Archive for August, 2007

Eksposisi Injil Matius 11 : KRISTUS ADALAH TUHAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Saturday, August 25th, 2007

Ringkasan Khotbah : 24 September 2006

Kristus adalah Tuhan

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:1,8,50

Pendahuluan

Hari ini kita masuk pada injil Matius pasalnya yang kedua belas dimana pada pasal ke-12 ini Matius membukakan pada kita tentang siapakah Kristus, yaitu Kristus adalah Tuhan. Injil Matius 12 ini dibuka dengan suatu peristiwa yang terjadi pada hari Sabat. Seperti kita ketahui hari Sabat adalah hari yang sangat penting bagi orang Yahudi dimana didalamnya banyak aturan Sabat yang harus ditaati dan bagi mereka yang melanggar, akan dihukum. Orang Yahudi sangat ketat menjalankan aturan sabat tersebut dan khusus aturan sabat, mereka setitik pun tidak mau bertoleransi. Sabat dimulai jam 6 sore – 6 pagi – 6 sore maka selama 24 jam itu mereka menjalankan ritual yang sangat ketat; mereka tidak akan berjalan atau mengangkat benda seberat dan sejauh seperti yang ditetapkan dalam aturan Sabat dan masih banyak lagi aturan-aturan Sabat yang harus mereka taati. Dapatlah dikatakan iman Yahudi adalah iman Sabat. Bagaimana dengan kita?

Pertama, Kristus adalah Tuhan atas semua ritual agama.

Adalah pendapat yang salah kalau dengan melakukan semua ritual agama berarti: 1) ia sudah menyembah dan beriman pada Allah. Salah! Ritual ini bersifat visual, artinya dapat dilihat dengan langsung oleh orang lain dan siapapun dapat melakukan ritual agama bahkan dalam beberapa aspek secara psikologi, semua ritual agama itu dapat memberikan suatu kepuasan batiniah, 2) orang yang menjalankan ritual agama dianggap sebagai orang saleh dan ia sangat dihormati. Dengan kata lain, orang yang menjalankan ritual agama ini mendapat status sosial di tengah masyarakat, 3) orang melakukan ritual agama berarti ia telah menggenapkan seluruh tuntutan agama, fulfill maka timbullah rasa aman karena ia merasa telah mendapatkan surga.

Dalam hal ini Tuhan tidak lagi menjadi yang utama tetapi ritual agama itulah yang dipentingkan. Perhatikan, ritual agama tidak salah. Setiap agama pasti ada ritualitas, ada aturan, tata cara atau liturgi tertentu tetapi ritual agama sejati harusnya membawa manusia melihat kebesaran dan keagungan Tuhan bukan sebaliknya mengunci orang dalam ritual agama. Orang Yahudi sangat ketat memelihara dan mengutamakan sabat sampai-sampai ia tidak kenal Kristus yang adalah Allah atas sabat. Lalu semua ritual sabat itu dilakukan untuk siapa dan buat apa? Untuk sekedar bersabatkah atau menyembah Tuhan? Kalau kita bertanya pada orang Yahudi, mereka pasti mengaku bahwa semua ritual sabat itu dilakukan untuk menyembah Tuhan. Benarkah demikian? Mengapa ketika Kristus Tuhan ada di depan mata mereka, mereka tidak mengenal-Nya? Orang menjalankan ritual tetapi ia tidak tahu siapakah yang  sesungguhnya disembah dalam semua ritual tersebut.

Iman sejati harus kembali pada Allah. Iman sejati tidak dikunci pada suatu ritual keagamawian atau tindakan-tindakan yang sifatnya ritualitas. Perhatikan, semua aturan keagamaan yang lepas dari Kristus berarti penyelewengan agama maka seluruh ritual agama tersebut tidak ada artinya. Apalah artinya kita mempersembahkan korban dan menjalankan seluruh ritual agama tetapi hal yang utama, yaitu Tuhan justru kita buang. Orang lebih mementingkan ritual atau aturan di atas Tuhan tidak hanya terjadi pada jaman Alkitab saja, di dunia modern sekarang inipun, orang disibukkan dengan berbagai ritual agama, bagaimana menikmati ibadah untuk mendapat kepuasan diri sehingga ketika Kristus hadir, kita justru tidak mengenalinya karena kita telah menggantikan Dia dengan figur-figur lain. Kristus dengan menegur keras dan bukan hanya pada orang Yahudi tetapi juga pada kita hari ini, biarlah kita kembali pada Kristus sebagai the final authority.

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang dimaksudkan Allah dengan sabat dalam seluruh iman Kekristenan? Tanpa kita sadari, sesungguhnya konsep agama yang ada dalam pemikiran kita itu terbentuk dari ritualitas yang kita kerjakan selama ini akibatnya ketika Tuhan hadir, kita tidak mengenal Dia. Pertanyaannya adalah sekarang siapa yang lebih berotoritas, Tuhan ataukah aturan Sabat? Pengenalan akan Yesus akan kita peroleh melalui kita menyangkal diri, memikul salib lalu mengenal Kristus dengan benar maka seluruh ritual agama itu tidak artinya. Adalah percuma setiap minggu kita rajin beribadah dan melayani tetapi kita tidak mengutamakan Kristus. Terkadang, kita sering mendengar ada orang yang berkata,“Saya merasakan ada sesuatu yang tidak enak atau hilang ketika ia tidak pergi ke gereja“; perasaan tersebut tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya namun yang menjadi letak permasalahan disini adalah bukan pada kepuasaan diri orang tersebut, yakni orang merasa lega karena ia telah pergi ke gereja, ia telah menjalankan ritual agamanya. Tidak! Akan tetapi yang menjadi evaluasi kita adalah sudahkah Firman itu mengubahkan hidup anda? Sudahkah kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan? Realitanya justru berkata orang tidak peduli dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan, orang merasa sudah melakukan kehendak Tuhan dengan melakukan semua ritual agama. Orang tidak sadar kalau ia telah lepas dari Kristus yang adalah esensi iman yang sejati. Kristus adalah Tuhan yang mengatur hidup kita, Dia adalah pemegang otoritas tertinggi yang menentukan segala sesuatu.

Janganlah kita menjadi orang yang sok pandai dan berani menentang dan melawan Dia karena kita sudah merasa menyembah Allah dengan semua ritual agama yang kita jalankan. Matius di titik pertama mengajak orang Yahudi untuk merekonstruksi ulang, membongkar konsep mereka yang salah tentang Sabat dan ritual agama untuk mengenal siapa Kristus yang sesungguhnya. Kristus adalah Tuhan atas sabat dan semua ritual agama.

Kedua, Kristus adalah Tuhan atas kuasa-kuasa iblis.

