Archive for December, 2007

Eksposisi Injil Matius 13 : RESPONSE TO THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Thursday, December 20th, 2007

Ringkasan Khotbah : 20 Mei 2007

Response to the Kingdom

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:53-58

Pada bagian terakhir tentang hal Kerajaan Sorga, Tuhan Yesus tidak lagi mengajar menggunakan perumpamaan tetapi Tuhan Yesus membukakan akan kondisi riil dan bagaimana seharusnya orang berespon terhadap Kerajaan Sorga. Penduduk Nazaret harusnya sangat bersyukur atas anugerah besar sebab Tuhan Yesus, Sang Kebenaran itu sendiri datang dan mengajar dengan penuh hikmat dan kuasa yang luar biasa bahkan dicatat mereka sangat takjub namun ironisnya, mereka menolak Yesus karena mereka mengenal orang tua dan semua saudara Yesus. Sungguh tak habis pikir, setelah mereka dibuat takjub oleh perbuatan dan pengajaran Tuhan Yesus, tiba-tiba pikiran mereka langsung tertutup; kuasa kebenaran dan berita firman dikalahkan oleh pengenalan mereka terhadap diri Yesus yang hanya seorang anak tukang kayu yang miskin. Pikiran mereka telah dikuasai sedemikian oleh pikiran berdosa dan sebagai kesimpulan mereka kecewa lalu menolak Tuhan Tesus. Sangatlah menyedihkan, hal ini sekaligus menjadi evaluasi bagi kita. Perhatikan, pandangan kita terhadap sesuatu sangatlah menentukan reaksi dan respon kita.

Ketika orang Yahudi melihat Kristus dari aspek Kerajaan Sorga – Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, Sang Raja dan Dia telah membuktikan siapa diri-Nya dengan pengajaran-Nya dan kuasa mujizat yang dahsyat, mereka sangat takjub namun semua kekaguman ini langsung hilang setelah mereka melihat dari aspek kerajaan dunia – Yesus tidak lebih hanya seorang anak tukang kayu. Pastilah respon dan pandangan orang Yahudi akan diri Yesus menjadi berbeda kalau seandainya Tuhan Yesus itu anak dari seorang raja besar seperti Herodes; mereka akan menghormati Dia. Inilah jiwa manusia berdosa. Mata manusia menilai segala sesuatu dari sudut pandang dunia seperti status, kekayaan, jabatan sehingga orang sulit melihat misi Kerajaan Sorga akibatnya orang menjadi kecewa. Keadaan inilah yang terjadi saat ini karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan sehingga muncul penolakan dan perlawanan dalam diri. Seandainya, orang Yahudi dapat melihat setitik saja dari sudut pandang Allah bahwa secara kapasitas, Yesus anak tukang kayu ini berbeda dibandingkan dengan orang lain – hanya Mesias yang sanggup melakukan kuasa mujizat dan hanya Allah saja yang mempunyai hikmat maka reaksi dan respon mereka pasti berbeda, orang akan semakin menyembah Dia karena Dia adalah Raja atas segala raja. Namun sayang, pikiran mereka telah dikunci oleh sekularisme yang materialistik akibatnya orang tidak dapat melihat hal spiritual, orang tidak dapat melihat apa yang menjadi rencana dan maksud Allah atas hidup mereka. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita, seberapa jauhkah dalam kehidupan kita melihat Kristus bekerja dalam setiap momen?

Orang Yahudi adalah orang yang sangat pandai, mereka menguasai segala bidang namun terbukti, kepandaian bukanlah hal yang utama untuk orang dapat memahami tentang hal Kerajaan Sorga. Merupakan kesalahan fatal, orang melakukan analisa dan langsung menarik kesimpulan padahal kesimpulan tersebut belum tentu benar namun toh orang tidak mau dikoreksi atau mengevaluasi diri melihat kebelakang. Mind set atau pemikiran itu telah terbentuk sedemikian rupa, pemikiran mereka telah dicemari oleh dosa sehingga sulit untuk diubahkan dan hal ini menjadi titik awal dari kehancurannya. Orang tidak pernah bertanya kenapa muncul pemikiran seperti itu? Orang tidak pernah berpikir apakah pemikirannya itu benar atau salah?

Perhatikan, orang boleh saja pandai tetapi kalau cara berpikir mereka salah maka hasil akhirnya pun salah, semua keputusan bersifat dosa dan licik. Jadi, titik permasalahan bukan pada kepandaian seseorang. Ingat, dunia tidak membutuhkan orang pandai tetapi dunia membutuhkan orang bijaksana yang berhikmat. Orang bijak adalah orang yang dapat melihat segala sesuatu, point of view dengan tepat lalu memperbandingkan semua aspek dan mengambil keputusan sesuai dengan kehendak Tuhan. Betapa bahagia kalau kita bisa menjadi murid dan duduk di bawah orang bijak, kita ikut merasakan bagaimana Tuhan bekerja dan pimpinan Tuhan atas dirinya. Sangatlah disayangkan, orang Yahudi yang pandai itu apalagi mereka dekat dengan Tuhan Yesus harusnya memiliki kapasitas yang memungkinkan untuk mereka dapat mengambil keputusan dengan tepat namun pengajaran Tuhan Yesus yang bijaksana itu malah ditanggapi dengan kepandaian mereka akibatnya keputusan yang diambil berakibat fatal.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menegakkan Kerajaan Sorga di dunia?

Pertama, Jangan menggarap Kerajaan Sorga memakai struktur duniawi yang mengandalkan connectivity atau relasi. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa hidup di dunia membutuhkan relasi namun di sisi lain, Alkitab juga mencatat banyak orang percaya kepada Yesus, Dia dihormati oleh banyak orang tetapi Dia tidak mempercayakan diri kepada siapapun karena Dia tahu, siapa mereka (Yoh. ). Disini diungkapkan tentang konsep relasi yang sangat penting. Ingat, Kerajaan Sorga berbeda dengan kerajaan dunia karena itu, hati-hati, jangan terjebak dalam format dunia ketika Kerajaan Sorga ditegakkan di dunia. Kerajaan Sorga itu berada di atas relasi, Kerajaan Sorga itu menjadi inti untuk membangun relasi bukan sebaliknya, relasi yang dibangun dan Kerajaan Sorga mengikut dibelakangnya. Hal inilah yang terjadi hari itu, orang hanya melihat Yesus sebatas hubungan relasi antar manusia – Yesus yang mereka kenal sebagai anak tukang kayu yang miskin.

