Archive for January, 2007

Eksposisi Injil Matius 9 : THE CONTENT OF FAITH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, January 28th, 2007

Eksposisi Injil Matius-9

Ringkasan Khotbah : 7 Agustus 2005

The Content of Faith

Nats: Matius 9:27-31

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Minggu lalu kita sudah memahami kalimat Tuhan Yesus: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?“ ini mengandung esensi iman sejati sekaligus mendobrak konsep iman yang muncul di sepanjang sejarah jaman sebab pada dasarnya, manusia tidak suka melihat ada orang lain yang lebih mampu dan lebih berkuasa dari dirinya dan kini orang dituntut untuk percaya penuh pada Kristus sebagai Tuhan, hal ini tidaklah mudah sebab orang biasa dilatih  bahwa “aku bisa“ bukan “Aku (Tuhan) yang bisa.“ Sungguh merupakan suatu kebodohan kalau manusia merasa diri hebat dan tidak membutuhkan Tuhan, kita adalah manusia berdosa yang terbatas yang tidak mampu melakukan semua hal karena itu manusia harus beriman penuh pada Tuhan. Perhatikan, kedua orang buta ini menyebut Yesus dengan Anak Daud (Mat. 9:27) ini berarti mereka percaya kalau Yesus Kristus adalah Mesias, keturunan Daud yang nantinya membebaskan bangsa Israel dari penjajah dan menegakkan Kerajaan Israel. Pada hari itu, menyebut Yesus sebagai Mesias dan Tuhan sangatlah beresiko, yaitu nyawa menjadi taruhannya namun mereka berani mengambil resiko itu.

Tuhan Yesus ingin mengajak mereka masuk ke dalam kepercayaan yang penuh pada Dia maka Tuhan Yesus tidak berkata seperti sebelumnya tetapi dengan tegas Tuhan Yesus berpesan kepada mereka untuk tidak mengatakan tentang mujizat ini kepada orang lain. Kalau tadinya kedua orang buta ini beriman penuh pada Tuhan Yesus namun beberapa saat setelah mereka disembuhkan begitu keluar, mereka langsung melanggar perintah Tuhan. Dari kisah ini, Matius ingin kita memahami bahwa iman tidak berhenti pada suatu komitmen pertama, yaitu percaya Kristus saja, tidak, tetapi setelah kita beriman pada Kristus bagaimana kita mengimplikasikan iman itu. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa Tuhan Yesus berpesan kepada kedua orang buta itu supaya mereka tidak menceritakannya kepada orang lain? Pesan ini bukanlah sekedar pesan biasa maka bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus berbuat demikian dan merupakan hak Tuhan kalau Dia  merasa tidak perlu menjelaskannya, satu hal yang perlu kita lakukan hanyalah taat. Celakanya, kedua orang buta ini tidak pernah menanyakan apa yang menjadi alasan Tuhan Yesus kenapa mereka tidak boleh menceritakan hal tersebut pada orang lain maka setelah dicelikkan, begitu keluar dari rumah mereka langsung melanggar perintah Tuhan.

Kedua orang buta ini pastilah punya alasan kenapa mereka berbuat demikian. Bukankah hari ini pun seringkali kita juga bersikap sama seperti kedua orang buta tersebut, kita langsung membeberkan berbagai macam alasan demi untuk membenarkan diri sendiri. Tuhan Yesus mempunyai pemikiran dan perintah dan orang percaya juga mempunyai pemikiran dan tindakan, celakanya keduanya terjadi konflik. Kedua orang buta ini merasa kalau perbuatannya menceritakan kejadian itu adalah benar, dia merasa tidak melanggar, dia merasa lebih bijak, dia merasa lebih pandai, dia merasa telah menolong Tuhan Yesus. Disinilah terjadi kerusakan iman yang paling fatal karena iman hanya sampai pada titik awal, yaitu percaya. Iman bukanlah berhenti pada titik awal tetapi percaya adalah tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:1-2). Paulus sangat memahami bahwa iman menuntut adanya content atau isi.

Ada beberapa alasan yang menjadi pemikiran mereka kenapa kedua orang buta ini melanggar perintah Tuhan:

1. Mujizat sebagai Alat untuk Popularitas Kedua orang buta ini berpikir Tuhan Yesus berpesan demikian hanyalah sekedar basa basi, seperti yang biasa diucapkan oleh orang dengan tujuan supaya kelihatan rendah hati. Bukankah hal ini juga sering orang lakukan pada jaman ini, orang sangat suka bila kebaikannya diketahui orang lain dan akhirnya ia mendapatkan pujian. Inilah sifat manusia berdosa. Mereka berpikir kalau hal kesembuhan ini diberitakan maka nama Tuhan Yesus akan menjadi termasyhur apalagi mencelikkan mata yang buta hanya dapat dilakukan oleh Tuhan Yesus dan ini sudah menjadi “trade mark“ daripada Tuhan Yesus lagipula yang diceritakan bukan tentang hal-hal yang buruk. Kesalahan fatal kedua orang buta ini adalah memakai standar orang berdosa, mereka menyamakan Tuhan Yesus dengan manusia berdosa. Tuhan Yesus berbeda, Dia bukanlah manusia berdosa tetapi orang menganggap Yesus sama seperti dunia, yakni apa yang dikatakan tidak sama dengan keinginan hatinya atau dengan kata lain munafik. Tidak! Tuhan Yesus tidaklah demikian sebaliknya dunialah yang penuh dengan kemunafikan. Celakanya, hari ini orang Kristen pun bisa mempunyai pemikiran yang sama seperti dunia pada umumnya. Sebagai anak Tuhan, biarlah kita diubahkan, jangan memakai pemikiran orang berdosa lalu menyamakannya dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengerjakan sesuatu berdasarkan kehendak kedaulatan-Nya, Tuhan Yesus tidak dikendalikan oleh orang lain maka itu merupakan salah satu alasan kenapa Tuhan Yesus melarang kedua orang buta itu untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Misi kedatangan Tuhan Yesus ke dunia bukan untuk menjadi terkenal seandainya benar misi-Nya supaya menjadi terkenal maka Ia akan memilih tidak dilahirkan di kandang domba yang hina, bukan? Kekristenan harus mengatakan tentang kebenaran saja; jika benar katakan benar dan jika salah katakan salah. Kejujuran dan ketulusan ini seharusnya menjadi citra Kekristenan, kita tidak sama dengan dunia; anak Tuhan sejati mempunyai kualitas hidup lebih tinggi dari dunia, yaitu hidup berdasarkan kehendak Kristus.

2. Mujizat untuk Sarana Penginjilan Kedua orang buta ini mempunyai pemikiran kalau mereka bersaksi, menceritakan apa yang diperbuat Tuhan Yesus atas dirinya pada orang lain berarti mereka turut membantu mencarikan pengikut buat Yesus dengan demikian pengikut Yesus semakin bertambah banyak. Bukankah Tuhan ingin kita bersaksi? Bukankah ini juga menjadi salah satu sarana penginjilan? Perhatikan, semua pemikiran itu adalah menurut logika manusia. Dari dulu hingga sekarang manusia tidak berubah, yakni menggunakan mujizat untuk penginjilan. Tuhan Yesus tidak ingin mujizat dijadikan sebagai sarana penginjilan. Apa yang dimengerti oleh Tuhan Yesus tidak dimengerti oleh mereka yang percaya pada Kristus. Banyak orang berpikir kalau sakit disembuhkan maka orang  menjadi percaya dan mengikut Tuhan Yesus. Cara Kristus berbeda dengan cara dunia, cara dunia justru akan membuat rusak iman Kristen.

Pada Injil Yohanes pasalnya yang ke – 6 dicatat Tuhan Yesus membuat mujizat dengan 5 roti dan 2 ikan, Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki belum termasuk wanita dan anak-anak maka diperkirakan jumlahnya lebih dari lima ribu orang. Setelah Tuhan Yesus melakukan mujizat tersebut, Yesus berangkat ke seberang dan orang berbondong-bondong mengikut Dia, mereka sangat bersemangat mengikut Yesus, mereka bahkan berhasil mendahului Yesus sampai ke seberang. Puji Tuhan, Tuhan Yesus tidaklah sama seperti manusia berdosa yang sangat senang dengan pujian, Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi motivasi mereka mengikut, yaitu sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti dan kamu kenyang (Yoh. 6:26). Maka  sepanjang hari itu, Tuhan Yesus mengajar dengan sangat keras tentang roti hidup dan lihat, reaksi orang banyak itu, satu per satu mereka pergi meninggalkan Yesus. Apakah Tuhan Yesus menyesal karena berkhotbah dengan keras ataukah bersedih karena ditinggalkan oleh para pengikut-Nya? Tidak! Tuhan tidak butuh manusia sebaliknya manusialah yang butuh Tuhan.

