Kis. 2:24: THE NATURE OF THE POWER OF RESURRECTION (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)
|
Ringkasan Khotbah : 16 Maret 2008
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Kis. 2:24
|
Khotbah pertama Petrus di hari Pentakosta adalah Yesus dari Nazaret yang disalibkan itu sesungguhnya adalah Anak Allah dan Dia telah bangkit. Kebangkitan Kristus menjadi esensi iman Kristen dan hari itu menjadi permulaan gereja dan menjadi inti dari berita Paskah. Kalau Yesus Kristus lahir dan mati tetapi Ia tidak bangkit maka sia-sialah seluruh kepercayaan iman kita. Kalau Kristus tidak bangkit maka tidak ada khotbah Petrus, tidak ada 3000 orang bertobat dan dibaptis, tidak ada Kekristenan sampai hari ini. Perhatikan, iman Kristen tidak didasarkan pada mujizat-mujizat atau kenikmatan duniawi yang bersifat kedagingan belaka. Tidak! Iman Kristen didasarkan atas kebangkitan Kristus, kebangkitan-Nya mengalahkan kuasa dosa sehingga melalui kematian dan kebangkitan-Nya, manusia berdosa diselamatkan.
Semua pemimpin agama di dunia lahir dan mati tetapi tidak ada satu pun pemimpin agama yang bangkit. Hanya Yesus Kristus satu-satunya yang bangkit seperti yang dikatakan-Nya sendiri: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Sangatlah menyedihkan, hari ini Kekristenan sendiri mengabaikan Paskah dengan menghilangkan Paskah di kalender kita. Yesus lahir, Yesus wafat, Yesus naik ke sorga ada tertulis dalam kalender tetapi tentang kebangkitan Tuhan Yesus dihilangkan dari sistim kalender di Indonesia dan celakanya, konon orang Kristen sendiri yang menghapusnya karena mereka menganggap kebangkitan Kristus hanya mitos belaka. Pernyataan yang salah! Kebangkitan Yesus Kristus adalah realita; Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kis. 2:24).
Kuasa kebangkitan Kristus seharusnya memberikan kekuatan pada kita sebagai anak Tuhan sejati untuk memberitakan kebenaran di tengah dunia berdosa. Kita harus berani menerobos hal-hal yang menyeleweng dan menyatakan kebenaran. Banyak tantangan yang harus kita hadapi ketika kita memberitakan kebenaran tentang Kebangkitan Yesus. Namun itulah esensi iman Kristen yang menjadi perenungan kita pada hari ini.
Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu (Kis. 2:24). Ayat ini memberikan gambaran dahsyat tentang kebangkitan. Ada satu kata yang istimewa di ayat 24, yaitu kata “sengsara” dan di Alkitab Inggris memakai kata “agony”, artinya penderitaan yang mendalam namun kedua bahasa ini, baik bahasa Indonesia maupun Inggris tidak dapat mewakili arti kata tersebut. Menurut bahasa aslinya, memakai kata “odinas,” artinya “sakit melahirkan”. Kalau diterjemahkan menurut bahawa aslinya berbunyi: ”Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari “sakit melahirkan yang bersifat maut”, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.”
Simon Kistemaker, seorang ahli dalam Perjanjian Baru melihat kata “odinas” ini sangat unik dan signifikan. Istilah “odinas” atau “birth pain” atau “sakit melahirkan” disini berarti Allah melepaskan Kristus dari ikatan sakit melahirkan maut. Beberapa penafsir berpendapat kata “odinas” merupakan bahasa Aram, bahasa daerah, yakni daerah darimana Petrus berasal yang terselip dalam bahasa Yunani. Seperti saat ini, bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional namun dalam pemakaian bahasa Indonesia terkadang terselip bahasa daerah asal kita seperti bahasa Jawa. Demikian pula halnya dengan Petrus karena Petrus bukan berasal dari kalangan elite Yunani atau Athena, Petrus hanyalah nelayan dari Galilea yang sangat fasih berbahasa aram.
