Archive for July, 2008

Eksposisi Injil Matius 18: LIFE-COMMUNITY OF THE KINGDOM OF HEAVEN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Sunday, July 13th, 2008

Ringkasan Khotbah: 01 Juni 2008

Life-community of the Kingdom of Heaven

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius 18:1-5

Khotbah minggu ini membahas tentang Matius 18. Pada minggu-minggu yang lalu kita telah membahas tentang Matius 17 yang bertemakan IMAN. Iman yang sejati adalah reaksi yang benar kepada objek iman yang benar yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita memiliki reaksi yang benar tapi bukan kepada objek iman yang benar atau sebaliknya, maka itu tidak bisa disebut sebagai iman yang benar. Reaksi para murid tidak seperti yang Kristus inginkan, sehingga perlu masuk ke dalam pembahasan lebih lanjut dalam Matius 18.

Menurut John Nolland, tema pembahasan Matius 18 merupakan kelanjutan dari Matius 17 yaitu bagaimana kita hidup kembali kepada apa yang Tuhan inginkan sehingga kita bisa hidup dalam suatu komunitas iman. Sedangkan Leon Morris mengatakan bahwa tema yang tepat dari Matius 18 adalah bagaimana kita hidup dalam komunitas kehidupan Kerajaan Surga.

Orang yang hidup dekat dengan Kristus ternyata tidak sama dengan hidup berbagian di dalam Kristus. Para murid yang hidup dekat dengan Kristus, ketika tidak memiliki konsep hidup yang benar, mereka menjadi tidak berbagian di dalam Kristus. Kita harus mengejar hidup bukan sekedar dekat dengan Kristus tetapi bagaimana berbagian di dalam Kristus atau di dalam Kerajaan Surga. Hidup di dalam komunitas Kerajaan Surga ternyata tidaklah mudah, kita harus mengalami koreksi total seluruh pola pikir kita, seluruh cara kita, seluruh apa yang kita hidupi, semuanya terbalik total.

Matius 18:1-5 ini merupakan titik tolak bagaimana kita hidup berbagian di dalam Kerajaan Surga. Diceritakan dalam Matius 18:1 bahwa ketika Tuhan Yesus sampai di Kapernaum, Tuhan Yesus mendapat satu pertanyaan klasik yang terus dipertanyakan sejak 2000 tahun yang lalu hingga saat ini yaitu: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Pertanyaan ini ada di benak semua murid bahkan juga di dalam benak orang Kristen abad ini. Orang selalu ingin untuk menjadi yang terbesar. Murid-murid selalu berusaha dan bersaing untuk menjadi yang terbesar. Kita juga sering dipacu dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar. Ambisi ini akan memukul dan mencelakakan diri sendiri, karena kehidupan anak Tuhan ditetapkan bukan untuk menjadi yang terbesar.

3 hal yang perlu dipikirkan mengenai keinginan untuk menjadi yang terbesar yaitu :

1. Sesuaikah dengan kehendak Tuhan?

Waktu ingin menjadi yang terbesar, kita tidak pernah memikirkan apakah hal ini sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Menjadi yang terbesar bukanlah keinginan Allah Sang Pemilik Kerajaan Surga, jadi kalau kita berkeinginan menjadi yang terbesar berarti kita sudah berlawanan dengan Allah.

Pergumulan yang paling serius dalam kehidupan orang Kristen adalah pertentangan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Ketika kita mengutamakan ambisi kita, kita akan menjadi orang yang tidak pernah dapat taat kepada Tuhan, kita tidak peduli kepada kehendak Tuhan. Ambisi seperti ini memposisikan kita sebagai lawan Allah. Kalau Allah mau kita ke kanan, kita mau ke kiri; kalau Allah mau kita maju, kita malah mundur.

Manusia ingin menjadi yang terbesar karena manusia ingin menggantikan posisi Tuhan. Inilah yang dikatakan sebagai dosa. Di era new age ini, manusia menyatakan diri sebagai allah; Allah itu tidak ada, kalaupun ada Allah, Allah yang harus taat kepada manusia. Kalau manusia bersikap seperti ini, manusia tidak dapat berbagian dalam Kerajaan Surga. Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Surga (Matius 7:21).