Pada pasalnya yang kedua belas, Matius mencatat tentang Tuhan Yesus melakukan mujizat. Sebelumnya kita telah merenungkan suatu kebenaran, yakni mujizat hanya dapat dilakukan oleh Kristus Tuhan dan enam hal telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dimana itu membuktikan bahwa Dia adalah Mesias. Manusia tidak mungkin dapat melakukan mujizat seperti yang dilakukan oleh Kristus (Mat. 11:5-6), sebab kuasa setan yang bekerja di dalamnya. Orang yang melihat tanda yang Kristus kerjakan tersebut harusnya mengakui Dia adalah Mesias, Anak Daud. Perhatikan, Anak Daud disini merupakan figurasi yang menggambarkan Kristus sebagai keturunan Daud yang akan menjadi Mesias namun ironisnya, orang Yahudi tidak percaya tetapi mereka justru menyelewengkan kebenaran. Bagi orang Farisi yang begitu kuat memegang konsep Yudaisme menganggap Tuhan Yesus dianggap sebagai ancaman. Mereka memfitnah Kristus dengan mengatakan bahwa otoritas yang ada pada-Nya bukan dari Allah melainkan dari setan.

Hati-hati dengan akal licik si setan yang sengaja memutarbalikkan kebenaran – Roh Kudus dianggap sebagai roh setan dan sebaliknya roh setan dianggap sebagai Roh Kudus. Upaya memutarbalikkan kebenaran ini bukan terjadi baru-baru ini saja. Tidak! Tetapi sejak jaman Tuhan Yesus, orang sudah memakai metode memutarbalikkan kebenaran. Puji Tuhan, Kristus adalah Tuhan, Dia telah membuktikan bahwa kuasa setan dan kuasa lain yang diagung-agungkan oleh manusia tersebut berada di bawah kuasa Ilahi. Kristus adalah otoritas final, yang mengalahkan kuasa setan. Matius membukakan pada kita dua macam orang yang kerasukan setan, yaitu: 1) orang secara harafiah kerasukan setan, hal ini dapat kita lihat secara visual, seperti ia berteriak-teriak, orang ini juga dikucilkan karena dianggap membahayakan orang lain dan biasanya orang kerasukan setan juga bisu, tuli atau buta tetapi Tuhan Yesus membuktikan kuasa setan berada dibawah kuasa Ilahi dan orang yang kerasukan setan masih bisa disembuhkan, 2) orang yang kerasukan setan tapi tidak nampak secara visual, ciri-ciri ini nampak dalam diri orang-orang Farisi. Dengan kuasa yang dimilikinya, mereka berani menyelewengkan kebenaran sejati. Mereka tidak sadar kalau melawan Roh Kudus akan berakibat fatal, tidak ada lagi keselamatan baginya; mereka akan binasa di dalam kebinasaan.

Adalah lebih berbahaya orang yang berada dalam kuasa iblis namun tidak nampak secara visual, mereka selalu melawan kebenaran sejati dan menaruh kuasa Roh Kudus di bawah kuasa Beelzebul, mereka menganggap diri penuh dengan kuasa Roh Kudus padahal bukan kuasa Roh Kudus yang ada pada dirinya tetapi kuasa Beelzebul. Adalah lebih berbahagia orang yang kerasukan setan secara harafiah sebab ketika kuasa Kristus itu melawat dirinya, ia dapat melihat kuasa Kristus yang mengalahkan kuasa setan yang mencengkeram dirinya. Waspadalah dengan akal licik si iblis yang selalu berusaha menggoda manusia supaya masuk dalam cengkeraman kuasanya. Hendaklah kita kembali pada Kristus satu-satunya otoritas final sebab tidak ada kuasa siapapun dalam alam semesta ini yang lebih besar dari kuasa Kristus. Kalau kita tidak kembali pada kuasa Kristus maka kita akan diombang-ambingkan oleh berbagai rupa-rupa pengajaran dunia apalagi sekarang kita berada dalam suatu jaman dimana gerakan new age yang bermain-main dengan roh-roh setan ini secara pelan namun pasti telah mempengaruhi dunia. Pada awal abad 20, gejala spiritualitas ini ditandai dengan gejala-gejala psikologis dan luapan emosi, yakni orang menangis, ketawa, berbahasa roh dan masih banyak lagi. Dan celakanya, orang yang menampakkan gejala spritualitas semu tersebut malah menuduh orang-orang yang menyatakan kebenaran, mendidik orang untuk hidup benar, belajar Firman dengan baik justru dikatakan sebagai orang yang tidak ada Roh Kudus. Ironis, bukan? Perhatikan, gejala psikologis yang ditunjukkan tersebut bukanlah pekerjaan Roh Kudus. Alkitab menegaskan kalau Roh Kudus turun atas seseorang maka orang diinsyafkan akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8).

Ketiga, Kristus adalah Tuhan diatas semua kebenaran dan keadilan manusia.

Orang-orang Farisi dan Saduki mengadu antara otoritas Kristus dengan kebenaran yang mereka miliki, otoritas Yudaisme. Sungguh ironis, manusia menolak dua esensi yang paling penting, yakni kebenaran dan keadilan maka dapatlah dipastikan akibatnya, yakni dunia semakin rusak dan hancur. Sesungguhnya setiap manusia pasti ingin hidup sejahtera tetapi orang tidak sadar kalau hidup sejahtera itu tidak mungkin tercapai tanpa kebenaran dan keadilan. Hari ini, berapa banyak orang yang dihukum atas perbuatan mereka membakar gereja, membunuh dan menganiaya orang-orang Kristen? Tidak ada satu orang pun yang diadili. Namun percayalah, keadilan Tuhan tidak akan dapat dipermainkan, keadilan Tuhan akan dinyatakan di muka bumi ini. Tidak hanya sampai disitu, dua tokoh terbesar yang ada di dunia harus mati dengan cara keji: 1) Socrates, seorang filsuf Yunani yang sangat berpengaruh dalam pemikiran garis besar filsafat Yunani harus mati dengan cara keji. Hal ini menjadikan Plato dan Aristotle benci dengan demokrasi sebab pemimpin yang sangat baik justru mati dalam permainan massa yang mempermainkan kebenaran dan keadilan, 2) Tuhan Yesus, Dia datang mengajarkan kebenaran sejati, Dia datang dengan cinta kasih, Dia membawa manusia  kembali pada Allah tetapi Dia justru berhadapan dengan kayu salib. Inilah permainan kebenaran dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menyebut diri sebagai orang beragama. Sepintas, mereka memang mempunyai kekuatan otoritas yang menyatakan kebenaran dan keadilan palsu dari manusia, tetapi mereka tidak sadar bahwa otoritas yang ada padanya sekarang itu asalnya dari Tuhan; kalau Tuhan tidak berikan kuasa itu kepadanya maka orang tidak ada apa-apanya. Pdt. Stephen Tong dalam pengajarannya menyatakan pertemuan antara Pilatus dan Kristus merupakan pertemuan dua otoritas yang paling besar. Pada saat itu, Pilatus menaikkan otorisasi ke posisi tertinggi sebaliknya Kristus menurunkan otorisasi ke posisi terendah, hal ini justru menunjukkan kebodohan dan kegagalan otorisasi manusia. Otorisasi manusia berakhir dengan kehancuran dan Kristus yang bangkit justru menjadi kekuatan kemenangan; Dia melawan kuasa kejahatan dengan kebajikan. Kristus adalah otoritas final atas semua kebenaran dan keadilan manusia. Tidak ada satu pun kebenaran dan keadilan di alam semesta ini yang dapat melawan kebenaran sejati.