Simon Kistemaker dan beberapa pakar Injil yang lain tidak setuju dengan penafsiran ini sebab sepertinya ada kesalahan dalam Alkitab dan untuk menghindari kemungkinan kesalahan itu, orang sengaja mencocokkannya. Sama halnya dengan Simon Kistemaker, kita tidak setuju dengan pendapat ini. Petrus punya tujuan memakai istilah ”sakit melahirkan.” Kata ini menjadi inti atau pusat dari kebangkitan Kristus. Esensi dari Kis. 2:24 adalah Allah bertindak membangkitkan Dia dan melepaskan Dia dari the birth pain of death, sakit melahirkan kematian artinya Dia tidak bisa diikat oleh kematian. Kata “Birth pain” pertama kali muncul di kitab Kejadian 3:16, yakni ketika manusia jatuh di dalam dosa, Allah langsung membereskan masalah dosa, yaitu Allah menyatakan antara kamu dan dia akan terjadi permusuhan laten, keturunannya akan terus menyerang, tetapi tidak bisa menghancurkan, ia hanya bisa menggigit tumit tetapi sebaliknya, engkau akan menghancurkan kepalanya. Inilah berita Injil pertama kali membicarakan tentang kematian Kristus Yesus di atas kayu salib, iblis mematok tumitnya tetapi Kristus menghancurkan ia melalui kebangkitan-Nya.
Ketika manusia jatuh, pertama kali Allah mengatakan kepada Hawa: ”… dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu…” (Kej. 3:16). Hukuman kedua ditujukan pada Adam: “… dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu… dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu…” (Kej. 3:17-19). Itulah sebabnya ketika orang Israel mendengar Petrus mengatakan kata birth pain mereka langsung mengkaitkan dengan kejatuhan manusia dalam dosa. Mengapa Kristus dibangkitkan? Jawabannya adalah karena manusia telah berdosa. Seandainya manusia tidak berdosa maka Kristus tidak mati dan tidak akan ada kebangkitan. Setiap orang harusnya disadarkan ketika melihat atau bahkan mengalami sakit melahirkan dan para pria harus berpeluh, bersusah payah, bekerja semua itu karena dosa telah mencengkeram manusia.
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memilih kata “sengsara” mengambarkan esensi dosa. Namun sangatlah mengenaskan, hari ini dunia mencoba membuang realita dosa dan celakanya gereja tidak lagi menegur orang akan dosa supaya kembali pada Tuhan Allah. Tidak! Sebaliknya, kita melihat banyak ajaran justru semakin menjerumuskan manusia ke dalam dosa, orang tidak lagi disadarkan akan realita dosa, yakni realita sakit melahirkan dan bekerja untuk kemudian dibawa kembali pada Tuhan dan bertobat tetapi kita justru melihat banyak ajaran sesat seperti retire rich retire young dan ilmu kedokteran menawarkan jalan keluar untuk tidak sakit saat melahirkan. Dunia mencoba menggeser esensi dosa. Semakin manusia tidak mau menyadari dosa, hal itu akan menjadikan manusia hidup lebih sengsara.
Adalah mustahil, orang hidup di dalam dosa, akan hidup nyaman dibandingkan dengan orang yang hidup dalam kebenaran. Satu-satunya jalan orang dapat hidup berbahagia adalah lepas dari belenggu dosa dan hanya kuasa kebangkitan Kristuslah yang dapat melepaskan kita dari kutuk dosa. Pdt. Stephen Tong dalam khotbah Paskahnya menegaskan kita harus terlebih dahulu disadarkan akan dosa barulah kita dapat memahami apa arti substitution sacrifice, redemptive sacrifice, propitiation sacrifice, reconciliation sacrifice. Tidak ada kesadaran akan dos maka semua pengorbanan yang dilakukan Kristus di atas salib dan kebangkitan-Nya tidak berarti. Iman kristen sejati dimulai dari kesadaran akan realita dosa. Kebangkitan Kristus adalah kelepasan yang Allah kerjakan untuk melepaskan kita dari kutuk dosa, sakit melahirkan, dimana impact terakhirnya adalah maut. Ini bukan sekedar sakit melahirkan biasa tetapi the birth pain of death, kematian yang membinasakan manusia dan hal ini tidak bisa dikerjakan oleh manusia biasa.
