Archive for May, 2007

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SESBAGAI PUSAT HIDUP-2 : REVITALISASI HIDUP (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, May 27th, 2007

Eksposisi Injil Matius 11

Ringkasan Khotbah : 21 Mei 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (2): Revitalisasi Hidup

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:5-6

Pendahuluan

Firman Tuhan membukakan realita kebenaran bahwa setiap anak Tuhan sejati yang hidup dalam kebenaran akan mengalami aniaya dan tantangan ketika hidup di tengah-tengah dunia berdosa namun Puji Tuhan, kita mempunyai Sang Gembala Agung yang tak membiarkan kita berjalan sendiri. Di saat yang tepat, Dia datang menolong kita. Kristen sejati adalah orang yang mampu mengatasi berbagai kesulitan. Namun ingat, kemampuan itu bukan datang diri sendiri. Kita harus hidup berpusat pada Kristus maka Dia akan memberikan kekuatan dan memampukan kita mengatasi kesulitan yang datang. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-Mu. Pikullah kuk yang Kupasang…sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan“ (Mat. 11:28-30).

Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang sudah mempunyai suatu kepercayaan untuk berubah dan berbalik arah. Realita ini sangat dipahami oleh Yohanes Pembaptis, karena itulah satu-satunya cara adalah mempertemukan para muridnya dengan Kristus, encountering. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi misi Yohanes maka Tuhan Yesus meminta mereka untuk: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat…“ (Mat. 11:4-6). Artinya para murid harus menyaksikan segala pekerjaan Yesus dengan mata kepala mereka sendiri, mereka harus mempunyai pengalaman iman dan dari sana, mereka dapat menyimpukan bahwa Kritus adalah Mesias; Dia yang Diurapi itu adalah Allah yang datang berinkarnasi ke dunia, Kristus adalah Nabi, Kristus adalah Imam, Kristus adalah Raja. Tuhan Yesus juga ingin ketika kita memutuskan hendak beriman pada Dia maka itu disebabkan karena kita telah bertemu secara pribadi dengan Dia dan bukan berasal dari perkataan orang.

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang dimaksud dengan pertemuan, encountering disini, bukankah murid-murid Yohanes Pembaptis ini pernah bertemu dengan Tuhan Yesus? Jelaslah, pertemuan ini bukanlah sekedar pertemuan biasa. Dalam pertemuan itu, Tuhan memaparkan enam hal: 1) orang buta melihat, 2) orang lumpuh berjalan, 3) orang kusta menjadi tahir, 4) orang tuli mendengar, 5) orang mati dibangkitkan, 6) orang miskin diberitakan kabar baik. Sepintas, orang menganggap apa yang dikatakan Yesus ini adalah hal yang biasa menyangkut pekerjaan-Nya. Ternyata tidaklah demikian, keenam urutan tersebut tidak dapat dibolak balik. Enam aspek tersebut sifatnya progresif – setahap demi setahap membawa orang sampai pada pengenalan akan Kristus. Yang menjadi pertanyaan adalah apa kaitan antara keenam hal di atas dengan Yesus sebagai Mesias? Perhatikan, ayat ini bukan berbicara tentang orang yang disembuhkan. Mujizat bukan ditujukan untuk orang. Tidak! Tujuan Tuhan melakukan mujizat supaya orang melihat dan mengenal Kristus. Hari ini, orang melihat mujizat di batas fenomena, orang ingin mendapatkan “sesuatu,“ yakni keuntungan diri ketika ia mengikut Kristus. Pemikiran ini sudah ada sejak dulu pada orang Yahudi, yakni orang yang mengaku diri sebagai “orang beragama“ ternyata orientasi religiusnya berpusat pada diri. Konsep yang sama juga ada dalam pemikiran murid Yohanes Pembaptis tak terkecuali murid Tuhan Yesus. Menjelang kematian Tuhan Yesus, para murid masih berebut kedudukan, masing-masing dari mereka ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus.

Diantara sekian banyak orang Yahudi, seharusnya para murid Yohaneslah yang paling memahami kalau Kristus adalah Mesias. Yohanes Pembaptis diperkirakan mendidik muridnya secara intensif kurang lebih selama 6 bulan. Yohanes pasti berulang kali menegaskan bahwa dia bukan Mesias, dia hanyalah seorang pembuka jalan bagi Sang Mesias dan Mesias yang sejati akan datang. Maka semua hal yang terjadi ketika Tuhan Yesus dibaptis dan semua perkataan Yohanes yang menyatakan bahwa ia tidak layak membaptis Yesus bahkan membuka tali kasutnya ia tidak layak, semua itu tidak lepas dari perhatian mereka. Alkitab mencatat, Yohanes meski ada dalam penjara, ia tahu semua hal yang dikerjakan oleh Yesus dan semua informasi itu ia dapatkan dari para muridnya.  Memang, mereka belum sepenuhnya memahami pribadi Kristus namun secara tidak langsung, Yohanes mengajak mereka untuk peduli akan satu pribadi Yesus Kristus. Tapi toh, sekalipun mereka menyaksikan semua perbuatan Yesus itu tidak langsung berubah konsep berpikir yang materialis dan humanis. Hari itu, banyak orang yang melihat pekerjaan Yesus bahkan mereka mempunyai pengalaman disembuhkan, mereka termasuk salah seorang dari 5000 orang yang diberi makan dengan 5 roti 2 ikan namun toh semua itu tidak mengubah konsep berpikir mereka. Orang hanya mau mujizat saja tetapi mereka tidak mengerti apa yang menjadi tujuan dari mujizat itu. Tuhan tahu apa yang dalam pemikiran mereka, itulah sebabnya Tuhan menegur dengan keras bahwa mereka mengikut Kristus bukan karena mereka mengerti tanda tapi karena mereka makan dan kenyang. Orang hanya mencari kenikmatan diri semata. Biarlah kita mengevaluasi diri, kita termasuk golongan orang yang hanya mencari kenikmatan diri ataukah kita seorang anak Tuhan sejati?

Di antara berjuta manusia di dunia, orang Kristenlah yang seharusnya paling mengenal Kristus Yesus karena tiap-tiap kali mereka mendengar tentang Firman tapi sayang, orang mengenal hanya secara pengetahuan, knowledge; orang belum pernah bertemu, encountering tak dengan Kristus. Sama halnya dengan orang Yahudi yang hidup sejaman dengan Kristus, mereka mendapat anugerah dengan mereka melihat dan mempunyai pengalaman bersama Kristus namun hal itu tidak menjadikan mereka seorang murid sejati. Perhatikan, iman Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari Kristus. Kristus adalah pusat iman Kristen. Seorang Kristen sejati harus memusatkan hidup pada Kristus dan untuk lebih memahami hal ini kita akan merenungkan kebenaran Firman yang membukakan beberapa aspek:

1. Orang buta melihat

Mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan ini menjadi tanda utama dalam iman Kekristenan. Perhatikan, buta di sini bukan sekedar fisik. Pertanyaan penting adalah ketika orang melihat, apa yang dilihat dan bagaimana melihat? Banyak orang berpikir kalau mujizat buta-melihat ini layaknya seperti sebuah mujizat duniawi, yakni celiknya ia dari kebutaan justru semakin membawa orang masuk ke dalam jerat dosa. Tidak! Mujizat sorgawi berbeda dengan mujizat duniawi. Celik dari kebutaan seharusnya membuat orang melihat akan kebenaran; orang menjadi sadar kalau dirinya adalah orang berdosa. Perhatikan, pertama kali Tuhan Yesus hendak mempertobatkan Paulus, Tuhan membutakan mata Paulus terlebih dahulu. Sebelumnya, Paulus dapat melihat namun dia buta. Paulus dapat melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus; Paulus juga melihat semua peristiwa penyaliban Tuhan Yesus; Paulus juga hadir ketika Stefanus dirajam. Secara fisik, mata Paulus tidak buta namun secara rohani, ia buta. Sampai suatu waktu dimana Tuhan membutakan mata Paulus barulah saat itu, mata hatinya menjadi celik. Kebutaan justru membuatnya dapat melihat kebenaran, Paulus mengenal Kristus yang sejati. Inilah mujizat sejati. Merupakan suatu kegagalan fatal kalau orang tidak dapat melihat iman dibalik suatu mujizat, orang seringkali hanya melihat hal-hal duniawi. Sungguh amatlah disayangkan, apa yang seharusnya kita lihat namun kita tidak melihat sebaliknya apa yang tidak boleh kita lihat justru itu yang kita lihat. Inilah dunia berdosa. Biarlah kita mengevaluasi diri, hari ini kita dapat melihat namun sudahkah kita “melihat“? Sudahkah kita mengalami mujizat sejati?

Melalui mujizat orang buta melihat ini, Tuhan Yesus ingin supaya murid Yohanes Pembaptis juga melihat dalam arti “melihat sejati.“ Para murid Yohanes ini melihat semua pekerjaan Yesus bahkan ada diantara mereka yang mempunyai pengalaman bersama Yesus namun mereka buta, mereka tidak melihat bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus adalah Allah yang sedang berinkarnasi ke dunia, Yesus adalah Raja atas segala raja. Bagaimana dengan kita, sudahkah mata rohani kita dicelikkan? Mata rohani yang buta akan membuat hidup kita menjadi gelap. Merupakan suatu anugerah bagi murid Yohanes sebab diantara berjuta orang Yahudi yang hidup sejaman dengan Tuhan Yesus, merekalah yang mendapat kesempatan lebih untuk mengerti tentang siapakah Kristus. Namun untuk dapat melihat Kristus adalah Mesias tetap dibutuhkan anugerah. Tanpa anugerah orang tetap buta meski secara fisik, ia melihat. Begitu juga dengan kita hari ini, diantara beribu manusia, kita yang paling banyak mendapat kesempatan bergereja, kita dapat membaca kebenaran Firman, kita tahu banyak hal tentang Tuhan Yesus namun pertanyaannya adalah apakah semua anugerah yang kita terima ini telah membukakan mata rohani kita? Kita menjadi semakin mengenal Kristus dan kebenaran-Nya dan kita hidup dalam kebenaran.

