Archive for January, 2008

Eksposisi Injil Matius 15 : CHRIST REDEEM CULTURE (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Wednesday, January 30th, 2008

Ringkasan Khotbah : 12 Agustus 2007

Christ Redeem Culture

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 15:1-11

Setiap tempat pastilah mempunyai budaya dan budaya masing-masing tempat atau daerah pastilah berbeda. Sebagai contoh, di Jepang ada budaya minum teh tetapi di Indonesia kita menganggap biasa bahkan suatu benda bisa bernilai sangat mahal karena didalamnya ditambahkan makna tertentu. Manusia mencoba merelasikan antara hal yang duniawi dengan hal spiritual akibatnya hal yang sepele yang tidak bermakna bisa menjadi bermasalah besar. Alkitab mencatat beberapa orang Farisi dan ahli Taurat datang dari Yerusalem hanya untuk menegur Tuhan Yesus tentang hal membasuh tangan yang tidak dilakukan oleh para murid sebelum makan, mereka dianggap telah melanggar adat istiadat. Bagi orang Yahudi, membasuh tangan itu menyatakan suatu penghormatan kepada Allah sebelum kita menikmati makanan. Budaya cuci tangan merupakan sesuatu yang sifatnya fisik tetapi telah diberi makna dan direlasikan dengan dunia metafisika, dihubungkan dengan Allah. Atas kejadian ini, Tuhan Yesus balik menegur mereka yang telah melanggar perintah Allah yang berbunyi: ”Hormatilah ayahmu dan ibumu” karena dengan alasan persembahan pada Allah, orang mengabaikan orang tuanya. Tuhan Yesus menegur sangat keras akan hal ini karena dalam hal ini, perintah Allah telah dikalahkan oleh adat istiadat. Timbul perdebatan yang sangat rumit bahkan timbul perpecahan dalam perpecahan dalam Kekristenan, yakni manakah yang lebih penting adat istiadat ataukah firman Tuhan.

Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture mengungkapkan lima pendekatan antara kebudayaan dan Kristus namun perhatikan, kelima pendekatan ini tidak dapat dikatakan benar secara keseluruhan, yakni:

1. Christ against culture

Kristus menghancurkan seluruh kebudayaan yang ada di dunia karena semua kebudayaan dipandang salah dan jahat. Hal ini tidaklah tepat sebab dalam banyak aspek, Kristus tetap berada dalam budaya, Kristus tetap menjalankan budaya Yahudi. Kritus melawan budaya ini seolah-olah menjadikan Kristus tinggi dan Kekristenan agung. Pandangan-pandangan radikal seperti ini akhirnya membuat Kekristenan tidak bisa lagi hidup di tengah dunia. Orang yang memegang prinsip ini, biasanya akan tersingkir dan Kristus menjadi kalah. Mereka membentuk kebudayaan sendiri, kelompok tersendiri dan hidup tersendiri. Mereka menganggap kebudayaan itu sebagai kebudayaan Kristus tetapi sesungguhnya, kebudayaan itu tidak ubahnya dengan budaya dunia yang membedakan kebudayaan mereka tidak cocok dengan kebudayaan dunia. Perhatikan, Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk melawan dan menjadi anti budaya.   

2. Christ of Culture

Budaya harus diisi dengan hal-hal yang berbau Kekristenan dengan demikian kebudayaan itu menjadi milik Kristus sekarang. Konsep inilah yang hari ini banyak dipakai. Orang menganggap cara ini merupakan suatu kerjasama dimana kita tidak menghancurkan budaya tetapi kita menggunakan semua budaya yang ada dengan demikian budaya yang tadinya budaya setan kini menjadi budaya Kristus. Adalah kesalahan fatal, banyak orang yang menganggap budaya itu sifatnya netral maka tergantung dari siapa yang memakainya. Budaya itu akan menjadi milik setan kalau setan yang memakainya maka budaya itu menjadi the culture of satan, atau kalau manusia yang menggunakannya akan menjadi the culture of human being, dan kalau Kristus yang memakai budaya akan menjadi the culture of Christ. Sebagai contoh, banyak musik duniawi yang diberi tambahan ayat alkitab langsung dikatakan sebagai budaya Kristus. Demikian pula halnya dengan cara berpakaian, orang menganggap sudah menjadi budaya Kristus kalau sudah memberinya dengan aksesori atau atribut ”rohani.” Orang Yahudi juga melakukan hal yang sama, budaya duniawi yang mereka pandang baik lalu dilabel dengan agama maka mereka sudah menganggapnya sebagai agama. Hari inipun masih banyak orang yang tidak mengerti apa itu agama, mereka hanya memakai adat istiadat yang diberi label agama tertentu dan menganggapnya sebagai budaya. Dalam hal ini budaya itu lebih besar sedang Kristus hanya mengikut di dalamnya.

3. Christ above Culture

Konsep ini hendak melengkapi konsep kedua namun justru menjadikan budaya itu aneh; Kristus seolah-olah hanya hidup dalam satu kultur tertentu yang mengatasi semua kultur. Islam menjadikan

kultur Timur Tengah sebagai suatu kultur agama sehingga cara berpakaian, cara makan, dan lain-lain harus mengikuti satu kultur tersebut. Dalam kondisi budaya seperti demikian maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah budaya ini merupakan budaya yang boleh diberi label tertentu lalu dibawa ke semua tempat? Seberapa jauhkah relatifitas suatu daerah dalam budaya? Demikian halnya dengan kultur barat yang membawa Kekristenan masuk ke Indonesia membawa dampak besar. Kultur Eropa itu dianggap sebagai kultur Kristen. Dampak itu tidak hanya pada cara hidup saja tetapi juga jiwa kolonialisme itu mempengaruhi pemikiran orang-orang di Asia. Ketika orang-orang Eropa datang ke Asia. Dalam bagian ini, Kristus membangun suatu kultur yang sifatnya kaku dan spesifik yang dan semua kultur yang ada harus mengikut pada satu kultur ini. Tidak!

4. Christ and Culture in Paradox

Budaya hidup berada dalam dua dunia – Kristus punya kultur tersendiri dan dunia juga punya kultur tersendiri, kedua kultur ini berjalan secara bersamaan dimana keduanya tidak saling menganggu dan tidak saling meniadakan. Pandangan inilah yang diajarkan oleh kaum posmodern. Konsep ini menjadikan orang Kristen hidup dalam dua dunia. Ketika orang berada di dalam gereja maka ia harus langsung menyesuaikan diri dengan kultur yang dianggap sebagai kultur Kristen, orang harus berlaku sopan, jujur namun ketika berada di luar lingkungan gereja maka orang boleh liar dan berbuat sesuka hati layaknya dunia. Konsep ini dianggap relevan di abad 20 ini namun Kekristenan tidak setuju akan pandangan ini.

5. Christ Transform Culture

Dari kelima konsep yang diungkapkan oleh Niebuhr maka konsep kelima ini yang paling banyak diingat oleh orang. Kristus mentransform kultur artinya bahwa kultur itu tidak salah cuma kultur itu perlu ditransformasi. Pertanyaannya benarkah kultur bisa dirubah? Atau lebih tepatnya, Christ redeem the culture – Kristus menebus budaya berarti ada nilai yang harus dibayar. Hal ini yang lebih tepat dalam mandat budaya. Theologi Reformed umumnya, secara posisi mengikut konsep ini, yakni Christ transforming culture, Kristus mengisi kembali budaya yang sudah ada untuk dikembalikan pada apa yang seharusnya. Ada beberapa prinsip penting yang harus diperhatikan ketika mentransform, yakni: kita harus tahu mana yang harus dan mana yang tidak, mana yang mutlak dan mana yang relatif. Sesuatu yang harus dirubah maka harus dirubah – perubahan ini sifatnya esensial tetapi ada bagian-bagian tertentu yang relatif harus berproses seiring dengan berjalannya waktu. Kita harus peka ketika kita masuk dalam suatu budaya, kita tidak perlu merubah budaya yang ada sepanjang budaya itu baik dan agung. Budaya pasti punya unsur baik sebagai anugerah umum namun sayang, budaya tidak mengerti apa yang disebut dengan anugerah umum. Sangatlah disayangkan, konsep anugerah umum inipun tidak dimengerti, orang tidak mengerti bahwa pencemaran dosa menyebabkan budaya menjadi liar dan untuk dapat memilah ini dibutuhkan anugerah khusus, yakni anugerah keselamatan. Adalah tugas Kekristenan membukakan tentang kebenaran kepada mereka.