Rick Warren dalam bukunya “Purpose Divine Life“ menuliskan Allah mencipta manusia karena Allah butuh manusia sebagai obyek kasih. Salah! Tuhan tahu bagaimana mengasihi manusia secara tepat. Setelah semua orang itu pergi dan tidak lagi mengikut Dia, Tuhan kemudian memanggil kedua belas murid-Nya dan menantang mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?“ (Yoh. 6:67). Tuhan tidak pernah menjanjikan mujizat pada orang yang mau percaya kepada-Nya. Sebagai anak Tuhan, kita yang seharusnya melayani Tuhan bukan Tuhan yang melayani manusia. Anak Tuhan sejati harus mengerti imannya dengan tepat menurut iman Kristus dan cara Kristus bukan menurut cara dunia yaitu mengiming-imingi dengan mujizat supaya percaya Kristus. Injil sejati tidak bicara tentang popularitas tetapi Injil sejati berbicara tentang orang berdosa harus bertobat, Yesus datang ke dunia untuk memberitakan tentang kematian-Nya yang menebus manusia berdosa dan kebangkitan-Nya memberikan hidup kekal bagi yang percaya pada-Nya. Sayangnya, hari ini banyak orang Kristen menggunakan cara dunia, yaitu menggunakan mujizat sebagai pancingan, mengundang artis dengan tampilan yang seronok, dan masih banyak lagi. Memang, bukan hal yang mustahil bagi Tuhan untuk membuat suatu mujizat akan tetapi Tuhan tidak pernah menggunakan pancingan mujizat supaya orang mau datang dan percaya pada-Nya. Tidak! Orang yang selalu ingin mendapatkan mujizat sukar sekali untuk diajar taat, hal ini dibuktikan dengan reaksi dari kedua orang buta ini, setelah memperoleh mujizat, Tuhan Yesus berpesan untuk tidak memberitahukan hal tersebut pada orang lain namun sekeluar dari ruangan itu mereka langsung melanggar perintah Kristus tersebut. Paulus menegaskan janganlah engkau menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu sehingga engkau dapat membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Pengertian “baik“ disini bukan dilihat dari sudut pandang manusia tetapi “baik“ dilihat dari sudut pandang Tuhan. Lihat bagaimana cara TUhan bekerja dengan sangat indah atas Paulus.

Tuhan tidak memanggil Paulus untuk memberitakan Injil di Bitinia dan Asia Kecil, Tuhan mempunyai rencana lain buat Paulus, yakni ia dipanggil untuk memberitakan Injil di Makedonia di daerah jazirah Yunani (Kis. 16). Paulus adalah seorang filsuf yang menguasai berbagai macam filsafat Yunani karena itu Tuhan menempatkan dia di daerah jazirah Yunani yang merupakan pusat dari filsafat kuno. Kedua orang buta ini tidak tahu apa yang menjadi alasan Tuhan Yesus melarang mereka bersaksi, Paulus juga tidak tahu kenapa ia dilarang masuk ke Bitinia, Frigia dan Asia Kecil namun sekarang, kita tahu ternyata Tuhan mempersiapkan tempat itu sebagai ladang pelayanan bagi Petrus. Inilah cara Tuhan bekerja, cara Tuhan sungguh tak terjangkau oleh pikiran kita, mungkin cara manusia membuat kita kelihatan “sukses“ namun justru berakhir dengan kebinasaan. Biarlah kita peka akan rencana dan pimpinan Tuhan dengan demikian kita tidak salah melangkah. Ingat, beriman bukan berhenti pada komitmen pertama tetapi kita harus terus mengimplikasikan iman dalam hidup sehari-hari.

3. Mujizat berdampak Politis yang Merugikan Manusia tidak berhak mempertanyakan alasan pada Kristus kenapa melarang menceritakan mujizat yang mereka alami. Manusia seharusnya taat. Konsep mesianic sangat mencengkeram pikiran orang Yahudi, tidak terkecuali murid Tuhan Yesus, yaitu suatu hari nanti akan berdiri suatu Kerajaan Israel yang berpusat di Yerusalem dimana kerajaan ini akan mengalahkan semua kekuasaan dunia yang berkuasa pada jaman itu; kerajaan Israel kembali seperti Kerajaan Daud. Pikiran ini begitu mencengkeram bahkan sampai Tuhan Yesus mati, bangkit dan naik ke Sorga, murid Tuhan Yesus masih bertanya, “Guru, kapan Kerajaan-Mu didirikan?“ Kenapa Tuhan Yesus mengacuhkan ketika kedua orang buta ini berteriak-teriak: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud“, beberapa orang menafsirkan Tuhan Yesus memang sengaja. Istilah mesianic tidaklah sesederhana yang kita pikirkan, istilah mesianic merupakan istilah politis. Orang Yahudi tidak akan dapat “berbuat apa-apa“ pada Yesus sejauh itu masih di wilayah rohani bahkan mahkamah agama tertinggi Yahudi, Sanhendrin tidak dapat menghukum Tuhan Yesus karena tuduhan mengajarkan agama sesat sehingga mereka menggeser ke masalah politik dengan demikian mereka dapat melakukan tindakan hukum, Tanpa perintah Herodes atau Pilatus sebagai pemegang kuasa pemerintahan maka Tuhan Yesus tidak dapat dihukum.

Tuhan Yesus datang ke dunia bukan urusan politik, Dia datang untuk menyelamatkan manusia berdosa supaya kembali kepada Kristus. Andai waktu itu Tuhan Yesus menanggapi perkataan kedua orang buta itu berarti Yesus mengakui di depan umum kalau benar Dia adalah Anak Daud maka hari itu Yesus bisa dianggap sebagai pemberontak dan ditangkap untuk dihukum. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menyembuhkan kedua orang buta dalam sebuah rumah (Yoh. 9:28). Namun mereka melanggar perintah Tuhan Yesus, mereka tidak menyadari kalau tindakan tersebut akan berefek fatal. Orang terpicu dengan keinginan manusiawi, orang mudah terpancing dengan berbagai macam isu dunia. Kedua orang buta ini merasa telah membantu Tuhan dengan tindakan yang mereka lakukan. Tidak! Jangan pernah berpikir manusia sedang membantu Tuhan. Biarlah kita peka dan bijak hidup di tengah dunia dengan demikian nama Tuhan semakin dipermuliakan. Iman berkait erat dengan isi iman, kalau kita mengaku percaya pada Kristus maka biarlah kita bertekad untuk tidak menjadi serupa dengan dunia tetapi berubah oleh pembaharuan akal budi sehingga kita dapat membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050807.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : ELEMEN IMAN (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, January 21st, 2007

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 24 Juli 2005

Elemen Iman

Nats: Mat. 9:18-26

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pendahuluan

Kita telah memahami bahwa seorang warga Kerajaan Sorga harus taat pada Sang Raja, yakni Kristus Yesus. Kristus berdaulat penuh atas hidup kita sebab Dia adalah Tuhan dan kita adalah budak-Nya maka iman sejati haruslah berpusat pada Kristus. Kalau aku ada di dalam Kristus maka bukan aku lagi yang hidup tetapi Kristus yang hidup didalamku maka sub tema kedua adalah pemuridan, yakni menjadi pengikut Kristus bukan sementara tetapi mengikut Kristus bersifat selamanya, secara mutlak hidup hanya bersandar pada-Nya, bukan kita yang mengatur diri tetapi Tuhan yang mengatur setiap langkah hidup kita dan kita akan merasakan sukacita dan damai sejahtera hidup dibawah pimpinan Sang Raja yang Maha Bijaksana. Seorang pengikut Kristus sejati haruslah berbeda dengan pengikut dunia dengan demikian kita menjadi berkat dan saksi bagi dunia; kita bagaikan domba yang ada di tengah-tengah serigala. Memang tidak mudah bagi seorang anak Tuhan hidup di tengah dunia, kita akan dimusuhi karena kita berbeda maka satu-satunya kekuatan hanya dengan berpaut dan beriman pada Kristus, Tuhan dan Raja atas alam semesta. Keempat sub tema ini dipaparkan oleh Matius sedemikian rupa dimana di setiap masing-masing sub tema diberikan tiga kisah dengan demikian setiap pengikut Kristus semakin dicerahkan dan hidup seperti teladan Kristus.   

Pada sub tema keempat, yaitu iman maka Matius banyak menuliskan kata “percaya“,  Matius ingin menekankan bahwa sebagai pengikut Kristus sejati maka sepenuhnya kita harus beriman pada Kristus bukan beriman pada “hasil iman“ tetapi lebih daripada itu, beriman pada Kristus adalah iman yang menyelamatkan. Bangkitnya anak perempuan Yairus dari kematian bukanlah sekedar kebangkitan jasmani tetapi kebangkitan rohani yang bersifat kekal. Maka pada kisah yang kedua, sekali lagi Matius mengajak kita melihat pada kisah yang mirip dengan sebelumnya, yakni orang buta yang disembuhkan. Kisah tentang orang buta yang disembuhkan ini juga terjadi di kota Yerikho, yakni kisah Bartimeus, seorang buta yang dicelikkan. Perhatikan, di sepanjang Alkitab banyak mujizat terjadi tetapi tidak ada satupun nabi atau para rasul yang melakukan mujizat mencelikkan mata orang buta; hanya Tuhan Yesus saja yang dapat melakukannya. Satu-satunya orang buta yang dicelikkan bukan oleh Tuhan Yesus adalah Saulus, itupun Saulus tidak buta sejak lahir tetapi karena hukuman Tuhanlah ia menjadi buta dan Tuhan memakai Ananias untuk memulihkannya kembali. Mujizat ini sebenarnya merupakan gambaran bahwa Kristus bukan hanya dapat mencelikkan mata jasmani tetapi lebih daripada itu, Tuhan Yesus mencelikkan mata rohani.

