada Tuhan.

II. Pelayanan yang Dimulai dari Kecil

Jangan melangkah terlalu cepat dan terburu-buru. Orang yang melangkah dengan terburu-buru biasanya akan menjadi batu sandungan. Start with the humble begining, biarlah segala sesuatunya kita mulai dari hal yang sederhana terlebih dahulu. Pada umumnya, manusia ingin mengerjakan hal yang besar dengan tujuan supaya orang lain melihat dan memuji hasil pekerjaannya namun banyak orang tidak siap mental sehingga ia akan mudah jatuh, ia tidak mempunyai pertahanan yang cukup untuk menahan “kebesaran“ dirinya. Seperti halnya gedung kalau pondasinya tidak kuat maka ia akan runtuh ketika datang goncangan dan badai menerpa. Tuhan Yesus memberikan teladan bagi kita, Dia adalah Anak Allah sehingga bukanlah hal yang sulit kalau Ia memulainya dari Yerusalem namun Ia memulai misi-Nya dari kota kecil di Galilea, Kapernaum.

Kapernaum dan Yerusalem terpisah oleh jarak yang sangat jauh tapi Yesus tahu dari sanalah awal dari kekuatan dan kematangan langkah. Orang tidak suka kalau harus memulai pekerjaan dari hal yang kecil terlebih dahulu apalagi kalau mereka sudah terbiasa mengerjakan hal-hal yang besar. Padahal dari hal yang kecil akan menjadikan kita lebih teliti dan kita mempunyai pertahanan mental diri yang kuat. Dalam banyak aspek, kita tidak mau memulai dari bawah terlebih dahulu karena orang seringkali beranggapan bahwa mengerjakan pekerjaan rendah sangat menghinakan mereka. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menganggap rendah dan memandang remeh setiap pelayanan yang dipercayakan Tuhan pada kita bahkan pelayanan yang kecil sekalipun. Pelayanan yang terbaik justru dimulai dari kita mengerti orang lain terlebih dahulu, seperti pelayanan di penyambutan tamu. Berelasi dengan orang lain merupakan cara yang tepat bagi seseorang untuk menunjukkan jiwa pelayanannya. Kalau ia tidak mempunyai jiwa pelayanan maka Tuhan tidak akan memberikan pelayanan lain yang lebih besar padanya. Tuhan Yesus tidak memulai pelayanannya langsung pergi ke Yerusalem meski Ia tahu bahwa pada akhirnya Ia harus ke sana tapi Kristus justru memulai pelayanan-Nya dari kandang domba dan pelayanan-Nya di mulai dari sebuah desa kecil. Hendaklah kita meneladani Yesus yang berjiwa rendah hati dan kesederhanaan.

III. Pelayanan yang Dikerjakan dengan Semangat Tinggi

Pelayanan sejati harus dimulai dari jiwa yang rendah hati dengan demikian pelayanan sekecil apapun kita kerjakan dengan kesungguhan hati bukan asal-asalan. Jiwa pelayanan Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi, meski Kapernaum sebuah desa kecil namun Kristus tetap semangat melayani dan berita yang Ia wartakan tidak berubah, “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Manusia telah terbiasa dikondisikan oleh  lingkup yang ada, kalau lingkupnya kecil dan sederhana biasanya orang melakukannya tidak dengan sepenuh hati. Itu berarti kita telah didikte oleh situasi dan kondisi karena lingkungan mendikte kita negatif maka kita pun terpengaruh negatif begitu pula sebaliknya. Puji Tuhan, Kristus tidak terpengaruh sedikitpun oleh situasi maupun kondisi. Situasi merupakan tempat bagi Kristus untuk mengerjakan tugas panggilan-Nya. Tuhan Yesus tahu esensi panggilan itulah sebabnya kesulitan dan penderitaan tidak membuat-Nya undur dari pelayanan.

Panggilan Kekristenan seharusnya tidak menurunkan kualitas pelayanan; kita harus tetap memberitakan Firman, kita tetap bersedia baik atau tidak baik waktunya (2Tim. 4:2). Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam pelayanan di gereja semata tapi juga berlaku di sekolah, dunia kerja, dan lain-lain. Karena itu jangan menganggap remeh setiap pekerjaan sederhana yang dipercayakan pada kita tapi hendaklah kita melakukannya dengan sebaik-baiknya. Orang selalu berpikir bahwa pekerjaan yang ia lakukan haruslah setimpal dengan pendapatan yang ia peroleh sehingga kalau pendapatan yang ia terima kecil maka ia akan melakukan tidak dengan sepenuh hati. Kita seharusnya berpikir terbalik, apapun yang kita lakukan haruslah kita kerjakan sebaik mungkin, seluruh kemampuan kita kerahkan sehingga orang lain akan menilai, apakah kita layak atau tidak dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang lebih besar. Dunia membangun citra yang terbalik dengan yang Alkitab ajarkan sehingga hal ini turut mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku kita.

Begitu pula dalam pemberitaan Firman, seorang hamba Tuhan tidak boleh terpengaruh dengan jumlah jemaat yang hadir. Meski jumlah jemaat hanya lima orang sekalipun, berita yang kita sampaikan harus tetap konsisten dan bersemangat sama seperti kalau berkhotbah pada seribu orang jemaat. Hal ini berarti hamba Tuhan tersebut tidak dikendalikan oleh situasi maupun kondisi tapi dikendalikan oleh panggilan Tuhan atas hidupnya. Sebagai anak Tuhan kita harus menyadari bahwa Tuhan memanggil untuk menjadi pemberita Firman maka kita akan memberikan yang terbaik pada-Nya. Namun bukan hal yang mudah bagi kita untuk tidak terpengaruh dengan sesuatu yang dapat kita lihat dan kita rasakan. Orang akan goncang kalau melihat situasi yang buruk dan tidak menguntungkan akibatnya kualitas kerja kita merosot. Situasi dunia kini sangat kacau namun kita diuji dalam keadaan kacau demikian apakah esensi panggilan hidup kita mengontrol hidup kita. Ini menjadi hal yang utama.

Panggilan hidup kita bertumbuh seiring dengan ketaatan kita pada pimpinan Tuhan seperti orang yang berjalan dengan lenteranya berjalan di kegelapan malam dengan demikian kita tidak takut menghadapi kesulitan dan penderitaan karena Tuhan beserta. Yang menjadi pertanyaan adalah maukah kita taat pada pimpinan Tuhan dan relakah kita dibentuk oleh Dia? Biarlah hakekat panggilan hidup terus kita sadari sehingga kita mempunyai kekuatan dan kestabilan hidup dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia yang senantiasa berfluktuasi. Hendaklah kita mencontoh teladan Musa dan Yusuf yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Kiranya Tuhan menguatkan kita menjalani hidup seturut dengan panggilan Tuhan dalam diri setiap kita. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Bina Iman Kristen-56 : HEBREW POETRY FOR DUMMIES (oleh : Ev. Jeane Christiana Obadja, B.A., M.Div., Th.M.)

Friday, April 7th, 2006

Bina Iman Kristen-56

HEBREW POETRY for DUMMIES

Transkrip Puisi RPA III/2, Januari 1995

oleh : Ev. Jeane Ch. Obadja, B.A., Th.M.

PENDAHULUAN

Kitab TANAKH sebagai Alkitab orang Yahudi dapat dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Law (Torah)
  2. Prophets (Nebi’m)
  3. Writings (Ketubhim)

Umumnya, kitab-kitab puisi berisi metafora (kiasan). Metoda metafora dimaksudkan untuk menyampaikan sesuatu yang abstrak dan diharapkan pada saat membacanya orang memperoleh berkat. Banyak orang ingin tahu secara langsung pada saat mempelajari Alkitab, tetapi mereka lupa bahwa dalam diri mereka telah ada ‘sifat membeda-bedakan’ (gap-gap) secara tidak sadar, yaitu:

  • Dalam hal bahasa
  • Dalam tempo, waktu yang berbeda pada saat kitab ditulis dan dibaca oleh kita pada masa sekarang.

Latar belakang ‘Literatur Wisdom’ lebih tepat dengan menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa Inggris. Hikmat berasal dari kata ‘hokmah’ (bahasa Ibrani). Hokmah, hakam, hakamah mempunyai arti yang sama yaitu seseorang yang bijaksana dalam memberikan nasihat-nasihat atau wejangan-wejangan atau instruksi-instruksi, agar seseorang dapat hidup dalam kebenaran Firman Tuhan atau Taurat. Dalam kitab amsal, pengertian hikmat dijabarkan dengan sulit. Hal ini menunjukkan bahwa ‘hikmat’ tidak mudah dijelaskan. Tidak hanya bersifat bijaksana, tetapi mengandung arti yang lebih mendalam.

