Bina Iman Kristen-56
HEBREW POETRY for DUMMIES
Transkrip Puisi RPA III/2, Januari 1995
oleh : Ev. Jeane Ch. Obadja, B.A., Th.M.
PENDAHULUAN
Kitab TANAKH sebagai Alkitab orang Yahudi dapat dibagi menjadi tiga bagian:
- Law (Torah)
- Prophets (Nebi’m)
- Writings (Ketubhim)
Umumnya, kitab-kitab puisi berisi metafora (kiasan). Metoda metafora dimaksudkan untuk menyampaikan sesuatu yang abstrak dan diharapkan pada saat membacanya orang memperoleh berkat. Banyak orang ingin tahu secara langsung pada saat mempelajari Alkitab, tetapi mereka lupa bahwa dalam diri mereka telah ada ‘sifat membeda-bedakan’ (gap-gap) secara tidak sadar, yaitu:
- Dalam hal bahasa
- Dalam tempo, waktu yang berbeda pada saat kitab ditulis dan dibaca oleh kita pada masa sekarang.
Latar belakang ‘Literatur Wisdom’ lebih tepat dengan menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa Inggris. Hikmat berasal dari kata ‘hokmah’ (bahasa Ibrani). Hokmah, hakam, hakamah mempunyai arti yang sama yaitu seseorang yang bijaksana dalam memberikan nasihat-nasihat atau wejangan-wejangan atau instruksi-instruksi, agar seseorang dapat hidup dalam kebenaran Firman Tuhan atau Taurat. Dalam kitab amsal, pengertian hikmat dijabarkan dengan sulit. Hal ini menunjukkan bahwa ‘hikmat’ tidak mudah dijelaskan. Tidak hanya bersifat bijaksana, tetapi mengandung arti yang lebih mendalam.
Jadi hikmat berarti seseorang yang dapat mengerti Firman Tuhan dengan benar dan menjalankannya, sehingga orang berhikmat (berhubungan dengan Taurat secara keseluruhan) adalah seseorang yang menerapkan Firman Tuhan dalam hidupnya. Bukan hanya menafsirkan, tetapi juga menyampaikan dengan kata-kata yang mudah dimengerti oleh orang lain, sehingga orang lain yang mendengarnya menjadi berhikmat (kata kunci)
‘Sage’ (Elders) mengatakan dalam Yehezkiel 7:26, "Men shall seek in vain for a vision from the prophets, the law from the priest, and counsel from the elders." Jadi ada tiga trend dalam perolehan visi.
- Dari Nabi. Visi dari nabi itupun merupakan visi Tuhan tentang keselamatan Israel.
- Hukum dari para Imam. Mengacu pada Kristus yang akan menggenapi hukum yang disampaikan oleh imam.
- The Elders. Bukanlah tua-tua atau penatua, melainkan orang-orang yang dianggap bijaksana dan sudah mempelajari Firman Tuhan dan mengajar di pintu-pintu gerbang Yerusalem (umumnya mereka dibutuhkan untuk memberikan pendapat atau nasihat).
Dalam Yeremia 18:18, "Law is not lost to the priest, nor counsel to the sage, nor the word to the prophets." Yeremia juga menegaskan ketiga hal tersebut dan menghibur dengan memberikan harapan pada saat mengatakan "visi yang dapat hilang dan hukum yang dapat tidak diberikan karena ketegaran hati mereka."
KETUBHIM
Pada dasarnya merupakan re-pository wisdom (pository, pengenjawantahan hikmat secara praktis). Kitab-kitab syair ini merupakan literatur praktis untuk menjelaskan kitab Taurat dan kitab nabi-nabi melalui pencetusan ekspresi mereka kepada Allah Yahweh yang mereka percaya melalui nabi-nabi mereka. Hukum-hukum Musa, puisi/syair dan visi-visi dari nabi mereka diekspresikan dalam liturgi ritualistik melalui kitab writings, sehingga Ketubhim ini disebut ‘repository’ (mengulang apa yang sudah disampaikan secara praktis). Berbeda dengan ‘ekspository’ (mengekspos apa yang ada dalam Alkitab). Dalam penyampaian ekspresi tersebut dilengkapi dengan metafora/kiasan, agar orang yang mengerti, kembali kepada Firman Tuhan dan tidak keluar dari Alkitab mereka.
Contoh: Mereka yang taat pada Taurat seperti pohon yang ditanam di tepi aliran sungai.
Latar belakang penulisan TANAKH ini, khususnya Ketubhim, sangat dipengaruhi oleh literatur Babylonia, Syria, dan Mesir, yang dilengkapi dengan paralel, khiasmus (paralel silang), antitetik, sintetik, dan lain sebagainya. Latar belakang ini cukup beralasan mengingat bahwa Musa memiliki latar belakang Mesir, sehingga penulisannya pun bergaya Mesir. Literatur-literatur tersebut sah dan otentik karena ditulis pada jaman yang sama. Musa dipengaruhi oleh jaman Babylonia, Syria dan Mesir, dan memakai literatur-literatur kuno. Untuk hal ini diberikan bukti-bukti atau dokumen-dokumen penting dalam kitab Amsal, Ayub, Hikmat Salomo, Pengkotbah, Mazmur 3, 49, 112, 128, yang mirip dengan literatur Babylonia, Syria dan Mesir. Ditambah lagi, secara oriental pun, pengertian ‘Hebrew Hokmah’ sebagai kebudayaan setempat yang dikenal orang secara oriental juga di semenanjung tanah subur tersebut.
Dalam ‘Egyptian Writings’ ada dua hal literatur yang penting:
- berhubungan dengan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah.
- berhubungan dengan luar sekolah
Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan orang-orang Yahudi tidak lepas dari kehidupan ilmu pengetahuan di sekolah dengan Alkitab. Mereka menghubungkan Alkitab dengan science, sehingga tidak ada kebenaran di luar kebenaran Allah.