Hari ini, dunia modern telah dipengaruhi oleh filsafat posmodern menegakkan networking atau community yang dikenal sebagai sebagai kesatuan gereja atau oikumene (berasal dari bahasa Yunani, oikos berarti rumah dan nomos). Salah satu ajarannya adalah karena berasal dari satu tempat yang sama maka pemberitaan firman tidak boleh menyinggung komunitas atau aliran gereja yang lain. Perhatikan, kalau benar kita berdiri di atas firman yang adalah kebenaran sejati maka ketika firman diberitakan, harus ada koreksi terhadap pikiran yang salah. Kebenaran firman harusnya menjadi yang utama dan berada di atas semua ajaran yang berkembang, ini dinamakan dengan interdenominasi. Kerajaan Sorga harus berada di atas komunitas. Hari ini yang dilakukan oleh orang-orang oikumene adalah meletakkan komunitas di atas Kerajaan Sorga, komunitas mencengkeram Kerajaan Sorga sedemikian rupa. Tanpa sadar, Kekristenan telah dirusak oleh semangat posmodern yang melanda gereja hari ini.

Kota Nazaret merupakan tempat dimana Tuhan Yesus dibesarkan dan seharusnya menjadi komunitas terdekat-Nya namun hal ini sekaligus sangat berbahaya sebab orang-orang terdekat ini, yakni orang tua dan saudara Tuhan Yesus akan menuntut dan memperlakukan Tuhan Yesus layaknya anak dan saudara mereka. Sejak awal, Tuhan Yesus telah menetapkan bahwa Dia adalah Tuhan dan Raja atas Kerajaan Sorga. Bukanlah hal yang salah kalau kita mempunyai banyak relasi tetapi titik persoalan adalah kalau semua relasi itu mengunci Kerajaan Sorga maka itu menjadikan kita berdosa sebab hal ini bukan sekedar urusan komunitas biasa tetapi lebih tepatnya adalah antara Kerajaan Sorga dan kerajaan dunia dan mana yang harus lebih utama di antara keduanya? Ingat, komunitas bukanlah sandaran atau landasan dari misi Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga harus berada di atas komunitas.

Kedua, Kristus mengajar dengan penuh hikmat dan bijaksana, ini berarti unsur intelektualitas, unsur bijaksana sangat penting dalam mengambil keputusan. Adalah pendapat yang salah kalau orang beranggapan bahwa berita yang disampaikan dengan bijaksana tertinggi akan menjadikan orang bertobat. Tidak! Alkitab membukakan bijaksana yang tajam dan hikmat yang luar biasa yang diberitakan oleh Tuhan Yesus namun justru ditolak karena orang beranggapan kebenaran itu bertentangan dengan konsep berpikir mereka. Kerajaan Sorga dalam penyebarannya ternyata tidaklah seperti yang manusia pikirkan. Perhatikan, pertama kali ketika Kerajaan Sorga diberitakan maka semua benih firman yang ditebarkan adalah benih yang baik. Letak permasalahannya bukan pada benihnya tetapi tempat dimana benih itu jatuh.   

Persoalan Kerajaan Sorga ternyata tidaklah sesederhana yang kita pikirkan – bukan sekedar intelektualitas. Dan hal ini baru disadari oleh Calvin yang menegakkan Institute of Christian Religion didalamnya berisi pengajaran yang komprehensif dan teratur. Ternyata, setelah mendapat pengajaran yang begitu ketat tidak menjadikan orang bertobat; orang justru menolak dan melawan kebenaran. Jadi, jelaslah bahwa reformed is not matter of teaching. Hanya anugerah semata kalau kita dapat mengerti tentang hal Kerajaan Sorga dan kita dapat menjadi warga Kerajaan Sorga. Semua itu bukan karena kehebatan atau kepandaian atau kekayaan kita. Tidak! Pengajaran sehebat apapun bahkan Tuhan Yesus, Sang Kebenaran yang mengajarkan tidak menjadikan mereka bertobat, mereka malah melawan dan menolak kebenaran. Karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. 

Kalau kita diberikan anugerah kita dapat memahami rahasia Kerajaan Sorga, menyadari dosa, mengerti kebenaran firman dan kita bertobat maka hal ini harusnya menjadikan kita bersyukur senantiasa. Karena Allah mencintai kita sehingga Dia beranugerah pada kita, manusia berdosa yang seringkali menyakiti hati Tuhan yang seharusnya dibuang namun Tuhan masih berkenan menyelamatkannya. Ingat, Kerajaan Sorga sekedar kekuatan intelektualitas atau ketrampilan kita memaparkannya.

Ketiga, Kerajaan Sorga bukan ditegakkan di atas mujizat. Perhatikan, mujizat dahsyat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus tidak menjadikan orang bertobat. Dunia hanya ingin mujizat saja, mereka tidak mau Kristus Sang Raja, dunia hanya ingin hasil dari Kerajaan Sorga itu, yakni kekayaan, kesembuhan dan berkat-berkat jasmani. Ketika orang menolak Kristus, disitu Tuhan Yesus tidak melakukan mujizat. Mujizat itu bukan untuk menarik orang supaya bertobat; mujizat bukan untuk membuat orang jadi tertarik dan mengikut Tuhan Yesus. Tidak! Mujizat itu dimaksudkan supaya orang tahu Tuhan Yesus yang membuat mujizat itu lalu tunduk kepada-Nya? Dunia hanya ingin sesuatu yang supranatural sesuatu yang mengenyangkan aspek duniawi. Berbeda halnya dengan Kerajaan Sorga, mujizat itu dimaksudkan supaya kita dapat melihat Kristus Sang Raja yang memerintah dan berkuasa.

Kerajaan dunia hanya ingin memanipulasi seluruh pekerjaan mujizat Allah untuk kepentingan kehidupan kedagingan yang bersifat sekular. Tentang hal ini dipaparkan dalam Injil Yohanes pasalnya yang ke-5 dan ke-6, Tuhan Yesus melakukan mujizat yang paling besar, yakni memberi makan lebih dari 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Alkitab mencatat, setelah mereka dikenyangkan, orang banyak itu ingin menjadikan Kristus sebagai raja dan Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi tujuan mereka tersebut maka Tuhan Yesus menegur dengan keras. Pada pasal berikutnya, Tuhan Yesus mulai mengajar tentang Roti Hidup dan orang banyak yang tadinya mau menjadikan Dia sebagai raja, satu per satu mulai pergi meninggalkan Dia. Hal ini membuktikan iman seperti apa yang mereka miliki. Gejala semacam ini sampai hari ini masih tetap sama, orang mengaku Kristen tetapi sesungguhnya, iman mereka palsu – mereka hanya ingin mendapatkan kuasa dan berkat mujizat demi memenuhi keinginan daging maka tidaklah heran ketika orang mengalami penderitaan dan tantangan, mereka langsung meninggalkan Tuhan. Orang tidak mau taat dan tunduk mutlak pada Kristus Sang Raja. Pertanyaan sekaligus evaluasi bagi kita, apa artinya mujizat bagi kita?