Christ Redeem Culture

Kristus tidak merombak seluruh budaya yang ada. Kristus hanya mengubah dan membongkar budaya yang salah yang sifatnya esensial dan mutlak yang menyangkut standar dan prinsip. Tuhan Yesus menegur keras budaya orang Yahudi yang begitu sombong, mereka tidak mau dekat bahkan berbicara dengan orang Samaria. Kebudayaan seperti inilah yang hendak dibongkar oleh Tuhan Yesus lalu ditransformasi dan untuk hal ini ada harga yang harus dibayar dan harganya sangat mahal. Kristus harus menebus budaya yang salah. Kekristenan percaya bahwa Allah sejati hanya satu sedangkan budaya percaya bahwa “allah“ itu banyak dimana kita boleh menyembah pada allah yang mana saja. Budaya ini tidak dapat dibenarkan dan budaya ini haruslah dilawan dan dihancurkan sebab budaya itu salah karena sifatnya esensi dan absolut. Berbeda halnya kalau budaya yang salah itu bersifat relatifis hanya menyangkut unsur luar yang sekunder maka seiring berjalannya waktu, budaya itu harus kita ubah dan hal itu tidaklah mudah dibutuhkan perjuangan dan usaha. Namun kalau budaya itu sudah menyangkut hakekat ibadah, prinsip theologi maka budaya itu mutlak harus diubah. Allah menuntut kita untuk menyembah hanya pada satu Allah saja, Allah tidak ingin kita berzinah secara rohani maka budaya yang mengkompromikan akan hal ini tidak dapat dibenarkan.

Kalau kita tidak mengerti hal ini maka kita akan menjadi bingung dimana harus berposisi, kita tidak tahu bagaimana memilah antara prinsip kebenaran dan budaya. Moralitas Kristen lebih tinggi dari moralitas dunia maka moralitas dunia haruslah tunduk pada  moralitas Kristen. Dalam bagian ini, orang masih bisa jatuh bangun dan Kekristenan masih memberikan toleransi untuk orang belajar, dididik dan diajar berproses menuju pada moralitas yang agung dan perhatikan, hal ini tidaklah mempengaruhi keselamatan seseorang. Demikian juga halnya dengan hal cuci tangan, apakah hal cuci tangan dipandang sebagai hal serius yang menjadi adat istiadat pengunci yang mempengaruhi keselamatan seseorang? Tidak! Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menegur dengan keras dan membalikkan konsep berpikir orang Yahudi yang salah.

Van Till melihat iman manusia didasarkan pada dua aspek, yaitu: 1) iman yang menggunakan pendekatan antroposentric religion, yakni segala sesuatu berpusatkan pada manusia, 2) segala sesuatu haruslah dilihat dari kedaulatan Allah dan theologi Reformed adalah satu-satunya theologi yang menuntut kedaulatan Allah haruslah berada di atas semua unsur manusia. Taurat diberikan supaya manusia mengerti isi hati Allah tetapi orang memakai taurat sebagai alat manusia untuk  kepentingan humanitas. Orang yang melihat dari sudut pandang manusia pastilah beranggapan bahwa Allah tidak konsisten sebab di salah satu hukumnya, dilarang membunuh tetapi di sisi lain, Allah memerintahkan manusia untuk membunuh. Inilah natur manusia berdosa. Alkitab menyatakan Allah yang kasih itu menyediakan neraka, Allah menyediakan hukuman mati bagi orang berdosa. Dalam hal ini, kita harus melihat dari sisi Allah. Ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan, yakni: 1) kalau membunuh itu didasarkan atas kepentingan pribadi manusia maka ia berdosa, 2) membunuh didasarkan atas kebencian, unsur interpersonal – Alkitab menegaskan bahwa membenci seseorang saja berarti sudah membunuh, hal ini menjadi hakekat atau esensi di balik tindakan, 3) membunuh merupakan pelanggaran keadilan maka hukuman yang diterapkan adalah hukuman keadilan. Alkitab sangat setuju dengan capital punishment, kalau kita melihat dari sudut manusia, kita akan merasa Tuhan itu tidak adil, Tuhan tidak berbelas kasih. Tidak! Alkitab dengan tegas menyatakan kalau Allah telah menetapkan hukuman mati maka itu tidak didasarkan atas kepentingan pribadi tetapi hal itu mutlak dan harus dilakukan karena sifatnya absolut, dan hukuman diberikan untuk menjadikan dunia lebih aman; seorang pembunuh kejam haruslah dihukum sebelum ia melakukan tindakan pembunuhan lain yang lebih kejam dan menjadikan dunia lebih hancur. Betapa bodohnya manusia kalau karena alasan mengasihi, dunia menjadi kacau dan hancur. Kebenaran dan keadilan Allah harus ditegakkan di tengah dunia berdosa.

Budaya harus balik pada Allah. Beberapa ahli budaya dan para teolog melihat kelemahan konsep Niebuhr yang melihat Kristus dan budaya secara dualisme. Yang menjadi titik permasalahan adalah agama, iman atau filsafat yang membentuk budaya ataukah sebaliknya, budaya yang membentuk agama? Apakah agama itu menjadi bagian dari sebuah budaya? Merupakan suatu kesalahan fatal, hari ini orang mengajarkan bahwa agama membentuk suatu pemikiran filsafat dan pemikiran filsafat membentuk budaya dan budaya membentuk semua implikasi budaya, seperti bahasa, agama, bangunan, cara berpakaian dan semua tatanan keadilan dan hukum, dan lain-lain. Alkitab menegaskan iman adalah mutlak, titik tertinggi; iman membentuk pola berpikir atau filosofi agama dan dari filosofi agaman ini barulah membentuk budaya dan budaya  membentuk perilaku. Kalau iman kita tidak beres maka budaya pastilah akan liar. Maka dapatlah disimpulkan, iman menentukan budaya; budaya dan Kristus bukanlah dualisme. Pertanyaannya adalah seberapa jauhkah kita mengutamakan Kristus? Ketika kita men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidup kita maka pada saat itu budaya akan terbentuk secara sendirinya dimanapun kita berada. Budaya adalah produk iman, puncak dari iman kepercayaan kita dan terkadang, budaya ini menjadikan kita berbeda dengan budaya yang ada di sekeliling kita. Hal ini akan mempengaruhi hubungan relasi kita, etos kerja, etika hidup, hubungan suami-istri, dan lain-lain. Orang yang beriman humanis maka seluruh perilakunya akan menjadi humanis. Janganlah kita terjebak dengan konsep yang dipaparkan oleh Niebuhr bahkan beberapa tokoh reformed seperti Abraham Kuyper dan Dooyewerd terpengaruh konsep Niebuhr, yakni konsep Christ transforming culture.

Perdebatan antara budaya dan Kristus seringkali terjadi sampai hari ini namun ingat, jangan perdebatkan Kristus dengan budaya sebab Kristus adalah Allah sejati, Ia tidak sebanding kalau diperdebatkan dengan budaya yang sifatnya tatanan praktis. Percaya kepada Kristus merupakan pusat iman sedang budaya hanyalah implikasi iman maka sangatlah tidak pas kalau kita menaruh budaya di posisi atas sebab budaya tidak punya dasar yang kuat. Celakanya pendidikan hari ini didasarkan pada humanitas atau evolusi dimana Allah tidak ada didalamnya akibatnya cara pandang kita akan sangat duniawi dan humanis. Hendaklah kita kembali pada natur dan atribut Kristus, yakni adil, suci, benar, mulia, manis dan sedap didengar maka budaya akan terintegrasi dengan baik dan menghasilkan budaya yang agung. Hal inilah yang disebut sebagai mandat budaya. Mandat budaya bukanlah percampuran atau sinkretisme antara Kristus dan budaya. Mandat budaya adalah setiap budaya yang harus disorot dari iman Kristen menjadikan apa yang benar dan salah menjadi terbuka di hadapan Kristus. Dunia semakin hari semakin menuju kehancuran, dunia tidak menjadi semakin baik, moralitas menjadi rusak, budaya semakin hancur – kita harus semakin kokoh dalam iman dan kebenaran, berdiri teguh di atas Firman dan tugas setiap anak Tuhan menjadi terang dan garam di tengah dunia dan berani dengan tegas menyatakan kebenaran dan menegur budaya yang salah. Amin.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070812.htm

