Archive for October, 2007

Eksposisi Injil Matius 12 : PRINSIP “RUMAH KOSONG” (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, October 26th, 2007

Ringkasan Khotbah : 25 Februari 2007

Prinsip "Rumah Kosong"

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12: 43-45

      

Perenungan kita hari ini masih berkait erat dengan ayat sebelumnya dan masih ditujukan untuk golongan Farisi dan para ahli Taurat. Disini Tuhan Yesus kembali menegaskan tentang orang Farisi dan para ahli Taurat sebagai angkatan yang jahat, the evil generations. Injil Mat. 12:43-45 ini merupakan suatu bentuk pengandaian “if clause.“ Jadi, hal yang tidak eksis dan tidak mungkin terjadi. Tuhan Yesus mau mengontraskan hidup orang yang men-Tuhankan Kristus dengan mereka yang tidak men-Tuhankan Kristus dan menganggap dirinya sebagai “tuan“ atas rumah kosong. Konsep humanisme ini bukan baru pertama muncul tetapi sejak jaman Adam dan Hawa, manusia ingin menegakkan keinginan dirinya dengan menjadi seperti Allah.

Konsep humanisme ini memuncak di akhir abad ini, banyak orang yang berteriak dan menuntut kebebasan. Yang dimaksud “bebas“ disini adalah tidak diatur oleh apapun atau siapapun. Manusia lupa kalau sesungguhnya manusia tidak pernah bebas. Kebebasan yang diinginkan itu hanyalah ilusi yang menjadi kerinduan manusia untuk dapat menjadi pemegang otoritas tertinggi, inlogical conclusion. Adalah natur manusia berdosa yang selalu ingin mengatur segala sesuatu tetapi tidak mau diatur. Manusia bukan dicipta sebagai pemegang otoritas tertinggi, makhluk independent. Manusia dicipta sebagai dependent being itu berarti orang berada di bawah otoritas. Sadarkah kita kalau hari inipun kita hidup tidak lepas dari otoritas, baik di rumah tangga, di sekolah maupun hidup bernegara. Namun perhatikan, semua otoritas yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara dan relatif. Ada otoritas yang lebih tinggi dan mutlak, yaitu otoritas Allah Sang Pencipta.

Hati-hati dengan akal licik si iblis yang sengaja menanamkan hal-hal jahat dalam pikiran manusia. Iblis menanamkan pada Hawa bahwa ia akan menjadi “seperti“ Tuhan tahu tentang hal yang baik dan jahat. Tentu saja, hal ini sangat menggiurkan, manusia tidak sadar kalau yang ditawarkan iblis hanyalah sepotong kecil, yakni hanya tahu hal yang baik dan jahat. Cara iblis sangat licik, ia menawarkan suatu kenikmatan “seolah-olah“ hal luar biasa padahal yang ia berikan sangat terbatas. Sadarkah kita kalau cara iblis ini sampai hari inipun masih digunakan, banyak iklan yang menawarkan diskon besar-besaran tetapi dibelakangnya ada catatan tertentu yang sengaja ditulis sangat kecil. Hawa tidak sadar justru pada saat ia ingin seperti Tuhan sesungguhnya hal itu tidak membuat ia setingkat dengan Tuhan sebab pada saat yang sama ia telah tunduk pada iblis dan menjadi budak iblis.

Semangat humanisme ini memuncak di abad 20 maka layaklah kalau abad 20 dikatakan sebagai abad yang bodoh oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Abad 20 banyak mengadopsi dan tunduk dibawah konsep pemikiran filsafat seperti humanisme yang telah dicetuskan di abad sebelumnya. Di abad 20 juga jutaan manusia mati dalam pertempuran yang terjadi di abad 20 bahkan kalau dijumlah maka jumlah manusia yang mati sejak abad 1 hingga abad 19 dibandingkan dengan jumlah manusia yang mati di abad 20 maka abad 20 lebih banyak manusia yang mati. Manusia yang katanya hebat, maju dan berotoritas tetapi ia telah menjadi mesin pembunuh manusia yang paling menakutkan. Ironis, kehancuran infra struktur kehidupan tidak menjadikan orang bertobat. Manusia menganggap kehancuran yang terjadi sebagai hal yang biasa. Orang mulai jatuh dalam pemikiran pragmatisme; orang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan cepat dan mudah.

Di tahun 1960-an muncul gerakan feminisme dimana para wanita ingin menegakkan otoritas dirinya. Para wanita mulai menduduki posisi pria dan berubah menjadi wanita maskulin. Ini merupakan pelanggaran esensi. Alkitab menegaskan bukan wilayah wanita untuk mengambil posisi-posisi penting dalam mengambil suatu keputusan sebab wanita merupakan sasaran empuk bagi iblis menjatuhkan manusia. Iblis tidak menggoda pria karena pada pria, Tuhan memberikan perlengkapan cukup, salah satunya yaitu berpikir secara rasional. Adam ada pada saat iblis menggoda Hawa tetapi saat itu, iblis tidak menggoda Adam tetapi ia masuk lewat Hawa. Kesalahan Adam adalah membiarkan Hawa dipermainkan oleh iblis. Itu menjadi kesalahan laten yang membuat ia harus dihukum juga. Berbeda halnya dengan wanita, segala keputusan tidak dipikirkan secara rasional tetapi segala keputusan diambil berdasar perasaan dan insting. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa orang yang menegakkan otoritas diri dan tidak mau tunduk pada Allah malah akan menjadikan dunia bertambah buruk dan hancur. Karena itu, kita harus kembali pada otoritas yang absolut, yaitu Kristus Tuhan.

Tuhan Yesus membukakan pada kita bahwa kita bukanlah “tuan“ atas sebuah rumah kosong. Tuhan menegaskan “apabila…“ berarti hal itu tidak pernah terjadi karena itu bukan sesuatu yang riil. Dan kalaupun terjadi, setan akan bekerja lebih ganas, hal ini digambarkan dengan angka tujuh yang melambangkan kesempurnaan; iblis tidak pernah membiarkan rumah itu kosong.

I. Tidak Ada Posisi Netral

Orang Farisi dan para ahli Taurat meminta tanda pada Kristus Yesus. Pertanyaannya siapakah manusia sehingga mereka berani meminta tanda pada Tuhan? Kitalah yang seharusnya tunduk dan taat pada Kristus Tuhan; kita bukanlah “tuan“ atas hidup kita sendiri. Namun pada angkatan yang jahat dan tidak setia ini toh Tuhan tetap memberikan tanda, yaitu tanda nabi Yunus. Tanda ini seharusnya menyadarkan mereka untuk bertobat seperti yang dilakukan bangsa Niniwe. Tuhan Yesus juga membandingkan mereka dengan ratu dari Selatan yang datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo maka Sang Hikmat Sejati itu ada di depan mereka, mereka justru menolaknya. Ironis, bukan? Manusia merasa diri bijak dengan menegakkan otonomi diri. Salah! Manusia bukanlah makhluk independent, manusia bukanlah makhluk yang bisa mengatur segala sesuatu dalam otoritas dirinya. Jadi, secara esensial tidak ada yang namanya rumah kosong, kita menjadi tuan rumah atas hidup kita sendiri. Manusia harus tunduk di bawah otoritas tertentu. Yang menjadi pertanyaan adalah pada otoritas siapakah kita harus tunduk? Alkitab menegaskan hanya ada dua otoritas, yaitu otoritas Allah dan otoritas setan. Kalau kita tidak membiarkan Allah yang mengisi dan menjadi tuan yang berkuasa atas rumah kosong kita maka iblis yang akan masuk dan berkuasa atasnya.

Siapakah yang menjadi tuan atas hidup kita? Cobalah kita mengevaluasi diri, apa yang mendasari keputusan kita? Apakah keputusan yang kita buat itu adalah kehendak Tuhan ataukah kehendak iblis? Ingat, tidak pernah ada posisi yang independen dan tidak ada posisi netral. Seorang penafsir, Leon Moris menyatakan bahwa kalau muncul suatu kesadaran bahwa hidup itu tidak netral maka kesadaran itu sendiri merupakan hikmat tertinggi. Seorang yang rajin ke gereja setiap minggu bukanlah jaminan ia seorang Kristen sejati sebab kemungkinan saja ia masih mempunyai pemikiran duniawi, segala keputusan yang diambil tidak lebih hanyalah untuk mendapat keuntungan diri. Tuhan Yesus menegaskan apabila roh jahat keluar dari manusia maka ia akan kembali lagi dengan lebih dahsyat. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang menanamkan konsep “manusia adalah allah.“ Sadarlah, secara esensi tidak pernah ada rumah kosong. Kalau kita mengaku sebagai Kristen sejati berarti Tuhan yang menjadi penguasa dan memimpin hidup kita. Di tengah dunia, terlalu banyak pemalsuan, banyak orang yang menawarkan hal-hal yang kelihatan manis dan indah di depan, maka tidaklah heran kalau orang menjadi kecewa karena orang baru menyadari bahwa apa yang ia kerjakan selama ini ternyata sia-sia dan berakhir dengan kebinasaan. Firman Tuhan telah membukakan pada kita tentang segala akal licik iblis, jadi tidak ada alasan bagi anak Tuhan untuk tidak memahami akan hal ini. Kita bukanlah sebuah rumah kosong dimana kita menjadi tuannya yang berhak mengatur dan menata rumah kita. Tidak! Ingat, manusia bukanlah makhluk independen, manusia harus tunduk pada suatu otoritas. Pertanyaannya otoritas siapakah kita harus tunduk?