Ingat, mujizat bukan untuk kepentingan manusia. Mujizat untuk menyatakan siapa Kristus yang sesungguhnya, apa itu Kerajaan Sorga maka ketika manusia menolak Kristus Sang Raja, Tuhan Yesus pun tidak melakukan mujizat. Sungguh sangatlah memprihatinkan, hari ini orang yang mendapatkan mujizat justru begitu egoisnya seolah-olah dirinya yang paling beriman diantara semua orang lain. Salah! Kalau Tuhan berkenan memberikan mujizat pada seseorang, sesungguhnya itu bukan karena kita beriman atau karena Tuhan lebih mengasihi kita tetapi lebih tepatnya karena Tuhan kasihan pada kita karena kita lemah iman, Tuhan tahu kita tidak mampu menghadapi tantangan sehingga ia memberikan mujizat pada kita. Sebaliknya, orang yang beriman sejati seperti Ayub misalnya terkadang Tuhan sengaja membawa mereka masuk dalam berbagai-bagai ujian – Tuhan sedang membentuk dia dan menjadikan lebih indah.

Hati-hati dengan akal licik iblis yang memutarbalikkan kebenaran – orang dikatakan baik ketika ia memenuhi dan memuaskan keinginan atau ego kita. Sebaliknya, ketika ego kita ditegur maka kita langsung mengatai dia sebagai orang jahat. Egois itu sendiri merupakan kejahatan dan ironisnya, ketika kejahatan memenuhi kejahatan maka ia dikatakan baik, sebaliknya orang yang menegur egois diri dikatakan jahat. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ada kebaikan sejati di dunia ini? Adakah kebaikan yang tidak tergantung pada obyek atau subyek? Aristotle, seorang yang bukan Kristen menyadari akah hal ini maka ia pun mulai memikirkan akan arti kebaikan sejati dan ia pun  menyimpulkan bahwa kebaikan sejati haruslah baik yang secara esensi baik, berasal dalam dirinya sendiri dan perbuatan baik itu yang dilakukan untuk kebaikan dan motivasinya kembali untuk kebaikan itu sendiri.

Hendaklah kita sadar setiap saat dalam hidup kita, Tuhan membuat mujizat; setiap detik yang kita lewati merupakan mujizat. Kalau pekerjaan Allah dapat dikerjakan dan digenapkan di tengah dunia ini maka itu merupakan mujizat namun orang tidak merasakan hal ini sebagai mujizat karena mujizat itu tidak memenuhi egois diri. Ingat, Tuhan sudah melakukan mujizat besar dalam hidup kita, yaitu keselamatan jiwa kita. Kalau kita bisa mengaku dosa dan bertobat, kembali pada Tuhan maka itu merupakan mujizat terbesar dalam hidup kita. Cara kerja dan cara berpikir Kerajaan Sorga itu berbeda dengan kerajaan dunia.

Puji Tuhan, hari ini kita telah merenungkan secara keseluruhan dan utuh tentang misi Kerajaan Sorga, the mission of the Kingdom mulai dari Kerajaan itu dibangun, berdirinya, meluasnya sampai seluruh kekayaan nilai yang terkandung di dalamnya hingga bagaimana kita harus berespon maka kiranya hal ini mengubahkan konsep berpikir kita dengan demikian kita dapat dipakai menjadi saksi bagi-Nya. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070520.htm

Eksposisi Injil Matius 13 : THE RICHNESS OF THE TRUTH OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Wednesday, December 12th, 2007

Ringkasan Khotbah : 13 Mei 2007

The Richness of the Truth of the Kingdom

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:51-53

 

Pendahuluan

Injil Matius pasalnya yang kedua belas telah membukakan pada kita bahwa Kerajaan Sorga, Firman, dan Kristus – Firman yang hidup dan Sang Raja saling berkait erat dan tidak dapat dilepaskan. Hari ini sampailah kita pada bagian akhir sekaligus penutup dari keseluruhan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Pada bagian penutup ini kembali Tuhan Yesus memberikan satu perumpamaan dimana perumpamaan ini sangat sulit dipahami maka perhatikan, janganlah sembarangan menafsir ayat.  Orang sering melakukan kesalahan dalam penafsiran sebab mereka melepaskan ayat dari konteksnya secara keseluruhan. Setelah Tuhan Yesus memaparkan delapan perumpamaan tentang hal Kerajaan Sorga maka Dia pun bertanya, ”Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.” Dan Tuhan Yesus pun kemudian memberikan satu perumpamaan tentang ahli Taurat yang menjadi murid dalam Kerajaan Sorga itu seperti seorang hartawan, land owner yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya. Perhatikan, respon orang Yahudi, mereka menolak Tuhan Yesus.  Ironis, setelah orang memberikan pernyataan bahwa dia sudah mengerti tetapi di sisi lain, Dia ditolak di tempat asalnya sendiri. 

I. Mengertikah Kamu?

Pertanyaan Tuhan Yesus “Mengertikah kamu semuanya itu?” bukanlah pertanyaan yang sama seperti yang diajukan oleh dunia saat ini yang hanya menilai segala sesuatu dari aspek manajemen marketing dan menggunakan pendekatan psikologis untuk meraih keuntungan. Tidak! Ingat, rasio harus diletakkan pada posisi paling atas, dan emosi di posisi kedua dan kemudian kehendak terletak di posisi paling bawah. Dan Allah menciptakan pria yang selalu menggunakan rasio dalam berpikir untuk menjadi kepala, headship. Ini berarti rasio memimpin disertai dengan emosi yang benar akan menghasilkan kehendak yang tepat. Dunia humanistik yang berdosa mencoba memutar posisi ini akibatnya tentu saja, kehancuran. Kerusakan pertama yang membuat orang tidak dapat kembali pada kebenaran sejati karena kalimat ”mengertikah kamu semuanya ini?” tidak diselesaikan dengan tuntas. Pertanyaan Tuhan Yesus ini bukanlah pertanyaan yang mempertanyakan emosi kita. Tidak! Kebenaran sejati tidak  mengabaikan aspek emosi tetapi emosi harus ditundukkan dibawah rasio.

