Archive for June, 2006

Eksposisi Injil Matius 7 : THE QUALITY OF A TEACHER (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, June 28th, 2006

Eksposisi Injil Matius-7

Ringkasan Khotbah : 14 November 2004

The Quality a Teacher

Nats: Mat. 7: 28-29

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Minggu lalu kita sudah memahami signifikansi dari frasa yang berbunyi: “Dan, setelah Yesus mengakhiri perkataan ini…“ (Mat. 7:28), dimana frasa ini menunjukkan totalitas pengajaran Kristus dengan demikian orang tidak dapat menambahkan atau mengurangi isi dari pengajaran Kristus. Matius ternyata tidak hanya menggunakan frasa ini untuk kumpulan khotbah Tuhan Yesus di atas bukit (Mat. 5-7) yang dikenal sebagai hukum Kerajaan Sorga, the Law of the Kingdom saja melainkan juga untuk menandai kumpulan khotbah Tuhan Yesus yang lain. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita wajib tunduk pada undang-undang Kerajaan Sorga karena melawan undang-undang berarti kita telah melakukan tindakan subversif yang melawan hukum. Alkitab mencatat setelah orang banyak itu termasuk orang Yahudi mendengar khotbah Tuhan Yesus di atas bukit maka takjublah mereka sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa berbeda dengan ahli-ahli Taurat.

Pengakuan ini bukan hanya terjadi pada saat itu atau pada jaman itu saja. Tidak! Di sepanjang sejarah jaman orang mengakui bahwa memang pengajaran Kristus sangatlah indah dan berbeda dengan semua ajaran yang ada di dunia. Namun, ironisnya orang Yahudi yang termasuk golongan orang pandai di dunia justru menolak pengajaran Tuhan Yesus. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana orang banyak itu dapat menyimpulkan bahwa Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa? Ada tiga aspek yang membuat pengajaran Yesus berkuasa, yaitu:

1. Isi Pengajaran Kristus Berkualitas

Setiap kalimat yang diucapkan Kristus mengandung makna yang sangat mendalam sehingga orang harus berpikir apa arti dari perkataan Kristus tersebut. Itulah sebabnya orang merasa takjub sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah… (Mat. 5:3) seharusnya membuat orang bertanya akan apa arti bahagia? Bukankah bahagia merupakan cita-cita setiap orang namun sampai detik ini orang masih mengejar dan mencari kebahagiaan. Kebahagiaan sejati akan kita dapatkan kalau kita taat mutlak pada kebenaran sejati yang Kristus beritakan. Sayang, banyak orang yang menolak pengajaran Tuhan Yesus karena berbeda dengan konsep dunia. Berbahagialah, hai kamu yang miskin… tetapi celakalah, hai kamu yang kaya… (Luk 6:20-26). Yang menjadi pertanyaan adalah ajaran siapa yang benar, ajaran Yesus ataukah ajaran dunia? Memang siapakah Yesus sehingga Dia dapat menjamin hidup kita akan bahagia kalau kita menjadi warga Kerajaan Sorga? Lalu apa hubungannya antara miskin dengan menjadi pemilik warga Kerajaan Sorga? Kalau kita betul-betul memikirkan setiap pengajaran Kristus maka pengajaran itu akan membawa kita masuk dalam kebenaran yang paling asasi dalam hidup dan kita harus mau diubahkan dari semua konsep kita yang salah namun kita menganggapnya sebagai kebenaran.

2. Cara Kristus Mengajar Sederhana

Pengajaran Kristus sangatlah berbobot sebab Ia adalah Sang Kebenaran Sejati dan Ia datang untuk mengajarkan kebenaran-Nya pada dunia. Kristus mengajar dengan sangat sederhana, kalimat-kalimat yang Ia lontarkan singkat tapi mengandung makna yang sangat mendalam berbeda dengan ahli Taurat maupun para imam yang membutuhkan berbagai macam atribut luar seperti kekuasaan supaya orang takjub. Pengajaran Kristus yang sederhana ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang diberikan karunia saja karena seringkali pengajaran Kristus bersifat paradoks, paradoxical teaching. Setiap berita yang Kristus sampaikan bukan hanya sekedar informasi belaka. Ajaran Kristus menghadapkan kita pada suatu kebenaran sejati dan menuntut komitmen dari setiap orang yang mendengarnya; apakah orang mau mengikut atau menolak, mau taat atau melawan. Hal inilah yang membuat orang merasa takjub dan mengakui sungguh bahwa Yesus itulah kebenaran sejati dan di kolong langit ini tidak ada orang yang berbicara dengan penuh kuasa seperti halnya Tuhan Yesus.

3. Kritus Mengajar dengan Penuh Kuasa

Setiap kalimat seperti godam yang memukul diri kita sehingga orang dapat melihat bahwa kalimat tersebut keluar dari inner condition, dari diri yang terdalam karena Dia adalah anak Allah. Maka sampailah orang pada kesimpulan bahwa Ia mengajar dengan penuh kuasa membuat hati setiap orang yang mendengarnya menjadi bergetar karena setiap kalimat yang Yesus ucapkan mempunyai kekuatan kuasa dan menuntut komitmen dari kita mau ikut atau melawan Dia. Sebagai warga Kerajaan Sorga, apakah kita telah mempunyai kekuatan kuasa kerygma sehingga berita yang kita sampaikan dapat membawa orang hidup pada kebenaran? Disinilah keunikan setiap orang yang Kristus panggil di dalam Kerajaan-Nya. Kristus ingin supaya kita juga menjadi pembawa berita yang mempunyai kuasa. Seperti halnya orang-orang yang dipanggil di sepanjang jaman untuk menjadi pembawa berita kebenaran di tengah dunia maka sebagai Kristen sejati dan sebagai warga Kerajaan Sorga kita pun harus memberitakan kebenaran pada dunia. Jangan takut dan kuatir karena Tuhan akan memproses kita sehingga kita mempunyai kekuatan dan bijaksana ketika mewartkan berita kebenaran pada dunia. Seperti halnya para murid, ketika Tuhan memanggil merekapun tidak mempunyai kuasa berita namun setelah melalui proses mereka menjadi pemberita Injil yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Inilah fungsi dari pengajaran.

Kita harus kembali pada pengajaran Kristus sebab Tuhan membentuk kita melalui pengajaran dengan demikian kita boleh mengerti bagaimana seharusnya kita hidup seperti yang Tuhan inginkan. Proses pengajaran akan memilah siapa murid sejati dan siapa yang bukan sebab tidak semua orang mengerti pengajaran Kristus. Hanya kepada mereka yang diberikan karunia sajalah yang dapat mengerti rahasia Kerajaan Allah sebab itu kepada orang luar Yesus mengajar dengan perumpamaan supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti (Mat. 10: 10-13). Jadi, bukan karena kepandaian kita kalau kita dapat mengerti pengajaran Firman tapi karena karunia Tuhan.

Ada empat aspek yang dapat menjadikan seseorang mempunyai kuasa dalam perkataannya dan empat aspek ini dibagi lagi menjadi dua golongan dimana golongan pertama terdiri dari aspek pertama dan kedua dan hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang yang mendapat anugerah umum namun bagian ini baru menyelesaikan setengah dari kuasa sejati seperti yang Kristus teladankan. Golongan kedua terdiri dari aspek ketiga dan keempat hanya dapat dilakukan oleh orang yang mendapat anugerah khusus dimana hidup dipimpin oleh Firman dan Roh Kudus. Kedua golongan ini ada dalam diri Kristus dan hal inilah yang membuat pengajaran-Nya mempunyai kuasa dan berbeda dengan ahli Taurat.

I. Ketulusan Hati

Tuhan Yesus mengajar dengan ketulusan dan kemurnian hati. Barang siapa mau hidup di dalam Tuhan maka ia harus hidup bersih. Orang yang hidupnya bersih dan tulus maka itu akan memberikan kuasa dalam setiap perkataannya. Mempercayai perkataan seseorang tidaklah mudah, kita harus tahu siapa yang menjadi lawan bicara kita apakah ia memang layak untuk dipercaya? Secara prinsip, setiap orang pasti tahu betul bahwa orang yang suka berbohong tidak layak untuk dipercayai. Alangkah bodohnya, kalau kita mau percaya pada seorang pembohong. Orang-orang demikian tidak mempunyai kuasa dalam perkataannya. Itulah sebabnya ahli-ahli Taurat memanipulasi dan menggunakan cara yang licik supaya orang percaya padanya. Namun Tuhan Yesus berbeda, Ia tidak menggunakan cara-cara licik supaya orang mau mengikut Dia. Tuhan Yesus tahu akan sifat orang Yahudi yang materialis itulah sebabnya kalimat pertama yang keluar adalah: “Berbahagialah orang yang miskin… Kebenaran sejati harus dinyatakan di tengah dunia meski hal ini sangat menyakitkan dan tidak disukai oleh dunia khususnya bagi orang Yahudi. Di dunia ini memang sedikit sekali kita menjumpai ada seorang guru yang mau mengajar dengan motivasi murni dan ketulusan hati. Biarlah kita sebagai orang Kristen kita meneladani Guru Agung itu yang hidup dengan bersih dan tulus dengan demikian setiap perkataan kita mempunyai kuasa sehingga kita menjadi berkat.

