Archive for February, 2007

Eksposisi Injil Matius 10 : CHARACTERISTIC OF THE KINGDOM (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, February 25th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 18 September 2005

Characteristic of the Kingdom

Nats: Mat. 10:1-7

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Kita telah memahami bahwa seorang warga Kerajaan Sorga bukanlah seorang yang egois yang hanya berorientasi pada diri sendiri. Segala berkat rohani yang telah kita terima dari Kristus Sang Raja haruslah kita bagikan kepada mereka yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Mat. 9:35-38). Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang kecil dan bertumbuh menjadi sebuah pohon besar sehingga burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya (Mat. 13:31-32), hal ini menunjukkan Kerajaan Sorga dimulai dari hal yang kecil dan kemudian bertumbuh menjadi besar. Inilah sifat dari Kerajaan Sorga. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana Kerajaan Sorga ini dikerjakan dan siapa yang mengerjakannya? Setiap orang yang menjadi warga Kerajaan Sorgalah yang harus mengerjakannya.

Kalau kita perhatikan secara sepintas, tema Kerajaan Sorga ini sepertinya tema dari Injil Matius saja namun sesungguhnya tema Kerajaan Sorga ini menjadi tema dari keseluruhan kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan memilih kita menjadi warga-Nya dimana kita berada dalam pimpinan-Nya, kita hidup dalam pemeliharaan-Nya. Tidak hanya sampai disitu saja, Allah sendiri menjagai umat-Nya dari ancaman dan bahaya musuh, kuasa Tuhan selalu menyertai bahkan kita turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Sangat menyenangkan, bukan ketika kita menjadi umat-Nya dan berada dalam pimpinan-Nya? Ternyata anugerah yang begitu besar ini tidaklah menjadi hal yang menyenangkan bagi bangsa Israel. Manusia berdosa tidak suka kalau dipimpin oleh Raja Sorgawi, bangsa Israel lebih suka dipimpin oleh raja dunia bahkan umat Israel tetap bersikeras meminta raja dunia meski Tuhan membukakan fakta bahwa berada dibawah pimpinan raja dunia justru semakin menyengsarakannya (1Sam. 8:10-22). Inilah sifat manusia berdosa.

Kerajaan Sorga ini memang ada di bumi namun Kerajaan Sorga di bumi ini tidak diperintah secara duniawi karena yang memerintah adalah Raja atas segala raja, yaitu Allah sendiri bahkan kepada umat-Nya Allah memberikan hukum, aturan dan prinsip yang paling agung yang tidak pernah kita jumpai di dunia, yaitu hukum Taurat. Seharusnya, orang merasakan sukacita ketika berada dalam pimpinan-Nya dan menjadi umat-Nya namun kenyataannya tidaklah demikian. Jangan pernah berpikir kalau manusia bersikeras mau hidup dalam dosa maka Tuhan akan menghalang-halanginya, tidak! Bayangkan, berapa banyak pukulan yang akan kita terima sebagai akibat perbuatan dosa yang kita lakukan? Pastilah banyak pukulan yang kita terima sebab manusia berdosa selalu cenderung untuk berbuat dosa. Ketika manusia bersikeras meminta raja dunia maka Tuhan pun membiarkannya dan manusia harus menanggung resiko atas pilihannya tersebut. Raja dunia memerintah dengan cara dan sifat dunia sehingga dalam seluruh perjalanannya bangsa Israel tidak memancarkan umat pilihan Tuhan.

Sejarah mencatat berulang kali bangsa Israel jatuh dalam dosa namun Tuhan masih berbelas kasih berulang kali pula Tuhan mengampuni, dengan kasih dan sabar, Tuhan menuntun supaya bangsa Israel ini bertobat dan kembali kepada-Nya namun sungguh bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, mereka tetap kembali jatuh pada dosa, semakin hari hidup mereka tidak bertambah baik tapi justru semakin rusak maka Tuhanpun membuang mereka. Pada hari itu berakhir pula  perjanjian antara Allah dengan umat Israel; umat Israel bukan lagi umat pilihan Allah karena mereka telah melawan perjanjian dan membuktikan bahwa mereka tidak sah sebagai umat pilihan. Allah pun diam dan 400 tahun kemudian, Allah yang Maha Kasih itu mengutus anak-Nya, Kristus Yesus untuk menjadi Raja dan menata ulang kembali Kerajaan Sorga yang Allah ingin tegakkan di bumi. Memang Kerajaan Sorga itu ada di dunia tetapi Kerajaan Sorga itu tidak bersifat dunia melainkan bersifat sorgawi dan Tuhan Yesus, Raja di atas segala raja itu yang menjadi Rajanya. Kerajaan dunia bersifat materi sedang Kerajaan Sorga bersifat kekal. Materi diciptakan oleh Allah dalam ruang dan waktu  yang terbatas maka sifatnya tidak kekal sedangkan Kerajaan Sorga bersifat kekal, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menghubungkan materi dan kekekalan. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau orang memakai standar materi dan dikenakan pada Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga seharusnya menjadi standar apalagi setelah kejatuhan manusia dalam dosa maka kerajaan dunia harus mengikuti standar Kerajaan Sorgawi. Orang berusaha mencoba merefleksikan kekekalan di dalam kesementaraan dan sebaliknya. Hal ini dapat kita jumpai pada tradisi Tionghoa, mereka mengirimkan uang-uangan dari kertas, rumah-rumahan yang terbuat dari kertas dan lain sebagainya. Sesungguhnya mereka menyadari bahwa orang yang sudah mati bersifat roh maka satu-satunya cara supaya uang kertas, rumah kertas dan lain sebagainya yang bersifat materi itu dapat diterima oleh mereka-mereka yang sudah meninggal yang bersifat roh haruslah dengan cara dibakar, orang berpikir dengan dibakar berarti terjadi perubahan bentuk dari materi menjadi non materi. Orang seharusnya sadar bahwa paradigma atau pola berpikir yang ada dalam diri merekalah yang harusnya diubah; bukan bahan atau bentuk benda materinya yang mengalami perubahan. Orang lupa bahwa kekekalan melampaui ruang dan waktu, tidak ada perubahan. Jadi, jelaslah bahwa sifat Kerajaan Sorga berbeda dengan kerajaan dunia. Tuhan Yesus datang bukan mendirikan kerajaan Israel baru seperti yang diidam-idamkan oleh bangsa Israel. Tidak! Tuhan Yesus datang untuk menegakkan Kerajaan Sorga di bumi dimana umat Allah menjadi warga-Nya dan sifat Kerajaan Sorga ini tidaklah terbatas, ia melampaui ruang dan waktu sebab dimana umat Allah berada maka disanalah Kerajaan Sorga ditegakkan.