2. Orang Lumpuh Berjalan

Perhatikan, orang lumpuh yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus disini adalah orang yang lumpuh sejak lahir. Mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan merupakan mujizat yang merevitalisasi. Dikatakan demikian karena buta dan lumpuh ini membuat orang sulit melakukan berbagai aktivitas. Kebutaan membuat orang tidak dapat melihat apa yang ada di sekelilingnya, orang kehilangan orientasi. Namun penglihatan itu sia-sia kalau orang tidak dapat berjalan. Maka mujizat kedua yang Tuhan inginkan adalah lumpuh-berjalan dengan demikian setelah kita mengerti kebenaran, kita dapat menjalankan kebenaran itu.

Seperti kita ketahui, struktur tulang orang yang lumpuh sejak lahir pasti mengalami deformasi. Jangankan untuk menopang tubuhnya, untuk bangun dari tilam saja sudah sulit baginya. Namun orang lumpuh ini pasti masih mempunyai pengharapan untuk sembuh. Setiap kali air kolam bergoncang, ia kalah cepat dengan orang lain yang mungkin sakitnya tidak terlalu parah yang hari itu juga berada di tepi kolam. Bayangkan, setelah berpuluh-puluh tahun masa penantian yang panjang itu pastilah ia mulai kehilangan pengharapan untuk sembuh. Di tengah keputusasaan itu, Tuhan Yesus datang dan bertanya: “Maukah engkau sembuh?“ Kalau kita mengandalkan kekuatan manusia maka mustahil orang lumpuh ini dapat berjalan. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk lemah, we are nothing. Di satu sisi, terkadang Tuhan memang sengaja membiarkan kita berjalan sendiri sampai kita menyadari kalau kita bukanlah siapa-siapa maka saat itu, Tuhan bekerja. Kita tidak akan pernah mengalami mujizat kalau kita belum pernah bertemu dengan Tuhan. Orang tidak akan mengalami suatu perubahan dalam konsep kalau ia tidak memandang pada Tuhan.

Mujizat orang lumpuh yang berjalan ini bukan hanya sekedar kesembuhan secara fisik. Mujizat ini merupakan kebangkitan, penerobosan iman, revitalisasi. Adalah benar merupakan suatu mujizat kalau kita menyadari akan dosa, kita mau bertobat, kembali pada Kristus dan hidup dalam kebenaran. Mujizat ini tidak cukup sampai disana, setelah kita melihat kebenaran dan memandang pada Kristus, kini, saatnya untuk bangun dan bangkit dari kelumpuhan untuk kerja dan hidup bagi Kristus. Hari ini, banyak orang Kristen yang ingin hidup menjalankan apa yang menjadi kehendak Bapa namun sekali lagi, semua itu hanya sebatas keinginan belaka sebab orang tidak mampu menjalankannya karena orang telah dicengkeram dosa sehingga menjadi lumpuh. Orang hanya punya keinginan tapi ia tidak pernah direvitalisasi karena orang belum pernah bertemu Kristus sehingga ia belum dibangunkan dari kelumpuhan. Tuhan ingin kita bangkit dari kelumpuhan.

Iman Kristen bukanlah iman yang lumpuh tetapi iman Kristen haruslah kembali kepada Kristus. Jikalau engkau tawar hati pada masa kesesakan maka kecillah kekuatanmu (Ams. 24:10). Orang Kristen harus berjiwa kuat, tidak mudah berputus asa ketika kesulitan datang. Letak kekuatan itu justru ketika kita menghadapi berbagai kesulitan dan kita menang atas kesulitan itu. Orang yang dalam hidupnya serba nyaman, segala sesuatu diproteksi maka dapatlah dibayangkan ketika kesulitan datang, ia tidak mempunyai daya kekuatan, hidupnya lumpuh. Kita harus melewati beberapa ujian terlebih dahulu barulah kemudian kita dinyatakan naik kelas. Orang yang berhasil melewati berbagai kesulitan akan sangat mudah  ketika ia menghadapi kerikil kecil yang menghadang. Hari ini banyak orang Kristen berjiwa kerdil, hanya ingin hidup nyaman dan aman. Bertobatlah, Tuhan ingin orang Kristen untuk bangkit, bangun dari kelumpuhan dan bekerja bagi Dia. Jangan pernah meminta pekerjaan yang sesuai dengan kekuatanmu tapi mintalah kekuatan Tuhan mohon supaya menolong dan memampukan kita untuk menanggung beban yang berat dan menggenapkan rencana-Nya.

Mujizat buta-melihat dan lumpuh-berjalan merupakan kunci revitalisasi iman Kekristenan dan menjadi kekuatan melangkah menghadapi dunia dan segala tantangannya. Biarlah kita merefleksi diri sudahkah kita hidup dalam mujizat sejati sehingga ketika kita memandang pada Kristus, kita melihat kebenaran sejati dan kitapun dibangunkan untuk bekerja menjalankan kehendak-Nya. Biarlah di tengah-tengah dunia yang gelap dan dunia yang lumpuh akibat dosa yang mencengkeram, dunia yang telah rusak moral ini, kita dipakai menjadi saksi-Nya. Adalah tugas kita sebagai orang Kristen menjadi terang di tengah dunia yang gelap dan kita harus pergi mewartakan berita kebenaran sejati di tengah jaman yang sudah kehilangan fokus hidup. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060521.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SESBAGAI PUSAT HIDUP-1 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, May 20th, 2007

Eksposisi Injil Matius 11

Ringkasan Khotbah : 07 Mei 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (1)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:1-6

Pendahuluan

Matius 11:1 merupakan ayat jembatan maka ayat ini dapat diletakkan di pasal 10 atau pasal 11. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) meletakkannya di pasal 10 tapi Alkitab versi Inggris meletakkan di pasal 11. Namun secara keseluruhan tema dari Matius pasal 11 ini merupakan kelanjutan dari pasal 10 yang telah kita renungkan sebelumnya, yakni seorang pengikut Kristus itu seperti domba di tengah serigala. Perhatikan, Tuhan tidak pernah janji akan memberikan hidup aman, nyaman, tidak ada beban dan kesulitan pada para pengikut-Nya. Tidak! Namun demikian ketika kita menjadi murid Kristus bukan berarti kita akan selalu mengalami kesulitan dan aniaya. Tidak! Atau sebaliknya, menjadi pengikut Kristus, hidup kita selalu aman dan nyaman. Tidak! Melalui Injil Matius 11 ini, Tuhan ingin supaya kita memutar fokus hidup kita pada Kristus, melihat Kristus sebagai Raja maka disitu kita akan mendapat kekuatan dari Tuhan sehingga kita dapat menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan.

Dalam menafsirkan ayat harus dikaitkan dengan keseluruhan konteks dengan demikian kita tidak menjadi sesat. Mat. 11:1 jika diletakkan di pasal ke-10 maka orang hanya melihat Kristus sebatas pekerjaan-Nya saja, the work of Christ, yakni sebagai pengajar dan pemberita Injil. Orang terjebak dalam suatu rumusan belaka; orang hanya melihat dan memperdebatkan pengajaran atau doktrin yang diajarkan Kristus dan yang terpenting, yaitu pribadi Kristus justru dihilangkan dari ajaran-Nya. Iman Kristen bukan sekedar ritual atau praktek keagamaan tetapi iman Kristen adalah pribadi Kristus sekaligus semua pengajaran-Nya. Mat. 11:1 lebih tepat jika diletakkan di pasal 11. Dalam bagian ini pengajaran Kristus bukan disoroti ke pengajaran-Nya tetapi dari pekerjaan Kristus, Yohanes mengajak para murid untuk melihat kepada pribadi Kristus. Ketika Tuhan Yesus mengajar dari satu kota ke kota lain maka pada saat itu, Yohanes Pembaptis yang berada dalam penjara mengikuti semua yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Yohanes Pembaptis menyuruh para murid untuk bertanya pada Kristus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah  kami menantikan orang lain?“ Atau dengan kata lain Yohanes Pembaptis ingin para muridnya menanyakan pada Yesus, apakah Yesus seorang Mesias atau bukan? Pertanyaan Yohanes Pembaptis merupakan pertanyaan Mesianis. Hal ini sangat penting untuk kita pahami, yakni ajaran tidak boleh dilepaskan dari pribadi Kristus.

Di dunia tidak ada satu pun manusia yang sempurna termasuk para pendiri agama. Setiap manusia pasti mempunyai banyak kelemahan karena manusia telah berdosa maka manusia berdosa tidak dapat dijadikan teladan sempurna. Karena itulah, para tokoh pendiri agama lebih menekankan pada pengajarannya, bukan pribadinya bahkan mereka sendiri pun bertanya-tanya apakah mereka juga diselamatkan. Dan kalau para tokoh agama ini mau jujur, sesungguhnya ajaran mereka itupun mempunyai banyak kelemahan  jika dibandingkan dengan kebenaran asasi yang menyangkut unsur kekekalan, universal, integritas dan moral. Ajaran dan pribadi Kristus tidak saling bertentangan, Kristus menjadi teladan sempurna dari seluruh ajaran yang Dia sendiri ajarkan. Kristus adalah Sang Kebenaran sejati, Akulah jalan, kebenaran dan hidup…(Yoh. 14:6) jadi, ajaran-Nya bukan sekedar teori tetapi kebenaran. Iman Kristen harus kembali pada Kristus, Raja atas segala raja sebagai pusat hidup dan warga Kerajaan Sorga, kita harus taat pada Sang Raja.