II. Altruistik

Sudah menjadi sifat manusia yang humanis dimana segala sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Alkitab justru mengajarkan sebaliknya bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Altruis adalah segala sesuatu selalu memikirkan orang lain sebaliknya egois berarti segala sesuatu adalah untuk diri sendiri. Seorang pengajar yang baik pasti ingin muridnya bertumbuh, si murid memahami kebenaran dan hidup dalam kebenaran dengan demikian si murid bertumbuh dalam iman. Yang dilakukan pertama kali oleh seorang guru sejati adalah mengevaluasi dirinya sendiri kalau muridnya tidak bertumbuh. Seorang guru sejati mau berkorban untuk orang lain. Inilah sifat guru sejati yang altruistik. Seorang guru bukan hanya sekedar mengajar yang sifatnya memberikan informasi belaka. Tidak! Jika memang demikian lalu apa bedanya dengan ahli taurat? Yesus mengajar bukan demi untuk diri-Nya sendiri, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, Dia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Namun sayang, di dunia modern sifat altruis ini tidak dimiliki oleh seorang guru, mereka telah menjadi budak uang. Maka tidaklah heran kalau ada murid atau mahasiswa yang kemudian menghina guru. Kristus mempunyai kuasa yang besar ketika mengajar karena Ia mengajar demi untuk kepentingan murid-murid karena itu hari ini kita mengenal Petrus bukan sekedar nelayan atau Matius bukan lagi si pemungut cukai dan lain-lain kini, mereka menjadi seorang murid yang berhasil. Ketulusan hati dan sifat altruis ini dapat dilakukan oleh orang yang bukan Kristen sekalipun. Dengan kualitas dunia saja kita bisa mempunyai kuasa dalam pengajaran kita. Sangatlah disayangkan kalau kita sebagai anak Tuhan, tidak bisa mempunyai kedua sifat di atas karena sebenarnya Roh Kudus sudah memberikan kepada kita kekuatan dan kuasa untuk kita dapat melakukannya.

III. Hidup yang Sesuai Ajaran

Bukan karena kualitas pengajarannya saja yang menjadikan Kristus mempunyai kuasa tetapi lebih dari itu, yaitu Kristus mengimplikasikan dalam hidup-Nya. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk menjalankan semua teori yang ia ajarkan karena lebih mudah berteori daripada menjalankannya. Hanya orang yang berada dalam Firman dan mau taat dibentuk oleh Tuhan sajalah yang dapat melakukan semua ajaran kebenaran. Inilah bedanya ahli Taurat dengan Tuhan Yesus. Ahli Taurat tahu seluruh isi kitab Taurat tapi ia tidak tunduk pada Taurat sebaliknya ia mengacak-acak Taurat, diri yang lebih berkuasa dari Taurat. Sebaliknya Kristus tidak menyebut diri-Nya ahli Taurat namun ia sudah menjadi ahli Taurat karena Kristus taat mutlak di bawah Taurat. Begitu juga dengan diri kita ketika belajar Firman kalau kita tidak mau tunduk pada Firman maka itu akan menjadikan kita sebagai ahli Alkitab tanpa kita diubahkan dan dibentuk oleh Firman. Tuhan Yesus menegur dengan keras ahli Taurat seperti kuburan di depannya bagus tapi dalamnya busuk. Ingat, kuasa bukan karena atribut luar yang ada pada kita tetapi karena hati kita dihidupkan oleh Roh Kudus, hati kita dididik oleh Firman. Sebagai anak Tuhan sejati, seharusnya kita mempunyai kerinduan untuk melakukan dan taat pada Firman. Kalau kita tidak mempunyai jiwa dan semangat mau melakukan Firman maka bertobat segera minta ampun pada Tuhan. Biarkan Yesus masuk dan bertahta sebagai Tuan dalam hidupmu maka Ia pasti menjadi Juruselamat kita. Hari ini orang sangat egois, mereka hanya mau Kristus sebagai Juruselamat saja tetapi tidak mau menjadikan Ia sebagai Tuan dalam hidupnya.

IV. Hidup Penuh dengan Roh

Kita harus mencontoh teladan Kristus, yaitu seluruh hidupnya dipenuhi oleh Roh Kudus, spiritfully, Ia bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus. Jangan pernah berpikir bahwa orang pandai pastilah bijak. Pandai tidak sama dengan bijak. Orang pandai biasanya paling mudah dibohongi karena segala sesuatu yang ia lakukan adalah demi supaya orang lain memuji dia. Jadi, logika dan perkataannya sendirilah yang mengontrol seluruh hidupnya. Berbeda kalau kita berada dalam Firman dan mau taat mutlak maka Roh Kudus akan memimpin seluruh hidup kita. Kita akan merasakan dan melihat cara Roh Kudus bekerja yang ajaib dan heran. Tuhan janji Ia akan memberikan pada setiap anak-anak-Nya hidup kuat dan dipimpin oleh-Nya sehingga kita tidak akan mudah digoyahkan selama-lamanya. Sebagai anak Tuhan, kita yang harus mempengaruhi dunia supaya mereka hidup dalam kebenaran bukan sebaliknya. Celakanya, kita lebih mudah terpengaruh oleh segala sesuatu yang sifatnya negatif daripada yang bersifat positif. Hati-hati, jangan mudah tergoda oleh bujuk rayu iblis. Hendaklah kita menjadi garam dan terang dunia sehingga orang yang berada di sekeliling kita akan merasa risih ketika hendak melakukan perbuatan dosa dan lebih baik lagi kalau akhirnya mencegah mereka berbuat dosa.

Biarlah keempat aspek di atas yang menjadi sifat Kristus juga kita miliki dengan demikian kita menjadi berkat bagi dunia yang kacau ini.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20041114.htm

KESEMBUHAN ILAHI (oleh : Ir. Herlianto, M.Th.)

Sunday, June 25th, 2006

KESEMBUHAN ILAHI

oleh : Ir. Herlianto, M.Th.

Seminggu setelah Peter Jongren mengadakan KKR Kesembuhan Ilahi di Bandung, penulis diundang berkotbah di gereja GBT di Bandung. Seusai kotbah, didampingi pendeta gereja itu bersalaman dengan jemaat yang berbaris keluar. Ada seorang jemaat yang cacat kakinya dan berjalan menggunakan tongkat penyangga lengan datang bersalaman dan juga dengan pendetanya, lalu orang itu berkata kepada pendetanya: “Minggu yang lalu dalam KKR Peter Jongren saya sudah bisa berjalan tidak menggunakan tongkat, tapi sesampai dirumah saya harus pakai tongkat lagi.”

Kasus-kasus kesembuhan semu seperti diatas banyak sekali terjadi dalam praktek KKR kesembuhan ilahi yang banyak diadakan belakangan ini, dan dalam kasus-kasus demikian, biasanya penderitalah yang disalahkan karena kurang iman dan kalau sembuh menjadi prestasi doa penginjil. Benny Hinn dalam menghadapi pertanyaan mereka yang tidak disembuhkan menjawab: “"The reason people lose their healing is because they begin questioning if God really did it."

Kesembuhan Ilahi massal dipraktekkan KKR di Amerika Serikat sejak tahun 1940-an dan bersama gerakan Full Gospel Business Men’s Fellowship kemudian merupakan persemaian kebangunan Kharismatik pada awal tahun 1960-an. Gerakan kesembuhan ilahi (faith healing) menekankan bahwa oleh bilur Yesus kita sembuh, karena itu dipercaya orang yang percaya akan sembuh dari sakit penyakit dan yang tidak sembuh berarti ada masalah dengan iman mereka. Konsep kesembuhan demikian jelas terlihat dalam lagu yang biasa mengiringi praktek kesembuhan ilahi:

Bilurnya, bilurnya, bilurnya sungguh heran, bilurnya bilurnya, bilurnya sungguh heran. Asal percaya saja semua sakit hilanglah, oleh Tuhan Yesus penyembuh!

Praktek kesembuhan ilahi yang didasari oleh ajaran yang keliru bahwa kalau ‘beriman sembuh dan kalau tidak beriman sakit’ yang tidak sesuai dengan firman Tuhan itu adalah bahwa banyak orang yang tidak tersembuhkan dalam KKR Kesembuhan Ilahi itu banyak yang merasakan ‘rasa salah’ dalam dirinya bahwa ada masalah dengan iman mereka.

Penekanan kembali kuasa Tuhan yang menyembuhkan memang merupakan berkat bagi gereja ditengah-tengah kelesuan gereja mapan yang nyaris tidak pernah lagi melakukan pelayanan kesembuhan ilahi secara khusus, salah satu karunia yang Tuhan janjikan kepada gereja-Nya. Namun sayang kemudian perkembangan kesembuhan ilahi menjadi bersifat masal dan sarat kepentingan komersial, dan menjadi reklame utama dalam KKR. Lihatlah iklan di koran yang berbunyi:

Kebaktian Kesembuhan Ilahi. Masalah sakit-penyakit, stres, terikat kuasa kegelapan dan problema keluarga. Ajaklah teman dan keluarga Anda untuk mengalami cinta kasih dan kuasa-Nya!