Keempat, Kristus adalah Tuhan atas semua otoritas yang ada di dunia.

Dalam religiusitas, orang seringkali mengkontraskan antara otoritas Tuhan dengan otoritas keluarga. Khususnya di dunia timur, hal ini seringkali terjadi dan banyak menimbulkan konflik. Dalam bagian ini, Injil Matius membukakan pada kita siapa pemegang otoritas tertinggi dengan menuliskan tentang kehadiran ibu dan saudara-saudara Tuhan Yesus. Menurut kebudayaan yang berlaku jaman itu, anak harus tunduk pada orang tua namun Tuhan Yesus menegaskan barangsiapa melawan Allah dan mentaati otoritas yang lain berarti ia melawan Allah. Dalam bagian ini, Alkitab tidak mengajarkan kita menjadi seorang pemberontak. Tidak! Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati orang tua akan tetapi kalau orang tua tidak lagi beriman pada Kristus atau orang tua menyeleweng pada kebenaran Allah maka anak tidak perlu taat pada orang tua tetapi ia harus taat pada Allah sebagai otoritas final. Seorang anak haruslah taat pada Allah lebih daripada pada orang tua kita karena Dia adalah pemegang otoritas tertinggi. Biarlah sebagai orang tua kita hidup taat dan beriman sejati sehingga apa yang kita nyatakan merupakan wakil dari kebenaran Allah. Hai, para orang tua janganlah mengambil alih otoritas yang merupakan otoritas Allah lalu memakai otoritas untuk memisahkan anak dari Allah. Orang tua yang demikian akan berhadapan langsung dengan Allah sebagai pemegang otoritas tertinggi. Kristus membukakan kebenaran tentang siapakah ibu-Ku, siapakah saudara-Ku laki-laki, siapakah saudara-Ku perempuan? Dia adalah yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Konsep ini mengharuskan kita melihat Kristus sebagai otoritas tertinggi, tidak ada siapa pun yang dapat menggeser Kristus sebagai otoritas final dalam garis order.

Sebagai seorang warga negara yang baik, kita harus tunduk dan taat pada pemerintah tapi ketaatan itu hanya sejauh pemerintah tersebut takut akan Tuhan maka kalau pemerintah mulai menyeleweng dari kebenaran Tuhan, kita harus melawannya. Sebagai contoh, kalau suatu hari kelak pemerintah mengeluarkan larangan beribadah dan menyembah pada Tuhan Yesus bagi mereka yang beragama Kristen maka apa yang harus kita lakukan? Tunduk pada pemerintah ataukah melawannya? Kristus tidak ingin ada cabang dalam garis otoritas yang Ia sendiri tetapkan sebab hal ini merupakan penyelewengan rohani. Mempermainkan otoritas Allah karena kita takut pada otoritas lain berarti membuktikan otoritas lain tersebut lebih berkuasa dari otoritas Allah. Tuhan akan sangat marah dan Dia berhak untuk marah karena Dialah satu-satunya pemegang otoritas tertinggi. Otoritas dalam Kristus itulah yang manjadi dasar kehidupan kita. Bayangkan, apa jadinya hidup kita kalau kita hidup dalam multiple authority, yakni banyak otoritas yang berbeda-beda dan celakanya, tidak berada dalam satu garis otoritas. Tentu saja, kita akan dibingungkan, kita tidak tahu harus taat pada otoritas yang mana; taat pada otoritas A maka si B akan marah, taat pada otoritas B maka si A dan si C akan marah, begitu seterusnya akibatnya kalau dalam dunia kerja mungkin kita dipecat namun bayangkan, kalau itu menyangkut hidup kita. Betapa celaka hidup kita kalau kita berani mempermainkan otoritas Tuhan dan menggantinya dengan otoritas lain maka kita akan dibuang dari Kerajaan Sorga maka itu berarti kehancuran hidup kita.

Otoritas siapakah yang menjadi otoritas final dalam hidup kita? Siapa yang mengatur hidup kita? Siapa yang menjadi penentu setiap keputusan kita? Kalau kita mengaku anak Tuhan yang sejati maka Tuhan menuntut kita untuk taat pada-Nya. Biarlah dalam hidup kita semakin takut dan hormat kepada Allah yang berdaulat dan biarlah kita juga semakin taat dan setia. Berpeganglah senantiasa pada perintah Kristus sebagai pemegang otoritas tertinggi. Hendaklah kita terus berproses untuk semakin diubahkan dan semakin bertumbuh dalam iman untuk menjadi semakin serupa Dia. Amin?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060924.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : THE COMPASSION OF CHRIST (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, August 19th, 2007

Ringkasan Khotbah : 10 September 2006

The Compassion of Christ

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11: 28-30

Puji Tuhan, hari ini kita masuk pada bagian akhir yang sekaligus menjadi inti dari Injil Matius 11. Melalui Injil Matius, Tuhan membukakan bagaimana kita sebagai warga Kerajaan Sorga berespon dengan benar pada Kristus Raja yang mempunyai posisi paradoks, Tuhan yang adil (Mat. 11:20-24) sekaligus Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:28-30). Pernyataan Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa Ia lemah lembut dan rendah hati ini sangat tidak disuka oleh dunia sebab kalau pernyataan ini benar itu seperti sebuah cermin yang ada di depan kita yang membukakan pada kita tentang siapa kita yang sesungguhnya. Di sisi lain, orang langsung berpikir negatif tentang Kristus dan mengatai Dia sombong. Manusia berdosa yang egois tidak suka ketika dibukakan tentang kebenaran sejati, manusia berdosa lebih suka kalau ia dibukakan tentang berbagai hal yang berkenaan dengan nafsu dan keinginan ambisinya. Di tengah-tengah dunia yang rusak moral ini, kita akan kesulitan untuk menemukan orang seperti Tuhan Yesus yang lemah lembut, rendah hati dan mengasihi manusia, hal ini disebabkan karena:

Pertama, lemah lembut dan rendah hati identik dengan kekalahan dan kelemahan dan biasanya orang yang lemah selalu ditindas. Sadarkah kita kalau hari ini dunia pendidikan melatih anak-anak kita untuk tidak menjadi lemah lembut dan rendah hati? Sebaliknya, anak selalu dipacu untuk menang dan berkompetisi karena kemenangan menunjukkan kekuatan. Jiwa lemah lembut dan rendah hati bertentangan dengan jiwa manusia berdosa yang egois dan humanis maka tidaklah heran kalau semua ucapan “berbahagia… “ yang tertulis dalam Matius 5 dan Lukas 6 tidak disuka oleh manusia.

