Archive for May, 2006

Eksposisi Injil Matius 4 : THE KINGDOM AND THE WORKERS-4 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Thursday, May 25th, 2006

Eksposisi Injil Matius 4

Ringkasan Khotbah : 03 Oktober 2004

The Kingdom & the Workers 4

Nats: Mat. 4: 18-22

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita sudah memahami segmen pertama dari panggilan Kritus, yaitu “Mari,…“ (Mat.  4:19),  dimana dengan otoritas Kerajaan Sorga, Kristus memanggil para murid untuk turut ambil bagian menjadi warga Kerajaan Sorga. Kristus adalah Raja di atas segala raja sehingga secara Ilahi Ia mampu membangun kerajaan-Nya seorang diri saja namun hal itu tidak Kristus lakukan, Ia justru melibatkan kita, manusia yang penuh dengan kelemahan. Dan cara Kristus memanggil berbeda dengan dunia, Ia tidak menggunakan standarisasi dunia yang hanya menuntut nilai akademik atau keahlian belaka. Panggilan Kristus adalah inisiatif yang datang dari Kerajaan Sorga. Segala sesuatu yang dianggap dunia penting bagi Kristus justru tidaklah berarti apa-apa dan sebaliknya. Sebagai anak Tuhan, kita patut mengucap syukur senantiasa karena kita sudah dipilih-Nya sejak dari kekekalan (Ef. 1:4) menjadi warga Kerajaan Sorga dan turut bekerja menggenapkan Kerajaan-Nya di dunia. Orang yang mengaku diri Kristen tetapi kalau ia masih memikirkan keuntungan diri maka ia bukanlah seorang Kristen sejati. Istilah Kristen berarti “Kristus kecil“ maka sebagai pengikut Kristus, follower of Christ, kita harus memancarkan citra Kristus.

Hari ini kita akan merenungkan segmen kedua dari panggilan Kristus, yaitu “Ikutlah Aku,…“ (Mat. 4:19). “Ikutlah Aku“ merupakan esensi Kekristenan sebagai warga Kerajaan Sorga dan mengikut Kristus menjadi tanda bagi setiap orang yang mengaku diri Kristen. “Ikutlah Aku“ menuntut respon, yaitu untuk mengikut Dia. Sebagai seorang Raja, Kristus berhak menuntut orang lain untuk mengikut Dia oleh sebab itu Ia berkata, “Ikutlah Aku,…“ Di satu sisi, mengikut Kristus sangat penting dalam panggilan Kekristenan namun di pihak lain banyak sebab yang menjadi alasan bagi mereka untuk menolak mengikut Kristus. Akibatnya banyak orang yang mengikut Kristus namun sekedar “mengikut“. Alkitab mencatat Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Andreas mempunyai pengertian yang berbeda dengan kebanyakan orang lain tentang mengikut. Itulah sebabnya tanpa tawar menawar lagi mereka pergi, meninggalkan jalanya serta ayahnya, lalu mengikut Kristus.

Maka tidaklah heran kalau kemudian timbul pendapat bahwa mengikut Kristus itu susah jalannya karena harus meninggalkan segalanya tak terkecuali orang tua. Hal ini dapatlah kita mengerti karena dalam budaya Asia. Orang Tionghoa sangat menjunjung tinggi orang tua sebagai pemegang otorisasi tertinggi yang tidak dapat bersalah, father can do no wrong. Seorang anak harus menyembah semua orang tua atau leluhurnya demikian seterusnya. Jadi, semakin tua seseorang maka dirinya menjadi “tuhan“. Maka wajarlah kalau orang tua berbuat salah maka tidak akan pernah keluar kata, “Maaf,…“ dari mulut orang tua pada anaknya. Dan biasanya, untuk mengurangi perasaan bersalahnya orang tua menggantinya dengan barang. Alkitab menegaskan bahwa barangsiapa mau mengikut Kristus tetapi ia masih mau menguburkan orang tuanya terlebih dahulu atau pamitan dahulu  dengan keluarganya maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:57-62). Kalimat ini jangan dimengerti secara harafiah, yakni seorang anak tidak boleh menguburkan orang tuanya. Tidak! Menurut tradisi Yahudi, mengubur pada jaman itu berarti seorang anak harus menuruti semua yang menjadi keinginan orang tuanya sampai orang tuanya mati barulah ia mau mengikut Kristus.

Manusia sangat mengerti bahwa seorang raja berhak atas segala sesuatu bahkan nyawa rakyatnya sekalipun maka seharusnya manusia menyadari bahwa ada Raja di atas segala raja yang justru mempunyai otoritas lebih tinggi dari raja dunia. Tidak ada alasan apapun bagi kita untuk membantah semua yang menjadi perintah Raja pemilik alam semesta. Kita harus taat mutlak pada Raja di atas segala raja, inilah pengertian mengikut yang dimaksud dalam Alkitab. Mengikut mempunyai tiga definisi, yaitu: pertama, mengikut karena inisiatif diri sendiri. Karena datangnya dari diri sendiri maka  keputusan berada di tangan kita termasuk tentang hal mengikut, kapan mengikut dan kapan berhenti. Jadi, mengikut disini tidak beda seperti ketika kita sedang mengikuti sebuah kursus. Hari ini banyak orang yang mau mengikut Kristus seperti demikian.

Kalau kita bandingkan di Yoh. 15:16 maka jelaslah bahwa Kristus telah memilih dan menetapkan (predestination, bhs. Inggris) sebelum dunia dijadikan. Manusia tidak menyukai Tuhan memilih karena manusia mempunyai pilihan sendiri. Tuhan justru tidak suka pada mereka yang mengikut tapi berdasar inisiasi sendiri. Orang demikian akan menjadi sombong karena merasa diri dibutuhkan. Ingat, Tuhanlah yang menjadi inisiator, Dia yang memilih kita bukan manusia yang memilih Dia. Karena itu kita patut bersyukur, di antara jutaan manusia di dunia Tuhan sudah menetapkan kita sejak dari kekekalan untuk menjadi murid-Nya.

Kedua, pengertian mengikut disini berarti kita harus memilih satu diantara banyaknya pilihan yang ada, multiple choice. Hal itu berarti ketika kita sudah memutuskan mengikut si A maka konsekuensinya ia harus melepaskan si B atau si C. Kita tidak bisa memilih semuanya dengan harapan salah satu dari jawaban kita pasti benar ada yang benar. Inilah perbedaan konsep Alkitab dengan aliran new age yang menganggap bahwa semua agama sama.

Ketiga, mengikut seperti pengertian dalam Alkitab, yakni barangsiapa mengikut Aku maka ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk. 9:23). Mengikut dari bahasa asli, leteo yang mempunyai pengertian mengikut yang terus menerus, tanpa batas dan tanpa syarat. Dalam bahasa Indonesia belum ditemukan kata yang tepat untuk menggambarkan mengikut seperti yang dimaksudkan dalam Alkitab. Dalam bahasa Jawa ada yang lebih tepat untuk menggambarkannya, yaitu “ngintil“. Pengertian “ngintil“ disini adalah seperti seorang anak kecil yang memegang ujung baju ibunya sehingga tanpa banyak pertanyaan lagi ia selalu mengikut kemanapun ibunya.

