Archive for April, 2007

Eksposisi Injil Matius 10 : CHRISTIANITY & PERSECUTION-4 : THE PROVIDENCE (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Thursday, April 26th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 19 Maret 2006

Christianity & Persecution-4 : The Providence

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.

Nats: Mat. 10:28-33

lkitab memberikan gambaran yang sangat tepat bagi anak Tuhan, yaitu seperti domba di tengah-tengah serigala. Domba adalah binatang yang sangat lemah, helpless maka ancaman dan bahaya itu selalu mengintai dirinya. Di tengah-tengah ancaman bahaya itu, Tuhan ingin kita mempunyai bijaksana sorgawi dengan tidak menantang bahaya tetapi Tuhan mengajarkan supaya kita lari ke kota lain namun ingat, kalau memang waktu Tuhan itu tiba, kita tidak boleh lari. Kita telah memahami sebelumnya, orang mengalami aniaya bisa disebabkan dua hal, yaitu: 1) sebagai hukuman atas dosa – implikasi keadilah Allah yang ditegakkan atas alam semesta, 2) karena orang hidup dalam kebenaran dan kesucian, hidup takut akan Allah, dunia tidak suka ada orang yang hidup benar itulah sebabnya dunia akan menganiaya orang Kristen.

Dunia bahkan orang Kristen sulit menerima pernyataan Firman Tuhan yang menyatakan bahwa orang yang hidup benar justru akan dianiaya. Bukanlah hal yang mengherankan kalau orang bisa berasumsi salah sebab orang mendasarkan asumsinya pada religiusitas/keagamawian dunia. Petrus juga pernah berasumsi salah terhadap Tuhan Yesus, ketika Tuhan Yesus memberitakan tentang penderitaan yang harus ia alami di Yerusalem, Petrus beranggapan kalau Tuhan Yesus tidak akan mengalami penganiayaan karena Allah akan menjauhkannya (Mat. 16:21-28). Bahkan sampai detik ini, kita masih menjumpai banyak orang Kristen yang masih berpandangan salah, orang disesatkan dengan berbagai-bagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah kebenaran sejati karena datang dari Allah berbeda halnya dengan ajaran dunia yang datang dari iblis – kuasa keduniawian dimana kedagingan manusia berdosa itulah mendominasi cara berpikir seseorang.

Adalah panggilan setiap anak Tuhan untuk memproklamasikan kebenaran sejati, menjadi terang di tengah dunia yang gelap. Celakanya, hari ini banyak orang Kristen yang takut memproklamasikan kebenaran sejati. Adalah wajar kalau kita merasa takut, Tuhan Yesus pun tahu akan ketakutan yang dihadapi oleh anak-anak-Nya. Domba mana yang tidak akan merasa takut ketika ia hidup di tengah-tengah serigala. Perasaan takut merupakan salah satu emosi yang harus ada dalam diri manusia. Tuhan menanamkan perasaan takut yang positif dalam diri setiap manusia, hal ini seharusnya menyadarkan manusia akan keterbatasan dirinya namun orang tidak mau mengakuinya. Ingatlah, di dalam penganiayaan, Tuhan tidak akan meninggalkan kita – providensia Allah selalu beserta kita.

Perasaan takut yang positif seharusnya menyadarkan kita akan beberapa aspek, yaitu:

I. Mereferensikan hidup hanya pada Tuhan saja karena Dia adalah Maha segalanya – Maha Tahu, Maha Bijaksana, Maha Kuasa, seluruh Maha ada dalam diri-Nya.

Orang seharusnya merasa takut dan gentar ketika Dia berhadapan dengan Tuhan atas alam semesta yang Maha Besar. Bangsa Israel sadar akan hal ini itulah sebabnya mereka langsung tunduk menyembah hingga ke tanah, to bow down ketika mereka datang ke hadirat Tuhan. Takut yang benar adalah takut yang diarahkan kepada Tuhan. Celakanya, hari ini orang tidak takut kepada Tuhan tetapi orang justru lebih takut pada iblis maka tidak salah kalau orang menyebutnya sebagai anak iblis karena seluruh hidup dan pemikirannya telah dikuasai oleh iblis. Sungguh ironis, orang malah lebih takut pada serigala daripada takut pada Gembala Agung yang senantiasa menjagai domba-domba-Nya. Biarlah kita mengevaluasi diri kita sampai seberapa jauhkah kita takut pada Tuhan?

Ada tiga aspek sehingga orang tidak mempunyai rasa takut dan gentar pada Tuhan, yaitu: 1) hilangnya penekanan keadilan dan murka Allah. Alkitab memperkenalkan Allah Tritunggal sebagai Allah yang murka, Allah yang menegakkan keadilan, Allah yang tidak berkompromi dengan dosa. Allah sangat mengasihi manusia namun Allah yang mengasihi adalah Allah yang juga menyediakan neraka bagi manusia yang dikasihinya. Namun sayang, berita ini mulai dihilangkan, Kekristenan tidak lagi mengajarkan tentang takut akan Tuhan dan sebagai gantinya dan sekaligus sebagai alasan kedua, orang tidak takut Tuhan yaitu karena:

2) masuknya semangat humanis materialis dalam Kekristenan. Berita kebenaran didegradasi/diturunkan sedemikian rupa hingga inti kedaulatan Allah menjadi hilang. Gereja tidak berani memberitakan kebenaran sejati, gereja hanya memilih dan memberitakan Firman yang menyenangkan jemaat saja karena alasan untuk membuat jemaat senang dan tidak kehilangan anggota atau lebih tepat kalau dikatakan tidak kehilangan sumber mata uang. Allah yang diberitakan tidak lebih hanya Allah humanisme,  Kekristenan mulai berkompromi dengan dosa. Hari ini, tidak banyak orang yang mau memberitakan ayat-ayat Firman Tuhan yang sifatnya eksplisit seperti dalam 1Tim. 6:10 maka tidaklah heran kalau kemudian orang mulai mengeliminasi ayat-ayat yang menyatakan kebenaran secara eksplisit. Kekristenan menjadi sinkretis/bercampur dengan konsep humanisme;

3) agama: “allah“ proyeksi. Agama seharusnya membawa manusia kembali kepada Allah tetapi setelah kejatuhan manusia dalam dosa, agama hanyalah alat untuk melarikan diri dari Allah. Agama yang ada di dunia tidak memberikan kemungkinan bagi manusia untuk bereferensi pada Allah yang sejati, karena “allah“ hanya alat untuk memproyeksikan pikiran manusia, projection of idea. Manusia mempunyai ambisi dan keinginan diri namun manusia tidak mau mengakui hal tersebut sehingga seluruh ambisi dan keinginan dirinya tersebut diproyeksikan ke “allah“ kalau “allah“ itu mulai tidak cocok dengan pikiranku, orang akan mencari “allah“ lain yang cocok dengan pikiran manusia. Allah bukan lagi “siapa“ tetapi allah adalah “apa“ karena allah tidak lebih hanyalah sebuah ide yang harus cocok dengan pikiran kita; “allah“ telah menjadi budak manusia. Orang memperlakukan “allah“ tidak lebih hanya sebagai rekanan bisnis belaka; “allah“ harus memberikan lebih besar dari apa yang diberikan oleh manusia. Pertanyaannya sekarang adalah apakah “allah“ yang demikian itu layak untuk kita hormati yang kepada-nya kita mereferensikan seluruh hidup kita? Tidak!

