Archive for August, 2006

Eksposisi Injil Matius 8 :THE ATTITUDE OF THE TRUE FOLLOWER (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Tuesday, August 29th, 2006

Eksposisi Injil Matius 8

Ringkasan Khotbah : 6 Februari 2005

The Attitude of the True Follower

Nats: Mat. 8:18-21

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kristus adalah Tuhan dan Guru yang Agung maka sudah sepatutnyalah kalau setiap orang mengikut dan menjadi murid-Nya dan Tuhan Yesus telah memberikan teladan indah bagaimana menjadi seorang murid sejati, the true follower. Kristus bukan sekedar berteori tetapi Dia menjalankan teori yang Ia ajarkan tersebut dalam kehidupan-Nya. Untuk menjadi seorang pengikut Kristus sejati, pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu akan esensi seorang murid sejati maka kita harus mengubah konsep berpikir atau paradigma yang salah dan kembali pada kebenaran, yaitu:

Pertama, mengarahkan pandangan mata kita hanya kepada kehendak Tuhan. Pada umumnya, saat masalah datang, manusia selalu memandang ke bawah akibatnya kita selalu melihat dan merasakan kesulitannya saja sebab kita telah terjepit oleh kondisi. Berbeda halnya kalau kita memandang pada Tuhan maka percayalah, bersama Tuhan, segala kesulitan tersebut dapat kita lewati sebab kita tahu bahwa semuanya itu sudah menjadi kehendak Tuhan dan demi untuk kemuliaan nama-Nya.

Kedua, menguji hati apakah kita mempunyai motivasi yang bersih. Orang lain tidak tahu apa motivasi kita sebab ada kemungkinan sepertinya kita mempunyai motivasi rohani namun sesungguhnya di balik motivasi yang “rohani“ itu ada motivasi duniawi yang mengikut di belakangnya. Sebagai contoh, banyak orang Kristen yang “katanya“ sedang melakukan pelayanan misi, yaitu memberitakan Injil ke daerah namun sesungguhnya motivasi mereka bukanlah mengabarkan Injil tapi rekreasi. Alkitab mengajarkan seorang murid sejati haruslah mempunyai motivasi murni, yaitu segala sesuatu yang kita kerjakan adalah untuk Tuhan bukan untuk manusia.

Ketiga, mempersiapkan hati untuk segala kemungkinan yang terburuk yang mungkin terjadi, prepare for the worst. Kalau kita tidak mempunyai kesiapan hati maka saat kesulitan itu datang, kita akan pergi dan meninggalkan Tuhan. Mengikut yang dimaksud oleh Tuhan Yesus adalah mengikut yang selama-lamanya bukan sekedar mengikut ketika keadaan menyenangkan saja.

Setelah kita memahami dan memiliki jiwa seorang murid dengan paradigma yang baru, pertanyaannya kini bagaimana hal itu termanifestasi dalam tindakan kita. Hati-hati, setiap tindakan kita merupan cerminan dari konsep berpikir atau paradigma kita, apakah kita mempunyai paradigma salah atau benar. Kalau Matius hanya mengambil dua contoh orang yang mengikut Kristus, yaitu ahli Taurat dan murid Kristus sendiri maka itu bukan berarti yang mau menjadi murid Kristus hanya dua orang itu saja. Tidak! Mengingat banyaknya mujizat yang Yesus lakukan maka hari itu pastilah banyak orang yang hendak mengikut Kristus namun baik Matius maupun Lukas tidak mencatat semua sebab memang, tujuannya bukan mencatat detail tetapi mereka ingin supaya pembaca melihat apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengerti ada apa dibalik kejadian tersebut.

Alkitab tidak mencatat apakah si ahli Taurat ini bertobat dan mengikut ataukah meninggalkan Tuhan Yesus dan Alkitab juga tidak mencatat apakah si murid ini mengerti akan penjelasan Yesus dan kemudian memutuskan untuk mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh atau meninggalkan Yesus. Kenapa Alkitab tidak mencatat? Beberapa penafsir beragumen kita tidak perlu mencari kenapa sebab memang bukan tentang kenapa tetapi Matius ingin mengajak pembaca masuk ke dalam pilihan sikap. Tuhan Yesus tidak menunjukkan sikap senang ketika ada seorang ahli Taurat yang hendak berniat menjadi murid-Nya. Tidak! Tuhan Yesus justru memberikan pilihan yang menuntut suatu keputusan, yakni serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20). Keputusan setiap orang pastilah tidak sama bahkan orang Kristen yang mendengar kalimat inipun belum tentu menghasilkan reaksi yang sama. Sebagian orang mungkin memutuskan untuk ikut namun sebagian orang mungkin memutuskan tidak mau mengikut Yesus.

Jadi, kalimat ini kembali kepada pribadi setiap kita, bagaimana paradigma yang benar yang Tuhan Yesus sudah teladankan tersebut terimplikasi pada setiap kita. Bagaimana menjadi seorang pengikut Kristus sejati? Ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan:

1. Total Service

Sebagai hasil dari paradigma yang diubahkan maka pengikut Tuhan Yesus haruslah mempunyai sikap pelayanan yang sepenuh hati, total service. Hal inipun sangatlah disadari oleh dunia khususnya dalam dunia kerja, dengan segala cara perusahaan akan mengusahakan supaya pekerjanya berjiwa loyal pada perusaahaan dengan demikian perusahaan yang diuntungkan. Bahkan beberapa perusahaan tertentu menggunakan prinsip meditasi new age untuk memotivasi para pekerjanya. Dunia melihat secara pragmatis, untuk sesaat memang kelihatan hebat namun dunia tidak memahami bahwa pertumbuhan yang cepat tanpa pondasi yang kuat berakibat kehancuran. Dunia tahu pentingnya total service namun ironisnya orang Kristen tidak tahu bagaimana melayani Tuhan dengan total service. Tuhan Yesus sudah membukakan realita bahwa mengikut Dia menuntut suatu total comitment, jangan mengharapkan keuntungan dari Kristus. Mengikut Kristus berarti kita turut melakukan pekerjaan dahsyat dan mulia karena itu, Kristus menuntut sikap pelayanan yang sepenuh hati.

