Archive for March, 2007

Eksposisi Injil Matius-10 : PROVIDENSIA ALLAH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, March 30th, 2007

Eksposisi Injil Matius-10

Ringkasan Khotbah : 27 Nopember 2005

Providensia Allah

Nats: Mat. 10: 19-20

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Pendahuluan

Kita telah memahami bahwa anak Tuhan itu layaknya seperti seekor domba yang berada di tengah-tengah serigala. Secara logika, posisi ini sangatlah sulit sebab domba adalah binatang lemah, ia tidak mempunyai pertahanan untuk dapat menyelamatkan dirinya dari  cengkeraman musuh akan tetapi di dalam kondisi demikian Tuhan tidak ingin kita serupa dengan menjadi seekor serigala. Tidak! Bagaimanapun juga kita tetap harus menjadi domba. Tuhan sudah membukakan dari awal tentang semua hal yang positif dan negatif kalau kita menjadi pengikut Kristus, yakni kita akan ditangkap, disesah dan diserahkan ke majelis agama. Hati-hati, hari ini banyak konsep Kekristenan yang menipu akibatnya orang tertipu dan terkejut karena realita ternyata tidaklah sesuai dengan yang diajarkan. Bukanlah hal yang mudah sebagai orang Kristen untuk hidup benar dan suci di tengah-tengah dunia yang tidak benar namun ketika kesulitan itu datang, janganlah kuatir sebab Tuhan telah berjanji Dia akan selalu beserta dan memelihara umat-Nya. Doktrin ini disebut sebagai providensia Allah.

Signifikansi Providensia Allah

1. Providensia diberikan hanya kepada anak Tuhan yang taat dan setia pada-Nya.

Hari ini muncul konsep yang salah tentang providensia Allah; orang beranggapan kalau Allah memelihara maka orang Kristen boleh berbuat seenaknya sebab Allah akan menjagai, kita tidak akan menderita dan apapun yang dilakukan pasti berhasil maka tidaklah heran kalau ternyata yang diajarkan tidak sama dengan realita yang dihadapi orang menjadi terkaget-kaget dan ironisnya, orang menyalahkan Tuhan, kenapa Tuhan tidak menjaga? Sesungguhnya bukan Tuhan yang salah tetapi manusialah yang tidak mau taat dan menyeleweng dari jalan Tuhan, kitalah yang hilang dari posisi kita.  Pertanyaannya sekarang adalah dimanakah posisi kita? Apakah kita seorang anak Tuhan yang sejati? Providensia Allah digambarkan seperti seekor domba yang dekat dengan gembalanya; si domba akan aman berada dalam pemeliharaan sang gembala ketika ia dekat dengan sang gembala akan tetapi ketika si domba itu menyeleweng jauh dari sang gembala maka si domba akan berada dalam kesulitan. Untuk memahami providensia Allah maka kita harus kembali pada posisi yang asli, yaitu domba yang dekat dengan gembala disana kita dapat merasakan Allah menjadi benteng yang melindungi  (Mzm. 48:1-15).

2. Providensia Allah membuktikan kelemahan dan keterbatasan diri manusia.

Di satu pihak orang butuh providensia Allah khususnya ketika kita berada dalam kesulitan tetapi di sisi lain, orang menolak providensia Allah karena providensia ini dirasakan telah membatasi eksistensi dirinya. Dalam hal ini providensia tidak lebih hanya sebagai alat pendukung dimana Tuhan seperti seorang bodyguard. Ingat, Tuhan bukan budak kita yang dapat kita perintah seenaknya. Tidak! Sadarlah, kitalah yang budak dan harus taat mutlak pada Tuhan. Manusia adalah makhuk lemah dan terbatas dalam banyak hal manusia tidak dapat mengatasi segala kondisi dan situasi yang sulit, kita tidak tahu apakah esok cerah ataukah gelap, manusia tidak berkuasa atas alam apalagi atas Tuhan sang pemilik alam. Ironisnya, dunia tidak mau mengakui kalau dirinya lemah dan terbatas. Hendaklah kita selalu mawas diri, janganlah kita terus menengok ke bawah tetapi tengoklah ke atas, masih banyak orang yang segalanya lebih dari kita. Kita bukanlah siapa-siapa, kita hanyalah remah-remah yang seharusnya dibuang. Konsep pemeliharaan Allah menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia lemah dan terbatas dan seharusnya kembali pada posisi yang tepat. Orang yang tidak mengerti hal ini maka ia tidak akan pernah memahami betapa kita butuh pemeliharaan-Nya. Selama orang masih sukses, orang tidak akan pernah sadar akan kelemahannya ketika realita berbicara lain barulah orang mulai teriak: Tuhan dimana? Keterbatasan otak kitalah yang membuat kita sulit melihat penyertaan dan pemeliharaan Tuhan yang indah dalam hidup kita. Providensia menuntut ketaatan dan kesadaran akan posisi kita dengan demikian kita tahu bagaimana seharusnya memperlakukan dan bersikap pada Allah.

3. Providensia memperluas kapasitas manusia.   

Orang lebih suka berjalan sendiri, orang tidak suka kalau Tuhan memelihara, orang tidak suka diatur oleh Tuhan sebaliknya orang lebih suka mengatur Tuhan. Pertanyaannya sekarang memang siapakah manusia mau mengatur Tuhan dan menjadi penasehat bagi Tuhan semesta alam? Sampai seberapakah kepandaian, kekayaan dan kekuatan manusia? Sadarlah justru pada saat kita bersandar dan hidup dalam pemeliharaan Tuhan itulah batasan kita diperluas. Ketika  manusia tidak sanggup lagi mengatasi segala kesulitan maka saat itu kita akan melihat Allah sanggup mengatasi semua perkara yang menjadi kesulitan kita, kita akan melihat cara Tuhan yang ajaib yang sulit dimengerti oleh logika manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, Dia akan memberikan kepada kita kekuatan yang melampaui teori manusia. Terkadang kita sulit untuk mengerti namun percayalah, Tuhan pasti akan menolong kita disaat yang paling sulit dan Tuhan bisa memakai apapun juga seperti halnya Tuhan memeliharakan Elia dengan memakai burung gagak. Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

Prinsip Providensia Allah

1. Hidup Beriman

Hidup dalam pemeliharaan Tuhan diperlukan iman. Orang yang selalu kuatir membuktikan satu hal, yakni ia tidak beriman pada Tuhan. Sejauh diri dapat mengontrol maka kekuatiran itu tidak akan muncul akan tetapi ketika segala sesuatu mulai berada di luar kontrol diri muncullah rasa kuatir. Orang yang kuatir adalah orang yang berjuang sendiri dengan mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menyelesaikan segala sesuatunya seorang diri saja tetapi di luar kemampuan diri. Banyak hal di dunia ini kita tidak tahu, kita tidak tahu apa yang terjadi esok, kita tidak tahu masa depan kita maka wajarlah kalau timbul rasa kuatir dan takut. Kekuatiran dan ketakutan itu muncul karena kita tidak kenal diri sendiri, kita tidak tahu posisi siapa yang lebih tinggi siapa yang lebih rendah. Ironis, orang justru lebih takut pada iblis padahal secara ordo, iblis itu ada di bawah kita. Anak Tuhan sejati harusnya lebih takut pada Tuhan yang menjadi Bapa kita. Jadi,  rasa takut dan kuatir itu karena masalah teologis bukan psikologis.

Seorang anak Tuhan sejati tidak perlu takut dan kuatir karena kita mempunyai Tuhan yang hidup yang akan memberikan kekuatan dan memimpin langkah hidup kita. Sebagai anak Tuhan, kita harus waspada. Seorang yang waspada tetap aktif mengerjakan segala sesuatu dan pada saat ia aktif, alert system yang ada pada dirinya itu tetap berjalan, ia peka ketika ada hal-hal yang menyeleweng dari jalan Tuhan dengan demikian kita tidak terjebak dan saat itulah seorang anak Tuhan yang sejati harus menjadi saksi. Orang yang beriman pada Tuhan tidak akan pernah merasa kuatir; hanya satu hal yang dia tahu yaitu taat mutlak pada pimpinan Tuhan. Sejauh kita taat dan berjalan bersama dengan Tuhan maka tidak ada hal lain yang perlu kita kuatirkan sebab kita tidak sedang mengerjakan rencana manusia tetapi rencana-Nya; kalau memang itu kehendak Tuhan maka segala rintangan dan halangan yang ada di depan pasti akan hancur karena Tuhan yang memimpin.

Selama kita hidup taat pada Tuhan maka tiap langkah Tuhan akan pimpin. Namun ingat, ketika Tuhan pimpin bukan berarti kita akan hidup nyaman. Tidak! Tuhan menegaskan sejak awal orang Kristen seperti domba di tengah serigala itu berarti setiap saat banyak tantangan dan penderitaan  yang harus kita hadapi. Seorang yang taat akan pimpinan Tuhan maka ia harus berani dan siap dengan segala tantangan dan penderitaan maka orang yang demikian ini akan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Tuhan panggil kita untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan Ia mau supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10). Saat kita melakukan kehendak Tuhan maka justru saat itulah kita merasakan hidup yang paling aman dan tenang karena kita tahu Tuhan yang memimpin kita adalah Tuhan yang hidup.