Ada dua kategori dalam petunjuk praktis literatur-literatur tersebut:
- Kategori I dalam ‘Proverb Collection’. Bahwa literatur wisdom menekankan tentang adanya nasihat-nasihat dari pengamsal-pengamsal seperti Salomo. Juga menekankan tradisi orang Yahudi bahwa ayah mengajarkan Taurat kepada anak-anaknya, sehingga pendidikan hal-hal tersebut untuk anak-anak mereka sangat kuat.
- Kategori II. Menyatakan ekspresi mereka, keluhan/complain mereka kepada Tuhan dengan memakai kata-kata metafora.
PENGGUNAAN PUISI IBRANI
Puisi digunakan untuk mengkomunikasikan suatu hal yang ingin disampaikan agar dapat dimengerti oleh orang lain. Hal-hal yang sulit diterima dan diungkapkan—contohnya dalam Roma 8 dikatakan bahwa dalam keadaan sedih kita sulit berdoa, sampai harus dibantu Roh Kudus— dibuat dalam bentuk simile-simile (similaritas, misal-misal), metafora-metafora, paralel-paralel, hiperbola-hiperbola, sehingga dapat dimengerti oleh orang lain. Ketika mereka mengeluh, menangis, menjerit-jerit, atau histeris, mereka mungkin mengucapkan kata-kata yang salah, karena mereka kehabisan kata-kata, ya karena saking sedihnya, tapi perasaan mereka dapat dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu mereka sangat suka untuk menuliskan hal-hal seperti ini. Kalau menyanyi, betul-betul menyanyi. Kalau menangis, betul-betul menangis. Kalau senang, betul-betul bersukaria, seperti minum anggur sampai mabuk. Kalau sedih, betul-betul sedih, sampai tempat tidur pun seperti air mata. "Hatiku begitu sedih, sampai tiap hari aku minum air mata." Ini merupakan suatu metafora yang menunjukkan begitu sedihnya dia. Tetapi hal itu sampai (mengena) pada seseorang yang dituju.
Inilah yang membedakan literatur Ibrani dengan literatur bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa lain tidak mengenal Allah Yahweh mungkin bisa menyampaikan kata-kata yang sama. Bahkan mungkin kata-kata itu diambil oleh orang Yahudi. Karena mereka tidak punya kata-kata, maka mereka mengambilnya dari sana-sini. Seperti kita, jika ingin mengirim surat kepada orang yang kita cintai, kita akan pergi ke toko buku untuk mengutip kata-kata yang indah, karena takut salah tulis. Kata-kata sendiri kok rasanya jelek. Tapi ada juga orang-orang yang punya talenta untuk menciptakan kata-kata yang indah. Ada saja inspirasinya. Kata-kata indah ini mungkin saja mirip antara milik si A dan B, namun tentunya isinya berbeda. Artinya orang yang menerimanya pasti tahu ini bukan dari siA tapi dari si B. Dengan demikian kita melihat bahwa sebetulnya segala ungkapan itu kosong. Jika itu ditulis oleh si A, maka si penerima tidak akan mengerti, karena ia tidak mengenal si A. Tetapi jika kita menulis untuk seseorang yang memang kita tuju, maka walaupun mungkin agak kacau penulisannya, maksudnya tetap akan tercapai. Demikian pula dengan literatur Ibrani, nampak sekali bahwa ada "seseorang" yang dituju. Ia bukan sekedar menyampaikannya kepada seorang kekasih, tetapi kepada Yahweh, Allah mereka. Begitu kuat garis tersebut, sehingga kita dapat berkesimpulan bahwa literatur Ibrani bukanlah sekedar tulisan manusia, tapi merupakan suatu inspirasi bagaimana orang-orang ini mengenal Allah mereka. Mereka merangkum kitab-kitab Taurat Musa sampai dengan kitab nabi-nabi, karena mereka telah menghafalkannya sejak kecil. Lalu mereka mencoba menuangkan apa yang percaya. Jadi mereka menuliskan puisi ini berdasarkan iman mereka kepada Allah Yahweh. Oleh sebab itu, jika kita melihat kitab Pengkotbah yang sepertinya sekular, orang menganggapnya sebagai suatu pesimisme, fatalisme, atau isme-isme yang lain. Jika kita tidak kembali ke latar belakangna, kita akan beranggapan sama, seperti penulisnya?
Hanya karena kita sudah mempunyai presaposisi bahwa ini adalah bagian dari Alkitab, maka konteksnya adalah Alkitab. Mau tidak mau, ini adalah Firman Tuhan jadi harus dihubung-hubungkan. Tidak begitu seharusnya.
Begitu kuatnya garis Yahweh tersebut, kepercayaan mereka yang monoteistik, berbeda dengan kepercayaan bangsa lain yang politeistik, mereka dapat mengatakan bahwa sun and moon, Jupiter and Mars, adalah dewa-dewa mereka. Ketika hal itu dikembalikan kepada bangsa Ibrani, mereka dapat mengatakan bahwa dewa-dewamu itu, Allahku yang membuat. Juga ketika mereka memuja pekerjaan tangan Allah, mereka memuja bendanya. Tetapi pada saat orang Ibrani melihat hal itu, mereka memakainya sebagai pemujaan kepada Penciptanya. Itulah yang membuat puisi ini masuk ke dalam biblical literature.
Jadi itulah yang membuat adanya suatu perbedaan yang menyolok, bahwa kitab-kitab semacam Ester pun, yang tidak ada satu pun kata ‘Allah’, masuk dalam Alkitab. Ayub yang hanya menangis-nangis, dan ketiga temannya yang berkata-kata salah pun masuk. Sampai dialog setan pun masuk. Karena semuanya itu menunjukkan kebenaran yang ingin disampaikan melalui kitab-kitab puisi, bahwa ini merupakan pengalaman orang-orang Israel pada waktu itu, yang disampaikan melalui kata-kata yang sulit dimengerti.