Semangat materialisme telah mencengkeram pikiran kita, maka sesungguhnya, orang bukan total komitmen pada perusahaan tapi pada uang akibatnya kalau ada perusahaan lain yang memberikan tawaran lebih besar maka ia akan pindah ke perusahaan lain. Begitu juga dengan pelayanan kita, banyak orang yang giat dan semangat melayani tapi sesungguhnya komitmen hidupnya diserahkan pada mamon. Seluruh hidupnya diserahkan pada uang. Betapa celakanya, manusia yang hidupnya dibelenggu dengan setan. Pertanyaannya ketika Tuhan Yesus mengatakan serigala punya liang, burung punya sarang tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya, apakah itu berarti Tuhan Yesus sengaja mau membuat orang-orang yang mengikut Dia menjadi orang-orang yang papah? Apakah Tuhan Yesus tidak menghargai mereka, yaitu orang-orang yang telah melayani sesuai dengan apa mereka kerjakan? Tidak! Tuhan Yesus adalah Tuhan yang adil, Tuhan Yesus tahu bagaimana memberikan penghargaan. Uang yang diiming-imingi di depan itulah yang memacu manusia untuk maju seperti halnya anjing pacuan, greyhorne , bukankah anjing pacuan juga dipancing dengan makanan di depannya dengan demikian ia akan terus berpacu tapi sampai akhir toh ia tidak akan pernah mendapatkan apapun.

Kristus telah menebus kita dari dosa dengan darah-Nya ketika kita masih berdosa. Kristus telah memberikan penghargaan pada kita terlebih dahulu; Dia mengangkat kita dari lumpur dosa dan memberikan keselamatan pada kita. Orang kristen sejati seharusnya menyadari dan berespon dengan tepat akan anugerah Tuhan ini. Tuhan sudah berikan diri-Nya menjadi tebusan dan harganya sangat mahal. Hal ini seharusnya menjadikan kita gemetar ketika kita melayani; bagaimana kita melakukan yang terbaik untuk Tuhan sebab kita telah mendapat keselamatan. Orang yang mengerti anugerah seharusnya mengerjakan setiap tugas pelayanan yang Tuhan beri dengan sepenuh hati namun sangatlah disayangkan, banyak orang justru mempermainkan anugerah. Puji Tuhan, kalau Dia telah berkenan menebus  kita dari dosa, menyelamatkan kita dari kematian kekal dan menjadikan kita sebagai anak-Nya maka hendaklah hal itu menyadarkan kita bahwa darah Kristus sangatlah mahal, kita tidak akan mampu membayarnya, kita hanya dapat melayani Dia dengan sepenuh hati.

2. Single Authority

Kalimat Tuhan Yesus yang berkata: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka“ ini berarti bahwa menjadi pengikut Kristus berarti tidak boleh mengikut yang lain. Kata “mengikut“ dari bhs. Yunani, eltheim yang berarti mengikut selama-lamanya dan itu menjadi keputusan tunggal. Seorang yang telah diubahkan paradigmanya maka hatinya selalu terarah pada Kristus. Mengikut Kristus berarti kembalinya kita pada otoritas tunggal, yaitu Kristus sebagai pemegang otoritas tertinggi. Namun, manusia tidak suka kalau ada kuasa lain yang lebih tinggi dan berkuasa atas dirinya. Seiring dengan berkembangnya dunia maka konsep berpikir manusia pun juga mengalami pengembangan namun bersifat negatif sebab telah terdistorsi oleh berbagai macam pikiran filsafat. Akibatnya, manusia menjadi paranoid, orang akan sukar percaya pada orang lain sebab manusia takut ditipu. Bahkan orang yang mengaku dirinya mempunyai rasa percaya diri pun sesungguhnya tidaklah demikian. Pertanyaannya sekarang apakah diri sendiri bisa dipercaya? Tidak! Sebab diri sendiri pun sedang mencari-cari rasa percaya itu. Sebagai contoh, ketika diri meyakini sesuatu sebagai kebenaran pertanyaannya apakah sesuatu itu merupakan kebenaran sejati sehingga keyakinan kita tidak akan salah? Sayangnya, itu bukanlah kebenaran sejati karena selama kita belum tahu salah maka hal tersebut dianggap sebagai kebenaran. Bayangkan, kalau setiap hal yang ia yakini ternyata kedapatan salah maka orang menjadi skeptis, akibatnya segala sesuatu yang  ia anggap benar itulah kebenaran. Sikap skeptis ini meluas hingga ke seluruh dunia, dunia menjadi anti kepercayaan dan anti otoritas. Ketika manusia sudah sampai pada titik puncak skeptik maka saat berhadapan dengan Tuhan, maka Tuhan pun tidak ia percaya lagi. Bersama-sama dengan Frederich Engels, Karl Max membuat manifesto komunisme dan mencetuskan ekonomi kapitalisme namun dunia akhirnya sadar kalau paham komunisme justru tidak membuat orang menjadi kaya bersama-sama tetapi sebaliknya orang menjadi miskin bersama. Orang menjadi kecewa ironisnya kekecewaan tersebut ditumpahkan pada Tuhan. Hati-hati ketika orang berpikir, dirinya mampu maka itu menjadi titik kehancurannya.

