Archive for March, 2008

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Content of the Creed (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Wednesday, March 26th, 2008

Ringkasan Khotbah : 25 November 2007

Messiahship of Christ: The Content of the Creed

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:21-24

Tema utama Matius 16 adalah Messiahship of Christ dan puncaknya adalah credo yang diungkapkan oleh Petrus, yaitu Engkau adalah Anak Allah yang hidup. Hari ini banyak orang yang tidak paham esensi credo dan celakanya, gereja pun mulai meniadakan credo yang adalah dasar dari kebenaran Firman. Alangkah bodohnya kalau orang mengaku alkitabiah tetapi meniadakan credo dan tidak dapat mempertanggungjawabkan iman dari credo yang ia ungkapkan. Iman sejati harus dimengerti dengan tepat dan hal ini dimulai dari sebuah pengakuan iman. Kristus adalah Mesias merupakan credo pertama yang ada dalam sejarah Kekristenan. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauhkah kita mengerti isi credo yang menjadi inti kepercayaan kita? Hal ini akan menjadi perenungan kita hari ini. 

Hari ini banyak orang yang mengatakan yang penting percaya Yesus maka kita akan masuk sorga. Tidak! Pertanyaannya adalah Yesus yang manakah yang kita percaya? Yesus seperti apakah yang kita percaya? Paulus dengan sengit menegaskan supaya kita waspada terhadap Yesus yang lain, Injil yang lain dan Roh yang lain (2Kor. 11:4). Tidaklah mudah membedakan antara Yesus yang asli dan Yesus yang palsu, Injil yang asli dan Injil yang palsu, Roh yang asli dan Roh yang palsu, semuanya menjadi kabur maka tidaklah heran kalau kemudian muncul banyak bidat hari ini. Itulah sebabnya ketika Petrus mengeluarkan suatu pernyataan iman bahwa Kristus adalah Anak Allah yang hidup maka Kristus merasa perlu membereskan pemahaman dan pengertian akan Mesias Anak Allah. Matius 16:21 menjadi titik putar, pivotal point dimana Tuhan Yesus membukakan apa yang menjadi isi dari pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Mesias Anak Allah yang hidup. Dari tindakan-Nya, mujizat-Nya, berita-Nya dan pengajaran-Nya seharusnya orang melihat kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias khususnya para tokoh agama Yahudi. Namun ironis, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki tidak melihat dan ironisnya, mereka meminta tanda. Tanda itu diminta bukan karena mereka ingin melihat kebenaran. Tidak! Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi maksud dan rencana mereka maka Tuhan Yesus hanya memberikan tanda Yunus lalu meninggalkan mereka.

Tuhan Yesus mulai membukakan apa yang menjadi misi Mesias, yaitu pergi ke Yerusalem, menanggung penderitaan dari pihak tua-tua dan imam-imam dan ahli Taurat, dibunuh mati lalu bangkit pada hari ketiga. Injil Matius mencatat tentang berita ini paling sedikit 4 kali dan pertama kali diungkapkan di ayat 21. Sejak Perjanjian Lama, bangsa Yahudi menantikan Mesias sampai pada jaman Daud, mereka lebih menantikan Kristus Yang Diurapi. Seorang Mesias menyangkut 3 fungsi yang menyatu, yaitu Raja, Imam dan Nabi. Konsep Mesias orang Israel adalah Raja yang berkuasa sangat besar bahkan kuasa dan kerajaannya melampaui Raja Daud; Mesias menjadi Imamat dan Penebus yang membawa manusia pada keselamatan; Ia adalah Juruselamat umat manusia dan Ia adalah Nabi yang membawa pengajaran yang sejati. Dan setiap orang Yahudi sangat ingin kalau Mesias itu hadir dari keturunan merekan itulah sebabnya pada jaman Perjanjian Lama ketika seorang wanita mandul maka itu dianggap sebagai suatu kutukan dan mereka sangat bersedih karena itu berarti menutup semua kemungkinan dan pengharapan akan lahirnya seorang Mesias dari keturunan mereka. Petrus dapat mengeluarkan pernyataan dahsyat kalau Yesus adalah Mesias tetapi konsep Mesias yang ada dalam pemikiran Petrus tidak ubahnya seperti konsep orang Yahudi sejak Perjanjian Lama, yakni sangat duniawi; apa yang dikatakan dengan pengertian di balik pernyataan tersebut sangatlah berbeda. Mereka berpikir Mesias itu akan mengalahkan dan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Mesias atau Kristus itu akan duduk di tahta-Nya yang maha indah dan dahsyat dan pada saat itu para murid membayangkan mereka akan menjadi perdana menteri yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Mereka akan memiliki tentara yang besar yang mengalahkan semua kerajaan yang ada dunia. Konsep Mesias yang ada dalam pemikiran mereka sangatlah duniawi, the succesfull Mesianic wordly concept. Itulah sebabnya Kristus datang menghadirkan konsep Mesias sejati.

Ironisnya, konsep Mesias yang sangat duniawi itu juga merasuk pemikiran dunia modern ini; kalau Kristus adalah Raja maka setiap orang yang percaya pada-Nya berarti anak Raja dan anak Raja akan hidup berkelimpahan. Kristus adalah Mesias Anak Allah yang hidup, dalam bahasa Indonesia kalimat ini bisa mempunyai 2 arti, yakni: 1) Anak/Allah yang hidup, 2) Anak Allah yang hidup namun dalam bahasa aslinya, yang lebih tepat adalah arti yang pertama.

Itulah sebabnya, Tuhan Yesus perlu menjelaskan bahwa yang namanya Mesias, yang disebut Mesias, dan hadirnya Mesias – tugas dan fungsi Mesias tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Mesias itu harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat lalu dibunuh dan bangkit hari ketiga. Pernyataan Tuhan Yesus sungguh diluar dugaan, konsep Petrus berbeda dengan konsep Mesias yang benar, ia pun langsung memegang tangan Tuhan Yesus dan menarik Dia ke samping dan marah: “Tuhan, kiranya Allah akan menjauhkan hal itu.“ Kalau sebelumnya Petrus mengakui: Kristus adalah Anak Allah yang hidup berarti sebagai Anak Allah seharusnya Ia lebih tahu apa yang Bapa pikirkan daripada Petrus, bukan? Namun Petrus merasa dirinya lebih mengerti dari Kristus. Tindakan Petrus ini keluar dari konsep Mesianik yang salah. Apa yang menjadi penyebab sehingga kita bisa berpikir salah tentang konsep Mesias?

1. Seorang Raja tidak boleh kalah ataupun mengalami penderitaan ataupun jatuh dan gagal. Alkitab menegaskan kemenangan itu bukanlah bersifat fisik atau materi. Dunia ingin mencapai posisi tinggi tetapi dengan cara yang penuh dengan intrik dan kompromi jadi sesungguhnya, ia kalah dalam banyak aspek. Adalah pemikiran yang salah kalau kekuasaan tinggi dan  Tidak! Justru sebaliknya semakin kaya seseorang dan semakin besar kekuasaannya maka ia semakin menderita.  Ayub tidak akan pernah mengalami kasus Ayub kalau ia tidak kaya. Seandainya Ayub adalah seorang yang saleh tetapi miskin maka setan tidak akan mencobai Ayub. Alangkah bodohnya kalau kita berpikir uang dan kekuasaan itu adalah segala-galanya dalam hidup namun sayang, konsep inilah yang banyak dipikirkan oleh manusia. Di tengah-tengah dunia ini tidak ada satu kuasa pun yang bisa mencapai kemutlakan, hanya kembali pada Allah sajalah maka disitu ada kemutlakan sejati. 