Perhatikan, ketika Tuhan Yesus bertanya kepada kedua orang buta ini, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?“ disini tidak ada satu penekanan; Tuhan Yesus tidak menuntut manusia untuk berespon sebab itu merupakan hak setiap manusia untuk berespon. Justru setelah Tuhan Yesus mencelikkan mata mereka, dengan tegas, Tuhan Yesus berpesan supaya mereka tidak menceritakan hal ini pada orang lain tapi mereka melanggarnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya, egoisme dan kesombongan manusia mendorong supaya mereka “bersaksi“ demi untuk keuntungan diri. Pertanyaannya sekarang adalah kalau kita beriman, elemen iman seperti apakah yang seharusnya kita miliki sehingga kita memiliki iman sejati? Ada lima elemen iman yang hendak dipaparkan oleh Matius terdiri dari:

1. Aktif

Percaya adalah suatu langkah aktif menghampiri Kristus sebagai obyek iman sejati. Hal ini dilakukan oleh kedua orang buta ini, mereka mengikuti kemanapun Yesus pergi sambil berseru-seru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud“ berarti mereka tahu kalau Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan itu. Tentu tidaklah mudah mengikuti kemanapun Yesus pergi, pasti banyak kesulitan dan hambatan bagi kedua orang buta ini namun toh mereka tetap mengikut. Inilah yang namanya fokus iman, aktif beriman pada Kristus yakni sekali mengarahkan diri pada Kristus maka tidak akan berpaling lagi. Beriman bukanlah pasrah, hopeless, orang yang pasrah justru menunjukkan ia tidak beriman, ia tidak tahu harus berbuat apa. Maka jelaslah bahwa beriman bukan pasrah tetapi aktif mengerjakan dan menuju pada obyek iman yang sejati, yaitu Kristus dan ini sekaligus kita menghancurkan obyek iman yang lain termasuk diri kita sendiri. “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?“, dunia menganggap pertanyaan ini tidaklah logis namun justru disinilah inti man sejati; pertanyaan ini sekaligus menguji diri kita, yakni bagaimana mata kita diarahkan pada Kristus, obyek iman sejati. Bukanlah hal yang mudah bagi manusia untuk percaya sebab manusia telah terbiasa dilatih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Hari ini banyak orang yang mengaku Kristen, mereka mengaku percaya pada Kristus Yesus tetapi sekaligus juga percaya pada obyek iman lain dan celakanya, manusia berani mengadu diantara obyek iman tersebut, siapa yang lebih kuat Kristus Yesuskah atau diri yang juga menjadi obyek iman.

2. Penundukan Diri

Elemen iman yang kedua ini sepertinya berlawanan dengan elemen iman yang pertama namun sesungguhnya tidaklah demikian, maka lebih tepat dikatakan paradoks. Hati-hati, iman yang aktif memfokus pada Kristus bukanlah sebuah ambisi atau keinginan maka disamping aktif, kita juga harus sekaligus menundukkan diri secara total kepada Kristus. Inilah kunci iman yang sejati. Dua orang buta ini tunduk mutlak pada Kristus, mereka tetap taat pada Kristus. Dua orang buta ini aktif datang pada Kristus, mereka selalu mengikut kemanapun Tuhan Yesus pergi sambil berseru-seru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud“, mereka  tidak peduli meskipun mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang ada di sekitar Tuhan Yesus, mereka hanya tahu satu hal yakni taat pada Kristus. Aktif sekaligus tunduk, kedua aspek ini sangat sulit dilakukan oleh manusia, orang cenderung mendualismekan; seorang yang aktif tidak akan mau tunduk, ia selalu berjalan menurut kemauannya sendiri sebaliknya orang yang tunduk selalu cenderung pasif, setelah ada perintah barulah ia kerjakan kalau tidak ada perintah maka ia pasif, tidak mengerjakan apapun. Seorang warga Kerajaan Sorga sejati haruslah menjalankan kedua aspek tersebut, yakni aktif dan tunduk mutlak; kalau kita dapat menjalankan keduanya maka kita akan memperoleh kesuksesan. Dimanapun kita bekerja maka keberadaan kita tersebut haruslah menjadi berkat, yakni atasan kita akan merasa tertolong dengan keaktifan kita tetapi perlu diperhatikan aktif disini tentulah yang sesuai dengan keinginan atasan kita, bukan aktif yang menurut kemauan kita sebab itu malah tidak menolong tetapi justru semakin menyusahkan. Kristus telah mengasihi kita sedemikian rupa maka sebagai warga Kerajaan Sorga sikap kita  terhadap Kristus Tuhan dan Raja atas semesta alam seharusnya lebih baik dibandingkan sikap kita pada orang lain yang menjadi atasan kita di dunia; apapun yang kita kerjakan haruslah menyenangkan hati-Nya dan kemuliaan hanya bagi Dia saja. Iman bukan memaksakan kehendak kita tetapi menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

3.  Sabar

Orang yang beriman sejati adalah orang yang sabar menunggu waktu Tuhan. Selain aktif untuk tunduk mutlak, kita juga harus aktif untuk peka akan pimpinan Tuhan atas hidup kita, dan juga peka akan waktu Tuhan. Kalau waktu Tuhan belum tiba maka janganlah kita paksa sebab semua yang terjadi di luar waktu Tuhan justru akan menghancurkan hidupmu apalagi kalau iblis turut campur maka kita harus lebih berhati-hati sebab iblis sangatlah licik, ia akan membuat segala sesuatu yang ada di depan mata kelihatan indah tetapi kemudian berakhir dengan kebinasaan. Perhatikan, kedua orang buta ini selalu mengikuti Tuhan Yesus tetapi Tuhan Yesus tidak menghiraukannya sampai tiba waktu-Nya, barulah mereka disembuhkan. Kalau kita yang diperlakukan demikian oleh Tuhan Yesus, bagaimanakah sikapmu? Orang yang ambisius pasti akan marah, sesungguhnya orang yang ambisius itu juga ingin ditolong tapi waktu dan caranya haruslah sesuai dengan keinginan diri. Memang siapakah kita berani mengatur dan memaksa Tuhan untuk menuruti kehendak kita? Setiap hal yang menjadi beban pelayanan kita hendaklah kita pergumulkan terlebih dahulu, benarkah itu kehendak Tuhan ataukah ambisi kita? Ingat, kalau Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada apapun dan tidak ada satupun manusia yang dapat menghambatnya tapi kalau beban itu adalah ambisi kita maka jangan pernah berharap akan menjadi sukses. Ingat, melayani bukanlah mengaplikasikan ambisi diri tetapi melayani adalah taat melakukan kehendak Tuhan, sabar menanti waktu Tuhan.   

4. Tahan Uji

Iman sejati harus diuji dan iman sejati harus lulus dari ujian, seperti emas semakin dibakar makin nampak kemurniannya demikian juga seharusnya iman. Setiap orang pasti beriman akan tetapi pertanyaannya adalah siapakah yang menjadi obyek imannya? Apakah obyek iman tersebut membawa kita pada keselamatan ataukah membawa kita pada kehancuran? maka tugas kita untuk membawa mereka pada kebenaran sejati. Orang Kristen bukan hasil reparasi tetapi orang Kristen adalah ciptaan baru di dalam Kristus maka seluruh pola pikirnya, tatanan dan kepercayaannya haruslah berubah dan hal ini tidaklah mudah karena itu iman perlu diuji. Orang yang takut imannya diuji membuktikan kalau ia tidak beriman, imannya rapuh. Ujian iman itu bukanlah untuk menjatuhkan dan membawa kita ke dalam dosa, tidak, ujian justru tempat untuk memurnikan iman dan ketahanan itu muncul saat kita berada dalam tekanan dan penderitaan, masihkah engkau percaya pada Kristus?

Biarlah hal ini menjadi kekuatan kita untuk hidup di tengah dunia yang kacau ini. Iman sejati membawa kita pada suatu titik krusial, siapakah obyek sekaligus subyek iman kita? Apa atau pada siapa yang kita percaya maka obyek iman itu sekaligus menjadi subyek yang mengatur hidup kita. Orang yang percaya pada diri sendiri maka diri sendiri akan mengatur seluruh langkahnya namun Tuhan menegaskan bahwa tanpa Tuhan semua yang kita kerjakan hanya berakhir dengan kesia-siaan; Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh tidak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang. Iman sejati haruslah mempunyai daya tahan sehingga ketika kita berada dalam menghadapi kesulitan, kita tetap mempunyai keberanian untuk berkata: tidak seperti teladan Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Sadrakh, Mesakh, Abednego percaya bahwa Allah yang ia sembah dapat melepaskannya dari dapur api tapi seandainya tidakpun mereka tidak akan meninggalkan Allah. Dunia semakin hari semakin rusak dan kacau maka tugas setiap anak Tuhan untuk membawa orang pada iman kebenaran sejati dengan demikian orang mempunyai dasar iman yang teguh, tidak mudah diombang-ambingkan oleh tekanan arus dunia dan itu menjadi kekuatan dan penghiburan bahwa Tuhan senantiasa memelihara hidup kita.