4) agama: “allah“ proteksi. “allah“ yang dibuat manusia hanyalah “allah“ yang lemah. Hari ini, kita menjumpai  banyak orang yang membela “allah“ secara mati-matian. Pertanyaannya adalah siapakah yang harusnya membela dan dibela? Allah membela manusia atau manusia membela Allah? Kalau manusia yang membela “allah“ berarti “allah“ itu lebih kecil dari manusia maka tidaklah heran kalau manusia mulai mempermainkan “allah“ dan “allah“ demikian ini tidak layak untuk menjadi referensi kita. Semangat anarkis – humanisme telah membuat manusia tidak mempunyai rasa takut pada Tuhan maka di tengah dunia ini kalau kita mau hidup takut akan Tuhan, kita sulit mencari teladan. Kekristenan satu-satunya yang mengajarkan kepada kita untuk takut akan Tuhan.

5) Pendidikan atheistik. Takut akan Tuhan merupakan kunci utama bagi manusia untuk dapat mempunyai pengetahuan (Ams. 1:7) namun pengembangan pengetahuan menjadikan manusia bias, manusia tidak dapat membedakan antara true knowledge, pengetahuan sejati dengan pengetahuan dunia. Alkitab menegaskan janganlah kamu takut pada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Seharusnya hal ini menyadarkan manusia akan satu hal: siapa yang seharusnya menjadi referensi hidup kita? Kepada siapakah seharusnya kita takut dan gentar? Orang yang mempunyai rasa takut pada Tuhan maka ia tidak akan mempunyai rasa takut pada apapun dan siapapun karena ia tahu, Tuhan yang ia sembah dan kepada-Nya ia takut itu adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang Immanuel, Tuhan yang selalu beserta kita. Hanya kepada Tuhan yang hidup inilah kita patut mereferensikan hidup kita. Allah yang hidup itu akan menopang hidup kita.

Kita seringkali mendengar tentang Allah yang beserta namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kapan kita merasakan Allah beserta? Apakah kita merasakan Allah beserta ketika kita merasa nyaman saja? Tidaklah heran ketika orang mengalami kesulitan dan aniaya orang mulai bertanya dimanakah Allah? “Allah beserta“ hanya sekedar ungkapan di mulut saja, tidak teraplikasi dalam kehidupan kita sehar-hari. Ingat, ajaran Tuhan Yesus bukanlah sekedar teori. Tidak! Tuhan Yesus mengajarkan tentang kehidupan. Tuhan Yesus menegaskan ketika kita mengalami aniaya maka janganlah takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh tetapi takutlah pada Tuhan yang dapat membunuh tubuh dan jiwa. Biarlah kita senantiasa menyandarkan dan mereferensikan hidup kita hanya pada Sang Gembala Agung.

II. Hidup dalam kebenaran, takut untuk berbuat dosa sehingga dalam segala aspek, akan melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada Allah.

Dalam dunia modern ini kita akan menjumpai banyak sekali pilihan dan tawaran, tentu saja  dengan berbagai resikonya. Puji Tuhan, Tuhan memberikan perasaan takut pada manusia, perasaan takut ini menjadi peringatan bagi kita. Seorang yang berbuat dosa atau melakukan kesalahan dalam dirinya pasti akan muncul rasa takut. Perasaan takut yang demikian ini adalah ketakutan yang positif. Ironisnya, orang tidak takut memberitakan kebenaran sejati seharusnya kita tidak perlu takut karena kita mempunyai Gembala Agung, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Hari ini kalau kita menjumpai ada seekor domba yang takut menunjukkan ia telah kehilangan identitas dirinya. Manusia takut dimusuhi maka cara teraman adalah domba itu menjadi mirip seperti serigala.

Kita harus berani mengaku bahwa kita adalah Kristen sejati. Namun, kita juga perlu berhati-hati dan peka karena hari ini banyak orang yang mengaku diri Kristen tetapi ternyata, ia tidak lebih hanyalah seorang bidat, orang tidak mau mengakui kedaulatan Allah, orang masih mempunyai konsep humanis materialis. Manusia tidak mau menjadi domba akibatnya, orang memilih menjadi serupa dengan dunia. Domba adalah gambaran binatang yang suci dan bersih, semua sifat positif ada dalam diri domba namun sayang, orang tidak mengerti akibatnya manusia tidak menghargai sifat positif yang diberikan Tuhan dalam diri kita. Sungguh ironis, orang justru menjadi takut dan tidak percaya diri kalau ia disebut sebagai orang suci. Salah! Sebutan sebagai orang suci harusnya membuat diri kita bangga karena secara tidak langsung, orang mengakui bahwa kita mempunyai kualitas lebih tinggi dibanding dengan dirinya.

Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang bagi dunia yang gelap maka janganlah takut dengan semua sifat positif yang ada dalam diri kita. Dunia akan terus berusaha membuat kita semakin terjepit sehingga akhirnya orang tidak berani mengaku sebagai Kristen sejati. Hidup akan menjadi indah ketika seluruh hidup kita didasarkan pada takut akan Tuhan, kita mempunyai sandaran kuat, tidak mudah digoyahkan oleh berbagai-bagai godaan dunia. Dalam kesaksiannya, Pdt. Stephen Tong mengungkapkan bahwa ibunya tidak takut lagi melepaskan dia pergi mengelilingi duni karena ibunya tahu, takut akan Tuhan yang selama ini ia ajarkan itu telah tertanam dalam hidupnya. Sebaliknya, kalau kita takut pada dunia maka dunia akan membuat kita melakukan dosa, menjauhkan kita dari Tuhan maka saat itu menjadi titik kehancuran kita karena membawa kita hidup dalam kebinasaan.

Sadarlah, pada saat kita hidup takut akan Tuhan maka itulah waktunya Tuhan memproses hidup kita semakin hari semakin sempurna. Hidup di tengah dunia ini banyak tantangan dan cobaan karena itu, mohonlah pada-Nya supaya Dia memberikan kepekaan pada kita, dengan demikian kita mempunyai alert system yang senantiasa memperingatkan kita dan menjadikan kita lebih waspada. Tuhan telah membukakan kebenaran, anak Tuhan akan mengalami aniaya tetapi janganlah kita menjadi takut pada dunia yang hanya dapat membunuh tubuh tetapi tidak dapat membunuh jiwa tetapi takutlah kepada Dia yang dapat membunuh tubuh sekaligus jiwa. Tuhan tidak membiarkan kita sendiri; kalau burung pipit saja Tuhan perhatikan apalagi manusia yang sangat berharga masakan Tuhan tidak memperhatikan? Allah sangat mengasihi manusia bahkan Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rm. 8:32).