2. Hidup dalam Anugerah Tuhan

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________<br />
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________Firman Tuhan menegaskan apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir…karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga (Mat. 10:19). Semua yang ada pada kita itu merupakan anugerah dari Tuhan. Konsep ini sangat penting dalam kita memahami providensia Allah. Pemeliharaan Allah itu bukan menjadi hak kita untuk mendapatkannya tetapi semua itu Tuhan anugerahkan kepada setiap anak-anak-Nya. Inilah yang menjadi kekuatan kita. Kita tahu sekarang bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang baik, Tuhan yang tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya sendiri. Kita sepatutnya bersyukur atas anugerah yang ada pada kita baik yang sifatnya materi maupun non materi seperti kepandaian, ketrampilan, dan lain-lain karena Tuhan anugerahkan semua itu pada kita supaya kita dapat berjalan menjadi anak-Nya; Tuhan memberikan semua itu supaya kita sebagai anak-Nya tidak mempermalukan Dia dan Tuhan memberikan semua itu untuk menyadarkan kita bahwa Dia menolong kita dan tanpa Dia kita bukanlah siapa-siapa.  Hidup yang paling indah adalah ketika kita berada di posisi kita, yaitu sebagai domba yang berada dekat dengan Sang Gembala. Kita akan merasa aman dan nyaman karena Sang Gembala itu akan menuntun kita di padang yang berumput hijau, Dia membimbing kita ke air yang tenang dan ketika kita berada dalam bahaya maka gada dan tongkat-Nya yang akan menghiburkan dan menolong kita (Mzm. 23). Sangatlah disayangkan kalau kita melewatkan anugerah Tuhan yang begitu besar ini.

Katekismus Westminster menyatakan bahwa tujuan hidup Kristen adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia seumur hidup kita. Hubungan Allah dengan anak-Nya bukanlah hubungan yang menyakitkan tetapi justru ketika kita dekat dengan Allah kita dapat merasakan indahnya. Hubungan Allah dengan anak-Nya ini digambarkan seperti hubungan suami istri. Janganlah kita iri hati kepada mereka orang yang tidak percaya Tuhan namun hidup dengan nyaman dan tidak ada penderitaan sebaliknya kita melihat orang yang beriman justru hidup menderita. Jangan tertipu dengan fenomena sebab sesungguhnya Tuhan menaruh mereka di tepi jurang yang licin yang sekarang ada dan besok lenyap, bagaikan rumput yang hari ini tumbuh dan besok dibuang  (Mzm. 73). Seorang anak Tuhan bukan berarti tidak akan pernah mengalami kesulitan atau penderitaan. Tidak! Anak Tuhan juga akan melewati lembah-lembah kekelaman akan tetapi dalam semua aspek itu ingatlah Sang Gembala berada dekat dengan domba-domba-Nya, Ia siap menolong kita.

3. Hidup dalam Waktu dan Cara Tuhan

Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatan kita, kapan waktu yang tepat dan dengan cara  yang seperti apa untuk menolong kita disaat kita berada dalam kesulitan. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak-anak-Nya maka pemberian itu tidak akan kurang atau berlebih dan pemberian ini tidak menjadi beban bagi anak-Nya. Dalam hal ini Tuhan Yesus telah mengajarkan dalam doa Bapa Kami, yaitu berilah pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat. 6:9-13). Jadi, saat kita hidup pas, tidak kurang dan tidak berlebih itulah hidup yang terbaik. Celakanya, manusia tidak tahu ukuran yang pas dalam diri mereka. Manusia berdosa telah dikuasai oleh jiwa humanis dan materialis sehingga manusia yang serakah selalu ingin mendapatkan lebih dan lebih. Hal ini dapat kita lihat pada jaman Perjanjian Lama dimana Tuhan telah sediakan manna tiap-tiap harinya dan Tuhan perintahkan untuk mengambil manna itu secukupnya, yaitu hanya untuk satu hari kecuali pada hari Sabat barulah boleh mengambil lebih, yakni persediaan untuk tiga hari tapi Alkitab mencatat manusia yang serakah itu mengambil lebih, mereka tidak percaya pada janji Tuhan, mereka takut kalau Tuhan tidak menurunkan manna keesokan harinya, akibatnya manna yang diambil berlebih itupun busuk. Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa itu untuk kebaikan manusia tapi memang sifat manusia berdosa yang serakah dan tidak mau taat pada Tuhan. Bayangkan, kalau Tuhan memerintahkan orang Israel mengambil manna untuk persediaan selama satu bulan maka dapatlah dibayangkan beratnya beban yang harus dipikul selama berada di padang gurun dan lagipula mereka juga tidak tahu seberapa banyakkah manna yang harus disimpan untuk persediaan selama satu bulan, bukan?

Tuhan tahu batas ukuran kita maka apa yang ada pada kita sekarang itu adalah yang terbaik dan ukurannya pun tepat. Ukuran yang tepat itu justru memudahkan kita untuk bergerak dan bekerja bagi Tuhan. Percayalah, kalau sudah kehendak Tuhan pada waktunya Tuhan pasti akan sediakan dan ingat, semua anugerah pemberian harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Memang mustahil bagi kita untuk meniadakan gelombang dunia yang semakin hari semakin besar tetapi sebagai anak Tuhan kita mempunyai Tuhan yang memberikan kita kekuatan untuk berdiri di atas gelombang dan tidak terhanyut di dalamnya. Biarlah kita mengubah seluruh konsep pemikiran, langkah hidup kita kembali pada posisi yang tepat maka kita akan merasakan hidup yang indah bersama Tuhan. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051127.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : WASPADALAH (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Saturday, March 24th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 13 Nopember 2005

Waspadalah !

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 10:16-22

Latar Belakang

Tuhan Yesus menyatakan bahwa posisi orang Kristen di tengah dunia ini adalah seperti domba di tengah serigala. Secara logika, sangatlah mustahil seekor domba, binatang yang lemah dapat hidup ketika ia berada di tengah-tengah serigala namun ternyata tidaklah demikian. Tuhan mengajarkan meski kita berada di tengah-tengah serigala, kita harus  cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dan justru inilah yang menjadi kekuatan kita. Memang, secara sepintas kekuatan ini tidak terlihat namun fakta membuktikan bahwa si domba itu tidak mati. Perhatikan, cerdik dan tulus ini tidak boleh dipisahkan. Cerdik tanpa disertai dengan ketulusan akan menjadikannya seorang yang licik yang pandai menipu. Namun ingat, sepandai-pandainya orang menipu, suatu hari nanti ia pasti akan kena tipu juga. Sebaliknya ketulusan tanpa disertai dengan kecerdikan maka orang itu dapatlah dikatakan seorang yang bodoh karena ia akan menjadi korban orang lain. Di tengah dunia ini kita akan berhadapan dengan banyak lawan yang siap menerkam karena itu, kita perlu perhatikan beberapa aspek:

Pertama, orang Kristen harus memandang dunia secara realistis, utuh dan menyeluruh. Cara Tuhan mengutus para murid ini sangatlah unik – para murid tidak diperkenankan membawa bekal berupa apapun juga namun itu bukan berarti Tuhan tidak peduli. Tidak! Tuhan memberikan kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat. 10:1). Para murid juga diberikan kuasa lain, yaitu apabila orang yang kepadanya kamu datangi tidak mendengarkan perkataanmu maka rumah itu mendapat kutuk sebaliknya apabila ia menerima kabar Injil maka rumah itu akan mendapatkan berkat. Kuasa yang diberikan Tuhan ini sangatlah luar biasa tapi ingat, janganlah lupa diri karena di dunia ini, musuh kita sangatlah banyak. Dunia akan membenci setiap orang yang menjadi pengikut Tuhan. Ingat, Tuhan tidak pernah berjanji bahwa anak Tuhan tidak akan pernah menderita. Tidak! Orang Kristen akan dianiaya, disesah dan hidup menderita, kita seperti domba di tengah-tengah serigala. Inilah kondisi dunia kita, itulah sebabnya Tuhan ingin supaya kita melihat dunia ini secara realistis, utuh dan menyeluruh. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen hanya melihat satu sisi realita dunia yang positif saja dan menutup-nutupi bagian lain yang negatif. Maka tidaklah heran ketika orang mengalami penderitaan, sakit penyakit, dan lain-lain, orang mulai marah dan menyalahkan Tuhan. Ingat, Tuhan tidak pernah janji orang yang hidup dan berjalan bersama Dia hidupnya akan selalu nikmat. Tidak! Tuhan janjikan hidup kuat, jalan dipimpin Dia dan disitulah justru kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati.

