Archive for November, 2006

Eksposisi Injil Matius 9 : RADICAL CONVERSION (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, November 27th, 2006

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 17 April 2005

Radical Conversion

Nats: Mat. 9:9-13

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pendahuluan

Kita telah memasuki bagian ketiga dari implikasi Kerajaan Sorga, yaitu separasi atau pemisahan; mengikut Tuhan berarti memisahkan diri dari dunia. Tuhan Yesus menegaskan bahwa tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan, yaitu Allah dan Mamon; kita harus pilih salah satu, mengikut Tuhan berarti kita harus meninggalkan mamon dan sebaliknya. Pilihan ini menjadi tantangan besar bagi manusia sebab manusia ingin Allah sekaligus mamon dengan kata lain manusia ingin dirinyalah sebagai tuan yang jadi penentu. Tapi, manusia bukanlah pemegang kontrol maka manusia harus taat pada siapa yang ia pilih untuk menjadi tuannya. Kita telah memahami bahwa tema sentral dari bagian cerita orang lumpuh yang disembuhkan ini terletak pada kalimat “dosamu sudah diampuni“ dan ini menimbulkan konflik antara Tuhan Yesus dengan para ahli Taurat dan orang Farisi. Ahli Taurat dan orang Farisi merasa diri sebagai orang yang beragama, mereka merasa bahwa ia sudah mendapatkan Sorga namun Tuhan Yesus membukakan bahwa mereka bukanlah bagian dari pemisahan itu.

Kalau pada kisah tentang orang lumpuh disembuhkan,  Markus dan Lukas menulis lebih detail dibandingkan dengan Matius maka pada kisah pemungut cukai yang mengikut Yesus ini, pembahasan Matius, Markus maupun Lukas sama bahkan urutan dan settingnya pun sama. Dan menurut kebudayaan Yahudi merupakan hal yang biasa kalau seseorang mempunyai lebih dari satu nama, ada orang yang menyebut Petrus dengan Simon atau Kefas dan Matius dengan Lewi. Alkitab mencatat selain Tuhan Yesus yang diundang, banyak pemungut cukai dan orang berdosa yang juga diundang dan datang ke pesta itu. Pesta perjamuan ini kemungkinan adalah pesta perpisahan, farewell party. Ironisnya, Matius yang mengadakan pesta tetapi yang menjadi tuan rumah dalam pesta itu adalah Tuhan Yesus dan hal itu mendatangkan kejengkelan dari ahli Taurat dan orang Farisi.

Mengapa Matius jadi Pemungut Cukai?

Sesungguhnya para ahli Taurat dan orang Farisi ini sangat  mengagumi hikmat bijaksana yang ada pada Yesus akan tetapi mereka tidak menyukai perilaku Yesus sebab perilaku Yesus sebagai salah seorang Rabbi Yahudi dirasakan tidak sesuai dengan para ahli Taurat dan orang Farisi pada umumnya. Mereka marah pada Tuhan Yesus akan tetapi seperti kejadian sebelumnya, kali inipun, mereka hanya menggerutu dalam hati, mereka tidak berani berbicara langsung pada Tuhan Yesus tetapi mereka menegur murid-murid-Nya. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi ganjalan hati mereka dan Tuhan Yesus memberi jawab dimana jawaban ini bersifat paradoxical: Bukan orang sehat yang perlu tabib tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa (Mat. 8:12,13). Jawaban ini terasa menyakitkan hati sebab mereka harus memikirkan ulang kembali dirinya, pikiran theologi dan hidupnya.

Matius bukanlah seperti pemungut cukai umumnya yang ada di pinggir jalan. Matius mengambil pajak dari setiap barang yang keluar atau masuk maka kantor bea cukai ini berada di daerah sentral, yaitu daerah perbatasan atau perdagangan. Penetapan pajak ini sudah menjadi peraturan dari pemerintah Romawi. Bayangkan, orang Yahudi yang bekerja keras tetapi pemerintah Romawi yang mengambil keuntungan maka tidaklah heran kalau orang Yahudi ini begitu membenci pemungut cukai apalagi Matius adalah orang Yahudi tetapi pro bangsa Romawi maka kebencian mereka pastilah berlipat-lipat. Orang Yahudi yang bekerja untuk pemerintah Romawi dikatakan sebagai pengkhianat atau kafir sebab mereka telah mempermainkan imannya dengan pro pada bangsa Romawi yang menyembah berhala. Ada ungkapan yang berbunyi: orang Romawi menjajah tubuh orang Yunani tapi orang Yunani menjajah otak orang Romawi. Memang benar, bangsa Yunani tidak dapat melawan bangsa Romawi tapi semua pemikiran filsafat Yunani sudah mencengkeram pemikiran orang-orang Romawi dimana dewa-dewa yang disembah dan cara penyembahannya mencontoh orang Yunani hanya namanya saja yang diganti, sebagai contoh dewi Artemis diganti menjadi Diana. 

Bagi orang Yahudi, orang yang menyembah dewa adalah orang yang berdosa. Orang Yahudi telah belajar dari pengalaman 400 tahun mereka dibuang karena berulang kali jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala maka sejak masa pembuangan itu, mereka tidak menyentuh berhala sedikitpun. Mereka takut kejadian yang sama terulang kembali maka orang Yahudi membuat peraturan-peraturan yang sedemikian ketat, salah satunya yaitu tidak boleh bersentuhan dengan orang kafir. Karena itu orang Yahudi sangat benci pada pemungut cukai yang bergaul dengan orang Romawi yang kafir. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat Matius rela dicap sebagai pengkhianat dan dimusuhi oleh bangsanya sendiri? Jawabannya hanya satu, yaitu demi uang; Matius adalah seorang materialis. Pada jaman itu, semua pemungut cukai hidup kaya, mereka digaji besar oleh pemerintah Romawi demi untuk menjaga agar mereka tidak korupsi dan Matius merupakan salah seorang yang hidupnya kaya sebab untuk membuat suatu pesta sedemikian besar pasti dibutuhkan biaya yang besar.

Akan tetapi, Matius tidak peduli dengan semua pandangan orang atas dirinya sebab baginya yang terpenting hanya satu, yaitu kaya. Bukankah hal ini terjadi sampai sekarang? Demi uang, orang rela berkorban dan mengorbankan apapun. Matius berpikir kekayaan akan membuat hidup bahagia; ia telah dikunci oleh paradigma hidupnya. Namun ketika Matius menjalankan seperti yang ia pikirkan ternyata berbeda; apa yang ia pikir ternyata tidak sesuai dengan realita. Orang tidak mau belajar, orang selalu ingin mengalami sendiri. Begitu juga dengan Matius ketika ia memilih menjadi pemungut cukai dan menjadi kaya, apakah hidupnya bahagia? Alkitab mencatat ternyata tidaklah demikian, Matius menjadi orang yang tersendiri, lonely. Pekerjaannya menjadi rutinitas, ia tidak dapat keluar dari pekerjaannya sebab oleh bangsanya sendiripun ia ditolak dan kalaupun ia keluar dari pekerjaannya maka tidak ada tempat lain yang lebih menjanjikan daripada pemungut cukai.

Hari inipun orang masih berpikir kalau ia kaya maka akan mudah mendapatkan segala sesuatu dan itu membuat bahagia. Tidak! Semua itu membuktikan bahwa kita belum pernah kaya sebab kalau orang sudah kaya maka pasti tidak akan pernah keluar kalimat seperti demikian. Apalah artinya kekayaan kalau keluarga kita berantakan, apalah artinya kekayaan kalau uang justru membuat kita tidak dapat hidup damai sejahtera. Inilah kehidupan orang kaya banyak beban yang harus ia tanggung, banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Kalau bukan Tuhan yang memberikan kekuatan maka sulit baginya untuk menanggung beban itu. Ingat, barangsiapa diberikan lima talenta maka Tuhan menuntut lima, barangsiapa mempunyai dua talenta maka Tuhan juga menuntut dua begitu juga jikalau kita diberikan satu talenta maka Tuhan hanya menuntut satu, tidak lebih dan tidak kurang. Kalau kita hanya diberikan satu talenta tapi kita mengerjakan secara berlebihan maka kita akan hancur sebab kita tidak mempunyai kekuatan cukup untuk menanggungnya.

Mengapa Matius mengikut Tuhan?

Di tengah-tengah kesibukannya bekerja, Tuhan Yesus mendatangi Matius dan berkata: “Ikutlah Aku.“ Seandainya kita berada di situasi itu bagaimanakah reaksi kita? Matius tentu bukan pertama kali mendengar tentang Yesus, pastilah Matius mendengar tentang segala perbuatan yang dilakukan oleh Yesus. Matius berasumsi bahwa Yesus sama seperti Rabbi Yahudi yang lain yang mempunyai konsep sama, yaitu menganggap dirinya pengkhianat dan orang berdosa. Akan tetapi di dalam hatinya sebenarnya Matius mempunyai kerinduan untuk lebih dekat dan mengenal Yesus, ia tahu bahwa Yesus pastilah dapat merubah hidupnya namun ia mengubur dalam-dalam impiannya tersebut sampai suatu ketika Tuhan Yesus datang padanya dan berkata: “Ikutlah Aku.“ Momen itu sangatlah krusial sebab mengikut Yesus bukanlah hal yang sederhana, orang tidak bisa masuk dan pergi kapan ia mau. Tidak!