II. Tipuan Iblis dan Otonomi Manusia

Alkitab membukakan pada kita bahwa tidak ada konsep empty house lalu yang menjadi pertanyaan kenapa konsep empty house ini meluas di tengah dunia? Bahkan orang Kristen pun masih mempunyai pemikiran bahwa dirinya adalah sebuah rumah kosong dimana ia yang berhak mengatur rumah itu. Orang Kristen terbuai untuk menjadi tuan dalam kehidupannya. Dalam hal ini iblis telah berhasil menggoda manusia untuk masuk dalam jebakannya. Sejak Kejadian pasal 3, iblis menggoda manusia dengan kalimat yang sangat manis “seolah-olah“ Hawa mempunyai otorisasi tertinggi dan sejajar dengan Tuhan. Hati-hati, tawaran iblis sangatlah menggiurkan, tawaran yang ia berikan bukanlah tawaran yang menjatuhkan sebaliknya ia menawarkan sesuatu yang sangat nikmat dan semua itu kelihatan “sah dan legal“ secara hukum dunia. Kalau kita tidak peka, kita akan jatuh dalam jebakannya. Cara yang sama digunakan sampai hari ini – sepertinya keuntungan atau kenikmatan yang kita dapatkan tapi ternyata semua itu hanyalah kebohongan belaka. Sebagai contoh, hari ini banyak tawaran potongan harga besar-besaran tetapi tentu saja ada catatan yang ditulis kecil di bawahnya, yaitu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku dan biasanya, catatan ini luput dari perhatian kita. Memang, tidak ada yang salah dengan semua itu; cara yang dipakai sah. Letak permasalahannya adalah pada motivasi; di depan kelihatan sangat baik tetapi sesungguhnya, di belakangnya ada kejahatan yang mengerikan. Hendaklah kita waspada dengan segala akal licik si iblis.

Kitab Amsal 26:25 juga mengingatkan pada kita untuk berhati-hati pada orang-orang jahat yang tersenyum ramah pada kita karena di balik itu ada tujuh kejahatan yang tersimpan dalam hatinya. Angka tujuh merupakan simbol kesempurnaan. Hati-hati dan pekalah terhadap segala macam akal licik si iblis yang kelihatan manis di depan. Sebagai anak Tuhan sejati hendaklah kita mempunyai integritas dan hidup jujur. Anak Tuhan harus apa yang menjadi kebenaran saja. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang ikut dengan cara setan tapi ia tetap merasa dirinya “Kristen“ maka tidaklah heran kalau di dunia banyak orang Kristen yang berkonsep satanic dan banyak gereja yang tidak memuliakan nama Tuhan lagi. Cara yang dipakai iblis sangat licik dan halus sehingga orang tidak menyadarinya kalau ia telah masuk dalam jebakan termasuk orang “Kristen.“

Banyak orang tidak suka men-Tuhankan Kristus sebab orang ingin menjadi “tuan“ atas hidupnya. Inilah konsep empty house yang diajarkan iblis. Ingat, kita bukan pemilik atas hidup kita; rumah kita bukanlah rumah kosong. Biarlah kita serahkan rumah hidup kita di bawah otoritas Tuhan dengan demikian hidup menjadi indah. Hidup berjalan dalam pimpinan Kristus Tuhan adalah hidup yang paling indah. Tidak ada hal yang lebih indah selain Kristus menjadi Tuan atas rumah kita.

III. Kristus Tuan Sejati

Kristus harus menjadi Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus Kristus? Kenapa kita tidak boleh memakai konsep “empty house“ seperti yang diajarkan iblis. Perhatikan, konsep “empty house“ yang diajarkan iblis ini tidak bedanya dengan rumah pelacuran dimana semua konsep boleh singgah di dalamnya termasuk materialisme, atheisme, humanisme sebab diri inilah yang menjadi tuan rumah. Alkitab menegaskan kalau Kristus mengetok pintu, Ia akan masuk dan mendapati kita di dalamnya artinya pada saat Kristus masuk dalam rumah hidup kita, Ia yang akan mengontrol hidup kita; Kristus menjadi Tuhan atas hidup kita. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah maukah hidup kita dikontrol oleh-Nya? Anak Tuhan sejati melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tuhan Yesus menegaskan bukan orang yang berseru,“Tuhan, Tuhan“ yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga tetapi Dia yang melakukan kehendak Bapakulah yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Orang menyebut Kristus dengan Tuhan tetapi hidupnya tidak men-Tuhankan Kristus. Barangsiapa mengasihi Aku, ia memegang perintah-Ku dan melakukannya dan ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, Bapa-Ku akan tinggal bersama dia dan Aku juga akan tinggal bersama dia. Ingat, cinta Tuhan bukan sekedar di mulut saja. Tidak! Jangan kenakan konsep cinta duniawi pada Tuhan. Cinta Tuhan berarti taat melakukan kehendak Bapa (Yoh. 14:16). Paulus juga menegaskan bahwa cinta Tuhan berarti hidupku bukan aku yang hidup tetapi Kristus yang hidup di dalamnya (Gal. 2:20). Siapa yang men-Tuhankan Kristus maka Dialah milik Kristus. Jadi, tidak ada konsep rumah kosong tetapi rumah itu harus diserahkan pada Kristus. Carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, hal ini juga ditekankan oleh Kristus.

Banyak orang Kristen yang ingin menjadi “tuan“ atas rumahnya dan mereka hanya menyediakan satu ruangan kecil untuk Tuhan dan kalau kita membutuhkannya barulah Dia kita panggil – Tuhan tidak lebih hanyalah budak kita. Ingat, Kristus bukan budak; Dia adalah Tuhan, Tuan atas segala tuan, Dia adalah Raja Sang pemilik alam semesta. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang mencoba mengaburkan identitas dirinya sebagai orang Kristen, orang mau lari dari perintah Tuhan. Memang tidaklah mudah untuk taat pada perintah Tuhan, banyak tantangan yang harus kita hadapi, apalagi iblis tidak akan tinggal diam, ia akan mencari segala cara supaya orang menyeleweng dari perintah Tuhan. Iblis akan berusaha menawarkan segala kenikmatan semu yang menjadikan kita jauh dari Tuhan dan supaya kita tidak taat pada perintah-Nya. Namun percayalah, Tuhan pasti akan memelihara hidup anak-Nya yang setia dan taat pada-Nya. Orang Kristen bukanlah orang yang sempurna dan Tuhan juga tidak menuntut kita harus sempurna seutuhnya. Tidak! Bahkan para tokoh Alkitab pun bukan orang yang sempurna namun satu hal yang membedakan orang Kristen adalah mereka mempunyai suatu komitmen dan usaha implikasi, hidup yang berjuang men-Tuhankan Kristus tiap-tiap harinya.

Hati-hati dengan segala bentuk jebakan iblis sebab sekali kita masuk dalam jebakannya sulit bagi kita untuk keluar kecuali anugerah Tuhan yang melepaskan kita barulah kita dapat lepas dari belenggu ikatannya. Dan ingat, kita bukanlah sebuah rumah kosong yang menjadi tuan atas hidup kita. Tidak! Tuhanlah yang menjadi pemilik atas hidup kita. Pertanyaannya sekarang adalah maukah kita dipimpin oleh Kristus Tuhan dan membiarkan Dia menjadi Tuan atas hidup kita? Tuhan Yesus tidak janji akan berikan segala kenikmatan dunia yang semu seperti yang ditawarkan iblis. Tidak! Satu hal yang Tuhan Yesus janjikan dan janji-Nya pasti terlaksana, yaitu Tuhan berikan sukacita kekal dan kenikmatan sorgawi – keselamatan jiwa kita. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070225.htm

Eksposisi Injil Matius 12 : TRUE RELIGIOUSITY (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, October 19th, 2007

Ringkasan Khotbah : 18 Februari 2007

True Religiousity

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12; 38-42

      

Hari ini kita masuk dalam suatu bagian pelik, yaitu pergunjingan antara Ketuhanan Kristus dan kereligiusitasan manusia. Khususnya setiap orang Kristen yang telah bertahun-tahun menjadi Kristen hendaklah berhati-hati jangan sampai terjebak dalam suatu bentuk keagamaan dan kita menjadi kehilangan makna. Betapa sia-sia seluruh ibadah dan pelayanan yang kita kerjakan selama bertahun-tahun kalau kita tidak kembali pada iman sejati sebab semua perjuangan kita akan berakhir dengan kebinasaan.