Yohanes Pembaptis meminta pada muridnya untuk menanyakan kepada Kristus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?“ Sepintas pertanyaan ini adalah pertanyaan biasa. Akan tetapi kalau kita yang mendapat pertanyaan seperti yang diajukan oleh Yohanes Pembaptis maka apakah jawabmu? Apakah kita akan menjawab: Ya, Yesus adalah Mesias ataukah kita akan menjawab: tidak, Dia bukan Mesias. Jawaban ini menuntut pertanggung jawaban total dari kita sebab dari jawaban kita dapatlah diketahui sampai sebatas manakah kita memahami iman Kristen. Pertanyaan sekarang adalah kenapa pertanyaan ini diajukan oleh Yohanes Pembaptis? Beberapa penafsiran menyatakan:

Pertama, Yohanes Pembaptis mengalami keragu-raguan dan kemungkinan juga, umurnya tidak panjang lagi sehingga ia butuh suatu kepastian tentang Mesias. Kalau kita melihat hanya sebatas satu ayat itu saja tanpa memperhatikan keseluruhan konteks maka penafsiran ini sangatlah logis. Inilah akibatnya kalau kita sembarang menafsir ayat. Sesungguhnya, Yohanes Pembaptis tahu persis kalau Kristus adalah Mesias. Yohanes Pembaptis bertemu Yesus bukan pada suatu waktu atau tempat yang tidak biasa. Tidak! Pertemuan antara Yesus dan Yohanes ini terjadi sangat wajar. Hari itu, seperti biasa Yohanes Pembaptis membaptiskan banyak orang lalu muncullah Seorang yang sangat sederhana, anak seorang tukang kayu atau dapat dikatakan “seorang gembel“ datang di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu dan minta dibaptiskan. Berbeda halnya kalau yang datang hari itu adalah raja Herodes, datang dengan kereta kudanya yang megah dan dikawal dengan pasukan berjumlah banyak pastilah semua orang dapat mengenali dia sebagai orang penting.

Kedatangan Tuhan Yesus hari itu tidaklah demikian, semua terjadi seperti biasa, tidak ada tanda-tanda kebesaran apapun; Dia datang dengan pakaian sederhana, berjalan kaki dan seorang diri namun Yohanes Pembaptis  langsung mengenal Dia sebagai Mesias. Ketika Tuhan Yesus meminta dibaptis olehnya, Yohanes Pembaptis langsung mencegah Dia dan berkata: “Akulah yang perlu dibaptiskan oleh-Mu….“ Tidak hanya itu, untuk membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Sejak awal, sebagai seorang nabi, Yohanes Pembaptis sudah tahu kalau Kristus adalah Mesias dan ia yang menjadi pembuka jalan, forerider. Bahkan tidak hanya di situ saja, Allah dari sorga langsung mengkonfirmasi: “Inilah Anak yang Ku-kasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.“ Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi pada siapapun juga ketika orang lain dibaptis. Jadi, penafsiran yang menyatakan Yohanes Pembaptis meragukan pribadi Kristus itu kurang tepat.

Kedua, Yohanes Pembaptis mengalami penganiayaan yang sangat berat di penjara maka kemungkinan pikirannya sedikit terganggu sehingga dia perlu mempertanyakan kembali pernyataannya. Yohanes Pembaptis hidup di jaman kepemimpinan Raja Herodes yang sangat kejam, ia tidak segan-segan untuk membunuh orang yang melawan dia atau orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Hari itu, kalau dia dapat menjadi Raja Yahudi itupun didapatkan dengan cara licik karena seharusnya dia tidak berhak untuk menjadi raja atas orang Yahudi sebab dia bukan orang Yahudi asli. Tidak hanya kelakuannya saja yang bejat, moralnya pun sangat rusak dan hal inilah yang dikritik keras oleh Yohanes Pembaptis. Maka wajarlah kalau kemudian muncul penafsiran yang menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis dianiaya dengan sangat berat karena sikap Yohanes Pembaptis yang selalu melawan Herodes. Penganiayaan yang berat tersebut mengakibatkan dia mengalami gangguan kejiwaan. Konklusi ini memang logis tapi itu bukan menjadi jawaban Alkitab. Orang dapat memaparkan kondisi sedemikian rupa namun hal itu tidak dapat kita jadikan sebagai kesimpulan. Kalau kita mau menelusur dengan teliti maka kita menjumpai Herodes yang sangat sedih ketika anak perempuannya meminta kepala Yohanes Pembaptis tetapi karena ia telah bersumpah maka ia pun menuruti apa yang menjadi permintaan dari anaknya tersebut (Mat. 14). Herodes sangat takut ketika ia harus menjalankan eksekusi tersebut, karena Herodes tahu, Yohanes Pembaptis bukan orang biasa, ia mempunyai ribuan pengikut. Dari sini, kita tahu sekarang kalau Herodes tidak akan berani menyentuh Yohanes Pembaptis. Dari Alkitab kita tahu, meski Yohanes di penjara, ia masih dapat bercakap-cakap dengan para murid-muridnya, ia dapat mengikuti seluruh apa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus, ia masih dapat mengajar dengan demikian hubungannya dengan murid-muridnya dapat terjaga dengan baik. Jadi, penafsiran kedua kurang tepat.

Ketiga, para Reformator menafsirkan kalau pertanyaan yang diajukan oleh Yohanes Pembaptis ini bukan untuk dirinya tetapi ditujukan untuk para muridnya, yaitu supaya para muridnya itu mendapat pernyataan langsung dari Kristus kalau Yesus adalah Mesias.

Ada tiga aspek yang Yohanes Pembaptis ingin para murid berubah:

1. Ke-Mesias-an Kristus. Yohanes Pembaptis menyuruh para murid untuk menyampaikan pertanyaan pada Kristus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?“ Pertanyaan ini membuat para murid harus bertemu langsung dengan Tuhan Yesus dan mereka mendapat jawaban langsung dari Tuhan Yesus tentang siapa diri-Nya yang sesungguhnya – Kristus adalah Mesias. Memang, tidak salah kalau kita “mengidolakan“ seseorang karena kita merasa dia telah berjasa dalam membangun iman tetapi merupakan suatu kesalahan fatal kalau iman berhenti pada batas manusia yang kita hormati tersebut sebab kalau orang yang kita hormati itu meninggal maka iman kitapun ikut mati. Yohanes Pembaptis menyadari akan gejala ini maka ia ingin supaya murid-murid-Nya mendengar dan memperoleh pernyataan langsung dari Kristus. Yohanes juga ingin supaya para muridnya memutar fokus imannya kepada Mesias yang sejati dan bukan pada dirinya. Biarlah iman kita tidak berhenti pada pribadi satu orang saja dan biarlah iman kita tidak berhenti di batas pengalaman-pengalaman tertentu tapi hendaklah Kristus yang menjadi pusat hidup kita dan hanya kepada-Nya saja, Raja di atas segala raja itu kita harus taat.

2. Tanda Kristus. Dari peristiwa ini kita melihat ada percakapan secara tidak langsung antara Tuhan Yesus dengan Yohanes Pembaptis dimana sebagai perantara media adalah murid-murid Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus ingin membangun iman para murid Yohanes ini maka Yesus menjawab: “Pergi dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat:…(Yoh. 11:4-6). Artinya para murid telah melihat dan mendengar tentang semua hal yang dilakukan oleh Tuhan Yesus seperti: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin mendapat kabar baik maka dari sana mereka dapat menarik sebuah kesimpulan dan kesimpulan itulah yang harus mereka laporkan kepada Yohanes. Inilah iman, yaitu mereka mengalami sendiri dan membuktikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Kristus Yesus adalah Mesias. Namun sangatlah disayangkan, hari ini ayat 5 ditafsirkan dengan sembrono karena orang melepaskan dari konteks keseluruhan. Orang menafsirkan kalau menjadi pengikut Kristus maka segala sakit penyakit akan disembuhkan. Penafsiran yang salah! Berhati-hatilah pada akhir jaman, banyak orang yang mengaku sebagai mesias. Pertanyaan yang diajukan Yohanes adalah dalam konteks mempertanyakan tentang siapa Kristus. Tanda diberikan supaya orang mengenal bahwa Kristus adalah Mesias namun orang tidak mengerti tanda tetapi orang mengikut Yesus karena mereka kenyang (Yoh. 6:25-29). Maka tidaklah heran setelah orang mengalami pengalaman iman yang spektakuler, mereka justru terjebak ke dalam pengalaman itu dan lupa kalau ada Kristus yang bekerja dibalik mujizat itu.