Mengikut berasal dari kata akulotheo (bhs Ibrani) yang berarti mengikut tanpa syarat dan itu bersifat selamanya. Kalau mengikut Yesus berarti Matius harus keluar dari pekerjaannya sebagai pemungut cukai selamanya sebab banyak orang yang ingin menggantikan pekerjaan Matius. Hari itu,  banyak orang yang berpikir sama, yaitu kekayaan akan membawa kenikmatan. Ingat, iblis sangat licik menjebak manusia dengan kekayaan yang justru akan membelenggu hidupnya dan akan sulit baginya untuk keluar dari belenggu iblis. Jangan pikir hidup kita akan menjadi nikmat ketika kita berpenghasilan semakin tinggi, tidak, sebab ketika kita jatuh maka tingginya penghasilan justru mencelakakan hidup kita dan menjadi tiang gantung bagi kita. Tuhan tahu sampai dimana batas kecukupan kita maka kalau sudah melampaui batas maka pasti bukan Tuhan yang memberi tapi asalnya dari iblis.

Tuhan tidak akan memberikan kemiskinan supaya jangan sampai kita mencuri dan mempermalukan nama Tuhan atau memberikan kekayaan sehingga kita melupakan Tuhan. Orang kaya sejati adalah orang yang tidak diikat dengan kekayaannya, dengan penghasilan seratus juta rupiah ia dapat hidup tapi dengan uang hanya satu juta rupiah pun ia dapat hidup. Biarlah kita belajar dari pengalaman iman Yusuf berjalan bersama Tuhan menyadarkannya bahwa Tuhan satu-satunya sandaran hidup kita. Inilah bedanya orang yang hidup bersandar pada mamon dan Tuhan. Tentunya menjadi pergumulan berat dalam diri Matius ketika Tuhan memanggilnya akan tetapi Matius telah melangkah dengan iman. Ingat, Tuhan tidak menjanjikan hidup kita akan bahagia dan nikmat ketika kita menjadi murid-Nya tetapi Tuhan janji: Ia akan selalu beserta ketika badai itu datang menimpa kita. Pilihan Matius adalah pilihan sempurna, dibutuhkan kesadaran penuh dan cara pandang Matius kini berbeda, ia melihat ada pengharapan di dalam Kristus.

Kesaksian indah mengikut Tuhan 

Alangkah indahnya kalau hidup kita dipimpin Tuhan, memang saat ini mungkin yang ada di depan mata kita hanyalah kegelapan ketika kita mengikut Yesus tapi satu hal yang pasti Tuhan tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri, Ia akan menuntun kita keluar dari kegelapan itu. Orang selalu terjebak dengan kekinian, mata kita mudah sekali melihat ke bawah tetapi sulit memandang Sorga. Cobalah renungkan, kalau memang benar, kekayaan dapat membuat hidup kita bahagia maka pasti tidak ada orang kaya yang bertobat. Karena itu dibutuhkan langkah iman yang besar untuk  orang dapat bertobat. Hati-hati, dengan akal licik si iblis yang selalu menggoda manusia dengan segala kenikmatan namun berakhir dengan kehancuran. Iblis selalu meminta imbalan atas pemberiannya, ia tidak pernah memberikan gratis; iblis ingin nyawa kita sebagai gantinya. Berbeda dengan Tuhan, Ia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi kita. Pada saat kita dihadapkan pada suatu titik kritis yang menuntut suatu keputusan maka disana nampaklah siapa sesungguhnya kita, termasuk orang bodoh ataukah orang bijak? Hendaklah kita menjadi bijak dengan tidak mudah tertipu oleh akal licik si iblis. Orang bijak bukanlah orang yang pandai tapi orang yang bijak adalah orang yang taat kehendak Tuhan.

Makna hidup kita tidak ditentukan oleh uang sebab ketika kita gagal menguasai uang maka uang itu berganti yang menguasai hidup kita dan akhirnya kita menjadi budak uang. Banyak orang yang ingin kaya, orang berharap dengan kekayaannya itu, ia dapat mengatur hidup namun fakta terbalik justru uang yang mengatur hidup kita, uang menjadi tuan yang membelenggu hidup. Kisah hidup seorang Elvis Presley dan para selebritis lain dapatlah kita jadikan pelajaran bagi kita. Demi untuk mendapatkan uang dan ketenaran maka Elvis harus membayar mahal, ia harus menukarnya dengan kebebasan dan hidupnya berakhir dengan kehancuran. Namun hari ini, masih banyak orang yang ingin hidup seperti Elvis Presley atau Lady Di yang dipuja dan kaya namun semua ketenaran dan kekayaan itu justru menghantar mereka menuju kehancuran. Hidup mereka berakhir dengan sangat mengenaskan. 

Keputusan yang diambil Matius bukanlah keputusan biasa atau sekedarnya. Pesta yang ia adakan menjadi proklamasi dirinya, ia dapat bersaksi keindahan menjadi pengikut Tuhan Yesus. Matius tahu, mengikut Yesus berarti ia akan kehilangan kekayaannya tapi ia tahu ia akan mendapatkan kepenuhan hidup. Ketika Matius kembali pada Kristus, disana ia mendapatkan kemerdekaan dalam Kristus, ia tidak lagi menjadi budak uang. Matius telah mendapatkan yang terindah. Dunia hanya dapat memamerkan kekayaan tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana kehidupan yang sesungguhnya? Kita tidak tahu, apa yang tersembunyi di balik senyum dan penampilan seseorang yang memukau mungkin disana ada air mata yang berderai. Ketika kita mengikut Kristus mungkin hidup kita tidak akan kaya bahkan mungkin tidak banyak orang yang mengenal kita tapi hidup akan bahagia sebab kita mendapatkan makna hidup. Jangan sia-siakan waktumu dengan percuma tetapi jadikanlah hidupmu penuh makna sehingga hidup kita di dunia yang singkat ini tidak menjadi sia-sia dan berakhir dengan kehancuran. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050417.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : THINKING AFTER GOD’S THINKING (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, November 20th, 2006

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 10 April 2005

Thinking After God’s Thinking

Nats: Mat. 9:1-8, 16:23

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Sebagai warga Kerajaan Sorga maka seharusnya kita harus taat pada hukum Kerajaan Sorga yang kita kenal dengan Khotbah di Bukit (Mat. 5-7). Tuhan juga menuntut kita untuk hidup kudus. Kita telah memahami bahwa kudus tidak sama dengan suci; kudus berasal dari kata kadosh (bhs. Ibrani) yang artinya separated for God’s Mission, dipisahkan dari dosa untuk menjalankan misi Kerajaan sorga di tengah dunia. Pemisahan disini bukanlah pemisahan di permukaan tapi lebih dari itu, yaitu pemisahan paradigma atau pola pikir. Seperti ungkapan Francis Schaefer, I do what I think and I think what I believe; apa yang saya percaya mempengaruhi atau memberikan seluruh warna pada pemikiran saya lalu pemikiran saya itulah yang mempengaruhi seluruh tindakan yang saya lakukan tiap-tiap harinya. Itulah sebabnya kalau orang meminta penjelasan tentang keputusan yang mendasari tindakan kita maka kita dapat memberikan alasan pada mereka. Pemikiran ini tidak muncul mendadak; apa yang kita pikirkan kita merupakan produk dari kepercayaan kita. Begitu juga kalau kita bertanya pada orang Kristen tentang iman kepercayaannya maka ia akan mengaku bahwa ia percaya kalau Tuhan memimpin akan tetapi kalau kita mau jujur ternyata keputusan dan pemikiran kita tidak sesuai dengan prinsip kebenaran Firman Tuhan tapi seringkali kita berjalan menurut kehendak diri sendiri. Orang hanya bertanya kalau melakukan tindakan ini boleh/tidak? Sebenarnya yang menjadi inti permasalah bukan boleh atau tidak tapi pertanyaannya adalah kenapa boleh dan kenapa tidak? Apa yang mendasari boleh/tidaknya kita melakukan suatu tindakan? Sebab sesuatu tindakan suatu saat boleh dilakukan tapi di suatu saat tidak boleh dilakukan maka orang akan memberikan argumentasi dimana argumentasi tersebut merupakan hasil dari pemikiran kita yang menjadi dasar iman kepercayaan kita.

Pada perikop ini LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) memberikan judul “Orang Lumpuh Disembuhkan“ padahal bukan itu yang menjadi inti dari tulisan Matius sebab yang menjadi inti adalah kenapa sembuh. Di setiap perikop, LAI memberikan judul yang tidak sesuai dengan inti permasalahan yang hendak dipaparkan oleh Matius. Perikop “Matius Pemungut Cukai Mengikut Yesus“ inti dari kisah itu adalah kenapa seorang pemungut cukai bisa mengikut Yesus? Perikop lain, yakni “Hal berpuasa“ penekanan bukan puasanya tetapi alasan kenapa orang harus berpuasa, apakah orang yang puasa berarti ia saleh? Dalam bagian ini, Tuhan Yesus langsung membicarakan masalah yang biasanya mucul dalam kehidupan kita sebagai seorang yang beriman. Ahli Taurat bukanlah seorang yang tidak mengerti theologi. Tidak! Mereka banyak mempelajari Perjanjian Lama tapi mereka tidak memahami dengan pikiran yang tepat sehingga mendatangkan dampak yang negatif. Ketika mereka mempelajari Firman Tuhan seharusnya mereka melihat Kristus adalah Mesias sebab semua ayat dalam Perjanjian Lama menuliskan tentang Kristus yang berinkarnasi tapi kenapa mereka tidak tahu kalau Mesias itu ada di depan mereka? Bukankah mereka mempelajari Firman bahkan hafal seluruh hukum-hukum Israel yang dibangun oleh Firman Tuhan? Dimanakah kesenjangan yang terjadi?

