Archive for July, 2006

Eksposisi Injil Matius 8 : THE LORDSHIP IN ROMANS GOVERNANCE (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, July 28th, 2006

Ringkasan Khotbah : 19 Desember 2004
The Lordship in Romans Govenance
Nats : Matius 8: 5-13
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita telah memahami bahwa tema Injil Matius adalah Kristus sebagai Raja dan Dia menghadirkan Kerajaan Sorga di tengah-tengah dunia. Layaknya, sebuah negara maka dalam Kerajaan Sorga pun ada hukum yang harus ditaati oleh setiap orang yang menjadi warga Kerajaan Sorga (Mat. 5-7). Kristus Sang Raja itu sendiri telah memberikan teladan yang indah pada setiap kita bagaimana mengimplikasikan hukum Kerajaan Sorga tersebut (Mat. 8-9) dengan demikian orang tahu dan merasakan indahnya hukum Kerajaan Sorga kalau kita menjalankan dan melakukannya. Namun orang Yahudi tidak suka ketika Yesus sedang mengimplikasikan hukum Kerajaan Sorga sebab Yesus menyembuhkan orang-orang yang mereka benci, yaitu: 1) orang kusta – orang yang dikutuk Tuhan, 2) hamba seorang perwira Romawi – bangsa Romawi membuat hidup bangsa Israel menderita sebab mereka menjajah bangsa Israel, 3) ibu mertua Petrus – seorang wanita dianggap sebagai warga kelas dua yang tidak dihargai.
Ketika Tuhan Yesus masuk ke Kapernaum, datang seorang perwira Romawi, memohon supaya Tuhan Yesus menyembuhkan hambanya yang lumpuh dan sangat menderita. Hal tersebut tidak lazim, sebab kedatangan perwira Romawi itu biasanya untuk urusan kriminal seperti menginterograsi, menangkap, dan lain-lain. Banyak orang yang mengkaitkan bagian ini dengan iman akan tetapi kalau kita perhatikan tatanan Injil Matius maka bagian ini merupakan bagian implikasi Kerajaan Sorga. Jadi, inti permasalahannya bukan soal kesembuhannya karena kesembuhan hanyalah masalah sekunder karena intinya adalah bagaimana kesembuhan itu dijalankan dan bagaimana relasinya sehingga dapat mendatangkan kesembuhan tersebut. Dunia melihat kesembuhan dari kacamata egoisme manusia maka tidaklah heran kalau kemudian orang berpikir bagaimana caranya beriman supaya disembuhkan.
Memang kisah ini berkaitan dengan kesembuhan tetapi tidak berurusan dengan iman dan hal ini sekaligus mematahkan konsep bahwa kesembuhan seseorang sangat terkait dengan imannya, yaitu orang yang tidak disembuhkan berarti ia kurang beriman. Salah! Apakah hamba perwira Romawi yang tergeletak sakit lumpuh itu seorang yang beriman pada Kristus? Tidak! Yang beriman adalah tuannya, yaitu si perwira Romawi dan kemungkinan si hamba ini tidak mengenal Kristus sebab di Alkitab dicatat hamba tersebut tergeletak di rumah tuannya. Hamba ini tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu Tuhan Yesus namun toh ia mendapat kesembuhan. Ingat, tidak ada hubungan sama sekali antara si tuan yang beriman dengan hamba yang disembuhkan karena kalau memang benar demikian: Bukankah Pendeta yang menyembuhkan itu beriman lalu kenapa saya tidak sembuh? Ironisnya, justru kitalah yang disalahkan kalau kita tidak sembuh karena dianggap kurang beriman. Memang betul, ada unsur iman di dalamnya namun titik pointnya bukan disana. Melalui perwira Romawi ini, Matius ingin memaparkan tentang the Lordship of Christ yang berkenan memberikan kesembuhan.
Perwira Romawi ini berbeda dengan orang Romawi pada umumnya, ia sangat peduli dan perhatian pada hambanya, ia rela berjalan jauh demi untuk mengupayakan kesembuhan hambanya. Perwira ini tahu kepada siapa ia harus datang dan bagaimana ia harus bersikap. Melalui kisah hamba perwira Romawi yang disembuhkan, Matius telah membukakan suatu dimensi baru dengan format yang berbeda, yakni untuk mengerti siapa Tuan yang adalah Tuhan bukan hanya melalui kepapahan/kehidupan yang menderita, bukan juga ketika orang berada dalam kondisi sakit dan tidak ada harapan seperti seorang sakit kusta. Hal pertama dan utama yang paling penting ketika kita datang pada Tuhan adalah menyadari bahwa kita manusia berdosa dengan demikian kita dapat meresponi anugerah dengan tepat. Orang sombong yang merasa diri tahu banyak hal sangat sulit bertemu Ketuhanan Kristus sejati. Yang menjadi pertanyaan, kalau kita tidak sakit dan tidak menderita dan kita seorang yang mempunyai kedudukan apakah itu akan membuat kita sulit memahami Ketuhanan Kritus? Tidak! Kalau pada bagian pertama digambarkan ada seorang yang dirinya sendiri sedang sakit kusta lalu ia datang kepada Kristus dan ia disembuhkan maka penyakit kusta ini merupakan gambaran dari manusia berdosa. Itulah sebabnya, Matius mengambil contoh yang kedua, yakni seorang perwira, seorang yang mempunyai kedudukan dan tidak sakit dengan demikian kita dapat memahami Ketuhanan Kristus, Lordship of Christ dari dimensi yang berbeda.
Tuhan ingin mengajarkan pada kita bagaimana seharusnya memahami konsep urutan/ordo dengan benar, siapa yang seharusnya menjadi Tuan di dalam hidup kita. Perwira Romawi ini sangat mengerti ordo, dia tahu kalau ia hanyalah seorang bawahan. Perwira Romawi ini mengontraskan dirinya, seorang atasan sekaligus bawahan (Luk. 8:9). Inilah suatu gambaran seorang yang menyadari betul akan ordo, siapa dirinya di hadapan Tuannya; ia tahu apa arti sebuah perintah maka ketika perintah itu datang, ia harus menjalankannya, tidak ada diskusi apalagi pertanyaan, “Mengapa, Tuan?“ Bayangkan, kalau dalam medan peperangan terjadi diskusi antara jenderal dengan prajuritnya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah anda menyadari bahwa kita hanyalah seorang hamba, seorang bawahan di hadapan Tuhan meskipun di dunia, kita adalah seorang atasan? Sebagai seorang atasan, tentunya kita ingin supaya bawahan kita itu taat pada kita namun apakah kita sudah taat pada Tuhan yang menjadi Tuan atas hidup kita? Sebagai anak Tuhan sejati, kita harus men-Tuhan-kan Kristus dalam hidup kita dan untuk itu kita harus menyadari tiga hal penting, yaitu:
I. Kerendahan Hati
Di hadapan Kristus, Sang Raja pemilik seluruh alam semesta ini, kita hanyalah seorang hamba meskipun di dunia, kita bisa memerintahkan apa saja dan orang bawahan kita akan menuruti semua yang kita perintahkan. Perwira Romawi ini sangat dihormati sekaligus ditakuti oleh rakyat termasuk bangsa Israel namun demikian demi kesembuhan hambanya, ia mau datang dan memohon kepada Tuhan Yesus. Inilah jiwa seorang yang rendah hati. Biarlah kita seperti perwira Romawi ini yang menyadari bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, dia tidak layak menerima Tuhan di dalam rumahnya karena itu: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh….“ Hari ini, kesombongan membuat orang sulit menerima Kristus dalam hidupnya karena orang telah terbiasa dengan memerintah segala sesuatu. Tuhan Yesus heran melihat kerendahan hati perwira Romawi ini dan Ia memuji iman perwira Romawi ini sebaliknya kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, Tuhan Yesus menegur dengan keras: “Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi“ (Luk. 8:10-12).
Sebagai orang Kristen, kita sudah cukup puas karena telah mendapatkan anugerah, kita telah dipilih menjadi bagian warga Kerajaan Sorga. Kita tidak tahu kalau sesungguhnya kita telah kehilangan inti yang paling penting, yaitu ketaatan. Memang benar, Tuhan telah memberikan kuasa pada setiap anak-anak-Nya tapi ingat, hal itu janganlah menjadikan kita sombong. Ingat, kita hanyalah seorang hamba, seorang bawahan yang harus taat pada semua perintah Kristus yang menjadi Tuan atas hidup kita. Dan hanya seorang yang berjiwa rendah hatilah yang dapat memandang dan menjadikan Kristus sebagai Tuan atas segala tuan. Bukan hal yang mudah, mempunyai jiwa yang rendah hati karena dunia telah melatih kita sedemikian rupa supaya kita menjadi seorang yang egois dan menjadi tuan atas segala sesuatu maka tidaklah heran kalau kita menjumpai seorang Kristen yang sombong dan tidak berjiwa rendah hati. Hari ini, banyak orang tak terkecuali orang Kristen yang hanya mau berkat saja tapi mereka tidak mau taat pada perintah Kristus. Biarlah di dalam hidup kita menjadikan Kristus sebagai Tuan yang bertahta dan memimpin hidup kita.
II. Ketaatan Mutlak
Konsep otoritas yang Alkitab ajarkan selalu bertentangan dengan dunia ajarkan. Dunia modern menentang keras sistem perbudakan. Dunia modern anti dengan segala bentuk otoritas dan jajaran pemerintahan, dunia anti dengan segala macam legalitas. Ironisnya, orang paling suka memerintah. Kontradiktif! Kalau kita tidak suka dengan otorisasi maka seharusnya kita pun tidak berhak memerintah siapapun. Orang yang tidak suka dengan segala bentuk otorisasi seharusnya dia belajar taat. Orang yang tidak suka diatur mestinya menjadikan dirinya lebih rela untuk diatur. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Karena sesungguhnya orang yang benci dengan otorisasi itu menginginkan dirinyalah sebagai the final authority, yaitu otoritas terakhir ada di tangannya. Orang demikian adalah orang yang egois, ia hanya mau menjadi tuan yang mengatur segala sesuatu tapi tidak mau diatur. Bayangkan, kalau di dunia banyak orang-orang egois, dunia akan menjadi kacau, chaos karena semua manusia menjadi manusia independen yang tidak mau tunduk pada otoritas. Memahami konsep otoritas tidaklah mudah karenanya kita harus kembali pada konsep otoritas sesuai dengan kebenaran Alkitab. Alkitab tidak pernah melarang dan anti pada sistim perbudakan karena perbudakan adalah prinsip yang sangat baik dalam hidup. Bukan perbudakan yang Tuhan tentang tapi Tuhan menentang tuan yang jahat. Janganlah menentang sistem yang Tuhan sudah tetapkan karena hal itu malah akan membuat relasi kita dengan Tuhan menjadi rusak.
Struktur militer merupakan adaptasi dari struktur perbudakan dimana seorang bawahan harus taat pada atasan. Struktur perbudakan merupakan struktur yang terbaik tapi struktur perbudakan harus dalam kesucian, kebenaran, kebajikan dan keadilan. Sayang, dunia modern tidak mau menerima konsep perbudakan sebab manusia yang sombong ini tidak suka kalau diperintah oleh orang lain apalagi kalau disuruh taat mutlak pada Tuhan. Hendaklah kita menyadari bahwa kita hanyalah seorang hamba yang harus taat mutlak pada perintah Tuannya. Gambaran otorisasi yang ditunjukkan oleh perwira Romawi sangatlah indah: “Tuan, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.“ Betapa indahnya hidup kita kalau hidup kita ada dalam pimpinan tangan Tuhan.
III. Penyerahan Mutlak
Perwira Romawi ini telah dididik sedemikian rupa untuk taat pada ordo kemiliteran. Perwira Romawi ini menyadari bahwa nasib seorang bawahan ada di tangan sang pemimpin maka berbahagialah mereka yang mempunyai seorang pemimpin yang baik karena hidupnya akan terjamin. Beriman berarti berserah sepenuhnya pada sesuatu yang menjadi obyek iman kita. Sayangnya, seringkali orang tidak sadar siapa yang layak menjadi obyek iman kita. Beriman pada Kristus merupakan jalan yang terbaik. Kalau perwira Romawi ini dapat beriman pada Kristus, pastilah sebelumnya ia telah mensurvei tentang siapa Kristus dan pastilah juga ia telah membandingkan dengan semua atasannya, yaitu jenderal-jenderal yang lain dan akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa Kristus Yesus adalah Tuan atas segala tuan. Perwira Romawi ini sangat menyadari bahwa semua atasannya tersebut hanyalah manusia biasa yang sangat terbatas dan hanya berserah kepada Kristus saja maka hidup kita akan terjamin. Sayang, banyak orang tidak mau percaya akan hal ini akibatnya orang beriman dan percaya pada dirinya sendiri, self faith. Maka janganlah kaget kalau kita menjumpai orang yang mempunyai rasa percaya diri yang berlebihan. Orang tidak menyadari akibat kalau beriman pada diri sendiri adalah kehancuran. Siapakah kita manusia ini? Apakah diri yang terbatas ini layak dipercaya? Dapatkah anda menjamin hidup anda sendiri sedang nasib kita sendiri saja kita tidak tahu. Kita tidak cukup bijak mengambil keputusan karena keputusan yang kita ambil terkadang salah. Manusia sangat terbatas.
Alkitab mencatat perwira ini mempunyai iman yang besar. Iman sejati adalah ketaatan mutlak pada obyek iman maka pada saat itu juga berkatalah Yesus: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya“ maka pada waktu yang bersamaan Tuhan Yesus berbicara, hambanya yang berada jauh di rumah menjadi sembuh. Hidup beriman pada Kristus itu melampaui semua tatanan di seluruh alam semesta. Yang menjadi pertanyaan: kepada siapa anda akan pertaruhkan hidup anda? Betulkah kita percaya pada Kristus? Betulkah kita telah menjadikan Kristus sebagai Tuan atas hidup kita? Sudahkah kita bersandar mutlak pada pimpinan Kristus? Serahkanlah hidupmu hanya ke dalam tangan pimpinan Tuhan maka kita akan merasakan keindahan dipimpin Tuhan. Gambaran perwira Romawi ini menjadi teladan sempurna dari seorang yang memiliki kesadaran akan kerendahan hati, kesadaran akan arti sebuah perintah yang menuntut ketaatan mutlak dan kesadaran hidup dalam anugerah. Kiranya, teladan sempurna dari perwira Romawi ini terefleksi dalam hidup kita dan menjadi berkat bagi orang lain. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20041219.htm