Jadi hikmat berarti seseorang yang dapat mengerti Firman Tuhan dengan benar dan menjalankannya, sehingga orang berhikmat (berhubungan dengan Taurat secara keseluruhan) adalah seseorang yang menerapkan Firman Tuhan dalam hidupnya. Bukan hanya menafsirkan, tetapi juga menyampaikan dengan kata-kata yang mudah dimengerti oleh orang lain, sehingga orang lain yang mendengarnya menjadi berhikmat (kata kunci)

‘Sage’ (Elders) mengatakan dalam Yehezkiel 7:26, "Men shall seek in vain for a vision from the prophets, the law from the priest, and counsel from the elders." Jadi ada tiga trend dalam perolehan visi.

  1. Dari Nabi. Visi dari nabi itupun merupakan visi Tuhan tentang keselamatan Israel.
  2. Hukum dari para Imam. Mengacu pada Kristus yang akan menggenapi hukum yang disampaikan oleh imam.
  3. The Elders. Bukanlah tua-tua atau penatua, melainkan orang-orang yang dianggap bijaksana dan sudah mempelajari Firman Tuhan dan mengajar di pintu-pintu gerbang Yerusalem (umumnya mereka dibutuhkan untuk memberikan pendapat atau nasihat).

Dalam Yeremia 18:18, "Law is not lost to the priest, nor counsel to the sage, nor the word to the prophets." Yeremia juga menegaskan ketiga hal tersebut dan menghibur dengan memberikan harapan pada saat mengatakan "visi yang dapat hilang dan hukum yang dapat tidak diberikan karena ketegaran hati mereka."

KETUBHIM

Pada dasarnya merupakan re-pository wisdom (pository, pengenjawantahan hikmat secara praktis). Kitab-kitab syair ini merupakan literatur praktis untuk menjelaskan kitab Taurat dan kitab nabi-nabi melalui pencetusan ekspresi mereka kepada Allah Yahweh yang mereka percaya melalui nabi-nabi mereka. Hukum-hukum Musa, puisi/syair dan visi-visi dari nabi mereka diekspresikan dalam liturgi ritualistik melalui kitab writings, sehingga Ketubhim ini disebut ‘repository’ (mengulang apa yang sudah disampaikan secara praktis). Berbeda dengan ‘ekspository’ (mengekspos apa yang ada dalam Alkitab). Dalam penyampaian ekspresi tersebut dilengkapi dengan metafora/kiasan, agar orang yang mengerti, kembali kepada Firman Tuhan dan tidak keluar dari Alkitab mereka.

Contoh: Mereka yang taat pada Taurat seperti pohon yang ditanam di tepi aliran sungai.

Latar belakang penulisan TANAKH ini, khususnya Ketubhim, sangat dipengaruhi oleh literatur Babylonia, Syria, dan Mesir, yang dilengkapi dengan paralel, khiasmus (paralel silang), antitetik, sintetik, dan lain sebagainya. Latar belakang ini cukup beralasan mengingat bahwa Musa memiliki latar belakang Mesir, sehingga penulisannya pun bergaya Mesir. Literatur-literatur tersebut sah dan otentik karena ditulis pada jaman yang sama. Musa dipengaruhi oleh jaman Babylonia, Syria dan Mesir, dan memakai literatur-literatur kuno. Untuk hal ini diberikan bukti-bukti atau dokumen-dokumen penting dalam kitab Amsal, Ayub, Hikmat Salomo, Pengkotbah, Mazmur 3, 49, 112, 128, yang mirip dengan literatur Babylonia, Syria dan Mesir. Ditambah lagi, secara oriental pun, pengertian ‘Hebrew Hokmah’ sebagai kebudayaan setempat yang dikenal orang secara oriental juga di semenanjung tanah subur tersebut.

Dalam ‘Egyptian Writings’ ada dua hal literatur yang penting:

  1. berhubungan dengan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah.
  2. berhubungan dengan luar sekolah

Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan orang-orang Yahudi tidak lepas dari kehidupan ilmu pengetahuan di sekolah dengan Alkitab. Mereka menghubungkan Alkitab dengan science, sehingga tidak ada kebenaran di luar kebenaran Allah.

Ada dua kategori dalam petunjuk praktis literatur-literatur tersebut:

  1. Kategori I dalam ‘Proverb Collection’. Bahwa literatur wisdom menekankan tentang adanya nasihat-nasihat dari pengamsal-pengamsal seperti Salomo. Juga menekankan tradisi orang Yahudi bahwa ayah mengajarkan Taurat kepada anak-anaknya, sehingga pendidikan hal-hal tersebut untuk anak-anak mereka sangat kuat.
  2. Kategori II. Menyatakan ekspresi mereka, keluhan/complain mereka kepada Tuhan dengan memakai kata-kata metafora.

PENGGUNAAN PUISI IBRANI

Puisi digunakan untuk mengkomunikasikan suatu hal yang ingin disampaikan agar dapat dimengerti oleh orang lain. Hal-hal yang sulit diterima dan diungkapkan—contohnya dalam Roma 8 dikatakan bahwa dalam keadaan sedih kita sulit berdoa, sampai harus dibantu Roh Kudus— dibuat dalam bentuk simile-simile (similaritas, misal-misal), metafora-metafora, paralel-paralel, hiperbola-hiperbola, sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Ketika mereka mengeluh, menangis, menjerit-jerit, atau histeris, mereka mungkin mengucapkan kata-kata yang salah, karena mereka kehabisan kata-kata, ya karena saking sedihnya, tapi perasaan mereka dapat dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu mereka sangat suka untuk menuliskan hal-hal seperti ini. Kalau menyanyi, betul-betul menyanyi. Kalau menangis, betul-betul menangis. Kalau senang, betul-betul bersukaria, seperti minum anggur sampai mabuk. Kalau sedih, betul-betul sedih, sampai tempat tidur pun seperti air mata. "Hatiku begitu sedih, sampai tiap hari aku minum air mata." Ini merupakan suatu metafora yang menunjukkan begitu sedihnya dia. Tetapi hal itu sampai (mengena) pada seseorang yang dituju.

Inilah yang membedakan literatur Ibrani dengan literatur bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa lain tidak mengenal Allah Yahweh mungkin bisa menyampaikan kata-kata yang sama. Bahkan mungkin kata-kata itu diambil oleh orang Yahudi. Karena mereka tidak punya kata-kata, maka mereka mengambilnya dari sana-sini. Seperti kita, jika ingin mengirim surat kepada orang yang kita cintai, kita akan pergi ke toko buku untuk mengutip kata-kata yang indah, karena takut salah tulis. Kata-kata sendiri kok rasanya jelek. Tapi ada juga orang-orang yang punya talenta untuk menciptakan kata-kata yang indah. Ada saja inspirasinya. Kata-kata indah ini mungkin saja mirip antara milik si A dan B, namun tentunya isinya berbeda. Artinya orang yang menerimanya pasti tahu ini bukan dari siA tapi dari si B. Dengan demikian kita melihat bahwa sebetulnya segala ungkapan itu kosong. Jika itu ditulis oleh si A, maka si penerima tidak akan mengerti, karena ia tidak mengenal si A. Tetapi jika kita menulis untuk seseorang yang memang kita tuju, maka walaupun mungkin agak kacau penulisannya, maksudnya tetap akan tercapai. Demikian pula dengan literatur Ibrani, nampak sekali bahwa ada "seseorang" yang dituju. Ia bukan sekedar menyampaikannya kepada seorang kekasih, tetapi kepada Yahweh, Allah mereka. Begitu kuat garis tersebut, sehingga kita dapat berkesimpulan bahwa literatur Ibrani bukanlah sekedar tulisan manusia, tapi merupakan suatu inspirasi bagaimana orang-orang ini mengenal Allah mereka. Mereka merangkum kitab-kitab Taurat Musa sampai dengan kitab nabi-nabi, karena mereka telah menghafalkannya sejak kecil. Lalu mereka mencoba menuangkan apa yang percaya. Jadi mereka menuliskan puisi ini berdasarkan iman mereka kepada Allah Yahweh. Oleh sebab itu, jika kita melihat kitab Pengkotbah yang sepertinya sekular, orang menganggapnya sebagai suatu pesimisme, fatalisme, atau isme-isme yang lain. Jika kita tidak kembali ke latar belakangna, kita akan beranggapan sama, seperti penulisnya?

Hanya karena kita sudah mempunyai presaposisi bahwa ini adalah bagian dari Alkitab, maka konteksnya adalah Alkitab. Mau tidak mau, ini adalah Firman Tuhan jadi harus dihubung-hubungkan. Tidak begitu seharusnya.

