Archive for June, 2007

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SESBAGAI PUSAT HIDUP-6 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Saturday, June 23rd, 2007

Ringkasan Khotbah : 2 Juli 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (6)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:20-24

Pendahuluan

Injil Matius pasalnya yang ke-11 ini dibagi menjadi dua bagian dimana pada bagian pertama, yakni: konsep mujizat berkait erat dengan sikap kita terhadap Kristus telah kita renungkan sebelumnya. Tanda-tanda yang Tuhan Yesus kerjakan bukan sekedar sebuah mujizat biasa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tidak! Semua tanda itu dimaksudkan supaya orang dapat melihat bahwa Kristus adalah Mesias dan menjadikan Kristus sebagai pusat hidup manusia. Orang seharusnya takut dan gentar ketika melihat mujizat Tuhan (Mzm. 65:9) namun ironisnya, hari ini orang justru berbondong-bondong datang ingin mendapatkan dan mengalami mujizat. Hari ini kita akan merenungkan bagian kedua dari Injil Matius 11. Perhatikan, ketika Tuhan Yesus melakukan mujizat maka para murid Yohanes ini tidak mengalami mujizat, mereka hanya melihat tanda namun dari tanda ini para murid dituntut untuk mengerti dan tahu  bahwa ada suatu kaitan erat antara tanda dan pribadi Kristus. Namun “tahu“ disini bukanlah sekedar tahu secara pengetahuan. Tidak! Merupakan kegagalan dunia pendidikan modern hanya sekedar mengajarkan pengetahuan tanpa kita terkait didalamnya dan ini juga berimbas dalam iman Kekristenan; orang belajar iman Kristen hanya sekedar sebagai pengetahuan secara kognitif, pemuasan intelektual belaka. Adalah suatu kegagalan fatal dari iman Kekristenan kalau kita masuk dalam dua ekstrim, yakni: 1) iman hanya dimengerti secara kognitif, 2) hidup tidak berkait dengan Firman. Bagian inilah yang ingin dipaparkan oleh Tuhan Yesus di segmen kedua dari Injil Matius pasalnya yang kedua dimana mujizat sangat berkait erat dengan beberapa aspek kehidupan:

I. Mujizat dan Pertobatan

Tuhan Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat (Mat. 11:20). Di kota-kota itu, Tuhan beranugerah dengan melakukan banyak mujizat namun ironis, orang justru tidak bertobat. Jangan pernah berpikir bahwa kalau Tuhan melakukan mujizat di suatu tempat maka disitu orang pasti diselamatkan. Tidak! Disini, Tuhan Yesus mengkaitkan antara kota-kota yang pernah mendapat mujizat dengan kota Sodom dan Tirus, tanggungan kota Sodom dan Tirus ini  akan lebih ringan. Hari ini, orang salah mengartikan sebuah mujizat. Mujizat yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus berbeda dengan hal-hal spektakuler yang dilakukan oleh para dukun. Mujizat Tuhan Yesus adalah suatu tindakan yang dikerjakan oleh Tuhan atas sesuatu untuk mengintervensi sejarah maka ketika Allah berintervensi maka itu tidak akan dapat dibatalkan oleh alam semesta ataupun manusia karena mujizat itu melibatkan kuasa sekaligus kekuatan sekaligus kehendak dan otoritas tertinggi. Hari ini orang melihat suatu mujizat tak ubahnya seperti seorang dukun yang dapat memberikan keuntungan untuk diri. Sebagai contoh, ketika bisnis lesu, orang akan pergi kepada seseorang yang dapat memberikan keuntungan dan berhasil, bisnisnya menjadi lancar maka perhatikan ini bukan mujizat! Sebab yang berinisiatif bukan Allah tapi manusia. Manusia yang ingin mendapat keuntungan, manusia yang berinisiatif pergi ke suatu tempat karena ada suatu tujuan tertentu dalam dirinya dan dari sana orang berharap mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Gejala seperti inilah yang disebut dengan perdukunan.

Perhatikan, di balik mujizat ada suatu tuntutan tertentu yang mengharuskan manusia menyadari inti dan arti dari mujizat. Ketika manusia tidak lagi menempatkan Tuhan di posisi pertama dan utama maka semua yang kita lakukan, perbuatan baik apapun yang kita perbuat tidak akan bernilai di mata Allah dan semua itu akan dibuang percuma. Kita dapat melihat dari tokoh iman seperti: Habil –  Kain; Daud – Saul, Yakub – Esau. Perhatikan, apa yang menurut manusia maka di mata Tuhan juga baik. Tidak! Memang, secara duniawi apa yang dilakukan Kain, Saul maupun Esau itu baik tetapi tidak di mata Tuhan sebab mereka tidak mengutamakan Tuhan. Kenapa Tuhan tidak menerima persembahan Kain tetapi menerima persembahan Habil? Habil memberikan yang terbaik dan yang paling penting adalah dia mengutamakan Tuhan melalui persembahan itu berbeda dengan Habil, dia memberi sesuatu dari dirinya sendiri. Demikian juga Saul, dia melakukan semua yang baik di mata manusia tetapi tidak di mata Tuhan. Dia melawan Tuhan demi untuk menyenangkan manusia. Sebaliknya Daud, secara manusia dia melakukan perbuatan yang sangat keji bahkan Tuhan menegaskan Daud tidak boleh membangun Bait Allah karena dari tangan banyak menumpahkan darah akan tetapi Tuhan berkenan padanya karena ia mengutamakan Tuhan. Yakub dan Esau pun sama; Esau adalah seorang yang berbakti pada orang tua namun dia menyepelekan hak kesulungan dan lebih memilih semangkok kacang merah. Sebaliknya Yakub, seorang penipu tetapi Tuhan berkenan atasnya karena dia selalu mengutamakan Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita mengutamakan Tuhan di dalam seluruh aspek hidup kita?

Tuhan mengkritik dua kota besar, yakni Khorazim dan kota Betsaida. Nama Khorazim tidak banyak disebut dalam Alkitab namun orang lebih banyak menyebutnya dengan Kapernaum karena jaraknya yang berdekatan. Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di kota Kapernaum namun mujizat itu tidak membuat orang bertobat artinya mereka hanya ingin mendapatkan kenikmatan mujizat tetapi mereka tidak menghargai Kristus. Kota Betsaida terletak di pinggir danau Galilea, yakni tempat dimana Tuhan Yesus membuat mujizat memberi makan 5000 orang laki-laki dengan 5 roti 2 ikan. Ironisnya, mujizat yang dahsyat itu tidak membuat orang mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan. Orang menikmati mujizat, mereka mengikut Yesus karena mereka kenyang dan terbukti ketika Tuhan Yesus menegur dengan keras apa yang menjadi motivasi mereka itu, mereka langsung pergi. Dengan kata lain, orang ingin Yesus sebagai “alat“ untuk memuaskan kebutuhan duniawi akibatnya kalau orang perlu maka orang akan datang kepada Yesus akan tetapi, ketika orang tidak merasa perlu maka Yesus dilupakan. Bagaimana mengerti hakekat mujizat? Mujizat harus kembali pada Ketuhanan Kristus; Kristus adalah pusat hidup maka inilah inti dari iman Kekristenan.

Tuhan ingin manusia hidup di dunia dapat hidup bahagia dan sejahtera namun itu bukanlah yang menjadi keinginan utama. Tidak! Tuhan ingin supaya manusia memahami bahwa manusia adalah makhluk relatif maka manusia harus mengutamakan Tuhan sebagai pusat utama melalui semua tanda yang Dia kerjakan di alam semesta ini. Betapa egoisnya kita kalau kita memaksa Tuhan supaya kita sendiri yang harus mengalami mujizat barulah kita mau mengaku Kristus adalah Tuhan. Perhatikan, teologi Reformed tidak anti mujizat. Tidak! Orang harusnya gemetar dan gentar ketika melihat kuasa, kedaulatan dan otoritas Allah dinyatakan di tengah dunia ini namun sangatlah disayangkan, orang justru bersikap sebaliknya dengan menjadikan Kristus sebagai alat. Iman Kristen menegaskan mujizat seharusnya membuat orang bertobat dan kembali pada Kristus; membuat orang hormat dan bersujud di hadapan-Nya, mengaku Kristus sebagai Raja atas segala raja.