Sebagai orang Kristen, dalam mengikut Kristus hendaklah kita meniru si anak kecil ini yang taat, “ngintil“ karena Kristus memang layak untuk diikuti karena:

1. Kristus adalah Raja di atas segala raja.

Sebagai pengikut Kristus sejati dan sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat mutlak untuk dididik oleh Raja di atas segala raja itu. Manusia sangat benci kalau disuruh mengikut seperti kategori di atas tersebut karena manusia selalu menanyakan keuntungan apa yang didapat kalau mengikut, resiko apa yang harus dihadapi, dan lain-lain, manusia kuatir akan hidupnya. Tuhan justru tidak suka hal ini, Tuhan menuntut satu hal, yaitu taat. Bayangkan, kalau saat itu Petrus melakukan bargain dengan Tuhan Yesus maka pasti hari ini kita tidak akan mengenal seorang yang bernama Petrus dalam sejarah dunia. Petrus merespon dengan sangat tepat panggilan Kristus. Inilah Kristen sejati, the true follower of Christ. Adalah anugerah, kalau kita dapat meresponi panggilan Tuhan dan taat mutlak pada-Nya karena secara hakekat, manusia sangat mementingkan dirinya sendiri. Bukan hal yang mudah bagi Kekristenan untuk memenuhi tuntutan kualitas sekaligus kuantitas. Umumnya, kedua hal tersebut sukar untuk terpenuhi sekaligus karena tuntutan kualitas pasti menyaring kuantitas. Alkitab menegaskan bahwa mengikut Kristus dibutuhkan ketaatan mutlak dan dalam ketaatan itulah Tuhan akan membentuk kita untuk semakin serupa Dia. Kita harus merespon dengan tepat panggilan Kristus.

2. Kristus adalah fokus hidup manusia.

Kita dipanggil oleh Kristus Raja di atas segala raja maka Dia ingin supaya mata kita hanya fokus memandang pada Kristus saja. Manusia seharusnya bersyukur kalau Raja di atas segala raja itu memanggil kita untuk masuk dalam Kerajaan Sorga dan menjadi warga-Nya. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus taat akan semua perintah dan peraturan dari Raja. Semua hukum dan peraturan Kristus yang adalah Raja atas alam semesta pastilah berbeda dengan raja dunia. Raja dunia hanya ingin mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari rakyat demi untuk diri sendiri namun Raja di atas segala raja itu ingin supaya manusia taat menyembah Dia saja adalah demi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Manusia akan merasakan sukacita sejati. Bukan hal yang mudah bagi manusia untuk taat sepenuhnya pada Tuhan karena seringkali cara Tuhan tidak sesuai bahkan berlawanan dengan logika manusia. Akibatnya manusia tidak dapat berfokus pada Kristus yang adalah pusat fokus. Sama halnya kalau seperti sebuah kamera, kalau kita ingin memfokuskan lensa pada satu obyek gambar di depan maka gambar di belakang pasti kabur. Yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah fokus hidup kita? Siapa yang menjadi fokus hidup kita? Manusia harus memilih antara Kritus atau diri yang harus menjadi fokus. Kita tidak dapat memilih kedua-duanya. Manusia berdosa selalu memilih hal yang berfokus pada diri sendiri. Biarlah kita mencontoh teladan Petrus dan murid-murid lain yang tidak pernah memikirkan kepentingan diri sendiri. Begitu pula Abraham, ia taat dan beriman pada pimpinan Tuhan sehingga ia rela meninggalkan semua kenyamanan di tanah Haran dan memilih mengikut Tuhan. Abraham tahu apa dan siapa yang seharusnya menjadi fokus hidupnya. Di dunia modern ini banyak hal ditawarkan pada manusia akibatnya orang yang tidak mempunyai iman yang teguh akan mudah diombang ambingkan oleh berbagai macam konsep dunia yang sepertinya benar padahal itu bukanlah kebenaran sejati. Sebagai contoh, tatanan dunia pendidikan menjadi rusak setelah Imanuel Kant merombak dari obyektifitas menjadi subyektifitas dan hal ini langsung ditunggangi oleh Rousseau dengan menjadikan diri sebagai pusat, me and… (myself, my family, etc). Roussoue mengajarkan active learning dimana murid harus mengembangkan segala kemampuan yang ada pada dirinya dan guru hanyalah fasilitator belaka atau dengan kata lain guru tidak lebih hanya seorang pembantu. Kalau sejak dari kecil anak sudah dididik demikian maka tidaklah heran kalau besar kelak si anak menjadi anak yang melawan Tuhan. Sesungguhnya, filsafat humanismelah yang menjadi dasar teori Rousseau. Alkitab justru mengajarkan berbeda dengan dunia, murid bukanlah pusat tetapi gurulah yang menjadi pusatnya.

Alkitab mencatat seluruh sejarah manusia, bagaimana asal mula manusia, bagaimana manusia berproses, yakni kejatuhan manusia dalam dosa, manusia diselamatkan dan manusia berakhir. Kitab Perjanjian Lama menuliskan tentang Allah mencipta, Allah memelihara, Allah menetapkan hukum, Allah menyelamatkan manusia, dan masih banyak lagi begitu juga dengan kitab Perjanjian Baru semua berpusat pada Kristus mulai dari kelahiran-Nya sampai dengan kedatangan-Nya yang kedua kali nanti. Jadi Allahlah yang menjadi pusat bukan manusia. Celakanya, sejak dari kecil kita telah dididik bahwa pusat dari segala sesuatu adalah diri. Karena itu mulai dari sekarang didiklah anak-anak yang telah Tuhan percayakan padamu hanya berfokus Tuhan. Betapa indahnya hidup kita kalau diri selalu berpusat pada Kristus. Pdt. Dr. Stephen Tong berpendapat seperti sebuah radio kalau kita tidak fokus pada gelombang dengan tepat maka kita tidak akan mendapatkan suara yang jernih. Biarlah kita senantiasa melatih diri kita untuk senantiasa memfokuskan hidup kita pada Kristus dengan demikian kita hanya menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan saja. Sayang, hari ini banyak orang tua tidak memahami pentingnya pendidikan bagi anak sehingga mendidik anak yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua diserahkan pada sekolah. Adalah mujizat kalau kita dapat mengubah konsep berpikir kita dari berpusat pada diri menjadi berpusat pada Kristus.

