Archive for July, 2007

Eksposisi Injil Matius 11 : MARILAH KEPADA-KU-3 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, July 29th, 2007

Ringkasan Khotbah : 27 Agustus 2006

Marilah Kepada-Ku (3)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:28-30

Pendahuluan

Kita telah memahami bahwa orang yang hidupnya tidak berpusat pada Kristus maka ia akan masuk pada kondisi fatigue, letih dan over burden, berbeban berat. Abad 17 merupakan puncak kejayaan manusia, jaman itu disebut sebagai jaman pencerahan, enlightment dimana filsafat humanisme pertama kali diteriakkan: we are now come to the age, kami telah sampai pada usia dewasa, kami tidak memerlukan Tuhan lagi karena mampu mengerjakan segala sesuatunya seorang sendiri.  August Comte dengan tegas menyatakan bahwa hanya orang bodoh atau orang primitiflah yang masih mempunyai banyak Tuhan. Kegilaan manusia semakin menjadi-jadi, di abad 20, seorang bernama Nietzsche dengan tegas menyatakan bahwa ia telah membunuh Tuhan, membunuh dengan pikirannya sehingga orang tidak perlu lagi memikirkan Tuhan. Pertanyaannya adalah apakah pada puncak kejayaan itu tujuan manusia, yaitu untuk mencapai kesejahteraan tercapai? Tidak! Dunia semakin hancur, hal ini ditandai dengan meletusnya perang dunia I dan II, berjuta-juta manusia mati terbunuh. Orang mulai sadar dan mulai mempertanyakan akan arti hidup. Dunia tidak menjadi semakin baik, orang mulai menyingkirkan spiritualitas dan orang mengikuti ajaran dunia, seperti: rasionalisme, humanisme, eksistensialime dan lain-lain maka jaman itu disebut sebagai post christian era. Hari itu orang Kristen sangat malu mengakui dirinya percaya Tuhan dan pergi ke gereja. Orang sangat memandang hina dan sinis dan mengatakan orang Kristen adalah  manusia primitif. Mereka tidak sadar kalau sesungguhnya merekalah yang patut dikasihani.

Kerusakan dunia tidak berhenti sampai disitu tetapi di abad yang sama, yakni abad 20 muncul tiga gerakan besar yang menjadikan dunia menjadi semakin rusak, yakni:

1. Psikologi

Psikologi adalah usaha manusia menyelesaikan problema manusia dengan menggunakan metodologi yang dikembangkan dunia, tanpa tahu hakekat manusia sejati. Dapatlah dibayangkan apa jadinya kalau manusia yang sedang bermasalah itu menyelesaikan masalah dengan cara dunia yang berdosa pastilah masalah itu tidak terselesaikan tapi justru malah menambah masalah. Hal ini disebabkan karena orang tidak mempedulikan hakekat manusia yang sejati. Psikologi juga tidak memahami hakekat manusia yang sejati, yaitu manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Empat aliran psikologi yang ada, seperti: psikoanalisa, behaviourisme, humanisme, transpersonal psikologi tidak akan pernah memahami hakekat manusia sejati kecuali manusia kembali pada Allah barulah orang dapat mengerti hakekat manusia sejati. Psikologi juga tidak pernah menyelesaikan problema manusia sebab psikologi tidak mengerti bahwa akar dari permasalahan adalah akibat relasi manusia dengan Allah yang rusak. Hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak itu menjadikan hubungan antar manusia – manusia rusak, manusia – diri rusak, dan manusia – alam pun rusak. Adalah mustahil manusia menyelesaikan masalah dengan pendekatan psikologi tetapi di satu sisi, manusia membuang Tuhan.

2. Ekonomi 

Manusia yang sombong tidak mau taat pimpinan Tuhan; manusia merasa diri mampu mengerjakan segala sesuatunya seorang diri maka manusia mulai mengembangkan suatu ideologi humanisme materialisme. Pada abad 20, manusia mulai berorientasi pada dunia materi, yakni uang maka segala sesuatu dipikirkan dan dikerjakan, hasil akhirnya adalah untuk mendapatkan uang. Ajaran komunisme dan materialisme dialektik berkembang pesat di seluruh dunia, hal ini ditandai dengan munculnya sekolah-sekolah ekonomi dan sejenisnya yang merupakan pengembangan dari ekonomi bahkan seluruh bidang studi yang ada sekarang untuk memenuhi kepentingan ekonomi dan berorientasi pada uang. Manusia pikir, uang adalah segala-galanya, uang adalah sumber kebahagiaan. Salah! Uang adalah sumber kejahatan. Orang yang mengejar kekayaan, seumur hidup ia menjadi budak materi. Bahagia itu kita rasakan kalau kita kembali pada Tuhan. Perhatikan, semakin kaya seseorang, masalah yang dihadapi semakin banyak. Sebagai contoh, Ayub dan Abraham. Kekayaan kalau tidak ditopang dengan spiritualitas maka kekayaan itu menjadi bumerang yang mematikan.

3. Gerakan Kharismatik

Di tengah dunia yang semakin kacau, Kekristenan yang seharusnya meneriakkan kebenaran sejati malahan mengikut arus dunia. Gereja pun terpengaruh dengan paham humanis materialis – gereja memakai hukum ekonomi supply and demand, yakni apa yang menjadi kebutuhan jemaat maka gereja akan memenuhinya. Maka muncullah suatu gerakan teologi baru yang dikenal dengan charismatic movement. Gerakan ini muncul di azuza street, Amerika yakni gerakan spiritual yang bersifat spiritisme. Gerakan ini memakai nama Allah tetapi mempermainkan Allah untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Gerakan spiritisme ini aspek psikologi dan aspek humanisme materialisme  sangat kental didalamnya; kalau Tuhan ada maka adanya Tuhan tersebut adalah

demi kepentingan manusia, yakni untuk menyelesaikan problema manusia dan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Perhatikan, orang yang ada dalam gerakan ini biasanya akan langsung meninggalkan Tuhan dan gereja ketika ia mengalami kekecewaan, ia akan mencari “allah“ lain yang dianggap menguntungkan. Manusia merasa diri berkuasa bahkan lebih berkuasa dari Tuhan sehingga manusia berani meminta supaya Tuhan yang Maha Kuasa itu memenuhi semua keinginannya. Dengan kata lain, Tuhan tidak ubahnya seperti budak. 

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________<br />
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________Namun toh ketiga arus besar, third wave ini tidak dapat menyelesaikan problema manusia,  manusia semakin terbelit dengan masalah akibatnya manusia jatuh dalam suatu kondisi letih lesu dan berbeban berat akhirnya orang menjadi kecewa dan mulai meninggalkan Kekristenan. Hal ini terjadi karena tidak ada iman yang sejati dalam dirinya. Dalam keadaan demikian ini Tuhan Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu“ (Mat. 11:28). Pertanyaannya apakah yang kelegaan seperti apakah yang ditawarkan Kristus? Apakah kelegaan humanisme, yakni kelegaan karena kita kaya? Ataukah kelegaan seperti yang ditawarkan Robert Tiyosaki, yakni kelegaan karena kita tidak bekerja? Ataukah kelegaan dengan melupakan masalah dan lari pada obat-obatan seperti ecstasi atau gerakan mistik lain seperti bunuh diri sama-sama? Perhatikan, semua kelegaan yang diberikan Kristus berbeda dengan kelegaan dunia yang bersifat semu dan justru membawa manusia pada masalah baru yang lain. Dunia semakin bergejolak dan membawa kita pada kehancuran. Kalau dulu, beban berat hanya dirasakan oleh mereka yang bekerja, kini secara pelan dan pasti beban itu dirasakan oleh mereka yang berada di usia sekolah bahkan anak-anak. Itulah sebabnya, kita seringkali menjumpai ada anak-anak yang bunuh diri karena mereka tidak kuat menahan beban yang sangat berat.

Beberapa aspek yang harus kita lakukan supaya kita mendapat kelegaan sejati adalah:

1. Perombakan Paradigma

“Marilah kepada-Ku…“ kalimat ini berbentuk imperatif aktif, suatu perintah yang mengandung otoritas. Kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat, Tuhan ingin supaya mereka datang pada-Nya. Datang kepada Yesus itu menuntut suatu kerendahan hati dan ketaatan mutlak. Dan biasanya setelah orang mengalami jalan buntu dan keputusasaan barulah orang datang kepada Yesus. Tuhan suka pada orang yang hancur dan remuk hatinya tapi itu bukan berarti Tuhan suka melihat anak-anak-Nya sengsara. Tidak! Tuhan ingin supaya manusia itu realistis dan menyadari kenyataan hidup barulah Tuhan membentuk kita menjadi ciptaan baru. Kelegaan sejati barulah kita dapatkan kalau kita mengubah konsep cara berpikir, konsep worldview kita yang salah. Orang sakit yang merasa dirinya sehat tidak akan pernah mendapat kesembuhan secara tuntas. Satu-satunya cara supaya ia dapat disembuhkan adalah ia harus realistis bahwa dirinya sakit dan memerlukan dokter. Ia harus mengubah konsep berpikirnya barulah ia dapat disembuhkan.

Kelegaan sejati harus dimulai dengan perubahan paradigma, bagaimana mengerti kebenaran sejati dengan cara menyangkal diri, membongkar semua apa yang menjadi kesombongan kita, membongkar semua presuposisi duniawi yang selama ini kita agungkan dan membiarkan Tuhan bekerja, barulah orang mendapat kelegaan. Perhatikan, Tuhan tidak pernah memaksa orang untuk datang pada-Nya bahkan teologi Reformed yang percaya predestinasi pun tidak pernah percaya bahwa orang masuk ke sorga karena dipaksa  bahkan sampai “diseret“ (bahasa Jawa) oleh Tuhan. Kesombongan manusia yang tidak mau diatur itulah yang membuat manusia sulit datang kepada Tuhan.  Orang tidak mau bertobat malah menganggap bahwa beban yang mereka alami sekarang sebagai suatu kewajaran maka kalau orang bisa datang kepada Tuhan dan mengaku bahwa diri adalah manusia berdosa itu merupakan suatu anugerah; Roh Kudus bekerja melembutkan hati seseorang dan melahirbarukan seseorang.

Pemerintah Cina begitu ketakutan ketika John Sung berkhotbah, mereka takut kalau John Sung dan para pengikutnya yang banyak itu melakukan pemberontakan maka pemerintah menempatkan mata-mata dan para tentara untuk mengawasi gerak gerik mereka. Para tentara ini justru dikagetkan dengan kejadian yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, tanpa dipaksa, banyak orang yang menangis dan mengakui semua perbuatan dosanya tak terkecuali para tentara itu pun menjadi bertobat. Kalau Tuhan bekerja melembutkan dan menyadarkan bahwa kita manusia berdosa maka itu merupakan suatu anugerah maka janganlah keraskan hatimu. Sadarlah, kita adalah orang berdosa dan dosa itulah yang menyebabkan orang menjadi fatigue dan berbeban berat dan hanya datang pada Kristus barulah kita mendapat kelegaan sejati.

