Archive for June, 2008

Eksposisi Matius 17:22-23: IMAN DAN REAKSI IMAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Monday, June 30th, 2008

Ringkasan Khotbah: 18 Mei 2008

Iman dan Reaksi Iman

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 17:22-23

Tema totalitas dari Injil Matius adalah Kerajaan Surga. Kitab Injil ini isinya bersifat tematik, mulai dari Sang Raja hadir, Sang Raja bekerja, Sang Raja memberi aturan-aturan, Sang Raja melakukan manifestasi dari peraturan, Sang Raja membangun kerajaanNya dan reaksi-reaksi yang timbul.

Matius 16 berbicara tentang siapa Sang Raja itu, Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Dalam Matius 17 dibahas tentang bagaimana kita hidup di hadapan Mesias, Anak Allah yang hidup itu, bagaimana kita beriman kepada Dia. Iman adalah bagaimana kita berespon dengan tepat kepada Allah yang hidup. Seorang beriman adalah bagaimana ia taat sebagai budak kepada Kristus Sang Raja. Jadi tema Matius 17 adalah IMAN.

Matius 17:22-23 merupakan salah satu bagian dari 4 kali pemberitahuan Kristus tentang penderitaanNya, kematianNya dan kebangkitanNya. Berita ini diulangi untuk yang kedua kalinya dalam ayat di atas. Beberapa penafsir setuju bahwa berita ini adalah suatu berita besar, dan merupakan berita sentral tentang misi utama Kristus datang ke dalam dunia. Kristus datang ke dalam dunia bukan sekedar untuk mengajarkan doktrin, bukan sekedar untuk menyembuhkan penyakit, bukan sekedar untuk mengusir setan dan bukan sekedar untuk melakukan mujizat. Misi Kristus adalah menegakkan Kerajaan Surga dan bagaimana orang kembali kepada Kristus.

Pada saat misi ini diungkapkan kepada murid-murid Tuhan, murid-murid menjadi kaget dan melakukan reaksi keras. Reaksi para murid yang diungkapkan dalam Matius 17 :22-23 ini adalah reaksi melankolis yaitu dikatakan bahwa hati murid-murid sedih sekali. Mari kita melihat suatu posisi paradoksikal bagaimana kita melihat berbagai hal yang terjadi di dunia ini, yaitu :

1.  Reaksi ini sangat manusiawi karena adalah sangat wajar kalau manusia menjadi sedih bila melihat orang yang sangat baik harus menderita.

Seringkali kita juga berpikir bahwa kalau kita hidup baik, tidak pernah membuat orang lain menderita, maka seharusnya kita tidak hidup menderita. Kalau kemudian kita menderita maka kita akan sedih sekali. Kristus tidak pernah mengajar kita bahwa kalau kita ikut Dia kita tidak akan menderita, justru Kristus mengajarkan bahwa murid-murid pun harus turut minum cawan penderitaanNya. Kondisi ini membuat orang menjadi sedih. Kondisi ini menunjukkan bahwa inilah dunia yang berdosa, dunia yang kejam.

Ketika Kristus berbuat baik, Dia mendapatkan reaksi yang sangat keras dari orang Farisi, para ahli taurat, para Sanhedrin, hingga mencapai puncaknya yaitu menyalibkan Kristus. Di tengah dunia ini, jangan mengira bahwa kalau kita berbuat baik maka kita akan mendapatkan reaksi yang baik dari orang lain. Ketika kita hidup suci, hidup benar, sekeliling kita justru akan mencemooh dan mencelakakan kita. Kristus telah menjadi contoh yang menunjukkan bahwa dunia ini adalah jahat.

Iman Kristen sejati bukan iman yang membawa kita keluar dari realita, melainkan akan menyadarkan kita akan realita dunia berdosa. Dunia berdosa sulit untuk bereaksi dengan benar. Kondisi dunia yang jahat ini dapat mendorong kita untuk ikut berbuat jahat.

Keadaan perekonomian dunia semakin hari semakin memburuk, hidup akan semakin sulit. Dalam kondisi yang demikian ini orang banyak yang ketakutan dan dapat berbuat nekat. Orang yang menderita akan benci terhadap orang lain yang hidupnya enak. Kebencian akan semakin mudah tersulut. Hal ini akan sangat mengerikan kalau kondisi ini masuk ke dalam kekristenan. Iblis sangat diuntungkan dengan kondisi seperti ini.

Sebagai anak Tuhan, kita jangan sampai bereaksi salah terhadap dunia ini. Janganlah kita menyalahkan Tuhan atas penderitaan hidup ini. Alkitab sudah membukakan bagi kita bahwa sebelum kita sengsara, Kristus sudah terlebih dahulu mengalami sengsara. Contohlah Kristus !

2.  Kesedihan murid-murid juga diakibatkan karena harapan mereka tidak menjadi kenyataan.

Harapan para murid adalah Kerajaan Surga seperti kerajaan dunia, bahkan first decree (dekrit pertama) mereka ini terus ada dalam pikiran mereka sampai menjelang Kristus akan naik ke surga. Harapan itu habis dengan kematian Kristus. Kesedihan karena hilangnya harapan adalah kesedihan yang tidak tepat.

Kita pun sering dipacu untuk memiliki pengharapan-pengharapan yang membuat kita semakin tidak bisa bersikap realis. Kegagalan kita seharusnya menyadarkan kita bahwa kita telah salah jalan, tapi justru kita seringkali memaksakan apa yang menjadi pengharapan kita, dan kita marah kepada Tuhan.

Tuhan Yesus sejak pertama sudah mengingatkan murid-murid untuk selalu menjadi seperti pelayan yang melayani dengan sepenuh hati, senantiasa memberikan yang terbaik untuk yang dilayani, bukan kepentingan diri yang didahulukan tetapi kepentingan orang yang dilayani.

Jika realita tidak sesuai dengan pengharapan, akan terjadi konflik dalam diri manusia, dan kemudian manusia akan berkata : “Wajar !” Secara manusiawi memang wajar tapi secara surgawi tidak wajar. Iman sejati adalah bagaimana kita bisa bereaksi dengan tepat kepada apa yang Kristus inginkan, bukan kepada pengharapan kita. Iman kita bisa rusak kalau kita mau menunggangi Kristus untuk kepentingan kita.

Kita harus bisa mematahkan pengharapan kita sendiri dan tunduk kepada apa yang Tuhan inginkan. Hal ini akan membawa kita kepada keberhasilan. Dan nantinya kalau kita berhasil, itu bukan karena kita hebat tetapi karena Tuhan yang menjalankan kehendakNya.

3. Kesedihan murid-murid juga dikarenakan Anak Manusia dikhianati.

Kristus menderita karena ada pengkhianat dari dalam bukan dari luar. Kekristenan harus terima fakta bahwa rusaknya kekristenan disebabkan oleh orang dalam. Ketika dikhianati sakitnya melebihi kalau kita ditikam oleh orang luar. Hal ini bisa mengakibatkan kita tidak bisa percaya lagi kepada semua orang di sekitar kita. Karena itu, lakukan semua hal dengan terbuka dan jelas, agar orang lain tidak menemukan celah untuk menjatuhkan kita. Semua hal harus dilakukan secara beres. Jangan anggap remeh atau gampang semua persoalan karena akan berakibat tidak gampang di kemudian hari, bahkan antar orang Kristen sekalipun. Realita ini sangat sulit kita terima dan bisa menjadikan orang bersifat paranoid (sakit jiwa dengan wujud takut kepada semua orang). Kita harus dapat bereaksi dengan tepat waktu kita dikhianati.

Kita harus dapat mengembalikan posisi hidup kita kepada posisi yang seharusnya yaitu menghadapi segala persoalan dengan iman yang sejati. Kita harus dapat melakukan kontra format terhadap reaksi secara duniawi. Kita harus dapat menerobos keluar dari kenormalan dunia.

Kontra format / kontra posisi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Mengejar kualitas dengan ujian secara bertahap, bukan dengan cara instant.

Dalam Matius 17 : 22 Kristus berkata bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Inilah bijaksana tertinggi. Hal ini tidak dapat masuk ke dalam pikiran manusia, dan hanya dapat diterima dengan iman. Cara ini adalah cara yang dasyat dari Allah untuk menyelesaikan masalah dosa manusia. Masalah dosa manusia tidak bisa diselesaikan dengan berbuat baik, karena tambah berbuat baik tambah berdosa; hal ini menunjukkan ketidak berdayaan manusia.

Untuk mengerjakan hal yang dasyat diperlukan kualitas yang dasyat pula. Kita harus kembali kepada sumber bijaksana kalau mau menjadi bijaksana. Allah adalah sumber bijaksana dan dirinya bijaksana sejati. Persoalan dunia harus diselesaikan dengan cara penebusan. Kita harus menjadikan penebusan menjadi format hidup kita, seperti menebus waktu kita.

