Archive for November, 2007

Eksposisi Injil Matius 13 : THE VALUE OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, November 30th, 2007

Ringkasan Khotbah : 22 April 2007

The Value of the Kingdom

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:44-46

Perumpamaan-perumpamaan yang diungkapkan Tuhan Yesus dalam Injil Matius sesungguhnya hanya membicarakan satu hal, yakni Kerajaan Sorga dimana Kristus sebagai Rajanya. Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang dimulai dari kecil dan bertumbuh menjadi besar. Injil Mat. 13:44-52 mau menekankan satu hal, yakni tentang kualitas Kerajaan Sorga namun dalam terjemahan Indonesia dipisahkan menjadi dua bagian karena ada dua hal yang menjadi penekanan. Perumpamaan tentang harta terpendam dan perumpamaan tentang mutiara menekankan kualitas dari Kerajaan Sorga itu sendiri, seberapa mahalnya dan berharganya Kerajaan Sorga itu; perumpamaan tentang pukat menekankan kualitas dari orang-orang yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga; hanya ikan yang bagus saja yang boleh masuk ke dalam pukat.

Hari ini kita akan merenungkan perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga yang membukakan akan kualitas dari kerajaan sorga. Perumpamaan ini sekaligus mematahkan konsep yang salah yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kecil itu sifatnya meaningless; sesuatu yang kecil itu hanyalah minoritas sehingga tidak ada orang yang memerhatikan. Orang berpendapat ragi itu hanya dapat dirasakan dan dilihat pengaruhnya tetapi ia sendiri tidak kelihatan demikian pula dengan Kerajaan Sorga hanya sementara ada di dunia setelah itu hilang di tengah jaman. Karena itu, untuk menghindari kesalahan penafsiran maka Tuhan Yesus mengkaitkan seluruh perumpamaan sehingga orang tidak mempunyai pikiran yang terpecah-pecah; perumpamaan haruslah dikunci secara totalitas dari kesuluruhan pembahasan. Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang terpendam itu menganulir kemungkinan kesalahan konsep tersebut.   

Perhatikan, Kerajaan Sorga yang kelihatan murah itu bukan berarti barang murah. Tidak! Perumpamaan biji sesawi dan ragi ini bukan berbicara tentang barang yang murah tetapi lebih menekankan tentang sesuatu yang kecil namun mempunyai potensi besar.  Perumpamaan kali ini hendak menegaskan tentang konsep nilai dari kerajaan sorga dan komitmen. Kalau kita bicara tentang harga maka kita bicara tentang nilai. Banyak orang yang mengabaikan aspek nilai akibatnya orang tidak mengerti nilai dengan tepat. Hal ini disebabkan orang menjadikan diri sendiri sebagai standar nilai akibatnya orang mengalami kesulitan dalam menilai sesuatu. Kekristenan mempunyai standar nilai yang berbeda dengan dunia karena nilai itu tidak didasarkan pada dunia atau diri tetapi segala sesuatu itu didasarkan pada Kristus yang sebagai standar nilai. 

Sejarah membuktikan, agama itu muncul sebagai suatu upaya dari manusia mencari kekuatan yang lebih dibanding dirinya dan ketika manusia telah menemukan kekuatan itu barulah orang menyadari kelemahan yang ada pada dirinya dan ia tidak dapat meniadakan kekuatan itu. Orang atheis berusaha sedemikian rupa meniadakan kekuatan itu karena sesungguhnya, ia ingin dirinyalah yang menjadi Tuhan, yang menentukan segala sesuatu sendiri dan berkuasa penuh. Inilah jiwa manusia berdosa. Manusia hanya butuh Tuhan ketika ia merasa lemah. Dunia makin modern makin berusaha membuang Tuhan dan orang merasa ia sudah berhasil membuang Tuhan seperti yang dilakukan oleh Nietzsche dan kawan-kawan. Betapa bodohnya manusia, ia tidak sadar pada saat mereka membuang Tuhan saat itu hidupnya menjadi sengsara, orang merasa segala sesuatu yang ia kerjakan tidak ada artinya. Kekecewaan itu sampai pad puncaknya dan berakibat pada bunuh diri. Inilah puncak dari the lostness of value. Konsep yang salah menyebabkan hidupnya menjadi hancur. Kalau kita mau telusuri lebih dalam lagi, sesungguhnya yang membuat manusia itu mempunyai semangat juang untuk hidup ada dua aspek, yaitu: 1) aspek epistemologi – what is true; 2) aspek aksiologi – what is valuable. 

1. Seeking

Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang mau berjuang bahkan berkorban nyawa untuk sesuatu yang ia anggap tidak bernilai dan tidak benar, bukan? Ketika orang menganggap uang itu sebagai sesuatu yang berharga maka ia akan berjuang mati-matian untuk uang. Demilkian pula halnya dengan mereka yang tidak percaya akan kebangkitan Kristus – tidak akan mau berjuang apalagi berkorban demi Kristus. Ironisnya, orang tidak mau kembali pada kebenaran sejati, mereka malah membuat teori baru dan berjuang untuk teori yang baru itu dan untuk kesekian kalinya orang mengulang kesalahan yang sama. Pada jaman renaissance filsafat humanisme berkembang sedemikian rupa, orang mulai meninggalkan Alkitab maka itulah masa dimana Kekristenan semakin menurun. Philosophia berarti orang-orang yang mencintai hikmat tetapi faktanya, philosophia lebih mencintai diri sendiri dan membuang Tuhan Yesus yang adalah sumber hikmat sejati. Adalah tidak mungkin seorang itu menjadi bijaksana kalau ia membuang Kristus di titik pertama. Hingga pada abad 20, pecah perang dunia I dan II dimana orang saling membunuh barulah orang menyadari bahwa apa yang selama ini mereka anggap sebagai bijaksana ternyata sia-sia. Hal ini juga tidak menyadarkan mereka untuk kembali pada kebenaran sejati. Tidak! Orang malah jatuh pada ekstrim yang lain, orang menjadi skeptik, orang tidak peduli dengan sesuatu yang ia anggap sebagai kebenaran dan berharga. Pertengahan abad 20 membawa orang pada skeptisisme posmodern maka hari ini kalau orang ditanya mana yang berharga? Dengan skeptis akan menjawab bahwa apa itu kebenaran? Orang sudah tidak ada lagi upaya atau perjuangan untuk mengejar sesuatu yang benar dan bernilai. 

Bagaimana dengan orang Kristen? Apakah kita masih sadar perlunya kita memperjuangkan apa yang benar dan apa yang bernilai? Celakalah, kalau kita salah menilai bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai kebenaran dan bernilai ternyata tidak lebih hanyalah sebuah sampah yang tidak berharga dan justru yang kita anggap tidak bernilai itu ternyata sebuah barang berharga. Betapa bodohnya kita kalau kita lebih memilih sepiring makanan daripada sekilo emas, bukan? Tanpa kita sadari, sesungguhnya itulah yang sering kita lakukan, ketika Tuhan membukakan bahwa ada sesuatu yang lebih bernilai, kita justru mengabaikannya – kita   menjadikan diri sebagai standar nilai. Hendaklah kita mengevaluasi diri, hal apakah yang kita anggap paling bernilai dalam hidup kita? Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga mau membukakan betapa berharganya Kerajaan Sorga itu dibandingkan dengan harta dunia. Tuhan Yesus tahu apa yang ada dalam pikiran orang Yahudi yang materialis bahkan tak jarang pula, mereka memakai cara licik  untuk mendapatkan harta. Perhatikan, ketika orang Yahudi menemukan harta yang terpendam di ladang maka ia tidak mengambilnya tetapi langsung menguburnya kembali dan ia pun pergi menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu. Cara ini adalah cara yang licik tetapi sekaligus cara yang paling strategis dan sah untuk menghindari hukum dan perselisihan antara pemilik tanah dan penemu harta. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau menyatakan kalau demi mendapatkan harta, orang mencari cara sedemikian rupa untuk mendapatkan harta lalu bagaimana dan upaya apa yang kita lakukan demi untuk mendapatkan Kerajaan Sorga yang lebih bernilai? Sangatlah disayangkan, hari ini, jangankan untuk tahu dimanakah kebenaran, upaya untuk mengejar kebenaran dan nilai tertinggi itu saja tidak ada. Sebagian besar orang Kristen tidak mau memikirkan tentang kebenaran apalagi berupaya mendapatkan kebenaran; dengan skeptik, orang akan berkata, “Capek, ah….“ Perkataan itu harusnya menyadarkannya akan hidup, apa yang membuat ia merasa letih? 

Tuhan Yesus membukakan betapa bernilainya Kerajaan Sorga itu dan untuk mendapatkan barang yang bernilai itu perlu satu upaya dan pergumulan untuk mendapatkannya. Hal ini yang disebut sebagai extrinsic value – upaya seseorang untuk mengejar atau menyamakan persepsi dengan instrinsic value. Pengertian mahal mempunyai banyak konsep; suatu barang dikatakan mahal kalau nilai instrinsiknya seribu rupiah tapi kita beli dengan harga satu juta rupiah – dikatakan mahal karena tidak cocok dengan harga aslinya. Barang murah tetap akan terasa mahal karena kita tidak mampu membelinya – diri menjadi standar nilai. Hari inilah yang banyak terjadi hari ini tak terkecuali orang Kristen; orang memakai diri sebagai standar untuk menilai sesuatu nilai di dalam dirinya. Cara ini adalah cara yang salah. Untuk menyamakan persepsi dan menyamakan nilai dari ekstrinsik menuju instrinsik diperlukan suatu perjuangan dan hal ini yang seringkali tidak disukai oleh manusia. Orang lebih suka kalau diri sendiri sebagai penentu kebenaran. 

Biarlah pola pikir kita diubahkan, ingat kita bukanlah penentu kebenaran. Sekali kita salah menilai maka sia-sialah seluruh perjuangan hidup kita. Karena itu, kita harus kembali pada nilai tertinggi, yakni the true value itself sehingga hidup itu menjadi indah karena kita tahu, kita berjuang untuk sesuatu yang bernilai kekal. Kerajaan Sorga itu adalah orang yang sadar akan nilai tertinggi. Pertanyaannya seberapa jauhkah perjuangan kita untuk mendapatkan nilai tertinggi? 