2. Proposional Burden

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa orang Kristen tidak akan mengalami masalah. Tidak! Tuhan justru tidak mau membuat hidup anak-anak-Nya jatuh dalam kehidupan yang tidak natural, Tuhan tidak ingin kita hidup seperti binatang. Perhatikan, ketika Tuhan selesai mencipta manusia dan menaruhnya di taman Eden maka Tuhan memerintahkan manusia bekerja, menanggung beban. Memang, kondisi manusia sebelum dan sesudah kejatuhan sangat berbeda. Setelah kejatuhan, kerja menjadi sangat melelahkan, orang harus berpeluh untuk mendapat nafkah maka muncul pendapat yang mengatakan bahwa seandainya manusia tidak berdosa maka orang tidak perlu bekerja keras. Pendapat yang salah! Tuhan memerintahkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman (Kej. 2:15), itu artinya manusia harus bekerja. Tuhan ingin kita menjadi manusia seutuhnya, manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Kalau Allah Bapa bekerja dan Tuhan Yesus pun juga bekerja maka pertanyaannya adalah apakah kita sudah bekerja? Banyak orang yang berpikir dengan menjadi Kristen maka ia akan mendapat kenikmatan, tidak perlu bekerja keras dan yang lebih celaka lagi, ada orang yang berpikir selama di dunia bekerjalah segiat-giatnya, mati masuk sorga dan di sorga nanti kita akan memperoleh kenikmatan. Inilah jiwa manusia berdosa yang hedonis. Tuhan mencipta manusia untuk bekerja maka orang yang tidak mau bekerja berarti melanggar naturnya, orang menjadi non human. Kelegaan sejati itu akan kita dapatkan kalau kita kembali pada proporsional position yang tepat dan pas.

Salah satu faktor penyebab orang berbeban berat adalah ketidakseimbangan. Ketika kita mengangkat sebuah pikulan di titik yang salah maka kita akan terasa berat. Demikian juga orang yang bekerja terlalu berlebihan, bekerja  melebihi kapasitas dan kemampuannya maka itu akan menjadikan ia berbeban berat karena ia mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaannya. Tapi kemudian orang jatuh ke ekstrim yang lain, yaitu orang tidak mau bekerja. Bayangkan, manusia mana yang dapat bertahan hidup kalau ia hanya tidur seharian tanpa melakukan apapun? Hal ini justru membuatnya semakin cepat mati. Memang, setelah seharian bekerja, orang butuh istirahat tapi kalau istirahat sepanjang hidup maka justru menjadikan orang lelah. Celakanya, orang tidak tahu dimana letak titik proporsionalnya, manusia ingin hidup nikmat dan bahagia namun tidak tahu caranya maka pada saat demikian Tuhan berkata: “Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang … sebab kuk yang kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan.“ 

Hanya Tuhan yang tahu titik proporsional setiap kita, sampai batas mana kita dapat mengangkat beban sehingga kita tidak merasa berbeban berat. Biarlah kita kembali pada Tuhan, menyerahkan seluruh aspek hidup kita ke dalam tangan-Nya dan membiarkan Tuhan memasang kuk di pundak kita maka beban yang kita rasakan itu akan terasa ringan. Kerjakanlah seluruh pekerjaan yang Tuhan berikan pada kita dengan bertanggung jawab dan dengan sebaik-baiknya dan percayalah, beban itu akan terasa ringan. Kenapa kita membuat hidup itu menjadi berat padahal Tuhan menawarkan suatu posisi beban yang pas untuk kita. Satu hal yang Tuhan ingin kita lakukan adalah menyangkal diri dan taat pada-Nya; Tuhan akan memberikan beban yang pas untuk kita kerjakan dan kerjakanlah itu sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

3. Revitalisasi

Hanya kembali pada Tuhan barulah kita peroleh kelegaan sejati sebab kalau tidak, hasil akhirnya adalah kesia-siaan. Salah satu kecelakaan manusia adalah ketika ia menjadi humanis, manusia mau menegakkan kebenarannya sendiri maka muncullah gejala yang disebut sebagai trial and error. Manusia mencoba dan gagal, mencoba lagi dan gagal lagi maka pada saat itu kita telah membuang waktu, tenaga, uang dan semangat. Kita merasa tenang dan tidak berbeban ketika kita tahu, apa yang kita lakukan itu bermakna dan bernilai kekal. Orang akan bekerja dengan semangat kalau ia tahu Tuhan yang tempatkan ia untuk menggenapkan rencana-Nya dan bernilai kekal. Berbeda halnya kalau orang bekerja untuk sekedar mencari uang guna memenuhi nafkah maka ia akan merasa sangat lelah, tidak ada semangat kerja. Kelegaan yang Kristus tawarkan membawa kita pada suatu rest, annapauses, ketenangan yang sifatnya esensi. Berbeda dengan dunia yang memberikan ketenangan dengan cara lari dari masalah. Rest yang Tuhan tawarkan adalah merevitalisasi, mengkoreksi seluruh aspek dan masuk pada kondisi yang lebih baik.

Tuhan mencipta manusia dan alam semesta selama 6 hari dan pada hari ke-7, Tuhan menguduskannya. Hari ke-7 merupakan hari peristirahatan tetapi di hari itu, Tuhan tidak beristirahat. Dunia salah mengartikan rest sebagai rekreasi. Rekreasi berasal dari kata repeat yang artinya: ulang dan creation yang artinya dicipta. Setelah rekreasi, orang justru menjadi malas bekerja karena kecapekan. Marilah kita kembali pada istilah yang benar, rest itu tidak menjadikan kita meaningless, rest tidak menjadikan semangat kita hancur tetapi rest seharusnya membangun kembali seluruh aspek hidup yang rusak, rest membangun semangat baru dan pemikiran baru. Tuhan memberikan kelegaan bukan untuk menjadikan kita menjadi loyo dan dekreasi tetapi justru menjadikan kita bervitalitas. Pekerjaan kita memang banyak tetapi kita tidak terasa terbeban karena kuk yang Tuhan pasang itu enak. Kelegaan yang Tuhan tawarkan itu sifatnya esensial, kelegaan yang membawa kita pada true rest dan menyegarkan kita kembali. Dunia semakin menjepit kita masuk dalam kehancuran, kehidupan makin menjepit kita untuk masuk dalam kondisi hidup yang tertekan. Hal ini sangat dirasakan khususnya oleh mereka yang bergolongan ekonomi lemah, orang menjadi lelah, fatigue. Kondisi demikian sangat memancing terjadinya kejahatan dan anarkis. Orang malah bereaksi negatif, orang memberontak dengan harapan untuk memperbaiki keadaan dan akibatnya justru beban itu semakin membelit. Orang seharusnya sadar bahwa satu-satunya jalan untuk keluar dari beban adalah bertobat dan kembali pada Kristus, taat sepenuhnya untuk dipimpin oleh Dia.

Sebagai anak Tuhan, janganlah kita ikut dalam arus dunia yang semakin menjepit tetapi hendaklah kita kembali pada Tuhan, berubahlah dalam paradigma, hidup bersama Dia maka Tuhan akan memberikan beban yang pas sehingga kita mencapai efisiensi tertinggi karena kita tahu semua yang kita kerjakan itu bernilai kekekalan dan saat kita bekerja itu pun akan terasa ringan sebab Dia memberi kelegaan sejati untuk kemudian direvitalisasi ulang dengan semangat baru. Dan di tengah dunia yang rusak moral ini biarlah kita memancarkan terang Kristus dan menjadi saksi bagi-Nya. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060827.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : MARILAH KEPADA-KU-2 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, July 22nd, 2007

Ringkasan Khotbah : 20 Agustus 2006

Marilah Kepada-Ku (2)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:28-30

Kita telah memahami sebelumnya bahwa selama orang hidup di bawah kuasa penaklukkan dosa, orang akan mengalami kelelahan atau fatigue. Hanya kembali pada Tuhan barulah orang dapat terlepas dari kondisi fatigue; Tuhan akan memberi kelegaan. Ketika orang berjalan keluar dari rencana Tuhan, sesaat ia merasa nikmat dan nyaman sampailah orang sampai pada kegagalan, orang sudah fatigue barulah orang sadar kalau selama ini ia telah jauh melangkah, ia telah melakukan hal yang sia-sia. Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Mat. 11:28). Hari ini kita merenungkan arti dari berbeban berat atau over burden. Kata berbeban berat berasal dari kata fortizo artinya beban lebih yang dikenakan pada sesuatu benda atau makhluk hidup. Dalam bahasa Indonesia, kata “fortizo“ ini sangat mirip dengan kata “forsir.“ Seperti seekor keledai yang membawa beban berat yang melebihi kekuatannya karena begitu beratnya sampai akhirnya ia terjatuh dan mati.

Setelah kejatuhan, dunia mulai mengeluarkan semak duri, onak dan permusuhan, manusia harus berpeluh dan bekerja untuk mencari nafkah, itulah sebabnya orang tidak pernah lepas dari burden. Namun orang tidak mau bersusah payah, manusia yang licik mengembangkan prinsip passive income, orang lain yang disuruh bekerja untuk mendatangkan keuntungan baginya, ia harus menanggung beban, yaitu menafkahi dua orang sekaligus. Alkitab menegaskan barangsiapa yang tidak mau bekerja maka ia tidak boleh makan. Ada dua macam burden yang ditanggung manusia: 1) burden yang harus ditanggung oleh setiap orang Kristen karena ia menjalankan rencana dan kehendak Tuhan. Kuk yang kita tanggung tersebut adalah kuk yang Tuhan pasang akan tetapi kuk itu enak dan beban pun menjadi ringan, 2) burden milik kita sendiri dan celakanya, terkadang tanpa kita sadari, kita menanggung beban orang lain. Dan yang lebih celaka lagi, kita telah bersusah payah dan berjerih lelah mengerjakan dan menanggung beban itu tapi ternyata, tidak mendapatkan pahala yang ada justru kecelakaan dan kebinasaan. Beda halnya, kalau kuk yang kita pikul itu kuk Tuhan, selain terasa ringan, kita akan mendapatkan pahala. Hati-hati, secara pelan namun pasti dunia global berproses masuk dalam kondisi over burden dan kalau kita tidak kembali pada Tuhan, kita akan hancur.

Beberapa aspek yang menjadikan kita sangat berbeban berat, over burden antara lain:

1. Iri hati

Jiwa iri muncul karena orang tidak sadar, tidak dapat mengukur sampai batas mana kemampuannya tapi ia ingin menjadi seperti orang lain. Maka dapatlah dibayangkan akibatnya, ia pasti akan sangat berbeban berat. Ketika kita melihat kemampuan orang lain dan kita dapat melakukannya itu berarti kita memang mempunyai talenta di bidang itu tapi kalau kita sudah berusaha sekuat tenaga tetapi ternyata kita tidak dapat melakukannya maka kita tidak perlu iri hati, itu berarti Tuhan tidak memberikan talenta di bidang itu. Celakanya, kita tidak sadar diri tapi malah menjadi marah dan memandang orang lain sebagai ancaman. Kuk orang lain kita pasangkan ke diri kita, kita menanggung burden orang lain dan setelah berlelah-lelah ternyata, kita tidak mendapatkan pahala karena apa yang kita kerjakan itu semata-mata hanya dorongan ambisi dan iri hati.