Untuk mempermudah kita mengerti, mengenal latar belakang sangatlah menolong. Sekalipun kita tidak mengerti, ada yang mengerti. Sekalipun sepertinya tidak terkomunikasikan pada kita, intinya mereka menceritakan tentang Allah yang mereka percaya.
Seperti dalam kitab Pengkotbah yang menyatakan bahwa semuanya sia-sia. Kita tidak mengerti mengapa semuanya itu sia-sia, karena kita tidak mengerti apa artinya sia-sia. Jika kita tahu artinya, barulah dapat dimengerti mengapa kitab itu adalah Firman Tuhan. Tentunya bertentangan jika di situ dikatakan bahwa semuanya sia-sia, padahal Paulus mengatakan bahwa di dalam Tuhan tidak ada sesuatu pun yang sia-sia. Jadi presaposisi itu penting juga, dengan beranggapan bahwa dalam Firman Tuhan tidak ada yang bertentangan atau kontradiksi, jika terjadi kontradiksi berarti kita yang belum mengerti.
Untuk dapat mengerti itu kita harus masuk ke dalam bahasa aslinya, bukan saja bentuknya tetapi juga isinya.
Contoh Qoheleth (Pengkotbah). Qoheleth berasal dari kata Ibrani yang berarti imam atau pengajar. Disebut Qoheleth, karena dalam masyarakat Ibrani, sebagai seorang pria, dia (pria) menjadi semuanya: guru, pemimpin di rumah dan di tempat kerja. Jika ia (penulis kitab Pengkotbah) mempunyai profesi dalam hal ini adalah raja, maka segala sesuatu adalah tanggung jawabnya, baik hal yang berhubungan dengan politik, sosial, budaya, ekonomi, maupun rohani. Jadi seorang ayah mempunyai double function. Tidak ada yang bisa berkata bahwa tugas ayah hanya mencari uang. Ia juga harus mengajarkan Firman Tuhan kepada keluarganya. Sesibuk-sibuknya—yang paling sibuk adalah raja—ia tetap mengatakan "Aku raja, anak Daud, aku mengajar." Mengajar Taurat . Maka tidak ada alasan bagi pria untuk mengatakan "Saya sudah sibuk kerja, maka ibu saja yang mengajar anak", karena anak harus dipimpin oleh qoheleth-qoheleth semacam ini. Sebab qoheleth adalah yang memegang wisdom, seorang Sage. Karena Allah memberikan wisdom kepadanya, kepada kaum pria.
Tema Pengkotbah adalah bahwa kematian sepertinya menghancurkan kasih dan sukacita. Bahkan orang-orang kaya yang berkuasa tidak dapat selalu memegang kebaikan Allahnya, atau dewanya untuk dapat hidup senang. Tetapi pembunuh, kekejaman malah hidup dengan tenang. Kalau dilihat, malah ketidak adilan yang disampaikan. Tetapi penulis Pengkotbah justru ingin berkata bersukarialah jika tahu bahwa hidup seperti itu tidak ada keadilan, kasih rasanya percuma, kebaikan percuma, kaya percuma, apa-apa percuma, semua sia-sia, lalu bersenang-senang sajalah. Pada saat ia mengatakan bersenang-senang saja, sebenarnya ia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar, "bisa atau tidak?" Semua disampaikan secara realistik, bukan sekedar kembang-kembang rohani yang ingin membuat orang bertobat. Coba lihat, tidak ada keadilan. Coba lihat, orang kaya mati, seperti anjing, sama juga. Singa mati dibandingkan dengan anjing hidup lebih baik anjing hidup. Semuanya dicoba dibandingkan, kemudian dikatakan buat apa ini semua, jika semuanya sia-sia. Lebih baik bersuka-ria, makan-tidur, jalan-jalan. Ini perlu disampaikan, sebab banyak literatur wisdom yang kita pikir bentuknya adalah kata-kata mutiara. Koleksi kata-kata mutiara ini yang biasanya dianggap hikmat. Tapi sebenarnya bukan itu. Hikmat itu merupakan sesuatu yang realistis, pengalaman manusia. Orang berhikmat pun matinya sama dengan orang yang tidak berhikmat dan bodoh. Dalam hal ini, orang yang tidak berhikmat bukanlah orang bodoh yang tidak punya IQ tinggi atau tidak dapat mengintegrasikan pengetahuan. Hikmat di sini tidak pernah lepas dari Taurat. Jika sudah bicara soal Taurat, maka orang yang tidak berhikmat adalah orang yang tidak ‘memiliki’ Taurat. Maka sebenarnya yang ingin dikatakan ialah orang yang tidak punya Taurat ialah orang bukan Yahudi, yaitu orang kafir. Jadi orang kafir pasti tidak berhikmat, walaupun mereka mempunyai titel yang tinggi, walaupun mungkin mereka dapat memberikan hikmat kepada dunia, punya nasihat-nasihat berharga, punya kata-kata mutiara yang indah. Tapi jika itu tidak didasarkan Taurat, maka itu bukan hikmat. Karena hikmat selalu berhubungan dengan yang memberikan hikmat. Dan hikmat baru dapat dikatakan hikmat, jika ia kembali kepada si Pemberi hikmat. Jadi dasar hikmat selalu berhubungan dengan Firman, dengan Taurat, dengan istilah Perjanjian Lama, atau Torah, jika dikaitkan dengan hukum.