II. Mujizat dan Dosa

Enam mujizat yang dikerjakan oleh Kristus (Mat. 11:5) seharusnya menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai makhluk berdosa. Kebutaan, kelumpuhan, tuli, sakit kusta dan mati itu sebagai akibat dari dosa; tidak ada satu pun manusia yang baik di dunia, yakni “baik“ yang sesuai dengan standar Allah. Tidak ada! Semua manusia telah jatuh dalam dosa. Kedaulatan Allah ketika bertemu dengan manusia berdosa seharusnya membuat orang takut dan kecut hati. Petrus gemetar ketika Dia melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air dan Petrus tersungkur dan takut ketika Tuhan Yesus menghentikan badai. Di Perjanjian Lama, seluruh bangsa Israel sangat takut ketika Allah hendak datang dan melawat umat-Nya. Respon inilah yang seharusnya muncul dalam diri setiap manusia ketika berhadapan dengan Allah yang Maha Suci yang menyatakan kedaulatan-Nya kepada manusia berdosa dan Allah yang Maha Suci itu datang untuk menyelesaikan dan mengeluarkan manusia dari belenggu dosa. Namun sayang, hari ini manusia justru sangat senang dan menikmati mujizat, manusia justru memperlihatkan suatu ekspresi dosa, yakni keserakahan. Seseorang yang telah mendapat atau melihat mujizat dan ia tidak bertobat maka efeknya justru ia berdosa. Manusia menjadi ketagihan mujizat dan hal itu akan berakumulasi semakin besar; orang ingin mendapat dan mendapat mujizat. Perhatikan, ketika manusia mulai ketagihan mujizat maka setan yang akan menjawab apa yang menjadi permintaannya. Muncul suatu pertanyaan apakah mujizat merupakan tanda orang beriman? Tidak! Alkitab menegaskan kota yang mendapat anugerah paling banyak justru kota itu celaka. Kuncinya bukan terletak pada mujizat. Banyak orang berpendapat kalau ia mendapat mujizat berarti Tuhan sayang padanya, imannya bertambah besar, orang mempunyai kekuatan besar. Salah! Orang yang berdosa bertobat merupakan mujizat. Bagaimana respon kita ketika anugerah Tuhan turun atas kita? Orang tidak meresponi anugerah dengan tepat maka anugerah itu akan menjadi sebatas anugerah umum belaka yang justru membuat orang semakin berdosa, orang menjadi egois karena ingin menikmati anugerah itu seorang diri belaka. Sadarlah setiap hari kita menikmati mujizat Tuhan namun sampai seberapa jauhkah sikap kita terhadap mujizat yang Tuhan kerjakan atas kita? Apakah mujizat itu menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita menjadi bertobat?

Injil Matius 11 ini tidak membutuhkan penafsiran yang dalam, orang harusnya memahami dengan sangat jelas namun dunia modern telah memutarbalikkan Firman. Alkitab menyatakan dengan jelas Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat namun perhatikan, Tuhan ingin manusia berespon dengan tepat. Memang, Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di Galilea namun tidak semua orang memperoleh mujizat dan tidak setiap hari Dia memberi makan banyak orang. Tidak! Setiap mujizat yang Tuhan kerjakan adalah untuk suatu maksud rencana Tuhan dan dikerjakan atas dasar inisiatif Tuhan. Setiap anak Tuhan pasti pernah mengalami dan merasakan mujizat Tuhan, yakni mujizat pertobatan. Tuhan Yesus mati menebus dosa, Dia bangkit dan menang atas kuasa maut maka itulah mujizat terbesar. Tidak ada satu mujizat apa pun yang ada di dunia seperti yang dikerjakan oleh Kristus yang pernah ada di alam semesta ini. Adalah suatu mujizat kalau kita dapat menyadari kita orang berdosa dan kembali pada Tuhan sebab tidak ada suatu jasa atau usaha apa pun dari diri kita yang dapat membuat kita berbalik pada Tuhan.

III. Mujizat dan Penghakiman

Mujizat sangat berkait erat dengan hari penghakiman (Mat. 11:22-24). Hari ini, mujizat hanya dikaitkan pada suatu kenikmatan dunia. Orang yang gagal berespon dengan tepat maka ingatlah, penghakiman telah menanti kita. Mujizat Tuhan merupakan pernyataan kebenaran Tuhan, ini berarti ketika manusia melawan sama dengan melawan kebenaran Tuhan dan orang yang melawan akan mendapat penghukuman Allah. Dosa adalah melawan Allah dan kebenaran-Nya. Hukuman yang sesuai untuk orang yang melawan Tuhan adalah mati sebab upah dosa adalah maut. Adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan kalau seorang anak melawan apa yang menjadi perintah dari orang tuanya apalagi melawan Tuhan, Sang Pencipta manusia dan Sumber Kebenaran. Apa yang Tuhan kerjakan adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia sendiri. Setiap tindakan Allah menuntut suatu respon kebenaran dari manusia. Kebenaran yang tidak direspon dengan kebenaran akan berakibat fatal. Seorang yang belum pernah mendengar berita Injil tidak akan merasakan ketakutan dan kegentaran dibandingkan dengan orang yang mendapat berita Injil. Hanya ada dua pilihan bagi orang yang mendapat berita Injil, yakni menerima atau menolak dan orang harus mengambil keputusan dari dua pilihan tersebut. Ini merupakan penghakiman kalau orang salah mengambil keputusan berarti hukuman mati telah menanti kita.

Dalam kehidupan, orang seringkali berusaha menghindar dari berbagai keputusan namun toh mustahil, manusia akan sampai pada suatu titik penting dimana manusia harus mengambil suatu keputusan maka saat itu, kita harusnya gemetar sebab kalau kita salah memutuskan akan berakibat fatal. Demikian halnya kita meresponi suatu mujizat; mujizat seharusnya menyadarkan kita pada suatu posisi penghakiman, encounter position. Manusia dihadapkan pada dua pilihan dan manusia harus menentukan: ya atau tidak. Jangan pernah berpikir kalau mujizat itu haruslah sesuatu yang spektakuler. Tidak! Sadarlah setiap hari kita mengalami banyak mujizat dalam setiap aspek hidup kita. Biarlah kita mengevaluasi diri apakah kita menyadari setiap mujizat yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita? Dan bagaimanakah respon kita terhadap mujizat Tuhan itu? Penghakiman Allah menuntut suatu respon dari kita; kebenaran Allah harus direspon dengan kebenaran maka saat itulah Tuhan berkenan. Ketika Tuhan berkenan atas kita maka itu menjadi sukacita tersendiri dalam kita.

Kristus haruslah menjadi pusat hidup kita dengan demikian: 1) orang akan peka melihat apa yang terjadi dalam sejarah, 2) orang merasa takut dan gentar di dalam setiap langkah hidupnya. Ingatlah, kalau Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita untuk melayani Dia maka itu harusnya menjadikan kita takut dan gentar karena kita sedang melayani Sang Raja di atas segala raja sehingga kita harus memberikan yang terbaik pada-Nya. Percayalah, Tuhan akan memimpin dalam setiap langkah hidup kita, mujizat Tuhan akan selalu berada di depan beserta dengan kita; 3) ada penghakiman, hal ini menjadikan kita awas dalam setiap langkah kita. Di tengah dunia yang semakin hancur, arahkanlah hidup dan pandangan hidup kita hanya pada Kristus, berpegang teguh pada-Nya maka hidup kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia. Amin (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa

melakukan semua yang baik di mata manusia tetapi tidak di mata Tuhan. Dia melawan Tuhan demi untuk menyenangkan manusia. Sebaliknya Daud, secara manusia dia melakukan perbuatan yang sangat keji bahkan Tuhan menegaskan Daud tidak boleh membangun Bait Allah karena dari tangan banyak menumpahkan darah akan tetapi Tuhan berkenan padanya karena ia mengutamakan Tuhan. Yakub dan Esau pun sama; Esau adalah seorang yang berbakti pada orang tua namun dia menyepelekan hak kesulungan dan lebih memilih semangkok kacang merah. Sebaliknya Yakub, seorang penipu tetapi Tuhan berkenan atasnya karena dia selalu mengutamakan Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita mengutamakan Tuhan di dalam seluruh aspek hidup kita?

Tuhan mengkritik dua kota besar, yakni Khorazim dan kota Betsaida. Nama Khorazim tidak banyak disebut dalam Alkitab namun orang lebih banyak menyebutnya dengan Kapernaum karena jaraknya yang berdekatan. Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di kota Kapernaum namun mujizat itu tidak membuat orang bertobat artinya mereka hanya ingin mendapatkan kenikmatan mujizat tetapi mereka tidak menghargai Kristus. Kota Betsaida terletak di pinggir danau Galilea, yakni tempat dimana Tuhan Yesus membuat mujizat memberi makan 5000 orang laki-laki dengan 5 roti 2 ikan. Ironisnya, mujizat yang dahsyat itu tidak membuat orang mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan. Orang menikmati mujizat, mereka mengikut Yesus karena mereka kenyang dan terbukti ketika Tuhan Yesus menegur dengan keras apa yang menjadi motivasi mereka itu, mereka langsung pergi. Dengan kata lain, orang ingin Yesus sebagai “alat“ untuk memuaskan kebutuhan duniawi akibatnya kalau orang perlu maka orang akan datang kepada Yesus akan tetapi, ketika orang tidak merasa perlu maka Yesus dilupakan. Bagaimana mengerti hakekat mujizat? Mujizat harus kembali pada Ketuhanan Kristus; Kristus adalah pusat hidup maka inilah inti dari iman Kekristenan.