3. Pusat Iman. Setelah murid-murid Yohanes pergi, Kristus membukakan pada para murid-Nya tentang Yohanes Pembaptis (Yoh. 11:7-11). Tuhan Yesus menyetarakan Yohanes Pembaptis dengan nabi Elia. Dan hal ini pasti didengar oleh Yohanes. Bagi orang Yahudi, Elia adalah seorang tokoh sekaligus seorang nabi besar. Seorang diri, Elia berhasil mengalahkan 400 nabi Baal, selain itu, Elia adalah satu-satunya nabi yang tidak mati, ia diangkat ke sorga dengan kereta berapi. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau menegaskan kalau Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi besar tidak beda dengan nabi Elia. Namun di ayat 11, Tuhan menyatakan: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Gambaran kontras ini bukan untuk merendahkan Yohanes Pembaptis. Tidak! Tuhan Yesus membandingkan antara diri-Nya dengan Yohanes. Kata “yang terkecil“ disana adalah Tuhan Yesus. Yohanes tahu, dirinya bukanlah yang terbesar tetapi Kristuslah yang terbesar: “Lihatlah Dia, ecce hommo; Dia harus makin besar dan aku makin kecil, Dia harus makin bertambah, aku harus makin berkurang.“ Inilah jiwa seorang Yohanes Pembaptis, nabi besar. Sadarlah, ketika kita berpaling pada Kristus maka justru disanalah kita akan mendapat kekuatan sorgawi untuk menghadapi segala tantangan jaman.

Bukanlah hal yang mudah bagi orang untuk berpindah dari satu kepercayaan ke kepercayaan lain, kecuali ia tahu pasti kalau kepercayaan barunya itu jauh lebih agung dan lebih benar barulah ia berpindah. Begitu juga yang dialami oleh murid Yohanes bukan hal mudah untuk berpaling kepada Kristus. Biarlah kita dipakai menjadi saksi Kristus yang menyatakan kepada dunia bahwa kepercayaan kita kepada Kristus itu jauh lebih agung dibandingkan dengan kepercayaan lain yang ada di dunia sebab tidak hanya ajaran-Nya yang adalah kebenaran sejati tetapi pribadi Kristus itu sendiri adalah Sang Kebenaran; Dia adalah Raja di atas segala raja. Biarlah ketika kita berada dalam penderitaan aniaya, kita tahu semua yang kita lakukan itu tidak sia-sia karena kita memandang pada Kristus yang menjadi pusat iman kita. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060507.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : CHRISTIANITY & PERSECUTION-7 : THE REWARD (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Monday, May 14th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 30 April 2006

Christianity & Persecution-7 : The Reward

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mrk. 10:39-42

Pendahuluan

Alkitab membukakan kebenaran bahwa seorang pengikut Kristus itu seperti domba di tengah serigala. Seorang anak Tuhan yang sejati akan mengalami kesulitan, penderitaan dan aniaya sebab dunia berdosa tidak suka akan kebenaran dan kesulitan yang kita alami itu bukan hanya terjadi satu kali saja tetapi berulang-ulang kali (Mat. 10:23). David F. Wells, dalam buku No Place for Truth menyatakan bahwa pada dasarnya, dunia dan seluruh aspeknya dipengaruhi oleh dua hal: 1) manajemen marketing, 2) psikologi. Orang ketika hendak mengerjakan sesuatu atau mengambil suatu keputusan maka yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan sistem yang dipakai adalah sistem marketing dunia yang didasari oleh konsep psikologi. Bidang teknik dan medis yang seharusnya tidak berhubungan dengan marketing dan psikologi pun hari ini pun memakai sistem marketing dan psikologi untuk mendapatkan keuntungan. Itulah sebabnya, kita melihat dunia bisnis menguasai sebagian besar belahan dunia dan cara menilai dan menghargai seseorang pun mulai bergeser, orang hanya dilihat dari tampilan luarnya saja. Hari ini, orang lebih menghargai seorang businessman meskipun ia korupsi daripada profesi lain, seperti researcher atau peneliti. Munculnya psikologi karena didasari oleh keinginan untuk melawan konsep theologi dan sebagian besar tokoh pencetusnya adalah seorang atheis.

Aspek religius pun tak luput dari sistem marketing dan psikologi. Kekristenan tidak beda dengan dunia modern. Kekristenan mulai menyeleweng dari ajaran Firman, berita tentang penganiayaan mulai dihilangkan dan sebagai gantinya, orang diiming-imingi dengan kesehatan dan hidup berkelimpahan. Kekristenan sejati berbicara tentang kebenaran, kejujuran dan integritas hidup itulah sebabnya, sejak awal Tuhan membukakan kebenaran termasuk semua resiko yang harus ditanggung ketika kita memutuskan untuk menjadi murid Kristus. Iman Kristen harus kembali pada kebenaran sejati. Biarlah sebagai anak Tuhan sejati kita meneladani Kristus yang menjalankan prinsip kebenaran meski untuk itu Dia harus dimusuhi, Dia rela berkorban.   

Janganlah takut ataupun kuatir ditengah-tengah penderitaan dan penganiayaan yang kita alami, Tuhan tidak membiarkan begitu saja tetapi ada upah, reward yang Tuhan telah sediakan. Mat. 10:39 merupakan kunci penting untuk kita memahami tentang upah. Ayat 39 dapat diterjemahkan sebagai berikut: barangsiapa mencari selamat untuk dirinya, ia akan kehilangan keselamatan nyawanya; barangsiapa rela kehilangan keselamatannya dalam nama Kristus, ia justru akan mendapatkan keselamatan hidup itu. Kata “mencari, to find“ berasal dari bahasa asli “eurisko“ dan penulisannya menggunakan tenses auris participle, dimana tenses ini berkait dengan ontologi, yakni sesuatu yang berbicara secara hakekat. Secara gamblang ayat 39 dapat dikatakan: kalau hanya mau cari selamat, matilah kau, artinya bukan hanya satu kali orang mencari selamat tetapi secara natur atau pada hakekatnya atau “dari sananya“ orang selalu mencari selamat; dengan kata lain, sepanjang hidupnya, orang selalu mencari selamat. Yang menjadi pertanyaan apa yang kita lakukan ketika berada dalam penganiayaan? Apakah kita hanya mau mencari selamat saja ataukah kita masih tetap mempertahankan integritas dan hidup dalam kebenaran?

I. Hidup dalam Kebenaran Sejati

Tuhan menuntut suatu integritas hidup dalam diri setiap anak-Nya yang sejati; barangsiapa hidup dalam Kristus ia harus hidup sama seperti Kristus telah hidup.  Allah yang kita sembah adalah Allah yang agung dan mulia, Allah yang konsisten karena itu, Dia layak untuk dijadikan sebagai sandaran hidup kita. Ironisnya, orang ingin mempunyai Allah yang benar namun orang tidak mau hidup benar. Tuhan menegaskan barangsiapa tidak mau hidup dalam kebenaran maka ia tidak akan hidup. Karena itu, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambahkan kepada-Mu (Mat. 6:33). Hidup Kristen adalah hidup yang memperjuangkan righteouness, yakni hidup benar di hadapan Allah Sang Kebenaran sejati, truth. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus mengikut pada Allah sejati? Kenapa kita harus hidup benar? Bukankah hidup benar itu justru menyulitkan? Kenapa kita tidak mencari aman saja?  Adalah kesimpulan salah kalau orang mengatakan bahwa menjadi anak Tuhan, hidup kita akan menjadi lebih susah sehingga orang memilih untuk tidak mengikut Tuhan. Salah! Memang, dunia dapat memberikan kekayaan dan kenikmatan tapi semu belaka dan sifatnya hanya sementara; kita akan berakhir dalam kebinasaan kekal. Sebaliknya, ketika mengikut Kristus mungkin kita akan dianiaya namun itu hanya berlangsung sementara sebab kemudian kita akan peroleh sukacita kekal. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang sengaja menjebak manusia dengan kenikmatan semu yang sifatnya sementara dan sekali masuk dalam jerat iblis maka sulit untuk lepas.

Ilustrasi berikut ini untuk memudahkan kita memahami akal licik si iblis yang menjerat dan memperbudak hidup manusia. Ada seorang anak sedang bermain-main dan tanpa sengaja, ia memecahkan gelas ibunya. Ia merasa ketakutan maka ia menyembunyikan perbuatannya dengan membersihkan pecahan gelas tersebut. Ternyata, semua perbuatannya dilihat oleh si kakak maka itu dijadikan kunci untuk menjebak adiknya maka setiap kali si adik tidak mau melakukan apa yang diperintahkan si kakak maka si kakak mengancam akan memberitahukan tentang gelas pecah pada ibu. Begitu juga dengan hidup kita, sekali kita masuk dalam jeratan iblis maka akan sulit bagi kita untuk lepas dari ikatan belenggunya. Hanya Kristus yang dapat melepaskan kita dari jerat iblis dan untuk kelepasan ini juga dibutuhkan suatu pengorbanan besar dari diri kita. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk dapat lepas dari jeratan narkotika; untuk dapat lolos dari ketergantungan dan bandar narkoba dibutuhkan suatu pengorbanan. Sekali masuk dalam jebakan iblis maka sulit untuk keluar dari jebakan iblis. Jangan pernah berpikir ketika kita mencari aman dengan mengorbankan integritas kita maka itu akan membuat hidup kita merasa nyaman. Salah! Hidup kita akan menjadi lebih sengsara.

Kenyamanan hidup itu justru kita dapatkan ketika kita hidup dalam kebenaran dan di situlah kita mendapat kekuatan. Dengan kekuatan dari Tuhan kita mempunyai keberanian untuk menantang jaman ini. Ingat, waktu yang telah berlalu tidak dapat diputar kembali karena itu, hendaklah kita menjaga hidup kita tetap berintegritas dengan menjadikan Kristus sebagai yang terutama dalam hidup kita. Dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih barulah kita dapat memahami seluruh aspek dalam hidup kita termasuk konsep reward. Di satu pihak, orang menyadari bahwa kembali pada kebenaran Allah akan membuat hidup kita stabil akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dapat hidup stabil ketika kita dianiaya? Tuhan menegaskan ketika kita rela berkorban, menyerahkan hidup bagi Tuhan maka disana kita justru akan memperoleh hidup.