Hukum-hukum, kitab nabi-nabi, visi-visi yang diberikan, mengacu kepada satu titik, yaitu untuk mengenal siapa Allah yang sebenarnya. Karena mereka gagal mengenal Allah mereka, mereka mencoba melalui ilah-ilah, melalui image-image, melalui general revelation, melalui penciptaan. Apapun mereka coba, untuk sampai kepada Allah Yahweh, tapi mereka tetap tidak berhasil. Mereka mencoba melalui Torah, melalui visi-visi yaitu kitab nabi-nabi, melalui kitab suci mereka, tetap saja mereka tidak dapat hidup bahagia. Rasanya semuanya sia-sia. Karena mereka hanya mengerti itu sebagai pengetahuan. Orang yang mengerti Alkitab secara tuntas adalah orang Israel. Tetapi jika kita bertanya kepada mereka apakah Yesaya 53 tentang Mesias, maka jawabnya adalah tidak. Tidak perlu lagi menjelaskan kepada mereka apa isi Yesays 53, mereka lebih pandai. Tetapi mereka mengerti untuk membantah. Apa yang kita interpretasikan sebagai Mesias, mereka tidak menginterpretasikan sebagai Mesias. Tetapi secara jujur, karena adanya hikmat tersebut, tidak bisa tidak, ketika mereka melihat hikmat ini, semuanya mengacu kepada Mesias. Mereka malu hati untuk mengakui bahwa Yesaya 53 tidak lain kecuali Mesias. Kalau dikatakan itu Israel, ditelusuri pasti ada sesuatu missing link. Kalau dikatakan itu Yesaya, kelihatannya benar, sampai suatu titik tidak mungkin, karena dikatakan tidak berdosa. Terus dicari-cari dan tidak bisa, akhirnya tidak dibuat commentary Yesaya 53, alasannya belum dipelajari. Tidak mudah menginjili orang Yahudi.
PENGENALAN RHYME DALAM PUISI
Rhyme maupun ritme memainkan peranan yang sangat besar dalam puisi. Seperti dalam lagu Mazmur 8, kata-kata "above the high Heaven" dinyanyikan dengan nada semakin rendah, sehingga rasanya tidak cocok (above the high Heaven nadanya kok malah turun, ngak sesuai syairnya). Ritme digunakan untuk membantu mereka dalam menghafalkan puisi. Sama seperti ummat Islam dalam menghafalkan Al-Quran, lebih mudah karena ada lagunya.
RUANG LINGKUP LITERATUR
KRISTEN IBRANI
Sekarang kita akan membahas The Scope of Hebrew Christian Literature. Tadi telah dikatakan untuk mengerti puisi Ibrani, yang terpenting adalah isinya, berarti kita harus mencari temanya. Apa yang menjadi fokus pemberitaan mereka, dan yang lain—syair-syair yang mereka buat—hanya merupakan variasi-variasi. Oleh sebab itu, jika kita sudah menemukan tema, maka kata-kata yang penuh dengan bunga-bunga puisi itu hanya menunjang saja, memperkuat tema, sehingga semakin lama semakin fokus, Jadi jika mereka menggunakan paralel-paralel, atau persamaan-persamaan, semakin banyak pararel semakin jelas tema yang dimaksudkan. Persamaan yang satu dengan persamaan yang lain akan semakin mempersempit gap.
Misalnya orang dalam konteks Yahudi menyamakan Kerajaan Allah seperti menemukan mutiara di dasar laut, begitu sulitnya mereka mengambil tetapi tetap mau mengambilnya. Sampai di situ belum cukup, sebab yang mengert hanya penyelam saja. Kemudian diperjelas dengan orang yang menemukan harta karun di dalam tanah, sehingga semua hartanya dijual untuk bisa mendapatkan ladang tersebut. Hanya untuk menjelaskan betapa berharganya Kerajaan Allah, sehingga mereka mau mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkannya, kalau perlu nyawa mereka pun, mereka tidak peduli. Nyawa yang sifatnya jasmani, kalah dengan Kerajaan Allah yang sifatnya rohani. Tetapi rohani ini pun digambarkan dalam bentuk materi, karena lebih mudah bagi orang untuk mengerti nilai mutiara ataupun harta karun. Jadi jika dikatakan sama seperti ini, sama seperti itu, semakin banyak orang dalam berbagai profesi yang dapat mengerti. Untuk bagian arsitek, misalnya, seperti rumah.
Orang yang taat pada Firman Tuhan seperti membangun rumah: bagaimana caranya, apa perlengkapannya, budgetnya, tukangnya, dan lain sebagainya. Tukang yang dipakai harus bertanggung jawab. Jika atapnya bagus tapi bagian bawahnya berantakan, semua harus diulangi lagi. Jadi setiap sudut dalam pembangunan rumah itu penting sekali.
Salah satu ilustrasi yang sering dipakai dalam bentuk puitis, dan sekarang kita terapkan dalam konteks Indonesia. Bagaimana seorang harus melakukan tugasnya dengan baik kalau dia mau maju. Seseorang sedang menata keramik, suatu pekerjaan yang mudah, cuma mengatur, asal betul menghitungnya, tentunya akan pas. Tetapi bagi orang yang profesional, yang mau maju, yang mau kualitas pekerjaannya semakin baik, ia tidak hanya sekedar menempel. Mungkin sebagai seorang ahli dia tidak segan-segan turun tangan sendiri, belepotan semen, menempel sendiri, sehingga pas. Diukur sedemikian rupa supaya jangan sampai miring sedikitpun. Setelah pekerjaannya selesai dengan baik, dengan bangganya ia akan memberikan kartu namanya kepada orang lain. Hal seperti ini dapat menggambarkan seseorang yang benar-benar mau membangun hidupnya berdasarkan Firman Tuhan. Betul-betul hati-hati dalam membuat pondasi, menaruh lantai, menaruh semen, melekatkan satu batu dengan batu yang lain. Sepertinya hanya begitu saja, tetapi ini merupakan suatu sikap. Sikap ini jika di-simile-kan atau disamakan, demikianlah sikap kita dalam membaca Firman Tuhan. Pada saat kita membaca Firman Tuhan, kita mendapatkan satu pondasi, satu batu, lalu bagaimana kita membangunnya. Rapi, sehingga bangunan kita kokoh, bagus, erat, tidak gampang kemasukan rayap, atau bagaimana? Ini semua tergantung pada sikap kita terhadap bangunan yang kita buat.
Jadi ilustrasi ini tujuannya supaya orang yang membaca semakin mengerti, mengkomunikasikan apa yang ada dalam dirinya secara abstrak dikonkretkan secara realita, sesuai dengan konteks masing-masing.