5. Rendah Hati

Hati-hati, orang yang selalu mendapatkan pertolongan dari Tuhan ketika ia berada dalam kesulitan, mendapatkan penghiburan dari Tuhan di saat ia sedih maka sangatlah mudah baginya jatuh dalam kesombongan. Tuhan ingin supaya kita rendah hati. Dari jawaban dua orang buta ini, yakni: “Ya Tuhan, kami percaya“ menunjukkan kerendahan hatinya, mereka menyadari bahwa mereka adalah budak. Namun karena kasih-Nya yang begitu besar sehingga Dia tidak lagi menganggap kita sebagai budak melainkan seorang sahabat akan tetapi status sahabat itu janganlah menjadikan kita menjadi sombong bahkan cenderung kurang ajar. Kita sepatutnya bersyukur kalau kita dapat merasakan pimpinan Tuhan atas hidup kita, bersyukur atas mujizat besar, yaitu pertobatan dalam diri kita dan juga bersyukur, di saat kita berada dalam kesulitan, Dia memberikan penghiburan dan kekuatan, dan kuasa-Nya menyertai hidup kita. Akan tetapi, biarlah pemeliharaan-Nya atas hidup kita menjadikan kita mawas diri, kita tetap harus sadar bahwa sesungguhnya, kita adalah budak dan Dia adalah Tuhan. Beriman pada Kristus mengharuskan kita untuk rendah hati. Satu hal yang kita tahu, yakni hanya bersandar mutlak pada-Nya. Ingat, memang Tuhan ingin supaya kita aktif namun juga tunduk mutlak pada-Nya karena Dia adalah Tuhan diatas segala tuan dan kita adalah budak.

Biarlah konsep ini terus kita sadari dan terimplikasi dalam hidup kita maka kita akan mempunyai iman yang kokoh yang tidak mudah diguncangkan oleh segala macam badai kehidupan akan tetapi meski badai itu datang percayalah, sekali-kali Tuhan tidak akan pernah meninggalkan engkau. Percayakah engkau, bahwa Aku dapat melakukannya?  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050724.htm

Eksposisi Injil Matius 9 :OBJECT AND SUBJECT OF FAITH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Saturday, January 13th, 2007

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 17 Juli 2005

Object & Subject of Faith

Nats: Mat. 9:18-26

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pendahuluan

Dalam kisah pergumulan iman seorang kepala rumah ibadat dan seorang perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun yang dicatat dalam Injil Matius di sana Tuhan Yesus memberikan jawab: “Teguhkanlah hatimu, imanmu telah menyelamatkan engkau“ dalam hal ini Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa iman sejati bukan berorientasi pada hasil, yaitu  iman bukan sekedar memberi kesembuhan fisik tetapi lebih daripada itu iman sejati adalah iman yang dapat menyelamatkan jiwa manusia. Iman yang hanya berorientasi pada hasil maka iman itu adalah iman yang rapuh dan mudah sekali berubah sebab orang baru mau percaya setelah melihat hasilnya dan orang akan beralih dan mencari obyek iman lain kalau obyek iman yang ia percaya sebelumnya tidak memberikan keuntungan atau hasil seperti yang diinginkan. Maka disini kita melihat bahwa obyek iman sangatlah penting; obyek iman yang salah akan mencelakakan hidup kita dan berakibat pada kebinasaan sebaliknya obyek iman yang sejati akan membawa kita pada keselamatan dan memperoleh hidup kekal.

Setiap orang pastilah mempunyai iman percaya dan iman itu membutuhkan obyek iman maka seperti ungkapan Francis Schaefer, I do what I think and I think what I believe dimana iman itu sangat berpengaruh pada pola pikir dan pola pikir itu mempengaruhi tindakan. Sebagai contoh, seorang atheis yang tidak percaya keberadaan Allah tidak akan percaya kalau dunia dan seisinya ini ada yang mencipta, yaitu Allah begitu pula dengan seorang materialis, baginya uang adalah segala-galanya maka tidak mudah menerima ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa uang adalah sumber dari segala kejahatan. Disini jelas bahwa iman, pola pikir dan tindakan sangat terkait erat karena itu, melalui kisah ini Tuhan Yesus ingin supaya orang melihat bahwa iman bukan berorientasi pada hasil. 

I. Mengenal Obyek Iman yang Benar

Ketika Tuhan Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu, anak perempuan Yairus sudah meninggal dan orang banyak ribut lalu Yesus menyuruh mereka untuk pergi sebab anak perempuan ini tidak mati tetapi tidur tetapi mereka menertawakan Dia. Inilah reaksi yang ditunjukkan manusia pada umumnya, mereka menganggap pernyataan Tuhan Yesus tersebut sangatlah tidak masuk akal. Orang yang semakin pandai semakin mempunyai ilmu tinggi maka kemungkinan besar ia akan bereaksi sama seperti mereka. Pertanyaannya sekarang adalah kalau kita ada di sana pada saat itu dan dihadapkan pada situasi demikian apakah kita juga akan tertawa? Orang tidak mau kembali pada obyek iman yang benar, yaitu Kristus Sang Kebenaran sejati, orang hanya mau percaya pada diri sendiri, self centered faith. Maka ketika orang mulai berpikir tidak masuk akal maka tidak maka tidak akan terjadi sekalipun ia telah melihat buktinya.

Pemikiran demikian telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan ironisnya, di dunia modern ini pemikiran yang sama kembali muncul dan dibakukan oleh seorang filsuf Perancis bernama Rene Des Cartes dengan mencetuskan teori rationalism. Teori ini menjadi dasar dari semua intelektualitas modern dengan slogan: cogito ergo sum, I think that for I am, saya berpikir maka saya ada; seorang akan mempunyai banyak pengetahuan harus dimulai dari meragukan terlebih dahulu, orang yang tidak pernah meragukan apa-apa maka ia tidak akan pernah tahu apapun. Secara sepintas pendapat ini kelihatan baik sebab orang diajar untuk kritis, orang harus mempertanyakan segala hal tentang kebenaran, orang dipacu untuk ingin tahu setiap hal dengan teliti. Pertanyaannya sekarang adalah kalau semua hal diragukan bahkan orang lain boleh diragukan, apakah diri sendiri juga boleh diragukan? Menurutnya, orang boleh meragukan semua hal tapi diri sendiri tidak boleh diragukan, sebab: pertama, ketika orang berpikir membuktikan dia ada, exist maka sangatlah tidak masuk akal, inlogical kalau diri diragukan; kedua, kalau diri boleh meragukan sekaligus diragukan maka kita tidak akan punya hasil karena itu, diri yang berpikir tidak boleh diragukan begitu juga dengan hasil pikirannya tidak boleh diragukan. 

Orang boleh menertawakan Tuhan Yesus tapi diri sendiri tidak boleh ditertawakan, orang boleh meragukan Tuhan Yesus tetapi diri sendiri tidak boleh diragukan. Pemikiran rasionalis inilah yang menjadi bangunan dasar bagi orang yang merasa dirinya hebat dan pandai. Pemikiran ini telah ada ribuan tahun lalu dan kini mulai dibakukan menjadi sebuah teori. Hal ini justru menunjukkan kebodohan manusia sebab sebelum manusia meragukan orang lain dan segala sesuatu seharusnya ia meragukan dirinya sendiri terlebih dahulu. Orang yang sadar diri dan berani mengkoreksi dirinya sendiri maka disana membuktikan ia seorang yang tahu diri. Sebelum kita menilai orang lain seharusnya kita tahu diri; tahu diri berarti berani mengkoreksi diri, mempertanyakan diri, siapa diri kita dan bagaimana eksistensi diri. Disinilah letak kefatalan dari para kerabat, tetangga dan saudara-saudara Yairus, ketika mereka mulai meragukan Tuhan Yesus maka pada saat itulah mereka gagal melihat iman yang sejati.  Pertanyaannya adalah memang siapakah manusia sehingga ia boleh meragukan Tuhan? Manusia tidak berhak meragukan Allah, satu-satunya yang manusia berhak lakukan adalah meragukan dirinya sendiri.

Manusia tidak layak dijadikan sebagai obyek iman, hanya Kristus Yesus saja yang layak menjadi obyek iman yang sejati maka disini obyek iman yang sejati langsung menjadi subyek iman. Ketika kita menyerahkan kepercayaan pada obyek iman tersebut maka obyek iman itu langsung menguasai balik diri kita. Kalau obyek iman itu adalah diri sendiri maka sulit bagi kita untuk keluar dari kepercayaan itu sebab semua cara pikir kita diselesaikan oleh diri sendiri dan meskipun salah, kita tidak akan menerima kesalahan itu, kita akan tetap berpegang pada pendirian yang salah tersebut, ironisnya, diri yang salah justru menertawakan kebenaran. Tuhan Yesus Sang Kebenaran sejati itu datang utnuk membuktikan kebenaran namun manusia tidak percaya justru menertawakan kebenaran itu. Pola pikir manusia telah rusak akibatnya semua tindakan yang ia lakukan juga menjadi rusak. Sebelum bertobat, Paulus juga berbuat hal yang sama, secara intelektual, ia pandai tetapi ia tidak mengerti realita iman yang sejati. Rene Des Cartez, Nietzche, Søren Aabye Kierkegaard, Imanuel Kant adalah seorang filsuf yang hebat, pemikirannya telah mempengaruhi dunia namun sayang, mereka tidak mampu menyelesaikan hidupnya sendiri, hidupnya justru berakhir dengan kehancuran.