Begitu kuatnya garis Yahweh tersebut, kepercayaan mereka yang monoteistik, berbeda dengan kepercayaan bangsa lain yang politeistik, mereka dapat mengatakan bahwa sun and moon, Jupiter and Mars, adalah dewa-dewa mereka. Ketika hal itu dikembalikan kepada bangsa Ibrani, mereka dapat mengatakan bahwa dewa-dewamu itu, Allahku yang membuat. Juga ketika mereka memuja pekerjaan tangan Allah, mereka memuja bendanya. Tetapi pada saat orang Ibrani melihat hal itu, mereka memakainya sebagai pemujaan kepada Penciptanya. Itulah yang membuat puisi ini masuk ke dalam biblical literature.

Jadi itulah yang membuat adanya suatu perbedaan yang menyolok, bahwa kitab-kitab semacam Ester pun, yang tidak ada satu pun kata ‘Allah’, masuk dalam Alkitab. Ayub yang hanya menangis-nangis, dan ketiga temannya yang berkata-kata salah pun masuk. Sampai dialog setan pun masuk. Karena semuanya itu menunjukkan kebenaran yang ingin disampaikan melalui kitab-kitab puisi, bahwa ini merupakan pengalaman orang-orang Israel pada waktu itu, yang disampaikan melalui kata-kata yang sulit dimengerti.

Untuk mempermudah kita mengerti, mengenal latar belakang sangatlah menolong. Sekalipun kita tidak mengerti, ada yang mengerti. Sekalipun sepertinya tidak terkomunikasikan pada kita, intinya mereka menceritakan tentang Allah yang mereka percaya.

Seperti dalam kitab Pengkotbah yang menyatakan bahwa semuanya sia-sia. Kita tidak mengerti mengapa semuanya itu sia-sia, karena kita tidak mengerti apa artinya sia-sia. Jika kita tahu artinya, barulah dapat dimengerti mengapa kitab itu adalah Firman Tuhan. Tentunya bertentangan jika di situ dikatakan bahwa semuanya sia-sia, padahal Paulus mengatakan bahwa di dalam Tuhan tidak ada sesuatu pun yang sia-sia. Jadi presaposisi itu penting juga, dengan beranggapan bahwa dalam Firman Tuhan tidak ada yang bertentangan atau kontradiksi, jika terjadi kontradiksi berarti kita yang belum mengerti.

Untuk dapat mengerti itu kita harus masuk ke dalam bahasa aslinya, bukan saja bentuknya tetapi juga isinya.

Contoh Qoheleth (Pengkotbah). Qoheleth berasal dari kata Ibrani yang berarti imam atau pengajar. Disebut Qoheleth, karena dalam masyarakat Ibrani, sebagai seorang pria, dia (pria) menjadi semuanya: guru, pemimpin di rumah dan di tempat kerja. Jika ia (penulis kitab Pengkotbah) mempunyai profesi dalam hal ini adalah raja, maka segala sesuatu adalah tanggung jawabnya, baik hal yang berhubungan dengan politik, sosial, budaya, ekonomi, maupun rohani. Jadi seorang ayah mempunyai double function. Tidak ada yang bisa berkata bahwa tugas ayah hanya mencari uang. Ia juga harus mengajarkan Firman Tuhan kepada keluarganya. Sesibuk-sibuknya—yang paling sibuk adalah raja—ia tetap mengatakan "Aku raja, anak Daud, aku mengajar." Mengajar Taurat . Maka tidak ada alasan bagi pria untuk mengatakan "Saya sudah sibuk kerja, maka ibu saja yang mengajar anak", karena anak harus dipimpin oleh qoheleth-qoheleth semacam ini. Sebab qoheleth adalah yang memegang wisdom, seorang Sage. Karena Allah memberikan wisdom kepadanya, kepada kaum pria.

Tema Pengkotbah adalah bahwa kematian sepertinya menghancurkan kasih dan sukacita. Bahkan orang-orang kaya yang berkuasa tidak dapat selalu memegang kebaikan Allahnya, atau dewanya untuk dapat hidup senang. Tetapi pembunuh, kekejaman malah hidup dengan tenang. Kalau dilihat, malah ketidak adilan yang disampaikan. Tetapi penulis Pengkotbah justru ingin berkata bersukarialah jika tahu bahwa hidup seperti itu tidak ada keadilan, kasih rasanya percuma, kebaikan percuma, kaya percuma, apa-apa percuma, semua sia-sia, lalu bersenang-senang sajalah. Pada saat ia mengatakan bersenang-senang saja, sebenarnya ia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar, "bisa atau tidak?" Semua disampaikan secara realistik, bukan sekedar kembang-kembang rohani yang ingin membuat orang bertobat. Coba lihat, tidak ada keadilan. Coba lihat, orang kaya mati, seperti anjing, sama juga. Singa mati dibandingkan dengan anjing hidup lebih baik anjing hidup. Semuanya dicoba dibandingkan, kemudian dikatakan buat apa ini semua, jika semuanya sia-sia. Lebih baik bersuka-ria, makan-tidur, jalan-jalan. Ini perlu disampaikan, sebab banyak literatur wisdom yang kita pikir bentuknya adalah kata-kata mutiara. Koleksi kata-kata mutiara ini yang biasanya dianggap hikmat. Tapi sebenarnya bukan itu. Hikmat itu merupakan sesuatu yang realistis, pengalaman manusia. Orang berhikmat pun matinya sama dengan orang yang tidak berhikmat dan bodoh. Dalam hal ini, orang yang tidak berhikmat bukanlah orang bodoh yang tidak punya IQ tinggi atau tidak dapat mengintegrasikan pengetahuan. Hikmat di sini tidak pernah lepas dari Taurat. Jika sudah bicara soal Taurat, maka orang yang tidak berhikmat adalah orang yang tidak ‘memiliki’ Taurat. Maka sebenarnya yang ingin dikatakan ialah orang yang tidak punya Taurat ialah orang bukan Yahudi, yaitu orang kafir. Jadi orang kafir pasti tidak berhikmat, walaupun mereka mempunyai titel yang tinggi, walaupun mungkin mereka dapat memberikan hikmat kepada dunia, punya nasihat-nasihat berharga, punya kata-kata mutiara yang indah. Tapi jika itu tidak didasarkan Taurat, maka itu bukan hikmat. Karena hikmat selalu berhubungan dengan yang memberikan hikmat. Dan hikmat baru dapat dikatakan hikmat, jika ia kembali kepada si Pemberi hikmat. Jadi dasar hikmat selalu berhubungan dengan Firman, dengan Taurat, dengan istilah Perjanjian Lama, atau Torah, jika dikaitkan dengan hukum.

Hukum-hukum, kitab nabi-nabi, visi-visi yang diberikan, mengacu kepada satu titik, yaitu untuk mengenal siapa Allah yang sebenarnya. Karena mereka gagal mengenal Allah mereka, mereka mencoba melalui ilah-ilah, melalui image-image, melalui general revelation, melalui penciptaan. Apapun mereka coba, untuk sampai kepada Allah Yahweh, tapi mereka tetap tidak berhasil. Mereka mencoba melalui Torah, melalui visi-visi yaitu kitab nabi-nabi, melalui kitab suci mereka, tetap saja mereka tidak dapat hidup bahagia. Rasanya semuanya sia-sia. Karena mereka hanya mengerti itu sebagai pengetahuan. Orang yang mengerti Alkitab secara tuntas adalah orang Israel. Tetapi jika kita bertanya kepada mereka apakah Yesaya 53 tentang Mesias, maka jawabnya adalah tidak. Tidak perlu lagi menjelaskan kepada mereka apa isi Yesays 53, mereka lebih pandai. Tetapi mereka mengerti untuk membantah. Apa yang kita interpretasikan sebagai Mesias, mereka tidak menginterpretasikan sebagai Mesias. Tetapi secara jujur, karena adanya hikmat tersebut, tidak bisa tidak, ketika mereka melihat hikmat ini, semuanya mengacu kepada Mesias. Mereka malu hati untuk mengakui bahwa Yesaya 53 tidak lain kecuali Mesias. Kalau dikatakan itu Israel, ditelusuri pasti ada sesuatu missing link. Kalau dikatakan itu Yesaya, kelihatannya benar, sampai suatu titik tidak mungkin, karena dikatakan tidak berdosa. Terus dicari-cari dan tidak bisa, akhirnya tidak dibuat commentary Yesaya 53, alasannya belum dipelajari. Tidak mudah menginjili orang Yahudi.