3. Kristus satu-satunya teladan sempurna bagi manusia. 

Perkataan Tuhan Yesus, “Ikutlah Aku,…“ merupakan kalimat final dengan demikian manusia dapat peroleh pengharapan. Sebagai anak Tuhan, kita boleh mengucapkan hal yang sama seperti Kristus, yaitu “Ikutlah aku,…“ namun tidak boleh berhenti sampai di situ saja dan hal ini disadari oleh Paulus dan para murid yang lain. Kalimat yang benar adalah: “Ikutlah aku, sama seperti aku mengikut Kristus“. Berhatilah-hatilah dan jauhilah orang yang berkata, “Ikutlah aku“. Itu berarti dia telah menggeser posisi Tuhan dengan bermain menjadi Tuhan, playing God. Kejatuhan manusia pertama dalam dosa karena dia ingin menjadi seperti Tuhan. Hanya Kristus satu-satunya yang boleh mengatakan, “Ikutlah Aku“ karena Dialah satu-satunya kesempurnaan manusia sejati, Dialah teladan sempurna bagi manusia di dunia. Kristus tidak berdosa namun demi untuk menebus manusia berdosa, Dia dijadikan berdosa namun Dia bangkit dan Dia naik ke sorga membuktikan kesempurnaan diri-Nya. Dunia mengakui Yesus sebagai Guru Agung meski secara lingkup area pengaruh Yesus sangat kecil namun secara moral pengaruh-Nya sangat besar dibandingkan semua tokoh di sepanjang sejarah dunia. Yesus tidak hanya sekedar mengajar tetapi Dia menjalankannya dengan sempurna. Michael Hart menuliskan hal ini dalam bukunya 100 Tokoh yang Berpengaruh di Dunia. Mahatma Gandhi pun sangat berkesan dengan Alkitab yang setiap hari ia baca terutama kitab Amsal dan ajaran Tuhan Yesus di bukit. Jadi, orang yang mengaku diri sebagai pengikut Kritus tapi tidak dapat melihat teladan Kristus, ia bukanlah seorang Kristen sejati. Setiap manusia harus melihat Kristus sebagai fokus hidup dan mencontoh teladan Kristus Raja di atas segala raja. Jangan sia-siakan anugerah-Nya kalau Tuhan memanggil engkau untuk menjadi warga Kerajaan Sorga hari ini, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.“ Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Eksposisi Injil Matius 4 : THE KINGDOM AND THE WORKERS-3 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, May 19th, 2006

Eksposisi Injil Matius 4

Ringkasan Khotbah : 26 September 2004

The Kingdom & the Workers 3

Nats: Mat. 4: 18-22

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Menggenapkan Kerajaan Allah di dunia tidak Yesus lakukan seorang diri saja meskipun secara Ilahi, Dia mampu dan hasilnya pasti jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan kalau kita turut mengerjakannya. Kristus merekrut para murid untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan Allah di dunia; Dia tidak lagi menyebut kita hamba tapi Ia menyebut kita sahabat karena seorang sahabat memahami apa yang menjadi kehendak sahabat-Nya. Dan cara Tuhan memilih dan memanggil orang-orang yang hendak Dia jadikan sebagai rekan sekerja berlawanan dengan cara manusia begitu juga dengan kriteria yang ditetapkan Tuhan berbeda dengan standar yang ditetapkan manusia. Standar dan syarat-syarat yang manusia anggap sangat penting bagi Tuhan Yesus nothing, tidaklah berarti apa-apa sebaliknya yang oleh manusia dianggap tidak penting justru bagi-Nya dianggap sangat penting. Terbukti orang-orang yang Yesus panggil untuk dijadikan murid adalah orang-orang yang berasal dari kalangan bawah yang dipandang hina dan remeh pada jaman itu. Andreas, Petrus, Yohanes dan Yakobus hanyalah seorang nelayan, Matius hanyalah seorang pemungut cukai, dan masih banyak lagi murid Kristus lain yang berasal dari kalangan bawah.

Hendaklah kita meneladani Kristus dan merubah konsep kita yang salah dengan demikian kita tidak salah menilai orang lain. Mata manusia hanya melihat penampilan luar tapi Tuhan melihat hati. Samuel melihat Eliab lebih cocok menjadi seorang raja karena perawakannya yang gagah tapi Tuhan berbeda, Ia justru memilih Daud yang kecil dan kemerah-merahan. Cara Tuhan menetapkan nilai lebih agung dari manusia. Manusia hanya bisa melihat segala sesuatu yang berkaitan dengan keterbatasan dirinya sedang Tuhan melihat segala sesuatu di dalam seluruh kerangka kerajaan-Nya. Manusia seringkali hanya berpikir secara pragmatis, yaitu apa yang menjadi kebutuhan dunia saat ini dan yang menguntungkan maka dengan segala daya orang akan mengusahakan dan mengejarnya. Akibatnya, orang tidak mencapai kesuksesan dengan tuntas karena bidang  yang seharusnya menjadi keahliannya malahan tidak dapat dikerjakan dengan maksimal. Sangatlah disayangkan, kalau demi untuk mendapatkan nilai matematika baik maka sepanjang hari itu dihabiskan untuk mempelajari bidang yang sebenarnya tidak dia kuasai demi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Sebaliknya mungkin di bidang lain, misalnya: musik atau bahasa seharusnya ia sangat berpotensi justru tidak dapat berkembang. Cara Tuhan berbeda, itulah sebabnya Tuhan Yesus memilih Petrus seorang nelayan bukan Kayafas si ahli Taurat atau orang-orang pandai lain pada jaman itu.

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“ (Mat. 4:19). Perkataan Tuhan Yesus mengandung makna yang sangat dalam, kenapa Tuhan memanggil, bagaimana Tuhan memanggil dan apa implikasi dari panggilan Tuhan? Dan dalam kalimat ini mengandung tiga segmen: pertama, “Mari“ atau “Come“ (bhs Inggris); kedua, Ikutlah Aku, follow Me; ketiga, Kujadikan penjala manusia, I will make you a fisher of man. Melalui tiga segmen ini Kristus hendak menyatakan bagaimana cara Dia memanggil murid dan siapa yang akan dipakai untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Terlebih dahulu kita akan memahami segmen pertama dari ketiga segmen, yaitu “Come,…“ dalam bahasa Indonesia lebih tepatnya adalah “Kesini,…“Perhatikan, Tuhan mengatakan kalimat ini pada mereka yang nantinya menjadi orang-orang yang berada di lingkaran dalam Tuhan Yesus, inner circle, yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus adalah kecuali satu orang, yakni Andreas. Kristus menempatkan diri-Nya pada positioning yang tepat, “Kesini,…“ dengan demikian orang menyadari siapa yang berhadapan dengan dirinya dan bagaimana relasi dirinya dengan orang yang memanggil tersebut. Kristus tidak pernah menyebut diri-Nya Anak Allah tapi Ia selalu menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia. Hal inilah dipakai untuk menyerang Kekristenan, yaitu bahwa Kristus bukanlah Allah. Ironi! Manusia seharusnya sulit melihat Yesus sebagai Anak Manusia karena banyak hal yang Dia lakukan tidak dapat dilakukan oleh manusia. Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah adalah sah kalau keluar dari mulut orang lain.

I. Supremasi Kerajaan.

Kristus menggunakan otoritas tertinggi, yaitu otoritas Kerajaan Sorga pada saat Ia memanggil murid, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“. Kristus menggunakan struktur ordo yang begitu kuat di dalam melakukan tindakan relasi. Di dunia barat, siapapun  boleh mengundang tanpa memandang usia, seorang anak muda dapat mengatakan,“Come,…“ pada seorang yang lebih tua. Berbeda di dunia timur, seorang anak yang baru beranjak dewasa tidak dapat mengatakan hal demikian pada seorang yang sudah berusia. Menurut tradisi Yahudi, seorang dikatakan dewasa ketika berumur 30 tahun dan usia Tuhan Yesus 30 tahun saat Ia memilih para murid dan orang belum banyak mengenal Dia. Tuhan Yesus mau menunjukkan pada mereka bahwa panggilan-Nya adalah panggilan Kerajaan Allah bukan panggilan yang sifatnya kerjasama. Kingdom Authority, otoritas Kerajaan Sorga ini sangatlah penting karena untuk menggenapkan Kerajaan Allah di tengah alam semesta ini merupakan pekerjaan besar, yaitu pekerjaan yang bersangkut paut dengan kehidupan manusia di sepanjang jaman dan tanpa pertolongan Tuhan, manusia tidak dapat mengerjakannya. Karena itu Yesus memanggil dengan menggunakan otoritas Kerajaan Surga sehingga tidak ada tawar menawar, bargain. Bukankah di dunia sekuler pun kita tidak diberikan kesempatan untuk bargain bahkan tidak diperbolehkan tawar menawar saat mendapat tugas penting? Kini, apalagi tugas yang Tuhan berikan merupakan pekerjaan yang maha penting karena menyangkut kehidupan manusia maka mutlak, kita harus melakukannya.