2. Tuhan Yesus sangat jelas tahu bahwa apa yang akan terjadi di Yerusalem, yakni menderita sengsara, mati dan bangkit. Yang sulit dimengerti adalah kalau Tuhan Yesus sudah tahu apa yang akan terjadi lalu mengapa Ia harus pergi ke Yerusalem? Kalau hal yang sama kita kenakan pada kita, pasti kita akan menghindar dari segala  tantangan dan penderitaan bahkan celakanya, mereka berani menggunakan ayat Alkitab untuk membenarkan tindakan mereka tersebut. Perhatikan, Tuhan Yesus, Paulus maupun para rasul yang lain tidak pernah menghindar dari penderitaan atau tantangan. Tuhan Yesus harus pergi karena memang waktu-Nya belum tiba tetapi ketika waktu-Nya tiba, Dia datang ke Yerusalem untuk menderita sengsara dan mati, demikian pula halnya dengan Paulus, dalam banyak aspek, ia menghindar tapi ketika waktu-Nya tiba, ia pergi ke Yerusalem juga meskipun berulang kali Agabus memperingatkan dia. Inilah iman sejati. Dunia justru berpikir sebaliknya, yakni anak Tuhan itu sekali-kali tidak akan mengalami penderitaan dan menghindari penderitaan. Tidak! Kalau tiba waktu Tuhan yang mengharuskan kita harus menderita maka kita harus taat.

3. Tuhan Yesus sangat baik maka Allah pasti akan menjaga orang baik, Ini merupakan kesalahan konsep keadilan di tengah-tengah hidup orang berdosa. Merupakan konsep yang salah kalau dunia berpikir bahwa Tuhan pasti akan menjaga orang baik sehingga orang baik pasti tidak akan mengalami penderitaan, orang baik tidak akan sakit, orang baik tidak akan bangkrut, dan masih banyak lagi pemikiran salah yang tertanam dalam konsep mereka. Konsep ini menjadikan orang tidak takut akan dosa; orang justru merasa nyaman sebab hukuman dosa itu belum dirasakan. Perhatikan, Tuhan tidak mempunyai tanggung jawab sedikitpun untuk menjagai kita. Tidak! Memang seberapa baikkah kita sehingga Tuhan harus menjagai kita? Semua kebaikan kalau hanya untuk mencari kenikmatan hidup bukanlah kebaikan sejati. Konsep keadilan Tuhan telah diselewengkan ketika orang mendapatkan kesulitan dan penderitaan berarti ia berdosa sebaliknya, orang yang “sukses“ secara dunia berarti kita tidak berdosa dan menganggap diri baik sehingga hal ini semakin menjadikan kita semakin berbuat dosa lagi. Kalau keadilan Tuhan itu benar-benar ditegakkan di tengah dunia ini maka tidak ada satu orang pun yang lepas dari murka Tuhan sebab upah dosa adalah maut. Habakuk pun pernah protes pada Tuhan sebab sebagai seorang nabi Tuhan, ia tidak seharusnya mengalami bahkan melihat segala kekacauan dan penderitaan pun seharusnya tidak. Tuhan membukakan pemikiran Habakuk sehingga keluar suatu pernyataan indah yang ditulis Hab. 3:17. Hal yang sama juga ada dalam konsep ketiga teman Ayub yang menganggap penderitaan Ayub itu karena kesalahan Ayub dan sampai Perjanjian Baru, Petrus juga mempunyai konsep yang salah akan Mesias – Mesias tidak boleh menderita maka Petrus pun langsung menarik tangan Tuhan Yesus dan menjauhkan hal itu. Tuhan yesus dengan keras menghardik Petrus: ”Minggir, setan” (bahasa asli) sebab engkau tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah tetapi engkau hanya memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia. Petrus sulit menerima konsep Mesias yang benar sebab di lain pihak, ia tidak siap harus menerima tantangan dn penderitaan dan hal ini terbukti ketika seorang gadis kecil menghampiri Dia dan menanyakan kedekatan-Nya dengan Tuhan Yesus maka serta merta Petrus menjadi takut dan menyangkali Tuhan Yesus.

Hidup dalam kebenaran sejati berarti harus menerima segala resiko dan menderita aniaya (2 Tim. 3:12). Ironisnya, konsep Mesias jaman Perjanjian Lama hingga dunia modern tidak berubah. Tuhan Yesus datang membukakan konsep Mesias sejati, tugas dan misi Mesias:

1. Menyadarkan manusia akan realita dosa. Kristus berinkarnasi datang ke tengah dunia untuk menderita sengsara dan mati di salib hanya membuktikan satu hal, yakni karena dosa. Kalau manusia tidak berdosa maka Kristus tidak perlu hadir ke tengah dunia. Manusia sudah melawan Allah, manusia hidup dalam dosa namun di tengah dunia, orang berdosa tidak mau mengakui dosanya lalu merasa dirinya tetap baik; ini merupakan dosa yang paling dosa. Apa artinya kehadiran Yesus kalau Ia datang ke Yerusalem, mengalahkan semua musuh, mempunyai singgasana, bermahkota dan berpakaian maha indah dan para murid duduk di sebelah kanan dan kiri lalu hidup berpesta pora dan mengalami kebinasaan kekal. Apakah hal seperti itu yang diharapkan? Banyak orang Kristen hari ini memandang kesuksesan berarti mempunyai kuasa dan kaya. Ingatlah, untuk apa semua harta kekayaan kita kalau kehilangan nyawa; semua itu hanyalah kesia-siaan. Mesias datang untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal. Mesias hadir untuk menyelesaikan problema manusia terbesar, yaitu dosa. Ia datang bukan untuk mendirikan kerajaan dunia tetapi menegakkan kerajaan spiritual dan mengeluarkan manusia dari jerat dosa supaya kita kembali pada Allah sejati. He is the true King with the true Kingdom.

2. Dosa hanya dapat diselesaikan melalui penebusan Kristus. Orang mencoba melunakkan dosa dengan mengatakan dosa itu sebagai kelemahan. Dosa bukan sekedar kelemahan, tetapi dosa adalah memberontak terhadap Allah. Orang sadar akan dosa tetapi orang sengaja melupakan dosa. Hati nurani manusia tidak dapat dibohongi, sekeras apapun orang berusaha melupakan dosa, orang tidak bisa lari dari dosa itu tetap ada dan upah dosa adalah maut. Orang mencoba menyelesaikan problema dosa dengan melakukan perbuatan baik dan menganggap perbuatan baik itu sudah cukup membuatnya masuk dalam Kerajaan sorga. Tidak! Perbuatan baik yang dilakukan karena ingin mendapatkan sorga maka itu bukan perbuatan baik; orang semakin berbuat baik maka orang akan semakin berdosa. Perbuatan baik yang asli dapat dikerjakan sesudah ia mendapat sorga bukan sebaliknya, berbuat baik untuk mendapatkan sorga maka satu-satunya cara adalah Kristus Sang Mesias itu datang dan menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Penebusan menjadi titik penting dalam Kekristenan. Theologi Reformed melihat seluruh hidup dalam 4 titik penting, yakni CFRC – Creation, Fall, Redemption, Consummation. Inilah Kemesiasan Kristus tanpa penebusan kita tidak akan keluar dari jerat dosa. Orang berdosa menyelesaikan problema dosa, menganalisa problema dosa dengan cara berdosa dan hasilnya pastilah dosa. Kunci pertama untuk kita dapat melihat dan kembali pada Kristus adalah menyangkal diri, membuang segala keinginan, menggagalkan semua ambisi pribadi maka selamanya kita tidak akan pernah mengerti kebenaran. Creation menjadi titik acuan dimana orang tahu kalau ternyata kita berada dalam posisi fall; untuk keluar dari titik fall, harus ada redemption, Kristus yang menggantikan hukuman manusia berdosa dan menjadi tebusan sehingga kita dihidupkan kembali. Kristus menjadi domba Paskah menggantikan dosa manusia. Betapa besar kasih Kristus untuk manusia berdosa, Ia rela memberikan diri-Nya dan menjadi tebusan bagi kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:7-8). Kalau untuk orang baik, orang mau berkorban tapi untuk orang benar siapa orang mau berkorban untuk dia? Dunia tidak mau berkorban untuk orang benar apalagi untuk orang berdosa masih adakah orang yang mau berkorban untuk dia? Kristuslah jawabannya, Dia mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Kuasa penebusan Kristus adalah kuasa dahsyat yang berubah hidup kita. Kasih pengorbanan Kristus seharusnya menjadikan kita sadar dan hidup dalam kebenaran-Nya sejati dan taat pada-Nya.