Di dunia modern ini ketika segala sesuatunya orang selalu menguji pikiran namun ironis, orang Kristen justru tidak mau menggunakan pikiran sebab mereka menganggap iman saja sudah cukup. Pertanyaannya sekarang adalah kalau kita tidak menggunakan pikiran apakah kita dapat mencerna kalimat tersebut di atas? Pernyataan itupun merupakan hasil dari pemikiran orang yang berpikir yang mengajak orang untuk tidak berpikir. Hati-hati jangan terjebak dengan permainan pikiran di dalam dunia theologi. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang mulai berpikir untuk tidak mau lagi berpikir dan hanya percaya saja maka ia merasa sudah beriman dengan benar dan berani mengecam orang lain. Maka tidaklah heran kalau kemudian muncul pendapat bahwa doktrin atau theologi tidaklah penting, percaya dan beriman pada Kristus itulah yang paling penting. Kalimat ini muncul dari pikiran manusia yang merupakan suatu doktrin yang hendak meniadakan doktrin. Seorang ahli Taurat adalah seorang yang sangat mengerti theologi tetapi ia telah mengkonfirmasi theologinya tanpa berani mempertanggung jawabkannya. Ahli Taurat (dan kita semua!) umumnya hanya berpikir tentang hal kesembuhan saja. Kita berpikir kalau Tuhan Yesus cukup berkata, “Bangun dan berjalanlah“ dengan demikian tidak ada pertentangan theologis, tidak ada unsur paradigma, tidak ada tuntutan iman. Ingat, kesembuhan bukan tergantung iman. Alkitab mencatat seorang perwira Romawi yang beriman pada Kristus tetapi hambanya yang tidak mengenal Kristus justru yang mengalami kesembuhan. Jadi, tidak ada unsur iman, kesembuhan itu karena Tuhan Yesus yang beranugerah sebaliknya juga orang yang beriman sungguh pada Yesus pun belum tentu mengalami kesembuhan. Banyak orang sakit di kolam Bethesda tetapi Tuhan Yesus datang dan hanya menyembuhkan satu orang saja. Kenapa hanya satu orang? Tuhan Yesus adalah Raja maka Dia berhak memutuskan siapa yang harus disembuhkan. Kalau Matius hanya berhenti sampai pada kesembuhan orang lumpuh maka kisah ini tidak ada maknanya, tidak beda dengan cerita duniawi lain. Tuhan Yesus masuk pada inti yang paling sentral, yaitu menjadi murid Kristus haruslah mempunyai pemikiran yang kudus, thinking after God’s thinking. Untuk mencapai hal ini maka ada beberapa aspek yang perlu untuk diperhatikan:

1. Kejujuran dan Keterbukaan

Ahli Taurat tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Kristus akan tetapi dia tidak berani berterus terang, dia menggerutu di dalam hatinya. Di tengah dunia ini banyak orang yang menyembunyikan iman, orang seringkali menutupi iman dengan hal-hal yang fenomena saja. Dunia meletakkan “iman“ ke dalam wilayah yang sangat pribadi, tidak boleh dipertanyakan ataupun didiskusikan. Puji Tuhan, Indonesia merupakan salah satu negara yang masih bersifat terbuka, dimana mukadimah UUD’45 berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Indonesia masih menempatkan iman di tempat teratas dan terbuka dalam pengertian yang bertanggung jawab. Banyak orang yang mau mencoba mengunci hukum ini sehingga tidak lagi menjadi hukum yang bisa dipertanggung jawabkan tetapi iman bersifat fanatisme yang tidak bisa dipertanyakan atau diuji tapi harus ditaati mutlak. Akan tetapi di ekstrim yang lain kita menjumpai ada sekelompok golongan tertentu yang hendak meniadakan iman dan agama. Orang menganggap iman dan agama sebagai hal yang bersifat pribadi maka negara tidak berhak mencampuri urusan pribadi. Akibatnya kalau ada orang yang bertanya atau mempertanyakan iman maka dijerat dengan hukum. Iman diproteksi sedemikian rupa menjadi iman yang divakumkan dari kejujuran.

Iman adalah sesuatu yang melandasi pemikiran dan tindakan kita. Tidak ada pertanggung jawaban tindakan tanpa ada alasan rasional yang mendasari tindakan tersebut. Sayangnya, hari ini banyak orang yang tidak dapat memberikan penjelasan ketika dipertanyakan tentang iman yang mendasari tindakannya, orang malah menjadi marah. Sebenarnya orang dapat memberikan alasan yang rasional ketika ditanya: Atas dasar pertimbangan apakah kamu melakukan tindakan itu? Akan tetapi hanya sebatas itu sebab kalau ditelusur lebih dalam lagi ternyata ada yang salah dengan imannya. Kalau kita mau jujur sesungguhnya di dalam seluruh tatanan hidup kita maka seringkali kita serupa dengan dunia. Sebagai orang Kristen tentulah kita tahu akan prinsip Alkitab yang benar dimana hal itu menegur kita akan tetapi kita berusaha menutupinya dengan harapan kesalahan tersebut tidak diketahui oleh orang lain maupun diri sendiri. Ingat, Tuhan Yesus tahu apa yang ada di dalam hati kita dan Dia ingin supaya kita jujur dan terbuka di hadapan-Nya.

2. Kerelaan Hati

Kita seringkali memakai paradigma kita sebagai batasan ukuran untuk mengukur orang lain. Hal inilah yang dilakukan oleh ahli Taurat, ia memakai paradigma yang ada padanya yang ia anggap benar untuk menghakimi Yesus. Si ahli Taurat ini tidak menjalankan prinsip tersebut pada dirinya sendiri tetapi ia merelasikan prinsipnya pada orang lain. Dan ketika dua prinsip bertemu, itu berarti pertemuan antara dua iman yang bersifat mutlak. Ahli Taurat ini menuduh Yesus sebagai penghujat sebab menurut kepercayaannya tidak seorang pun manusia dapat mengampuni dosa. Sampai batas ini, Tuhan Yesus pasti setuju dengan pemikiran ahli Taurat tersebut. Ketika Tuhan Yesus memberitahukan pada ahli Taurat bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa maka reaksi mereka langsung berubah sebab ada pertentangan iman di sana. Iman yang ada dalam diri ahli Taurat sedang menghakimi Kristus Ketika iman saling bertemu maka di dalamnya seharusnya mengandung pertanggung jawaban dan ada resiko besar yang harus ditanggung. Kenapa orang sulit sekali untuk berpikir seperti Tuhan berpikir, thinking after God’s thinking? Sebab itu berarti kita harus siap membongkar pemikiran kita yang salah.  Iman adalah suatu kemutlakan yang tidak dapat dikompromikan atau dikombinasikan, satu-satunya cara adalah membuang pikiran kita dan menggantinya dengan yang baru. Adalah mustahil orang dapat percaya sekaligus tidak percaya kalau Yesus adalah Tuhan Allah dan Juruselamat, bukan? Menggeser sebuah iman menuntut pertanggung jawaban dengan keberanian dan kerelaan yang sungguh. Apakah kita percaya kalau Tuhan menuntun hidupmu? Setiap orang Kristen pasti akan menjawab: percaya akan tetapi kalau kita mau jujur benarkah dalam setiap keputusan yang kita ambil sehari-hari itu, Yesus memimpin hidup kita? Cobalah uji dirimu seminggu di belakang saja, apakah di setiap keputusan ataupun tindakanmu telah sesuai dengan kehendak-Nya?

Ketika kita memberitakan Injil pada seseorang maka janganlah bersukacita dulu ketika orang sudah mengatakan: “Aku percaya pada Tuhan Yesus“, cobalah bertanya lebih dalam lagi kalau sudah percaya Kristus maukah meninggalkan segala kepercayaanmu yang lain dan taat mutlak pada-Nya? Dari jawabannya barulah kita mengetahui bagaimana kepercayaan dia yang sesungguhnya. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang bersifat new age bukan inclusive God tetapi exclusive God maka bunyi hukum pertama dari hukum Taurat adalah jangan ada ilah lain di hadapan-Ku. Kalau kita mempermainkan iman maka itu berarti kita belum mengerti apa artinya dikuduskan di dalam Kristus. Ahli taurat hanya ingin kesembuhan maka kalau iman hanya menyangkut kesembuhan maka itu bukan ajaran Kristen tapi penipuan dan menjual nama Yesus. Kalau kita percaya pada Kristus maka kita harus melepaskan semua kepercayaan kita dan mengikut pada Kristus. Inilah kadosh, kekudusan Allah yang menuntut pemisahan untuk mengutamakan Allah dalam hidup kita.