Kasih Allah yang begitu besar ini telah melampaui pikiran manusia. Inilah konsep providensia Allah yang diberikan pada anak-Nya. Perhatikan, dunia tidak mau berkorban untuk kita, dunia selalu mengharapkan imbalan dari apa yang ia berikan dan ingat, imbalan itu haruslah lebih besar dari pemberiannya. Sebaliknya, Allah memberikan anak-Nya yang tunggal untuk kita maka pertanyaannya sekarang adalah apa yang dapat kita berikan pada-Nya? Masihkah kita berani berdialog dengan prinsip untung dan rugi pada Tuhan? Sadarlah, Tuhan telah begitu mengasihi kita dengan memberikan anak-Nya bagi kita dan tidak hanya sampai disitu saja, providensia Allah diberikan juga kepada kita bahkan ketika kita berada dalam penganiayaan dan penderitaan yang paling berat sekalipun, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Biarlah kita mengevaluasi diri kita, siapakah yang lebih kita takuti, Tuhankah atau duniakah? Sudahkah kita mereferensikan hidup kita hanya kepada Allah yang hidup? Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060319.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : CHRISTIANITY & PERSECUTION-3 : THE PROCLAMATION (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Thursday, April 19th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 05 Maret 2006

Christianity & Persecution-3 : The Proclamation

Nats: Mat. 10:26-27

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Pendahuluan

Kristus Yesus merupakan satu-satunya teladan sempurna yang ada di dunia. Hal ini membuktikan bahwa apa yang selama ini dipandang manusia tidak mungkin ternyata dapat dilakukan oleh Kristus. Dia datang untuk menjadi teladan bagi manusia. Kristus Sang Kebenaran sejati itu datang ke dunia membukakan suatu realita kebenaran pada setiap orang yang mau menjadi murid-Nya. Gambaran murid Kristus itu seperti domba di tengah-tengah serigala. Seperti layaknya seekor domba, binatang yang lemah maka kita akan menghadapi banyak tantangan dan penganiayaan. Di dunia kita melihat banyak orang tak terkecuali orang yang bukan Kristen sekalipun juga mengalami penganiayaan. Adalah wajar kalau orang dianiaya sebagai akibat dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Hukuman yang diterima oleh orang berdosa merupakan tindakan keadilan. Orang harus membayar harga sebagai akibat dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Namun ada hal yang membedakan antara penganiayaan yang dialami oleh orang Kristen dan dunia. Orang dunia selain dianiaya di dunia, ia juga mengalami penganiayaan dalam kekekalan. Berbeda halnya dengan anak Tuhan, di dunia ia dianiaya namun aniaya itu tidak berlangsung selamanya karena ia mendapatkan sukacita kekal di sorga bersama Kristus.

Gambaran kebinasaan kekal ini sangatlah mengerikan. Ada orang yang menggambarkan sebagai tempat dengan api panas yang menyala-nyala dan ada pula yang menggambarkan sebagai tempat gelap yang penuh dengan ratap dan gertak gigi dan masih banyak gambaran lain yang sangat mengerikan. Namun ada satu hal yang perlu kita perhatikan, kematian kekal itu bukan sekedar api menyala dan tempat gelap saja. Tidak! Ada hal lain yang lebih mengerikan ketika manusia masuk dalam kematian kekal karena orang telah kehilangan esensi hidupnya. Itulah sebabnya orang menjadi sangat ketakutan di kala kematian itu sudah mendekat. Sebelum kematian itu datang menjelang, orang berani bermain-main dengan dosa, orang bernikmat dalam dunia dan melupakan Tuhan namun ketika hari dimana kematian kekal itu tiba maka orang mulai mulai sadar namun sungguh amatlah disayangkan kesadaran itu datangnya selalu terlambat sebab tidak ada seorangpun di dunia yang dapat menolongnya.

I. Kebenaran Harus Dinyatakan

Dunia semakin menuju pada kehancuran dan kegelapan maka orang yang sudah berada dalam kegelapan merasa dirinya aman karena keberdosaannya tidak nampak nyata; seperti halnya orang berbuat kotor di dalam tempat gelap selama tempat itu masih gelap ia akan selalu merasa dirinya bersih. Di tengah dunia berdosa, orang dianiaya bukan karena kebenaran tetapi lebih tepatnya karena dosa. Orang Kristen juga mengalami aniaya dan penderitaan tapi ingat, aniaya yang dialami bukan karena dosa, tidak, tapi karena ia hidup dalam kebenaran. Ketika terang itu datang menerangi kegelapan maka seluruh kekotoran itu akan nampak jelas itulah sebabnya dunia sangat tidak suka dengan anak-anak Tuhan yang membawa terang sehingga dengan segala cara ia akan mencoba menyingkirkannya. Akibatnya orang lebih memilih menyembunyikan terangnya di bawah gantang dari pada ia dianiaya dan menderita. Manusia cenderung menyembunyikan ketakutannya lalu orang menggunakan segala macam cara yang seolah-olah menyatakan diri sebagai orang yang “bijaksana.“ Tindakan-tindakan berikut ini dianggap “bijaksana,“ yaitu: tidak menyatakan kebenaran di tengah dunia berdosa, tidak berani melawan kejahatan, tidak berani mengambil resiko dianiaya. Benarkah tindakan tersebut dianggap sebagai tindakan yang bijaksana? Ironis, di tengah dunia ini orang lebih berani menyatakan dosa daripada menyatakan kebenaran Tuhan. Kebenaran semakin lama semakin meredupkan dirinya.

Tuhan memberikan hati nurani dalam diri setiap manusia di dunia siapapun dia maka ketika orang melakukan perbuatan dosa pasti timbul rasa takut. Inilah natural reaction.

Sebagai contoh, orang yang baru pertama kali menyontek pasti akan merasa gemetar dan takut. Dosa mengakibatkan kematian dan hukuman dan hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita tapi perasaan takut dan gemetar ini kalau tidak direspon dengan positif maka manusia akan berubah menjadi garang. Ketika hati nurani kita pertama kali ditegur akan dosa oleh Tuhan dan kita berespon positif maka hal itu akan meredupkan sifat dosa dan membuat kita kembali pada kebenaran. Sebaliknya ketika hati nurani itu menegur dan kita bereaksi negatif maka itu menjadi titik awal kehancuran kita. Orang akan menjadi sangat marah ketika ditegur dosanya dan ironisnya, orang mencoba menghancurkan kebenaran dan orang yang membawa kebenaran itu. Hal itu menunjukkan dosa itu telah mencengkeram hidupnya – kebenaran telah ditaklukkan oleh kuasa kegelapan. Ketika kebenaran itu semakin diredupkan maka tanpa sadar orang mulai berkompromi dengan dosa. Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap anak Tuhan harus menyatakan kebenaran di tengah dunia.

Dunia sangat membutuhkan kebenaran. Cobalah bayangkan apa jadinya dunia ini kalau orang Kristen yang seharusnya mewartakan kebenaran tapi malah menaruh terangnya di bawah gantang? Tentu saja, dunia yang gelap akan semakin gelap dan akhirnya binasa. Adalah tugas kita sebagai anak Tuhan untuk mewartakan kebenaran Firman dengan demikian orang beroleh pengharapan sejati. Kebenaran itu harus kita nyatakan di tengah dunia. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28).