Hendaklah kita sadar bahwa kita harus kembali kepada Tuhan sebagai single authority yang mengontrol hidup kita sebab tidak ada siapapun atau apapun di dunia ini yang dapat memimpin dan mengarahkan hidup kita. Hal ini seharusnya menyadarkan kita, kita tidak perlu kuatir dan cemas akan hidup kita. Biarlah orang-orang “mati“ (arti: mati rohani) menguburkan orang-orang mati (mati jasmani) mereka. Ketika kita tahu apa yang menjadi prioritas hidup maka biarlah kita menjadi orang hidup yang hidup dalam pemikiran kita dan otoritas kita sehingga semua tindakan kita menjadi hidup. Dimanakah kita bisa mempunyai dinamika dan kehidupan seperti demikian? Jawabannya hanya satu, yaitu kalau kita hidup di dalam Kristus. Mengikut Kristus membutuhkan kesadaran bukan fanatisme tetapi ketaatan karena kita tahu siapa Kristus yang kita ikuti tersebut, yaitu Kristus yang telah menebus dan membayar kita dengan harga yang mahal, yaitu dengan darah-Nya dan itu telah lunas di bayar.

3. Kerelaan Hati

Yesus berkata, “Biarlah orang mati menguburkan orang-orang mati.“ Kalimat ini langsung memilah menjadi dua posisi dan menuntut keputusan dari kita, yaitu mengikut atau menolak. Hanya ada dua pilihan, tidak ada pilihan ketiga. Serigala punya liang, burung punya sarang, Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Kalau kita termasuk sebagai orang yang “hidup“ maka kita harus mengikut pada yang Kristus yang hidup, biarlah orang mati menguburkan orang yang mati. Kita dihadapkan pada pilihan, mau posisi yang hidup atau posisi yang mati? Ingat, kalau kita memilih mengikut pada “yang hidup“ maka ia akan membawa pada kehidupan, kalau kita memilih mengikut pada “yang mati“ maka ia akan membawa kita pada kematian. Sebab kedua hal ini terletak pada dua kutub yang berbeda sehingga terjadi kesenjangan yang saling tarik menarik maka hati-hati, dengan demikian kita tidak salah memilih. Namun bukan berarti antara hidup dan mati tidak saling berhubungan. Tuhan juga tidak mengajarkan anak-anak-Nya supaya hidup secara eksklusif, yaitu hanya hidup dengan sesama orang Kristen saja. Tidak! Tuhan justru memberikan amanat Agung supaya kita pergi mengabarkan Injil ke seluruh bangsa.

Tuhan ingin anak-anak-Nya mempunyai paradigma hidup yang diubahkan namun hal itu bukan berarti seorang anak Tuhan harus hidup terasing di dunia. Tidak! Tuhan justru menempatkan anak-anak-Nya di tengah-tengah kawanan serigala tapi ia haruslah tetap menjadi seekor domba dengan demikian ia menjadi terang dunia. Bagaimana anak Tuhan harus menjadi orang yang hidup di tengah-tengah orang mati tanpa kita diseret ke dalam kehidupan kematian. Inilah gambaran Kekristenan tentang discipleship of Christ. Sebagai murid Kristus yang sejati maka sikap murid seperti yang Tuhan Yesus teladankan itu harus terimplikasi dalam hidup kita sehari-hari dengan demikian hidup kita menjadi berkat bagi orang lain; orang disadarkan akan dosa dan bertobat. Biarlah sebagai murid Kristus sejati hendaklah kita mempunyai jiwa servanthood, pelayanan yang total, dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada otoritas Kristus yang tunggal  serta kerelaan untuk hidup dalam situasi yang bersifat kontras di tengah dunia.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2005/20050206.htm

Eksposisi Injil Matius 8 : THE START OF THE FOLLOWER (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Thursday, August 24th, 2006

Eksposisi Injil Matius 8

Ringkasan Khotbah : 16 Januari 2005

The Start of the Follower

Nats: Mat. 8:18-22

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Puji Tuhan, kita telah menyelesaikan bagian pertama dari implikasi Kerajaan Sorga, yaitu Kristus adalah Raja sekaligus Tuhan maka kita yang adalah budak-Nya harus men-Tuhankan Dia dalam hidup kita, the Lordship of Christ.  Matius membagi implikasi Kerajaan Sorga ini menjadi empat sub tema dan susunannya sangat unik, yaitu: setiap sub tema masing-masing terdiri dari 17 ayat dan di dalam sub tema tersebut masing-masing ada tiga contoh (Mat. 8:1-17; Mat. 8:18-34; Mat. 9:1-17; Mat. 9:18-34). Tuhan tidak pernah memaksa supaya orang men-Tuhankan Dia. Tidak! Iman sejati tidak dapat dipaksa. Iman sejati memberikan kekuatan pada orang sehingga dengan sadar ia mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan yang bertahta atas hidupnya. Berbeda dengan iblis, iblis tidak mempunyai kekuatan tersebut maka satu-satunya cara supaya orang mau menuruti perintahnya adalah dengan merasuk dan membelenggunya. Kalau manusia dapat menyembah Tuhan dengan tulus dan tanpa paksaan maka itu membuktikan satu hal, yaitu Kristus adalah Tuhan yang sejati.

Ketuhanan Kristus ini dinyatakan melalui tindakan-Nya yang justru oleh manusia dianggap kontroversial. Ingat, jangan samakan manusia dengan Tuhan; kalau secara logika, manusia pikir tidak mungkin maka justru sebaliknya, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil; yang manusia anggap baik justru sebaliknya menurut Tuhan tidaklah demikian. Cara Tuhan bekerja sangatlah unik bahkan jauh melampaui logika manusia dan sifatnya selalu berlawanan dengan konsep manusia berdosa. Jangan kenakan standar manusia pada Tuhan justru sebaliknya manusialah yang harus ikut dengan standar Tuhan. Setelah orang dibukakan dan memahami implikasi Kerajaan Sorga, yaitu the Lordship of Christ, kini, Kristus Tuhan menuntut suatu komitmen pada setiap orang yang menjadi warga Kerajaan-Nya, true disciplership. Matius memberikan tiga contoh yang kelihatannya bersambung dan berurutan namun kalau kita bandingkan dengan Injil yang lain maka ada beberapa perbedaan. Perbedaan ini disebabkan karena setiap penulis melihat Kristus dari dimensi yang berbeda seperti halnya Matius yang melihat Kristus sebagai Raja.