Peristiwa dimulai ketika orang-orang Farisi menuntut legitimasi Kristus. Para ahli Taurat dan golongan Farisi – orang yang katanya “beragama“ ini sekarang berjumpa dengan Kristus Yesus yang menjadi esensi iman. Seberapa jauhkah orang-orang yang mengaku “mengerti agama“ ini dapat beriman pada Kristus? Perdebatan antara orang Farisi dengan Kristus ini tidak berakhir memuaskan, yaitu pertobatan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Tidak! Adalah wajar kalau orang meminta legitimasi. Legitimasi ini juga yang diminta oleh Musa pada Allah. Tentang diri-Nya, Allah menyatakan: “I am that I am.“ Pertanyaannya bagaimana membangun legitimasi? Religiusitas tanpa legitimasi adalah religiusitas palsu. Religiusitas yang dibangun di atas iman yang fanatik itu membinasakan. Kalau kita tidak pernah memahami obyek yang kita percaya berarti kita telah masuk dalam suatu penipuan diri dan akibatnya adalah kehancuran. Karena itu, sebelum kita mempercayakan hidup kita maka kita harus mengujinya terlebih dahulu. Siapakah dia? Layakkah dia untuk dipercaya? Apakah setiap perkataannya merupakan kebenaran? Sesuaikah hidupnya dengan perkataannya? Ini menjadi pertanyaan legitimasi sebelum akhirnya kita memutuskan untuk mempercayakan hidup kita padanya. Iman sejati haruslah mempunyai obyek sejati.

Meminta legitimasi iman bukanlah hal yang salah, itulah sebabnya ketika orang Farisi meminta legitimasi pada Kristus, Tuhan Yesus tidak menolaknya. Yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa mereka membutuhkan legitimasi? Kenapa legitimasi diberikan pada orang Farisi? Orang-orang Farisi adalah orang-orang terpandang tetapi mereka mempunyai sifat jahat. Perkataan keras dan tajam dikatakan Kristus pada mereka, yakni ular beludak dan mereka juga dikatakan sebagai angkatan yang jahat dan tidak setia (Mat. 12:39). Kata “tidak setia“ ini dalam bahasa aslinya mempunyai arti penzinah. Namun pada angkatan yang jahat ini, Tuhan Yesus tetap memberikan tanda yang mereka minta, yaitu tanda nabi Yunus. Tanda nabi Yunus ini bukanlah tanda yang sederhana.   

1. Lordship of Christ or Humanistic Religiousity

Kalau kita tidak dapat memilah antara religiusitas humanistik dan the Lordship of Christ maka kita akan jatuh dalam kegagalan hidup beriman seperti yang terjadi pada orang Farisi. Tanda yang diminta oleh orang Farisi dari Kristus sesungguhnya adalah tanda yang sesuai dengan keinginannya. Orang Farisi mengasumsikan Kristus sama seperti guru yang lain yang perlu meminta legitimasi. Pertanyaannya adalah apakah Kristus menyetujui posisi itu? Tidak! Ketika orang Farisi mempunyai konsep berpikir maka konsep berpikir mereka langsung dikoreksi oleh Kristus dengan cara berpikir Kristus. Inilah iman sejati. Iman di dalam Kristus adalah iman yang kembali pada legitimasi Kristus bukan legitimasi manusia. Ini titik pertama dalam perdebatan antara legitimasi antara religiusitas humanistik dengan legitimasi Kristus sebagai Tuhan. Kristus memberikan legitimasi dan legitimasi yang diberikan oleh Kristus ini sangat dahsyat dan kuat tetapi legitimasi yang diminta oleh orang Farisi dan ahli Taurat tidak sama dengan yang diberikan oleh Kristus. 

Kalau kita mau mencoba berandai-andai, seandainya tanda yang diberikan oleh Kristus sama persis seperti yang diminta oleh orang Farisi dan ahli Taurat maka pertanyaannya apakah hal ini akan menjadikan mereka bertobat? Seharusnya mereka bertobat tetapi Alkitab mencatat tidak. Pertanyaannya apakah Allah harus menyesuaikan tanda-Nya dengan tanda yang diinginkan oleh manusia? Tidak! Tanda yang Kristus berikan berbeda dengan yang diharapkan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat. Disinilah letak perbedaan religiusitas duniawi dengan Ketuhanan Kristus. Ironisnya, hari ini banyak orang yang mempunyai pemikiran sama persis dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Orang berpendapat bahwa untuk menginjili maka kita harus menyesuaikan dengan keinginannya. Sebagai contoh, orang ingin musik rohani seperti layaknya musik dunia maka gereja menyediakannya dan kalau orang sudah bertobat barulah kita bawa ke musik yang benar. Mungkinkah hal itu terjadi? Alkitab menegaskan orang yang lahir baru berarti segala sesuatu yang lama harus dibuang dan diganti dengan hal yang baru maka kalau yang baru itu justru menuju ke yang lama, itu tidak akan menjadikan orang bertobat. Tanda membawa seseorang kembali pada legitimasi asli. Sebaliknya kalau tanda itu tidak kembali pada legitimasi asli tetapi mencocokkan dengan apa yang diinginkan oleh manusia pada umumnya maka itu bukan tanda asli tetapi pemalsuan tanda. Saya adalah saya dengan tanda-tanda yang ada pada saya tetapi ketika tanda saya bertemu dengan orang lain, saya tidak memberikan tanda saya, saya mengikuti apa yang menjadi keinginan orang lain berarti saya sedang mengorbankan identitas diri saya, dengan kata lain saya tidak menjadi diri saya sendiri. Pertanyaannya saya membuat orang lain mengenal saya ataukah saya sedang menipu orang lain tentang saya. Namun dunia tidak suka kebenaran, dunia hanya suka apa yang dia suka. Ia tidak peduli meski yang kita katakan atau berikan itu kebohongan sebab yang terpenting adalah dia suka. Inilah dunia berdosa. Apakah Kristus membuang identitas-Nya dan mencocokkan identitas-Nya seperti yang diharapkan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat? Tidak! Kristus menuntut setiap manusia untuk mengikut pada tanda-Nya sebab tanda Kristus itulah tanda sejati. Inilah bedanya tanda dengan mujizat. Mujizat tidak bisa menjadi tanda; setiap orang dapat membuat hal yang spektakuler. Tanda itu menunjukkan siapakah Kristus; tanda menunjukkan identitas murni.

Dunia hanya ingin keagamaan yang cocok dengan pemikiran mereka, yaitu: 1) keagamaan yang selalu menolong setiap mereka berada dalam kesulitan sebab dunia tahu bahwa hidup di dunia tidaklah mudah, banyak faktor X yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia maka kalau ada agama yang dapat menolong mereka lepas dari kesulitan, manusia akan sangat suka. Orang tidak suka dengan tanda Yunus sebab tiga hari di perut ikan merupakan gambaran kelemahan. Demikian juga dengan tanda Anak Manusia tiga hari berada dalam rahim bumi, 2) keagamaan yang dapat memberikan rasa aman dari aspek tuntutan dosa. Sesungguhnya, manusia sadar kalau dirinya berdosa dan dosa itu harus dihukum maka manusia ingin agama yang membuatnya tidak terikat dan ia masih bisa berbuat dosa dan kalaupun ia telah berdosa maka masih ada jalan untuk menyelesaikannya. Inilah yang dunia suka.

Manusia tidak suka disadarkan akan dosa. Tanda yang mereka harapkan adalah tanda yang menyenangkan seperti tanda 5 roti 2 ikan yang dapat memberi makan 5000 orang. Namun tanda yang diberikan oleh Kristus justru tanda pertobatan. Orang Farisi dan ahli Taurat sangat memahami mengapa Yunus harus masuk dalam perut ikan, yakni karena ia melawan Tuhan. Tiga hari Yunus di perut ikan implikasinya pada Tuhan Yesus harus mati menanggung dosa manusia. Mereka tidak dapat menerima tanda Kristus sebab tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh manusia. Disinilah letak perbedaan the Lorship of Christ; kalau benar kita men-Tuhankan Kristus maka kita harus kembali pada tanda sejati dan kita akan men-Tuhankan Kristus dalam seluruh hidup kita.