Tuhan ingin manusia hidup di dunia dapat hidup bahagia dan sejahtera namun itu bukanlah yang menjadi keinginan utama. Tidak! Tuhan ingin supaya manusia memahami bahwa manusia adalah makhluk relatif maka manusia harus mengutamakan Tuhan sebagai pusat utama melalui semua tanda yang Dia kerjakan di alam semesta ini. Betapa egoisnya kita kalau kita memaksa Tuhan supaya kita sendiri yang harus mengalami mujizat barulah kita mau mengaku Kristus adalah Tuhan. Perhatikan, teologi Reformed tidak anti mujizat. Tidak! Orang harusnya gemetar dan gentar ketika melihat kuasa, kedaulatan dan otoritas Allah dinyatakan di tengah dunia ini namun sangatlah disayangkan, orang justru bersikap sebaliknya dengan menjadikan Kristus sebagai alat. Iman Kristen menegaskan mujizat seharusnya membuat orang bertobat dan kembali pada Kristus; membuat orang hormat dan bersujud di hadapan-Nya, mengaku Kristus sebagai Raja atas segala raja.

II. Mujizat dan Dosa

Enam mujizat yang dikerjakan oleh Kristus (Mat. 11:5) seharusnya menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai makhluk berdosa. Kebutaan, kelumpuhan, tuli, sakit kusta dan mati itu sebagai akibat dari dosa; tidak ada satu pun manusia yang baik di dunia, yakni “baik“ yang sesuai dengan standar Allah. Tidak ada! Semua manusia telah jatuh dalam dosa. Kedaulatan Allah ketika bertemu dengan manusia berdosa seharusnya membuat orang takut dan kecut hati. Petrus gemetar ketika Dia melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air dan Petrus tersungkur dan takut ketika Tuhan Yesus menghentikan badai. Di Perjanjian Lama, seluruh bangsa Israel sangat takut ketika Allah hendak datang dan melawat umat-Nya. Respon inilah yang seharusnya muncul dalam diri setiap manusia ketika berhadapan dengan Allah yang Maha Suci yang menyatakan kedaulatan-Nya kepada manusia berdosa dan Allah yang Maha Suci itu datang untuk menyelesaikan dan mengeluarkan manusia dari belenggu dosa. Namun sayang, hari ini manusia justru sangat senang dan menikmati mujizat, manusia justru memperlihatkan suatu ekspresi dosa, yakni keserakahan. Seseorang yang telah mendapat atau melihat mujizat dan ia tidak bertobat maka efeknya justru ia berdosa. Manusia menjadi ketagihan mujizat dan hal itu akan berakumulasi semakin besar; orang ingin mendapat dan mendapat mujizat. Perhatikan, ketika manusia mulai ketagihan mujizat maka setan yang akan menjawab apa yang menjadi permintaannya. Muncul suatu pertanyaan apakah mujizat merupakan tanda orang beriman? Tidak! Alkitab menegaskan kota yang mendapat anugerah paling banyak justru kota itu celaka. Kuncinya bukan terletak pada mujizat. Banyak orang berpendapat kalau ia mendapat mujizat berarti Tuhan sayang padanya, imannya bertambah besar, orang mempunyai kekuatan besar. Salah! Orang yang berdosa bertobat merupakan mujizat. Bagaimana respon kita ketika anugerah Tuhan turun atas kita? Orang tidak meresponi anugerah dengan tepat maka anugerah itu akan menjadi sebatas anugerah umum belaka yang justru membuat orang semakin berdosa, orang menjadi egois karena ingin menikmati anugerah itu seorang diri belaka. Sadarlah setiap hari kita menikmati mujizat Tuhan namun sampai seberapa jauhkah sikap kita terhadap mujizat yang Tuhan kerjakan atas kita? Apakah mujizat itu menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita menjadi bertobat?

Injil Matius 11 ini tidak membutuhkan penafsiran yang dalam, orang harusnya memahami dengan sangat jelas namun dunia modern telah memutarbalikkan Firman. Alkitab menyatakan dengan jelas Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat namun perhatikan, Tuhan ingin manusia berespon dengan tepat. Memang, Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di Galilea namun tidak semua orang memperoleh mujizat dan tidak setiap hari Dia memberi makan banyak orang. Tidak! Setiap mujizat yang Tuhan kerjakan adalah untuk suatu maksud rencana Tuhan dan dikerjakan atas dasar inisiatif Tuhan. Setiap anak Tuhan pasti pernah mengalami dan merasakan mujizat Tuhan, yakni mujizat pertobatan. Tuhan Yesus mati menebus dosa, Dia bangkit dan menang atas kuasa maut maka itulah mujizat terbesar. Tidak ada satu mujizat apa pun yang ada di dunia seperti yang dikerjakan oleh Kristus yang pernah ada di alam semesta ini. Adalah suatu mujizat kalau kita dapat menyadari kita orang berdosa dan kembali pada Tuhan sebab tidak ada suatu jasa atau usaha apa pun dari diri kita yang dapat membuat kita berbalik pada Tuhan.

III. Mujizat dan Penghakiman

Mujizat sangat berkait erat dengan hari penghakiman (Mat. 11:22-24). Hari ini, mujizat hanya dikaitkan pada suatu kenikmatan dunia. Orang yang gagal berespon dengan tepat maka ingatlah, penghakiman telah menanti kita. Mujizat Tuhan merupakan pernyataan kebenaran Tuhan, ini berarti ketika manusia melawan sama dengan melawan kebenaran Tuhan dan orang yang melawan akan mendapat penghukuman Allah. Dosa adalah melawan Allah dan kebenaran-Nya. Hukuman yang sesuai untuk orang yang melawan Tuhan adalah mati sebab upah dosa adalah maut. Adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan kalau seorang anak melawan apa yang menjadi perintah dari orang tuanya apalagi melawan Tuhan, Sang Pencipta manusia dan Sumber Kebenaran. Apa yang Tuhan kerjakan adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia sendiri. Setiap tindakan Allah menuntut suatu respon kebenaran dari manusia. Kebenaran yang tidak direspon dengan kebenaran akan berakibat fatal. Seorang yang belum pernah mendengar berita Injil tidak akan merasakan ketakutan dan kegentaran dibandingkan dengan orang yang mendapat berita Injil. Hanya ada dua pilihan bagi orang yang mendapat berita Injil, yakni menerima atau menolak dan orang harus mengambil keputusan dari dua pilihan tersebut. Ini merupakan penghakiman kalau orang salah mengambil keputusan berarti hukuman mati telah menanti kita.

Dalam kehidupan, orang seringkali berusaha menghindar dari berbagai keputusan namun toh mustahil, manusia akan sampai pada suatu titik penting dimana manusia harus mengambil suatu keputusan maka saat itu, kita harusnya gemetar sebab kalau kita salah memutuskan akan berakibat fatal. Demikian halnya kita meresponi suatu mujizat; mujizat seharusnya menyadarkan kita pada suatu posisi penghakiman, encounter position. Manusia dihadapkan pada dua pilihan dan manusia harus menentukan: ya atau tidak. Jangan pernah berpikir kalau mujizat itu haruslah sesuatu yang spektakuler. Tidak! Sadarlah setiap hari kita mengalami banyak mujizat dalam setiap aspek hidup kita. Biarlah kita mengevaluasi diri apakah kita menyadari setiap mujizat yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita? Dan bagaimanakah respon kita terhadap mujizat Tuhan itu? Penghakiman Allah menuntut suatu respon dari kita; kebenaran Allah harus direspon dengan kebenaran maka saat itulah Tuhan berkenan. Ketika Tuhan berkenan atas kita maka itu menjadi sukacita tersendiri dalam kita.

Kristus haruslah menjadi pusat hidup kita dengan demikian: 1) orang akan peka melihat apa yang terjadi dalam sejarah, 2) orang merasa takut dan gentar di dalam setiap langkah hidupnya. Ingatlah, kalau Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita untuk melayani Dia maka itu harusnya menjadikan kita takut dan gentar karena kita sedang melayani Sang Raja di atas segala raja sehingga kita harus memberikan yang terbaik pada-Nya. Percayalah, Tuhan akan memimpin dalam setiap langkah hidup kita, mujizat Tuhan akan selalu berada di depan beserta dengan kita; 3) ada penghakiman, hal ini menjadikan kita awas dalam setiap langkah kita. Di tengah dunia yang semakin hancur, arahkanlah hidup dan pandangan hidup kita hanya pada Kristus, berpegang teguh pada-Nya maka hidup kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia.  Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060702.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-5 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, June 17th, 2007

Eksposisi Injil Matius 11

Ringkasan Khotbah : 11 Juni 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (5)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:5-6

Sebelumnya kita telah memahami lima tanda yang menunjukkan Kemesiasan Kristus. Hari ini kita akan merenungkan tanda yang terakhir, yaitu orang miskin mendapat kabar baik. Ironisnya, sampai hari ini, orang Yahudi masih menanti-nantikan kedatangan Mesias. Masa penantian ini disebut dengan advent. Tuhan menegaskan orang miskin mendapat kabar baik bukan orang miskin menjadi kaya. Hati-hati jangan masuk dalam jebakan iblis yang mengiming-imingi kekayaan duniawi namun berakhir dengan kebinasaan kekal. Manusia berdosa memanipulasi Firman demi keuntungan diri.