Eksposisi Injil Matius 14 : THE POWER OF FAITH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Wednesday, January 16th, 2008

Ringkasan Khotbah : 08 Juli 2007

The Power of Faith

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 14:22-23

 

Sebelumnya kita telah memahami kuasa belas kasihan yang dilakukan oleh Kristus; Ia harus berkorban demi orang lain mendapat berkat. Tuhan Yesus harus memecah-mecahkan roti puluhan ribu kali demi orang banyak itu makan sampai kenyang. Orang tidak pernah mengerti penderitaan Kristus sebaliknya mereka justru berpikir egois dan materialis dengan menjadikan Yesus sebagai raja. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi pemikiran orang banyak itu tak terkecuali para murid pun berpikir hal yang sama. Terbukti, pada detik terakhir Tuhan Yesus mau naik ke kayu salib, para murid, orang yang katanya paling dekat dengan Tuhan Yesus masih berpikir duniawi, mereka saling berebut posisi, ingin duduk di sebelah Tuhan Yesus dan demi keinginannya tercapai, mereka menggunakan ibu mereka yang masih mempunyai ikatan saudara dengan ibu Yesus. Peristiwa 5 roti 2 ikan ini tentunya membuat para murid merasakan suatu kebahagiaan tersendiri, euforia dimana merek ikut berbagian di dalamnya dan orang mengenal mereka sebagai murid Kristus karena itulah, Tuhan Yesus pun langsung meminta orang banyak itu untuk pulang dan menyuruh para murid pergi ke seberang.

Mat. 14:21-23 merupakan ayat jembatan yang bisa diletakkan pada perikop sebelum atau sesudahnya dan dalam hal ini, Lembaga Alkitab Indonesia meletakkannya pada perikop ’Yesus berjalan di atas air.’ Di satu sisi, ayat, pasal dan judul dalam Alkitab ini memudahkan kita namun di sisi lain, menjadi suatu titik kelemahan – orang tidak dapat melihat konteks secara keseluruhan. Teks asli Alkitab itu sendiri tidak ada ayat, pasal maupun judul dan kalau kita ingin mendapatkan kekayaan pengertian yang limpah dari Firman Tuhan.   

Kisah ketiga ini dimulai dengan Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke seberang dan di tengah-tengah perjalanan, badai mengombang-ambingkan perahu mereka. Catatan waktu menunjukkan mulai Tuhan Yesus memberi makan orang banyak sampai Tuhan Yesus menemui mereka kira-kira jam tiga malam, itu berarti para murid diombang-ambingkan oleh gelombang dan angin sakal selama kurang lebih 6 sampai 7 jam lamanya perahu mereka berputar di laut tanpa mereka tahu harus berbuat apa. Alkitab mencatat Tuhan Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang begitu dahsyat dan hari ini kita akan merenungkan tentang kuasa dari iman sejati, the power of faith. Untuk memahami hal ini maka kita harus terlebih dahulu mengerti apakah iman sejati itu.

Setelah para murid merasakan euforia yang dahsyat, Tuhan Yesus membawa mereka masuk dalam badai, hal ini dimaksudkan supaya:

1. Sadar akan realita

Seringkali berkat-berkat Tuhan menjadikan orang lupa, orang seperti melayang-layang; euforia, yakni suatu perasaan sukacita yang berlebihan membuat orang tidak dapat melihat realita maka Tuhan membawa pada suatu kondisi yang helpless. Angin dan badai tentulah bukan hal yang asing bagi para murid, mengingat profesi mereka adalah seorang nelayan dari danau Galilea maka dapatlah dikatakan mereka adalah seorang nelayan yang ahli. Namun hari itu, mereka baru sadar bahwa mereka bukanlah siapa-siapa. Kalau sebelumnya mereka ikut merasa bangga karena mereka turut  dalam mujizat yang Tuhan Yesus lakukan maka hari itu, mereka dibukakan untuk sadar akan realita. Hati-hati dengan segala kebohongan yang dunia tawarkan hari ini yang menjadikan kita tidak realistis. Dunia mencoba menipu kita dengan ajaran positive thinking yang hari ini ramai orang bicarakan. Positive thinking menjadikan kita tidak realistis, kita dibawa masuk dalam virtual reality, yakni suatu keadaan dimana kesemuan dianggap riil.

Sadarkah kita bahwa dunia ini semakin menuju pada kehancuran dan kita berada di dalamnya – kita berada dalam dunia berdosa dan terkutuk. Hati-hati dengan positive thinking yang dikembangkan oleh Robert Schuler maupun Norman Vincent Pale atau Napoleon Hills dengan imaginary thinking-nya atau Anthony Robbins yang mencetuskan unlimited power. Adalah ajaran yang salah yang menyatakan bahwa realita itu tergantung dari apa yang kita pikir. Kalau kita berpikir sakit maka itu menjadikan kita sakit, kalau kita berpikir miskin, maka kita akan menjadi miskin. Kesulitan atau kesenangan, kaya atau miskin, sehat atau sakit bukan tergantung dari apa yang kita pikir. Tidak! Semua realita yang negatif seperti sakit, bencana alam, kemiskinan, dan lain-lain tetap exist meskipun kita tidak berpikir. Konsep think it and get it menjadikan kita tidak bisa riil melihat realita.

Tuhan ingin supaya kita sadar akan realita itulah sebab Tuhan membawa kita masuk dalam berbagai kesulitan dan penderitaan. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak berdaya dihadapan Tuhan. Bencana alam tsunami membuktikan kalau kita sangatlah kecil dan terbatas di hadapan Tuhan – tidak ada seorang pun manusia yang berhak menyombongkan diri. Iman sejati dimulai dari kesadaran bahwa kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan.

Para murid Kristus dapatlah dikatakan sebagai seorang nelayan yang ahli, mereka tahu pasti akan kondisi dan situasi tentang laut khususnya danau Galilea tempat mereka biasa melaut tetapi hari itu, mereka sadar bahwa di hadapan Tuhan mereka bukanlah siapa-siapa. Dalam peristiwa yang lain, Alkitab mencatat para murid beberapa kali mengalami peristiwa serupa, yakni mereka dihantam badai. Tuhan Yesus tahu akan segala kekuatiran dan ketakutan yang dialami oleh para murid dan Tuhan Yesus ’sengaja’ biarkan mereka masuk dalam berbagai-bagai tantangan. Disini, barulah kita menyadari bahwa manusia tidak layak kita jadikan sebagai obyek iman. kita membutuhkan iman kepercayaan sejati yang tidak mudah digoyahkan.

2. Mengenal Kristus

Tuhan Yesus datang menjumpai para murid setelah kurang lebih enam sampai tujuh jam lamanya mereka diombang-ambingkan oleh angin sakal – Tuhan Yesus berjalan di atas air. Namun perhatikan, para murid justru menyangka Tuhan Yesus itu hantu. Reaksi spontan yang ditunjukkan para murid ini menunjukkan apa yang menjadi konsep pemikiran mereka; i do what i think and i think what i believe. Orang tidak berpikir tentang Tuhan tetapi justru yang ada dalam pemikiran manusia berdosa adalah hantu. Sangatlah menyedihkan, hari ini orang justru lebih takut hantu daripada Tuhan – orang tidak dapat lagi membedakan mana Tuhan dan mana hantu. Dunia telah terbiasa membalikkan sesuatu kebenaran. Orang begitu takut mengatakan kebenaran karena mereka takut dibenci oleh dunia dan dianggap tidak normal. Salah! Kelakuan dunia yang  selalu berpikir tentang hantu dapatlah dikatakan sebagai kelakuan yang tidak normal. Sebagai anak Tuhan, kita harusnya berani menyatakan kebenaran di tengah dunia berdosa ini. Disinilah diperlukan iman sejati.