3. Kemenangan dan kemuliaan kebangkitan Kristus. Kristus bangkit pada hari ketiga, Dia menang atas kuasa dosa, Dia menghancurkan kuasa kematian dan membawa kita pada kehidupan kekal. Hanya Kristus satu-satunya yang dapat mengalahkan maut. Mesias telah memberikan pada kita mujizat terbesar dam kalau orang dapat mengaku dosa dan percaya pada Kristus Sang Mesias maka itu merupakan mujizat terbesar. Sebab bukanlah hal yang mudah orang mengaku dosa ketika ia ditegur akan dosanya. Upah dosa adalah maut dan hanya kembali pada Kristus sajalah dan hidup dalam kebenaran-Nya maka kita akan diselamatkan. Injil sejati menjadikan orang sadar akan dosa dan mengaku dosa. Hal inilah yang terjadi ketika John Sung mengabarkan tentang Injil sejati, mujizat besar terjadi yakni banyak orang berdosa mengaku dosa. Ketika gereja Tuhan mengalami kesulitan dan penderitaan disana Tuhan memimpin maka itu merupakan suatu mujizat. Mujizat Tuhan bukanlah miskin jadi kaya, sakit jadi sehat, hidup nyaman. Tidak! Mujizat sejati tidak bersifat hedonis dan humanis. Kuasa sejati Kristus adalah kuasa mengalahkan dosa bukan kuasa untuk berbuat dosa. Mesias sejati bukanlah seperti yang Petrus pikirkan sehingga konsep Petrus harus dibongkar dan diperbaiki untuk kembali pada Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus adalah kuasa hidup, kuasa yang mengalahkan kematian, kuasa yang mengalahkan dosa dan membawa kita pada terang-Nya yang ajaib. Konsep Mesias dan isi dari pengakuan merupakan satu kesatuan, apa yang kita katakan dengan isi memadu menjadi satu dan menjadi kekuatan bagi kita. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071125.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Content (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Tuesday, March 18th, 2008

Ringkasan Khotbah : 04 November 2007

Messiahship of Christ: The Content

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:5-12

Injil Matius 16:5-12 ini sangat berkaitan erat dengan ayat sebelumnya. Disini kita melihat bagaimana setiap orang mempunyai konsep berpikir tersendiri. Demikian pula halnya dengan orang-orang Yahudi mempunyai suatu ajaran/doktrin namun ajaran itu diselewengkan sedemikian rupa, yakni menurut apa yang mereka anggap benar. Ajaran yang benar harus kembali pada kebenaran sejati yang absolut bukan menurut kebenaran menurut manusia. maka tidaklah heran kalau mereka bersikeras untuk meminta tanda padahal Tuhan Yesus telah membuat banyak tanda yang membuktikan akan Kemesiasan-Nya seperti orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan masih banyak tanda lain. Hanya Mesias saja yang dapat melakukan mujizat tersebut namun mereka tidak pernah mengerti tanda. Mereka ingin tanda itu haruslah seperti yang mereka minta yang sesuai dengan konsep mereka maka tidaklah heran kalau selamanya mereka tidak akan pernah mengerti tanda. Tuhan Yesus tahu akan hal ini maka Ia pun tidak meladeni dengan lama; Tuhan Yesus hanya memberikan tanda Yunus lalu meninggalkan mereka dan pergi. 

Para murid sama sekali tidak memperlihatkan setitik kepedulian akan apa terjadi antara Tuhan Yesus dan orang Farisi dan Saduki. Para murid mempunyai doktrin tersendiri, yakni bagi mereka yang penting hidup sejahtera tidak peduli siapa orang yang kepadanya mereka ikut. Lihat respon mereka yang kebingungan ketika mereka lupa membawa roti. Tuhan Yesus meminta para murid untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus dengan jelas mengungkapkan yang dimaksud ragi disini adalah ajaran/doktrin orang Farisi dan Saduki namun para murid malah berpikir ragi tersebut berhubungan dengan roti yang lupa mereka bawa. Jelaslah disini, doktrin yang telah tertanam sebelumnya dalam pikiran kita itulah yang menjadi penyebab dari pemahaman yang salah; apa yang dikatakan oleh seseorang itu ditangkap kemudian keluar interpretasi atau cara pikir yang tidak pas akibatnya mereka salah melihat hidup dan salah mengerti kebenaran sejati. Tuhan Yesus melihat dampak yang sangat serius daripada ajaran atau doktrin namun banyak orang yang menolak untuk kembali pada doktrin yang benar. Beberapa aspek penyebabnya, yaitu:

1. Iblis perusak doktrin yang benar, Iblis adalah bapa orang berdosa maka ia berusaha sedemikian rupa menjatuhkan manusia dalam dosa. Manusia berdosa akan mempunyai konsep berpikir seperti iblis. Seorang ayah yang mempunyai pemikiran materialis maka cara ia mendidik anaknya pun akan materialis dan tentu saja pemikiran ini akan terbawa sampai si anak bertumbuh dewasa kecuali ia bertemu Tuhan secara pribadi dan Tuhan mengubahkan. Seringkali kita menjumpai kasus dimana seorang ayah hanya tersenyum bahkan tidak peduli ketika anaknya memecahkan sebuah gelas murah yang didapat secara gratis namun ia menjadi sangat marah ketika anaknya memecahkan sebuah gelas yang harganya jutaan. Seorang anak kecil tidak pernah memahami harga karena bagi dia, perbuatan yang ia lakukan sama, yakni memecahkan sebuah gelas. Dari kalimat kemarahan si ayah, doktrin materialis telah tertanam pikiran si anak. Maka tidaklah heran, hari ini banyak orang bertanya untung rugi ketika mengikut Kristus. Hati-hati dan waspadalah dengan akal licik si iblis yang sengaja menanam konsep materialis humanis pada manusia sejak dari kecil.