Kedua, lemah lembut dan rendah hati identik dengan kegagalan. Dosa bersifat destruktif akibatnya ketika orang dipaksakan untuk hidup lemah lembut dan rendah hati maka itu berubah menjadi pukulan negatif yang memutar balik dirinya dan berakibat kehancuran. Lemah lembut dan rendah hati hanya dapat dilakukan jika ada kekuatan internal lain yang menguatkan dan menopang dia. Seharusnya, orang yang sangat pandai lebih mudah untuk menjadi rendah hati tetapi sayang, keunggulan yang ada pada dirinya justru menjadikannya sombong. Seorang Kristen dimungkinkan untuk menjadi lemah lembut dan rendah karena kita mempunyai Kristus yang telah melahirbarukan dan itu menjadi kekuatan kita; kuasa Kristus menguasai kita.

Ketiga, di dunia tidak ada ukuran standar yang tepat untuk mengukur karakter akibatnya orang menjadi under estimated atau over estimated. Kedua penilaian ini salah. Seharusnya manusia bisa mengukur dirinya dengan tepat, tidak lebih atau tidak kurang namun manusia kehilangan standar mutlak yang dijadikan sebagai standarisasi untuk mengukur diri. Untuk mengukur suatu panjang maka digunakan standar ukuran panjang, seperti meter, inci, feet barulah kita dapat mengatakan apakah suatu benda itu lebih panjang ataukah lebih pendek. Pertanyaanya sekarang adalah standarisasi apa yang kita pakai untuk mengukur karakter dan hidup seseorang? Bagaimana seorang dapat dikatakan lemah lembut dan rendah hati? Di dunia tidak ada satupun standar yang dapat dipakai untuk mengukur karakter manusia, dunia hanya melihat secara relatif, dunia tidak tahu ukuran yang pas akibatnya orang mengalami kesulitan untuk menjalankannya. Maka tidaklah heran kalau kemudian dunia menanggapi negatif pernyataan Kristus; dunia  menganggap Kristus sombong. Dunia tidak pernah memahami bahwa pernyataan Kristus bukanlah kesombongan tapi justru menyatakan kemurnian motivasi Kristus.

Untuk memahami dan mengerti makna dari pernyataan Kristus: “Aku lemah lembut dan rendah hati“ maka kita harus memperhatikan konteks secara keseluruhan. Konteks Injil Matius adalah Kristus sebagai Raja dimana otoritas tertinggi ada di tangan-Nya; Dia adalah Juruselamat, Dia adalah Mesias. Kemesiasan Kristus ini bukan dikatakan tetapi dibuktikan dengan kuasa yang ditandai dengan enam hal, yakni: 1) orang buta melihat, 2) orang lumpuh berjalan, 3) orang kusta tahir, 4) orang tuli mendengar, 5) orang mati dibangkitkan, 6) orang miskin mendapatkan kabar baik. Pada bagian lain, Tuhan Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang besar, Ia “menentukan nasib“ dari suatu kota (Mat. 11:20-24). Orang yang mendengar dan melihat kuasa Kristus ini seharusnya menjadi takut dan gentar karena Kristus adalah Raja di atas segala raja, Dia memegang otoritas tertinggi dan Dia penentu atas sejarah di alam semesta ini. Namun Kristus mengontraskan kuasa yang dimiliki dengan mengatakan, “Aku lemah lembut dan rendah hati.“ Janganlah kita melihat Kristus dari satu sisi saja, yakni dari sudut manusia, kita akan gagal mengerti jiwa dan karakter Kristus yang sesungguhnya. Maka tidaklah heran kalau muncul kesimpulan bahwa Tuhan itu kejam. Melihat Allah hanya dari sudut manusia, tidak pernah mau mengerti dari sudut Allah maka kesimpulan yang didapat pasti salah. Untuk mengenal suatu barang, kita dapat membongkar dan mengacak-acak isi barang tersebut namun berbeda halnya, kalau mengenal karakter manusia maka kita tidak dapat melihat dari tampilan luarnya saja, kita akan mudah terkecoh sebab yang kita hadapi bukanlah suatu pribadi.

Pertama, Untuk mengenal suatu pribadi adalah tidak sah kalau kita hanya mengambil data sepihak saja, yakni dari sudut pandang luar lalu kita menarik kesimpulan. Data haruslah kita dapatkan melalui revelation, orang tersebut harus membukakan dirinya sendiri, orang tersebut membuktikan apa yang dia kerjakan barulah kita dapat mengenal dan menyimpulkan; dengan demikian obyek berubah menjadi subyek; si obyek yang memberitakan informasi pada kita maka kita yang subyek berubah menjadi obyek. Relasi interpersonal bila dibatasi dengan saya-subyek dan orang lain – obyek maka kita tidak akan pernah mendapatkan pengenalan yang benar dan tepat. Dunia psikologi sangat memahami hal ini, untuk mengenal suatu pribadi bukan dengan membedah isi kepala orang tersebut tapi kita harus menjadi obyek dan orang tersebut sebagai subyek; dengarkan apa yang menjadi keluhannya maka itu menjadi informasi bagi kita untuk kita dapat mengenal dia lebih dalam.

Merupakan kesalahan fatal apabila dalam suatu konseling, kita menyerap semua informasi dan menganggapnya sebagai kebenaran. Hati-hati, informasi tersebut bersifat subyektif, segala sesuatu yang diceritakan dari sudut pandang dia dan yang diceritakan pastilah sesuatu yang menyenangkan dan menguntungkan dia saja, apa yang menjadi kesalahan orang lain itulah yang diceritakan. Berita yang dikemukakan tidak obyektif lagi tetapi telah mengalami: 1) pencemaran atau distorsi, 2) pergeseran motivasi, 3) beritanya tidak asli, ada penambahan atau pengurangan. Rasa curiga dan tidak percaya merupakan salah satu penyebab komunikasi tidak berjalan baik. Komunikasi akan terjalin dengan baik apabila ada ketulusan dan kejujuran di dalamnya namun di tengah dunia berdosa, hal itu sulit didapat.