II. Resiko Proklamasi Kebenaran

Saat kebenaran itu dinyatakan ke tengah-tengah dunia maka ada resiko – kita akan menghadapi banyak musuh yang datang dari luar maupun dari dalam Kekristenan sendiri. Secara hati, mungkin kita akan dapat menerima kalau musuh yang kita hadapi itu berasal dari luar tapi bagaimana halnya kalau orang yang memusuhi kita justru orang terdekat kita yang diam-diam menikam dari belakang. Tentulah hal ini sangat menyakitkan, bukan? Hari ini banyak orang yang memakai label Kekristenan padahal sesungguhnya seluruh kegiatan yang dilakukan bersifat sekuler belaka. Banyak orang yang mengaku Kristen namun beriman palsu, kebenaran yang diberitakan bukan kebenaran Firman tapi kebenaran palsu. Memproklamirkan kebenaran di tengah dunia berdosa ini tidaklah mudah, ada resiko yang harus kita tanggung diantaranya banyak musuh yang harus kita hadapi. Dibutuhkan suatu keberanian dalam memproklamasikan suatu kebenaran. Tanpa proklamasi kebenaran maka dunia ini akan semakin gelap maka resiko proklamasi, the risk of proclamation itu harus kita ambil.

Orang tidak rela kalau harus menanggung resiko yang sedemikian besar – dianiaya dan disiksa demi untuk kebenaran. Ironis, orang justru lebih rela menderita sebagai akibat dari perbuatan dosa yang ia lakukan. Orang menganggap wajar kalau ia dihukum karena mendapati dirinya mencuri tapi tidak demikian halnya kalau ia harus menderita karena memproklamasikan kebenaran. Inilah realita dunia berdosa yang membalikkan kebenaran sejati. Orang berdosa tidak sadar kalau hari ini ia mendapat hukuman di dunia atau mungkin ia dapat lolos dari hukuman di dunia akan tetapi tidak demikian halnya pada hari penghakiman; orang berdosa tidak akan lolos dari hukuman Tuhan. Berbeda halnya dengan anak Tuhan, mungkin hari ini kita menderita aniaya namun suatu hari nanti kita akan beroleh kemenangan dan kemuliaan akan diberikan pada kita. Iblis tahu bahwa anak Tuhan nantinya akan beroleh kemenangan itu sehingga dengan segala cara iblis mencoba menghancurkan kebenaran. Seorang anak Tuhan yang sejati harusnya mempunyai jiwa yang rela berkorban demi untuk menyatakan kebenaran – anak Tuhan harus memancarkan terang ke tengah dunia yang gelap.

III. Dalam Kebenaran terkandung Nilai yang Mulia

Dalam kebenaran itu terkandung nilai tertinggi yang seharusnya diberitakan namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa hari ini sedikit sekali orang yang mau memberitakan kebenaran itu? Orang tidak menyadari ada suatu nilai tertinggi di dunia yang harus kita kejar, yaitu keselamatan yang Tuhan berikan pada manusia. Sebab dibandingkan dengan keselamatan kekal maka seluruh harta di dunia ini tidak ada artinya. Apalah artinya kita mendapatkan seluruh dunia tetapi kita kehilangan nyawa, apa yang bisa diberikan ganti sebuah nyawa? Nilai secara instrinsik di dalam diri nilai maupun nilai secara ekstrinsik dari luar nilai harus dikembalikan pada nilai tertinggi,yaitu keselamatan. Betapa bodohnya manusia menukar nilai tertinggi, yaitu keselamatan dengan harta dunia yang tidak bernilai. Janganlah kita melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Esau yang menukar hak kesulungan dengan semangkok kacang merah. Manusia gagal mengerti apa yang menjadi nilai tertinggi yang sepatutnya kita perjuangkan dan menukarnya dengan harta dunia yang tidak bernilai. Sadarlah keselamatan hidup yang kita peroleh itu harganya sangat mahal – seluruh harta di dunia tidak akan dapat membeli keselamatan yang bernilai kekal. Itulah sebabnya kita menjumpai ada orang-orang yang rela menderita aniaya dan siksa demi untuk memberitakan kebenaran; orang tahu apa yang menjadi nilai tertinggi yang ada di dunia. Demi untuk menyelamatkan nyawa manusia berdosa, Kristus harus membayar dengan harga yang mahal – Kristus Anak Allah sendiri datang ke dunia menebus manusia dengan nyawa–Nya sendiri. Berapa harga yang harus kita bayar demi untuk menggantikan nyawa kita? Sadarlah betapa mahalnya diri kita karena darah Kristus telah menebus dosa dan menyelamatkan kita. Ironis demi untuk sebuah makanan kita berani berkata-kata tetapi kenapa demi untuk sebuah nilai terbesar – keselamatan mulut kita terkunci? Berita Injil harus diteriakkan ke seluruh dunia sehingga seluruh dunia mendengar kabar sukacita ini.

IV. Dalam Kebenaran terkandung Tujuan yang Mulia

Tujuan hidup yang paling tinggi haruslah kita kembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Bayangkan apa jadinya hidup seorang atheis yang percaya bahwa hidup manusia itu terjadi secara kebetulan. Bagaimana ia menjalani hari-hari dalam hidupnya? Tujuan hidup bukan kita yang tetapkan karena kalau kita yang menetapkan maka apa yang menjadi standar ukuran kita sukses atau tidak? Dimana legitimasinya? Tuhan telah menetapkan suatu tujuan hidup pada manusia sebab kalau Tuhan tidak mempunyai tujuan untuk apa Ia datang ke dalam dunia dan menyelamatkan manusia? Siapakah kita manusia sehingga Tuhan mau datang menyelamatkan kita? Karya keselamtan yang Tuhan kerjakan itu tidak dikerjakan secara sembarangan. Tidak! Anak Allah sendiri datang berinkarnasi untuk menyelamatkan manusia berdosa dan semua ini dikerjakan karena Tuhan mempunyai satu tujuan mulia. Kita adalah buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan Ia mau supaya kita hidup di dalam-Nya (Ef. 2:8). Proklamasi kemerdekaan bukan sekedar sebuah kemerdekaan tapi harus disertai dengan sasaran yang jelas. Tuhan mempunyai tujuan yang jelas pada setiap kita, Tuhan mempunyai rencana yang indah pada setiap kita dan tujuan itu tidak berakhir di dalam kesementaraan tapi tujuan yang Tuhan tetapkan itu berakhir di kekekalan. Bayangkan bagaimana hidup kita kalau kita tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, kita akan melangkah tanpa tujuan dan akhirnya tersesat.