I. Konsep Miskin

1. Orang miskin secara konsep, orang ini selalu merasa kekurangan meskipun ia mempunyai harta melimpah, ia selalu merasa miskin. Amatlah kasihan hidup orang yang miskin konsep, sepanjang hidup menumpuk kekayaan tapi tidak dapat menikmati hasilnya. Gambaran ini cocok dengan Paman Gober yang super kaya tapi super miskin. Pertanyaannya adalah orang miskin model seperti ini lebih membutuhkan Injil atau uang?

2. Orang miskin yang tidak bisa makan. Golongan ini dibagi lagi menjadi dua, yakni: pertama, orang yang tidak mempunyai uang sehingga sulit baginya untuk makan; kedua, orang yang miskin motivasi, orang demikian ini selalu berpikir kalau kemiskinannya sebagai akibat dari korban lingkungan akibatnya ia tidak punya motivasi dan dorongan untuk menjalani hidup, ia akan malas untuk bekerja, ia hanya mau dikasihani orang lain. Orang miskin seperti ini tidak layak diberi uang seperti memasukkan air ke dalam laut dan bantuan itu justru menjadikannya semakin malas. Adalah natur manusia berdosa yang ingin hidup enak tanpa usaha dan perjuangan. Orang seharusnya berubah paradigma, kemiskinan tidak membuatnya kehilangan daya juang, kemiskinan seharusnya mendorong dia untuk hidup lebih baik. Kemiskinan bukanlah ikatan. Hari ini banyak orang sukses yang dulu miskin tapi karena perjuangan dan kegigihannya, ia berhasil lepas dari kemiskinan seperti pengalaman Yusuf Randi yang diceritakan kembali oleh pengkhotbah. Adalah tugas setiap murid Kristus untuk memberitakan Kebenaran sejati dengan demikian paradigma berpikir mereka yang salah diubahkan.

3. Orang miskin yang invalid, hal ini disebabkan karena keterbatasan yang ada pada dirinya, seperti cacat tubuh atau cacat mental dan ia tidak mempunyai sanak saudara. Kondisi mereka tidak memungkinkannya mempunyai kapabilitas untuk dia melewati batas garis kondisi kritisnya sehingga dia harus membutuhkan orang lain untuk menopang hidupnya. Orang semacam ini jumlahnya sangat sedikit dan biasanya mereka mempunyai daya juang; cacat tubuh bukan menjadi penghalang baginya untuk bekerja dan berkarya. Orang miskin yang invalid total seperti mereka inilah yang layak mendapat pertolongan. Secara materi, ia miskin namun sesungguhnya hidupnya kaya.

II. Gejala Orang Miskin

1. Serakah. Orang miskin seperti ini biasanya tidak mempunyai harga diri. Ketika ada peluang atau tawaran yang menggiurkan, ia selalu ingin menjadi yang pertama dan terdepan, ia tidak peduli dengan kondisi atau situasi orang yang ada di sekitarnya. Dimanapun ia berada, ia selalu merasa orang yang paling miskin. Perhatikan, miskin bukan tergantung dari berapa banyak uang yang ia punyai. Tidak! Tapi tergantung dari sikapnya. Betapa menyedihkan orang yang berjiwa miskin (petokhos, bahasa Yunani), seumur hidup selalu merasa kekurangan dan ketika ia melihat orang lain hidup nyaman, ia menjadi marah. Keserakahan adalah dosa yang mematikan.

2. Iri hati. Iri hati timbul ketika orang mulai membandingkan dengan orang lain dan biasanya dalam hal kepemilikan. Orang tidak suka melihat ada orang lain yang sukses dan hidup nyaman. Inilah kondisi dunia berdosa. Orang iri hati inilah yang dikatakan sebagai orang miskin. Iri hati itu bersifat destruktif atau perusak. Iri hati dapat menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Jiwa petokhos ini merupakan akar dari kemiskinan. Pertanyaannya sekarang adalah ketika kita dapat melewati orang yang kepadanya kita merasa iri apakah hal itu menjadikan kita puas? Tidak! Hal itu justru membuatnya jatuh dalam dosa yang lain, yaitu sombong dan orang kehilangan motivasi untuk hidup.

3. Hidup boros. Kemiskinan yang paling mendasar adalah miskin dalam pengelolaan hidup. Orang tidak tahu bagaimana caranya mengatur hidup, mengelola seluruh daya yang ada pada dirinya, dan ia tidak bisa menjadi penatalayan yang baik, ia tidak dapat mengelola segala sesuatu yang Tuhan percayakan pada dirinya dengan baik. Ingat, jangan buang waktu dan tenagamu dengan percuma. Di masa muda ini kita harus pakai seluruh tenaga, waktu dan pemikiran kita untuk Tuhan. Usia sekolah dasar sampai sekolah menengah adalah usia yang paling tepat untuk mengisi otak kita segala macam pengetahuan sebanyak-banyaknya karena itu adalah waktu yang paling tepat. Setan yang mengetahui hal ini tidak tinggal diam, dengan licik, setan menggunakan berbagai model permainan seperti play station dan semacamnya. Orang tidak sadar kalau semua yang ada pada dirinya termasuk harta, tenaga dan kepandaian itu asalnya dari Tuhan dan kelak harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Orang tidak memahami konsep ini, orang hanya tahu konsep kepemilikan, yakni segala sesuatu adalah milik pribadi yang dapat dipergunakan sesuai dengan keinginan diri. Orang seperti ini membutuhkan Injil.

III. Kebutuhan Orang Miskin

1. Orang miskin membutuhkan Injil. Dapatlah disimpulkan bahwa semua gejala tersebut di atas merupakan ciri: DOSA. Penyebab kemiskinan yang paling fatal adalah ketika manusia melepaskan diri dari sumber kehidupan yang utama, yaitu Tuhan. Kalau kita memampatkan sumber mata air maka kita tidak akan mendapatkan sumber air segar. Demikian juga kalau kita memutuskan hubungan dengan Tuhan yang menjadi sumber segala sumber, Dia adalah sumber kapasitas, sumber kepandaian, sumber konsep, Dia adalah sumber utama kehidupan akibatnya seluruh hidup kita akan hancur dan berakhir dengan kematian. Betapa miskin hidup manusia yang dilepaskan dari Tuhan karena itu orang miskin seperti demikian ini tidak membutuhkan uang tapi ia lebih membutuhkan berita Kabar Baik, yakni orang harus diperdamaikan dengan Tuhan sehingga sumber yang tadinya tertutup dibukakan kembali. Hidup kita akan penuh berlimpah karena perubahan konsep yang terjadi dalam pemikiran kita. Celakalah hidup manusia yang menolak sumber kehidupan sejati. Sudahkah kita memberitakan Kabar Baik pada mereka yang miskin sehingga mereka diselamatkan? Jadi, orang yang telah dipengaruhi dengan ajaran teologi sukses bukan diselesaikan dengan penyelesaian secara teologis tapi akar persoalan, yaitu dosa itulah yang harus diselesaikan. Artinya kepada orang-orang kaya yang miskin inilah kita harus memberitakan Kabar Baik. Perhatikan, Tuhan tidak pernah janji hidup anak-anak-Nya akan sukses dan kaya. Tidak! Tuhan menegaskan orang miskin mendapat Kabar Baik.

2. Orang miskin membutuhkan revitalisasi motivasi dan paradigma. Janganlah engkau menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu sehingga engkau dapat membedakan mana kehendak Allah apa yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:2). Perubahan seperti inilah yang harus diberitakan kepada mereka yang miskin dengan demikian mereka disadarkan dan mempunyai jiwa atau mentalitas yang diperkenan Tuhan. Berita kabar baik inilah dibutuhkan oleh orang miskin yang seringkali egois. Mereka perlu disadarkan bahwa diri mereka bukanlah titik acuan yang utama tapi kehendak Allah itulah yang seharusnya menjadi titik pusat hidup kita. Merupakan pendapat yang salah yang menyatakan bahwa melakukan kehendak Tuhan justru akan menjadikan hidup kita miskin. Tidak! Pengertian miskin disini bukan semata-mata soal materi tapi miskin itu hidup. Dunia menyadari kalau seorang yang mempunyai pemikiran idealis itu tidak miskin. Di dunia profesi, orang yang idealis tidak peduli meski ia tidak punya uang bahkan ketika ia dalam kesulitan ekonomi pun ia tidak akan minta pertolongan orang lain. Orang yang berpikiran idealis inilah yang disebut sebagai orang kaya meskipun di satu sisi, mereka tidak punya uang. Bahkan orang yang idealis rela lapar dan tidak mendapat uang demi mewujudkan semua pikiran idealis-nya. Orang idealis biasanya lebih mementingkan nilai daripada harta dan mempunyai daya juang dan semangat untuk menjalani hidup di dunia dibanding mereka yang miskin yang selalu menyalahkan lingkungan di sekitarnya. Namun semua pemikiran idealis ini menjadi sia-sia kalau tidak di dalam Tuhan karena semua hanya berhenti di wilayah ciptaan yang tidak bersifat kekal. Sungguh amatlah disayangkan orang idealis yang punya iman besar tapi mereka mempunyai obyek iman yang salah. Ingat, Tuhan memberikan pada setiap anak-anak-Nya talenta dengan jumlah yang berbeda-beda maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau bekerja meskipun pada kita hanya diberikan satu talenta. Adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan kalau orang justru menguburkan satu talenta karena ia merasa iri hati pada mereka yang mendapat lebih. Ingat, Tuhan menuntut pertanggung jawaban atas apa yang dia sudah berikan pada kita. Orang-orang seperti ini butuh rekonstruksi paradigma sehingga mereka mempunyai etos hidup yang diperbaharui. Hanya Kristus satu-satunya yang patut untuk kita jadikan teladan hidup sempurna karena Dia adalah kebenaran sejati. Karena itu hendaklah dalam hidupmu bersama engkau memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti yang dimiliki oleh Kristus.