PENGENALAN RHYME DALAM PUISI

Rhyme maupun ritme memainkan peranan yang sangat besar dalam puisi. Seperti dalam lagu Mazmur 8, kata-kata "above the high Heaven" dinyanyikan dengan nada semakin rendah, sehingga rasanya tidak cocok (above the high Heaven nadanya kok malah turun, ngak sesuai syairnya). Ritme digunakan untuk membantu mereka dalam menghafalkan puisi. Sama seperti ummat Islam dalam menghafalkan Al-Quran, lebih mudah karena ada lagunya.

RUANG LINGKUP LITERATUR

KRISTEN IBRANI

Sekarang kita akan membahas The Scope of Hebrew Christian Literature. Tadi telah dikatakan untuk mengerti puisi Ibrani, yang terpenting adalah isinya, berarti kita harus mencari temanya. Apa yang menjadi fokus pemberitaan mereka, dan yang lain—syair-syair yang mereka buat—hanya merupakan variasi-variasi. Oleh sebab itu, jika kita sudah menemukan tema, maka kata-kata yang penuh dengan bunga-bunga puisi itu hanya menunjang saja, memperkuat tema, sehingga semakin lama semakin fokus, Jadi jika mereka menggunakan paralel-paralel, atau persamaan-persamaan, semakin banyak pararel semakin jelas tema yang dimaksudkan. Persamaan yang satu dengan persamaan yang lain akan semakin mempersempit gap.

Misalnya orang dalam konteks Yahudi menyamakan Kerajaan Allah seperti menemukan mutiara di dasar laut, begitu sulitnya mereka mengambil tetapi tetap mau mengambilnya. Sampai di situ belum cukup, sebab yang mengert hanya penyelam saja. Kemudian diperjelas dengan orang yang menemukan harta karun di dalam tanah, sehingga semua hartanya dijual untuk bisa mendapatkan ladang tersebut. Hanya untuk menjelaskan betapa berharganya Kerajaan Allah, sehingga mereka mau mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkannya, kalau perlu nyawa mereka pun, mereka tidak peduli. Nyawa yang sifatnya jasmani, kalah dengan Kerajaan Allah yang sifatnya rohani. Tetapi rohani ini pun digambarkan dalam bentuk materi, karena lebih mudah bagi orang untuk mengerti nilai mutiara ataupun harta karun. Jadi jika dikatakan sama seperti ini, sama seperti itu, semakin banyak orang dalam berbagai profesi yang dapat mengerti. Untuk bagian arsitek, misalnya, seperti rumah.

Orang yang taat pada Firman Tuhan seperti membangun rumah: bagaimana caranya, apa perlengkapannya, budgetnya, tukangnya, dan lain sebagainya. Tukang yang dipakai harus bertanggung jawab. Jika atapnya bagus tapi bagian bawahnya berantakan, semua harus diulangi lagi. Jadi setiap sudut dalam pembangunan rumah itu penting sekali.

Salah satu ilustrasi yang sering dipakai dalam bentuk puitis, dan sekarang kita terapkan dalam konteks Indonesia. Bagaimana seorang harus melakukan tugasnya dengan baik kalau dia mau maju. Seseorang sedang menata keramik, suatu pekerjaan yang mudah, cuma mengatur, asal betul menghitungnya, tentunya akan pas. Tetapi bagi orang yang profesional, yang mau maju, yang mau kualitas pekerjaannya semakin baik, ia tidak hanya sekedar menempel. Mungkin sebagai seorang ahli dia tidak segan-segan turun tangan sendiri, belepotan semen, menempel sendiri, sehingga pas. Diukur sedemikian rupa supaya jangan sampai miring sedikitpun. Setelah pekerjaannya selesai dengan baik, dengan bangganya ia akan memberikan kartu namanya kepada orang lain. Hal seperti ini dapat menggambarkan seseorang yang benar-benar mau membangun hidupnya berdasarkan Firman Tuhan. Betul-betul hati-hati dalam membuat pondasi, menaruh lantai, menaruh semen, melekatkan satu batu dengan batu yang lain. Sepertinya hanya begitu saja, tetapi ini merupakan suatu sikap. Sikap ini jika di-simile-kan atau disamakan, demikianlah sikap kita dalam membaca Firman Tuhan. Pada saat kita membaca Firman Tuhan, kita mendapatkan satu pondasi, satu batu, lalu bagaimana kita membangunnya. Rapi, sehingga bangunan kita kokoh, bagus, erat, tidak gampang kemasukan rayap, atau bagaimana? Ini semua tergantung pada sikap kita terhadap bangunan yang kita buat.

Jadi ilustrasi ini tujuannya supaya orang yang membaca semakin mengerti, mengkomunikasikan apa yang ada dalam dirinya secara abstrak dikonkretkan secara realita, sesuai dengan konteks masing-masing.

Oleh sebab itu, semakin kita mendekati bahasa aslinya, mengenal pengarangnya, makin kita mengerti karakter penulis, makin kita mengerti mengapa dia menulis itu, bagaimana cara penulisannya, segala macam contoh yang dipakai, sesuai dengan profesi dia.

Original meaning for the original audience from the original writer. Itu yang harus dicari, bukan kita cari sendiri dengan memparalelkannya dengan kehidupan kita. Misalnya tentang perjamuan kudus. Roti dan anggur diganti dengan singkong dan teh. Hal ini tidak mungkin, karena roti dan anggur melambangkan tubuh dan darah Kristus. Singkong tidak mungkin dipecahkan, harus dipotong-potong. Akhirnya keserupaan itu hilang, beritanya tidak sampai, hanya karena disamakan dengan konteks sekarang. Jadi dalam mengkontekskan apa yang ada dalam Alkitab, jangan sampai menghilangkan maknanya.

BEBERAPA HAL YANG DIPERHATIKAN SEBELUM MENGERTI TEMA

Sekarang kita akan membicarakan apa yang harus kita ketahui sebelum kita mengerti tentang tema, mencari tema dengan benar, dan jika terjadi perubahan dalam kitab puisi kita tidak akan kehilangan arah.

Yang pertama, pada saat literatur dibuat, bagaimana keadaan sosial budaya, bagaimana tingkat kepandaian atau penemuan.

Pada bagian pertama dikatakan bahwa Hokmah (dalam bahasa Ibrani) dan Sophia (dalam bahasa Yunani) yang sama-sama artinya hikmat sebenarnya paralel. Baik orang Ibrani maupun Yunani berlomba-lomba mengedukasi kaum muda mereka dengan kehidupan yang praktis, dengan dasar kepercayaan mereka masing-masing. Orang Ibrani akan kembali pada Taurat, dan orang Yunani pada Filsafat mereka. Analogi yang dapat membuat kita mengerti tema-tema yang terdapat dalam literatur orang-orang Ibrani ini, biasanya muncul di upper strata (kaum menengah ke atas). Karema itu tidak heran jika contoh-contoh dalam Amsal atau Kidung Agung digambarkan seorang wanita yang menunggu seorang pria dengan sprei linen buatan Mesir, itu pasti upper class. Pada saat mereka mengatakan diberikan bunga teratai, anggrek—yang mahal harganya—, atau diberikan batu-batu safir, emas, berlian, dan permata yang indah-indah, hal ini bisa disalah artikan jika tidak mengerti latar belakangnya dan akhirnya menganggap bahwa Alkitab hanya untuk kaum kaya. Hal ini terjadi karena mereka tidak tahu bahwa pada jaman itu memang literatur ini dibuat dan ditujukan untuk orang-orang golongan menengah ke atas.

