Archive for December, 2006

Eksosisi Injil Matius 9 : THE METAPHORE OF THE KINGDOM (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, December 25th, 2006

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 19 Juni 2005

The Metaphore of the Kingdom

Nats: Mat. 9: 14-17

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Adalah tugas setiap kita, anak Tuhan yang sejati untuk menyatakan kebenaran sejati di tengah dunia yang kacau; terang adalah terang dan gelap adalah gelap, terang dan gelap tidak dapat bersatu. Namun posisi ini menjadi paradoks sebab dunia tidak suka adanya perbedaan, dunia ingin mempersatukan segala hal yang bertentangan. Maka pada awal abad ke-20 muncul aliran filsafat yang menentang Kekristenan, yakni humanis materialis dimana manusia adalah pusat dari segala sesuatu dan mencari materi itu sebagai sasaran hidup. Dalam bukunya, Robert Tiyosaki menegaskan sekolah tidak terlalu penting sebab apalah artinya sekolah atau menuntut ilmu tinggi kalau orang tidak dapat mencari uang dan akhirnya hidup miskin. Inilah dunia berdosa dimana dunia lebih menghargai orang kaya tapi hidupnya tidak karuan daripada orang yang miskin tapi hidupnya benar. Ironis, bukan? Dunia materialis telah mencengkeram hidup manusia sedemikian hebatnya dan tanpa sadar intelektualitas kita dimatikan, makin lama manusia menjadi makin bodoh.

Semangat humanis materialis telah mencengkeram manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak menyadari bahwa ada hal yang lebih penting dan utama yang harus kita kerjakan yang menyangkut kekekalan, ada kebahagiaan sejati yang bisa kita dapatkan lebih daripada kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia, ada hal yang lebih bernilai daripada uang, yaitu kalau kita hidup bersama Kristus di dalam Kerajaan Sorga. Untuk hal itulah, Kristus datang menyatakan keagungan dan kualitas Kerajaan Sorga namun dunia tidak suka dengan hal ini maka dengan segala cara dunia mencoba menghancurkan iman Kristen, yakni dengan menggunakan dua macam pendekatan:

1. Humanis Materialis Rasional

Sejak jaman Tuhan Yesus, di kalangan orang Yahudi sendiri sudah ada perbedaan; ada orang yang menamakan diri sebagai pengikut Saulus, ada orang yang menamakan diri sebagai pengikut Paulus, dan masih banyak lagi. Pengikut Saulus berbeda dengan pengikut Paulus; pengikut Saulus akan dimusuhi ketika mereka berbalik menjadi pengikut Paulus. Pertanyaannya adalah kalau gereja itu bersatu bisakah gereja itu mempunyai kesamaan doktrin, mengutamakan Firman di atas semua kebenaran? Ternyata tidak, keesaan gereja yang dibangun hanya nampak secara fenomena saja, sebab di dalamnya Firman tidak menjadi yang utama. Kebenaran Firman merupakan kebenaran mutlak, namun dunia modern telah menyelewengkan kebenaran Firman. Karena itu, Kristus menegaskan kain yang belum susut tidak dapat ditambalkan pada baju yang tua karena akan mencabik baju yang tua itu sehingga makin besarlah koyaknya begitu juga dengan anggur baru tidak dapat diisikan pada kantong kulit atau kirbat tua karena kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur (Mat. 9:16-17).

Konsep ini sangat penting untuk kita mengerti, menjadi “baru“ di sini artinya bukan reparasi tetapi dicipta ulang, new creation. Orang menjadi Kristen melalui pertobatan dan ada kelahiran baru sehingga ada perubahan esensi dalam diri kita, yakni merekonstruksi seluruh pola pikir kita. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:2). Pembaharuan disini adalah pembaharuan total dalam seluruh pola berpikir kita. Jiwa inilah yang seharusnya ada dalam diri setiap anak Tuhan dan menjadi dasar kesatuan. Namun, faktanya tidaklah demikian hari ini gereja justru bersatu dengan dunia.

2. Humanis Materialis Emosional

Perbedaan teologi di kalangan Kekristenan sendiri masih ada dan sulit dihilangkan sebab masing-masing gereja mengklaim dirinya yang paling benar maka muncullah suatu pandangan bahwa kita adalah satu sehingga tidak perlu melihat orang berasal dari gereja manapun sebab kita merupakan satu kesatuan oikumene. Gereja memakai pendekatan emosional salah satunya melalui puji-pujian. Kebenaran sejati tetaplah kebenaran sejati yang harus diberitakan. Perbedaan seharusnya tidak membuat kita saling memusuhi antara saudara seiman tetapi perbedaan itu justru memotivasi kita untuk lebih memahami kebenaran sejati dan memacu kita untuk belajar Firman lebih dalam lagi. Hari ini orang tidak mau belajar Firman tetapi berani berkhotbah. Sebagai contoh, kata “kasih“ dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani ada empat istilah dimana keempatnya mempunyai pengertian berbeda: 1) eros atau exclusive love, 2) storge atau posessive love, 3) filia atau brotherly love, 4) agape atau unconditional love. Itu baru satu kata, yaitu “kasih“ padahal di Alkitab akan kita jumpai kata-kata yang memerlukan penjabaran karena tidak sesuai dengan bahasa aslinya, misalnya kata “kebenaran“ mempunyai dua pengertian, yakni: truth dan righteousness. Teologi mempengaruhi keseluruhan konsep berpikirnya.

Tanpa disadari hal itu telah menjadikan orang telah menjadi bidat; orang ingin mencampur  hitam – putih, terang – gelap, kebenaran sejati – kebenaran dunia. Ingat, pencampuran ini tidak akan menjadikan dunia menjadi lebih baik, tidak, sebab justru akan berakibat pada kehancuran. Kain baru tidak mungkin untuk menambal kain lama begitu juga dengan anggur baru tidak dapat ditaruh pada kirbat tua.  Ironisnya, humanis materialis ini berkembang pesat dan menjadi mayoritas tapi meski mayoritas toh mereka menjadi takut melihat kebenaran yang minoritas. Melalui ilustrasi kain lama – kain baru, kirbat tua – anggur baru, Kristus ingin memaparkan suatu kebenaran, yaitu adalah mustahil mencampurkan segala hal yang harmoni atau serasi dengan semua hal yang sifatnya disharmoni atau tidak serasi. Gerakan ini muncul kembali di awal abad ke-20 yang disebut dengan gerakan postmodernisme, jiwa pemberontakan itulah yang menjadi ciri dari gerakan ini, segala sesuatu yang teratur rapi dan harmoni mulai diacak-acak. Salah satunya di bidang seni lukis, Picasso yang tadinya seorang pelukis aliran naturalis – impresionis maka pada tahun 1907 terjadi perubahan drastis, lukisan yang tadinya indah kini berubah bentuk menjadi acak-acakan, aliran ini dinamakan aliran cubisme. Dalam perkembangannya, cubisme membuat orang masuk dalam dunia abstrak. Orang-orang humanis mulai merasa tidak puas dengan semua yang mereka capai dan mereka mulai menuju pada dekonstruksi awal. Tak terkecuali dengan ajaran Kekristenan orang merasa hidupnya mulai diatur, orang tidak suka ketika hidup diatur untuk menjadi indah maka tidaklah heran kalau orang kemudian menentang kebenaran Firman. Kebenaran yang seharusnya bersifat obyektif kini berubah menjadi subyektif.