Pada setiap orang, Tuhan memberikan talenta, ada orang yang mendapat 1 talenta, 2 talenta, ada yang 5 talenta. Tugas kita adalah mengembangkan talenta yang Tuhan berikan itu secara maksimum, kita kerjakan untuk Tuhan pasti kita tidak akan merasa terbeban dan yang lebih indah kita mendapat pahala. Menjadi murid Kristus, bukan berarti kita tidak ada beban. Tidak! Beban itu tetap ada hanya bedanya, beban yang Tuhan berikan itu pas dan sesuai dengan kekuatan kita dengan demikian kita tidak merasa berbeban berat. Dunia modern sengaja memacu kita dengan semangat kompetisi, kita dipacu untuk menjadi seperti orang lain; jiwa manipulatif juga selalu diajarkan oleh dunia  maka tidaklah heran kalau hidup kita selalu over burden. Biarlah kita mengevaluasi diri, apakah jiwa iri hati itu ada dalam diri kita? Buanglah rasa iri hati itu secepatnya, jangan biarkan kita menjadi over burden.

2. Sombong

Adalah natur manusia berdosa yang tidak mau hidupnya diatur oleh Tuhan. Manusia lebih suka jalan menurut aturannya sendiri padahal aturan manusia itu sifatnya uji coba atau trial and error. Kalau orang mau taat, berjalan menurut apa yang menjadi jalan Tuhan maka semua akan berjalan indah, kita tidak perlu buang tenaga, waktu dan pikiran untuk hal-hal yang tidak perlu. Inilah sikap manusia berdosa yang tak ubahnya seperti anak kecil yang sok tahu dan sok pintar ingin mencoba segala sesuatunya sendiri, tidak mau menuruti perkataan orang tua sampai suatu titik dimana ia mengalami kesulitan barulah ia sadar kalau dirinya bukanlah siapa-siapa. Jangan biarkan hidupmu menjadi trial and error, jangan biarkan keluarga kita menjadi trial and error. Mengerjakan segala sesuatu dengan uji coba akan membuat kita menanggung beban yang seharusnya tidak perlu kita tanggung, over burden; banyak hal yang harus kita korbankan padahal seharusnya kita tidak perlu berkorban untuk hal itu. Setelah hancur lebur barulah orang sadar dan mau kembali pada Tuhan. Sungguh sangatlah indah hidup manusia kalau berada dalam pimpinan Tuhan. Kalau kita mau berandai-andai, seandainya hari itu, Hawa taat pada Tuhan maka hari ini kita tidak akan mengalami penderitaan. Hawa mencoba melakukan trial and error dan ternyata Hawa salah.

Hidup taat dan membiarkan diri dipasang kuk oleh Tuhan akan menjadikan hidup kita terasa nyaman dan indah karena Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuan kita mengangkat beban; Allah yang berdaulat tidak menjadikan kita sebagai ajang uji coba. Biarlah dengan rendah hati kita datang kepada Kristus sebab hanya dengan mengenal Anaklah kita dapat mengenal Bapa di Sorga. Sayangnya, manusia tidak mau mengenal Anak dan Bapa, manusia ingin berjalan sendiri. Dalam kesombongan dan keegoisan manusia berusaha dan berjuang sendiri, manusia ingin menunjukkan bahwa ia bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Sadarlah kita mempunyai keahlian tertentu, kita pandai maka semua itu adalah karunia dari Tuhan dan ingat, di atas kita masih ada orang lain yang lebih hebat dari kita, jadi janganlah engkau sombong. Kita hanyalah manusia terbatas, kita tidak tahu apa yang terjadi di depan kita maka hal inilah seringkali menjadikan kita salah. Memikul kuk Tuhan tidak akan menjadikan kita over burden. Hendaklah kita senantiasa mau belajar dan diajar oleh Tuhan.

3. Hidup Tidak Seimbang

Keseimbangan dapatlah digambarkan seperti orang yang memikul beban dengan menggunakan sebatang kayu maka supaya beban itu terasa ringan, ia harus tahu titik seimbang yang tepat. Dapatlah dibayangkan apa jadinya kalau kita memikul beban tapi tidak pada titik yang tepat tentunya beban yang kita bawa akan terasa berat. Demikian juga halnya dengan hidup manusia kalau kita overloaded di satu bidang maka kita akan kehilangan yang lain, itu justru menjadikan keseimbangan hidup kita pincang. Itulah mulainya muncul masalah. Perhatikan, pengertian seimbang disini bukan sama rata atau membagi sama antara jam di pekerjaan, keluarga maupun gereja. Tidak! Tapi tergantung beban yang ada, waktu harus diatur sedemikian rupa untuk mencapai titik keseimbangan. Tiga aspek yang perlu kita perhatikan supaya mencapai suatu titik keseimbangan dalam hidup, yakni: 1) spiritualitas, kehidupan pelayanan, 2) keluarga, 3) dunia profesi. Jika salah satu bagian lebih berat dari yang lain maka hal itu akan menimbulkan masalah dan akhirnya kita menjadi over burden.

Manusia sangat terbatas; manusia tidak tahu dimana titik keseimbangannya. Hanya Tuhan tahu sampai dimana titik keseimbangan kita karena itu, hendaklah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk diatur Tuhan. Namun manusia tidak mau taat, manusia merasa diri bijak untuk mengatur hidupnya sendiri akibatnya terjadi over burden. Janganlah kita merasa puas diri ketika segala sesuatu berjalan baik justru itu waktunya bagi kita untuk mengevaluasi diri, benarkah semua itu sudah berjalan seimbang atau jangan-jangan itu hanya kita sendiri yang menganggapnya demikian. Orang baru tersadar ketika beban itu sudah mencapai titik kulminasi dan meledak, ternyata titik keseimbangan itu tidak tercapai. Apalah artinya kita sukses di dunia profesi kalau keluarga kita hancur. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mencapai keseimbangan hidup? Hanya dengan berserah pada pimpinan Tuhan yang berdaulatlah barulah tercapai titik keseimbangan itu, hidup menjadi indah. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat , Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang… dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak (Mat. 11:28-30).

4. Hidup Tidak Harmoni

Hidup yang harmonis ini sangatlah indah, bagaikan sebuah simfoni yang merdu. Menata sebuah orkestra untuk membentuk sebuah simfoni ini tidaklah mudah. Bayangkan, kalau dalam suatu orkestra hanya ada sebuah alat musik saja tentulah alunan musik yang terdengar kurang indah demikian juga halnya kalau banyak alat musik tetapi semua memainkan nada-nada yang berlainan, yang terdengar justru suara disharmoni yang kacau balau. Kalau disuruh memilih antara satu alat musik atau banyak alat musik tapi disharmoni pastilah orang lebih memilih mendengarkan sebuah alat musik. Ironisnya, hari ini manusia suka sesuatu yang disharmoni, chaos karena chaos merupakan ekspresi jiwa manusia berdosa. Sebagai contoh, orang lebih suka mendengarkan musik aliran keras daripada musik klasik, orang lebih suka membaca buku-buku filsafat Nietzsche daripada membaca Alkitab. Hal ini menunjukkan betapa rusaknya dunia ini. Kristen sejati seharusnya memancarkan keindahan, hidup menjadi suatu pujian, salmos di hadapan Tuhan.

Hidup di dunia penuh dengan warna dan kompleksitas dan Tuhan menginginkan supaya masalah yang kompleks ini menjadi suatu harmoni yang indah dengan demikian kita tidak menjadi over burden. Keharmonisan hidup akan kita dapatkan kalau kita mau kembali pada Firman Tuhan. Namun sangatlah disayangkan, dunia tidak menyadari hal ini dan orang tidak mau kembali pada Firman karena menganggap diri lebih pandai dan bijak dari Tuhan. Orang tidak sadar bahwa apa yang mereka teorikan tidak dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari atau dengan kata lain telah terjadi disharmoni. Biarlah kita kembali pada Firman, kita mau dibentuk oleh Firman maka hidup kita akan bahagia. Merupakan suatu kesalahan paling fatal kalau kita menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup.Kekristenan bukan melihat kebahagiaan di titik akhir tetapi bahagia itu sekarang. Hidup Kekristenan bukan mengejar bahagia, tujuan hidup bukanlah kebahagiaan sebab ketika kita mengejar bahagia justru pada saat itu kita merasa tidak bahagia. Tujuan hidup kita adalah memuliakan Tuhan disana barulah kita merasakan kebahagiaan. Jadikanlah seluruh aspek hidup kita terarah kepada Tuhan, hidup akan sangat bahagia; bagaikan sebuah orkestra yang dipimpin seorang konduktor maka akan menghasilkan simfoni indah. Satu-satunya konduktor yang terbaik adalah Tuhan Allah sendiri.

5. Serakah

Manusia cenderung ingin sesuatu yang lebih tapi tidak mau mengukur diri. Orang tidak sadar bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu justru mendatangkan celaka. Satu hal yang perlu kita ingat, janganlah kekurangan yang ada itu menjadikan kita ingin memiliki sesuatu yang bukan seharusnya menjadi milik kita sebab itu malah menjadikan kita over burden. Kalau Tuhan memberikan pada kita 2 talenta maka kita harus mengembangkannya menjadi 2 talenta lagi tapi manusia serakah, tidak puas dengan 2 talenta. Inilah sifat manusia berdosa yang selalu tidak pernah puas. Keserakahan disini bukan hanya secara materi saja tetapi serakah disegala bidang seperti: jabatan, emosi termasuk dalam spiritualitas. Pertanyaannya kenapa manusia serakah? Kenapa manusia ingin mendapatkan segala sesuatu yang lebih dan lebih? Di tengah dunia tidak ada satu pun manusia yang dapat menentukan sampai sebatas mana porsi setiap manusia. Cobalah mulai hari ini kita belajar menyangkal diri dengan menekan segala keinginan kita sekaligus belajar untuk tidak menjadi serakah. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang ada pada dirinya hari ini. 

Biarlah kita meneladani Paulus yang mencukupkan diri dalam segala keadaan dengan demikian kita tidak akan mudah digoyahkan oleh situasi dunia yang semain kacau. Tuhan ingin supaya kita mengerjakan segala sesuatu yang menjadi kehendak Tuhan bukan menurut keinginan kita dengan demikian kita tidak akan over burden. Keserakahan akan terbatas kalau seluruh standar dikembalikan pada Tuhan. Tuhanlah yang tahu sampai batas mana standar kita, sampai batas mana kita merasa cukup dan sampai batas mana kita merasa kurang. Biarlah kita mengevaluasi diri kita apakah saat ini kita merasa berbeban berat, over burden? Biarlah seluruh hidup kita hanya untuk menggenapkan rencana Tuhan maka kita akan mencapai titik maksimum dan kita tidak merasa berbeban berat. Kembalilah pada Tuhan, Tuhan telah menyediakan kuk yang pas untuk setiap kita.  Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060820.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : MARILAH KEPADA-KU-1 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Saturday, July 14th, 2007

Ringkasan Khotbah : 06 Agustus 2006

Marilah kepada-Ku

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:28-30

Pendahuluan

Tema keseluruhan Injil Matius adalah Kerajaan Allah, the Kingdom of Heaven. Injil Matius membukakan tentang Kristus sebagai Raja dan pemegang otoritas tertinggi menata Kerajaan-Nya di tengah dunia dan orang Kristen yg menjadi warga-Nya haruslah tunduk dan taat pada Sang Raja. Pada pasalnya yg ke-11 Matius menegaskan bahwa orang yg mengaku beriman pada Kristus maka hidupnya harus berpusat pada Kristus. Iman Kristen bukan ideologi yg hanya dimengerti sebagai pengetahuan. Tidak! Alkitab menegaskan bahwa iman Kristen bukan percaya kepada Kristus melainkan percaya ke dalam Kristus berarti ada relasi antara manusia dg obyek iman. Dalam bahasa Yunani menggunakan istilah eis berarti memasukkan diri ke dalam obyek yg kita percaya. Sebelum kita masuk dalam klimaks dari Matius pasal 11 ini ada baiknya kita mengingat kembali:

Pertama, Yohanes ingin supaya para muridnya berbalik arah; mereka yg semula mengagungkan Yohanes kini mereka harus beriman pada Kristus. Dan cara yg dipakai Yohanes sangat unik, dia menyuruh para muridnya untuk bertanya langsung pada Kristus dan jawaban yg diberikan Kristus pun sangat unik. Tuhan Yesus meminta para murid untuk melihat dan mendengar enam tanda yg telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dan dari apa yg mereka lihat dan mereka dengar itu mereka harus menyimpulkan sendiri: siapakah Yesus. Inilah cara Tuhan Yesus mengkonfrontasi iman. Iman bukan sekedar sebuah jawaban teologis tetapi iman adalah bagaimana kita memasukkan seluruh pikiran dan pengalaman hidup kita pada obyek iman yg kita percaya. Iman bukan sekedar pengetahuan. Iman merupakan pertemuan pribadi antara pribadi dg obyek iman.