Di tengah dunia berdosa yang kejam kalau Tuhan berkata, “Aku lemah lembut dan rendah hati maka kalimat itu bagaikan air yang turun di kala teriknya panas mentari. Apalagi kita hidup diantara manusia yang mementingkan diri bahkan orang tidak lagi peduli meski demi untuk mendapatkan keuntungan, ia harus mengorbankan orang lain. Konsep utilitarian telah mengakar dalam hidup manusia modern, hal ini nampak jelas ketika orang menawarkan berbagai macam produk dan jasa maka orang tidak akan langsung berterus terang kalau sesungguhnya, ia yang diuntungkan sebaliknya ia akan berkata hendak membantu kita. Pertanyaannya, sesungguhnya dia yang membantu kita atau kita yang membantu dia ataukah sama-sama saling bantu? Tepatnya adalah sama-sama saling membantu dan yang lebih tepat lagi sesungguhnya kita yang paling banyak membantu sebab jika terjadi sesuatu hal yang tidak mengenakkan, kita yang dikorbankan terlebih dahulu, “sebelum dimakan, kita harus memakan terlebih dahulu.“

Inilah wajah dan kondisi dunia berdosa yang kejam dan keras. Puji Tuhan, di tengah kondisi dunia kacau ini, Allah yang berkuasa menawarkan kelemahlembutan dan kerendahan hati. Kristus, Raja yang berdaulat bukanlah diktator yang sewenang-wenang, Dia bukanlah Allah yang menghancurkan, Dia tidak pendendam. Allah yang kita sembah adalah Allah yang kasih, lemah lembut dan rendah hati. Dan hal itu telah terbukti, hal ini termanifestasi dalam diri Kristus, Dia dari sorga mulia rela datang ke dunia untuk manusia berdosa. Manusia sulit mengerti arti pengorbanan Kristus, Allah pemilik alam semesta datang ke dunia. Kalau Allah Sang Pencipta turun berinkarnasi menjadi ciptaan maka itu merupakan penurunan posisi yang sangat dahsyat. Cobalah kalau kita yang turun posisi menjadi seorang pengemis hanya satu kali 24 jam saja, maukah dan relakah anda? Penurunan posisi ini sesungguhnya tidaklah sebanding dengan Kristus sebab dalam hal ini, manusia adalah ciptaan tetap menjadi ciptaan tetapi dengan derajat rendah, bandingkan dengan Kristus, Dia adalah Pencipta turun menjadi ciptaan. Orang yang bisa turun posisi sedemikian rupa maka mudah sekali baginya untuk menjadi rendah hati dan lemah lembut karena ia sudah pernah merasakan semua penderitaan dan kesusahan. Karena kasih, Tuhan datang ke dunia, Dia rela berkorban demi manusia berdosa. Kristus rela meninggalkan sorga mulia dan mengambil rupa seorang hamba itulah bukti kasih Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah maukah kita datang pada-Nya dan mendapatkan kelegaan sejati? Seberapa jauhkah anda mau mengerti dan memahami kasih Allah?

Kedua, Kristus bukan sekedar Penguasa yang memerintah tetapi Dia turun dan hidup bersama-sama dengan kita, Dia juga pernah merasakan seluruh pergumulan dan beban hidup kita. Inilah yang disebut dengan compassion. Kristus telah menjadi teladan sejati bagi manusia maka hal Ini sekaligus menjadi kekuatan kita. Tentulah kita akan merasa lega kalau kita mempunyai seorang yang mengerti segala kesulitan dan bukan hanya sekedar mengerti secara teori saja. Tidak! Dia pernah mengalami semua kesusahan dan penderitaan yang kita rasakan saat ini. Demikian pula halnya dengan mereka yang pernah merasakan berkemenangan di dalam Tuhan, hal itu akan menjadi kekuatan untuk menolong orang lain  yang menderita. Pdt. Amin Tjung bertahun-tahun berjuang melawan kanker namun dia tidak pernah merasa putus asa dan Tuhan pakai beliau menjadi berkat bagi banyak orang yang mengalami penderitaan yang sama.

Penderitaan manusia tidaklah sebanding dengan penderitaan Kristus; penderitaan Kristus jauh lebih dahsyat. Penderitaan manusia sebagai akibat dari dosa yang kita perbuat namun kalau Kristus menderita itu bukan karena Dia berdosa. Tidak! Kristus tidak berdosa! Kristus menderita karena Dia mengasihi manusia yang bersalah dan untuk itu Dia harus mengalami penderitaan. Kalau kita memahami penderitaan Kristus maka itu harusnya menyadarkan kita betapa kita ini adalah manusia berdosa, manusia lemah yang rentan tetapi Tuhan mau selamatkan, Tuhan memanggil kita untuk datang kepada-Nya dan mendapat kelegaan maka itu harusnya menjadikan kita lebih mengasihi Tuhan, menjadikan Dia sebagai pusat hidup kita. Hidup di dunia ini hanya sementara, pertanyaannya adalah apa yang kita cari di dunia? Betapa indah hidup kita kalau kita berada dalam pelukan orang yang sangat mengasihi kita, orang yang peduli dan hanya memikirkan yang terbaik untuk kita. Betapa bahagia hidup kita kalau kita berada dalam lindungan orang yang mempunyai kekuatan dan ketika berada dalam bahaya, dia maju menolong dan kita pun berkemenangan. Semua itu hanya ada dalam Kristus. Allah kita bukanlah Allah yang kejam; Allah Kristen adalah Allah yang ingin kebenaran sejati, keadilan dan kesucian itu dinyatakan di tengah dunia berdosa dan di sisi lain, Dia adalah Allah yang rendah hati dan lemah lembut; Allah yang mengerti setiap pergumulan kita.

Ketiga, Kristus bukan hanya sekedar mengerti setiap pergumulan kita tetapi Dia memberikan jalan keluar untuk kita. Orang berpendapat bahwa untuk menjadi seorang konselor yang baik cukup dengan menjadi pendengar yang baik saja. Di dunia ini kita sulit mendapatkan orang yang mengerti dan mengasihi kita maka ketika ada seorang yang mau mengerti dan memahami kita sepertinya kita mendapat kelegaan. Kristus tidak hanya sekedar memberi kelegaan, Dia juga memberikan jalan keluar – Dia memasang kuk yang baru untuk kita, Dia memegang kendali atas hidup kita maka kita akan merasakan sukacita ketika hidup berjalan dalam pimpinan-Nya. Menjadi warga Kerajaan Sorga tidak cukup hanya berhenti dalam kepasifan dimana kita hanya melampiaskan semua kesusahan dan kita menjadi lega kemudian kita melangkah sendiri dan ternyata kita mendapat kesusahan maka kita pun mulai mencari seorang konselor, begitu seterusnya. Tidak! Dunia tidak dapat memberikan solusi, dunia hanya menjadi tempat pelampiasan kebebalan, pelampiasan ketidakadilan, pelampiasan penderitaan.