Kedua, orang Kristen ketika melakukan segala sesuatu haruslah dilakukan dengan motivasi murni. Sejak awal Tuhan Yesus telah membukakan pada dunia tentang hal yang positif dan negatif ketika kita menjadi murid-Nya. Tuhan tidak pernah mengiming-imingi kita dengan segala tawaran yang manis dan palsu. Hendaklah kita peka dan cermat akan segala macam tipu muslihat iblis yang mencoba menipu dan mengiming-imingi kita dengan segala tawaran manis tapi justru berakhir dengan kebinasaan. Kita harus berhati-hati terhadap orang yang menawarkan sesuatu pada kita tetapi hanya menunjukkan hal yang positif saja, ia hanya seorang penipu. Betapa bodohnya kita kalau kita bisa kena tipu, padahal sudah jelas-jelas kalau ia sedang menipu kita. Itu disebabkan karena kita tidak cerdik dan tulus. Berbeda halnya kalau kita cerdik dan tulus maka kita tidak akan mudah kena tipu. Seorang penipu tidak akan peka ketika ada orang lain yang menipu dirinya karena ia terbiasa menipu. Hendaklah kita meneladani Tuhan Yesus yang telah mengimplikasikan kecerdikan dan ketulusan secara bersamaan. Jadi, barangsiapa mau kembali kepada kebenaran Firman dan hidup dalam kebenaran maka ia akan peka sebab Firman itu menjadi dasar baginya untuk melakukan verifikasi atau pengujian ketika melakukan segala sesuatu. Hal inilah yang Tuhan inginkan ada dalam diri setiap anak Tuhan, meski kita domba yang lemah tapi kita cerdik dan tulus dengan demikian kita tidak mudah masuk dalam jebakan dan tipuan.

Setelah kita memahami aspek tersebut di atas maka kita juga Tuhan ingin kita lebih tajam menggumulkan beberapa hal:

I. Dunia yang Berdosa

Dunia sudah jatuh dalam dosa maka semua tindakan dan pemikiran yang dilakukan manusia mengandung unsur dosa. Dahulu, kita juga berasal dari dunia berdosa, kita adalah manusia berdosa tetapi Tuhan telah memanggil kita dari dunia berdosa dan menjadikan diri kita sebagai ciptaan yang baru. Dan kini, Tuhan mengutus kita  untuk kembali di tengah-tengah dunia berdosa maka disini kita mendapati ada suatu kesenjangan. Dunia adalah dunia berdosa namun ironisnya, dunia tidak mau mengakui kalau dunia adalah dunia berdosa. Dunia selalu menggunakan standar ganda dan standar yang digunakan ini tidaklah sah. Dunia mengatakan bahwa dirinya tidaklah jahat tetapi orang lainlah yang jahat. Adalah sifat manusia berdosa yang selalu ingin menghancurkan orang lain, orang tidak peduli kalau dirinya telah membuat orang lain susah; manusia selalu berpikir licik dan egois.

Di dunia berdosa yang licik dan penuh dengan kejahatan ini, tidak ada satu pun tempat yang dapat membuat kita merasa aman dan nyaman – setiap saat ancaman bahaya itu selalu muncul. Kemana pun kita pergi maka kita akan bertemu serigala-serigala yang selalu siap menerkam. Realita dunia berdosa yang rusak ini justru tidak diakui oleh dunia. Dunia selalu mengatakan bahwa dunia ini adalah dunia yang indah dan nyaman namun semua keindahan dan kenyamanan tersebut tidak lebih hanya sebuah fatamorgana yang semu. Pada akhirnya, manusia menyadari realita dunia yang tidak pernah memberikan kebahagiaan sejati maka muncullah satu pertanyaan yang menjadi problem of evil, yakni: kalau memang benar Tuhan itu ada lalu kenapa ada sakit dan penderitaan? Pertanyaan ini muncul sebab manusia sudah jatuh dalam dosa. Problem of evil ini menjadi pergunjingan sengit di kalangan dunia filsafat metafisika sehingga menimbulkan theodecy.

Manusia tidak menyadari kalau sesungguhnya, sengsara, sakit penyakit dan penderitaan yang ada di dunia ini adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri. Manusialah yang merusak alam maka jangan salahkan Tuhan kalau akhir-akhir ini timbul berbagai bencana alam yang menelan banyak korban jiwa, dan masih banyak lagi ulah manusia berdosa. Orang sulit menerima fakta dunia berdosa yang penuh dengan penderitaan ini. Pertanyaannya sekarang adalah kalau Tuhan tidak ada apakah dunia akan menjadi lebih baik? Kalau semua manusia di dunia ini hidup benar dan suci maka problem of evil itu pasti tidak akan ada. Ingat, Tuhan tidak dapat dipermainkan sebab suatu hari kelak Tuhan akan menyatakan keadilan-Nya dan hal itu membuktikan kalau Tuhan itu ada. Tuhan telah memanggil kita untuk kembali pada kebenaran Tuhan dan Dia mengutus kita kembali ke dunia berdosa. Karena itu, waspadalah akan segala macam tipu muslihat iblis. Kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dengan demikian kita dapat dipakai menjadi saksi bagi Tuhan.

II. Kekuatan Pembeda (Discerning Power)

Anak Tuhan yang sejati harus selalu waspada sebab orang yang mempunyai kewaspadaan tinggi maka ia mempunyai kemampuan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Perhatikan, orang yang waspada berbeda dengan orang yang paranoid. Ciri-ciri orang yang paranoid selalu melihat orang lain sebagai musuh yang membahayakan dan merugikan hidupnya maka orang yang paranoid akan selalu merasa ketakutan. Tuhan tidak mengajar anak-anak-Nya menjadi orang yang paranoid tetapi orang yang selalu waspada. Seorang yang waspada bukan seorang yang pasif. Tidak! Sebaliknya orang yang waspada adalah orang yang aktif mengerjakan berbagai hal yang positif namun meski demikian ia tidak kehilangan kepekaan, ia akan langsung peka ketika ada hal-hal yang tidak benar. Kekuatan dan kepekaan membedakan inilah yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan yang sejati dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan dunia dan dibawa ke dalam situasi yang bias.

Di dunia modern ini ada empat hal yang perlu untuk kita waspadai: 1) benar-benar benar; 2) benar-benar tidak benar; 3) tidak benar-benar benar; 4) tidak benar-benar tidak benar. Setiap manusia di dunia harus kembali pada kebenaran yang sejati, yaitu yang benar-benar benar. Alangkah bodohnya manusia sudah tahu sesuatu itu benar-benar tidak benar tapi masih kejeblos di dalamnya. Ini menunjukkan alert system yang dimilikinya sudah mati dan yang mematikan alert system atau sistem kewaspadaan ini sesungguhnya adalah diri sendiri, yakni: pertama, ketika pertama kali kita memberikan peluang pada dosa itu masuk dan menganggap dosa sebagai hal yang biasa. Kewaspadaan kita sedikit demi sedikit akan hilang dan pelan namun pasti hati nurani kita pun akan mati. Seorang anak Tuhan sejati harus berani mengatakan kebenaran adalah kebenaran dan dosa adalah dosa. Hati-hati sekali saja kita berkompromi dengan dosa maka itulah titik kehancuran kita, kedua, manusia adalah manusia yang serakah, ketika manusia sudah mempunyai nafsu yang didorong dengan semangat ingin mencari keuntungan diri sendiri maka saat itulah ia lupa segalanya sehingga tanpa berpikir panjang lagi segala hal yang ditawarkan padanya akan diterimanya. Itulah saat kehancurannya. Gambaran manusia yang serakah ini adalah seperti seekor monyet yang tangannya terjebak dalam tempurung kelapa karena serakah ingin mendapatkan buah kelapa. Hati-hati iblis tahu sifat manusia yang serakah ini karena itu hendaklah kita selalu waspada jangan masuk dalam jebakannya.

Untuk hal yang tidak benar-benar benar kita juga perlu waspada karena sepintas sepertinya benar tapi sesungguhnya tidak benar. Kepekaan ini tidak dapat terjadi secara otomatis tetapi kepekaan ini akan kita peroleh kalau kita berpaut dengan Tuhan, yaitu dengan membaca Firman Tuhan. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah hal ini disebabkan karena di satu sisi orang mau mengikut Tuhan tapi masih mempunyai konsep dunia dan gereja Tuhan tidak lagi mewartakan berita Kebenaran sejati. Sebagai anak Tuhan sejati, hendaklah kita bertekad belajar Firman dengan demikian kita tidak mudah dibodohi oleh dunia.

Di antara keempat hal tersebut yang paling membahayakan adalah tidak benar-benar tidak benar. Prinsip perhitungan: – x – = + tidak dapat dikenakan pada prinsip: tidak benar x tidak benar = benar. Salah! Orang berpendapat bahwa segala sesuatu yang belum terbukti salah, janganlah dipandang sebagai suatu kesalahan. Setuju! Tetapi ketika kita menganggap sesuatu yang belum terbukti salah tersebut sebagai kebenaran maka itupun merupakan suatu kesalahan fatal. Perhatikan, tidak benar-benar tidak benar bukan berarti sudah benar; dan tidak terbukti salah itupun bukan berarti sudah benar. Kita harus waspada akan konsep ini sebab dunia akan membawa kita masuk dalam konsep tidak benar-benar tidak benar. Karena itu, kita harus kembali kepada kebenaran sejati, yaitu yang benar-benar benar dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan dunia dan orang dapat hidup suci.

III. Bahaya Posisi Pengkhianat

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, Mat. 10:18 ini kurang jelas untuk dipahami. Terjemahan yang tepat adalah kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa (penguasa kota atau  penguasa wilayah) dan raja-raja (penguasa yang lebih tinggi) supaya kamu membawa kesaksian untuk melawan Aku. Perhatikan, sejak awal Tuhan Yesus telah memperingatkan bahwa orang Kristen akan dibawa ke depan penguasa tetapi bukan sebagai orang yang berposisi di dalam Kristus. Tidak! Orang Kristen akan ditaruh dalam posisi sebagai saksi bagi orang kafir dan melawan Kristus. Posisi ini disebut sebagai posisi betraying. Di tengah dunia yang semakin kacau ini, posisi betraying, yakni suatu posisi yang memungkinkan kita  menjadi seorang pengkhianat ini sangat terbuka lebar. Pada saat Tuhan Yesus mengatakan hal demikian ini, dua orang murid yang nantinya akan mengkhianati-Nya, yakni Yudas dan Petrus ada bersama-sama dengan Dia. Tuhan Yesus tahu bahwa suatu hari kelak mereka akan berada di posisi betraying ini dan mereka akan mengkhianati Dia.