I. True Matching Konsep disharmoni telah menguasai manusia dan ini menjadi cita-cita manusia berdosa. Tuhan mencipta dari disharmoni menjadi dunia dengan indah dan harmoni namun iblis tidak suka dengan hal ini maka ia mulai menggoda manusia dan manusia melawan Tuhan. Disharmoni menyebabkan kehancuran maka sebagai anak Tuhan kita harus berani menyatakan kebenaran Kristus sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat dicampur dengan kebenaran dunia. Harmoni adalah true matching dalam esensi sehingga membentuk suatu keutuhan yang bersinambung. Hati-hati, iblis mencoba untuk menggoda kita supaya masuk dalam konsep disharmoni. Ketika orang Yahudi menanyakan pada Tuhan Yesus kenapa mereka puasa sedang murid-murid Yesus tidak puasa sesungguhnya mereka menuntut adanya suatu kesamaan konsep namun yang mereka lihat sebagai kesamaan sesungguhnya itu hanya bersifat fenomena belaka karena esensi sesungguhnya tidaklah sama. Sama-sama kain tetapi kain yang lama dan kain yang baru tidak sama karena justru akan merusak. Kalau sifat dasar dari dua atribut ini tidak sama maka itu akan menimbulkan perpecahan. Manusia lebih suka hal-hal yang secara fenomena sama karena hal itu mudah dicapai namun juga mudah hancur berbeda halnya kalau orang harus menyamakan esensi pastilah banyak terjadi benturan tetapi justru itu nantinya akan menjadi kuat. Harmoni mencapai suatu titik maximum ketika kita mencapai true matching.

II. True Container

Anggur baru tidak dapat ditaruh ke dalam kirbat tua, jadi, wadah itu sangat penting karena wadah menentukan isinya. Wadah yang tidak tepat akan menyebabkan pencemaran atau kerusakan pada isinya begitu pula kalau isi sudah busuk akan sayang, kalau ditaruh ke dalam wadah yang bagus. Seorang yang mempunyai pengertian doktrin teologi dengan baik dan benar namun lingkungan tempat ia berada rusak maka seperti kirbat tua yang itu akan sukar menyesuaikan dengan anggur baru. Orang yang mengerti kebenaran Firman haruslah berada di tempat yang benar dengan demikian terjadi matching position dengan mengharmoni-sasikan semuanya. Ajaran Yudaisme yang memegang prinsip Perjanjian Lama tidak akan dapat langsung berubah menjadi Kristen, yakni dengan menambah Perjanjian Baru sebab isinya memang beda. Tuhan Yesus sudah membukakan hal ini melalui ilustrasi yang ia kisahkan itulah sebabnya Kekristenan harus berdiri sendiri. Tuhan Yesus tetap berdoa, Ia tetap pergi ke synagoge tapi Ia tidak bergabung dalam kumpulan orang Yahudi dan orang Farisi karena ada separasi. Iman yang sejati membutuhkan wadah yang sejati. Di dalam gereja Tuhan hal ini perlu kita sadari. Ingat, gereja bukanlah tempat kita untuk mencari keuntungan tetapi gereja adalah tempat dimana iman kita dipertumbuhkan, gereja adalah tempat kita taat kepada Allah. Pertanyaannya adalah siapa yang berhak mendirikan wadah baru? Para bidat menyadari hal ini, mereka membentuk wadah yang baru dan semangat ini berkembang pesat namun ironis, anak Tuhan sejati tidak berani menegur mereka yang menyelewengkan kebenaran Firman. Ketika ada seorang bidat kembali pada kebenaran sejati maka terjadilah separasi. Ada disharmoni dalam harmoni dunia lalu harmonisasi dunia yang disharmoni mencoba melawan harmoni yang asli menjadi disharmoni yang baru.

Tuhan Yesus mempunyai keabsahan membentuk harmonisasi yang baru karena:

1. Etika Kerajaan Sorga lebih agung dari etika dunia. Kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus mempunyai nilai yang tinggi dari dunia sebab semua yang bernilai rendah tidak berhak menegakkan sesuatu yang baru. Maka hari ini, dunia menciptakan sesuatu yang baru dengan kualitas yang lebih rendah dari yang sebelumnya dan hal ini sangat disukai oleh mayoritas pada umumnya. Orang demi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dan menarik minat mayoritas maka degradasi kualitas diturunkan. Dunia modern telah rusak, orang hanya berpikir secara pragmatis, yaitu mementingkan diri sendiri dengan mendapatkan keuntungan. Anak Tuhan harusnya menjadi terang Kristus yang bercahaya di tengah dunia yang gelap ini dengan demikian dunia disadarkan dan kembali pada jalan kebenaran sejati. Kekristenan seharusnya mempunyai jiwa dan kualitas yang berbeda dari dunia. Seorang yang mengaku Kristen tetapi hidupnya serupa dengan dunia maka ia tidak layak disebut Kristen.

2. Sifat dinamis positif. Kekristenan memberikan dinamis positif yang berbeda dari semua terpaan negatif dunia. Kristus harus menegakkan Kekristenan karena iman Yahudi sudah menegasi seluruh prinsip kebenaran Firman. Orang Yahudi tidak taat pada Firman tetapi taat pada aturan yang mereka buat. Dunia bergerak dengan cepat namun bersifat negatif maka sebagai anak Tuhan, kita berbeda kita juga harus berproses tapi harus menuju ke arah yang positif. Celakanya, hari ini banyak anak Tuhan yang ikut ke dalam arus dunia yang negatif, orang lebih suka hal-hal yang berkualitas rendah, orang lebih suka mendengar cerita ilustrasi dan lelucon daripada kebenaran Firman yang agung, musik gerejawi yang agung mulai ditinggalkan dan orang lebih menyukai musik-musik yang berkualitas rendah. Tuhan menegaskan anak Tuhan haruslah hidup suci, jujur dan harus berbeda dengan dunia namun hari ini banyak orang yang mulai menyepelekan moralitas dan menurunkan sampai ke tingkat yang rendah dan akhirnya menjadi sama dengan dunia. Kristus ingin supaya kita bergerak secara dinamis menuju ke arah yang positif, menuju pada titik tertinggi, yakni menjadi serupa Kristus. Janganlah engkau merasa lelah untuk mau terus diproses dan dibentuk dan untuk mencapai pembentukan yang sempurna ini kita harus rela berkorban. Jangan pernah kalah oleh dunia sebab dunia tidak akan pernah merasa lelah untuk menggoda kita agar menjadi serupa dengan dirinya. Jangan kita membodohkan diri dengan menurunkan kualitas iman Kristen. Orang Kristen justru harus berkualitas tinggi beda dengan dunia dan harus dinamis bergerak menuju arah yang positif.