2. Understanding

Bagaimana kita memilah antara harta asli dan harta palsu? Sistem nilai ini menuntut adanya understanding.  Suatu barang yang sangat mahal dan berharga itu biasanya jumlahnya sangat terbatas bahkan mungkin hanya ada satu di dunia. Kalau hanya ada satu berarti sukar untuk ditemukan maka dibutuhkan suatu pengertian yang tepat dan untuk mendapatkan pengertian yang tepat itu bukanlah hal yang mudah tetapi dibutuhkan suatu usaha dan perjuangan untuk kita mau belajar. Belajar itu melelahkan karena butuh banyak tenaga dan waktu. Hari ini banyak orang yang merasa lelah dan tidak mau belajar karena orang merasa apa yang ia pelajari selama ini hanyalah kesia-siaan. Orang merasa sia-sia karena ia belajar tetapi tidak pernah menjadi pandai dan bijaksana, hal ini disebabkan karena orang tidak mengerti esensi dan konsep belajar. Maka tidaklah heran kalau orang sampai pada kesimpulan: semua yang dikerjakan tidak lebih hanyalah kesia-siaan belaka dan tidak bernilai akibatnya orang tidak mau belajar. Betapa sangatlah menyedihkan kalau seluruh perjuangan kita ternyata sia-sia. Berbeda halnya kalau kita tahu bahwa seluruh hidup kita mempunyai sasaran dan tujuan yang jelas, yaitu hidup untuk Kristus karena Kristus itu sangat berharga. Belajarlah untuk mengejar nilai sejati karena kita sedang attach dari kerelatifitasan menuju kepada kemutlakan tertinggi. Perjuangan ini sangat layak untuk kita kerjakan. Hari ini banyak orang yang merasa semua yang ia pelajari hanyalah kesia-siaan belaka. Wajarlah kalau orang merasa demikian karena arah hidupnya tidak tertuju pada apa yang menjadi kehendak Tuhan. Orang tidak pernah berpikir ketika ia hendak memutuskan sesuatu apakah keputusan yang ia buat tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak? Berbeda halnya, kalau sejak pertama kita sudah tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan maka seluruh hidup kita penuh dengan makna. Betapa indah hidup kita kalau seluruh yang kita kerjakan itu meaningfull. 

Kerajaan Sorga bukanlah barang murah sehingga mudah didapat. Tidak! Kerajaan sorga merupakan sebuah harta yang terpendam yang sangat bernilai dan hanya ada satu di dunia yang semua orang mau mencapainya. Pertanyaannya bagaimana kita mendapatkannya? Caranya adalah dengan mencari dan untuk itu dibutuhkan suatu perjuangan, yakni berjuang untuk belajar untuk mendapatkan suatu pengertian dengan benar. Kalau kita tidak pernah belajar tentang mutiara, kita tidak akan pernah mengerti dan tidak dapat membedakan manakah mutiara yang asli dan mana yang palsu. Dibutuhkan seorang ahli untuk dapat membedakannya dan untuk menjadi seorang ahli dibutuhkan suatu studi yang baik. Pertanyaannya seberapa jauhkah perjuangan orang Kristen untuk mengerti nilai tertinggi yang menyangkut kekekalan? Untuk mengerti hal ini perlu suatu disiplin diri untuk kita mau belajar dengan demikian kita tidak menjadi salah. Kita tahu mana yang paling bernilai dan mana yang tidak dengan demikian kita dapat memberikan pertanggungjawaban. Mengerti bahwa kerajaan sorga adalah sesuatu yang bernilai, itu bukanlah suatu fanatisme yang kosong.      

3. Commitment

Kalau kita menyatakan bahwa A itulah yang paling bernilai tetapi tidak ada upaya atau perjuangan untuk mencapainya maka dapatlah disimpulkan bahwa semua pernyataan kita itu tidak lebih hanya pernyataan kosong belaka. Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus menegaskan bahwa sesuatu itu berharga, valuable ditentukan dari seberapa jauhkah kita berjuang untuk mendapatkannya? Orang yang tahu kalau di dalam tanah itu terkandung harta yang sangat mahal, masakan ia akan berdiam diri? Tentu tidak, bukan? Ia pasti akan membelinya tanah itu berapa pun harganya karena ia tahu ia akan mendapatkan lebih. Inilah yang dinamakan sebagai perjuangan. Jadi, kalau orang menyatakan bahwa Kerajaan Sorga itu berharga tetapi seluruh hidup kita tidak menunjukkan suatu perjuangan maka itu membuktikan ia bukanlah Kristen sejati yang tahu betapa berharganya Kerajaan Sorga itu. Hendaklah kita mengevaluasi diri, sebagai anak Tuhan sejati, seberapa jauhkah kita telah berkorban untuk mendapatkan Kerajaan Sorga itu? Sejauh manakah Kristus itu bernilai bagi kita? Seberapa mahalnya Kristus itu berharga bagi kita? Dan sampai seberapa jauhkah kita menyadari  mahalnya nilai instrinsik itu sehingga kita mengarahkan seluruh nilai ekstrinsik kita mengejar nilai instrinsik itu? 

Para murid dan para martir itu sangat menyadari betapa bernilainya Kerajaan Sorga sehingga mereka rela mati untuk mendapatkan the highest value. Ingat, sikap hidup kita itu menentukan iman Kristen kita. Hari ini banyak orang Kristen yang mengaku bahwa “Yesus itu adalah segala-galanya“ tetapi kalimat itu masih ada kelanjutannya, yaitu “Yesus itu segala-galanya hanya bagiku“ artinya orang hanya perlu Yesus selama Dia menguntungkan bagi kita, jadi bukan karena Dia mahal. Inilah dunia berdosa yang humanis – Kristus Yesus tidak lebih seperti “pelayan“ dan kita yang menjadi tuannya. Inilah konsep yang diajarkan oleh dunia. Tanpa sadar, manusia kembali pada pemikiran humanis materialis; apa yang kita perjuangkan mati-matian hanya untuk uang. Bertobatlah! Kalau kita mengaku Kristen tetapi uang, materi, kepentingan diri yang menjadi nilai tertinggi dalam hidup kita maka itu membuktikan kalau sesungguhnya kita bukan anak Tuhan sejati. Seberapa jauhkah kita telah berkorban untuk Kristus? Seberapa jauhkah hati kita berpaut pada Kerajaan Sorga? Siapakah yang menjadi nilai tertinggi dalam hidup kita? 

Kerajaan Sorga itu seperti halnya harta terpendam dan mutiara yang sangat bernilai kalau kita mendapatkannya betapa sukacita hidup kita. Pertanyaannya sudahkah kita berjuang untuk mendapatkannya? Kiranya hal ini menjadi evaluasi bagi kita, kalau selama ini kita telah bertahun-tahun menjadi Kristen, sudahkah pola pikir kita diubahkan sehingga kita mempunyai pola pikir seperti Kristus? Sudahkah kita menyadari betapa mahalnya darah Kristus yang telah menebus kita sehingga kita mau berkorban demi mendapatkan mutiara yang berharga itu? Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070422.htm

Eksposisi Injil Matius 13 : THE GROWTH OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Thursday, November 22nd, 2007

Ringkasan Khotbah : 15 April 2007

The Growth of the Kingdom

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:31-35

Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat memahami hal kerajaan sorga melalui perumpamaan yang Tuhan Yesus paparkan. Kerajaan sorga itu seperti seorang penabur yang menaburkan benih firman dan orang yang menerima benih itu digambarkan dalam empat macam tanah. Tuhan Yesus juga membukakan bahwa sebagai warga kerajaan sorga mengalami banyak tantangan yang menjepit sebab ketika benih baik itu ditabur, iblis juga ikut menaburkan benih yang buruk namun semua itu tidak akan berlangsung lama sebab akan tiba waktu-Nya, lalang akan dibuang dan dibakar. Anak Tuhan yang sejati ialah orang yang mendengar firman dan mengerti dan ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.  Yang menjadi pertanyaannya adalah yang dimaksud dengan berbuah banyak ini apakah secara kualitas ataukah kuantitas?

Melalui perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi ini kembali Tuhan Yesus membukakan tentang situasi pertumbuhan Kerajaan Sorga. Namun tidak banyak orang yang mengerti hal ini, hanya mereka yang dipilih saja yang dapat memahami tentang rahasia kerajaan sorga. Merupakan pandangan yang salah kalau orang beranggapan perumpamaan itu untuk memudahkan kita mengerti tentang hal Kerajaan Sorga. Sebab sesungguhnya kalau kita mau tajamkan yang ia anggap mengerti itu tidak sesuai dengan pengertian Tuhan, orang berpikir menurut asumsi diri dengan cara dan struktur berpikir yang humanis, materialis dan egois. Pengertian yang benar itu akan kita dapatkan ketika kita melihat dari sudut pandang Tuhan. Manusia sangatlah terbatas yang bisa salah, kita bukan kebenaran sejati. Sadarlah, pola pikir kitalah yang harus berubah seturut dengan pola pikir Tuhan dan semua itu tidak dapat kita lakukan sendiri, hanya Tuhan sajalah yang memampukan sehingga kita dapat memahami tentang kerajaan sorga.

Bentuk biji sesawi ini sangat kecil hanya menyerupai titik hitam namun perhatikan, kalau ditanam ia akan menjadi sebuah pohon sehingga burung dapat bersarang. Demikian pula halnya dengan ragi, jumlah yang sedikit dapat membuat adonan mengembang sedemikian rupa. Tidaklah mudah memahami konsep paradoks antara kualitatif dan kuantitatif di tengah dunia yang humanis materialis. Biarlah kita sebagai anak Tuhan peka, jangan terjebak dengan cara iblis yang sengaja membawa kita supaya masuk dalam pemikiran yang bersifat kuantitatif. Dunia hanya melihat secara fenomena sebaliknya Tuhan melihat apa yang menjadi esensi. Perhatikan, mulai dari cara berpikirnya saja sudah beda dan hal ini akan mempengaruhi seluruh aspek. Pola pikir akan berakibat pada banyak aspek. Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat suatu pergumulan yang sangat berat, yakni hidup menjadi seorang Kristen bukanlah sesuatu yang sifatnya besar atau “wah“ di titik pertama. 