Berbeda halnya kalau kita diadili karena tuduhan menjadi pengikut Kristus maka hal itu justru menjadi sukacita bagi kita. Celakanya, hari ini banyak orang Kristen karena alasan takut dimusuhi dan dibinasakan oleh dunia sehingga orang lebih memilih berada di posisi betraying dengan memilih menjadi pengkhianat dan melawan Kristus. Ironis, orang justru lebih takut berhadapan dengan dunia daripada berhadapan dengan murka Tuhan. Jangan pikir kalau kita ikut dunia maka kita akan aman. Tidak! Kita akan binasa sebab segala kenikmatan yang ditawarkan hanya bersifat semu belaka. Tuhan telah membukakan pada kita positif – negatifnya menjadi pengikut Kristus dan kini, keputusan ada di tangan kita mau mengikut Tuhan dengan resiko dibenci oleh dunia namun berakhir dengan hidup kekal ataukah mengikut dunia – mendapatkan kebahagiaan semu dan berakhir dengan kebinasaan kekal? Jangan takut pada segala sesuatu yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051113.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : DOMBA DI TENGAH-TENGAH SERIGALA (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, March 18th, 2007

Ringkasan Khotbah : 16 Oktober 2005

Domba di Tengah-tengah Serigala

Nats: Mat. 10:16

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats Alkitab yang baru kita baca ini oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) ditaruh pada bagian perikop yang baru namun lembaga Alkitab lain, yaitu New International Version (NIV), menaruh nats ini pada perikop sebelumnya. Hal ini menunjukkan kalau nats ini merupakan ayat jembatan sehingga bisa diletakkan di perikop baru atau perikop sebelumnya. Kita telah memahami kalau Tuhan Yesus memilih sendiri para murid dan memberikan jabatan rasul pada mereka maka hal itu janganlah menjadikan  kita sombong karena merasa diri eksklusif. Ingat, kalau kita dipilih menjadi murid Tuhan maka itu merupakan suatu anugerah, sebab sesungguhnya kita tidaklah layak, memang siapakah kita manusia berdosa yang bodoh ini sehingga Tuhan berkenan memakai kita untuk turut ambil bagian dalam kerajaan-Nya? Biarlah dengan rendah hati kita tetap melayani Dia. Seorang yang mempunyai kedudukan tinggi sebagai rasul bukan berarti boleh bersantai ria dan tidak bekerja. Tidak! Tuhan Yesus langsung mengutus mereka untuk pergi karena kita telah memperolehnya dengan cuma-cuma maka kita pun harus memberi. Perhatikan, dalam hal ini cara Tuhan Yesus berbeda dengan dunia.

Dalam pengutusan itu, Tuhan tidak mengijinkan para murid membawa emas atau perak atau tembaga bahkan bekal, baju ataupun tongkat. Jabatan rasul justru tidak menjadikan mereka istimewa. Tuhan Yesus ingin mendidik mereka untuk selalu bersandar pada-Nya. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang tidak mau dididik, orang menganggap didikan Tuhan yang keras itu justru sebagai hukuman. Banyak orang Kristen tidak mau hidupnya dilatih dengan keras oleh Tuhan maka tidaklah heran kalau pelayanan menjadi tempat bagi orang untuk memenuhi keegoisan dirinya; orang hanya mau melayani kalau ada jabatan atau kalau ada keuntungan saja. Salah! Didikan Tuhan itu justru karena Tuhan sayang, bagaimana mungkin buah zaitun dapat menghasilkan minyak kalau tidak diperas? Begitu pula dengan emas haruslah dipanaskan terlebih dahulu barulah nampak kemurniannya. Konsep ini telah disadari oleh Socrates sejak ribuan tahun lalu, hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dihidupi. Tuhan ingin setiap kita memahami hal ini dengan demikian kita siap dipakai oleh Tuhan menjadi murid-Nya karena posisi seorang murid disini sangatlah sulit, yaitu seperti domba di tengah-tengah serigala.

1. Domba atau Serigala

Tuhan ingin kita tetap menjadi seekor domba meski ada di tengah-tengah serigala. Pertanyaannya adalah kita termasuk serigala atau domba? Biarlah hal ini menjadi evaluasi bagi diri kita, kita harus memilih salah satu diantaranya, tidak ada pilihan ketiga. Serigala dan domba ini mempunyai karakter yang berlawanan. Sifat manusia berdosa di tengah dunia ini layaknya seperti serigala yang licik dan Tuhan memilih kita seorang manusia berdosa diantara manusia berdosa lainnya untuk dipakai menjadi anak-Nya. Memang, dulu kita adalah manusia berdosa, kita adalah serigala tetapi ketika Tuhan pilih kita menjadi anak-Nya maka kita bukan direparasi tetapi kita dicipta baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Serigala bukan domba dan domba bukan serigala maka tidaklah mungkin serigala berlaku seperti domba atau sebaliknya. Namun realita menunjukkan dunia ini sudah seperti serigala; pada hakekatnya manusia adalah serigala terhadap sesamanya. Maka tidaklah heran kalau konsep utilitarianisme berkembang pesat saat ini karena ajarannya mempunyai kesamaan sifat dengan manusia berdosa, yaitu semangat serigala, wolf spirit.

Konsep utilitarianisme ini pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham namun mendapat tentangan dari banyak pihak sehingga konsep ini tidak sempat berkembang. Teori ini dimunculkan kembali oleh James Mill; ia mendidik anaknya sedemikian rupa untuk menjadi seorang utilitarian sejati maka tidaklah heran kalau anaknya, John Stuart Mill menjadi tokoh utilitarian yang kita kenal sekarang. Utilitarianisme mengajarkan bahwa hidup di dunia, orang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu memanfaatkan atau tidak membawa keuntungan bagi dirinya maka ia akan dibuang, seperti pepatah yang berbunyi: habis manis sepah dibuang. Inilah wajah dunia kita yang berdosa dan gejala seperti ini diangkat oleh seorang sosiolog menjadi sebuah issue, yaitu manusia itu serigala bagi sesamanya, homo homini lupus. Manusia dikatakan sebagai serigala karena sifat serigala itu sangatlah licik, yakni tidak berani menghadapi lawan dari depan. Tuhan Yesus tahu akan keadaan dunia yang demikian ini maka konsep homo homini lupus ini bukanlah hal yang baru lagi. Tuhan Yesus menegaskan orang Kristen tidak boleh menjadi serigala tapi anak Tuhan harus menjadi domba di tengah-tengah serigala. Hati-hati janganlah kita cepat mengadopsi pemikiran para filsuf dunia dan langsung menerapkannya di dalam seluruh aspek hidup kita tanpa kita melihat kehidupan pribadi dari sang tokoh karena pada umumnya, teori etika yang dipaparkan para filsuf ini sangatlah indah tetapi kehidupan si pencetus teori tersebut tidaklah seindah teorinya. Inilah manusia berdosa.

Sebagai orang Kristen, kita harus berbeda dengan dunia. Orang yang mengaku diri Kristen tetapi mempunyai karakter sama dengan dunia maka dia bukanlah orang Kristen. Orang Kristen sejati seharusnya ada perubahan konsep dalam dirinya kalau perubahan tingkah laku memang tidak dapat langsung berubah. Masih banyak orang Kristen yang jatuh dalam dosa tapi ada perbedaan yang mendasar antara orang Kristen sejati dan orang yang mengaku “Kristen“ ketika mereka sama-sama jatuh dalam dosa. Orang Kristen sejati pasti tidak mau sama dengan dunia maka ketika ia jatuh, ia akan mempunyai jiwa untuk mau bangkit dan bangkit, ia akan terus berjuang untuk menjadi seekor domba, untuk tidak menjadi serupa dengan dunia, ada perubahan hidup yang terus terjadi dalam hidupnya dengan demikian ia dipakai menjadi alat Tuhan. Berbeda halnya dengan orang yang mengaku diri “Kristen“ maka ia akan berkompromi dengan dosa. Tuhan tidak menuntut kita untuk langsung berubah ketika menjadi anak-Nya, tidak, perubahan tingkah laku itu tidak dapat terjadi secara langsung tetapi perubahan itu terjadi secara step by step, ada proses di dalamnya. 