Biarlah dalam seluruh aspek hidup kita, kita memohon pada Tuhan kalau kita meminta tanda, hendaklah tanda yang kita minta itu sesuai dengan apa yang Tuhan pikir bukan sebaliknya, Tuhan yang harus mencocokkan dengan kita. Mentuhankan Kristus berarti kita taat pada tanda Kristus. Sangatlah disayangkan, orang justru dibawa pada Kristus palsu seperti yang dunia berdosa inginkan. Cobalah tengok cara atau konsep beragama termasuk Kekristenan yang ada hari ini; semua keputusan dibuat berdasar keinginan dan tuntutan manusia. Maka tidaklah heran kalau hari ini menjumpai banyak orang Kristen yang berpindah ke agama lain yang sifatnya humanistik sebab “iman Kristennya“ juga berbasis pada religius humanistik. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan kita mengenal “siapakah Kristus sejati“? Sudahkah kita  men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita? Kita yang harus mengubah seluruh konsep berpikir kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ingat, Allah bukan budak kita yang harus menuruti semua keinginan kita. Tidak! Manusia yang harus taat pada perintah Allah maka itu menjadikan seluruh hidup kita indah.

2.  Lordship of Christ or Supremacy of Culture

Manusia mudah sekali dibawa ke dalam konsep yang salah, hal ini tidak aneh sebab sebelumnya telah mempunyai konsep iman yang palsu, yakni iman yang berpijak pada “allah-alah idol.“ Allah yang menjadi obyek iman itu tidak lebih merupakan pencerminan dari egoisme dan humanisme manusia seperti yang diungkapkan oleh Feurbach. Dunia berpendapat bahwa agama itu tidak lebih sebagai hasil pemikiran budaya. Jauh sebelumnya, golongan Farisi dan para ahli Taurat juga mempunyai konsep yang sama. Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture mengemukakan orang Yahudi sangat membenci Kristus sebab tanda Kristus  membentur keagamaan Yahudi dan menghantam budaya Yahudi. Orang Yahudi telah menempatkan budaya di posisi paling atas dan hasil budaya antara lain, seni, arsitektur, tradisi termasuk keagamaan. Salah! Budaya telah bercampur dengan tradisi dan agama. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita menyembah agama sebagai produk budaya; orang tidak akan pernah bertemu dengan Allah sejati karena “allah“ yang kita sembah itu tidak lebih hasil pemikiran kita secara budaya. Inilah keagamaan humanistik yang hari ini dijalankan oleh hampir seluruh manusia di setiap tatanan hidup dan semua kultur manusia. Alkitab menegaskan Allah harus berada di atas budaya dan Allah yang harus membentuk budaya; budaya harus tunduk di bawah agama. Kristus adalah the Lord of Culture dan orang Yahudi tidak suka hal ini, itulah sebabnya mereka bersepakat untuk membunuh Yesus Kristus. Orang Yahudi tidak ingin iman sejati itu berada di atas budaya. Teologi Reformed menyadari bahwa culture mandate harus tunduk di bawah iman; budaya harus kembali pada Kristus, the Lordship of Culture sebab Dia satu-satunya sandaran mutlak bagi manusia.

3. Lordship of Christ or Humanistic Sign

Tuhan Yesus adalah absolute standar namun dunia berdosa tidak mau kembali pada standar mutlak. Dunia menetapkan agama itulah yang harus menjadi standar akibatnya agama menjadi pluralistik dan bersifat relatifistik. Maka tidaklah heran kalau orang mencari agama yang cocok dengan keinginan kita begitu pula di Kekristenan, orang mencari gereja yang sesuai dengan keinginannya. Esensi iman telah rusak. Perhatikan, iman bukan cocok dengan kita; iman bukan apa yang kita suka; iman tidak bersifat relatifistik. Iman mengandung unsur kemutlakan dan Allah yang dipercaya sebagai dasar iman harus bersifat mutlak. Orang tidak pernah mau mengakui bahwa iman itu bersifat mutlak tetapi di sisi lain, orang harus mempunyai iman yang mutlak. Jadi kalau ada orang yang mengaku beriman Kristen tetapi tidak mengakuinya kebenaran Alkitab maka dapatlah dipastikan ia bukan Kristen. Pertanyaan lebih lanjut, ia beriman pada apa? Banyak kemungkinan, bisa saja ia beriman pada materialisme, kalau Kristen dapat membuatnya menjadi kaya barulah ia menjadi Kristen; iman harus cocok dengan apa yang menjadi keinginannya. Adapula orang yang beriman pada segala sesuatu yang menurutnya baik – iman subyektif sebab sesungguhnya yang menjadi “allah“ dalam dirinya tidak lebih adalah dirinya sendiri. Di satu sisi mungkin ia anggota dari salah satu gereja Kristen tetapi ia bukan Kristen; antara identitas sorga dan identitas dunia tidak sama.

Iman sejati harus kembali pada Kristus karena iman sejati harus mengandung kemutlakkan. Pertanyaannnya sekarang adalah kenapa harus Kristus? Tanda Yunus 3 hari dalam perut ikan menjadi gambaran Kristus. Peristiwa Yunus tentulah tidak asing bagi golongan Farisi dan para ahli Taurat apalagi pekerjaan mereka sehari-hari adalah menyalin kitab Perjanjian Lama. Mereka sangat memahami bahwa kalau Niniwe bertobat itu karena Injil Pertobatan yang diberitakan oleh Yunus – utusan Allah. Alkitab mencatat tidak hanya seluruh penduduk Niniwe yang bertobat bahkan seluruh binatang pun ikut berkabung. Kedatangan Yunus sangat simple tetapi dengan tanda yang luar biasa - Allah Jehovah bukanlah allah yang dapat dipermainkan. Allah sangat marah pada Yunus karena Yunus memberontak maka hal ini membuat orang-orang Niniwe menjadi gentar dan takut pada Allah Jehovah. Dengan kata lain Tuhan Yesus mau menanyakan pada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, kalau orang-orang Niniwe bertemu dengan tanda Yunus langsung bertobat lalu bagaimana dengan sikap orang-orang Farisi dan para ahlit Taurat yang setiap hari bergelut dengan kitab Perjanjian Lama sekian lama, sudah bertobatkah mereka? Tidak!

Keagamaan humanisme selalu menuntut Tuhan yang mesti cocok dengan diri kita. Inilah sikap manusia berdosa dan gejala ini telah masuk dalam semua manusia bahkan hampir seluruh agama. Termasuk orang Kristen hanya mau ikut pada “Tuhan“ yang sesuai dengan keinginannya. Tuhan Yesus telah memberikan tanda seperti yang diminta oleh orang Farisi dan para ahli Taurat. Kota Niniwe didiami oleh orang-orang jahat itulah sebabnya, Yunus melarikan diri ketika ia diutus Allah untuk pergi memberitakan Injil Pertobatan, ia tidak rela kalau kota yang kejam dan jahat ini mendapat pengampunan dari Tuhan. Apalagi Kristus, Ia rela datang dan mengampuni setiap manusia berdosa yang tidak layak mendapat pengampunan dari Tuhan. Kalau Yunus saja tidak rela terlebih lagi Anak Allah seharusnya lebih tidak rela menyelamatkan manusia berdosa namun kalau Tuhan masih berkenan menyelamatkan kita maka itu merupakan suatu anugerah besar. Inilah tanda sejati yang Kristus berikan dan tunjukkan namun sangatlah disayangkan, dunia tidak dapat mengerti dan melihat tanda sejati. Mereka sangat bebal. Kalau Allah sudah sangat mencintai Niniwe, kota yang seharusnya dihukum apalagi pada kita, manusia berdosa, Tuhan sangat mencintai kita; Dia mengirim anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia berdosa. Kristus ingin membawa kita kembali pada kebenaran sejati.