1. Mulai dari yang kecil

Kerajaan Sorga dimulai dari sesuatu yang kecil, biji sesawi yang bertumbuh menjadi sebuah pohon. Demikian pula halnya seperti ragi, ketika ia bercampur dengan adonan maka sulit untuk melihatnya tapi kita dapat melihat dan merasakan adanya ragi. Dari sini, Tuhan Yesus mau mengajarkan bahwa Kekristenan itu harus dimulai dari hal yang kecil, start with a very small beginning, start with a very humble beginning. Inilah cara Kerajaan Sorga. Berbeda dengan dunia yang selalu memulai dengan sesuatu yang besar dan “wah.“ Kerajaan Sorga bukanlah sesuatu yang sekedar teori. Tidak! Sang Raja itu memberikan teladan indah. Tuhan Yesus membangun kerajaan-Nya dimulai dari 12 murid. Mereka hanyalah orang biasa; secara militer mereka tidak mempunyai kekuatan senjata, secara kapasitas mereka tidak mempunyai kemampuan dan mereka bukanlah orang yang berkuasa. Inilah standar prosedur Kerajaan Sorga yang memulai dari sesuatu yang kecil akan tetapi bukan berarti sesuatu yang kecil itu selamanya kecil. Tidak! Adalah wajar, kalau kita merasa takut. Hari itu, para murid pun juga merasa takut apalagi mereka harus berhadapan dengan pemerintahan Romawi yang besar. Berulang kali Tuhan Yesus mengajarkan pada mereka bahwa kerajaan sorga harus dimulai dari hal yang kecil namun berulang kali pula mereka masih berpikir dengan cara dunia. Para murid ini semakin merasa kecil dan takut dan memuncak ketika Tuhan Yesus naik ke sorga meninggalkan mereka. Mereka bersembunyi dan menutup rapat semua pintu dan jendela sampai Roh Kudus turun, mereka kembali mempunyai kekuatan untuk bertindak dan hari itu, 3000 orang bertobat dan jumlah merekapun bertambah namun penganiayaan kembali menceraiberaikan mereka. Tanpa sadar, sesungguhnya mereka tidak kecil, pada saat yang sama jumlah mereka terus bertambah besar bahkan hingga hari ini, kekristenan telah tersebar ke seluruh dunia. Inilah pertumbuhan Kerajaan Sorga. Pertumbuhan Kerajaan Sorga dimulai dengan semangat jadi biji sesawi – mulai dari kecil kemudian bertumbuh menjadi besar namun pada saat yang sama kita tetap merasa kecil.

Biarlah prinsip “memulai sesuatu dari kecil“ ini teraplikasi dalam seluruh aspek hidup kita. Perhatikan, ketika kita merasa besar dan nyaman disana Tuhan kembali mengajarkan untuk kembali dari kecil. Sejarah membuktikan pada jaman Raja Constantine, ia menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi negara maka semua itu tidak lebih hanyalah sebuah pohon palsu. Secara identitas Kristen tetapi tidak demikian dengan perilaku dan pemikirannya. Jadi, jelaslah tidak ada yang namanya kristenisasi sebab secara esensi, iman tidak dapat dipaksakan. Jaman itu menjadi masa kegelapan kekristenan, terjadilah perang salib maka kekristenan mulai dari kecil kembali. Demikian pula pada jaman Kerajaan Romawi dimana kekristenan menjadi mayoritas maka saat itu muncul pula banyak ajaran bidat. Hingga Marthin Luther memakukan 95 dalil, orang baru disadarkan untuk kembali pada Firman. Orang Kristen kembali dianiaya dan mereka memulai kembali dari kelompok kecil. Ketika Kekristenan kembali dari kuantitatif maka Kekristenan mulai rusak dan hancur.

Ingat, ini Kerajaan-Nya maka kita harus mengikut cara kerja Tuhan yang empu-Nya Kerajaan Sorga. Lalu sebagai minoritas bagaimana kita dapat bertahan di tengah mayoritas? Pada saat kondisi yang paling lemah, Tuhan itu menjadi pembela kita. Kita semakin mengandalkan kekuatan Tuhan. Setiap kali kita melangkah kita menyadari tangan Tuhan memimpin. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang yang tidak menyadari akan hal ini, orang memakai cara dunia yang kelihatan besar secara fenomena namun sesungguhnya, keropos di dalam dan secara perlahan, kita menjadi hancur. Hati-hati, iblis sengaja menawarkan segala yang nampak wah secara fenomena namun berakhir dengan kebinasaan. Ingat, Tuhan ingin segala sesuatu dimulai dari kecil dan jangan takut sebab Ia akan beserta.

2. Mengembangkan kualitas yang ada dalam diri

Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi membukakan tentang pengembangan Kerajaan Allah dimulai dari inner quality yang Tuhan tanam. Berbeda dengan dunia, kita seringkali mengharapkan dukungan dari pihak luar supaya kita menjadi besar. Merupakan suatu kegagalan fatal kalau kita mengandalkan kekuatan dunia untuk membuat Kekristenan berkembang menjadi lebih besar. Kekristenan menunjukkan perkembangan itu dimulai dari inner quality. Biarlah kita selalu berprinsip get your own respect dengan demikian orang melihat kualitas internal yang ada dalam diri kita. Jangan remehkan sesuatu yang kecil sebab biji sesawi atau ragi yang kecil itu justru berpotensi besar sehingga siapapun yang ada di dekatnya akan terpengaruh dan menjadi berkembang. Inilah konsep paradoks yang Tuhan ingin setiap kita memahaminya; di satu sisi kita kecil tetapi mengandung potensi yang besar. Anak Tuhan sejati seharusnya memiliki potensi, kualitas intelektualitas, kepekaan, moralitas dan cara kerja yang lebih baik dibandingkan dengan dunia sebab semua kualitas internal ini  Kristus berikan kepada setiap anak-Nya.

Dua hal yang menjadi kelemahan manusia berdosa, yaitu: 1) orang yang selalu menginginkan hal-hal yang besar dan untuk memulai hal ini, orang berpikir hal yang besar akibatnya orang menjadi sombong, 2) orang yang selalu merasa kecil dan menjadi minder sehingga ia tidak mempunyai kekuatan untuk bertindak. Seberapa paradokskah kita memahami bahwa kita kecil tetapi di lain pihak, kita mempunyai potensi besar? Alkitab membukakan bahwa manusia bukanlah siapa-siapa, kita kecil tetapi di tangan Tuhan kita akan menjadi besar. Namun perhatikan, ketika kita menjadi besar, bukan kita yang besar tetapi Tuhanlah yang besar dan kita hanyalah alat di tangan-Nya, hal itulah yang memungkinkan kita menjadi besar. Betapa indah hidup kita ketika hidup dipimpin oleh Tuhan sebaliknya, hidup itu akan menjadi kacau ketika kita mulai melawan. Bayangkan, apa jadinya sebuah lukisan kalau kita melawan, kita ikut menggambar ketika ada tangan lain, tangan seorang pelukis ahli yang menuntun kita; pastilah lukisan itu tidak menjadi lukisan yang indah sebaliknya ketika kita berserah total, membiarkan tangan kita dituntun oleh sang pelukis maka lukisan itu menjadi sangat indah. Demikian juga halnya hidup kita di tangan Tuhan. Secara fenomena, kita tampak kecil, orang lain seringkali meremehkan tetapi di tangan Tuhan, barang yang kecil itu mempunyai potensi besar. Hidup dalam Kerajaan Allah harus merombak seluruh konsep pemikiran duniawi kita seturut dengan pemikiran Allah sehingga kita menjadi alat-Nya di tangan-Nya.

Sangatlah disayangkan, masih banyak orang Kristen yang  masih ingin memakai cara dunia sekaligus cara Tuhan. Sikap seperti itu justru menjadi penghambat bagi Tuhan yang mau bekerja atas kita. Orang yang merasa diri hebat, mampu mengembangkan diri sendiri justru akan mematikan potensi diri sendiri. Sudahkah hidup kita dipimpin oleh Tuhan ataukah justru sebaliknya, hidup kita tidak lebih dipimpin oleh iblis. Potensi yang ada di dalam diri kita tidak tergantung dengan apa yang di luar. Inilah gambaran Kerajaan Sorga yang dibukakan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi. Kerajaan Sorga dimulai dari sesuatu yang kecil kemudian menjadi besar. Kalau kita menyadari hal ini maka kita tidak mudah goyah oleh segala tantangan yang ada di dunia karena kita tahu, Tuhan yang memampukan kita, Tuhanlah yang memberikan potensi. Maukah kita taat untuk dibentuk dan menjadi alat di tangan Tuhan? 

Dalam kehidupan Kekristenan, di satu pihak golongan karismatik selalu ingin memulai dengan sesuatu yang besar, orang ingin mendapatkan hasil yang besar dan spektakuler akibatnya orang tidak dapat membedakan lagi apakah itu pekerjaan Tuhan ataukah pekerjaan iblis. Namun di pihak lain, orang terlalu minder sehingga ia tidak dapat merasakan pimpinan Tuhan, tidak pernah merasakan kuasa Tuhan, tidak pernah mengalami bagaimana Tuhan bekerja dengan sangat heran dan membuat kita takjub. Lihatlah bagaimana Tuhan memimpin dan memampukan kita yang kecil dan lemah sehingga kita mampu melakukan pekerjaan besar; Tuhan telah memberikan potensi pada kita. Adalah pendapat yang salah kalau pimpinan Tuhan ini hanya khusus untuk para pendeta atau penginjil. Tuhan menegaskan pimpinan dan penyertaan itu diberikan pada setiap anak Tuhan yang mau taat pada-Nya. Jangan mendualismekan antara hidup dalam Tuhan dengan hidup di tengah dunia dan panggilan Tuhan bukan dikhususkan untuk suatu profesi saja tetapi untuk setiap umat Allah. Ketika kita berserah total pada-Nya maka kita akan melihat dan merasakan bagaimana Tuhan bekerja sangat heran atas kita, kita sendiripun akan dibuat takjub oleh perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib atas kita. 