Hidup harus teruji untuk menjadi hidup yang layak dihidupi. Konfusius mengatakan bahwa orang harus diperas habis dulu baru bisa dipakai. Kita harus berjuang mati-matian untuk mencapai kualitas yang baik. Makin tinggi kualitas yang dihasilkan, makin tinggi pula tingkat kesulitan yang harus dihadapi.

Tuhan tidak mengajar kita untuk menangisi penderitaan tapi harus menghadapinya dengan bijaksana yaitu dengan memberi diri diuji oleh penderitaan supaya lebih berkualitas. Setelah Pentakosta, murid-murid baru dapat melakukan terobosan. Mereka menjadi berani menghadapi penderitaan dan selalu berusaha mengatasi penderitaan / kesengsaraan, mereka rela keluar masuk penjara karena Injil.

2. Menjadikan kasih sebagai motivator segala perbuatan kita.

Dunia ini jahat luar biasa, tapi Tuhan mengajak kita untuk meniru Dia yaitu dalam hal mengasihi / mencintai, sejahat apapun dunia ini. Cinta adalah kekuatan yang dasyat untuk membangun. Benci juga kekuatan yang dasyat untuk merusak orang. Orang yang jatuh cinta bisa mengalahkan rasa sakit, rasa sulit, untuk bisa bertemu dengan kekasih. Orang dunia sulit untuk menjalankan kasih yang murni. Setan melakukan “kebaikan” dengan motivasi menggaet lebih banyak bahkan yang diincar adalah nyawa manusia. Kristus melakukan yang terbaik dengan motivasi kasih. Kebencian dapat tersiram oleh kasih. Kasih dapat memberi kekuatan untuk menerobos.

Orang kolerik berjuang keras supaya tidak gagal supaya tidak merusak nama sendiri (motivasi diri sendiri), sehingga cenderung akan memanipulasi orang untuk kepentingan diri. Alangkah indahnya kalau motivasi / pendorong itu diganti dengan kasih, lakukan demi orang lain yang dilayani.

Orang melankolik punya keunggulan perasaan, perasaan yang kuat, tetapi yang cenderung negatif, seperti menangisi keadaan. Alangkah indahnya kalau diganti dengan perasaan kasih yang besar supaya bisa menggarap hal yang positif.

Mari kita meneladani Kristus dengan menjadikan kasih sebagai motivator segala tindakan kita. Dunia tidak mungkin melakukan hal ini karena tidak memiliki Sumber Kasih itu yaitu Tuhan Yesus Kristus.

3. Mengejar kemenangan total.

Pendidikan yang kita terima selama ini sudah menjadikan pikiran kita ter-fragmented (terpecah-pecah), hidup kita juga terpecah, sehingga setan dapat dengan mudah menyerang hidup kita, kalau dari sisi ini gagal, dapat dari sisi lain yang terpecah.

Kemenangan yang harus kita kejar adalah kemenangan secara totalitas, bukan per segmen. Kita jangan tertipu dengan kemenangan pada awal langkah tapi yang menuju kepada kekalahan total. Iblis juga memberikan kepada kita kemenangan pada awal langkah tapi nantinya dia akan mendapatkan kemenangan atas nyawa kita. Waktu Kristus mati, iblis merasa menang, tapi waktu Kristus bangkit, iblis dikalahkan. Inilah kemenangan total dari Kristus.

Kembalilah kepada Kristus, taat kepada Dia, maka kita akan menang secara total dalam menghadapi dunia ini. Iman kepada Tuhan akan membawa kita hidup berkemenangan bahkan lebih dari pada pemenang.

Sekali lagi, IMAN bukan masalah besar atau kecilnya iman, tetapi masalah ada atau tidak ada iman; iman sebiji sesawi pun dapat memindahkan gunung, dan menjadikan kita lebih dari pada pemenang. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080518.htm

Eksposisi Injil Matius 17:14-21: IMAN: ADA ATAU TIDAK? (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, June 22nd, 2008

Ringkasan Khotbah: 11 Mei 2008

Iman: Ada atau Tidak?

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 17:14-21

Tema utama Injil Matius adalah Kerajaan Allah. Kitab Injil ini isinya bersifat topical yaitu mulai dari Sang Raja datang, bagaimana Sang Raja bekerja, aturan-aturan Kerajaan Surga, penerapan aturan Sang Raja, misi Kerajaan Surga, dan sekarang kita akan membahas tentang keTuhanan dari Sang Raja. Hal ini mulai diungkapkan dari Matius 15, sedangkan mulai Matius 17 ini kita akan melihat kaitan iman terhadap Sang Raja, dimana Kristus sebagai pusat iman kita.

Matius 17:1-13 mengisahkan bagaimana Petrus bermaksud mendirikan kemah untuk Tuhan Yesus, Elia dan Musa, bahkan dia tidak berpikir untuk dirinya sendiri, ketika Kristus berubah rupa di depan mata murid-murid Tuhan. Tetapi tiba-tiba terdengarlah suara yang berkata : “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa iman yang sejati bukan kita yang mengatur, bukan kita menurut apa yang kita mau, tetapi kita harus mendengarkan Kristus, percaya kepada Kristus. Kalau kita percaya kepada Kristus, berarti kita meletakkan objek iman kita kepada Kristus, percaya kepada apa yang diatur oleh Kristus. Seringkali orang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi sebenarnya percaya kepada dirinya sendiri dan memenuhi keinginan diri sendiri.

Dalam Matius 17:14-21 tidak diceritakan secara detail tentang siapa anak yang sakit ayan itu dan bagaimana penyakit tersebut menyerang anak itu. Matius ingin kita melihat bagian yang penting sehubungan dengan penyembuhan anak yang sakit ayan itu yaitu IMAN.

1. Iman menyangkut reaksi dan objek iman.

Problemnya adalah murid-murid Tuhan tidak dapat menyembuhkan anak tersebut. Langkah pertama yang Tuhan Yesus lakukan bukan menyembuhkan tetapi menghardik murid-muridNya. Dia berkata : “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?” Yang diungkapkan di sini adalah masalah IMAN. Kata tidak percaya dalam ayat ini dalam bahasa aslinya adalah memakai kata apistos yang berarti tidak punya iman, tidak percaya. Dalam terjemahan ayat 20 dipakai kata kurang percaya, hal ini tidak tepat karena dalam bahasa aslinya dipakai kata apistos yang berarti tidak percaya. Orang yang tidak punya iman adalah orang yang sesat, yang menyeleweng dari iman yang sesungguhnya. Iman yang sesungguhnya adalah kembalinya iman kepada objek iman yang sejati yaitu Yesus Kristus.

John Knowlen menyatakan bahwa iman adalah bagaimana kita bereaksi di hadapan Kristus. Jadi orang yang beriman adalah orang yang bereaksi dengan tepat kepada Kristus.

Dunia kita percaya kepada berbagai hal, pikiran filsafat yang akan hancur atau berubah seiring dengan perubahan waktu. Landasan iman yang sejati harus kembali kepada absoluditas yang sejati, kebenaran yang sejati yaitu Kristus. Itu satu-satunya iman.

Perkataan Kristus tentang angkatan yang sesat atau tidak beriman ini ditujukan kepada lingkaran terdekat dari Tuhan Yesus. Apakah orang Kristen pasti beriman kepada Kristus? Belum tentu. Kita perlu kembali menguji : betulkah kita beriman, sudah percaya; betulkah kita sudah bereaksi dengan tepat

kepada Kristus. Iman sejati adalah kalau kita men-Tuhankan Kristus, bereaksi dengan tepat kepada Kristus. Kita seharusnya menempatkan diri kita sebagai budak di hadapan Kristus.

Budak tidak punya hak, yang dipunyai hanyalah kewajiban. Kristus adalah Tuan diatas segala tuan dan kita adalah budakNya. Perintahlah saya Tuhan maka akan saya jalankan. Inilah reaksi yang tepat. Iman yang sejati bukan menjadikan kita “sakti” tapi justru menampilkan ketaatan kita kepada Tuhan. Tuhan Yesus menjadi yang terutama dalam setiap aspek hidup kita. Kalau reaksi kita terhadap Kristus benar berarti iman kita benar. Murid-murid sudah bersama dengan Tuhan Yesus selama 3 tahun tapi waktu 3 tahun tidak menjamin mereka sungguh-sungguh telah meletakkan objek iman mereka  pada Tuhan Yesus. Kalau tidak ada iman, hidup kita akan hampa, kosong dan menjadi sia-sia. Hidup kita akan menuju kebinasaan.

Mari kita mengkoreksi hidup kita, seberapa kita bereaksi kepada Kristus baik di dalam lingkungan kerja, keluarga, kuliah, pelayanan; ataukah kita hanya beriman kepada diri kita sendiri; ataukah kita berpegang kepada materialisme, diri, kenikmatan dunia, uang. Mari kita bereskan iman kita sehingga ibadah kita tidak sia-sia.