Tanda yang Kristus berikan mempunyai makna dan nilai yang jauh lebih besar daripada sekedar tanda yang diharapkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Kristus juga memberikan tanda lain dengan menggunakan gambaran hikmat yang dimiliki oleh Salomo. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa hikmat yang Ia berikan jauh lebih besar dari hikmat Salomo. Problematika yang sama masih terjadi di abad 21, manusia sulit menerima kebenaran sejati; manusia lebih suka diberikan sesuatu benda yang cocok dengan nafsunya. Biarlah kita melihat dan mengerti tanda Kristus yang sejati dan tanda itu semakin menguatkan iman kita; kita tidak mudah diguncangkan oleh berbagai-bagai ajaran sesat yang berkembang hari ini. Dunia tidak membutuhkan orang pandai, dunia membutuhkan orang bijaksana – orang yang dapat mempertim-bangkan semua aspek dengan matang lalu mengambil keputusan tepat seperti kehendak Allah. Bijaksana sejati itu bisa kita dapatkan dalam Kristus Yesus; Dia adalah satu-satunya sumber bijaksana sejati. Hendaklah kita menjadi bijaksana, kita dapat melihat tanda sejati yang Kristus berikan. Tidak ada apapun di dunia yang dapat melawan Ketuhanan Kristus. Biarlah kita mengevaluasi diri, apa yang telah kita perbuat bagi-Nya, sudahkah engkau giat bekerja bagi-Nya? Memohonlah pada Allah supaya kita diberikan kekuatan dan kebijaksanaan supaya kita dapat men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070218.htm

Eksposisi Injil Matius 12 : IMAN DAN PERKATAAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, October 12th, 2007

Ringkasan Khotbah : 11 Februari 2007

Iman dan Perkataan

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 12:33-37

      

Tema injil Matius 12 adalah the Lordship of Christ – Kristus adalah Tuhan atas seluruh aspek kehidupan manusia, Tuhan atas seluruh alam semesta; manusia, alam semesta dan setan pun harus tunduk di bawah kedaulatan-Nya. Namun iblis tidak dapat menerima kekalahannya, ia selalu mencari cara untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. Iblis dengan siasatnya yang licik memakai orang-orang yang yang mempunyai pengaruh besar di masyarakat seperti orang-orang Farisi untuk melawan Kristus. Lihat, sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi ketika mereka melihat Tuhan Yesus mengalahkan kuasa setan, kejadian itu tidak menjadikan mereka bertobat dan mengakui Yesus sebagai Mesias malahan mereka mengatai Tuhan Yesus melakukan semua mujizat itu dengan kuasa Beelzebul, kuasa penghulu setan. Alkitab membukakan kepada kita bahwa mujizat buta – melihat, tuli – mendengar, bisu – berbicara, dan masih banyak lagi mujizat lain yang dilakukan oleh Tuhan Yesus tidak mungkin dikerjakan oleh kuasa setan; hanya kuasa Allah sang pemilik alam semestalah yang dapat melakukan semua itu. Karena itu, waspadalah terhadap segala akal licik si iblis, jangan sampai kita terjebak dalamnya. Hati-hati dengan perkataan manis yang keluar dari mulut seseorang, kita harus lihat apa motivasi dibalik perkataan itu. 

Tuhan Yesus menegaskan perkataan itu seperti buah; kalau pohonnya buruk maka buah yang dihasilkan pasti buruk dan sebaliknya. Jadi, bukan buahnya yang harus kita perhatikan tetapi justru pohonnyalah (Mat. 12:33-37). Orang seringkali tidak memahami akan hal ini akibatnya mereka terjeblos dalam pikiran-pikiran yang salah yang menyimpang seratus delapan puluh derajat dari maksud Tuhan. Berkaitan dengan perkataan maka empat aspek yang perlu kita perhatikan, yaitu:

1. Sumber yang baik menghasilkan perkataan yang baik

Adalah benar dari buahnya suatu pohon itu dikenal namun merupakan suatu kesalahan fatal kalau orang langsung berkesimpulan: kalau buahnya buruk berarti buruk pula pohonnya. Celakanya, orang tidak menyadari kalau ia telah berbuat kesalahan fatal dan langsung memperbaiki cara berpikirnya. Tidak! Orang justru berpikir untuk mengubah buahnya supaya pohonnya menjadi bagus. Hal inilah yang hari ini dilakukan oleh dunia, orang berusaha sedemikian rupa merubah penampilan luarnya dengan berkata-kata manis dan bertingkah laku sopan supaya orang lain yang melihat mempunyai kesan baik terhadap dirinya. Prinsip ini dikenal dengan prinsip behaviorisme yang hari ini diajarkan oleh dunia. Perhatikan, Alkitab menegaskan dari pohon barulah keluar buahnya bukan sebaliknya. Adalah mustahil dengan merubah buahnya maka pohonnya akan berubah. Jadi, perubahan itu haruslah dari berasal dari dalam barulah menuju ke luar. Perubahan harus dimulai dari esensi, hakekat, dogma, teologi, doktrin barulah keluar perilaku yang baik. Francis Schaeffer sangat menyadari bahwa i do what i think and i think what i believe. Namun dunia lebih suka merubah perilaku daripada inner being. Kekristenan melihat baik buruknya buah itu tergantung dari pohonnya. Anak Tuhan sejati bukan berubah di fenomena; hanya Allah yang mampu mengubahkan hati manusia. Biarlah kita mengevaluasi dan menguji diri kita, sudahkah hati kita diubahkan?

Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Tuhan menegaskan kita adalah ciptaan baru, recreate; kita bukan direparasi dan bukan pekerjaan manusia; bukan karena kepandaian atau kehebatan kita kalau kita dapat diubahkan. Semua itu semata-mata karena anugerah. Seseorang kalau dapat bertemu dengan Firman, encountering with the word maka itu bukan suatu kebetulan sebab diantara berjuta-juta manusia di dunia siapakah kita sehingga Tuhan berkenan melawat kita. Bolehkah pertemuan ini menjadi suatu momen yang merubah seluruh hidup kita? Dan biarlah kita meresponi anugerah panggilan Tuhan dengan tepat, yaitu men-Tuhankan Kristus dalam hati kita. Kalau kita tidak peka, memang sepintas antara orang percaya dan orang yang tidak percaya ini tidak akan kelihatan bedanya. Keduanya bisa sama-sama bisa melakukan perbuatan baik dan mengasihi sesama tetapi satu hal yang membedakan secara esensial, yaitu orang percaya men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidupnya; membiarkan Kristus memimpin seluruh langkah hidupnya. Hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalamku. Hal inilah yang menjadikan kita berbeda dengan pohon-pohon yang lain karena kita ini adalah ciptaan baru dan mustahil bagi setan untuk menduplikasikan akan hal ini – setan tidak akan bisa men-Tuhankan Kristus. Perubahan yang terjadi pada anak Tuhan sejati ini muncul secara esensi dan muncul ke luar. Sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita? Apakah setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita itu merupakan kehendak Tuhan? Hati-hati, jangan mudah terkecoh dengan orang-orang yang kelihatan “rohani“ secara penampilan luar sebab orang-orang seperti ini ketika kesulitan datang, ia akan meninggalkan Tuhan. Biarlah dalam setiap pertemuan kita dengan Firman, hal itu merombak seluruh hidup kita, menyadarkan kita bahwa kita hanyalah budak.   

2. Perkataan yang baik itu keluar dari motivasi yang murni

Di abad pertama, seorang bapak gereja, Chrysostom melihat pohon disini sebagai motivasi. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita langsung menangkap suatu topik pembicaraan seperti yang dikatakan oleh seseorang; ketika ia berbicara A maka kita juga ikut menangkapnya sebagai A. Pertanyaannya apa yang menjadi motivasi dibalik kalimat tersebut? Tuhan Yesus dengan keras menegur orang Farisi sebagai keturunan ular beludak (Mat. 12:34). Kalimat ini merupakan kalimat khas Tuhan Yesus yang ditujukan untuk orang Farisi. Selain itu Tuhan Yesus juga mengatai mereka seperti kuburan dilabur putih, kelihatan bagus di luar tetapi busuk di dalamnya. Gambaran ini merupakan gambaran yang paling riil untuk menunjukkan siapa orang Farisi. Hal ini sangat penting karena motivasi sangat menentukan; orang seringkali terjebak dengan “buah,“ orang seringkali terjebak dengan kalimat manis seolah-olah itu kalimat yang asli padahal itu bukan kalimat asli.

Perhatikan, ketika kita mendengar suatu pernyataan keluar dari seseorang maka jangan langsung interpretasi dengan menggunakan kacamata atau paradigma kita tetapi kita harus melihat motivasi di balik pernyataan itu. Hati-hati dengan ajaran postmodernisme yang mengajarkan bahwa setiap orang berhak mengintepretasi menurut kacamata yang dipakainya. Ajaran yang salah. Alkitab menegaskan segala sesuatu harus kita kembalikan pada sumbernya. Kalau orang tidak peka maka orang menilai kalimat yang dilontarkan oleh orang Farisi ini sangat baik dan indah seolah-olah ia menolong orang Yahudi supaya jangan disesatkan oleh Tuhan Yesus; dengan kalimat indah dengan menyuruh orang lain untuk berhati-hati terhadap Yesus yang menyembuhkan dengan kuasa Beelzebul. Perhatikan, dibalik kalimat itu ada motivasi jahat, inilah yang disebut dengan kemunafikkan dan Tuhan Yesus tahu akan hal itu, Ia menegur mereka dengan keras dengan mengatai mereka sebagai keturunan ular beludak.