3. Orang miskin harus melakukan aksi positif. Orang miskin tidak boleh berhenti pada tindakan yang berorientasi pada dirinya sendiri. Segala sesuatu yang berpusat pada diri malah akan mencelakakan dirinya. Karena itu, Firman Tuhan mengajarkan adalah lebih baik memberi daripada menerima. Namun manusia egois tidak mau memberi, ia hanya mau menerima karena ia selalu merasa diri kekurangan. Orang tidak menyadari pada saat memberi itulah kita tidak merasa miskin. Setelah diubahkan paradigmanya maka langkah selanjutnya harus nyata, yakni memberi. Sadarlah ketika kita memberi justru saat itu kita tidak merasa kekurangan. Hati-hati dengan ajaran iblis yang seringkali memutarbalikkan kebenaran: memberi menjadikan kita miskin. Salah! Orang yang selalu merasa kekurangan takut kalau sumbernya habis. Yang terjadi justu sebaliknya pada saat kita menerima itulah justru kita akan kehilangan. Orang yang beriman dan bersandar penuh pada Tuhan yang hidup, Tuhan yang adalah sumber segala kehidupan sangat menyadari bahwa ketika memberi justru hidup semakin berlimpah. Seperti sebuah sumur yang airnya terus memancar maka air itu tidak akan pernah habis meski selalu diambil sebaliknya air sumur justru akan menjadi kotor dan berbau kalau airnya didiamkan saja. Alkitab menegaskan justru saat memberi itulah kita adalah “orang kaya“. Pengertian kaya disini bukan kaya secara materi tapi kita kaya karena kita punya Tuhan sumber kehidupan. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkan kita berjiwa kaya?    

Jangan takut dan kuatir ketika hidup kita berpaut pada Tuhan yang adalah Sumber dari segala sumber kehidupan maka pada saat kita memberi, Tuhan tidak akan meninggalkan kita, Dia selalu memelihara hidup kita. Hal ini sudah terbukti, Tuhan mencukupkan kebutuhan seorang janda miskin dan anaknya ketika memberi roti pada Elisa, hamba-Nya. Tepung dan minyak itu tidak pernah habis meski dipakai untuk memasak. Begitu juga ketika kita menerima Firman maka yang terbaik adalah kita membagikannya pada orang lain. Saat kita membagikan Firman maka pada saat yang sama, Firman itu akan melekat di pikiran dan hati kita. Seorang guru yang membagikan ilmunya tidak akan pernah kehabisan ilmu justru ilmu kita semakin bertambah. Tuhan adalah sumber ilmu pengetahuan, sumber berkat, sumber semua kehidupan maka apapun yang kita kerjakan dan kita upayakan demi untuk kemuliaan Tuhan, Dia akan tambah-tambahkan pada kita. Percayalah, Tuhan akan menolong dan mencukupkan ketika Dia memberikan tugas dan pekerjaan pada anak-anak-Nya. Justru sebaliknya, kita seringkali takut dalam melangkah karena kita selalu memperhitungkan untung dan rugi. Sesungguhnya kitalah yang memiskinkan diri sendiri, mematikan kapasitas diri sendiri. Miskin membutuhkan perubahan konsep paradigma, miskin membutuhkan kabar baik. Orang miskin tidak cukup kalau diberikan uang dan dijadikan kaya. Jikalau kita mengerti konsep ini maka hidup kita menjadi kaya dan diperkaya oleh dunia, Tuhan akan memakai kita menjadi berkat bagi dunia. Biarlah kita diubahkan cara berpikir kita, hendaklah kita mempunyai hati yang senantiasa ingin memberi daripada menerima, kita tidak mempunyai iri hati ketika melihat orang lain lebih sukses dengan demikian hidup kita menjadi lebih berdaya guna.

Sebagai penutup, teladan hidup yang ditunjukkan oleh Pdt. Stephen Tong sebagaimana dia  mengikut teladan Kristus ini dapatlah kita jadikan teladan sempurna. Pdt. Stephen Tong dibesarkan oleh seorang janda yang sangat miskin namun meski miskin, ia masih mempunyai hati yang memberi, setiap minggu ibunya memberi segenggam beras dan gula kepada orang yang lebih miskin. Stephen Tong kecil melihat apa yang dilakukan oleh ibunya ini justru semakin memacu semangatnya untuk berjuang dan menjadi berkat bagi orang lain. Miskin materi bukanlah faktor utama yang menjadikan hidupnya tidak dapat berdaya guna. Tidak! Ada harta lain yang melimpah dalam dirinya yang tidak menjadikannya miskin, yakni Tuhan yang menjadikan hidupnya kaya dan semakin diperkaya dan menjadi berkat bagi dunia. Biarlah kita berubah dalam paradigma dengan demikian tidak berjiwa miskin tetapi sebaliknya kita berjiwa kaya karena kita mempunyai Tuhan adalah sumber segala kehidupan. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060611.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-4 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Monday, June 11th, 2007

Eksposisi Injil Matius

Ringkasan Khotbah : 04 Juni 2006

Kristus Sebagai Pusat Hidup (4)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:5-6

Puji Tuhan, hari ini kita memperingati hari Pentakosta, yakni hari turunnya Roh Kudus dimana pada hari Pentakosta inilah gereja pertama kali berdiri. Pada hari Pentakosta yang pertama itu, Petrus dengan berani memberitakan berita: “Bertobatlah karena Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Roh Kudus telah memberikan keberanian pada para murid untuk memberitakan tentang Yesus Kristus Juruselamat dunia. Orang berespon terhadap Firman dan mereka bertobat dan memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka tiga ribu jiwa. Perhatikan, saat Roh Kudus turun dan bekerja atas para murid maka fokus pemberitaan bukan pada diri-Nya tapi seluruh pekerjaan Roh Kudus itu berpusat pada Kristus, Sang Mesias sejati. Namun sangatlah disayangkan di dunia modern ini, berita: “Bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“ tidak lagi diberitakan. Orang takut kalau ia dimusuhi oleh dunia. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk menyadarkan manusia akan dosa dan akibatnya, yaitu kebinasaan kekal apabila mereka tidak bertobat dan kembali pada Kristus. Problema manusia yang paling serius, yaitu dosa hanya dapat diselesaikan dengan pertobatan. Berita Pentakosta menuntut orang untuk bertobat, dan tidak kembali berbuat dosa.

Tanpa pekerjaan Kristus, tanpa kemenangan Kristus, tanpa pekerjaan Roh Kudus mustahil bagi manusia untuk lepas dari cengkeraman dosa. Hati-hati, janganlah tertipu dengan berbagai macam jebakan dan godaan iblis yang selalu berusaha menghancurkan hidup manusia karena iblis tidak suka melihat ada orang yang hidup dalam kebenaran. Tuhan menegaskan ketika kita menjadi pengikut Kristus maka kita akan mengalami berbagai ancaman dan tantangan. Namun di tengah-tengah tantangan dan ancaman itulah Roh Kudus bekerja, menguatkan sehingga kita tidak terjatuh. Inilah kuasa kemenangan, kuasa kehidupan yang tidak membawa kita kepada kematian. Berita kebangkitan Kristus ini merupakan berita iman Kristen yang sejati. Perhatikan, hanya Kristus Sang Mesias yang sejati yang mempunyai kuasa kebangkitan yang menghidupkan.

Ada enam tanda yang dibukakan oleh Kristus yang menyatakan bahwa Dia adalah Mesias, yaitu: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Mat. 11:5-6). Perhatikan, orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan disini bukan sekedar melihat dan berjalan secara fisik. Tidak! Tanda ini menjadi kekuatan perombakan yang menyadarkan orang bahwa Kristus adalah Mesias. Sayangnya hari ini banyak manusia yang buta sekalipun ia melihat dan banyak manusia yang lumpuh sekalipun ia dapat berjalan. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan mata rohani kita dibukakan dan kita dapat melihat Kristus Sang Mesias? Celakalah hidup kita kalau kita buta karena hidup kita akan tersesat. Revitalisasi menjadi titik pertama yang menyadarkan manusia untuk melihat pada Kebenaran sejati.