a. Kunci iman sejati adalah kita tahu siapa yang menjadi obyek iman sejati. Dahulu Saulus pernah salah akan obyek imannya, kini Paulus tahu dengan pasti siapa yang menjadi obyek imannya, ia membedakan dengan tuntas siapakah Allah sejati. Iman sejati bukanlah iman yang asal percaya tetapi iman sejati harus kembali pada obyek iman yang benar. Hati-hati dengan segala tipuan iblis yang sengaja membawa manusia masuk kedalam konsep plural – iblis sengaja membalikkan konsep kebenaran. Kisah yang dicatat dan yang kita renungkan hari ini merupakan gambaran yang sangat riil dimana setiap kita dituntut untuk mengenal Tuhan yang menjadi obyek iman kita dengan baik. Obyek iman sejati perlu kejelasan pengertian sehingga subyek iman tidak salah sasaran. Pengenalan akan Allah membutuhkan menjadi tuntutan penting bagi hidup kita.

b. Alkitab juga mencatat bagaimana reaksi Petrus, si sanguin ini, ia meminta supaya ia dapat berjalan di atas air – reaksi Petrus begitu tiba-tiba pastilah tidak berpikir akan sebab akibatnya dengan permintaannya tersebut. Tuhan Yesus memakai Petrus sebagai alat peraga untuk menunjukkan pada kita tentang iman sejati yang berproses. Petrus mengalami mujizat yang dahsyat, ia dapat berjalan di atas air. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau Petrus dapat berjalan di atas air, apakah ini karena keinginannya atau karena sabda Tuhan? Inilah yang menjadi titik iman. Perhatikan, kalau Petrus dapat berjalan di atas air itu karena Tuhan yang berfirman: “Datanglah!“ Alam pun tunduk dan taat pada perintah Kristus Raja pemilik alam semesta ini dan selama Petrus percaya dan beriman pada Kristus maka mujizat itu terjadi – ia berjalan di atas air.

Anak Tuhan yang sejati seharusnya memiliki iman sejati, taat dan tunduk mutlak pada apa yang menjadi Firman Tuhan maka segala hal yang kelihatan mustahil secara logika, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Ketika Petrus berjalan di atas air, selama itu pula angin dan badai terus menerpa tetapi selama Petrus percaya penuh pada Kristus, ia tidak jatuh tapi ketika dirasakan tiupan angin, ia pun mulai takut dan saat itu juga tenggelamlah Petrus. Ironis memang, kalau tadi angin dan badai begitu kuat menghantam tapi tidak ia rasakan tetapi kini justru makin dekat pada Yesus, ia mulai merasakan tiupan angin dan mulai takut. Ketakutan Petrus cuma satu, yakni ia takut mati. Ketakutan membuat perasaan aman terhadap diri sendiri mulai muncul; orang berorientasi pada dirinya sendiri. Kepercayaan hanya ada dua point, yakni percaya mutlak pada Kristus atau pada diri sendiri. Setiap kita melangkah seharusnya yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita berani melangkah dengan melihat pada Kristus ataukah justru kita takut mati? Ketika perasaan takut mulai muncul dan kita mulai berorientasi pada diri maka kita telah lepas dari Kristus, itulah kecelakaan terbesar dalam diri kita.

Melalui kejadian ini, Tuhan Yesus mau membukakan pada kita tentang iman sejati dan iman palsu. Hari ini, orang begitu percaya pada diri sendiri dan menjadikan diri sebagai obyek iman. Salah! Paulus telah memberikan pelajaran berharga bagi kita, dulu dia pernah salah meletakkan diri sebagai obyek imannya sampai Tuhan hancurkan dia barulah dia menyadari bahwa sekarang dia tidak lagi menghiraukan nyawanya sedikitpun asal ia mencapai garis akhir, yakni pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah (kis. 4:24). Hendaklah setiap kita mengevaluasi diri, sudahkah kita beriman mutlak pada Kristus Yesus? Dunia semakin hari semakin hancur, lalu kita mau meletakkan hidup kita dengan berpegang pada siapa? Satu-satunya sandaran yang teguh adalah Tuhan Yesus, Dia tidak pernah berubah meski dunia ini berubah. Hanya kembali pada Kristuslah kita akan menikmati kuasa kekuatan iman sejati, the power of faith. Kuasa iman bukan berdasar pada apa yang menjadi keinginan kita. Tidak! Kuasa iman itu terjadi ketika kita taat mutlak pada Firman-Nya. Percayalah, betapa sukacita hidup kita ketika kita taat pada pimpinan-Nya. Janganlah kita berorientasi pada diri tetapi hendaklah kita kembali pada obyek iman sejati.

3. Kembali pada obyek iman yang sejati

Alkitab mencatat ketika rasa takut itu mulai menerpa Petrus dan ia mulai tenggelam, ia langsung berseru dan datang pada Tuhan untuk meminta pertolongan dari Tuhan. Pada saat kita jatuh, itulah waktunya kita untuk bertobat dan kembali pada Kristus. Namun manusia begitu sombong tidak mau mengakui kesalahan dan kembali pada Tuhan tetapi kita malah membela diri maka saat itu kecelakaan fatal dalam diri kita. Hari ini banyak orang yang justru menyalahkan dan memaki-maki Tuhan ketika ia berada dalam kesulitan. Petrus memberikan suatu pelajaran yang berharga bagi kita, di saat ketakutan dan kekuatiran itu mulai muncul, ia berseru pada Tuhan dan Kristus pun mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun reda dan perhatikan, para murid yang tadinya menyangka Yesus sebagai hantu, sekarang keluar pernyataan iman dari mulut mereka: “Sesungguhnya, Engkau Anak Allah.“ Ingat, pada jaman itu orang Yahudi akan dihukum mati kalau ia mengakui: Yesus sebagai Anak Allah. Mereka disadarkan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya. Kristus ingin supaya para murid hanya berorientasi pada Kristus bukan pada angin sakal. Tanda adalah tanda tetapi orientasi bukanlah pada tanda.

Ketika orang banyak itu makan sampai kenyang, mereka tidak pernah peduli siapa yang memberi mereka makan, mereka tidak pernah mengerti siapakah Kristus yang sejati. Iman bisa menghasilkan banyak mujizat dan banyak kuasa tetapi iman bukanlah ekstensi tetapi iman membicarakan obyek, yakni Kristus Anak Allah. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi orientasi iman kita? Hendaklah setiap kita kembali pada obyek iman sejati bukan pada apa yang menjadi ekstensi iman – bukan pada tandanya. Hari ini begitu banyak orang yang menginginkan dan menekankan mujizat. Hati-hati, iblis juga dapat membuat mujizat tetapi perhatikan, mujizat yang dikerjakan adalah mujizat yang mementingkan diri dan untuk kemuliaan diri. Mujizat sejati harus kembali untuk kemuliaan Tuhan. “Sesungguhnya, Engkau adalah Anak Allah“ biarlah hal ini menjadi pengakuan iman kita. Bersandarlah mutlak hanya pada Kristus maka kuasa iman itu akan beserta, memimpin setiap langkah hidup kita.

Sadarkah kita kalau setiap kita sudah mendapatkan mujizat terbesar dalam hidup kita, yakni kembalinya kita pada Kristus. Bukan karena kehebatan, kekayaan atau kepandaian kita kalau kita dapat bertobat. Sebab terbukti banyak orang yang katanya hebat tetapi tidak mau kembali pada Kristus. Pertobatan kita merupakan mujizat terbesar sepanjang hidup kita. Cobalah renungkan hidup kita sampai detik ini, betapa banyak mujizat Tuhan yang dinyatakan atas kita, setiap langkah Ia pimpin maka janganlah engkau takut, Tuhan pasti akan menyertai ketika kita berada dalam kesulitan. Ketika Musa dalam keadaan terjepit di antara ribuan prajurit dan laut merah maka Tuhan memberikan jalan keluar yang sangat ajaib. Secara logika, hal itu mustahil tetapi Musa taat dan laut pun terbelah menjadi dua. Masih banyak pekerjaan Allah yang sangat ajaib yang dicatat dalam Alkitab. Inilah kuasa iman yang sejati; semua itu dilakukan bukan untuk kepentingan kita tetapi ketaatan kepada Tuhan yang memungkinkan kita mengalami mujizat Tuhan. Biarlah kita sebagai subyek iman kembali pada obyek iman yang sejati maka hal itu akan membawa kita pada kuasa iman yang sejati. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070708.htm

Eksposisi Injil Matius 14 : THE POWER OF COMPASSION (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Thursday, January 10th, 2008

Ringkasan Khotbah : 24 Juni 2007

The Power of Compassion

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 14:13-23

 

Kita telah memahami bahwa kuasa Kerajaan Sorga lebih dahsyat dibandingkan dengan kuasa dunia dan terbukti, seorang raja besar seperti Herodes pun takut dan gemetar. Hari ini kita kembali dibukakan akan kuasa Kerajaan Sorga melalui mujizat lima roti dua ikan. Alkitab mencatat Tuhan Yesus melakukan mujizat ini karena didasari oleh belas kasihan. The power of compassion itulah yang mendorong Tuhan Yesus mengajar, menyembuhkan, dan memberi makan. Namun, manusia berdosa memanipulasi ayat ini dan berpikir egois. Orang sulit memahami the true compassion sebab orang tidak pernah mengerti bahwa without true love, there is no true compassion.