Pertama, Kerajaan Sorga dimulai dari orang-orang yang mendapat panggilan dari Sang Raja untuk menjadi warga-Nya. Jadi, orang yang berhak menjadi warga Kerajaan Sorga adalah mereka yang dipilih. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau diantara jutaan manusia, Tuhan memilih kita menjadi bagian dari Kerajaan-Nya maka sepatutnyalah kita bersyukur sebab di tengah dunia ini banyak orang yang mengikuti Dia bahkan Alkitab mencatat, Tuhan Yesus harus memberi makan lima ribu orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak yang hari itu mengikuti kemana Dia pergi. Perhatikan, diantara banyaknya orang yang mengikuti-Nya, Tuhan Yesus hanya memanggil dua belas orang untuk menjadi murid-Nya. Kedua belas orang yang dipanggil Tuhan Yesus ini bukanlah orang-orang terpandang, mereka hanyalah orang-orang dari golongan menengah ke bawah. Hal ini menjadi teladan indah bagi kita, biarlah ketika kita memulai segala sesuatu, kita mulai dari yang kecil terlebih dahulu dan dengan rendah hati kita taat pada-Nya. Prinsip Kerajaan Sorga adalah orang-orang yang dibentuk dan diubahkan oleh Tuhan menjadi warga-Nya. Ingat, bukan karena kehebatan atau kekuatan kita kalau kita dapat menjadi warga-Nya, tidak! Orang yang sombong, orang yang merasa berjasa dalam pekerjaan Tuhan justru kepada mereka Tuhan tidak berkenan. Satu pertanyaan dari John Calvin yang perlu kita renungkan adalah apakah semua orang yang menjadi anggota gereja adalah warga Kerajaan Sorga? Ternyata tidaklah demikian, sebab apa yang kelihatan secara duniawi belum tentu warga Kerajaan Sorga; umat Allah yang sejati adalah orang yang menyadari bahwa dirinya berdosa dan ia taat mau diubahkan oleh Tuhan. Seorang murid sejati adalah seorang yang sepanjang hidupnya mau terus menerus diajar dan belajar oleh Sang Raja.

Konsep Tuhan yang berinisiatif memanggil umat-Nya ini sudah ada sejak jaman Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Kerajaan Allah di Perjanjian Lama dimulai pertama kali ketika Allah memanggil Abraham dan di Perjanjian Baru, Kerajaan Allah dimulai dari dua belas orang dan kemudian berkembang menjadi besar dan sampai hari ini panggilan ini tetap tiba pada anda dan saya. Seberapa jauhkah kita menjawab dan merespon panggilan Tuhan? Seberapa jauhkah kita mau bertobat dan taat pada-Nya? Hari ini, kalau kita masih bertemu dengan panggilan Tuhan maka itu merupakan suatu anugerah maka jangan sia-siakan anugerah Tuhan itu. Kita seharusnya belajar dari sejarah bangsa Israel, jangan mengulang kejadian yang sama dimana mereka telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan, mereka lebih memilih dipimpin raja dunia daripada Raja Sorga. Biarlah di dalam setiap kehidupan kita selalu bersandar pada tangan Allah yang memimpin dan memberikan damai sejahtera pada anak-anak-Nya. Sungguh amatlah disayangkan, orang lebih suka berjalan sendiri, berjalan dalam kegelapan daripada berada dalam pimpinan Tuhan. Seharusnya orang menyadari ketika ia berbuat dosa sebab di dalam diri setiap manusia disana Tuhan memberikan pada hati nurani yang akan menegur ketika kita berbuat dosa namun toh orang sengaja melawan. Maka sekali lagi saya tegaskan, jangan sia-siakan anugerah Tuhan, biarlah kita mau bertobat dan kembali pada Tuhan.

Kedua, Tuhan memberikan kuasa pada umat yang dipilih-Nya, yaitu kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Salah satu sifat Allah adalah kasih dan pengampun namun perhatikan, Allah yang Maha Kasih dan Maha Pengampun itu tidak pernah sekalipun berkompromi dengan iblis dan pada akhir jaman nanti, iblis dan seluruh anazirnya akan dibuang ke neraka. Begitu juga seorang anak Tuhan sejati tidak boleh berkompromi dengan iblis. Kerajaan Sorga mencerminkan sifat Allah, yaitu suci maka tidak boleh dicemari dengan dosa dan kenajisan. Ketika kita dipanggil menjadi warga Kerajaan Sorga maka kita harus melepaskan diri dari ikatan dan kuasa iblis dan Tuhan memberikan kuasa pada setiap anak-Nya untuk mengusir setan maka jelaslah bahwa mengusir setan bukanlah talenta atau karunia. Kalau Tuhan memberikan kuasa pada kita untuk mengusir setan, itu berarti tadinya setan ada di dalam kita. Sebelum kita dipanggil menjadi umat Tuhan, kita adalah makhluk berdosa, kita berada di dalam kuasa iblis dan Tuhan tidak pernah menuntut pada setiap orang yang mau menjadi umat-Nya haruslah bersih dan tidak bercacat, tidak, bahkan Tuhan memilih seorang penjahat yang ada di sebelah-Nya menjadi umat pilihan-Nya.

Satu hal yang Tuhan ingin kita lakukan adalah lepas dari ikatan setan, bertobat, kembali pada Kristus dan hidup dalam kebenaran. Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi sempurna, tidak, Tuhan hanya meminta kita untuk bertumbuh menjadi sempurna seperti Kristus dengan demikian hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Hati-hati, iblis dapat membuat segala macam yang sifatnya semu, iblis pun dapat menampilkan segala macam kebaikan palsu dan kasih palsu. Jangan tertipu oleh akal licik iblis iblis, iblis sangat pandai seolah-olah mengasihi manusia dengan megumbar cinta kasih palsu, cinta kasih yang diberikan penuh dengan tipu muslihat dan berakhir dengan kebinasaan. Berbeda halnya dengan kesucian, iblis tidak dapat mengimitasikan kesucian karena bertentangan dengan sifatnya. Tuhan memberikan kekuatan pada kita untuk mengusir setan maka janganlah pernah sekali-kali berkompromi dengan iblis, biarlah semakin hari kita semakin bertumbuh dan akhirnya menjadi sempurna seperti Kristus.

Ketiga, Kerajaan Sorga memang dimulai dari kecil, yaitu dari dua belas murid yang telah Tuhan pilih dan menjadi umat-Nya namun Kerajaan Sorga tidak berhenti sampai di situ, Tuhan ingin supaya setiap orang yang sudah dipilih menjadi warga Kerajaan Sorga untuk pergi dan memberitakan kabar keselamatan, yaitu Kerajaan Sorga sudah dekat. Kerajaan Sorga bukan berhenti di diri kita saja, tidak, tapi Kerajaan Sorga seperti biji sesawi yang kecil dan terus bertumbuh sampai menjadi pohon besar. Di dunia modern ini, muncul pendapat yang mengatakan bahwa orang yang jujur dan suci tidak akan dapat bertahan hidup di dunia. Dengan kata lain orang Kristen yang suci tidak akan dapat hidup maka supaya orang dapat hidup di dunia orang harus menjadi anak iblis. Salah! Itulah cara iblis mempermainkan dan menakut-nakuti orang Kristen; iblis akan selalu menekan orang Kristen  supaya hidup seperti layaknya orang dunia.

Pendapat yang sinis ini keluar dari cetusan hati yang iri dan cemburu dari orang yang tidak suka melihat ada orang baik di dunia. Sesungguhnya, orang berdosa ini ingin hidup jujur dan baik karena di dalam diri setiap manusia, sebab manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah dan disana, Tuhan tanamkan sense of divinity. Di satu pihak, dunia suka dengan orang baik dan suci bahkan dunia berusaha untuk dapat hidup suci tetapi di lain pihak, dunia tidak suka kalau ada orang benar dan suci di dekatnya. Hal ini terjadi karena mereka tidak tahu caranya bagaimana hidup benar dan suci. Bukankah yang sering kita jumpai dalam suatu lowongan pekerjaan dengan kriteria: baik, jujur, berintegritas? Dunia membutuhkan orang yang baik, jujur, suci dan berintegritas tetapi dunia tidak tahu harus dimana dan bagaimana mendapatkan orang-orang demikian.