Seorang kristen sejati harus mempunyai pengertian yang benar akan kebenaran sejati, memikirkan apa yang menjadi kehendak Allah. Namun sangatlah disayangkan, hari ini orang mudah sekali masuk dalam tipuan dunia salah satu penyebabnya adalah karena orang mudah sekali dibawa dan terlarut dalam emosi sehingga orang sulit  berpikir dan membedakan mana yang benar dan yang salah. Emosi bukan terletak pada posisi utama sebab emosi sifatnya relatif. Sebagai contoh, satu orang berpendapat dia cantik tapi orang lain berkata tidak; orang suka warna biru namun tidak dengan orang lain maka kita melihat disini unsur emosi sukar diverifikasi. Emosi sifatnya relatif subyektif berarti tidak ada batasan yang dapat menguncinya. Hati-hati, ketika emosi sudah memuncak maka orang tidak  rasional maka saat itulah manusia mudah sekali masuk dalam jebakan. Pertanyaan Tuhan Yesus  menjadi evaluasi bagi kita, sudahkah kita mempunyai pengertian yang benar akan kebenaran sejati?

II. Ahli Taurat

Ahli taurat hidup berkutat dengan firman, orang yang belajar firman terus menerus. Setiap orang Kristen harusnya memiliki jiwa ini, yakni belajar firman dan emosi menyertai di belakangnya. Ingat, jangan lepaskan pikiran dari emosi atau sebaliknya. Jadi, mengerti Firman adalah hal yang paling utama dengan demikian kita tidak mudah digoyahkan oleh tipuan iblis yang menyerang dari sisi emosional. Iman kristen bukanlah iman yang membabi buta atau fanatik. Tidak!  Hal inilah yang membedakan dengan Kekristenan dengan kepercayaan lain. Kekristenan tidak pernah takut dengan pengajaran lain yang mencoba memfitnah Kekristenan karena semua itu akan hancur dengan sendirinya. Kebenaran sejati tidak bersifat emosional; kebenaran sejati akan memberikan pengertian pada kita. Hal ini membukakan pada kita satu hal, ketika Tuhan Yesus mempertanyakan: mengertikan kamu dengan semuanya ini? Merupakan topik yang paling sentral di dalam misi kehadiran-Nya. Dengan kata lain orang yang mengaku sebagai murid-Nya tetapi kita tidak mengerti kebenaran sejati maka dia bukanlah murid sejati. Kristen tidak cukup hanya rutin ke gereja setiap Minggu. Tidak! Kristen sejati  dituntut untuk belajar dan mengerti Firman dan ketika Tuhan Yesus bertanya: ”Mengertikah kamu semuanya itu?” kita dapat menjawab: “Ya, kami mengerti.” Namun yang menjadi pertanyaan sekarang  adalah apa yang kau mengerti?

Ahli Taurat adalah seorang yang hidupnya sehari-hari belajar firman namun ironis, ketika Firman itu datang mereka tidak mengenal Dia dan menolak-Nya. Ahli taurat merasa dirinya sudah ahli namun sesungguhnya tidaklah demikian sebab mereka tidak mengerti perumpamaan tentang hal Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus mengajar dengan perumpamaan bukan supaya orang mengerti. Tidak! Hal ini dipaparkan supaya mereka yang melihat tidak dapat melihat, mereka yang mendengar tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, sungguh merupakan suatu anugerah kalau orang dapat mengerti firman.

Ketika seseorang sudah masuk dalam penilaian yang bersifat subyektif maka itu menjadi titik awal dari kehancuran. Pertanyaan apakah kita berhak menilai diri sendiri atau orang lain? Lalu siapakah yang berhak menentukan semua nilai yang ada di dunia? Jawabnya hanya satu, yakni Allah; semua harus dikembalikan pada obyektifitas Allah. Ketika seorang ahli Taurat mengunci dirinya sendiri lalu ia merasa dia tahu maka itulah titik awal kehancuran. Karena itu, sebelum orang melakukan diskusi theologis, kedua belah harus sepakat kalau kedua belah pihak bisa salah barulah kemudian kita mengambil langkah berikutnya, yakni menundukkan diri di bawah penilaian obyektif. Dengan kata lain, orang berpotensi besar untuk salah maka segala sesuatu tidak bisa menurut diri kita sendiri, kita harus kembali pada Firman, kebenaran sejati yang sifatnya obyektif, kita mau menjadi murid Kerajaan Sorga. Orang yang mengaku ahli justru membuktikan sebaliknya ia bukan seorang yang ahli. Seorang ahli tidak membutuhkan pengakuan tetapi pembuktian. Celakalah hidup kita kalau kita mengikut pada seorang yang mengaku ahli padahal ia bukan seorang ahli. Seorang ahli sejati tidak takut diuji.

III. Menjadi Murid

Terjemahan yang tepat untuk ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga… adalah ahli Taurat yang sudah menjadi murid-Nya Kerajaan Sorga. Kata murid atau matetheo (bahasa Yunani) telah hilang dalam terjemahan Indonesia. Yang dimaksud murid disini bukan sekedar status tetapi orang yang mempunyai keinginan untuk terus menerus belajar. Melalui perumpamaan tentang ahli taurat ini, Tuhan Yesus ingin menyadarkan akan kebodohan mereka yang selama ini merasa diri sudah ahli. Perhatikan, hafal taurat dan mengerti taurat merupakan dua hal yang berbeda sebab orang bisa hafal tanpa dia mengerti. Namun celakanya, mereka tidak mengerti maksud Tuhan Yesus malahan mereka menjawab: ya, kami mengerti. Benarkah kedua belas murid itu sudah mengerti? Tidak! Tuhan Yesus telah berulang kali mengajarkan tentang hal Kerajaan Sorga tapi terbukti, sampai Tuhan Yesus naik ke sorga pun mereka masih bertanya, ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6).