I. True Love True Compassion

Belas kasihan sejati itu muncul dari cinta kasih sejati, yakni kasih Ilahi karena Allah adalah kasih. Kasih Allah berbeda dengan kasih manusia. Kasih Allah adalah kasih yang mau berkorban bahkan Ia tetap mengasihi meski orang menolak Dia. Kasih yang sejati selalu memikirkan dan melakukan yang terbaik untuk obyek kasihnya, ia selalu menginginkan obyek kasihnya itu menjadi lebih baik, lebih suci, lebih agung, dan semua hal yang sifatnya membangun. Inilah kasih Ilahi yang sejati. Kasih Ilahi mengajar kita untuk berkorban dan menjadi berkat bagi orang lain.

Sebaliknya, kasih manusia selalu menuntut pengorbanan dari obyek kasihnya tetapi ia sendiri tidak mau berkorban. Sebagai ilustrasi, ketika orang berkata, “I love crab“ itu berarti celaka bagi si kepiting, sebab ia akan segera naik ke penggorengan. Demikian pula halnya dengan orang yang berkata, “Aku cinta kamu“ sesungguhnya yang dimaksud “cinta“ disini bukan cinta pada obyeknya tetapi lebih tepatnya, ia mencintai diri sendiri, semua untuk kepentingan diri sendiri. Cinta dunia bersifat egois, tidak mau berkorban dan hanya mementingkan diri. Dunia hanya ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri, selalu menuntut orang lain berkorban tetapi dia sendiri tidak mau berkorban.

“Kasih“ paling banyak disebut dalam Kekristenan namun celakanya, Kekristenan terjebak dengan konsep dunia, di balik kata “kasih“ ada motivasi-motivasi yang sangat mengerikan. Inilah dunia berdosa. Orang tidak memahami esensi kasih maka tidaklah heran kalau orang sulit memahami belas kasihan. Ingatlah, Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu, kasih-Nya yang begitu besar itulah yang seharusnya mendorong kita mengasihi orang lain dengan murni. Biarlah kita mengevaluasi diri kita, sudahkah kita mengasihi dengan kasih Ilahi? Maukah kita berkorban untuk mereka yang menjadi obyek kasih kita?

Belas kasihan merupakan implikasi praktis dari kasih yang sejati. Hanya mereka yang memiliki kasih sejatilah dapat mengimplikasikan belas kasihan. Dunia berdosa tidak pernah memahami akan hal ini, dunia mencintai kalau ia merasa diuntungkan dan tidak mau berkorban untuk orang lain. Orang selalu ingin mendapat belas kasihan, selalu ingin mendapat tanpa pernah memberi. Belas kasihan yang dinyatakan oleh Kristus berbeda dengan dunia:

Dunia telah kehilangan rasa belas kasihan, dunia hanya ingin mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri. Celakanya, hal ini telah diajarkan dan melekat dalam pemikiran manusia dan yang sekarang dikenal dengan istilah ekonomi. Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, oikos berarti rumah tangga dan nomos berarti peraturan. Jadi, pengertian ekonomi adalah bagaimana kita mengatur rumah tangga sedemikian rupa demi kesejahteraan bersama. Ekonomi Allah berarti Allah menetapkan manusia di tengah taman untuk mengusahakan dan memelihara taman untuk menjadi sumber kesejahteraan bersama. Ekonomi suatu bangsa adalah bagaimana pemerintah mengatur ekonomi untuk kesejahteraan suatu bangsa. Namun, ekonomi hari ini tidak ada yang memikirkan tentang kesejahteraan, kesejahteraan hanya sekedar janji manis di mulut belaka. Dunia tidak pernah mengajarkan kita untuk berkorban demi mendatangkan kesejahteraan bersama. Sebaliknya, dunia mengajarkan bagaimana dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Bayangkan, kalau setiap orang ingin mendapatkan untung besar betapa celakanya dunia ini, tidak ada hati yang berbelas kasihan tapi yang ada justru banyak orang menjadi korban. 

Dengan alasan miskin, orang tidak mau berkorban dan berbagi pada orang lain. Sadarkah kita bahwa miskin yang paling fatal adalah miskin rohani bukan miskin secara materi. Ketika kerohanian kita miskin maka seluruh hidup kita pun sangatlah miskin. Allah itu adil, tidak pernah ada orang yang kekurangan karena hidupnya berbagi. Betapa mengenaskan orang yang hidupnya selalu merasa miskin. Dunia sukar berbelas kasihan, dunia hanya ingin mendapat keuntungan dan keuntungan. Biarlah sebagai anak Tuhan, kita diubahkan tidak menjadi seperti dunia tetapi hendaklah hidup kita berbagi dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan Yesus telah memberikan teladan indah pada kita satu hal, yakni how to give, how to have a mercy. Ketika kita mempunyai hati yang penuh dengan berbelas kasih, disana ada kuasa Tuhan yang menyertai.

II. Compassion that Sacrifice

Karena belas kasihan, Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit, mengajar, dan memberi makan lebih dari 5000 orang. Orang banyak itu mengikut Yesus hingga hari menjelang malam dan mereka belum makan maka timbul rasa belas kasihan dalam diri para murid. Yang menjadi pertanyaan adalah darimanakah muncul compassion itu? Kemungkinan karena para murid merasakan hal yang sama seperti yang dialami orang banyak itu, mereka juga merasa lapar. Dunia psikologi menyebutnya sebagai compassion of analogy. Memang bukanlah hal yang salah kalau kita memiliki compassion of analogy, kita dapat menghibur dan menguatkan orang lain yang mengalami hal yang sama seperti yang kita alami.

Belas kasihan yang dinyatakan oleh Kristus berbeda dengan belas kasihan yang dinyatakan oleh dunia. Dalam Kekristenan ada finalitas yang melampaui dari apa yang dunia pikirkan. Di satu sisi, para murid ini ada rasa belas kasihan namun di sisi lain, mereka pikir mustahil memberi makan sebab jumlah mereka banyak. Karena itulah, mereka mengusulkan supaya orang banyak itu pergi ke desa terdekat untuk mencari makan. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus justru meminta semua makanan yang ada pada mereka saat itu. Dapatlah dibayangkan bagaimana perasaan para murid saat itu? Mereka sendiri lapar dan sekarang, makanan yang sedikit itu diminta oleh Tuhan Yesus. Dengan kata lain, sebenarnya mereka tidak ingin berbagi. Hal yang serupa pernah diminta Tuhan Yesus pada orang muda yang kaya, supaya ia menjual hartanya dan dibagi pada orang miskin tetapi ia tidak rela berkorban. Inilah belas kasihan sejati, yakni kerelaan kita berkorban untuk orang lain. Hal seperti ini tidak pernah didapati di dunia, inilah finalitas Kekristenan.