Alami kuasa dalam firmannya, bawalah orang sakit, stres, terjerat narkoba dan masalah lainnya. Tuhan Yesus sanggup menolong.

Tetapi mengapa mayoritas tidak disembuhkan dan ditolong Tuhan Yesus? Dan dari yang minoritas yang bersaksi mengalami kesembuhan mengapa mayoritasnya juga ternyata tidak sembuh?

Tiga kesembuhan utama ibadat Toronto Blessing yang dilaporkan buku ‘Catch the Fire’ (Guy Chevreau) pernah diteliti tim teolog dan dua dokter, hasilnya adalah seorang yang merasa disembuhkan secara luar biasa terbukti hanya sedikit lebih baik keadaannya. Penderita kanker yang secara instan dikatakan sembuh ternyata setelah diperiksa dokter masih mengidap penyakit itu, demikian juga dua gadis bisu yang dikatakan mengalami kesembuhan dari malaekat ternyata tidak menunjukkan bukti yang pasti. 

Dalam siaran berita bahasa Inggeris di TVRI pernah dilaporkan penelitian di Inggeris bahwa angka kesembuhan yang dialami gereja-gereja Kharismatik tidak banyak berbeda dari kesaksian kesembuhan yang dialami gereja mapan yang biasa mendoakan jemaatnya. Yang membedakan adalah di gereja-gereja Kharismatik kesaksian kesembuhan biasanya diekpos besar-besaran dan sering bombastis dengan kesaksian-kesaksian sedangkan di gereja-gereja mapan tidak.

Memang promosi kesembuhan ilahi luar biasa, biasanya disebutkan tokoh-tokoh politik maupun konglomerat yang mengalami kesembuhan instan dalam malam KKR Kesembuhan Ilahi, namun beberapa saat kemudian akan kelihatan bahwa mereka sebenarnya belum sembuh tetapi tersugesti untuk merasa sembuh. Lihat saja pengalaman Evander Holifield. Ia dikatakan menderita sakit jantung dan dipercaya disembuhkan secara mujizat oleh Benny Hinn, namun kemudian terbukti dari diagnosis dokter tinju bahwa Holifield memang tidak punya penyakit jantung (penyakit jantung adalah penyakit yang terbentuk dalam waktu lama), jadi sembuh dari apa?

Para penginjil penyembuh memang terlalu memutlakkan kekuatan penyembuhan yang bisa dihasilkan kuasa penumpangan tangan mereka, contohnya Yonggi Cho berkata:

Sekarang ini, siapa saja yang percaya kepada Yesus Kristus akan menikmati kelepasan dari segala dosa, sakit penyakit, kutuk, kuasa Iblis dan kematian.

Kepercayaan ekstrim memang menjadi kepercayaan para penginjil Words of Faith, Kenneth Hagin mengatakan:

Penyakit itu bukan suatu berkat. Penyakit adalah suatu kutuk. Suatu kutuk oleh karena kita melanggar hukum Tuhan.

Bandingkan ini dengan firman Tuhan sendiri yang berkata kepada Paulus yang berdoa minta kesembuhan penyakitnya sampai tiga kali:

Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru  dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:7-10. Paulus sakit tubuh tercatat juga di Galatia 4:13).

Sekalipun benar bahwa ada penyakit yang terjadi karena kutuk dan dosa seseorang, tidak semua penyakit melanggar hukum Tuhan. Seorang bisa terkena HIV karena berselingkuh secara homo yang biasa menggunakan jarum suntik, tapi isterinya dan anak yang dilahirkannya berpotensi tertular diluar kesalahan mereka. Orang bisa saja patah kaki karena jatuh atau ditabrak mobil dan itu bukan kesalahan dia. Orang baik bisa saja menderita kanker sedangkan orang jahat sehat. Orang bisa sakit karena tertular flu burung, makan makanan basi, atau keracunan, padahal itu bukan karena ia berdosa. Orang bisa saja lahir cacat karena ibunya kurang gizi atau terkena virus polio.

Urusan penipuan (hoax) dalam pelayanan KKR Kesembuhan Ilahi sudah banyak diteliti di Amerika Serikat. Terbukti banyak penginjil penyembuh melakukan penipuan dengan cara menyiapkan skenario orang-orang yang bersaksi mengalami kesembuhan spektakuler atau orang yang datang ke KKR ditanya penyakitnya apa oleh penerima tamu dan info itu disampaikan ke mimbar sehingga penderita dibuat heran mengapa penginjil tahu akan penyakitnya. Memang kenyataannya ada satu dua kesembuhan yang benar-benar terjadi karena iman penderita begitu kuat sehingga mendatangkan belas kasihan Tuhan Yesus (Jadi bisa terjadi juga di gereja mapan tanpa penumpangan tangan urapan pendeta), namun sebagian besar dari yang sembuh dikarenakan sugesti terpengaruh suasana pujian & penyembahan KKR tapi biasanya setelah pulang atau diperiksa dokter sesudahnya, atau beberapa waktu kemudian, penyakitnya tetap ada. Penyakit-penyakit yang bersifat psikosomatis mudah terasa sembuh dalam suasana hipnose massa, tetapi penyakit-penyakit malfungsi, keracunan, cacat bawaan (polio) nyaris tidak tersembuhkan. Penulis pernah melayani bersama seorang penginjil dimana ia mengatakan didepan jemaat bahwa kalau kita berdoa dengan iman, gigi berlubangpun bisa tertutup. Mengapa kita menjadikan Tuhan sebagai budak untuk melayani kemauan kesembuhan manusia?

Memang sampai sekarangpun Tuhan tetap bisa memberikan mujizat kesembuhan, yang penting apakah jemaat berdoa dengan yakin dan iman dan apakah Tuhan berkenan menyembuhkan atau tidak (Yakobus 5:14-16). Jadi kesembuhan bukan terletak pada kekuatan sipenginjil dan ketidak sembuhan bukan terletak di tangan sipenderita, melainkan apakah Tuhan berkenan atau tidak. Jadi, sebenarnya kesembuhan ilahi bisa saja terjadi di KKR maupun di Gereja mapan.

Kepercayaan bahwa ‘beriman sembuh dan tidak beriman sakit’ adalah konsep kesembuhan mistik perdukunan! Bandingkan ini dengan kesembuhan yang dicapai bila chi/prana/reiki dalam dirinya bisa harmonis dengan chi/prana/reiki alam semesta, dan tidak sembuh kalau keseimbangan itu terganggu. Dalam kesembuhan mistik sembuh tidaknya terletak pada kekuatan batin penderita, dan kita harus sadar bahwa dalam perdukunan pun mujizat kesembuhan dengan kekuatan batin juga banyak terjadi. Dalam KKR Kesembuhan Ilahi dan faham Words of Faith, iman itu umum dimengerti sebagai kekuatan batin yang bisa disalurkan melalui ucapan dan visualisasi seseorang (words of faith).

Kita perlu berhati-hati mendengar promosi bombastis mengenai kesembuhan yang dialami orang penting atau konglomerat tertentu, dan kita pun jangan begitu saja menolak kesaksian demikian yang mungkin benar, tetapi yang paling tepat adalah mengujinya dengan catatan dokter/rumah sakit mengenai track-record penyakitnya sebelum dan sesudah ‘mengalami’ kesembuhan ilahi, dan apakah kesembuhan pasca kesembuhan ilahi itu bersifat kekal atau nanti kembali lagi penyakitnya yang dianggap sudah hilang itu yang ternyata belum hilang juga.

Amin!

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org  

Eksposisi Injil Matius 7 : THE LAW OF THE KINGDOM (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Tuesday, June 20th, 2006

Eksposisi Injil Matius 7

Ringkasan Khotbah : 07 November 2004

The Law of the Kingdom

Nats: Mat. 7: 28-29

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita sudah memahami bahwa tema dari injil Matius adalah King and the Kingdom, Raja dari Kerajaan Surga itu menghadirkan kerajaan-Nya di tengah dunia; Kingdom of Heaven dibawa masuk ke dalam sejarah dan Dia memproklamirkan dengan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Berita inilah yang ingin dipaparkan oleh Matius, yaitu bagaimana Kerajaan Sorga itu ditata oleh Sang Raja di tengah dunia dengan memanggil murid-murid dan siapa saja yang Ia memilih untuk menjadi bagian sebagai warga sekaligus pekerja Kerajaan Sorga. Bagian ini telah kita pahami beberapa minggu lalu dan kini kita hendak melihat hukum atau Undang-undang Dasar Kerajaan Sorga yang dicatat oleh Matius di pasal 5 sampai 7.