Eksposisi Injil Matius 8 : IMPLICATION OF THE KINGDOM (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, July 17th, 2006

Eksposisi Injil Matius 8

Ringkasan Khotbah : 5 Desember 2004

Implication of the Kingdom

Nats: Mat. 8:1-4

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Matius tidak sembarangan menuliskan dan meletakkan kisah tentang orang sakit kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus di bagian pertama dari pernyataan implikasi Kerajaan Sorga. Di dunia modern, banyak orang hanya mengambil dan memotong sebagian ayat dalam Alkitab tanpa tahu konteksnya secara keseluruhan akibatnya orang jadi salah menafsirkan ayat tersebut. Seperti halnya kalau orang mengambil sebagian kalimat dari perkataan kita dimana sebelumnya ia tidak tahu konteks pembicaraan secara keseluruhan lalu ia menyampaikannya pada orang ketiga maka hal tersebut bisa berakibat positif atau negatif, yaitu kita akan merasa tersanjung atau kita akan merasa terfitnah. Ketika kita sedang terlibat pembicaraan dengan seseorang maka setiap kalimat yang keluar pasti bukanlah kalimat yang sekenanya. Setiap kalimat yang keluar pasti ada latar belakang atau motivasi tertentu dan pastinya juga kerangka/cara berpikir kita turut aktif di dalamnya.