Karena kasih, Kristus berbelas kasihan, Ia memberi makan lebih dari 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan. Dengan tangan-Nya sendiri, Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti dan membagikannya; semua yang ada padanya diberikan kepada orang lain. Hari itu, kalau kita berada di tempat itu, apa yang kita pikirkan saat itu? Dunia seringkali berpikir mujizat Yesus itu “wah“ (hebat) dan enak. Dunia begitu senang dengan hal-hal yang sifatnya materialis dan celakanya, ayat ini dimanipulasi demi kepuasaan diri. Orang tidak pernah memahami apa esensi dari “the true compassion.“ Apakah kita pernah berpikir betapa menderitanya tangan Tuhan Yesus mencabik-cabik roti. Alkitab mencatat ada 5000 orang laki-laki, jika ditambah wanita dan anak-anak berarti jumlah keseluruhan mencapai sepuluh ribu lebih dan kalau satu orang makan lebih dari 5 ketul roti itu berarti lima puluh ribu kali, Tuhan Yesus harus melakukan cabikan. Inilah belas kasihan sejati. Demi orang banyak itu makan, Tuhan Yesus tidak memilih cara yang mudah padahal secara kapasitas, Tuhan Yesus bisa melakukannya – Ia dapat membuat roti dan ikan itu banyak dan terbagi dengan sendirinya, tetapi hal itu tidak Ia lakukan. Tuhan Yesus mempunyai hati yang berbelas kasihan dan hal itu telah dinyatakan-Nya. Tuhan Yesus telah berkorban, Ia menderita demi orang lain dapat makan namun tidak ada seorang pun yang memahami penderitaan Kristus ini. Orang hanya berpikir untuk kesenangan diri sendiri.

Perhatikan, janganlah melihat mujizat dari sisi “wah;“  pernahkah kita menyadari bahwa mujizat itu keluar dari satu penderitaan yang luar biasa? Hari ini banyak orang katanya “berbelas kasihan“ tetapi mereka tidak mau berkorban, tidak mau menderita. Celakanya, Kekristenan tidak pernah memahami apa arti belas kasihan sejati. Kristus datang ke tengah dunia untuk menderita demi menebus dosa manusia; Kristus harus melewati penderitaan yang sangat luar biasa. Kristus melakukan belas kasihan dengan kuasa-Nya yang begitu besar merubah seluruh hidup kita. Pernahkah kita menyadari bahwa belas kasihan ini muncul sejak awal penciptaan? Allah tidak menciptakan manusia di hari pertama dimana bumi masih kosong dan membiarkan manusia seorang diri saja. Tidak! Allah sudah siapkan alam semesta dan segala isinya untuk manusia, Dia berikan yang terbaik untuk manusia. Celakanya, manusia tidak berterima kasih atas belas kasihan Tuhan tetapi manusia malah menuntut  berkat, manusia merasa semua itu sebagai hak yang harus ia miliki. Orang menganggap semua berkat-berkat Tuhan itu sebagai hal yang biasa. Sadarlah, kita ini adalah manusia berdosa, tanpa penebusan dari Tuhan, kita akan binasa. Renungkanlah betapa limpah berkat Tuhan yang dicurahkan atas kita, hari ini kalau kita masih hidup itu harusnya membuat kita bersyukur senantiasa. Dia juga memimpin hidup kita detik demi detik – semua hal yang kita alami bukanlah suatu kebetulan tetapi semua itu sudah ada dalam rancangan-Nya. Sayangnya, orang menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, sampai suatu hari kalau semua hal yang kita anggap biasa itu dicabut oleh Tuhan barulah kita sadar, kalau itu bukanlah hal yang biasa. Siapakah manusia sehingga Tuhan mau berbelas kasihan pada kita, orang yang berdosa? Kalau Tuhan telah terlebih dahulu berbelas kasihan pada kita, biarlah itu menjadi teladan bagi kita; kita mempunyai hati yang berbelas kasih pada orang lain, kita mau berkorban demi orang lain.

III. Keeping Clean Heart & Motivation

Setelah Tuhan Yesus membuat mujizat, Alkitab mencatat, Ia menyingkir ke tempat sunyi (ay. 13, 23). Namun ketika Ia menyingkir ke tempat sunyi, orang banyak mengikut Dia. Hati-hati dengan pemberian judul perikop dalam Alkitab sebab kisah tentang Tuhan Yesus yang memberi makan 5000 orang tidak berhenti sampai di ayat 21 saja. Sepintas, ayat 13 ini sepertinya mengindikasikan bahwa kepergian Tuhan Yesus karena berita kematian Yohanes Pembaptis dan Yesus takut dibunuh. Salah! Celakanya, orang kemudian menafsirkan bahwa orang Kristen boleh lari ketika ia takut mati. Perhatikan, Tuhan Yesus menyingkir ke tempat sunyi itu bukan karena Ia takut mati. Tidak! Dia datang ke tengah dunia justru untuk mati; Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa untuk menjadi tebusan. Lebih tepatnya, Tuhan Yesus menyingkir ke tempat sunyi karena waktu-Nya belum tiba. Pada bagian pertama, kita melihat bagaimana Herodes gemetar dan takut melihat kuasa Yesus yang dahsyat, jadi, tidak tepat kalau dikatakan Tuhan Yesus menyingkir karena alasan takut. Kuasa Kristus jauh lebih besar dari kuasa Herodes bahkan pengikut Tuhan Yesus jauh lebih banyak dari pengikut Herodes.

Setelah mujizat besar yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus, Dia memerintahkan murid-murid-Nya pergi ke seberang dan Ia menyuruh orang banyak itu pulang dan Ia sendiri pun pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Hari ini, kita tidak pernah menjumpai kejadian serupa, bukan? Yang adalah ketika orang selesai melakukan mujizat maka ia ingin supaya orang mengikut dia dan mengelu-elukannya. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ini menjadi kunci penting untuk kita memahami kemurnian kuasa dari belas kasihan. Belas kasihan sejati kalau tidak dibentengi dengan dasar pemahaman yang kuat akan memukul balik diri sendiri dengan motivasi yang salah. Orang yang mendapat belas kasihan tanpa sadar, ia akan mengagungkan orang yang memberi belas kasihan dan natur manusia berdosa ingin menjadi juruselamat dan “allah“ kecil.

Hari ini banyak orang katanya berbelas kasihan dengan memberikan sumbangan berupa uang atau makanan tetapi dengan motivasi lain dibalik semua itu, yakni membeli “ketuhanan diri.“ Belas kasihan sejati harus dikerjakan secara murni tanpa ada penyelewengan motivasi. Tuhan Yesus sangat memahami hal ini, para murid sangat riskan akan menjadi sombong karena dampak “jiwa ketuhanan“ ini karena itulah, Tuhan Yesus memerintahkan mereka untuk menyingkir ke tempat sunyi dan tidak sampai disitu, di tengah perjalanan, mereka dihantam gelombang yang sangat besar sehingga membuat mereka lupa akan mujizat besar yang dilakukan Tuhan Yesus sebelumnya. Inilah cara Tuhan memurnikan motivasi para murid sebaliknya, Tuhan Yesus naik ke atas gunung dan berdoa untuk memurnikan motivasi. Inilah Kekristenan.

Biarlah kita mengevaluasi diri, ketika kita memberi kepada orang lain, apa yang menjadi motivasi kita? Ingat, Tuhan melihat motivasi dalam diri kita. Biarlah setiap kebajikan dan belas kasihan yang kita lakukan itu kita kerjakan dengan motivasi murni, clean heart, clean motivation. Sebuah peribahasa Tionghoa mengatakan hubungan yang baik dan langgeng seperti air putih yang sehat dan bersih, ia akan selalu terus dibutuhkan; kita akan merasa lega dan tidak merasa haus. Belas kasihan yang sejati haruslah didasari oleh motivasi dan hati yang murni. Setelah kita melakukan kebajikan, ada waktunya kita menyendiri dan berdoa memohon supaya Tuhan memurnikan hati kita dan kita sendiri tidak terkena dampak negatif tetapi kita menjadi berkat bagi banyak orang. Memang, hal ini tidaklah mudah tetapi percayalah, Tuhan akan memberikan kekuatan dan memampukan kita melakukan semua itu. Kuasa belas kasihan ini menjadi bagian dari setiap anak Tuhan. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070624.htm

Eksposisi Injil Matius 14 : THE POWER OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Wednesday, January 2nd, 2008

