Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Content of the Creed (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)
Wednesday, March 26th, 2008|
Ringkasan Khotbah : 25 November 2007
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 16:21-24
|
Tema utama Matius 16 adalah Messiahship of Christ dan puncaknya adalah credo yang diungkapkan oleh Petrus, yaitu Engkau adalah Anak Allah yang hidup. Hari ini banyak orang yang tidak paham esensi credo dan celakanya, gereja pun mulai meniadakan credo yang adalah dasar dari kebenaran Firman. Alangkah bodohnya kalau orang mengaku alkitabiah tetapi meniadakan credo dan tidak dapat mempertanggungjawabkan iman dari credo yang ia ungkapkan. Iman sejati harus dimengerti dengan tepat dan hal ini dimulai dari sebuah pengakuan iman. Kristus adalah Mesias merupakan credo pertama yang ada dalam sejarah Kekristenan. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauhkah kita mengerti isi credo yang menjadi inti kepercayaan kita? Hal ini akan menjadi perenungan kita hari ini.
Hari ini banyak orang yang mengatakan yang penting percaya Yesus maka kita akan masuk sorga. Tidak! Pertanyaannya adalah Yesus yang manakah yang kita percaya? Yesus seperti apakah yang kita percaya? Paulus dengan sengit menegaskan supaya kita waspada terhadap Yesus yang lain, Injil yang lain dan Roh yang lain (2Kor. 11:4). Tidaklah mudah membedakan antara Yesus yang asli dan Yesus yang palsu, Injil yang asli dan Injil yang palsu, Roh yang asli dan Roh yang palsu, semuanya menjadi kabur maka tidaklah heran kalau kemudian muncul banyak bidat hari ini. Itulah sebabnya ketika Petrus mengeluarkan suatu pernyataan iman bahwa Kristus adalah Anak Allah yang hidup maka Kristus merasa perlu membereskan pemahaman dan pengertian akan Mesias Anak Allah. Matius 16:21 menjadi titik putar, pivotal point dimana Tuhan Yesus membukakan apa yang menjadi isi dari pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Mesias Anak Allah yang hidup. Dari tindakan-Nya, mujizat-Nya, berita-Nya dan pengajaran-Nya seharusnya orang melihat kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias khususnya para tokoh agama Yahudi. Namun ironis, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki tidak melihat dan ironisnya, mereka meminta tanda. Tanda itu diminta bukan karena mereka ingin melihat kebenaran. Tidak! Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi maksud dan rencana mereka maka Tuhan Yesus hanya memberikan tanda Yunus lalu meninggalkan mereka.
Tuhan Yesus mulai membukakan apa yang menjadi misi Mesias, yaitu pergi ke Yerusalem, menanggung penderitaan dari pihak tua-tua dan imam-imam dan ahli Taurat, dibunuh mati lalu bangkit pada hari ketiga. Injil Matius mencatat tentang berita ini paling sedikit 4 kali dan pertama kali diungkapkan di ayat 21. Sejak Perjanjian Lama, bangsa Yahudi menantikan Mesias sampai pada jaman Daud, mereka lebih menantikan Kristus Yang Diurapi. Seorang Mesias menyangkut 3 fungsi yang menyatu, yaitu Raja, Imam dan Nabi. Konsep Mesias orang Israel adalah Raja yang berkuasa sangat besar bahkan kuasa dan kerajaannya melampaui Raja Daud; Mesias menjadi Imamat dan Penebus yang membawa manusia pada keselamatan; Ia adalah Juruselamat umat manusia dan Ia adalah Nabi yang membawa pengajaran yang sejati. Dan setiap orang Yahudi sangat ingin kalau Mesias itu hadir dari keturunan merekan itulah sebabnya pada jaman Perjanjian Lama ketika seorang wanita mandul maka itu dianggap sebagai suatu kutukan dan mereka sangat bersedih karena itu berarti menutup semua kemungkinan dan pengharapan akan lahirnya seorang Mesias dari keturunan mereka. Petrus dapat mengeluarkan pernyataan dahsyat kalau Yesus adalah Mesias tetapi konsep Mesias yang ada dalam pemikiran Petrus tidak ubahnya seperti konsep orang Yahudi sejak Perjanjian Lama, yakni sangat duniawi; apa yang dikatakan dengan pengertian di balik pernyataan tersebut sangatlah berbeda. Mereka berpikir Mesias itu akan mengalahkan dan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Mesias atau Kristus itu akan duduk di tahta-Nya yang maha indah dan dahsyat dan pada saat itu para murid membayangkan mereka akan menjadi perdana menteri yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Mereka akan memiliki tentara yang besar yang mengalahkan semua kerajaan yang ada dunia. Konsep Mesias yang ada dalam pemikiran mereka sangatlah duniawi, the succesfull Mesianic wordly concept. Itulah sebabnya Kristus datang menghadirkan konsep Mesias sejati.