Tuhan Yesus ke dunia dan Dia telah menjadi teladan sempurna bagi kita. Tuhan Yesus tahu untuk apa Dia datang ke dunia dan Dia menggenapkan semua itu sampai tuntas dan menang. Dunia ini telah kehilangan jalur itulah sebabnya Tuhan ingin kita memproklamasikan kebenaran sehingga membawa dunia kembali kepada jalan yang benar. Maukah kita dipakai oleh Tuhan untuk mewartakan kebenaran yang sejati itu dan memancarkan terang bagi dunia? Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060305.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : CHRISTIANITY & PERSECUTION-2 : THE TRUE EXAMPLE (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Saturday, April 14th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 26 Februari 2006

Christianity & Persecution-2 : The True Example

Nats: Mat. 10:24-25

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Dunia telah jatuh dalam dosa karena itu, setiap manusia yang hidup di tengah dunia ini tidak akan luput dari penderitaan. Namun Kita telah memahami sebelumnya bahwa penderitaan yang dialami oleh anak Tuhan berbeda dengan penderitaan yang dialami oleh dunia. Tuhan telah mengajarkan kepada kita ketika penderitaan itu datang maka hendaklah kita menjadi bijaksana – kita tahu dengan tepat apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu kapan waktu yang tepat bagi kita untuk lari dan kapan waktu yang tepat bagi kita untuk berdiam diri dan pada saat itu kita harus tetap berpaut pada Tuhan yang menjadi kekuatan kita.

Kristus datang ke dunia dengan beban yang berat karena Dia harus mentaati kehendak Bapa–Nya; sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya (Ibr. 5:8). Kristus Tuhan Sang Raja hadir ke dunia untuk menjadi teladan indah bagi kita. Kristus adalah Tuhan atas semesta alam dan Dia berhak menepis semua penderitaan dunia namun Dia lebih memilih menderita. Seluruh hidup Kristus merupakan perjalanan via dolorosa. Memang, perjalanan yang dilewati Kristus penuh dengan tantangan dan penderitaan namun di tengah penderitaan itu, Tuhan memberikan janji-Nya yang indah dan menjadi kekuatan bagi kita, yaitu Dia tidak akan membiarkan penderitaan yang dialami oleh murid lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya (Ibr. 10:24). Untuk itulah Kristus hadir di tengah dunia, yaitu untuk menjadi teladan bagi kita. Tidak ada satu pemimpin agama pun di dunia yang mempunyai kesempurnaan teladan seperti Kristus. Hanya Kristus satu-satunya yang berkata, “Ikutlah teladan-Ku karena Aku sempurna adanya.“ KeKristenan adalah satu-satunya yang mendapat contoh teladan iman yang sempurna dari Tuhan Allah sendiri.

Adam pertama telah gagal, ia jatuh ke dalam dosa sehingga seluruh dunia menjadi kacau balau karena kegagalannya itu dan Kristus, Adam kedua datang ke tengah dunia menjadi teladan sempurna bagi manusia di dunia. Janganlah kita disesatkan oleh akal licik iblis yang selalu memutarbalikkan realita dengan mengatakan bahwa manusia barulah dapat hidup di dunia kalau ia menjadi serupa dengan dunia ini dan tidak mungkin bagi manusia untuk hidup serupa Kristus di dunia ini. Salah! Kristus merupakan teladan sempurna.

Dunia mencoba menawarkan jalan keluar bagi kita untuk keluar dari penderitaan dan keterpurukan namun hati-hati, jalan keluar yang ditawarkan dunia berbeda dengan yang Kristus berikan. Jalan keluar yang dunia tawarkan justru akan membuat kita semakin terpuruk dan menderita, tak terkecuali di dunia modern ini, Kekristenan pun mencoba memberikan jalan keluar namun jalan keluar itu tersebut tidak membuat orang semakin dekat Tuhan sebaliknya justru membawa kita pada kebinasaan. Kristus menegaskan bahwa anak Tuhan itu seperti domba di tengah serigala.Merupakan suatu ajaran salah yang menyatakan bahwa orang Kristen tidak akan menderita. Salah! Pertanyaannya sekarang adalah kebenaran yang mana dan kebenaran siapa yang harus kita teladani?

Realita dunia membukakan bahwa hidup di tengah dunia ini penuh dengan kesulitan dan penderitaan namun dengan segala cara dunia mencoba menipu diri dengan menutup-nutupi realita dengan mengatakan bahwa dunia ini tidaklah buruk – dunia ini justru semakin maju dan berkembang. Tidak! Dalam hal teknologi memang dunia sangat maju namun tidak demikian halnya dengan spiritualitas manusia. Dunia telah jatuh ke dalam dosa maka di dalamnya penuh dengan onak duri; manusia mengalami berbagai bencana dan penderitaan, sakit penyakit, dan lain sebagainya. Manusia menjadi egois dan menjadi serigala bagi sesamanya. Orang yang hidup benar justru dianggap salah. Inilah realita dunia berdosa. Realita dunia berdosa ini seharusnya menyadarkan kita bahwa seorang anak Tuhan pun tidak lepas dari penderitaan. Namun ada satu hal yang menjadi kekuatan dan penghiburan kita bahwa Tuhan tidak akan membiarkan seorang murid lebih dari pada gurunya.

Kristus telah menjadi teladan bagi kita, Dia adalah Guru Agung maka kemanapun Guru melangkah maka di sanalah murid juga turut melangkah. Sesungguhnya Kristus yang adalah Allah atas semesta alam mempunyai hak untuk menepis semua penderitaan di dunia namun Dia justru memilih untuk mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia; Dia dihina, dicaci; Dia mengalami sakit, sedih, lapar dan hidup menderita. Sebagai anak Tuhan kita harus menurut teladan Kristus tetapi pertanyaannya sekarang adalah apakah hidup kita juga akan menjadi susah karena kita mengikut teladan Kristus Guru yang Agung itu? Jawabnya: tidak! Alkitab menegaskan mengikut Kristus justru menjadikan kita kuat menghadapi berbagai tantangan dan kesukaran di tengah dunia. Kristus Sang Guru Agung itu telah memberikan teladan indah pada kita – Dia dari Sorga mulia turun ke dalam dunia ke tempat yang paling rendah namun kemudian Dia dimuliakan di tempat yang tertinggi oleh Bapa-Nya. Inilah kemuliaan yang  Tuhan berikan pada kita.

Jangan pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran kita kalau mengikut Kristus itu kita akan menderita maka lebih baik tidak mengikut Kristus. Salah! Justru pada saat tidak menjadi murid Kristus itulah kita akan lebih menderita dan hidup kita menjadi hancur. Ada seorang berdoa: Tuhan berikanlah kepadaku hati yang bijaksana supaya aku dapat mengerti kehendak-Mu tapi Tuhan, mengapa Engkau justru memberikan masalah yang bertubi-tubi? Ketika aku berdoa: Tuhan berikanlah cinta kasih supaya aku semakin lebih mengasihi-Mu tapi kenapa Tuhan justru memberikan musuh kepadaku? Orang seringkali berharap Tuhan mengabulkan memberikan apa yang menjadi keinginannya tapi Tuhan bukanlah bawahan kita yang dapat kita perintah sesuai keinginan kita. Tidak! Cara Tuhan menjawab doa berbeda justru ketika kita minta bijaksana Tuhan justru memberikan masalah karena Tuhan ingin kita berpaut dan bersandar pada-Nya dalam menyelesaikan setiap persoalan dan pergumulan itu dan itu menjadikan kita lebih bijaksana. Begitu pula dengan cinta kasih, melalui musuh yang Tuhan sediakan itulah Tuhan justru menjadikan kita memiliki cinta kasih sejati seperti yang Kristus teladankan.