2. Dua contoh sejarah pergeseran doktrin: a) Agama Yudaisme, semua bentuk keagamaan palsu selalu melawan kebenaran sejati, dia memposisikan diri sebagai kebenaran lalu menanamkan “kebenaran“ tapi kebenaran tersebut malah melawan kebenaran. Orang Farisi menganggap dia sedang mengajarkan kebenaran dan menanamkan kebenaran tetapi ketika kebenaran sejati itu datang, mereka telah siap melawan dan menghancurkan kebenaran sejati. Agama Yahudi, agama yang dimana orang-orangnya dikenal sangat religius dan beribadah tetapi ketika mereka bertemu dengan Sang Allah, Sang Kebenaran, Sang Kesalehan datang di hadapan mereka namun mereka justru hendak menghancurkan Tuhan Yesus. Kalau kita tidak berhati-hati maka kita akan masuk dalam kondisi yang sama seperti orang Yahudi. Seberapa jauhkah peringatan Tuhan Yesus untuk kita senantiasa “waspada“ itu terngiang dan menjadikan kita lebih berhati-hati dan dengan rendah hati membongkar semua keabsolutan palsu diri dan kembali pada kebenaran sejati? b) Gereja Roma Katolik, dalam perjalanan sejarah, ajaran gereja semakin menyeleweng  dari kebenaran Firman, bukan kebenaran sejati yang ditegakkan tetapi tradisi, otorisasi Paus, semangat humanisme itulah yang ditegakkan. Diperparah dengan konsep natural theology yang dicetuskan Thomas Aquinas dimana pikiran Aristotle dikawinkan dengan Kekristenan. Gereja juga membangun kemiliteran, tentara dan senjata perang untuk menaklukkan kekaisaran dunia. Ironis, gereja bukannya membangun kerohanian tetapi malah berperang. Kesombongan itu semakin memuncak yang ditandai dengan ambisi membangun Kathedral Vatikan Church yang sangat megah yang menghabiskan biaya sangat besar. Untuk membiayainya, Yohan Tetzel mencetuskan suatu konsep uang yang berdenting dalam kotak persembahan akan membuat satu nyawa melompat dari api penyucian ke sorga maka surat indulgensia atau surat pengampunan dosa mulai diperjualbelikan. Ajaran humanisme materialisme telah meracuni gereja Roma Katolik. Gereja yang tidak kembali pada Firman, gereja hanya mementingkan materialis dan humanis maka gereja semakin hari akan semakin merosot dan terpecah. Disini kita melihat bagaimana ragi itu sangat mempengaruhi gereja Tuhan dimana orang-orang di dalamnya akan dididik menjadi orang yang sangat egois, hanya memikirkan keuntungan dan kepentingan diri.

Tuhan Yesus sangat memahami bahayanya ragi atau ajaran ini, itulah sebabnya Ia memperingatkan supaya kita berhati-hati dan waspada maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

1. Kembali pada Firman. Melihat pergeseran doktrin yang semakin parah, Martin Luther pun berteriak keras, ia menempelkan 95 dalil di depan gereja Withenberg maka hari itu gereja mulai disadarkan untuk kembali pada kebenaran Firman. Tidak berhenti sampai disitu Calvin, Luther, Beza, Zwingli, John Locks juga berjuang mati-matian mengajak orang untuk kembali pada iman sejati. Perdebatan yang terjadi antara Tuhan Yesus dan orang Farisi – Saduki janganlah dilihat sebagai dua pandangan yang masing-masing boleh mempunyai pendapat sendiri. Tuhan Yesus menegaskan ajaran berkait erat dengan kebenaran maka ajaran harus kembali pada absolut position. Namun sebaliknya dunia posmodern mengajarkan bahwa setiap orang boleh mempunyai konsep dan ajaran sendiri dan semua itu dianggap benar. Celakanya, cara berpikir dunia ini diterapkan di dalam gereja. Bagi Tuhan Yesus, ajaran orang Farisi dan Saduki bukanlah sebuah option atau pilihan tetapi ajaran mereka itu layaknya sebuah ragi yang bekerja dari dalam dan mempengaruhi seluruh adonan dan akhirnya rusak. Tuhan Yesus sangat peduli akan hal ini. Dalam konteks orang Yahudi, berbicara tentang ragi bukanlah hal yang positif tetapi ragi mempunyai pengaruh yang sangat negatif. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus dengan keras menegaskan pada para murid-Nya untuk berwaspada. Tuhan Yesus melihat doktrin atau ajaran itu bukanlah hal yang sederhana. Bagi dunia, doktrin atau ajaran itu merupakan hal yang sepele bahkan seandainya ajaran itu tidak ada maka hal itu tidak akan mempengaruhi kehidupan. Inilah ajaran posmodern. Tuhan Yesus sangat peduli pada setiap kita, Ia melihat betapa ragi ini sangat berbahaya kalau kita tidak mau kembali pada kebenaran sejati. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus dengan keras memperingatkan kepada setiap kita untuk waspada, berhati-hati terhadap ragi orang Farisi.

2. Peka akan iman dan kebenaran. Hati-hati dengan akal licik iblis yang terus berusaha menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Kalau secara frontal tidak berhasil – kebenaran absolut Kristus langsung melawan kebenaran absolut Yudaisme apalagi di abad ke-21 ini, orang tidak suka dengan sesuatu yang sifatnya frontal maka iblis merombak caranya dengan memecah-mecah kemutlakan menjadi kemutlakan yang sifatnya kecil-kecil sehingga orang tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Cara pluralisme inilah yang diterapkan hari ini, orang ditawarkan dengan berbagai opini, multiple opinion; semua opini itu mempunyai kebenarannya masing-masing dan orang harus menghargai kebenaran tersebut. Dunia sangat suka dengan pandangan ini karena sepertinya membela hak asasi manusia tetapi lebih tepat kalau dikatakan sebagai membela egois diri. Bayangkan, kalau setiap orang mempunyai opini dan setiap orang menyatakan opininya sebagai kebenaran tanpa kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, dunia menjadi rusak total. Inilah kepalsuan kebenaran, pseudo truth sepertinya benar tapi sesungguhnya melawan kebenaran sejati. Pluralisme menjadi suatu opini yang sangat berbahaya di abad ke-20. Kita harus kembali pada kebenaran sejati.

Memang, banyak opini di dunia namun bukan berarti kita harus menyetujui semua opini. Tidak! Kebenaran dan ketidakbenaran itu sifatnya tunggal bukan plural. Pertanyaannya apakah kita mau mengejar kebenaran sejati atau tidak? Setiap orang harus bertanggung jawab. Hari ini banyak orang anti doktrin karena itulah, Tuhan Yesus sangat keras memperingatkan pada kita untuk berhati-hati terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki. Memang, mereka tidak pernah menyebut doktrin tapi justru dibalik tingkah laku, jelas terlihat pengaruh doktrin. Konsep mesianik yang salah itu telah meracun pikiran para murid bahkan sampai menjelang akhir Tuhan Yesus akan naik ke kayu salib, mereka tetap tidak mengerti. Selama mereka bersama Tuhan Yesus, mereka masih merasa nyaman dan terjamin hidupnya maka mereka tidak mengerti doktrin barulah setelah Tuhan Yesus pergi naik ke sorga dan mereka dianiaya saat itulah Roh Kudus bekerja dan mereka baru memahami pengaruh doktrin. Saat itu mereka sangat keras menentang ajaran yang salah.

Sebagai anak Tuhan sejati, janganlah biarkan diri kita dirusak oleh iblis. Janganlah iblis sebagai bapa kita (Yoh. 8). Perhatikan, di ayat 30, banyak orang Yahudi percaya pada Tuhan Yesus akan tetapi ketika Tuhan menuntut untuk kembali pada kebenaran, mereka melawan. Tuhan Yesus membukakan pada mereka realita sesungguhnya kenapa mereka menolak kebenaran, yakni karena iblislah yang menjadi bapa mereka. Orang yang sudah masuk dalam jebakan iblis akan sukar bagi mereka untuk keluar dari jebakan iblis. Hati-hati, iblis akan menawarkan apapun untuk mendapatkan satu jiwa karena iblis sangat tahu, betapa mahal dan berharganya satu jiwa. Iblis akan menawarkan segala bentuk kenikmatan duniawi sampai kita jatuh dalam jebakannya dan tercengkeram olehnya saat itulah ganti kita yang dibinasakan. Iblis sengaja membuat kita jauh dari Tuhan Sang Kebenaran sejati.