Matius pasal lima sampai tujuh merupakan kumpulan dari beberapa khotbah Yesus yang berbeda tempat maupun waktunya namun mempunyai pengajaran dan pemikiran total sehingga Matius menjadikannya sebagai satu kesatuan utuh, yaitu bagaimana tatanan atau konsep dari Kerajaan Sorga dan apa yang harus kita lakukan sebagai warga Kerajaan Sorga. Kalau kita hendak memahami khotbah Tuhan Yesus secara kronologis waktu maka sebaiknya kita membacanya dari injil Lukas. Namun Matius melihat pengajaran Tuhan Yesus tersebut sebagai dasar hukum Kerajaan Sorga atau yang sekarang kita kenal dengan Khotbah di Atas Bukit. Sama halnya seperti orang yang hendak memutuskan menjadi warga negara Indonesia, misalnya maka ia harus tunduk pada semua hukum yang berlaku di negara Indonesia. Orang yang tidak mematuhi hukum yang berlaku di negara tersebut maka ia harus menerima akibatnya, yaitu di deportasi atau di penjara. Orang yang melawan undang-undang dasar negara maka itu berarti ia tidak mau menjadi warga negara. Begitu juga sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita pun harus memahami dan mematuhi semua hukum atau undang-undang dasar Kerajaan Sorga.

I. Visi Kerajaan Sorga

Prinsip Kerajaan Sorga yang agung dan berbeda dengan ajaran dunia ini diakui sendiri oleh dunia. Mereka mengakui ajaran Kristus sebagai the golden rule, hukum emas. Sebagai orang Kristen yang menjadi bagian dari warga Kerajaan Sorga sudah menjadi kewajiban kita untuk menaati seluruh ketetapan hukum Kerajaan Sorga. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang yang mengaku diri Kristen tapi tidak mau mematuhi hukum Kerajaan Sorga akibatnya ia tidak tahu bagaimana seharusnya hidup. Matius membukakan inti totalitas dari visi misi Kerajaan Sorga dan bagaimana seharusnya citra Kerajaan Sorga (Mat. 5:1-12). Orang yang menjadi bagian dari Kerajaan Sorga akan merasakan kebahagiaan karena kita termasuk orang yang diberkati, Blessed be those who. Berbahagialah (bhs. Indonesia) dan diberkatilah (bhs. Inggris) akan kita dapatkan kalau mempunyai sifat-sifat Kerajaan Sorga seperti yang diajarkan Kristus. 

Konsep bahagia yang diajarkan Tuhan Yesus berbeda bahkan berbalik dengan konsep bahagia yang dipikirkan manusia. Tuhan Yesus mengajarkan berbahagialah orang yang miskin, orang yang dianiaya, orang yang berdukacita namun dunia justru mengajarkan berbahagialah yang kaya. Kalau kita perhatikan, khotbah tentang ucapan bahagia ini sebenarnya bersifat positif dan negatif, dalam hal ini Matius hanya mengambil bagian positifnya saja, kalau kita hendak memahami secara keseluruhan baik positif maupun negatif maka kita dapat membacanya dalam Injil Lukas 6 yang menegaskan dengan jelas perbandingan antara positif dan negatif. Inilah fungsi dari hukum Kerajaan Sorga yang  dipaparkan Kristus pada dunia dengan demikian dunia dapat melihat bahwa orang yang telah menjadi warga Kerajaan Sorga maka ia pasti akan mempunyai visi yang sama seperti pengharapan Kristus sebagai Raja yang membuat seluruh tatanan hukum sehingga barangsiapa yang ada di dalamnya maka ia akan diberkati dan merasakan kebahagiaan. Menjalani hidup sesuai dengan visi Tuhan membuat kita mempunyai perjuangan dan semangat hidup dengan demikian kita tidak jadi salah arah karena kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu to glorify Him and enjoyed Him. Setiap orang yang mau menjadi warga Kerajaan Sorga harus tahu visi Kristus yang Ia bukakan  sendiri. Ketika Kristus membukakan visi-Nya, Ia tidak membukakan sisi negatifnya karena maksud dan arahnya adalah menuju pada sisi yang positif, yaitu melihat konsep hidup seperti yang Tuhan inginkan. Hal ini tidaklah mudah sebab manusia telah jatuh ke dalam dosa maka konsep dunia selalu berlawanan dengan yang Firman ajarkan. Namun kalau kita dapat berpikir dengan bijak maka kita akan melihat bahwa kebenaran Firman lebih agung dibanding dengan konsep manusia berdosa. Manusia menganggap bahwa kebahagiaan bisa diperoleh kalau hidup kaya namun Tuhan justru menegaskan bahwa yang miskinlah yang akan merasakan kebahagiaan (Luk. 6). Ayat ini diberikan kepada orang Yahudi yang materialis tapi orang harus mengakui bahwa kebenaran Firman yang Kristus ajarkan membawa kita pada kebenaran dan hidup menjadi indah. Inilah yang menjadi visi Kerajaan Sorga.

II. Misi Kerajaan Sorga

Setelah kita mengerti visi lalu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana mengerjakannya; visi harus diikuti dengan misi, yaitu jadilah garam dan jadilah terang  (Mat. 5:13-16). Garam dan terang merupakan suatu entity, keberadaan yang esensi. Garam bersifat penetrasi, saat garam bereaksi maka secara materi ia akan menghilang namun secara eksistensi ia masih tetap ada. Garam yang berwarna putih tidak menjadikan masakan kita berubah warna namun rasanya dapat kita rasakan. Inilah yang menjadi misi orang Kristen, yaitu keberadaan kita dapat dirasakan oleh orang lain dan mempengaruhi orang lain sehingga menghalangi perbuatan dosa yang hendak mereka lakukan. Dan tugas yang lain adalah menjadi terang yang bersifat radiasi. Cahaya bukanlah sebuah materi dan sampai sekarang masih menjadi perdebatan, termasuk benda padat ataukah benda gas. Sinar adalah entity, tapi gelap bukanlah entity sebab kalau gelap itu berarti tidak adanya terang. Jadi, gelap bukanlah suatu eksistensi tapi hilangnya eksistensi. Gelap tidak bisa mengusir terang sebaliknya justru kalau terang itu datang maka tidak ada lagi gelap. Berbeda dengan filsafat timur yang melihat terang dan gelap sebagai suatu entity yang berlawanan. Tidak! Meskipun ditaruh dalam ruang hampa, terang tetap akan menerobos masuk. Terang dapat juga dihalangi sehingga sekitarnya menjadi gelap namun ketika terang itu dihalangi maka benda yang menghalanginya akan menjadi sangat terang. Lalu sampai seberapa lama dan kuatkah ia mampu menghalangi terang itu? Karena suatu saat ketika benda itu tidak mampu lagi menghalangi terang sehingga terang itu akan menerobos dan gelap pun menjadi hilang. Adalah tugas orang Kristen untuk menjadi terang dan memancarkan terang, menyinari dunia yang gelap. Jadi, untuk menjadi warga Kerajaan Sorga maka kita harus memahami apa yang menjadi visi Sang Raja dengan menjalankan misi dan tugas panggilan warga Kerajaan Sorga, yaitu menjadi garam dan terang dunia.

III. Motivasi Kerajaan Sorga

Alkitab sudah menuliskan The Principal of the Law, hukum yang membuat kita tahu bagaimana caranya menjadi garam dan terang. Hukum Taurat diberikan pada kita supaya kita dapat menjalankan misi itu namun masalahnya ahli-ahli Taurat sudah memberikan interpretasi sebelumnya, hukum tidak dimengerti secara esensi akibatnya pengertian hukum Taurat menjadi menyeleweng. Apa yang ada dalam hukum Taurat dijelaskan dengan lebih tajam dalam visi Kristus. Mengerti aspek hukum berbeda dengan kita mengerti bahasa hukum. Mengerti aspek hukum adalah mengerti esensi motivasi hukum. Kini, dunia modern banyak sekali mempermainkan hukum dengan menginterpretasikan bahasa hukum akibatnya dengan mudahnya hukum dapat dipelintir sedemikian rupa sehingga memungkinkan seseorang untuk lolos dari hukuman. Membunuh dimengerti kalau ia telah menghilangkan nyawa orang lain namun Tuhan menegaskan jika kita membenci orang itu berarti kamu sudah membunuh. Jangan terpaku dengan kalimat, kita harus mengerti secara hakekat hidup di dalam kaitan visi dan misi. Dengan memahami visi misi Kerajaan Sorga barulah kita mengerti tatanan hukum Kerajaan Sorga (Mat. 5:17-48). Seorang Kristen harus berbeda dengan dunia. Kalau dunia mengajarkan keadilan dunia dengan mata ganti mata, gigi ganti gigi namun Kristus mengajarkan kalau seseorang menampar pipi kananmu maka berikanlah pipi kirimu. Kita harus menjalankan visi misi Kerajaan Sorga dengan kasih dan keadilan yang tidak hanya kita mengerti sebatas kalimat tetapi harus kita mengerti secara motivasi dengan demikian dunia akan merasakan garam dan melihat terang kita bercahaya. Hal inilah yang menjadi esensi penting dari Matius pasal 5 tentang khotbah di bukit.