Ringkasan Khotbah : 10 Juni 2007

The Power of the Kingdom

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 14:1-12

Hari ini kita akan merenungkan Matius pasalnya yang ke-14 yang mempunyai inti tema the power of the Kingdom. Sepintas, kalau kita membaca perikopnya yang pertama, yakni tentang Yohanes Pembaptis dibunuh maka sepertinya tidak berkaitan dengan inti tema dan sepertinya antara kisah yang satu dengan kisah yang lain tidak terkait. Hati-hati, judul perikop terkadang memudahkan kita untuk memahami konteks Alkitab namun terkadang menyelewengkan kita dari inti tema. Kisah tentang Yohanes Pembaptis dibunuh menjadi pembuka yang memudahkan kita untuk memahami inti tema dan memudahkan kita memahami tiga perikop selanjutnya. Injil Matius 14:1-12 ini berbentuk sastra berbingkai, artinya dalam cerita terdapat cerita. Kisah ini dimulai dari Herodes yang mendengar berita tentang pelayanan Tuhan Yesus dan uniknya, Herodes langsung mengkaitkannya dengan Yohanes Pembaptis yang telah ia bunuh. Kenapa Herodes melihat Yesus Kristus sebagai cerminan dari Yohanes Pembaptis? Untuk memahaminya, ada baiknya kita melihat latar belakang dari Herodes. Herodes bukanlah orang Yahudi asli, ia orang Idumea keturunan Edom dan dengan cara licik, ia berhasil menjadi raja Yudea. Herodes membangun Bait Allah untuk menarik simpati orang-orang Yahudi dan menjadikannya sebagai raja. Herodes bukanlah seorang pecinta Taurat, ia memanipulasi Taurat bahkan demi karir politiknya maka tidaklah heran kalau konsep pernikahan itu menjadi rusak; Herodes mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya sendiri. Yohanes Pembaptis yang tahu pelanggaran kebenaran ini, menegur Herodes dan Herodias; mereka pun menjadi marah. Terdapat gejolak dalam diri Herodes, di satu sisi, ia ingin membunuh Yohanes Pembaptis tapi di sisi lain, ia takut sebab Yohanes Pembaptis mempunyai banyak pengikut dan tentu saja, Herodes akan kehilangan pendukung maka Yohanes Pembaptis pun dipenjara. Herodias yang menyimpan dendam memakai Salome sebagai alat supaya ia meminta meminta hadiah kepala Yohanes Pembaptis di atas talam sebagai hadiah yang dijanjikan Herodes. Peristiwa ini begitu mencekam pikiran Herodes maka ketika ia mendengar berita tentang Tuhan Yesus, pikiran Herodes langsung tertuju pada Yohanes Pembaptis. Jadi, jelaslah Matius 14:1-12 bukan sekedar berita tentang kematian Yohanes Pembaptis tetapi Firman Tuhan membukakan tentang reaksi Herodes ketika ia mendengar berita tentang Tuhan Yesus. Disini kita melihat pertempuran dari dua kekuatan besar, yakni kekuatan duniawi dan kekuatan kuasa Kristus. Ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan, yakni: 1. Kuasa kebajikan diatas kuasa kefasikan Adalah sifat manusia berdosa yang marah ketika ditegur dosanya. Herodes marah karena teguran keras dari Yohanes Pembaptis akan dosa-dosanya sebab ia merasa dirinya adalah raja yang berkuasa dan siapakah Yohanes Pembaptis sehingga berani menegurnya. Herodes pikir dengan kematian Yohanes Pembaptis maka ia akan aman. Ternyata, Herodes salah, kematian Yohanes Pembaptis tidak menghentikan berita kebenaran. Berita yang sama: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat“ kembali terdengar Herodes dari mulut Tuhan Yesus. Tuhan Yesus dengan keras menegur manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Berita kebenaran ini menggetarkan hati Herodes seorang yang memiliki segala kekuatan kuasa dunia. Manusia lupa bahwa kuasa yang ia miliki malah membuat manusia makin terjerat ke dalam dosa dan berakibat pada kematian kekal. Manusia pikir kalau ia mempunyai kuasa besar maka ia akan mempunyai pengaruh di dunia. Tidak! Ada kuasa lain yang lebih besar, yaitu kuasa kebenaran sejati. Sebesar-besarnya orang memiliki kuasa, sekaya-kayanya orang, ia akan tetap gemetar ketika ia mendengar berita kebenaran yang dibawa oleh Yesus Kristus dan Yohanes Pembaptis. Kristus tidak mempunyai kekuasaan ataupun kekuatan seperti raja Herodes, Ia tidak mempunyai istana, Ia tidak pernah duduk di singgasana, dan Ia tidak memakai jubah indah atau mahkota layaknya seorang raja. Tidak! Sekali-kalinya jubah ungu yang pernah Ia kenakan ketika Ia oleh Herodes sebagai penghinaan dan mahkota yang Ia kenakan bukanlah mahkota yang indah tetapi mahkota duri. Namun ada satu kekuatan yang Kristus memiliki yang dapat menggetarkan raja Herodes yang besar, yakni Kristus mempunyai kekuasan kebenaran. Kristus adalah Raja sejati, Dia adalah Raja di atas segala raja. What is the true power? Sekuat-kuatnya manusia, sekaya-kayanya manusia dan kuasa sebesar apapun yang dimiliki manusia, tidak dapat membuatnya lepas dari jerat dosa. Hari ini, dunia dengan segala cara berusaha membuang berita kebenaran. Sadarkah kita bahwa semakin kita melawan kebenaran justru itu menjadikan makin berdosa. Hidup di kota metropolis dimana globalisasi menjadikan manusia egois dan humanis itu menjadi salah satu penyebab menjadikan manusia tidak peka akan dosa, manusia semakin terjerat ke dalam dosa. Berbeda halnya hidup di kota kecil dimana kritik sosial dan tekanan dari masyarakat turut andil menjaga manusia tidak berbuat dosa, manusia lebih takut untuk melakukan perbuatan yang melanggar asusila maupun hukum. Ironisnya, hari ini gereja yang seharusnya menegur dosa dan memberitakan kebenaran, justru menjadi takut. Tuhan memanggil kita untuk dua hal, yakni: 1) menyadarkan kita betapa dahsyat kekuatan kuasa kebenaran dibanding dengan kuasa dunia. Setiap orang berdosa pasti akan gemetar ketika ia mendengar berita kebenaran dan ditegur dosanya. Berita seperti inilah yang dibutuhkan oleh dunia berdosa. Satu-satunya kekuatan besar yang dapat kita miliki adalah ketika orang kembali dan hidup dalam kebenaran. Jelaslah, perikop ini bukan sekedar berita tentang kematian Yohanes Pembaptis tetapi perikop ini membukakan pada kita bagaimana Herodes yang gemetar ketika ia mendengar berita kebenaran yang dibawa oleh Kristus. Sehebat apapun manusia, dia akan gemetar ketika kebenaran itu sampai ke hadapannya. The true power is the power of truth; 2) Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan kebenaran dan menyadarkan orang akan dosa dan penghakiman. Orang Kristen adalah wakil Kristus di tengah dunia berdosa. Ingat, Tuhan akan marah kalau kita tidak memberitakan berita kebenaran. Berita Injil telah diselewengkan sedemikian rupa, yakni hidup berkelimpahan, sehat, dan kaya. Tidak! Berita Injil sejati adalah menegur orang akan dosa dan membawa manusia kembali pada kebenaran. Adalah anugerah kalau orang sadar akan dosa dan orang mau bertobat dan mau kembali pada kebenaran. Daud ketika ditegur dosanya, ia langsung gemetar, menangis dan bertobat – Tuhan pun mengampuni dosanya. Berbeda dengan Saul, ketika ditegur dosanya, ia tidak mau kembali pada Firman sebaliknya buruk muka cermin dibelah. Inilah dunia berdosa, orang justru menjadi marah dan melawan ketika ditegur akan dosa. Reaksi ini wajar malahan kalau orang masih bereaksi ketika ditegur dosanya, berarti ia masih ada pengharapan bagi dia untuk bertobat. Sebaliknya, orang yang bersikap dingin ketika mendengar berita kebenaran maka itulah titik kematiannya. Hanya dengan membawa seseorang bertobat maka disana ada keselamatan sejati. 