II. Anugerah Illahi

Pekerjaan yang maha penting ini diserahkan kepada manusia yang secara kategori tidak  mempunyai kualifikasi yang cukup memadai. Orang yang melakukan tawar menawar, bargain justru akan menjadikan dirinya sombong karena ia merasa dirinya yang paling dibutuhkan dan cuma ia satu-satunya yang dapat mengerjakan pekerjaan penting tersebut. Merupakan suatu paradoxical karena di satu sisi pekerjaan ini menyangkut seluruh umat manusia di dunia yang berlingkup besar namun dikerjakan oleh orang-orang yang “tidak berkualifikasi“ seperti kita. Andai Tuhan menuntut kualifikasi seperti halnya yang dilakukan di dunia sekuler maka tidak ada seorang pun yang lolos dari kualifikasi menurut standar Tuhan. Kita seharusnya patut bersyukur dan bersukacita karena Ia berkenan memakai kita untuk mengerjakan pekerjaan Kerajaan Sorga yang sangat mahal harganya karena menyangkut nyawa manusia.

Namun kita harus menyadari kalau Tuhan memanggil kita menjadi murid itu merupakan anugerah terlalu besar, tidak semua orang dipilih-Nya untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah karena itu janganlah engkau menyombongkan diri. Kita mempunyai tugas lebih penting dari semua pekerjaan apapun yang ada di dunia yang sifatnya sekuler. Hal itu seharusnya menyadarkan kita akan konsep nilai bahwa ada pekerjaan yang lebih bernilai yang harus kita kerjakan. Siapakah kita sehingga Tuhan berkenan memakai kita menjadi pekerja-Nya? Ingat, kita bukanlah siapa-siapa sehingga kalau Tuhan berkenan memilih kita menjadi pekerja-Nya maka kita harus mengerjakannya dengan sebaik-baiknya dan kita harus menuntut diri untuk terus bertumbuh dan para murid menyadari hal ini, mereka bukanlah tidak layak tapi Tuhan justru mau memakai manusia yang tidak layak ini untuk menggenapkan Kerajaan-Nya di dunia.

III. Ketaatan Hamba

Untuk melakukan pekerjaan yang sangat penting ini, kualitas pertama yang Tuhan tuntut dari seorang murid adalah ketaatan, obedience. Dan hal yang paling sulit saat merekrut orang adalah kita tidak mengetahui apakah ia seorang yang taat atau tidak? Mencari orang yang berkualifikasi sekaligus orang yang mau taat tidaklah mudah karena umumnya, orang yang pandai akan sulit untuk taat sebaliknya orang yang mau taat biasanya adalah orang yang tidak mempunyai kemampuan atau kepandaian. Secara manusia, mereka adalah orang-orang yang dibuang oleh masyarakat, mereka dipandang sangat hina namun cara pandang Yesus berbeda, Ia melihat dengan bijaksana sejati bahwa mereka mempunyai potensi dan kapasitas yang sangat besar. Orang sulit memahami bagaimana cara Tuhan bekerja sehingga dapat mengubahkan hidup manusia hal itu juga menyebabkan kesulitan bagi kebanyakan orang pada umumnya bagaimana seorang nelayan seperti Petrus dapat mempertobatkan tiga ribu orang dan mereka meminta diri dibaptis. Alkitab menegaskan hal Kerajaan Sorga ini dengan keras. Alkitab tidak memakai konsep demokrasi karena salah satu kelemahan sistim demokrasi adalah keputusan berada di tangan suara terbanyak sehingga orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan di bidangnya berhak mengambil keputusan. Seorang filsuf Romawi, Markus Aurelius, tidak menyetujui adanya sistim demokrasi karena orang-orang “grass root“, orang-orang kelas akar rumput yang dalam hal ini tidak mempunyai pengertian atau kemampuan turut menentukan dan mengambil suatu keputusan. Dan sebagai gantinya, ia mengusulkan philosopher – king, yakni seorang pemimpin haruslah juga seorang yang bijaksana dan menguasai filsafat dengan demikian diharapkan ia dapat memilih dengan tepat orang-orang yang duduk dalam kepemimpinan. Sekali lagi saya tegaskan, konsep dunia berlawanan dengan konsep Tuhan meskipun konsep philosopher king ini sangat baik namun Tuhan Yesus tidak memakai konsep tersebut.

Kita harus menyadari panggilan Tuhan sebagai suatu anugerah. Manusia humanis tidak suka dengan doktrin predestinasi, yaitu Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan karena ini berarti ia tidak mempunyai pilihan lain selain pilihan dari Tuhan. Maka tidaklah heran, orang sukar sekali melakukan perintah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab seperti “Hai, istri tunduklah pada suamimu…“ (Ef. 5:22) atau “Hai, suami kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat..“ (Ef. 5:25). Konsep ordo ini nampak jelas dalam Allah Tritunggal. Secara natur, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus sama namun secara ordo, tidak sama. Allah Roh Kudus harus tunduk pada Allah Anak karena Roh Kudus tidak akan mengerjakan apapun selain yang diperintahkan oleh Allah Anak dan Allah Anak harus tunduk pada Allah Bapa, Kristus tidak melakukan apapun yang dari diri-Nya sendiri. Jadi, otoritas tertinggi berada di tangan Allah Bapa karena itu dalam diri Allah Tritunggal tidak akan terjadi konflik kebenaran, kepemimpinan maupun otoritas. Inilah paradoxical relation, secara natur sama tapi secara ordo berbeda.

Manusia sudah dikuasai konsep humanisme dimana segala sesuatu harus sesuai logika akibatnya manusia selalu melawan konsep Tuhan. Sebagai contoh, Alkitab tidak pernah menentang perbudakan bahkan Alkitab mencatat ketika Onesiforus melarikan diri, Paulus mendidik dan mengembalikan dia pada tuannya. Dunia sudah mengalami pergeseran makna akibatnya orang tidak menyadari status dirinya yang hanya seorang budak. Di hadapan Tuhan kita adalah seorang budak atau hamba. Karena itu anugerah terlalu besar diberikan pada kita kalau kita yang adalah budak dipilih-Nya untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah dan seorang budak tidak mempunyai hak apapun, ia harus tunduk dan taat mutlak pada tuannya. Hari ini yang menjadi kekuatiran adalah orang Kristen tidak mempunyai jiwa taat dan mereka mau taat kalau ia diuntungkan. Itu bukanlah ketaatan. Tuhan tidak suka dengan seorang yang mempunyai jiwa pemberontak. Syarat utama menjadi murid Tuhan adalah ketaatan mutlak. Tentang hal mengikut, Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk. 9:23) dan setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh kebelakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:62). 