IV. Implikasi Kerajaan Sorga

Matius 6:1–7:11 merupakan implikasi atau penerapan dari hukum Taurat yang menjadi hukum dasar Kerajaan Sorga (Mat. 5) dengan demikian kita tidak hanya sekedar mengerti iman di dalam prinsip-prinsip keagamaan sejati (religius principal) tapi kita juga harus tahu bagaimana menjalankan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari (religius action). Kalau kita dapat memahami hal ini maka hal memberi sedekah menjadi berbeda karena saat memberi kita mempunyai visi ingin melihat kebahagiaan seperti Tuhan katakan, kita mempunyai misi menjadi garam dan terang, kita mempunyai prinsip menyatakan motivasi keadilan dan kebenaran. Begitu juga kalau dalam hal berdoa kalau kita lakukan karena kita tahu apa yang menjadi visi, misi dan motivasi maka cara doa kita berbeda dengan dunia dan semua hal yang kita lakukan juga menjadi berbeda, termasuk hal mengumpulkan harta, hal berpuasa, dan lain-lain. Adalah salah kalau kita menerapkan hal berdoa, hal berpuasa, dan hal-hal lain tanpa dikaitkan dengan visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga di Matius 5. Begitu juga dengan doa Bapa Kami tidak boleh dilepaskan dari visi, misi dan motivasi.

Cara Matius menuliskan tentang visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga berbeda dengan Lukas. Matius tidak langsung memberikan perbandingan seperti halnya Lukas, namun perbandingan itu barulah diberikan oleh Matius pada bagian belakang, yaitu setelah ia membicarakan tentang visi, misi dan motivasi, yaitu: 1) pintu besar – pintu kecil (Mat. 7:12-14), 2) nabi sejati – nabi palsu (Mat. 7:15-23), 3) bangunan iman seperti rumah yang dibangun di atas pasir – rumah yang dibangun di atas batu (Mat. 7:24-27). Iman tidak bisa dipaksakan pada seseorang mungkin ada orang yang mau beriman karena diancam akan tetapi hatinya pasti tidak akan pernah mau menerima iman tersebut bahkan seumur hidup ia akan membenci dan tidak mau beriman lagi. Berbeda dengan orang yang beriman sejati karena ia melalui berbagai pergumulan dan pertimbangan barulah ia memutuskan untuk beriman. Tuhan tidak menginginkan orang yang mau beriman pada-Nya karena paksaan atau tipuan karena itu Kristus membukakan fakta dan prinsip Kerajaan Sorga sejak awal supaya orang dapat melihat dan akhirnya memutuskan apakah ia mau beriman atau tidak?

V. Otorisasi Kerajaan Sorga

Sebelumnya kita lebih dulu masuk dalam terminologi supaya tidak salah menafsirkan kalimat “setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“. Kalau sepintas kita membaca kalimat ini maka orang bisa mempunyai interpretasi: 1) Matius pasal 5 sampai 7 merupakan satu kesatuan khotbah, Yesus hanya mengajar pada tempat dan waktu itu saja. Inilah bahayanya kalau kita berpikir logis karena pikiran kita telah tercemar dengan interpretasi sehingga apabila kita tidak mengkritisi logika kita sendiri maka kita akan terjebak di dalamnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau kalimat “dan setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“ dihilangkan, apakah berpengaruh dengan pengajaran Yesus? Kalau memang pengajaran Yesus merupakan satu rangkaian maka tidak adanya kalimat “dan setelah Yesus  mengakhiri perkataan-Nya“ sudah menunjukkan kalau pengajaran-Nya memang sudah berakhir sehingga kalimat tersebut bisa dihilangkan. Hati-hati, pernyataan tersebut dapat merusak iman kita karena itu berarti Firman Tuhan tidak berotoritas. Salah! Alkitab adalah Firman Tuhan dan tidak bersalah. Jadi, setiap kata seharusnya memacu kita untuk mempelajari dan menyelidikinya. Kalau kita perhatikan, frasa “Yesus mengakhiri perkataan-Nya itu“ ternyata dipakai berulang kali. Signifikansi ini membuat kita mengerti kalau Matius pasal 5 sampai 7 merupakan kumpulan khotbah. Frasa ini digunakan oleh Matius untuk menandai bahwa ia telah selesai mengumpulkan khotbah Yesus yang merupakan satu pengajaran total dimana satu paket pengajaran ini mempunyai satu pemikiran total. Jadi, kita tahu betapa pentingnya keberadaan frasa ini dengan demikian orang tidak dapat menambahkan kata apapun. Matius juga ingin si pembaca merasa takjub seperti orang-orang pada waktu itu yang takjub mendengar perkataan Yesus. Ajaran Kristus sangatlah agung dan bersifat aktif, yaitu apa yang kau ingin orang lain lakukan terhadapmu lakukanlah itu terlebih dahulu pada orang lain. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk takjub ketika mendengar perkataan Kristus karena pikiran kita telah dibodohkan oleh jaman. Adalah anugerah kalau kita dapat mengerti Firman. Biarlah pengajaran Yesus membuat kita takjub dengan demikian merubah hidup kita dan membawa masuk dalam visi, misi dan motivasi seperti yang Tuhan inginkan sehingga kita menjadi bagian Kerajaan Sorga yang menyatakan kebenaran di tengah dunia.  Amin.? (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20041107.htm

Eksposisi Injil Matius 4 : THE SETTING OF KINGDOM (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Tuesday, June 13th, 2006

Eksposisi Injil Matius 4

Ringkasan Khotbah : 24 Oktober 2004

The Setting of Kingdom

Nats: Mat. 4: 23-25

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Konteks Injil Matius adalah berbicara tentang hal Kerajaan Sorga yang hendak Kristus genapkan di dunia dan Yesus tidak melakukannya sendiri. Yesus memulai pelayanannya di sebuah kota kecil di Kapernaum dimana sebelumnya Ia dicobai iblis dan Yesus menang. Dengan caranya yang unik, Tuhan Yesus memilih para murid-Nya. Standar kualifikasi yang dipakai Kristus berlawanan dengan dunia. Bukan ahli Taurat atau para imam yang menjadi murid-Nya melainkan hanya seorang nelayanlah yang Yesus panggil untuk turut berbagian dalam menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi. Cara Kristus yang berlawanan dengan dunia inilah yang menjadi kekuatan dan kesuksesan sehingga Kerajaan Sorga tidak dapat digagalkan oleh manusia – Kerajaan Sorga bertahan ribuan tahun hingga kini. Jadi, merupakan suatu anugerah kalau kita, manusia berdosa yang seharusnya dibinasakan tapi dipanggil-Nya untuk ikut berbagian dalam Kerajaan Sorga. 

Cara Allah memulai dan menata Kerajaan-Nya sangatlah tidak lazim bila dibandingkan dengan cara dunia. Kerajaan Sorga dimulai dari Yesus yang berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Yesus memberikan teladan bagi kita, yakni pelayanan hendaklah dimulai dari hal kecil terlebih dahulu. Yesus memulainya dari Galilea, kota kecil namun berita tentang Dia tersiar hingga ke seluruh negeri, yaitu Dekapolis, Yerusalem, hingga ke seberang sungai Yordan. Kerajaan Sorga kelihatan kecil namun di balik semua itu mengandung kekuatan/kuasa dahsyat. Janganlah  mudah terkecoh dengan opini dunia yang menganggap hebat segala sesuatu yang besar seperti kebesaran nama, kekayaan, kedudukan tinggi, dan lain-lain. Apalah artinya penampilan luar yang hebat kalau tidak ada isinya karena segala sesuatunya, yakni cara kita melangkah, kita melihat sesuatu, kita bertindak ditentukan oleh isi. Seperti halnya sebuah bom, kita harus waspada dengan yang berukuran kecil dibanding bom molotov yang berukuran besar karena biasanya yang berukuran kecil mempunyai kekuatan daya ledak besar.

Dalam mengatur Kerajaan-Nya di dunia, Kristus melakukan tiga hal dimana ketiga hal ini merupakan satu kesatuan yang berpusat pada misi Kerajaan Sorga dan tidak boleh dilepaskan dari Yesus yang adalah Raja yang sedang menata Kerajaan-Nya. 

I. Tuhan Yesus Mengajar dalam Rumah-rumah Ibadat.

Konsep pengajaran Kristus mutlak berbeda dengan yang diajarkan oleh ahli-ahli Taurat, orang Parisi, orang Saduki maupun ajaran Platonis, Aristotelian, dan filsafat Roma yang sedang berkembang pada jaman itu. Kerajaan Allah dimulai dari kebenaran Tuhan yang dinyatakan di dunia dan ini juga menjadi misi Kerajaan Allah. Ironisnya, manusia tidak suka dengan kebenaran karena itu jangan kaget kalau dunia akan membenci orang yang kembali pada kebenaran sejati. Hal ini pun juga sudah dikatakan Tuhan Yesus pada murid-murid-Nya (Yoh. 15:18-25). Kebenaran iman Kristen bukanlah campuran atau evolusi perkembangan dari berbagai pemikiran filsafat yang ada di dunia karena semua yang dinyatakan Alkitab berlawanan dengan yang dunia ajarkan. Pada jaman Perjanjian Lama, orang menyembah berhala – politeisme namun dengan tegas Tuhan menyatakan bahwa umat Allah harus menyembah pada Allah saja – monoteisme. Keagungan iman Kristen ini tidak akan pernah kita ketemukan di agama lain karena itu janganlah engkau mempermainkan Kristus Sang Kebenaran sejati.