2. Sorotan iman yang pertama adalah pada iman pelayan Tuhan.

Hari ini ada gejala yang aneh dan brengsek yaitu menuduh orang yang dilayani tidak beriman ketika pelayanan yang dikerjakan tidak berhasil. Prinsip ketaatan iman adalah pada yang melayani. Banyak orang ingin kelihatan “hebat, sakti” tapi tidak mau taat kepada Tuhan. Pelayan Tuhan harus taat, setia kepada Tuhan. Kalau pelayanan kita tidak berhasil itu berarti kita yang salah, kita sudah tidak taat kepada Tuhan, kita sibuk pelayanan tapi inti iman tidak ada.

Orang melayani dengan berbagai alasan, yaitu ada yang takut diomeli pendeta sehingga melayani dengan asal-asalan tapi waktu dikritik akan marah besar, ada yang mencari aktualisasi diri sehingga ketika kurang dihargai menjadi marah, ada juga yang ingin menjalankan otorisasi diri.

Pelayanan yang benar adalah bagaimana kita menjadi budak yang siap melayani setiap waktu. Pelayanan harus dimulai dengan iman yang tepat sehingga pelayan Tuhan akan bereaksi dengan tepat dalam menjalankan pelayanannya. Gereja akan bertumbuh kalau memiliki pelayan yang beriman benar. Kalalu iman pelayan sudah kacau maka yang dilayani pun imannya menjadi kacau.

3. Ada atau tidak adanya iman.

Orang sering berpikir secara humanitas dan dipengaruhi oleh pikiran dinamisme-animisme. Hal ini berpengaruh terhadap cara pandang terhadap iman atau percaya. Percaya juga diberi tingkatan secara kuantitatif. Ada orang yang kurang percaya, ada yang lebih percaya. Dalam perdukunan atau lingkup kuasa kegelapan memang ada kesaktian yang kurang, yang lebih, ada setan yang sedikit, ada setan yang banyak. Kekristenan memandang iman tidak seperti di atas. Tidak ada iman sedikit, atau banyak, kurang, atau lebih; dalam kekristenan yang ada hanya percaya atau tidak percaya, beriman atau tidak beriman. Iman yang sebesar biji sesawi (ukuran yang sangat kecil) saja sudah cukup. Hal ini menunjukkan bahwa bukan besar atau kecilnya tapi keberadaannya. Iman kepada Kristus bukan sedikit atau banyak tapi ada atau tidak ada.

Kalau kita kembali kepada Kristus, menjalankan apa yang Kristus kehendaki maka kita akan memiliki kuasa yang besar. Iman sebiji sesawi cukup untuk bisa memindahkan gunung. Ketika kita bereaksi dengan tepat di hadapan Kristus tidak ada hal yang terlalu besar, yang mustahil untuk dapat dilakukan. Kalalu kita main dengan kemauan kita sendiri justru kita tidak akan mendapatkan karena Tuhan tidak akan beri, tapi kalau kita main dengan kuasa kegelapan kita pasti mendapatkan apa yang kita mau. Setan pasti memberi apapun yang kita minta karena yang diincar setan adalah nyawa kita. Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Tuhan yang mengatur. Kalau Tuhan menghendaki apa saja, kita harus jalan. Kita seringkali menuntut Tuhan yang nurut kita.

Orang sering mengatakan bahwa dalam gerakan reformed tidak ada mujizat. Justru gerakan reformed sering mengalami mujizat yang besar bukannya mujizat kelas “sampah”, seperti miskin menjadi kaya, sakit menjadi sembuh, karena apa yang dipikirkan manusia adalah sampah. Origen (salah satu bapa gereja) mengatakan : gunung adalah hambatan terbesar yang kita hadapi (zaman dulu : gunung dan laut adalah hambatan terbesar yang sulit diterobos). Kita punya kuasa yang dasyat untuk memindahkan gunung sekalipun asalkan Tuhan berkehendak. Kalalu Tuhan menginginkan, tidak ada yang bisa menghalangi.

Gereja kita sudah mengalami mujizat yang besar seperti : dikeluarkannya izin membangun untuk gereja di  Kertajaya walau diajukan dengan menuruti prosedur yang benar dan tidak main akal-akalan, ruko di Andhika Plaza ini sudah berubah peruntukan secara resmi menjadi gereja, kita bisa bikin KKR yang membawa orang kembali kepada Tuhan. Di dalam KKR, orang berdosa ditegur dosanya, sadar akan dosanya, menangis dan kemudian bertobat, ini adalah pekerjaan Roh Kudus, ini adalah mujizat, ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Orang berdosa akan marah kalau ditegur dosanya, tidak mungkin bertobat tanpa anugerah Tuhan; jadi kalau ada orang bertobat berarti mujizat telah terjadi.

Jangan jalan sendiri menuruti ambisi diri. Biarkan Tuhan yang kerja, kita ini hanya pekerjaNya. Jadi bukan masalah iman besar atau kecil, yang penting adalah kita mau taat atau tidak kepada Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa. Semakin kita jalan sendiri, kita semakin tidak mengalami bahwa Tuhan kita hidup dan berkuasa. Sejauh kita taat kepada Tuhan, kita akan selalu mengalami mujizat. Di tengah dunia yang penuh kesulitan ini jangan sampai kita berjalan sendiri, karena akan mendatangkan kehancuran pada diri kita sendiri.

4. Iman yang benar akan menyenangkan hati Tuhan.

Seperti yang sudah disinggung di depan bahwa pelayanan yang benar adalah menempatkan diri kita sebagai budak di hadapan Tuan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus. Budak paling takut kalau tuannya marah, maka budak akan selalu berusaha bekerja sebaik mungkin, memberikan yang terbaik untuk menyenangkan hati tuannya. Seorang budak akan merasa bahagia kalalu bisa melihat tuannya tersenyum atas hasil kerjanya. Kita sebagai budak Tuhan juga seharusnya mencari “senyum” Tuan kita. Kalau Tuhan tersenyum kepada kita itulah sukses kita. Sukses bukan berarti semakin banyak materi yang diperoleh dan ditumpuk, seberapa banyak kepandaian (gelar akademis) yang diperoleh, kedudukan setinggi apapun. Semuanya itu tidak bertahan lama, patut disyukuri kalau bisa bertahan sampai mati. Nilai sukses sejati adalah kalau kita mendapatkan perkenanan Allah.Kalau kita mendapatkan perkenanan Allah, di waktu akhir nanti Tuhan akan berkata kepada kita :” Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21b)

Marilah kita terus menggarap hidup iman kita agar semakin dikoreksi dan bertumbuh agar kita dapat dipakai Tuhan dengan semakin heran dan pelayanan kita boleh menyenangkan hati Tuhan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080511.htm

Kej. 22:1-9: ISHAK DAN KRISTUS (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, June 15th, 2008

Ringkasan Khotbah : 20 April 2008

Ishak & Kristus

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Kej. 22:1-9

Perenungan kita hari ini masih tentang Kristologi yang diambil dari kitab Kejadian. Sepintas kalau kita membaca kitab Kejadian, kita tidak melihat ada kaitan antara Abraham dengan Kristologi. Abraham disebut sebagai bapa orang beriman sehingga beberapa penafsiran memberikan penekanan pada iman Abraham. Allah memanggil Abraham untuk keluar dari tanah Ur ke tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan namun Abraham tidak diberitahu dimanakah tempatnya. Adalah penafsiran yang salah yang menyatakan kalau Abraham adalah orang yang tidak berpengharapan sehingga ketika Allah memanggil, dia berharap mendapatkan hal yang lebih baik. Salah! Abraham adalah orang sukses dan kaya tapi Abraham rela dan taat dipanggil Allah untuk meninggalkan segala kenyamanan dan hidup berjalan dalam pimpinan Allah. Abraham tidak protes atau bertanya-tanya pada Tuhan, itulah sebabnya Abraham disebut sebagai Bapa orang beriman. 

Calvin menyoroti pergumulan iman Abraham bukanlah hal yang sederhana. Abraham dipanggil keluar dari tengah masyarakat dan keluarga, ia pergi bersama-sama dengan istri, ayah dan keponakan namun di tengah perjalanan, ayahnya meninggal dunia, keponakannya berseteru dengannya dan pergi meninggalkan Abraham, kini tinggal dia yang bergumul dan berjalan sendiri bersama Tuhan. Disini jelaslah bahwa iman tidak bergantung pada siapapun, situasi atau kondisi. Pergumulan iman adalah pergumulan pribadi. Abraham bergumul bagaimana hidup berpaut dengan Tuhan dan dalam situasi yang paling pelik, yakni pada saat Tuhan menginginkan supaya Abraham mengorbankan Ishak, anak satu-satunya yang ia kasihi maka pada saat seperti itu, Abraham bersandar penuh pada Tuhan. Pada saat Abraham mendapatkan panggilan tersebut, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Sarah, istrinya mengetahui tentang hal ini? Alkitab tidak mencatat tentang hal ini namun kalau kita melihat kecepatan Abraham bereaksi maka kemungkinan besar, istrinya tidak tahu menahu akan hal ini. 