Orang seringkali tidak mau melewati suatu proses sebelum mencapai suatu kesuksesan. Demikian pula dengan iman rohani kita, pertumbuhan rohani itu barulah tampak nyata setelah kita mengalami berbagai-bagai kesulitan terlebih dahulu. Disanalah Tuhan mendidik dan melatih kita supaya semakin bertumbuh dan serupa Dia. Ciri seorang yang mempunyai pertumbuhan rohani yang baik adalah dia tidak mudah dijatuhkan oleh angin bahkan badai sekalipun, ia akan tetap berdiri kokoh karena sebelumnya Tuhan telah melatih dia sedemikian rupa. Socrates sangat menyadari akan hal ini bahwa hidup yang tidak teruji itu tidak layak untuk dihidupi, unexamined live unworth living. Seperti sebuah emas, untuk menjadi emas murni maka ia harus melewati api pembakaran terlebih dahulu. Di tengah dunia yang penuh dengan tantangan dan penderitaan ini, Tuhan ingin setiap anak-anak-Nya mempunyai kekuatan daya tahan sehingga kita tidak mudah digoyahkan dan dihancurkan oleh zaman. Tuhan ingin kita mempunyai iman bermental baja dengan demikian goncangan sedahsyat apapun yang datang menyerang tidak mudah menjatuhkan kita. Inilah iman sejati. Perhatikan, iman sejati tidak terjadi secara mendadak tetapi melalui proses, proses dan proses dan semua itu tidak lepas dari pimpinan Tuhan. Ketika kita meniti jalan salib, via dolorosa itulah saat pendewasaan iman.

Sebagai seorang murid Kristus biarlah kita mempunyai kerelaan hati mengikut dalam jalan-Nya, willingness to follow the path. Kristus mengatakan, “Marilah ikutlah jalan-Ku, ikutlah teladan-Ku;“ Tuhan ingin supaya kita memusatkan pandangan kita hanya kepada Kristus Sang Guru Agung; Tuhan ingin kita berjalan dalam jalan-Nya. Betapa indahnya hidup kita ketika kita berjalan bersama Kristus, kita tidak perlu takut melangkahkan kaki meski jalan di depan penuh dengan semak duri karena kita tahu, jalan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan itu telah dilewati  terlebih dahulu oleh Tuhan. Puji Tuhan, kita mempunyai seorang Imam Besar yang telah melewati semua kesulitan dan Dia melewati semua itu dengan sukses maka berbahagialah kita yang ikut di dalam jalan-Nya karena itu menjadi jaminan bagi kita bahwa kita berjalan dan berada dalam jalan yang benar.

Ingat, ketika kita berjalan menurut jalan kita sendiri maka itu menjadi titik awal dari kehancuran kita. Pertanyaannya sekarang relakah kita menanggalkan semua kedagingan dan kenikmatan dunia dan mengikut Kristus? Maukah kita dibentuk dan dipahat oleh Kristus untuk menjadi semakin indah dan semakin serupa Dia? Ketika Tuhan membentuk kita memang, kita akan merasakan sakit akan tetapi buah zaitun mana yang akan menjadi minyak kalau ia tidak ditekan? Buah anggur mana yang tidak diperas akan menjadi arak? Setiap pukulan yang Tuhan berikan pada kita pasti berguna, semua itu demi untuk kebaikan kita, yaitu kita menjadi semakin serupa Kristus.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa penderitaan yang kita alami tidak akan melebihi dari gurunya (Mat. 10:24). Konteks ayat ini adalah penderitaan  namun ayat ini seringkali disalah mengerti dan dipakai oleh orang-orang yang tidak ingin disaingi oleh muridnya. Guru yang baik tidak membatasi aspek yang positif, guru yang baik akan sangat bersukacita kalau muridnya lebih pandai, lebih sukses, lebih segala-galanya dari dirinya dan guru yang baik juga tidak akan membiarkan muridnya mengalami penderitaan yang lebih berat lebih dari pada dirinya. Tuhan tidak membatasi aspek positif seseorang sebab Kristus sendiri menegaskan bahwa kalau Aku sekarang telah mengerjakan pekerjaan besar maka ktia akan mengerjakan pekerjaan yang lebih besar.

Ketika Tuhan mendidik dan melatih kita maka tidak ada pelatihan yang kita lewati itu membuat diri kita hancur. Tuhan tahu sampai dimana batasan kekuatan kita – pada saat kita tidak mampu melewati penderitaan dan kesulitan itu maka tangan Tuhan akan menopang kita. Seperti seorang anak yang sedang belajar berjalan pasti ia akan jatuh tetapi orang tua yang baik akan selalu berada di sisinya dan menjagainya dan ketika si anak berada dalam bahaya maka orang tua yang baik akan menolongnya, ia tidak membiarkannya jatuh tergeletak. Tuhan membentuk iman kita melalui berbagai-bagai penderitaan dan kesulitan dengan demikian kita mempunyai kekuatan iman untuk berdiri di tengah zaman yang bengkok ini. Kita tidak akan mudah digoyahkan oleh godaan dunia. Dan tetaplah percaya pada-Nya: Dia tidak akan membiarkan kita melewati berbagai-bagai kesulitan seorang diri saja sebab pada saat yang tepat tangan-Nya yang perkasa akan menolong kita melewati berbagai kesulitan.

Biarlah kita mengevaluasi diri kita masing-masing bagaimana kita menjalani hidup selama ini? Apakah kita senantiasa berpegang pada pimpinan-Nya atau masihkah kita berjalan menurut jalan kita sendiri? Segeralah minta ampun pada-Nya kalau selama ini mungkin kita telah melenceng jauh dari jalan Tuhan. Maukah mulai hari ini  kita mau bertekad untuk mengikut pada jalan salib yang penuh dengan penderitaan itu tetapi Tuhan berkenan. Dengan demikian kita dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya di tengah-tengah dunia dan segala kemuliaan kita kembalikan hanya bagi Tuhan semata.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060226.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : CHRISTIANITY & PERSECUTION-1 : UNFRIENDLY WORLD (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Friday, April 6th, 2007