Kita  telah memahami sekarang bahwa separasi yang Kristus ajarkan memang tidak dapat dicampur dengan dunia. Orang Kristen berbeda dengan dunia namun hal itu jangan menjadikan kita menjadi sombong dan membenci orang lain yang berbeda, tidak, justru tugas kita membawa mereka masuk ke dalam kebenaran iman sejati.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050619.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : THE OLD AND THE NEW (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, December 17th, 2006

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 12 Juni 2005

The Old & The New

Nats: Mat. 9: 14-17; 2 Kor. 5: 15-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pada bagian penutup dari sub tema separated atau pemisahan ini telah kita pahami bahwa pertanyaan para pengikut Yohanes Pembaptis dan orang Farisi tentang hal puasa sebenarnya bukan karena mereka ingin mengerti tentang konsep puasa tapi karena mereka merasa terganggu melihat para murid Tuhan Yesus tidak menjalankan puasa. Orang Farisi dan umumnya orang Yahudi bangga sebab tidak pernah satu kali pun mereka melewatkan ritual agama yang salah satunya mewajibkan untuk puasa hari Senin dan Kamis. Berbeda halnya kalau kita menjadi murid Kristus maka yang menjadi kebahagiaan dan kebanggaan itu karena Tuhan berkenan menjadikan kita sebagai sahabat mempelai laki-laki. Dalam hal ini ada kesenjangan pemikiran antara orang Farisi dan para pengikut Yohanes Pembaptis dengan pemikiran Kristus dan itulah yang menjadi tujuan atau inti dari perikop ini, yaitu pemisahan (dari bahasa Ibrani, kadosh) yang membedakan antara bagian yang lama dengan bagian yang baru.

Dari ilustrasi tentang kain tua – kain baru dan anggur tua – kirbat baru sebenarnya Tuhan Yesus ingin supaya mereka berubah menjadi ciptaan baru, ternyata tidak semudah itu sebab manusia tidak suka dengan perubahan. Manusia enggan merubah hal-hal yang sifatnya esensi atau khususnya yang menyangkut dirinya. Hati-hati inilah yang menjadi tujuan iblis, yakni supaya manusia terus hidup dalam dosa. Orang lebih suka melakukan reparasi daripada harus membongkar total segala sesuatu yang menyangkut dirinya. Akibatnya manusia kemudian mengkombinasikan antara format lama dan format baru dan terbentuklah format religiusitas manusia. Hal-hal yang menyebabkan manusia sukar untuk berubah adalah:

1. Status quo atau kemapanan

Orang yang dipisahkan untuk hidup kudus maka ia tidak hidup dalam status quo tetapi berada dalam posisi dinamis namun meskipun dinamis, ia tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh godaan iblis karena Tuhan akan menjaga sehingga orang mempunyai akar iman yang kuat. Orang yang berada dalam kebenaran sejati pasti tidak akan mempertahankan sifat keberdosaan yang ada dalam dirinya berbeda dengan orang berdosa yang selalu ingin hidup dalam dosa, ia ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi kebiasaan hidupnya yang lama padahal hidup yang lama itu rusak. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan masih berkenan memperlakukan kita sebagai anak yang menghajar orang yang dikasihi-Nya. Jadi, yang menjadi masalah bukan pada puasanya tetapi esensi iman. Maka tidaklah heran kalau orang yang mau hidup taat pada pimpinan Kristus itu menjadi minoritas. Orang yang hidup dalam status quo akan merasa nyaman karena mayoritas sehingga merasa dirinya senasib, benarkah demikian? Ternyata tidak karena kemudian orang masuk dalam kondisi lain yang lebih menakutkan, yakni:   

2. Paranoia atau ketakutan

Perasaan aman dan nyaman akan terus dirasakan selama masih mayoritas tetapi ketika muncul satu saja orang yang hidup benar maka itu sanggup membuat yang mayoritas terusik. Orang mulai merasa terancam akibatnya orang mulai merancangkan hal-hal yang jahat untuk menyingkirkan bahkan menghancurkan yang minoritas tersebut. Status quo ternyata tidak menjadikan mereka aman meskipun sudah mayoritas. Hal seperti ini bukan baru terjadi sekarang tetapi terjadi juga di jaman Tuhan Yesus. Kalau dibandingkan dengan para murid Yohanes Pembaptis dan masih ditambah dengan orang Farisi dan orang Yahudi lain maka murid Tuhan Yesus hanyalah minoritas namun sanggup membuat yang mayoritas terancam akibatnya mereka kemudian memusuhi Tuhan Yesus dan para murid. Paranoia dosa membuat orang cemas ketika melihat setitik kebenaran padahal ketakutan itu sangatlah tidak beralasan. Inilah jiwa manusia berdosa. Orang paling tidak suka kalau harus dipisahkan antara benar dan salah maka kondisi paranoia ini membawa kita pada penghancuran sifat negatif manusia sampai pada titik puncak, yakni:

3. Self destruction atau penghancuran diri

Para murid Yohanes Pembaptis dan orang Farisi sebenarnya menyadari kalau dalam seluruh aspek hidup-Nya Tuhan Yesus tidak bersalah namun toh mereka tetapi ingin menghancurkan- Nya karena satu hal, yaitu Kristus menyatakan kebenaran. Bukankah sekarang juga demikian dimana setiap anak Tuhan sejati selalu dimusuhi dunia karena mereka menyatakan kebenaran. Sebelum Paulus bertobat, ia juga melakukan hal yang sama, ia membunuh orang yang menamakan diri “kelompok jalan Tuhan“ karena mereka hidup suci dan benar, mereka percaya Kristus. Separasi atau pemisahan ini menghasilkan jiwa penghancuran dalam diri manusia. Bukan sebaliknya, tidak pernah ada kejadian murid Tuhan Yesus yang mengejar-ngejar orang Farisi, bukan? Puji Tuhan, anugerah Tuhan memanggil Paulus untuk bertobat dan ia pun menyadari kalau ia telah salah menilai Kristus, ia menilai dengan menggunakan standar manusia. Dalam sejarah hanya satu kali saja Kekristenan memasuki jaman kegelapan, yaitu pada jaman perang salib tapi secara totalitas, Kekristenan selalu dimusuhi karena orang Kristen hidup benar dan suci. Tuhan tidak pernah mengajarkan pengrusakan diri oleh diri itulah sebabnya Kekristenan sangat menentang ajaran yang mensahkan orang untuk bunuh diri sebab Kekristenan justru mempunyai jiwa membangun.

Inilah paparan dunia berdosa maka tidaklah salah kalau Tuhan memberikan ilustrasi tentang kain tua dan kirbat tua yang akan menjadi hancur maka satu-satunya cara supaya manusia tidak menjadi hancur dan akhirnya dibuang, yaitu manusia harus kembali pada prinsip kebenaran sejati, yakni menjadi ciptaan baru dengan demikian kita dapat hidup:

Pertama, Memuliakan Tuhan            

Dunia selalu berusaha mencampurkan antara kebenaran dan kejahatan atau yang kita kenal dengan konsep Yin Yang, yaitu hitam dan putih bercampur, di dalam kebaikan maka di sana ada kejahatan dan di dalam kejahatan maka di sana kebaikan. Namun semua itu tetap tidak menyelesaikan masalah. Kalau benar orang melakukan konsep Yin Yang seharusnya ia tidak marah dan kesal ketika orang melakukan kejahatan terhadap dirinya karena konsep Yin Yang mengajarkan meski jahat toh masih ada kebaikan di dalamnya. Perhatikan, orang yang memegang konsep Yin Yang justru disana ada jiwa balas dendam yang paling besar. Jadi, terbukti bahwa kebaikan dan kejahatan tidak dapat dicampur; separasi adalah separasi dimana kita dapat memposisikan dengan tepat kebenaran dan kejahatan kalau sudah dipisahkan. Sesuatu yang di dalamnya sudah mengandung unsur destruktif atau penghancuran maka akan sulit dikembalikan pada kebenaran, layaknya sebuah kain tua akan bertambah rusak kalau ditambal dengan kain baru yang belum susut. Andai, kain tua ini dapat berkata-kata pada tuannya maka ia pasti akan memohon untuk disimpan saja bukan diperbaiki karena perbaikan itu malah menghancurkannya dan akhirnya dibuang. Kalau kita mengerti konsep ini maka hidup ini akan menjadi lebih indah.