Jadi, kalau seseorang bisa mempunyai ide negatif maka janganlah kita cepat menghakimi dan menyalahkannya tetapi hendaklah kita mempertanyakan pada dia dengan jelas dan secara runtut kalimat seperti apa yang ia dengar dengan demikian dapat jelas apa yang menjadi konteks pembicaraan. Hati-hati karena kalimat yang diambil di luar dari konteks dapat digunakan oleh orang-orang tertentu yang memang berniat buruk dan ingin menjatuhkan untuk melakukan intrik-intrik dan fitnah. Orang itu sudah terlebih dahulu mempunyai keinginan dan pemikiran lalu mencari cara untuk menjatuhkan kita dengan mencopot sebagian kalimat dari pembicaraan untuk mendukung niat buruknya. Sebaliknya orang yang suka pada kita maka dengan cara yang sama, sebagian kalimat kita akan digunakan untuk memuji-muji diri kita. Disini kita melihat subyektifitas diri sangat berperan besar.

Untuk dapat mengerti Firman Tuhan dengan benar, kita harus melihat konteksnya secara keseluruhan sehingga kita tidak terjebak dalam konsep pemikiran kita dimana di dalamnya mengandung berbagai macam keinginan nafsu. Orang hanya membaca ayat-ayat yang disuka dan mengabaikan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan konsep pemikirannya. Suatu anugerah kalau kita dapat memahami Firman Tuhan, ingat, itu bukan karena kepandaian kita. Untuk dapat memahami ayat demi ayat yang ada dalam Injil Matius maka kita harus membacanya secara keseluruhan, yakni dari pasalnya yang pertama hingga pasal dua puluh delapan. Sebab perikop yang sama, jika kita bandingkan dengan Injil yang lain, Injil Lukas misalnya maka kita akan menjumpai kronologi yang tidak sama. Ingat, Injil Matius ditulis bukan berdasar kronologi waktu tetapi disusun berdasarkan tema. Itulah sebabnya Matius meletakkan kisah tiga mujizat kesembuhan, yaitu bagaimana Kritus Sang Raja itu turun dan menyembuhkan pada posisi pertama dari bagian implikasi Kerajaan Sorga.

Di dunia modern ini, banyak orang yang salah mengerti tentang konsep mujizat karena melepaskannya dari konteks implikasi Kerajaan Sorga. Banyak hamba Tuhan yang salah mengerti tentang mujizat, mereka mengaku dapat membuat mujizat kesembuhan dan menggunakan “mujizat kesembuhan“ untuk kepentingan pribadi, tentu saja banyak orang yang suka, orang sakit mana yang tidak mau sembuh apalagi kalau sakit yang diderita adalah sakit fatal yang sukar disembuhkan? Manusia mana yang tidak tergiur ketika mendengar mujizat kesembuhan dimana dengan cara yang mudah dan tanpa biaya pula. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah mujizat tersebut merupakan mujizat sejati dari Tuhan? Perhatikan, mujizat yang palsu tidak pernah menyembuhkan dan membebaskan manusia secara esensi. Iblis tidak pernah memberikan mujizat kesembuhan dengan motivasi jujur dan gratis, pasti ada harga yang harus dibayar. Licik adalah salah satu sifat jahat si iblis. Berhati-hatilah jangan mudah tergoda dengan cara licik iblis yang selalu berusaha menggoda manusia supaya jatuh ke dalam jeratan dan belenggunya. Tuhan Yesus dengan tegas berkata,“ Perhatikan, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun….“ (Mat. 8:4) ini sangatlah signifikan, yakni supaya orang mengerti konsep mujizat sejati dengan demikian orang tahu untuk maksud dan tujuan apa ia disembuhkan. LAI menerjemahkan dengan kata “ingatlah“ padahal bahasa aslinya adalah hora yang lebih tepat kalau diterjemahkan dengan “perhatikan atau look at“, yakni sesuatu yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh jadi, bukan sekedar ingatlah, remember. Dan banyak orang yang mengabaikan kata “perhatikan“ dan menganggapnya biasa. Tidak! Firman Tuhan berbeda dengan konsep manusia karena itu Tuhan Yesus menegaskan, “Perhatikan….“ Tuhan ingin supaya kita melihat implikasi Kerajaan Sorga dengan tepat, yakni Allah Sang Raja yang berdaulat itu sedang bekerja menghadirkan Kerajaan Sorga di dunia. Namun orang tidak dapat melihat hal itu, orang hanya melihat sembuhnya, orang hanya melihat berkatnya saja.

Kita dapat melihat perbedaan antara anak Tuhan dan anak Iblis dari cara mereka meresponi suatu mujizat. Kita sering mendengar kesaksian yang berkata, “Puji Tuhan, dulu aku sakit dan sekarang aku sembuh.“ Perhatikan dibalik kata-kata ini sesungguhnya bukan Tuhan yang dimuliakan namun dirinyalah yang dipermuliakan dan secara tidak langsung ia juga ingin mengatakan bahwa kita pun bisa mengalami hal yang sama, yaitu disembuhkan. Bukankah sikap sombong ini serupa dengan iblis. Malaikat jatuh ke dalam dosa dan menjadi iblis karena kesombongan dirinya, ia ingin menjadi seperti Tuhan. Sifat ini muncul pada manusia yang berafiliasi pada iblis dan kita tidak akan menjumpai sifat ini pada anak Tuhan sejati. Ketika Tuhan Yesus memerintahkan supaya orang kusta ini tidak menceritakan tentang kesembuhannya pada orang lain tentulah bagi si orang kusta ini sangatlah berat. Bayangkan, kalau kita yang mengalami sakit kusta sekian lamanya kita diasingkan dan menderita tapi kini sembuh tentu kita ingin menceritakannya kepada orang lain, bukan? Mujizat bukan sarana promosi atau tempat kita untuk pamer. Mujizat merupakan pernyataan karya kedaulatan Allah. Mujizat bukan untuk kepentingan manusia tapi demi untuk kemuliaan nama-Nya. Inilah bedanya setan dengan Tuhan kalau membuat mujizat. Mujizat yang dilakukan setan tidak gratis, secara fisik disembuhkan namun secara rohani kita masuk dalam kebinasaan kekal.