Dapatlah dibayangkan apa yang terjadi kalau Sarah mengetahui akan hal ini pastilah bukannya memperkuat iman Abraham tetapi sebaliknya, ia justru akan menjadi penghalang dan merusak iman Abraham. Terkadang, orang-orang yang berada di sekeliling kita tidak mendukung malah merusak iman kita di hadapan Tuhan. Mengorbankan anak yang dikasihi dan satu-satunya adalah pergumulan yang paling berat di sepanjang hidup Abraham berjalan bersama dengan Tuhan. Hampir 100 tahun Abraham menanti-nantikan seorang anak kini, ia harus mengorbankan anak yang dikasihi dan tunggal. Dua kali dituliskan tentang anaknya yang tunggal. Peristiwa ini merupakan gambaran dari pergumulan Allah Bapa di sorga ketika ia harus menyerahkan anak-Nya yang tunggal, yakni Kristus Yesus menjadi korban bakaran, korban sembelihan, korban penebusan dosa. 

Hari ini kita akan melihat 3 aspek yang sangat penting:

1. Allah Menebus

Allah dengan tegas meminta Abraham untuk mengorbankan anaknya sebagai korban bakaran, korban tebusan untuk orang berdosa. Dalam ketidakjelasannya, Abraham mungkin bertanya-tanya menebus dosa siapa? Bangsa Israelkah? Atau dosanyakah? Ishak yang dikorbankan ini menjadi figurasi Kristologi – Anak Tunggal akan disembelih untuk jadi domba paskah, domba penebus dosa. Alkitab mencatat, Abraham adalah seorang yang hidup benar, taat tapi meski demikian Abraham sadar kalau ia telah berbuat dosa, ia telah berbohong pada raja tentang Sarah yang dikatakan bukan sebagai isterinya. Abraham menyadari dosa manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan sekedar mengorbankan seekor anak domba tetapi yang menjadi inti dosa adalah harus diselesaikan dengan penebusan, harus ada korban tebusan. Ketika Adam berdosa harus ada darah anak domba yang dicurahkan sebagai korban penebus dosa. Hal tentang anak domba yang harus dikorbankan sebagai penebus dosa ini terus berlangsung dalam jaman Perjanjian Lama dan orang sudah merasa dosanya telah terselesaikan dengan mengorbankan anak domba. 

Abraham menyadari korban tebusan bukan hanya seekor domba; domba tidak mampu menyelesaikan dosa manusia. Darah anak domba yang tercurah seharusnya menyadarkan kita kalau dosa harus dibayar mahal, tapi anak domba tidak dapat menyelesaikan penebusan; dibutuhkan anak domba sejati. Penyerahan Ishak menjadi figurasi Kristus yang adalah anak domba sejati. Secara logika, manusia tidak akan pernah mengerti mengapa harus mengorbankan seorang Anak Manusia, bukankah hal ini melawan konsep theologi? Bukankah Allah sangat benci ada korban manusia untuk persembahan pada dewa Baal? Titik permasalahannya bukan pada menyembelih anak tetapi yang menjadi persoalan adalah Allah tidak suka dengan motivasi dibalik persembahan itu, yakni untuk menyuap dewa atau oknum supranatural. Persembahan korban bukan barter bisnis tapi disini Allah mau menekankan satu hal penting, yaitu dosa membutuhkan penebusan. 

Sejak jaman Perjanjian Lama, konsep propisiasi ini sudah ditekankan. Dosa bukanlah hal sederhana yang bisa dipermainkan sedemikian rupa dan dapat diselesaikan dengan sekedar menyembelih anak domba. Tidak! Dosa menuntut bayaran yang sangat mahal harganya dan harus dibayar lunas. Manusia tidak mungkin bisa membayarnya maka Allah yang penuh cinta kasih itu merelakan Anak-Nya yang tunggal menjadi korban tebusan bagi manusia berdosa sehingga manusia dapat diselamatkan namun Allah tidak meniadakan penghukuman itu. Dosa menuntut korban sebagai korban tebusan. Ide ini tidak keluar dari para rasul atau dari para imam tetapi ini adalah perintah Allah. 

Upah dosa adalah maut, kalimat itu belum muncul di Perjanjian Lama tetapi secara konseptual sudah muncul di jaman Abraham. Sebenarnya, orang Yahudi telah memahami konsep dosa harus diselesaikan dengan kematian Anak Tunggal Allah. Dunia modern berusaha meniadakan konsep penebusan dosa, tugas kita sebagai anak Tuhan sejati menyadarkan orang akan dosa dan kembali pada Allah sejati. Namun hendaklah kita tidak jatuh dalam euforia, kita menjadi terkagum-kagum dan berpuas diri ketika kita melihat ribuan orang bertobat. Ingatlah, semua itu bukan karena jasa kita tetapi karena Tuhan semata. Kita harus menangisi dan terbeban melihat jiwa-jiwa yang tersesat untuk membawa mereka kembali pada Tuhan dan diselamatkan. Manusia diselamatkan karena ada darah Anak Tunggal yang dikorbankan. Konsep ini seharusnya menyadarkan kita bahwa betapa dahsyat korban penebusan. 

2. Allah Menyediakan

Pastilah bukan hal yang mudah ketika Tuhan menuntut Abraham untuk mempersembahkan Ishak ke atas gunung dan di tengah perjalanan, Ishak bertanya pada bapanya dimanakah anak domba yang akan dipersembahkan? Abraham pastilah sangat berat menjawab pertanyaan Ishak tersebut namun jawaban yang diberikan Abraham sangatlah dahsyat yang menunjukkan iman Abraham, yakni: Allah akan menyediakan, Jehovah Jireh. Perhatikan, kata Jehovah Jireh adalah untuk penebusan Allah menyediakan keselamatan untuk mendamaikan kembali hubungan Allah dan manusia yang telah terputus. Celakanya, orang mengartikannya keliru, Allah menyediakan diartikan dengan Allah menyediakan hal-hal yang sifatnya duniawi seperti Allah menyediakan uang ketika orang sedang kekurangan atau menyediakan makanan, dan lain-lain. Tidak!   

Abraham meminta kedua bujangnya untuk menunggu sementara ia dan Ishak naik ke atas gunung untuk mempersembahkan korban. Abraham menaruh kayu bakar di atas bahu Ishak, hal ini menjadi gambaran Kristus memanggul kayu salib untuk dipakai bagi diri-Nya sendiri. Perjalanan Ishak ke atas gunung adalah gambaran Kristus yang naik ke atas bukit Golgota. Abraham tidak mungkin mengajak bujangnya bersama-sama dengan dia dan Ishak ke atas gunung sebab bujangnya tidak mungkin bisa mngerti. Abraham juga tidak tahu apa yang terjadi di depan namun satu hal Abraham tahu pasti bahwa Tuhan menyediakan. Abraham beriman dan percaya bahwa Ishak akan bangkit. Hanya didalam Tuhan sajalah, kita dapat menyelesaikan segala pergumulan yang paling sulit. 

Allah menyediakan adalah Allah yang merancangkan rencana keselamatan atas manusia. Selama perjalanan itu Abraham makin mengerti dan mengenal Allah sejati, jalan Tuhan adalah jalan terindah. Banyak hal yang tidak kita mengerti tapi satu hal yang pasti Tuhan tidak pernah meninggalkan kita ketika kita berada dalam pencobaan, saat itulah Tuhan akan menyediakan. Karya Penebusan bukan sekedar di awang-awang belaka tetapi realita. Tidak ada cara lain yang dapat menyelesaikan dosa, kecuali melalui Kristus Tuhan.

Alkitab mencatat Abraham telah siap dengan pisau di tangannya untuk menyembelih Ishak dan pada detik terakhir itu, MALAIKAT TUHAN menghentikan Abraham. Tuhan datang tepat pada waktu-Nya. Tuhan sampai dimana kekuatan kita menahan segala ketegangan. Hari ini kita hidup di tengah jaman yang penuh dengan tantangan, segala sesuatu serba sulit dalam segala aspek maka janganlah kaget kalau kita menjumpai begitu banyak orang yang gila karena tidak kuat menahan ketegangan hidup yang sangat berat. Sebuah logam punya titik kelenturan dimana logam akan patah kalau melebihi batas titik kelenturan.