Perhatikan di Kis. 2:22, Petrus dengan tegas menyatakan bahwa Yesus dari Nazareth, dalam hal ini Petrus ingin membawa mereka melihat kemanusiaan Kristus secara tajam: “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.” Petrus menegaskan tanda dan mujizat yang dilakukan oleh Kristus adalah semata-mata karena Kedaulatan Allah dan Kristus taat. Semua tanda atau mujizat yang dilakukan Kristus bukan untuk kenikmatan manusia tetapi demi menyatakan siapakah Kristus, yakni Dia adalah Tuhan yang diutus oleh Allah.
Di titik-titik yang paling krusial di mana seharusnya Kristus mempunyai kapasitas untuk menolong diri-Nya tetapi Dia tidak melakukan mujizat. Ketika di padang gurun, dalam keadaan paling menderita, Ia tidak membuat mujizat. Bahkan Tuhan Yesus tidak banyak melakukan mujizat pada murid-murid yang paling dekat dengan Dia. Pada orang-orang lain (di luar 12 murid Tuhan Yesus) justru paling banyak mendapat dan mengalami mujizat. Ini menjadi prinsip pelayanan yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Perhatikan juga Kis. 2:23: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” Yang dimaksud disini adalah orang-orang Romawi, bangsa-bangsa yang melawan Allah, orang yang jahat, durhaka. Mereka tidak menghargai Allah, mereka adalah orang fasik maka kalau mereka dapat menangkap dan menyalibkan Tuhan Yesus, itu karena Allah yang menyerahkan Tuhan Yesus ke tangan bangsa-bangsa durhaka. Di Kis 2:24 dituliskan: “Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sakit melahirkan maut, ….” Banyak perdebatan yang muncul karena kalimat ini sepertinya, Tuhan Yesus tidak punya kuasa kebangkitan dan Allah yang harus menolong Dia. Perlu diperhatikan, ayat ini tidak membicarakan siapa bisa atau tidak bisa. Tidak! Tuhan Yesus adalah Allah maka Dia dapat bangkit. Penekanan ayat ini, yaitu kebangkitan berarti tindakan Ilahi menolong manusia dari ikatan dosa sebab mustahil orang berdosa melepaskan diri sendiri dari ikatan dosa.
Orang dapat lepas dari ikatan dosa itu semata-mata karena Allah yang melepaskan, inilah kekuatan untuk mengerti kebangkitan. Kebangkitan adalah tindakan utk melepaskan manusia dari dosa. Kristus menyerahkan diri-Nya untuk menggantikan kita. Inilah redemptive sacrifice. Kristus menanggung dosa kita, Dia harus bayar harga dosa, membayar tuntutan dosa, dan Dia harus di buang oleh Allah dari hadapan kebinasaan. Segera iblis, kuasa maut mengikat Dia mengharapkan bisa memegang Dia namun Kristus melepaskan diri, Dia bangkit dan menang atas kuasa maut. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian. Sungguh konyol, kalau ada orang hidup mengatakan: “aku bangkit.” Untuk bisa bangkit maka orang harus mati terlebih dahulu. Tuhan Yesus harus jadi manusia supaya Ia bisa mati dan bangkit. Sebab Allah tidak bisa mati, jadi Allah tidak mungkin mati. Inilah alasan kenapa ayat ini menekankan kemanusiaan Kristus. Inkarnasi menjadikan diri manusia taat, mati dan bangkit. Urutan ini tidak bisa dilepas. Adalah pemikiran yang salah dan bodoh kalau dengan melakukan perbuatan baik maka orang bisa masuk sorga. Coba kita pikirkan kembali, kalau kita berbuat baik demi motivasi mendapatkan sorga apakah perbuatan baik itu dapat dikatakan baik? Justru ia semakin berbuat baik ia makin berdosa. Di sisi hukum, adalah mustahil sebagai contoh, kita membunuh satu orang dan kemudian kita melakukan perbuatan baik kepada sepuluh orang dengan pemikiran perbuatan baik yang kita lakukan dapat menghilangkan satu kesalahan kita toh kita masih punya sembilan? Bisakah hal itu diberlakukan demikian? Tidak! Perbuatan baik tidak dapat meniadakan kejahatan yang kita lakukan. Tuntutan keadilan harus terus berjalan.