3. Menjadi berkat bagi orang lain

Kerajaan Sorga seperti biji sesawi yang kecil namun ketika ia tumbuh ia akan menjadi sebuah pohon dimana semua burung dapat bernaung di dalamnya dan seperti halnya, ragi ia akan membuat sebuah adonan itu berkembang. Inilah misi Kerajaan sorga yaitu menjadi berkat bagi dunia. Cara kerja Tuhan berbeda dengan cara dunia. Biarlah setiap kita yang menjadi warga kerajaan-Nya meneladani Kristus Sang Raja yang datang bukan untuk dilayani tetapi melayani; Ia datang untuk menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Hendaklah dalam hidup kita selalu mempunyai semangat untuk menjadi berkat bagi orang di sekitar kita, if you work you work to be blessing for other. 

Hal ini menjadi panggilan sekaligus misi dari gerakan reformed. Hari ini kalau GRII ada itu bukan untuk diri sendiri tapi untuk menjadi berkat bagi seluruh kota dan seluruh dunia. Setiap hal yang kita kerjakan untuk menjadi berkat bagi orang lain bukan untuk diri sendiri. Hendaklah sebagai anak Tuhan kita meneladani Kristus yang selalu tidak berpikir untuk diri tetapi selalu ingin menjadi berkat bagi orang lain. Inilah prinsip dan jiwa dari Kerajaan Sorga. Hendaklah ketika kita bekerja bukan sekedar untuk uang tetapi lakukan semua itu untuk Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Hal ini tidaklah mudah sebab iblis juga turut bekerja, ia akan menjepit anak Tuhan dengan segala tantangan dan penderitaan namun ingatlah, tetaplah bersandar pada Tuhan dan percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak-Nya dipermainkan oleh dunia, Ia akan membalaskan semua ketidakadilan yang kita dapatkan di dunia. Tuhan menegaskan pembalasan itu adalah hak-Ku. Biarlah dimanapun kita berada, dimanapun kita bekerja, prinsip Kerajaan Sorga, yakni menjadi berkat bagi orang lain itu menjadi prinsip hidup kita dengan demikian nama Tuhan dipermuliakan.   

Melalui perumpamaan ini biarlah dibukakan bahwa segala sesuatu harus dimulai dari hal kecil sebab saat kita merasa kecil itulah justru Tuhan membuatnya menjadi besar. Hendaklah kita juga sadar bahwa semua potensi yang ada dalam diri kita itu asalnya dari Tuhan untuk dipakai untuk menjadi berkat bagi orang lain. Kerajaan sorga adalah tempat dimana altruisme dibangun sebesar-besarnya sehingga burung-burung dapat bersarang di dalamnya; menjadi berkat bagi dunia yang gelap. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070415.htm

Eksposisi Injil Matius 13 : CONDITION OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, November 16th, 2007

Ringkasan Khotbah : 1 April 2007

Condition of the Kingdom

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats : Mat. 13:24-29

Kita telah memahami sebelumnya bahwa Kerajaan Sorga bukan bersifat duniawi atau materi melalui perumpamaan, Tuhan Yesus membukakan hal Kerajaan Sorga yang berkait erat dengan iman dan respon manusia terhadap iman. Pada perumpamaan kedua kembali Tuhan Yesus membukakan tentang hal Kerajaan Sorga khususnya tentang kondisi dan situasi Kerajaan Sorga.

Alkitab membukakan bahwa Kerajaan Sorga itu tidak sama dengan yang dipikirkan oleh manusia. Banyak orang pikir Kerajaan Sorga itu gereja Tuhan dimana di dalamnya berisi orang-orang Kristen. Calvin pun ternyata pernah mempunyai pemikiran yang salah tentang Kerajaan Sorga. Calvin beranggapan  Kerajaan Sorga itu adalah gereja dimana di dalamnya berisi anak-anak Tuhan yang baik dan taat maka untuk menjadikan seorang Kristen itu baik dan taat dibutuhkan pengajaran firman yang ketat dan benar. Perlu diingat, konteks Eropa pada jaman itu, sebagian besar orang sudah Kristen namun mereka tidak mendapat pengajaran Alkitab yang ketat dan benar. Calvin pun mulai mengajar setiap pagi tiap-tiap harinya, dia mengeksposisi ayat demi ayat dengan solid yang dapat kita jumpai sampai hari ini. Calvin beranggapan pengajaran yang salah itulah yang membuat orang Kristen tidak bertumbuh dan berbuah. Namun setelah sekian lama ia mengajar ternyata tidak ada perubahan dalam diri mereka sampai kemudian ia dibukakan akan perumpamaan tentang lalang dan gandum.   

Pertama, Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladang-Nya. Benih yang baik itu seharusnya menghasilkan gandum yang baik akan tetapi ternyata, pada waktu semua orang tidur, datanglah musuh menaburkan benih lalang di antara gandum. Di tengah ladang itu kini, tumbuh lalang dan gandum; kedua tanaman ini kelihatan sama tetapi secara esensi berbeda. Jelaslah, bahwa yang dimaksud dengan Kerajaan Sorga itu bukanlah gereja. Kerajaan Sorga digambarkan dengan ladang dimana orang-orang di dalamnya digambarkan dengan gandum dan lalang. Calvin mulai menyadari ada dua esensi yang berbeda, yaitu: 1) gereja yang kelihatan, visible church, yakni gereja dengan papan nama dengan beberapa orang yang menjadi anggota jemaat. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua orang di dalamnya adalah warga Kerajaan Sorga? Jawabannya adalah belum tentu, tidak semua orang yang menjadi suatu anggota gereja maka ia termasuk warga Kerajaan Sorga maka, 2) gereja yang tidak kelihatan, invisible church, yakni gereja yang terdiri dari umat Allah yang sejati.   Sejak itu, Calvin pun mulai menekankan penginjilan di dalam gereja disamping pengajaran yang ketat dan benar. Apalah artinya semua pengajaran yang baik kalau semua itu tidak mengubahkan hidup mereka. 

Jangan campuradukkan invisible church dan visible church. Dalam gereja yang kelihatan, kita harus memilah antara lalang dan gandum. Secara esensi, gereja adalah umat Allah sejati. Kekristenan menekankan gandum haruslah dipelihara sedemikian rupa supaya menghasilkan buah yang baik dan membatasi lalang dengan demikian tidak bertumbuh dan berkembang. Dari perumpamaan ini,  Matthew Henry menyadari pada saat gereja itu tertidur maka itulah waktunya iblis datang menabur benih lalang di dalamnya. Lain halnya kalau gereja itu setia dan waspada maka masuknya dan pertumbuhan lalang dapat dihambat. Hati-hati, si jahat tidak akan pernah tinggal diam; sewaspada apapun kita dan berjaga-jaga, iblis yang licik akan berusaha dengan segala cara memasukkan benih lalang dan mencemari ladang milik si tuan. Karena itu, hendaklah kita sadar dan janganlah tertidur sehingga iblis dengan bebas menebar benih lalang ke dalamnya. Ini menjadi salah satu kegagalan gereja saat ini yang tidak menjaga ladang gandumnya dengan baik.    

Di suatu daerah, seorang pendeta muda dipercayai menggembalakan sekelompok jemaat di sebuah gereja namun karena beberapa faktor tertentu, membuatnya tidak dapat menjaga ladangnya dengan baik akibatnya berbagai pengajaran mulai masuk. Sementara waktu, secara kuantitas jumlah jemaat menjadi bertambah namun tidak secara kerohanian, kekacauan dan perpecahan mulai terjadi di dalam gereja. Sesungguhnya, jumlah jemaat yang bertambah palsu, mereka tidak pernah berhenti menuding yang salah demikian juga dengan para rasul, banyak itu tidak lebih hanyalah lalang belaka. Ketika si tuan itu membawa benih baik yang murni maka sudah menjadi tugas penjaga ladang untuk menjaga agar ladang itu tidak terkontaminasi dengan demikian gandum itu dapat menghasilkan buah berlipat ganda. Adalah menjadi tugas si penjaga ladang menghambat pertumbuhan lalang dan menjaga ladangnya. Itulah sebab, gereja reformed sangat ketat menjaga mimbar, setiap pengkhotbah haruslah mempunyai pengertian theologi yang benar dan ia harus diuji terlebih dahulu dengan demikian pertumbuhan lalang dapat dihambat. Perhatikan, menjaga ladang itu bukan hanya tugas seorang pendeta tetapi setiap anak Tuhan dipanggil untuk senantiasa waspada dan tidak menjadi terlelap. Perhatikan yang membawa ajaran sesat ke dalam gereja justru dilakukan oleh para jemaat itu sendiri dan jemaat tidak cukup waspada bahkan jemaat tidak memahami mana yang salah dan mana yang benar. Karena itu, jemaat harus menuntut diri sendiri untuk belajar selain mendapat pengajaran dari mimbar dan para pengajar juga melalui buku-buku yang benar yang ajarannya dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga ia bertumbuh dalam iman dengan demikian jemaat juga turut serta menjaga supaya ladang ini tidak diacak-acak oleh iblis. Biarlah gereja Tuhan itu hanya menjadi tempat dimana benih yang baik ditaburkan dan bertumbuh dan berbuah lebat dan berlipat ganda.

Kedua, Sepintas memang lalang dan gandum ini sangat mirip namun perhatikan, sesungguhnya si penjaga ladang itu dapat membedakan antara lalang dan gandum. Ia seorang yang ahli yang dapat membedakan antara lalang dan gandum. Berbeda halnya dengan orang awam yang tidak biasa bekerja di ladang akan sukar untuk membedakan antara lalang dan gandum. Demikian pula halnya di dalam gereja, kalau kita tidak peka sukar bagi kita membedakan antara palsu dan asli. Sebagai contoh, apakah karena semua mobil itu beroda empat, mempunyai satu kemudi dan ciri-ciri lain yang sama maka kita langsung menyimpulkan kalau semua mobil itu sama? Sepintas memang kelihatan sama tetapi seorang yang ahli di bidang permobilan langsung dapat membedakan bahkan dapat menyebutkan perbedaan dengan detail berbagai jenis mobil. Ini urusan di dunia materi pertanyaan bagaimana dengan hal Kerajaan Sorga? Hal Kerajaan Sorga adalah hal yang peka karena di situ ada dua unsur yang sangat mirip, yaitu gandum dan lalang dan hanya seorang ahli yang dapat membedakan diantara keduanya. 