Abraham mempunya iman yang luar biasa dan itu menjadi kekuatan dahsyat. Abraham tahu Tuhan akan menyediakan meskipun ia harus mengorbankan Ishak. Betapa indah ketika hidup beriman dan bersandar mutlak penuh pada Tuhan, kita tidak akan takut melangkah di tengah jaman yang penuh dengan tantangan karena kita tahu pasti, jalan Tuhan adalah jalan yang terindah. Pdt. Stephen Tong mengungkapkan janganlah kita menjadi rendah diri dengan satu talenta yang kita miliki. Tuhan sudah merasa senang kalau kita mengembalikan seluruh talenta yang kita miliki, kita memberikan seluruh hidup pada Tuhan. Sudahkah kita mengerjakan seluruh talenta yang diberikan pada kita dengan penuh tanggung jawab? Tuhan telah menebus kita dari dosa dan harganya telah dibayar lunas, sekarang tugas kita adalah mengerjakan talenta yang Tuhan telah beri dan dikembalikan untuk kemuliaan-Nya. 

3. Allah Mengasihi

Abraham menyerahkan anaknya menjadi korban tebusan menjadi gambaran dari Allah Bapa yang menyerahkan Anak Tunggal. Dapatlah dibayangkan, apa jadinya kalau Abraham menunda sebulan atau mungkin seminggu dari hari pertama Tuhan memerintahkan supaya ia mengorbankan Ishak, pastilah sangat berat bagi Abraham menghadapi hari-hari di depan. Abraham langsung menyelesaikan tugasnya, ia taat meskipun ia merasa berat karena akan kehilangan anak tunggalnya. Abraham tetaplah manusia biasa, Ishak adalah anak satu-satunya yang ia tunggu selama bertahun-tahun, pastilah pergumulan Abraham sangatlah berat karena begitu beratnya namun ia tetap taat maka Abraham disebut sebagai bapa orang beriman. Pertanyaannya adalah bagaimana kalau hal yang sama diimplikasikan ke kita? Maukah kita berkorban untuk Tuhan? 

Ketaatan dan iman saling terkait erat. Iman bukan sekedar berkata: ”aku percaya.” Tidak! Abraham pastilah bergumul berat meskipun ia tahu bahwa Tuhan pasti bisa bangkitkan Ishak namun ayah mana yang tidak merasa sedih dan berat hati kalau ia harus membunuh anak kandung dengan tangannya sendiri? Allah Bapa juga merasakan hal yang sama seperti Abraham ketika Ia harus menyerahkan Anak-Nya untuk disembelih demi manusia berdosa yang harusnya dihukum. Betapa pedih hati Allah Bapa di sorga ketika Ia mendengar Kristus berteriak,”Eli, Eli, lama sabakhtani.” Itulah adalah detik-detik yang sangat krusial dan menyakitkan. Tuhan membawa Abraham sampai pada pengalaman itu namun Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatan Abraham menahan semua beban berat itu. Tuhan langsung menghentikannya ketika pisau ditangan sudah siap menghunus Ishak. Kemungkinan Abraham menjadi trauma dan gila menyaksikan anak tunggal yang dikasihinya dibunuh oleh tangannya sendiri, karena itu Tuhan menghentikan semua itu. Kematian Ishak tetap tidak dapat menyelesaikan dosa. 

Peristiwa pengorbanan Ishak ini adalah gambaran betapa dahsyatnya Allah semesta turun ke dunia menuju ke via dolorosa, jalan salib dan menjadi domba paskah demi manusia diselamatkan. Pengorbanan Tuhan yang sedemikian besar itu harusnya menjadikan kita semakin mengasihi Tuhan. Siapakah kita sehingga Dia rela Anak-Nya yang tunggal supaya kita diselamatkan, diperdamaikan kembali dengan Allah dan masuk ke dalam sorga mulia bersama dia. Kematian dan kebangkitan Kristus bukanlah peristiwa sederhana. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia rela menyerahkan anak-Nya yang Tunggal itu mati untuk kita. 

Biarlah hal ini menyadarkan kita untuk hidup lebih mengasihi Dia, hidup kita menyenangkan Dia selalu dan mau taat pada-Nya karena Dia lebih dahulu mengasihi kita. Maukah kita dipakai menjadi alat di tangan-Nya? Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080420.htm

KEBANGKITAN DAN HIDUP (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, June 8th, 2008

Ringkasan Khotbah : 13 April 2008

Kebangkitan dan Hidup

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Kis. 4:1-2

Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas Kebangkitan Kristus. Inilah yang membedakan Kekristenan dengan agama lain yang ada di dunia. Semua agama yang lain berdiri di atas ajaran-ajaran moral yang tak lebih hanyalah berupa aturan-aturan hukum agama, yakni aturan bagaimana hidup baik dan benar supaya bisa masuk sorga. Itulah kegagalan total dari agama sekuler, agama tidak lebih hanyalah religiusitas semu belaka. Kalau Kristus tidak dibangkitkan dari kematian maka sia-sialah seluruh kepercayaan kita dan Kekristenan tidak ada  sampai detik ini. Esensi iman Kristen adalah kebangkitan Kristus.      Kristus yang bangkit inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian pada Yohanes dan Petrus untuk bersaksi di hadapan Mahkamah Agama tentang Yesus Kristus yang disalibkan itu ada batu penjuru dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.

Hal ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa dari para imam, kepala pengawal Bait Allah, dan orang Saduki. Di tengah-tengah bangsa Israel terdapat dua golongan, yakni:

1)orang Farisi yang mendukung Kebangkitan, 2) orang Saduki yang tidak percaya  adanya kebangkitan setelah kematian; agama tidak lebih hanya sebatas etika dan perbuatan saja. Pada saat itu, orang-orang Sadukilah dari keturunan Imam Sadokh yang duduk sebagai penguasa. Orang Saduki ini lebih cenderung ke Herodian dan orang Romawi; mereka sama-sama sekuler sedangkan orang Farisi lebih cenderung jadi oposisi pemerintah. Itulah sebabnya, secara politik mereka lebih suka orang Saduki yang duduk sebagai pemimpin agama dan orang Saduki ini sangat menentang kebangkitan. 

Musuh terbesar Kekristenan adalah orang-orang yang melawan kebangkitan dan hingga detik ini, orang tidak pernah berhenti melawan kebenaran tentang Yesus Kristus yang bangkit. Perhatikan dalam sistim kalender Indonesia, tidak ada hari Paskah; tentang Isa Almasih yang lahir, mati dan naik ada dalam sistim kalender Indonesia tapi tidak demikian halnya dengan Isa Almasih yang bangkit. Tidak cukup sampai disitu perlawanan yang dilakukan untuk menentang kebangkitan Kristus, muncul film yang dibuat oleh muslim Iran yang mengisahkan bahwa Yesus tidak bangkit sebab Yesus tidak pernah mati disalib tetapi Yudaslah yang disalibkan. Dunia berdosa tidak suka dengan berita kebangkitan Kristus karena terkait dengan kehidupan manusia berdosa. 

Upah dosa adalah maut. Manusia berdosa tidak suka akan fakta ini maka cara terbaik adalah menghilangkan dan menganulir fakta dosa dengan meletakkan Kekristenan di wilayah batas moral. Dosa tidak lagi menjadi inti berita agama sebab ketika orang berbicara tentang dosa berarti terkait erat dengan kematian dan hal itu sangatlah menakutkan. Hanya ada satu jalan keluar untuk keluar dari kematian, yaitu maut harus dikalahkan dengan kebangkitan dan Kristuslah yang menang atas kuasa maut. Perbuatan baik tidak dapat melepaskan kita dari perbuatan dosa. Sebagai contoh, tidak mungkin perbuatan membunuh dapat diselesaikan dengan perbuatan baik, bukan? Tindakan  kejahatan selalu menuntut keadilan, kita tidak bisa lari dari dosa. Dosa selalu menuntut kematian. Semakin kita berbuat baik untuk motivasi mendapatkan sorga, semakin kita berdosa. 

Matthew Henry menyatakan Kekristenan sampai kapanpun akan menghadapi musuh yang selalu berusaha melawan fakta tentang kebangkitan Kristus yang menjadi inti dari iman Kristen; musuh itu bukan datang dari luar Kekristenan tapi dari dalam Kekristenan itu sendiri. Dunia bisa menerima bahkan sangat setuju dengan ajaran moral dan etika yang Tuhan Yesus ajarkan tetapi tidak demikian halnya dengan kebangkitan Kristus, orang langsung marah dan menolak. Hal ini bukan hanya terjadi pada jaman ini saja tetapi hal yang sama terjadi pada jaman Petrus bahkan ia harus berhadapan dengan Mahkamah Agama. Pertanyaan sekaligus evaluasi bagi kita apakah arti kebangkitan Kristus bagi diri kita secara pribadi? Sudahkah kita mewartakan kebangkitan Kristus di tengah dunia berdosa? Ataukah justru kita ikut mereduksi berita kebenaran tentang kebangkitan-Nya? Luther menegaskan bahwa hanya iman dalam Kristuslah, manusia dapat diselamatkan, hal ini digambarkan oleh materai dengan mawar putih, hati merah dan salib Kristus hitam di tengah-tengah. Luther menentang keras kebijakan Roma Katolik hari itu yang mengajarkan keselamatan tergantung dari uang persembahan yang kita masukkan dalam kotak persembahan. Perlawanan keras yang dilakukan Luther membuat para pemimpin Roma Katolik menjadi marah dan ingin membunuh Luther. Disini kita melihat, dari jaman ke jaman Kekristenan selalu mendapat tantangan; orang akan menerima ajaran Kristen selama masih di batas etika namun ketika masuk pada inti Kekristenan maka orang akan mereduksinya. Kegagalan orang Saduki adalah mereduksi kitab Perjanjian Lama, hanya berhenti di Taurat.   