Contoh lain adalah penderitaan Ayub. Teman-temannya tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang saleh seperti Ayub, yang tidak pernah salah dalam melakukan Taurat, dan jika ia bersalah ia selalu mempersembahkan korban, bahkan mungkin jumlahnya berlebihan, anaknya pun belum sampai berdosa pun sudah diberikan korban, bisa menderita seperti itu. Pada saat hal itu terjadi, sosial budaya pada waktu itu tidak bisa menerima. Karena latar belakang Perjanjian Lama mengajarkan orang yang hidup benar, orang yang hidup taat, pasti diberkati. Mengapa Ayub seakan-akan dikutuk? Maka mereka menganggap ‘karena dikutuk’, dia pasti sudah bersalah. Akhirnya muncul filsafat yang coba menjatuhkan Ayub. Ayub sebagai orang yang benar, karena dia merasa jujur dan tidak bersalah, dia sendiri akhirnya binggung, mau pakai doktrin apa. Padahal pada jamannya, literatur tidak cukup banyak, malahan literatur kafir yang cukup banyak, yang biasanya langsung menghubungkan dengan dewa-dewa. Dewa-dewa sedang marah, atau sedang bercanda, atau sedang ngobrol ‘di atas’. Dan memang kelihatan bahwa Tuhan sedang berbicara dengan malaikat-malaikatNya, lalu berbicara kepada Iblis. Seakan-akan ‘di atas’ ada permainan di antara dewa-dewa untuk ngerjain manusia. Dengan mengerti latar belakang waktu itu, segala sesuatu yang diucapkan Ayub menjadi suatu yang real. Bagaimana seseorang tidak mengerti, karena memang doktrinnya belum cukup untuk mengatasi masalah tersebut. Lalu orang-orang yang berhikmat berusaha menghibur dia dengan kata-kata puitis dan metafora-metafora. Tetap tidak bisa, karena masih terlalu jauh. Seperti mengajarkan pelajaran untuk master pada murid SMA. Harusnya dikatakan, memang orang benar diberkati, orang tidak benar dikutuk. Step-step yang dibutuhkan untuk mengatakan bahwa orang benar juga mendapatkan celaka-celaka macam apa—belum ada, langsung loncat mengatakan bahwa orang benar dapat juga menderita. Mengagetkan secara umum diketahui bahwa hukum ini adalah baku, tidak bisa diubah karena merupakan prinsip. Sekarang doktrin berkat dan doktrin kutuk mau dicampur. Tidak bisa mereka mengerti. Maka pengkotbah menerangkan hal ini: Orang jahat malah untung, orang benar malah buntung. Tidak adil, tetapi itulah realita. Dilepaskan begitu saja tanpa jawaban. Maka sia-sialah cari kekayaan. Orang pintar sekolah sampai sarjana, mati. Tidak ada gunanya. Orang bodoh tidak mempunyai kepandaian apa-apa, juga mati. Sama-sama mati, lalu buat apa pintar? Pertanyaan yang tidak dapat dijawab tetapi merupakan realita yang tidak dapat ditolak. Pada saat itu disampaikan satu per satu, ada hal-hal yang tidak dapat dijawab secara manusia. Lalu harus cari siapa? Jika step-step itu tidak diajarkan setapak demi setapak, tetapi loncat begitu saja, tidak akan ada yang mengerti. Dari siapa ini? Jika dari Allah, mungkinkah, karena doktrin Allah sepertinya tidak begitu. Jika dari setan berarti setan boleh melakukan apa saja sesukanya. Jika belum ada pengetahuan bahwa setan itu tidak bertindak atas izin Tuhan, maka dianggapnya ada dua kuasa. Setan boleh berbuat apa saja, Tuhan boleh berbuat sesukaNya, sekarang tinggal siapa yang menang. Orang hindu mungkin bisa mengerti karena ada Mahabharata. Orang Kristen akan binggung, sebab bukankah semuanya itu kedaulatan Allah? Ini berkaitan dengan tema yang muncul akan sama dengan doktrin yang dipelajari saat itu. Pada saat itu dalam kita membaca Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Ester, Tawarikh, dan kitab-kitab sejarah lain, kita harus melihat kapan kitab ditulis, siapa yang menulis, sedang mengerti doktrin apa pada waktu itu. Latar belakang itu sangat penting untuk menentukan tema yang tepat. Tidak dapat kita membaca Ayub diterapkan sama dengan Kejadian.

Yang kedua, dilihat environtment-nya. Morality adalah utilitarian. Artinya orang yang bermoral adalah yang sopan, yang rajin, dsb., walaupun munafik. Jadi golongan atas merupakan golongan yang dianggap bermoral.

Yang ketiga, secara agamawi. Orang yang dianggap religius adalah orang yang konservatif (bisa dikatakan fanatik), seperti orang Farisi, mereka yang berdoa di pasar-pasar, pergi ke Bait Allah, memberikan sedekah. Secara ide agama, merekalah orang yang saleh.

Yang keempat, adalah social attitude (tingkah-laku sosial). Contohnya seperti kasus Ayub. Mereka tidak habis pikir bagaimana seorang yang kaya tiba-tiba jatuh miskin, terkena penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dikucilkan keluarga, anak-anaknya mati. Mereka menganggap perubahan status sosial seperti ini pasti disebabkan oleh hubungan dengan Tuhan yang tidak beres. Jadi perubahan ini ditinjau dari jika tidak punya harta, maka pasti ia melakukan kesalahan secara agama. Hal ini disebabkan karena latar belakang orang Yahudi, apapun juga yang dikerjakan—profesi, studi, ilmu, pekerjaan— di mana pun—di rumah, di jalan— selalu dihubungkan dengan agama. Jadi perubahan status sosial dari miskin ke kaya atau sebaliknya, merupakan satu kesimpulan seseorang itu rohani atau tidak. Itu sebabnya teman-teman Ayub menyalahkan dia. Tidak mungkin Tuhan berbuat begitu jika Ayub benar, pasti ada salahnya.

Yang kelima secara politik. Bagi mereka, kedudukan raja itu mirip Paus dalam masa sekarang, atau sebagai hakim. Jika mereka tidak taat pada raja, sama saja mereka tidak taat kepada Tuhan yang merajakan dia. Karena bagi mereka, tidak mungkin seseorang menjadi raja jika bukan Tuhan yang menentukannya. Maka taat kepada raja disamakan dengan taat kepada Tuhan. Terlihat dalam kata-kata "My son, fear the Lord and the King." Sepertinya takut kepada raja diparalelkan dengan takut kepada Allah. Mengasihi Allah diwujudkan dengan mengasihi sesama. Mentaati Allah disamakan dengan mentaati raja. Tidak taat kepada raja, berarti tidak taat Allah, dan ini sangat disalahgunakan oleh orang-orang oriental. Karena orang oriental menganggap bahwa raja adalah titisan dewa, atau diangkat oleh Allah mereka, maka tidak ada yang berani melawan raja. Melawan raja berarti mati. Jadi kalau raja sama sekali tidak bisa disentuh kaum bawah, dapat dimaklumi. Baik moral, sosial, status raja dijaga benar-benar, seperti mereka adalah dewa. Mereka boleh berbuat apa saja, termasuk dosa, dan tetap tidak dianggap dosa.

Seperti ketika Yohanes Pembatis, dianggap menghina raja karena ia mengatakan bahwa raja mengambil istri saudaranya, ia terpaksa dipancung.

Seperti juga Wasti (dalam kitab Ester), yang tidak mau muncul ketika dipanggil raja, ia dipecat dari istana raja. Jadi semua juga harus dilihat bagaimana situasi sosial-politik waktu itu. Jangan sampai "Fear the Lord and the King" diterapkan pada konteks sekarang, berarti kita juga harus mutlak mentaati raja. Jika raja membuat kita tidak mentaati Allah, maka kita harus mengabaikannya.

Qoheleth (Pengkotbah) mengungkapakannya dengan cara yang lebih halus dan puitis. Ia mengatakan "Mengapa kita harus takut kepada raja? Karena raja yang paling berkuasa. Siapa yang berani bertanya ‘Kamu sedang berbuat apa?’" Pada waktu ia mengatakan ini, sebenarnya ada suatu hal yang ingin disampaikan di balik semua itu. Inilah kelebihan puisi, yaitu dengan metafor ataupun hiperbola, ia dapat menyampaikan sesuatu dengan lebih dalam dibandingkan dengan menggunakan kata-kata biasa. Demikian juga lagu, menjadi lebih powerful dengan ditambah rhyme/ritme, sehingga yang disampaikan bukan kata-kata saja, termasuk nadanya pun menambah arti. Jadi pada waktu ditanya ‘What are you doing?’ sebenarnya ada pemberontakan di pihak bawahan yang menanyakan ‘Apa yang kamu lakukan?’. Sekarang pertanyaannya, boleh tidak bertanya. Ketika dikatakan ‘siapa yang berani bertanya,’ bukan berarti tidak boleh bertanya. Dan sebagai raja, dia tahu bahwa kedudukannya tidak sama dengan Tuhan. Tapi dikatakan ‘Siapa yang berani? Saya yang berkuasa’. Sinis, memang Pengkotbah kitab yang paling sinis. Inilah cara pendekatan untuk orang Yahudi. Jika tidak dengan sinis, mereka akan malu. Tapi dengan sinis, mereka dibuat berpikir. Bukan sesuatu yang konkret, tetapi ada sesuatu di balik semuanya itu. Sia-sia belajar, sia-sia bekerja.

Jadi literatur hikmat Ibrani ini secara scope bersifat internasional/universal, secara semangat sekular, secara tujuan praktis dan realistis. Bagi kita yang hidup di negara oriental (Asia), lebih mudah nagi kita untuk mengerti oriental wisdom dan kehidupan orang Yahudi daripada orang-orang Amerika yang alam pikirannya terlalu bebas (liberal).