Sesungguhnya, manusia sadar kalau dirinya berdosa sehingga ia berusaha mereparasi namun manusia tidak menyadari bahwa reparasi itu justru semakin menghancurkan hidupnya. Tuhan Yesus mengajarkan kain baru untuk kain baru begitu juga anggur baru hanya untuk kirbat baru. Iman Kristen tidak menyelesaikan masalah hanya di permukaan saja, iman Kristen tidak tambal sulam, yakni barang bagus dikenakan ke barang yang sudah rapuh dan tua. Tidak! Akan lebih mudah merawat bagian dahan sebuah pohon yang akarnya masih baik bayangkan, kalau akarnya yang rusak maka tidak ada cara lain selain dicabut dan dibuang. Maka bukan tanpa alasan kalau Firman Tuhan melarang kita untuk tidak menjadikan orang yang tidak seiman sebagai pasangan hidup. Kalau beda karakter atau beda hobi masih memungkinkan untuk diselesaikan namun kalau beda iman maka celakalah hidup kita. Tuhan Yesus menegaskan bahwa konsep Yudaisme tidak dapat digabung dengan konsep Kekristenan. Hidup mengikut Kristus bukan mencampur format lama dengan format baru tetapi kita harus menjadi ciptaan baru karena yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Dengan demikian hidup kita memuliakan nama Tuhan.

Kedua, Menjadi Berkat

Orang Farisi mengkritik murid Tuhan Yesus bukan bertujuan untuk menumbuhkan iman rohani mereka tapi itu dilakukan demi untuk menguntungkan diri sendiri. Orang Farisi dan murid-murid Yohanes Pembaptis merasa terganggu dengan keberadaan murid Yesus yang tidak puasa justru di saat mereka sedang puasa. Mereka menuntut murid-murid Yesus untuk toleran namun ironisnya, mereka tidak menuntut diri sendiri untuk toleran. Jikalau kita berbuat hal yang sama maka kita perlu mengevaluasi diri sebenarnya kita yang salah karena kita tidak mempunyai jiwa yang altruistik. Kristus mengajar dan sekaligus mempraktekkan ajaran-Nya dan Ia telah menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling-Nya, Ia mau mati untuk musuh-musuh-Nya. Jiwa Kekristenan seperti inilah yang seharusnya dimunculkan dalam diri setiap anak Tuhan yang sejati. Dunia ingin menyelesaikan kebencian yang muncul dan telah menjadi paranoia ini dengan cara mengembangkan cinta kasih. Ternyata semua itu hanyalah mimpi, dunia tidak bisa mengasihi tetapi justru malah saling membenci dan menyakiti satu dengan yang lain karena masalahnya bukan pada pada benci tapi egois. Kontras sekali manusia tidak mau menyelesaikan egoisnya bahkan mengembangkan egoisnya namun di satu sisi manusia mau menyelesaikan kebencian. Ironis sekali, bukan? Kebencian tanpa menyelesaikan egois maka yang terjadi adalah penuntutan, orang lain dituntut untuk menjadi sama seperti dirinya. Inilah dunia berdosa.

Marilah kita tengok sejenak kisah Supriono yang belakangan ini ramai dibicarakan di media. Supriono, seorang pemulung yang hidup di Jakarta, kemiskinan telah merenggut nyawa anaknya; ia tidak mampu mengobati anaknya yang sakit muntaber bahkan untuk menguburkan anaknya ia tidak mampu maka dengan cara digendong, ia membawa mayat anaknya naik kereta api dengan tujuan ke desa asalnya dengan harapan ada saudara yang akan membiayai penguburannya. Ternyata tidaklah semudah itu, orang yang curiga dengan kematian anaknya itu melaporkan ke polisi karena tidak biaya otopsi  dan ia dapat memberikan penjelasan maka pihak rumah sakit memberikan surat keterangan dan membolehkannya pergi tanpa ada suatu tindakan yang dapat menolong meringankan bebannya. Maka digendongnya kembali mayat anaknya itu untuk dibawa ke desa. Pertanyaannya dimanakah rasa belas kasih dari orang-orang sekitarnya seperti pihak rumah sakit, kepolisian, orang-orang yang ada di kereta api? Manusia tidak lagi mempunyai hati yang peduli dan memperhatikan orang lain. Orang hanya peduli pada orang kalau ia menguntungkan dirinya. Kristus telah mati untuk kita bahkan ketika kita masih berdosa maka kesadaran ini harusnya menjadikan kita mempunyai jiwa yang mau berkorban. Kristus telah memberikan teladan indah, pertanyaannya sudahkah kita menjadi berkat bagi dunia?

Ketiga, Memandang dari sudut pandang Kristus

Hati-hati sebab kita seringkali melihat dunia dengan sudut pandang kita yang telah terdispersi. Orang yang menggambar hanya dengan menggunakan satu titik mata dimana titik mata diletakkan dekat dengan obyek benda maka terjadilah distorsi akibatnya gambar benda menjadi tidak jelas. Berbeda kalau kita memakai dua pandangan titik mata maka gambar akan terlihat lebih bagus dan lebih proporsional. Hal itu juga yang dilakukan oleh orang Farisi yang selalu melihat dari sudut pandang manusia, ia tidak pernah bertanya kenapa Tuhan Yesus mempunyai format demikian tentang puasa. Seorang direktur perusaahaan kalau ia mengendalikan perusahaan dari kepentingan dia sebagai pimpinan maka celakalah seluruh pekerjanya karena perusahaan itu menjadi tempat manipulasi yang hanya mementingkan diri sendiri. Seorang pemimpin yang bijaksana seharusnya mempunyai pandangan semesta, world view, yakni melihat dari kepentingan perusahaan dan pekerja secara total. Sayangnya pengertian world view ini telah disalah mengerti, sebab yang dimaksud dengan pandangan semesta disini ternyata hanyalah pandangan sempit yang mau memaksa dunia menurut pada apa yang menjadi pandangannya.

Alkitab menegaskan jangan mengukur segala sesuatu dari sudut pandang manusia tapi dari ukurlah dari sudut pandang Kristus dan menurut standar kebenaran Tuhan. Karena Dia sudah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka (2Kor. 5:15). Hidup baru adalah orang yang hidup di dalam Kristus, ia melihat segala sesuatu dari sudut pandang Kristus, bukan untuk kepentingan kita tapi kepentingan Kristus dimana Kerajaan Allah diperluas di dunia. Kita yang mempunyai cara berpikir dan sudut pandang semesta mungkin akan menjadi minoritas di dunia, kita akan dibenci oleh dunia namun jangan takut, sebab yang minoritas ini justru akan ditakuti oleh mayoritas sebab inilah separasi yang Tuhan inginkan karena kita memang berbeda dengan dunia.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050612.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : ESENSI ATAU FENOMENA (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, December 10th, 2006