Oleh sebab itu, semakin kita mendekati bahasa aslinya, mengenal pengarangnya, makin kita mengerti karakter penulis, makin kita mengerti mengapa dia menulis itu, bagaimana cara penulisannya, segala macam contoh yang dipakai, sesuai dengan profesi dia.
Original meaning for the original audience from the original writer. Itu yang harus dicari, bukan kita cari sendiri dengan memparalelkannya dengan kehidupan kita. Misalnya tentang perjamuan kudus. Roti dan anggur diganti dengan singkong dan teh. Hal ini tidak mungkin, karena roti dan anggur melambangkan tubuh dan darah Kristus. Singkong tidak mungkin dipecahkan, harus dipotong-potong. Akhirnya keserupaan itu hilang, beritanya tidak sampai, hanya karena disamakan dengan konteks sekarang. Jadi dalam mengkontekskan apa yang ada dalam Alkitab, jangan sampai menghilangkan maknanya.
BEBERAPA HAL YANG DIPERHATIKAN SEBELUM MENGERTI TEMA
Sekarang kita akan membicarakan apa yang harus kita ketahui sebelum kita mengerti tentang tema, mencari tema dengan benar, dan jika terjadi perubahan dalam kitab puisi kita tidak akan kehilangan arah.
Yang pertama, pada saat literatur dibuat, bagaimana keadaan sosial budaya, bagaimana tingkat kepandaian atau penemuan.
Pada bagian pertama dikatakan bahwa Hokmah (dalam bahasa Ibrani) dan Sophia (dalam bahasa Yunani) yang sama-sama artinya hikmat sebenarnya paralel. Baik orang Ibrani maupun Yunani berlomba-lomba mengedukasi kaum muda mereka dengan kehidupan yang praktis, dengan dasar kepercayaan mereka masing-masing. Orang Ibrani akan kembali pada Taurat, dan orang Yunani pada Filsafat mereka. Analogi yang dapat membuat kita mengerti tema-tema yang terdapat dalam literatur orang-orang Ibrani ini, biasanya muncul di upper strata (kaum menengah ke atas). Karema itu tidak heran jika contoh-contoh dalam Amsal atau Kidung Agung digambarkan seorang wanita yang menunggu seorang pria dengan sprei linen buatan Mesir, itu pasti upper class. Pada saat mereka mengatakan diberikan bunga teratai, anggrek—yang mahal harganya—, atau diberikan batu-batu safir, emas, berlian, dan permata yang indah-indah, hal ini bisa disalah artikan jika tidak mengerti latar belakangnya dan akhirnya menganggap bahwa Alkitab hanya untuk kaum kaya. Hal ini terjadi karena mereka tidak tahu bahwa pada jaman itu memang literatur ini dibuat dan ditujukan untuk orang-orang golongan menengah ke atas.
Contoh lain adalah penderitaan Ayub. Teman-temannya tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang saleh seperti Ayub, yang tidak pernah salah dalam melakukan Taurat, dan jika ia bersalah ia selalu mempersembahkan korban, bahkan mungkin jumlahnya berlebihan, anaknya pun belum sampai berdosa pun sudah diberikan korban, bisa menderita seperti itu. Pada saat hal itu terjadi, sosial budaya pada waktu itu tidak bisa menerima. Karena latar belakang Perjanjian Lama mengajarkan orang yang hidup benar, orang yang hidup taat, pasti diberkati. Mengapa Ayub seakan-akan dikutuk? Maka mereka menganggap ‘karena dikutuk’, dia pasti sudah bersalah. Akhirnya muncul filsafat yang coba menjatuhkan Ayub. Ayub sebagai orang yang benar, karena dia merasa jujur dan tidak bersalah, dia sendiri akhirnya binggung, mau pakai doktrin apa. Padahal pada jamannya, literatur tidak cukup banyak, malahan literatur kafir yang cukup banyak, yang biasanya langsung menghubungkan dengan dewa-dewa. Dewa-dewa sedang marah, atau sedang bercanda, atau sedang ngobrol ‘di atas’. Dan memang kelihatan bahwa Tuhan sedang berbicara dengan malaikat-malaikatNya, lalu berbicara kepada Iblis. Seakan-akan ‘di atas’ ada permainan di antara dewa-dewa untuk ngerjain manusia. Dengan mengerti latar belakang waktu itu, segala sesuatu yang diucapkan Ayub menjadi suatu yang real. Bagaimana seseorang tidak mengerti, karena memang doktrinnya belum cukup untuk mengatasi masalah tersebut. Lalu orang-orang yang berhikmat berusaha menghibur dia dengan kata-kata puitis dan metafora-metafora. Tetap tidak bisa, karena masih terlalu jauh. Seperti mengajarkan pelajaran untuk master pada murid SMA. Harusnya dikatakan, memang orang benar diberkati, orang tidak benar dikutuk. Step-step yang dibutuhkan untuk mengatakan bahwa orang benar juga mendapatkan celaka-celaka macam apa—belum ada, langsung loncat mengatakan bahwa orang benar dapat juga menderita. Mengagetkan secara umum diketahui bahwa hukum ini adalah baku, tidak bisa diubah karena merupakan prinsip. Sekarang doktrin berkat dan doktrin kutuk mau dicampur. Tidak bisa mereka mengerti. Maka pengkotbah menerangkan hal ini: Orang jahat malah untung, orang benar malah buntung. Tidak adil, tetapi itulah realita. Dilepaskan begitu saja tanpa jawaban. Maka sia-sialah cari kekayaan. Orang pintar sekolah sampai sarjana, mati. Tidak ada gunanya. Orang bodoh tidak mempunyai kepandaian apa-apa, juga mati. Sama-sama mati, lalu buat apa pintar? Pertanyaan yang tidak dapat dijawab tetapi merupakan realita yang tidak dapat ditolak. Pada saat itu disampaikan satu per satu, ada hal-hal yang tidak dapat dijawab secara manusia. Lalu harus cari siapa? Jika step-step itu tidak diajarkan setapak demi setapak, tetapi loncat begitu saja, tidak akan ada yang mengerti. Dari siapa ini? Jika dari Allah, mungkinkah, karena doktrin Allah sepertinya tidak begitu. Jika dari setan berarti setan boleh melakukan apa saja sesukanya. Jika belum ada pengetahuan bahwa setan itu tidak bertindak atas izin Tuhan, maka dianggapnya ada dua kuasa. Setan boleh berbuat apa saja, Tuhan boleh berbuat sesukaNya, sekarang tinggal siapa yang menang. Orang hindu mungkin bisa mengerti karena ada Mahabharata. Orang Kristen akan binggung, sebab bukankah semuanya itu kedaulatan Allah? Ini berkaitan dengan tema yang muncul akan sama dengan doktrin yang dipelajari saat itu. Pada saat itu dalam kita membaca Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Ester, Tawarikh, dan kitab-kitab sejarah lain, kita harus melihat kapan kitab ditulis, siapa yang menulis, sedang mengerti doktrin apa pada waktu itu. Latar belakang itu sangat penting untuk menentukan tema yang tepat. Tidak dapat kita membaca Ayub diterapkan sama dengan Kejadian.