Konsep sekularisme itu begitu melekat dalam pemikiran para murid dan orang Yahudi. Agama sifatnya spiritual; agama adalah sesuatu tentang esensi kekekalan. Lawan kekekalan adalah  kesementaraan namun sampai hari ini, hampir semua agama termasuk Kristen membawa kekekalan masuk dalam kesementaraan. Semua pemikiran agama disekularisasi. Banyak orang yang beragama karena ia ingin mendapat kesembuhan, berkat jasmani, dan lain-lain yang diukur secara duniawi. Hal ini masih kita jumpai hari ini, orang masih beranggapan bahwa dunia kekekalan itu sama seperti di dunia sekarang yang bersifat materi.  Hal yang sama juga terjadi pada para murid, celakanya, ketika Tuhan Yesus menanyakan, mengertikah kamu semuanya itu? Mereka menjawab: ya, kami sudah mengerti padahal mereka tidak mengerti sama sekali.

Tuhan Yesus datang dan mengajarkan mereka akan Kerajaan Sorga supaya mereka bertobat dan pemikiran mereka diubahkan dan dibentuk oleh Kristus Yesus sendiri. Seorang murid adalah seorang yang mau belajar dan tidak mencari pembenaran diri ketika ia ditegur tetapi sebaliknya teguran itu justru membuatnya semakin belajar dan dibentuk semakin indah. Orang yang sudah merasa diri benar, selamanya ia tidak akan pernah belajar apapun. Orang yang sudah bisa memberikan alasan, alasan itu diterima berarti kita mendapatkan pembenaran, kita telah menempatkan diri pada suatu posisi tertentu dan tidak mau menerima pembelajaran  apapun. Memang, bukanlah hal yang mudah bagi manusia egois untuk mengalahkan konsep pemikiran kita sendiri, mengakui kesalahan dan kembali pada Firman. Namun ingat, sebagai murid dari Kerajaan Sorga kita harus menanggalkan segala pemikiran duniawi kita untuk dibentuk oleh-Nya. Maukah anda?

Dunia modern sulit memahami konsep Kerajaan Sorga sebab dunia telah terbiasa membangun keyakinan diri, membangun apa yang dianggap benar dan tidak mau ditundukkan pada kebenaran Firman. Percayalah, hidup kita akan melimpah dengan sukacita ketika kita kembali pada kebenaran dan berada dalam pimpinan Tuhan. Hari ini, orang selalu bertanya-tanya bagaimana mengerti kehendak Tuhan? Benarkah orang mau mengerti kehendak Tuhan atau sesungguhnya, mereka hendak mencari pembenaran diri saja? Orang yang mau mengerti kehendak Tuhan maka di titik pertama seharusnya sudah melepaskan semua konsep pemikirannya namun celakanya, orang mau kehendak dirinyalah yang jadi dengan kata lain orang mencari persetujuan dari Tuhan maka tidaklah heran kalau orang selalu mengemukakan berbagai alasan untuk melawan Tuhan untuk mencari pembenaran diri. 

Bukanlah hal yang mudah untuk mengubah paradigma berpikir yang telah sekian lama terbentuk apalagi konsep kerajaan Daud yang telah melekat dalam pikiran mereka bahkan sampai hari ini mereka terus menanti-nantikan Kerajaan Daud. Sangatlah disayangkan, orang Yahudi dan orang Kristen pada hari inipun masih terus berpikir bahwa Kerajaan Sorga itu bersifat duniawi. Tidak! Kerajaan Sorga itu bersifat spiritual dan seumpama biji sesawi, ia akan bertumbuh menjadi sebuah pohon yang besar mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Seorang murid sejati adalah seorang yang mau belajar Firman dengan sungguh-sungguh dan taat pada kebenaran sejati.

IV. Kekayaan Kebenaran

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Tuhan Yesus menggambarkan setiap ahli Taurat atau dalam bahasa aslinya seorang murid Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah, land owner yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya? Seorang anak Tuhan sejati yang belajar Firman dengan sungguh bukan hanya sekedar belajar Firman secara duniawi dimana Firman sekedar menjadi pengetahuan saja tetapi seorang murid sejati yang taat dan tunduk mutlak pada kebenaran sejati maka hidupnya penuh berlimpah anugerah. The richness of the truth, kekayaan anugerah Allah yang melimpah itu akan terus menerus terpancar keluar dan tidak akan pernah habis. Perumpamaan ini membukakan pada kita bahwa orang yang mengerti Kerajaan Sorga maka ia akan mengerti dua hal sekaligus, yakni harta yang lama sekaligus harta yang baru. Harta yang lama dan harta yang baru ini mewakili Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kekayaan terbesar adalah ketika seseorang dapat membagikan kekayaan kebenaran yang tidak pernah habis dari alam semesta ini seperti halnya sebuah sumber mata air yang tidak pernah kering yang terus melimpah keluar.

Perhatikan, ketika Tuhan Yesus mengatakan tentang harta lama dan harta baru, hari itu Perjanjian Baru belum ada bahkan konsep tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itupun tidak ada sebab pada jaman itu, orang hanya tahu satu, yakni Kitab Suci atau Taurat. Harta baru yang dimaksud Tuhan Yesus disini adalah Kerajaan Sorga dimana hal Kerajaan Sorga ini seharusnya bukanlah hal yang baru lagi bagi orang Yahudi sebab dalam Kitab Suci sudah diungkapkan tentang hal ini namun para ahli Taurat tidak mengerti akibatnya mereka kehilangan keduanya, harta yang lama maupun harta yang baru. Seseorang belum dapat dikatakan kaya karena ia mempunyai separuh harta. Seseorang barulah dikatakan kaya ketika ia mendapatkan harta secara keseluruhan. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak mengerti konsep ini.

Perhatikan, tanpa Perjanjian Baru (PB), kita tidak akan pernah mengerti Perjanjian Lama (PL). PB merupakan standar untuk kita dapat memahami PL. Alkitab menegaskan bahwa secara prinsip kita harus berdasarkan dari kitab para rasul dan para nabi. Sebagai kesimpulan, untuk mendapatkan kekayaan PL maka kita harus melihat dari PB dan kita akan mendapat kedua-duanya. Itulah kaya yang sejati, kekayaan akan kebenaran itu tidak akan pernah habis. Semakin kita mengeluarkan dan membagi kekayaan  kebenaran itu maka kita akan mendapatkan kebenaran dengan berkelimpahan. Tuhan Yesus mau membukakan betapa hidup kita berlimpah dengan anugerah ketika kita hidup berpaut dengan Kerajaan Sorga. That is the great heritages. Faktanya, banyak orang yang melewatkan anugerah indah ini. Orang membuang anugerah dengan begitu saja. Merupakan suatu anugerah besar dan limpah kalau orang Yahudi hari itu dapat hidup sejaman dengan Tuhan Yesus; mereka mendapatkan pengajaran langsung dari  Sang Kebenaran sejati namun amatlah disayangkan, mereka justru menolak Tuhan Yesus.