Gereja Tuhan harus berdiri di atas kebenaran. Kebenaran inilah yang akan mengikis orang-orang yang tidak punya motivasi benar. Tuhan Yesus berkata, “Kesini,…“ yang menjadi pertanyaan adalah hari ini berapa banyak orang yang meresponi panggilan-Nya? Orang selalu berpikir untung-rugi ketika hendak mengikut Dia dan yang dilihat manusia selalu kerugian karena manusia berpikir dengan menggunakan logikanya yang terbatas. Orang tidak dapat melihat kemuliaan Sorga di balik penderitaan; orang tidak memahami penderitaan di dunia hanyalah bersifat sementara. Maka tidaklah heran kalau mayoritas orang menolak Dia. Namun tidak demikian halnya dengan Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus, mereka langsung meninggalkan semua kesibukannya dan mengikut Dia. Tuhan sudah memilih dan memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan Allah di dunia, maukah engkau meninggalkan semua ego dan berkata, “Tuhan, aku mau taat pimpinan-Mu dan biarlah kehendak-Mu saja yang jadi“. Biarlah itu menjadi tekad  dan doa kita. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20040926.htm

Eksposisi Injil Matius 4 : THE KINGDOM AND THE WORKERS-2 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, May 8th, 2006

Eksposisi Injil Matius 4

Ringkasan Khotbah : 19 September 2004

The Kingdom & the Workers 2

Nats: Mat. 4: 18-22

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kerajaan Allah yang ditegakkan oleh Kristus di tengah dunia adalah bersifat rohani. Itulah sebabnya berita pertama yang diserukan oleh Kristus ketika Ia memulai pelayanan-Nya, yaitu: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat“. Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, … biji itu paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya (Mat. 13:31-32). Dan Kristus datang ke dunia untuk menggenapkan Kerajaan Allah dimana Kristus yang menjadi Raja. Inilah figurasi pertumbuhan Kerajaan Allah yang terjadi di dalam proses sejarah. Cara Kristus membangun kerajaan-Nya berbeda dengan dunia. Orang akan meletakkan pusat bisnisnya di ibu kota sebaliknya Kristus memulainya dari sebuah desa kecil di Kapernaum.

Kita harus merubah konsep dan cara berpikir kita yang salah tentang hal Kerajaan Allah. Prinsip kepemimpinan dunia berbeda dengan yang Kristus ajarkan. Orang berpendapat bahwa setiap gerakan di dunia tidak akan berumur panjang yakni tidak lebih dari seratus tahun atau sebatas tiga generasi saja, sebagai contoh gerakan komunis. Generasi pertama sebagai pelopor gerakan, generasi kedua yang mempertahankan gerakan maka sampai pada generasi ketiga gerakan menjadi hancur. From movement to monument. Apakah semua gerakan di dunia akan berakhir demikian? Orang lupa, tidak semua gerakan akan berakhir dengan kehancuran. Gerakan yang didirikan oleh Tuhan Yesus telah berumur ribuan tahun dan tidak menjadi hancur bahkan telah berkembang dan menjadi besar. Suatu kesalahan kalau kita memakai konsep dan prinsip dunia serta menggunakan parameter dunia lalu dengan berani menyimpulkan semua gerakan pasti berakhir dengan kehancuran. Memang benar semua gerakan yang menurut prinsip dunia pasti hancur namun tidak kalau gerakan tersebut menurut prinsip Kerajaan Allah. Suatu gerakan yang dimulai dari prinsip Kerajaan Allah maka gerakan tersebut tidak akan berakhir dengan kehancuran karena kita sedang menjalankan misi Tuhan. 

Dunia modern selalu memandang remeh prinsip dan cara yang dicetuskan oleh orang-orang pada jaman dulu. Dunia modern menganggap bahwa prinsip mereka sudah terlalu kuno sehingga tidak dapat diterapkan pada jaman sekarang. Salah! Teori pengembangan manajemen ekonomi, politik dan lain-lain yang muncul hari ini sebenarnya telah dicetuskan oleh para filsafat Romawi – Yunani kuno. Bahkan pada jaman modern ini tidak ada orang-orang sehebat seperti Socrates, Aristotle, dan para filsuf lain yang muncul pada abad pertengahan. Untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di dunia, Kristus tidak mengerjakannya seorang diri meskipun untuk itu Dia mampu bahkan kalau Dia yang mengerjakannya hasilnya pasti lebih baik dibandingkan kalau kita yang turut juga mengerjakannya karena Dia adalah Tuhan. Merupakan suatu anugerah kalau Kristus memilih dan memakai kita menjadi rekan sekerja-Nya untuk turut menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi. Jadi, jangan seorang pun menyombongkan diri sebab itu bukan kepandaian atau kehebatan kita karena itu.

Lalu kriteria murid seperti apakah yang Kristus pilih untuk menjadi rekan sekerja-Nya? Sekali lagi saya tegaskan cara Kristus berbeda dengan dunia. Orang pasti memilih orang-orang yang secara teknis berkualitas untuk menjadi rekan sekerja, seperti lulusan dari sekolah apa, jurusan apa, dan lain-lain. Sebaliknya, Tuhan Yesus justru memilih murid-murid yang secara teknis tidak berkualifikasi bahkan pekerjaan mereka dipandang hina dan rendah oleh dunia. Ketika kita mengajak seseorang untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah apakah kita menggunakan cara dunia, yakni hanya memilih orang yang bertalenta saja? Mati hidupnya suatu gerakan tergantung dari orangnya sebab orang-orang inilah yang nantinya akan menjalankan dan mengembangkan gerakan. Dan untuk mencari orang yang tepat tidaklah mudah. Kita harus mencontoh teladan Tuhan Yesus, Dia tidak memanggil ahli-ahli Taurat seperti Gamaliel atau Nikodemus menjadi murid-Nya. Tuhan Yesus menyusur danau Galilea dan Ia melihat Simon yang disebut Petrus, dan Andreas. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Orang terbiasa menggunakan cara dan konsep dunia tak terkecuali ketika memilih orang untuk turut ambil bagian dalam pelayanan pun kita menggunakan parameter dunia. Andai, Tuhan Yesus menggunakan parameter dunia maka di antara kedua belas murid, tidak ada seorang pun yang layak menjadi murid-Nya sebab mereka hanyalaha seorang penjala ikan dan pemungut cukai. Orang-orang yang dipandang hina oelh dunia inilah yang justru dipakai Tuhan Yesus untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah. Standar yang ditetapkan manusia berbeda dengan Tuhan Yesus. Yang menjadi dasar kualifikasi seseorang untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah adalah:

1. Pekerja Sejati

Tuhan Yesus tidak memanggil orang yang tidak ada pekerjaan alias pengangguran atau orang yang sedang mencari pekerjaan. Tidak! Perhatikan, Tuhan Yesus justru memanggil orang yang sedang sibuk bekerja, orang yang bekerja keras membanting tulang. Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes adalah orang-orang yang sangat ahli dalam pekerjaanya dan ketika Tuhan menuntut mereka untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Dia, mereka taat. Celakalah orang yang melayani hanya sekedar untuk mengisi waktu luang atau karena ia sedang tidak mempunyai pekerjaan. Orang-orang demikian tidak akan pernah tahu tanggung jawab akibatnya ia akan memanipulasi pekerjaan demi untuk kepentingan dirinya. Akibatnya setiap pekerjaan dianggap sebagai beban yang menyusahkan dirinya sehingga ketika ia telah berbuat sedikit jasa maka ia merasa diri paling berjasa dan menuntut imbalan. Hanya orang-orang yang mau dilatih dan dibentuk oleh Tuhan sajalah yang akan berhasil dalam pelayanan. Alkitab mencatat semua orang yang dipanggil adalah orang-orang yang sibuk, orang-orang yang mengerti apa artinya bekerja dan melayani. Inilah prinsip pekerjaan Tuhan. Biarlah kita mengubah paradigma kita yang salah dengan demikian kita tahu bagaimana seharusnya mengerjakan pekerjaan yang Tuhan percayakan pada kita untuk kita kerjakan dengan tepat. Tuhan memakai orang-orang yang tahu apa arti bekerja karena itu kerjakanlah pekerjaanmu sebaik-baiknya karena semua pekerjaan itu sudah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:8).   