Yang kedua, dilihat environtment-nya. Morality adalah utilitarian. Artinya orang yang bermoral adalah yang sopan, yang rajin, dsb., walaupun munafik. Jadi golongan atas merupakan golongan yang dianggap bermoral.
Yang ketiga, secara agamawi. Orang yang dianggap religius adalah orang yang konservatif (bisa dikatakan fanatik), seperti orang Farisi, mereka yang berdoa di pasar-pasar, pergi ke Bait Allah, memberikan sedekah. Secara ide agama, merekalah orang yang saleh.
Yang keempat, adalah social attitude (tingkah-laku sosial). Contohnya seperti kasus Ayub. Mereka tidak habis pikir bagaimana seorang yang kaya tiba-tiba jatuh miskin, terkena penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dikucilkan keluarga, anak-anaknya mati. Mereka menganggap perubahan status sosial seperti ini pasti disebabkan oleh hubungan dengan Tuhan yang tidak beres. Jadi perubahan ini ditinjau dari jika tidak punya harta, maka pasti ia melakukan kesalahan secara agama. Hal ini disebabkan karena latar belakang orang Yahudi, apapun juga yang dikerjakan—profesi, studi, ilmu, pekerjaan— di mana pun—di rumah, di jalan— selalu dihubungkan dengan agama. Jadi perubahan status sosial dari miskin ke kaya atau sebaliknya, merupakan satu kesimpulan seseorang itu rohani atau tidak. Itu sebabnya teman-teman Ayub menyalahkan dia. Tidak mungkin Tuhan berbuat begitu jika Ayub benar, pasti ada salahnya.
Yang kelima secara politik. Bagi mereka, kedudukan raja itu mirip Paus dalam masa sekarang, atau sebagai hakim. Jika mereka tidak taat pada raja, sama saja mereka tidak taat kepada Tuhan yang merajakan dia. Karena bagi mereka, tidak mungkin seseorang menjadi raja jika bukan Tuhan yang menentukannya. Maka taat kepada raja disamakan dengan taat kepada Tuhan. Terlihat dalam kata-kata "My son, fear the Lord and the King." Sepertinya takut kepada raja diparalelkan dengan takut kepada Allah. Mengasihi Allah diwujudkan dengan mengasihi sesama. Mentaati Allah disamakan dengan mentaati raja. Tidak taat kepada raja, berarti tidak taat Allah, dan ini sangat disalahgunakan oleh orang-orang oriental. Karena orang oriental menganggap bahwa raja adalah titisan dewa, atau diangkat oleh Allah mereka, maka tidak ada yang berani melawan raja. Melawan raja berarti mati. Jadi kalau raja sama sekali tidak bisa disentuh kaum bawah, dapat dimaklumi. Baik moral, sosial, status raja dijaga benar-benar, seperti mereka adalah dewa. Mereka boleh berbuat apa saja, termasuk dosa, dan tetap tidak dianggap dosa.
Seperti ketika Yohanes Pembatis, dianggap menghina raja karena ia mengatakan bahwa raja mengambil istri saudaranya, ia terpaksa dipancung.
Seperti juga Wasti (dalam kitab Ester), yang tidak mau muncul ketika dipanggil raja, ia dipecat dari istana raja. Jadi semua juga harus dilihat bagaimana situasi sosial-politik waktu itu. Jangan sampai "Fear the Lord and the King" diterapkan pada konteks sekarang, berarti kita juga harus mutlak mentaati raja. Jika raja membuat kita tidak mentaati Allah, maka kita harus mengabaikannya.
Qoheleth (Pengkotbah) mengungkapakannya dengan cara yang lebih halus dan puitis. Ia mengatakan "Mengapa kita harus takut kepada raja? Karena raja yang paling berkuasa. Siapa yang berani bertanya ‘Kamu sedang berbuat apa?’" Pada waktu ia mengatakan ini, sebenarnya ada suatu hal yang ingin disampaikan di balik semua itu. Inilah kelebihan puisi, yaitu dengan metafor ataupun hiperbola, ia dapat menyampaikan sesuatu dengan lebih dalam dibandingkan dengan menggunakan kata-kata biasa. Demikian juga lagu, menjadi lebih powerful dengan ditambah rhyme/ritme, sehingga yang disampaikan bukan kata-kata saja, termasuk nadanya pun menambah arti. Jadi pada waktu ditanya ‘What are you doing?’ sebenarnya ada pemberontakan di pihak bawahan yang menanyakan ‘Apa yang kamu lakukan?’. Sekarang pertanyaannya, boleh tidak bertanya. Ketika dikatakan ‘siapa yang berani bertanya,’ bukan berarti tidak boleh bertanya. Dan sebagai raja, dia tahu bahwa kedudukannya tidak sama dengan Tuhan. Tapi dikatakan ‘Siapa yang berani? Saya yang berkuasa’. Sinis, memang Pengkotbah kitab yang paling sinis. Inilah cara pendekatan untuk orang Yahudi. Jika tidak dengan sinis, mereka akan malu. Tapi dengan sinis, mereka dibuat berpikir. Bukan sesuatu yang konkret, tetapi ada sesuatu di balik semuanya itu. Sia-sia belajar, sia-sia bekerja.