Kekristenan tidak pasif, mengikut Kristus bukan hanya sekedar mendapatkan Kristus yang mencintai dan mengasihi kita. Tidak! Tuhan mengajak kita untuk bangkit dan mendapat kekuatan baru; Tuhan memberikan kuk dan Dia yang memegang kendali atas hidup kita. Dunia tidak akan pernah merubah menjadi baik, dunia semakin menuju pada kehancuran maka kita yang harus berubah dan ingat, perubahan yang terjadi atas kita itu bukan karena kemampuan kita tetapi Tuhan yang memampukan kita untuk berubah. Kuk yang baru, yaitu kuk yang dari Tuhan itu yang merubahkan hidup kita. Adalah tugas setiap anak Tuhan yang telah diubahkan untuk menjadi saksi bagi-Nya, menjadi terang bagi dunia yang gelap. Kuasa mengubahkan ini tidak dapat dibangun dengan kekuatan kita sendiri tetapi hanya kuasa Kristuslah yang memampukan kita.

Di tengah dunia ini sulit melepaskan antara pemerintahan dengan kekuasaan. Kristus memimpin tidak memakai otorisasi tetapi Dia memimpin dengan kelemahlembutan dan rendah hati. Pertanyaannya relakah kita dipimpin Tuhan? Hanya di dalam Kristus kita mendapatkan kelegaan; hanya di dalam Kristus kita mendapatkan kemenangan. Dunia ini sangat kejam, banyak penderitaan dan kekerasan terjadi, kelaparan terjadi dimana-mana; hidup makin hari makin susah akibatnya, di tengah situasi seperti ini banyak orang yang panik, orang tidak tahu harus bersandar dan berpegang pada siapa. Puji Tuhan, di tengah kondisi yang demikian ini Kristus datang kepada kita dan tangan-Nya yang terbuka menyambut kita: “Marilah kepada-Ku kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-Mu“ dan Dia juga memberikan jalan keluar bagaimana kita menghadapi gejolak dunia tanpa kita hanyut di dalamnya karena Tuhan memegang pimpinan atas hidup kita. Di dunia masih banyak orang yang terombang-ambing, tidak mempunyai sandaran hidup, tugas kita untuk mewartakan pada mereka bahwa masih ada Seorang yang mengasihi kita yang akan memimpin setiap langkah hidup kita dan Dia adalah Kristus. Kristus mengasihi manusia berdosa tetapi Dia sangat membenci dosa, Dia tidak berkompromi dengan dosa. Jangan pernah mengeluh ketika kita mengalami kesulitan karena mungkin Tuhan membiarkan kita melewati penderitaan supaya kita dapat merasakan kemenangan dari Kristus, bagaimana Dia menolong dan menopang hidup kita. Biarlah kita dipakai menjadi saksi yang memancarkan terang-Nya di tengah dunia gelap. Amin?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060910.htm

Eksposisi Injil Matius 11 : PIKULLAH DAN BELAJARLAH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, August 19th, 2007

Ringkasan Khotbah : 3 September 2006

Pikullah dan Belajarlah

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:28-30

Abad 20 merupakan abad dimana filsafat posmodern berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat jelas, banyak orang menegakkan otoritas diri. Machiavelli yang disebut juga bapak penguasa menyatakan untuk memerintah dunia haruslah dengan otoritas. Dari sini, orang berpikiran negatif tentang otoritas, orang mengontraskan konsep penguasa dengan konsep demokrasi dan menganggap konsep penguasa lebih kejam daripada konsep demokrasi. Pandangan yang keliru, kalau kita perhatikan, konsep penguasa dan konsep demokrasi ini sama-sama memaksakan kehendak dan bersifat diktator. Bedanya, konsep penguasa pemegang otoritasnya satu orang sedang konsep demokrasi pemegang otoritas banyak orang. Kedua konsep tiran ini menimbulkan kebencian dalam diri Michael Foucoult tetapi toh kebencian pada otoritas ini tidak menghilangkan konsep otoritas itu, ia mengalihkan otoritas itu ke dalam dirinya, dengan kata lain ia mau menyatakan bahwa hanya dirinyalah yang berotoritas dan di luar itu, orang mati. Sampai hari ini kebencian terhadap otoritas itu tidak hilang, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai macam opini maupun aliran yang pro dan kontra. Pada saat yang sama, setiap orang ingin menegakkan otoritas dan tidak mau tunduk kepada orang lain karena ia menganggap diri itu adalah kebenaran. Akibatnya orang langsung bereaksi negatif ketika mendengar segala hal yang berbau perintah tak terkecuali dengan Firman Tuhan, orang langsung melawan apa yang menjadi perintah Tuhan.

Dalam Injil Matius, dengan jelas Tuhan Yesus memerintahkan: pikullah dan belajarlah (Mat. 11:29). Perintah untuk belajar disini bukan belajar dalam hal materi. Tidak! Dunia selalu berpikir kalau belajar itu belajar apa? Salah! Konsep belajar yang Tuhan ajarkan adalah belajar siapa? Orang langsung bereaksi negatif ketika mendengar suatu perintah apalagi kalau perintah itu dikenakan atas dirinya. Pertanyaannya kenapa manusia sulit menerima perintah? Ada 3 aspek yang mendasari kenapa orang sulit menerima perintah dan hal ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita, yaitu:

1. Paranoid

Paranoid merupakan salah satu penyakit jiwa dimana orang selalu merasa ketakutan dan tidak ada sebab-sebab pasti kenapa orang merasa takut. Ia selalu menganggap orang lain sebagai musuh yang akan mencelakakan dirinya. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi penyebab orang menjadi paranoid? Dosa menyebabkan orang selalu takut, dan ketakutan ini sifatnya laten. Sesungguhnya, orang sadar kalau ia telah berbuat bersalah dan kesalahan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Orang mencoba melupakan hal ini dengan cara menekan setiap permasalahan ke dalam diri sendiri tapi hal itu malah menjadikan orang berbeban berat. Seorang anak yang berbuat salah tapi ia tidak mau mengakui perbuatannya karena takut kena marah dan dihukum ayahnya maka ia menyimpan dosa itu. Akibatnya, ia menjadi paranoid, ia takut terhadap siapapun, ia takut kalau-kalau perbuatan dosanya diketahui orang lain. Penundaan hukuman justru memunculkan hukuman-hukuman lain dimana hal itu seharusnya tidak perlu kita alami. Sadarlah, kita tidak bisa lepas dari penghukuman sebagai akibat dari perbuatan dosa; keadilan Tuhan nyata nyata atas orang-orang berdosa, cepat atau lambat hukuman itu pasti tiba. Satu-satunya cara supaya orang lepas dari beban adalah orang harus kembali pada Tuhan, kita akan mendapatkan kelegaan kalau kita mengakui segala perbuatan dosa kita.