Kekristenan dipanggil untuk mempunyai ketajaman membedakan yang palsu dan asli. Kekristenan dipanggil untuk menyatakan kebenaran di tengah dunia berdosa. Seorang Kristen yang melihat ketidakadilan atau ketidakbenaran di tengah dunia tetapi ia tidak berani menyatakannya, ia hanya diam tidak peduli maka ia telah berdosa terhadap Tuhan, yakni dosa akan ketidakpedulian, dosa akan ketidakpekaan akan kebenaran. Tuhan ingin kita mempunyai kepekaan sehingga kita dapat membedakan antara lalang dan gandum. Hendaklah kita mengevaluasi diri apakah kita termasuk dalam jenis gandum ataukah lalang? Kalau seseorang itu gandum asli, ia pasti berasal dari benih gandum yang baik - benih firman yang ditaburkan oleh Kristus. Anak Tuhan sejati yang berasal dari benih yang baik akan nampak dari responnya, seberapa jauhkah ia bereaksi terhadap firman, seberapa jauhkah ia hidup dan bertumbuh dalam kebenaran firman? Seorang yang berasal dari benih yang buruk, ia akan menolak firman, ia tidak akan sejalan dengan firman sebaliknya, ia lebih suka dengan segala sesuatu yang palsu. 

Alkitab menegaskan barangsiapa mengasihi Kristus, ia memegang perintah-Nya dan melakukannya; barangsiapa percaya pada Kristus maka ia adalah murid-Ku. Seorang murid sejati adalah seorang yang setia pada Firman dan mengerti kebenaran; dan orang yang berada dalam kebenaran maka kebenaran itu akan memerdekakan (Yoh. 8). Kalau seorang mengaku percaya kepada Kristus tetapi ia tidak hidup dalam firman, tidak mencintai firman, tidak setia dengan firman maka pertanyaan sesungguhnya, ia gandum atau lalangkah? Banyak orang yang beranggapan salah bahwa hanya dengan percaya Kristus maka manusia akan diselamatkan dan beroleh hidup kekal. Pernyataan itu tidak berhenti sampai di situ saja tetapi yang menjadi pertanyaan lebih lanjut adalah percaya seperti apa? apakah hanya sekedar pernyataan kosong yang tidak ada makna? Ingat, meskipun kita telah menjadi Kristen dan ke gereja selama puluhan tahun namun kalau tidak ada perubahan dalam diri membuktikan kita bukan murid sejati; kita tidak lebih hanya lalang yang hanya memanipulasi firman demi memuaskan keinginan dan jiwa berdosa kita. Tuhan Yesus membukakan kebenaran kenapa orang tidak dapat mengerti firman karena sesungguhnya, mereka tidak lebih adalah anak iblis. Ironisnya dibukakan tentang hal ini tidak menjadikan mereka bertobat sebaliknya mereka melawan Tuhan Yesus bahkan mereka melempari Tuhan Yesus dengan batu dan bermaksud membunuh-Nya. 

Adalah tugas setiap Kristen sejati menyatakan kebenaran di tengah dunia berdosa dan menyadarkan manusia akan dosa. Pada jaman Perjanjian Lama, para nabi dengan keras menyatakan mana sejati mana mereka dengan tegas menyatakan akan kesalahan. Hari ini, ketika orang dibukakan akan kebenaran orang tidak berterima kasih dan bertobat tetapi malah menuduh balik bahwa ia telah menghakimi. Perhatikan sikap si tuan pemilik ladang, ketika si penjaga ladang itu memberitahukan kepada tuannya tentang benih lain yang bercampur dengan gandum, si tuan tidak menyalahkan atau menuduh si penjaga ladang telah membuat tuduhan yang salah. Tidak! Perhatikan, ketika si penjaga meminta ijin supaya ia mencabut lalang ini, si tuan tidak mengijinkannya. Inilah yang dimaksud dengan menghakimi; ketika kita dapat memilah antara salah dan benar maka tindakan melakukan vonis bukan hak kita. Orang seringkali lebih ingin bertindak menurut keinginan kita. Si tuan tidak langsung mencabut lalang, disini kita melihat kesabaran anugerah Tuhan sekaligus spirit of the Kingdom. Cara kerja Tuhan berbeda dengan cara dunia. 

Di dunia tidak mengenal toleransi, orang langsung menindak menurut caranya sendiri sebaliknya, Tuhan masih berbelas kasih, Tuhan masih panjang sabar memberikan kesempatan pada kita untuk bertobat. Karena itu, jangan sia-siakan anugerah Tuhan. Tuhan punya cara dan waktu tersendiri untuk menentukan vonis. Tuhan tidak membiarkan kita yang melakukan vonis karena alasan yang sangat signifikan, yakni ketika mencabut lalang, kemungkinan gandum ikut tercabut juga. Ketahuilah, Tuhan Yesus tahu kalau ia mempunyai bendahara yang tidak jujur meskipun para murid yang lain tidak tahu dan perlu diingat, bukan Tuhan yang memilih Yudas untuk jadi bendahara; Tuhan memilih dia menjadi murid. Dalam cinta kasih Tuhan, Dia berkali-kali memperingatkan Yudas melalui berbagai pengajaran bahkan di detik terakhir yakni pada perjamuan terakhir, Tuhan Yesus langsung menunjuk: dialah yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya, dia yang menyerahkan Aku namun toh peringatan keras itu tidak menjadikan Yudas bertobat. Yudas masuk dalam kebinasaan kekal. 

Hendaklah kita belajar dari sejarah, kalau Tuhan berpanjang sabar pada bangsa

Israel

maka itu Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertobat namun mereka tidak sadar sampai akhirnya Tuhan murka dan menghukum mereka dalam kebinasaan. Ketika kita melihat cinta kasih Tuhan, seberapa jauhkah hal itu menyadarkan kita untuk bertobat?   

Ketiga, Alkitab membukakan sekalipun banyak lalang yang tumbuh, hal itu bukan menjadi halangan gandum untuk bertumbuh. Kerajaan Sorga itu akan tetap bertumbuh namun pada titik terakhir pasti akan datang penghakiman Tuhan. Jangan pernah berpikir akan ada pengecualian buat anak Tuhan. Tidak! Tuhan menuntut kita untuk berbuah, tidak ada alasan  yang membuat kita tidak berbuah. Banyak orang Kristen yang berdalih segala macam alasan karena ia tidak mau berbuah. Jangan pernah berpikir karena Tuhan cinta dan penuh anugerah maka lalang dapat masuk ke dalam lumbung Tuhan. Tidak! Ingat, lalang akan dibakar, pohon yang tidak menghasilkan buah harus dipotong. Allah sejati tidak berkompromi dengan dosa. Allah telah memilih dan menetapkan kita supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap. 

Warga Kerajaan Sorga sejati adalah orang yang menghasilkan buah dan orang seperti inilah yang akan menjadikan Kerajaan Sorga ini besar seperti sebuah pohon sehingga burung dapat bernaung dalamnya. Orang yang mengaku Kristen tetapi ia tidak pernah berbuah, ia hanya menanti kebajikan dan belas kasihan Tuhan tanpa pernah berbuat apa-apa maka ia bukanlah anak Tuhan sejati; ia tidak lebih hanya lalang yang harus dibakar. Tidak ada kemungkinan lain selain dibuang. Alkitab berulang kali menegaskan kalau garam itu menjadi tawar maka ia akan diinjak dan dibuang; pohon anggur yang tidak berbuah harus dipotong, dibuang dan dibakar. Hal ini seharusnya menyadarkan manusia bahwa Kedaulatan Allah tidak dapat dipermainkan. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita menghasilkan buah? Adalah tugas dan tanggung jawab setiap anak Tuhan untuk membesarkan seluruh pekerjaan Tuhan. Inilah inti dari perumpamaan lalang dan gandum yang Tuhan mau coba gambarkan melalui perumpamaan Kerajaan Sorga. 

Dunia semakin hari semakin menuju pada kehancuran biarlah kita dipakai Tuhan dan berani menyatakan kesalahan dan membawa mereka pada kebenaran sejati. Tuhan panggil kita menjadi alat-Nya yang menerangi dunia yang gelap dan menjadi garam yang mengasinkan dunia yang hambar dengan demikian kita dapat menghasilkan buah dan buah kita lebat. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070401.htm

Eksposisi Injil Matius 13 : IMAN DAN RESPON FIRMAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Thursday, November 8th, 2007

Ringkasan Khotbah : 25 Maret 2007

Iman & Respon Firman

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:1-3, 13, 19

 

Puji Tuhan, hari ini kita sampai pada perenungan dari Injil Matius pasalnya yang ke-13 yang membahas tentang Kerajaan Sorga. Hal tentang Kerajaan Sorga ini sangatlah signifikan untuk kita mengerti supaya orang tidak disesatkan oleh konsep dunia yang materialistik dan sekularistik. Konsep yang salah juga pernah terlintas dalam pemikiran para murid Tuhan Yesus bahkan sampai detik terakhir, Tuhan Yesus naik ke sorga mereka masih bertanya-tanya “dimanakah Kerajaan Sorga itu.“ Mereka tidak memahami bahwa Kerajaan Sorga itu telah ada dalam diri Kristus. Karena itulah, Tuhan Yesus memaparkan tentang hal Kerajaan Sorga melalui beberapa perumpamaan.

Kita telah memahami bahwa injil Matius tidak ditulis berdasarkan kronologi atau urutan waktu kejadian. Tidak! Injil Matius memaparkan satu tema besar, yakni Kerajaan Sorga. Sebelumnya di pasal 12, kita telah merenungkan tentang Ketuhanan Kristus dimana Kristus menjadi pusat dari seluruh kehidupan manusia – Kristus adalah Raja di atas segala raja maka muncul pertanyaan bagaimana bentuk Kerajaan-Nya? Kerajaan Sorga tidak bisa direalisasi secara otak manusia biasa karena Kerajaan Sorga bukan berbicara tentang realita material. Kerajaan Sorga disini berbicara tentang realitas spiritual karena itu, Tuhan Yesus menjelaskan melalui perumpamaan.