II. Pengalaman Iman Sejati

Hidup dalam kebenaran sejati akan membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan. Jadi, sangatlah mengherankan seorang yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak mempunyai pengalaman hidup berjalan dalam pimpinan Tuhan. Pengenalannya akan Tuhan hanya sebatas pengetahuan saja. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan kita mempunyai pengalaman iman bersama Tuhan? Alkitab menegaskan hidup Kristen adalah hidup yang mengalami pengalaman iman di dalam kebenaran bersama Tuhan. Hari ini, banyak orang yang ingin mempunyai pengalaman hidup bersama dengan Tuhan tetapi celakanya, bukan pengalaman bersama Tuhan Sang Kebenaran sejati yang dirasakan tetapi pengalaman iman bersama “allah“ lain. Dan hari ini, orang berani mengklaim dirinya adalah “Allah“ karena merasa sudah mengalami pengalaman bersama “allah“ karena dulu ia sakit sekarang sembuh, dulu miskin dan sekarang kaya. Tidak! Itu bukan Allah sejati tetapi lebih tepatnya adalah iblis sebab orang yang mau menjadi seperti Tuhan adalah pengikut iblis. Hati-hati, iblis dapat memberikan kuasa, iblis juga dapat menyembuhkan, iblis dapat memberikan kekayaan karena itu, hendaklah kita peka sehingga kita dapat membedakan apakah pengalaman iman yang kita alami itu pengalaman iman bersama Tuhan ataukah pengalaman iman bersama hantu. Itu bukan prinsip kebenaran Tuhan. Orang yang telah menyerahkan hidupnya pada iblis pasti tidak akan mengalami kesulitan, iblis tidak akan mengkutak-kutik pengikutnya. Seperti seorang yang telah menjadi anggota suatu mafia tertentu pastilah ia tidak akan diganggu oleh si mafia tersebut. Orang tidak menyadari kalau sesungguhnya ia telah mati rohani.

Pengalaman iman bersama Tuhan seharusnya membawa kita makin dekat Tuhan, kita dapat melihat menerobos jauh ke depan. Semua aniaya dan siksa yang kita alami itu tidaklah sia-sia sebab disana ada pahala, ada upah yang menanti bagi orang benar dan disana kita juga melihat keadilan Tuhan dinyatakan (Mzm. 58:12). Biarlah hal ini bukan hanya sekedar kita mengerti sebatas pengetahuan belaka tetapi biarlah kita mengalami pengalaman hidup bersama Tuhan dan kita dipakai menjadi saksi untuk menguatkan mereka yang lemah iman. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup dan Dia tidak dapat dipermainkan. Tuhan juga tidak akan tinggal diam ketika anak-anak-Nya yang hidup dalam kebenaran dipermainkan oleh dunia. Tuhan menegaskan bahwa pembalasan itu adalah hak-Ku, jadi, ketika dunia menganiaya, janganlah kita menjadi takut sebab keadilan Tuhan akan dinyatakan di bumi. Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang benar dianiaya secara membabi buta, Tuhan juga tidak akan membiarkan hidup anak-Nya itu lepas dari pemeliharaan-Nya. Tidak! Tuhan justru ingin supaya kita mempunyai pengalaman iman bersama dengan Dia dengan demikian kita dapat merasakan pimpinan dan pemeliharaan Tuhan yang indah atas kita.

III. Iman Sejati

Kebenaran sejati membawa kita pada pengalaman sejati dan pengalaman ini menjadikan kita mempunyai iman sejati. Iman sejati menjadi kacamata, point of view ketika kita melihat segala sesuatu yang terjadi di dunia. Dunia beriman pada sesuatu yang dilihatnya sebagai keuntungan sebaliknya, apa yang dianggap keuntungan oleh dunia justru dipandang sebagai kerugian. Alkitab menegaskan janganlah kita melihat fenomena dunia tetapi kita harus melihat dari sudut pandang Tuhan. Demikian halnya dengan konsep upah. Mat. 10:42 mengajarkan hal yang indah tentang bagaimana seharusnya kita memberikan reward pada seseorang, yaitu ketika memberi maka ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan: 1) air murni bukan susu, 2) banyaknya hanya secangkir bukan sejerigen, 3) diberikan pada orang kecil. Yang dimaksud dengan orang kecil disini bisa mempunyai pengertian anak kecil, orang yang berperawakan kecil atau orang yang berstatus sosial rendah.

Berbeda dengan dunia, orang akan sangat menghargai kalau kita memberikan barang yang berharga dan mahal, bukan air yang tidak bernilai; orang juga melihat kuantitas, orang tidak akan cukup puas jika mendapatkan sedikit; dan orang juga memberikan barang-barang itu bukan untuk orang yang kecil tetapi sebaliknya, barang yang berharga dengan jumlah yang cukup banyak itu diberikan pada orang yang dipandang penting. Apa yang kita berikan, berapa yang kita berikan dan kepada siapa kita berikan itu menentukan bagaimana kita melihat suatu apresiasi pada seseorang. Dunia akan terkagum-kagum dan hormat pada orang yang memberikan barang yang bernilai dengan jumlah banyak dan diberikan pada orang hebat. Inilah cara manusia menilai, inilah cara dunia memahami konsep reward.

Iman Kristen menilai sesuatu bukan melihat secara fenomena tetapi secara esensial. Tuhan sangat menghargai dan memuji seorang janda miskin yang memberikan persembahan 2 peser daripada seorang kaya yang memberikan jumlah banyak tetapi dengan motivasi tidak benar. Tuhan tidak melihat angka tetapi Tuhan melihat janda ini memberikan seluruh apa yang dia punya (100%), seluruh hasil kerjanya hari itu untuk Tuhan dan Tuhan melihat motivasi dari janda miskin ini memberi karena ia mengasihi Tuhan. Sedangkan orang kaya ini hanya memberikan sedikit sebab secara presentasi, pemberiannya itu sangat sedikit bila dibanding dengan seluruh harta yang ada padanya.

Kata upah, reward (bahasa Yunani, misthos) dalam PB muncul sebanyak 28 kali dan Injil Matius paling banyak membicarakan masalah upah, kata upah ini muncul sebanyak 9 kali. Hal ini dapat kita mengerti sebab Injil Matius berbicara tentang dan kepada orang Yahudi yang materialis. Bukan suatu kebetulan kalau Injil Matius ini diberikan pada kita sebab Tuhan ingin supaya kita mempunyai konsep yang benar tentang upah dan cara kita memberikan penghargaan pada seseorang. Semua itu harus dilihat dari sudut pandang iman dengan demikian kita kembali pada kebenaran sejati dan kita dapat merasakan pengalaman iman bersama Tuhan.

Antara hidup dalam kebenaran Allah – pengalaman iman sejati bersama Tuhan – mempunyai iman sejati itu saling berkait erat seperti sebuah lingkaran. kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan dan iman yang benar akan membuat kita semakin diproses dalam kebenaran dan kita semakin bertumbuh dalam pengenalan kita akan Tuhan. Ini menjadi sebuah lingkaran yang saling berkait erat. Biarlah hidup Kekristenan kita, christian life terus diproses untuk menuju pada kesempurnaan seperti Kristus yang menjadi teladan kita adalah sempurna. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060430.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : CHRISTIANITY & PERSECUTION-6 : THE PRIORITY (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Tuesday, May 8th, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 2 April 2006

Christianity & Persecution-6 : The Priority

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 10:34-38

Pendahuluan

Tuhan membukakan telah membukakan suatu realita bahwa anak Tuhan sejati itu seperti domba di tengah serigala, hal ini berarti banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi maka di tengah-tengah tantangan itu wajarlah kalau kita menjadi takut. Namun Tuhan tidak ingin ketakutan yang Tuhan tanam itu diterapkan secara salah. Ketakutan itu haruslah diletakkan pada posisi yang tepat, yakni takut hanya pada Tuhan. Takut akan Tuhan itu menjadi dasar hidup kita, hidup akan terjaga dengan baik sebab seluruh pandangan terarah pada Tuhan. Hari ini muncul pendapat yang keliru, yakni dengan menjadi pengikut Kristus maka hidup akan damai sejahtera. Pendapat ini tidak salah namun perhatikan, damai sejahtera yang diberikan oleh Kristus adalah damai sejahtera yang tetap mempunyai rasa takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan dan damai sejahtera haruslah berjalan sinkron namun dunia tidak memahami akan hal ini. Dunia pikir dengan menghilangkan rasa takut maka ia akan merasa damai. Salah! Dalam rasa takut akan Tuhan itulah kita akan mendapatkan damai yang sejati. Hari ini kita akan merenungkan kaitan antara takut akan Tuhan, ordo atau urutan, otoritas, dan prioritas.

I. Order and Priority

Kristus datang tidak membawa damai tetapi Dia datang membawa pedang (Mat. 10:34); Kristus adalah kebenaran sejati maka konsep prioritas itu menjadi sangat penting dan absolut. Segala hal yang terikat dalam ruang dan waktu tidak dapat mencapai segala sesuatu pada waktu dan tempat yang sama di dalam otorisasi yang sama sebab kita tidak berada dalam wilayah kekekalan dimana segala sesuatu tidak mengalami perubahan. Tidak! Kita berada dalam wilayah kesementaraan maka pada detik itu dan di tempat yang sama kita hanya dapat melakukan satu hal saja dan kita harus menyingkirkan yang lain. Ini merupakan suatu keharusan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat karena itu, kita harus menentukan prioritas saat kita mau melangkah dan mengambil suatu keputusan.