Konsep allah atau dewa-dewa dalam budaya PL selalu bersifat lokal, contoh: dewa Asyur, dewa Babel, dan lain-lain maka tidaklah heran ketika mereka kalah berperang maka dewa merekapun akan diambilnya juga. Konsep inilah yang muncul pada jaman itu namun Allah Yahweh menyatakan bahwa diri-Nya bersifat universal, Allah tidak dibatasi oleh tempat maupun waktu, Dia berkuasa dimanapun dan kapanpun. Allah Yahweh adalah Allah yang Maha Tinggi, Allah yang berkuasa atas segala allah. Pengakuan ini keluar dari mulut Raja Darius ketika dilihatnya kalau Allahnya Daniel ternyata sungguh berkuasa, yaitu Ia telah menyelamatkan Daniel dari maut – gua singa. Sejak itulah Raja Darius mengeluarkan perintah supaya seluruh rakyat menyembah Allah-nya Daniel. Ketika semua orang berpikir bahwa cara A merupakan cara terbaik namun Tuhan justru menyatakan bahwa yang manusia pikirkan tersebut salah dan cara B-lah yang justru terbaik. Ketika kebenaran sejati dinyatakan di dunia maka seluruh manusia harus merombak cara berpikirnya dan mengubah seluruh konsepnya yang salah dan kembali pada kebenaran. Oleh karena itu, betapa pentingnya pengajaran Firman untuk kita pahami dengan demikian kita tidak akan mudah digoncangkan oleh berbagai macam pengajaran lain yang ada di dunia. Bagi sebagian besar orang sangat sukar untuk mengerti dan menyembah Allah yang tidak kelihatan sehingga orang merasa perlu mem-visualisasi-kan bagaimana bentuk Allah maka tidaklah heran kalau sejak jaman Perjanjian Lama hingga kini kita akan menjumpai berbagai bentuk dan rupa allah. Allah dengan tegas menyatakan: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku; jangan membuat bagimu patung…; jangan sujud menyembah kepadanya (Kel. 20).

Berulang kali Allah menegaskan bahwa manusia harus kembali pada Kebenaran sejati dengan demikian manusia akan peroleh sukacita kekal. Namun berulang kali juga, yaitu sejak kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 3) hingga Tuhan Yesus Sang Kebenaran itu sendiri datang mengajarkan kebenaran, manusia selalu menentang Dia dan kembali pada konsep mereka yang lama. Hal ini semakin membuktikan bahwa manusia memang berdosa. Mau tidak mau orang harus mengakui bahwa pengajaran Kristus berbeda dengan dunia. Sebagian besar orang pasti setuju apalagi orang Yahudi yang materialis yang hidup pada jaman itu kalau ada orang yang mengajarkan “berbahagialah orang yang kaya dan celakalah orang yang miskin“ namun ajaran Yesus berlawanan Ia justru mengajarkan  “berbahagialah orang yang miskin…, berbahagialah orang yang dianiaya…, dan masih banyak lagi ajaran Tuhan Yesus yang bertentangan dengan ajaran dunia. Itulah sebabnya mengajarkan kebenaran Firman Tuhan ini menjadi bagian pertama yang penting bagi Tuhan Yesus untuk menata Kerajaan-Nya di dunia.

Reformed theology menyadari pentingnya pengajaran, pentingnya kita mengerti wahyu Tuhan sehingga kita memisahkan wahyu dengan sangat teliti. Wahyu Tuhan ada dua, yaitu wahyu umum dan wahyu khusus. Wahyu umum dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu alam semesta sebagai wahyu pasif dan hati nurani sebagai wahyu yang bersifat aktif. Wahyu umum seharusnya membuat kita mengerti bahwa ada Allah yang mencipta dunia tetapi manusia tidak tahu siapa Allah sejati itu tetapi dilain pihak dalam diri manusia ada sense of deity, yaitu suatu perasaan ingin menyembah. Akibatnya manusia membuat berbagai bentuk allah dan menyembahnya. Wahyu khusus dibagi lagi menjadi dua, yaitu Firman yang berinkarnasi yakni Kristus dan firman tertulis dimana firman ini harus melihat pada Kristus sebagai pusat dengan demikian manusia dapat mengerti kebenaran sejati. Karena itu merupakan suatu anugerah kalau kita dapat berespon terhadap kebenaran Tuhan.

II. Tuhan Yesus Memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Tidaklah cukup manusia hanya sampai pada pemahaman akan kebenaran. Tuhan sudah mengajarkan kebenaran maka Tuhan ingin supaya kita yang sudah memahami kebenaran mendapatkan sukacita saat kita menghidupi kebenaran itu. Dan berita sukacita harus kita kabarkan pada seluruh bangsa dengan demikian semua orang akan merasakan sukacita karena turut serta berbagian dalam Kerajaan Sorga. Kita harus menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa, kita tidak layak turut berbagian dalam Kerajaan Sorga namun untuk itulah Tuhan Yesus datang dan membawa kita masuk dalam Kerajaan Sorga. Yesus datang untuk melayani dan menjadi tebusan bagi manusia (Mat. 20:28). Kuasa Injil yang dari Tuhanlah yang memampukan kita sehingga kita dapat hidup taat, hidup menjadi anak-anak Allah. Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yoh. 1:12). Anak Tuhan adalah orang-orang yang tidak mampu tapi dimampukan Kristus. Anak Tuhan juga bukanlah orang benar tapi dibenarkan Tuhan sehingga kita dapat hidup dalam kebenaran. Hari ini banyak orang salah mengartikan kata “kuasa“ akibatnya kuasa yang diberikan Tuhan disalahgunakan untuk melakukan segala perbuatan dosa. Kuasa sejati adalah kuasa dapat melepaskan diri dari dosa untuk hidup dalam kebenaran seperti yang Tuhan inginkan dan hanya kuasa Tuhan yang dapat mematahkan belenggu dosa yang mengikat kita. Inilah berita Injil. Tuhan tidak memperbaiki segala kerusakan tetapi melahirbarukan, mencipta ulang. Tuhan tidak menjanjikan hidup kita akan senang ketika kita menjadi anak Tuhan. Tidak! Tuhan menegaskan bahwa dunia akan membenci setiap orang yang hidup dalam kebenaran (Yoh. 15:19). Akan tetapi jangan pernah mengira bahwa hidup di luar Kristus, hidup kita akan enak dan nikmat. Tidak! Di luar Kritus juga ada beban yang harus kita pikul dan beban itu berat karena iblis menuntut sesuatu dari kita sehingga sukar bagi manusia untuk dapat keluar dari jeratan iblis dan hidup manusia akan berakhir dalam neraka. Berbeda kalau kita berada di dalam Kristus, kuk yang dipasang itu enak dan beban-Nyapun ringan (Mat. 11:30). Sayang, manusia tidak dapat melihat sukacita sejati dalam Kerajaan Sorga, manusia ingin mendapat sukacita sementara di dunia. Iblis tahu apa yang menjadi keinginan manusia, itulah sebabnya setan selalu menggunakan semua kemegahan dunia untuk menggoda manusia. Tuhan Yesus tahu akal licik si iblis sehingga Tuhan Yesus tidak jatuh dalam cobaan di padang gurun (Mat. 4:1-10). Sebagai anak Tuhan hendaklah kita hidup dalam kebenaran Allah dengan demikian kita selalu waspada terhadap segala akal licik iblis supaya kita tidak jatuh dalam jeratnya.

III. Tuhan Yesus Melenyapkan Segala Penyakit dan Kelemahan di antara Bangsa.

Kristus menunjukkan kuasa-Nya sebagai Tuhan yang menyatakan kebenaran dan menyatakan implikasi dari Injil, yaitu dengan membuat mujizat, menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa. Hal ini membuktikan memang benar bahwa Kristus adalah Tuhan dan Raja dari Kerajaan Sorga. Kristus tidak menunggu orang untuk meminta bukti terlebih dahulu barulah kemudian Ia membuktikannya. Tidak! Kebenaran sejati harus diuji dari dalam, yaitu oleh dirinya sendiri bukan dari luarnya kebenaran karena bila ada pihak dari luar yang membuktikan maka itu berarti dia yang lebih berkuasa. Berita kebenaran Allah, berita sukacita Kerajaan Allah, berita bagaimana hidup benar dalam Kerajaan Allah dinyatakan Kristus dengan cara melenyapkan segala penyakit, kesulitan dan kesengsaraan hidup manusia. Ketika Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran dan berita Injil di beritakan, orang tidak mempedulikannya maka ketika Tuhan membuat mujizat, orang orang berbondong datang pada-Nya minta disembuhkan.