Setiap dosa harus dibayar dan upah dosa adalah maut. Orang berdosa tidak dapat menggantikan hukuman orang berdosa maka satu-satunya cara Kristus, Dia harus bayar utang dosa kepada Allah maka iblis tidak punya hak untuk memiliki lagi, karena ia bukan pemilik; iblis hanya mengambil keuntungan. Ketika Allah memalingkan muka, iblis menangkapnya. Kuasa pelepasan Kristus menjadi satu-satunya jawaban kita lepas dari dosa. Sakit melahirkan bukan berakhir di sakit saja tetapi harus berakhir di proses melahirkan. Setalah melahirkan maka semua sakit itu hilang. Petrus memakai istilah tajam, yaitu sakit melahirkan, artinya orang kristen hidup bukan terus menerus hidup sengsara di dalam penderitaan. Tidak! Tetapi karena Kristus Tuhan membebaskan kita dari cenkeraman setan. Inilah esensi kebangkitan.
Ketiga sakit melahirkan itu bukan selama-lamanya tapi segala sesuatu ada waktunya. Kuasa kebangkitan jauh lebih besar dari kuasa negatif. Hati-hati dengan berbagai konsep dunia yang salah, diantaranya: 1) antara kekuatan positif dan negatif seimbang, 2) konsep dualisme, dua kekuatan saling berlawanan dan sama-sama kuat, 3) filsafat timur menyatakan tidak mungkin ada kebaikan kalau tidak ada kejahatan, 4) ajaran lain yang muncul 350 thn sebelum Kristus di jaman plato dan neo platonik bahkan 1200 tahun sebelum Tuhan Yesus, yakni di jaman mesopotamia, 5) ajaran lao tze, confucius, 6) di Jawa pun ada ajaran hanacaraka, datasawala, padajayanya, magabatanga, artinya di tengah dunia ada dua kekuatan yang saling bertentangan, keduanya sama kuat dan sama besar dan semua berakhir dengan kebinasaan total.
Alkitab menegaskan kebaikan adalah the entity asli. Kebaikan pasti mengalahkan kejahatan sebab kejahatan submissive, berada di bawah kuasa kebaikan. Untuk lebih jelasnya, terang dan gelap; terang adalah the entity asli, gelap akan hilang ketika terang itu muncul karena gelap itu bukan entity. Terang tidak bisa dikalahkan oleh kegelapan. Hati-hati dengan konsep Yin Yang yang mengajarkan bahwa ditengah-tengah kejahatan ada setitik kebaikan dan sebaliknya yang ditandai dengan simbol mereka. Alkitab melawan, kuasa kematian boleh merengut Kristus tetapi tidak mungkin Dia terus berada di dalam kuasa maut. Secarik kertas yang sobek di bagian tengah ketika diperlihatkan pada kita, bagian lubang itu akan menjadi perhatian kita. Orang cenderung menjawab: kertas itu ada lobangnya. Salah! Tapi ada bagian yang hilang. Lubang bukan sesuatu keberadaan. Inilah esensi dosa. Alkitab menegaskan kuasa kematian boleh menekan kita tapi sampai batas tertentu, dia harus keluar. Itulah sebabnya Petrus memakai kata “sakit melahirkan” karena tidak selamanya sakit, tiba waktunya, bayi itu harus keluar.
Hingga tiba waktunya, kuasa kematian tidak mampu menahan Kristus; tidak ada satu kekuatan yang dapat mencengkeram Dia. Itulah sebabnya, Paulus dengan sinis dapat berkata: ”Hai maut, dimanakah kekuatanmu, dimanakah sengatmu?” Natur kebangkitan bukan kesejajaran dengan kejahatan; kuasa maut harus tunduk. Jadi, istilah sakit melahirkan sangat tepat sekali, inilah jalan menuju lahir baru, kebangkitan, kemenangan, hidup dalam pimpinan Tuhan. Alangkah indah hidup berada dalam Kristus Tuhan karena kita akan mengalami kuasa kemenangan yang sudah menjadi natur. Janganlah terjebak dengan bujukan iblis yang menawarkan kenikmatan sesaat, setan akan mencengkeram kita. Hanya kembali pada Tuhan Yesus yang adalah “Kebangkitan dan Hidup” maka kita akan dilepaskan dari belenggu dosa dan kita akan berkemenangan di dalam Dia. Maukah kita kembali pada Dia Sang Kebangkitan dan Hidup? Amin
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080316.htm