3. Sikap dan komitmen kembali pada Allah. Para murid seharusnya bergumul dan mencoba untuk memahami dengan bertanya pada Tuhan Yesus kenapa mereka harus waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Para murid justru berpikir tentang roti, mereka peduli kenikmatan diri dan ketakutan kalau mereka tidak dapat makan. Hal yang sama terjadi hari ini di dunia modern, orang tidak peduli akan pentingnya ajaran atau doktrin asal mereka kaya, nyaman, sehat maka lupakan semua doktrin atau ajaran. Tuhan Yesus sangat peduli dan kuatir akan kondisi ini dan terbukti, pikiran orang Farisi dan Saduki yang duniawi telah merasuk pikiran mereka; mereka tidak peduli akan ajaran atau doktrin. Ketika orang dituntut untuk kembali pada Kristus, mempunyai pemikiran yang sama seperti halnya Kristus maka nampak jelas kalau pikiran kita sangatlah duniawi dan berlawanan dengan Kristus. Di satu sisi, sepertinya para murid begitu dekat dengan Tuhan Yesus namun di sisi lain, cara berpikir mereka sangatlah bertentangan. Doktrin yang  tidak benar terimplikasi keluar, hal ini nampak dari reaksi Petrus yang mencoba menghalangi dan menarik lengan Tuhan Yesus ketika Tuhan Yesus memberitahukan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak para tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat. 16:21). Tuhan Yesus kembali menghardik dengan keras untuk mengkoreksi pemikiran mereka yang salah. Sungguh sangatlah memprihatinkan, hari ini kebenaran telah diselewengkan sedemikian rupa menjadi doktrin yang sifatnya humanis materialis dan telah merasuk di dalam Kekristenan. Inilah cara kerja ragi yang merasuk dan mempengaruhi kehidupan namun ragi itu sendiri hilang dan tak berbentuk lagi.

Dunia semakin ke belakang semakin sulit, tantangan dan penderitaan semakin berat maka hati-hatilah, pada saat itu, iblis datang menawarkan jalan keluar yang kelihatan ”legal” dan nikmat. Karena itu, waspadalah dengan segala ajaran yang salah yang ada di sekitar kita dan Tuhan membentuk kita barulah kita dimengertikan akan kebenaran. Jelaslah, kembali pada kebenaran bukanlah hal yang sepele dan mudah; kita harus dihancurkan terlebih dahulu dan dibentuk kembali oleh Tuhan. Hendaklah kita kembali pada ajaran yang sehat, the sound doctrine dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam ajaran sesat yang plural. Sangatlah memprihatinkan, hari ini kembali lagi gereja telah menyeleweng dari kebenaran sejati. Ajaran yang materialis humanis telah meracuni dan mempengaruhi kehidupan manusia. Doktrin yang salah akan berakibat sangat fatal, bukan saja meracuni diri kita tetapi akan meracuni orang lain juga.

Biarlah peringatan Tuhan Yesus supaya kita terus waspada dan berhati-hati terhadap ajaran orang Farisi terus terngiang dalam hidup kita. Hendaklah kita mengevaluasi diri, bagaimanakah sikap kita terhadap doktrin yang benar?  Sudahkah kita disadarkan betapa bernilainya hidup kita, hidup tidak bisa ditukar oleh apapun yang sifatnya materi. Apa artinya kita mendapatkan seluruh dunia ini kalau kita kehilangan nyawa. Apakah kita mau menuntut diri untuk kembali pada Kebenaran sejati? Maukah kita berkomitmen untuk kembali dan setia pada Kebenaran Firman? Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071104.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Concern (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Monday, March 10th, 2008

Ringkasan Khotbah : 21 Oktober 2007

Messiahship of Christ: The Concern

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:5-12

Sepertinya orang Farisi dan orang Saduki ini sangat religius tetapi di balik semua yang kelihatan rohani tersebut terdapat motivasi buruk tak terkecuali dengan para murid. Setelah terjadi perdebatan dan diskusi yang sangat sengit dengan orang Farisi dan Saduki, mereka hanya berpikir tentang materi, yakni roti. Kemungkinan besar kita sama seperti mereka, kita tidak pernah peduli hal yang esensial, orang hanya peduli hal yang duniawi yang menyangkut diri mereka. Tuhan Yesus meminta para murid untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus bukan sekedar ingin berdebat dengan orang Farisi dan Saduki atau ingin menunjukkan kehebatannya dalam berdebat dan Ia yang akan keluar sebagai pemenang. Tidak! Tuhan Yesus sangat peduli akan hal ini, Ia terenyuh melihat ketidakpedulian mereka akan hal yang lebih esensial, hal ini menunjukkan para murid berada di posisi dan mempunyai cara pikir yang sama seperti orang Farisi dan Saduki. 

Tuhan Yesus mempunyai kepekaan yang sangat luar biasa, Ia melihat bahayanya akan ajaran orang Farisi dan Saduki sehingga Ia memperingatkan para murid untuk waspada akan ragi orang Farisi dan Saduki. Kepekaan yang disertai dengan kebenaran akan membawa seseorang kepada dunia dan seluruh lingkungan akan membawanya melihat jauh lebih tajam yang disertai dengan cinta kasih sejati. Inilah kasih Ilahi yakni kepekaan ketika melihat orang berdosa sedang berjalan di tengah dunia berdosa menuju pada kebinasaan. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang tidak peka akan jiwa-jiwa yang tersesat. Orang hanya peduli  pada hal-hal yang sifatnya materi, orang lebih peduli pada apa yang menjadi kebutuhan jasmani belaka. Namun ingat, hal ini bukan berarti kita tidak boleh berbagi pada mereka yang kekurangan. Tidak! Dalam hal ini betapa celaka kalau kita hanya peduli pada apa yang menjadi kebutuhan tetapi kita tidak pernah peduli akan pertumbuhan iman. Tuhan Yesus membukakan pada kita bahwa kepekaan itu janganlah dilihat dari sudut pandang manusia tetapi kita harus melihatnya dari sudut pandang yang tepat, yakni iman, believe. 

Ironis, ketika Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan saduki, para murid tidak memahami apa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Hal ini nampak dari jawaban mereka; jawaban yang mereka berikan atas peringatan Tuhan Yesus tidak berkait sama sekali. Para murid justru meributkan tentang roti, mereka tidak membawa roti. Disini jelas, tidak ada hubungan antara pernyataan Tuhan Yesus tentang ragi orang Farisi dan Saduki dengan tidak membawa roti namun apapun itu meski tidak berkait, manusia berdosa akan mengkait-kaitkannya dan membuatnya jadi saling terkait bahkan hal yang positif akan menjadi negatif. Inilah manusia berdosa. Jelas disini, iman percaya itulah yang menjadi dasar, faith seeking understanding. Orang yang beriman salah akan mempengaruhi seluruh pemikiran kita dan tindakan kita bahkan semua hal dapat diatur sedemikian rupa sepertinya sangat logis namun semua yang kelihatan logis itu sesungguhnya tidaklah logis. 

Kristus telah memberikan teladan indah pada kita akan kepedulian:

1. Kepedulian Spiritual

Kristus peduli akan hal-hal yang esensi, khususnya yang bersifat kekal dan rohani. Sebaliknya, dunia hanya berpikir pragmatis dan sifatnya materi belaka; dunia tidak peduli dengan sesuatu yang sifatnya kekal; orang tidak peduli apakah Tuhan ada atau tidak karena bagi mereka yang penting sekarang, yang penting perut dikenyangkan. Merupakan kesalahan fatal, orang gagal menangkap hal yang sifatnya esensial. Orang yang mempunyai keagungan hidup, tidak akan meributkan apakah ia lapar atau tidak sebab ia tahu ada sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar makan dan kenyang. Bahkan orang yang sangat egois pun demi memuaskan dirinya sendiri, ia tidak akan pernah merasa lapar, sebagai contoh orang sudah tergila-gila menonton film maka ia tidak peduli apapun bahkan tidak merasakan lapar. Betapa hinanya manusia kalau hanya berpikir tentang aspek-aspek yang sifatnya pragmatis belaka. 