2. Kuasa Sorga diatas kuasa dunia Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat berkarisma dan berkuasa, ia sangat dihormat oleh orang Yahudi bahkan orang Farisi, ribuan orang bertobat dan meminta diri dibaptis. Namun, Yohanes Pembaptis tidak satu kali pun membuat mujizat namun toh berita kebenaran yang diteriakkan oleh Yohanes Pembaptis mampu menggetarkan Herodes. Dan kini, Herodes berhadapan dengan Kristus yang mempunyai kuasa lebih besar dibanding Yohanes Pembaptis dan kuasa itu membuat raja Herodes yang besar itu takut dan gemetar (ay.2). Seharusnya Herodes sadar akan keberadaan dirinya, who i am? Herodes bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan. Ironisnya, banyak orang Kristen hari ini tidak menyadari kekuatan kuasa Kristus dalam hidup mereka. Dunia terus mencari kuasa seperti Herodes, yakni kuasa yang materialis, kuasa yang humanis, kuasa yang hanya mengejar unsur kedagingan dan kenikmatan dunia semata. Celakanya, dunia menganggap kuasa dunia itu sebagai kuasa terbesar. Tidak! Hendaklah kita belajar dari kuasa Kristus. Herodes mempunyai kuasa kedagingan, kuasa kemiliteran, kuasa kematerian dan kuasa lain yang sifatnya dosa namun ketika ia berhadapan dengan kuasa kebenaran maka semua kuasa yang ia miliki tidaklah berarti. Kristus membawa kuasa kebenaran – kuasa Kerajaan sorga dan tidak ada kuasa dunia yang dapat melawan kuasa Kristus. Orang Kristen sejati yang hidup benar di dalam Kristus mempunyai kuasa kebenaran jauh lebih besar dari semua kuasa dunia dan kuasa setan. Jelaslah, mengusir setan bukan karunia tetapi mengusir setan merupakan hak setiap orang Kristen. Inilah kuasa terbesar yang Allah sediakan. Kalau kita ada di dalam Kristus, siapakah lawan kita? Jangan takut dengan segala kuasa dunia dan kuasa setan sebab semua semua kuasa itu tidaklah lebih besar dari kuasa Kerajaan Sorga yang dimiliki oleh orang percaya. Kita lebih dari sekedar seorang pemenang karena kita adalah anak Tuhan. Pertanyaannya benarkah kita anak Tuhan sejati? Seorang anak Tuhan sejati tidak menggunakan segala kuasa yang ada untuk egois diri, segala kuasa yang ada bukan untuk berbuat dosa tetapi kuasa itu untuk menyatakan kebenaran Allah dan menyadarkan orang akan dosa. Betapa indah hidup kita kalau kita berjalan dalam pimpinan-Nya. Kalau Tuhan di pihak kita, tidak ada siapapun yang berani melawan kita? Jangan pikir kalau kita dapat melawan Allah dan menang; melawan Tuhan akan berakibat kematian. Ingat, hanya kepada Tuhan sajalah kita harus menyembah, jangan takut pada segala kuasa dunia sebab tidak ada kuasa lain yang lebih besar dari kuasa Kristus. Manusia, iblis dan malaikat harus tunduk pada Kristus Sang Raja. Ingat, kalau bukan Kristus yang menyerahkan diri maka tidak ada kuasa manapun yang dapat menangkap Dia. Jadi, dalam seluruh perjalanan sejarah terbukti apa yang menjadi kehendak kedaulatan Allah tidak dapat diganggu oleh manusia. Dengan segala cara, iblis berusaha menghambat apa yang menjadi kehendak Allah namun semua itu sia-sia. Kekuasaan tertinggi ada di tangan Kristus. Sebaliknya, ketika kita berjalan dengan mengandalkan diri sendiri maka kita akan jatuh dan hancur dalam kebinasaan. Kuasa Kristus itulah yang menggetarkan Herodes – semua kuasa yang dimiliki Herodes bukanlah apa-apa dibanding kuasa Kristus. Inilah kuasa sejati. Hendaklah kita mengevaluasi diri, selama kita hidup, kita tunduk pada kuasa siapakah? Cara Tuhan bekerja memimpin seseorang dengan kuat kuasa-Nya yang dahsyat itu membuat orang berdosa takut dan gemetar. Sangatlah disayangkan, banyak orang Kristen tidak menyadari kuasa ini akibatnya mereka ikut pada kuasa dunia. Sadarlah, kita memiliki kuasa kebenaran, kuasa Kerajaan Sorga yang lebih besar dibanding dengan semua kuasa dunia. 3. Kuasa ketaatan diatas kuasa egoisitas Herodes pastilah sangat traumatik akibat perbuatannya pada Yohanes Pembaptis. Traumatik ini membuat pola berpikirnya rusak total akibatnya ia melihat Yesus sebagai Yohanes Pembaptis. Dosa membuat seluruh struktur berpikir manusia menjadi rusak total. Dapatlah dikatakan orang dunia yang katanya pandai tetapi sesungguhnya ia bodoh. Knowledge is the interpretation to reality not reality itself. Yang disebut sebagai pengetahuan adalah cara melihat suatu realita, kalau kita gagal melihat realita yang sesungguhnya berarti kita telah gagal melihat realita yang sesungguhnya. Hal inilah yang terjadi dalam diri Herodes, ia tidak dapat melihat realita Yesus, ia melihat Yesus sebagai Yohanes Pembaptis karena pikirannya telah terpola tentang Yohanes Pembaptis. Mind set yang rusak itu seperti orang yang memakai kacamata hijau maka semua yang ia lihat akan berwarna hijau padahal realitanya tidaklah demikian. Francis Schaeffer menegaskan I do what I think and I think what I believe, apa yang kita lakukan adalah hasil dari apa yang kita pikir dan apa yang kita pikir adalah hasil dari kepercayaan kita. Jelaslah, kalau kepercayaan kita salah maka semua yang kita pikir pasti salah sebaliknya kalau kepercayaan kita benar maka seluruh yang kita pikir pasti benar. Dapatlah disimpulkan, letak permasalahan bukan pada pengetahuan tetapi bagaimana orang melihat dan memahami pengetahuan. Ini menjadi rentetan yang saling berkait dan tidak dapat dilepaskan. Celakalah hidup kita kalau kita masuk dalam cengkeraman iblis, sulit bagi kita untuk lepas dari cengkeramannya. Perhatikan, semakin kita takut pada perbuatan jahat, takut dengan segala cara setan maka kita masuk dalam situasi traumatik. Realita bukanlah sekedar urusan psikologi. Tidak! Traumatik ini sudah masuk dalam wilayah theologi, yakni iman – apa yang menjadi kepercayaan kita. Satu-satunya cara adalah merombak total seluruh pemikiran kita dan kembali pada kebenaran sejati. Semakin hari dunia tidak menjadi semakin baik, dunia makin menegakkan kebenaran pribadi dan yang disebut sebagai hak asasi. Ketika manusia menegakkan kebenaran relatif, masing-masing pribadi merasa diri benar dan celakanya, setiap orang ingin menegakkan kebenaran yang ia anggap benar maka dapatlah dibayangkan betapa kacau dunia ini. Dunia harus berhenti menegakkan hak asasi dan mulai mengejar kewajiban asasi. Kalau setiap orang ingin menegakkan hak asasinya pasti ia akan melanggar hak asasi orang lain dan tentang hal ini, Firman Tuhan telah menegaskan bahwa hak itu hanya milik Tuhan semata. Tugas kita adalah menjalankan kewajiban; setiap orang yang menjalankan kewajibannya masing-masing maka hak itu pasti terpenuhi dengan sendirinya. Bayangkan, kalau seorang presiden menuntut haknya sebagai presiden dan lembaga pemerintahan yang lain juga menuntut haknya dan tak ketinggalan rakyat pun menuntut haknya maka kacaulah negara itu. Suatu negara akan makmur dan tenteram kalau setiap orang menjalankan kewajibannya masing-masing. Namun sangatlah disayangkan, dunia tidak memahami konsep ini, setiap orang ribut memperjuang-kan hak akibatnya kekacauanlah yang terjadi dan orang menjadi traumatik dan paranoid; orang akan selalu menaruh curiga pada apapun dan siapapun. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa orang lebih takut pada kuasa dunia dan tidak takut pada kuasa kebenaran yang mempunyai kekuatan lebih besar dari dunia? Janganlah pikiran kita dicengkeram oleh dunia, kita akan dibayangi oleh rasa takut ketika berhadapan dunia. Ingat, kita adalah anak Tuhan dan anak Tuhan sejati mempunyai kuasa jauh lebih besar dari kuasa dunia. Perikop ini telah membukakan pada kita kontrasnya antara kuasa Kristus dan kuasa dunia. Berbahagialah kita yang berjalan dalam pimpinan Tuhan yang memberikan kuasa Kerajaan Sorga itu pada setiap anak-Nya yang taat kepada-Nya. Maukah kita berjalan bersama dengan Dia? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20070610.htm