Gambaran ular beludak ini sangat tepat untuk orang Farisi; kalau kita tahu, bentuk ular jenis ini berdiameter kecil, tidak panjang, sangat cantik kulitnya mengkilap namun bisanya sangat mematikan. Gambaran yang tepat sebab apa yang terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang ada di hati. Kita harus sangat berhati-hati menghadapi orang seperti demikian, orang seperti sangat menakutkan. Tuhan ingin anak-anak-Nya supaya tidak munafik. Biarlah kita mengevaluasi dan menyelidiki hati kita, sudahkah kita memiliki motivasi murni? Setiap anak Tuhan harus memiliki hati yang bersih dan murni dan hal itu tidak mungkin kita lakukan sendiri. Tidak! Hanya mereka yang men-Tuhankan Kristus dalam hatinyalah yang dapat memilikinya. Pertanyaannya sekarang relakah hati kita yang kotor dibersihkan oleh-Nya? Tidak semua orang mau dibersihkan hatinya sebab sakitlah yang dirasakan. Namun percayalah, setelah proses pembersihan itu, kita pasti akan merasakan sukacita dan nyaman; kita mempunyai hati dan motivasi yang bersih.

3. Perkataan yang berkuasa keluar dari hati yang takut akan Tuhan

Banyak orang menafsirkan Mat. 12:33-37, Tuhan Yesus hendak berbicara tentang perkataan. Lalu apa signifikansi dari sebuah perkataan? Postmodernisme menyatakan words is meaningless sebaliknya, new age movement menyatakan words is powerfull. Alkitab menegaskan setiap kata-kata yang sia-sia harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Di tengah dunia, orang mungkin menganggap kata-kata itu tidak ada artinya namun tidak demikian halnya di hadapan Tuhan. Karena itu perhatikanlah dengan baik-baik setiap perkataan yang hendak kita katakan. Jangan ucapkan perkataan yang sia-sia tetapi hendaklah perkataan yang keluar itu keluar dari hati yang tulus dan murni. He is the Words, Kristus adalah Firman. Anak Tuhan harus berbeda dengan dunia; orang Kristen haruslah mengeluarkan kata-kata yang penuh kuasa dalam artian kata-kata itu haruslah menjadi berkat bagi orang lain dan hanya Tuhan saja yang dapat memampukannya.

Untuk memahami sebuah perkataan maka Kekristenan melihat dari konsep CFRC, yaitu:  Creation, Fall, Redemption, Consummation. Dari keempat hal ini, dunia hanya tahu satu saja, yaitu fall; orang berdosa memikirkan segala sesuatu dari sudut pandang dirinya yang telah jatuh dalam dosa maka hasilnya tentu saja, kehancuran. Orang yang jatuh dalam dosa tidak pernah memahami apa itu creation, redemption dan consummation; ia hanya tahu satu, yaitu hidup dalam dosa karena itulah realita yang ia hidupi sekarang. Dalam kondisi fall itu, orang mencoba mencari penyelesaian tanpa ia memahami creation, redemption maupun comsummation akibatnya ia menyelesaikan masalah dengan fall dan hasil akhirnya pasti fall. Dan iblis sangat pandai memakai situasi yang telah hancur itu seolah-olah sebagai suatu kebaikan. Hati-hati dengan akal licik si iblis. Iblis bisa memberikan kekayaan, kesehatan, maupun kekuasaan namun ada satu sifat Ilahi yang tidak bisa ditiru oleh iblis, yaitu kesucian. Orang tidak bisa berkata pada diri sendiri, self talk “suci“ maka ia menjadi suci. Tidak! Bukan kata-katanya yang berkuasa tapi perbendaharaan kata-kata itulah yang menentukan sehingga suatu kata-kata itu mempunyai kuasa; dari manakah kata-kata itu berasal.

Ayat 37 menegaskan dosa bukan dihukum di tataran dasar – dosa asal. Dosa itu dihukum setelah dosa itu matang dalam kehidupan. Para teolog Reformed percaya bahwa seorang bayi yang lahir dalam keluarga Kristen dan meninggal di usia dini maka ia akan diselamatkan karena orang dihukum bukan karena dosa asal. Memang, dosa asal itu merupakan potensi dasar orang untuk berbuat dosa namun kalau dosa itu belum matang maka dosa asal tidak menjadi dosa. Ingat, upah dosa adalah maut. Karena itu, berhati-hatilah dengan kata-kata yang kita ucapkan. Perkataan seseorang itu barulah berkuasa ketika perkataan itu keluar dari hati yang suci dan hati yang takut akan Tuhan. Tuhan kembali mengajak kita melihat bahwa proses itu dimulai dari dalam diri kita. Inilah bedanya Kekristenan dan dunia. Iman Kristen memulai dari dalam hati barulah dari sana terpancar suatu keindahan dan setiap kalimat yang keluar itu akan berkuasa sebab semua perkataan itu keluar dari motivasi yang tulus.

4. Perkataan yang baik itu tegas dan menyatakan kebenaran

Berhati-hatilah dengan setiap perkataan dan menanggapi perkataan seseorang. Iblis sangat licik memakai suatu situasi dimana situasi dibuat sedemikian rupa seolah-olah perkataannya itu merupakan suatu kebenaran sehingga orang bersimpati padanya; ia memakai orang yang berpengaruh di masyarakat – dalam hal ini orang Farisi. Di sisi lain, Tuhan Yesus dengan perkataannya yang keras dan tegas menegur orang Farisi namun perkataan yang keluar itu merupakan kebenaran dan keluar dari motivasi murni. Ketika Tuhan Yesus dalam keadaan lapar, Allah tidak langsung menolong tetapi iblis yang datang menawarkan jalan keluar yang mudah dan cepat. Kalau kita dihadapkan pada situasi itu, dimanakah posisi kita? Kita lebih bersimpati pada orang Farisi ataukah Tuhan Yesus yang memporakporandakan Bait Allah? Dimanakah posisi kita? Bagaimana kita memahami kata-kata?

Kita harus pekan membedakan antara kata-kata culas dengan kata-kata tegas. Anak Tuhan sejati seharusnya senang dengan kata-kata yang tegas meskipun terasa menyakitkan tetapi kata-kata yang keluar adalah kebenaran dan ingat, kebenaran sejati tidak dapat berkompromi dengan dosa dan kemunafikan. Sebaliknya anak setan lebih suka kata-kata manis yang culas. Orang tidak sadar kalau kenikmatan yang ditawarkan iblis itu racun yang akan menghancurkan hidupnya. Biarlah kita mau diubahkan seluruh paradigma kita dan mencontoh teladan Kristus yang tegas membukakan kebenaran pada setiap manusia.

Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang mengikut cara dunia dan berpikir cara dunia itulah sebagai jalan keluar terbaik; menganggap perkataan orang Farisi lebih sopan dari perkataan Tuhan Yesus tetapi orang lupa kebenaran sejati haruslah diberitakan dan untuk ini dituntut suatu ketegasan. Orang Kristen sejati dituntut untuk tegas sekaligus mempunyai hati lembut. Karena itu, hendaklah kita memohon bijaksana dari Tuhan sehingga kita dapat bersikap tegas sekaligus lembut. Bagaimanakah sikap kita kita berelasi dengan sesama? Bagaimana kita menyikapi orang yang tegas dan orang yang curang? Kalimat-kalimat yang keluar dari orang yang tegas memang terasa sangat menyakitkan tetapi semua perkataan itu menyatakan kebenaran dan keluar dari hati yang jujur, motivasi yang benar dan semua perkataan yang keluar itu demi kebaikan kita – supaya manusia bertobat. Kalimat yang keras dan tegas yang menyatakan kebenaran sangat dibutuhkan dunia berdosa sekarang ini supaya mereka sadar dan bertobat.