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 5 Juni 2005

Esensi atau Fenomena

Nats: Mat. 9: 14-17

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Sebagai warga Kerajaan Sorga sejati maka kita harus taat – hidup seturut dengan hukum Kerajaan Sorga yang disusun oleh Kristus Yesus, Sang Raja, hukum itu dikenal dengan “Khotbah di atas Bukit“ (Mat. 5-7). Jadi, seorang Kristen bukanlah orang yang sekedar mempunyai atribusi Kristen tetapi harus berpaut dan terkait dengan status dan naturnya sebagai warga Kerajaan Sorga. Hukum Kerajaan Sorga itu haruslah terimplikasi dalam hidupnya sehingga orang dapat melihat bahwa hukum yang Kristus tegakkan tersebut bukanlah sekedar teori belaka. Implikasi hukum Kerajaan Sorga oleh Matius dibagi dalam empat sub tema dan setiap sub tema terdiri dari 17 ayat (Mat. 8:1-17; 18-34; 9:1-17; 18-34) dan setiap sub tema memuat tiga cerita. Adapun dari keempat sub tema kita telah sampai pada sub tema ketiga dan cerita ketiga maka ada baiknya kita mengingat kembali sub tema yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu:

Pertama, the Lordship of Christ, Kristus bukan sekedar Juruselamat tetapi Dia adalah Tuhan (baca: Tuan) berarti kita adalah budak-Nya. Seorang Kristen sejati seharusnya berorientasi pada Kristus yang adalah Tuan atas hidupnya. Orang yang mengaku warga Kerajaan Sorga tetapi hidupnya tidak mencerminkan hidup seorang Kristen sejati, tidak mengakui Kristus sebagai Tuannya maka ia bukan warga Kerajaan Sorga tetapi ia lebih cocok disebut sebagai seorang pengkhianat Kerajaan Sorga. 

Kedua, the discipleship, pemuridan; kata “murid“ berkait dengan mengikut Kristus dan mengikut disini bukan bersifat sementara tetapi mengikut Tuhan Yesus harus totalitas tanpa syarat apapun. Menjadi murid Kristus berati kita belajar dari Kristus, dibentuk oleh Dia sehingga hidup kita menjadi hidup yang dikenan oleh-Nya.

Ketiga, separated, pemisahan; pengikut Kristus harus hidup kudus. Kudus berasal dari kata kadosh (bahasa Ibrani) artinya dipisahkan dari dunia karena kita sedang mewakili atau memancarkan sifat khusus yang berbeda dengan dunia dan salah satunya adalah kesucian dimana sifat suci hanya ada dalam diri seorang anak Tuhan yang sejati. Jadi, kudus berbeda artinya dengan suci. Dan dalam sub tema ini, Matius memberikan tiga peristiwa dan orang seringkali terkecoh dengan ceritanya sehingga gagal menangkap esensi yang sesungguhnya.

Pada kisah yang ketiga, seperti kejadian sebelumnya, kali inipun orang Yahudi tidak puas dengan “kelakuan“ murid-murid Tuhan Yesus karena hari itu mereka puasa sedang murid-murid Tuhan Yesus tidak. Perlu diketahui, pengikut Yohanes Pembaptis bukan pengikut Tuhan Yesus. Para pengikut Yohanes Pembaptis masih menggunakan konsep Yudaime begitu juga dengan orang Farisi bahkan mereka termasuk dalam golongan orang yang paling keras dan fanatik dalam menjalankan ritual agama, salah satunya ritual puasa. Konsep puasa ini sudah muncul sejak perjanjian lama dimana puasa dimulai dari pagi hingga matahari terbenam sebagai tanda berakhirnya hari dalam satu hari. orang Yahudi berpuasa selama sehari penuh dan keesokan harinya barulah mereka makan. Perhitungan hari orang Yahudi dimulai dari jam 6 petang hingga jam 6 petang. Puasa dilakukan pada setiap hari pendamaian, the day of atonnement, yaitu tanggal 7 bulan 10 namuan dalam perkembangannya puasa berubah menjadi ritual agama. Orang Yahudi beranggapan bahwa Allah berkenan pada orang yang puasa Senin – Kamis. Dan hukum puasa ini mulai dibakukan. Berarti orang Yahudi minimum berpuasa selama dua kali seminggu atau 104 hari dalam setahun.

Hal puasa inilah yang diributkan oleh pengikut Yohanes Pembaptis. Dan jawaban yang Tuhan Yesus berikan sepertinya tidak menjawab apa yang menjadi pertanyaan mereka (Mat. 9:15) namun jawaban itu sangatlah kita mengerti sebaliknya ilustrasi yang diceritakan Tuhan Yesus (Mat. 9:16-17) ini sangat dimengerti oleh orang Yahudi tapi tidak dimengerti oleh kita sekarang. Jawaban Tuhan Yesus ini menjadi tanda sekaligus memposisikan diri dan membedakan diri-Nya dengan orang lain. Dengan puasa itu, orang Yahudi merasa dirinya “beragama“ dan “saleh.“ Tidak hanya puasa, orang Yahudi juga menjalankan aturan lain seperti disunat pada hari ke delapan, menjadi anak Taurat pada usia 12 tahun, mereka juga harus menjalankan aturan-aturan Sabat dan masih banyak aturan lain demi untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia adalah seorang Yahudi tulen.

Aturan puasa pertama kali dibakukan dalam kitab Imamat dan mempunyai konsep:

Pertama, kerendahan hati, orang merasa kalau dirinya adalah orang yang papah, yakni miskin secara keberadaan menggambarkan dirinya tidak mempunyai nilai apapun, Kedua, orang yang membutuhkan belas pengasihan dan rahmat dari Allah atas dosa-dosa mereka maka hidup itu mutlak karena anugerah Tuhan. Daud menyadari akan konsep ini, dia berpuasa ketika ia menyadari kalau anak hasil perbuatan dosanya harus mati namun reaksi yang ditunjukkan Daud berbeda ketika anaknya sudah mati, yaitu ia mengakhiri puasanya. Reaksi Daud ini berada di luar dugaan orang-orang terdekat Daud sebab disangkanya Daud akan marah pada Tuhan karena doanya tidak dijawab. Daud berpuasa bukan untuk memaksa supaya anaknya tidak mati. Konsep mereka tentang puasa ternyata tidak beda dengan kita pada hari ini, yaitu dengan puasa maka Tuhan harus  menuruti apa yang menjadi kehendak kita. Puasa bukanlah mogok makan supaya keinginan kita dituruti. Tidak! Daud puasa karena ia tahu bahwa ia adalah orang berdosa yang membutuhkan belas pengasihan Tuhan, Ketiga, sesudah pembuangan, puasa mempunyai tambahan makna, yaitu menyadari bahwa diri adalah orang yang rapuh yang mudah terterpa oleh godaan dosa. Maka puasa adalah usaha manusia untuk berperang melawan godaan-godaan iblis yang membelenggu hidup manusia.

Sayangnya, konsep puasa tersebut telah mengalami penggeseran. Andaikata, orang berpuasa karena ia mengerti esensi puasa pertanyaannya masihkah ia protes pada Tuhan Yesus karena  pengikut-Nya tidak berpuasa? Jadi jelaslah mereka berpuasa karena aturan dan lama kelamaan puasa menjadi hal yang rutinitas dan kehilangan makna. Puasa seharusnya menjadikan orang rendah hati namun kini, orang menjadi sombong karena merasa dirinya lebih “saleh“ dibanding orang lain. Sayang, inti iman begitu dalam telah bergeser menjadi kesombongan rohani. Mungkinkah  hari ini kita juga jatuh pada hal yang sama dimana ritual agama sudah menggeser esensi agama? Inti iman justru hilang dan digantikan dengan aplikasi agama. Hati-hati, bukan karena kita pergi kebaktian tiap minggu atau saat teduh setiap hari atau aktif melayani berarti kita orang saleh. Tidak! Kesalehan tidak diukur dari seberapa banyak kita menjalankan ritual agama.

