Kej. 22:1-9: ISHAK DAN KRISTUS (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah : 20 April 2008

Ishak & Kristus

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Kej. 22:1-9

Perenungan kita hari ini masih tentang Kristologi yang diambil dari kitab Kejadian. Sepintas kalau kita membaca kitab Kejadian, kita tidak melihat ada kaitan antara Abraham dengan Kristologi. Abraham disebut sebagai bapa orang beriman sehingga beberapa penafsiran memberikan penekanan pada iman Abraham. Allah memanggil Abraham untuk keluar dari tanah Ur ke tempat yang akan ditunjukkan oleh Tuhan namun Abraham tidak diberitahu dimanakah tempatnya. Adalah penafsiran yang salah yang menyatakan kalau Abraham adalah orang yang tidak berpengharapan sehingga ketika Allah memanggil, dia berharap mendapatkan hal yang lebih baik. Salah! Abraham adalah orang sukses dan kaya tapi Abraham rela dan taat dipanggil Allah untuk meninggalkan segala kenyamanan dan hidup berjalan dalam pimpinan Allah. Abraham tidak protes atau bertanya-tanya pada Tuhan, itulah sebabnya Abraham disebut sebagai Bapa orang beriman. 

Calvin menyoroti pergumulan iman Abraham bukanlah hal yang sederhana. Abraham dipanggil keluar dari tengah masyarakat dan keluarga, ia pergi bersama-sama dengan istri, ayah dan keponakan namun di tengah perjalanan, ayahnya meninggal dunia, keponakannya berseteru dengannya dan pergi meninggalkan Abraham, kini tinggal dia yang bergumul dan berjalan sendiri bersama Tuhan. Disini jelaslah bahwa iman tidak bergantung pada siapapun, situasi atau kondisi. Pergumulan iman adalah pergumulan pribadi. Abraham bergumul bagaimana hidup berpaut dengan Tuhan dan dalam situasi yang paling pelik, yakni pada saat Tuhan menginginkan supaya Abraham mengorbankan Ishak, anak satu-satunya yang ia kasihi maka pada saat seperti itu, Abraham bersandar penuh pada Tuhan. Pada saat Abraham mendapatkan panggilan tersebut, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Sarah, istrinya mengetahui tentang hal ini? Alkitab tidak mencatat tentang hal ini namun kalau kita melihat kecepatan Abraham bereaksi maka kemungkinan besar, istrinya tidak tahu menahu akan hal ini. 

Dapatlah dibayangkan apa yang terjadi kalau Sarah mengetahui akan hal ini pastilah bukannya memperkuat iman Abraham tetapi sebaliknya, ia justru akan menjadi penghalang dan merusak iman Abraham. Terkadang, orang-orang yang berada di sekeliling kita tidak mendukung malah merusak iman kita di hadapan Tuhan. Mengorbankan anak yang dikasihi dan satu-satunya adalah pergumulan yang paling berat di sepanjang hidup Abraham berjalan bersama dengan Tuhan. Hampir 100 tahun Abraham menanti-nantikan seorang anak kini, ia harus mengorbankan anak yang dikasihi dan tunggal. Dua kali dituliskan tentang anaknya yang tunggal. Peristiwa ini merupakan gambaran dari pergumulan Allah Bapa di sorga ketika ia harus menyerahkan anak-Nya yang tunggal, yakni Kristus Yesus menjadi korban bakaran, korban sembelihan, korban penebusan dosa. 

Hari ini kita akan melihat 3 aspek yang sangat penting:

1. Allah Menebus

Allah dengan tegas meminta Abraham untuk mengorbankan anaknya sebagai korban bakaran, korban tebusan untuk orang berdosa. Dalam ketidakjelasannya, Abraham mungkin bertanya-tanya menebus dosa siapa? Bangsa Israelkah? Atau dosanyakah? Ishak yang dikorbankan ini menjadi figurasi Kristologi – Anak Tunggal akan disembelih untuk jadi domba paskah, domba penebus dosa. Alkitab mencatat, Abraham adalah seorang yang hidup benar, taat tapi meski demikian Abraham sadar kalau ia telah berbuat dosa, ia telah berbohong pada raja tentang Sarah yang dikatakan bukan sebagai isterinya. Abraham menyadari dosa manusia tidak dapat diselesaikan hanya dengan sekedar mengorbankan seekor anak domba tetapi yang menjadi inti dosa adalah harus diselesaikan dengan penebusan, harus ada korban tebusan. Ketika Adam berdosa harus ada darah anak domba yang dicurahkan sebagai korban penebus dosa. Hal tentang anak domba yang harus dikorbankan sebagai penebus dosa ini terus berlangsung dalam jaman Perjanjian Lama dan orang sudah merasa dosanya telah terselesaikan dengan mengorbankan anak domba. 