2. Sombong

Orang selalu merasa dirinya itu lebih dari segala-galanya dari orang lain; orang hanya mau memerintah tapi tidak mau diperintah. Itulah sebabnya, orang selalu melawan ketika ia diperintah. Bandingkan antara perintah Tuhan Yesus dan perintah dunia. Dunia memerintah dengan otoritas dan arogan bahkan kalau perlu dengan kekerasan sebaliknya, Kristus memerintahkan pada kita untuk kembali pada-Nya karena Dia lemah lembut dan rendah hati. Ketika manusia merasa diri lebih dari yang lain maka itu merupakan titik fatal, orang akan sulit mengerti dan menanggapi suatu perintah.

3. Egois

Manusia berdosa tidak suka dengan sesuatu yang benar, yang baik, yang adil, yang suci, dan yang mulia. Manusia hanya suka pada apa yang menyenangkan dirinya. Inilah yang menjadi konsep dasar egoisme. Orang egois selalu memperjuangkan apa yang menjadi keinginan dirinya, yakni bagaimana diri disenangkan. Jiwa utilitarianistik dan jiwa hedonis menjadi citra dalam diri mereka, ia selalu berpikir, bagaimana ia mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Pernahkah terpikir oleh kita kalau sesungguhnya kita telah mempengaruhi orang lain untuk berpikir sama seperti kita? Bayangkan, kalau setiap orang ingin mendapatkan keuntungan maka yang jadi korban pertama tentu saja, orang terdekatnya. Jelaslah bahwa jiwa hedonis menjadi dasar konsep utilitarian. Jiwa hedonis ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, itulah sebabnya kita sulit menyadarkan orang untuk kembali pada kebenaran sejati.

Perintah yang ditegakkan berdasarkan konsep paranoia, kesombongan, dan berjiwa hedonis dan egois menjadikan dunia semakin kacau. Dan yang lebih celaka, tanpa kita sadari kita terjebak masuk dalam perputaran otoritas sistem dunia. Ketika kita melihat perintah, kita melihat arogansi dan egois si pemberi perintah, itu membangkitkan kebencian dan arogansi dalam diri, tapi kita tidak dapat melawannya maka kitapun memerintah orang lain dengan arogansi yang sama maka itu menjadi putaran arogansi. Di satu sisi, kita tidak suka dengan perintah dan benci tetapi di sisi lain, ternyata kita berlaku sama seperti mereka. Betapa semakin kacau dan rusaknya dunia ini kalau perputaran perintah yang arogan ini terjadi dalam keluarga, gereja ataupun masyarakat.

Kalau kita perhatikan, orang tidak peduli dengan perintah yang berbentuk past karena sudah lewat, dan perintah yang berbentuk future sebab perintah tersebut belum berlaku. Orang hanya peduli pada perintah yang bentuknya present, perintah yang sedang berlaku hari ini. Tuhan Yesus memberikan perintah yang berbeda dengan dunia. Alkitab memberikan suatu tenses lain, yakni auris tense (Yunani) artinya perintah tidak bergantung pada waktu dan subyeknya. Immanuel Kant menyebutnya sebagai categorical imperatif dan pada abad pencerahan, konsep Kant ini merupakan teori moral yang terbesar dibandingkan teori lain yang ia cetuskan. Bagi Kant, kalau saya berbuat baik, kenapa? maka tidak ada alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu sebab berbuat baik merupakan hakekat dasar yang bersifat mutlak dan tidak dapat ditiadakan. I do it because it is onthological absolute necesity. Jauh sebelumnya, Tuhan Yesus telah mengajarkan prinsip ini, sesuatu absolut harus kembali pada kekekalan dan kebenaran Allah. Kata perintah yang digunakan Kristus ini berbentuk auris imperatif artinya perintah ini diberikan kepada manusia bukan untuk menyusahkan manusia tapi demi kebaikan kita.

Ironisnya, manusia menganggap Tuhan hendak memanipulasi manusia maka tidaklah heran kalau manusia selalu melawan perintah Tuhan, salah satunya perintah Kristus yang berbunyi: “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku“ disikapi paranoia, orang langsung berpikir negatif tentang Kristus. Tidak sadarkah kita kalau musuh terbesar adalah diri sendiri, orang banyak berbuat dosa justru ketika ia tidak menyangkal diri. Jadi, menyangkal diri adalah demi kebaikan kita. Demikian juga halnya ketika Tuhan memerintahkan pada kita untuk memikul kuk dan belajar pada-Nya itu untuk kebaikan kita. Perintah Tuhan itu sifatnya absolute necesity, categorical imperatif – mutlak harus kita lakukan, tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik kecuali orang kembali pada Tuhan dan perintah itu sifatnya kekal; kita harus lakukan perintah itu terus menerus. Namun dunia tidak suka dengan segala sesuatu yang “berbau“ perintah, orang hanya menjalankan perintah ketika ia diawasi sebaliknya, perintah itu akan langsung dilanggar ketika ia tidak berada dalam pengawasan. Di dunia modern ini jarang sekali kita temukan bahkan dalam diri orang Kristen yang mempunyai konsep: melakukan yang terbaik dimanapun ia berada. Tuhan ingin kita melakukan perintah-Nya secara terus menerus dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan baik.

Perintah Tuhan seharusnya menyadarkan manusia akan kasih Allah. Segala sesuatu yang Tuhan kerjakan adalah untuk kebaikan kita dan ingat, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk manusia daripada manusia itu sendiri. Allah adalah Baik, Dialah sumber segala kebajikan yang ada di dunia ini. Manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah juga mempunyai semua kebajikan itu tapi sifatnya relatif dan derivatif (turunan). Dosa membuat konsep kebajikan menjadi rusak. Ironisnya, manusia masih berpikir kalau ia lebih baik dari Tuhan; manusia berpikir kalau kuk yang sekarang ditanggungnya lebih enak daripada kuk Tuhan. Salah! Memikul kuk Tuhan justru jauh lebih enak dan beban pun menjadi ringan. Terkadang kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak akan membawa anak-Nya menuju pada kebinasaan. Sangatlah sulit menjalankan kekuasaan, perintah dan demokrasi secara sinkron. Hal ini disadari oleh A. S. Hikam, tokoh politik sekaligus tokoh muslim yang mempertanyakan bagaimana caranya supaya orang bisa berjiwa asketik, jiwa rela berkorban. Dunia tidak akan berterima kasih ketika ada orang lain yang berkorban untuknya, orang selalu menginginkan lebih, dari sini muncullah peribahasa jawa berbunyi: diwenehi ati ngrogoh rempela. Namun Tuhan Yesus tidaklah demikian, Dia rela berkorban untuk manusia dan Dia tidak mengharapkan imbalan apapun dari kita bahkan Ia memberi yang terbaik untuk kita, Ia merancangkan yang terbaik untuk kita. Tuhan tahu sampai dimana kapasitas dan kemampuan kita sehingga Dia tidak memberikan pada kita beban yang berlebih yang tidak dapat  kita tanggung dan ingat, kuk yang Tuhan beri itu ringan. Bagaimana reaksi manusia mendengar tentang hal ini? Berterima kasihkah? Tidak! Manusia jahat, manusia ingin lebih, manusia pikir kalau Tuhan baik seharusnya Tuhan tidak memberikan kuk seharusnya Tuhan angkat kuk. Betapa jahatnya manusia, tidak pernah puas diri. Manusia tidak dapat melihat kebajikan Allah sebagai suatu kebajikan. Jiwa paranoid, egois, dan hedonis itu langsung nampak dan tercermin keluar. Hendaklah kita berserah sepenuh hidup kita pada-Nya karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.