Puasa menjadi mekanis karena ada aturan yang mengharuskan kita untuk berpuasa padahal sesungguhnya orang tidak suka menjalankan puasa. Celakanya, kita sudah capek-capek puasa, tapi orang lain tidak puasa maka timbullah rasa iri hati. Puasa seharusnya menyangkal diri supaya tidak berdosa tapi kini menjadikannya semakin berdosa. Makna puasa telah bergeser menjadi ritual. Kalau kita mengerti makna pelayanan maka rasa iri hati itu tidak akan timbul ketika melihat orang lain tidak melayani, saat itu kita justru menjadi berdosa dan tidak diperkenan Tuhan. Praktek-praktek ritualitas ini telah mencengkeram agama dunia karena itu kita perlu dimerdekakan oleh Tuhan Yesus. Sebagai warga Kerajaan Sorga yang beriman di dalam Kristus maka hidup kita tidak sama dengan tatanan agama yang ada di dunia. Kita telah dipisahkan dari dunia dengan demikian orang dapat melihat perbedaan orang yang hidup dan menjadi warga Kerajaan Sorga dengan orang yang hidup menurut dunia, yaitu:

I. Esensi – Fenomena       

Seperti telah dipaparkan sebelumnya, seseorang menjadi penganut agama tertentu karena ia telah menjalankan aturan yang diberlakukan dalam agama tersebut, seperti membaca kalimat tertentu, melakukan aturan yang berlaku maka barulah orang tersebut sah menjadi penganut agama tersebut. Akan tetapi dalam Kekristenan, ritual agama seperti baptisan tidak menjamin keselamatan. Sayangnya, ajaran ini pun mulai diselewengkan maka tidaklah heran kalau kemudian orang ramai-ramai minta dibaptiskan demi untuk memperoleh keselamatan. Penjahat yang berada di samping Tuhan Yesus tidak pernah dibaptis namun ia bertobat dan ia diselamatkan. Keselamatan tidak tergantung dari ritual apapun. Iman Kristen meminta kita menjadi warga Kerajaan Sorga karena esensi diri kita dalam hubungan dengan Kristus sebagai Raja. Apalah artinya seluruh pelayanan kita kalau tidak men-Tuhankan Kristus dalam hati kita, apalah artinya persembahan kita kalau hati kita tidak berpaut pada Kristus. Gejala bisa menjadi implikasi dari esensi bukan sebaliknya. Semua anak Tuhan sejati pasti dibaptis, pasti melayani, pasti menjadi saksi, ia pasti taat menjalankan semua hukum Kerajaan Sorga. Pertanyaannya sekarang apakah orang yang dibaptis, orang yang aktif melayani, orang yang menjalankan semua ritual itu beriman pada Krsitus? Jawabnya: tidak sebab apa yang menjadi fenomena tidak mewakili apa yang esensi. Allah tidak melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati. Sudahkah hati kita berpaut pada Kristus?

II. Iman – Ritual

Orang benar hidup oleh iman, dari iman, oleh iman dan berakhir dengan iman. Kekristenan melihat iman di atas ritual sebaliknya dunia melihat ritual lebih dari pada iman. Perbedaan ini menjadi suatu pemisahan. Orang yang ingin melihat bukti terlebih dahulu baru kemudian ia mau beriman maka itu bukan iman tetapi ritual. Kalau sudah ada bukti lalu untuk apa lagi kita percaya? Iman justru karena tidak ada bukti maka kita percaya. Kegagalan dunia dalam religiusitas adalah menggunakan tatanan dunia yang dikenakan dalam tatanan iman. Alkitab menegaskan orang benar adalah hidupnya karena percaya. Kristus Yesus adalah satu-satunya obyek iman sejati yang menjadi subyek yang menata seluruh hidup kita. Percaya berarti percaya. Orang yang berkata percaya tetapi masih penuh dengan segala pertanyaan berarti ia masih ragu-ragu. Thomas sadar akan hal ini, ia datang dan meminta ampun pada Tuhan Yesus ketika ia mulai meragukan kebangkitan Tuhan Yesus. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Kekristenan melihat iman di titik kulminasi dalam hidup kita. Saat kita beriman maka hidup kita akan menjadi kuat sebaliknya agama yang didasarkan pada ritual maka orang pasti mati-matian mempertahankannya karena takut tergoncangkan dan hancur. Bagaikan sebuah kain yang belum susut ditambalkan pada sebuah kain tua maka kain tua itu akan rusak. Orang Yahudi tahu bahwa yang dimaksud dengan kain tua dan kantong kulit tua adalah dirinya, mereka mati di dalam aturan yang mereka buat sendiri.

III. Teosentris – Antroposentris

Iman sejati haruslah bersifat teosentris, yakni berpusat pada Allah bukan berpusat pada diri, antroposentris. Hampir sebagian besar agama-agama di dunia berpusat pada diri. Orang berpuasa karena ingin supaya orang lain melihat bahwa ia adalah seorang yang saleh, ia adalah seorang yang baik dengan demikian layak mendapat Kerajaan Sorga. Perhatikan, orang yang merasa dirinya baik justru menunjukkan kalau dirinya bukan orang baik. Segala sesuatu kalau berpusat dari Allah maka disanalah pondasi imanmu menjadi kuat berbeda halnya kalau segala sesuatu kita kerjakan berpusat pada diri maka akibatnya akan timbul iri hati. Di jaman modern ini pelayanan buat Tuhan dijadikan sebagai ambisi pribadi maka tidaklah heran kalau gereja dijadikan sebagai ajang bisnis. Ingat, ketika orang hendak memulai suatu gerakan back to the Bible maka hendaklah kita mengevaluasi diri benarkah memang Tuhan yang menginginkan gerakan itu ataukah itu hanya menjadi ambisi pribadi kita? Ketika orang mulai menyelewengkan kebenaran Firman maka itulah waktunya bagi kita harus melawan dan “berteriak“ keras supaya orang kembali pada kebenaran Firman dengan demikian gereja Tuhan dimurnikan. Di saat kehendak diri bertentangan dengan kehendak Tuhan maka kita harus taat menjalankan-Nya bahkan meski untuk itu kita harus berkorban karena itulah yang menjadi kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan bukan mengerjakan apa yang menjadi kesukaan dan ambisi pribadi. Bukan! Biarlah kita mengerti apa yang bersih, apa yang benar dan melawan orang-orang yang telah melawan kebenaran Firman dan menjadikan gereja sebagai bisnis. Gereja bukanlah tempat bagi kita untuk mencari keuntungan, gereja bukanlah tempatnya pekerjaan yang berpusat pada manusia tetapi berpusat pada Kristus yang adalah Raja.

Inilah separasi, pemisahan, dimana sistem Kerajaan Allah berbeda dengan sistem kerajaan dunia. Pertanyaannya sekarang adalah sebagai warga Kerajaan Sorga sudahkah kita menyangkal diri, menyadari ketidakberdayaan kita lalu menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan? Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Kerjakanlah semuanya itu di dalam anugerah Tuhan bukan menurut kesombongan diri. Biarlah kita sebagai warga Kerajaan Sorga dipakai oleh Tuhan menjadi saksi-Nya dan mendatangkan kemuliaan bagi Kristus Sang Raja.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050605.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : WHO THE SINNER IS ? (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, December 4th, 2006

Ringkasan Khotbah : 24 April 2005

Who the Sinner is?