Kedua, Tuhan Yesus mengecam keras kota-kota yg banyak mendapat mujizat tetapi kota itu justru tidak bertobat. Orang hanya mau ekses iman, orang hanya mau berkat saja tapi orang tidak Sang Pembuat mujizat dan celakanya, orang sudah merasa dirinya beriman. Hati-hati, kalau kita salah dalam memahami iman maka itu akan membawa kita pada kebinasaan. Iman Kristen bukanlah iman ekstensi tapi esensi.

Ketiga, Seorang warga Kerajaan Sorga haruslah mempunyai pikiran seperti Bapa sama seperti Kristus, yakni melakukan apa yg menjadi perintah Bapa-Nya. Iman bukan diselesaikan dg nalar yg jenius atau bijaksana duniawi. Tidak! Iman bukan hasil pencerahan pikiran kita tapi iman haruslah diselesaikan dg kesederhanaan dan dg rendah hati mengaku di hadapan Tuhan bahwa kita adalah orang berdosa.

Pada bagian klimaks Tuhan Yesus mengundang setiap orang yg berletih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan Tuhan akan memberi kelegaan. Setelah kejatuhan, dunia tidak pernah lepas dari masalah dan sengsara maka undangan Tuhan Yesus ini sangat relevan sampai saat ini. Manusia merasa diri lebih pandai dari Allah, manusia merasa diri berhak sebagai penentu kebenaran. Jadi, kejatuhan manusia itu bukan pada saat manusia makan buah. Tidak! Letak permasalahannya adalah pada masalah positioning – manusia ingin menjadi Allah maka pertanyaan pertama Allah adalah: Adam, dimana kamu? Pertanyaan ini bukan mempertanyakan secara fisik tetapi Allah menanyakan posisi Adam dan Hawa secara spiritual. Dosa menyebabkan manusia mengalami keterkiliran dalam posisi akibatnya kesengsaraan. Sebagai gambaran dari kesengsaraan ini adalah ketika tulang kita terkilir maka saat tulang dikembalikan pada posisi aslinya, kita akan merasakan kesakitan yg luar biasa. Jangan pikir ketika manusia keluar dari posisi asli akan lebih menyenangkan atau manusia lebih hebat. Salah!

Dua efek dasar yg dialami oleh manusia berdosa, yakni: 1) Orang mengalami letih lesu, dan 2) orang akan berbeban berat. Hari ini kita akan merenungkan efek pertama, yaitu letih lesu. Kata “letih lesu“ berasal dari bahasa aslinya “fatigue“ yakni suatu kondisi dimana orang sudah tidak tahan lagi dg beban atau tuntutan yg ada hingga sampailah orang pada suatu titik keputusasaan. Sebuah logam baja mempunyai titik lentur jika kita mengenakan suatu perlakuan melebihi titik lentur, baja menjadi retak dan akhirnya patah; logam tidak dapat kembali seperti bentuk semula. Dosa menyebabkan manusia akan berada dalam kondisi fatigue namun ironis, dalam kondisi demikian manusia tidak mau kembali dan bersandar pada Tuhan tapi malah membuang Tuhan. Salah satu penyebabnya adalah sejak kecil, manusia telah dididik untuk hidup mandiri, artinya orang dapat mengerjakan apapun tanpa pertolongan orang lain.

Orang tidak sadar hal ini justru berakibat buruk, orang tidak mudah percaya pada orang lain, segala sesuatu haruslah ditentukan diri sendiri, setiap keputusan atau masalah haruslah diselesaikan sendiri. Kalau setiap saat harus menghadapi situasi demikikan maka sampailah ia pada suatu titik fatigue dan sampai titik itu kalau orang tidak punya sandaran maka ia akan bunuh diri. Kelelahan ini merupakan kelelahan esensial.

Kelelahan esensial ini juga dialami oleh bangsa Israel namun mereka tidak mau mengakui hal ini, bangsa Israel sangat sombong. Kesombongan ini terpancar jelas dari perdebatan antara para ahli taurat dg Tuhan Yesus (Yoh.8). Para ahli taurat langsung marah ketika Tuhan Yesus menyatakan kalau sesungguhnya, mereka adalah hamba. Orang Yahudi tidak dapat terima dikatakan sebagai hamba, mereka merasa diri sebagai orang merdeka yg berhak menentukan segala sesuatunya sendiri. Bangsa Israel tidak mau menyebut diri sebagai hamba Allah tetapi sebagai anak Allah karena istilah “hamba“ disini menyadarkan mereka akan keterbatasan dirinya dan istilah “anak Allah“ seolah kita mempunyai suatu kebebasan dan otoritas. Jangan salah mengerti dg istilah “anak.“ Istilah “anak“ dibedakan dua, yakni: 1) secara ekstensial, contoh: anak dokter, apakah itu berarti ia dokter? 2) secara esensial, contoh: anak manusia maka dapatlah pastilah ia manusia.

Tuhan Yesus membukakan pada para ahli Taurat ini kalau sesungguhnya mereka bukan anak Allah tetapi yg lebih cocok mereka adalah anak iblis. Sesungguhnya, bangsa Israel berada di bawah jajahan baik secara fisik maupun spiritual. Secara fisik, bangsa Israel adalah jajahan bangsa Roma dan Raja Herodes yg memerintah itu pun bukan orang Yahudi asli tetapi ia adalah orang Idumea. Secara spiritual, bangsa Yahudi adalah jajahan, orang Yahudi mempunyai 2 imam besar, yakni Hanas dan Kayafas. Ironisnya, mereka marah ketika Tuhan Yesus membukakan tentang hal ini. Selama kita berada dalam kuasa penaklukkan dosa, kita akan masuk dalam kondisi fatigue. Bagaimana tidak fatigue kalau kita hidup di tengah dunia berdosa dg cara berdosa? Manusia berdosa mencoba menyelesaikan semua permasalahan dg caranya sendiri, dan celakanya cara yg dipakai adalah cara dunia berdosa maka hal ini membuatnya makin terjepit dalam dosa. Sesungguhnya, manusia menyadari kalau ia berada dalam keletihan yg sangat itu namun yg menjadi pertanyaan adalah kenapa manusia tidak mau kembali pada Tuhan? Apa yg membuat manusia fatigue tetapi tetap mempertahankan fatigue?

I. Manusia merasa berhak menetapkan makna hidupnya sendiri.

Manusia yg sombong ingin menentukan hidupnya sendiri. Sesungguhnya dibalik kesombongan itu, orang tidak mau percaya Tuhan Yesus. Hanya anak Tuhan sejati yg percaya pada Tuhan Yesus dan anak Tuhan yg sejati ini jumlahnya sangat sedikit meski faktanya jumlah gereja sangat banyak, minoritas di dalam minoritas. Kesombongan ini tidak lepas dari pendidikan dunia modern yg mengajarkan anak untuk berkompetisi. Sadarkah kita kompetisi mengakibatkan dua hal: sukses atau kehancuran. Apalah artinya kesuksesan atau kepandaian kalau kita hanya berhasil dalam satu bidang? Maka tidaklah heran kalau kita mendapati orang yg menang dalam lomba fisika tetapi dia tidak lulus sekolah. Kesuksesan dalam kompetisi juga berakibat buruk, orang tidak lagi membutuhkan orang lain apalagi Tuhan sebab orang merasa dapat menetapkan makna hidupnya sendiri.

Pernahkah kita bertanya dalam hati, apakah arti hidupku? Apakah kita melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yg kita ambil dalam seluruh aspek hidup kita? Pada dasarnya, manusia ingin menentukan makna hidupnya sendiri dan Tuhan dijadikan seperti layaknya “pesuruh“ yg harus siap menolong kalau kita menghadapi kesulitan. Perhatikan, kita yg memilih dan mengambil keputusan sendiri maka kita harus berani menanggung resikonya. Jangan salahkan Tuhan kalau ternyata hasilnya tidak seperti yg kita harapkan. Berbeda halnya kalau Tuhan yg memilih dan menempatkan kita  maka Dia pasti akan menolong dan memimpin setiap langkah kita karena disitu, Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya melalui kita. Manusia berpendapat dg menentukan makna hidupnya sendiri ia akan hidup bahagia. Pendapat yg salah! Saat itu kita justru masuk dalam kondisi yg sangat lelah sebab kita keluar dari rencana Tuhan, kita berjuang sendiri, segala sesuatu harus kita kerjakan sendiri. Sebagai pelarian dari rasa lelah yg sangat luar biasa ini manusia mencari jalan pintas dg lari pada hal-hal berdosa, seperti free sex, narkoba, minuman keras, dan lain-lain. Orang makin masuk dalam jerat dosa dan sulit bagi manusia untuk keluar. Manusia masuk dalam kondisi totally fatigue.

Biarlah kita mengevaluasi diri, apakah selama ini kita mengalami keletihan? Bertobat dan kembalilah pada jalan Tuhan. Relakanlah hidupmu untuk dibentuk oleh Tuhan. Mungkin, kita merasa tidak suka dg apa yg Tuhan tetapkan tetapi sebagai Kristen sejati kita harus taat. Memang, ketika mengikut Tuhan bukan berarti kita tidak ada beban. Tidak! Tuhan akan memberikan beban, pikullah kuk yg Kupasang sebab kuk-Ku itu enak dan bebanKu pun ringan (Mat. 11:30).

2. Manusia merasa harus berjuang sendiri.

Manusia berpendapat Tuhan adalah sesuatu yang fiktif sehingga Dia tidak dapat menolong ketika manusia dalam kesulitan. Hati-hati, kalau kita mengerti iman secara sepotong-potong berarti kita terjatuh dalam pikiran Feuerbach, Marx, Engels yang menyatakan bahwa agama itu seperti layaknya sebuah candu, pembiusan manusia karena itu, orang tidak perlu beragama toh Tuhan tidak realistis. Manusia harus menentukan segala sesuatu sendiri dan berjuang sendiri. Orang hanya percaya pada Tuhan yang deisme, yakni Tuhan hanyalah pencipta saja dan selanjutnya manusia yang menentukan. Konsep kehendak bebas, free will disini menjadi cetusan yang manusia paling suka.