3. Tidak ada posisi netral

Pendekatan religiusitas modern menegaskan bahwa semua pendekatan agama jika dibasiskan pada paradigma agamanya maka agama itu bersifat netral. Akan tetapi di mata Tuhan tidak ada posisi netral, di mata Tuhan hanya ada baik dan jahat; Dia langsung menegur ahli Taurat dengan mengatakan bahwa Dia memikirkan hal yang jahat. Ahli Taurat mendapat suatu pengujian sekaligus penghakiman, Tuhan Yesus menyatakan kebenaran sekaligus kesalahan. Ada konflik tersendiri dalam diri si ahli Taurat. Di dalam theologi Yudaisme, adalah hal yang mustahil kalau seorang penghujat dapat menyembuhkan. Namun kedua hal yang berlawanan ini oleh Tuhan Yesus dikerjakan secara paralel. Ahli Taurat ini tidak dapat menerima realita ini namun ia tidak berani berterus terang sehingga ia hanya menggerutu di dalam hati, ia berpikir jahat. Hal inipun juga terjadi pada murid Tuhan Yesus, yakni setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Anak Allah maka Tuhan Yesus memberitahukan kebenaran bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Mendengar hal ini Petrus sangat kaget, ia menarik tangan Tuhan Yesus dan marah pada-Nya sebab Mesias yang ada dalam pikirannya adalah Raja dengan kuasa dan kekuatan besar dan mempunyai kerajaan yang besar bahkan menguasai seluruh kerajaan Daud dan kerajaan Salomo. Iman Petrus adalah iman duniawi yang dirohanikan. Tindakannya dipengaruhi oleh pola pikir dan pola pikirnya dipengaruhi oleh imannya. Namun Petrus tidak berani jujur, dia tidak berani mengkonfrontasikan imannya dan meninggalkan apa yang ia percaya. Petrus bukan berpikir apa yang dipikirkan Allah tetapi apa yang dipikirkan manusia karena itu Tuhan Yesus menegur Petrus dengan keras: ”Minggir setan“ (terjemahan asli).

Hal ini membuktikan bahwa di dalam dunia ini tidak ada yang netral, Tuhan hanya melihat yang baik dan jahat. Kalau kita berani menguji diri dan mengoreksi diri pastilah hari ini hidup kita menjadi lebih bersih sebab kita tahu hal yang jahat tetapi kita justru menganggapnya sebagai kebaikan. Dunia modern seringkali mengkompromikan hal-hal yang jahat bahkan cenderung mengabaikannya dengan menganggapnya netral. Memang bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk berpikir seperti Tuhan pikir tapi biarlah sebagai warga Kerajaan Sorga, kita mempunyai hati yang teachable, hati yang mau dibentuk oleh Tuhan karena kita tahu, Tuhan pasti akan memimpin kita menuju pada kebaikan. Janganlah hidup mengandalkan dunia tapi hendaklah kita mengandalkan Kristus Tuhan kita. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050410.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : SEPARATED FOR GOD’S MISSION (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Tuesday, November 14th, 2006

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 03 April 2005

Separated for God’s Mission

Nats: Mat. 9:1-8

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita telah memahami beberapa bagian dari implikasi Kerajaan Sorga yang dipaparkan oleh Matius, yakni bagaimana men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita, the Lordship of Christ; sebagai warga Kerajaan Sorga harus taat pada Sang Pemimpin, yaitu Yesus Kristus. Percayalah, Kristus pasti akan memimpin jalan kita, Dia tidak memimpin kita  menuju kebinasaan. Kalau kita telah menyadari bahwa Kristus adalah Tuhan atas hidup kita maka hal itu bukan hanya sekedar pengakuan tetapi kita harus mengikut secara terus menerus tanpa syarat, the disclepship of Christ. Sebagai pengikut Kritus maka ada konsekuensi yang wajib dijalankan, yaitu hidup kudus. Kudus tidak identik sama persis dengan suci. Kudus berasal dari kata kadosh (bahasa Ibrani) berarti dipisahkan dari dosa untuk menjalankan misi Kerajaan Sorga di tengah dunia, separated for God’s mission. Alkitab menegaskan dosa berarti memberontak dan melawan Allah dan kebenaran-Nya. Kita dipanggil untuk hidup kudus maka janganlah seturut dengan dunia tetapi kita harus berpaut dan seluruh hidup kita berorientasi pada Kristus yang telah memperdamaikan dan kita harus hidup suci. Suci merupakan cerminan dari sifat dan moralitas Ilahi yang terimplikasi dari diri kita yang sudah dikuduskan oleh Kristus dengan demikian kita mempunyai kualitas moral yang berbeda dengan kualitas moral dunia. 

Matius juga ingin menyadarkan kita bahwa religiusitas tidaklah cukup kecuali kita kembali pada paradigma yang benar yang selama ini telah kita geser, paradigm shift. Iman bukanlah sekedar menggeser tindakan tetapi menggeser cara konsep pikir yang paling esensi di dalam pola pikir, world view. Dunia science mengenal sebagai paradigma dan Kekristenan menyebutnya sebagai iman. Iman sejati harus kembali pada satu konsep yang sejati sebab pergeseran iman ini menyangkut konsep berpikir yang tuntas. Dengan kata lain: jangan sekedar ganti tampilan tetapi ganti esensi. Secara singkat, Matius menuliskan ada seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya lalu Tuhan Yesus menyembuhkannya sehingga ia dapat berdiri dan berjalan namun cara Tuhan Yesus menyembuhkan sangatlah kontroversial, yaitu bukan berkata: “Sembuhlah kamu“ melainkan “Dosamu telah diampuni.“ Kalimat inilah yang menjadi inti yang hendak dipaparkan oleh Matius. Kalau kita bandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas maka kita mengetahui detail peristiwa orang lumpuh ini bisa sampai di hadapan Yesus dengan cara yang sangat unik, yaitu ia digotong oleh empat orang dan karena orang banyak berada di dekat Yesus, mereka membuka atap lalu menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Detail tersebut sengaja tidak ditulis oleh Matius sebab memang bukan itu yang menjadi inti yang hendak dipaparkan oleh Matius. Sebagai contoh, dari perikop di atas, orang bisa saja berkhotbah tentang kerjasama yang mendatangkan suatu berkat atau juga tentang usaha atau perjuangan yang keras akan mendatangkan berkat dan kesuksesan. Melalui bagian ini, sebenarnya Matius ingin menekankan bagaimana orang lumpuh ini disembuhkan dengan cara yang sangat unik, yakni melalui dialog dengan Tuhan Yesus lalu dialog itu diinterpretasi oleh ahli Taurat. Meski tidak diucapkan secara langsung namun Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi isi hati si Ahli Taurat lalu Tuhan Yesus berkata: “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?“ Orang pasti akan berkata, “Tentu yang paling mudah kalau mengatakan: Bangun dan berjalan.“ Namun justru itu, Tuhan Yesus tidak berkata demikian, Ia ingin memberitahukan bahwa di tengah-tengah dunia ini, Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa. Disini terjadi pertentangan konsep berpikir maka supaya tidak terjadi pertentangan, orang kemudian menyamakan konsep berpikirnya atau orang tidak mau berpikir lagi akan hal-hal yang rumit dan bersifat kontroversial. Orang tidak suka kalau hal yang esensial, yaitu iman dipertanyakan.

Francis Schaefer menegaskan I do what I think and I think what I believe, saya melakukan apa yang saya pikir dan apa yang saya pikir itulah yang saya percaya. Kepercayaan terimplikasi pada pemikiran dan pemikiran itu terimplikasi pada tindakan. Tuhan Yesus menyadarkan kita supaya jangan melihat iman sekedar dari permukaan saja, yakni kesembuhan.

Sebab orang lebih mudah melihat hal yang fenomena daripada yang esensi; sebagai contoh, orang yang terkena gejala demam maka tidak setiap orang yang mengalami demam mempunyai penyakit sama, bukan? Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengajak kita untuk beriman bukan karena melihat fenomena atau gejala tetapi lebih dari  itu, yaitu esensi. Tuhan Yesus datang untuk menyelesaikan dosa dan berita ini tidak disuka oleh orang Yahudi maupun ahli Taurat. Kenapa mereka sulit menerima perkataan Tuhan Yesus: Dosamu telah diampuni? Bukankah Yesus membuktikan bahwa kalimat tersebut benar adanya?

Ahli Taurat ini menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan karena ia pikir Tuhan Yesus adalah penghujat, I do what I think,  dan kenapa ahli taurat ini dapat berpikir kalau Tuhan Yesus adalah penghujat karena dari kepercayaan imannya, I think what I believe. Ahli Taurat ini tidak mau mengakui kalau Yesus adalah Allah. Kalau mereka percaya bahwa Yesus adalah Allah pasti tidak akan ada konflik yang timbul. Konflik ini muncul setelah mereka melihat realita, kalau benar Yesus adalah penghujat seperti dugaan mereka tapi kenapa keadaan justru bertambah baik. Kuncinya adalah apa yang mereka percaya tidak dapat dibereskan sebab ketika orang mulai masuk dalam aspek iman maka didalamnya terkandung unsur kemutlakan. Iman sejati menyangkut kemutlakan, iman sejati menuntut jawaban: ya atau tidak. Hal inilah yang menjadi masalah si ahli Taurat, dia dituntut percaya atau tidak bahwa Yesus adalah Allah. Mengikut Kristus bukan hanya sebatas fenomena tapi mengikut Kristus haruslah sampai pada titik kemutlakan iman. Melalui dialog antara Tuhan Yesus dengan orang lumpuh ini, Matius ingin membukakan pada kita yang mengaku sebagai warga Kerajaan Sorga maka sampai dimanakah wilayah pemisahan itu? Kalau kita telah dikuduskan/dipisahkan maka pemisahan seperti apa? Pemisahan itu haruslah sampai pada kriteria yang paling dalam, yaitu iman. Iman adalah sebuah kemutlakan, tidak bisa digandakan dan tidak bisa dikompromikan.