Biarlah kita menguji dan mengevaluasi diri kita, sudahkah hati kita disucikan dan mempunyai motivasi murni? Dengan demikian setiap perkataan yang keluar itu benar-benar keluar itu mempunyai kuasa dan menjadi berkat bagi orang lain dan membuat orang sadar akan kebenaran sejati. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070211.htm

Eksposisi Injil Matius 12 : KRISTUS-TUHAN ATAS PARA PENGUASA ANGKASA (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, October 5th, 2007

Ringkasan Khotbah : 3 Desember 2006

Kristus - Tuhan atas Para Penguasa Angkasa

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:22-28

Pendahuluan

Secara keseluruhan tema dari Injil Matius adalah Kerajaan Sorga dimana Kristus sebagai Raja. Konsep Kerajaan Sorga yang ditegakkan oleh Kristus memiliki konsep yang berbeda dengan pemikiran para pemimpin agama bahkan para murid dan para rasul yang berpikir bahwa Kerajaan Sorga bersifat duniawi atau materi. Kristus menegaskan Kerajaan Sorga tidak dibatasi pada materi, ruang dan waktu sebaliknya Kerajaan Allah bersifat kekal; Kerajaan Allah bersifat spiritual dimana orang yang hidup di dalam-Nya akan mendapatkan sukacita kekal. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus tunduk mutlak pada Kristus Yesus Raja; Dia adalah pemilik alam semesta ini; Dia adalah Tuhan atas hukum. Di dunia tidak ada hukum yang mempunyai kekuatan kecuali kita kembali pada Kritus Tuhan sebagai satu-satunya sumber hukum. Tentang Ketuhanan Kristus ini telah dinubuatkan jauh hari sebelumnya, hal ini membuktikan satu hal, yakni Allah berkuasa atas sejarah manusia. Kita telah memahami bahwa sejarah bukanlah fakta tetapi sejarah adalah interpretasi fakta secara subyektif; sejarah  menjadi sejarah yang relatif. Sejarah sejati haruslah dilihat dari sudut pandang Kristus sebagai pemegang otoritas mutlak.

Matius membukakan pada kita bahwa orang yang secara fenomena bisu dan buta sesungguhnya di balik fenomena tersebut ada kuasa iblis yang membelenggu hidupnya. Dosa adalah akar segala kejahatan, kerusakan dan sakit penyakit. Penyebab dosa adalah manusia karena ia memberontak pada Allah. Sebelumnya Tuhan telah menekankan konsep dosa dengan menaruh pohon pengetahuan baik dan jahat dan memberikan hak pilih pada manusia – melawan perintah Tuhan maka ia mati sampai manusia melawan Tuhan barulah dosa itu riil. Sesungguhnya, hak pilih inilah yang menjadikan manusia hidup sebagai manusia yang sejati sebab tanpa hak pilih tersebut, manusia tidak ubahnya seperti binatang yang tidak mengerti makna dan tujuan hidup. Perhatikan, bukan pohonnya yang membuat manusia menjadi manusia sejati tetapi perintah Allah itulah yang menjadikan manusia sejati. Tuhan mencipta manusia berbeda dengan binatang; dengan akal budi, manusia dapat mempertimbangkan segala sesuatu secara rasional tentang yang baik dan jahat. Manusia adalah satu-satunya makhluk berakal budi yang mempunyai pertimbangan emosi dan rasional untuk mencapai suatu hidup yang bermoralitas dan berintegritas.

Seorang bijak akan mempertimbangkan segala hal termasuk akibatnya tentang hal yang baik dan buruk dan dari sudut pandang Tuhan, ia mengambil keputusan dengan tepat. Untuk mencapai suatu bijaksana sedikitnya harus ada dua pilihan supaya orang dapat mempertimbangkan apa yang baik dan buruk. Itulah tujuan Tuhan menempatkan pohon di tengah-tengah taman supaya manusia dengan akal budinya dapat mengambil keputusan yang tepat itulah yang dinamakan moralitas. Ingat, setiap keputusan ada resiko yang harus ditanggung karena itu kita harus bertindak bijaksana.

Seharusnya bukan hal yang berat bagi Adam untuk tidak makan buah pengetahuan baik dan jahat itu, sebab di antara sekian banyak pohon dalam taman Eden Tuhan hanya perintahkan satu pohon saja yang tidak boleh dimakan. Namun manusia berdosa menginterpretasi Firman salah; orang mempertanyakan kebaikan Allah dengan mengajukan pertanyaan: apakah Tuhan tahu kalau manusia jatuh dalam dosa? Lalu kenapa Tuhan tidak mencegahnya? Pertanyaan ini membuktikan bahwa manusia adalah manusia berdosa yang selalu berpikiran buruk. Manusia yang berdosa tapi melempar kesalahan itu pada orang lain, dalam hal ini Tuhan yang disalahkan. Adalah salah kalau orang berpendapat bahwa Tuhan adalah pengambil keputusan sebab pada saat yang sama, orang tidak suka ada pihak lain yang mengambil keputusan untuk kita. Tuhan tidak menjadikan kita robot yang harus dikendalikan sedemikian rupa. Tidak! Pilihan itu justru menjadikan kita seorang manusia sejati yang tahu harus bertanggung jawab.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mulia yang dapat berproses menuju pada kesempurnaan dan manusia harus membuktikan bahwa benar dia adalah makhluk mulia, yakni di saat kritis, manusia diuji apakah keputusan yang ia ambil tersebut bijaksana? Ingat, keputusan moral sangat mempengaruhi dan menentukan integritas kita. Adalah suatu sukacita kalau keputusan kita tepat berarti sudah naik tingkat semakin dekat menuju pada sempurna seperti yang Tuhan inginkan. Jadi, setiap langkah keputusan yang kita ambil sangat menentukan posisi kita – semakin menuju pada kemuliaan atau semakin menuju pada kehancuran. Ketika kita menyadari kalau kita telah salah langkah maka kita harus kembali pada posisi yang tepat. Hati-hati, iblis akan menggunakan segala cara untuk menghancurkan manusia, salah satunya dengan memutarbalikkan konsep berpikir manusia. Ketika dibawa seorang yang kerasukan setan, orang itu buta dan bisu, Tuhan Yesus langsung menyembuhkannya. Tuhan ingin menunjukkan ada kuasa lain yang lebih besar dari kuasa iblis. Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta, tuli, bisu ini menjadi tanda bahwa Dia adalah Mesias. Sebagian orang langsung sadar dan langsung menyebut Kristus sebagai Anak Daud. Orang tidak berani menyebut Yesus langsung dengan sebutan Mesias karena hukumannya mati. Itulah sebabnya, kita banyak menjumpai banyak kiasan atau simbol-simbol untuk menyebut Mesias. Faktanya, Kristus menyembuhkan orang kerasukan setan. Lalu bagaimana orang melihat dan menafsir fakta tersebut? Sebagian orang langsung menafsirkan bahwa Kristus adalah Anak Daud tetapi di pihak lain, orang Farisi melihat fakta yang sama tetapi menafsir lain dengan mengatakan bahwa Kristus adalah penghulu setan. Inilah sejarah, sebuah fakta yang sama tetapi menghasilkan dua kesimpulan yang  berbeda, tergantung dari interpretasi manusia. Jelaslah paradigma atau konsep berpikir manusia itu sangat menentukan sebuah fakta sejarah yang sedang terjadi. Sebuah fakta kecelakaan mobil namun kesimpulan yang didapat akan berbeda tergantung dari konsep berpikir orang; seorang ekonom langsung menganalisa dan memperhitungkan kerugian, seorang dokter menganalisa secara medis, seorang ahli hukum menganalisa dari sisi hukum dan langsung terpikir tentang pasal-pasal tertentu yang sesuai untuk dikenakan pada si pengendara maupun si korban. Setiap orang melihat suatu fakta yang sama, pertanyaannya kesimpulan siapa yang paling benar?

Hal ini seharusnya menyadarkan manusia bahwa:

1. Manusia adalah makhluk terbatas.

Manusia hanyalah makhluk relatif yang berpandangan subyektif; manusia tidak berhak memutlakkan satu hal dari dirinya sendiri. Pertanyaannya adalah siapakah manusia sehingga ia berani memutlakkan diri sebagai kebenaran? Adalah sifat manusia berdosa yang ingin menjadi “tuhan“ dan berotoritas. Tuhan memberikan pada kita suatu kapasitas otorisasi namun ketika otorisasi itu diberikan manusia telah melanggar dua aspek penting, yakni: 1) manusia tidak kembali pada kebenaran sejati, betapa mengerikan hari ini kita hidup berada di antara tingkatan otoritas tinggi dan medium, sebab ketika suatu keputusan diambil berdasar otoritas tertinggi maka orang yang berada di tingkat bawah menjadi korban dari hasil keputusan tersebut. Dalam suatu perusahaan, pengambil keputusan berada di tangan komisaris dan tentu saja, orang yang berada di bawahnya, yaitu direksi yang menjalankannya tetapi ketika keputusan itu bermasalah dengan hukum maka yang celaka adalah orang-orang yang berada di bawah, 2) otoritas dipakai untuk keuntungan diri, memperkaya diri, dan kenikmatan diri akibatnya, orang yang berada di bawah otoritas itu, hidupnya menjadi sangat sengsara.