Tugas kitalah sebagai anak Tuhan sejati untuk pergi dan memberitakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat. Dunia yang tiada pengharapan membutuhkan berita pengharapan, yaitu Injil Tuhan; hanya di dalam Kristus sajalah masih ada pengharapan; orang berdosa mendapatkan pengampunan dan diselamatkan, hidup dalam kebenaran sejati. Berita pengampunan dosa, berita pertobatan, berita penebusan di dalam Tuhan Yesus ini menjadi berita yang relevan di tengah dunia yang bobrok ini. Biarlah kita dipakai Tuhan menjadi orang-orang yang membawa berita sukacita ini pada orang-orang yang lelah, pada mereka yang tersesat dan terhilang ini.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050918.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : PENUAI UMAT PILIHAN (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, February 18th, 2007

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 11 September 2005

Penuai Umat Pilihan

Nats: Mat. 9:35-38, Yoh. 15:16

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Setelah Matius memaparkan seluruh bagian dari implikasi Kerajaan Sorga maka Matius memberikan suatu paparan sebagai suatu jembatan antara implikasi hukum Kerajaan Sorga dengan cara Tuhan memanggil murid-murid-Nya dan yang nantinya dipakai dalam pelayanan pada pasal kesepuluh sampai pasal kedua belas. Maka di sini kita melihat, Matius 9:35-38 mempunyai posisi yang sangat penting, yaitu sebagai titik putar. Kita merasa sudah cukup memahami implikasi Kerajaan Sorga yang telah dipaparkan dalam Injil Matius akan tetapi pemahaman itu tidak cukup sampai disitu, pemahaman itu bukanlah untuk kepentingan diri kita sendiri, yaitu untuk pertumbuhan rohani kita sendiri, tidak, sebab jikalau benar demikian apa bedanya dengan dunia. Bukankah dunia modern mengajar kita untuk bersikap egois?

Tuhan menentang keras konsep egoisme sebaliknya, sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus altruistik, seluruh aspek hidup kita baik yang bersifat materi maupun spiritual haruslah menjadi berkat bagi orang lain seperti yang Tuhan Yesus teladankan. Seorang anak Tuhan yang sejati haruslah melihat dengan cara pandang yang berbeda dari dunia. Ingat, tampilan luar bisa menipu tetapi hendaklah kita melihat dengan mata rohani maka kita akan menemukan jiwa yang lelah seperti domba yang terlantar. Akan tetapi kita tidak boleh cukup puas hanya berhenti sampai di hati yang tergerak oleh belas kasihan saja, tidak, Tuhan ingin hati yang berbelas kasih itu tercermin melalui tindakan nyata dengan demikian seluruh tindakan kita menjadi berkat bagi mereka yang lelah dan terlantar seperti domba yang tak bergembala.

Tuhan mengatakan suatu kalimat yang bersifat paradoks pada murid-murid-Nya, yakni: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu“ (Mat. 9:37-38). Sesungguhnya Tuhan hendak mengajarkan suatu konsep manajemen yang berbeda dengan yang diajarkan oleh dunia. Dunia mengajarkan ketika kita melihat suatu visi maka visi tersebut seharusnya menjadi dorongan bagi kita untuk bekerja dengan sekeras mungkin maka kita akan mendapatkan reward. Manajemen dunia memakai sistem reward and punishment. Hati-hati dengan buku yang berjudul purpose divine life and purpose divine church yang kelihatannya rohani tetapi sesungguhnya mengacu pada manajemen dunia. Sebaliknya, ketika kita melihat suatu visi, yakni tuaian yang banyak tapi pekerja sedikit maka Tuhan tidak menyuruh kita untuk langsung bekerja, tidak, Tuhan ingin supaya kita mengarahkan pandangan pada Tuhan dan meminta kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita langsung mengerjakan suatu tugas dengan alasan visi dari Tuhan tanpa kita bertanya pada Tuhan terlebih dahulu apakah Tuhan berkenan atau tidak atas pekerjaan kita. Inilah cara manajemen Tuhan bekerja yang menjadi format dari Kerajaan Allah ketika menata seluruh pelayanan-Nya. Mengapa Tuhan memakai cara atau manajemen yang berbeda dengan cara dunia? Karena Tuhan ingin mendobrak sistem manajemen dunia yang salah dan ironisnya, orang menganggapnya sebagai kebenaran. Sistem manajemen yang diajarkan oleh Kristus ini bukan hanya dapat dijalankan di dalam pelayanan saja tetapi sistem manajemen itu dapat kita lakukan di seluruh aspek hidup kita. Sistem manajemen Kristus ini meliputi empat aspek, yaitu:

1. Motivasi Murni

Perhatikan konsep ekonomi yang diajarkan dunia: kalau permintaan barang tinggi sedangkan suplai barang sedikit maka harga harus dinaikkan. Sebaliknya, konsep Kerajaan Sorga justru mengajarkan sebaliknya, yakni semakin banyak orang membutuhkan barang sedang di pasaran barang sangat langka maka  harga barang harus diturunkan dengan demikian banyak orang yang memerlukan barang tersebut akan mendapatkannya. Tuhan menegaskan orientasi bukan pada diri sendiri tapi kita harus menjadi berkat dan rela berkorban bagi dunia. Bekerja dalam ladang-Nya Tuhan haruslah menurut pada sistem manajemen Tuhan. Sangatlah mengenaskan, di dunia banyak jiwa yang lelah dan terlantar namun orang justru tidak membawa mereka kepada naungan Kristus Sang Gembala Agung, orang memanipulasi domba yang terlantar ini demi untuk memenuhi kepentingan egoisme sehingga domba yang sudah terlantar ini semakin jauh tersesat. Maka tidaklah heran kalau hari ini banyak orang yang menjadikan gereja layaknya sebuah bisnis dunia yang diolah dengan manajemen dunia yang memberlakukan sistem reward and punishment dimana seluruh pekerjanya digaji dan diperlakukan secara profesional layaknya sebuah perusahaan. Melihat tuaian yang banyak maka Tuhan tidak memerintahkan untuk bekerja sebaliknya Tuhan ingin supaya kita memandang kepada-Nya dan meminta kepada tuan yang empunya tuaian supaya mengirimkan pekerja. Hati-hati, iblis yang licik selalu menggoda manusia supaya menyeleweng dari jalan Tuhan sehingga manusia tidak dapat lagi membedakan Tuhankah atau setankah yang bekerja. Hari ini orang sulit membedakan mana ilalang dan mana gandum hingga suatu ketika nanti, dari buahnyalah akan nampak perbedaannya.