Mujizat orang kusta menjadi tahir dan orang tuli mendengar ini juga sangat unik, yaitu: 1) hanya dicatat dalam Injil Matius, Markus dan Lukas, 2) semua itu hanya dilakukan oleh Kristus, 3) membicarakan satu tema yang sama, yaitu rekonsiliasi. Kusta adalah penyakit fisik sekaligus spiritual. Orang kusta yang disembuhkan bukan dikatakan sembuh tapi dikatakan tahir artinya bersih suci. Manusia yang ditahirkan merupakan gambaran rekonsiliasi, manusia diperdamaikan kembali dengan Allah. Orang yang sakit kusta maka ia harus dipisahkan dengan orang lain yang sehat. Inilah gambaran manusia berdosa yang dipisahkan dari Allah. Celakalah hidup manusia yang terpisah dari Allah, manusia masuk dalam kebinasaan kekal. Demikian halnya dengan orang yang tuli bisu, secara otomatis ia terpisah dari komunitas lain. Kedua mujizat ini merupakan gambaran dari orang-orang yang tadinya tercabik dari masyarakat tapi kini diperdamaikan kembali. Semua ini merupakan gambaran dosa, orang berdosa yang dipulihkan yang disebut sebagai atonement, pendamaian.

Adalah mustahil seorang manusia berdosa berdamai dengan Allah yang suci. Ketika manusia berdosa bertemu dengan Allah akibatnya manusialah yang mati, hal ini digambarkan dalam kitab Perjanjian Lama. Jadi, kalau ada orang berdosa yang mengaku dekat dengan “allah“ membuktikan bahwa itu bukanlah allah tetapi iblis. Hanya iblis yang mau dekat dengan manusia berdosa. Kecuali Allah sendiri yang berinisiatif mau menolong dan menopang manusia barulah manusia dapat diperdamaikan kembali dengan Allah. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara Allah memperdamaikan manusia? Apakah dengan membiarkan dosa? Tidak! Mengabaikan dosa berarti berkompromi dengan dosa dan itu berarti pelecehan terhadap natur Allah yang suci adanya. Pendamaian sejati digambarkan dalam tindakan pentahiran orang kusta dan orang tuli mendengar. Tindakan Mesianis yang klimaks, yaitu orang mati dibangkitkan dan orang miskin mendapat kabar baik.

Hari ini kita akan merenungkan tanda yang kelima, yaitu orang mati dibangkitkan. Dan perhatikan, orang mati yang dibangkitkan ini hanya dapat dilakukan oleh Kristus Sang Mesias sejati. Di dunia ini tidak ada satu manusia pun yang dapat membangkitkan orang mati seperti yang pernah dilakukan oleh Kristus. Berbeda halnya kalau kita membuat sesuatu yang hidup menjadi mati maka semua orang pasti dapat melakukannya. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak akan dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati begitu juga dengan setan, setan tidak mempunyai kuasa menghidupkan karena itu berarti ia melawan naturnya sendiri yang adalah bapa kematian. Manusia telah berbuat dosa maka upah dosa adalah maut. Ingat, setiap manusia pasti mati; manusia tidak dapat lepas dari kematian. Manusia akan sangat takut ketika kematian itu datang mendekat karena manusia tidak tahu bagaimana keadaan setelah kematian. Berbeda halnya kalau manusia tahu dengan jelas keadaan setelah kematian maka kematian itu tidak lagi menakutkan.

John Calvin mengungkapkan sesungguhnya dalam hati manusia yang terdalam ditanamkan bibit agama, benih iman, sense of divinity, yakni suatu kesadaran bahwa setelah manusia selesai dengan sejarah maka ia akan masuk dalam kekekalan. Artinya orang yang masuk dalam kematian kekal berarti selama-lamanya ia akan mati. Merupakan kesalahan fatal dari gereja Roma Katolik yang berpendapat bahwa setelah manusia mati masih akan mengalami proses dalam api penyucian barulah setelah dari api penyucian, orang menuju sorga mulia. Tidak! Setelah kematian tidak ada proses. Pemikiran yang sama, yaitu setelah kematian masih ada proses melekat dalam tradisi Tionghoa. Mereka berpikir dunia setelah kematian itu sama seperti dunia sekarang yang didalamnya mereka hidup. Itulah sebabnya kita menjumpai berbagai bentuk materi yang terbuat dari kertas yang menyerupai materi di dunia.

Manusia yang berada di luar Kristus maka ia akan mengalami kematian kekal. Orang berdosa berarti ia menjadi budak iblis. Itulah sebabnya, segala cara dipakai iblis supaya kita mati di dalam dosa sehingga kita menjadi miliknya. Namun Allah tidak tinggal diam, Allah murka terhadap dosa maka satu-satunya cara supaya manusia lepas dari ikatan iblis adalah Allah yang harus mati, menggantikan manusia berdosa. Kristus merelakan diri-Nya dan membiarkan diri dimatikan karena dosa manusia harus ditanggungkan ke atas-Nya. Itulah sebabnya, ketika Kristus datang ke dunia, iblis sangat sengit melawan Kristus dan mau mematikan Kristus. Iblis pikir ia telah menang karena ia telah “berhasil“ mematikan Kristus. Secara teori bisnis, iblis mempunyai perhitungan yang sangat tajam, yakni: 1) Iblis berpikir tentang untung dan rugi. Iblis tahu bahwa andaikata seluruh dosa umat pilihan Tuhan ditanggungkan atas Kristus maka setan pikir tidak akan rugi karena jumlah manusia yang dipilih sangat sedikit dibanding dengan semua manusia di dunia. Dengan licik, iblis pikir kalau seluruh dosa ditangguhkan kepada Tuhan Yesus itu berarti dia diuntungkan. Memang, Alkitab menegaskan jalan menuju sorga sempit dan yang masuk ke dalam sorga jumlahnya tidak banyak, 2) Iblis berpikir kalau ia berhasil mematikan Kristus maka Kristus menjadi milik kepunyaannya dan itu berarti dia mempunyai kesempatan untuk menjatuhkan umat pilihan yang diselamatkan Kristus sebelumnya dan iblis pikir ia pasti berhasil sebab tidak ada Kristus yang akan membela umat-Nya. Andaikata dalam suatu populasi masyarakat hidup satu juta jiwa maka diantara satu juta manusia itu hanya sedikit manusia yang diselamatkan dan iblis memperhitungkan dalam hal ini ia tidak dirugikan justru ia malah diuntungkan karena Kristus Anak Allah menjadi miliknya sama halnya seperti bisnis dengan memberi seratus, ia akan mendapat satu juta. Iblis merasa diuntungkan, ia merasakan sukacita karena “berhasil“ mendapatkan Kristus.

Ternyata perhitungan iblis salah! Iblis tidak tahu kalau ia telah mempertaruhkan kekuatannya yang terbesar dengan kekuatan Kristus. Kekuatan setan yang terbesar adalah kuasa kematian. Namun celakanya, kuasa kematian ini tidak berkuasa atas Kristus – Kristus menang atas kuasa kematian, Dia bangkit. Andaikata iblis tahu strategi Allah maka iblis pasti tidak akan mematikan Kristus. Itulah matinya kematian oleh kematian Kristus seperti yang diungkapkan oleh John Owen. Konsep ini tidak dipahami oleh iblis. Hal ini membuktikan bahwa sepandai-pandainya iblis, ia tidak lebih pandai dari Allah. Berbahagialah orang yang menjadi pengikut Kristus karena ia memiliki kuasa kebangkitan, kuasa kemenangan dari Kristus. Maka tanda Kemesiasan yang diungkapkan oleh Kristus, yaitu orang mati dibangkitkan bukan pekerjaan sembarangan. Kuasa menghidupkan hanya dapat dilakukan oleh kuasa Allah maka tanpa hubungan Mesianis tidak mungkin ada kuasa kebangkitan ini. Kuasa kebangkitan disini bukan sekedar bangkit secara tubuh jasmani. Tidak! Karena orang yang dibangkitkan secara jasmani orang akan mati lagi.

Orang Yahudi pun sangat memahami bahwa kebangkitan Lazarus bukan sekedar kebangkitan tubuh jasmani. Hal kebangkitan Lazarus ini sangatlah unik sebab hanya dicatat dalam Injil Yohanes saja dan setelah kejadian itu, orang Yahudi dan para ahli Taurat bersekongkol untuk membunuh Tuhan Yesus. Para ahli taurat dan orang Yahudi tahu bahwa kuasa kebangkitan yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus ini bukan kuasa biasa sebab tidak ada satu manusia pun yang dapat membangkitkan orang yang sudah mati selama 4 hari. Ketika membangkitkan Lazarus, Tuhan Yesus tidak masuk dalam kubur Lazarus, ini membuktikan kalau sebelumnya tidak ada manipulasi. Hari itu, mujizat kebangkitan ini disaksikan oleh banyak orang. Tindakan Kristus ini tidak dapat ditoleransi maka orang Yahudi dan para ahli Taurat bersekongkol untuk membunuh Tuhan Yesus atau kalau tidak, mereka yang mati.