Tuhan Yesus berulang kali memperingatkan pada kita; jangan takut dengan hal-hal yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak bisa membunuh jiwa tetapi takutlah pada Dia yang dapat membunuh tubuh sekaligus jiwa. Biarlah kita mengevaluasi diri apa yang membuat kita takut dan kuatir? Apakah hal-hal sifatnya keduniawian ataukah hal yang sifatnya spiritual dan esensi? Hendaklah kita mengubah konsep berpikir kita yang salah, ingat, segala hal yang duniawi sifatnya sekunder dan hal yang esensi merupakan hal yang terpenting dan utama, first thing first. Dunia tahu apa yang menjadi prioritas utama, tetapi dunia gagal mengembalikan pada Allah sejati sebagai the true first thing first. Kepedulian pada hal yang rohani dan kekal akan menjadikan kita menjadi seseorang seperti apa yang Tuhan inginkan. Ketika orang tidak peduli akan hal-hal yang sifatnya kekal maka di titik pertama, hidupnya akan celaka dan membawa pada kebinasaan. Spiritualitas merupakan hal yang utama dan terpenting, karena itu hendaklah kita peduli pada apa yang menjadi kepedulian kita.

2. Kepedulian Kebenaran

Tuhan Yesus memperingatkan para murid untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Yang dimaksud ragi disini adalah sesuatu yang kelihatan sangat rohani tetapi negatif. Tuhan Yesus mengajak kita pada sesuatu yang lebih  tajam, yang sifatnya mengerucut dan peduli pada hal yang sifatnya esensi namun dunia lebih suka hal yang pragmatis, hanya mau gampang, orang tidak suka kalau harus belajar untuk sesuatu yang sifatnya kebenaran dan orang tidak suka pada hal-hal yang sifatnya mutlak. Pengaruh filsafat posmodern dan relativisme kuat mencengkeram manusia sedemikian rupa. Hari ini banyak berbagai macam ajaran ditawarkan di tengah dunia, pertanyaanya kita mau mengikut ajaran yang mana? Kalau kita tidak mengerti hal yang esensi maka kita akan mudah sekali diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran dunia dan yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sikap kita menghadapi berbagai ajaran itu? Apakah kita mau menuntut diri untuk belajar dan berusaha mendapatkan kebenaran sejati? Ataukah kita bersifat pragmatis, menganggap ajaran itu benar kalau menurut kita benar. 

Tuhan Yesus mengajak kita untuk peduli akan kebenaran. Tuhan Yesus sedang membukakan pada para murid apa motivasi orang Farisi dan Saduki di balik pertanyaan tersebut dan bagaimana mereka harusnya berespon seperti Tuhan Yesus berespon. Namun respon yang ditunjukkan oleh para murid justru sebaliknya, mereka hanya peduli masalah perut. Inilah dunia berdosa, apa yang seharusnya kita pelajari dan teliti dengan baik justru kita lewatkan namun untuk sesuatu yang tidak esensi kita justru pikirkan maka tidaklah heran kalau hidup kita menjadi kacau. Biarlah sebagai anak Tuhan sejati, kita mengevaluasi diri sudahkan kita memiliki kepedulian seperti Kristus? Apakah kita berpikir seperti yang Kristus pikir? Banyak orang yang mengaku Kristen bahkan sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Kristen tapi mereka tidak mempunyai kepedulian akan kebenaran sejati.

3. Kepedulian Altruistik

Ketika para murid sedang memikirkan tentang diri mereka karena tidak membawa roti maka pada saat itu, Kristus sedang memikirkan keadaan mereka. Kristus bukan peduli dengan diri-Nya sendiri. Tidak! Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Inilah kepedulian sejati. Dunia mengajarkan sebaliknya, pedulilah terhadap dirimu sendiri lebih daripada engkau peduli pada dunia sebab orang lain tidak akan peduli pada dirimu; concern with yourself, nobody will concern you.  Dunia begitu egois, tidak akan pernah peduli pada orang lain. Memang kita tidak mempunyai hak untuk dipedulikan oleh orang lain atau meminta orang lain untuk mempedulikan kita namun bukan berarti hal ini menjadikan kita egois dengan kita tidak mau peduli orang lain. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, Dia tidak mengharap atau meminta supaya dunia peduli pada-Nya. Tidak! Tuhan Yesus tahu persis seperti apakah jiwa manusia berdosa, apa yang menjadi motivasi manusia dibalik kepedulian mereka namun Tuhan Yesus tetap peduli pada kita meski kita tidak peduli pada-Nya. Kristus datang ke tengah dunia untuk peduli. Inilah jiwa yang harus dimiliki seorang Kristen sejati. Sama seperti Anak Manusia bukan datang untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menyerahkan nyawa untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Tuhan memanggil kita untuk peduli. Apakah kita mempunyai hati seperti Kristus, yang peduli akan jiwa-jiwa yang sesat? Maukah kita peduli bahkan berkorban untuk mereka yang berada dalam kesesatan? 

Adalah tugas setiap Kristen sejati untuk peduli pada jiwa-jiwa yang tersesat, memberitakan berita kebenaran pada mereka yang berada dalam kegelapan dengan demikian mereka kembali pada Allah sejati. Memang bukan kehebatan kita kalau orang dapat kembali pada Tuhan namun janganlah hal ini kemudian menjadikan kita tidak pergi menginjili dan tidak peduli akan jiwa yang sesat. Tuhan mau pakai kita sebagai alat-Nya, Dia mau supaya kita yang peduli pada dunia berdosa. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang mengajarkan supaya manusia menggerogoti anugerah Tuhan bukannya ingin menjadi saluran berkat bagi orang lain. Orang pikir anugerah Tuhan itu sebagai suatu hak dimana orang berhak menuntut Tuhan; orang tidak melihat anugerah Tuhan sebagai kepedulian dan cinta kasih. Pertanyaan apa hak kita sehingga kita menuntut Tuhan untuk memberikan anugerah kepada kita? Anugerah berarti seharusnya kita tidak berhak mendapatkan dari Tuhan tetapi Dia rela beranugerah pada kita. Bagaimana respon kita terhadap anugerah Tuhan? Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus yang peduli akan orang lain, tidak menjadi egois tetapi kita menjadi saluran berkat bagi dunia. Hendaklah kita mau menuntut diri untuk belajar akan kebenaran sejati, membangun karakter dan serupa dengan Kristus. Banyak orang yang hidup terombang-ambing; wrong believe bring wrong thinking and wrong thinking bring wrong action. Sudahkan kita menangis dan peduli pada mereka yang tersesat? Amin.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071021.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Sign (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Tuesday, March 4th, 2008

Ringkasan Khotbah : 14 Oktober 2007

Messiahship of Christ: The Sign

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:1-4

Tema utama dari Injil Matius pasal 16 adalah Kemesiasan Yesus Kristus, the Messiahship of Christ. Lembaga Alkitab Indonesia membaginya dalam empat segmen dan hari ini kita akan merenungkan segmen pertama dimana segmen pertama ini berkaitan erat. Tuhan bukanlah Tuhan yang jauh di sana tetapi Ia berinkarnasi datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Dengan demikian kita mendapatkan suatu gambaran utuh tentang Kristus Tuhan dan Mesias dalam tugas dan kepribadian-Nya. 

Orang Farisi dikenal sangat religius, saleh dan percaya Allah namun ironis, mereka justru melawan Tuhan. Mereka tidak memahami esensi agama sejati tetapi agama tidak lebih humanistik, orang memanipulasi Tuhan demi kepentingan diri. Manusia dicipta oleh Tuhan harusnya kembali pada Sang Pencipta dan taat mutlak pada Sang Pencipta sebagai Allah yang berdaulat. Perhatikan, kedaulatan Allah tidak bersifat diktator, Dia tidak mencipta kita seperti robot dan mengatur setiap langkah dan gerak kita. Tidak! Kedaulatan Allah adalah manusia yang memahami Firman dengan pengertian yang tepat bahwa Tuhan itulah Raja di atas segala raja yang berdaulat lalu dengan kesadaran penuh dan hati yang penuh cinta kasih kita taat dan melakukan semua Firman-Nya. Sebagai anak Tuhan sejati, Firman Tuhan itu harusnya menjadi dasar dan terimplikasi dalam seluruh aspek hidup kita namun hal itu tidaklah mudah, banyak hal bertentangan dengan dunia.