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang menjadi standar dari prioritas kita? Pada detik yang sama, kenapa kita melakukan A dan menggeser B? Manusia dibatasi oleh ruang dan waktu maka untuk menentukan prioritas kita harus mengerti ordo atau urutan. Sebagian urutan mungkin dapat dibolak-balik namun urutan yang sifatnya struktural tidak boleh dibolak-balik. Sebagai contoh, jenjang sekolah harus dimulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMU kemudian universitas begitu juga dengan hidup manusia harus dimulai dari bayi, bertumbuh menjadi dewasa lalu mati dan tingkatan ini tidak boleh dibolak-balik. Orang berdosa sangat benci dengan ordo karena ordo menyadarkan manusia kalau manusia tidak lebih hanyalah orang-orang terbuang yang seharusnya berada di neraka. Dalam menata suatu urutan maka ada prioritas sehingga kita tahu mana yang diletakkan di urutan pertama, kedua, dan seterusnya. Ingat, Tuhan Yesus datang bukan membawa damai, melainkan pedang maka kalau kita salah menentukan prioritas, pedang itu akan turun atas kita. Orang seringkali tidak sadar apa yang menjadi ordo dan prioritas dalam hidupnya maka tidaklah heran kalau setiap hal yang menjadi keputusannya tidaklah bernilai kekekalan.

Segala hal yang kita kerjakan tak terkecuali hal yang paling kita anggap sepele sekalipun itu tidaklah lepas dari ordo dan prioritas. Sebagai contoh, dalam hal menyapu ruangan itupun harus memperhatikan urutan. Bayangkan, berapa banyak waktu dan tenaga yang terbuang percuma jika menyapu dikerjakan secara sembarangan namun hati-hati, setan dengan segala cara setan berusaha merusak seluruh tatanan, yakni supaya manusia tidak memikirkan prioritas pertama sebab ketika manusia memikirkan prioritas pertama berarti manusia harus kembali pada Tuhan. Tidak ada seorang pun yang dapat men-sahkan apakah sesuatu itu benar atau salah, baik atau jahat, bernilai atau tidak bernilai maka seluruh struktur atau tatanan di dunia ini harus direferensikan kepada Tuhan; semua verifikasi, penentuan dan penilaian tertinggi haruslah dari Tuhan, the true  absolute verification sehingga semua keburukan itu akan terbuka di depan mata. Ironisnya, dunia tidak suka akan kebenaran justru sebaliknya hal-hal yang tidak benar dan hina itulah yang dijadikan sebagai standar penilaian. Dunia modern mengukur iman bukan berdasarkan kualitas tapi kuantitas iman. Orang tidak sadar kalau hal ini menjadi suatu kefatalan dari demokrasi kuantitatif. Jumlah banyak tidak dapat dijadikan sebagai standar untuk menentukan kualitas. Perhatikan, demokrasi yang kuantitatif dimana didalamnya mengerahkan massa dalam jumlah banyak maka orang banyak yang mudah dipengaruhi adalah orang yang tidak berkualitas sebaliknya orang yang berkualitas jumlahnya selalu minoritas. Orang lebih suka berada dalam mayoritas karena disana ia merasa damai, orang tidak peduli meski demi kedamaian palsu itu ia berada dalam posisi rendah dan hina bahkan untuk damai palsu itu orang mulai berkompromi dengan dosa. Hendaklah kita mengevaluasi diri sudahkah kita menata ordo dimana ordo itu menjadi penentu dari prioritas hidup kita?

II. Fear, Obedience and Priority

Setelah kita menentukan apa yang terutama dalam hidup kita maka pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang paling kita takuti? Ketakutan merupakan tempat otorisasi ketaatan itu dijalankan; orang yang takut pada Tuhan akan taat sepenuhnya pada Tuhan maka segala sesuatu yang dipikirkan, dikerjakan demi untuk menyenangkan Tuhan semata. Ketakutan membangun ketaatan, pada siapa kita takut maka pada dialah kita akan taat dan apa yang kita takuti akan menjadi prioritas hidup kita. Tuhanlah yang seharusnya menjadi sumber ketakutan dan kepada Dialah kita harus takut dan taat maka Dialah yang harus menjadi prioritas utama hidup kita. Kalau kita mau jujur mengevaluasi diri kita, sesungguhnya kita menyembah pada siapa, siapakah titik tertinggi di dalam iman kita? Hal ini dapat kita lihat dari apa yang menjadi prioritas kita. Ingat, Tuhan datang membawa pedang, Dia menuntut pertanggung jawaban.

Dunia modern telah mengajarkan konsep salah, yakni hidup adalah mengejar damai sejahtera. Perhatikan, damai sejahtera bukan tujuan hidup tapi damai sejahtera yang Tuhan berikan berbeda dengan damai sejahtera yang diberikan oleh dunia. Tuhan Yesus sangat mengasihi umat manusia namun cara Dia mengasihi bukanlah seperti yang dunia ajarkan. Seorang bapa yang baik yang mengasihi anaknya ia akan mendidik anaknya sedemikian rupa demi supaya si anak kembali pada kebenaran bahkan tak sega-segan ia akan menggunakan rotan. Ketakutan tidak diarahkan pada posisi yang sejati akan merusak konsep disiplin dalam diri manusia. Maka dapatlah disimpulkan bahwa ketakutan, ketaatan dan prioritas ini saling berkait erat dimana ketiganya tidak dapat dipisahkan.

Kristus datang ke dunia bukan untuk membawa damai. Hari ini banyak orang yang mengajarkan bahwa Yesus datang ke dunia untuk membawa damai bagi manusia. Tidak! Hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus sendiri sebanyak dua kali dalam satu kalimat. Tuhan datang ke dunia membawa suatu kebenaran sejati dan Ia mau supaya anak-anak-Nya mengerti siapa otoritas tertinggi dan hanya kepada Dia sajalah orang seharusnya takut. Hari ini, banyak orang yang terjebak dalam konsep duniawi, orang tidak takut pada otoritas sejati, yaitu Kristus Tuhan tapi orang lebih takut pada otoritas yang ada di dunia atau lebih tepatnya orang lebih takut pada iblis daripada takut kepada Tuhan. Ingat, takutlah kepada Dia yang dapat membinasakan tubuh dan roh di neraka. Di satu sisi, iblis memang dapat menganggu dan menyakiti anak-anak Tuhan yang sejati namun perhatikan, iblis tidak akan dapat berbuat sesuatu hal yang berada di luar rencana Tuhan.

Damai yang dirasakan oleh dunia itu sesungguhnya adalah kedamaian yang palsu, yaitu damai karena dosanya tidak dikutak-atik oleh orang lain, damai karena keinginan kita dipenuhi, yakni keinginan tidak ada pertentangan, damai adalah ketika kesulitan datang, kita tidak mengalami kesulitan, damai ketika tidak ada tantangan, damai ketika tidak ada permusuhan. Kedamaian yang ada di tengah dunia ini adalah kedamaian palsu, kedamaian yang sifatnya hanya menyelesaikan nafsu dosa belaka. Ketika orang takut pada otoritas yang salah dan orang taat padanya dengan harapan supaya tidak menimbulkan permusuhan sehingga menimbulkan kedamaian. Di dalam dunia mungkin kita merasa aman dan nyaman tetapi di mata Tuhan kita tidak lebih hanyalah orang-orang terbuang yang di taruh ke dalam neraka. Sebaliknya damai sejati yang Tuhan berikan adalah ketika kita berada di tengah badai gelombang dan tantangan dunia namun disana kita merasakan damai; damai itu kita rasakan pada saat kita menanggalkan dosa, damai itu kita rasakan ketika pada saat kita berkorban demi kemuliaan untuk nama Tuhan. Inilah damai sejati yang Tuhan berikan.

III. One Line Order

Ordo tertinggi dan prioritas utama hidup kita adalah Allah; hanya kepada Dialah kita harus takut dan taat. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kalau kita harus taat pada Allah apakah itu berarti kita harus melawan orang-orang yang ada di sekeliling kita? Tidak! Pengertian taat kepada Allah disini adalah Allah haruslah berada pada posisi pertama. Ordo harus tertata secara garis lurus dengan Allah di posisi pertama. Ini merupakan prinsip kebenaran sejati, yakni otorisasi tunggal dan otorisasi lain haruslah ditata berdasarkan urutan satu garis. Urutan kebenaran harus berada satu garis linier bukan multiple line. One line order ditunjukkan dan dijalankan di dalam satu kesaksian oleh Allah Tritunggal. Konsep Allah Tritunggal adalah Allah yang tiga dan satu; tiga dapat membentuk garis dan satu – menyebabkan garis itu menjadi satu garis. Alkitab menyatakan Allah Bapa adalah sumber otoritas tertinggi, Dia adalah sumber kebenaran yang menyatakan semua apa yang menjadi arahan, Allah Anak taat pada Allah Bapa, tidak ada apapun yang dikerjakan di diri-Nya sendiri kecuali yang Allah Bapa perintahkan maka tidak ada garis yang menyimpang, Allah Roh Kudus taat pada Allah Bapa dan Allah Anak dan Dia tidak akan melakukan apapun yang dari diri-Nya kecuali apa yang Allah Anak perintahkan. Konsep monoteisme, Allah yang satu maka tidak akan dapat membentuk garis sebab untuk membangun sebuah garis minimum dibutuhkan dua titik. Konsep politeisme, menyembah banyak dewa dimana dalam konsep politeime itu antara dewa A dan dewa B saling bertentangan dan setiap orang bebas memilih dewa mana yang menjadi junjungannya sehingga one line order tidak mungkin terbentuk justru terbentuk multiple lines order.