Orang tidak mengerti betapa mahal dan betapa bernilainya kalau kita mendapatkan harta yang terpendam, harta  yang lama dan harta yang baru. Inilah manusia berdosa.yang bebal yang tidak meletakkan suatu nilai dengan tepat, tidak dapat menghargai sesuatu yang sangat bernilai. Sebagai anak Tuhan sejati, hendaklah kita peka akan setiap momen yang datang pada kita. Jangan lewatkan momen yang indah itu. Hal ini menjadi evaluasi bagi kita, sudahkah kita menghargai anugerah Tuhan dengan memakai segala kesempatan yang ada untuk belajar firman dan dibentuk oleh-Nya? Memang tidaklah mudah untuk kita diproses dan dididik, kita akan merasa sakit tapi ingatlah, semua itu justru menjadikan kita lebih indah. Kita telah diberikan anugerah yang berlimpah, kita diberikan kekayaan akan kebenaran maka jangan sia-siakan anugerah itu. Kerajaan Sorga itu lebih bernilai dari segala harta yang ada di dunia.

Penutup

Kiranya bagian penutup ini menyadarkan dan membukakan kita akan konsep berpikir kita yang salah selama ini dan kita mau diproses dan dirubah untuk menjadi murid Kerajaan Sorga sehingga ketika Tuhan Yesus bertanya: “Mengertikah kamu semuanya itu?” maka kita dapat menjawab: “Ya, saya mengerti.” Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070513.htm

Eksposisi Injil Matius 13 : THE QUALITY OF MEMBERS (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Friday, December 7th, 2007

Ringkasan Khotbah : 06 Mei 2007

The Quality of Members

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:47-50

Melalui perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga (Mat. 20:44-46) yang dipaparkan oleh Tuhan Yesus, kita dibukakan akan kualitas dari Kerajaan Sorga itself. Kualitas Kerajaan Sorga ini bukanlah sekedar teori tetapi semua itu tergantung dari konsep aksiologi atau konsep nilai yang terbentuk dalam pemikiran kita. Ketika orang menganggap emas itu mahal dan bernilai maka orang pasti memperlakukan emas itu berbeda dengan benda lain seperti uleg-uleg batu meski keduanya mempunyai berat sama. Orang harusnya menunjukkan suatu respon positif – orang akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk mendapatkannya dan mempertahankannya dan setelah mendapatkannya ia akan menyimpannya baik-baik. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita hanya berespon ketika mengejar Kerajaan Allah saja ataukah respon itu secara internally masuk ke kedalaman diri kita? Banyak orang yang meresponi suatu kualitas tetapi tidak mengkaitkan dengan diri sendiri, orang hanya fokus pada suatu bagian yang ia ingin capai saja. Pernahkah kita mengevaluasi diri, siapakah diri yang bernilai ekstrinsik ini mengejar nilai instrinsik atau kualitas itu? Bagaimana kita mengkaitkannya dengan nilai instrinsik yang ada dalam diri sendiri?

Orang yang tahu akan sesuatu yang bernilai maka dengan segala cara ia mendapatkannya; keinginan yang timbul itu merupakan nilai ekstrinsik sedang obyeknya atau benda yang bernilai tersebut mempunyai nilai instrinsik, yakni nilai yang ada didalam obyek nilai. Pada saat kita yang ekstrinsik ini mengejar nilai instrinsik, pernahkah kita mengevaluasi diri sendiri, layakkah kita mendapatkannya? Hal ini jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan sebab orang selalu berpikir kalau dirinya cukup baik untuk mendapatkan nilai tinggi. Kita hanyalah bernilai ekstrinsi seharusnya mengevaluasi diri apakah secara intrinsik, kita layak mendapatkan sesuatu yang secara instrinsik sangat bernilai? Hal inilah yang ingin dibukakan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang pukat atau lebih tepat dikatakan sebagai perumpamaan tentang ikan baik dan ikan buruk (Mat. 13:47-50) – untuk mencapai the highest value of intrinsic value, we should be equal to that instrinsic value. Hal ini sangat penting untuk kita pahami sebab kita tidak mungkin mendapatkan dari dunia.

Untuk memudahkan perhatikan ilustrasi berikut: ada seorang gadis sangat sempurna, ia cantik, pandai, kaya, dan masih banyak faktor lain yang mendukung kesempurnaannya dan tentu saja, kesempurnaannya membuat banyak kaum lelaki yang menginginkannya maka pertanyaannya sudahkah para kaum lelaki itu mengevaluasi diri apakah ia layak mendapatkannya sebelum ia mengusahakannya? Apakah seorang lelaki yang malas, tidak mau bekerja, hidupnya berantakan layak mendapatkan si gadis? Seringkali, hal inilah yang dilakukan manusia, kita selalu melihat ke luar, kita menginginkan sesuatu yang bernilai tapi kita tidak pernah mempersiapkan diri kita sendiri. Demikian halnya dengan Kerajaan Sorga, banyak orang yang ingin mendapatkannya tetapi orang tidak pernah mengevaluasi diri, apakah kita cukup layak untuk masuk dalam-Nya? Siapakah kita sehingga kita boleh masuk dan menjadi warga Kerajaan Sorga? Jadi, kualitas menyangkut dua unsur intrinsik yang harus direlasikan secara equal.

Orang tahu betapa bernilainya Kerajaan Sorga itu dan orang pun ingin masuk dan berbagian di dalam-Nya namun yang menjadi letak permasalahan adalah termasuk ke dalam golongan manakah kita, ikan baik ataukah ikan busuk? Ketika kita hendak mengejar Kerajaan Sorga maka kita harusnya mengevaluasi diri, siapakah kita? Namun umumnya, orang tidak pernah berpikir demikian sebab paradigma berpikir kita telah terbentuk oleh dunia dan berakar kuat, dalam banyak aspek cara berpikir kita tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Firman. Dosa dan permainan filsafat dunia telah meracuni sedemikian rupa membuat orang tidak dapat memahami kebenaran sejati ketika berimplementasi di dunia.