Abraham menyadari korban tebusan bukan hanya seekor domba; domba tidak mampu menyelesaikan dosa manusia. Darah anak domba yang tercurah seharusnya menyadarkan kita kalau dosa harus dibayar mahal, tapi anak domba tidak dapat menyelesaikan penebusan; dibutuhkan anak domba sejati. Penyerahan Ishak menjadi figurasi Kristus yang adalah anak domba sejati. Secara logika, manusia tidak akan pernah mengerti mengapa harus mengorbankan seorang Anak Manusia, bukankah hal ini melawan konsep theologi? Bukankah Allah sangat benci ada korban manusia untuk persembahan pada dewa Baal? Titik permasalahannya bukan pada menyembelih anak tetapi yang menjadi persoalan adalah Allah tidak suka dengan motivasi dibalik persembahan itu, yakni untuk menyuap dewa atau oknum supranatural. Persembahan korban bukan barter bisnis tapi disini Allah mau menekankan satu hal penting, yaitu dosa membutuhkan penebusan. 

Sejak jaman Perjanjian Lama, konsep propisiasi ini sudah ditekankan. Dosa bukanlah hal sederhana yang bisa dipermainkan sedemikian rupa dan dapat diselesaikan dengan sekedar menyembelih anak domba. Tidak! Dosa menuntut bayaran yang sangat mahal harganya dan harus dibayar lunas. Manusia tidak mungkin bisa membayarnya maka Allah yang penuh cinta kasih itu merelakan Anak-Nya yang tunggal menjadi korban tebusan bagi manusia berdosa sehingga manusia dapat diselamatkan namun Allah tidak meniadakan penghukuman itu. Dosa menuntut korban sebagai korban tebusan. Ide ini tidak keluar dari para rasul atau dari para imam tetapi ini adalah perintah Allah. 

Upah dosa adalah maut, kalimat itu belum muncul di Perjanjian Lama tetapi secara konseptual sudah muncul di jaman Abraham. Sebenarnya, orang Yahudi telah memahami konsep dosa harus diselesaikan dengan kematian Anak Tunggal Allah. Dunia modern berusaha meniadakan konsep penebusan dosa, tugas kita sebagai anak Tuhan sejati menyadarkan orang akan dosa dan kembali pada Allah sejati. Namun hendaklah kita tidak jatuh dalam euforia, kita menjadi terkagum-kagum dan berpuas diri ketika kita melihat ribuan orang bertobat. Ingatlah, semua itu bukan karena jasa kita tetapi karena Tuhan semata. Kita harus menangisi dan terbeban melihat jiwa-jiwa yang tersesat untuk membawa mereka kembali pada Tuhan dan diselamatkan. Manusia diselamatkan karena ada darah Anak Tunggal yang dikorbankan. Konsep ini seharusnya menyadarkan kita bahwa betapa dahsyat korban penebusan. 

2. Allah Menyediakan

Pastilah bukan hal yang mudah ketika Tuhan menuntut Abraham untuk mempersembahkan Ishak ke atas gunung dan di tengah perjalanan, Ishak bertanya pada bapanya dimanakah anak domba yang akan dipersembahkan? Abraham pastilah sangat berat menjawab pertanyaan Ishak tersebut namun jawaban yang diberikan Abraham sangatlah dahsyat yang menunjukkan iman Abraham, yakni: Allah akan menyediakan, Jehovah Jireh. Perhatikan, kata Jehovah Jireh adalah untuk penebusan Allah menyediakan keselamatan untuk mendamaikan kembali hubungan Allah dan manusia yang telah terputus. Celakanya, orang mengartikannya keliru, Allah menyediakan diartikan dengan Allah menyediakan hal-hal yang sifatnya duniawi seperti Allah menyediakan uang ketika orang sedang kekurangan atau menyediakan makanan, dan lain-lain. Tidak!   

Abraham meminta kedua bujangnya untuk menunggu sementara ia dan Ishak naik ke atas gunung untuk mempersembahkan korban. Abraham menaruh kayu bakar di atas bahu Ishak, hal ini menjadi gambaran Kristus memanggul kayu salib untuk dipakai bagi diri-Nya sendiri. Perjalanan Ishak ke atas gunung adalah gambaran Kristus yang naik ke atas bukit Golgota. Abraham tidak mungkin mengajak bujangnya bersama-sama dengan dia dan Ishak ke atas gunung sebab bujangnya tidak mungkin bisa mngerti. Abraham juga tidak tahu apa yang terjadi di depan namun satu hal Abraham tahu pasti bahwa Tuhan menyediakan. Abraham beriman dan percaya bahwa Ishak akan bangkit. Hanya didalam Tuhan sajalah, kita dapat menyelesaikan segala pergumulan yang paling sulit. 

Allah menyediakan adalah Allah yang merancangkan rencana keselamatan atas manusia. Selama perjalanan itu Abraham makin mengerti dan mengenal Allah sejati, jalan Tuhan adalah jalan terindah. Banyak hal yang tidak kita mengerti tapi satu hal yang pasti Tuhan tidak pernah meninggalkan kita ketika kita berada dalam pencobaan, saat itulah Tuhan akan menyediakan. Karya Penebusan bukan sekedar di awang-awang belaka tetapi realita. Tidak ada cara lain yang dapat menyelesaikan dosa, kecuali melalui Kristus Tuhan.