Ironisnya, konsep Mesias yang sangat duniawi itu juga merasuk pemikiran dunia modern ini; kalau Kristus adalah Raja maka setiap orang yang percaya pada-Nya berarti anak Raja dan anak Raja akan hidup berkelimpahan. Kristus adalah Mesias Anak Allah yang hidup, dalam bahasa Indonesia kalimat ini bisa mempunyai 2 arti, yakni: 1) Anak/Allah yang hidup, 2) Anak Allah yang hidup namun dalam bahasa aslinya, yang lebih tepat adalah arti yang pertama.
Itulah sebabnya, Tuhan Yesus perlu menjelaskan bahwa yang namanya Mesias, yang disebut Mesias, dan hadirnya Mesias – tugas dan fungsi Mesias tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Mesias itu harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat lalu dibunuh dan bangkit hari ketiga. Pernyataan Tuhan Yesus sungguh diluar dugaan, konsep Petrus berbeda dengan konsep Mesias yang benar, ia pun langsung memegang tangan Tuhan Yesus dan menarik Dia ke samping dan marah: “Tuhan, kiranya Allah akan menjauhkan hal itu.“ Kalau sebelumnya Petrus mengakui: Kristus adalah Anak Allah yang hidup berarti sebagai Anak Allah seharusnya Ia lebih tahu apa yang Bapa pikirkan daripada Petrus, bukan? Namun Petrus merasa dirinya lebih mengerti dari Kristus. Tindakan Petrus ini keluar dari konsep Mesianik yang salah. Apa yang menjadi penyebab sehingga kita bisa berpikir salah tentang konsep Mesias?
1. Seorang Raja tidak boleh kalah ataupun mengalami penderitaan ataupun jatuh dan gagal. Alkitab menegaskan kemenangan itu bukanlah bersifat fisik atau materi. Dunia ingin mencapai posisi tinggi tetapi dengan cara yang penuh dengan intrik dan kompromi jadi sesungguhnya, ia kalah dalam banyak aspek. Adalah pemikiran yang salah kalau kekuasaan tinggi dan Tidak! Justru sebaliknya semakin kaya seseorang dan semakin besar kekuasaannya maka ia semakin menderita. Ayub tidak akan pernah mengalami kasus Ayub kalau ia tidak kaya. Seandainya Ayub adalah seorang yang saleh tetapi miskin maka setan tidak akan mencobai Ayub. Alangkah bodohnya kalau kita berpikir uang dan kekuasaan itu adalah segala-galanya dalam hidup namun sayang, konsep inilah yang banyak dipikirkan oleh manusia. Di tengah-tengah dunia ini tidak ada satu kuasa pun yang bisa mencapai kemutlakan, hanya kembali pada Allah sajalah maka disitu ada kemutlakan sejati.
2. Tuhan Yesus sangat jelas tahu bahwa apa yang akan terjadi di Yerusalem, yakni menderita sengsara, mati dan bangkit. Yang sulit dimengerti adalah kalau Tuhan Yesus sudah tahu apa yang akan terjadi lalu mengapa Ia harus pergi ke Yerusalem? Kalau hal yang sama kita kenakan pada kita, pasti kita akan menghindar dari segala tantangan dan penderitaan bahkan celakanya, mereka berani menggunakan ayat Alkitab untuk membenarkan tindakan mereka tersebut. Perhatikan, Tuhan Yesus, Paulus maupun para rasul yang lain tidak pernah menghindar dari penderitaan atau tantangan. Tuhan Yesus harus pergi karena memang waktu-Nya belum tiba tetapi ketika waktu-Nya tiba, Dia datang ke Yerusalem untuk menderita sengsara dan mati, demikian pula halnya dengan Paulus, dalam banyak aspek, ia menghindar tapi ketika waktu-Nya tiba, ia pergi ke Yerusalem juga meskipun berulang kali Agabus memperingatkan dia. Inilah iman sejati. Dunia justru berpikir sebaliknya, yakni anak Tuhan itu sekali-kali tidak akan mengalami penderitaan dan menghindari penderitaan. Tidak! Kalau tiba waktu Tuhan yang mengharuskan kita harus menderita maka kita harus taat.