Adalah kegagalan total manusia yg mencoba merealistiskan konsep free will ini masuk  dalam pengalaman duniawi. Orang baru mau percaya kalau terbukti, yakni apa yg diminta dikabulkan oleh Tuhan. Apakah ini yg dinamakan iman? Bukan! Ini adalah permainan pengalaman. Perhatikan, orang yg mendapat pengalaman rohani akan menjadi menggebu-gebu dan bersemangat melayani karena ia merasa Tuhan itu riil di dalam pengalaman, seperti sakit disembuhkan, miskin menjadi kaya, dan sebagainya. Orang mulai berani menyimpulkan kalau ia mengalami pengalaman rohani berarti Tuhan ada. Pengalaman ini bukanlah pengalaman sejati karena bukan Tuhan yg menetapkan tetapi dia sendiri. Konsep yg salah! Titik absolutnya pindah dari Tuhan kepada diri.

Maka tidaklah heran ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yg manusia pikirkan, orang mulai bertanya-tanya pada Tuhan dan mulai menyalahkan Tuhan. Perhatikan, yg mengabulkan seluruh permintaan kita bukan Tuhan tapi iblis, iblis memberikan iming-iming manis supaya kita masuk dalam jebakannya. Celakanya, orang merasa ia sudah beriman namun sesungguhnya itu bukan iman sejati, ia justru masuk dalam kebinasaan. Hal ini memicu manusia semakin tidak percaya kepada Tuhan. Aspek kedua ini lebih berbahaya dari aspek pertama. Kalau di aspek pertama, manusia tidak percaya Tuhan karena ia belum pernah berpengalaman tetapi  di aspek kedua, setelah orang mengalami pengalaman rohani akan lebih sulit untuk diinjili lagi karena ia telah mempunyai pengalaman negatif dg apa yg dimengerti sebagai Tuhan yg diajarkan kepadanya sebagai Tuhan. Orang-orang yg seperti ini akhirnya jatuh dalam konsep atheisme humanistik. Sesungguhnya, orang telah sampai pada titik fatigue yg sangat parah. Hari ini, banyak orang Kristen yg tertipu merasa dirinya beriman pada Tuhan yg sejati ternyata itu bukan Tuhan sejati tetapi iblis. Orang telah tertipu masuk dalam suatu tipuan, euforia palsu, kepuasan perjuangan diri palsu.

3. Manusia merasa harus mengunggulkan pikirannya sendiri.

Dunia berpendapat kalau kita menuruti kehendak Tuhan malah dianggap sebagai orang bodoh karena kita tidak dapat memanfaatkan kesempatan yg ada. Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis yg mengiming-imingi kita dg gula manis tapi di dalamnya racun yg mematikan. Berbeda halnya dg Tuhan, mungkin jalan di depan kelihatan susah namun di balik kesusahan itu ada keindahan menanti. Semakin canggih dunia jebakan yg digunakan juga semakin canggih dan menggiurkan. Tak terkecuali dg Kekristenan juga mencoba menggunakan cara dunia untuk meraih keuntungan. Camkanlah, itu bukan ajaran Kristen. Kekristenan sejati tidak menggunakan cara-cara duniawi yg licik untuk memanipulasi orang lain. Hati-hati dg segala tipuan manis. Apakah tipuan-tipuan seperti ini yg dikatakan sebagai kesempatan? Banyak orang yg mencari kesempatan untuk menyelesaikan segala macam permasalahan yg menimpa hidupnya tapi permasalahan tetap tidak terselesaikan akibatnya orang sampai pada kondisi fatigue. Pada saat kehancuran itu, manusia harusnya bertobat dan kembali pada Tuhan tapi manusia tidak mau bertobat; manusia terbelit dalam jeratan dosa dan sukar bagi manusia untuk keluar dari jeratan iblis.

Jangan biarkan dirimu dipermainkan oleh pikiran-pikiran duniawi tapi hendaklah kita kembali pada Kristus dan mengakui semua kesalahan dan seluruh dosa kita. Seperti gambaran orang yg terkilir, ia tidak akan rela kalau tulangnya dikembalikan ke posisi semula karena sakitnya sangat luar biasa tapi justru lebih sakit kalau tulang itu tidak dikembalikan pada posisi semula. Satu-satunya cara yaitu dipaksa, dikembalikan pada posisi asli, reposisi kembali. Biarlah kita mereposisi hidup kita kembali pada Kristus, yakni: 1) dg rendah hati mengaku segala kebodohan kita maka saat itu, kuk yg diberikan Tuhan baru terasa ringan dan enak, 2) kita harus bereaksi, kita yg berjalan kepada Kristus,  janganlah pernah mencurigai Kristus tetapi curigailah segala macam tawaran iblis. Tuhan pasti tidak akan mencelakakan kita; Dia akan memimpin kita pada jalan-Nya yg indah. Ironis, manusia tidak percaya sehingga orang merasa perlu untuk mempunyai “allah cadangan,“ 3) kita harus menjadi anak yg selalu dengar-dengaran akan Firman Tuhan setiap hari, setiap saat. Hal ini seharusnya konsisten, terus menerus kita kerjakan sepanjang hidup kita. Banyak orang yg bertobat pada saat KKR tetapi setelah KKR kembali pada hal duniawi. Tidak! Pertobatan adalah kembali satu kali lalu berjalan bersama Kristus, daily activity.

Biarlah mulai hari ini kita disadarkan kembali dan mulai menata ulang hidup kita untuk kembali pada jalan Tuhan. Ingatlah akan nama Yesus, Tuhan Yesus selalu memimpin setiap langkah kita dalam dunia yg penuh dg gejolak. Betapa indah hidup yg dipimpin dan berjalan bersama Tuhan, kita tidak akan menjadi fatigue. Puji Tuhan, Tuhan masih mengingat orang-orang sisa dan terbuang ini, remnan untuk dibentuk kembali dan dipakai menjadi saksi-Nya yang menyatakan kemuliaan-Nya. Ingat, nilai tertinggi hidup kita bukan dilihat dari kekayaan atau kedudukan atau kepandaian kita. Hidup kita menjadi bermakna ketika kita berjalan bersama Tuhan dan percayalah, hidup kita akan nyaman dan pada akhirnya ingat, tujuan hidup manusia hanya satu, yaitu memuliakan nama-Nya dan menikmati Dia sepanjang hidup kita. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060806.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-8 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, July 8th, 2007

Ringkasan Khotbah : 16 Juli 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (8)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:27

Pendahuluan

Empat pernyataan Tuhan Yesus yg terdapat di Injil Mat. 11:27 yg dipenggal dengan kata “dan“ ini sangat penting untuk kita pahami sebab pernyataan Kristus tersebut merupakan pernyataan final, the final statement of Christ yg juga menjadi konsep dasar iman Kristen. Manusia berdosa tidak suka dengan pernyataan Kristus sebab mengandung unsur kemutlakan dan bertentangan dengan nafsu duniawi. Hampir semua pernyataan Kristus yg tertulis dalam Alkitab ditentang oleh manusia seperti Yoh. 14:6 yg menyatakan bahwa Yesus satu-satunya salah satunya jalan, dan kebenaran, dan hidup, dan tidak ada seorang pun yg datang kepada Bapa kalau tidak melalui Kristus. Kekristenan dianggap sombong dan egois menghina agama lain. Sesungguhnya semua itu hanyalah alasan manusia untuk menolak Kristus. Manusia mulai menciptakan “allah“ yg sesuai dengan keinginannya,“allah“ yg dapat memenuhi semua nafsu dosa (Rm. 1:18-32). Setiap orang mempunyai “allah“ sendiri dan celakanya, setiap orang merasa dirinya adalah “allah.“ Ludwig Feuerbach, filsuf Jerman menyatakan God is created by man according to the image by man sehingga manusia tidak perlu percaya lagi pada Allah. Dapatlah dibayangkan apa jadinya dunia semakin rusak dan hancur, manusia menjadi anarkis.

Hari ini kita akan merenungkan 4 pernyataan final Kristus di Mat.11:27, yaitu:

I. “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku….“

Pernyataan ini merupakan bagian paling  esensial, the final of the final authority. Kebenaran haruslah dikerucutkan sampai di titik paling atas maka disitulah terdapat finalitas kebenaran, yaitu di dalam diri Allah sendiri. God is the final of the final authority maka kita harus taat kepada-Nya. Ini menjadi dasar bagi kita membangun epistomologi. Pasca Perang Dunia II mulai menekankan filsafat posmodern dimana filsafat ini sangat mempengaruhi cara dan konsep berpikir manusia. Orang lebih percaya pada kebenaran pluralitas – apa yg ada dalam pikiran maka itulah yg dianggap sebagai kebenaran. Dunia tidak menyadari ketika menolak absoluditas dan beralih pada pluralitas modern maka itu sama halnya seperti kita menanam bom dan suatu saat pasti akan meledak dan menghancurkan dirinya sendiri.

Manusia bukanlah pemegang otoritas final karena secara natur, manusia bersifat relatif; keberadaan manusia itu sendiri bukan tunggal sehingga kalau orang menyatakan diri absolut berarti ia mengabaikan orang lain dan menganggap orang lain itu bukan manusia karena itu orang harus kembali membangun struktur konsep yg benar. Orang harusnya mempertanyakan keabsahan ketika ia membangun konsep khususnya yg menyangkut kehidupan dan iman kita namun hari ini orang berlaku sebaliknya untuk urusan duniawi dan bisnis orang akan bertanya dan melakukan penelitian sedemikian rupa karena takut merugi. Sadarlah, iblis ingin merusak hal yg sifatnya esensi di dalam kehidupan manusia. Iblis tahu pasti kalau hal yg esensi itu memegang peranan penting dan sangat mempengaruhi hal lain yg sifatnya eksistensial. Karena itu, hendaklah kita berhati-hati dan waspada dengan segala tipu muslihat iblis. Kekristenan mengajak kita kembali pada the final authority.

Salah satu penyebab yg membuat manusia gagal kembali pada the final authority adalah rusaknya pendidikan dunia modern yg mengajarkan relativitas, tidak ada pertanggung jawaban absoluditas. Bayangkan, apa jadinya anak-anak kita dan masa depan bangsa kalau sejak kecil anak diajarkan pluralisme? Kekristenan sejati harus kembali pada Allah sebagai otoritas final. Final otoritas ini bukan hanya ada dalam diri Allah tetapi didelegasikan kepada Kristus (Mat. 11:28). Kebenaran asasi yg ada dalam diri Allah barulah mempunyai kekuatan otoritas dalam kebenaran-Nya ketika hal itu diturunkan dari Allah Bapa kepada finalitas turunannya, yaitu Kristus. Dari sini barulah kita memahami the order of the Trinity yg paradoks. Ordo Allah Tritunggal itu sejajar dan bertingkat. Konsep ini sulit dimengerti oleh manusia sebab pikiran manusia telah dikuasai oleh cara pikir Aristotle yg mengajarkan sejajar tidak mungkin bertingkat begitu juga sebaliknya.