Nats: Mat. 9:9-13

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pendahuluan

Hari ini kita kembali menajamkan tentang separasi yang berasal dari kata kudus atau kadosh (bahasa Ibrani) yaitu pemisahan antara orang yang berada di dalam Kristus dengan orang yang berada di luar Kristus. Hati-hati jangan tertipu dengan segala sesuatu yang kelihatan secara fenomena yang kelihatan saleh dan beragama tetapi sesungguhnya dia bukanlah seorang pengikut Tuhan sejati. Bagaimanakah seharusnya sikap seorang pengikut Tuhan sejati? Matius memberikan kesaksian tentang perubahan drastis yang terjadi dalam hidupnya, yakni dari seorang pemungut cukai menjadi pengikut Kristus. Matius tidak menulis dengan panjang lebar (Mat. 9:9). Matius adalah seorang Yahudi tetapi ia lebih memilih menjadi pemungut cukai, dicap sebagai seorang pengkhianat dan dikucilkan oleh bangsanya, semua itu ia lakukan karena satu alasan, yaitu uang. Orang rela melakukan apapun demi untuk uang bahkan ada orang yang mau berlaku seperti binatang. Orang lupa kalau dirinya dicipta menurut gambar dan rupa Allah yang begitu mulia dan harus mempertahankan harkat.

Matius merasakan hidupnya kosong dan ternyata uangnya yang banyak itu tidak dapat menolongnya. Di tengah kondisi yang desperate itu Tuhan Yesus datang dan berkata, “Ikutlah Aku“. Tanpa berpikir panjang lagi Matius langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Tuhan Yesus. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Matius rugi dan menyesal setelah mengikut Kristus? Jawabnya: tidak, Matius sangat bersyukur atas anugerah Tuhan. Bandingkanlah dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat, mereka menganggap dirinya yang paling benar karena telah mentaati lebih dari 600 peraturan. Tuhan Yesus tidak suka dan menegur sikap mereka yang munafik. Matius menyadari bahwa di luar sana masih banyak orang yang hidup bergelimang dalam dosa karena itu ia mengundang semua pemungut cukai dalam pestanya dimana Tuhan Yesus yang menjadi tuan rumahnya. Matius ingin supaya orang-orang berdosa ini bertemu dengan Tuhan Yesus dan mendapat keselamatan seperti yang ia alami.

I. Perbedaan Posisi

Orang Farisi berkata kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa?“ Dengan kata lain mereka hendak mengatakan bahwa Yesus, seorang Rabbi Yahudi maka tidak seharusnya Ia bersama pemungut cukai dan orang berdosa tetapi Dia seharusnya ada bersama dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang mendasari atau yang menjadi pola pikir mereka sehingga berpikir kalau Yesus salah posisi? Sesungguhnya yang salah posisi bukan Tuhan Yesus tetapi orang Farisi dan ahli Taurat. Tuduhan mereka terhadap Tuhan Yesus membuktikan mereka tidak mengenal dirinya sendiri sebab dimana kita berada itu menunjukkan seberapa jauh kita “tahu diri“. Ciri-ciri orang yang tahu diri, yaitu: 1) kenal diri, 2) tahu dimana posisi, 3) tahu apa ia kerjakan sebagai eksistensi manusia. Ketika pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa, Allah juga menanyakan keberadaan posisi: “Dimanakah engkau?“ (Kej. 3:9).

Secara fenomena orang Farisi kelihatan baik tapi sesungguhnya mereka sangat licik, mereka ingin menguasai Yesus. Hati-hati, di dunia modern ini banyak orang yang kelihatan baik tetapi di balik kebaikan itu sebenarnya ada motivasi buruk. Inilah sifat manusia berdosa. Memang siapakah manusia sehingga berani mempersalahkan Tuhan? Tuhan Yesus tahu dimana seharusnya Ia berada, yakni berada di tengah-tengah orang berdosa yang tahu diri kalau dirinya adalah orang berdosa dan memerlukan penyelesaian; bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Orang Farisi tidak beda dengan pemungut cukai yakni sama-sama orang berdosa maka seharusnya mereka juga berada di posisi yang sama seperti pemungut cukai. Seandainya orang Farisi menyadari dirinya orang berdosa dan mau bertobat maka ia pasti ada di posisi yang sama seperti pemungut cukai. Orang Farisi telah membuat garis pemisah, mereka ingin Tuhan Yesus ada di posisi mereka tetapi mereka tidak mau Tuhan Yesus memimpin hidup mereka. Garis pemisah ini tidak pernah mempertemukan keduanya; kemungkinan yang terjadi adalah salah satu harus pindah, Tuhan Yesus bergabung dengan orang Farisi atau orang Farisi yang harus bergabung dengan Tuhan Yesus. Dimanakah positioning kita? Kalau kita merasa diri hebat, saleh, dan tidak berdosa maka sadar dan bertobatlah justru pada saat itu kita adalah orang yang paling berdosa dan seharusnya kita berada di posisi para pemungut cukai. Di tengah dunia ini banyak orang yang berdosa yang berpikir kalau Tuhan Yesus yang harus ada bersama mereka, Tuhan Yesus yang harus tunduk dan taat padanya. Salah! Tuhan Yesus menegur dengan keras karena Dia ingin menyadarkan manusia supaya kembali pada posisi yang tepat karena selama ini manusia tidak sadar kalau telah salah posisi, kita telah mengalami keterkiliran posisi. Kalau kita masih mengeraskan hati dan tidak mau pindah ke posisi pemungut cukai, berarti kita adalah orang yang tidak tahu diri, kita tidak mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya.

Celakanya, manusia mencoba menyelesaikan semua persoalan manusia melalui pendekatan psikologi yang baru muncul di abad ke-20 yang merupakan hasil humanisme modern. Padahal dari keempat mazhab besar, yaitu: 1) psikoanalisa, 2) behaviorism, 3) humanism, 4) mystical, tidak ada satu pun mazhab yang memahami: pertama, manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah, manusia tidak kenal siapa dirinya tapi berteori tentang diri sendiri dan memakai istilah psikologi; kedua, manusia adalah manusia berdosa, orang tidak mau mengakui dirinya berdosa tetapi orang lebih suka mengatakan dosa itu sebagai akibat kegagalan dari masa lalu maka tidaklah heran kalau manusia sukar kembali pada Tuhan. Dan celakanya, hari ini seluruh kurikulum sekolah dibasiskan pada psikologi. Inilah yang disebut sebagai keterkiliran posisi, kita tidak tahu posisi diri kita dimana karena itu hendaklah kita sadar bahwa kita adalah orang berdosa dan seharusnya dimurka Tuhan namun Tuhan masih berbelas kasihan pada kita, Dia mau mengembalikan kita pada posisi yang benar, yaitu di posisi Kristus. Akan tetapi keputusan ada ditangan kita, dimanakah kita memposisikan diri? Sebab Tuhan tidak dapat mengerjakan semua ini pada orang yang memang mau memisahkan diri dari Kristus.