Tuhan membuat mujizat bukan demi untuk kepentingan manusia tetapi mujizat untuk menyatakan kedaulatan Allah. Namun orang justru memanipulasi kuasa Kristus, yakni dengan membawa semua orang yang buruk keadaannya kepada-Nya untuk disembuhkan. Apakah mereka diselamatkan? Tidak! Apakah mereka disembuhkan? Ya. Mereka pikir bahwa mereka mendapatkan keuntungan tapi ternyata tidak, mereka justru masuk dalam kebinasaan kekal. Yesus adalah Raja atas segala raja karena itu seluruh penghuni jagad raya ini termasuk manusia dan setan pun harus tunduk pada-Nya. Manusia tidak mengerti tanda-tanda yang diberikan Kristus akibatnya manusia memanipulasi setiap mujizat yang Kristus lakukan. Orang hanya mau mujizatnya tetapi menolak Kristus Sang Pemberi mujizat. Alkitab mencatat setelah Tuhan Yesus membuat mujizat lima roti dua ikan, orang berbondong-bondong mengikut Yesus. Tuhan Yesus menegur dengan keras bahwa mereka mengikut bukan karena mengerti tanda, yaitu Firman itu telah berinkarnasi melainkan karena mereka kenyang sehingga satu per satu dari mereka pergi meninggalkan Yesus. Hal ini membuktikan bahwa mereka bukanlah anak Tuhan yang sejati.

Sejak awal mereka sudah menolak Kebenaran dan memanipulasi pernyataan Kerajaan Sorga. Lalu bagaimana sikap dan respon kita kalau mujizat itu terjadi atas kita? Mujizat seharusnya membuat kita bersyukur dan membuat kita bertekad untuk hidup bagi Kristus karena kita tahu bahwa mujizat merupakan tanda pernyataan Kedaulatan Allah, Sang Raja itu sedang menunjukkan kuasa-Nya. Berbagai macam respon manusia banyak kita jumpai seperti ada orang yang mau menerima Kebenaran, adapula orang yang mau bertobat namun ada juga orang yang menolak kebenaran dan hanya ingin mujizat demi untuk memenuhi egoisme dirinya. Kalau kita dapat mengkontraskan Kerajaan Allah dengan kerajaan dunia maka kita dapat menyadari siapa sesungguhnya diri kita, yaitu sebagai anak Tuhan atau anak setan. Anak Tuhan sejati seharusnya tahu apa yang menjadi kehendak Banpanya, perubahan drastis seperti apa yang harus kita kerjakan dan bagaimana seharusnya kita hidup bagi Tuhan. Ingat, Tuhan sudah beranugerah atas kita; Ia sudah memilih kita diantara berjuta manusia untuk menjadi pekerja-Nya sekaligus kita sudah menjadi warga Kerajaan Sorga karena itu biarlah seluruh hidup kita pakai untuk menggenapkan seluruh misi Kerajaan Sorga maka kita peroleh sukacita sejati. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20041024.htm

Eksposisi Injil Matius 4 : THE KINGDOM AND THE WORKERS-5 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Tuesday, June 6th, 2006

Eksposisi Injil Matius 4

Ringkasan Khotbah : 10 Oktober 2004

The Kingdom & the Workers 5

Nats: Mat. 4: 18-22

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kristus adalah Raja merupakan tema utama dari Injil Matius. Tuhan Yesus, Raja di atas segala raja itu memanggil para murid yang dalam hal ini Ia tidak menggunakan standar  kualifikasi dunia untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan-Nya di muka bumi. Tuhan tidak memakai ahli-ahli Taurat atau orang-orang pandai yang hidup pada jaman itu sebaliknya Dia memanggil nelayan untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Bukan dengan bala tentara Sorga Dia memanggil para murid melainkan dengan otoritas dari Kerajaan Sorga, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“; Come, follow Me and I will make you a fisher of man (Mat. 4:19). Panggilan ini bukan sekedar ajakan tapi panggilan Sang Raja ini mengandung perintah yang menuntut ketaatan mutlak dari dalam diri kita. Dengan demikian kita dapat memahami siapakah Kristus Yesus sesungguhnya dengan cara pandang Allah bukan dengan kacamata dunia yang hanya melihat seseorang dari tampilan luar belaka.

“Ikutlah Aku“, kata mengikut yang dimaksud oleh Tuhan Yesus disini adalah mengikut yang terus menerus dan tanpa syarat seperti layaknya seorang anak kecil yang ngintil (bhs. Jawa) pada ibunya. Sayangnya, ketika si anak menjadi besar konsep berpikirnya mulai dipengaruhi oleh berbagai macam filsafat dunia akibatnya orang tidak mau taat dan mulai mempertanyakan untung – rugi mengikut Yesus. Yesus adalah Raja di atas segala raja memanggil, “Ikutlah Aku,…“ namun orang masih berani tawar menawar. Bandingkan ketika raja dunia memanggil atau mengeluarkan perintah maka orang tidak berani tawar menawar. Ironis, manusia lebih takut pada raja dunia yang kelihatan dibandingkan pada Raja pemilik seluruh alam semesta yang bertahta di Sorga. Tuhan tidak suka pada orang yang selalu tawar menawar ketika mengikut Dia. Orang tidak percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan rencanakan adalah demi untuk kebaikan kita.

Manusia sudah jatuh dalam dosa dan upah dosa adalah maut maka kalau Tuhan masih berkenan memanggil dan menjadikan kita rekan sekerja itu merupakan anugerah besar. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak memahami hal ini dan mereka justru berpendapat bahwa menjadi pengikut Tuhan hanya akan menyusahkan hidup mereka. Salah! Dengan mengikut Kristus Raja di atas segala raja itu maka kita merasakan sukacita sejati, hidup kita tidak akan sia-sia karena Tuhan sudah menetapkan tujuan indah pada setiap orang yang dipanggil-Nya. Setiap tindakan Allah pasti mempunyai tujuan. Begitu pula ketika Tuhan memanggil Petrus, Yohanes, dan murid-murid yang lain adalah untuk menjadikan mereka sebagai penjala manusia. Sangatlah disayangkan, hari ini orang tidak menyadari tujuan hidup sejati yang Tuhan sudah tetapkan sejak dari kekekalan. Maka tidaklah heran kalau tujuan hidup mereka melenceng, keluar dari tujuan yang Tuhan sudah tetapkan pada setiap kita.

Abraham Maslow telah berhasil mempengaruhi dan menjadikan manusia materialis dan humanis. Ia berpendapat bahwa hidup manusia selalu dikontrol oleh needs/kebutuhan yang terdiri dari lima kebutuhan dasar dan bila salah satu kebutuhan tersebut tidak dipenuhi maka manusia menjadi labil, yaitu: 1) kebutuhan fisik, kebutuhan akan makanan dan minuman, 2) kebutuhan akan keamanan, 3) kebutuhan akan kasih sayang, 4) kebutuhan akan keindahan (estetika) dan yang paling tinggi 5) kebutuhan akan aktualisasi diri. Tingkatan ini menunjukkan tingkatan egoisme yang semakin tinggi. Manusia tidak pernah merasa puas, selalu ada saja yang kurang. Manusia tidak menyadari bahwa kebutuhan malah akan membuat manusia semakin berambisi dan egois. Jadi, kalau setiap tindakan yang orang lakukan adalah karena didorong oleh kebutuhan lalu apa yang menjadi kebutuhan Tuhan yang mendorong tindakan-Nya? Pemikiran ini sangatlah berbahaya. Ingat, Tuhan tidak membutuhkan apapun sebab Dia Raja pemilik alam semesta. Justru kita seharusnya menyadari bahwa kalau sampai detik ini kita masih hidup itu karena Tuhan yang masih berbelas kasih. Manusia berdosa yang seharusnya dihukum namun Tuhan berkenan memelihara dan menyediakan semua kebutuhan hidup kita. Motivasi hidup manusia bukan ditentukan oleh kebutuhan melainkan tujuan dan demi supaya tujuan kita tercapai maka semua kebutuhan menjadi tidak penting lagi. Bagaimana dengan kita? Apa yang terutama dalam hidupmu tujuan ataukah kebutuhan? Jikalau kebutuhan menjadi yang utama lalu apa bedanya kita dengan binatang? Bukankah binatang hidup hanya demi untuk memenuhi kebutuhannya saja? Orang yang bijaksana akan mengabaikan semua hal yang menjadi kebutuhan demi untuk mengejar tujuan agung dalam hidup. Paulus tahu dengan jelas apa yang menjadi tujuan hidupnya, itulah sebabnya ia dapat berkata, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah“ (Kis. 20:24).