Kita tidak pernah menyadari dan kita tidak pernah tahu apa akibatnya kalau kita bercerita, seperti bagaimana perasaan orang lain yang mempunyai sakit yang sama tetapi belum juga disembuhkan. Di dunia ini masih banyak orang sakit dan yang tidak dapat disembuhkan lalu kalau kita bersaksi, “Puji Tuhan, aku telah disembuhkan“ maka bayangkan bagaimana perasaan orang yang menderita sakit ketika mendengar kesaksian tersebut padahal kesembuhan yang dialami tersebut belum jelas dari Tuhan atau iblis. Orang yang menderita sakit tentu akan merasa kecewa dan akhirnya menjadi marah dan menganggap Tuhan itu jahat dan tidak adil. Mujizat Tuhan tidak diberikan pada setiap orang. Tuhan memberikan mujizat pada mereka yang imannya kurang supaya imannya semakin kuat dan pada mereka yang mempunyai iman lebih baik, Tuhan memberikan kemungkinan untuk dia menghadapi tantangan. Layaknya seorang bayi yang lemah dan bergantung pada orang lain dimana untuk melakukan semua hal ia membutuhkan orang lain. Kita yang sudah dewasa tidak bisa iri pada seorang bayi, bukan? Dengan mujizat, orang seharusnya melihat kemuliaan dan kedaulatan Tuhan Sang Raja. Sangatlah disayangkan, hari ini mujizat justru dimanipulasi sedemikian rupa demi untuk kepentingan diri. Orang semakin salah kaprah dalam mengerti mujizat.

Ironisnya, orang berani mengklaim bahwa kalau kita tidak disembuhkan maka itu berarti kita yang salah karena kurang beriman dan banyak dosanya. Bahkan ada yang lebih berani lagi mengatakan bahwa anak Tuhan pasti tidak akan pernah sakit. Salah! Orang Kristen dan rasul pun bisa sakit bahkan Tuhan Yesus sendiri juga mengalami kesakitan yang luar biasa. Ingat, jika seseorang mendapat mujizat kesembuhan maka bukan berarti kita atau orang lain yang sakit juga harus mengalami mujizat yang sama. Tidak! Itulah sebabnya Tuhan Yesus melarang orang kusta ini berbicara pada orang lain. Jadi, jikalau anda pernah mengalami mujizat kesembuhan atau mujizat apapun juga itu maka kita harus lebih berhati-hati supaya tidak bicara pada sembarang orang. Mujizat terbesar yang terjadi dalam diri kita adalah kesembuhan rohani bukan kesembuhan jasmani. Dengan sembuhnya fisik bukan berarti kita akan hidup selamanya karena manusia pasti mati. Mujizat terbesar adalah pertobatan kita, yaitu saat kita menyadari dan mengakui bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita mau bertobat, kembali pada Tuhan dan mau hidup taat pada Tuhan. Seorang yang memang bertobat dengan sungguh maka dengan rendah hati dan hati yang hancur ia datang di hadapan Tuhan. Anugerah Tuhan bukan menjadikan kita sombong tapi justru seharusnya menjadikan kita tahu bagaimana berespon dengan tepat.

Tuhan melarang orang kusta ini untuk bercerita pada orang lain namun Tuhan memerintahkan supaya ia pergi, memperlihatkan diri kepada imam dan mempersembahkan persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka. Kalau kita membaca ayat ini sekilas saja maka kita akan salah menafsirkan. Perjanjian Baru tidak boleh kita lepaskan dari Perjanjian Lama. Dengan demikian kita tahu bahwa seseorang yang dinyatakan tahir haruslah mematuhi berbagai macam peraturan dan harus memenuhi berbagai macam persyaratan. Proses pentahiran itu tidaklah mudah. Sebelum dinyatakan tahir, seorang kusta tidak boleh masuk dalam Bait Allah maka imam yang harus keluar dan menghampirinya karena kuatir kalau-kalau ia belum sembuh benar. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang kusta sebelum dinyatakan tahir adalah ia harus membawa dua ekor burung tekukur, satu ekor disembelih lalu darahnya dipercikkan pada orang kusta itu sebagai tanda pentahiran sedang satu ekor lagi dilepaskan sebagai tanda Tuhan mengampuni dosa. Semua prosedur tersebut dilakukan di luar Bait Allah. Dan orang kusta ini harus tinggal selama delapan hari di luar perkemahan setelah didapati ia betul-betul tahir barulah kemudian ia boleh masuk ke dalam Bait Allah sambil membawa dua ekor domba jantan yang tidak bercacat dan satu ekor domba betina. Persembahan domba ini pun harus melewati beberapa prosedur yang tidak kalah rumitnya.

Semua prosedur yang rumit ini mempunyai arti yang sangat dalam. Darah domba jantan merupakan lambang darah Kristus yang menyembuhkan dan minyak yang tercurah menjadi lambang curahan berkat Tuhan, yaitu anugerah Tuhan mendahului semua hal yang dialami. Semuanya dapat kita lihat dalam kitab Imamat pasal 14. Beratnya prosedur yang harus dikerjakan seharusnya menyadarkan kita betapa besar pengorbanan Kristus yang harus dialami demi untuk menebus dan menyucikan manusia dari dosa. Namun prosedur yang demikian ini tidak ada satu orang pun yang melakukannya. Hari ini, orang hanya melihat kesembuhannya saja lalu merasa diri hebat karena mempunyai iman yang besar dan kemudian menjadi sombong. Mujizat adalah Kristus memulihkan hubungan kita yang telah terputus dengan Bapa. Respon orang kusta ini berbeda, ketika Tuhan Yesus menyembuhkannya, ia menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya sehingga dengan rendah hati ia datang pada imam. Kita seharusnya menyadari, kalau dulu kita hanyalah manusia berdosa yang hina namun karena anugerah-Nya kini, kita bisa menjadi warga Kerajaan Sorga dan disebut anak-anak Allah. Kita harus hidup taat dan mau menyenangkan Tuhan saja. Respon seperti inilah yang seharusnya muncul dalam diri anak Tuhan yang telah mengalami mujizat. Namun, setelah disembuhkan dan mengalami mujizat, orang justru makin menuntut Tuhan supaya terus memberkati dan kemudian ia menjadi sombong.

Matius menulis tentang mujizat bukan supaya orang menjadi gila mujizat lalu menuntut Tuhan supaya melakukan mujizat juga pada kita. Tidak! Dan Matius juga tidak bermaksud memamerkan kuasa Tuhan sehingga orang dapat berpikir kalau kita datang dan mengikut Dia maka hidup kita akan enak. Bukan! Alkitab juga tidak mengajarkan kita supaya memberitahukan pada orang lain sehingga memungkinkan kita menjadi sombong. Tidak! Ketika kita mengalami sesuatu bersama Tuhan, itu merupakan suatu anugerah dan kita patut bersyukur, kita harus melihat pada Tuhan, yakni Kristus, Sang Raja sedang mengimplikasikan Kerajaan Sorga di tengah dunia. Betapa indah hidup kita kalau hidup kita berpusat pada Kristus, melihat Kristus sebagai Tuan, Pemilik alam semesta yang memelihara hidup kita. Tak terasa kita sudah memasuki akhir tahun 2004, hendaklah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita men-Tuhan-kan Kristus dalam hidup kita? Tantangan dunia semakin hari semakin berat lalu apa yang harus kita kerjakan supaya nama Tuhan semakin dipermuliakan? Disitulah peranan anak Tuhan sangat diperlukan, peranan gereja, peranan iman Kristen, yaitu menjadi garam dan terang dunia. Kekristenan bukan menjawab tantangan jaman namun lebih dari itu Kekristenan harus menantang jaman dan jangan takut dan kuatir karena kita mempunyai Tuhan yang hidup; Dia akan memberikan kekuatan pada kita dalam menghadapi tantangan dunia sehingga kita tidak terseok-seok dalam menapaki tahun demi tahun di depan yang tantangannya semakin berat.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Eksposisi Injil Matius 8 : THE KINGDOM AND THE ACTIONS-2 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, July 10th, 2006

Eksposisi Injil Matius 8

Ringkasan Khotbah : 28 November 2004

The Kingdom & the Action (2)