Jadi, kalau kita mengaku percaya kepada Kristus maka kita harus percaya hanya kepada-Nya saja. Kepercayaan mengandung harus tunggal adanya. Tuhan Yesus menegaskan tak seorang pun dapat mengabdi pada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24). Kalau kita beriman pada Kristus maka apa yang kita pikirkan, apa yang kita lakukan haruslah hanya berorientasi pada Kristus.  Demikian juga kalau kita beriman pada uang maka hidup kita hanya berorientasi pada uang semata. Hati-hati dengan pendapat yang mengajarkan bahwa semua agama di dunia sama, yaitu mengajarkan kebaikan sehingga iman itu tidak perlu dimutlakkan dan jangan terlalu fanatik dengan imanmu. Pertanyaannya sekarang apakah dengan adanya pendapat demikian maka kemutlakkan iman menjadi sesuatu yang tidak mutlak lagi sehingga boleh dikompromikan atau bahkan ditiadakan? Tidak! Dalam aspek religius mengandung tiga unsur kemutlakan, yaitu:

1. Kemutlakan Tesis

Sesuatu yang menjadi tesis atau sesuatu yang ada dalam konsep pemikiran seseorang sebenarnya itulah yang menjadi inti imannya. Kalau seseorang percaya pada Kristus maka seluruh hidupnya hanya berorientasi pada Yesus yang menjadi Tuhan dan Raja atas hidupnya. Begitu juga kalau orang beriman pada uang maka seluruh orientasi hidupnya hanya pada uang. Orang Kristen yang mengatakan bahwa Kekristenan tidak beda dengan agama lain maka orang tersebut pasti bukan Kristen sebab ia tidak mengerti tentang Kekristenan sejati. Iman dalam setiap agama haruslah mengandung unsur kemutlakan dan kemutlakan inilah membedakannya dari yang lain. Sebab kalau kemutlakkan itu sama maka agama di dunia tidak banyak tapi realitanya tidaklah demikian.

Orang  yang mengatakan bahwa semua agama itu sama sesungguhnya ia juga mempunyai kemutlakan, yaitu kemutlakkan pada dirinya sendiri. Orang demikian akan menjadi marah ketika ada orang yang mengkutak-kutik kemutlakannya. Sebab baginya, semua agama itu sama adalah mutlak padahal ada orang lain yang tidak setuju dengannya. Berarti dia memutlakkan dirinya sendiri dengan mengatakan: “tidak ada yang mutlak“. Jadi, untuk mengatakan tidak ada yang mutlak diperlukan semangat kemutlakan.  Itulah manusia berdosa. Pertanyaannya dimana imanmu yang sebenarnya? Karena itu kita perlu kembali pada konsep yang benar, yaitu what do you do, what do you think, and what do you believe harus kita bereskan terlebih dahulu. Marilah kita uji diri kita, sudahkah kita memiliki iman yang sejati? Kepada siapakah kita beriman? Cobalah telusuri dari dasar, pemikiran apa yang mendasari tindakan atau tingkah laku kita? Pertanyaan lebih lanjut why do you think like that? Benarkah Kristus yang menjadi pusat iman kita?

2. Kemutlakan Karateristik

Kemutlakan karateristik merupakan citra Kekristenan yang tidak dipunyai oleh orang lain. Iman yang sejati harus mempunyai karakteristik atau ciri khas yang membedakan dengan iman yang lain karena itu menjadi implikasi sebuah kemutlakkan. Karakteristik ini dapat diuji dengan karakteristik yang dimiliki oleh iman yang lain. Sangatlah mudah bagi Yesus untuk berkata: “Bangun dan berjalanlah“ tapi apa bedanya dengan yang lain sebab orang lain pun dapat melakukan hal demikian. Tuhan Yesus ingin menunjukkan sesuatu yang agung dan itu tidak ada pada iman yang lain, yakni: “Anak Manusia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa.“ Kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus ini menunjukkan siapa diri-Nya, who Jesus is? Yesus bukan sekedar manusia biasa tapi Ia membuktikan bahwa dirinya lain dari manusia biasa. Jikalau tulah pertama hingga tulah keempat yang dilakukan oleh Musa dapat dilakukan juga oleh para dukun Mesir maka Alkitab mencatat Firaun mengeraskan hati. Dengan kata lain Firaun  hendak berkata, “Dewa Mesir pun dapat melakukan seperti yang dilakukan Allah Yahweh maka kenapa kami harus percaya pada Allah Yahweh?“ Mulai tulah kelima hingga tulah kesepuluh, orang Mesir tidak dapat meniru yang Tuhan lakukan dan saat itu Alkitab mencatat Tuhan mengeraskan hati Firaun. Tuhan Allah mau menunjukkan kualitas diri-Nya. Inilah iman sejati. Iman sejati mempunyai kemutlakan karakteristik sejati. Kemutlakan ini tidak dapat dilakukan oleh orang lain.

Kekristenan bukanlah salah satu agama diantara banyaknya agama di dunia. Bukan! Kekristenan adalah satu-satunya yang mempunyai finalitas yang tidak dapat dilakukan orang lain. Dunia mengajarkan kalau kita dipukul sekali maka kita harus membalasnya dua kali sebab pembalasan harus lebih kejam maka ketika ada orang yang mengajarkan pembalasan haruslah impas, gigi balas gigi, mata balas mata maka orang melihat ajaran tersebut baik. Namun Tuhan Yesus mengajarkan kalau engkau ditampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. Ajaran Tuhan Yesus mengandung kualitas yang agung dan dunia tidak dapat menjalankannya. Celaka, banyak orang Kristen tidak mengerti keagungan ini. Ingat, pembalasan itu adalah hak Tuhan. Keadilan bukan di tangan manusia tapi di tangan Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat menilai dengan tepat seberapa ukuran pembalasan yang harus diberikan. Ketika kita diperlakukan tidak adil pertanyaannya benarkah kita tidak bersalah? Atau jangan-jangan memang kita yang bersalah. Kalau kita diperlakukan tidak adil karena kebenaran maka percayalah, Tuhan tidak akan tinggal diam, Dia yang membalaskan-Nya sesuai dengan keadilan-Nya. Dunia tidak mengerti dan tidak dapat melakukannya sebab providensia Allah menjadi batasan sehingga orang yang dapat melakukan yang Kristus ajarkan. Hal ini merupakan salah satu dari finalitas Kekristenan dan masih banyak lagi. 

3. Kemutlakan Nilai

Iman sejati mengandung kemutlakan sejati dan kemutlakan sejati itu harus mengandung nilai sejati. Nilai sejati inilah yang mendorong kita untuk mempunyai semangat hidup. Kalau uang yang kita anggap sebagai yang bernilai dalam hidupmu maka segala tindakan yang kita lakukan pastilah berorientasi pada uang bahkan engkau rela mati demi untuk uang. Pertanyaannya setelah kita berjuang mati-matian apa hasil yang kita dapatkan? Apakah kita menjadi lebih baik, lebih kaya, atau lebih hidup? Tidak! Kemungkinan orang lumpuh ini berpikir sangat sederhana, yakni ia hanya ingin sembuh dengan demikian ia tidak bergantung pada orang lain. Namun Tuhan Yesus mengajak dia untuk berpikir lebih jauh lagi, yakni masalah utamanya sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Tentu, dengan mudah Tuhan Yesus dapat menyembuhkannya tapi setelah itu mati, lalu apa gunanya maka inti permasalahannya adalah kita manusia berdosa. Tuhan Yesus melihat bahwa kelumpuhannya mungkin malah membuat dia tidak berdosa tapi kalau ia disembuhkan dan dapat berdiri maka itu justru malah membuat dia lebih berdosa dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Dosamu diampuni“. Orang yang mengerti benar akan nilai yang sejati maka ia tahu dan sadar bahwa hidup bukan sekedar kesehatan, keuangan atau kekayaan. Hidup itu kembalinya kita pada Sumber Hidup. Hidup mencapai nilai tertinggi ketika iman kita berpaut pada Allah yang sejati. Dimanakah imanmu? Kepada siapakah anda mempertaruhkan hidup anda? Ingat, kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan, kita harus memilih beriman pada Mamon dan berakhir dengan kebinasaan ataukah pada Allah Sang Sumber Hidup? Pilihan kita menentukan nilai hidup kita. Iman Kristen adalah iman yang terimplikasi dan terlaksana dalam kehidupan kita sehari-hari. Biarlah kita merubah seluruh citra hidup kita dengan demikian kita dapat menjadi saksi-Nya.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050403.htm

Eksposisi Injil Matius 8 : THE STRATEGY OF SATAN (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, November 6th, 2006

Eksposisi Injil Matius-8

Ringkasan Khotbah : 13 Maret 2005

The Strategy of Satan

Nats: Mat. 8:28-34

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Hari ini banyak orang menyebut dirinya sebagai pengikut Kristus namun ia masih berpola pikir seperti iblis. Karena itu setiap orang Kristen perlu tahu strategi-strategi setan dengan demikian kita tidak mudah masuk dalam jebakan iblis sebab sekali kita masuk jebakannya maka akan sulit keluar, iblis akan membelenggu kita. Hanya Kristus Yesus, pemegang otoritas tertinggi yang dapat melepaskan kita dari ikatan belenggu iblis.  Tuhan Yesus dapat mengusir setan di Gadara ini membuktikan otoritas Kristus lebih besar dari otoritas setan. Setan menjadi takut dan gemetar ketika ia berhadapan dengan Anak Allah. Ironisnya, orang lebih takut pada kuasa setan daripada kuasa Tuhan yang kepada-Nya setan menjadi takut. Setelah Kristus mati dan bangkit maka tidak ada kekuatan apapun yang dapat melawan kuasa Allah bahkan iblis pun takut kepada anak Tuhan sejati sebab kepada mereka diberinya kuasa sehingga kita dapat berkata, “Hai, maut dimanakah sengatmu?“ Namun realita tidaklah demikian Tuhan Yesus datang untuk menolong orang yang kerasukan tapi Tuhan Yesus justru yang diusir pergi.