Pertama, adalah anugerah kalau kita dapat menjadi bagian dari Kerajaan Sorga – Tuhanlah yang lebih dahulu membukakan pada kita sehingga kita dapat mengerti Firman.

Tentang hal ini telah ditegaskan oleh Tuhan Yesus sebab Tuhan Yesus sendiri menegaskan sekalipun mereka melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:13-15). Jelaslah bahwa tidak semua orang dapat mengerti dan memahami tentang hal Kerajaan Sorga. Adalah pendapat yang salah kalau orang menyatakan bahwa Tuhan Yesus memakai perumpamaan atau kejadian sehari-hari supaya orang dapat langsung mengerti. Fakta membuktikan ternyata tidaklah demikian sebab hati mereka sangat bebal, mereka telah mendengar dan melihat tetapi toh mereka tetap tidak mengerti. Jadi, bukan karena kepandaian atau kehebatan kita kalau kita  dapat mengerti Firman. Itu semata-mata karena anugerah.

Jangan pernah berpikir bahwa Allah yang membutuhkan manusia dan kita telah berjasa menolong Tuhan. Tidak! Tidak ada tempat bagi orang yang sombong dan bebal dalam Kerajaan Sorga. Sungguh merupakan suatu anugerah yang besar kalau Tuhan memanggil kita menjadi bagian dalam Kerajaan Sorga. Hal itu seharusnya membuat kita makin menghargai anugerah Tuhan, kalau bukan Tuhan yang beranugerah maka kita tidak akan pernah mendengar Firman; kalau bukan Tuhan yang panggil, kita tidak akan pernah mengenal Dia dan menjadi Kristen. Seorang Kristen yang take it for granted yang menyepelekan anugerah termasuk dalam kategori orang bebal. Ia telah mendengar Firman tetapi tidak ada respon karena ia telah mengeraskan hati dan tidak mau diubahkan oleh Firman. Tuhan Yesus menyatakan tentang hal Kerajaan Sorga ini dengan perumpamaan sebab Kerajaan ini tidak dibukakan untuk semua orang. Hanya orang yang mau tunduk mutlak kepada Tuhan akan mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus dengan tegas menyatakan pada para murid bahwa kepada mereka diberikan anugerah untuk mengerti tentang hal Kerajaan Sorga sedang kepada mereka tidak.

Kedua, Kerajaan Sorga merupakan suatu kondisi yang sifatnya non material sehingga sukar untuk didefinisikan. Itulah sebabnya, orang sukar mengerti tentang hal Kerajaan Sorga. Berbeda halnya kalau kita menjelaskan sesuatu yang sifatnya material. Bisakah kita mendefinisikan Allah? Orang yang dapat mendefinisikan Allah membuktikan Ia bukanlah Allah sejati sebab Allah itu dapat kita batasi dengan konsep pemikiran kita. Memang, bukanlah hal yang mudah untuk kita yang berada di bawah memahami hal-hal yang sifatnya metafisik yang ada di atas kecuali Tuhan yang membukakan pada kita. Sangatlah mudah bagi kita untuk memahami segala sesuatu yang ada di bawah kita, karena mereka berada di bawah penguasaan yang di atas. Untuk memahami orang yang sejajar saja tidaklah mudah, kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka apalagi untuk memahami sesuatu yang berada di atas kita. Untuk memahami orang lain saja kita seringkali mengalami kesulitan kecuali adanya revelation, pengungkapan dari obyek yang kita mau mengerti maka dalam hal ini obyek berubah menjadi subyek. Ketika kita mau memahami si A maka dalam hal ini posisi A sebagai obyek dan kita adalah subyek. Kita memakai analogi manusia namun sampai batas tertentu saja, kita dapat mengenal yang kelihatan di luar dirinya akan tetapi, kita tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka, isi hati mereka, dan masih banyak lagi. Meski kita membedah dan membuka isi kepalanya dan mengeluarkan otaknya, kita tetap tidak akan memahaminya sebab letak permasalahan bukan pada materi sedang yang ingin kita pahami melampaui dunia materi. Maka satu-satunya cara adalah si A yang menjadi subyek sedang kita yang menjadi obyeknya. Satu-satunya cara kita dapat memahami adalah si A yang membukakan dirinya pada kita barulah kita dapat mengerti. 

Berbeda halnya kalau kita hendak memahami suatu benda yang sifatnya materi maka kita dapat membongkar dan mempelajari spesifikasinya, cara kerjanya, dan lain-lain. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana kita memahami sesuatu yang sifatnya non materi? Kecuali Tuhan sendiri yang membukakan pada kita barulah kita dapat memahami namun toh meski Tuhan telah menyatakan diri masih banyak orang yang tidak mengerti. Jadi, dapatlah disimpulkan kalau orang dapat mendefinisikan “allah“ maka ia pasti tidak mengenal “allah“ sebab yang ia sebut sebagai “allah“ itu pastilah “allah palsu“ karena posisinya berada di bawah manusia. Dalam seluruh tataran theologis ketika kita mau mendefinisikan Allah maka kita akan terjepit dalam konsep negative definition yang memberikan batasan negasi, membatasi di titik tertentu tetapi karena terlalu besar sehingga kita hanya bisa menata sisanya dan orang sudah menganggap seolah-olah ia sudah mendefinisikan “allah“ padahal sesungguhnya, itu bukan definisi sejati. 

Demikian halnya ketika orang mendefinisikan tentang Kerajaan Allah maka tidak ada suatu definisi pasti yang dapat menjelaskannya sehingga cara satu-satunya adalah dengan menggunakan perumpamaan. Perumpamaan mau menggambarkan sesuatu aspek tetapi dari sisi yang lain sehingga orang mempunyai sedikit gambaran tentang realita yang ada. Namun itu tidak dapat menjelaskan realita asli secara keseluruhan sebab realita asli lebih besar dari perumpamaan. Kerajaan Sorga bukanlah bersifat materi duniawi; Kerajaan Sorga disini tidak sama dengan kerajaan Herodes, kerajaan Julius Caesar atau kerajaan-kerajaan lain. Itulah sebabnya, Kristus harus menggunakan perumpamaan Kerajaan Sorga. Melalui perumpamaan kita dapat memahami sesuatu yang melampaui semua batasan materi.

Ketiga, Tuhan Yesus sendiri memberikan makna dari perumpamaan tentang penabur sebagai acuan penafsiran. Perumpamaan digambarkan sebagai sesuatu yang bisa multiple interpretation sehingga dibutuhkan suatu acuan interpretasi yang sangat akurat untuk mendapatkan jawaban. Kata “bagaikan“ bisa diinterpretasi berbeda oleh setiap orang. Namun ketika manusia seolah-olah diberikan hak untuk bisa menafsirkan dengan bebas maka orang mulai menyalahgunakannya, memanipulasi firman untuk keuntungan diri maka itu menjadi titik matinya. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menyatakan mereka melihat tapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan mereka tidak mengerti. Karena itu, hendaklah kita waspada ketika kita menafsirkan Alkitab dengan demikian kita tidak salah dan terjebak dalam konsep yang salah. 

Tuhan Yesus sendiri telah memberikan makna tentang perumpamaan penabur namun ironisnya, orang masih menafsirkan sendiri. Bangsa Israel telah mendapatkan anugerah Allah yang begitu besar, mereka dipelihara sedemikian rupa di padang gurun namun toh mereka masih bersungut-sungut, meminta ini dan itu. Perhatikan, Allah masih menuruti semua keinginan mereka namun tidak ada satu pun dari mereka yang masuk tanah Kanaan kecuali Yosua dan Kaleb (Mzm. 78). Jangan pernah berpikir kita dapat mempermainkan Allah sedemikian rupa. Banyak orang yang merasa sudah memahami firman. Banyak orang memakai istilah Kerajaan Sorga untuk menggambarkan segala kenikmatan duniawi, segala sesuatu yang sifatnya hedonistik. Setiap kali orang berpikir tentang Kerajaan Sorga maka yang ada dalam pikirannya adalah emas, tidak ada kesusahan, tidak ada penyakit, tidak ada kematian dan bersama dengan Kristus kita mempunyai kuasa memerintah orang lain. Sadarlah, bukan kita yang memerintah, kitalah yang seharusnya diperintah oleh Kristus. Kristus menjelaskan arti perumpamaan ini kepada para murid dengan demikian mereka tidak salah mengerti tentang hal Kerajaan Sorga. Hal Kerajaan Sorga itu seperti seorang penabur penabur itu adalah Anak Manusia, yaitu Kristus Yesus; benih itu adalah Firman Tuhan dan empat macam kondisi tanah itu adalah manusia. 

1) benih jatuh di pinggir jalan dan dimakan burung sampai habis, artinya ketika benih Firman itu ditabur, orang tidak mau berespon, ia bebal maka iblis langsung mengambil semua daripadanya. Titik ini menjadi titik kehancuran yang paling fatal bagi orang yang tidak meresponi Firman. Hari ini, orang baru mau percaya kalau ia penjelasan itu dapat dimengerti secara logika dan rasional. Salah! Titik permasalahan bukan pada otak tetapi hati kita. Iman mendahului pengertian bukan sebaliknya, pengertian mendahului iman. Di titik pertama orang menolak Firman berarti ia berafiliasi pada iblis maka tidaklah heran kalau semua taburan benih Firman itu tidak berdampak pada dirinya. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita membuka diri menerima Firman dan percaya pada Kristus? Seberapa jauhkah kita mau setia dan taat pada Firman? Ingat, pikiran dan hati kita yang harus tunduk pada Firman, emosi kita diubahkan oleh Firman. Iman harus kembali pada Firman Tuhan. Kunci Kerajaan Sorga, yaitu beriman pada Kristus Sang Firman hidup dan setia pada-Nya. Adalah anugerah kalau kita dapat beriman pada-Nya dan menjadi bagian dari Kerajaan-Nya. 