Allah adalah pembentuk tujuan tertinggi di seluruh alam semesta milik kepunyaan-Nya ini, the ultimate purpose of the universe. Celakalah kalau kita mau mencoba keluar dari tujuan yang sudah Allah tetapkan karena itu berarti kehancuran bagi kita. Menggeser dari tujuan manusia menuju pada tujuan Tuhan tidaklah mudah, kita sering jatuh bangun karena perubahan ini menyangkut banyak aspek dalam hidup kita. Tak terkecuali Petrus. Iman Petrus mulai goyah ketika ia mengetahui Tuhan Yesus mati. Ditengah-tengah situasi yang tidak menentu itu Petrus memutuskan untuk kembali menjadi penjala ikan. Hal ini membuktikan natur manusia berdosa. Tuhan tidak langsung menegur Petrus namun Tuhan justru biarkan Petrus dan kawan-kawannya kembali pada profesinya yang lama, yaitu nelayan. Mereka yang katanya ahli menjala ikan, hari itu mereka tidak mendapati satu ekorpun ikan meskipun telah menebarkan jala semalam-malaman. Hal ini membuktikan orang yang katanya ahli di suatu bidang maka Tuhan bisa membuatnya tidak menghasilkan apapun dari keahliannya tersebut. Semua kepandaian, kekayaan, apapun yang ada pada diri kita tidak ada gunanya. Jadi, Tuhan adalah sumber dari segala sumber berkat. Tujuan hidup yang Tuhan sudah tetapkan dalam diri kita adalah demi untuk kebaikan diri kita.

Bagaimana kita mengerti tujuan Tuhan dalam hidup kita? Dalam bagian ini kita akan melihat tiga aspek sehingga kita dapat mengerti bagaimana seharusnya kita berespon dengan tepat.

Pertama, Petrus menyadari kalau ia ahli menjala ikan tapi ia bukan penjala manusia. Jadi, hari itu ia bukanlah siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa namun Tuhan berkenan membentuk dia dan memanggil dia untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Hari ini justru terbalik orang tidak mau melayani karena merasa diri tidak bisa apa-apa. Orang selalu berpendapat bahwa orang yang melayani adalah orang yang bisa “apa-apa“. Cara Tuhan berbeda. Orang yang merasa diri bisa “apa-apa“ bagi Tuhan justru mereka tidak bisa “apa-apa“. Tuhan tidak memakai orang yang bisa “apa-apa“ seperti Gamaliel atau Nikodemus karena orang-orang demikian sukar untuk dibentuk; konsep dan pola berpikirnya sudah rusak; mereka merasa diri hebat dan berjasa sehingga tidak perlu diajar lagi. Ingat, ketika kita merasa diri hebat maka itu menjadi titik awal kehancuran kita. Itulah sebabnya Tuhan tidak memanggil mereka tetapi memanggil Petrus. Tuhan melihat potensi yang akan datang dalam diri Petrus dan murid-murid yang lain. Kualifikasi yang manusia tetapkan berlawanan dengan kualifikasi Tuhan. Tuhan sudah menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan rencana-Nya.

Tuhan mau pakai orang-orang biasa yang mau taat dibentuk oleh-Nya untuk dipakai dalam Kerajaan Sorga. Seperti sebuah lagu yang berjudul It’s Ordinary People yang dituliskan dalam sebuah drama Kekristenan yang berbunyi: Kita hanyalah manusia biasa. Allah memakai manusia biasa seperti engkau dan saya yang taat dan mau menjalankan semua yang Dia perintahkan. Tuhan mau pakai orang-orang yang mau memberikan segalanya demi Dia. Tidak peduli seberapa kecilnya engkau memandang dirimu sendiri karena justru kita yang kecil ini akan menjadi besar ketika ditaruh dalam tangan Sang Tuan. Biarlah dalam hidup sehari-hari kita mencontoh teladan Kristus yang tidak menggunakan standar atau kualifikasi dunia ketika memilih seseorang untuk dijadikan sebagai rekan sekerja. Percayalah cara Tuhan adalah yang terbaik meski cara Tuhan itu kita rasakan tidak sesuai dengan logika kita. Ingat, kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan, segala sesuatu yang kita banggakan tidaklah ada artinya jika semua itu tidak dipakai untuk kemuliaan nama-Nya. Tuhan tidak menginginkan semua kekayaan kita. Tidak! Karena Dia adalah Raja di atas segala raja, Dia pemilik alam semesta. Tuhan hanya ingin hati yang taat dan mau dibentuk untuk menjadi semakin serupa Dia.

Kedua, Aku akan menjadikan kamu penjala manusia. Kata menjadikan disini berarti ada proses yang harus dilewati dari belum jadi penjala manusia sampai akhirnya menjadi penjala manusia. Pembentukan ini tidaklah mudah apalagi membentuk orang yang sudah dewasa. Sebatang tunas yang baru bertumbuh lebih mudah dibentuk mengikuti keinginan hati tetapi berbeda kalau tunas itu sudah berubah menjadi batang yang keras. Batang itu dapat dibentuk tetapi dibutuhkan pengorbanan, ia harus dipahat dan dibersihkan terlebih dahulu. Lebih mudah merubah seseorang secara fenomena namun tidak menjamin esensinya dapat berubah namun apa yang manusia pikir tidak mungkin bagi Tuhan tiada yang mustahil. Cara Tuhan mengubahkan seseorang berbeda. Petrus dan para murid yang lain dipanggil ketika mereka dewasa namun kalau mereka dapat berubah semua itu karena Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Tuhan bukan mereparasi tetapi Dia melahirbarukan, Tuhan mencipta ulang, recreated. Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Kini istilah recreated atau rekreasi disalah mengerti, yakni rekreasi sama dengan tamasya. Tidak! Rekreasi yang sesungguhnya seharusnya membuat kita refresh bukannya bertambah lelah sehabis berekreasi.

Hanya mereka yang sudah dilahirbarukan sajalah yang dapat dibentuk menjadi semakin serupa Kristus. Karena itu jangan sia-siakan anugerah Tuhan kalau Ia sudah berkenan memanggil dan mau membentuk kita. Jangan keraskan hati ketika Tuhan sedang bekerja karena Tuhan mau menjadikan kita sesuai dengan maksud dan rencana-Nya yang indah. Ironisnya, manusia justru merasakan sakit ketika Tuhan sedang bekerja membentuk kita untuk semakin serupa Dia. Kita patut bersyukur kalau hari ini Tuhan mau membentuk kita, apa jadinya hidup kita sekarang kalau Tuhan tidak menangkap kita. Hati-hati banyak orang mengaku Kristen namun sesungguhnya mereka belum lahir baru maka tidaklah mengherankan kalau hidupnya tidak mau taat pada kebenaran Firman. Orang sukar mempercayai cara Tuhan yang seringkali tidak sesuai dengan logika akibatnya orang tidak percaya bahwa Tuhan memelihara – Tuhan mengatur masa depan hidup kita. Berada dalam pemrosesan Tuhan tidaklah mudah namun percayalah Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri, Dia pasti menuntun kita dan jangan pernah berpikir bahwa hidup berada di  luar Tuhan akan menyenangkan. Tidak! Hidup di luar Kristus malah makin menyulitkan kita karena Tuhan tidak akan menolong malahan kita akan dibuang ke tangan iblis.

Ketiga, Aku akan menjadikan kamu penjala manusia. Bagi Petrus kata penjala bukanlah hal yang asing lagi karena sehari-hari ia bekerja sebagai penjala ikan namun penjala manusia baginya merupakan hal yang baru. Tuhan mau membukakan satu rahasia penting melalui konsep paradoks ini, yaitu apa yang menjadi profesi lama kita tidak akan dibuang percuma ketika kita mengganti profesi baru. Kalau dulu Petrus adalah seorang penjala ikan maka kini Tuhan tetap menjadikannya sebagai penjala namun bedanya ia sekarang menjadi penjala manusia. Untuk menjala ikan harus menggunakan peralatan seperti jala, alat pancing, dan lain-lain namun untuk menjala manusia tidak bisa menggunakan alat yang sama. Jala seperti apa yang bisa untuk menjala manusia? Hal ini berarti seluruh tatanan dan paradigma kita harus dirombak ulang. Ketika kita hendak menjalankan kehendak Tuhan bukan berarti semua keahlian kita yang lama dibuang. Tidak! Dulu saya sempat berpikir seperti demikian namun setelah Tuhan panggil saya barulah memahami bahwa semua itu Tuhan memang perlengkapkan sebelum masuk ke dalam ladang Tuhan.

Namun yang membedakan adalah konsep, cara berpikir kita sekarang berbeda dengan sebelumnya. Dulu segala sesuatu yang kita kerjakan dan kita pikirkan adalah demi untuk keuntungan diri tapi setelah mengenal Kristus, semua yang kita kerjakan demi untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan tidak membuang masa lampau Musa yang dulunya seorang raja muda di Mesir, Daud seorang penggembala domba, Petrus seorang penjala ikan, Paulus seorang ahli Taurat dan masih banyak lagi tokoh iman dalam Alkitab. Kita harus berpikir secara paradoxical, yaitu apa yang Tuhan perlengkapan pada kita sejak mulai dari lahir hingga kini Tuhan tidak buang namun Tuhan mau rombak total untuk masuk dalam jalur baru yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian kita boleh dipimpin oleh Tuhan untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi. Dunia hanya bisa menjadikan kita seorang penjala ikan namun Tuhan mau menjadikan engkau sebagai penjala manusia. Bersediakah saudara? Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20041010.htm