Jadi literatur hikmat Ibrani ini secara scope bersifat internasional/universal, secara semangat sekular, secara tujuan praktis dan realistis. Bagi kita yang hidup di negara oriental (Asia), lebih mudah nagi kita untuk mengerti oriental wisdom dan kehidupan orang Yahudi daripada orang-orang Amerika yang alam pikirannya terlalu bebas (liberal).
Ada Karakteristik yang nampak, bagaimana konsep Allah di dalam sejarah, bagaimana pengertian mereka tentang keadilan, bagaimana loyalitas mereka kepada bangsa dengan perdamaian internasional, kebebasan hak asasi manusia, dan perfeksionisme mereka melihat ide masyarakat yang ideal. Jadi seperti itulah visi mereka untuk kembali ke Yerusalem. Kontribusi wisdom literature adalah membantu kita mengerti mengapa mereka begitu ingin kembali ke tanah air mereka.
Amsal dikarakteristikkan dengan menjunjung moral-moral yang tinggi dimana mereka mengerti tentang human nature, ketertarikan mereka dengan kebahagiaan individu. Ayub dan Pengkotbah dibedakan dengan adanya issue-issue hidup, di mana mereka bertahan dalam kebenaran sekalipun mereka harus membayar mahal. Itu merupakan tema dari wisdom literature, termasuk Ibrani.
BENTUK–BENTUK PUISI IBRANI
Sekarang setelah lama diketahui, kita beralih ke bentuk-bentuknya. Bentuk juga dipengaruhi oleh literatur pada masa itu. Jadi yang disampaikan bukan hanya tema, tapi juga variasi dari tema tersebut. Misalnya dengan adanya rima-rima (persamaan bunyi), seperti Firman Tuhan, kebenaran dinyatakan. Tuhan, mengingatkan pada kebenaran dinyatakan. Hal ini merupakan salah satu ciri khas puisi, dan sampai tahun ‘90 ini, belum pernah berobah bahwa ciri khas puisi Ibrani adalah paralelisme.
Beberapa tokoh Perjanjian Lama berusaha menyampaikan bahwa ekspresi puisi bahasa Ibrani mempunyai kekuatan pada aksen kalimat-kalimat itu.
Term-term yang abstrak dipakai adalah imagery (mungkin dapat disebutkan sebagai ‘penggambaran’) dan metaform dimana bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sudah banyak kehilangan gap atau dengan kata lain: tidak mengandung arti yang sebenarnya (arti yang dimaksud oleh penulis).
Contoh: TUHAN, gembalaku
TUHAN adalah gembalaku
Di sini menggambarkan gembala karena umumnya orang Israel hidup sebagai gembala, mengerti sulitnya memelihara domba, mengenal baik ciri-ciri dombanya.
Rhythmic movement sangat dirasakan ketika puisi ini ditulis. Robert Lowth mengidentifikasikan puisi ke dalam sinonim, antitetik dan sintetik; yang sampai sekarang berlaku. Robert Alter mengatakan paralel biasanya disamakan dengan sinonim. Padahal paralel tidak sinonim, tidak sama dengan sinonim, karena paralel mempunyai suatu pengertian yang sama dengan bahasa/ungkapan yang berbeda. Misalnya: yang satu realistis/harafiah dan lainnya kiasan/metafora. Robert Alter mengatakan sinonim bukan paralel tapi "focussing", yaitu dari suatu yang umum ke yang lebih spesifik. Contoh: Orang benar seperti pohon yang ditanam di tepi air (umum). Secara spesifik: yang menghasilkan buah pada musimnya. Dari pohon ke buah. Jadi ciri-ciri puisi yaitu dari yang umum ke yang lebih khusus.
Paralelisme, contoh Mazmur 19:1-2
| The Heavens |
are relating |
the glory of God |
| a |
b |
c |
| and the firmanent |
is telling |
the work of His hands |
| a’ |
b’ |
c’ |
| Day by day |
pours out |
speech |
| a |
b |
c |
| and night by night |
declares |
knowledge |
| a’ |
b’ |
c’ |
Mazmur ini disebut paralel yang sinonim dan merupakan paralel yang lengkap karena ada a-b-c-nya dan teratur. Terdapat S-P-O dimana ‘the glory of God’ yang abstrak digambarkan dengan hasil karyaNya (the work of His hand). Dilihat dari bentuknya saja, puisi tersebut sudah menyampaikan berita padahal kita belum mengeksegesis arti kata-kata dalam ayat-ayat tersebut.
Ad. Ayat 1 . Bila kita sudah memparalelkan puisi ini, maka kita mempunyai pengertian yaitu: ‘the glory of God’ paralel dengan apa yang dinyatakan. Ciptaan Allah memuliakan Allah. Secara imagery dikatakan ‘the Heavens declares the glory of God’, dan ‘and the firmanent is telling the work of His hands’. Sebenarnya yang ingin disampaikan sama, tapi kalimatnya berbeda. Bila Robert Lowth mengatakan sinonimnya paralelisme dan Robert Alter dari:
heavens íííí cakrawala
dari yang lebih lebar, langit íííí cakrawala
Heavens dalam bahasa Ibrani dapat diartikan surga dan dapat pula diartikan langit. Heavens ini berarti jamak. Langit tidak hanya satu, tetapi ada tingkat-tingkat langit. Heavens paling tinggi yang dimaksud tidak hanya sekedar langit atau cakrawala yang kita lihat, tetapi sesuatu keadaan atau situasi dimana Allah bertakhta (tempat Allah bertakhta). Heavens yang paling atas itu muncul ke cakrawala yang terlihat, yang sebenarnya merupakan langit yang paling rendah. Dan cakrawala yang paling rendah ini mau menceritakan tentang pekerjaan Allah yang bertakhta di langit yang paling atas. Ini disampaikan dengan imagery semacam ini, Mungkin ini dianggap sebagai hiperbola. Sedangkan pernyataan: ‘Allah mencipta semuanya’, tidak cukup kuat untuk menyampaikan berita yang dimaksud. Itu sebabnya perlu puisi.