Ringkasan Khotbah : 12 Februari 2006

Christianity & Persecution-1 : Unfriendly World

Nats: Mat. 10:23

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Pendahuluan

Bukan kebetulan kalau eksposisi Injil Matius sampai pada tema tentang penganiayaan dan tema ini sangatlah tepat mengingat tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan gejolak dan tantangan; ekonomi, sosial dan politik yang semrawut ini membawa kita masuk dalam berbagai kesulitan dan beban hidup yang semakin berat sehingga orang menjadi teraniaya. Namun topik tentang penganiayaan ini sangatlah tidak disuka oleh orang Kristen. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa manusia tidak suka dengan topik penganiayaan atau penderitaan? Manusia mulai mencari kambing hitam untuk menjadi tempat pelampiasan, membuang kemarahan dan kejengkelan hati dan yang menjadi korban biasanya adalah orang-orang yang dianggap lemah dan terlalu baik. Karena itu, tema ini perlu untuk direnungkan dan menjadi pembelajaran bagi kita supaya kita menjadi lebih bijaksana menyikapi kehidupan yang penuh dengan gejolak. Ada empat aspek yang saling terkait yang perlu kita perhatikan: 1) pembentukan point of view atau sudut pandang, akan membuat kita melihat suatu 2) realita dengan tepat, menghasilkan 3) interpretasi yang akurat dengan demikian kita tidak salah dalam 4) meresponi suatu realita. Demikian halnya dengan penganiayaan, jikalau kita mengerti keempat aspek ini, yakni kita melihat penganiayaan dari sudut pandang yang tepat, kita tidak salah menilai suatu realita dan mengintepretasikannya dengan demikian kita tidak salah meresponi suatu penderitaan.

I. Domba di Tengah Serigala

Ketika Tuhan Yesus memilih murid, Tuhan membukakan pada murid-Nya bahwa menjadi murid Kristus seperti seekor domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Kalau kita mempunyai sudut pandang yang salah maka kita akan berespon salah sehingga muncul pandangan salah, yakni seekor domba yang berada di tengah serigala pasti tidak akan selamat atau dengan kata lain menjadi Kristen itu tidak enak karena banyak tantangan dan penderitaan yang harus dihadapi. Pemikiran ini sangatlah jahat karena sepertinya kita menuduh Kristus telah bersekongkol dengan serigala dan Kristus sengaja memilih kita untuk dijadikan umpan. Pemikiran yang salah! Memang, domba adalah binatang yang lemah tapi orang lupa bahwa domba ini mempunyai gembala, yaitu Tuhan Yesus. Gembala yang agung itu tidak akan membiarkan domba-Nya menjadi santapan empuk bagi serigala. Tuhan tidak mengajarkan orang Kristen menjadi seorang yang kuat yang dapat menghadapi segala tantangan dunia. Tidak! Justru ketika kita merasa diri kuat maka itu menjadi titik kehancuran kita, karena kita memerankan posisi yang seharusnya bukan menjadi posisi kita akibatnya kita gagal melihat realita yang sejati. 

Bukanlah hal yang aneh kalau kita yang adalah domba dimusuhi oleh dunia. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa orang Kristen selalu menjadi korban aniaya? Orang yang berpikiran sempit pasti langsung mengambil suatu keputusan, yakni: tidak akan pernah mau menjadi Kristen. Keputusan yang salah. Penganiayaan itu menjadi sangat istimewa karena dialami oleh orang Kristen sebab di luar Kekristenan, aniaya merupakan hal yang biasa. Gambaran domba di tengah serigala adalah gambaran yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi orang Kristen di tengah dunia. Sebab domba dengan sesama domba hidup dimanapun sangat akur lain halnya dengan serigala meski hidup dengan sesama serigala, ia tidak akan segan-segan berkelahi dan saling membunuh demi untuk mendapatkan makanan. Maka gambaran serigala yang licik dan kejam ini tepat untuk menggambarkan kondisi manusia saat ini – homo homini lupus, manusia menjadi serigala atas sesamanya. Ketika manusia mulai tamak maka ia akan menjadi kejam dan licik seperti serigala, perhatikan, sekejam-kejamnya singa, ia tidak akan pernah memakan anaknya. Di dunia modern ini pun kita akan berhadapan dengan situasi yang mengerikan – satu dengan yang lain akan saling menghancurkan dan saling menganiaya. Dunia kita adalah dunia yang berdosa sehingga aniaya itu menjadi hal yang biasa akan tetapi aniaya menjadi berbeda ketika terjadi di dalam Kekristenan. Orang Kristen sejati pasti akan dimusuhi oleh dunia karena ia berbeda dengan dunia.

II. Penyangkalan Realita

Dunia semakin berdosa, dunia tidak suka jika dibukakan akan realita yang ada, dunia lebih suka menipu diri maka jalan keluarnya adalah  orang meng-indoktrinasi diri bahwa dunia ini semakin maju. Tidak! Realita itu tidak sepenuhnya benar, memang teknologi semakin maju namun kehidupan sosial – moral manusia semakin rusak, sistim ekologi semakin merosot. Sebagian orang menyadari hal ini, mereka menyerukan ke tengah-tengah dunia, declaim of the world dengan demikian diharapkan orang mulai sadar dan mengevaluasi diri. Dunia menawarkan berbagai jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan, yakni bagaimana membuat dunia ini menjadi lebih baik, bagaimana menyejahterakan hidup manusia namun semua itu nihil belaka. Beban hidup manusia justru semakin susah dan berat. Akhirnya sampailah manusia pada suatu titik kejenuhan maka pada awal abad 20, manusia mulai memberontak dan mendobrak konsep rasionalisme yang ada dan pecahlah perang dunia pertama dan kedua. Selesai dengan perang, manusia mulai masuk dalam era postmodern dimana segala hal yang mutlak direlatifkan dan membuang semua konsep tak terkecuali membuang pandangan tentang realita dengan menyerukan slogan: my business is my business, your business is your business and my business is not your business and your business is not my business so let do our own business. Celaka, setiap orang merasa diri hebat dan menganggap interpretasi atau pandangan subyektifnya itu adalah kebenaran. Perhatikan, di hadapan Tuhan kita bukanlah siapa-siapa, kita hanya manusia berdosa yang seharusnya dibinasakan, the dead man karena kita telah melawan Tuhan semesta alam. Ironis, orang menjadi marah ketika ada orang yang membukakan suatu realita kebenaran bahwa dirinya tidak lebih hanyalah manusia bodoh.

Hari ini, orang ramai protes karena salah seorang nabi dilecehkan dengan dibuat kartun. Dan reaksinya sungguh di luar dugaan ternyata apa yang digambarkan dalam karikatur tersebut dilakukan oleh para pengikutnya. Inilah gambaran dunia berdosa, dunia marah ketika dibukakan suatu realita dan hal ini justru semakin membuktikan kebenaran realita tersebut. Sebagai seorang anak Tuhan yang sejati janganlah mudah terpancing dengan akal licik iblis, kita harus melihat suatu peristiwa secara bijaksana dengan demikian kita tidak masuk dalam jebakan iblis. Kalau suatu hari nanti orang berbuat hal yang sama pada kita maka janganlah kita menjadi marah dan berbuat anarkis sebab realitanya kita hanyalah domba di tengah-tengah serigala. Kita seharusnya berbelas kasihan dan menyadarkan supaya mereka meminta ampunan pada Tuhan dan bertobat. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Perkasa, Dialah pemilik alam semesta maka siapakah manusia sehingga mau membela Tuhan? Adalah perbuatan konyol, seorang anak kecil membela ayahnya ketika ayahnya itu mendapat ancaman dari seorang anak kecil lain. Kalau si ayah ini mau bukankah si ayah ini dapat membela dirinya sendiri karena ia lebih kuat? Disini jelaslah bahwa point of view ini sangat mempengaruhi penilaian kita melihat suatu realita dan menentukan respon kita.