Allah Bapa adalah Allah, Allah Anak adalah Allah, Allah Roh Kudus adalah Allah. Ketiga-Nya secara esensial adalah Allah, Ketiga-Nya secara natur setara, tidak ada yg lebih tinggi. Dalam kesetaraan Allah itu terdapat suatu urutan atau tingkatan, yaitu: Bapa sebagai otoritas final maka Bapa tidak tunduk pada Anak maupun Roh Kudus – Allah Anak harus taat kepada Bapa – Roh Kudus yg harus taat kepada Bapa dan Anak. Anak tidak akan melakukan apapun dari diri-Nya sendiri kecuali yg Bapa perintahkan demikian juga dengan Roh Kudus, Ia tidak melakukan apapun dari diri-Nya sendiri, Roh Kudus hanya melakukan apa yg menjadi perintah Bapa dan perintah Anak. Urutan ini tidak boleh dibalik: Bapa – Anak – Roh Kudus maka di dalam Tritunggal ini tidak akan terjadi penyimpangan dalam kebenaran. Ketika di Getsemani, Tuhan Yesus berkata, “Bapa, jikalau mungkin cawan ini lalu daripada-Ku tapi bukan kehendak-Ku tapi kehendak-Mu yg jadi“ disini ada perbedaan keinginan tapi keputusan finalnya ada di tangan Bapa dan Anak harus tunduk pada apa yg menjadi kehendak Bapa.

Final authority ini kemudian diturunkan kepada Kristus. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Kristus ingin supaya kita hidup berpusat pada-Nya dan Kristus menyadari benar akan hal ini seperti yg Ia ungkapkan: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku.“ Hari ini manusia tidak suka konsep otoritas turunan karena ia masih harus mempertanggung jawabkan otoritasnya; manusia lebih suka menegakkan otoritas dirinya sendiri, otoritas manusia berdosa. Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus, kalau Kristus yg adalah Allah mau memegang otoritas turunan dari Bapa, Kristus tidak pernah memaksakan diri untuk mengambil alih otoritas lalu kenapa manusia begitu sombong ingin menjadi sebagai pemegang otoritas final? Ingat, pada hakekatnya, manusia bukanlah pemegang kebenaran mutlak.

Sadarlah, otoritas yg ada pada manusia hanyalah otoritas derivasi/turunan yg diberikan oleh Tuhan. Pertanyaannya adalah sampai sebatas manakah otoritas itu diberikan dan boleh kita gunakan? Implikasi dari otoritas derivasi, yaitu: 1) orang dapat mengetahui dan memahami sampai dimana batas kekuatan kita dalam melangkah, kita mengerti batas antara hak dan kewajiban, 2) orang tahu kepada siapa kita harus tunduk dan sampai batas mana boleh tunduk. Adalah wajib anak tunduk pada orang tua tapi ketika orang tua berbuat jahat dan menyeleweng dari kebenaran maka kita tidak boleh tunduk padanya melainkan kita harus tunduk pada otoritas derivasi yg berada di atas orang tua, yaitu Kristus. Selama orang tua berada dalam satu garis dg Kristus maka kita taat, tapi kalau menyeleweng dan keluar dari garis derivasi otoritas maka Kristuslah yg harus kita taati. Gambaran otoritas derivasi ini seperti layaknya sebuah garis lurus vertikal dimana tempat tertinggi ditempati oleh Allah sebagai otoritas final dan Kristus sebagai pemegang otoritas turunan dan dibawahnya adalah orang-orang yg menjadi atasan kita. Jadi, misalnya si A yg berada persis di atas kita dan menjadi atasan kita itu menyeleweng maka kita harus taat pada si B yg merupakan atasan si A begitu seterusnya. Garis otoritas kebenaran ini tidak membuat kita kehilangan arah; 3) orang dapat menata seluruh hidupnya dalam relasi masyarakat dan hidup kita menjadi berintegritas. Orang yg tidak memahami dan berada dalam garis otoritas maka hidupnya selalu berada dalam ketakutan. Ironis orang justru takut pada otoritas palsu, yaitu iblis daripada otoritas sejati, yaitu Kristus.

II. “Tidak ada seorang pun yang mengenal Anak selain Bapa….“

Pengenalan epistomologi, yakni pengetahuan sejati tentang Kristus dimulai dari pengenalan Bapa kepada Kristus. Seluruh pengetahuan haruslah disumberkan pada pengetahuan yg asasi karena di dunia banyak kebenaran palsu. Di tengah dunia ini kita harus mengejar sesuatu yg benar-benar benar sebab itulah pengetahuan yg paling asasi. Apa yg dikatakan manusia sepertinya benar namun sesungguhnya perkataannya mengandung suatu tipuan, sepertinya benar tapi ternyata masuk dalam 3 kondisi lain, yaitu: 1) benar-benar tidak benar, 2) tidak benar-benar benar, 3) tidak benar-benar tidak benar. Orang tidak suka kebenaran asasi; orang lebih suka melawan kebenaran. Adalah natur manusia berdosa hanya suka pada apa yg menjadi kesukaannya saja. Untuk dapat kembali pada kebenaran asasi, pertama-tama orang harus menyadari bahwa dirinya adalah manusia bodoh dan berdosa. Namun, orang tidak suka kalau ada orang lain yg menyadarkan dirinya kalau ia bodoh dan biasanya orang langsung akan marah dan menganggapnya sebagai penghinaan. Kemarahan itu justru menunjukkan kebodohannya. Orang yg tidak sadar kalau dirinya bodoh dan ia merasa diri pintar maka tidak ada harapan lagi bagi orang tersebut sebab ia akan menuju kehancuran. Fakta menyatakan kalau manusia adalah manusia bodoh. Hanya anak-anak Tuhan yg takut akan Tuhan barulah ia mempunyai pengetahuan yg benar sebab takut akan Tuhan menjadi awal dari permulaan pengetahuan tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Sayangnya, pendidikan dunia modern tidak menyadari pentingnya takut akan Tuhan; orang tidak memahami relasi antara pengetahuan dan takut akan Tuhan karena itulah, orang tidak mengajarkan takut akan Tuhan pada anak-anak. Basis epistemologi, basis pengetahuan dasar terjadi jika kita pertama-tama kembali kepada Kristus. Pertanyaannya kenapa harus kembali pada Kristus? Sebab kebenaran asasi haruslah dinyatakan dari sumbernya lalu diakui secara valid.

Epistemologi atau pengertian pengetahuan akan kebenaran sejati terjadi dimulai dg validitas, keabsahan dari pengetahuan. Kalau kita tidak mempunyai basis pengetahuan yg benar maka sepertinya, kita merasa tahu namun makin kita merasa kita tahu sesungguhnya banyak hal yg kita tidak tahu. Inilah permainan pengetahuan manusia. Apalah gunanya seluruh pengetahuan yg kita dapatkan kalau seluruh pengetahuan kita itu dilepaskan dari Tuhan sebagai sumber pengetahuan maka semua pengetahuan itu tidak lebih hanya sekedar data belaka. Pengetahuan bukan realita/data/statistik. Pengetahuan adalah interpretasi terhadap realita. Orang pertama dan orang kedua tahu tapi belum tentu mereka mempunyai interpretasi yg sama. Hal ini sangat disadari oleh Francis Schaeffer yg menyatakan I do what I think and I think what I believe. Pengetahuan tidak dimulai dari berpikir karena apa yg kita lakukan itu adalah hasil dari apa yg kita pikir dan apa yg kita pikir justru itulah yg menjadi iman/kepercayaan kita. Seorang atheis pasti akan berpikir atheistik dan hasil perilakunya pasti menunjukkan ia atheis. Membangun epistemologi sejati harus kembali kepada Kristus sebab tidak seorang pun yg mengenal Anak selain Bapa. Bapa adalah sumber sehingga itu menjadikan Anak mempunyai basis epistemologi valid karena Bapa sendiri yg memberikan pengakuan itu sendiri. Kalau kita mau mengenal Kristus maka kita harus kembali pada Allah Bapa sebagai sumber kebenaran, the source of truth. Bapa dapat mengenal Anak karena Bapa dan Anak adalah Allah Tritunggal yg merupakan suatu keutuhan.

III. “Tidak ada seorangpun mengenal Bapa selain Anak….“

Bagian ketiga ini menyangkut dua aspek, yakni Anak mengenal Bapa dan orang mengenal Bapa. Anak mengenal Bapa secara sah membuat orang mengenal Bapa dg tepat. Kekuatan Anak mengenal sesuatu bukan dari diri-Nya tapi dari Bapa yg memverifikasi hal tersebut. Sesuatu opini atau pendapat yang dilontarkan seseorang tidak dapat dikatakan sah sebab manusia tidak mempunyai otoritas kebenaran dan siapa manusia yg kepadanya ia dapat menyatakan kebenaran. Akibatnya orang memaksakan segala otoritas yg ada pada dirinya, seperti uang, pengaruh bahkan kekuatan fisik. Manusia pada hakekatnya tidak mempunyai validitas maka setiap opini yg dilontarkan itu perlu dipertanyakan darimana validitasnya? Apakah segala sesuatu yg ada dalam pikiran manusia itu selalu benar? Apakah manusia tidak pernah salah? Tidak! Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Validitas itu barulah kita dapatkan kalau diverifikasi oleh sumber kebenaran akan tetapi verifikasi ini perlu diuji sebab jika tidak, darimana kita tahu verifikasi itu benar. Verifikasi kebenaran harus teruji secara obyektif. Hari ini banyak orang yg ingin mendapat pengakuan atau verifikasi ini salah satunya dg mengatakan kalau ia mendapat wahyu dari Tuhan. Dalam dunia epistemologi disebut dg otorianisme, yakni orang memakai otoritas final untuk memverifikasi omongan/pikiran kita sebagai kebenaran yg sah.

Berbeda dg manusia yg seringkali melakukan kesalahan maka setiap pernyataan Kristus ini dapatlah dipertanggung jawabkan dan telah terbukti dalam sejarah. Bapa mengenal Kristus dan Kristus mengenal Bapa maka setiap pernyataan-Nya tentang Bapa adalah sah dan merupakan kebenaran maka itu sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan kenapa manusia harus kembali pada Kristus ketika ia mencari Allah? Dari sini jelaslah bahwa pernyataan: Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dunia bukan menunjukkan suatu kesombongan atau ide untuk melecehkan agama lain. Tidak! Pernyataan Tuhan Yesus di Yoh. 14:6 adalah sah sebab diverifikasi oleh Kristus dan disahkan oleh Bapa sebagai standar kebenaran. Jadi, ketika pernyataan itu diungkapkan maka kita bukan membicarakan siapapun tapi bagaimana kita dapat mengenal Allah sebagai Sumber kebenaran? Satu hal yg pasti kalau kita tidak kembali pada Kebenaran itu maka kita akan dibuang ke dalam kebinasaan kekal. Dosa membuat kita jauh dari Tuhan maka satu-satunya supaya kita dapat mengenal Allah adalah melalui Kristus Yesus. Sayang, hal ini malah dianggap sebagai suatu kesombongan sebab orang tidak suka akan Kebenaran absolut.