2. Warga Kerajaan yang Sejati

Para murid rela meninggalkan semua pekerjaan yang menjadi keahlian mereka ketika Tuhan memanggil mereka dan akan dijadikan penjala manusia; mereka taat dan mengikut Yesus. Inilah jiwa pekerja sejati karena bukan hal mudah seseorang tunduk dan taat pada atasan. Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan hidup senang dan nyaman kalau mengikut Dia; Tuhan Yesus belum banyak dikenal orang saat Ia memilih dan merekrut murid-murid-Nya dan Dia belum banyak melakukan mujizat. Tuhan Yesus justru menegaskan syarat mengikut Dia harus memikul salibnya dan menyangkal diri sebab serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20). Andai orang disuruh memilih maka kita pasti lebih memilih ikut dengan orang yang jelas akan masa depannya dengan demikian masa depan kita pun pasti terjamin pula. Hidup kita bukan hidup untuk diri kita sendiri begitu pula dengan pekerjaan yang kita punya bukan sekedar untuk mengenyangkan perut kita. Sadarlah pekerjaan sedang kita kerjakan sekarang ini asalnya dari Tuhan dan semuanya itu sudah dipersiapkan Tuhan sebelumnya.

Seseorang akan dipakai Tuhan dengan indah kalau di dalam dirinya mempunyai semangat melayani dan mempunyai jiwa yang taat akan pimpinan Tuhan. Janganlah kita sombong dengan kesuksesan yang kita peroleh dalam pelayanan. Itu bukan karena kepandaian kita melainkan Tuhan yang memampukan kita dalam pelayanan kita. Kesombongan akan menghancurkan semua pekerjaan Tuhan. Bayangkan, kalau kita mempunyai pekerja pandai tapi mempunyai jiwa pemberontak maka lama kelamaan perusahaan akan hancur. Tuhan Yesus tidak menjanjikan apapun ketika Ia memanggil Petrus – Andreas dan Yakobus – Yohanes, Dia hanya mengatakan bahwa mereka akan dijadikan penjala manusia. Sebaliknya mereka pun tidak menanyakan keuntungan apa yang akan mereka dapatkan. Tidak! Jiwa yang mau taat yang seperti inilah akan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya mempunyai etos kerja bahwa pekerjaan itu asalnya dari Tuhan dan kita mengerjakan itu untuk Tuhan sehingga kita tidak sembarangan dalam bekerja. Imbalan/gaji bukanlah yang utama. Percayalah Tuhan akan memakai orang-orang untuk menjadi saluran berkat bagi kita. Alkitab menegaskan prinsip pekerjaan Tuhan adalah ketaatan mutlak, janganlah anda tawar menawar dengan Tuhan. Dia tahu apa dan mana yang terbaik buat kita. Hendaklah keberadaan kita dimanapun kita berada menjadi kesaksian yang indah. Hati-hati jangan terjebak dengan konsep dunia yang mengajarkan terbalik dengan Alkitab. Dunia tidak akan mau kalau ia dirugikan itulah sebabnya dunia selalu tawar menawar dan orang akan bekerja jika ada kata sepakat. Prinsip pekerjaan Tuhan tidak mengenal kata sepakat sebaliknya pekerjaan Tuhan menuntut tanggung jawab bukan hak. Semua kepandaian yang ada pada diri kita kalau tidak disertai dengan ketaatan hanyalah sia-sia. Syarat utama untuk menjadi seorang pekerja sejati di dalam Kerajaan Tuhan adalah ketaatan. Jiwa yang taat pada pimpinan Tuhan akan mendatangkan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup kita.

3. Hikmat yang Sejati

Bijaksana bukan dari diri kita melainkan dari Tuhan karena itu mintalah pada Tuhan hati yang berbijaksana. Dalam ketaatan kita sebagai seorang pekerja yang dipakai Tuhan diperlukan juga hati yang bijaksana sehingga kita dapat berespon tepat dalam setiap perkara yang kita hadapi di dunia. Kepandaian bukanlah jaminan seseorang dapat berespon dengan tepat dalam setiap masalah yang ia hadapi justru biasanya mereka berespon salah karena ia berespon menurut logika bukan ketaatan. Respon yang dibangun dari logika diri pasti hanya untuk kepentingan diri sendiri. Untuk dapat berespon dengan tepat bukanlah hal yang mudah dibutuhkan waktu yang lama. Kedua belas murid Tuhan Yesus adalah orang-orang yang bekerja dan ketaatan mereka tidaklah diragukan. Tuhan Yesus sendiri yang menguji ketaatan mereka, yaitu ketika Tuhan Yesus selesai membuat mujizat lima roti dua ikan, banyak orang mengikuti Dia karena mereka kenyang namun dalam khotbah-Nya Tuhan Yesus menegur dengan keras tentang roti hidup akibatnya banyak orang meninggalkan Dia. Di saat banyak orang pergi meninggalkan Dia, Tuhan Yesus tidak menjadi sedih, Dia justru menanyakan pada kedua belas murid apakah mereka tidak mengikut orang banyak yang sudah pergi meninggalkan-Nya? (Yoh. 6:25-71).

Di satu pihak mereka taat namun ketika mereka berada dalam keadaan yang terjepit, mereka menjadi goncang sehingga mereka menyangkali Tuhan. Petrus menyangkal bukan karena ia tidak taat Tuhan. Tidak! Buktinya Petrus mengikuti proses peradilan Yesus, Petrus mengikuti kemanapun Yesus dibawa untuk diadili. Petrus menunjukkan respon yang tidak tepat, yaitu ia mencegah dengan menarik tangan Tuhan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa Anak Manusia akan ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari imam-imam kepala dan para ahli Taurat. Alkitab menuntut anak-anak Tuhan untuk berespon dengan tepat sehingga kita mengambil sikap dengan tepat. Hanya hikmat sejati dari Tuhan yang dapat membimbing kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang tidak mau mengembangkan talenta dengan alasan talenta yang diberikan sedikit. Tuhan mengambil semua yang ada pada dirinya dan memberikannya pada orang yang mempunyai lima talenta. Jangan pernah berpikir Tuhan akan memakai orang-orang pengangguran untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Sorga.