Kristus adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah; Allah Anak dan Allah Roh Kudus masing-masing mempunyai kehendak dan hak namun demi untuk menjalankan one line order, Allah Anak taat pada Allah Bapa dan Allah Roh Kudus taat pada Allah Anak. Lalu bagaimana dengan manusia? Manusia adalah urutan lanjutan daripada one line order yang dinyatakan oleh Allah Tritunggal. Sebagai Anak Allah, kita harus taat pada Allah dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga perjalanan kita taat berada dalam satu garis yang setara selanjutnya anak kita harus taat pada kita sejauh kita taat pada Roh Kudus – Roh Kudus taat pada Anak – Anak taat pada Bapa. Dalam hal ini tidak boleh ada satu garis pun yang menyimpang, semua harus tetap berada dalam urutan dan membentuk satu garis lurus, yakni: Bapa – Anak – Roh Kudus – saya – anak. Ketika saya melawan Allah berarti keluar dari garis ordo maka si anak tidak boleh mengikut pada jalan ayahnya yang telah menyimpang. Si anak harus tetap mempertahankan satu garis lurus itu maka ia harus tetap taat pada Allah Tritunggal. Demi untuk mempertahankan one line order yang adalah garis kebenaran maka ia harus melawan ayahnya. Orang tua yang tidak lagi berada dalam garis ordo kebenaran berhak untuk kita lawan sebab seorang anak haruslah taat pada Tuhan. Karena itu, Tuhan menyatakan Aku datang membawa pedang, Aku memisahkan anak dari ayahnya.

Konsep konfusianisme mengajarkan setiap orang yang lebih tua dari kita mutlak benar dan harus ditaati maka ini merusak tatanan ordo sebab di dalamnya banyak kesalahan yang dianulir. Di dunia kita harus taat pada mereka yang menjadi atasan kita karena ordonya di atas kita namun perhatikan, kita hanya taat padanya sejauh ia taat pada kebenaran Firman, kalau ia mulai menyeleweng dari Tuhan maka janganlah ditaati. Anak Tuhan yang sangat takut pada orang tuanya bahkan karena takutnya ia berani berbuat dosa dan melawan Tuhan maka Tuhan tidak segan menghukum dia. Tuhan merupakan otoritas tertinggi maka hanya kepada-Nya kita harus taat. Sebagai orang tua, pastilah kita tidak akan suka apabila anak kita lebih taat pada pembantu daripada taat pada kita yang adalah orang tuanya, bukan? Konsep ordo yang diajarkan oleh Alkitab ini tidaklah mudah dipahami oleh dunia kecuali kita kembali pada kebenaran Tuhan yang sejati barulah kita dapat memahami kebenaran sejati. Barangsiapa tidak memikul salib-Nya dan mengikut Aku, ia tidak layak; barangsiapa mengasihi ayahnya atau ibunya lebih dari Tuhan maka ia tidak layak bagi-Ku. Hari ini orang mungkin merasa diri rohani, kita telah melayani Tuhan, kita merasa diri layak di hadapan Tuhan maka apa jadinya kalau kalimat “engkau tidak layak bagi-Ku“ dikenakan atas kita? Bukankah itu semua kalimat final yang membuat kita tahu efek dari kalimat tersebut. Biarlah kita mau membongkar seluruh pemikiran konsep duniawi kita dan kembali pada Kristus yang menjadi prioritas utama hidup kita dengan demikian seluruh tatanan hidup dapat tertata dengan indah dan terbentuk satu garis yang terintegrasi. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060402.htm

Eksposisi Injil Matius 10 : CHRISTIANITY & PERSECUTION-5 : THE PROVIDENCE-2 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.)

Wednesday, May 2nd, 2007

Eksposisi Injil Matius 10

Ringkasan Khotbah : 26 Maret 2006

Christianity & Persecution-5 : The Providence 2

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 10:28-31

Pendahuluan

Sejak awal Tuhan Yesus telah membukakan bahwa setiap orang yang mau menjadi murid-Nya, yaitu ia harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut Aku, hal ini berarti  banyak tantangan dan penderitaan yang harus dihadapi maka gambaran domba di tengah serigala yang diberikan oleh Kristus itu sangatlah tepat. Adalah wajar kalau dunia membenci anak Tuhan sejati sebab dunia telah terlebih dahulu membenci Kristus, Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya (Yoh. 1:12). Perhatikan, Firman Tuhan tidak pernah mengajarkan kalau anak Tuhan akan selalu hidup nyaman dan bahagia. Tidak! Jadi, jangan tertipu dengan ajaran sesat yang sengaja diajarkan demi untuk suatu tujuan pribadi yang sekular, hedonis, dan humanis materialis. Perhatikan, Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup nikmat ataupun kesuksesan, Tuhan janjikan pimpinan dan penyertaan bagi anak Tuhan yang sejati.

Sangatlah mengenaskan, gereja seharusnya menjadi manifestasi Kerajaan Sorga di dunia tapi kini, mulai berkompromi dengan ajaran dunia yang humanis materialis. Ironis, gereja tidak menyenangkan hati Tuhan tetapi gereja justru takut kalau tidak dapat menyenangkan hati manusia. Di tengah situasi dan kondisi yang kacau ini Tuhan menegaskan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Betapa indah dan bahagia hidup kita kalau kita mempunyai rasa takut akan Tuhan dalam segala aspek kita selalu ingin menyenangkan hati Tuhan. Takut akan Tuhan menjadi landasan providensia Allah. Providensia Allah adalah Allah yang sejati akan menyertai, memimpin dan menjaga umat-Nya yang sejati. Kalau burung pipit yang harganya sangat murah Tuhan pelihara apalagi manusia yang adalah umat Allah, tentu Tuhan akan menjaga bahkan di tengah tantangan dan bahaya Dia tetap menjaga dan melihara anak-Nya.

I. Allah adalah satu-satunya sandaran absolut.

Perasaan takut yang Tuhan tanamkan dalam diri setiap manusia seharusnya menyadarkan manusia bahwa manusia adalah makhluk relatif. Perasaan takut ini muncul ketika orang merasakan tidak ada keseimbangan. Seorang yang berbadan dan berotot besar tidak akan takut pada anak kecil umur dua tahun yang mencoba menantang dia. Lain halnya kalau ada orang lain yang mempunyai badan lebih besar mencoba menantangnya maka saat itulah rasa takut itu akan muncul. Ketakutan ini merupakan ketakutan yang relatif. Di saat perasaan takut itu muncul, barulah orang menyadari kalau dirinya membutuhkan sesuatu yang dapat disandari. Sandaran itu dapat berupa kekuatan fisik, kekayaan, kedudukan dan lain-lain namun semua sandaran itu sifatnya relatif belaka. Dapatlah dibayangkan bagaimana jadinya hidup manusia yang relatif tapi menyandarkan hidupnya pada sandaran relatif. Setiap orang pasti mempunyai sandaran atau lebih tepatnya ia harus mencari sandaran sebab tanpa sandaran, orang akan terus berada dalam ketakutan.

Manusia sadar kalau sesungguhnya ia butuh sandaran tetapi orang tidak tahu kepada sandaran manakah yang sifatnya absolut yang layak untuk dijadikan sandaran. Jangan pernah berpikir kalau kita menyandarkan hidup kita pada dunia, hidup kita akan bahagia. Tidak! Iblis memang akan mengabulkan semua permintaan kita tapi ingat, semua pemberian itu tidak gratis. Selama kita masih berguna maka iblis akan memberikan apa saja yang kita minta tapi setelah kita tidak berguna lagi maka kita akan dibuang, habis manis sepah dibuang. Hanya bersandar pada Allah yang berdaulat, Allah yang absolut, kita akan mendapatkan sukacita sejati. Allah berdaulat menata seluruh alam semesta mulai dari titik alfa hingga titik omega; tidak ada satu pun rencana Allah dalam alam semesta ini yang dapat digagalkan oleh manusia. Bayangkan, seandainya Allah yang menjadi sandaran itu seperti “allah“ yang ada dalam konsep manusia – “allah“ bereaksi tergantung dari aksi manusia sedangkan keinginan manusia selalu berubah-ubah maka “allah“ pasti akan mengalami kesulitan akibatnya seluruh alam semesta  tidak dapat tertata dengan baik. Teologi Reformed menegaskan Allah di dalam kedaulatan-Nya memilih manusia untuk diselamatkan. Manusia tidak suka dengan Allah yang berdaulat, manusia juga ingin berdaulat sehingga muncul konsep bahwa segala sesuatu yang akan terjadi barulah terjadi apabila manusia beriman atau percaya. Jadi, segala sesuatu ditentukan oleh imannya dan kalau yang diimani tersebut ternyata tidak terjadi maka kesalahan ada pada imannya, yaitu kurang beriman. Pertanyaannya sekarang adalah siapakah manusia sehingga berani mengatur Tuhan? Lalu kalau “allah“ dapat diatur manusia masih layakkah “dia“ dijadikan sandaran? Biarlah kita mengevaluasi diri, kepada siapakah kita menyandarkan hidup kita? Iman sejati harus kembali pada Allah sejati. Ingat, Allah sejati tidak dapat dipermainkan manusia dan manusia yang berani bermain-main dengan Allah sejati maka ia sendiri yang akan hancur karena itu, bertobatlah. Anak Tuhan yang sejati tidak boleh takut pada semua oknum yang ada di dunia tetapi takutlah kepada Dia yang dapat membunuh baik tubuh sekaligus jiwa di dalam neraka. Kita telah mempunyai Allah sejati, Allah yang mutlak sehingga kita tidak memerlukan lagi “allah“ lain sebagai cadangan. Celakanya, hari ini masih banyak orang Kristen yang meragukan reliability Tuhan sehingga orang mencari “allah cadangan“ maka itu merupakan suatu pelecehan. Betapa bodohnya manusia kalau masih meragukan reliability Tuhan.