Kekuatan orang yang dirasuk setan ini pastilah sangat dahsyat sebab sekian lama ia dirasuk dan tidak ada seorang pun yang dapat menyembuhkannya bahkan dirinya sendiri tidak mampu mengendalikan kuasa setan yang telah membelenggunya. Hari itu Tuhan Yesus datang ke Gadara khusus untuk menyembuhkan orang yang kerasukan namun reaksi yang ditunjukkan oleh orang Gadara sangatlah mengejutkan, orang-orang Gadara itu menjadi takut (Mrk. 5:15). Ternyata “demonstrasi kuasa Allah“ itu tidak membuat orang-orang Gadara bersyukur dan sujud menyembah pada-Nya tetapi mereka takut dan mengusir Yesus. Bukan ucapan terima kasih yang Tuhan Yesus terima sebab Dia sudah menyelesaikan masalah yang selama ini tidak dapat mereka atasi; penduduk Gadara  takut melihat orang yang sudah waras dan ketakutan itu mampu mengusir Yesus. Reaksi yang ditunjukkan oleh orang-orang Gadara ini sungguh tidak masuk akal maka hal ini membuat kita bertanya-tanya what is the strategy of satan?

I. Fearness Authority

Kalau kita mau jujur menilik ke dalam hati kita, apakah kita suka kalau Tuhan Yesus ikut campur tangan dalam hidup kita? Mungkin kita juga akan berpola pikir seperti orang-orang Gadara, kita tidak suka kalau Tuhan Yesus mengatur hidup kita; pikiran kita telah dikuasai oleh iblis sehingga tanpa sadar sebenarnya kita lebih pro pada iblis meski mulut kita berkata, “Aku anak Tuhan.“ Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mereka justru mengambil keputusan untuk mengusir Yesus pergi padahal Tuhan Yesus telah menolong mereka dengan mengusir setan? Apa yang sebenarnya ada dalam pemikiran mereka sehingga mereka mengambil keputusan itu? Mengapa mereka tidak dapat melihat bahwa Yesus adalah Anak Allah seperti yang diteriakkan oleh iblis? Seluruh orang Gadara seharusnya bersyukur dan sujud menyembah pada Tuhan Yesus, Anak Allah, setan pun harus tunduk kepada-Nya sebab otoritas tertinggi ada ditangan-Nya namun orang-orang Gadara justru merasa terganggu dengan kehadiran Kristus.

Ketika kita melihat figur otoritas, maka pertanyaannya adalah figur seperti apa yang mempunyai otoritas tinggi dan yang kepadanya kita taat, yakni orang yang kejam dan menakutkan ataukah orang yang lemah lembut dan suka menolong? Kepada siapakah anda menundukkan kepala dan taat? Image authority kita telah terkondisi sedemikian rupa sehingga pada orang yang baik dan lemah lembut tapi berkuasa besar, kita tidak takut bahkan kita cenderung mau memberontak sedang pada orang yang kejam dan menakutkan, orang akan tunduk meskipun kelasnya sangat rendah. Kristus adalah otoritas tertinggi tapi sedikitpun Kristus tidak memberikan gambaran kegarangan. Setan tahu kalau otoritas yang ia miliki bukanlah otoritas tertinggi karena itu, ia selalu memakai wajah garang dan seram supaya orang tunduk padanya. Ironisnya, orang lebih suka pada pemimpin yang jahat daripada pemimpin yang baik dan lemah lembut. Betapa mengerikan kalau kita tidak mengerti dan salah menundukkan diri. Hati-hati, iblis memakai faktor “takut“ untuk mencengkeram manusia. Perhatikan, kata “takut“ ini berulang kali dipakai oleh iblis. Ketakutan ini muncul sebagai akibat dari dosa. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, seluruh alam semesta tertata dengan sangat rapi dan harmoni namun dosalah yang menjadikan alam semesta disharmony dan dunia dikuasai oleh ketakutan. Kalau kita pertajam, manusia sebenarnya takut mati. Setan sangat licik, ia memakai ketakutan untuk menjatuhkan manusia, yakni dengan mengiming-imingi jalan keselamatan dan celakalah kalau orang tidak mengerti bahwa keselamatan itu bukanlah keselamatan sejati malah berakhir dengan kebinasaan. Menakut-nakuti manusia dengan kematian adalah cara iblis yang paling ampuh supaya manusia mau tunduk padanya. Ketakutan itulah yang menjadikan iblis menjalankan otoritasnya. Kepada siapa kita takut maka itu berarti kita telah berada di bawah penguasaannya maka orang yang takut setan berarti ia telah menyerahkan dirinya di bawah kuasa setan yang sifatnya mematikan. Tuhan Yesus datang melepaskan kita dari belenggu ketakutan ini. Alkitab menegaskan barangsiapa ada di dalam Kristus maka ia tidak lagi dicengkeram oleh Roh ketakutan sebab Tuhan telah menyelamatkan kita dan Tuhan juga telah menghidupkan kita sehingga kita tidak perlu takut lagi akan kematian.

Satu-satunya cara supaya kita terlepas dari cengkeraman ketakutan itu adalah kalau kita menjadi anak Tuhan yang sejati. Sebagai anak Tuhan sejati, jangan takut pada kuasa setan justru sebaliknya setan yang seharusnya pada anak Tuhan sejati. Sayangnya, orang Kristen tidak mengerti sebab contoh di dunia terlalu sedikit. Setan tidak pernah memakai kehidupan Ayub, Paulus atau para tokoh iman lain yang telah menang melawan iblis sebagai contoh teladan untuk manusia. Ingat, setan tidak boleh mencobai manusia tanpa seijin dari Tuhan. Alangkah indahnya hidup yang berada dalam anugerah Tuhan sebab kita tidak perlu lagi merasa kuatir. Ingat, rasa kuatir kita tidak akan menambah satu inci hidupmu. Mengikut Tuhan maka dunia ini tidak lagi menakutkan, tidak ada sesuatu apapun yang dapat menakutkan kita. Kiranya hal ini menjadi kekuatan bagi kita sehingga merubah seluruh aspek cara hidup kita dengan demikian kita tidak dicengkeram oleh ketakutan.

Apa yang menyebabkan orang-orang Gadara ini ketakutan? Sesungguhnya, orang Gadara ini takut kalau setan yang tadinya ada pada dua orang yang kerasukan itu pindah ke mereka dan menganggu hidup mereka. Mata rohani mereka telah dibutakan oleh kuasa setan sehingga mereka tidak dapat melihat keselamatan yang telah Kristus kerjakan, mereka tidak menyadari bahwa kalau Kristus dapat menyembuhkan dua orang yang kerasukan maka Kristus pun dapat menyelamatkan seluruh penduduk Gadara. Ketakutan telah menguasai hidup mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi dapat melihat dengan tepat. Ironis, orang seharusnya bersyukur ketika ada orang yang diselamatkan tapi sikap yang kita lihat justru terbalik. Sikap orang Gadara ini pun sekarang juga terjadi, banyak orang tidak suka kalau banyak orang yang diselamatkan; orang takut kalau semakin banyak orang yang bertobat dan menjadi pengikut Kristus maka jiwanya juga menjadi terancam. Merupakan suatu sukacita kalau kita menjadi martir bagi-Nya. Ingat, Tuhan telah memilih kita dari dunia, sebab itulah dunia akan membenci kita.

II. Change of Priority

1. Secondary Purpose

Apa yang seharusnya menjadi hal yang terutama oleh setan justru ditiadakan dan hal yang sekunder itulah yang ditonjolkan sampai akhirnya pola berpikir manusia berbeda. Pemikiran manusia sangat terkondisi dengan informasi apa yang dimasukkan dalam pikiran kita dan bagaimana cara men-indoktrinasi maka media itu menjadi berbahaya. Media bersifat subyektif, sebagai contoh, media dapat menjadi sarana bagi para penulis untuk mengarahkan pembacanya sedang data itu sendiri bersifat obyektif. Dengan data yang sama pula maka media itu dapat dipakai untuk mengarahkan seseorang untuk menjadi seorang pemberontak atau penurut. Hati-hati, setan memakai sarana ini supaya kita lebih memperhatikan hal-hal yang sekunder dan meniadakan hal yang utama. Dengan caranya yang licik, iblis meng-indoktrinasi kita dengan memberikan informasi yang tidak penting dan menyembunyikan kebenaran. Anak Tuhan harus berkata kebenaran, jangan tutupi kebenaran dengan motivasi lain. Orang-orang di Gadara tidak dapat melihat hal yang inti, yakni Yesus datang untuk menyembuhkan orang yang kerasukan dengan liciknya, setan menutupi motivasi yang utama tersebut dan mengatakan kedatangan Yesus adalah untuk menganggu. Pikiran orang-orang Gadara telah dirasuk oleh iblis maka tidaklah heran kalau mereka kemudian mengusir Yesus.