Kita dapat melihat bagaimana sikap atau reaksi: orang, alam/tatanan dunia dan iblis melalui tiga contoh yang ditulis oleh Matius. Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, perhatikan, Tuhan Yesus justru menyuruh para murid untuk bertolak ke seberang (Mat. 8:18). Seberang yang dimaksud di sini berarti konteksnya berada di tepi danau Galilea. Pertanyaannya kalau hari ini, kita yang dikelilingi oleh banyak orang, kita menjadi seorang selebritis, bagaimanakah reaksi kita? Seperti Tuhan Yesuskah atau kita malah menikmati situasi tersebut? Orang Yahudi sangat terkejut atas tindakan Tuhan Yesus tersebut sebab reaksi Kristus berbeda dengan manusia pada umumnya. Reaksi siapakah yang paling benar? Manusia berdosa tentu akan menjawab kalau sikapnyalah yang paling benar dan menyalahkan Tuhan Yesus. Pertanyaannya adalah siapakah manusia sehingga berani mengatur Tuhan Sang Pencipta alam semesta supaya menurut dengan cara dan konsep manusia? Ingat, cara Tuhan berbeda dengan cara manusia.

Sebagai warga Kerajaan-Nya, kita harus turut pada perintah Kristus, Tuhan Raja yang menjadi teladan hidup kita. Andai, Kristus menggunakan cara manusia ketika Ia menjalankan misi-Nya di dunia pastilah Ia akan sukses sebab saat itu Tuhan Yesus sudah sangat terkenal maka pastilah setiap hari ada banyak orang yang mau mengikut Dia. Tuhan Yesus berbeda, Ia tidak mudah larut dalam pujian manusia, Ia justru menjauh. Tuhan Yesus tahu apa motivasi mereka mengikut itulah sebabnya Tuhan menegur dengan keras ketika orang mau mengikut Dia (Luk. 9: 57-62). Ribuan orang Yahudi yang mengikut dan mau menjadi pengikut adalah bukti bahwa Tuhan Yesus telah mencapai prestasi yang begitu tinggi yang tidak dipunyai oleh guru-guru yang lain. Ajaran Tuhan Yesus berkualitas tinggi sehingga mereka menjadi takjub (Mat. 7:28). Reaksi yang ditunjukkan ini tidak wajar sebab orang Yahudi selalu merasa diri sebagai orang pandai dan bijaksana sehingga sulit tunduk pada orang lain. Jangan terjebak dalam konsep dualisme. Seorang Kristen yang saleh bukan berarti kita tidak boleh tenar atau outstanding. Tidak! Orang Kristen justru harus outstanding sebab itu menjadi citra Kekristenan dan hal ini telah diteladankan oleh Kristus sendiri. Kristus telah mencapai keunggulan dan nilai tertinggi yang tidak dapat dicapai oleh manusia manapun di dunia. Hanya dengan bersandar pada pimpinan Tuhan sajalah maka orang Kristen dapat mencapai kualitas tertinggi seperti yang Kristus teladankan. Orang Kristen yang skeptis, tidak mau mencapai kualitas itu berarti menghina Kekristenan. Semua kepandaian dan ketenaran kalau tidak di dalam Tuhan hanyalah kesia-siaan namun di sisi lain, janganlah terjebak masuk ke dalam ekstrim yang lain, yaitu kita menikmati hidup dalam keglamouran dan kita senang karena banyak orang yang memuja dan kita menikmati itu sebagai suatu pen-Tuhanan diri.

Seorang Kristen harus mengejar kualitas seperti yang telah Kristus teladankan dan kualitas inipun telah diakui oleh dunia bahkan orang yang menolak Kristuspun mengakui pengajaran Yesus adalah the golden rule. Memang, dalam berbagai aspek, Kekristenan mempunyai integritas, moralitas, nilai hidup dan harkat yang tinggi dan sebagai anak Tuhan kita seharusnya bangga akan tetapi janganlah kita menjadi lupa diri sebaliknya kita harus retret dan mengevaluasi diri. Manusia mudah sekali jatuh ke dalam dosa, manusia selalu ingin menjadi “Tuhan“. Raja yang Agung itu telah memberikan teladan indah dan bersifat paradoks – saat orang banyak memuja Dia, Yesus malah meninggalkannya. Cara Kristus bereaksi tentulah sangat mengejutkan para murid padahal reaksi seperti ini bukan yang pertama kali  ditunjukkan oleh Kristus namun toh mereka tidak juga mengerti. Ketika Tuhan Yesus bertransfigurasi dan bertemu dengan Musa dan Elia maka reaksi para murid saat itu adalah mereka hendak menetap dan mendirikan tiga tenda. Inilah sifat manusia berdosa. Kalau menjadi seorang pengikut sejati, the true follower of Christ maka kita harus mengikut pada cara berpikir Kristus, kita harus merombak seluruh konsep yang kita yang salah. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan menjadi ciri-ciri dari seorang pengikut Kristus sejati, yaitu:

1. Memandang ke Atas

Manusia mudah sekali jatuh ke dalam dosa dan manusia gampang terjebak oleh situasi dunia yang memang sengaja iblis ciptakan. Ketika kita berada dalam posisi outstanding, ingat kita harus mengarahkan pandangan kita hanya kepada Tuhan saja sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rm. 11:36). Nanti, di akhir dari pengajaran Kristus tentang implikasi Kerajaan Sorga – banyak orang mau menjadi pengikut-Nya namun Tuhan Yesus tidak memandang hal tersebut sebagai kepopularitasan diri namun Tuhan Yesus melihat mereka sebagai gambaran domba yang tak bergembala, mereka seperti orang yang tersesat; karena itu pandanglah pada si empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja untuk tuaian itu (Mat. 9:35-37). Inilah langkah awal bagi kita kalau mau menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati. Orang harus bisa mati terhadap pujian dan hendaklah kita selalu memandang pada Kristus.