2. Kuasa Pemeliharaan Allah

Kalau menurut teori dunia, kalau seekor domba ditaruh ditengah-tengah serigala maka kemungkinan besar domba itu mati. Namun, ingat, konsep dunia berbeda dengan konsep Tuhan; seekor domba tidak akan mati meski ia ada di tengah-tengah serigala karena ternyata domba ini tidaklah sendirian, ada gembala yang selalu siap melindungi dan menjaga dia dimana gembala ini tidak kelihatan secara kasat mata. Pertanyaannya adalah sadarkah si domba ini kalau sang gembala selalu ada di dekatnya meski ia tidak kelihatan? Sebagai orang Kristen sejati, janganlah kita mau ditipu oleh segala macam ajaran dan mujizat yang mengajarkan bahwa anak Tuhan itu layaknya “superman“ yang dapat mengalahkan berbagai-bagai tantangan yang ada di dunia. Celakanya, ada orang yang berani menyatakan bahwa orang Kristen tidak akan mengalami celaka apalagi mengalami sakit penyakit karena orang Kristen mempunyai kekuatan dan kuasa yang berlebih. Konsep demikian inilah yang membuat orang Kristen justru tidak menjadi kuat dan mudah jatuh.

Tuhan tidak pernah menjanjikan orang Kristen hidupnya akan selalu nikmat dan tidak berkekurangan, tidak, Tuhan juga tidak janji bahwa orang Kristen tidak akan pernah mengalami kesusahan, tidak! Ironisnya, ketika orang mengalami kesulitan kita justru menyalahkan Tuhan dan menganggap Tuhan yang jahat. Tuhan justru menaruh kita di tengah-tengah dunia berdosa yang penuh dengan bahaya ini seperti domba di tengah-tengah serigala namun percayalah, Tuhan Yesus Sang Gembala yang Agung itu tidak akan membiarkan kita mati dicengkeram oleh serigala sebab Tuhan tahu sampai dimana batasan kekuatan kita. Seperti halnya Ayub, Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatannya, Tuhan mengijinkan iblis menguji imannya namun Tuhan tidak mengijinkan iblis untuk menjatuhkan imannya apalagi mengambil nyawanya karena nyawa manusia adalah milik kepunyaan Tuhan. Maka jelaslah, hidup kita akan kuat karena berada di bawah kuasa pemeliharaan Tuhan tetapi dipihak lain, kita menyadari bahwa sesungguhnya hidup kita sangatlah lemah maka ini menjadi suatu paradoks namun justru di dalam kelemahanlah kita menjadi kuat. Konsep ini sukar dimengerti oleh dunia. Tuhan Yesus melarang para murid – tidak membawa uang seperser pun bahkan bekal karena Tuhan Yesus hendak mengajarkan pada mereka bahwa sesungguhnya manusia bukanlah siapa-siapa, hidup manusia sangat lemah dan bergantung mutlak pada Tuhan. Karena itu, janganlah menyandarkan diri pada hal-hal materi yang sifatnya duniawi tetapi hendaklah kita bersandar pada Tuhan Sang Pemilik dan yang menciptakan dunia ini.

3. Pandangan dan Ketertarikan

Ketika kita berada di dalam kelemahan, Tuhan mengajarkan pada kita untuk mengarahkan pandangan kita pada Tuhan Yesus Sang Gembala Agung, janganlah kita memandang pada serigala karena arah pandangan itu justru akan membuat kita terjatuh. Hati-hati, dunia ini semakin hari tidak menjadi semakin baik justru semakin rusak, banyak serigala yang siap menerkam sehingga kalau kita tidak hati-hati kita akan terjatuh karena itu, ketika kita berjalan janganlah menengok ke arah serigala supaya kita tidak terjatuh. Janganlah kita terjerat dalam berbagai macam ajaran iblis yang menyesatkan yang mengatakan bahwa dunia ini khususnya Indonesia akan menjadi makmur dan jaya. Tidak! Firman Tuhan menegaskan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar; manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (2Tim. 3:1-7). Manusia melihat suatu realita bahwa dunia ini semakin hancur, kita tahu realita kalau ada serigala di hadapan kita namun kita tidak binasa karena kita tahu tangan Tuhan selalu melindungi kita sehingga kita tidak menjadi hancur. Tuhan mengutus untuk kita pergi dan menjadi saksi bagi-Nya hingga ke seluruh dunia dan Tuhan janji, Ia akan beserta senantiasa sampai kepada akhir jaman (Mat. 28:19-20). Hendaklah kita terus menyadari bahwa kita tidak lebih hanyalah seekor domba yang lemah yang diutus di tengah-tengah serigala namun di dalam kelemahan itu, kita mempunyai Tuhan Sang Gembala Agung yang tidak pernah membiarkan kita sendiri. Kita mungkin ada dalam lembah kekelaman, kita berada dalam bayang-bayang maut, kita akan menghadapi bahaya namun gada Tuhan dan tongkat Tuhan itu akan menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita.

4. Cerdik dan Tulus

Memang, orang Kristen tidak lebih hanyalah seekor domba lemah tapi lemah bukan berarti bodoh sehingga mudah dipermainkan. Tidak! Tuhan ingin kita mempunyai pemikiran yang cerdik seperti ular dan perilaku yang tulus seperti merpati. Menurut teks aslinya, istilah “cerdik seperti ular“ disini tidak berkonotasi negatif tetapi ular merupakan gambaran dari seseorang yang mempunyai ketajaman cara pikir sehingga segala keputusan dan tindakan yang diambil tepat. Cerdik dari bahasa aslinya, prominos yang berarti orang yang mempunyai pengertian total dan mempunyai data lengkap dimana semua aspek kemungkinan yang terjadi telah diperhitungkan lalu dapat mengambil keputusan yang jitu pada saat yang dibutuhkan tersebut. Sebagai seorang Kristen sejati janganlah kita mudah dipengaruhi oleh berbagai macam arus dunia tetapi hendaklah kita dapat melihat gejala dunia dengan tajam dengan demikian kita tidak terhempas dan akhirnya tenggelam. Seperti halnya seorang yang terjebak dalam pusaran air maka satu-satunya cara supaya ia dapat selamat adalah harus ada orang lain yang berada di luar pusaran air yang menyelamatkannya sebab dia dapat melihat dimana pusat pusaran dengan demikian ia tahu harus bertindak apa dan dirinya pun tidak ikut masuk dalam pusaran.

Bukanlah hal yang mudah dan sederhana bagi seseorang untuk dapat mengambil keputusan secara tepat dan hal ini tidak dapat terjadi secara instan tapi ada proses belajar dan pergumulan terlebih dahulu barulah dapat diambil suatu keputusan tepat. Janganlah kita mau segala sesuatu dengan cara instan dan menggampang-kan segala sesuatu. Seahli-ahlinya kita berenang kalau kita berada dalam pusaran air dan kita tidak pernah belajar bagaimana mengatasinya maka kita pasti akan terseret arus dan akhirnya mati. Kita tahu permainan dunia maka jangan sekali-kali kita mencoba masuk di dalamnya kalau tidak mau terseret dalam pusaran dunia. Cerdik beda dengan licik. Orang yang licik memakai kecerdikan untuk sifat negatif karena itu, Tuhan menegaskan kita harus cerdik dan tulus, artinya mempunyai motivasi bersih ketika melakukan segala sesuatu. Inilah sifat kebenaran sejati, yaitu tujuan, motivasi dan hasil akhir mengarah pada satu titik dan tidak meleset dari tujuan semula. Sebaliknya dosa (dari kata hamartia) berarti melakukan sesuatu tetapi tujuan selalu meleset dari tujuan semula. Dunia sangatlah licik, katanya tujuan memberi namun sesungguhnya adalah memancing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, motivasi yang tidak tulus ini dapat kita lihat pada sikapnya ketika kita tidak membalas kebaikannya pasti ia akan marah. Tuhan ingin ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati yang murni dan tulus. Ingat, Tuhan tahu isi hati kita dan suatu saat nanti Tuhan akan menghukum kita. Sebagai anak Tuhan sejati, kita harus mempunyai hati yang tulus maka Tuhan akan berkenan dan kita dapat menjadi berkat bagi dunia. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051016.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : PELATIHAN MURID TUHAN (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Saturday, March 10th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah Mimbar di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 9 Oktober 2005

Pelatihan Murid Tuhan

Nats: Mat. 10:5-15

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Kita telah memahami bahwa tema Injil Matius adalah Kerajaan Sorga dimana Kristus yang menjadi rajanya. Berbeda dengan dunia, kerajaan Sorga ini bersifat rohani dan di dalamnya kita melihat ini kita melihat bagaimana konsep Kerajaan itu ditegakkan maka Tuhan membuat hukum Kerajaan Sorga dan sekaligus mengimplikasikan hukum tersebut. Kristus Tuhan yang menegakkan Kerajaan-Nya namun Dia tidak mengerjakannya seorang diri saja; Tuhan menetapkan dua belas orang di antara beribu-ribu orang untuk menjadi murid-Nya dan kepada mereka Tuhan memberikan jabatan rasul. Dua belas murid itu diutus oleh Tuhan Yesus untuk pergi dan memberitakan: “Kerajaan Sorga sudah dekat.“  Dipilih sendiri oleh Sang Guru Agung untuk menjadi murid-Nya dapat menimbulkan suatu sikap kesombongan maka pengutusan ini merupakan pembelajaran bagaimana hidup menjadi seorang murid Kristus sejati maka pengutusan ini berbeda dengan pengutusan yang merupakan Amanat Agung dari Tuhan Yesus yang tertulis dalam Matius 28:19-20

Di dalam tugas pengutusan ini, Tuhan Yesus memberikan batasan-batasan, yaitu:

Pertama, Tuhan tidak memperkenankan mereka menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, Tuhan Yesus mengutus kedua belas murid tersebut untuk pergi kepada umat Israel saja, domba yang terhilang dan tersesat. Kedua, Tuhan memerintahkan pada mereka untuk melakukan pekerjaan yang beraspek ke dunia, seperti menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta dan mengusir setan. Inti dari keseluruhan berita tersebut adalah: “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Tuhan Yesus tidak memerintahkan kepada murid untuk memberitakan berita Injil, yaitu Kristus Juruselamat dunia, karena pada waktu itu memang Kritus belum mati dan bangkit: Kerajaan Sorga sudah dekat tetapi saat itu, Kerajaan Sorga belum ditata oleh Kristus Sang Raja. Barulah setelah Tuhan Yesus mati dan bangkit dan pada hari Pentakosta, para rasul itu memberitakan tentang Kristus Juruselamat dunia.