2) benih jatuh di tanah berbatu, tanahnya tipis maka benih itupun segera tumbuh tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebatang pohon dapat bertumbuh dengan baik dan subur kalau ia mempunyai akar yang kuat. Makna dari perumpamaan ini adalah orang yang menerima firman dengan gembira tetapi ketika datang penindasan atau penganiayaan, ia menjadi murtad. Jangan tertipu dengan sesuatu yang fenomena, kelihatan indah di depan padahal di dalamnya keropos. Gereja lupa bahwa untuk menjadikan seseorang Kristen bukan dibutuhkan bahagia yang sifatnya fenomena tetapi dibutuhkan akar yang kuat dan mendalam. Kondisi Kekristenan yang berada dalam kenyamanan digambarkan oleh J. I. Packer sebagai Hot Bathup Religion. Orang Kristen yang murtad akan sukar untuk percaya kembali dan menjadi Kristen karena ia telah mempunyai konsep yang salah tentang Kekristenan – imannya bukan iman yang sejati. Orang yang mau mengerti Kerajaan Sorga maka ia harus mempunyai sikap yang tepat terhadap Firman. 

3) benih jatuh di semak duri, makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Kondisi ini menggambarkan orang yang mendengar firman lalu kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman sehingga tidak berbuah. Orang mau firman tetapi juga mau dunia, hidup dualistis akibatnya adalah kehancuran, semak menghimpitnya. Kristus menuntut orang yang mau berbagian dalam Kerajaan Sorga maka ia harus menjadikan firman sebagai dasar hidupnya. Firman menegaskan manusia tidak bisa mempunyai dua tuan karena ia akan mengasihi yang satu dan membenci yang lain; manusia tidak bisa menyembah pada Allah sekaligus mamon. Mamon adalah dewa uang, jadi kata “mamon“ disini lebih tepat diterjemahkan sebagai uang. Sesungguhnya, orang yang hidupnya masih dicengkeram oleh materialisme membuktikan ia bukanlah orang Kristen sejati sebab ia pasti akan mati.

4) benih jatuh di tanah baik dan menghasilkan buah. Untuk masuk dan mendekati Kerajaan Sorga haruslah melalui jalur yang Tuhan sudah tetapkan, orang tidak bisa masuk dalam Kerajaan Sorga dengan jalur yang kita tetapkan sendiri. Kerajaan Sorga hanya bagi mereka mengasihi Kristus dan orang yang mengasihi adalah ia yang memegang perintah-Ku dan melakukannya (Yoh. 14:21). Mengasihi bukan sekedar ucapan tetapi harus nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Biarlah hari ini kita mengevaluasi diri kalau kita ingin berbagian dalam Kerajaan Sorga, seberapa jauhkah kita mencintai Kristus Sang Raja? Seberapa jauhkah engkau memegang Firman-Nya? Sudahkah kita menjadikan diri kita sebagai tanah yang subur dimana kita hidup di dalam Firman dan berbuah lebat? Dan ingat, itu bukan karena kehebatan kita kalau kita dapat masuk dalam Kerajaan Sorga. Semua semata-mata karena anugerah Tuhan. Tuhanlah yang lebih dulu membukakan mata hati kita. Karena itu, janganlah engkau memegahkan diri dan menjadi sombong. Biarlah kita menghargai anugerah Tuhan itu, kita bertumbuh dan berbuah sehingga kita menjadi saksi bagi-Nya. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070325.htm

Eksposisi Injil Matius 12 : IBU-KU, SAUDARA-KU (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, November 2nd, 2007

Ringkasan Khotbah : 04 Maret 2007

Ibu-Ku, Saudara-Ku

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:46-50

   

Hari ini kita masuk dalam bagian akhir yang sangat signifikan dari keseluruhan tema The Lordship of Christ. Namun orang seringkali menganggap bagian akhir sekedar tambahan yang tidak penting. The Lordship of Christ bukan sekedar teori atau doktrin tetapi Ketuhanan Kristus haruslah terimplikasi dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus menyatakan siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Mat. 12:50). Perhatikan, ayat ini janganlah disalah mengerti berarti orang Kristen boleh membenci atau mengabaikan orang tua, saudara dan segala hal yang menjadi milik kepunyaannya. Tidak! Memang di Alkitab ada beberapa ayat yang "seolah-olah" mendukung, seperti ada tertulis: "ia yang tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, … ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:26). Alkitab tidak mengajar kita menjadi penentang keluarga atau sesama sebab dalam hukum Taurat ada tertulis: hormatilah ayahmu dan ibumu dan tentang hal ini diulang kembali dalam Perjanjian Baru. Jadi, untuk menafsirkan suatu ayat harus dilihat konteksnya secara keseluruhan.

Sadarkah kita kalau kitapun seringkali berpikir dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat, yakni menafsirkan satu kejadian dan melepaskannya dari konteks keseluruhan. Sebagai contoh, suatu hari ketika Pdt. Dr. Stephen Tong sedang menegakkan kebenaran Firman, tiba-tiba seorang bapak berdiri dari kursi dan bermaksud hendak meninggalkan ruangan, dengan sangat keras Pdt. Dr. Stephen Tong menegur dia. Orang tidak menyadari kalau ini merupakan cara iblis merusak pekerjaan Tuhan. Orang yang tidak peka langsung berpikir negatif terhadap tindakan Pdt. Dr. Stephen Tong. Hati-hati, iblis sengaja memakai kita menjadi alatnya.

Keseluruhan tema Injil Matius 12 adalah the Lordship of Christ maka bagian akhir inipun tidak boleh dilepaskan dari tema. Allah sebagai pemegang otoritas tertinggi dan Kristus adalah Tuhan dan hanya kepada Dia sajalah kita harus menyembah. Sebab segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia, bagi Dia kemuliaan sampai selama-lamanya. Hal ini yang diajarkan dan ditekankan Kristus sepanjang pasal 12. Iblis tidak ingin semua orang kembali pada Bapa dan men-Tuhankan Kristus dalam hidupnya, iblis pakai orang yang paling dekat, yaitu ibu dan saudara untuk menghancurkan seluruh konsep pengajaran-Nya. Tuhan Yesus dihadapkan pada budaya timur dimana orang tua berotoritas pada anak.

Kebenaran Allah harus melampaui semua kebudayaan. Allah adalah Tuhan atas budaya. Sesungguhnya, orang tua Tuhan Yesus telah memahami bahwa Allah adalah Tuhan atas budaya, yaitu ketika ibu-Nya mendapati Tuhan Yesus berada di Bait Allah saat berumur 12 tahun, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?“ (Luk. 4:49). Dalam konsep budaya, ordo duniawi lebih dominan apalagi dalam budaya timur dimana orang yang mempunyai jabatan, orang yang berusia lebih tua, di atas segala-galanya. Prinsip kebenaran tentang Ketuhanan Kristus ini seringkali berbenturan dengan konsep budaya. Akibatnya Kekristenan mulai berkompromi dengan konsep the Lordship of Christ. Alkitab membukakan kebenaran bahwa Kedaulatan Allah itu melampaui segala sesuatu yang ada di dunia ini, the sovereignty of God beyond all things. Kedaulatan Allah haruslah menjadi titik pusat utama. Ada tiga hal besar yang harus kita perhatikan: 

1. Connectivity

Orang berpendapat bahwa orang tua atau saudara khususnya yang mempunyai hubungan darah itu lebih mempunyai hak dibandingkan dengan orang lain yang dekat dengan kita. Akibatnya kalau kita lebih mementingkan orang lain daripada orang tua atau saudara kandung maka mereka akan menjadi sangat marah sebab ikatan darah ini secara budaya menjadi ikatan laten. Connectivity bukan didasarkan pada hubungan darah tetapi terletak pada kebenaran dan cinta kasih seperti yang tertulis dalam Amsal 18:24b. Jadi, bukan karena ia mempunyai hubungan darah dengan kita sehingga ia harus lebih dekat dengan kita. Tidak! Hubungan seperti itu adalah hubungan sebatas material karena tidak dibangun diatas konsep yang benar. Perhatikan, kalau saudara kandung atau orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita tidak hidup dalam kebenaran sejati dan hidup dalam cinta kasih seperti yang Kristus teladankan maka ia bukanlah saudara. Jadi, relasi disini bukan karena hubungan darah tetapi relasi karena kebenaran dan cinta kasih.Hubungan darah bukanlah jaminan hubungan terjalin baik sebab hari ini banyak orang tua membunuh anak kandung, begitu juga sebaliknya. Realita membuktikan orang yang mempunyai hubungan darah itu justru mencelakakan kita dan orang yang tidak mempunyai hubungan darah itu justru lebih hidup dalam kebenaran bersama bahkan ia lebih mengasihi kita; ia lebih dari sekedar sahabat.

Konektivitas dibangun atas dasar yang seperti apa itu sangat menentukan hidup kita. Kalau konektivitas tidak dibangun di atas kebenaran dan cinta kasih sejati maka relasi yang terjadi sangatlah buruk. Alkitab mau menyatakan konektivitas dengan darah seharusnya menjadikan kita lebih waspada dan lebih peka. Apakah relasi yang sedang kita bangun ini dibangun atas dasar kebenaran dan cinta kasih?

Alkitab sangat menekankan family altar; ibadah bersama di dalam keluarga; ibadah disini bukan sekedar rutinitas seolah-olah sedang membangun spiritualitas. Tidak! Keluarga adalah tempat dimana kebenaran dan cinta kasih yang murni itu dibangun. Dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibuku. Jelaslah bahwa konektivitas yang benar tidak dibangun di atas hubungan darah. Bangunlah konektivitas dengan cara berpikir yang tepat kalau tidak, Lordship of Christ menjadi hancur. Dalam situasi sedemikian sangat besar kemungkinan kita dipakai menjadi alat iblis sehingga hubungan darah itu menjadi rusak karena kita tidak berdiri dalam kebenaran dan cinta kasih. Hendaklah kita waspada dengan akal licik si iblis yang sengaja memakai saudara-saudara atau kerabat dekat kita untuk menjadi pencelaka kita. Janganlah kita berkompromi dengan budaya; kita lebih takut kalau orang tua atau saudara kita tersinggung atau sakit hati dengan perkataan kita menjadikan kita tidak taat pada Allah.