Nats: Mat. 8:1-4

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kristus Yesus, Sang Raja yang mulia itu telah memberikan teladan yang sempurna pada kita sebagai warga Kerajaan Sorga bahwa hukum-hukum Kerajaan Sorga yang Dia ajarkan dapatlah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Kebenaran Firman tidak hanya dimengerti sebatas pengetahuan saja namun kebenaran tersebut haruslah terimplikasi dalam keseharian hidup kita sehingga iman dan tindakan menjadi satu kesatuan. Prinsip Kebenaran Firman akan membongkar semua konsep dan tatanan pikir yang kita dapat dari dunia karena konsep yang dari dunia selalu bertentangan dengan kebenaran sejati. Konstruksi dari implikasi Kerajaan Sorga disusun oleh Matius sedemikian indah dan lebih indah lagi setelah ditata dalam ayat-ayat. Ada 4 sub tema yang harus kita perhatikan dalam mengimplikasikan prinsip kebenaran dimana masing-masing sub tema terdapat 3 contoh dan terdiri dari 17 ayat, yaitu: 1) Lordship of Christ. Kristen berarti pusatnya adalah Christ. Kristus menjadi inti dalam kita mengimplikasikan kebenaran Firman, Dia menjadi Tuan atas hidup kita maka seorang Kristen harus mempunyai jiwa dan semangat berjuang untuk semakin hari menjadi semakin serupa Kristus (Mat. 8:1-17); 2) Disciplership. Menjadi murid Kristus haruslah terus menerus bahkan di sepanjang hidup kita adalah murid Kristus (Mat. 8:18-34); 3) Comitment. Manusia hidup akan selalu dihadapkan pada sebuah pilihan lalu bagaimana kita memilih dengan tepat? (Mat. 9:1-17); 4) Faith. Sebagai seorang murid, pengikut Kristus maka kita harus beriman sejati (Mat. 9:18-34) dengan demikian kita menjadi seorang Kristen sejati.

Untuk menggambarkan iman dan hidup Kristen yang berpusat pada Kristus, Matius memberikan tiga contoh mujizat kesembuhan dimana ketiganya merupakan mujizat yang kontroversial dan sangat dibenci oleh orang Yahudi (Mat. 8:1-34). Contoh pertama yang diangkat oleh Matius adalah kisah orang yang sakit kusta. Orang Yahudi sangat membenci orang yang sakit kusta melebihi pemungut cukai atau perempuan pelacur yang tidak bermoral bahkan penjahat yang hendak dihukum mati karena sakit kusta dianggapnya sebagai kutukan dari Tuhan sebagai akibat dari perbuatan dosanya. Tidak hanya secara fisik saja orang yang sakit kusta ini mengalami kesakitan yang luar biasa tetapi secara mental juga, ia harus dibuang dan diasingkan dari masyarakat dan keluarga dan ia harus berteriak, “Najis, najis“ supaya orang lain tahu bahwa ia sakit kusta dengan demikian orang lain dapat segera pergi menjauhinya. Namun Sang Raja yang berdaulat berkenan menjamah dan melakukan mujizat atas dirinya. Ingat, mujizat Allah dikerjakan bukan atas dasar keinginan manusia melainkan karena Allah yang berdaulat.

Orang kusta ini menunjukkan sikap yang indah, dia tahu siapa Kristus dimana sang Tuan ini mampu menyembuhkannya meski demikian tidak pernah sedikit pun ia memaksakan kehendaknya, yaitu supaya ia disembuhkan. Hal ini terbukti dari perkataan yang keluar dari mulutnya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“ (Mat 8:2). Orang kusta ini begitu rindu untuk dapat berelasi dengan Kristus sang Raja. Sebagai anak Tuhan, biarlah kita juga mempunyai kerinduan:

1. Jamahan Tangan Tuhan

Diantara orang banyak yang mengikut di belakang-Nya dan orang kusta di depan-Nya, Yesus berada di tengah di posisi yang sangat krusial. Kalau kita yang berada pada situasi tersebut, tentunya kita tidak akan mendekati orang kusta yang sangat dibenci oleh orang Yahudi yang menjadi pendukung kita karena akibatnya mereka akan meninggalkan kita. Dan benar, orang Yahudi yang melihat tindakan Yesus tersebut menjadi marah meskipun kekesalan mereka tidak nampak sebab mereka menganggap tindakan Yesus adalah melawan konsep hukum dan tradisi Yahudi. Secara fenomena, mereka mengikut Kristus namun sesungguhnya mereka bukanlah pengikut Kristus yang sejati sebab mereka tidak mau taat pada Kristus yang seharusnya menjadi Tuan atas hidup kita. Orang hanya mau hal-hal yang menyenangkan saja dari Tuhan Yesus, seperti berkat, mujizat, penyertaan Tuhan, dan lain-lain. Sebaliknya ada orang kusta, orang yang dipandang hina dan dianggap berdosa ini justru yang paling mengerti siapa Kristus yang sesungguhnya. Manusia sangat suka kalau yang supranatural mempengaruhi natural dan sekaligus tidak suka kalau yang supranatural mempengaruhi yang natural. Ketika manusia berurusan dengan Kristus, manusia tahu kalau Yesus adalah Supranatural, Dia adalah Anak Allah yang mempunyai kedaulatan kuasa supranatural. Jadi sebenarnya orang itu mau/tidak kalau kuasa supranatural tersebut menguasai hidup kita? Disini kita melihat liciknya hati manusia. Ketika manusia dalam kesusahan sakit penyakit, manusia ingin yang Supranatural itu menyembuhkan. Tentu saja Supranatural mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dan mustahil kalau yang natural dapat menggagalkan yang Supranatural karena secara ordo, natural berada di bawah yang Supranatural. Namun ketika yang Supranatural memerintahkan kita untuk pergi memberitakan Injil di pelosok desa maka si natural tidak akan suka. Bukankah hal ini sama persis seprti orang Yahudi yang mengikut di belakang Yesus? Mereka hanya mau mujizat, berkat dan pengajaran yang bagus tapi mereka tidak mau taat karena itu tidak ada satupun dari mereka yang dijamah oleh Tuhan Yesus.

Orang Yahudi takut dirinya menjadi najis dan berdosa kalau bersentuhan dengan orang kusta namun Tuhan Yesus berbeda, Dia yang Maha Suci menjamah orang kusta yang najis dan menjadi tahir. Inilah kuasa Kristus yang dikerjakan di tengah dunia. Selama kita hidup sebagai orang Kristen, pernahkah engkau dijamah oleh Tuhan? Tangan Tuhan hanya menjamah anak-Nya yang sejati saja, yaitu mereka yang tunduk di bawah kaki Yesus. Menjadi warga Kerajaan Sorga bukan berarti kita dapat melakukan tawar menawar dengan Tuhan justru sebagai warga Kerajaan Sorga kita harus taat mutlak pada hukum Kerajaan Sorga dan senantiasa menantikan jamahan Kristus untuk memperbaharui hidup kita. Warga Kerajaan Sorga sama dengan hamba Kerajaan Sorga. Sikap seorang hamba ini ditunjukkan oleh orang kusta ini yang memanggil Kristus dengan sebutan Tuan: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“.

2. Jiwa Seorang Budak

Tuhan tahu bagaimana mengambil langkah yang tepat ketika Dia berada pada posisi yang krusial dengan demikian hal ini menjadi teladan bagi kita. Raja di atas segala raja menyatakan kedaulatan-Nya: “Aku mau, jadilah engkau tahir“ dalam bahasa aslinya hanya 2 kata, yakni: mau dan tahirlah. Ungkapan “Aku mau“ menunjukkan seluruh totalitas hidup Kristus. Andai kita ditempatkan di tempat demikian siapakah yang akan lebih kita pentingkan, pendukung kita ataukah orang yang sakit kusta? Saat berada pada situasi yang sulit biasanya orang takut menyatakan identitas dirinya akibatnya kita salah mengambil keputusan dan menjadi orang yang munafik. Orang takut kalau dirugikan maka tidaklah heran kalau orang lebih takut pada massa dan orang-orang yang berkuasa daripada pada Tuhan akibatnya dengan segala cara manusia mencoba sedapat mungkin untuk “melintir“ bahkan berani memakai istilah rohani.