Perhatikan, seseorang yg mengatai orang lain “sombong“ itu merupakan ekspresi dari kesombongan yg ada dalam dirinya sendiri. Hal ini menjadi gambaran dari orang yg mau mengatakan kejelekan dirinya sendiri dg menjelekkan orang lain. Tidak ada cara lain satu-satunya jalan harus melalui Yesus Kristus sebab yg kenal Bapa hanya Anak; tidak kenal Anak maka tidak kenal Bapa. Sebagai contoh, suatu hari oksigen berbicara kepada manusia: “Kalau manusia tidak menghirup saya (oksigen) maka ia akan mati.“ Apakah pernyataan oksigen itu dianggap sombong? Itu realita bukan sombong. Betapa bodohnya manusia kalau ia berpendapat demikian sebab ia justru akan mati sendiri. Sombong itu kalau pernyataan yg diutarakan tidak sesuai/berada di atas realita. Sombong adalah meletakkan standar di atas posisi atau mencoba menipu dg cara merendahkan diri untuk kemudian ia menaikkan diri. Orang yg sudah berada pada titik absolut berarti setiap pernyataan yg ia keluarkan itu sifatnya absolut. Orang yg berkata bahwa 2+2=4 bukanlah orang sombong karena itu merupakan pernyataan absolut. Pertanyaannya adalah apakah Kekristenan tidak mau kembali kepada Kebenaran absolut? Kekristenan bukan fanatisme yg ngawur. Tidak! Kekristenan menyatakan suatu kebenaran final supaya manusia dapat melihat kebenaran asasi. Hal inilah yg hendak Kristus nyatakan dan menjadi tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan Injil menyatakan kebenaran absolut itu. Celakanya, banyak orang Kristen yg tidak mengerti dasar kebenaran iman Kristen, orang tidak mengerti mengapa hanya melalui Kristus saja orang baru dapat kembali pada Bapa akibatnya iman mereka mulai goyah.

IV. “Orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.“

Pernyataan ini hendak menyatakan tentang konsep anugerah. Kalau kita dapat mengenal Kristus, kita diberikan suatu kemungkinan untuk kita mengerti Kristus maka itu merupakan suatu anugerah. Ingatlah, bukan karena kepandaian atau kekayaan atau kecakapan kita sehingga kita dapat menerima anugerah Kristus. Pergumulan tentang anugerah ini bukan terjadi di abad ini saja tapi sejak belasan abad yg lalu sampai muncul suatu pernyataan tentang irresistable grace, yakni anugerah yg tidak dapat ditolak oleh manusia. Orang salah mengerti dg  konsep irresistable grace karena sepertinya orang seakan-akan dipaksa untuk masuk sorga. Tidak! Alkitab menyatakan ketika Kristus hendak menyatakan kebenaran pada seseorang maka anugerah itu tak bisa disangkal; manusia tidak berdaya untuk menolak kebenaran sejati, the truth itu. Ketika orang mengerti suatu hal yg salah pasti orang akan langsung menolaknya akan tetapi kalau orang sampai menerimanya maka itu karena kejeblos masuk dalam jebakan. Kita masuk dalam suatu penipuan karena kita tidak mengerti berbeda halnya kalau sebelumnya kita tahu, kita pasti akan langsung menolaknya. Kalau kita menolak hal yg salah maka pertanyaannya setelah kita mengerti kebenaran apakah kita masih mau menolaknya?

Kita tidak dapat menolak, menygkal atau melawan kebenaran ketika kebenaran itu dibukakan di depan kita. Perhatikan, orang yg melawan kebenaran itu disebabkan karena ia tidak mengerti kebenaran sebab kebenaran itu tidak dibukakan kepadanya. Dunia pikir kalau manusialah yg mencari kebenaran. Tidak! Allahlah yg membukakan kebenaran itu pada kita dan kita tidak dapat menolaknya karena Kebenaran sejati inilah yg selama ini dicari oleh manusia. Biarlah hari ini kalau kita dapat mengerti kebenaran sejati itu menjadikan kita rendah hati sebab semua itu semata-mata karena anugerah dan kita semakin taat dan takluk kepada Tuhan dg demikian kita semakin mengenal Allah yg sejati melalui Kristus.  Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060716.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-7 (oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, July 1st, 2007

Eksposisi Injil Matius-11

Ringkasan Khotbah : 9 Juli 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (7)

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:25-26

Pendahuluan

Tema keseluruhan dari Injil Matius 11 ini adalah hidup yang berpusat pada Kristus dimana sebagai warga Kerajaan Sorga kita harus hidup dalam kebenaran-Nya. Bukanlah hal yang mudah memahami kebenaran-Nya, karena itulah Matius 11:25 diberikan supaya kita semakin mengerti kebenaran-Nya dan bagaimana kita seharusnya berespon dengan tepat atas semua realita yang terjadi di dunia. Di Mat. 11:25 seharusnya ada dua kata kerja, yaitu: “menjawab/berespon“ dan “berkata“ namun kata yang paling penting, yaitu “respon“ malah dihilangkan. Respon ini diungkapkan oleh Tuhan Yesus dengan kalimat yang sangat mengejutkan di ayat 25 dan 26. Tentu saja, orang sangat kaget karena konsep mereka tentang mujizat sangat berbeda dengan apa yang Tuhan ungkapkan. Mereka pikir orang yang mendapat mujizat adalah orang yang rohani dan disayang Tuhan tapi ternyata mereka yang mendapat mujizat justru mendapat hukuman. Tuhan tahu apa yang menjadi motivasi mereka mengikut, yakni karena orang merasa diuntungkan. Tuhan tahu motivasi buruk mereka itu maka Ia pun menegur dengan keras namun ironis, orang tidak berterima kasih dan bertobat karena disadarkan akan kesalahannya. Tidak!  Alkitab mencatat mereka justru pergi dan meninggalkan Yesus (Yoh. 6).

Manusia sulit menerima konsep kebenaran sejati karena bertentangan dengan konsep manusia berdosa. Seharusnya momen dimana kita menyadari bahwa konsep kita berbeda dengan Kristus itu menjadikan kita bertobat. Sungguh amatlah disayangkan, hari ini jarang kita temui seorang Pengkhotbah yang mengkhotbahkan ayat-ayat Firman Tuhan yang berbicara dengan keras seperti di Injil Mat. 11:20-24 atau Luk. 6:20-26 karena mereka takut “kehilangan“ pengikut dan sebagai gantinya, ayat-ayat yang menegur dan menyinggung keduniawian itu dihilangkan. Dan sebagai gantinya, orang mulai menyelewengkan Firman dan mulai mengajarkan paham hedonisme. Paham hedosnisme mengajarkan hidup di dunia ini hanya sekali dan besok mati karena itu, orang harus bisa menikmati segala kenikmatan yang ditawarkan dunia. Orang tidak menyadari ada kehidupan lain setelah kematian yang telah menanti, yakni kematian kekal atau sukacita kekal. Waspadalah, dunia berusaha membalik semua konsep kebenaran yang diajarkan oleh Kristus; dengan segala cara setan berusaha membuat manusia jauh dari Kebenaran sejati termasuk orang-orang Kristen.

Di tengah segala terpaan dan arus dunia yang semakin kacau ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk berespon dengan tepat terhadap suatu realita yang sedang kita hadapi atau yang sedang ada di hadapan kita. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau meresponi suatu realita dengan konsep pemikiran duniawi atau perasaan duniawi kita sebab itu menjadi titik kehancuran kita. Ingat, jangan pernah berpikir untuk mengalahkan Kebenaran sejati, manusia yang tidak mau kembali pada Tuhan justru akan hancur. Hendaklah sebagai anak Tuhan, kita harus berpikir dan berlaku seperti Kristus dan apa yang Kristus rasakan maka kita pun harusnya merasakan hal yang sama. Berhentilah dengan segala pemikiran kita yang salah, berhentilah dengan semua pemikiran duniawi yang bersifat kedagingan berdosa, berhentilah berespon dengan memakai perasaan. Hendaklah dalam hidupmu kamu memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti yang ada dalam Kristus. Lalu apa yang menjadi respon Kristus dan bagaimana Dia berespon?

Perhatikan, respon yang ditunjukkan Yesus berbeda dengan cara manusia berespon bahkan cenderung bertentangan. Tuhan Yesus justru mengucap syukur atas kota-kota yang banyak mendapat mujizat tapi mendapat hukuman. Orang sulit menerima konsep Alkitab sebab belum apa-apa, kita telah mengambil posisi kontra. Layakkah seorang yang melawan Kristus dikatakan sebagai orang Kristen? Tidak! Sesungguhnya orang hanya mau menunggangi Kristus demi kepentingan pribadi. Disinilah orang dituntut untuk berespon dengan tepat. “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi…“; segala sesuatu haruslah dimulai dari Kedaulatan Allah, sovereignty of God; Dia adalah Tuhan atas langit dan bumi, atas sorga dan dunia.

Segala sesuatu harus dilihat dari sudut pandang Kristus barulah kita dapat mengucap syukur atas semua hal dalam hidup kita. Dunia justru sebaliknya, dunia melihat segala sesuatu dari perspektif dunia, semua mulai dari aspek humanistik; apa yang dunia inginkan itulah yang ditata secara dunia. Itulah sebabnya dunia seringkali membuat sebab akibat dan tentu saja, hasilnya untuk kepentingan manusia. Setiap aspek kehidupan dapat dihubungkan dengan setiap aspek lain dan teori ini disebut teori kausalitas. Di dunia tidak lepas dari kausalitas namun masalahnya adalah cara pembangunan konsep kausalitas di dunia ini dilihat dari perspektip siapa? Kekristenan melihat teori sebab akibat haruslah dilihat dari atas/Tuhan.

Dunia menyimpulkan bahwa orang yang bernubuat, mengusir setan, melakukan mujizat pastilah orang Kristen hebat maka Tuhan akan memberkati dan masuk sorga. Kesimpulan yang salah ini muncul karena relasi sebab akibat ditarik dari perspektif dunia. Cara pandang Tuhan berbeda dengan dunia; orang yang mendapat mujizat justru akan mendapat celaka, Tuhan membuangnya dalam neraka (Mat.7: 21-23). Hubungan relasinya sama tetapi kesimpulan yang ditarik berbeda. Tuhan ingin setiap anak Tuhan mempunyai cara pandang seperti Kristus dengan demikian orang dapat melihat dengan tajam dan menarik kesimpulan yang berbeda dengan dunia pada umumnya. Cara pandang seperti inilah yang Tuhan ingin kita miliki. Respon Kekristenan adalah melepaskan semua yang menjadi keinginan daging dan berbalik pada Kedaulatan Allah.

Alkitab mencatat Tuhan bersyukur karena semuanya (rahasia Kerajaan Sorga) Tuhan sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai tetapi Tuhan justru menyatakannya kepada orang kecil (Mat. 11:25). Terjemahan yang tepat untuk “orang kecil“ seharusnya “orang sederhana.“ Kepandaian kalau tidak ditaklukkan di bawah Kristus maka semakin pandai seseorang justru semakin menunjukkan kebodohannya. Jangan bangga dengan gelar yang kita punya dan menganggap diri pandai. Sederetan gelar bukanlah jaminan ia seorang yang pandai. Tidak! Ayat diatas tidak berarti Tuhan Yesus tidak suka dengan orang pandai dan orang bijak. Salah! Alkitab justru menyatakan orang yang kurang hikmat hendaklah ia meminta hikmat dari Tuhan; Salomo dipuji karena hikmatnya. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah orang bijak dan orang pandai seperti apakah yang dimaksudkan oleh Tuhan? Dari bagian ini kita dapat memahami beberapa hal penting, yakni:

Pertama, Bijak dan pandai yang didasarkan atas egoisme manusia, atas nafsu dosa tidak dapat menyelesaikan seluruh problema hidup. Adalah sia-sia seluruh kepandaian dan hikmat yang ada pada kita kalau kita tidak memahami kebenaran sejati, seluruh hidup kita akan hancur. Permulaan pengetahuan haruslah didasarkan pada takut akan Tuhan. Philosophy berasal dari bahasa Yunani, philo artinya mencintai dan sophia artinya bijaksana, jadi philosophy artinya orang yang mencintai bijaksana namun benarkah mereka mencintai bijaksana? Kenyataannya tidaklah demikian, seluruh filsafat besar dunia menolak Tuhan, seperti esksintensialisme, dialektik-materialisme, kapitalisme, posmodernisme, dan masih banyak lagi. Bagaimana mungkin orang dapat mempunyai bijaksana kalau orang menentang Tuhan yang adalah Sumber Bijaksana? Dunia modern tidak memulai segala sesuatu dari Tuhan tapi segala sesuatu dikerjakan untuk melawan Tuhan. Ingat, takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.