Ad. Ayat 2. Susunan yang terjadi seperti di atas sesuai keinginan/ungkapan penulis. Jadi dalam puisi tidak sekedar kata-kata tetapi juga emosi yang membantu kita untuk mengerti maksud puisi tersebut.
Dari Mazmur 19:1-3, penulis merasa tidak hanya cukup menceritakan ciptaan hanya ‘space-nya’ saja, tetapi juga ‘time-nya’, karena ciptaan hanya ada di space dan time saja. Speech dan knowledge tidak perlu dijelaskan. Ayat 1 mendasari pemikiran ayat 2.
Ayat 1 : general revelation
Ayat 2 : specific revelation (speech and knowledge)
Maz 19:1-7 : general revelation
Maz 19:8-15 : specific revelation
Contoh paralelisme sinonim yang sederhana:
I will devide them a in Jacob b
and I will scatter them a’ in Israel b’
Robert Alter mengatakan puisi di atas bukan sinonim, tetapi focussing. Secara sepintas puisi di atas sinonim. A íí yang dibagi adalah kerjaan, keluarga/berkat (dengan Esau). I will devide them íí Esau dan Yakub dipisahkan menjadi dua bangsa yang berbeda sama sekali dimana yang satu dipilih dan yang lain dibuang. Dan pengertian Yakub dan Esau tidak hanya dipisahkan sekedar keturunan tapi juga ‘scatter them in Israel’ (segala sesuatu untuk Israel).
Contoh paralelisme antitetik: Maz 1:6, Amsal 10:6. Pada Amsal 10:6:
Berkat ada di atas kepala orang benar
a b c d
tetapi orang menyem- kelaliman
mulut fasik bunyikan
c’ d’ b’ a’
Contoh paralelisme sintetik: Mazmur 1: 2-3, yang mirip dengan Stairlike (tangga).
‘Yang kesukaannya Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam’ dan gambarannya adalah ‘seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air’ dan wujudnya adalah ‘menghasilkan buah pada musimnya’.
Dalam Perjanjian Lama, perumpamaan menjelaskan yang sesungguhnya, sedangkan dalam Perjanjian Baru, murid-murid Yesus diberi perumpamaan namun tidak dapat mengerti.
Dalam Pengkotbah 3:1-9, terlihat adanya kesan saling bergantian yang dimaksud dari semua itu adalah segala sesuatu ada waktunya dan bukan kita yang mengatur tetapi itu waktunya Tuhan.
Dalam Matius 5 dikatakan, ‘You are the light of the world’ yang berarti kita adalah terangnya dunia yang gelap, menerangi dengan Injil Tuhan. ‘You are the salt of the Earth’ yang pengertiannya dibatasi yaitu diantara kalangan kalian sendiri jadilah garam. Karena pengertian ‘Earth’ terlalu luas, tidak mungkin membuat dunia ini menjadi baik, Tuhan tidak mungkin memberi tugas yang tidak bisa kita kerjakan. Kalau ‘Light of the world’, walau cahayanya redup sekalipun dia bisa menjadi terang, dia bisa membawa orang ke terang itu karena dia tahu siapa terang itu.
Banyak hal dalam Perjanjian Baru yang mengacu kepada Perjanjian Lama, karena jika tidak maka tidak memakai sense.
Contoh bentuk sinonim lengkap:
TUHAN adalah terangku dan keselamatanku
kepada siapakah aku harus takut?
TUHAN adalah benteng hidupku
kepada siapakah aku harus gemetar?
Terlihat bahwa ‘terangku dan keselamatanku’ sejajar dengan ‘benteng hidupku’, dan ‘kepada siapakah aku harus takut’ sejajar dengan ‘kepada siapakah aku harus gemetar’.
Contoh sinonim tangkap (seperti roti tangkap):
| telah rebah |
tidak akan bangkit-bangkit lagi |
anak dara Israel |
| b |
c |
a |
| terkapar di atas tanahnya |
tidak ada yang membangkit-kannya |
| b |
c |
contoh di atas mempunyai struktur b-c-a-b-c.
Ditranskrip Oleh:
Yuanita Indriasari, Elisa Arianti, Ardiani, Eine Trisyudian
Profil Ev. Jeane Christiana Obadja, B.A., Th.M. :
Ev. Jeane Christiana Obadja, B.A., Th.M. lahir di Purwokerto, 29 Januari 1953
Pendidikan:
1972-1974 : UK Satya Wacana (B.A. English)
1977-1981 : Singapore Bible College (B.Th.)
1984-1985 : Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang (S.Th.)
1990-1993 : Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississippi (M.Div.)
1993-1994 : Refomed Theological Seminari, Jackson, Mississippi (Th.M.)
Pelayanan, antara lain:
- SmallGroup Disciplesship/ Youth Ministry/ Gereja Gereformeerd Surabaya (1982-1984)
- Youth Ministry/ SmallGroup Discipleship/ GKI Kav. Polri Jakarta (1986-1988)
- Dosen STRI Jakarta (1986-1988, 1993-1998)
- Dosen STT Reformed Injili Indonesia, Jakarta (1993-1998)
- Partimer/ Sektor Pemuridan "Jala Ikan"/ GKI Pregolan Bunder Surabaya (2000-sekarang)
- ReformeDiscipleship Ministry (through small groups, internet)