Kembali orang Farisi berusaha mencobai Tuhan Yesus dan kali ini ia bersekongkol dengan orang Saduki. Padahal kedua golongan ini sangat bertentangan tetapi mereka bisa bersepakat dan bersatu ketika menghadapi Tuhan Yesus. Dalam sejarah bangsa Israel terdapat 3 golongan besar, yakni: 1) golongan Farisi, orang yang sangat ekstrim religius dan anti politik. Mereka sangat sengit melawan pemerintahan khususnya pemerintahan Herodes dan Romawi. Orang Farisi berpendapat Israel harusnya diperintah secara theokratis dimana Allah Yahweh sebagai pemegang pemerintahan atas orang-orang Yahudi seperti dalam konsep Perjanjian Lama; 2) golongan Saduki, kelompok Yahudi liberal, mereka mengkompromikan aspek agama dengan politik. Mereka percaya, orang Yahudi seharusnya merdeka tetapi mereka tidak pernah memikirkan pemerintahan Yahudi sebagai pemerintahan yang theokratis. Orang Saduki percaya Allah tetapi mereka tidak percaya kebangkitan pada orang mati. Agama hanya berjalan di dunia sekarang dan setelah mati, kehidupan pun berhenti. Perbedaan yang sangat drastis secara metafisika dengan orang Farisi yang percaya adanya kebangkitan. Kedua golongan ini berdiri secara agama tetapi mempunyai theologi yang berbeda itulah sebabnya mereka selalu bertentangan, 3) golongan Herodian, murni bergerak di politik, tidak berurusan dengan agama bahkan cenderung anti agama, mereka hanya peduli kekuasaan. Ketiga golongan ini tidak pernah saling akur namun ironis, golongan Farisi dan golongan Saduki bersatu untuk menghadapi Tuhan Yesus. Bagi orang Farisi, Tuhan Yesus dianggap terlalu liberal karena melanggar semua peraturan atau adat istiadat yang telah ditetapkan dan bagi orang Saduki, Tuhan Yesus dianggap terlalu religius karena Ia percaya akan kebangkitan orang mati. 

Maka celakalah kita kalau mau menyenangkan semua orang, kita lebih mirip seperti bunglon dan akhirnya, kita akan menjadi musuh semua orang. Karenanya, kita harus kembali pada kebenaran sejati maka kita tidak akan mudah tergoyahkan meski diserang dari segala arah. mendapatkan hidup sejati. Manusia hidup bukan ditentukan oleh orang lain tetapi hidup manusia ditentukan oleh kebenaran Allah. Celaka kalau hidup kita ditentukan oleh sesuatu yang relatif, kita akan diombang-ambing berbagai permainan palsu yang licik dan menyesatkan kemudia berakhir dengan kebinasaan. Kristuslah satu-satunya kebenaran; Ia telah memproklamasikan kebenaran, menghidupkan kebenaran, membuktikan kebenaran dan menyatakan kebenaran di tengah dunia. 

Sebelumnya orang Farisi menyerang Tuhan Yesus karena Ia dianggap telah melanggar Taurat maka sekarang kembali mereka menyerang Kemesiasan Kristus. Mereka meminta tanda yang menyatakan bahwa benar Ia adalah Mesias. Istilah tanda, hari ini banyak digunakan oleh orang Kristen; dalam hal apapun selalu meminta tanda dari Tuhan. Ingat, Christianity not build by experience. Dunia ingin mendapatkan kebenaran dan sesuatu itu dianggap benar dilihat dari 4 aspek, yakni: 1) rasionalisme, segala sesuatu dianggap benar kalau cocok dengan logika. Pertanyaannya adalah seberapa besarkah rasio kita? Apakah semua yang rasional menurut kita itu pasti benar? Tidak! Sebab banyak aspek sifatnya supra rasional. Rasio hanyalah sarana untuk melihat kebenaran. Rasio lebih kecil dan lebih rendah dari kebenaran maka ia tidak berhak menentukan kebenaran. Dunia sangat terjebak dengan konsep ini, akibatnya dunia sulit menerima hal kebangkitan Tuhan Yesus atau Tuhan Yesus berjalan di atas air – agama dikunci di aspek logika, 2) empirisme, kebenaran tergantung dari pengalaman. Pertanyaannya adalah apakah setiap orang mempunyai pengalaman yang sama? Tidak! Lalu bagaimana mungkin kebenaran ditentukan oleh pengalaman? Pengalaman siapakah yang berhak sebagai penentu kebenaran? Pengalaman hanyalah sarana sebab banyak pengalaman yang bersifat negatif. Apakah kita perlu mencoba mengalami terlebih dahulu kalau jatuh dari lantai 20 pasti akan mati? Tidak, bukan? Kalau semua aspek harus kita alami celakalah hidup kita. Truth is not according to the experience, knowledge is not according to the experience but knowledge is back to the Truth in Words, 3) subyektifisme, 4) otorianisme. Untuk dua aspek terakhir ini tidak akan dijelaskan lebih detail.

Sesungguhnya, Tuhan Yesus telah memberikan banyak tanda mulai dari kelahiran-Nya, ketika Ia dibaptis, khotbah di atas bukit, orang buta dicelikkan, orang lumpuh berjalan, dan masih banyak lagi tanda yang semuanya sangat jelas tetapi mereka tidak pernah melihat semua tanda itu sebab mereka menetapkan diri sebagai subyek penentu kebenaran. Manusia ingin menjadi tuan atas kebenaran. Inilah kegagalan iman di titik pertama. Jelaslah, kalau orang sudah tidak mau percaya pada Kristus maka ia tidak akan pernah mengerti kebenaran sejati selama hidupnya, hal ini sangat dipahami oleh Agustinus dan ditajamkan oleh Anselmus lalu ditegaskan kembali oleh Calvin. Hanya kembali pada Allah dan kebenaran-Nya sajah kita akan memahami tentang kebenaran dan semua akan ditambahkan padamu. Agustinus menegaskan iman adalah yang utama dan rasio seperti “pembantu“ dimana iman itulah “tuan.“ Pernyataan yang tajam diungkapkan oleh Anselmus, credo ut intelligum, i believe than i understand. Sebaliknya, dunia menyatakan mengerti dulu baru mau percaya maka tidaklah heran kalau orang tidak pernah memahami kebenaran sejati. Inilah kebebalan manusia. 

Percaya itu menjadi kunci utama maka seluruh kepercayaan itu akan membangun seluruh pengertian yang sejati. Pengertian yang sejati hanya ada dalam Firman Tuhan saja. Iman menentukan semua hal. Seorang rasionalis yang percaya pada rasio maka ia akan mendapatkan semua pengertian yang berbasiskan rasionalis. Untuk hal-hal yang sifatnya irasional maka selamanya, ia tidak akan pernah mengerti. Maka percuma semua tanda kalau orang tidak mau percaya pada Kristus Tuhan, sebanyak apapun tanda tidak akan membuat mereka percaya. Orang hanya mau tanda yang cocok dengan pemikirannya. Ketika orang Farisi dan Saduki menuntut jawaban dari Tuhan Yesus maka Tuhan Yesus menyindir dengan satu kalimat tajam tentang tanda pada alam (Mat. 16:2-3). Tuhan Yesus tidak merasa perlu memberikan tanda pada orang bebal. Hanya satu hal yang Tuhan Yesus tegaskan yakni tanda Yunus lalu Tuhan Yesus pun meninggalkan mereka pergi. 