Sadarlah bahwa tuaian ini bukan milik kepunyaan kita sebab kita hanyalah pekerja yang dipakai untuk menggarap pekerjaan Dia. Kalau kita perhatikan di pasalnya yang ke sepuluh maka di sana kita akan melihat cara Tuhan bekerja yang sangat unik yang berbeda dari dunia; Tuhan tidak memakai orang-orang yang siap sedia untuk dipakai, tetapi Tuhan justru memakai orang-orang yang berdoa memohon pada-Nya untuk mengirimkan pekerja. Orang yang demikian ini menyadari posisinya bahwa dia adalah hamba yang harus taat pada Sang Raja dimana tuaian itu bukan milik kepunyaannya melainkan milik Sang Raja. Janganlah sombong dan bermegah diri karena pelayanan yang kita lakukan “sukses“ (menurut ukuran manusia) sebab tidak ada sedikitpun jasa kita, kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Asalnya dari Tuhan maka seluruh hasilnya untuk kemuliaan Dia saja. Kalau kita memahami konsep manajemen Kerajaan Sorga ini maka kita akan dipakai Tuhan dengan luar biasa tetapi ingat, kita harus tetap dengan rendah hati melayani Tuhan karena kita menyadari posisi kita sebenarnya hanyalah seorang budak. Sayangnya, hari ini banyak orang yang menjadi sombong, merasa diri hebat, menganggap diri sukses karena berhasil melakukan pekerjaan Tuhan yang besar, orang lupa kalau sebenarnya tuaian itu bukan milik kepunyaannya, orang lupa kalau ia hanyalah seorang budak.

2. Kerja keras

Tuaian yang banyak tetapi pekerja sedikit itu seharusnya semakin memacu kita untuk bekerja melayani Tuhan dengan lebih keras lagi. Sungguh sangatlah mengherankan kalau ada orang yang saling iri dan berebut ketika melayani Tuhan. Hal ini menunjukkan kalau orang tidak melihat visi Tuhan. Pekerjaan Tuhan itu terlalu banyak, pekerjaan Tuhan tidak akan pernah habis-habis untuk dikerjakan bahkan sampai kita mati pun masih banyak pekerjaan Tuhan yang belum dikerjakan. Marilah kita kerjakan pekerjaan yang Tuhan sudah percayakan pada kita itu dengan sebaik  dan sekuat mungkin. Jangan takut kita tidak dapat melayani Tuhan karena tidak ada lagi pekerjaan Tuhan dan jangan iri dengan pelayanan yang dikerjakan oleh orang lain dan jangan marah kalau ternyata orang lain mencontoh atau melakukan pelayanan yang sama seperti yang kita lakukan. Kita seharusnya bersyukur pelayanan kita menjadi berkat. Bahkan seandainya tidak orang yang mau mengerjakan pekerjaan Tuhan karena ada pertimbangan berbagai hal, dianggap merugikan misalnya, maka kita pun harus tetap mengerjakannya. Biarlah kita menyadari masih banyak pekerjaan Tuhan di dunia ini yang belum diselesaikan, di luar sana masih banyak orang yang lelah dan terlantar maka jangan langsung bekerja sendiri tetapi mintalah pada tuan yang empunya tuaian untuk mengirimkan pekerja dan ingat, karena masih banyak pekerjaan Tuhan yang harus dikerjakan sedang pekerja sedikit maka kita harus bekerja dengan seluruh tenaga yang Tuhan berikan pada kita.

3. Efektif dan Strategis

Tuaian memang banyak dan pekerja sedikit maka Tuhan ingin supaya kita bekerja dengan sekuat tenaga, bekerja keras tetapi Tuhan juga ingin kita menjadi bijaksana dengan demikian seluruh tenaga dan pemikiran kita menjadi sia-sia, dengan kata lain bekerja sangat keras tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Tidak! Tuhan ingin kita bekerja dengan seefisien mungkin. Kalau pekerjaannya banyak dan pekerjanya banyak maka itu disebut padat karya. Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari banyaknya pengangguran di suatu negara padahal sesungguhnya mereka tidak mempunyai keahlian sehingga pekerjaan yang seyogyanya dapat digantikan oleh mesin harus dikerjakan oleh manusia demi untuk mengurangi pengangguran. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh mesin tapi dikerjakan oleh manusia maka pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang manusiawi karena tidak menggunakan natur manusia. Bukankah manusia jadi setara dengan mesin yang hanya benda mati? Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan, pekerjaan banyak – pekerja sedikit  bukan berarti kita boleh kerja dengan sembarangan dan serampangan. Itu berarti kita telah mengorbankan pekerjaan dan membiarkan orang lain terlantar tapi di sisi lain kita menikmatinya. Dan hari ini, di dunia modern yang canggih ini banyak orang justru tidak bekerja secara efisien. Orang sudah terikat dengan teknologi sehingga tanpa teknologi orang tidak dapat bekerja.

Selain rendah hati dan bekerja keras, Tuhan juga ingin kita bijaksana. Melayani Tuhan bukan sekedar bekerja membanting tulang tetapi sudah seberapa efisienkah kita bekerja? Sudahkah kita mencapai hasil maksimal seperti yang Tuhan inginkan? Ingat, hasil maksimal atau kesuksesan disini bukan menurut standar manusia tetapi menurut standar Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan menaruh manusia dalam batasan ruang dan waktu supaya kita dapat bekerja mencapai titik maksimum seperti yang Tuhan inginkan. Tuaian banyak - pekerja sedikit seharusnya memacu kita untuk bekerja lebih efisien dan hasil yang didapatkan maksimal. Inilah etos kerja Kristen. Anak Tuhan sejati haruslah mempunyai jiwa etos kerja Kristen dengan demikian kita dapat menjadi berkat bagi dunia.

4. Menuai umat pilihan

Tuaian yang banyak itu kini memasuki masa penuaian. Yang dimaksud dengan tuaian disini adalah orang-orang yang sudah dipilih Tuhan sebelum dunia dijadikan untuk menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya (Ef. 1:4-5). Yang menjadikan tuaian itu matang bukan kita, jadi, janganlah bermegah diri sebab tidak ada sedikitpun jasa kita yang membuat tuaian itu menjadi matang. Kita hanyalah seorang penuai yang bekerja di ladang-Nya Tuhan dan bertugas menuai tuaian yang sudah matang itu. Kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk menuai tuaian (harvest) yang sudah matang. Bukan kita yang empunya tuaian tapi Tuhanlah yang empunya tuaian itu yang mengutus kita untuk menuai umat pilihan-Nya. Rahasia tentang umat pilihan ini dibukakan oleh Tuhan Yesus hanya kepada sebelas murid (Yoh. 13:31 – 16:33), yaitu, setelah Yudas diusir pergi karena Yudas bukanlah umat pilihan sejati, bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu; dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu. Sebenarnya, bukan Tuhan tidak pernah memperingatkan Yudas, sebab berulang kali Tuhan Yesus memperingatkan Yudas mulai dari kalimat yang sangat halus (Yoh. 13:21) sampai kalimat yang kasar (Yoh. 13:26-27) dan peringatan itu seharusnya membuat Yudas sadar dan bertobat tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Tuhan yang membuat tuaian itu matang maka tugas kita adalah menuai sebab kalau tidak segera dituai maka tuaian yang sudah matang itu akan menjadi busuk. Jangan ada orang yang memegahkan diri kalau ada orang yang bertobat dan menganggapnya sebagai jasa kita, tidak. Ingat, kita hanyalah seorang penuai yang dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya yang agung; kita harus bekerja dengan sungguh dengan sekuat tenaga tetapi bukan serampangan dan sembarangan melainkan harus bijaksana dan efisien dengan demikan dapat mencapai hasil yang maksimal namun di sisi lain, kita harus menyadari itu bukan karena jasa atau hebat kita kalau orang dapat bertobat tetapi Tuhan sudah menetapkannya terlebih dahulu sedang posisi kita hanyalah seorang budak yang harus mempertanggung jawabkan seluruh pekerjaan kita kepada Tuan yang empunya tuaian. Dengan demikian kita dapat dipakai Tuhan menjadi berkat di tengah jaman-jaman yang semakin bobrok ini.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050911.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : THE HEART OF THE KINGDOM (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, February 11th, 2007