2. Secondary Value

Setan juga menggeser konsep nilai. Yesus menyelamatkan orang yang kerasukan itu karena Yesus tahu nyawa manusia lebih berharga dari apapun namun orang Gadara tidak memperhatikan hal itu, mereka justru memikirkan kerugian materi yang harus mereka tanggung karena 2000 ekor babi mati, pikiran mereka telah dibutakan oleh materi, pig thinking. Manusia tidak dapat lagi menilai yang esensial, bahkan demi untuk mendapatkan sedikit uang, orang rela menjual harga dirinya. Setan telah berhasil merusak konsep nilai sehingga orang tidak tahu lagi mana yang bernilai tinggi dan mana yang bernilai rendah. Umumnya, orang menilai berdasarkan empat variabel, yaitu: 1) asumsi atau instinct, 2) kemampuan atau kapasitas diri, 3) selera masing-masing, 4) obyek benda. Dari keempat variabel di atas, menilai yang paling tepat haruslah secara obyektif dan hal itu tidaklah mudah sebab dibutuhkan studi dan kecermatan tinggi. Setan tahu bagaimana caranya menarik manusia supaya menjadi pengikutnya, yaitu setan akan menjepit dan membawa kita pada kepentingan subyektifitas dan akhirnya kita tidak dapat menghindar. Tanpa kita sadari, kita pun ikut dengan cara setan dan value system kita persis dengan setan. Ingat, segala sesuatu yang Tuhan kerjakan atas diri kita tidak akan pernah merugikan atau mengecewakan.

3. Secondary Effects

Setan menggeser dampak untuk Tuhan menjadi dampak untuk manusia. Setan tidak pernah mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan dampak akhirnya adalah untuk Tuhan. Tidak! Setan mempengaruhi manusia sedemikian rupa supaya segala sesuatu yang dikerjakan demi untuk kepentingan humanistik, egoisme manusia. Dengan akal liciknya, setan menawarkan kenikmatan sesaat sehingga manusia tidak menyadari bahwa semua kepentingan diri itu akan membawanya pada kematian kekal. Orang Gadara lebih memilih mengusir Yesus dan kehilangan keselamatan. Pikiran mereka telah dikuasai oleh iblis sehingga mereka hanya berpikir tentang babi-babi yang mati, yaitu kerugian materi. Sangatlah disayangkan, mereka tidak dapat melihat efek yang menyangkut tentang kemuliaan Tuhan, iblis telah membutakan mata rohani mereka sehingga mereka hanya melihat kemuliaan manusia. Inilah cara iblis menipu manusia sehingga manusia tidak bisa lepas dari cengkeramannya itulah sebabnya Tuhan Yesus langsung pergi tanpa memberikan penjelasan kepada mereka karena memang tidak perlu, pikiran mereka telah dibutakan kuasa iblis.

Celakalah, kalau hidup kita hanya untuk mengejar kemuliaan diri berarti iblis telah berhasil menguasai kita sehingga kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita. Setan sangat pandai menggoda manusia dengan mengiming-imingi harta di dunia sehingga manusia dengan ambisinya mengejar harta yang sifatnya sementara. Ingat, apalah gunanya mencari harta di dunia kalau hidup kita hanya berakhir dengan kebinasaan. Setan pintar sekali menutup dampak-dampak yang harusnya membawa kita pada surga dan ia membawa kita pada dampak-dampak yang berakhir dengan kebinasaan. Semua dampak yang sifatnya positif, setan tutup dan setan ganti dengan segala hal yang negatif. Biarlah apapun yang kita kerjakan, kerjakanlah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Sayang, banyak orang Kristen yang tidak menjadi saksi, segala sesuatu yang ia lakukan hanya memalukan nama Tuhan. Hati-hati ini juga salah satu strategi setan yang menjebak orang Kristen supaya berbuat sesuatu yang kemudian memalukan nama Tuhan. Biarlah kita mencontoh teladan  Tuhan Yesus sebagai pemegang otoritas tertinggi namun Ia lemah lembut dan berintegritas.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050313.htm

Eksposisi Injil Matius 8 : THE AUTHORITY OF CHRIST OVER SATAN (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Saturday, November 4th, 2006

Eksposisi Injil Matius 8

Ringkasan Khotbah : 06 Maret 2005

The Authority of Christ Over Satan

Nats: Mat. 8:28-34

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pada bagian pertama dari sub tema the discipleship of Christ ini Injil Matius mengambil dua contoh golongan murid, yakni: 1) golongan eksternal, yaitu orang Farisi, orang yang dianggap sebagai orang religius, dan 2) golongan internal, yaitu murid Tuhan Yesus sendiri. Melalui kedua contoh ini, Matius ingin membukakan pada kita bahwa Kristus sebagai pemegang kuasa tertinggi berotoritas mutlak atas manusia dan Dia menuntut setiap orang yang mau menjadi pengikut-Nya taat pada semua ketetapan-Nya. Di bagian kedua, Matius juga membukakan bahwa bukan hanya manusia saja yang harus tunduk pada Kristus sebagai pemegang otoritas tertinggi akan tetapi alam semesta pun juga harus tunduk pada-Nya. Tidak ada satu kuasa dari manusia manapun di seluruh alam semesta ini yang dapat meneduhkan angin ribut dalam sekejap dan hanya dengan sekali perintah. Hanya Dia yaitu Yesus, Anak Allah sang Pencipta dan Pemilik alam semesta ini yang mempunyai kedaulatan kuasa itu.

Di bagian ketiga, Matius membukakan bahwa kuasa Kristus bukan hanya sebatas manusia dan alam semesta saja. Tidak! Kristus juga berkuasa atas setan. Manusia paling takut dengan kuasa kegelapan. Masalah pelik mulai timbul, di satu pihak, manusia ingin lepas dari kuasa kegelapan itu namun di pihak lain, manusia tidak ingin lepas. Sebagai pengikut Kristus sejati, kita harus melepaskan diri dari segala bentuk kuasa iblis yang menjerat hidup kita bahkan kita harus mengubah pola berpikir kita yang selama ini telah dibentuk oleh setan. Dibandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas, Matius yang paling singkat menuliskan bagian dimana Tuhan Yesus mengusir setan dari orang yang kerasukan setan. Matius tidak mencatat siapa nama setannya, berapa jumlahnya, dan lain sebagainya sebab memang bukan disana fokusnya. Fokus utamanya adalah otoritas Kristus atas dosa dan sikap manusia terhadap dosa.

1. Otoritas Kristus melampaui teritorial.

Tuhan Yesus pergi ke seberang, yaitu di daerah Gadara yang terletak di wilayah Timur sungai Yordan dan orang Yahudi menganggap wilayah Gadara sebagai daerah kafir seperti halnya Samaria. Orang Yahudi membatas dirinya sedemikian rupa sampai-sampai mereka rela berjalan memutar demi supaya kakinya tidak menginjak daerah orang kafir. Namun ke daerah yang dianggap kafir inilah Tuhan Yesus pergi. Tuhan Yesus mau menyatakan bahwa otoritas-Nya bukan hanya ada di wilayah Yahudi atau di tengah-tengah orang Yudea saja. Tidak! Otoritas Tuhan Yesus tidak dibatasi oleh wilayah atau teritorial tertentu; Kerajaan yang sedang Kristus genapkan bukanlah sebatas Kerajaan Israel seperti yang dimengerti oleh orang Yahudi. Tidak! Kerajaan Kristus adalah Kerajaan Sorga yang wilayahnya mencakup seluruh alam semesta. Secara konsep hal ini dimengerti oleh manusia namun secara konsep pulalah kita sulit mengimplikasikannya.

Abraham Kuyper, seorang teolog reformed sekaligus filsuf, politikus dan ilmuwan berpendapat kalau setiap orang Kristen sebenarnya tahu bahwa Yesus sebagai pemegang otoritas tertinggi berkuasa mutlak atas hidup manusia namun ketika hal itu diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari maka nyatalah sekarang bahwa Yesus tidak menjadi Raja dan Tuhan atas hidup kita. Seharusnya kita menyadari seperti halnya Abraham Kuyper: “tidak ada satu inci pun di dalam hidupku dimana Tuhan tidak berkuasa atasnya.“ Kristus adalah otoritas tertinggi maka Ia tidak dibatasi oleh suatu wilayah teritorial tertentu dan sebagai pemegang otoritas tertinggi, Ia berhak atas semua aspek hidup kita. Sayangnya, manusia tidak memperkenankan Tuhan menjadi Raja dan Tuhan atas hidupnya, manusia membatasi otoritas Tuhan hanya sampai di wilayah tertentu saja. Apakah kita akan menjadi lebih bahagia dan beruntung ketika kita memutuskan lepas dari tangan Kristus? Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bisakah manusia itu independen murni ketika ia memutuskan untuk lepas dari tangan Kristus? Hal ini merupakan cerminan dari semangat kebebasan manusia yang ingin mengeksistensikan dosa. Orang tidak menyadari lepas dari Kristus justru akan menghilangkan makna terpenting dalam hidup mereka.

Ironisnya, banyak orang berpikir sebaliknya yakni menjadi anak Tuhan membuat hidup susah sebab terlalu banyak larangan. Pikiran seperti ini persis seperti anak kecil, ia akan marah ketika dilarang orang tuanya bermain pisau. Anak kecil tidak pernah berpikir kenapa larangan itu dibuat sebab pemikirannya belum sampai pada pengertian bahwa pisau itu akan membahayakan dirinya. Bukan tanpa alasan kalau Tuhan membatas kita sedemikian rupa dengan larangan-larangan. Otorisasi Allah bukanlah dictatorship yang dengan semena-mena membatas kita tanpa alasan. Tidak! Semua itu Kristus kerjakan demi untuk kebaikan kita, yaitu supaya kita diselamatkan, supaya kita hidup dalam kebajikan dengan demikian “gambar dan rupa Allah“ itu termanifestasi dalam hidup kita. Ironisnya, manusia ingin keluar dari panggilan Tuhan. Coba pikirkan, sampai dimanakah kekuatan tangan, kaki dan otak kita sehingga dengan kemampuan sendiri kita dapat lepasi dari situasi dan jepitan dunia yang rusak ini? Firman Tuhan menegaskan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar; manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (1Tim. 3:2).