II. Perbedaan Konsep Dosa

Orang Farisi membenci Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Perhatikan kata “berdosa“, sinners disini berarti orang Farisi ini menuduh pemungut cukai dan orang lain yang duduk bersama Kristus sebagai orang berdosa. Kristus tahu apa yang ada dalam pikiran orang Farisi maka Tuhan Yesus berkata: “Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa (sinners).“ Orang Farisi dan Tuhan Yesus memakai kata yang dipakai sama, yakni sinners tetapi definisinya berbeda. Orang Farisi memakai kata “berdosa“ sifatnya eksklusif, yaitu hanya untuk orang-orang yang duduk bersama Kristus saja dan dirinya bukanlah termasuk dalam golongan orang berdosa. Tuhan Yesus justru menggunakan kata “berdosa“ yang sifatnya insklusif, yakni semua manusia berdosa tidak terkecuali orang Farisi.

Konsep orang Farisi tentang dosa adalah hubungan di dalam relasi horisontal maka mereka pikir kalau mereka tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain berarti mereka tidak berdosa begitu juga kalau mereka tidak melanggar peraturan yang ada tertulis berarti mereka tidak berdosa. Bukankah konsep dosa orang Farisi ini sampai sekarang juga sama? Dunia mengajarkan kalau kita tidak melanggar peraturan maka secara pasif orang tidak berdosa, berarti kalau saya tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak bersaksi dusta, tidak mengingini milik orang lain dan menghormati orang tua berarti saya adalah orang baik. Orang yang merasa diri baik justru membuktikan kalau dia bukanlah orang baik sebab ia membandingkan diri dengan orang lain yang lebih jelek darinya. Tidak ada orang baik yang mengaku dirinya baik, orang baik selalu mengasumsikan diri kurang baik. Orang Farisi merasa dirinya baik, hal ini dapat kita lihat pada sikap dan isi doa mereka; mereka berdoa di tempat dimana banyak orang bisa melihat dan cara mereka berdoa adalah membandingkan diri dengan orang lain yang lebih jelek, seperti pemungut cukai misalnya. Alkitab mencatat ada seorang anak muda yang kaya mendatangi Yesus, ia merasa diri baik karena telah melakukan semua hukum Taurat. Benarkah demikian? Ketika Tuhan Yesus menyuruh dia untuk menjual seluruh hartanya dan mengikut Dia, anak muda ini langsung pergi. Hal ini membuktikan kalau sesungguhnya ia tidak mengasihi Tuhan, ia tidak melakukan semua hukum Taurat, ia hanya melakukan hukum Taurat yang sifatnya horisontal, yakni hukeum ke enam sampai hukum ke sepuluh saja. Kalau seandainya hari itu Tuhan Yesus hanya meminta 10% dari seluruh hartanya pastilah anak muda ini bersedia melakukannya. Bahkan kalau Tuhan meminta 50% dari hartanya maka demi untuk mendapatkan Sorga, ia pasti akan rela menjual hartanya namun Tuhan tahu sifat manusia yang humanis materialis ini karena itu Tuhan menyuruhnya untuk menjual seluruh hartanya, Tuhan ingin mereka taat. Ukuran dosa bukanlah urusan berbuat baik menurut standar manusia. Tidak!

Tuhan Yesus menghubungkan konsep dosa secara vertikal; dosa terkait dengan melakukan kehendak Tuhan, dosa terkait dengan ketaatan kepada Tuhan. Dosa kalau kita melawan Tuhan, kita tahu kita seharusnya taat pada apa yang menjadi kehendak-Nya tetapi kita tidak melakukan dan mengabaikan-Nya maka kita sudah berdosa. Tuhan ingin supaya kita memberitakan Injil, melayani dan hidup menjadi kesaksian indah bagi dunia tapi kita mengabaikannya maka kita sudah berdosa. Tuhan Yesus menegaskan bukan orang yang berseru: Tuhan, Tuhan yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga tetapi mereka yang melakukan kehendak Bapaku yang di Sorga, dialah yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Di hadapan Tuhan manusia sama, yaitu sama-sama berdosa, we are sinners maka jangan seorangpun menyombongkan diri dan merasa diri baik. Kalau kita memahami konsep dosa seperti yang Kristus mengerti maka kita berada di pihak Kristus tapi kalau kita mengerti dosa sama seperti orang Farisi maka kita terpisah dari Kristus. Dosa di dalam konsep Kekristenan jauh lebih dalam dari yang dunia mengerti. Biarlah kita peka akan kehendak Tuhan dengan demikian kita tidak berbuat dosa dan segala sesuatu yang kita kerjakan sesuai dengan kehendak Tuhan.

III. Perbedaan Arah Pandang 

Pada umumnya, orang ketika memperhatikan segala sesuatu, arah pandangnya selalu dari dirinya dan dikenakan kepada Allah. Manusia bukanlah pusat yang menjadi titik sudut proyeksi dari gambar diri kita sendiri karena itu pemilihan perspektif tidak boleh dari sudut manusia kepada Allah dan sekelilingnya. Kita harusnya melihat dari arah pandang Tuhan, bagaimana segala sesuatunya kita mengerti dari arah yang tepat, sehingga cara kita mengimplikasi tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Orang Farisi memandang dari sudut pandangnya sendiri, yakni ia merasa dirinya sudah saleh karena telah melakukan semua peraturan dan ritual agama tetapi perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan bukan persembahan. Sebagai contoh, seorang anak kecil melihat pekerjaan kakaknya yang begitu banyak maka ia ingin membantu meringankan pekerjaan kakaknya tersebut. Tanpa sepengetahuan kakaknya ia mengerjakan pekerjaan tersebut dan sungguh di luar dugaan sang kakak, apa yang dilakukan adiknya justru tidak membantunya malah mengacaukannya. Terkadang, kita pun sama seperti anak kecil ini, kita merasa berjasa pada Tuhan karena telah melayani dan memberikan persembahan. Tidak! Memang siapakah kita merasa sudah menolong Tuhan? Kita justru seringkali melawan Tuhan, apa yang Tuhan ingin kita kerjakan justru tidak kita lakukan dan sebaliknya kita justru melakukan pekerjaan yang dibenci Tuhan. Biarlah kita peka akan kehendak Tuhan dengan demikian kita melihat pekerjaan Tuhan bukan dari sudut pandang kita.

Kita seharusnya bertanya pada Tuhan terlebih dahulu, kita bergumul apakah segala sesuatu yang kita kerjakan sudah sesuai dengan kehendak-Nya? Biarlah kita mengevaluasi diri kita masing-masing, jangan-jangan di dalam pelayanan kita justru telah berdosa maka segeralah minta ampunan pada-Nya. Mungkin Tuhan justru ingin kita melakukan pekerjaan yang memang tidak kita suka. Hendaklah kita peka akan pimpinan dan kehendak Tuhan dengan demikian kita tidak berdosa. Ini merupakan dua arah yang berbeda, total separated. Dan kalau sudah jelas dengan pimpinan Tuhan dan kehendak Tuhan maka kita harus mengerjakannya dan jangan takut sebab Tuhan pasti tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri. Ingat, bukan berarti orang yang melayani maka ia tidak berdosa. Tidak! Orang Farisi telah membuktikan justru di dalam kesalehannya, ia telah berbuat dosa. Paulus di dalam semangatnya melayani “tuhan“, dia telah menganiaya Kristus. Biarlah kita bertobat dan kembali kepada Tuhan dengan demikian hidup kita diarahkan oleh Firman, kita peka akan kehendak Tuhan dan seluruh paradigma, prinsip dan direction kita diubahkan dengan demikian kita semakin serupa Kristus. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050424.htm