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah : 4 September 2005

The Heart of the Kingdom

Nats: Mat. 9:35-38

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Puji Tuhan, kita telah memahami secara keseluruhan implikasi Kerajaan Sorga yang dipaparkan oleh Sang Raja, yaitu Kristus Tuhan dengan demikian sebagai warga Kerajaan Sorga kita tahu bagaimana seharusnya hidup di tengah-tengah dunia yang kacau ini dan memancarkan terang Kristus dan kini kita sampai pada bagian penutup yang merupakan  misi Kerajaan Sorga. Ketika kita hidup sebagai warga Kerajaan Sorga, sebagai seorang Kristen sejati maka hal itu bukan sekedar menjadi sebuah visi atau panggilan dan menjadikan kita egois, yakni seluruh anugerah Tuhan untuk diri sendiri. Memang tidak salah kalau kita mempunyai tekad untuk hidup menjadi anak Tuhan yang sejati, bertumbuh dalam iman dan hidup memuliakan Tuhan akan tetapi kalau orientasi hidup kita berhenti hanya pada diri maka itu menjadi kefatalan dalam hidup kita sebab seluruh pelayanan dan keberadaan hidup tersebut merupakan implikasi dari egoisme, yakni pencarian aktualisasi diri yang berorientasi pada diri.

Kristus tidak mengajar kita hidup egois, hidup hanya berorientasi pada diri sendiri. Tidak! Kristus Sang Raja pemilik alam semesta telah memberikan teladan indah pada kita, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, Dia selalu mempedulikan orang-orang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka tidaklah heran kalau kemudian orang mengakui ajaran Tuhan Yesus yang kita kenal sebagai khotbah di bukit sebagai the golden rule atau hukum emas sebab di dalamnya etika hukum Kerajaan Sorga, the highest ethics, somo bo num yang tidak ada dalam seluruh pemikiran atau filsafat dunia diajarkan oleh Kristus Tuhan. Dan sebagai  puncak dari hukum Kerajaan Sorga adalah: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka (Mat. 7:12).

Ajaran Socrates yang mewakili filsafat barat dan ajaran Manxius yang mewakili filsafat timur mengajarkan hukum yang kalau sepintas bunyinya hampir sama, yakni: apa yang kau tidak ingin orang lain lakukan kepadamu maka jangan lakukan hal itu pada orang lain. Hati-hati, kalau kita tidak pahami maka kita akan menganggapnya sama tapi ajaran filsafat dunia ini banyak kelemahannya, ajaran dunia tersebut bersifat negatif maka akibatnya orang menjadi pasif. Dengan kata lain, ajaran ini mengajarkan kalau kita tidak melakukan hal-hal negatif, seperti tidak membunuh, tidak berzinah, tidak menyakiti atau tidak merugikan orang lain atau tidak melakukan hal negatif yang lain berarti diri sudah “benar.“ Namun perhatikan, ketika ia tidak melakukan hal-hal yang negatif atau hal-hal negatif lain yang dapat merugikan orang lain maka pada saat yang sama juga, ia tidak melakukan hal yang positif.

Sebaliknya, Alkitab mengajarkan kalau kita menginginkan orang lain supaya menolong kita ketika kita berada dalam kesusahan maka kita harus terlebih dahulu menolong mereka yang sedang berada kesusahan. Konsep yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ini bersifat positif, yakni orientasi pada orang lain berbeda dengan ajaran dunia yang berorientasi pada diri semata. Tuhan Yesus tidak berorientasi pada diri-Nya sendiri melainkan Dia pergi berkeliling ke semua kota dan desa untuk mengajar, memberitakan Injil dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan manusia. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala (Mat. 9:35-36). Tuhan Yesus ingin supaya kita juga melihat bahwa di dalam Kekristenan ada suatu misi yang kita lakukan ebagai warga Kerajaan Sorga; kita harus hidup menurut aturan hukum Kerajaan Sorga yang Kristus tetapkan, yaitu men-Tuhankan Kristus, menjadi murid Kristus selamanya, dipisahkan dari dunia dan beriman pada Kristus namun setelah kita memahami semua itu maka semua itu tidak berhenti untuk diri sendiri. Pertanyaannya sudah seberapa jauhkah kita mengasihi orang lain? Mengasihi dan memperhatikan orang lain merupakan hal yang sangat penting mengingat keadaan dunia yang kacau balau saat ini dimana orang mementingkan dirinya sendiri, orang ingin diperhatikan bukan memerhatikan orang lain.

Celakanya, di dunia modern ini muncul suatu pendapat yang mengatakan bahwa egoisme malah membuat orang menjadi sukacita dan justru merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita menganggap egoisme itu sebagai suatu kesalahan. Pendapat yang salah, sebab ketika orang mengembangkan sikap egoisme, pertanyaannya sekarang adalah sampai seberapa besarkah egoisme itu dapat terpuaskan? Coba pikir, kalau hanya satu orang saja yang berpikir egois maka hal itu tidak menjadi soal karena itu berarti satu orang mendapat kepuasan diri dan orang lain yang dirugikan akan tetapi, kalau semua orang egois, semua orang ingin diperhatikan maka akibatnya, orang akan saling dirugikan satu sama lain. Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kalau orang tidak boleh egois lalu orang harus berbuat apa? Seorang atheis pastilah tidak menemukan jawabannya karena ia tidak tahu segala sesuatu yang ia kerjakan harus untuk siapa lagi kalau bukan untuk diri. Maka tidaklah heran kalau banyak orang yang setuju untuk mengembangkan konsep egoisme. Biarlah kita menyadari bahwa anak Tuhan memang berbeda dengan dunia, Tuhan memanggil kita untuk melihat bahwa relasi hidup bukan sekedar horizontal tetapi ada yang lebih dari itu yakni secara vertikal.

Pertama, Tuhan mencipta manusia bukan untuk dilayani melainkan melayani, Tuhan mencipta kita bukan untuk dikasihi melainkan mengasihi orang lain. God create man not to get but to share. Ketika pertama kali, Tuhan menciptakan manusia, Tuhan melihat itu tidak baik maka Tuhan tidak langsung menciptakan Hawa tetapi Tuhan menciptakan binatang dan memberikan tugas pada Adam untuk menamai binatang-binatang tersebut dan ternyata baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan maka dari tulang rusuk Adam dibangunNya-lah seorang perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Inilah hakekat pertama manusia sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, yakni manusia dicipta untuk saling berbagi. Seluruh struktur penciptaan adalah struktur berbagi. Manusia akan merasakan suatu kepuasan tersendiri dalam hatinya, orang akan merasakan sukacita ketika ia dapat berbagi pada orang lain ketika ia dapat meringankan beban dan menolong orang lain. Kepuasan hati dan sukacita yang kita dapatkan ini tidak akan dapat dinilai dengan uang karena harganya melampaui nilai material. Jadi, jelaslah bahwa secara natur, manusia dicipta untuk berbagi dengan orang lain.