Yesus Kristus bangkit adalah satu-satunya pengharapan dan sungguh amatlah disayangkan, ketika kita mewartakan berita sukacita ini, orang malah menganggapnya sebagai ancaman dalam hidup mereka dan menolak Kristus. Banyaknya kesulitan dan tantangan tidak membuat Petrus dan Yohanes mundur tetapi Kebangkitan Kristus justru menjadi kekuatan bagi orang Kristen.

1. Kebangkitan Kristus menyelamatkan manusia dari kematian kekal

Petrus dan Yohanes tidak mau berkompromi dengan dunia. Berita Kristus yang mati dan bangkit menjadi inti berita Kekristenan. Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari Kristus. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) sejati harus memberitakan tentang Yesus Kristus yang menjadi inti Kekristenan namun sangatlah mengenaskan orang mulai mereduksi inti berita Kristen dan justru mengganti dengan berita-berita lain. Petrus dan Yohanes tetap memberitakan tentang Kristus yang disalib dan bangkit sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita dapat diselamatkan. Mereka tidak peduli dengan segala resiko yang dihadapi. Orang-orang Sanhedrin sangat heran melihat keberanian mereka sebab mereka hanyalah nelayan Galilea yang tidak terpelajar.

Hanya di dalam Yesus Kristus sajalah kita dapat diselamatkan, seluruh perbuatan baik tidak dapat menyelamatkan manusia berdosa. Semakin kita berbuat baik karena motivasi sorga akan membawa kita ke dalam neraka. Ketika saya (pengkhotbah) di Jerman berjumpa dan berdiskusi dengan seorang atheis, dia melawan Kekristenan namun ironisnya ia selalu hadir dalam setiap seminar yang diadakan oleh gereja. Satu hal yang dia tidak bisa terima adalah manusia harus taat kepada yang otoritas lain di atasnya karena baginya, manusialah yang pemegang otoritas mutlak. Adalah pendapat yang salah kalau subjektifitas dapat menentukan keabsahan. Ketika subjektifitas ditegakkan berarti menghilangkan semua kebenaran, tidak ada kebenaran atau nilai sejati karena setiap individu mempunyai kebenarannya masing-masing.

Berapa banyak orang yang semacam ini yang tidak dapat menemukan jawaban dan masih terus berusaha mencari dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Sesungguhnya, di satu sisi orang berusaha menegakkan apa yang kita pikirkan sendiri tapi di sisi lain, orang sadar itu bukan jawaban maka timbul konflik dalam diri mereka. Sungguh amatlah disayangkan kalau sepanjang hidup kita hanya bergumul untuk sesuatu yang ambigu. Biarlah kita meneladani Petrus dan Yohanes yang tahu mengambil langkah dengan tepat, yakni memberitakan kebenaran sejati – berita kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.

2. Kebangkitan Kristus memberikan kekuatan dan keberanian

Petrus dan Yohanes yang hanyalah orang biasa, seorang yang dipandang rendah karena profesinya sebagai nelayan kini mereka harus berhadapan para pejabat seperti orang Sanhedrin dan yang sangat mencengangkan dan mengherankan, mereka dapat berbicara dan mempunyai keberanian berbicara di depan mahkamah agama. Mereka mempunyai kekuatan yang dahsyat dan kekuatan itu didapatkan semata-mata karena kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja. Sama sepertinya halnya orang yang terlepas dari pergumulan berat maka ia akan mendapatkan kekuatan dahsyat demikian pula dengan Petrus dan Yohanes, ia mendapatkan kekuatan ketika kembali pada kebenaran sejati. Lepasnya kita dari kebenaran palsu dan masuk dalam kebenaran sejati menjadikan kita punya satu keyakinan untuk berdiri, tidak takut dengan segala tantangan yang menghadang di hadapan kita.

Berbeda halnya kalau orang berdiri di atas kebenaran subyektifitas, kebenaran diri sendiri yang sifatnya relatif dimana setiap orang merasa diri benar akibatnya kekacauan dan keributan yang didapat, tidak ada penyelesaian untuk jawaban yang dicari. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Roh Kudus mengingatkan kita kembali akan kebenaran sejati, itu saatnya bagi kita untuk bertobat. Kuasa kebangkitan Kristus memberikan keberanian dan kekuatan untuk menghadapi tantangan jaman. Hal itu pula yang menjadikan Petrus dan Yohanes berani bertindak di hadapan Mahkamah Agama bahkan Sanhedrin tidak bisa berbuat apa-apa sebab kebenaran yang diberitakan Petrus adalah kebenaran obyektif. Petrus tidak mengatakan “menurut saya” sebab ia tahu di bawah kolong langit hanya Dia yang bisa menyelamatkan manusia. Para pemuka agama, orang-orang Saduki tidak dapat berkata apa-apa, karena kebenaran dari subjektifitas masuk ke kebenaran objektifitas. Pertanyaanya adalah apakah kita mau taat atau tidak. Hari ini kita hidup di jaman yang dibangun di atas relativitas yang mencoba mangombang-ambingkan hidup kita karena itu hendaklah kita kembali pada kuasa kebangkitan Kristus yang memberikan kita kekuatan untuk melangkah dan kepastian di tengah jaman ini.

3. Kebangkitan Kristus menghidupkan dari kematian kekal

Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati (Kis. 4:2). Kalimat “kebangkitan dari antara orang mati” bukan hanya menunjuk pada Tuhan Yesus yang bangkit, tetapi menunjuk pada kita yang bangkit. Hal ini menerobos sesuatu relasi yang di potong oleh liberal masa kini dan saduki waktu lalu. Berdoa adalah terobosan dari dunia yang sementara masuk ke dalam dunia kekekalan, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh manusia. Sejak manusia jatuh dalam dosa, bibit agama itu sudah ada pada manusia, manusia terus berusaha mengkaitkan diri yang sementara dengan kekekalan namun tidak berhasil. Satu-satunya cara yang bisa menghubungkan manusia dengan Allah, kesementaraan dan kekekalan hanya melalui Yesus Kristus dan hanya anugerah semata kalau kita dapat percaya Yesus Kristus. Pada abad pertengahan, manusia membuang semua spiritualitas, manusia meninggikan hal duniawi dan materi dan mereka pikir ini sebuah penyelesaian. Ternyata orang salah! Dan orang mulai mencari hal-hal yang sifatnya spiritual dan jatuh dalam gerakan new age  namun hal ini tidak menyelesaikan masalah sebab manusia hanya berputar – hidup dan mati, kematian menjadi pengunci semua aspek. Orang tidak dapat lepas dari kematian. Manusia butuh hidup, butuh dibangkitkan dari kematian dan hanya Kristus Yesus yang memungkinkan hal itu terjadi. Kebangkitan Kristus menjadikan Kristus berposisi balik menjadi mediator antara manusia dengan Allah.

Kebangkitan Kristus menjadikan kita mempunyai semangat untuk hidup di tengah jaman yang sulit ini. Dunia semakin ke belakang semakin bertambah sulit, dan sesungguhnya, manusia sudah sangat lelah menghadapi situasi jaman yang semakin sulit tak terkecuali di negara maju seperti Eropa. Manusia lebih banyak tergantung drive dari luar bukan dari dalam diri. Manusia seperti layakanya benda mati yang hanya mengikut arus, seperti yang diungkapkan oleh Pdt. Stephen Tong, yakni hanya ikan mati yang ikut arus, yang hidup akan melawan arus. Namun Petrus dan Yohanes punya terobosan yang membuat banyak orang terkejut,  semua itu karena kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan. Kuasa yang sama diberikan oleh Roh Kudus pada setiap anak Tuhan sejati. Hendaklah kita tidak hanyut dengan dunia tetapi kita harus melawan arus dunia karena kita telah dihidupkan oleh kuasa kebangkitan Kristus. Sangatlah mengenaskan, hari ini Kekristenan sudah beku, orang sudah menjadi legalis, aturan-aturan hukum sudah mengunci hidup manusia demikian juga halnya dengan keagamaan, semua hanyalah religiusitas semu belaka. Adalah kegagalan fatal, orang hanya menangkap apa yang menjadi kalimat-kalimat hukum padahal hukum itu dibuat untuk membuat hidup manusia lebih baik jadi jiwa hukum itulah yang harusnya ditangkap.