Celakanya, hari ini, banyak orang Kristen yang hidupnya tidak mencerminkan hidup sebagai anak Tuhan sejati, banyak anak Tuhan yang telah dikuasai iblis. Sesungguhnya, manusia itu menyadari kalau hidupnya sangatlah hina, nilai hidupnya rendah tapi orang mencoba untuk berafiliasi seolah-olah dirinya orang baik di tengah dunia dengan kalimat-kalimat yang sepertinya positif padahal di balik kalimat indah itu ada maksud yang licik. Pertanyaannya sekarang adalah berada di bawah otoritas siapakah kita, apakah kita menyerahkan diri di bawah otoritas iblis ataukah otoritas Tuhan? Ingat, tidak ada satu inci dalam hidup kita dimana Tuhan tidak berkuasa atasnya. Bisakah kita berkata seperti Paulus: “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup dalamku“ (Gal. 2:20). Kalau kita mengaku bahwa kita adalah pengikut Kristus sejati maka biarlah Kristus saja yang berotoritas atas seluruh hidup kita. Memang, banyak tantangan yang mesti kita hadapi sebab iblis pasti tidak akan membiarkan begitu saja namun percayalah Tuhan yang berotoritas akan memberikan kekuatan sehingga kita dapat menghadapi tantangan itu.

2. Otoritas Kristus lebih besar dari otoritas iblis.

Pengakuan pertama bahwa Kristus adalah Anak Allah justru bukan keluar dari mulut murid-murid-Nya melainkan keluar dari mulut iblis. Setibanya Tuhan Yesus di seberang, yaitu di daerah Gadara datanglah dua orang kerasukan setan menemui Yesus. Kalau biasanya ia datang untuk menganggu dan menakuti orang-orang tapi kini ia sendiri yang takut ketika bertemu dengan otoritas sejati: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?“ Iblis tahu bahwa kekuatan yang ia punyai sekarang hanya bersifat sementara saja maka ketika Kristus datang iblis memohon supaya ia tidak disiksa pada hari itu. Tidak ada satu orang pun yang berani lewat ke daerah itu sebab orang yang kerasukan setan itu sangat garang dan mengerikan. Bukankah kita juga seringkali menunjukkan sikap demikian, yakni kita lebih takut pada setan daripada takut Tuhan. Terhadap  Tuhan kita berani berbuat kurang ajar tetapi pada orang yang kerasukan setan kita tidak berani bermain-main padahal setan sangat takut ketika bertemu dengan Tuhan. Jadi, sangatlah tidak logis kalau anak Tuhan takut pada anak setan justru sebaliknya setan seharusnya takut pada Tuhan sebab Tuhan pemegang otoritas tertinggi.

Seringkali, diri kita sendirilah yang menjadikan Allah itu kecil maka tidaklah heran kalau kemudian semua masalah kita menjadi besar karena hidup kita telah terkunci oleh pikiran kita yang telah dikuasai oleh setan. Memang ironis, kita lebih takut pada manusia yang telah dikuasai oleh iblis namun kita tidak takut pada otoritas Tuhan yang lebih besar yang telah membuat iblis takut dan gemetar. Kalau kita mengakui Yesus sebagai Raja dan Tuhan atas hidup kita lalu sudahkah otoritas yang sejati itu menguasai hidup kita? Celakalah, kalau kita salah menempatkan posisi maka pastilah kita tidak akan merasakan ketenangan dalam hidup, kita selalu dicekam ketakutan apalagi ketika kita berhadapan dengan kuasa setan. Injil Markus dan injil Lukas mencatat iblis itu bernama Legion yang berarti banyak, hal ini menunjukkan besarnya kekuatan iblis yang merasuk namun kuasa setan yang besar itu menjadi sangat kecil ketika berhadapaan dengan kuasa Tuhan Yesus. Ada dua sikap yang ditunjukkan oleh orang yang berada di luar Kristus dan keduanya bersifat negatif, yaitu: 1) orang yang secara fisik dibelenggu iblis sehingga ia menjadi sangat berbahaya sampai tidak ada seorang pun yang berani melalui jalan itu, 2) orang yang egois dan mengusir Yesus untuk pergi dari tempat itu. Orang Gadara tidak berani mengusir orang yang dirasuk setan itu sebab mereka sangat takut namun, ironis ketika Tuhan Yesus datang dan mengusir setan itu, mereka justru mengusir Yesus pergi. Mereka tidak dapat melihat otoritas sejati yang ada pada diri Kristus itu bukan karena mata mereka buta, tidak, mereka melihat namun tidak melihat, mereka mendengar namun tidak mendengar dan mereka tidak mengerti. Pertanyaannya adalah siapa mereka sehingga mereka berani mengusir Kristus pemegang otoritas tertinggi? Orang tidak menyadari otoritas Kristus adalah otoritas positif dan tidak perlu ditakuti. Ketakutan manusia pada setan yang berotoritas negatif itu menyebabkan manusia akhirnya berafiliasi dan pro dengan kuasa kejahatan. Manusia mau tunduk dan diikat dengan kuasa kejahatan tapi dengan kuasa kebajikan, manusia tidak mau tunduk. Inilah manusia berdosa. Marilah kita evaluasi diri dan jujur, siapakah yang berotoritas atas hidup kita, Tuhan atau iblis? Tidak ada orang lain yang tahu otoritas siapakah yang ada dalam kita, hanya kita sendiri yang tahu. Segeralah bertobat dan memohon ampunan pada Tuhan dengan demikian kita dapat bersaksi dan menyadarkan manusia betapa bahagia dan indah kalau kita hidup di bawah otoritas Tuhan. Memang benar, secara kasat mata, kita tidak melihat hal-hal yang spektakuler ketika kita berada di bawah otoritas Kristus namun disanalah kita akan merasakan ketentraman seperti Daud yang dapat berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau….“

3. Otoritas Kristus berkaitan dengan pola pikir.

Otoritas Tuhan berkait erat dengan cara berpikir Tuhan. Otoritas Tuhan memberikan pilihan, otoritas itu memberikan nilai, otoritas itu membuat kita harus merekonstruksi cara berpikir kita. Mengikut Tuhan dan mengikut setan merupakan dua hal yang berbeda maka seorang anak Tuhan ketika melihat orang kerasukan setan, ia akan melihat orang tersebut sebagai orang yang harus diselamatkan sebab satu nyawa lebih berharga daripada seluruh harta di dunia. Berbeda dengan anak iblis, mereka lebih menghargai babi daripada nyawa manusia karena itulah mereka mengusir Yesus keluar dari Gadara. Mengikut Kristus membuat kita tahu mana yang lebih bernilai dan mana yang tidak. Tuhan sangat menghargai nyawa manusia tapi sebaliknya, iblis lebih pro pada babi. Andai, satu ekor babi seharga 5 juta rupiah maka itu berarti 2000 ekor babi berharga 10 milyar rupiah dan setan lebih menghargai babi. Kalau ia anak iblis pasti akan langsung kelihatan cara berpikir kita ia langsung menghitung untung dan rugi. Sebagai anak Tuhan yang sejati seharusnya kita meneladani Kristus yang menghargai satu nyawa manusia. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh isi dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat. 16:26).

Harga nyawa manusia bukanlah 10 milyar rupiah atau sama dengan 2000 ekor babi, tidak, harga nyawa manusia sangat mahal sehingga demi untuk menebus nyawa manusia, Tuhan Yesus rela mati. Sayang, kita sendirilah yang menyamakan harga kita dengan babi, konsep nilai kita menjadi rusak sebab kita selalu berpola pikir babi, pig thinking. Ketika kita menilai manusia hina maka itu berarti kita menilai diri kita sendiri hina. Kita menilai orang ini cocok seharga beberapa ekor babi tanpa kita sadari sesungguhnya kita bukan berbicara tentang orang lain melainkan kita telah menilai harga diri kita sendiri. Sebab orang lain akan memikirkan lain, konsep pikir orang lain tidak sama dengan konsep berpikir kita. Perhatikan, Tuhan Yesus berpikir nyawa manusia lebih berharga dari 2000 ekor babi tetapi orang Gadara lain, mereka berpikir 2000 ekor babi itulah yang lebih berharga dari nyawa manusia. Hari ini, demi sebuah sepeda motor, orang bisa membunuh orang lain namun demi orang-orang berdosa seperti inilah Tuhan Yesus rela mati dan menjadi tebusan bagi kita. Dunia menghargai hidup manusia sangat murah dan tidak berarti, hanya di hadapan Tuhan saja, hidup kita  dihargai sangat mahal.

Tuhan tidak melihat dari fenomena belaka, Ia melihat dari esensi, itulah sebabnya Ia  menilai sebuah nyawa dengan sangat mahal. Kita menjadi bernilai bukan karena dunia yang menilai tetapi jadilah manusia yang bernilai di dalam Kerajaan Sorga. Hanya di hadapan Tuhan saja diri kita menjadi sangatlah bernilai, yakni senilai dengan darah Kristus domba Allah yang tercurah. Ia, yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rm. 8:32). Kalau demikian pertanyaannya adalah masihkah anda menyerahkan hidupmu di bawah otoritas setan? Amin.

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050306.htm

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)