Ironisnya, sejarah yang sama diulang kembali, manusia tetap beriman pada diri sendiri bahkan sampai hari inipun orang yang menertawakan kebenaran karena sebenarnya mereka tidak mengerti kebenaran namun orang tidak mau mengakui hal ini. Orang-orang yang sederhana, orang yang dipandang bodoh oleh dunia justru merekalah yang memahami kebenaran sejati yang diajarkan oleh Kristus. Ketika manusia memusatkan pada diri sendiri, tidak pernah menguji iman maka itu akan berakibat pada kehancuran diri. Iman sejati harus dilepaskan pada obyek iman sejati dan obyek iman yang sejati membutuhkan suatu pengujian internal di dalam obyek iman yang sesungguhnya. Ingat, jangan serahkan obyek imanmu pada sesuatu yang secara ordo berada di bawah atau sejajar kita, seperti materi, orang lain, diri sendiri atau setan sebab semua itu hanya bersifat sementara dan akan mengecewakan kita. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat mengenal Kristus Sang Kebenaran sejati dan kita dapat beriman pada-Nya. Iman sejati kepada obyek yang sejati akan memberikan hasil yang sejati, yakni hanya untuk kemuliaan nama-Nya.

II. Iman dan Pengalaman Iman

Secara logika, memang mustahil bagi manusia dapat hidup kembali dari kematian, hanya Allah Sang Sumber Kehidupan saja yang dapat menghidupkan kembali. Iblis adalah bapa kematian, bapa penipu, pekerjaannya selalu ingin menghancurkan hidup manusia. Tuhan dapat melakukan pekerjaan dahsyat atas diri seseorang dan itu tidak tergantung dari orang itu harus beriman atau tidak, bukankah anak perempuan Yairus yang dibangkitkan itu tidak pernah mengenal bahkan beriman pada Tuhan Yesus? Jadi, mujizat ini bukan bergantung pada iman dari orang yang kepadanya Tuhan mau bekerja atau bergantung pada bapanya, tidak, tapi sepenuhnya tergantung pada kehendak Tuhan saja. Yang perlu diwaspadai juga adalah apakah ketika mujizat itu terjadi setan turut ambil bagian? Hati-hati, iblis tidak akan pernah berhenti menggoda manusia supaya manusia jatuh ke dalam dosa, iblis selalu ingin masuk dalam setiap aspek hidup manusia kita tapi ingat, secara ordo, setan ada di bawah manusia maka manusia berhak untuk mengusir setan. Biarlah kita tidak hanya mempunyai pengertian iman yang kuat, punya kepercayaan pada Kristus yang kokoh tetapi biarlah ketika kita juga menyandarkan iman kita hanya pada Kristus maka pada saat itu Tuhan akan memakai dengan luar biasa. Jangan membatas pekerjaan Tuhan hanya dibatas logika, kapasitas, uang atau tenaga kita sebab Tuhan adalah Tuhan Sang Pemilik Semesta sehingga tidak ada yang mustahil bagi Dia. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat berjalan bersama dengan Tuhan dan mengalami pengalaman indah bersama dengan Tuhan. Jangan berorientasi pada hasil dari iman tetapi berimanlah hanya pada Kristus, obyek iman yang sejati dan biarlah kita membiarkan diri dipakai menjadi alat untuk kemuliaan nama-Nya dengan demikian kita akan merasakan mujizat Tuhan. Kita adalah manusia berdosa dan kalau Tuhan sudah menyelamatkan kita maka itu merupakan mujizat terbesar yang pernah terjadi dalam hidup kita.

Mujizat paling besar yang terjadi dalam hidup kita adalah pada saat kita bertobat dan menjadi percaya Kristus Tuhan: pertama, kalau Injil dapat sampai kepada kita itu merupakan suatu anugerah sekaligus mujizat sebab sampai hari ini, masih banyak orang yang ada di sekitar kita yang dari lahir sampai mati belum pernah satu kalipun mendengar tentang Kristus; kedua, kalau ada seorang pemberita Injil mau pergi ke suatu tempat dimana di sana Injil itu diberitakan maka itu juga merupakan suatu mujizat. Tidak semua orang dipanggil untuk memberitakan Injil  sebab pada saat orang memberitakan Injil bukan sambutan yang diterima tetapi sebaliknya hinaan, cercaan dan siksaanlah yang diterima. Kita selayaknya bersyukur kalau ada orang yang memberitakan Injil, berdoa demi untuk keselamatan kita, itu merupakan suatu mujizat terbesar. Sombong merupakan sifat manusia berdosa, dengan segala cara manusia berusaha menutupi perbuatan dosanya maka suatu mujizat kalau seorang berdosa mau mengakui dosa dan bertobat. Ketika John Sung mengadakan suatu kebaktian kebangunan rohani dimana banyak massa berkumpul, pemerintah setempat menjadi takut dan kuatir karena disangka akan memberontak namun pemerintah dikagetkan dengan reaksi orang-orang tersebut, mereka mengaku berdosa tanpa dipaksa. Itu merupakan suatu mujizat; ketiga, kalau Tuhan berkenan memakai kita seorang yang hina dan berdosa menjadi alat dan bekerja bagi-Nya maka itu merupakan mujizat sebab kita akan merasakan pengalaman indah berjalan bersama dengan Tuhan, kita akan melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja yang melampaui kapasitas dan kemampuan kita.

Beriman kepada Tuhan berarti memperkenankan Tuhan untuk memakai kita menjadi alat-Nya dan barangsiapa dipakai oleh Tuhan melakukan pekerjaan-Nya maka kita akan mengalami pengalaman indah bersama dengan Tuhan. Biarlah sebagai anak Tuhan kita tidak sekedar berteori iman atau mempunyai doktrin kuat tetapi berimplikasi iman dengan demikian kita dapat melihat pekerjaan Tuhan yang melampaui pikiran manusia dapat dikerjakan dengan tuntas, kita dapat melihat bagaimana Tuhan bekerja membangkitkan anak perempuan yang telah mati. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050717.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : SAVING FAITH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, January 7th, 2007

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 10 Juli 2005

Saving Faith

Nats: Mat. 9:18-26

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pendahuluan

Kita telah memahami bahwa Kristus adalah Tuhan dan hanya kepada-Nya kita harus taat, ketika kita telah memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus maka pengikutan itu bersifat terus menerus bukan sementara dan sebagai anak Tuhan yang sejati kita harus hidup kudus dengan demikian kita beda dengan dunia maka sub tema yang keempat adalah bagaimana hidup beriman di dalam Kristus. Sub tema keempat ini merupakan klimaks dari seluruh implikasi Kerajaan Sorga. Pada bagian pertama ini ada dua kejadian yang terjadi bersamaan, yaitu: pertama, anak perempuan dari Yairus, seorang kepala rumah ibadat sedang sakit keras dan akhirnya meninggal namun dalam situasi demikian iman Yairus tidak bergeser, ia tetap beriman pada Kristus. Fokus iman inilah yang hendak ditekankan oleh Matius, itulah sebabnya ia menyisihkan bagian-bagian lain yang dianggap tidak perlu sehingga dapat menggeser inti cerita; kedua, iman seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.

Setiap orang di dunia tidak pernah tahu akan hari esok maka iman itulah yang melandasi seluruh langkah hidup kita. Hati-hati, kalau kita salah memilih obyek iman maka akan berakibat fatal yakni membawa kita pada kehancuran. Manusia menyadari hal ini namun ironisnya, manusia tidak mau kembali pada Kristus Sang Kebenaran yang sejati. Cornelius Van Till mengungkapkan bahwa di dunia ini manusia terbagi dalam dua golongan, yaitu: pertama, manusia yang beriman pada Kristus, kedua, orang yang beriman pada diri sendiri dan semua ekstensi yang ada pada dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah apakah diri layak untuk dipercaya? Kalau memang benar, kenapa muncul istilah “kurang percaya diri,“ hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya, diri tidak layak untuk dipercaya. Untuk menutupi kenyataan ini orang membuat alasan lain, yakni kalau sesuatu tidak dapat diterima logika maka orang tidak akan mau percaya. Perhatikan, kalau sebelumnya orang sudah tidak percaya maka semua yang masuk akal tidak akan dapat diterima akal sebaliknya kalau orang sudah percaya maka semua yang tidak masuk akal akan masuk di akal. Jadi, masalah ada pada percaya atau logika? Jelaslah bahwa segala sesuatu harus dimulai dari rasa percaya dulu barulah segala sesuatu akan dapat diterima akal.