Manusia bukan pemegang otoritas mutlak. Tuhan menegaskan manusia harus tunduk mutlak pada Kristus Sang kebenaran sejati; Kristuslah pemegang otoritas mutlak. Di dunia modern, semangat humanis-egois terus diajarkan, orang terus dipacu untuk mendapatkan otoritas mutlak dan semua keinginannya. Hati-hati jangan termakan dengan ajaran yang menyatakan bahwa manusia adalah manusia yang tidak terbatas, , manusia bisa berbuat apa saja dengan kapasitas yang ada sekarang. Caranya manusia dipaksa sedemikian rupa dibawa pada suatu titik atau posisi kritis maka orang dapat menjadi superman. Orang sengaja dimasukkan dalam situasi kritus sampai muncul suatu kekuatan dari dalam dirinya yang ia sendiri tidak tahu darimana muncul kekuatan tersebut. Mungkin kita pernah mendengar banyak kisah serupa, entah kekuatan darimana, seorang ibu tiba-tiba dapat membengkokkan terali besi demi menolong anaknya dari kebakaran. Konsep “superman“ ini sangat berbahaya sekali.

Di dunia, kita mengenal ada konsep kelelahan, fatique, orang tidak akan pernah mengalami pengalaman yang sama seperti yang dialami pertama kali yakni mempunyai kapasitas besar untuk berbuat hal yang di luar batas dan kalaupun bisa maka pengalaman kedua mempunyai kualitas lebih rendah dari yang pertama begitu seterusnya semakin lama semakin menurun sampai akhirnya manusia menjadi fatique. Manusia tidak bisa ditaruh pada situasi kritis terus menerus, manusia akan menjadi gila. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak menyadari bahayanya konsep ini, manusia berlomba-lomba ingin menjadi manusia super dan celakanya, anak yang dijadikan korban. Tentu saja banyak pihak diuntungkan, nama sekolah menjadi terkenal karena ada anak-anak yang “sengaja“ dijadikan super. Namun perhatikan, gejala ini tidaklah lama, kualitas anak makin lama akan makin turun. Gejala yang sama juga dapat kita lihat hari ini, orang buta disembuhkan, orang lumpuh berjalan tapi perhatikan, beberapa hari ia akan kembali ke keadaan semula. Manusia adalah makhluk relatif, makhluk yang dependent and limited karena itu, orang harus kembali pada Kristus kebenaran mutlak. Ketika kita melihat suatu realita, kita harus mengintepretasi dengan tepat, yakni dengan melihat dari kacamata Tuhan. Setiap momen yang terjadi dalam setiap aspek hidup kita, banyak interpretasi yang dapat kita buat tapi Tuhan ingin bukan kehendak kita yang jadi melainkan kehendak-Nya.

2. Memutarbalikkan Kebenaran.

Orang Farisi adalah orang yang paling mengerti theologi bahkan sebelum ia berada dalam kelompok Farisi, ia dituntut untuk menghafal dan mengerti hukum Taurat dengan baik. Itulah sebabnya, orang Farisi dianggap sebagai orang paling saleh dan pandai diantara golongan lain seperti Saduki maupun Herodian. Namun ironis, orang yang paling saleh dan pandai justru memberikan interpretasi salah terhadap fakta kesembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus. Sangatlah mengenaskan kalau para ilmuwan, para profesor, para doktor justru membuat kerusakan dalam ilmu pengetahuan. Orang menafsirkan Alkitab dengan sembarangan dan sembrono justru dilakukan oleh para doktor theologi. Memang, ironis, orang yang belajar Alkitab malah menjadi penghujat Tuhan.

Puji Tuhan, Tuhan munculkan Marthin Luther dan John Calvin dalam waktu yang hampir bersamaan. Marthin Luther, seorang doktor theologi, ia merombak paradigma yang salah tentang keselamatan. Luther menegaskan dengan keras bahwa keselamatan bukan tergantung dari uang seperti yang diajarkan oleh Johan Tetzel pada hari itu. Namun Marthin Luther tidak membangun sistematik Kekristenan yang kokoh dan Tuhan munculkan seorang bernama John Calvin, seorang yang mempunyai latar belakang hukum tapi ia belajar Alkitab dengan baik, ia membangun pondasi iman Kekristenan. Seorang doktor theologi sangat diperlukan selama ia berpaut dan bersandar pada Tuhan tetapi apalah gunanya seorang doktor theologi kalau ia menyeleweng dari jalan Tuhan dan tidak memuliakan Tuhan.

Celakalah, hidup kita kalau kita tidak men-Tuhankan Kristus sebab kemungkinan besar kita akan salah dalam memahami kebenaran, twisting the truth. Hal inilah yang terjadi pada orang Farisi, orang yang paling banyak belajar Taurat tetapi malah mengeluarkan pernyataan salah dengan mengatakan Yesus adalah penghulu setan. Seorang teolog, Leon Morris berpendapat bahwa bukanlah menjadi kebiasaan Matius memaparkan suatu kejadian dengan panjang lebar. Biasanya, Matius mengambil inti dari suatu peristiwa yang terjadi, ia tidak terlalu mempedulikan data tetapi khusus, bagian ini Matius memaparkan dengan jelas. Matius ingin menegaskan bahwa otoritas Kristus merupakan otoritas mutlak yang berada diatas kuasa setan. Hati-hati, di tengah-tengah percaturan filsafat, agama, gereja, dunia sangat senang bermain dengan hal-hal yang sifatnya relatif, dunia suka memelintir kebenaran sejati dengan multi interpretation. Bukanlah hal yang mudah untuk men-Tuhankan Kristus tapi hanya dengan men-Tuhankan Kristuslah yang menjadi satu-satunya kemungkinan bagi kita untuk dapat menginterpretasi realita yang terjadi di dunia dengan tepat. Biarlah kita setia pada Firman dan kembali pada Kristus karena Dia berhak atas hidup kita.

3. Kuasa Kristus lebih besar dari kuasa iblis.

Kristus menyatakan kalau kuasa-Ku nyata melawan kuasa setan maka itu berarti Kerajaan-Ku hadir. Pernyataan Kristus ini menjadi pernyataan final dan penentu dari semua berita yang hari ini berkembang – menghujat Roh Kudus. Hat-hati dengan iblis yang seolah-olah mempunyai kuasa besar tetapi sesungguhnya, dia hanyalah seorang penipu besar, ia mempunyai kekuatan yang dipakai untuk menghancurkan. Perhatikan, itu bukan Allah sejati tetapi “allah palsu.“ Di tengah dunia ini ada dua kekuatan besar yang diletakkan secara paralel atau sejajar. Di dunia barat, ada konsep dualisme yang menekankan bahwa di alam semesta ini ada dua kekuatan yang sama kuat, yakni baik – jahat, hitam – putih dimana dua kekuatan ini selalu ada di sepanjang sejarah jaman. Di dunia timur juga dikenal konsep yang hampir sama, yakni konsep Yin Yang dimana di dalam baik ada jahat dan di dalam jahat ada baik; konsep semi dualisme monoistik ini lebih jahat dibanding konsep dualisme murni sebab tidak ada kebaikan yang benar-benar baik atau kejahatan yang benar-benar jahat. Dunia timur lebih kompromistik dibanding dunia barat. Konsep yang salah! Alkitab menegaskan kuasa jahat di bawah kuasa Tuhan; ketika kuasa Tuhan itu dinyatakan, kuasa iblis harus menyingkir. Kalau hari ini kita melihat  fenomena sepertinya kuasa Tuhan dikalahkan maka perhatikan, kekalahan itu sifatnya sementara, yakni karena Tuhan memang mengijinkan namun sampai suatu titik tertentu Tuhan akan bertindak. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat atas alam semesta maka jangan bermain dengan kuasa apapun di dunia, jangan bermain dengan konsep Yin Yang sebab konsep itu tidak pernah terjadi dalam realita, kuasa yang kelihatan hebat itu hanyalah semu belaka.

Jangan takut, kalau kita adalah anak Tuhan yang sejati maka tidak ada kuasa apapun di dunia yang dapat menyentuh atau mempermainkan anak Tuhan sejati. Kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa iblis. Kita mungkin pernah mendengar banyak kesaksian dari anak-anak Tuhan sejati dimana kuasa iblis tidak mampu menyentuh mereka. Hal yang sama juga terjadi pada suatu kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin Pdt. Stephen Tong, orang mencoba bermain-main dengan kuasa iblis untuk dikenakan padanya tetapi kuasa Tuhan yang besar itu sungguh nyata, kuasa iblis dikalahkan. Sejarah membuktikan bahwa kekuatan Tuhan dan kekuatan iblis tidak berada pada posisi sejajar; kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa iblis; kuasa iblis harus tunduk di bawah kuasa Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita? Sadarlah bahwa ketika kuasa Roh Allah dinyatakan di tengah-tengah dunia itu berarti Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Biarlah kita mau menyerahkan diri kepada Tuhan untuk disucikan maka Kerajaan Tuhan hadir di dalam hidup kita, bukan secara fisik tetapi secara rohani dan membiarkan Dia memerintah total atas hidup kita. Amin?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20061203.htm