Tuhan Yesus sudah menetapkan dua belas orang untuk menjadi murid-Nya tetapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Tuhan Yesus langsung mengutus para murid untuk pergi dan melayani tanpa ada suatu pembekalan pelajaran sebelumnya? Inilah cara Tuhan Yesus yang berbeda dengan dunia dimana di dalamnya terdapat suatu pembelajaran yang indah dengan demikian kita dapat dipakai menjadi warga Kerajaan Sorga.

I. Melayani

Merupakan suatu kebanggaan menjadi murid seorang guru besar apalagi menjadi murid dari seorang Guru Agung seperti Tuhan Yesus maka kalau orang tidak berhati-hati akan timbul suatu kesombongan diri. Kedua belas murid ini mempunyai posisi dan jabatan yang sangat spesial karena kedekatan mereka dengan Sang Guru dan kepada mereka diberikan jabatan sebagai rasul. Hari ini, banyak orang Kristen mau melayani kalau ada jabatan dengan demikian dirinya dapat menjadi terkenal. Memang, ia akan melayani dengan sangat baik dan bertanggung jawab namun mereka melayani bukan dengan hati dan motivasi murni tetapi karena alasan lain, yakni takut kalau nama baiknya tercemar. Dan biasanya, orang yang melayani karena jabatan atau nama baik ini tidak akan bertahan lama, ia akan menjadi marah dan tidak mau melayani lagi ketika ia mendapatkan kritikan dari orang lain.

Adalah anugerah kalau Kristus Sang Raja memilih kita menjadi warga Kerajaan-Nya dan bekerja bagi-Nya sebab siapakah kita kalau Dia berkenan memakai kita? Kalau kita menyadari bahwa kita hanyalah seorang hamba maka semua status atau kedudukan itu tidaklah penting lagi. Pelayanan tidak tergantung jabatan atau status, tidak, Tuhan ingin setiap orang yang melayani itu mempunyai jiwa seorang hamba. Namun manusia berdosa selalu mementingkan diri sendiri, orang senang kalau mendapatkan berkat, orang senang kalau dirinya menjadi terkenal karena berada dekat dengan Tuhan Yesus, orang hanya ingin mendapatkan keuntungan dari Tuhan Yesus tetapi ia tidak mau melayani. Maka pengutusan ini merupakan pelatihan pelayanan bagi para murid. Di tengah-tengah dunia humanis – materialis ini, biarlah kita menyadari kalau Tuhan berkenan memilih kita menjadi murid maka itu merupakan suatu anugerah karena sesungguhnya kita tidak layak, kita hanyalah manusia berdosa yang seharusnya dibinasakan tapi Dia berkenan menyelamatkan kita dan memakai kita menjadi alat-Nya. Sadarlah kita hanyalah seorang hamba dan biarlah kita melayani dengan hati dan motivasi murni. Banyak orang yang menuntut untuk dilayani tetapi tidak mau melayani. Biarlah kita meneladani Kristus, Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28).

II. Memberi

Tuhan mengutus kedua belas murid ini untuk menyembuhkan orang sakit; membangkitkan orang mati; mentahirkan orang kusta dan mengusir setan karena mereka telah memperoleh kuasa dari Tuhan Yesus secara cuma-cuma maka sekarang, mereka harus memberinya dengan cuma-cuma. Konsep memberi yang diajarkan oleh dunia berbeda dengan konsep yang diajarkan Kristus. Dunia tidak pernah memberi secara gratis tetapi harus ada timbal balik dan itu haruslah menguntungkan. Dengan segala cara orang berusaha untuk mendapatkan keuntungan bahkan memakai undian berhadiah sebagai kedok sehingga sepertinya kita yang diuntungkan padahal sesungguhnya si pemberi hadiah atau orang yang mengadakan undian itulah yang memperoleh keuntungan lebih besar dibanding orang yang menerima hadiah. Inilah wajah dunia kita yang berdosa, dunia tidak menyadari akan konsep anugerah.

Ingat, tidak ada satu pun milik kepunyaan kita yang ada pada diri kita itu adalah milik kita, tidak, segala harta yang ada pada kita asalnya dari Tuhan bahkan segala kepandaian, tenaga, bakat dan talenta yang ada pada kita itupun asalnya dari Tuhan. Kita selayaknya bersyukur atas anugerah Tuhan ini, Dia memberikan semuanya itu pada kita secara cuma-cuma. Kita harus bertanggung jawab atas segala anugerah Tuhan tersebut; semua pemberian Tuhan itu haruslah kembali untuk kemuliaan Tuhan. Kalau kita menyalahgunakan dan memakai anugerah Tuhan demi untuk kepentingan setan maka Tuhan berhak mengambil semuanya itu. Hal ini pula diungkapkan oleh Tuhan dalam perumpamaan talenta sehingga dari sana kita tahu mengapa Tuhan berhak membuang manusia berdosa dalam kebinasaan kekal? Karena kita telah mempermainkan anugerah maka Tuhan yang memberi Tuhan berhak mengambilnya kembali; kita tidak akan dapat bersembunyi dari hadapan-Nya, tidak ada satu manusia pun yang lepas dari keadilan-Nya; kemanapun kita lari disana Tuhan ada, kita lari di lembah disana Tuhan ada bahkan kita mau lari di dunia orang mati pun disana Tuhan ada (Mzm. 139).

Sebenarnya manusia menyadari bahwa semua yang ada padanya adalah karena anugerah Tuhan tetapi sudah menjadi natur manusia berdosa sehingga meski sudah menyadari anugerah pun, manusia tetap tidak rela kalau harus memberi. Seorang anak kecil tanpa ada yang mengajarkannya, ia pasti menolak ketika ia disuruh membagi  sesuatu yang ada padanya padahal barang itu pun diperolehnya secara gratis. Tuhan menegaskan adalah lebih bahagia memberi daripada menerima. Memberi haruslah dengan motivasi murni, jangan masuk dalam jebakan iblis yang mengajarkan dengan memberi sedikit akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Kebahagiaan sejati tidak pernah kita peroleh dari dunia. Kebahagiaan sejati akan kita dapatkan ketika kita tahu Tuhan berkenan atas perbuatan kita. Hendaklah kita terus mengevaluasi diri kita, mintalah supaya Tuhan terus menyelidiki hati kita dengan demikian kita tidak menjadi berdosa dan Tuhan berkenan atas kita.

III. Mengimani

Tuhan juga mengajar para murid untuk senantiasa bersandar itulah sebabnya, Tuhan melarang mereka membawa emas atau perak atau tembaga bahkan Tuhan melarang mereka membawa bekal, baju, kasut atau tongkat. Inilah cara Tuhan mendidik para murid-Nya agar mereka selalu  bersandar pada pemeliharaan Tuhan saja, indirect providence. Para murid telah terbiasa dengan direct providence, ketika mereka lapar, Tuhan menyediakan; ketika mereka dalam kesulitan, Tuhan menolong mereka; semuanya sudah disediakan oleh Tuhan. Maka tidaklah heran orang selalu mengikuti Tuhan Yesus kemanapun Ia pergi. Kini, Tuhan mengajar mereka untuk beriman, para murid diutus untuk pergi untuk melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan tanpa membawa bekal apapun dan Tuhan Yesus tidak beserta mereka secara langsung. Dapatlah dibayangkan, rasa was-was dan rasa kuatir itu pastilah menyergap di hati para murid. Ini merupakan latihan dan ujian iman yang terbaik.

Cara Tuhan memelihara sangatlah luar biasa, Dia dapat memakai siapa pun dan apa pun untuk memelihara hidup setiap anak-anak-Nya, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita bahkan ketika dunia menjadi goyah kita mempunyai sandaran yang kuat, yaitu Kristus Tuhan. Janganlah sandarkan hidupmu pada uang atau materi yang sifatnya mati tetapi bersandarlah hanya pada Tuhan saja. Tuhan akan memberikan pada kita dengan secukupnya dan saat itu kita tahu Tuhan memelihara hidup kita. Ingat, semua harta dan milik kepunyaan kita asalnya dari Tuhan, Dialah satu-satunya sumber dari segala sumber berkat. Sungguh mengerikan kalau hidup kita tergantung pada benda materi yang fana, dapatlah dibayangkan betapa paniknya hidup kita kalau diikat oleh uang yang sifatnya tidak kekal. Hari ini banyak orang yang berjalan sendiri, tidak mau taat akan pimpinan Tuhan namun ironisnya, ketika ia dalam kesusahan Tuhan yang disalahkan.