Kedua, Pengertian pengetahuan, true knowledge dan bijaksana sejati yang ada kita itu merupakan anugerah Tuhan semata; kepada siapa Tuhan hendak membukakan maka kepada mereka dibukakan. Perhatikan, ketika Tuhan Yesus mengajar dengan perumpamaan itu bukan dimaksudkan untuk mempermudah supaya banyak orang dapat mengerti. Tidak! Kepada kamu diberikan karunia untuk mengetahui Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak; itulah sebabnya Aku berkata dalam perumpamaan kepada mereka, karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:12). Orang tidak memahami esensi hikmat itulah sebabnya sampai hari ini orang mencari-cari hikmat namun semua sia-sia dan berakhir dengan kegagalan. Hikmat dan kepandaian sejati itu kita dapatkan kalau kita hidup taat kepada Tuhan. Saat kita berespon seperti Kristus berespon barulah kita dapat mengerti semua aspek dengan tepat. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menjadi rendah diri tetapi belajar Firman, Kebenaran Allah itu dengan baik maka kita dapat menganalisa dan menilai semua realita dunia yang ada dengan tepat, yakni dari sudut pandang Tuhan.

Ketiga, Tuhan lebih suka dengan orang yang sederhana. Istilah orang kecil disini sangat unik, yakni orang kecil yang dimaksud adalah seorang bayi, infant atau lebih tepatnya diterjemahkan sebagai orang sederhana. Pengertian orang kecil, small man dalam konsep antropologi manusia mempunyai konotasi negatif, yakni orang yang kerdil secara karakter, rendah diri/minder, mudah tersinggung, merasa diri tidak mempunyai apa-apa. Orang kecil ini biasanya egois, ia selalu menuntut orang lain untuk selalu memperhatikan dirinya; ia akan sangat tersinggung ketika orang mengacuhkan dirinya, ia selalu menuntut untuk selalu berada di tempat terdepan. Inilah jiwa yang dimiliki orang kerdil, small man. Orang kerdil yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus bukan small man seperti di atas. Bukan! Small man dikontraskan dengan gentleman, yakni orang yang berjiwa gentle, ia selalu memperlakukan diri dan orang lain sebagai manusia sejati. Tuhan membukakan rahasia Kerajaan Sorga kepada orang yang sederhana, infant. Kesederhanaan ini juga menjadi salah satu unsur yang harus ada dalam seni Kekristenan selain unsur harmoni dan agung, glorius.

Ciri-ciri orang yang sederhana adalah:

1. Rendah Hati

Orang yang rendah hati selalu menyadari bahwa dirinya adalah manusia terbatas, dia bukan segala-galanya dan dia selalu berusaha untuk belajar. Kepada orang yang rendah hati Tuhan membukakan rahasia Kerajaan Sorga. Orang yang merasa diri bijak biasanya ia adalah orang yang sok tahu segala hal sehingga kalau ada orang lain yang mengatakan tentang kebenaran, ia akan menutup diri. Orang seperti demikian ini tidak akan pernah mendapatkan suatu pengetahuan karena belum apa-apa ia merasa pandai dan mempunyai banyak pengetahuan. Bagaimana ia bisa belajar sesuatu kalau belum apa-apa ia merasa diri bijak? Bagaimana kita bisa mengajarkan sesuatu pengetahuan kalau ia merasa diri sudah selesai belajar? Orang sederhana adalah orang yang setiap saat menyadari kalau ia adalah orang berdosa yang seringkali menyeleweng dari jalan Tuhan dan orang sederhana selalu mau dikoreksi dan diperbaiki kesalahannya. Tuhan suka dengan orang yang mau dibentuk; Tuhan suka dengan orang yang hancur hatinya sebab pada saat hancur barulah ia dapat dibentuk. Itu juga menjadi alasan kenapa orang lebih terbuka pada Firman pada saat ia dalam keadaan sakit atau desperate? Apakah perlu Tuhan menghancurkan kita terlebih dahulu, kita merasakan sakit terlebih dahulu baru kerendahan hati itu muncul? Alangkah indah kalau kita mau bertobat sebelum Tuhan menghancurkan kita. Nabi Habakuk tidak menyadari sampai Tuhan membukakan suatu kebenaran barulah ia diubahkan dan muncul suatu kesimpulan indah dari mulutnya seperti yang tertulis dalam Hab. 3:17-19. Orang dapat merubah konsep berpikir ini dibutuhkan suatu kerendahan hati. Kerendahan hati seperti inilah yang harusnya dimiliki oleh anak Tuhan, manusia sederhana yang infant dan masih bayi. Perhatikan, bayi lahir sudah membawa unsur dosa tetapi secara natur manusia, bayi paling mudah diajar dan menyerap segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Itulah sebabnya, momen lima tahun pertama sangatlah berharga sebab kalau kita gagal menanamkan first decree maka itu akan menjadi kesulitan yang besar di kemudian hari. Tuhan ingin dalam kehidupan iman Kristen kita, kita mempunyai hati seperti bayi yang setiap saat mau diajar dan dibentuk oleh Firman.

2. Pikiran Terbuka, Open Minded

Orang yang mempunyai pikiran terbuka selalu peka akan pimpinan Tuhan sebaliknya orang yang berpikiran tertutup, close system hanya mau mendapat informasi yang cocok dengan pikirannya, ia akan memasang benteng kalau informasi tidak cocok dan berlawanan dengan pikirannya ia akan langsung menolaknya; ia merasa pikirannya itulah yang paling benar. Tuhan ingin kita menutup segala hal terhadap segala godaan iblis dan dunia tetapi terhadap Firman, pikiran kita terbuka. Open minded adalah kerelaan kita dididik oleh Tuhan terhadap Firman, mau punya pikiran seperti pikiran Tuhan. Merupakan suatu anugerah kalau kita mempunyai pikiran dan hati yang terbuka terhadap Firman sehingga memungkinkan kita untuk mempelajari iman sejati, hidup sejati, dan realita sejati. Orang takut mempunyai pikiran yang terbuka, open minded karena ia takut keabsolutditasan dirinya terganggu, ia takut konsep pikirannya menjadi kacau ketika ia menerima konsep pikiran lain. Iman bersifat mutlak maka segala hal, benar atau salah itulah dianggap benar dan mutlak maka orang takut kalau ternyata ia mendapati kalau selama ini yang ia anggap benar itu ternyata salah karena itu ia menutup pikirannya, close system. Sesungguhnya, ia menyadari kalau konsepnya salah dan harus diubahkan namun yang menjadi permasalahan adalah orang tidak rela mengubah konsep berpikirnya yang pastinya tidak akan nyaman.

Perombakan worldview, pembentukan ulang konsep berpikir dasar ini tidaklah mudah dan untuk hal ini pasti ada suatu pengorbanan. Tuhan ingin kita terbuka untuk kita ditata ulang, semua worldview yang salah diubahkan oleh-Nya dengan demikian kita menjadi serupa Kristus. Biarlah ketika kita berpikir, kita tidak berpikir terlalu jauh (Rm. 12:3) dengan demikian pikiran itu tidak menjadi bumerang bagi diri kita. Ketika kita berpikir hendaklah kita berpikir sedemikian rupa sebatas dengan ukuran iman yang Tuhan berikan kepada kita. Berpikir lebih dari itu justru akan membuat kita paranoia, ketakutan yang tidak mendasar. Seperti sebuah segitiga dengan sudut 90 derajat di salah satu sisinya maka pertumbuhan pemikiran itu setara dengan pertumbuhan imannya. Pertumbuhan ini adalah pertumbuhan yang proposional maka hidup iman kita akan beres. Iman itulah yang menjadi patokan. Alangkah indah hidup kita kalau kita berpikir terbuka, open system, hidup kita senantiasa dipimpin oleh Firman Tuhan. Orang yang mempunyai pemikiran sederhana bukanlah orang yang tidak berpengetahuan. Salah! Sebaliknya, orang yang berpikiran sederhana adalah orang yang dapat memproporsikan pola berpikirnya.

3. Setia, Faithfull

Tuhan Yesus  menunjukkan respon yang tepat atas semua yang terjadi; “Ya, Bapa itulah yang berkenan kepada-Mu“ (Mat. 11:26),. Pertanyaannya apa yang membuat Tuhan Yesus bersyukur? Karena semua hal itulah yang diperkenan oleh Bapa. Inilah konsep iman Kekristenan, yakni apa yang menjadi perkenanan dan kesukaan Tuhan maka itu juga harus menjadi kesukaan kita. Berpikir sederhana adalah tidak bertanya yang tidak perlu namun hal ini bukan berarti kita tidak boleh bertanya. Tidak! Banyak bertanya disini adalah jangan seperti orang yang menginterograsi seakan-akan Tuhan mempunyai banyak kesalahan pada kita. Seharusnya kita banyak bertanya dan kalau perlu menginterograsi untuk hal-hal yang berbau berdosa itulah yang harusnya kita interograsi. Ironisnya, hari ini banyak orang yang tidak banyak bertanya untuk hal-hal yang berbau dosa tapi orang justru banyak pertanyaan jika hal itu menyangkut pekerjaan dan kehendak Tuhan. Sebagai contoh, orang tidak terlalu bergumul terlalu lama untuk masuk sekolah favorit, menjawab panggilan dunia tapi orang akan bergumul lama ketika menjawab panggilan Tuhan.

Sebagai anak Tuhan sejati, Tuhan ingin kita mempunyai hati yang taat sepenuhnya, faithfull. Gambaran seorang yang faithfull ini seperti seorang anak kecil yang tanpa banyak tanya ia akan mengikuti kemanapun ibunya pergi. Gambaran ini lebih tepat dalam bahasa Jawa, yakni memakai istilah “ngintil/manut.“ Hidup sederhana, simple adalah hidup yang taat Tuhan sepenuhnya, mungkin secara duniawi tidaklah mengenakkan tetapi percayalah Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Betapa indah kalau kita menjadi seorang yang sederhana, simple person karena Tuhan membukakan rahasia Kerajaan Sorga itu kepada mereka yang sederhana dan ingatlah, semua itu tidak lepas dari anugerah Tuhan kalau kita dapat mengerti kebenaran-Nya dan taat pada pimpinan-Nya. Kita sepatutnya bersyukur atas anugerah Tuhan terindah dalam hidup kita sebagai respon kita ketika kita melihat suatu realita dunia.  Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060709.htm