Bukanlah hal yang mudah mengatakan pada seseorang yang tidak percaya bahwa hanya melalui Kristus Yesus saja kita diselamatkan karena baginya: jalan keselamatan melalui Kristus tidaklah dapat diterima akal. Begitu juga kalau kita mengatakan pada seorang atheis bahwa dunia dan segala isinya diciptakan oleh Tuhan sebab baginya hal itu tidak masuk akal. Kepercayaan seseorang itulah yang menentukan apakah sesuatu itu masuk akal ataukah tidak masuk akal maka logika itu tergantung dari percaya. Seorang yang sudah tidak percaya bahwa Allah itu ada maka semua hal tentang Allah menjadi tidak masuk akal. Ada orang yang mau percaya kalau ia telah melihat terlebih dahulu, pertanyaannya adalah apa yang mau dipercaya kalau ia sudah melihat? Sesungguhnya, melihat itupun tergantung dari apa yang ia pikir, tergantung dari imannya dan itupun akan menghasilkan interpretasi yang berbeda, sebagai contoh, seorang dokter dengan seorang ahli hukum melihat suatu kejadian kecelakaan lalu lintas misalnya akan mempunyai pandangan yang berbeda.

Manusia lebih suka ditipu daripada kita mengatakan kebenaran tentang dirinya; orang akan menjadi sangat marah ketika kita mengatakan tentang keburukannya. Kalau begitu, sebenarnya manusia itu pintar atau bodoh? Ingat, memiliki banyak pengetahuan bukanlah jaminan bahwa ia adalah seorang yang pandai sebab ia tidak mengerti esensi, contohnya Saulus, seorang yang sangat pandai sekaligus sangat bodoh sampai kemudian ia bertobat barulah disadari bahwa segala sesuatu yang ada padanya tidak lebih dari sekedar sampah. Manusia seharusnya mengakui bahwa kepandaiannya tidak dapat menyelamatkan hidupnya. Orang pandai tidak identik dengan orang bijak. Hendaklah kita takut akan Tuhan sebab itulah permulaan pengetahuan dan orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Ams. 1:7).

I. Teguhkanlah Hatimu

Orang sulit menerima realita bahwa suatu hari kelak manusia berdosa harus berhadapan dengan pengadilan Tuhan dan upah dosa adalah maut. Hanya anugerah Tuhan kalau kita dapat terlepas dari hukuman dosa. Tidak ada cara atau usaha apapun yang dapat membebaskan kita dari hukuman dosa, semua usaha adalah sia-sia belaka. Demikian juga halnya dengan perempuan yang sakit pendarahan ini, segala cara dan usaha pastilah sudah ia tempuh, seluruh tenaga dan uang sudah ia habiskan demi untuk kesembuhannya namun semua sia-sia, sakitnya tidak menjadi sembuh tetapi justru semakin parah. Pada saat tidak  ada pengharapan itulah, ia bertemu Tuhan Yesus, ia percaya dengan menjamah jubah-Nya saja maka akan sembuh. Tuhan Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, imanmu telah menyelamatkan engkau“ (Mat. 9:22). Tidak ada satu katapun yang keluar yang menyinggung tentang kesembuhan sebab Tuhan Yesus hendak membereskan konsep iman yang sifatnya esensi dan jawaban ini sekaligus menjawab pergumulan Yairus. 

Orang yang menaruh kepercayaannya pada obyek iman yang tepat maka seluruh pola pikirnya yang kacau akan diubahkan menuju pada esensi iman yang sejati. Perubahan ini bukanlah perubahan yang bersifat fenomena. Tidak! Francis Shaeffer mengungkapkan I do what I think and I think what I believe, apa yang kita lakukan merupakan hasil dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita pikir merupakan hasil dari kepercayaan kita dari sini nampak jelas bahwa radian hidup kita yang paling luar adalah do atau tindakan, barulah think atau pikiran dan kemudian believe atau iman. Sesungguhnya, pola pikir kita dipengaruhi oleh: kesatu, apa yang kita pikirkan itu merupakan hasil dari seluruh informasi yang kita dapatkan seperti, budaya, pengalaman hidup, genetik, lingkungan sosial, dan lain-lain; kedua, apa yang kita pikirkan merupakan hasil filsafat hidup kita (Rm. 12:2) dimana filosofi hidup menjadi main set atau pola pikir kita. Karena itu, orang yang mempunyai pengalaman sama maka hasil yang didapatkan atau cara mereka menanggapi pengalaman itu tidak akan sama karena pola pikir antara satu orang dengan orang yang lain berbeda. Main set ini sekaligus adalah believe atau imannya yang mengendalikan seluruh hidupnya. Bagian terdalam inilah yang biasa disebut orang dengan perasaan atau hati; rasa sakit, rasa sedih, rasa gembira yang kita rasakan itu sesungguhnya dikendalikan oleh otak.

Jadi, segala sesuatu yang kita pikir dan kita rasakan sesungguhnya berasal dari pusat yang sama yakni otak. Pikiran dan perasaan kita dikendalikan oleh inti hidup dan inti hidup manusia sudah menjadi mati ketika manusia jatuh dalam dosa. Secara fenomena, memang manusia tidak mati, manusia masih bernafas namun itu hanya bersifat sementara sebab secara esensi, dia sudah mati. Ketika hati manusia sudah mati maka itu berarti seluruh hidupnya telah mati. Hanya Tuhan, Sang Sumber Kehidupan  yang dapat menghidupkan hati manusia yang telah mati, yaitu dengan memberikan hati yang baru dan roh yang baru (Yeh. 36:26). Tanpa hati dan roh yang baru maka manusia tidak akan dapat hidup. “Teguhkanlah hatimu“, Tuhan Yesus ingin mengajak kita melihat bahwa inti daripada iman sejati adalah kembali kepada Tuhan; bukan usaha atau kemampuan kita yang membuat kita dapat beriman kepada Tuhan, tidak, tetapi semua karena anugerah Tuhan semata. Hanya Tuhan Sang Sumber Hidup itu yang dapat menghidupkan kita kembali, hanya Tuhan yang dapat memberikan hati yang baru. Perempuan yang sakit pendarahan ini hanya berorientasi di permukaan, dia hanya melihat sebuah tindakan tetapi dia tidak mengerti esensi karena itu Tuhan langsung mengkoreksi inti iman. Janganlah kita terkecoh dengan hal-hal yang sifatnya fenomena tetapi hendaklah iman kita itu muncul dari kesadaran kita sebagai manusia berdosa dan hanya Tuhan saja yang dapat memberikan kekuatan hidup pada kita yaitu di dalam Kristus Yesus.

II. Iman yang Menyelamatkan

Kalau hati kita sudah dihidupkan oleh Kristus maka iman yang keluar dari hati yang dikuatkan itu adalah iman yang menyelamatkan. Perempuan ini pastilah tidak pernah berpikir akan keselamatan jiwa, kemungkinan dia hanya memikirkan hasil, yaitu kesembuhan. Hari inipun banyak orang yang memikirkan tentang hasil, orang hanya berorientasi pada kesembuhan. Hal ini menunjukkan bahwa orang masih terikat dengan hal yang sifatnya fenomena; orang hanya melihat hasil iman tanpa ia mengerti akan apa arti esensi iman. Iman seharusnya menghasilkan “hasil“ tetapi celakanya, sekarang iman kita kepada “hasil.“ Pada tahap ini, iman perempuan hanya kepada “hasil atau kesembuhan“ saja. Celakanya, sampai hari inipun orang masih beriman pada “hasil“, maka tidaklah heran kalau seringkali kita mendengar ungkapan: orang baru mau percaya kepada Tuhan Yesus kalau ia disembuhkan. Berarti ia beriman pada “hasil atau sembuh“, kalau ia tidak sembuh maka dengan mudah dan cepat imannya akan berpindah pada obyek iman yang lain yang dapat memberikan “hasil“ yang sesuai dengan keinginannya. Tuhan ingin menyadarkan kita bahwa iman itu bukanlah digeser ke “hasil“ tetapi iman harus kembali pada obyek iman, yaitu iman yang menyelamatkan, saving faith. Memang, iman dapat memberikan “hasil“ tetapi  iman yang menyelamatkan ini tidak mengacu pada hasil; memang, iman itu memberikan kekuatan tetapi kita tidak beriman pada “kekuatan“ itu. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus tidak menyinggung sedikitpun tentang kesembuhan meskipun hasilnya, perempuan ini disembuhkan karena Tuhan Yesus tidak ingin iman itu bergeser pada kesembuhan. Iman yang sejati adalah iman yang menyelamatkan, iman yang bersifat esensial yang membawa kita memandang pada Kristus Sang Kebenaran Sejati. Melalui kisah ini, Matius ingin supaya orang terbuka dan menyadari bahwa iman sejati bukanlah pada hal yang tampak secara fenomena tetapi iman sejati hanya ada dalam Kristus.