Bukanlah hal yang mudah bagi seorang yang kusta untuk bisa sampai di depan Tuhan Yesus. Orang kusta ini tentu tahu kalau Tuhan Yesus adalah Guru Besar yang dielu-elukan banyak orang dan itu berarti ia telah siap dengan segala resiko bahkan ia siap andai sekalipun harus berkorban nyawa. Kalau saat itu Kristus plin plan, tentu nyawa si orang kusta ini tidak akan selamat sebaliknya Yesus sebagai Raja berada di posisi yang sangat sulit. Yesus harus mengambil keputusan dengan tepat, yakni membela si kusta dengan resiko ditinggalkan oleh pendukung-Nya ataukah memilih pendukung-Nya dan mengabaikan si kusta. Apa yang akan anda lakukan kalau anda berada pada situasi demikian? Sebagai anak Tuhan, beranikah kita menyatakan kebenaran? Ingat, kita adalah budak yang harus taat pada sang Kebenaran maka kita harus berani menyatakan kebenaran meski untuk itu mungkin kita akan dibenci dan dimusuhi, kita akan ditinggalkan oleh teman bahkan saudara kita. Sayang, hari ini banyak orang Kristen yang takut mengalami kerugian dan justru membiarkan Kristus dihancurkan. Menjadikan Kristus sebagai Tuan dalam hidup kita itu berarti memperhambakan diri dan kita harus taat pada Kristus yang menjadi Tuan kita dan kita harus siap dengan segala resiko sebagai seorang hamba.

Salah satu penyebab rusaknya konsep manusia tentang pekerjaan adalah karena konsep tentang tatanan kerja sudah dirusak. Perhatikan, tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menentang perbudakan sebab hubungan tuan dan budak menggambarkan hubungan Tuhan dengan umat-Nya. Namun Alkitab dengan tegas melawan tuan yang jahat sebab tuan yang jahat berarti mempermainkan posisi Tuhan sebagai Tuan. Orang yang bekerja dan tidak mempunyai jiwa budak maka seluruhnya hidupnya akan mengalami kesulitan. Bukanlah hal yang mudah mengembalikan  supaya orang mempunyai jiwa budak apapun posisinya, baik sebagai pekerja maupun atasan. Tanggung jawab seorang tuan adalah memperhatikan dan menjamin hidup budaknya sebaliknya tanggung jawab seorang budak adalah mengerjakan seluruh pekerjaan yang diperintahkan oelh tuannya. Alangkah indah relasi tuan – budak kalau setiap tuan dan budak tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Alkitab mencatat orang Israel tidak suka ketika Tuhan menjadi Tuan atas hidup mereka. Orang Israel justru ingin supaya raja dunia memerintah atas mereka. Akibatnya mereka mengalami berbagai macam kesulitan bahkan sampai detik ini tidak bisa dipulihkan. Betapa indah dan nyamannya berada dalam pemeliharaan Tuhan, hidup yang tidak terikat oleh uang. Sayang, manusia tidak suka dengan jawaban: Aku mau. Manusia tidak suka tunduk di bawah kehendak Kristus. Apakah itu jiwa seorang anak Tuhan sejati? Bukan! Itu adalah jiwa seorang pemberontak. Kalau kita bekerja dengan jiwa seorang budak maka kita akan mencapai kualitas kerja tertinggi dengan beban terendah.Kkita harus men-Tuhankan Kristus, Lordship of Christ dan kita adalah hamba-Nya itu berarti semua hak milik kita serahkan ke dalam tangan Tuhan. Biarlah hal ini terimplikasi dalam setiap hidup kita dengan demikian dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kristus telah memberikan teladan sempurna bagi kita; Dia adalah Tuan pemilik alam semesta namun Ia rela memperhambakan diri-Nya: “Bapa, bukan kehendak-Ku yang jadi melainkan kehendak-Mu sajalah yang jadi“.

3. Kesembuhan Rohani

Tuhan Yesus berkata,“ Aku mau, tahirlah engkau.“ Tahir berasal dari kata katarizo (bhs. Yunani). Di satu pihak ucapan Tuhan Yesus menggambarkan otoritas yang begitu besar namun di pihak lain menggambarkan cinta kasih yang begitu besar. Matius mengambil contoh pertama adalah seorang kusta karena Matius ingin mengungkapkan bahwa menjadi pengikut Kristus harus dibersihkan bukan sekedar sembuh. Matius tidak banyak membicarakan aspek kesembuhannya melainkan aspek pentahirannya. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menegaskan supaya orang kusta tidak memberitahukan tentang kesembuhannya kepada siapapun melainkan ia harus pergi kepada imam dan mempersembahkan persembahan. Hal ini merupakan salah satu peraturan dari hukum Taurat. Perhatikan, dunia sekarang justru terbalik, hal yang mestinya dilakukan malahan tidak dilakukan tapi hal yang tidak boleh dilakukan malahan itu yang dikerjakan. Orang sakit kusta yang najis dan kotor ini bukan sekedar disembuhkan tapi dimurnikan.

Jangan merasa diri baik kalau Tuhan berkenan menjadikan kita hamba-Nya. Tidak! Seorang hamba adalah seorang yang mau dimurnikan oleh Kristus untuk dikembalikan menjadi seperti gambar dan rupa Allah. Sebagai orang Kristen, seberapa jauhkah hati kita mempunyai kerinduan selalu disucikan oleh Kristus? Janganlah kita menjadi pengikut Kristus karena hanya mau berkat dan penyertaan-Nya saja namun hendaklah kita menyadari bahwa kita hidup membutuhkan anugerah Tuhan untuk menyucikan kita dari dosa dan hendaklah kita senantiasa mempunyai kerinduan untuk selalu diperbaharui oleh-Nya. Apalah artinya kita menjadi Kristen dan apalah artinya kita rutin ke gereja setiap Minggu kalau hidup kita tidak diproses menjadi seorang yang mempunyai jiwa hamba yang taat pada Kristus dimana seluruh hidup kita diabdikan hanya untuk Kristus. Sebagai hamba dari Kebenaran maka kita harus mempunyai keberanian menyatakan kebenaran di tengah dunia yang rusak. Ingat, seorang anak Tuhan sejati yang takut pada Tuhan tidak akan pernah takut pada siapapun; anak Tuhan sejati hanya takut kalau nama Tuhan yang dipermalukan. Inilah jiwa seorang hamba sejati.