Orang yang hanya peduli pada perkataan orang lain maka ia tidak akan pernah mencapai kesuksesan karena seluruh jiwanya selalu dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di dekatnya akibatnya semua keputusan dan tindakannya selalu diatur oleh orang lain. Seorang pengikut Kristus sejati seharusnya tahu bagaimana ia harus bereaksi ketika sesuatu yang nyaman dan nikmat itu datang padanya, yaitu ia harus  memandang pada Tuhan – pada apa yang menjadi kehendak Tuhan saja. Ironisnya, manusia lebih takut pada manusia daripada takut kepada Tuhan, manusia takut ditolak karena itu kita harus memandang pada Tuhan supaya kita tidak terjatuh dalam dosa. Pengikut Kristus sejati bukanlah pengikutnya seorang “pengikut“. Siapa pengikut Kristus sejati dan siapa yang bukan dapat kita lihat dari sikap atau reaksinya ketika ia sedang berada di puncak karir atau ketika ia berada dalam posisi outstanding.

2. Menilik ke Dalam

Kalau pada bagian pertama kita dapat membedakan manakah orang yang menyenangkan manusia dengan orang yang menyenangkan hati Tuhan dari reaksi, cara pengambilan keputusan, sikap, dan lain sebagainya tapi di bagian kedua ini sangat sulit dilihat sebab menyangkut motivasi. Hati-hati, bagian pertama dan kedua ini kelihatan hampir sama, di satu sisi, kita mau mempertumbuhkan pelayanan – bersifat rohani tapi di sisi lain kalau kita tidak berhati-hati maka kita akan jatuh dalam kesombongan. Apakah yang sedang kita perjuangkan itu demi untuk menggenapkan kehendak Tuhan atau demi untuk kesuksesan diri? Perbedaan kedua aspek ini sangat tipis, kalau kita tidak berhati-hati maka kita akan jatuh dalam kesombongan karena itu, Tuhan mengajarkan pada kita untuk retret dengan demikian kita dapat menguji setiap motivasi kita yang terdalam. Retret adalah waktu bagi kita untuk mengevaluasi diri dan melepaskan diri dari segala macam aspek “kesuksesan duniawi“. Ini seharusnya menjadi jiwa Kekristenan dimana mata tidak selalu memandang pada hal-hal yang duniawi. Orang lain mungkin tidak tahu apa motivasi kita, dengan mudah kita dapat mengelabui  orang dengan kalimat-kalimat indah dan rohani, namun kita tahu persis apa motivasi kita sendiri. Ingat, selain diri kita sendiri ada oknum yang lain yang juga tahu, yaitu Tuhan dan iblis. Hati-hati, dengan tipu muslihat iblis sebab ia tidak akan tinggal diam, dengan segala cara ia akan berusaha menggoda kita supaya jatuh dalam dosa. Jangan terjebak dengan hal-hal yang secara kasat mata kelihatan enak sebab semua itu hanya bersifat sementara dan berakibat pada kehancuran. Sebagai warga Kerajaan Sorga yang menjadi satu kesatuan tubuh Kristus, hendaklah kita mempunyai jiwa pelayanan seperti yang Kristus teladankan. Tidak ada seorangpun yang tahu apa motivasi kita melayani tapi ingat, semua itu akan teruji dan terbukti kelak. Orang yang mempunyai motivasi pelayanan yang murni pasti akan tahan uji ketika tantangan datang, ia tidak akan undur. Seperti emas, semakin dipanaskan maka ia akan menjadi semakin murni dan indah. Terkadang Tuhan memang sengaja menguji kita, memang sakit, tapi semuanya itu adalah demi untuk kebaikan kita, yaitu untuk membentuk karakter kita supaya semakin serupa Kristus.

3. Peka Membatas

Dalam doa Bapa Kami, salah satu kalimatnya berbunyi: …ampunilah kami akan kesalahan kami dan jauhkanlah kami daripada pencobaan. Tuhan Yesus ingin mengajarkan supaya kita mempunyai kepekaan, awareness sebagai sikap yang harus dimiliki oleh seorang pengikut Kristus sejati, the true follower dengan demikian kita tidak mudah jatuh dalam jebakan iblis. Kalau kita tidak berhati-hati kita akan mudah terjebak ke dalam pandangan orang yang menganggap wajar kalau seandainya kita menjadi terkenal sebagai efek dari pelayanan yang kita lakukan. Andrew Gih seorang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa, suatu kali ketika ia berkhotbah, ada seorang yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dan diketahui ternyata ia bernama John Sung. Seperti halnya Andrew Gih, Tuhanpun memberkati ia dengan luar biasa. Namun banyak orang tidak mengetahui dan tidak memahami tindakan yang dilakukan John Sung, yaitu ia membakar uang yang diperoleh dari hasil ia melayani. Bukan tanpa alasan, ia membakar semua uangnya karena ternyata, kemudian hari diketahui bahwa orang menuduhnya menerima uang lebih banyak dan mempermainkan teman-teman sepelayanan yang lain. Secara logika, John Sung layak menerima uang tersebut sebagai upah dari pelayanan yang ia lakukan namun tidak demikian yan dipikirkannya. Ia tahu uang akan membawa resiko yang besar. Inilah kepekaan yang dimiliki oleh seorang pengikut Kristus sejati yang tidak mudah tergiur dengan segala kenikmatan dunia.