Pada dasarnya, setiap manusia pasti berjalan dengan iman tetapi pertanyaannya adalah iman kepada siapa? Apakah kita mau mempertaruhkan hidup kita dengan beriman pada sesuatu yang sifatnya fenomena dan mudah berubah? Ingat, hari ini, mungkin kita sembuh tetapi besok kita mati. Iman sejati haruslah terarah pada Kristus, satu-satunya oknum yang posisinya lebih tinggi dari manusia. Janganlah kita salah dengan mempercayakan diri kita pada sesuatu yang posisinya berada di bawah kita atau sejajar kita, yaitu:

kesatu,  materi, celakalah kalau kita menyandarkan iman kita pada sesuatu yang bersifat materi yang posisinya berada di bawah manusia karena itu berarti kita telah merendahkan eksistensi hidup kita. Ingat, materi tidak bersifat kekal sebab suatu hari nanti materi itu dapat hilang lenyap, kedua, janganlah menyandarkan dirimu pada orang lain yang posisinya sejajar dengan kita sebab manusia sangatlah terbatas dan berdosa sehingga manusia pun dapat mengecewakan kita, ketiga, ketika orang lain sudah mengecewakan maka orang mulai tidak percaya lagi dan ia berbalik meletakkan kepercayaan itu pada dirinya sendiri, keempat, orang tidak menyandarkan imannya pada materi, orang lain atau diri lagi tapi ia bersandar pada iblis yang posisinya justru ada di bawah kita. Iblis memang mempunyai kemampuan lebih yang tidak dapat dilakukan oleh manusia tetapi jangan samakan kemampuan dengan posisi.

Segala sesuatu yang mempunyai kekuatan besar tidak berarti ia mempunyai posisi atau ordo lebih tinggi dan bukan berarti pula kita harus tunduk padanya. Tidak! Sebagai contoh, gajah mempunyai kekuatan lebih besar dari manusia tetapi bukan berarti kita harus tunduk pada gajah, bukan? Binatang mempunyai ordo atau urutan di bawah manusia. Begitu juga setan, setan adalah malaikat yang dicipta Tuhan dan jatuh dalam dosa; malaikat dicipta Tuhan untuk melayani Allah dan manusia. Manusia dicipta sebagai makhluk tertinggi dalam ordo ciptaan karena manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka urutan atau posisi yang benar berdasarkan ordo ciptaan adalah: manusia – malaikat – setan. Jadi, kalau manusia menyembah kepada setan itu berarti menyalahi ordo. Betapa bodohnya manusia! Memang, iblis mempunyai kekuatan lebih besar dari manusia tetapi bukan berarti manusia harus tunduk pada setan. Manusia yang beriman pada Kristus mempunyai hak untuk mengusir setan. Tuhan memberikan hak pada anak-Nya untuk mengusir setan karena Tuhan sendiri tidak ingin anak-Nya berkompromi dengan iblis. Hati-hati, sekali kita berkompromi dengan iblis maka sukar sekali bagi kita untuk dapat lepas kecuali Tuhan beranugerah maka Dia akan membebaskan kita dari ikatan dan belenggu iblis. 

Materi, manusia, diri sendiri dan iblis tidak layak untuk dijadikan sebagai obyek iman karena semua itu tidak membawa kita pada keselamatan. Hanya iman pada Kristus saja yang membawa kita pada keselamatan; kita akan merasakan sukacita dan damai sejahtera ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan. Kita tidak tahu hari esok namun kita tahu satu hal yang pasti pimpinan Tuhan tidak akan pernah salah. Kita tidak tahu esok akan terang atau gelap tapi kita tahu Tuhan selalu berjalan disisi kita, Dia akan menolong ketika kita dalam kesusahan. Banyak hal yang tidak kita tahu di dunia ini namun satu hal yang pasti Tuhan telah menyelamatkan kita dan Dia telah menyediakan tempat bagi kita di Sorga kekal. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050710.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : LIVE BY FAITH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, January 1st, 2007

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 26 Juni 2005

Live by Faith

Nats: Mat. 9: 18-26

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Pendahuluan

Kita telah memahami kalau Injil Matius bukan ditulis secara kronologis melainkan secara topikal, yakni Kerajaan Sorga, the Kingdom of God maka Matius menyusunnya sedemikian rupa mulai dari kedatangan Sang Raja, Sang Raja membentuk Kerajaan-Nya dengan memaparkan hukum Kerajaan Sorga (Mat. 5-7) dan Kristus Sang Raja itu mengimplikasikan hukum-Nya (Mat. 8-9) dengan demikian hukum tersebut tidak sekedar menjadi teori. Implikasi hukum Kerajaan Sorga dibagi dalam empat sub tema dimana di setiap sub tema terdiri dari 17 ayat, yaitu: 1) the Lordship of Christ (Mat. 8:1-17), Kristus adalah Tuhan, Tuan dari segala tuan maka kita adalah budak yang harus taat pada Tuan, 2) the discipleship of Christ (Mat. 8:18-34), kita bukan sekedar menjadi pengikut yang sifatnya sementara tetapi mengikut Kristus berarti mengikut selama-lamanya, yakni sepanjang hidup kita dan ini menjadi komitmen hidup kita, 3) separation (Mat. 9:1-17), di tengah jaman yang bengkok ini, kita dipanggil untuk suatu tugas khusus, yaitu mencerminkan kesucian yang merupakan satu-satunya sifat Ilahi yang membedakan antara pengikut Kristus dengan pengikut iblis, dan 4) Live by Faith (Mat. 9:18-34), tema terakhir yang akan kita pahami ini sangat penting sebab menjadi dasar dan kekuatan kita dalam menjalankan separasi. 

I. True Comitment

Bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak Tuhan sejati hidup terpisah dari maka janganlah kaget, orang Kristen yang berani memisahkan diri akan menjadi minoritas di antara minoritas. Kekristenan tidak akan pernah menjadi mayoritas sebab kalaupun Kekristenan itu menjadi mayoritas seperti pada jaman Konstantine Agung maka orang Kristen sejati itupun sangatlah minoritas. Kerajaan Sorga itu seumpama jalan kecil yang sukar untuk dilewati namun ujungnya berakhir dengan kebahagiaan sementara kerajaan dunia itu jalannya lebar sehingga mudah dilewati namun berakhir dengan kehancuran. Sebagai pengikut Kristus yang telah berkomitmen untuk memisahkan diri maka pertanyaannya sekarang adalah bagaimana memproses hidup kita di dalam iman?        Orang harus mulai dari iman menuju pada iman dan orang benar hidup oleh iman (Rm. 1:16-17), jadi, yang menjadi landasan hidup manusia adalah iman. Hal ini sangat disadari oleh manusia tapi sekaligus dilanggar oleh manusia itu sendiri; orang lebih suka kalau sesuatu yang sesuai dengan logika atau rasio namun pengaruh “penipuan“ iman telah mencengkeram hidup manusia. Sebagai contoh, ketika sekolah bukankah kita lebih banyak menggunakan iman daripada rasio sebab hampir sebagian besar materi yang diajarkan itu tidak pernah kita buktikan sendiri, bukan?

Tuhan mengajarkan segala sesuatu justru harus dimulai dari iman. Sayangnya, hari ini orang baru mau percaya kalau ia sudah membuktikannya, orang mau percaya kalau ia sudah mengalaminya sendiri, orang baru mau percaya kalau apa yang ia percayai sesuai dengan logikanya. Salah! Separasi bukanlah sekedar pemisahan kehidupan namun pemisahan itu haruslah sampai pada akar yang menyangkut pola pikir dan iman sebab jika tidak demikian maka kita akan mudah digoncangkan. Orang harus percaya dulu barulah kemudian ia bisa membuktikan, kita harus percaya dulu barulah logika kita akan cocok. Hal ini sangat dibenci oleh manusia karena orang masuk dalam pertanyaan siapakah yang layak menjadi sandaran iman? Sebab meletakkan obyek kepercayaan sangatlah beresiko di dalam kehidupan kita sebab kalau sekali kita salah maka hal itu akan berefek dalam seluruh kehidupan kita.

Bukan hal yang biasa, seorang kepala rumah ibadat datang menyembah, bow down pada Tuhan Yesus apalagi di hadapan banyak orang. Pertama, orang Yahudi sangat membenci bahkan selalu menentang ajaran Tuhan Yesus karena dianggap sebagai orang yang menganggu keberadaan agama Yudaisme maka dapatlah dibayangkan kalau seorang Yahudi apalagi berstatus kepala rumah ibadat datang kepada Tuhan Yesus maka resikonya adalah kehilangan status sekaligus kariernya.

Kedua, orang Yahudi sangat ketat menjalankan semua peraturan agama Yudais maka seorang yang menyembah, proskuneo (bahasa Yunani) pada orang lain dan menganggapnya sebagai Tuan maka itu berarti penghujatan terhadap Allah dan taruhannya adalah nyawa, Ketiga, konsep pemikiran Yairus yang percaya kalau Yesus datang dan meletakkan tangan-Nya ke atas anak perempuannya maka ia akan hidup merupakan suatu terobosan yang sangat besar. Hati-hati, kesembuhan bisa dari Tuhan namun bisa juga dari iblis akan tetapi Yairus, kepala rumah ibadat ini menyadari bahwa tidak ada kuasa manapun yang dapat membangkitkan anaknya dari kematian selain Kristus Yesus; iblis tidak mempunyai kuasa untuk membangkitkan orang dari kematian sebab dirinya adalah bapa dari kematian.