3. Tuhan Yesus sangat baik maka Allah pasti akan menjaga orang baik, Ini merupakan kesalahan konsep keadilan di tengah-tengah hidup orang berdosa. Merupakan konsep yang salah kalau dunia berpikir bahwa Tuhan pasti akan menjaga orang baik sehingga orang baik pasti tidak akan mengalami penderitaan, orang baik tidak akan sakit, orang baik tidak akan bangkrut, dan masih banyak lagi pemikiran salah yang tertanam dalam konsep mereka. Konsep ini menjadikan orang tidak takut akan dosa; orang justru merasa nyaman sebab hukuman dosa itu belum dirasakan. Perhatikan, Tuhan tidak mempunyai tanggung jawab sedikitpun untuk menjagai kita. Tidak! Memang seberapa baikkah kita sehingga Tuhan harus menjagai kita? Semua kebaikan kalau hanya untuk mencari kenikmatan hidup bukanlah kebaikan sejati. Konsep keadilan Tuhan telah diselewengkan ketika orang mendapatkan kesulitan dan penderitaan berarti ia berdosa sebaliknya, orang yang “sukses“ secara dunia berarti kita tidak berdosa dan menganggap diri baik sehingga hal ini semakin menjadikan kita semakin berbuat dosa lagi. Kalau keadilan Tuhan itu benar-benar ditegakkan di tengah dunia ini maka tidak ada satu orang pun yang lepas dari murka Tuhan sebab upah dosa adalah maut. Habakuk pun pernah protes pada Tuhan sebab sebagai seorang nabi Tuhan, ia tidak seharusnya mengalami bahkan melihat segala kekacauan dan penderitaan pun seharusnya tidak. Tuhan membukakan pemikiran Habakuk sehingga keluar suatu pernyataan indah yang ditulis Hab. 3:17. Hal yang sama juga ada dalam konsep ketiga teman Ayub yang menganggap penderitaan Ayub itu karena kesalahan Ayub dan sampai Perjanjian Baru, Petrus juga mempunyai konsep yang salah akan Mesias – Mesias tidak boleh menderita maka Petrus pun langsung menarik tangan Tuhan Yesus dan menjauhkan hal itu. Tuhan yesus dengan keras menghardik Petrus: ”Minggir, setan” (bahasa asli) sebab engkau tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah tetapi engkau hanya memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia. Petrus sulit menerima konsep Mesias yang benar sebab di lain pihak, ia tidak siap harus menerima tantangan dn penderitaan dan hal ini terbukti ketika seorang gadis kecil menghampiri Dia dan menanyakan kedekatan-Nya dengan Tuhan Yesus maka serta merta Petrus menjadi takut dan menyangkali Tuhan Yesus.
Hidup dalam kebenaran sejati berarti harus menerima segala resiko dan menderita aniaya (2 Tim. 3:12). Ironisnya, konsep Mesias jaman Perjanjian Lama hingga dunia modern tidak berubah. Tuhan Yesus datang membukakan konsep Mesias sejati, tugas dan misi Mesias:
1. Menyadarkan manusia akan realita dosa. Kristus berinkarnasi datang ke tengah dunia untuk menderita sengsara dan mati di salib hanya membuktikan satu hal, yakni karena dosa. Kalau manusia tidak berdosa maka Kristus tidak perlu hadir ke tengah dunia. Manusia sudah melawan Allah, manusia hidup dalam dosa namun di tengah dunia, orang berdosa tidak mau mengakui dosanya lalu merasa dirinya tetap baik; ini merupakan dosa yang paling dosa. Apa artinya kehadiran Yesus kalau Ia datang ke Yerusalem, mengalahkan semua musuh, mempunyai singgasana, bermahkota dan berpakaian maha indah dan para murid duduk di sebelah kanan dan kiri lalu hidup berpesta pora dan mengalami kebinasaan kekal. Apakah hal seperti itu yang diharapkan? Banyak orang Kristen hari ini memandang kesuksesan berarti mempunyai kuasa dan kaya. Ingatlah, untuk apa semua harta kekayaan kita kalau kehilangan nyawa; semua itu hanyalah kesia-siaan. Mesias datang untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal. Mesias hadir untuk menyelesaikan problema manusia terbesar, yaitu dosa. Ia datang bukan untuk mendirikan kerajaan dunia tetapi menegakkan kerajaan spiritual dan mengeluarkan manusia dari jerat dosa supaya kita kembali pada Allah sejati. He is the true King with the true Kingdom.