Ada Karakteristik yang nampak, bagaimana konsep Allah di dalam sejarah, bagaimana pengertian mereka tentang keadilan, bagaimana loyalitas mereka kepada bangsa dengan perdamaian internasional, kebebasan hak asasi manusia, dan perfeksionisme mereka melihat ide masyarakat yang ideal. Jadi seperti itulah visi mereka untuk kembali ke Yerusalem. Kontribusi wisdom literature adalah membantu kita mengerti mengapa mereka begitu ingin kembali ke tanah air mereka.

Amsal dikarakteristikkan dengan menjunjung moral-moral yang tinggi dimana mereka mengerti tentang human nature, ketertarikan mereka dengan kebahagiaan individu. Ayub dan Pengkotbah dibedakan dengan adanya issue-issue hidup, di mana mereka bertahan dalam kebenaran sekalipun mereka harus membayar mahal. Itu merupakan tema dari wisdom literature, termasuk Ibrani.

BENTUK–BENTUK PUISI IBRANI

Sekarang setelah lama diketahui, kita beralih ke bentuk-bentuknya. Bentuk juga dipengaruhi oleh literatur pada masa itu. Jadi yang disampaikan bukan hanya tema, tapi juga variasi dari tema tersebut. Misalnya dengan adanya rima-rima (persamaan bunyi), seperti Firman Tuhan, kebenaran dinyatakan. Tuhan, mengingatkan pada kebenaran dinyatakan. Hal ini merupakan salah satu ciri khas puisi, dan sampai tahun ‘90 ini, belum pernah berobah bahwa ciri khas puisi Ibrani adalah paralelisme.

Beberapa tokoh Perjanjian Lama berusaha menyampaikan bahwa ekspresi puisi bahasa Ibrani mempunyai kekuatan pada aksen kalimat-kalimat itu.

Term-term yang abstrak dipakai adalah imagery (mungkin dapat disebutkan sebagai ‘penggambaran’) dan metaform dimana bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sudah banyak kehilangan gap atau dengan kata lain: tidak mengandung arti yang sebenarnya (arti yang dimaksud oleh penulis).

Contoh: TUHAN, gembalaku

TUHAN adalah gembalaku

Di sini menggambarkan gembala karena umumnya orang Israel hidup sebagai gembala, mengerti sulitnya memelihara domba, mengenal baik ciri-ciri dombanya.

Rhythmic movement sangat dirasakan ketika puisi ini ditulis. Robert Lowth mengidentifikasikan puisi ke dalam sinonim, antitetik dan sintetik; yang sampai sekarang berlaku. Robert Alter mengatakan paralel biasanya disamakan dengan sinonim. Padahal paralel tidak sinonim, tidak sama dengan sinonim, karena paralel mempunyai suatu pengertian yang sama dengan bahasa/ungkapan yang berbeda. Misalnya: yang satu realistis/harafiah dan lainnya kiasan/metafora. Robert Alter mengatakan sinonim bukan paralel tapi "focussing", yaitu dari suatu yang umum ke yang lebih spesifik. Contoh: Orang benar seperti pohon yang ditanam di tepi air (umum). Secara spesifik: yang menghasilkan buah pada musimnya. Dari pohon ke buah. Jadi ciri-ciri puisi yaitu dari yang umum ke yang lebih khusus.

Paralelisme, contoh Mazmur 19:1-2
 

The Heavens are relating the glory of God
a b c
and the firmanent is telling the work of His hands
a’ b’ c’
Day by day pours out speech
a b c
and night by night declares knowledge
a’ b’ c’

Mazmur ini disebut paralel yang sinonim dan merupakan paralel yang lengkap karena ada a-b-c-nya dan teratur. Terdapat S-P-O dimana ‘the glory of God’ yang abstrak digambarkan dengan hasil karyaNya (the work of His hand). Dilihat dari bentuknya saja, puisi tersebut sudah menyampaikan berita padahal kita belum mengeksegesis arti kata-kata dalam ayat-ayat tersebut.

Ad. Ayat 1 . Bila kita sudah memparalelkan puisi ini, maka kita mempunyai pengertian yaitu: ‘the glory of God’ paralel dengan apa yang dinyatakan. Ciptaan Allah memuliakan Allah. Secara imagery dikatakan ‘the Heavens declares the glory of God’, dan ‘and the firmanent is telling the work of His hands’. Sebenarnya yang ingin disampaikan sama, tapi kalimatnya berbeda. Bila Robert Lowth mengatakan sinonimnya paralelisme dan Robert Alter dari:

heavens íííí cakrawala

dari yang lebih lebar, langit íííí cakrawala

Heavens dalam bahasa Ibrani dapat diartikan surga dan dapat pula diartikan langit. Heavens ini berarti jamak. Langit tidak hanya satu, tetapi ada tingkat-tingkat langit. Heavens paling tinggi yang dimaksud tidak hanya sekedar langit atau cakrawala yang kita lihat, tetapi sesuatu keadaan atau situasi dimana Allah bertakhta (tempat Allah bertakhta). Heavens yang paling atas itu muncul ke cakrawala yang terlihat, yang sebenarnya merupakan langit yang paling rendah. Dan cakrawala yang paling rendah ini mau menceritakan tentang pekerjaan Allah yang bertakhta di langit yang paling atas. Ini disampaikan dengan imagery semacam ini, Mungkin ini dianggap sebagai hiperbola. Sedangkan pernyataan: ‘Allah mencipta semuanya’, tidak cukup kuat untuk menyampaikan berita yang dimaksud. Itu sebabnya perlu puisi.

Ad. Ayat 2. Susunan yang terjadi seperti di atas sesuai keinginan/ungkapan penulis. Jadi dalam puisi tidak sekedar kata-kata tetapi juga emosi yang membantu kita untuk mengerti maksud puisi tersebut.

Dari Mazmur 19:1-3, penulis merasa tidak hanya cukup menceritakan ciptaan hanya ‘space-nya’ saja, tetapi juga ‘time-nya’, karena ciptaan hanya ada di space dan time saja. Speech dan knowledge tidak perlu dijelaskan. Ayat 1 mendasari pemikiran ayat 2.

Ayat 1 : general revelation

Ayat 2 : specific revelation (speech and knowledge)

Maz 19:1-7 : general revelation

Maz 19:8-15 : specific revelation

Contoh paralelisme sinonim yang sederhana:

I will devide them a in Jacob b

and I will scatter them a’ in Israel b’

Robert Alter mengatakan puisi di atas bukan sinonim, tetapi focussing. Secara sepintas puisi di atas sinonim. A íí yang dibagi adalah kerjaan, keluarga/berkat (dengan Esau). I will devide them íí Esau dan Yakub dipisahkan menjadi dua bangsa yang berbeda sama sekali dimana yang satu dipilih dan yang lain dibuang. Dan pengertian Yakub dan Esau tidak hanya dipisahkan sekedar keturunan tapi juga ‘scatter them in Israel’ (segala sesuatu untuk Israel).

Contoh paralelisme antitetik: Maz 1:6, Amsal 10:6. Pada Amsal 10:6:

Berkat ada di atas kepala orang benar

a b c d

tetapi orang menyem- kelaliman

mulut fasik bunyikan

c’ d’ b’ a’

Contoh paralelisme sintetik: Mazmur 1: 2-3, yang mirip dengan Stairlike (tangga).

‘Yang kesukaannya Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam’ dan gambarannya adalah ‘seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air’ dan wujudnya adalah ‘menghasilkan buah pada musimnya’.

Dalam Perjanjian Lama, perumpamaan menjelaskan yang sesungguhnya, sedangkan dalam Perjanjian Baru, murid-murid Yesus diberi perumpamaan namun tidak dapat mengerti.

Dalam Pengkotbah 3:1-9, terlihat adanya kesan saling bergantian yang dimaksud dari semua itu adalah segala sesuatu ada waktunya dan bukan kita yang mengatur tetapi itu waktunya Tuhan.

Dalam Matius 5 dikatakan, ‘You are the light of the world’ yang berarti kita adalah terangnya dunia yang gelap, menerangi dengan Injil Tuhan. ‘You are the salt of the Earth’ yang pengertiannya dibatasi yaitu diantara kalangan kalian sendiri jadilah garam. Karena pengertian ‘Earth’ terlalu luas, tidak mungkin membuat dunia ini menjadi baik, Tuhan tidak mungkin memberi tugas yang tidak bisa kita kerjakan. Kalau ‘Light of the world’, walau cahayanya redup sekalipun dia bisa menjadi terang, dia bisa membawa orang ke terang itu karena dia tahu siapa terang itu.

Banyak hal dalam Perjanjian Baru yang mengacu kepada Perjanjian Lama, karena jika tidak maka tidak memakai sense.