Tuhan justru memakai orang-orang yang paling sibuk dan mempunyai jiwa ketaatan; Tuhan membentuk karakter setiap kita untuk makin serupa Dia. Tuhan Yesus mau dan rela membentuk kita seperti Ia membentuk murid-Nya selama tiga tahun asal kita juga rela dan mau dibentuk oleh-Nya. Tuhan dapat memakai setiap orang baik itu orang yang dianggap bodoh oleh dunia atau orang pandai seperti Paulus. Namun untuk memproses dan membentuk orang yang mempunyai kapasitas lebih tidaklah mudah diperlukan pengorbanan. Setelah bertobat, Tuhan tidak membiarkan dia langsung melayani; Tuhan memberikan waktu untuk Paulus merenung selama kurang lebih tiga belas tahun. Tuhan membentuk Paulus sehingga ia benar-benar layak dipakai melayani Tuhan. Cara Tuhan melatih setiap orang berbeda dan Dia tahu kapan waktu yang tepat bagi seseorang untuk melayani. Hendaklah kita mencontoh teladan Tuhan Yesus yang taat pada Bapa; Ia taat sampai mati di kayu salib. Bapa berkenan pada-Nya dan meninggikan Dia. Mintalah pada Tuhan bijaksana supaya kita menjadi peka dan dapat merespon dengan tepat dalam setiap masalah dan tantangan yang kita hadapi. Maukah kita dibentuk oleh-Nya dan dipakai menjadi alat untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi?  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20040919.htm

Eksposisi Injil Matius-4 : THE KINGDOM AND THE WORKERS (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, May 3rd, 2006

Ringkasan Khotbah : 5 September 2004

The Kingdom & the Workers

Nats: Mat. 4: 18-22

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Melalui perikop ini kita hendak memahami konsep Kerajaan Allah dan bagaimana cara Tuhan Yesus memanggil murid-murid menjadi rekan-rekan sekerja-Nya bersama-sama  menggarap misi Kerajaan Allah di dunia. Hari ini, banyak gereja sudah menjadi salah arah, yaitu menjadikan ladang pelayanan Tuhan tak ubahnya seperti perusahaan dunia, cara-cara kepemimpinan dunia diterapkan dalam gereja. Akibatnya, pelayanan yang seharusnya menggarap misi Kerajaan Allah yang sesuai kehendak Tuhan kini menjadi pelayanan yang menggenapkan kehendak pribadi, yakni ambisi sang pemimpin. Banyak pemimpin gereja tidak mengerti prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan Alkitab. Konsep kepemimpinan yang mereka mengerti adalah yang menurut dunia; pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan mempengaruhi orang lain untuk menjalankan dan memenuhi apa yang menjadi keinginannya. Jika kita termasuk dalam bilangan orang-orang demikian, yaitu selalu memanfaatkan orang lain demi untuk mendapatkan keuntungan maka hendaklah engkau sadar, bertobat dan memohon pengampunan pada-Nya!

Kristus diutus oleh Bapa ke tengah dunia untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah, The Kingdom dimana dalam waktu yang singkat, Ia harus menanamkan konsep Kerajaan Allah pada para murid dan kemudian diteruskan kepada orang lain demikian seterusnya hingga menjadi besar kelak. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia, banyak orang memandang rendah diri-Nya dan menghina Dia. Pada jaman itu, orang sangat mengagungkan Herodes daripada Kristus begitu juga orang akan menganggap Pilatus lebih besar dari Tuhan Yesus. Begitu rendahnya Dia, sampai-sampai seorang prajurit biasa pun berani menghina dan meludahi Yesus pada peristiwa penyaliban. Tidak ada satu orang pun di dunia yang mendapatkan perlakuan sedemikian hina bahkan seorang pengemis pun tidak pernah mendapat perlakuan demikian. Kini, sejarah membuktikan bahwa Tuhan Yesus lebih besar dari siapapun di dunia. Karena itu janganlah terlalu cepat kita mengambil kesimpulan dari suatu kejadian.

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, dilihatnyalah dua orang bersaudara, Petrus dan Andreas sedang menebarkan jala. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus dan Yohanes bersama ayah mereka. Sepintas, kejadian ini sepertinya terjadi secara bersamaan namun dari Injil Lukas kita mengetahui kalau ternyata dua kejadian tersebut terjadi dalam waktu yang berbeda. Ini merupakan momen krusial, yakni waktunya bagi Tuhan Yesus untuk menjalankan misi Kerajaan Allah bersama dengan murid-murid-Nya. Banyak orang mengerti prinsip pelayanan namun mereka tidak tahu bagaimana menjalankan prinsip pelayanan dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti halnya orang yang memainkan alat musik, keluarnya alunan nada dari alat musik tersebut tergantung dari orang yang memainkannya. Satu lagu yang sama jika dimainkan oleh dua orang berbeda maka alunan nada yang dihasilkan pastilah berbeda.

Pada dasarnya, pribadi manusia terdiri dari tiga elemen, yakni: 1) rasional, 2) emosional, dan 3) folisional atau kehendak manusia. Setiap pencipta lagu sangat memahami hal ini, itulah sebabnya kita merasakan emosi yang berbeda dalam setiap lagu. Jadi, pertama kita harus memahami konsep pelayanan dengan benar maka barulah kita dapat menjalankannya namun kalau konsep atau pola pikir kita salah maka pelaksanaannya pasti salah. Kalau konsep dan implikasi dapat berjalan sebagai satu keutuhan maka seluruh pelayanan akan berjalan dengan indah. Namun sangatlah disayangkan, kedua hal ini tidak dapat dijalankan secara bersama akibatnya terjadi kepincangan. Dunia menyadari bahwa kalau antara konsep dan pelaksanaan saling terkait karena itu dunia mengusahakan sedemikian rupa dengan berbagai cara. Hati-hati sebagai orang Kristen kita jangan mudah terpengaruh dengan cara-cara dunia karena Alkitab justru mengajarkan hal yang berbeda bahkan bertentangan dengan dunia. Dunia selalu memakai istilah pemimpin sebaliknya Alkitab memakai istilah “headship, kekepalaan“ untuk menyatakan sebagai pemimpin (Ef. 5: 22). Kepala berasal dari bahasa Yunani, kefale yang artinya kekepalaan. Kekepalaan mempunyai konsep yang berbeda dengan kepemimpinan. Kepala dengan tubuh merupakan satu keutuhan dan saling menyatu namun ketika saling berelasi maka kepala bukan hanya sekedar berfungsi sebagai kepala. Tidak! Kepala mengkoordinasikan seluruh tubuh sedemikian rupa untuk kepentingan seluruh tubuh. Jika sebagian kecil dari tubuh kita disakiti maka kepala juga akan merasakan sakit sebaliknya jika kepala yang sakit maka seluruh tubuh akan membantu kepala untuk mengurangi rasa sakit yang dialaminya.