Orang Palestina umumnya hidup dari pertanian, peternakan dan perikanan sehingga mereka sangat bergantung pada alam dan cuaca karena itu menentukan nasib mereka. Demi kepentingan diri, orang mau belajar namun untuk kepentingan orang lain, orang tidak peduli. Inilah sifat manusia berdosa, hanya mementingkan diri dan tidak pernah peduli orang lain. Hal yang sama diperlakukan pada Tuhan Yesus, mereka meminta tanda yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan diri. Tuhan Yesus tidak memberikan tanda itu sebab sesungguhnya, mereka tidak pernah mau mengerti tanda. Pertanyaannya bagaimana respon kita? Kita mau mengikut iblis atau Tuhan? Iblis pasti akan memberikan tanda itu yang seperti yang kita minta. Hari ini tanpa sadar, Kekristenan telah masuk dalam format iblis, mereka menyeleweng dari Firman Tuhan; orang hanya berpikir humanistik. Orang tidak berpikir seperti Kristus berpikir, tidak mempunyai perasaan seperti perasaan Kristus – orang hanya mempunyai perasaan senasib sebagai sesama orang berdosa. Ironisnya, ketika orang berdosa dibukakan akan realita bahwa kita adalah orang berdosa, orang menjadi marah. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah iman yang sejati? Apakah yang dimaksud dengan tanda sejati?

Tanda apapun tidak akan membuat orang percaya sebab titik permasalahan adalah iman percaya. Apakah kita mau merombak seluruh pemikiran kita untuk percaya mutlak pada Kristus? Inilah iman sejati. Tuhan Yesus sedang mengajak kita untuk merombak cara berpikir dengan demikian kita tidak hanya mengerti Kristus sebagai Tuhan tetapi kita juga mengerti konsep Mesianik secara total. Mesias berarti Juruselamat, Dia yang diurapi datang untuk menyelamatkan manusia. Mesias sangat dinantikan oleh bangsa Israel namun mereka tetap tidak dapat mengerti kalau Mesias itu telah datang di depan mata bahkan telah menuntaskan tugas Kemesiasan-Nya dan kembali ke sorga, mereka tetap tidak mengerti Kristus adalah Mesias bahkan sampai hari ini mereka masih menantikan Mesias sebab Mesias yang datang tidak sesuai dengan harapan mereka.

Matius 16:1-4 mengajarkan pada kita satu hal, yakni credo ut intelligum, believe than understand. Orang harus percaya mutlak pada Firman, back to the Bible. Ketaatan berarti kembali pada kebenaran sejati dan apapun yang tidak kita suka tetap harus taat dan hal ini sangat sulit bagi orang Kristen sebab pada dasarnya, manusia adalah manusia berdosa dan pemberontak Allah. Sebagai Kristen sejati, kita harus taat mutlak pada Allah Sang Pencipta karena Ia adalah Tuhan di atas segala tuhan. Iman kepercayaan pada Kristus itulah dasar dan pondasi yang menentukan seluruh cara berpikir kita yang selama ini diisi oleh konsep berdosa.

Mengapa Kristus sebagai satu-satunya yang sah? Ada tiga aspek, yakni:

1. Kristus adalah Kebenaran absolut

Kalau orang mau melawan Kristus maka dengan mudah orang bisa mengatakan Kristus bukanlah kebenaran absolut dan tidak percaya pada-Nya maka percuma semua tanda atau pembuktian apapun diberikan sebab di titik awal orang sudah tidak percaya. Tanda apapun dan bagaimanapun akan dilawan maka orang tidak pernah mendapatkan jawaban. Kunci utama dan terpenting adalah percaya mutlak. Namun orang tidak mau percaya dan ingin menjadi penentu kebenaran, segala sesuatu dianggap benar kalau menurut dia benar. Itu bukan kebenaran sejati.

3. Kristus adalah verifikator

Kristus adalah Tuhan atas alam semesta, Dia adalah kebajikan tertinggi, summum bonum maka Dia  berhak dan layak menjadi penentu absolut apapun yang ada di dunia, menentukan baik/tidak baik, benar/tidak benar, suci/tidak suci, mulia/tidak mulia – semua value system, epistemologi dan axiologi di tangan-Nya. Kristus adalah pemegang otoritas tertinggi maka kalau kita beriman pada-Nya maka itu menjadi suatu kekuatan dalam hidup kita.

2. Kristus adalah otoritas final

Semua otoritas di bawah boleh berpendapat benar tapi kalau Sang otoritas tertinggi berkata “salah” maka semua yang benar tadi adalah salah. Sebagai contoh, pada suatu perusahaan, kepala staf, kepala departemen, manajer bersepakat dan setuju namun kalau komisaris tertinggi sebagai penentu tertinggi, tidak setuju maka semua otoritas di bawahnya gugur dengan sendirinya. Itu hanya contoh kecil dari suatu perusahaan sebab Kristus adalah pemegang otoritas tertinggi dari semua otoritas di dunia. Penentuan terakhir berada di tangan Kristus, tidak peduli apakah kita suka atau tidak suka, Dia yang menentukan semua. Dia adalah penuntun dan pemimpin langkah hidup kita maka kalau kita kembali pada Dia, alangkah indah hidup kita, hidup kita menjadi jelas ketika kita melangkah karena kita berpaut pada kebenaran sejati. Celakalah kalau kita mentautkan hidup kita pada iblis, kita akan binasa. Orang yang hidup berpaut pada Kristus akan takut untuk berbuat dosa, orang akan berusaha keras untuk hidup dalam kebenaran; ketika ia melakukan hal yang salah maka ia akan merasa risih. Firman selalu mengingatkan kita, seperti rem yang mengerem kita. Berbeda halnya kalau orang berpaut pada iblis, bapa segala penipu maka segala sesuatu yang ia kerjakan yang sifatnya berdosa, orang tidak merasa bersalah atau berdosa. Dunia tidak takut pada esensi dosa, dunia hanya takut pada akibat dosa, seperti hukuman-hukuman yang akan diterima, dan  lain-lain. Selama orang hanya takut pada akibat dosa dan tidak kembali pada penentu Allah yang final maka seluruh perbuatan dosa dapat dianulir, seluruh perbuatan jahat bisa diabaikan dan hal itu akan menjadikan kita berdosa.

Tanda Yunus menjadi tanda unik, refleksi Kemesiasan Kristus – Kristus akan mati, disalib dan tiga hari, Ia akan tinggal dalam perut bumi dan bangkit pada hari ketiga. Inilah pertama kali, Kristus membuka misi Mesias. Mesias yang hadir berbeda dengan konsep Mesias yang dimengerti oleh orang berdosa. Dalam konsep bangsa Israel, Mesias yang hadir akan menjadi Raja, keturunan Daud yang bertahta dan menguasai Kerajaan sampai menguasai seluruh wilayah Salomo bahkan lebih daripada itu, yakni kerajaan itu haruslah sebesar Kerajaan Romawi Raya. Ternyata, Mesias yang hadir berbeda total dari konsep mereka; Mesias lahir di kandang, menderita sengsara dan hina, bermahkota duri, naik ke kayu salib, mati dan bangkit. Tuhan sedang membukakan suatu status yang sangat unik tentang kehadiran-Nya, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Inilah misi Mesianik.

Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat percaya dan beriman pada Kristus, kita dibukakan dan mengerti akan kebenaran sejati bahwa Kristus adalah Mesias. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita seorang Kristen sejati? Seorang Kristen sejati akan beriman sejati – taat mutlak pada Kristus sebagai kebenaran mutlak, otoritas final dan penentu yang sah. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita seberapa jauhkan kita mengerti ”tanda”? Sudahkah hidup kita bertaut pada Kristus Sang Kebenaran sejati? Amin.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071014.htm