Contoh bentuk sinonim lengkap:

TUHAN adalah terangku dan keselamatanku

kepada siapakah aku harus takut?

TUHAN adalah benteng hidupku

kepada siapakah aku harus gemetar?

Terlihat bahwa ‘terangku dan keselamatanku’ sejajar dengan ‘benteng hidupku’, dan ‘kepada siapakah aku harus takut’ sejajar dengan ‘kepada siapakah aku harus gemetar’.

Contoh sinonim tangkap (seperti roti tangkap):
 

telah rebah tidak akan bangkit-bangkit lagi anak dara Israel
b c a
terkapar di atas tanahnya tidak ada yang membangkit-kannya
b c

contoh di atas mempunyai struktur b-c-a-b-c.

Ditranskrip Oleh:

Yuanita Indriasari, Elisa Arianti, Ardiani, Eine Trisyudian

Profil Ev. Jeane Christiana Obadja, B.A., Th.M. :

Ev. Jeane Christiana Obadja, B.A., Th.M. lahir di Purwokerto, 29 Januari 1953

Pendidikan:

1972-1974 : UK Satya Wacana (B.A. English)

1977-1981 : Singapore Bible College (B.Th.)

1984-1985 : Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang (S.Th.)

1990-1993 : Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississippi (M.Div.)

1993-1994 : Refomed Theological Seminari, Jackson, Mississippi (Th.M.)

Pelayanan, antara lain:

- SmallGroup Disciplesship/ Youth Ministry/ Gereja Gereformeerd Surabaya (1982-1984)

- Youth Ministry/ SmallGroup Discipleship/ GKI Kav. Polri Jakarta (1986-1988)

- Dosen STRI Jakarta (1986-1988, 1993-1998)

- Dosen STT Reformed Injili Indonesia, Jakarta (1993-1998)

- Partimer/ Sektor Pemuridan "Jala Ikan"/ GKI Pregolan Bunder Surabaya (2000-sekarang)

- ReformeDiscipleship Ministry (through small groups, internet)

Eksposisi Injil Matius-4 : ESSENCE OF CALLING, SUFFERING AND KERYGMA-1 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, April 5th, 2006

Eksposisi Injil Matius-4 :

Ringkasan Khotbah : 25 Juli 2004

Essence of Calling, Suffering & Kerygma (1)

Nats: Mat. 4:12

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Matius mencantumkan perikop “Yesus tampil di Galilea“ (Mat. 4:12-17) sangat tepat sebab bagian ini merupakan konsep dasar bagi setiap anak Tuhan sejati dalam menata hidupnya untuk menjadi seorang manusia sejati sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Kita seringkali mendengar bahwa hidup anak Tuhan pasti dipimpin Roh Kudus namun orang salah menginterpretasikan kata “dipimpin“. Orang menganggap bahwa kalau dipimpin berarti hidup kita akan sukses dan kita dapat melakukan berbagai mujizat dan tanda-tanda ajaib lain. Tidak! Roh Kudus memimpin orang untuk masuk dalam kehidupan rohani sejati, yaitu hidup beribadah pada Tuhan. Dan untuk membentuk kerohanian sejati, Roh Kudus memimpin Tuhan Yesus masuk ke padang gurun untuk dicobai iblis setelah berpuasa 40 hari 40 malam (Mat. 4:1-2). Ingat, puasa bukan memaksa Tuhan supaya kehendak kitalah yang jadi. Tidak! Puasa berarti menyangkal diri, yaitu menolak setiap hal yang menjadi keinginan kita dan hanya kehendak-Nya saja yang jadi.

Hati-hati, di dunia modern, banyak bidat yang memakai konsep yang berlawanan dengan Firman Tuhan. Hendaklah kita mencontoh teladan yang paling sempurna dari Tuhan Yesus, Firman hidup yang berinkarnasi. Tuhan Yesus melawan iblis dengan menggunakan Firman namun ketika iblis mulai mempermainkan posisi, yaitu Yesus disuruh menyembah pada iblis maka tanpa perlu berpanjang lebar lagi Tuhan Yesus langsung mengusir iblis; sebab hanya kepada Tuhan saja, engkau harus menyembah dan berbakti (Mat. 4:10). Dalam bagian ini kita melihat bagaimana seharusnya kita menempatkan diri sebagai seorang manusia sejati di tengah-tengah kerusakan dunia. Posisi manusia lebih tinggi dari iblis bahkan malaikat, karena: 1) manusia terdiri dari tubuh dan roh - malaikat hanya terdiri dari roh saja; 2) manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah - malaikat dicipta sebagai makhluk rohani; 3) malaikat dicipta untuk melayani Tuhan Allah dan manusia,  malaikat adalah utusan, messenger yang diutus Tuhan untuk melindungi dan menjaga manusia, dan; 4) setelah dunia berakhir, manusia bersama-sama dengan Tuhan akan menghakimi malaikat.

Kejatuhan menyebabkan manusia kehilangan posisinya yang sejati, manusia yang tadinya berposisi di atas malaikat kini menjadi berada dibawah malaikat bahkan dapat dikatakan lebih rendah dari binatang sedang malaikat yang jatuh dalam dosa menyebabkan dirinya di buang oleh Tuhan. Untuk lebih jelasnya maka urutan posisi sbb: malaikat – manusia (pada saat jatuh dalam dosa) - iblis (malaikat yang jatuh dalam dosa). Kejatuhan manusia menyebabkan manusia kehilangan posisinya, jatuh ke tempat yang paling dalam sehingga manusia tidak dapat melakukan apa yang menjadi keinginan dirinya sendiri kecuali kemauan iblis karena manusia telah dicengkeram oleh iblis. Pilihan telah tersedia di hadapan kita, yaitu pilihan untuk taat Tuhan atau melawan Tuhan. Manusia telah dibelenggu iblis sedemikian rupa sehingga tidak dapat memilih untuk “taat Tuhan“. Banyak pilihan tersedia, free choice namun kita tidak mempunyai free will, kehendak bebas untuk memilih apa yang menjadi kehendak Tuhan. Maka tidaklah heran, kalau orang sangat membenci kebenaran sejati. Sebagai contoh, orang pada umumnya tahu  bahwa rokok berakibat buruk untuk kesehatan, ironisnya orang justru menjadi marah  kalau kita menasehatinya supaya tidak merokok.

Hanya Roh Kudus yang dapat menyadarkan manusia akan dosa dan mengubahkan hidup manusia untuk mau taat pada kehendak Tuhan. Tuhan Yesus tahu ordo dengan tepat, siapa yang harus menyembah dan siapa yang disembah. Ordo yang benar adalah iblis yang harus menyembah Tuhan bukan sebaliknya dan manusia tidak menyembah iblis karena posisi iblis berada di bawah manusia. Sebagai anak Tuhan, maka kita harus kembali pada posisi yang benar dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan dunia dan dibelenggu oleh cara-cara iblis. Setelah selesai dicobai, maka inilah saatnya bagi Tuhan Yesus untuk memulai misi-Nya dan masuk dalam bagian transisi yang dicatat dalam oleh Matius (Mat. 4: 12-17). Bagian transisi ini oleh sebagian orang seringkali dianggap tidak penting padahal dari bagian ini kita dapat memahami: 1) hakekat panggilan kita menjadi manusia sejati, 2) bagaimana seharusnya kita bersikap ketika penderitaan datang, dan 3) diantara panggilan dan penderitaan tersebut, kita harus mempunyai kerygma atau berita, yaitu kesaksian hidup kita sebagai anak Tuhan. Orang seringkali salah mengerti hakekat panggilan, orang memahami panggilan Tuhan hanya sebatas identitas diri. Akibatnya orang mulai mencari-cari identitas diri, orang mulai mencari idola, dari kata idol yang berarti dewa. Manusia tidak menyadari bahwa ia dipanggil untuk menjadi serupa dengan Allah. Namun, hari ini kita justru menjumpai manusia makin mirip dan serupa dengan binatang. Ingat, manusia dicipta Tuhan mempunyai harkat lebih tinggi dari binatang, manusia diberikan akal budi untuk berpikir sedang binatang, tidak! Oleh sebab itu, moralitas dan etika hanya ada pada diri manusia.