Jangan pernah berpikir dunia ke belakang akan bertambah enak. Tidak! Hidup semakin hari bertambah sulit dan tantangan semakin besar. Orang Kristen sejati harus mempunyai jiwa dan semangat berjuang melewati segala kesulitan dan tantangan dunia dan percayalah Tuhan pasti akan menolong dan beserta kita. Orang Kristen yang lari dan hanya menangis ketika kesulitan datang tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Seperti halnya sekolah bukankah semakin hari semakin berat. Jamahan Kristus atas orang kusta ini membuat ia lebih bersih dari orang-orang yang ada di belakang Yesus yang tidak pernah mendapat jamahan Kristus. Hanya bersandar pada Tuhan sajalah maka kita dapat kuat semua menghadapi kesulitan. Biarlah setiap saat kita mendapat jamahan Kristus dan setiap saat kita mendengar Tuhan Yesus berkata, “Aku mau“ dan setiap saat kita juga rindu dimurnikan oleh Kristus. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20041128.htm

Eksposisi Injil Matius 8 : THE KINGDOM AND THE ACTION-1 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, July 5th, 2006

Eksposisi Injil Matius 8

Ringkasan Khotbah : 21 November 2004

The Kingdom & the Action (1)

Nats: Mat. 8:1-4

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita sudah memahami bahwa Injil Matius bukan ditulis secara kronologi tetapi secara tematik, yaitu Kristus Sang Raja dari Kerajaan Sorga itu datang untuk menggenapkan kerajaan-Nya di tengah dunia dan Kerajaan Sorga itu dimulai dari biji sesawi dan kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang di dalamnya, King and the Kingdom. Untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di dunia, Sang Raja itu tidak bekerja seorang diri saja. Sang Raja itu mulai merekrut orang-orang untuk dijadikan-Nya sebagai pekerja di dalam Kerajaan Sorga, the Kingdom and the Workers. Cara Kristus merekrut orang berbeda bahkan berlawanan dengan konsep manusia berdosa namun kita melihat bahwa orang-orang yang Tuhan pilih justru “jadi“ dalam arti mereka berhasil padahal latar belakang sangatlah dihinakan orang. Umumnya sebuah Kerajaan maka Kerajaan Sorga pun mempunyai hukum atau undang-undang yang disebut sebagai hukum Kerajaan Allah yang dipaparkan oleh Sang Raja dalam beberapa khotbah-Nya di atas bukit, the Law of the Kingdom. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat pada undang-undang Kerajaan Sorga, orang yang tidak mau taat berarti pemberontak dan konsekuensinya ia harus dikeluarkan dari statusnya sebagai warga Kerajaan Sorga. Sama seperti halnya malaikat yang tidak mau taat, ia memberontak maka ia dibuang dalam penghukuman kekal dan menjadi iblis. Ini merupakan sistem dan prinsip dari hukum Kerajaan Allah. Karena itu Matius pasal 5–7 dimaksudkan untuk menata wawasan berpikir supaya ketika kita melihat dan menilai segala sesuatu dari sudut pandang hukum Kerajaan Allah.

Setelah kita mengerti prinsip hukum Kerajaan Allah maka kini kita masuk dalam bagian implikasi, yaitu bagaimana menjalankan prinsip hukum tersebut dalam kehidupan praktis dengan demikian prinsip tersebut tidak sekedar menjadi pengetahuan kognitif belaka. Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menjalankan hukum Kerajaan Allah meskipun secara garis besar, isi dari hukum tersebut telah kita mengerti sehingga ada kesenjangan antara teori dan praktek. Namun Alkitab mencatat Kristus Sang Raja itu tidak hanya sekedar berteori tetapi Ia sendiri memberikan teladan pada kita bagaimana menerapkan hukum tersebut dalam kehidupan praktis sehari-hari. Matius mencatat setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (Mat. 8:1), banyak teolog yang menafsirkan bahwa orang banyak yang berbondong-bondong itu adalah orang yang sama yang mendengar khotbah Yesus di atas bukit yang mengajarkan prinsip-prinsip Kerajaan Sorga, yakni karena orang banyak itu mengerti prinsip Kerajaan Sorga yang berkualitas dan berbeda dengan yang diajarkan oleh ahli Taurat. Pendidikan Kerajaan Sorga bukan hanya sebatas teori saja tapi harus diimplikasikan dan implikasi ini menuntut kualitas yang tinggi.

Dunia tidak akan pernah membangun prinsip yang dia sendiri tidak mungkin dapat melakukannya maka satu-satunya cara supaya dapat menjalankan prinsip yang dunia ajarkan adalah dengan membangun prinsip sedemikian rupa yang sekiranya sesuai dan dapat dunia lakukan. Salah! Hal itu justru semakin merendahkan prinsip kualitas kerja kita. Yang benar dan yang seharusnya kita lakukan adalah justru membangun konsep berdasarkan prinsip Kerajaan Sorga yang tinggi lalu hidup kita yang ditata sedemikian rupa supaya dapat memenuhi tuntutan kualitas tersebut. Jadi, kualitas hidup kita naik bukannya menurun; kita dituntut untuk bertumbuh dan membuang semua konsep kita yang salah untuk kembali pada kebenaran Firman. Implikasi iman ini disusun oleh Matius dengan sangat indah (Mat. 8:1– 9:34). Dalam hal ini kurang jelas siapa yang menyusun Injil Matius apakah Matius ataukah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) hingga setiap pasal dapat tersusun sedemikian rupa dengan indahnya namun saya yakin semua ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Seperti kita ketahui tulisan asli Alkitab berupa tulisan murni seperti layaknya sebuah surat, tidak ada judul maupun angka-angka yang menandai adanya ayat atau pasal. Kalau kita perhatikan maka bukan suatu kebetulan kalau Matius pasal 8 dan pasal 9 sama-sama terdiri dari 34 ayat dan sama-sama terdiri dari dua tema.

Tema Matius pasal 8, yaitu: 1) Lordship, yaitu Kristus sebagai pusat yang diungkapkan dalam tiga mujizat (ayat 1–17), 2) Disciplership bagaimana menjadi pengikut Kristus, (ayat 18–34). Tema Matius pasal 9, yaitu: 1) Comitmen, bagaimana kita memilih dan berkomitmen dengan benar di antara banyaknya pilihan yang ditawarkan (ayat 1–17), 2) Faith, bagaimana beriman sejati di dalam keseluruhan totalitas (ayat 18–34). Dan bukan suatu kebetulan juga kalau setiap satu tema ada tiga contoh kejadian dimana setiap kejadian tersebut bukanlah kejadian yang terjadi secara berurutan. Semuanya itu pasti karena Tuhan yang turut campur tangan dan juga tidak lepas dari latar belakang kehidupan Matius sebelumnya sebagai seorang pemungut cukai yang selalu berpikir sistematis sehingga Injil Matius dapat terstruktur dengan indah dengan demikian si pembaca dituntun dengan tepat bagaimana seharusnya mengerti mujizat dalam konsep Kristologi, yaitu mujizat merupakan implikasi dari hukum Kerajaan Sorga yang turun ke dunia dan bagaimana sikap manusia yang benar terhadap Sang Raja. Berbeda dengan dunia hanya mengerti mujizat secara antropologi humanis yang berdosa.

Si pembaca juga jadi mengerti bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan beriman dengan demikian orang jadi mengerti bahwa ajaran Kristus bukan hanya sekedar teori yang sulit dijalankan. Tidak! Hukum Kerajaan Sorga ternyata dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan itu membutuhkan pendobrakan total karena konsep kita yang salah selama ini kita menganggapnya sebagai konsep Kristen padahal sesungguhnya adalah konsep antropologis humanistik. Pada sub tema yang pertama dari Injil Matius ini kita akan membahas secara lebih mendalam karena di dalamnya mengandung prinsip penting yang perlu kita perhatikan itulah sebabnya Matius meletakkan ayat ini di bagian pertama. Perhatikan, pada ayat pertama dan kedua sangatlah kontras. Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia; orang banyak di situ pastilah juga ada orang Yahudi. Matius tidak menyebut mereka sebagai murid karena nantinya terbukti kalau ternyata mereka bukan murid sejati tetapi hanya sekedar pendukung Yesus sebab mereka tahu Yesus dapat membuat mujizat. Mujizat seharusnya menjadikan kita memahami bahwa:

1. Yesus adalah Raja yang Berotoritas

Matius ingin menunjukkan kalau Kristus adalah Raja dengan banyaknya pengikut di belakang Dia yang mengiringi kedatangan-Nya. Dan Matius memang sengaja mengontraskan hal tersebut dengan kedatangan seorang sakit kusta yang datang di depan-Nya. Pada jaman itu, sakit kusta sama dengan vonis mati karena tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkan penyakit kusta dan orang juga menganggap kalau sakit kusta merupakan kutukan dari Tuhan sebagai akibat banyaknya dosa yang telah ia perbuat. Dan orang yang sakit kusta harus diasingkan dan dijauhkan dari keluarga. Seorang Raja turun bukit dan di belakangnya diikuti dengan ribuan pendukung namun didepannya ada seorang yang sakit kusta dimana ribuan orang tersebut sangat membenci orang yang sakit kusta tersebut. Bayangkan, andai kita yang menjadi Rajanya saat itu, apa yang akan kita lakukan? Memilih ribuan orang yang menjadi pendukung kita ataukah memilih orang yang sakit kusta dengan konsekuensi ditinggalkan oleh ribuan pendukung? Disini Kristus dihadapkan dengan ajaran-Nya sendiri yang mengajarkan hukum cinta kasih. Posisi ini sangat krusial sekali, Matius ingin membukakan pada kita siapa Kristus? Kejadian yang hampir sama ini pernah juga dialami oleh Petrus di Galatia dimana Petrus sangat baik bersekutu dengan orang non Yahudi seperti orang-orang Yunani dan lain-lain namun setelah orang Yahudi datang maka Petrus mulai menjauhi mereka dan bersekutu dengan orang Yahudi sehingga Paulus menegur Petrus dengan keras.

Alkitab mencatat Tuhan Yesus memilih orang sakit kusta itu, Ia menghampiri dan menjamahnya. Injil Matius membukakan satu hal pada kita bahwa ternyata semua hal yang tidak disuka oleh orang Yahudi justru disanalah Tuhan Yesus melakukan mujizat. Dari doanya orang Yahudi, kita tahu bahwa orang Yahudi sangatlah rasialis dan melecehkan posisi wanita, genderisasi karena itu Matius mengangkat kisah seorang berdosa seperti orang sakit kusta, kisah seorang kafir seperti hamba seorang perwira di Kapernaum dan kisah seorang perempuan, yaitu ibu mertua Petrus untuk dituliskan dengan demikian dapat mengubah konsep mereka yang salah. Ingat, Yesus melakukan mujizat bukan demi supaya orang banyak mengikut Dia. Tidak! Kristus adalah Raja maka Dia berkuasa melakukan apapun sesuai keinginan-Nya termasuk menyembuhkan orang sakit kusta itu dan tindakan Kristus sangatlah tepat. Jadi, mujizat seharusnya menyadarkan kita akan siapa sesungguhnya Kristus, yaitu Dia adalah Raja di atas segala raja maka Dia berhak melakukan apapun. Tuhan tahu apa yang ada di pikiran orang banyak itu dan apa yang menjadi keinginan mereka karena itu Tuhan tidak langsung suka ketika orang banyak berkata, “Guru, aku mau mengikut Engkau.“ Tuhan pasti menanyakan apa motivasi mereka mengikut sebab serigala punya liang, burung di udara ada sarangnya tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Itu artinya Tuhan tidak memberikan sesuatu seperti yang manusia harapkan. Masih banyak lagi pernyataan Tuhan Yesus ketika ada orang yang mau mengikut Dia tapi ia mau menguburkan orang tuanya dulu barulah kemudian ia mengikut. Tuhan langsung menegur dengan keras. Kristus menegaskan bahwa barangsiapa mau mengikut Dia maka ia harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat mutlak pada otoritas Sang Raja.

2. Yesus adalah Tuhan Pemberi Mujizat

Mujizat merupakan intervensi dari luar yang bersifat supranatural dan sukar dimengerti logika manusia. Bayangkan, hanya dijamah saja oleh Tuhan Yesus, borok yang ada di sekujur tubuhnya menjadi sembuh dan ia menjadi tahir. Berbeda kalau pengobatan itu dilakukan secara natural, yaitu dengan obat-obatan maka orang yang sakit dapat disembuhkan. Itu berarti supranatural tingkatnya lebih tinggi dari yang natural. Tapi manusia berdosa lebih suka kalau yang supranatural itu menguasai yang natural sebaliknya ia tidak suka pada pribadi si supranatural itu sendiri. Orang lebih suka kalau yang supranatural ini turut campur tangan ketika orang dalam kesusahan berbeda halnya kalau orang dalam keadaan sehat dan kaya maka orang benci kalau disuruh tunduk pada yang supranatural tersebut, orang ingin mengatur Tuhan supaya menuruti semua yang menjadi keinginannya. Dengan alasan beriman, orang yang memaksa Tuhan supaya melakukan mujizat. Siapa yang sesungguhnya berhak melakukan mujizat? Tuhan ataukah manusia?

Seorang manusia berdosa pasti tidak akan dapat melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang sakit kusta yang datang sujud menyembah Dia. Sebab menyembah manusia sama dengan menyembah berhala dan bangsa Israel sudah merasakan akibat dari penyembahan berhala, yaitu mereka berada dalam masa pembuangan selama kurang lebih 80 tahun. Bukankah Tuhan Yesus mati karena Ia dituduh mengaku sebagai anak Allah? Hal ini menunjukkan kalau orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah anak Allah. Jiwa seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak Tuhan sejati. Matius mengangkat cerita ini dan ditaruh di bagian pertama supaya menjadi refleksi bagi kita, apakah benar kita seorang anak Tuhan sejati ataukah hanya memanipulasi Kekristenan demi untuk keuntungan diri sendiri dengan menaruh Tuhan di posisi bawah. Bukan hal yang biasa bagi orang Yahudi menyembah hingga kepala menyentuh ke tanah maka dapatlah dibayangkan bagaimana reaksi orang banyak itu ketika melihat kejadian ini. Orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah Allah dan  kini, Sang Raja menunjukkan siapa diri-Nya karena itu Ia tidak menolak ketika orang kusta itu menyembah diri-Nya.

Orang kusta ini juga mempunyai konsep teologis yang benar, hal ini terbukti dari perkataannya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“. Orang kusta ini tahu pasti bahwa Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan namun ia berbeda, ia tidak memanipulasi kuasa itu sebaliknya ia tunduk di bawah kuasa Kristus. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang selalu memutarbalikkan fakta seperti halnya ketika ia mencobai Yesus di padang gurun: Jika Engkau Anak Allah… Kalau Yesus menuruti perkataan iblis maka itu berarti posisi iblis lebih tinggi dari Yesus padahal iblis yang seharusnya tunduk di bawah Yesus, Raja di atas segala raja. Berbeda dengan orang kusta ini, ia tidak meragukan sedikitpun posisi Kristus sebagai Tuhan. Orang yang beriman sejati tahu siapa yang menjadi Tuan dalam hidupnya. Konsep ini sudah ada sejak Perjanjian Lama, sebagai contoh teman-teman Daniel tidak takut meski mereka dihadapkan pada hukuman kematian kalau tidak mau menyembah pada raja yang berkuasa pada jaman itu. Hari ini justru terbalik, orang baru mau mengikut Yesus kalau ia diuntungkan. Melalui mujizat Matius membukakan pada kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan manusia yang harus tunduk di bawah kuasa Yesus.

Yesus telah memberikan teladan indah pada kita bahwa hukum Kerajaan Allah itu bukan hanya sekedar teori tapi dapat kita jalankan. Kiranya hal ini boleh menguatkan iman kita dan memberikan keberanian pada kita sehingga iman kita tidak menjadi goyah ketika menghadapi berbagai tantangan dari dunia.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2004/20041121.htm