Berbeda dengan prinsip kepemimpinan yang diterapkan dunia, dimana dunia akan membuang bagian yang dirasakan sudah tidak berguna lagi. Bayangkan, kalau setiap bagian kecil dari tubuh kita yang rasakan sangat menyusahkan langsung diamputasi maka apa jadinya tubuh, bagaimana bentuk dan rupa kita? Tuhan Yesus mengajarkan konsep kepemimpinan yang berbeda dengan dunia. Karena itu Tuhan Yesus menegur murid-murid dengan keras ketika para murid berulang kali selalu menggunakan konsep kepemimpinan dunia; barangsiapa menjadi pemimpin maka hendaklah ia harus menjadi pelayan terlebih dahulu (Luk. 22:26). Dari konsep yang Tuhan Yesus ajarkan ini kita melihat beberapa aspek penting untuk kita pelajari,yaitu:

Pertama, Jangan membatasi pekerjaan Tuhan sebatas lingkup sempit. Pekerjaan Tuhan adalah pekerjaan besar yang melingkupi seluruh dunia. Kerajaan Allah dimulai dari biji sesawi dan kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang di bawahnya. Dalam pelayanan-Nya, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam diri Kristus pekerjaan yang harus Ia lakukan tersebut sebagai pekerjaan remeh dan bersifat sementara sehingga Ia melakukannya secara sembarangan. Tidak! Kristus justru berpikir sebaliknya yakni misi yang Bapa berikan untuk Ia kerjakan adalah demi kepentingan seluruh umat manusia mulai sekarang sampai selamanya, yakni sampai kedatangan-Nya kembali. Oleh sebab itu Tuhan Yesus tidak sembarangan memilih para murid, Ia menggumulkannya terlebih dahulu. Banyak orang memandang sinis suatu gerakan bahwa suatu gerakan tidak akan bertahan lebih dari tiga generasi. Bukan hal yang mudah bagi generasi pertama sebagai pendiri atau pencetus suatu gerakan, pasti banyak mengalami tantangan dan kesulitan sampai pada generasi kedua, hanya bertugas mempertahankan gerakan saja tapi sampai pada generasi ketiga dimana keadaan sudah mapan maka tinggal menunggu waktu kehancurannya saja, from movement to monument.

Hal ini juga dikhawatirkan oleh banyak orang tentang gerakan Reformed Injili yang diprakarsai oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, yakni setelah beliau tidak ada maka gerakan ini juga turut hancur. Apakah orang yang berpendapat demikian ini pernah mempelajari gerakan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus? Apakah gerakan yang dicetuskan oleh Tuhan Yesus tersebut hanya bertahan sebatas tiga generasi? Tidak! Gerakan ini tidak hilang dan bertahan hingga ribuan tahun dan menjadi besar. Gerakan Reformed Injili bukanlah gerakan yang mengerjakan misi intern. Tidak! Gerakan Reformed Injili ini dimaksudkan untuk menjadi berkat bagi seluruh bangsa sehingga kalau Tuhan memang berkehendak maka gerakan ini tidak akan menjadi monumen. Konsep pertama yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah misi Kerajaan Allah tidak terbatas pada kehendak manusia semata. Kristus tidak sedang menjalankan ambisi-ambisi manusiawi tapi Dia menjalankan kehendak Bapa; Kristus datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani dan memberikan nyawa menjadi tebusan bagi manusia.

Kekristenan hendaklah mencontoh teladan Kristus yang selalu mengutamakan kehendak Allah. Pelayanan hendaklah kita kerjakan dengan motivasi murni. Jiwa dan semangat pelayanan harus kita pelihara sedemikian rupa dan kita turunkan pada generasi di bawah kita. Kristus mengajarkan konsep kebenaran pada murid-murid dan tidak berhenti sampai di situ, para murid pun meneruskan jiwa pelayanan dan mengajarkan konsep kebenaran ini pada generasi berikutnya demikian seterusnya hingga sampai hari ini. Gerakan harus dimulai dengan jiwa yang taat pada Tuhan maka gerakan tersebut tidak akan pernah hilang.  Kristus berkorban di atas kayu salib demi untuk menggenapkan kehendak Bapa, yakni untuk menyelamatkan semua umat manusia di dunia. Ingat, pelayanan yang kita lakukan bukan untuk kepentingan diri semata tetapi kita harus memandang setiap pelayanan bahkan pelayanan yang kecil sekalipun sebagai pekerjaan Tuhan yang harus digenapkan di dunia. Dan Tuhan memakai kita untuk menggenapkan misi Kerajaan Allah ini. Dalam setiap pelayanan bersiaplah untuk menerima kritikan dan jangan menganggap kritikan tersebut sebagai racun yang mematikan dan membuat kita berhenti melayani. Kritik justru semakin membangun jiwa pelayanan kita untuk menjadi semakin lebih baik dan kita akan merasakan keindahan ketika berjalan bersama Tuhan; kita akan melihat cara Tuhan bekerja yang ajaib dimana secara logika hal tersebut tidak mungkin bisa dilakukan manusia.

Kedua, Jangan pernah berpikir bahwa pekerjaan Tuhan dapat kita kerjakan seorang diri saja. Kalau kita mau mengerti pekerjaan Tuhan yang besar maka pekerjaan Tuhan tersebut haruslah kita sadari bukan pekerjaan satu orang saja dan dimonopoli oleh satu pihak tertentu. Secara Ilahi, Tuhan Yesus mampu mengerjakan semua pekerjan tersebut seorang diri malahan tanpa campur tangan kita, pekerjaan tersebut akan menjadi sempurna. Namun demikian Tuhan Yesus tidak memonopoli pekerjaan Allah, Ia memanggil murid-Nya satu per satu. Bagaimana cara Kristus merekrut murid-murid yang pertama? Orang-orang yang Tuhan Yesus pilih untuk dijadikan murid bukanlah orang pandai, mereka hanyalah seorang nelayan dimana pekerjaan nelayan pada jaman itu dipandang sangat hina. Sebelumnya, Tuhan Yesus tidak pernah bertemu dengan Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Andai kita disuruh memilih rekan sekerja apakah kita akan memilih orang-orang yang dalam hal ini tidak mempunyai pendidikan tinggi?

Banyak orang Kristen yang dikaruniai talenta banyak memakai prinsip ini, pelayanan Tuhan ia lakukan sendiri. Namun Tuhan Yesus berbeda, Ia tidak memakai ahli-ahli Taurat atau orang pandai yang lain untuk menjadi rekan sekerja tapi Kristus justru memanggil kita orang-orang berdosa yang bodoh dan hina untuk mengerjakan misi Kerajaan Allah. Tuhan Yesus rela memakai orang-orang seperti Petrus, Andreas dan murid-murid yang lain, Dia rela untuk mengajar dan membentuk mereka dimana dari merekalah pondasi pekerjaan Allah yang besar dibangun. Ingat, pekerjaan Allah bukan milik satu orang dan bukan juga dikerjakan oleh satu orang saja sehingga idealnya, suatu gereja dikatakan cukup berhasil kalau kurang lebih tujuh puluh persen jemaatnya melayan dan menggenapkan misi Kerajaan Allah.

Manusia hidup di dunia modern cenderung untuk hidup individualis, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain dan prinsip inilah yang juga terkadang digunakan orang dalam melayani. Karena sudah terbiasa hidup seorang diri maka segala pelayanan inginnya ia kerjakan seorang diri. Sebaliknya janganlah anda rendah diri, merasa diri tidak berguna. Pelayanan haruslah kita kerjakan secara bersama dan hasilnya untuk kemuliaan nama Tuhan karena itu tidak ada orang yang tidak berguna dalam pelayanan, setiap orang yang bekerja di dalamnya pastilah berguna. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus (1Kor. 12:12). Allah telah memberikan pada setiap kita talenta dengan demikian kita dapat saling melengkapi demi untuk pekerjaan Tuhan digenapkan. Manusia bukanlah benda mati yang mudah digantikan oleh pribadi orang lain. Karena itu, bagi Tuhan, satu jiwa yang bertobat bertobat lebih berharga dari emas dan perak dan seluruh isi dunia.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20040905.htm