Kedua, Tuhan Yesus melihat bukan secara fenomena, Tuhan Yesus melihat dalam diri manusia seperti domba yang tidak bergembala. Domba menjadi gambaran manusia berdosa. Seperti kita ketahui, domba adalah seekor binatang lemah, ia tidak mempunyai pertahanan diri, ia tidak mempunyai cakar yang cukup kuat untuk melawan musuh, ia juga tidak dapat berlari kencang untuk menghindar dari musuh, ia hanya dapat berteriak namun toh teriakan itu tidak dapat menghindarkannya dari maut akan tetapi meski demikian domba ini termasuk binatang yang keras kepala, ia selalu ingin berjalan sendiri padahal domba kalau dibiarkan sendiri tanpa seorang gembala pastilah akan tersesat. Inilah gambaran manusia berdosa. Manusia merasa dirinya hebat sehingga ia tidak memerlukan pertolongan orang lain dan orang baru menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuatan cukup ketika ia berada dalam kesulitan dan tantangan, orang tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan kuasa si ibilis. Maka satu-satunya jalan, supaya kita diselamatkan adalah kita harus kembali pada Kristus Sang Gembala yang agung namun sayang, manusia lebih suka jalan sendiri.

Kita sepatutnya bersyukur karena kita aman berada di dalam naungan perlindungan Kristus Sang Raja namun hal itu janganlah kita menjadi egois sebab di luar Kristus masih banyak orang yang lelah dan terlantar, seperti domba yang tidak bergembala dan celakanya, mereka tidak merasa sebagai orang yang tersesat. Namun kita juga perlu berhati-hati sebab ketika kita merasa nyaman, janganlah kita merasa diri hebat dan kita merasa tidak memerlukan pertolongan Tuhan lagi hingga suatu saat nanti, ketika kita berada dalam kesulitan, ketika orang lain tidak dapat menolong kita maka saat itulah kita baru benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya, kita berteriak meminta tolong tapi terlambat sebab saat itu ternyata kita sudah jauh dari Sang Gembala. Itu kesalahan kita karena kita tidak mau dipimpin oleh Sang Gembala, kita menjadi terlantar dan tersesat. Sudahkah kita mempunyai hati penuh dengan belas kasih seperti Kristus yang tergerak hati-Nya ketika melihat orang-orang yang terlantar dan tersesat? Sudahkah kita mempunyai hati tidak berorientasi pada diri sendiri tetapi memandang pada Kristus? Tugas kitalah sebagai warga Kerajaan Sorga untuk berbagi dan menjadi berkat bagi mereka yang tersesat, menyadarkan orang untuk kembali dalam perlindungan Sang Gembala Agung.

Ketiga, Tuhan mengajak kita bukan berhenti sampai sekedar mempunyai hati yang berbelas kasihan saja lalu tidak bertindak apa-apa. Tidak! Tuhan ingin supaya hati yang digerakkan oleh belas kasihan itu terpancar keluar dan menjelma menjadi tindakan nyata. Jangan tertipu dengan konsep yang diajarkan Robert Tiyosaki dalam bukunya Retired Rich Retired Young. Orang hidup bukan untuk bekerja saja tetapi orang menikmati hasilnya dengan pensiun dini kalau untuk beberapa saat mungkin kita akan merasa nikmat dengan tidak bekerja tetapi bayangkan, kalau kita tidak bekerja dan seharian hanya menganggur saja maka lama kelamaan kita pasti akan mati sebab manusia bukan dicipta untuk menganggur; manusia kalau dihentikan dari suatu aktivitas yang bermanfaat maka orang tidak akan merasa sukacita tetapi ia justru kehilangan nilai dan makna hidupnya dan orang akan putus asa dan kecewa. Kristus telah memberikan teladan indah pada kita, Dia bekerja dari pagi-pagi buta sampai malam hari, Dia pergi berkeliling ke semua kota dan desa untuk memberitakan Injil pada orang yang terlantar dan tersesat. Biarlah kita terus bekerja dan bekerja bukan demi untuk egois kita tapi saat kita bekerja hendaklah kita menjadi berkat bagi orang lain. Ingat, kalau kita bekerja hanya untuk uang dan demi memenuhi kepuasan diri sendiri maka selamanya kita tidak akan merasa sukacita sejati sebab dimana hartamu berada maka disana hatimu berada maka tidaklah heran orang akan menjadi gila ketika ia kehilangan hartanya.

Mungkin kita bukanlah orang kaya, hari ini mungkin kita hidup dalam kesusahan dan kemiskinan tapi lihatlah, di luar sana masih banyak orang yang lebih sengsara dan lebih miskin dari kita maka seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi. Justru  pada saat memberi itulah kita akan merasakan hidup berkelimpahan. Biarlah kita mempunyai jiwa pelayanan yang tidak berorientasi pada diri tetapi hendaklah ketika kita bekerja itu menjadi berkat bagi orang lain. Lihatlah, seorang ibu berjerih lelah, ia tidak pernah mengeluh, ia bekerja siang malam, mengurus rumah tangga, suami dan anak, pertanyaannya untuk apa ia kerjakan semua itu? Demi uangkah? Ataukah penghargaan? Tidak! Semua yang dikerjakannya bukan berorientasi pada diri. Celakalah kalau seorang istri atau seorang ibu bekerja demi uang, ia tidak mau lagi bekerja dan mengurus rumah tangganya maka dapatlah dipastikan rumah tangga itu akan menjadi hancur. Hati-hati, di dunia modern, konsep ini mulai ditanamkan maka tidaklah heran kalau banyak kaum wanita yang tidak mau menjadi ibu rumah tangga dan lebih memilih berkarir.

Berbeda halnya kalau kita bekerja karena ada cinta kasih demi untuk menjadi berkat bagi orang lain maka kita akan mendapatkan sukacita tersendiri dimana sukacita ini tidak dapat diukur dengan materi. Begitu juga ketika kita bekerja melayani Tuhan kalau pelayanan demi untuk mendapatkan imbalan maka sia-sialah seluruh pelayanan kita sebab Tuhan tidak berkenan dengan pelayanan yang kita. Lain halnya kalau orang yang melayani Tuhan dimana seluruh hidupnya tergantung dari pelayanan saja maka Alkitab menegaskan hidupnya akan dijamin dengan demikian ia tidak berbeban ketika sedang melayani Tuhan.

Dunia semakin ke belakang semakin menuju pada kehancuran, banyak orang yang mengalami kesulitan tak terkecuali kita yang adalah anak Tuhan juga mengalami kesulitan dan di saat seperti itu akan ada banyak orang yang merasa putus asa dan kecewa maka ingatlah, di saat itu kita tidak berjalan sendiri, pandanglah ke atas sebab kita mempunyai Tuhan yang hidup, tak pernah sedetikpun kita ditinggalkan-Nya sebab tangan Tuhan selalu memegang kita namun sayang, masih banyak orang yang belum mengenal Kristus, masih banyak orang yang tidak tahu harus berpegang pada siapa maka tugas kita untuk menjadi berkat bagi mereka dengan membawa mereka kembali kepada Kristus Sang Gembala Agung. Janganlah berhenti dan cukup hanya sampai hati yang tergerak oleh berbelas kasih, tidak, tapi biarlah kita dipakai menjadi berkat bagi orang lain. Biarlah kita meneladani  Kristus Tuhan, Dia Sang Raja pemilik alam semesta ini tetapi Dia berkeliling ke semua desa dan kota untuk menyembuhkan dan mengabarkan Injil. Sebagai warga Kerajaan Sorga, biarlah kita dipakai menjadi pelaku Firman bukan pendengar saja. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050904.htm