Manusia kalau sudah kehilangan identitas dirinya maka seluruh tatanan hidup, tingkah laku maupun cara berpikirnya menjadi rusak. Sebaliknya, kalau manusia sadar posisi dirinya yang diciptakan lebih tinggi dari makhluk ciptaan lain maka ia tidak akan mudah jatuh dalam jebakan iblis dan ia pasti mau taat menjalankan semua perintah Tuhan. Dengan demikian segala tindakan, tingkah laku dan cara berpikir kita akan tertuju pada Tuhan semata, apapun yang kita kerjakan hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Hati-hati jangan terkecoh oleh mereka yang mengaku diri “anak Tuhan“ namun kelakuannya tidak menunjukkan citra Kristus karena sebenarnya ia bukanlah anak Tuhan sejati tetapi lebih tepatnya anak iblis. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah anak Tuhan sejati tidak akan mengalami penderitaan? Kristus pun tidak luput dari penderitaan namun Ia tidak berbuat dosa meski pada jaman itu banyak orang yang rusak moralnya itu karena Tuhan Yesus tahu posisi-Nya.

Matius tidak mencatat kenapa Yohanes Pembaptis ditangkap karena hal itu memang bukan yang utama untuk diberitakan. Ada berita yang lebih utama yang hendak disampaikan oleh Matius, yakni waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea (Mat. 4:12). Hati-hati ayat ini jangan disalah mengerti. Ayat ini justru mengajarkan pada kita bagaimana seharusnya kita berespon ketika penderitaan datang? Kalau kita memang benar anak Tuhan yang sejati maka dunia pasti akan membenci kita karena dosa tidak akan bisa bersinkretis dengan kebenaran sejati. Ingat, kebenaran tidak bisa bersifat abu-abu. Kebenaran sejati haruslah yang benar-benar benar; karena di luar itu pastilah bukan kebenaran. Hati-hati diantara empat epistemologi berikut, yaitu: 1) benar-benar benar; 2) benar-benar tidak benar; 3) tidak benar-benar benar; 4) tidak benar-benar tidak benar yang paling berbahaya adalah yang keempat karena selama masih belum terbukti salah maka kita masih bisa menganggapnya sebagai kebenaran.

Anak Tuhan harus hidup dalam terang kebenaran karena terang tidak dapat bercampur dengan gelap. Dunia sulit menerima kebenaran malahan dunia akan menjadi marah kalau kita berbicara tentang kebenaran. Raja Herodes bukannya berubah ketika ditegur dosanya oleh Yohanes Pembaptis tetapi sebaliknya justru Yohanes Pembaptislah yang dihukum. Bukankah kejadian demikian bukan hal yang baru lagi di jaman ini? Buruk muka cermin dibelah. Itulah sebabnya, seorang anak Tuhan sejati yang hidup dalam kebenaran akan dibenci oleh dunia, ia akan hidup menderita. Barangsiapa yang mau mengikut Kristus maka ia akan menderita aniaya (2Tim. 3:12). Bagaimana kita berespon waktu penderitaan menimpa kita? Adalah wajar kalau di dunia yang penuh dosa ini, anak Tuhan mengalami penderitaan. Justru patut dipertanyakan kalau anak Tuhan yang sejati tidak pernah mengalami penderitaan. Kalau memang benar ia seorang anak Tuhan sejati maka orang yang berada dalam kegelapan akan terusik oleh terang itu.

Ada dua pendapat yang sangat ekstrim tentang bagaimana anak Tuhan menghadapi penderitaan, yaitu: pertama, menjadi martir, menderita sampai mati. Namun, mereka yang berpendapat demikian akan sulit mengerti peristiwa Tuhan Yesus yang sepertinya “melarikan diri“; pergi jauh meninggalkan Nazaret ketika Yohanes Pembaptis ditangkap atau peristiwa Paulus yang diturunkan dari atas tembok kota dalam sebuah keranjang ketika orang Yahudi berencana hendak membunuhnya (Kis. 9:23-25), dan masih banyak lagi peristiwa yang serupa.  Peristiwa Tuhan Yesus menghindari penderitaan di atas bukanlah yang pertama karena sebelumnya Ia juga dilarikan oleh orang tuanya ketika terjadi pembunuhan bayi di bawah umur dua tahun di Betlehem, sehingga timbul ekstrim, kedua, melarikan diri ketika penderitaan datang. Bukankah sikap pengecut demikian tidak mencerminkan sikap anak Tuhan sejati? Dan di sisi lain, Tuhan menuntut anak-anak-Nya untuk taat seperti Tuhan Yesus yang juga taat sampai mati. Lalu di antara kedua sikap tersebut di atas, sikap manakah yang harus kita teladani? Dua pendapat di atas janganlah dipertentangkan satu sama lain karena sesungguhnya memang bukan hal yang bertentangan. Bagaimana kita melihat suatu tindakan yang melampaui lebih dari sekedar alasan pragmatis ketika kita menghadapi kesulitan, penganiayaan dan tantangan karena iman kita pada Tuhan Yesus Kristus.

1. Orientasi Hidup Ketika kita menghadapi kesulitan atau penderitaan, kita jangan terlarut dalam penderitaan  tetapi kita harus keluar dari kondisi tersebut maka percayalah kita pasti akan melihat ada rencana Tuhan yang indah dibalik penderitaan. Dengan larut dalam penderitaan justru  akan menambah masalah baru dalam hidup kita. Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup anak-Nya senantiasa lancar. Tidak! Hari ini justru banyak tantangan kesulitan yang harus kita hadapi. Hanya anak Tuhan sejati saja yang tidak akan tergoyahkan dan tetap berteguh dalam iman meski penderitaan menimpa hidupnya. Dalam setiap penderitaan, pasti ada kehendak Tuhan yang harus kita jalankan. Jadi, kalau kehendak Tuhan memang mengharuskan kita untuk pergi maka kita pun harus taat untuk pergi begitu juga kalau kehendak Tuhan memanggil kita untuk menderita karena kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu hidup demi kemuliaan nama-Nya. Jangan bertindak bodoh dengan mengatasi segala tantangan dan kesulitan dengan cara sendiri dan menganggap cara kita tersebut sebagai kebenaran. Hendaklah kita waspada dan senantiasa mengarahkan hati kita pada-Nya sebab penderitaan pasti tiba pada setiap anak Tuhan sejati.

2. Uji Motivasi Ketika kita menghadapi penderitaan dimana penderitaan tersebut menuntut kita untuk mengambil keputusan, yaitu harus mati ataukah menghindar maka hendaklah kita menguji motivasi kita, apakah keputusan yang kita ambil tersebut demi untuk kepentingan diri sendiri atau untuk kemuliaan nama-Nya? Kalau motivasi kita menghindar dari kesulitan karena kita takut menderita atau takut mati berarti kita egois dan motivasi kita pasti bukan berasal dari Tuhan. Orang yang masih berpikir hanya untuk kepentingan diri hendaklah segera bertobat. Karena itu dalam segala hal yang kita lakukan hendaklah kita menguji motivasi, apakah kita melakukannya demi untuk keuntungan pribadi ataukah kehendak Tuhan yang sedang kita jalankan? Ataukah sebenarnya kehendak diri kitalah yang sedang kita jalankan tapi dengan alasan menjalankan kehendak Tuhan. Hati-hati, antara ambisi diri dan kehendak Tuhan, batasnya sangat tipis, hanya kita dan Tuhan yang tahu apa motivasi kita. Tugas anak Tuhan adalah menjalankan kehendak-Nya dan Tuhan pasti akan memimpin dan memampukan untuk kita dapat menjalankannya.

3. Kuasa Berita Kalau motivasi kita sudah benar, yakni sesuai dengan kehendak Tuhan maka pasti ada hasilnya, yaitu berita Injil tersebar luas dan nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan Yesus menyingkir dari ke Galilea menuju Kapernaum bukan untuk bersembunyi, lari dari penderitaan. Tidak! Karena jikalau memang benar demikian maka berita Injil tidak mempunyai kekuatan dan kuasa. Namun, Alkitab mencatat, Tuhan Yesus meneruskan kabar yang diberitakan oleh Yohanes Pembaptis, yaitu “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!“ (Mat. 4:17). Itulah kerygma. Orang yang melarikan diri dari kesulitan tidak akan mempunyai kuasa untuk memberitakan Injil. Sebagai anak Tuhan, biarlah hidup kita senantiasa dimurnikan sehingga orang melihat perubahan yang terjadi dalam hidup kita dengan demikian orang akan melihat Kristus ada dalam diri kita dan mereka menjadi percaya. Hendaklah dari setiap mulut anak Tuhan keluar kerygma yang senantiasa memberitakan kebenaran sejati, yakni “bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“.

Kiranya ketiga hal tersebut di atas dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kita, apakah kita harus menghindar dari penderitaan ataukah harus menghadapi penderitaan? Tuhan tidak menuntut setiap anak-Nya untuk menjadi martir dan berkorban bagi-Nya dan di sisi lain Tuhan juga tidak ingin anak-Nya lari ketika kesulitan datang. Tapi biarlah semua yang terjadi dalam diri kita adalah sesuai dengan waktu dan rencana Tuhan saja. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)