Biarlah setiap kita peka akan hal-hal duniawi yang memang sengaja ditaruh oleh iblis untuk menggoda kita supaya jatuh dalam dosa. Ketika godaan itu datang, waspadalah, inilah saatnya kita untuk retret – mengevaluasi diri dan menguji motivasi pelayanan kita. Sebab banyak orang Kristen yang begitu giat dan menggebu-gebu melayani Tuhan ketika pertama kali bertobat namun seiring berjalannya waktu, ketika karir dan kesuksesan mulai mengiming-iming kita maka prioritas hidup itu menjadi bergeser. Tuhan bukan lagi yang terutama dalam hidup kita. Itulah akibatnya kalau kita tidak mempunyai kepekaan, pelan namun pasti sedikit demi sedikit, Tuhan kita geser. Mengejar karir dan kesuksesan memang tidaklah salah namun kalau hal itu sampai mengeser fokus dan orientasi hidup kita maka hati-hatilah. Mungkin inilah waktunya bagi kita untuk melepaskan kesuksesan duniawi tersebut karena semua itu pasti bukan kehendak Tuhan. Alangkah indah kalau hidup kita hanya bersandar pada Tuhan, kita tidak mudah digoyahkan dan tidak dikendalikan oleh hal-hal duniawi dan materi. Pertanyaannya adalah maukah kita menjadi pengikut Kristus yang bukan hanya sekedar “pengikut“ tapi kita mau mengikut dengan sungguh dan dibangun di dalam iman dan pelayanan dengan demikian seluruh orientasi hidup kita hanya untuk memuliakan Tuhan saja.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Eksposisi Injil Matius 8 : THE LORD OF THE WOMAN (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, August 2nd, 2006

Eksposisi Injil Matius 8

Ringkasan Khotbah : 09 Januari 2005

The Lord of the Woman

Nats: Mat. 8:14-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Hukum Kerajaan Sorga (Mat. 5-7) berbeda total dengan dunia, yaitu kualitas hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan oleh Kristus lebih tinggi dibanding dengan hukum dunia. Adanya perbedaan kualitas ini menyebabkan seluruh implikasi atau penerapan dari hukum Kerajaan Sorga juga berbeda. Merupakan suatu kebodohan kalau orang ingin memahami Kekristenan dengan benar tetapi memakai hukum dan tatanan dunia yang kualitasnya sangat rendah sebagai patokan lalu mengatakan hukum dunia tersebut sebagai hukum Kerajaan Sorga. Hal ini sangatlah melecehkan Kekristenan. Kerajaan Sorga mempunyai hukum sendiri dimana prinsip dan hukum-hukum-Nya tidak dapat ditandingi oleh hukum apapun di dunia. Dunia pun mengakui kualitas dari hukum Kerajaan Sorga ini dan mereka menyebutnya dengan hukum emas, the golden rule. Sebutan emas memang sangat pas sebab emas paling tahan uji, semakin dibakar semakin murni. Bahkan orang yang menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan pun mengakui Yesus Kristus adalah Guru Agung dan Dia tidak hanya sekedar berteori tapi Dia menerapkan hukum-hukum yang diajarkan-Nya sendiri dengan sempurna.

Di dunia juga ada hukum yang agung yang diadaptasi dari Asian Philosophy dan orang Kristen menyebutnya sebagai wahyu umum, yaitu: apabila engkau tidak mau diperlakukan buruk oleh orang lain maka janganlah engkau berlaku buruk juga pada orang lain. Seagung apapun hukum dunia namun tidaklah sebanding dengan hukum emas yang Kristus ajarkan, yaitu: apabila kamu ingin supaya orang lain berbuat seperti yang kau inginkan padamu maka lakukanlah itu pada orang lain. Perhatikan, hukum yang dicetuskan dunia bersifat pasif dan berefek skeptis sebab orang akan menganggap dirinya baik selama ia tidak berbuat hal yang negatif meski ia tidak melakukan hal yang positif sedang hukum yang diajarkan oleh Kristus bersifat aktif – dinamis, kita tahu bahwa kita harus melakukan perbuatan baik namun kalau kita tidak melakukannya maka kita berdosa. Hukum emas menuntut dinamika hidup kita secara total untuk maju secara positif dan hukum ini tidak bisa diantisipasi oleh semua pemikiran apapun yang ada di dunia ini baik dari sudut filsafat maupun religius karena itu hukum Kerajaan Sorga mempunyai kualitas tinggi dan disebut sebagai hukum emas. Tatanan hukum dunia yang diwarnai dan terinspirasi dengan the Golden rule pastilah bernilai, axiology tinggi.

Banyak filsuf mengajarkan hal yang baik dan indah namun sayang, ajaran yang ideal itu tidak dapat dijalankan oleh si manusia sebagai pencetus teori sebab manusia adalah makhluk yang berdosa dan tidak ideal sehingga terjadilah ketimpangan maka tidaklah heran kalau orang kemudian menghina dan berkata, “Itukan cuma teori belaka“. Ini menjadi kegagalan suatu teori. Berbeda dengan Kristus, Ia mengajarkan hukum Kerajaan Sorga dan sekaligus mengimplikasikannya dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun. Hukum Kerajaan Sorga bukan sekedar teori. Pada akhir jaman nanti yang bisa menghakimi dunia hanya Yesus Kristus sebab diri-Nya tidak bercacat. Implikasi Kerajaan Sorga harus dimulai dengan the Lordship of Christ.