Mujizat orang mati dibangkitkan ini merupakan finalitas Kemesiasan Kristus. Kuasa kebangkitan menunjukkan kemenangan total dalam semua aspek hidup. Kebangkitan adalah sesuatu yang mustahil namun semua itu tidaklah mustahil karena dilakukan oleh Kristus. Kuasa kemenangan ini hanya diberikan pada anak-Nya dan ini menjadikan kita lebih berdinamika. Kuasa kebangkitan memberikan pada manusia kuasa hidup. Perhatikan, lingkungan di sekitar kita tidak berubah, tantangan dan ancaman tidak berubah maka manusialah yang harus diubahkan. Vitalisasi akan kita capai ketika kita sampai pada titik puncak dan tentunya, dengan kekuatan kemenangan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus harusnya memberikan pada kita suatu kesadaran, yaitu kita sedang berpaut pada Mesias yang sejati. Tidak ada satu pemimpin di dunia ini yang mempunyai esensi seperti Kristus. Kristus bukan sekedar seorang pemimpin agama dunia. Tidak! Kristus adalah Anak Allah, Sang Kebenaran yang berinkarnasi menjadi manusia, Dia adalah kuasa hidup yang membangkitkan dan menghidupkan.

Tekanan dunia semakin berat tetapi ingatlah, kita mempunyai Tuhan yang hidup, Dia akan memimpin langkah hidup kita. Biarlah hidup kita senantiasa berpaut pada Allah maka kita akan mendapatkan sukacita kekal. Jangan tertipu dengan segala bujuk rayu si iblis yang akan terus berusaha menjatuhkan dan menghancurkan manusia. Kuncinya hanya satu supaya kita tidak jatuh dalam jebakan iblis, yaitu taat pada Tuhan. Kuasa yang diberikan pada anak Tuhan adalah kuasa hidup yang menghidupkan dan kuasa hidup ini memberikan pada kita suatu dinamika ketaatan kepada Tuhan dengan demikian kita tidak mudah digoyahkan. Hati-hati, janganlah keinginan diri menguasai kita tapi hendaklah kita mengingat bahwa sebagai pengikut Kristus, kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Menyangkal diri itu merupakan kekuatan kita melawan segala keinginan nafsu duniawi dan godaan iblis. Inilah yang dinamakan sebagai kuasa hidup bukan kuasa kematian. Janganlah kita menjadi seperti seekor ikan mati yang hanya mengikuti arus. Saat ini, kita tidak mati maka seekor ikan yang hidup ia pasti akan melawan arus. Kuasa Kebangkitan Kristus menjadikan kita dapat berpaut pada Tuhan. Ketika hidup bertemu dengan hidup maka itu menjadikan kita hidup sejati. Inilah iman Kristen sejati. Biarlah kuasa kebangkitan Kristus ini menjadi kekuatan bagi kita dalam melangkah di tengah dunia yang gelap ini dengan demikian kita tidak mudah digoyahkan oleh berbagai tekanan dunia tapi kita justru menjadi pemenang dan menjadi terang bagi dunia yang gelap. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060604.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-3 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, June 3rd, 2007

Eksposisi Injil Matius 11

Ringkasan Khotbah : 28 Mei 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (3)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:5-6

Pendahuluan

Sebelumnya kita telah memahami apa yang menjadi alasan Tuhan Yesus sehingga Dia tidak langsung memberikan jawab atas pertanyaan para murid Yohanes Pembaptis yang mempertanyakan tentang Kemesiasan Kristus. Sesungguhnya bukanlah hal yang sulit bagi Tuhan Yesus untuk memberikan jawaban langsung: Ya, Aku Mesias. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus sebab Tuhan ingin supaya para murid Yohanes ini mengambil kesimpulan sendiri dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar, yaitu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Tuhan Yesus ingin supaya mereka mampu merelasikan sesuatu yang menyangkut hakekat/esensi sejati. Tuhan Yesus ingin mereka beriman secara hakekat dan bukan karena jawaban praktis.

Ironisnya, dunia modern lebih suka hal-hal yang sifatnya praktis dan cepat. Postmodern telah berhasil menghantam dunia dengan konsep pragmatisnya. Orang tidak suka kalau ia diberikan suatu konsep untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Sebagai contoh, orang lebih suka soal ujian yang sifatnya multiple choice dibandingkan dengan soal yang sifatnya esai dimana orang harus menurunkan rumus dasar sedemikan rupa sampai akhirnya ia mendapat jawaban yang tepat. Perhatikan, mujizat yang Tuhan kerjakan ini bukanlah sekedar mujizat biasa seperti yang dilakukan oleh dunia. Tidak! Tuhan menata secara struktur dimana enam urutan kejadian tidak boleh dibolak balik supaya orang dapat melihat hal-hal yang esensi dibalik yang fenomena.

Sakit kusta yang dimaksud dalam Alkitab bukanlah sekedar penyakit fisik tetapi sakit kusta berkorelasi langsung dengan sakit rohani. Kusta dianggap sebagai kutukan akibat dosa yang dilakukan oleh seseorang. Itulah sebabnya orang sakit kusta yang disembuhkan tidak memakai istilah “sembuh“ tetapi “tahir.“ Selain secara fisik ia disembuhkan tapi ada hal lain yang lebih penting, yaitu secara spiritual ia dibersihkan. Perjanjian Lama (PL) berbicara tentang kusta sebanyak 48 kali namun seluruhnya bukan membicarakan sakit fisik. Para Rasul dalam Perjanjian Baru (PB) tidak pernah berbicara tentang kusta. Orang kusta yang ditahirkan hanya terdapat 9 kali dimana 5 kali diantaranya membicarakan kejadian yang sama, masing-masing di Injil Matius sebanyak 4 kali; injil Markus sebanyak 2 kali, dan injil Lukas sebanyak 3 kali dan ketiganya itu menyatakan Kristus Yesuslah yang mentahirkan kusta. Hanya injil Yohanes yang tidak pernah menyinggung sedikitpun hal-hal tentang kusta maupun tuli karena Injil Yohanes ini melihat Kristus secara theologis.

Sebelumnya kita telah merenungkan esensi dibalik mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan maka hari ini kita melihat esensi dibalik mujizat: orang kusta menjadi tahir dan orang tuli mendengar, yaitu: 

1. Tekanan Dosa

Setelah mata kita dicelikkan dan kaki yang lumpuh dapat berjalan kembali, kita telah direvitalisasi secara spiritual maka hal kedua yang harus diselesaikan adalah bagaimana menghancurkan problematika terbesar, yaitu keluar dari belenggu dosa. Esensi dari mujizat orang kusta menjadi tahir dan orang tuli mendengar ini adalah dosa yang membelenggu. Orang kusta menjadi tahir berarti penyelesaian terhadap dosa; orang tuli mendengar berarti terlepasnya manusia dari belenggu ikatan dosa. Kristus Yesus yang mentahirkan dan menyembuhkan merupakan lambang dari penebusan dosa – manusia dikeluarkan dari belenggu kematian kembali pada kehidupan kekal. Perhatikan, hanya Kristus yang dapat menebus dosa itulah sebabnya para Rasul tidak pernah menyinggung tentang kusta menjadi tahir. Kata “tuli“ berasal dari bahasa Yunani, kophos. Istilah “tuli“ terdapat dalam PB sebanyak 5 kali dan semuanya berbicara tentang Tuhan Yesus yang menyelesaikan dosa sedang dalam PL sebanyak 11 kali. Namun kalau kita cari dalam bahasa aslinya, maka istilah “kophos“  dalam PB ini, yakni Injil Matius, Markus dan Lukas muncul sebanyak 14 kali, yaitu 5 kali diterjemahkan sebagai tuli sedang yang 9 kali diterjemahkan sebagai bisu. Ketiga disini adalah tuli bisu, yakni tuli yang berakibat pada kebisuan. Sedang untuk orang yang bisu saja ada istilah tersendiri, yakni alalos (bahasa Yunani) dan dalam PB terdapat satu kali. Berarti secara keseluruhan dapat disimpulkan dalam ketiga Injil: istilah kophos yang berarti tuli muncul sebanyak 5 kali, kophos yang berarti bisu sebanyak 8 kali sedang 1 kali diterjemahkan sebagai orang yang bisu saja, yakni alalos. 

Orang yang tuli bisu hidupnya pasti tertekan karena ia tidak dapat berkomunikasi dan mengkomunikasikan; ia tidak dapat menangkap pikiran orang lain dan ia sendiri tidak dapat mengungkapkan pikirannya. Inilah gambaran dari esensi dosa; orang tidak mendengar maupun memberikan informasi, orang hanya berkutat di dirinya sendiri. Kedua mujizat ini merupakan mujizat Kristus yang dikerjakan secara eksklusif dalam PB sebab mujizat ini direlasikan secara langsung dengan dosa. Tindakan Kristus sebagai tindakan Kristologis, yakni Mesias yang menebus dosa manusia.