Eksposisi Injil Matius 9 : INTERPRETATION OF REALITY (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, February 4th, 2007

Eksposisi Injil Matius 9

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 14 Agustus 2005

Interpretation of Reality

Nats: Matius 9:32-34

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kalau kita bandingkan etika hukum Kerajaan Sorga yang diajarkan oleh Kristus dalam Khotbah di Bukit (Mat. 5-7) dengan konsep hukum dan filsafat dunia yang dipaparkan tokoh filsuf dunia seperti Aristotle, Socrates, Plato, Lao Tze dan lain-lain maka semua konsep tersebut tidak berarti. Hal ini diakui oleh dunia karena itulah dunia menyebut hukum Kerajaan Sorga ini sebagai the Golden Rule sebab sepanjang sejarah jaman ini tidak ada standar hukum atau etika kehidupan yang lebih tinggi dari etika yang diajarkan oleh Kristus. Setiap aturan atau hukum dunia yang ditata dengan menggunakan standar atau mengacu pada the Golden Rule pastilah mempunyai kualitas lebih tinggi dibandingkan dengan hukum dunia yang menggunakan standar lain.

Setiap orang yang menjadi warga Kerajaan Sorga tentulah harus mentaati setiap hukum Kerajaan Sorga yang ditetapkan oleh Kristus Sang Raja. Kita telah memahami implikasi hukum Kerajaan Sorga, yakni: pertama, the Lordship of Christ, yakni melihat Kristus bukan sekedar sebagai Juruselamat tetapi Kristus adalah Tuhan yang berkuasa atas hidup kita. Hari ini banyak orang yang mengaku percaya Kristus tetapi tidak mengakui Dia sebagai Tuhan, orang hanya mencari keuntungan, orang tersebut beriman humanis; kedua, discipleship, pengikut Kristus bukan bersifat sementara tetapi selamanya; ketiga, separation, anak Tuhan sejati haruslah hidup kudus dan memancarkan sifat Ilahi sebab kita memang dipisahkan untuk suatu tugas khusus di tengah-tengah dunia yang bobrok, keempat, faith, beberapa waktu lalu kita telah memahami tentang iman sejati melalui orang buta yang disembuhkan dan kini, kita kembali memahami iman tetapi terkait dengan orang bisu yang kerasukan dan disembuhkan.

Sepintas kalau kita baca kisah tentang orang bisu ini sepertinya tidak berkaitan dengan iman sebab tidak ada kata “percaya atau iman.“ Di dunia modern ini orang seringkali mengkaitkan iman dengan hal-hal yang spektakuler sebaliknya orang tidak peduli dengan pemikiran yang mendasari kepercayaannya padahal justru disinilah letak permasalahan iman yang paling besar sebab dalam hal berbicara itulah nampaklah imannya. Orang bisu yang dikisahkan oleh Matius disini bisunya bukanlah pembawaan sejak lahir tetapi karena ia dirasuk setan, terbukti setelah Tuhan Yesus mengusir setan yang ada padanya maka ia pun dapat berkata-kata kembali. Di satu pihak, ada orang ingin berbicara tetapi ia tidak dapat berbicara namun di pihak lain, ada orang yang dapat berbicara namun kata-kata yang keluar dari mulutnya bukanlah kebenaran. Realitanya sama, yakni orang bisu yang kerasukan disembuhkan namun orang Farisi justru mempunyai penafsiran berbeda. Ternyata realita yang tampak di depan mata bukan sekedar realita tetapi di belakangnya ada masalah rohani; kisah ini bukan sekedar bicara sebab di balik perkataan itu, iman seperti apakah yang mendasari?

Pertama, iman, realita dan penafsiran saling terkait erat. Alkitab yang sama tetapi diinterpretasikan berbeda-beda dan dari hasil interpretasi ini terungkaplah iman seseorang. Wajarlah kalau hari ini banyak orang dibingungkan karena banyaknya ajaran Kristen yang muncul dan semuanya mengajarkan hal yang berbeda. Iman tersembunyi di belakang tapi iman tidak dapat disembunyikan. Iman menjadi kacamata ketika seseorang melihat suatu realita, iman itu akan mempengaruhi seluruh pemikiran kita. Jadi, letak permasalahannya bukan pada Alkitabnya sebab Alkitab tidak pernah bersalah. Seorang teolog bernama Ronald Nash mengungkapkan bahwa terbentuknya pola pikir seseorang itu dipengaruhi oleh pendidikan baik dari sekolah maupun lingkungan dan membentuk suatu kerangka pemikiran yang menyatu dan saling terkait layaknya sebuah jaringan laba-laba dan ini menjadi dasar pemikiran ketika seseorang hendak mempertimbangkan, memutuskan dan melihat suatu realita. Alkitab menyebutnya dengan akal budi (Rm. 12:2). Seorang atheis melihat suatu realita maka penafsiran yang muncul pastilah menggunakan konsep atheis dan itu bertentangan dengan iman Kekristenan maka ketika dia bertobat, akal budi itu tidak langsung berubah, jelaslah ini menjadi suatu perintah aktif: 1) jangan serupa dengan dunia; 2) berubahlah oleh pembaharuan akal budimu. Iman sejati barulah dapat diimplikasikan kalau kita mempunyai obyek iman yang tepat dengan demikian ketika kita melihat suatu realita kita tidak salah menafsirkan. Sebuah realita misalnya kecelakaan mobil bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yakni: ekonomi, hukum, kedokteran akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Orang ekonomi pasti melihat dari kacamata ekonomi sehingga interpretasi yang muncul terkait erat dari sudut mana orang memandang suatu realita. Presuposisi yang muncul bukan sekedar presuposisi; presuposisi yang ada di sekitar wilayah dunia maka akan menjadi suatu relativitas belaka tetapi ketika kita memandang dari presuposisi Tuhan maka disanalah kita mendapatkan obyek iman yang sejati.

Orang Farisi mengaku diri sebagai seorang beriman, seorang yang mempraktekkan seluruh peraturan hukum Taurat tetapi ketika ia melihat mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus  reaksinya justru berbeda. Hati-hati jangan terlalu cepat menafsir sebuah realita, cobalah kita mengevaluasi diri sendiri kenapa muncul interpretasi demikian? Apakah iman yang mendasari itu iman sejati ataukah iman dari setan? Iman sejati seharusnya terimplikasi dalam seluruh bidang kehidupan kita namun hari ini, orang cenderung mendualismekan antara iman dan kehidupannya; iman tidak dapat terintegrasi dalam seluruh bidang kehidupan. Di dunia modern orang biasa dididik konsep dualisme sehingga antara ilmu dan iman tidak saling berhubungan dan ironisnya orang tidak menyadari pentingnya integrasi tetapi merasa diri pandai dan paling benar, orang tidak mau kembali pada kebenaran sejati. Iman, realita menimbulkan penafsiran, hal ini menjadi aspek spiritual. Orang yang bisu ini bukan cuma sebatas tidak berbicara tetapi kebisuan ini masuk dalam urusan rohani sebab yang membuat bisu adalah setan sebaliknya orang yang dapat berbicara ternyata tidak beda dengan orang yang bisu, ia tidak lebih dari alat setan sebab kata-kata yang keluar dari berasal dari iblis. Karena itu kita harus berhati-hati dalam berkata-kata, biarlah kita uji dan mengevaluasi diri kita masing-masing benarkah setiap perkataan kita itu berasal dari Tuhan dan sesuai dengan kehendak Tuhan ataukah kita sama seperti orang Farisi, tidak lebih hanya sebuah alat setan?