Umat Israel seharusnya bersyukur hidup berada dalam pimpinan dan pemeliharaan Tuhan, Tuhan memelihara dengan ajaib dengan manna namun toh mereka masih saja bersungut-sungut. Manusia berdosa memang serakah, manusia tidak percaya pemeliharaan Tuhan, mereka mengambil manna secara berlebihan maka akibatnya manna itu menjadi busuk. Manusia tidak percaya Tuhan, manusia hanya percaya dirinya sendiri. Begitu pula ketika Tuhan mengutus para murid untuk pergi melayani, Tuhan tidak memperbolehkan mereka membawa barang apapun sebab Tuhan hendak mengajarkan pada mereka hidup beriman dan bersandar pada pemeliharaan Tuhan. Betapa bodohnya manusia yang justru lebih memilih hidup bersandar pada diri sendiri, manusia tidak menyadari bahwa diri ini bukanlah siapa-siapa sehingga tidak layak dijadikan sandaran. Hanya Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik alam semesta ini yang layak menjadi sandaran hidup kita.

IV. Memilah 

Tuhan tidak sekedar memanggil kita untuk melayani dan memberi dan selain itu, Tuhan juga tidak mengajarkan kita untuk bersandar mutlak tetapi Tuhan memberikan tugas lain yang sangat unik pada kita. Ketika kita datang ke rumah seseorang untuk melayani maka kalau orang itu memang layak dalam artian orang itu mempunyai jiwa pelayanan yang sama maka orang tersebut pasti mempunyai panggilan yang sama, yakni ia akan balik melayani kita, ia harus balik memberi dan ia harus belajar untuk bersandar mutlak maka hal ini menjadi suatu putaran pelayanan. Kepada siapa kita pergi maka orang yang kepadanya kita datangi haruslah melayani dan tidak berhenti sampai disitu, orang tersebut juga harus pergi kepada orang lain lagi untuk melayani begitu seterusnya sehingga ini menjadi suatu putaran pelayanan. Seseorang yang tidak mempunyai jiwa pelayanan akan selalu menuntut untuk dilayani sedang dirinya sendiri tidak mau melayani. Tidak setiap orang yang kita datangi mau menerima berita kebenaran yang kita bawa. Maka disini kita melihat kita berada dalam posisi pemilah dan posisi pemilah ini sangatlah krusial.

Alkitab menegaskan selama seseorang belum bertemu dengan anak Tuhan yang sejati maka kelihatannya ia seperti dibebaskan untuk berbuat hal-hal yang berdosa, ia sepertinya boleh melakukan segala hal yang mempermainkan iman sampai suatu ketika ia bertemu dengan anak Tuhan yang sejati yang memberitakan berita kebenaran Tuhan maka hanya ada dua pilihan: terima atau menolak dimana dari pilihan yang diambil terkandung suatu konsekuensi. Tuhan memerintahkan kepada para murid untuk memberitakan berita kebenaran dan kalau orang itu mau menerima berita kebenaran maka kamu harus tinggal padanya sampai kamu berangkat kembali tetapi kalau ia menolak maka kamu harus keluar dan tinggalkan rumah itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Kota yang menolak berita kebenaran ini akan lebih celaka dibandingkan dengan Sodom dan Gomora. Seorang Kristen sejati mempunyai posisi sebagai seorang pemilah, tugas ini sangatlah istimewa, Tuhan berkenan memberikan kuasa pada kita maka janganlah kita menjadi sombong sebaliknya kita harus mengerjakan tugas panggilan ini dengan kerendahan hati dan dengan rasa takut dan gentar. Tugas panggilan ini tidaklah ringan sebab dunia akan membenci kita. Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu…dan karena Aku telah memilih kamu dari dunia sebab itulah dunia membenci kamu (Yoh. 15:18-19). Biarlah kita senantiasa dipakai Tuhan menjadi alat-Nya untuk memberitakan kebenaran di tengah dunia yang semakin menuju pada kehancuran.   Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051009.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : THE SPECIAL CALLING (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Sunday, March 4th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 2 Oktober 2005

The Special Calling

Nats: Mat. 10:1-7

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Kita telah memahami kerajaan Sorga sifatnya berbeda dengan kerajaan dunia, kerajaan Sorga bersifat rohani – melampaui ruang dan waktu. Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang kecil dan kemudian berkembang menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang pada cabang-cabangnya. Calvin mengungkapkan Kerajaan Sorga adalah gereja yang tidak kelihatan, invisible church, gereja yang tidak dibatasi oleh gedung maupun organisasi. Kerajaan Sorga terdiri umat Allah sejati yang mau sungguh-sungguh hidup taat pada Kristus – Raja atas segala raja. Memang, Kristus adalah pusat dari Kerajaan namun Dia tidak menata Kerajaan Sorga itu seorang diri saja, Tuhan melibatkan orang lain untuk mengembangkan Kerajaan-Nya di dunia, Tuhan memilih dua belas orang untuk menjadi murid-Nya dan menata Kerajaan-Nya. Dalam hal ini Kristus telah mengajarkan pada kita akan konsep kekepalaan sejati, the true headship beda dengan dunia yang mengajarkan konsep leadership.

I. Pilihan yang Belajar

Tuhan memanggil dua belas orang murid (ay. 1) dan Tuhan memberikan jabatan kepada kedua belas murid yang dipilih tersebut sebagai rasul (ay.2). Hal ini menjadi gambaran bahwa orang yang dipanggil Tuhan dalam Kerajaan-Nya adalah murid. Jabatan rasul hanya ada pada jaman Perjanjian Baru namun istilah “murid“ itu dipakai terus di sepanjang sejarah jaman. Tugas seorang murid adalah belajar dengan demikian ia dibentuk dan mengalami perubahan. Seorang anak Tuhan sejati haruslah mempunyai hati yang senantiasa mau belajar, dibentuk dan diubahkan oleh Kristus Sang Guru Agung untuk semakin serupa dengan Kristus. Seorang yang terus berproses di sepanjang hidupnya menandakan ada kehidupan berbeda halnya kalau orang itu sudah mati maka orang akan berhenti berproses.

Manusia tidak mau mengalami perubahan dalam hidupnya, manusia lebih suka akan status quo atu kemapanan. Kalaupun harus berubah maka itu bukan dirinya tetapi orang lain yang harus berubah tetapi faktanya, tidak semua orang mau berubah akibatnya terjadilah keributan atau perselisihan karena orang mau bertahan di posisi masing-masing. Lebih sulit membuat manusia berubah sebaliknya sangatlah mudah membuat manusia tidak berubah, yaitu dengan cara pembodohan diri dan memfanatikkan diri. Jangan beri pelajaran atau pengertian dalam dirinya maka orang pasti menjadi kaku dan akhirnya ia akan mati dalam ke-fanatisme-annya. Orang demikian kalai beragumentasi selalu menggunakan senjata, “Pokoknya….“ maka percuma kita beragumentasi dengannya. Manusia tidak menyadari kalau dirinya telah dibawa masuk dalam suatu kebodohan sehingga manusia melakukan suatu tindakan kebodohan yang cenderung bersifat fanatik negatif seperti yang telah dilakukan oleh kaum terorisme akhir-akhir ini. Manusia telah dicengkeram oleh dosa sehingga ia mempunyai moral dan nilai hidup yang sangat rendah, ia terkungkung dalam status quo atau kemapanan.

Seorang murid Kristus haruslah terus belajar dan bertumbuh dalam kebenaran; apalagi belajar di sini adalah menyangkut hidup kita. Amatlah disayangkan, kalau kita telah menjadi murid Kristus Sang Guru Agung tetapi kita tidak mau belajar dari-Nya. Berarti kita telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang telah memilih dan memanggil kita menjadi murid-Nya, kita telah melecehkan panggilan dari Sang Guru Agung. Banyak orang, lebih menghargai guru-guru dunia daripada Kristus Sang Guru Agung. Biarlah kita menyadari kalau kita bisa mendapatkan ilmu bijaksana tertinggi yang ada di alam semesta maka itu sungguh anugerah yang luar biasa. Kristus adalah sumber dari segala sumber ilmu yang ada di dunia bahkan ilmu yang menyangkut kehidupan, Dia telah mengajarkan sekaligus mengimplikasikan hukum Kerajaan Sorga yang agung dan mulia itu. Sebagai seorang murid sejati, hendaklah kita mau berubah, konsep pemikiran duniawi kita yang salah selama ini diubahkan dengan demikian kita mempunyai pemikiran yang sama seperti Kristus Guru Agung kita.

II. Pilihan yang Dipertanggung jawabkan

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________<br />
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________Kita bukan sekedar murid tetapi kita adalah the choosen one, murid yang dipilih. Banyak orang yang mengikut Tuhan Yesus tapi Dia hanya memilih dua belas orang saja untuk menjadi murid yang dekat dengan-Nya untuk melakukan suatu tugas khusus. Ini merupakan hak istimewa atau privilege kalau kita dipilih menjadi murid Kristus bahkan sangat teristimewa  kalau di antara berjuta-juta manusia di dunia Kristus Sang Guru Agung itu telah memilih kita menjadi murid-Nya. Hari ini, banyak orang yang menghargai pilihan itu ketika pertama kali ia menyadarinya namun seiring dengan berjalannya waktu orang cenderung menganggap pilihan tersebut sebagai hal yang biasa. Betapa bodohnya kita kalau kita tidak menghargai pilihan Tuhan ini, memang siapakah kita sehingga Tuhan berkenan memilih kita menjadi murid-Nya? Kita bukanlah orang pandai atau orang yang hebat yang berjasa. Di luar kita masih banyak orang yang lebih pandai dan lebih dari segalanya dari kita namun Tuhan berkenan memilih kita menjadi murid-Nya.