Sama halnya seperti kondisi orang yang berdosa ketika orang menyadarkan akan dosa dan kebenaran sejati, ia seperti orang tuli yang tidak nyambung antara apa yang disampaikan dengan apa yang ia terima. Sebagai contoh, orang menyadari kalau sesungguhnya konsep harus melandasi pratika sehingga orang harus mengerti konsep terlebih dahulu baru ia dapat menyelesaikan setiap permasalahan ketika tekanan itu datang namun toh orang masih tetap bersikeras ingin hal yang praktika. Dalam hal ini terjadi ketidak sinambungan, logikanya tidak berjalan, ia berkutat dengan dirinya sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus banyak mengajar dengan perumpamaan. Perumpamaan bukan dimaksudkan supaya orang  mudah memahami ajaran Tuhan Yesus. Tidak! Tuhan Yesus menegaskan: kepada kamu diberikan anugerah untuk mengerti rahasia Kerajaan Sorga dan kepada mereka tidak karena mereka melihat tapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:10-13). Inilah ketulian yang hakiki akibat dosa. Orang tuli tidak mendapat pengertian kebenaran, orang tidak dapat mengelola kebenaran karena ia sengaja menutup dirinya akan kebenaran. Adalah suatu anugerah kalau kita dapat mendengar kebenaran dan kita diubahkan. Sama halnya orang tuli, orang kusta ini hidupnya pasti tertekan; ia hanya menunggu mati; ia melihat tubuhnya yang makin hancur tetapi ia tidak berkuasa melawannya. Inilah gambaran dosa. Sulit bagi manusia untuk lepas dari cengkeraman dosa, orang tahu kalau ia pasti mati.

Seluruh kebenaran Alkitab, apa yang tersirat dibalik yang tersurat ini diungkapkan dalam theologi Reformed. Salah satu warisan yang diwariskan dari studi yang mendalam dari para theolog Reformed ada empat hal, yaitu: 1) Creation, penciptaan; 2) Fall, kejatuhan manusia; 3) Redemption, penebusan; 4) Consummation, penyempurnaan. Beda halnya dengan dunia, dunia hanya memulai dan berakhir pada satu titik, yaitu: fall, kejatuhan. Orang berdosa melihat masalah, memikirkan masalah dan mencari penyelesaian masalah dari permasalahan itu berdasarkan masalah maka hasil akhirnya adalah masalah. Sebagai contoh, bawalah sebuah mobil ringsek ke suku primitif dan katakanlah pada mereka bahwa mobil ringsek itu adalah mobil. Dan suatu kali, kita bawa mobil yang dicipta sempurna di tengah-tengah mereka maka orang tetap bersikeras kalau itu bukan mobil. Orang yang mau menyelesaikan mobil ringsek supaya mobil ringsek itu selesai dari masalah ringseknya tapi tanpa orang tahu bentuk mobil yang asli. Bukan hal yang mudah menjelaskan pada mereka bahwa realita yang mereka lihat sekarang itu adalah realita setelah kejatuhan. Maka dapatlah dibayangkan kesulitan yang harus kita hadapi ketika kita menjelaskan tentang kebenaran sejati pada mereka yang tuli. Dosa telah membelenggu manusia, orang tidak dapat melihat kaitan antara realita dan esensi.

Suatu masalah haruslah dilihat dari creation barulah dapat diselesaikan dan satu hal lagi, orang harus berani menebus, redeem. Tidak ada penyelesaian yang dapat diselesaikan dengan murah dan mudah. Kristus harus datang ke dunia dan menebus dosa. Manusia harus kembali pada Kristus; tanpa Kristologi tidak ada penebusan, tanpa Kristologi tidak ada penyelesaian masalah, seluruh hidup manusia hanya berakhir di titik kejatuhan. Namun tidak berhenti sampai titik Redemptation. Redemptation harus diselesaikan dengan consummation, proses yang terus berjalan sampai pada kekekalan. Orang yang hidup dalam dosa, berkubang dalam masalah dan mencari masalah. Keluar dari masalah untuk masuk dalam masalah baru sebab orang tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah. Inilah kondisi manusia berdosa yang digambarkan seperti orang kusta dan tuli. Untuk keluar dari cengkeraman dosa maka orang harus kembali pada Kristus yang adalah Mesias.

2. Pencemaran Diri

Apalah gunanya orang tuli disembuhkan kalau yang didengar hal-hal yang berdosa dan ia mencemari orang lain dengan dosa. Adalah lebih baik kalau ia tidak sembuh dengan demikian ia hanya mencemari dirinya sendiri dengan dosa sehingga orang lain tidak menjadi hancur. Kusta merupakan gambaran yang cocok untuk orang yang berada dalam belenggu dosa dimana kerusakan tubuh itu berasal dari dalam, orang tidak dapat melawan proses kerusakan tersebut, orang hanya menunggu mati. Orang kusta harus berteriak, “Najis, najis“ ketika ia bertemu orang lain supaya orang tidak tercemar dosanya. Orang kusta ini akan merasa tidak nyaman ketika ia berada di lingkungan orang-orang yang sehat maka orang kusta ini membentuk suatu komunitas tersendiri. Komunitas ini merupakan komunitas berdosa, komunitas pencemaran. Hanya kuasa penebusan yang dapat menjadikan orang cemar menjadi tahir. Orang yang mengaku dirinya Kristen maka ia harus berjuang dan berusaha keras untuk melawan segala bentuk pencemaran. Biarlah kita mengevaluasi diri, hari ini kita hidup dalam dunia yang tercemar dosa lalu bagaimana dengan diri kita apakah kita turut larut didalamnya ataukah kita melawan keras segala bentuk pencemaran? Apakah kita sudah dilahirbarukan dalam Kristus? 

Setiap orang Kristen bukanlah orang suci, kita adalah orang cemar karena itu perlu adanya pentahiran. Kristus melakukan mujizat untuk menyelesaikan problema manusia yang paling besar, yaitu dosa. Hukum tidak akan dapat menyelesaikan masalah etika. Hukum hanya dapat menyelesaikan efek dari etika. Etika hanya dapat diselesaikan dengan pertobatan kemudian orang dididik dengan kualitas kesucian seperti yang Kristus teladankan. Perhatikan, tempat dimana hukum dijalankan dengan keras justru disana banyak terjadi pelanggaran hukum. Adalah tugas setiap anak Tuhan yang telah ditahirkan untuk menjadi saksi bagi dunia yang cemar, menyadarkan orang berdosa kembali ke dalam Sang Kebenaran sejati. Sungguh sangatlah mengenaskan, hari ini gereja tidak lagi memikirkan kerohanian jemaat, tidak lagi memberitakan Injil, membawa orang kembali pada kebenaran. Segala cara dipikirkan demi untuk meraup keuntungan sendiri.

Gereja telah tuli, gereja berkubang dalam kecemaran. Gereja tidak lagi menjalankan peranannya di tengah dunia berdosa. Misi gereja telah bergeser; gereja hanya memikirkan hal-hal yang sifatnya fenomena. Gereja hanya memikirkan cara untuk mendapatkan berkat dan hidup berkelimpahan. Gereja tidak lagi berorientasi pada hal-hal yang rohani, memusatkan hidup pada Kristus. Tidak! Sebaliknya gereja justru memusatkan hidup pada dosa. Ini pencemaran dosa. Kalau kita tidak disembuhkan maka kita tetap berada dalam kondisi kophos dan kita tetapi berkubang dalam dosa. Bertobat, kita harus kembali memusatkan hidup kita pada Kristus Sang Mesias. Gereja harus mewartakan kebenaran, mendidik jemaat semakin bertumbuh dalam iman dan berakar kuat, taat menjalankan apa yang menjadi kehendak Bapa.

3. Hidup Terpisah dari Allah

Hidup seorang kusta dan seorang tuli pastilah sangat tertekan selain karena hidup tersendiri, mereka juga dipisahkan/aleniasi dari lingkungannya. Bayangkan kalau kita berada di suatu tempat dimana kita tidak memahami sama sekali bahasa mereka. Sungguh tersiksa, bukan? Kita merasa tersendiri dan asing. Memang benar, kita berada di tengah-tengah mereka tapi kita bukanlah bagian dari mereka. Orang yang tuli bisu sejak lahir adalah orang yang terpisah dari sosial lingkungannya. Demikian juga dengan orang kusta, dia menempati tempat tersendiri dan dia harus berteriak: najis, najis supaya orang tidak mendekatinya. Orang berdosa adalah orang yang dipisahkan dari kehidupan. Gambaran kusta dan tuli ini bukan sekedar gambaran fisik. Dosa berarti kita dipisahkan dari Allah dan akibatnya adalah kematian kekal. Hukuman yang paling menakutkan adalah ketika kita dilepaskan dari relasi hidup. Tuhan ingin ketika kita hidup maka itu bukan sekedar berelasi secara horisontal belaka tetapi ada relasi yang lebih penting yaitu relasi yang bersifat vertikal. Kalau relasi kita dengan Tuhan baik pastilah hubungan kita dengan sesama akan baik.

Celakalah, hidup kita kalau kita tidak dapat mendengar suara Tuhan yang memimpin setiap langkah hidup kita. Hari ini kalau Tuhan masih mau berbicara pada kita, Tuhan masih menegur kita maka jangan sia-siakan anugerah ini tetapi hendaklah kita bertobat dan memohon ampunan-Nya, dan kita hidup taat pada-Nya. Sayangnya, hal ini tidak dilakukan Yudas. Itulah saat kematian Yudas, ia terpisah dari Allah. Dosa adalah keterpisahan dari sumber hidup. Hendaklah kita memfokuskan hidup kita pada Kristus adalah Mesias; Dia adalah Sumber Hidup yang sejati. dengan demikian kita tidak sekedar direvitalisasi tetapi revitalisasi itu disertai dengan keluarnya kita dari ikatan dosa. Amin ?

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060528.htm