2. Dosa hanya dapat diselesaikan melalui penebusan Kristus. Orang mencoba melunakkan dosa dengan mengatakan dosa itu sebagai kelemahan. Dosa bukan sekedar kelemahan, tetapi dosa adalah memberontak terhadap Allah. Orang sadar akan dosa tetapi orang sengaja melupakan dosa. Hati nurani manusia tidak dapat dibohongi, sekeras apapun orang berusaha melupakan dosa, orang tidak bisa lari dari dosa itu tetap ada dan upah dosa adalah maut. Orang mencoba menyelesaikan problema dosa dengan melakukan perbuatan baik dan menganggap perbuatan baik itu sudah cukup membuatnya masuk dalam Kerajaan sorga. Tidak! Perbuatan baik yang dilakukan karena ingin mendapatkan sorga maka itu bukan perbuatan baik; orang semakin berbuat baik maka orang akan semakin berdosa. Perbuatan baik yang asli dapat dikerjakan sesudah ia mendapat sorga bukan sebaliknya, berbuat baik untuk mendapatkan sorga maka satu-satunya cara adalah Kristus Sang Mesias itu datang dan menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Penebusan menjadi titik penting dalam Kekristenan. Theologi Reformed melihat seluruh hidup dalam 4 titik penting, yakni CFRC – Creation, Fall, Redemption, Consummation. Inilah Kemesiasan Kristus tanpa penebusan kita tidak akan keluar dari jerat dosa. Orang berdosa menyelesaikan problema dosa, menganalisa problema dosa dengan cara berdosa dan hasilnya pastilah dosa. Kunci pertama untuk kita dapat melihat dan kembali pada Kristus adalah menyangkal diri, membuang segala keinginan, menggagalkan semua ambisi pribadi maka selamanya kita tidak akan pernah mengerti kebenaran. Creation menjadi titik acuan dimana orang tahu kalau ternyata kita berada dalam posisi fall; untuk keluar dari titik fall, harus ada redemption, Kristus yang menggantikan hukuman manusia berdosa dan menjadi tebusan sehingga kita dihidupkan kembali. Kristus menjadi domba Paskah menggantikan dosa manusia. Betapa besar kasih Kristus untuk manusia berdosa, Ia rela memberikan diri-Nya dan menjadi tebusan bagi kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:7-8). Kalau untuk orang baik, orang mau berkorban tapi untuk orang benar siapa orang mau berkorban untuk dia? Dunia tidak mau berkorban untuk orang benar apalagi untuk orang berdosa masih adakah orang yang mau berkorban untuk dia? Kristuslah jawabannya, Dia mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Kuasa penebusan Kristus adalah kuasa dahsyat yang berubah hidup kita. Kasih pengorbanan Kristus seharusnya menjadikan kita sadar dan hidup dalam kebenaran-Nya sejati dan taat pada-Nya.
3. Kemenangan dan kemuliaan kebangkitan Kristus. Kristus bangkit pada hari ketiga, Dia menang atas kuasa dosa, Dia menghancurkan kuasa kematian dan membawa kita pada kehidupan kekal. Hanya Kristus satu-satunya yang dapat mengalahkan maut. Mesias telah memberikan pada kita mujizat terbesar dam kalau orang dapat mengaku dosa dan percaya pada Kristus Sang Mesias maka itu merupakan mujizat terbesar. Sebab bukanlah hal yang mudah orang mengaku dosa ketika ia ditegur akan dosanya. Upah dosa adalah maut dan hanya kembali pada Kristus sajalah dan hidup dalam kebenaran-Nya maka kita akan diselamatkan. Injil sejati menjadikan orang sadar akan dosa dan mengaku dosa. Hal inilah yang terjadi ketika John Sung mengabarkan tentang Injil sejati, mujizat besar terjadi yakni banyak orang berdosa mengaku dosa. Ketika gereja Tuhan mengalami kesulitan dan penderitaan disana Tuhan memimpin maka itu merupakan suatu mujizat. Mujizat Tuhan bukanlah miskin jadi kaya, sakit jadi sehat, hidup nyaman. Tidak! Mujizat sejati tidak bersifat hedonis dan humanis. Kuasa sejati Kristus adalah kuasa mengalahkan dosa bukan kuasa untuk berbuat dosa. Mesias sejati bukanlah seperti yang Petrus pikirkan sehingga konsep Petrus harus dibongkar dan diperbaiki untuk kembali pada Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus adalah kuasa hidup, kuasa yang mengalahkan kematian, kuasa yang mengalahkan dosa dan membawa kita pada terang-Nya yang ajaib. Konsep Mesias dan isi dari pengakuan merupakan satu kesatuan, apa yang kita katakan dengan isi memadu menjadi satu dan menjadi kekuatan bagi kita. Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071125.htm