Ingat, kita tidak bisa menaruh satu kaki kita di sorga dan satu kaki di neraka. Men-Tuhankan Kristus berarti menetapkan konektivitas kita. Orang yang mau menyenangkan semua orang maka dia bukan akan menyenangkan semua orang tetapi ia justru akan menjadi terbuang karena ia akan menjadi musuh: 1) musuh Tuhan karena ia tidak setia pada kebenaran, 2) musuh kebenaran, karena semua kebenaran dikompromikan, 3) musuh orang-orang benar, karena orang benar tidak suka pada pengkhianat kebenaran, 4) musuh orang-orang yang tidak benar, karena ia juga merasa dikhianati. Sebagai anak Tuhan, kita harus men-Tuhankan Kristus dalam setiap aspek hidup kita bahkan atas orang tua atau saudara yang mempunyai hubungan darah dengan kita. Hati-hati, jangan masuk dalam permainan iblis yang sengaja menaruh kita diposisi kontroversial, yakni antara budaya dan hidup men-Tuhankan Kristus.

2. Priority

Prioritas merupakan bukti dari konektivitas. Semua akan kelihatan baik dan lancar selama tidak terjadi tabrakan atau selama kita tidak dihadapkan pada dua hal yang mengharuskan kita mengambil pilihan dan menetapkan suatu prioritas. Mana yang menjadi prioritas dalam kehidupan kita, Tuhan atau diri, Tuhan atau uang, Tuhan atau kekuasaan. Adalah mustahil kita menginginkan semua hal menjadi keinginan kita. Kita akan selalu dihadapkan pada suatu pilihan diantara banyaknya pilihan itu yang menuntut kita untuk mengambil keputusan pada waktu dan tempat yang sama. Sejauh manakah Lordship of Christ menguasai hidup kita? Men-Tuhankan Kristus akan sangat mudah diimplikasikan kalau kita tidak mengalami suatu benturan apalagi kalau kita dihadapkan pada suatu situasi yang paling pelik. Celakanya, banyak orang Kristen mengakui Tuhan sebagai yang utama namun fakta menyatakan kalau kita seringkali tidak rela kalau Tuhan diutamakan ketika kita berelasi dengan orang lain.

Tuhan Yesus memberikan teladan indah pada kita, Dia menunjukkan pada kita siapa yang seharusnya menjadi prioritas, yakni Allah. Dalam bagian ini hendaklah kita bijaksana dan peka sehingga kita tidak salah memilih mana yang utama dan mana yang sekunder. Tuhan menuntut keutamaan Tuhan di posisi yang paling utama. Ketuhanan Kristus bukan sekedar teori doktrinal atau sekedar pengetahuan yang mengisi otak kita. Tidak! Lordship of Christ haruslah terimplikasi dalam kehidupan kita. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita men-Tuhankan Kristus? Apakah dalam setiap keputusan yang kita ambil maupun relasi kita dengan sesama, Kristus menjadi prioritas? Kita telah memahami segala akal licik iblis maka hendaklah kita peka, janganlah kita dipakai iblis sebagai alat untuk menjepit anak kita diantara dua pilihan, yakni antara Tuhan atau orang tua.

Puji Tuhan, di dunia ini ada teologi Reformed yang ketat dengan pengajarannya untuk kembali pada Firman. Dunia sangat pragmatis, tindakan atau perbuatan yang mereka lakukan tidak didasarkan pada sesuatu yang jelas dan pasti sehingga dunia mudah sekali berkelit dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Sebagai Kristen yang sejati, kita harus taat mutlak Allah dan Ia ingin supaya kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita. Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk men-Tuhankan Kristus sebab iblis akan mencari segala cara supaya kita jauh dari Tuhan namun janganlah hal itu membuat kita hidup secara dualistik. Hidup kita akan terombang-ambing kalau kita tidak berpijak di dua tempat secara bersamaan. Hanya kembali pada kebenaran sejati dan men-Tuhankan Kristus sajalah hidup menjadi nikmat. Sampai sejauh manakah kita mengimpikasikan Firman? Seorang anak Tuhan sejati pasti mempunyai kerinduan dan bertekad melakukan kebenaran karena baginya yang terpenting adalah Tuhan. Hati nurani itu akan berbicara dan menegur ketika berbuat dosa. Biarlah kita mengevaluasi diri masihkah hati nurani itu berbicara?

Tentu kita dapat merasakan bagaimana perasaan ibu dan saudara-saudara Tuhan Yesus mendengar kalimat tajam yang dilontarkan oleh Tuhan Yesus bahkan Tuhan Yesus tidak menggubris kedatangan mereka. Dalam hal ini Tuhan Yesus dihadapkan pada dua pilihan yang mengharuskan ia memilih  suatu prioritas antara Allah atau ibu dan saudara-saudara-Nya. Orang seringkali menuntut Tuhan yang harus mengerti kita. Tidak! Justru manusialah yang harus tunduk pada kebenaraan sejati. Allah yang terutama atau mereka yang justru dibuang dari kebenaran. Prioritas membawa kita kembali pada suatu kebenaran – siapa yang menjadi titik utama. Prioritas berarti meletakkan siapa yang utama di posisi pertama. Alkitab mengajarkan carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambah pada-Mu (Mat. 6:33).

3. Authority

Ibu Tuhan Yesus mempunyai keinginan, yaitu bertemu dengan anaknya tetapi di sisi lain, Bapa ingin kebenaran sejati diberitakan. Pertanyaannya otoritas siapakah yang harus diikuti? Hari ini banyak gereja tidak berani menyatakan kebenaran – otoritas Allah yang utama apalagi di dunia timur yang lebih mementingkan otoritas orang tua. Perhatikan, otoritas orang tua hanyalah otoritas turunan; otoritas orang tua ini harus berada satu garis dengan garis otoritas Allah dimana otoritas Allah sebagai otoritas mutlak. Seorang anak hanya boleh taat pada orang tua yang takut akan Allah dan orang tua yang taat pada Allah. Karena ini berarti anak juga taat pada pada Allah. Celakanya, kalau ada otoritas lain yang tidak segaris maka muncullah konflik. Pada saat Kristus sedang menegakkan suatu prinsip kebenaran, yakni Allah sebagai pemegang otoritas mutlak dan Kristus adalah Tuhan, tiba-tiba iblis muncul menawarkan otoritas lain. Tuhan Yesus yang peka akan cara iblis yang licik dengan tegas Ia mengembalikan ke posisi yang asli – satu garis otoritas, yakni Bapa sebagai otoritas tertinggi, Kristus adalah Tuhan maka orang yang melakukan kehendak Bapa, ia saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, ialah ibu-Ku.

Dunia Timur salah kaprah mengartikan istilah hormat dan taat. Menghormati berarti kita tidak boleh berbuat kurang ajar pada orang tua dan mentaati harus kita lakukan sejauh orang tua itu tunduk dan taat pada perintah Allah sebagai otoritas tertinggi. Kalau orang tua mulai menyeleweng dari Allah maka anak tidak boleh taat padanya. Kalau orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, seperti melarang kita untuk tidak menjadi Kristen maka perhatikan, perintah itu tidak boleh ditaati; kita hanya boleh taat otoritas Allah. Inilah implikasi Kekristenan. Allahlah yang terutama dari apapun juga yang ada di dunia bahkan dari orang tua kita. Taat pada orang tua yang menyeleweng dari Tuhan sama artinya dengan kita berkhianat pada Allah. Jadi, hai para orang tua hendaklah kita sadar, kita tidak berhak menuntut anak untuk taat pada kita kecuali engkau takut kepada Tuhan dan setia menjalankan kehendak Tuhan. Sangatlah disayangkan berita kebenaran ini tidak lagi diberitakan di tengah dunia berdosa ini karena sesungguhnya mereka bukanlah seorang anak Tuhan sejati; orang ingin mendapatkan otorisasi pribadi dan tidak mau men-Tuhankan Kristus dalam hidupnya. Orang lebih memilih tidak menjadi pengikut Kristus daripada otorisasi pribadinya terganggu. Tuhan Yesus menuntut kita untuk taat mutlak pada otoritas tertinggi dengan mengimplikasikan Lordship of Christ dalam kehidupan kita.

Seorang penafsir menyatakan seorang yang menjadi juru bicara yang datang kepada Kristus yang menyampaikan kabar tentang kedatangan ibu dan saudara Tuhan Yesus itu telah dipakai menjadi alat iblis untuk membawa berita lain, membawa injil palsu untuk menghancurkan seluruh kebenaran Firman yang sedang dibangun oleh Kristus. Di tengah-tengah orang mendengar pengajaran kristus maka saat itu juga terjadi kontroversial, yakni orang-orang langsung berpandangan negatif dan menganggap Yesus sebagai anak yang tidak hormat pada orang tua. Setan berhasil mempengaruhi manusia untuk tidak taat pada Kristus khususnya para orang tua yang tidak ingin anak-anaknya menjadi pelawan-pelawan orang tua. Setan memakai momen itu menghancurkan seluruh pengajaran Kristus yang ketat yang telah dibukakan sepanjang satu pasal sebelumnnya, hanya dengan bagian kecil di terakhir. Inilah cara iblis. Hati-hati, jangan remehkan seorang penyambung lidah, mungkin kita menganggap peranannya sangat kecil tetapi ia telah berhasil merusak seluruh konsep kebenaran. Orang banyak yang tadinya memandang kepada Allah kini orang dihadapkan pada suatu masalah keduniawian, orang langsung melihat hubungan darah, orang melihat relasi yang ada dalam kesementaraan. Relasi vertikal yang dibangun menjadi hancur. Perhatikan dalam setiap momen dimana kebenaran Firman ditegakkan maka disana iblis juga makin giat bekerja, segala cara dipakai supaya manusia tidak mengikut pada Tuhan. Iblis menyadari musuh yang ia hadapi sekarang, yaitu Kristus Tuhan sangat berat.

Biarlah kita makin tajam, kita mengerti kebenaran, kita peka dengan segala akal licik iblis sehingga kita tidak dipakai menjadi alat sebagai pemberita injil palsu, the devil’s advocate di tengah-tengah berita suara Tuhan. Biarlah di tengah jaman yang semakin sulit ini kita dipakai menjadi alat untuk memberitakan Kebenaran Firman dan kita dipakai menjadi saksi-Nya. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070304.htm