Hal Kerajaan Sorga itu seperti seorang nelayan yang memukat ikan, setelah penuh, ia akan memilah antara ikan baik dan ikan busuk. Melalui  perumpamaan ini Tuhan Yesus membukakan bahwa tidak setiap orang yang ingin masuk dalam Kerajaan Sorga akan sangat mudahnya diterima. Tidak! Namun, hari ini kita melihat dunia Kekristenan tidak melakukan tahap penyeleksian akibatnya orang tidak memahami kualitas Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga itu sangatlah berharga dan mulia maka jangan pikir kalau kita sudah ada dalam pukat berarti sudah berbagian dalam-Nya. Tidak! Kita masih harus melewati beberapa seleksi lagi. Perhatikan, lalang yang tumbuh bersama gandum tidak akan masuk dalam lumbung. Demikian pula halnya dengan kita, hari ini kalau kita berada dalam gereja bukan berarti kita adalah warga kerajaan-Nya. Tidak! Kita masih harus melewati satu tahap penyeleksian, apakah kita masuk dalam golongan ikan yang bagus ataukah ikan busuk? Apakah kita gandum atau ilalang?

David F. Wells dengan tajam melihat pasca pertengahan abad ke-20, setelah Perang Dunia I dan II, Kekristenan sudah melupakan esensi asli. Dalam bukunya, No Place for Truth dituliskan memasuki era posmodern ini dunia hanya bergerak menuju ke satu arah, yaitu manajemen marketing dan cara pencapaiannya menggunakan pendekatan psikologis, orang memakai cara-cara humanistik untuk memenuhi egonya. Celakanya, manajemen marketing ini telah menyebar dan masuk dalam segala aspek kehidupan. Orang teknik tidak lagi menitikberatkan pada teknologi mesin itu sendiri tetapi orang mulai mengarah pada penjualannya sebab apa gunanya mesin hebat tapi kalau tidak dapat dijual di pasaran dan merugi. Kemajuan manusia adalah kemajuan marketing dan neraca perdagangan. Demikian pula halnya dengan bidang kedokteran, pendidikan, politik dan segala bidang lain, semua diukur dari untung rugi. Prinsip ini telah mengakar dalam kehidupan manusia. Manusia tidak lagi berpikir untuk mencapai kualitas, manusia hanya ingin mendapat keuntungan sebesar-besarnya maka segala sesuatu diukur secara kuantitas, semua diukur secara angka. Ketika manusia menggeser semua hal ke aspek material akibatnya orang terjebak ke aspek kuantitatif. Perhatikan, ketika semua hal dihitung dari untung rugi akibatnya orang tidak pernah memahami kualitas, quality is not matter of number. Adakah orang yang dapat mengukur dengan angka berapa besarnya kualitas kerohanian secara obyektif? Berapakah nilai angka untuk kebaikan, kesucian atau kerendahhatian? Perhatikan, karakter seseorang hanya dapat diukur secara subyektif dan hanya Tuhan saja yang layak menilai kualitas manusia.

Celakanya, gerejapun memakai cara dunia yang humanis materialis yang selalu berpikir untung dan rugi dan selalu mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Gereja tidak menyadari bahwa kualitaslah yang terpenting sebab apalah artinya jumlah banyak kalau tidak dibangun di atas dasar kebenaran sejati – gereja akan mudah sekali dihancurkan. Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus membukakan pada kita pentingnya kualitas  namun ingat, bukan berarti kemudian kita anti dengan kuantitas. Tidak! Fakta membuktikan kualitas itu dengan sendirinya menentukan kuantitas. Perhatikan, ketika kita bermain dengan kuantitas dalam bisnis atau dagang maka kita akan tergilas oleh pihak lain yang mempunyai modal lebih besar. Sebagai anak Tuhan sejati, hendaklah kita selalu berjuang untuk mencapai kualitas tertinggi dan orang yang sudah mencapai tingkatan kualitas itu pastilah ia tidak mau kembali pada kualitas rendah. Sebagai contoh, setelah kita merasakan enaknya makanan di warung A maka kita tidak akan kembali lagi kesana setelah kita merasakan ada tempat lain yang lebih enak. Tuhan Yesus membukakan pada kita akan pentingnya kualitas dibandingkan dengan kuantitas. Yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang menjadi standar ukuran kualitas? Kristus Yesuslah yang harusnya menjadi teladan dan ukuran dari kualitas; hanya Tuhan yang berhak memberi penilaian pada setiap manusia. Biarlah kita diubahkan dan dibentuk oleh Tuhan dengan demikian kita menjadi peka dan tidak dipermainkan oleh dunia. Hendaklah Firman Tuhan itu terimplikasi dalam hidup kita dan hati-hati dengan akal licik iblis yang sengaja mempengaruhi pemikiran kita dengan mengatakan: “Tidak mungkin dan mustahil.“ Perhatikan, kalau semua yang kita lakukan adalah kehendak Tuhan maka Tuhan pasti akan memimpin, tidak ada kekuatan yang lain yang dapat menggagalkan.

Firman Tuhan menegaskan jalan menuju ke sorga itu sempit berarti orang yang dapat masuk sangat sedikit. Hal ini menyadarkan kita akan konsep kualitatif dan menjadikan kita lebih waspada. Memang yang masuk sorga itu sedikit namun hal itu bukan berarti Tuhan tidak suka kalau banyak orang yang bertobat. Tidak! Fakta membuktikan sesuatu yang berkualitas itu, jumlahnya sangat sedikit sebab bukanlah hal yang mudah untuk bisa mencapai kualitas tinggi. Karena itu, jangan kejar kuantitas tetapi kejarlah kualitas dan kuantitas akan mengikut di belakangnya; quality first and the quantity welcomes up. Lalu bagaimana kita memahami kualitas?