Alkitab mencatat Abraham telah siap dengan pisau di tangannya untuk menyembelih Ishak dan pada detik terakhir itu, MALAIKAT TUHAN menghentikan Abraham. Tuhan datang tepat pada waktu-Nya. Tuhan sampai dimana kekuatan kita menahan segala ketegangan. Hari ini kita hidup di tengah jaman yang penuh dengan tantangan, segala sesuatu serba sulit dalam segala aspek maka janganlah kaget kalau kita menjumpai begitu banyak orang yang gila karena tidak kuat menahan ketegangan hidup yang sangat berat. Sebuah logam punya titik kelenturan dimana logam akan patah kalau melebihi batas titik kelenturan.

Abraham mempunya iman yang luar biasa dan itu menjadi kekuatan dahsyat. Abraham tahu Tuhan akan menyediakan meskipun ia harus mengorbankan Ishak. Betapa indah ketika hidup beriman dan bersandar mutlak penuh pada Tuhan, kita tidak akan takut melangkah di tengah jaman yang penuh dengan tantangan karena kita tahu pasti, jalan Tuhan adalah jalan yang terindah. Pdt. Stephen Tong mengungkapkan janganlah kita menjadi rendah diri dengan satu talenta yang kita miliki. Tuhan sudah merasa senang kalau kita mengembalikan seluruh talenta yang kita miliki, kita memberikan seluruh hidup pada Tuhan. Sudahkah kita mengerjakan seluruh talenta yang diberikan pada kita dengan penuh tanggung jawab? Tuhan telah menebus kita dari dosa dan harganya telah dibayar lunas, sekarang tugas kita adalah mengerjakan talenta yang Tuhan telah beri dan dikembalikan untuk kemuliaan-Nya. 

3. Allah Mengasihi

Abraham menyerahkan anaknya menjadi korban tebusan menjadi gambaran dari Allah Bapa yang menyerahkan Anak Tunggal. Dapatlah dibayangkan, apa jadinya kalau Abraham menunda sebulan atau mungkin seminggu dari hari pertama Tuhan memerintahkan supaya ia mengorbankan Ishak, pastilah sangat berat bagi Abraham menghadapi hari-hari di depan. Abraham langsung menyelesaikan tugasnya, ia taat meskipun ia merasa berat karena akan kehilangan anak tunggalnya. Abraham tetaplah manusia biasa, Ishak adalah anak satu-satunya yang ia tunggu selama bertahun-tahun, pastilah pergumulan Abraham sangatlah berat karena begitu beratnya namun ia tetap taat maka Abraham disebut sebagai bapa orang beriman. Pertanyaannya adalah bagaimana kalau hal yang sama diimplikasikan ke kita? Maukah kita berkorban untuk Tuhan? 

Ketaatan dan iman saling terkait erat. Iman bukan sekedar berkata: ”aku percaya.” Tidak! Abraham pastilah bergumul berat meskipun ia tahu bahwa Tuhan pasti bisa bangkitkan Ishak namun ayah mana yang tidak merasa sedih dan berat hati kalau ia harus membunuh anak kandung dengan tangannya sendiri? Allah Bapa juga merasakan hal yang sama seperti Abraham ketika Ia harus menyerahkan Anak-Nya untuk disembelih demi manusia berdosa yang harusnya dihukum. Betapa pedih hati Allah Bapa di sorga ketika Ia mendengar Kristus berteriak,”Eli, Eli, lama sabakhtani.” Itulah adalah detik-detik yang sangat krusial dan menyakitkan. Tuhan membawa Abraham sampai pada pengalaman itu namun Tuhan tahu sampai dimana batas kekuatan Abraham menahan semua beban berat itu. Tuhan langsung menghentikannya ketika pisau ditangan sudah siap menghunus Ishak. Kemungkinan Abraham menjadi trauma dan gila menyaksikan anak tunggal yang dikasihinya dibunuh oleh tangannya sendiri, karena itu Tuhan menghentikan semua itu. Kematian Ishak tetap tidak dapat menyelesaikan dosa. 

Peristiwa pengorbanan Ishak ini adalah gambaran betapa dahsyatnya Allah semesta turun ke dunia menuju ke via dolorosa, jalan salib dan menjadi domba paskah demi manusia diselamatkan. Pengorbanan Tuhan yang sedemikian besar itu harusnya menjadikan kita semakin mengasihi Tuhan. Siapakah kita sehingga Dia rela Anak-Nya yang tunggal supaya kita diselamatkan, diperdamaikan kembali dengan Allah dan masuk ke dalam sorga mulia bersama dia. Kematian dan kebangkitan Kristus bukanlah peristiwa sederhana. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia rela menyerahkan anak-Nya yang Tunggal itu mati untuk kita. 

Biarlah hal ini menyadarkan kita untuk hidup lebih mengasihi Dia, hidup kita menyenangkan Dia selalu dan mau taat pada-Nya karena Dia lebih dahulu mengasihi kita. Maukah kita dipakai menjadi alat di tangan-Nya? Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080420.htm

Leave a Reply