Andai Petrus terikat pada aturan agama Yahudi yang ditata sedemikian rupa maka ia tidak akan memberitakan Kristus. Petrus disidang karena ia membicarakan esensi hidup dan ia berani mengambil semua resikoa yang ada. Sayang, hari ini orang sangat takut melawan arus karena takut dengan resiko yang harus dihadapi akibatnya orang lebih memilih ikut arus dunia dan berkompromi dengan dosa. Sebagai anak Tuhan sejati kita harus berani berkorban, menghadapi segala resiko yang ada demi kebenaran sejati. Kita harus taat kepada Tuhan lebih dari manusia. Jangan demi keselamatan diri kita berusaha cari aman tetapi Tuhan benci kita. Apalah artinya hidup aman dan nyaman di dunia kalau kita akan menderita selamanya di kekekalan kelak. Kiranya kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan kita juga menghidupkan kita sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita diselamatkan. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080413.htm

Kis. 2:24: THE NATURE OF THE POWER OF RESURRECTION (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Monday, June 2nd, 2008

Ringkasan Khotbah : 16 Maret 2008

The Nature of the Power Resurrection

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Kis. 2:24

Khotbah pertama Petrus di hari Pentakosta adalah Yesus dari Nazaret yang disalibkan itu sesungguhnya adalah Anak Allah dan Dia telah bangkit. Kebangkitan Kristus menjadi esensi iman Kristen dan hari itu menjadi permulaan gereja dan menjadi inti dari berita Paskah. Kalau Yesus Kristus lahir dan mati tetapi Ia tidak bangkit maka sia-sialah seluruh kepercayaan iman kita. Kalau Kristus tidak bangkit maka tidak ada khotbah Petrus, tidak ada 3000 orang bertobat dan dibaptis, tidak ada Kekristenan sampai hari ini. Perhatikan, iman Kristen tidak didasarkan pada mujizat-mujizat atau kenikmatan duniawi yang bersifat kedagingan belaka. Tidak! Iman Kristen didasarkan atas kebangkitan Kristus, kebangkitan-Nya mengalahkan kuasa dosa sehingga melalui kematian dan kebangkitan-Nya, manusia berdosa diselamatkan. 

Semua pemimpin agama di dunia lahir dan mati tetapi tidak ada satu pun pemimpin agama yang bangkit. Hanya Yesus Kristus satu-satunya yang bangkit seperti yang dikatakan-Nya sendiri: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Sangatlah menyedihkan, hari ini Kekristenan sendiri mengabaikan Paskah dengan menghilangkan Paskah di kalender kita. Yesus lahir, Yesus wafat, Yesus naik ke sorga ada tertulis dalam kalender tetapi tentang kebangkitan Tuhan Yesus dihilangkan dari sistim kalender di Indonesia dan celakanya, konon orang Kristen sendiri yang menghapusnya karena mereka menganggap kebangkitan Kristus hanya mitos belaka. Pernyataan yang salah! Kebangkitan Yesus Kristus adalah realita; Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kis. 2:24).

Kuasa kebangkitan Kristus seharusnya memberikan kekuatan pada kita sebagai anak Tuhan sejati untuk memberitakan kebenaran di tengah dunia berdosa. Kita harus berani menerobos hal-hal yang menyeleweng dan menyatakan kebenaran. Banyak tantangan yang harus kita hadapi ketika kita memberitakan kebenaran tentang Kebangkitan Yesus. Namun itulah esensi iman Kristen yang menjadi perenungan kita pada hari ini. 

Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kis. 2:24). Ayat ini memberikan gambaran dahsyat tentang kebangkitan. Ada satu kata yang istimewa di ayat 24, yaitu kata “sengsara” dan di Alkitab Inggris memakai kata “agony”, artinya penderitaan yang mendalam namun kedua bahasa ini, baik bahasa Indonesia maupun Inggris tidak dapat mewakili arti kata tersebut. Menurut bahasa aslinya, memakai kata “odinas,” artinya “sakit melahirkan”. Kalau diterjemahkan menurut bahawa aslinya berbunyi: ”Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari “sakit melahirkan yang bersifat maut”, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.”

Simon Kistemaker, seorang ahli dalam Perjanjian Baru melihat kata “odinas” ini sangat unik dan signifikan. Istilah “odinas” atau “birth pain” atau “sakit melahirkan” disini berarti Allah melepaskan Kristus dari ikatan sakit melahirkan maut. Beberapa penafsir berpendapat kata “odinas” merupakan bahasa Aram, bahasa daerah, yakni daerah darimana Petrus berasal yang terselip dalam bahasa Yunani. Seperti saat ini, bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional namun dalam pemakaian bahasa Indonesia terkadang terselip bahasa daerah asal kita seperti bahasa Jawa. Demikian pula halnya dengan Petrus karena Petrus bukan berasal dari kalangan elite Yunani atau Athena, Petrus hanyalah nelayan dari Galilea yang sangat fasih berbahasa aram. 

Simon Kistemaker dan beberapa pakar Injil yang lain tidak setuju dengan penafsiran ini sebab sepertinya ada kesalahan dalam Alkitab dan untuk menghindari kemungkinan kesalahan itu, orang sengaja mencocokkannya. Sama halnya dengan Simon Kistemaker, kita tidak setuju dengan pendapat ini. Petrus punya tujuan memakai istilah ”sakit melahirkan.” Kata ini menjadi inti atau pusat dari kebangkitan Kristus. Esensi dari Kis. 2:24 adalah Allah bertindak membangkitkan Dia dan melepaskan Dia dari the birth pain of death, sakit melahirkan kematian artinya Dia tidak bisa diikat oleh kematian. Kata “Birth pain”  pertama kali muncul di kitab Kejadian 3:16, yakni ketika manusia jatuh di dalam dosa, Allah langsung membereskan masalah dosa, yaitu Allah menyatakan antara kamu dan dia akan terjadi permusuhan laten, keturunannya akan terus menyerang, tetapi tidak bisa menghancurkan, ia hanya bisa menggigit tumit tetapi sebaliknya, engkau akan menghancurkan kepalanya. Inilah berita Injil pertama kali membicarakan tentang kematian Kristus Yesus di atas kayu salib, iblis mematok tumitnya tetapi Kristus menghancurkan ia melalui kebangkitan-Nya. 

Ketika manusia jatuh, pertama kali Allah mengatakan kepada Hawa: ”… dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu…” (Kej. 3:16). Hukuman kedua ditujukan pada Adam: “… dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu… dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu…” (Kej. 3:17-19). Itulah sebabnya ketika orang Israel mendengar Petrus mengatakan kata birth pain mereka langsung mengkaitkan dengan kejatuhan manusia dalam dosa. Mengapa Kristus dibangkitkan? Jawabannya adalah karena manusia telah berdosa. Seandainya manusia tidak berdosa maka Kristus tidak  mati dan tidak akan ada kebangkitan. Setiap orang harusnya disadarkan ketika melihat atau bahkan mengalami sakit melahirkan dan para pria harus berpeluh, bersusah payah, bekerja semua itu karena dosa telah mencengkeram manusia.

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memilih kata “sengsara” mengambarkan esensi dosa. Namun sangatlah mengenaskan, hari ini dunia mencoba membuang realita dosa dan celakanya gereja tidak lagi menegur orang akan dosa supaya kembali pada Tuhan Allah. Tidak! Sebaliknya, kita melihat banyak ajaran justru semakin menjerumuskan manusia ke dalam dosa, orang tidak lagi disadarkan akan realita dosa, yakni realita sakit melahirkan dan bekerja untuk kemudian dibawa kembali pada Tuhan dan bertobat tetapi kita justru melihat banyak ajaran sesat seperti retire rich retire young dan ilmu kedokteran menawarkan jalan keluar untuk tidak sakit saat melahirkan. Dunia mencoba menggeser esensi dosa. Semakin manusia tidak mau menyadari dosa, hal itu akan menjadikan manusia hidup lebih sengsara. 

Adalah mustahil, orang hidup di dalam dosa, akan hidup nyaman dibandingkan dengan orang yang hidup dalam kebenaran. Satu-satunya jalan orang dapat hidup berbahagia adalah lepas dari belenggu dosa dan hanya kuasa kebangkitan Kristuslah yang dapat melepaskan kita dari kutuk dosa. Pdt. Stephen Tong dalam khotbah Paskahnya menegaskan kita harus terlebih dahulu disadarkan akan dosa barulah kita dapat memahami apa arti substitution sacrifice, redemptive sacrifice, propitiation sacrifice, reconciliation sacrifice. Tidak ada kesadaran akan dos maka semua pengorbanan yang dilakukan Kristus di atas salib dan kebangkitan-Nya tidak berarti. Iman kristen sejati dimulai dari kesadaran akan realita dosa. Kebangkitan Kristus adalah kelepasan yang Allah kerjakan untuk melepaskan kita dari kutuk dosa, sakit melahirkan, dimana impact terakhirnya adalah maut. Ini bukan sekedar sakit melahirkan biasa tetapi the birth pain of death, kematian yang membinasakan manusia dan hal ini tidak bisa dikerjakan oleh manusia biasa.