Yairus sebelum ia memutuskan untuk menemui Tuhan Yesus, segala cara dan usaha kemungkinan sudah ia tempuh demi untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sakit keras itu tapi toh semua itu gagal dan dalam keadaan yang putus asa, desperate mendengar kabar kalau anaknya sudah meninggal, ia toh tetap tidak bergeming, ia tetap pada pendiriannya, yakni supaya Tuhan Yesus datang dan meletakkan tangannya maka anaknya itu akan hidup. Dalam hal ini Yairus telah melakukan komparasi atau perbandingan iman dengan iman yang ia pegang sebelumnya. Iman kalau belum kita uji, iman yang belum kita refleksikan dalam diri kita maka iman itu belumlah matang. Kita akan merasakan dan menyadari besarnya kekuatan iman ketika iman berada pada suatu titik kritis, yakni suatu titik dimana kita menghadapi kesulitan yang paling besar dalam hidup, suatu titik dimana kita  harus mempertanyakan kembali kepercayaan kita. Hari ini, orang dengan mudah mengajak orang lain untuk percaya kepada Yesus karena orang mengajak percaya Tuhan Yesus di dalam kenikmatannya tetapi bukan diajak percaya Yesus di dalam menghadapi titik kritis. Pertanyaannya beranikah kita meresikokan hidup kita untuk memilih satu iman diantara banyaknya pilihan iman yang ada di dunia dimana didalamnya kita beresiko mati? Maka janganlah heran kalau hari ini kita menjumpai banyak orang “Kristen“ meninggalkan Tuhan ketika hidupnya susah dan tergoncang. Itulah sebabnya, Tuhan suka pada orang yang hancur hatinya, orang yang remuk hatinya karena disitulah iman mencapai pada suatu titik dimana kita mempertanyakan kembali apa yang menjadi iman kepercayaanku? Dimanakah obyek iman kepercayaan kita?

II. Total Surrender

Iman Kristen bukanlah iman yang tidak dapat dipertanggung jawabkan; iman Kristen bukanlah iman yang fanatik dan membabi buta. Tidak! Iman Kristen harus dimulai dari iman maka iman itu membawa kita pada suatu pengertian yang benar, iman akan membawa kita pada suatu ketajaman pemikiran. Sebaliknya, pengertian tidak akan menjadikan kita beriman. Melalui kisah ini, Matius ingin menyadarkan orang Yahudi, dimanakah sebenarnya iman mereka? Kenapa mereka menolak Kristus sebagai obyek iman? Kalau seorang kepala rumah ibadat dapat melihat Kristus sebagai Tuhannya, ia dapat bersimpuh dan menyembah pada Kristus, pertanyaannya kenapa orang Yahudi yang lain menolak Kristus sebagai Tuhan? Biarlah kita juga mengevaluasi diri, kalau kita mengaku beriman pada Kristus lalu iman seperti apakah yang kita miliki? Apakah kita hanya beriman ketika kita berada dalam kenikmatan? Apakah kita tetap beriman ketika semua keadaan lancar ataukah masihkah kita akan tetap beriman ketika kita dalam kesusahan ketika kita merasa putus asa dan tiada pengharapan? Yairus bukan beriman fanatik, ia tahu pasti bahwa semua iman yang ditawarkan oleh agama-agama di dunia tidak tuntas, tidak dapat menyelesaikan semua kegalauan hatinya.

Adalah anugerah kalau kita dapat melihat Kristus sebagai obyek iman seperti halnya Yairus maka ketika anugerah itu datang, janganlah sia-siakan kesempatan itu. Ingat, kesempatan itu tidak akan datang terus menerus. Obyek iman yang tepat akan menentukan seluruh langkah hidup kita selanjutnya. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa bijakkah kita melangkahkan iman dan mengimplikasikannya dalam hidup kita. Hati-hati sekali kita memilih obyek iman yang salah akibatnya menyangkut seluruh aspek hidup dan berakhir dengan kematian. Ada orang yang berpendapat bahwa hanya percaya Yesus maka orang akan selamat, pertanyaannya adalah apakah orang yang percaya Yesus pasti percaya Yesus? Ternyata, tidak! Mereka hanya percaya pada Yesus yang dapat memberi berkat, Yesus yang dapat menyembuhkan, Yesus yang dapat memenuhi semua keinginannya maka percaya itu hanya sebatas sebagai pemuas keinginan diri saja. Yairus tahu pasti saat ia menyembah pada Tuhan Yesus maka itu menjadi titik separasi iman yang tuntas dan ia telah siap dengan segala resiko yang harus ia terima, seperti kehilangan karir bahkan kehilangan nyawa sekalipun. Beberapa orang menafsirkan bahwa kemungkinan setelah peristiwa ini Yairus tidak pernah kembali menjadi kepala rumah ibadat lagi. Hari itu menjadi titik dimana ia diselamatkan melalui iman. Bukan hanya kesembuhan yang ia dapatkan tetapi juga keselamatan. Melalui kisah ini terbukti bahwa si anak perempuan yang dibangkitkan tidak perlu iman untuk ia dapat bangkit tapi semata-mata karena kehendak Tuhan. Mengikut Kristus bukan bersifat sementara tetapi mengikut Kristus merupakan pertanggung jawaban di sepanjang hidup kita. Sayangnya, hari ini banyak orang yang mengaku “percaya“ Kristus tapi sesungguhnya obyek yang ia percaya bukanlah Kristus; Kristus hanyalah menjadi “alat“ dari obyek kepercayaannya. Matius ingin membukakan pada kita bahwa hidup manusia berada di bawah kedaulatan Kristus sajalah, manusia tidak berhak dan tidak mempunyai kuasa untuk menentukan hidupnya. Beriman pada Kristus merupakan total penyerahan diri selama-lamanya dan tidak kembali pada jalan yang lama. Pertanyaannya sekarang adalah pernahkah terlintas dalam pikiran kita untuk pindah dan berpaling dari Kristus? Kalau iman kita sudah sampai pada suatu titik kritis dimana iman itu diuji dan kita berhasil dalam ujian itu maka ketika kita mengikut Kristus, itu menjadi penyerahan yang total dalam hidup kita.

III. Faith Experience

Yairus mengalami pengalaman iman yang luar biasa bersama Tuhan Yesus, ia melihat bagaimana Tuhan Yesus membangkitkan orang mati. Hati-hati, orang-orang yang lebih banyak menggunakan rasio akan sukar masuk dalam pengalaman iman yang sejati. Suatu kesalahan besar kalau kita mempermainkan iman begitu juga kalau kita mempermainkan pengalaman tetapi iman tanpa pengalaman juga merupakan suatu kesalahan. Iman Kristen bukanlah iman yang mati yang hanya diperdebatkan secara logika saja. Tidak! Teologi Reformed menegaskan bahwa iman Kristen adalah iman yang terimplikasi di dalam setiap aspek hidup kita, iman Kristen adalah iman yang praktis. Dari kehidupan kita akan nampak sampai dimanakah iman kepercayaan kita? Benarkah kita mempunyai pengalaman iman dipimpin Tuhan dalam hidup kita? Percayalah ketika kita berada dalam kondisi yang putus asa maka disitulah pertolongan Tuhan akan memimpin hidup kita. Sayangnya, hari ini banyak orang Kristen yang seharusnya imannya dapat terimplikasi dalam hidupnya namun justru ditutup dengan epistemologi yang lain, ditutup dengan cara pikir yang lain; orang tidak menerapkan imannya yang bersandar total. Orang mengaku beriman namun sesungguhnya orang bukan beriman sejati tetapi imannya adalah iman yang memaksakan keinginan, imannya memaksakan logika.

Maka tidaklah heran kalau orang yang beriman akan mendapat tapi ternyata tidak mendapatkan, orang akan meninggalkan imannya; di sisi lain, orang yang terlalu mengandalkan logika akan sulit menerima kenyataan ketika ia mendapat maka dianggap sebagai suatu kebetulan belaka, ia tidak pernah masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan. Iman sejati adalah percaya penuh pada pimpinan Tuhan, seluruh hidup kita berserah penuh pada pimpinan-Nya dan menikmati Dia sepanjang masa. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memanggil kita menjadi warga kerajaan-Nya dan turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Iman sejati adalah taat pada pimpinan Tuhan meski pimpinan Tuhan itu terkadang tidak kita sukai dan justru pada waktu itulah, yakni disaat kita berada dalam keputusasaan dan tiada pengharapan maka iman mulai nyata terimplikasi dalam hidup kita, kita akan merasakan indahnya berjalan bersama Tuhan.

Iman Kristen bukanlah sekedar teori tetapi hidup setiap hari dalam pimpinan Tuhan. Biarlah kita peka akan pimpinan Tuhan dengan demikian di setiap detik hidup kita mempunyai pengalaman iman yang indah bersama Tuhan. Ingat, satu-satunya hidup yang pasti bukan hidup di dunia tetapi kepastian hidup itu kita dapatkan kalau kita hidup di dalam pimpinan Tuhan. Ketika kita taat pada pimpinan Tuhan maka saat itu kita masuk dalam pengalaman iman yang indah bersama Tuhan. Manusia berdosa sangat sukar untuk taat akan tetapi ketika orang mulai putus asa barulah ia berteriak pada Tuhan, kenapa Tuhan tidak menolong? Bukan Tuhan tidak mau menolong, tidak, tapi manusialah yang tidak mau ditolong, orang tidak taat pada pimpinan tangan Tuhan berdaulat. Biarlah kita meneladani Yairus yang menaruh kepercayaannya dan taat sepenuhnya pada Kristus dengan demikian iman terimplikasi dan di dalam hidup kita dan hidup menjadi saksi bagi-Nya. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050626.htm