Kristus bukan sekedar raja biasa seperti pada umumnya raja-raja di dunia. Jangan samakan Kristus dengan raja dunia dan jangan samakan pula hukum dunia dengan hukum Kerajaan Sorga sebab manusia bisa salah sedang prinsip Kerajaan Sorga adalah kebenaran. Orang selalu menganggap sama antara hukum dunia dengan hukum Kerajaan Sorga, hal ini disebabkan karena manusia tidak dapat melihat  adanya perbedaan kualitas. Orang bijak selalu melihat perbedaan tapi orang bodoh hanya melihat kesamaannya saja. Apakah semua kendaraan yang beroda empat dapat dikatakan sebagai mobil? Lalu kenapa harus dibedakan jenisnya? Kristus adalah Raja dan Tuhan sebaliknya raja dunia bukan Tuhan meskipun sama-sama mempunyai atribut sama, yaitu raja namun kualitasnya jauh berbeda. Kristus berhak atas hidup manusia sebab Dialah yang mencipta kita dan Kristus juga telah menebus kita dari dosa. Namun manusia tidak ingin Kristus berkuasa dalam hidupnya – manusia ingin menjadi Tuhan. Melalui ketiga contoh mujizat ini, Matius mengajak para pembacanya bagaimana seharusnya men-Tuhankan Kristus. Manusia seringkali menjadikan mujizat sebagai sarana untuk menunggangi Tuhan dengan kata lain manusia memerintah Tuhan supaya menuruti semua keinginannya. Pertanyaannya siapa yang lebih berkuasa? Manusia atau Tuhan? Ini merupakan pelecehan. Ingat, ujizat yang Kristus kerjakan bukan untuk kepentingan manusia tapi mujizat merupakan manifestasi kedaulatan Allah atas manusia. Kalau kita bandingkan dengan Injil lain yang ditulis oleh Markus dan Lukas maka ada bagian yang oleh Matius memang sengaja tidak ditulis, yaitu bagian dimana murid-murid meminta Yesus untuk datang dan menyembuhkan ibu mertua Petrus. Matius ingin menekankan Kristus sebagai Raja maka semua hal yang membuat negatif konsep itu memang sengaja ia hilangkan. Yesus Kristus adalah Raja maka kedatangan-Nya ke rumah Petrus itu merupakan kehendak Sang Raja. Karena itu dalam menafsirkan Alkitab, kita tidak boleh melepaskan ayat dari keseluruhan kerangka yang ingin dipaparkan oleh penulis. Injil bukanlah kitab sejarah yang hanya sekedar memuat data-data. Tidak! Banyak orang yang bertanya kenapa Injil ada empat dan kenapa isinya berlainan? Pertanyaan ini hanya membuktikan kebodohan orang tersebut. Untuk melihat Yesus Kristus tidaklah cukup kalau hanya satu Injil saja bahkan empat itupun seharusnya masih kurang sebab Kristus terlalu kaya kalau hanya dilihat dari satu dimensi saja.

Kita telah memahami bahwa tiga bagian mujizat yang diungkapkan oleh Matius ini sangat dibenci oleh orang Yahudi sebab: 1) orang sakit kusta dianggap sebagai orang yang dikutuk Tuhan, 2) budak perwira Romawi sebab orang Romawi itu sendiri dianggap orang kafir apalagi kini yang disembuhkan hanyalah seorang budak, 3) ibu mertua Petrus, seorang perempuan yang dipandang sebagai warga kelas dua. Pada bagian yang ketiga ini memang sengaja Matius tulis untuk menunjukkan beberapa aspek, yaitu:

Pertama, Petrus adalah salah satu murid Tuhan Yesus yang setia namun uniknya di seluruh kitab Perjanjian Baru tidak pernah ditulis siapa nama istri Petrus begitu juga dengan nama-nama istri para murid yang lain. Memang benar, Alkitab tidak pernah mencatat nama istri Petrus namun Alkitab mencatat Tuhan Yesus menolong ibu mertua Petrus, ibu dari istrinya. Hal ini bukan berarti Tuhan lebih sayang pria dan membenci wanita. Tidak! Alkitab memberikan bagian yang tepat bagi seorang wanita khususnya istri dimana ordo yang tepat adalah di bawah suami. Konsep ini telah ada dan dicatat sejak Perjanjian Lama. Inilah perbedaan antara Tuhan Yesus dan orang Yahudi pada umumnya dimana orang Yahudi sangat membedakan gender. Tuhan Yesus tidak membedakan pria dan wanita, Dia memandang sama status pria dan wanita, yaitu sama-sama manusia tetapi sekaligus juga berbeda. Wanita tidak mengerjakan tugas pria begitu pula sebaliknya pria tidak mengerjakan tugas wanita – wanita harus tunduk dan taat pada pria dalam hal ini suaminya. Inilah paradoks.

Di dunia timur mempunyai konsep yang sama dengan orang Yahudi, yaitu memandang sangat rendah pada wanita maka konsep dunia barat, menganggap sama antara pria dan wanita terkadang kita sulit untuk membedakannya bahkan di dunia barat, ordo dianggap tidak penting. Maka janganlah kaget kalau ada seorang anak kecil memanggil ayahnya atau orang yang lebih tua dengan menyebut namanya saja. Tuhan Yesus tidak pernah menyebut nama istri Petrus namun bukan berarti Tuhan Yesus tidak peduli. Petrus pun ketika memutuskan untuk mengikut Yesus bukan berarti ia tidak peduli dengan keluarga. Tidak! Petrus sangat peduli pada ibu mertuanya yang sedang sakit demam. Tuhan Yesus adalah seorang Raja maka Ia berhak memakai siapapun untuk turut bersama-Nya membangun Kerajaan-Nya tak terkecuali seorang wanita bahkan seorang perempuan berdosa sekalipun. Namun, perhatikan Tuhan tidak menjadikan wanita sebagai murid dalam arti murid yang berada di lingkaran dalam, inner circle. Apakah itu berarti murid Tuhan Yesus tidak ada yang perempuan? Tidak! Alkitab mencatat ketika Tuhan Yesus hendak naik ke sorga banyak murid-murid perempuan yang mengiring Dia tapi diantara sekian banyak murid perempuan hanya sebagian kecil dari mereka yang namanya dicatat oleh Alkitab.