______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________<br />
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________Tuhan memerintahkan kepada kita supaya kita belajar pada-Nya karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Konsep ini sangat berlawanan dengan konsep dunia. Dunia kalau memerintah haruslah ditunjang dengan otorisasi bahkan kalau perlu dengan kekerasan akibatnya orang balik melawan maka disini terjadi adu otorisasi; siapa yang lebih berotoritas maka dia yang akan memerintah. Perputaran otoritas ini tidak pernah berhenti. Berbeda halnya dengan Kristus, Dia tidak memakai otorisasi sebab Ia lemah lembut dan rendah hati. Kristus mengajak kita keluar dari perputaran otorisasi dunia. Dunia tidak pernah memahami ajaran Kristus yang mengajarkan kalau kamu ditampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5:39). Ajaran Kristus yang agung itu justru dianggap merugikan dan konyol. Dunia mengajarkan kejahatan harus dibalas dengan kejahatan bahkan pembalasan itu harus lebih kejam dari tindakan. Inilah sifat manusia berdosa. Pertanyaannya sekarang adalah kita mau mengikut pola siapa? Pola dunia yang berdosa ataukah pola Kristus yang agung? Ketika kita memutuskan tidak ingin menjadi sama seperti mereka maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana reaksi kita menghadapi orang-orang yang membenci kita? Apakah kita harus membalasnya dengan melakukan agresi ataukah seperti yang Kristus ajarkan, yaitu dengan lemah lembut dan rendah hati?

Memang tidaklah mudah untuk lemah lembut dan rendah hati pada orang yang membenci kita sebab melawan natur manusia berdosa. Tuhan Yesus tidak hanya sekedar memberikan perintah atau mengajar kebenaran. Tidak! Tuhan Yesus adalah kebenaran; Dia menjalankan kebenaran. Dalam suatu seminar, Stephen Chan menyatakan jangan samakan seorang politis teoritis dengan seorang politis praktis sebab seorang pembuat teori-teori politik belum tentu ia dapat menjadi seorang politikus sebaliknya seorang politikus kemungkinan tidak mengerti teori politik tetapi sehari-hari ia mempraktekkannya. Demikian juga halnya antara teolog dengan pendeta, teolog bisa berteori tentang Kekristenan tetapi ia tidak melayani jemaat. Dunia tidak dapat menggabungkan keduanya. Hanya Kristus satu-satunya yang dapat menggabungkan keduanya. He’s the truth. Inilah yang membedakan Kristus dengan pendiri agama yang lain. Pendiri agama hanya dapat berteori tetapi mereka bukanlah kebenaran. Kembali pada Kristus berarti kita kembali pada true wisdom. Pertanyaannya sekarang masihkah kita menaruh curiga pada-Nya saat Dia memerintahkan pada kita untuk memikul kuk yang dari Tuhan dan belajar pada-Nya? Sadarlah, siapakah manusia di hadapan Tuhan yang Maha Agung dan mulia sehingga kita berani menyombongkan diri di hadapan-Nya?

Di dunia terjadi banyak pertikaian otoritas dan setiap orang mengklaim kalau dirinyalah yang paling benar dan berotoritas. Ingat, pemegang otoritas tertinggi adalah Kristus, Dia adalah Raja di atas segala raja dan kita bukanlah siapa-siapa. Firman yang Hidup itu adalah kebenaran sejati dan tidak ada kebenaran lain di dunia maka kita mau datang pada-Nya untuk belajar kebenaran sejati itu dan memikul kuk Tuhan. Biarlah kita menjatuhkan si aku yang sedang duduk di kursi dan membiarkan Kristus duduk di kursi dan bertahta di dalam kerajaan hidup kita. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudah berapa lamakah kita menjadi Kristen dan selama itu sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita? Sudahkah Kristus menjadi pusat hidup kita? Kalau selama ini kita banyak tahu tentang Kebenaran Firman, sudahkah kebenaran itu terimplikasi dalam setiap aspek hidup kita? Sudahkah kita menjadi saksi-Nya? Apalah artinya kebenaran kalau kebenaran itu hanya sekedar kita mengerti secara konseptual dan pengetahuan belaka? Merupakan suatu keindahan dan sukacita ketika kebenaran itu terimplikasi, kita akan merasakan kebahagiaan sejati ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan.

Terkadang Tuhan membiarkan kita mengalami berbagai tantangan dan kesulitan namun percayalah, kalau Tuhan ijinkan semua itu terjadi atas hidup kita itu untuk kebaikan kita. Berbagai tantangan dan kesulitan itu merupakan tempat pembelajaran bagi kita; Tuhan Yesus ingin kita belajar seperti Dia yang lemah lembut dan rendah hati. Tuhan ingin kita menikmati kuk yang Dia pasangkan itu ringan dan beban pun menjadi ringan. Namun meski demikian toh manusia tetap melawan, orang tidak suka memakai kuk Tuhan. Memang, tidaklah mudah menjalankan semua perintah Tuhan, tidaklah mudah mewartakan kebenaran di tengah-tengah dunia berdosa; kita pasti mengalami banyak kesulitan, kita jatuh bangun dalam iman kita namun hati-hati, janganlah kita dikendalikan oleh kondisi di sekeliling kita tapi hendaklah kita berserah dan taat pada Tuhan dan membiarkan Tuhan yang bekerja dalam setiap aspek hidup kita.

Janganlah kita menjadi orang-orang yang hanya berteori saja atau menjadi orang yang mengerti kebenaran Firman tapi hanya sebatas pengetahuan tanpa kita pernah menjalankannya. Semua itu percuma. Jangan pernah berpikir karena kita sudah memiliki teologi sempurna maka hidup kita sudah sempurna. Tidak! Tuhan menuntut pada setiap kita yang mengaku sebagai warga Kerajaan Sorga untuk memikul kuk dan belajar pada-Nya karena Tuhan lemah lembut dan rendah hati. Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus, Dia mengajarkan kebenaran dan sekaligus melakukannya. Biarlah kita semakin diubahkan untuk semakin serupa Dia dan menjadi saksi-Nya di tengah dunia berdosa. Amin?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060903.htm