Pertama, Kualitas itu bukan berarti ketika kita berkata “bagus“ maka itulah bagus. Tidak! Bagus itu haruslah sesuai dengan standar Tuhan, apa yang menurut Tuhan bagus maka itulah bagus. The source of quality will selected it. Hari ini, banyak orang telah dipengaruhi oleh konsep posmodern maka tidaklah heran kalau orang tidak memahami akan keindahan yang sejati, orang tidak memahami definisi keindahan. Filsafat posmodern mengajarkan hal yang salah, yakni apa yang menurut kita indah maka itulah indah; jadi, indah itu suka-suka dan terserah kita. Salah! Kita harus kembali pada Firman untuk dapat memahami kualitas sejati. Quality based on the source of quality. Tuhan adalah Raja di atas segala raja, Dialah pemilik Kerajaan Sorga maka Dia berhak melakukan penyeleksian siapa saja yang boleh masuk ke dalam-Nya. Kedaulatan penuh berada di tangan-Nya. Kualitas sejati harus kembali pada kualitas absolut yang menjadi standar mutlak. Sebagai anak Tuhan sejati haruslah mengutamakan kehendak Tuhan dalam segala aspek hidup kita dan bagaimana kebenaran Tuhan ditegakkan. Inilah the sovereignty of God. Firman Tuhan sungguh agung, di dalamnya memberikan prinsip kebenaran sejati seperti tentang keindahan, seni, sosial, hukum, alam semesta dan masih banyak lagi. Orang yang mengaku Kristen tapi ia tidak mau belajar Firman maka dapatlah dipastikan kita adalah termasuk dalam golongan ikan yang busuk. Tuhan memberikan pada setiap kita potensi untuk kita dapat kembali pada kebenaran firman. Maukah kita kembali dan diubahkan oleh kebenaran Firman yang menjadi standar atau ukuran mutlak?

Kedua, Cara Tuhan Yesus menilai apakah ikan itu bagus atau busuk bukan dilihat secara tampilan luar tetapi  secara internal. Tuhan melihat karakter asli yang ada pada kita, apakah kita termasuk ikan bagus? Berbeda dengan manusia pada umumnya dimana orang hanya melihat secara fenomena, orang melihat aksesori yang menempel. Bagus atau jeleknya ikan itu harus dilihat secara internal bukan secara tampilan luar. Mata manusia seringkali terkecoh oleh tampilan luar, terkecoh oleh aksesori yang ditampilkan namun Tuhan melihat karakter, Dia tahu apa yang ada dalam hati setiap manusia yang terdalam yang orang lain tidak tahu. Sebagai anak Tuhan, kita harus submissive, taat penuh pada pimpinan Tuhan. Tuhan ingin hidup kita dimurnikan, kita menjadi garam dan terang di tengah dunia ini. Tuhan ingin kita mempunyai karakter asli yang indah secara internal dan untuk mencapainya tidaklah mudah, kita harus melewati beberapa proses pembentukan oleh Tuhan. Melalui perumpamaan ini, hendaklah kita mengevaluasi diri sudahkah kita hidup seturut dengan kehendak Tuhan? Maukah kita diubahkan dan dibentuk oleh-Nya menjadi semakin serupa dengan Dia? Hizkia menjelang ajal dalam doanya ia berkata betapa selama ia hidup ia telah setia dan tulus hati di hadapan Tuhan; bagaimana sepanjang hidup ia telah melakukan segala hal yang berkenan di hadapan Tuhan (2Raj. 20). Inilah karakter asli. Perhatikan, doa seperti ini tidak mungkin keluar dari mulut Hizkia kalau tidak ditunjang oleh seluruh hidupnya. Kalau Hizkia berani berkata seperti itu berarti ia telah membuktikan sepanjang hidupnya, setia, tulus hati, hidup bersih di mata Tuhan. Beranikah kita berkata kepada Tuhan seperti Hizkia? Apakah kita telah memperkenankan hati Tuhan di sepanjang hidup kita?    Sesungguhnya, kalau Hizkia mau berbuat dosa sangatlah mudah, ia adalah seorang raja, ia mempunyai kekuasaan, kekayaan, dan masih banyak lagi namun Tuhan memakai raja Hizkia dan mencatatnya dalam Alkitab seharusnya menyadarkan kita, yakni jika dibandingkan dengan Hizkia yang mempunyai segala potensi untuk berbuat dosa dengan kekayaan dan kuasa yang ada tetapi ia toh tidak melakukan itu maka kita seharusnya jauh lebih mudah untuk hidup seturut dengan rencana Tuhan. Tuhan ingin membentuk setiap kita namun sayang, tidak setiap orang mau dibentuk oleh-Nya. Ingat, Tuhan tidak melihat tampilan luar kita, Dia melihat karakter, hati yang terdalam – setiakah kita pada-Nya, taatkah kita pada-Nya, sudahkah kita melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan?

Ketiga, Perumpamaan ini bukan sekedar memberikan himbauan atau nasihat. Tidak! Melalui perumpamaan ini Tuhan mau membukakan akan adanya penghakiman Tuhan. Tuhan ingin kita hidup setia dan taat pada-Nya sebab barangsiapa mengasihi Anak maka ia melakukan perintah-Ku dan melakukan-Nya dan Tuhan berkenan atasnya. Yang menjadi pertanyaan apakah kita termasuk dalam kategori ikan bagus ataukah ikan busuk yang tidak ada jalan lain selain harus dibuang dan dibakar? Tempat dimana ada ratap dan gertak gigi merupakan gambaran neraka, gambaran situasi orang yang dibuang dari hadapan Tuhan. Ingat, kalau Tuhan sudah membukakan pada kita seharusnya menjadikan kita lebih waspada, hidup baik-baik di hadapan Tuhan. Ingat, Tuhan tidak dapat dipermainkan. Kalau Tuhan tidak menyayangkan carang yang asli untuk dibuang apalagi kalau kita hanya carang hasil cangkokkan. Tuhan ingin kita waspada, hal ini bukan sekedar sebuah pilihan atau himbauan tetapi positioning; pertanyaannya dimanakah posisi kita? Apa yang kita perjuangkan dalam hidup ini? Perumpamaan ini menyadarkan kita bahwa penghakiman Allah itu bukanlah main-main tetapi riil; penghakiman Allah bukanlah ilusi. Keadilan Allah itu riil dan sempurna; murka Allah itu nyata bagi kita. Jonathan Edwards dalam bukunya Sinners in the Hand of an Angry God kiranya juga menegur dan mengingatkan kita akan murka Allah dan bagaimana nasib orang berdosa di tangan Allah yang murka. Tuhan yang penuh kasih itu adalah Tuhan yang adil, Tuhan mengampuni orang-orang berdosa yang mau kembali pada-Nya dan Ia adalah Tuhan yang menghukum orang berdosa yang melawan Tuhan. Karena itu bertobatlah, kembali pada Tuhan dan serahkan hidup dalam pimpinan Tuhan.

Kesadaran keseimbangan ini kiranya menjadikan hidup kita semakin serupa dengan Dia, pikiran kita diubahkan dengan demikian value system kita dikembalikan pada kebenaran sejati. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070506.htm