Ibu mertua Petrus bukanlah seorang perempuan cengeng yang selalu minta dikasihani. Tidak, sakit demam ini menyebabkan ibu mertua Petrus tidak dapat melayani Tuhan Yesus. Sakit demam disini bukanlah sakit demam biasa sebab sakit demam ini dapat mengakibatkan kematian. Alkitab mencatat setelah ia disembuhkan, ia langsung bangun dan melayani Yesus. Perhatikan, cara Yesus menyembuhkan, yaitu memegang tangan ibu mertua Petrus. Budaya jaman itu tidak memperbolehkan seorang pria memegang tangan wanita karena itu dianggap sebagai perbuatan yang najis. Inilah akibatnya kalau dosa sudah membudaya. Sebagai contoh, orang yang mempunyai istri lebih dari satu dianggap tidak berdosa karena hal itu sudah membudaya. Karena itu, berhati-hatilah dengan segal macam pengajaran dunia. Pria dan wanita adalah sama di mata Tuhan namun Tuhan membedakan peranan pria dan wanita. Pria haruslah menjadi pemimpin dan tugas seorang istri adalah mendukung suami dari belakang. Kesuksesan dan kegagalan seorang pria tergantung dari istrinya. Sejarah membuktikan justru orang yang berada di belakang panggung itulah yang menjadi otak dari segala rencana baik dan jahat.

Kedua, Tuhan Yesus mendobrak semua tatanan yang salah pada jaman itu. Cara dan tempat yang orang anggap najis justru di sana Ia datang dan melakukan mujizat. Tuhan Yesus mempunyai kekuatan pengaruh, infuencing power yang besar sehingga orang yang tadinya kotor dan najis kini menjadi tahir. Orang Yahudi mempunyai konsep bahwa segala sesuatu yang dianggap najis pasti akan membuat dirinya kotor dan cemar. Sedikitpun mereka tidak pernah berpikir untuk mempengaruhi orang lain supaya yang kotor menjadi bersih. Tuhan Yesus adalah Raja atas alam semesta dan seluruh umat manusia maka kita tidak bisa mempengaruhi Raja justru kekuatan Rajalah yang mempengaruhi kita. Inilah jiwa seorang Kristen sejati. Sudahkah kita menjadi garam dan terang dunia? Sudahkah kita memberikan pengaruh positif pada orang di sekitar kita? Kekuatan penyembuhan Kristuslah yang mempengaruhi sehingga orang sakit disembuhkan. Sikap yang ditunjukkan ibu mertua Petrus, yaitu ia langsung bangkit dan melayani Yesus hendaklah menjadi teladan bagi kita. Bagaimana sikap kita pada Kristus Sang Penyelamat? Banyak orang yang tidak menunjukkan sikap baik, orang justru ingin meminta lebih dari Tuhan seperti peribahasa Jawa yang mengatakan diberi hati minta rempela. Orang yang menghargai Ketuhanan Kristus dan menyadari bahwa Kristus adalah Tuan yang berhak atas hidup kita maka orang justru akan semakin giat melayani dan taat. Sebuah gereja dikatakan baik dan bertumbuh, idealnya kalau seluruh jemaatnya melayani Tuhan. Sayangnya, tidak semua orang yang ada dalam gereja adalah orang yang diselamatkan karena kemungkinan masih ada orang yang belum mengerti panggilan dengan sungguh. Ingat, adalah tugas setiap anak Tuhan untuk mengabarkan berita Injil ke seluruh dunia.

Ketiga, Apa yang Kristus kerjakan bukanlah hal yang kebetulan sebab Alkitab mencatat semua hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya (Mat. 8:17). Manusia tidak dapat memahami hal ini, manusia hanya melihat pekerjaan-Nya yang di dunia dan orang menganggap apa yang Kristus kerjakan tersebut karena dorongan atau keinginan dari Kristus sendiri. Semua yang Kristus kerjakan sudah direncanakan berdasarkan rencana Ilahi, divine plan sejak kekekalan. Berbeda dengan manusia yang seringkali mengerjakan sesuatu berdasar ambisi pribadi belaka. Orang tidak pernah bertanya apakah yang kita kerjakan itu merupakan kehendak-Nya ataukah kehendakku? Hati-hati, segala sesuatu yang kita kerjakan karena ambisi justru akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kehancuran. Alkitab mengajarkan majulah dengan tidak takut dan gentar asal semua itu ada dalam rencana Tuhan, divine plan. Alangkah bahagia hidup kita kalau kita mengerjakan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Ingat, adalah anugerah kalau kita diselamatkan oleh iman  dan Tuhan ingin supaya kita melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya (Ef. 2:8-9). Pertanyaannya adalah apakah pekerjaan yang kita kerjakan sekarang ini termasuk dalam rencana Ilahi? Ataukah kita menunggu dan menunggu sampai Tuhan menanyakan pertanyaan yang sama seperti ketika manusia jatuh ke dalam dosa, “Adam, dimanakah engkau?“ Dalam hal ini, Adam telah mengalami disposisi status, dia tidak berada pada tempat dimana seharusnya ia berada. Ketika Tuhan menyelamatkan  kita, Dia mengembalikan status kita ke tempat yang benar, yaitu manusia yang dicipta sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Karena Tuhan mengasihi kita, Dia ingin supaya kita tetap berada dalam rencana-Nya sebab keluar dari rencana-Nya akibatnya adalah kematian. Kita ini adalah umat pilihan Allah bagaimanakah respon kita terhadap panggilan-Nya? Sudahkah kita dibentuk oleh Tuhan? Sudahkah kita taat mengerjakan segala sesuatu yang menjadi rencana-Nya? Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.griis.org/ringkasan_kotbah/2005/20050109.htm