II. Allah adalah satu-satunya jaminan pasti.

Allah adalah Allah yang mutlak karena itu, Dia layak menjadi sandaran. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa dan atas dasar apa sehingga Dia mau menjadi sandaran dan membela manusia? Kalau kita datang pada seorang yang kuat untuk dijadikan sebagai backing tentulah kita ingin adanya suatu jaminan kuat yang memastikan kita bahwa dia akan membela ketika kita dalam kesulitan. Pertanyaannya adalah apa yang bisa menjamin si bodyguard dapat tetap setia pada kita? Bagaimana jika suatu saat dia berbalik melawan kita, bukankah tidak ada jaminan yang pasti? Puji Tuhan, kita mempunyai Allah yang sejati, Dia tidak akan meninggalkan kita. Tuhan Allah mencipta kita, Dia pemilik kita maka wajarlah kalau Dia menjaga kita. Namun hal itu bukanlah dasar providensia Allah sebab manusia dapat memberontak.

Allah yang memelihara hidup kita adalah Allah yang kuat, Allah yang berdaulat, Allah yang absolut maka yang menjadi pertanyaan adalah siapakah kita sehingga Allah mau memelihara kita? Melalui Rasul Paulus, rahasia Ilahi itu dibukakan: Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri tetapi menyerahkan-Nya untuk kita maka bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita? Sama halnya kalau si bodyguard tadi mau menyerahkan anaknya pada kita untuk dijadikan sebagai jaminan bahwa dia akan tetap setia dan menjagai kita maka kita pasti tidak akan merasa kuatir kalau-kalau dia akan berkhianat, bukan? Tapi di dunia ini,  manusia mana yang mau menyerahkan anaknya untuk dijadikan sebagai jaminan? Dalam segala hal, dunia selalu membutuhkan jaminan untuk memastikan segala sesuatu terjadi, entah jaminan dalam bentuk uang, perkataan, surat perjanjian, dan masih banyak lagi bentuk jaminan lain tetapi di antara semua jaminan itu tidak ada jaminan yang berbentuk nyawa. Kita telah mendapatkan garansi terbesar, yaitu Allah yang sejati itu telah memberikan nyawa Anak-Nya pada kita (Rm. 8:31-32); kasih-Nya yang besar telah dibuktikan dengan menyerahkan anak-Nya.

Seluruh karya Kristus mulai dari inkarnasi sampai kebangkitan-Nya merupakan jaminan bagi kita. Allah menyertai kita mulai dari inkarnasi sampai kebangkitan Kristus. Ketika Tuhan Yesus hendak dilahirkan, malaikat datang memberitahukan kabar sukacita ini pada Maria maka itu menjadi gambaran Allah menyertai dan ketika Tuhan Yesus hendak naik ke Sorga, Ia memberikan perintah terakhir yang menjadi amanat agung bagi kita dan Tuhan tetap beserta kita (Mat. 28:19-20). Allah beserta kita ada dalam konteks Kristus hadir ke tengah dunia from the empty womb to the empty tomb maka ini menjadi jaminan Allah beserta kita. Barangsiapa percaya dalam Kristus maka ia diselamatkan. Allah rela menggunakan segala kedaulatan-Nya untuk memelihara kita karena kita adalah umat pilihan-Nya.

III. Allah memberikan providensia eksklusif pada umat-Nya.

Jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? (Rm. 8:31), ini berarti Tuhan tidak membela semua manusia, Tuhan hanya berpihak pada umat-Nya. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita ada di pihak Allah? Benarkah Allah di pihak kita? Yang menjadi penentu apakah Allah di pihak kita atau kita di pihak Allah adalah Allah bukan manusia. Kalau kita yang merasa di pihak Allah itu belumlah sah sebab bisa saja itu hanya perasaan relatif. Hanya Allah yang absolutlah yang berhak menentukan bahwa kita berada di pihak-Nya. Semua itu barulah sah ketika Dia berkata, “Engkau ada dipihak-Ku“ maka itu menjadi kekuatan bagi kita. Allah yang sejati memberikan providensia pada umat-Nya yang sejati. Kalau kita adalah umat-Nya maka Allah akan beserta kita dan Tuhan menuntut kita untuk taat bukan mempertahankan hak. Alkitab tidak pernah mengajarkan pada kita untuk kita mempertahankan hak asasi sebaliknya Tuhan mengajarkan pada kita untuk taat dan mengorbankan diri. Yang menjadi pertanyaan adalah ketika manusia tidak mempertahankan hak, apakah itu berarti kita boleh dipermainkan? Tidak! Pembalasan itu menjadi hak Tuhan, Tuhanlah yang akan menjadi pembela kita. Inilah prinsip providensia Allah. Orang yang berada dalam providensia Allah adalah orang yang bersandar pada Allah maka saat itulah Tuhan akan memimpin dan percayalah, pimpinan Tuhan ini tidak akan sia-sia. Kalaupun kita harus berkorban maka pengorbanan itu tidak akan sia-sia karena Tuhan akan turut bekerja dalam setiap langkah kita. Jikalau Tuhan ada di pihak kita maka siapakah yang berani melawan kita?

Alkitab menegaskan bahwa Tuhan akan memelihara dan menjaga setiap anak-anak-Nya yang bersandar pada-Nya. Perhatikan, Tuhan menjaga bukan berarti anak Tuhan tidak akan mengalami kesulitan; kita mungkin akan mengalami penderitaan, aniaya bahkan mati tetapi ingat, dalam semua aspek itu Tuhan tetap menjaga artinya setiap hal yang terjadi berkait dengan rencana Tuhan. Teladan yang terbaik adalah Ayub, dia hidup menderita, Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuannya maka pada titik kritis Tuhan mengambil alih. Iblis tidak akan dapat menghancurkan anak Tuhan yang sejati. Iblis tahu akan hal ini sehingga satu-satunya cara untuk menghancurkan Kekristenan adalah menjatuhkan orang Kristen palsu yang notabene adalah anak iblis dimana Kekristenan juga yang terkena dampaknya. Hati-hati, janganlah kita merasa senang kalau kita dibela oleh iblis sebab suatu hari nanti ketika kita tidak diperlukan lagi maka kita akan dikorbankan.

Sesungguhnya, dunia tahu dan dapat membedakan mana Kristen sejati dan mana Kristen palsu. Orang Kristen palsu pasti akan menjadi sasaran iblis. Sedangkan orang kristen sejati, kuasa iblis tidak akan dapat menganggu dan menghancurkannya justru kuasa kegelapan itu berbalik menghantam dan menghancurkan dirinya sendiri. Kuasa iblis tidak akan dapat menghancurkan anak Tuhan sejati karena providensia Allah itu selalu beserta. Namun hati-hati, kalau dengan cara vulgar iblis tidak berhasil maka ia akan terus mencari cara untuk menghancurkan anak Tuhan. Dalam sebuah KKR di sebuah kota di Jatim, seorang dukun dengan kuasa kegelapan mencoba menghancurkan Pdt. Stephen Tong namun kuasa kegelapan justru menghantam dirinya dan ia jatuh terpental dan terluka hingga 3 hari lamanya. Dalam hal ini, bukan Pdt. Stephen Tong yang hebat, bahkan ia sendiri tidak tahu ada orang dengan kuasa kegelapan hendak menghancurkannya namun satu hal yang pasti, Tuhanlah yang menjaganya dengan menjauhkannya dari kuasa-kuasa kegelapan. Sesungguhnya orang yang bermain-main dengan kuasa kegelapan itu tahu bahwa melawan anak Tuhan yang sejati tidak akan dapat berhasil dan justru akan mendatangkan celaka bagi dirinya sendiri.

Setiap penderitaan yang kita alami itu tidak lepas dari rencana Tuhan yang indah. Penderitaan yang kita alami itu bernilai kekekalan. Tuhan ubahkan setiap penderitaan kita menjadi kemuliaan bagi-Nya. Seorang aktor Taiwan tampan baru saja menikah namun belum genap setahun pernikahan mereka ternyata diketahui ia menderita sakit kanker dan penyakit itu menggerogoti ketampanannya. Wajah yang tampan berubah menjadi sangat menyeramkan tetapi dalam penderitaannya, ia tetap beriman dan bersandar pada Tuhan. Iman percayanya membawa orang percaya kepada Kristus, ia menjadi kesaksian yang hidup. Kesaksian iman yang indah ini difilmkan dengan judul “Love Never Fails“  dan menjadi berkat. Banyak kesaksian-kesaksian serupa yang hari ini telah menjadi berkat. Tuhan tidak membiarkan penderitaan yang kita alami itu menjadi sia-sia. Berbeda halnya dengan penderitaan yang dialami oleh dunia, semua tidak bernilai kekekalan. Tuhan ubahkan penderitaan menjadi sesuatu yang bermakna kekekalan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Inilah bedanya antara seorang anak Tuhan yang sejati dan anak Tuhan yang palsu. Pertanyaannya sekarang adalah kita berada di pihak mana? Biarlah kita pakai sisa hidup kita untuk hal-hal yang bermakna kekekalan dan segala kemuliaan hanya bagi Dia.  Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060326.htm