Perhatikan di Kis. 2:22, Petrus dengan tegas menyatakan bahwa Yesus dari Nazareth, dalam hal ini Petrus ingin membawa mereka melihat kemanusiaan Kristus secara tajam: “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.” Petrus menegaskan tanda dan mujizat yang dilakukan oleh Kristus adalah semata-mata karena Kedaulatan Allah dan Kristus taat. Semua tanda atau mujizat yang dilakukan Kristus bukan untuk kenikmatan manusia tetapi demi menyatakan siapakah Kristus, yakni Dia adalah Tuhan yang diutus oleh Allah.

Di titik-titik yang paling krusial di mana seharusnya Kristus mempunyai kapasitas untuk menolong diri-Nya tetapi Dia tidak melakukan mujizat. Ketika di padang gurun, dalam keadaan paling menderita, Ia tidak membuat mujizat. Bahkan Tuhan Yesus tidak banyak melakukan mujizat pada murid-murid yang paling dekat dengan Dia. Pada orang-orang lain (di luar 12 murid Tuhan Yesus) justru paling banyak mendapat dan mengalami mujizat. Ini menjadi prinsip pelayanan yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Perhatikan juga Kis. 2:23: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” Yang dimaksud disini adalah orang-orang Romawi, bangsa-bangsa yang melawan Allah, orang yang jahat, durhaka. Mereka tidak menghargai Allah, mereka adalah orang fasik maka kalau mereka dapat menangkap dan menyalibkan Tuhan Yesus, itu karena Allah yang menyerahkan Tuhan Yesus ke tangan bangsa-bangsa durhaka. Di Kis 2:24 dituliskan: “Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sakit melahirkan maut, ….” Banyak perdebatan yang muncul karena kalimat ini sepertinya, Tuhan Yesus tidak punya kuasa kebangkitan dan Allah yang harus menolong Dia. Perlu diperhatikan, ayat ini tidak membicarakan siapa bisa atau tidak bisa. Tidak! Tuhan Yesus adalah Allah maka Dia dapat bangkit. Penekanan ayat ini, yaitu kebangkitan berarti tindakan Ilahi menolong manusia dari ikatan dosa sebab mustahil orang berdosa melepaskan diri sendiri dari ikatan dosa.

Orang dapat lepas dari ikatan dosa itu semata-mata karena Allah yang melepaskan, inilah kekuatan untuk mengerti kebangkitan. Kebangkitan adalah tindakan utk melepaskan manusia dari dosa. Kristus menyerahkan diri-Nya untuk menggantikan kita. Inilah redemptive sacrifice. Kristus menanggung dosa kita, Dia harus bayar harga dosa, membayar tuntutan dosa, dan Dia harus di buang oleh Allah dari hadapan kebinasaan. Segera iblis, kuasa maut mengikat Dia mengharapkan bisa memegang Dia namun Kristus melepaskan diri, Dia bangkit dan menang atas kuasa maut. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian. Sungguh konyol, kalau ada orang hidup mengatakan: “aku bangkit.” Untuk bisa bangkit maka orang harus mati terlebih dahulu. Tuhan Yesus harus jadi manusia supaya Ia bisa mati dan bangkit. Sebab Allah tidak bisa mati, jadi Allah tidak mungkin mati. Inilah alasan kenapa ayat ini menekankan kemanusiaan Kristus. Inkarnasi menjadikan diri manusia taat, mati dan bangkit. Urutan ini tidak bisa dilepas. Adalah pemikiran yang salah dan bodoh kalau dengan melakukan perbuatan baik maka orang bisa masuk sorga. Coba kita pikirkan kembali, kalau kita berbuat baik demi motivasi mendapatkan sorga apakah perbuatan baik itu dapat dikatakan baik? Justru ia semakin berbuat baik ia makin berdosa. Di sisi hukum, adalah mustahil sebagai contoh, kita membunuh satu orang dan kemudian kita melakukan perbuatan baik kepada sepuluh orang dengan pemikiran perbuatan baik yang kita lakukan dapat menghilangkan satu kesalahan kita toh kita masih punya sembilan? Bisakah hal itu diberlakukan demikian? Tidak! Perbuatan baik tidak dapat meniadakan kejahatan yang kita lakukan. Tuntutan keadilan harus terus berjalan. 

Setiap dosa harus dibayar dan upah dosa adalah maut. Orang berdosa tidak dapat menggantikan hukuman orang berdosa maka satu-satunya cara Kristus, Dia harus bayar utang dosa kepada Allah maka iblis tidak punya hak untuk memiliki lagi, karena ia bukan pemilik; iblis hanya mengambil keuntungan. Ketika Allah memalingkan muka, iblis menangkapnya. Kuasa pelepasan Kristus menjadi satu-satunya jawaban kita lepas dari dosa. Sakit melahirkan bukan berakhir di sakit saja tetapi harus berakhir di proses melahirkan. Setalah melahirkan maka semua sakit itu hilang. Petrus memakai istilah tajam, yaitu sakit melahirkan, artinya orang kristen hidup bukan terus menerus hidup sengsara di dalam penderitaan. Tidak! Tetapi karena Kristus  Tuhan membebaskan kita dari cenkeraman setan. Inilah esensi kebangkitan. 

Ketiga sakit melahirkan itu bukan selama-lamanya tapi segala sesuatu ada waktunya. Kuasa kebangkitan jauh lebih besar dari kuasa negatif. Hati-hati dengan berbagai konsep dunia yang salah, diantaranya: 1) antara kekuatan positif dan negatif seimbang, 2) konsep dualisme, dua kekuatan saling berlawanan dan sama-sama kuat, 3) filsafat timur menyatakan tidak mungkin ada kebaikan kalau tidak ada kejahatan, 4) ajaran lain yang muncul 350 thn sebelum Kristus di jaman plato dan neo platonik bahkan 1200 tahun sebelum Tuhan Yesus, yakni di jaman mesopotamia, 5) ajaran lao tze, confucius, 6) di Jawa pun ada ajaran hanacaraka, datasawala, padajayanya, magabatanga, artinya di tengah dunia ada dua kekuatan yang saling bertentangan, keduanya sama kuat dan sama besar dan semua berakhir dengan kebinasaan total. 

Alkitab menegaskan kebaikan adalah the entity asli. Kebaikan pasti mengalahkan kejahatan sebab  kejahatan submissive, berada di bawah kuasa kebaikan. Untuk lebih jelasnya, terang dan gelap; terang adalah the entity asli, gelap akan hilang ketika terang itu muncul karena gelap itu bukan entity. Terang tidak bisa dikalahkan oleh kegelapan. Hati-hati dengan konsep Yin Yang yang mengajarkan bahwa ditengah-tengah kejahatan ada setitik kebaikan dan sebaliknya yang ditandai dengan simbol mereka. Alkitab melawan, kuasa kematian boleh merengut Kristus tetapi tidak mungkin Dia terus berada di dalam kuasa maut. Secarik kertas yang sobek di bagian tengah ketika diperlihatkan pada kita, bagian lubang itu akan menjadi perhatian kita. Orang cenderung menjawab: kertas itu ada lobangnya. Salah! Tapi ada bagian yang hilang. Lubang bukan sesuatu keberadaan. Inilah esensi dosa. Alkitab menegaskan kuasa kematian boleh menekan kita tapi sampai batas tertentu, dia harus keluar. Itulah sebabnya Petrus memakai kata “sakit melahirkan” karena tidak selamanya sakit, tiba waktunya, bayi itu harus keluar. 

Hingga tiba waktunya, kuasa kematian tidak mampu menahan Kristus; tidak ada satu kekuatan yang dapat mencengkeram Dia. Itulah sebabnya, Paulus dengan sinis dapat berkata: ”Hai maut, dimanakah kekuatanmu, dimanakah sengatmu?” Natur kebangkitan bukan kesejajaran dengan kejahatan; kuasa maut harus tunduk. Jadi, istilah sakit melahirkan sangat tepat sekali, inilah jalan menuju lahir baru, kebangkitan, kemenangan, hidup dalam pimpinan Tuhan. Alangkah indah hidup berada dalam Kristus Tuhan karena kita akan mengalami kuasa kemenangan yang sudah menjadi natur. Janganlah terjebak dengan bujukan iblis yang menawarkan kenikmatan sesaat, setan akan mencengkeram kita. Hanya kembali pada Tuhan Yesus yang adalah “Kebangkitan dan Hidup” maka kita akan dilepaskan dari belenggu dosa dan kita akan berkemenangan di dalam Dia. Maukah kita kembali pada Dia Sang Kebangkitan dan Hidup?  Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080316.htm