Sayangnya, hari ini orang tidak menyadari anugerah Tuhan yang begitu besar itu, orang menganggap pilihan Tuhan itu sebagai hal yang biasa saja. Sadarlah, bukan karena kepandaian kita, bukan karena kebaikan kita kalau kita dipilih dan dipakai menjadi alat-Nya. Kalau kita dipilih itu semata-mata karena anugerah sebab sesungguhnya kita tidak layak dipilih. Cara Tuhan memilih berbeda dengan cara dunia, Tuhan tidak memilih Gamaliel atau ahli Taurat tetapi Tuhan justru memilih orang-orang yang dianggap tidak layak dan hina untuk menjadi murid-Nya; Tuhan memilih Petrus yang hanya seorang nelayan, Tuhan memilih Matius si pemungut cukai. Pertanyaannya sekarang adalah kalau Tuhan memilih kita menjadi murid-Nya, menjadi warga Kerajaan Sorga yang bekerja melayani Dia Raja atas segala raja maka seberapa besar kita menghargai privilege yang Tuhan berikan? Ataukah kita cenderung acuh tak acuh dan sembrono?

III. Pilihan yang Bersifat Pribadi

Ketika Tuhan memilih, Dia memilih pribadi demi pribadi. Namun, hari ini, dunia mencoba menghapus konsep ini, dunia modern ingin membuat manusia kehilangan identitas dirinya manusia menjadi in personal bukan manusia sejati. Dunia tidak lagi menghargai manusia karena pribadinya tetapi dunia akan sangat menghargai manusia karena adanya “icon“ yang melekat pada dirinya, seperti: kekayaan, kepandaian, jabatan, dan lain-lain. Dunia hanya akan menghargai kita kalau kita kaya, kalau kita mempunyai jabatan, berarti sesungguhnya dunia bukan menghargai diri kita tetapi kekayaan kita, maka jangan kaget ketika orang jatuh bangkrut atau orang tidak mempunyai jabatan lagi maka ia akan dibuang dan tidak dihargai. Dengan kata lain dunia menghargai kita kalau itu menguntungkan bagi dia. Akibatnya, orang berusaha mati-matian mendapatkan pamoritas demi supaya orang lain menghargai dirinya. Orang tidak menyadari kalau sesungguhnya ia sudah meletakkan harga dirinya sangat rendah, yaitu di bawah materi. Itulah sebabnya, hari ini orang ramai meneriakkan akan eksistensi atau keberadaan dirinya di tengah dunia ini. Sebagai murid Kristus, janganlah terkecoh dengan pandangan dunia, hendaklah kita menghargai orang yang memang layak untuk dihargai dan jangan memberikan penghargaan pada orang-orang yang tidak layak untuk dihargai. Kalau kita memberikan penghargaan pada orang yang hina maka itu menjadikan diri kita hina.

Kekristenan menuntut kita untuk mempunyai prinsip yang anggun dan agung sebab disanalah harkat manusia ditegakkan. Janganlah kita menghina diri sendiri dengan cara yang hina sebab jika kita berlaku demikan maka orang lain akan menghina kita. Hendaklah kita mengevaluasi diri kalau ada orang yang menghina kita sebab jangan-jangan memang kita layak untuk dihina. Sebagai murid Kristus sejati, biarlah kita mempunyai harkat dan martabat diri yang tinggi dengan demikian orang menghargai kita karena keberadaan diri kita bukan karena “icon“ yang menempel pada diri kita. Kita boleh miskin tetapi janganlah kita menjadi hina sebab Tuhan mencipta kita menurut gambar dan rupa-Nya yang mempunyai harkat dan martabat. Di dunia, tidak sedikit orang yang mempunyai integritas, hidupnya bersih tapi secara materi, ia miskin tetapi ia orang sangat menghargainya. Tuhan ketika memanggil manusia bukan secara sembrono tetapi secara pribadi. Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,… (Yoh. 15:16). Namun, para teolog modern ini tidak menyukai Firman Tuhan tersebut di atas, mereka beranggapan kalau sebelumnya Tuhan sudah memilih berarti orang telah kehilangan kebebasan. Konsep pilihan itu telah mengekang dirinya sehingga orang tidak lagi mempunyai kebebasan. Orang sulit menerima konsep pilihan ini sehingga mereka membuat suatu konsep baru, yaitu seseorang dapat menjadi pengikut Kristus itu bukan karena Tuhan yang pilih tapi kemauan itu datang dari diri kita sendiri dan orang-orang yang berada dalam wadah sebagai pengikut Kristus inilah yang Tuhan pilih dan mereka disebut sebagai umat pilihan. Ingat, Tuhan tidak pernah memilih umat-Nya secara “borongan“, sejak Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru disana jelas bahwa ketika Tuhan memilih, Tuhan memilih secara personal, pribadi; Tuhan memilih Nuh, Abraham, Daud, dan Tuhan Yesus ketika memilih murid, Ia juga panggil mereka secara pribadi (Mat. 10:2). Perhatikan, ketika Tuhan memanggil Saulus, tidak ada satu pun orang di sekelilingnya yang mendengar suara panggilan Tuhan, hanya Saulus seorang saja yang mendengar panggilan Tuhan tersebut. Di tengah-tengah dunia yang mendengungkan konsep global, dunia yang membuang eksistensi manusia, Tuhan memanggil kita pribadi demi pribadi untuk menjadi murid-Nya, Tuhan mengenal kita pribadi demi pribadi, Dia memberikan pada setiap kita talenta. Hendaklah kita menghargai panggilan Tuhan tersebut, berdoalah dan renungkanlah Firman-Nya secara pribadi, layanilah Dia dalam struktur pribadi. Suatu hari kelak kita akan berhadapan dengan Tuhan secara pribadi, existensial moment maka inilah keindahan Tuhan panggil kita satu per satu.

IV. Pilihan yang Diutus

Pribadi yang dipanggil adalah pribadi yang dididik oleh Tuhan untuk pergi memberitakan: “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Sungguh merupakan suatu anugerah, kalau kita dipakai oleh Dia untuk mengerjakan pekerjaan-Nya yang begitu mulia. Janganlah kita merasa cukup puas diri karena kita telah menjadi murid Kristus, kita telah menjadi umat pilihan Tuhan. Janganlah jadikan setiap titik balik yang terjadi dalam hidup kita itu sebagai titik awal tetapi setiap titik balik tersebut haruslah kita jadikan titik awal, every turning point is alfa point not omega point. Celakalah, kalau kita menganggap lulus dari ujian sekolah sebagai akhir dari segala-galanya atau pernikahan sebagai akhir dari hidup kita. Jikalau benar demikian berarti hidup kita akan berhenti, tidak ada kedinamisan untuk kita mau berproses dan terus bertumbuh. Begitu juga, kalau kita merasa cukup puas telah menjadi murid Kristus dimana keselamatan menjadi akhir dari segala sesuatu maka celakalah hidup kita. Pertobatan kita merupakan awal dari segala sesuatu, yakni awal menapaki hidup yang baru, awal membentuk konsep yang baru, awal bagi kita menjalankan tugas panggilan kita yang baru – melayani Kristus Raja.

Tuhan tidak memanggil kita menjadi murid untuk menikmati keselamatan seorang diri saja. Tidak! Tuhan memanggil kita menjadi murid untuk dipakai sampai pada penyempurnaan – Tuhan memanggil kita untuk menjalankan Amanat Agung, yaitu pergi dan memberitakan “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Hal ini menjadi titik alfa dalam hidup kita maka hidup kita akan dinamis bergerak untuk maju maka kita akan dipakai Tuhan secara dahsyat. Orang yang melihat segala sesuatu sebagai akhir maka hidupnya akan menjadi statis, beku dan akhirnya mati. Sungguh amatlah disayangkan, Yudas Iskariot telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan, dia seharusnya bersyukur karena ia telah menjadi murid Kristus Sang Guru Agung tapi Yudas sibuk dengan dirinya sendiri, ia menjadi pengkhianat dan itu justru mencelakakan dirinya sendiri. Sebagai murid Kristus yang diutus untuk pergi memberitakan berita: “Kerajaan Sorga sudah dekat“ berarti hidup kita harus diubahkan terlebih dahulu dengan demikian hidup kita menjadi teladan dan kesaksian bagi dunia. Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi sempurna barulah kita layak untuk memberitakan “Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Tidak! Tuhan meminta untuk kita bertobat dan diperbaharui; perubahan hidup kita itulah yang nantinya menjadi kesaksian bagi dunia yang bobrok ini.

Merupakan suatu anugerah yang sangat besar kalau Kristus Sang Guru Agung berkenan memilih kita menjadi murid-Nya dan dipakai menjadi alat-Nya untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya di dunia, yaitu: memberitakan “Kerajaan Sorga sudah dekat“ maka janganlah sia-siakan anugerah Tuhan itu, marilah kita bekerja – melayani Dia dengan segenap hati dan hidup kita mau terus diubahkan untuk semakin serupa Dia.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2005/20051002.htm