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan adalah: Pertama, apakah setiap perkataan yang keluar itu memuliakan Tuhan? Kalau memang benar dari Tuhan dan sesuai dengan kebenaran maka siapa kita manusia sehingga berani melawan Allah? Kedua, setiap perkataan yang sudah keluar dari mulut kita haruslah dipertanggung jawabkan. Kekristenan sangat melawan keras konsep postmodern, yaitu the death of the author yang mengajarkan bahwa setiap perkataan yang sudah keluar dari mulut kita bukanlah menjadi tanggung jawab kita maka perkataan lepas dari pembicaranya. Allah berfirman maka Firman yang keluar dipertanggung jawabkan oleh Allah. Begitu pula setiap hamba Tuhan yang memberitakan Firman haruslah mempertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Panggilan Tuhan dan perkataan saling terkait erat; Ketiga, hasil akhir adalah untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kemuliaan diri. Sebab segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia; Bagi Dia kemuliaan untuk selama-lamanya (Rm. 11:36). Ini merupakan prinsip Kekristenan.

Kedua, Kisah orang bisu ini sekaligus membukakan suatu fakta bahwa mujizat itu tidak akan membawa orang semakin mengenal Tuhan. Terbukti, Tuhan Yesus, Anak Allah sendiri yang melakukan mujizat tetapi toh orang tidak bertobat tetapi orang justru melawan Tuhan dengan mengatai-ngatai Tuhan Yesus adalah penghulu setan. Jelaslah bahwa orang kalau sudah menolak Tuhan maka ia akan tetap tidak mau percaya meski ia sudah melihat bukti; segala sesuatu yang positif akan menjadi negatif. Realita tergantung dari iman maka kalau orang dapat beraksi tepat dan menanggapi suatu mujizat dengan benar, itu merupakan suatu anugerah. Ingat, hari ini kalau kita dapat beriman maka itu bukan hasil usaha kita tetapi pemberian Allah. Mujizat paling besar bukan orang buta dicelikkan atau orang bisu berbicara atau memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima roti dua ikan. Bukan! Mujizat terbesar di dunia adalah Kristus yang sudah mati itu bangkit kembali pada hari ketiga. Kristus bangkit dan Dia hidup bukanlah sekedar isapan jempol sebab hal ini disaksikan dan dibuktikan oleh kurang lebih 500 orang. Namun fakta sejarah yang sedemikian dahsyat ini toh tidak membuat orang percaya dan bertobat karena pada dasarnya orang menolak Kristus, dengan segala cara orang memelesetkan semua kebenaran bahkan berusaha menutupinya. Iman adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati setiap manusia. Jelaslah, mujizat bukanlah sarana atau cara yang Tuhan kehendaki untuk mempertobatkan seseorang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus melarang untuk kedua orang buta yang telah dicelikkan untuk tidak mengatakan pada orang lain. Jangan sandarkan iman pada mujizat atau hal-hal yang spektakuler. Sayangnya, dunia tidak mengerti hal ini, memang benar, mujizat menjadikan orang kagum namun hal tersebut tidak membuat orang bertobat. Biarlah kita meneladani iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yakni Iman sejati adalah kembalinya kita pada Kristus, percaya bahwa Kristus dapat melakukannya dan kita juga akan tetap percaya kalau seandainya Tuhan tidak melakukan mujizat atas kita.

Ketiga, Perhatikan, kata-kata yang diucapkan oleh orang Farisi: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan“ sepintas kalau kita dengar sepertinya orang Farisi ini memusuhi setan namun kalau kita cermat, sesungguhnya ia telah menjadi alat untuk mempublikasikan kuasa setan. Setan sangatlah licik, ia mempromosikan dirinya dengan cara mengusir setan dan ia memakai seorang teolog sebagai alat. Strategi yang sangat licik. Kalimat yang diucapkan itu sekaligus membalik semua kebenaran. Tuhan Yesus melakukan tindakan benar tapi dengan perkataan orang Farisi itu, kini seolah-olah ia menjadi salah sebaliknya mereka yang salah justru menjadi benar; hanya dengan satu kalimat seluruh pekerjaan Tuhan Yesus menjadi tidak bernilai. Biarlah kita mengevaluasi diri, hati-hati dengan segala akal licik iblis karena itu, kita harus kembali pada Firman Kebenaran itu, sola scriptura. Itulah sebabnya Martin Luther dengan keras menentang tindakan Yohan Tetzel, seorang pastor yang menjual surat pengampunan dosa sebab apa yang dilakukan justru tidak membuat orang kembali pada Kristus tapi semakin merusak iman Kekristenan. Iblis tidaklah bodoh, cara yang dipakai sangatlah luar biasa; iblis memakai seorang teolog sebagai ajang untuk mempromosikan dirinya.

Orang-orang Israel berdecak kagum melihat hal yang spektakuler, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat di Israel.“ Namun orang Farisi langsung mematahkan dengan kalimat yang diucapkan: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan“ disini jelas, setan memakai orang Farisi ini untuk menyatakan bahwa yang melakukan mujizat itu bukan Tuhan Yesus tetapi setan. Dengan kata lain: pakai kekuatan Tuhan Yesus tapi dipasangi  label setan sehingga seolah-olah setan yang lebih hebat dari Tuhan Yesus. Inilah cara licik yang dipakai oleh setan maka kita harus berhati-hati dan waspada. Tuhan Yesus tahu segala tipu muslihat iblis yang memakai kekuatan Tuhan tapi mengakui itu sebagai kekuatannya. Tuhan tidak akan tinggal diam karena tiba hari-Nya Tuhan akan menghukum mereka. Tuhan menegaskan bahwa pada hari terakhir banyak orang akan berseru: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu kamu sekalian pembuat kejahatan!“ (Mat. 7:23-24).

Janganlah kita mudah terjebak dengan akal licik si iblis yang memang sengaja membuat manusia merasa terganggu dan akhirnya menjadi marah ketika melihat orang mempermainkan kebenaran dan itu berakibat pada tindakan kita. Biarlah kita menjadi bijak sehingga kita dapat bertindak tepat. Dalam bagian ini Tuhan Yesus membukakan suatu kebenaran dan tugas kebenaran adalah memproklamasikan kebenaran dan Tuhan memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih dan tugas kita mempertanggung jawabkan setiap keputusan yang kita pilih. Biarlah kita meneladani sikap dan tindakan Kristus ini dengan demikian di tengah dunia ini kita dapat melangkah dengan tepat. Setan sangat pandai membalik setiap realita, setan sangat pandai membuat orang sepertinya mengikuti arah yang benar padahal itu berujung dengan maut. Tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan kebenaran, membawa orang kembali pada kebenaran.

Bagian terakhir ini tidak ada kata “iman“ namun ini justru menjadi puncak evaluasi iman kita, yakni bagaimana kita mengimplikasikan iman. Inilah yang membuktikan siapakah kita? Apakah kita seperti orang Farisi yang katanya “beriman“ namun sesungguhnya kita tidak beda dengan anak iblis? Dimanakah keberadaan posisi kita? Cara kita melihat suatu realita dan menafsirkannya itu membuktikan iman kita, membuktikan siapa sesungguhnya diri kita. Karena itu, janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20050814.htm