Ada beberapa alasan yang menjadi penyebab manusia tidak suka realita sesungguhnya, yaitu: 1) Manusia tidak mau kekurangan dirinya terbuka di depan umum – orang yang membukakan akan realita ini, ia akan dianggap sebagai musuh. Sebagai anak Tuhan sejati, Tuhan ingin supaya kita menjadi pembawa berita – membongkar semua kebohongan yang ada dan untuk hal ini kita harus siap dimusuhi oleh dunia, 2) Esensi dosa membuat manusia tidak suka dengan kebenaran. Sejak kejatuhan, kebenaran itu selalu diputarbalikkan maka kalau ada orang yang hidup benar, orang justru melihat hal itu sebagai ketidakwajaran. Ironis, bukan? Jangan pikir hidup kita akan menjadi lebih nikmat kalau kita hidup dalam dosa. Tidak! Iblis tidak akan pernah menolong manusia ketika manusia berada dalam kesusahan apalagi kalau tidak ada suatu keuntungan dalam diri manusia yang dapat ditarik oleh iblis maka iblis tidak akan pernah menyelamatkan kita. Inilah cara kerja setan. Betapa bodohnya manusia yang berpikir bahwa hidup lebih nikmat kalau tidak menjadi Kristen. Salah! Lepas dari perlindungan Tuhan justru akan membuat hidup kita sengsara di dunia dan di kekekalan nanti.

III. Menghadapi Penganiayaan

Setiap manusia di dunia entah miskin atau kaya, buruk atau cantik pasti tidak akan lepas dari kesulitan. Orang Kristen akan dianiaya namun jangan pikir kalau kita bukan Kristen kita tidak dianiaya. Salah! Sebagai orang Kristen kita memang akan menghadapi aniaya namun kita mempunyai Gembala Agung yang tidak akan membiarkan kita menjadi sasaran empuk serigala. Tuhan meneladankan hal indah ketika menghadapi bahaya dan tantangan, yakni: 

Pertama, lari. Tuhan tidak mengajar kita untuk menantang semua tantangan sehingga kita mati konyol. Jadi, menghindar dari bahaya itu bukanlah suatu kesalahan dan bukan suatu kewajiban bagi orang Kristen untuk mengorbankan diri. Dalam beberapa peristiwa, Tuhan Yesus pun ketika berada dalam posisi sulit dan terjepit, Tuhan Yesus menghilang. Menghilang disini tidak mesti harus dilakukan secara supranatural. Para Rasul seperti Rasul Petrus, Rasul Paulus juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kristus, yaitu menghidar dari penganiayaan. Dalam doa “Bapa Kami“ diajarkan: …jauhkanlah kami dari pencobaan; Tuhan tidak mengajar kita menjadi seorang yang sok dengan menantang segala kesulitan. Menghindari kesulitan bukan berarti kalah dan lemah. Tidak! Perhatikan, mengalah bukan berarti kalah dan menghindar bukan berarti takut. Kita boleh lari dari satu kota ke kota lain tapi satu hal yang perlu kita camkan, yakni:

Kedua, berpaut pada Tuhan. Celakalah hidup kita kalau kita lari dari dunia dan lari dari Tuhan – kita akan binasa – binasa di dunia sekaligus di kekekalan. Yang menjadi pertanyaan ketika lari, kita lari demi siapa. Betulkah hal ini merupakan pimpinan Tuhan ataukah hanya demi egoisme manusia? Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika kita lari, menghindar dari bahaya, yakni: 1) integritas tidak boleh berubah, dalam pelariannya Tuhan Yesus tetap menjalankan tugas dan panggilan-Nya; 2) Tuhan Yesus lari itu bukan karena Tuhan egois – dengan lari, Dia merasa diuntungkan. Tidak! Tuhan Yesus pergi bukan karena Ia takut celaka. Tidak! Terbukti, ketika Dia pergi, Tuhan Yesus tidak tetap Tuhan yang berkuasa. Demikian juga halnya dengan Paulus, ketika dia pergi meninggalkan satu kota dan pergi ke kota lain maka tidak ada satu pun orang yang mengatakan bahwa dia pergi karena dia tidak bermoral. Tidak! Kita boleh pergi kemanapun tapi satu hal yang kita ingat dan perhatikan, jangan lepas dari Tuhan;

Ketiga, ada waktunya untuk tidak lari. Setiap manusia mempunyai kadar kemampuan menanggung suatu penderitaan yang berbeda. Jadi, tidak mungkin setiap manusia akan mengalami penganiayaan yang sama dan seberat seperti yang dialami oleh para rasul dan para martir lain. Dan satu hal yang perlu kita perhatikan, yaitu bila tiba waktu-Nya maka kita tidak boleh lari. Tuhan Yesus sendiri datang ke Yerusalem menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Paulus, dia mengikuti teladan Kristus, sebelum tiba waktu bagi Paulus maka ia akan pergi menghindar dari penganiayaan akan tetapi kalau waktu itu sudah tiba meski Agapus telah memperingatkannya, Paulus tetap pergi ke Yerusalem. Inilah jiwa seorang gentleman yang harus ada dalam diri seorang Kristen sejati. 

Dikisahkan ada seorang kaisar kejam bernama  Kaisar Nero, dia sangat membenci orang Kristen. Kaisar Nero sangat suka melihat api maka ia menjadikan orang-orang Kristen itu sebagai obor hidup. Petrus pun pergi menghindar dari aniaya ini namun di tengah perjalanan ia berpas-pasan dengan seseorang dan bertanya, “Qua Vadis dominee?“ yang artinya: “Mau kemana, Pak Pendeta?“ Pertanyaan ini mengingatkannya akan pertanyaan Tuhan Yesus yang pernah dilontarkan padanya dahulu maka hari itu ia disadarkan bahwa saat ini bukanlah waktu baginya untuk lari maka hari itu Petrus dihukum mati – disalib dengan posisi terbalik.

Bila tiba waktunya bagi anak Tuhan untuk menghadapi aniaya maka kita harus hadapi, jangan menghindar dan jangan takut, kita harus hadapi penderitaan aniaya itu karena kita tahu, kematian itu tidak dapat dihindarkan – cepat atau lambat kita pasti akan mati. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memakai kita untuk berkorban demi nama-Nya. Kita akan mendapatkan sukacita sorga karena kita bertemu dengan Dia. Orang yang lari dari penderitaan karena alasan Alkitab yang mengajarkan maka itu menjadi suatu tanda tanya besar, benarkah ia anak Tuhan yang sejati? Sadarlah, hari itu mungkin kita dapat menghindari kematian tapi itu sifatnya sementara karena kita toh pasti akan mati. Biarlah perenungan ini menjadikan kita semakin mengerti bagaimana melihat suatu penganiayaan dan menghadapi penganiayaan itu.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber : http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060212.htm