Kalau kita bisa taat, sejalan dengan kehendak Tuhan, itulah ciri bahwa kita berbagian di dalam Kerajaan Surga. Berbagian di dalam Kerajaan Surga berarti kita percaya penuh kepada Kristus, kita menjadikan Kristus sebagai raja yang berotoritas penuh atas hidup kita. Banyak orang yang mengaku percaya kepada Kristus tapi sebenarnya tidak percaya karena orang tersebut tidak mempedulikan dan melakukan apa yang Kristus inginkan tetapi hanya menuruti keinginan diri. Percaya yang dituntut oleh Kristus adalah percaya yang disertai dengan ketaatan mutlak kepada Kristus, bersikap sebagai budak di hadapan Kristus.

2. Menjadi terbesar di tempat yang terbesar.

Manusia menginginkan bukan sekedar menjadi yang terbesar tapi juga berada dalam tempat yang terbesar, bukan sekedar di dunia tapi juga di Kerajaan Surga. Banyak orang Kristen yang konsepnya sangat duniawi, sangat humanis, yang menghantar kita masuk ke dalam era

dispensasional. Aliran dispensasi ini mengajarkan bahwa nanti waktu Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya ke dalam dunia ini, Dia akan duduk di singgasana di Yerusalem sebagai raja, umat Tuhan juga akan turut memerintah sebagai punggawa-punggawaNya atas orang-orang kafir; orang Kristen akan menjadi orang yang berkuasa, menjadi pemimpin atas dunia ini. Konsep eskatologi ini sangat diterima oleh mayoritas orang Kristen karena cocok dengan ambisi manusia untuk menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Tuhan Yesus justru mengajarkan bahwa untuk menjadi yang terbesar harus menjadi yang terkecil.

3. Gereja memotivasi untuk menjadi yang terbesar.

Gereja juga ingin menjadi yang terbesar. Ajaran yang memotivasi diri untuk menjadi yang terbesar diajarkan di gereja-gereja. Ajaran Tuhan diputarbalik menjadi ajaran yang berbau  psikologi, hedonisme modern, humanis. Gereja tidak lagi mengajarkan bagaimana kita harus merendahkan diri dan taat kepada Tuhan tetapi justru mengajarkan bagaimana kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Kita beriman, maka apa yang kita inginkan akan tercapai.

Celakalah kita kalau sudah bertahun-tahun ke gereja tapi nantinya dibuang ke neraka. Jalan yang lebar, arus yang besar justru menuju ke neraka, sedangkan jalan yang sempit, pintu yang sempit yang menuju ke Surga.

Apa yang dipandang sebagai sukses oleh dunia bukanlah sukses menurut kacamata kekristenan yang asli. Apa yang hebat menurut dunia adalah kehinaan menurut kekristenan yang asli. Sukses bukan ketika apa yang kita inginkan tercapai tetapi sukses adalah waktu kita menjalankan apa yang Tuhan inginkan, hidup yang menggenapkan rencana Allah, sampai nanti waktu kita berjumpa dengan Tuhan kita akan mendengar Dia berkata :”Masuklah hambaKu yang setia, mari ikut ke dalam perjamuanKu.” Semua sukses duniawi kalau tidak kembali kepada Tuhan hanya akan berakhir kepada kebinasaan.

Matius 18:2 menceritakan bahwa Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan pada Matius 18:1 tetapi Tuhan Yesus memanggil seorang anak kecil. Di sini Tuhan Yesus ingin mengajarkan sesuatu yang penting. Anak kecil di ayat di atas menggunakan kata “infant” yang berarti bayi, tapi dalam konteks ayat ini anak kecil pasti bukan bayi karena dapat dipanggil oleh Tuhan Yesus, jadi perkiraan umur anak kecil tersebut di bawah lima tahun. Anak kecil ini menjadi alat peraga atau contoh dari pengajaran yang hendak disampaikan oleh Tuhan Yesus. Para murid seharusnya sadar bahwa konsep untuk menjadi yang terbesar adalah salah dengan dipanggilnya seorang anak kecil ini.

Dalam Matius 18:3 Tuhan Yesus menyerukan kepada para murid untuk bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini untuk bisa berbagian dalam Kerajaan Surga. Arti kata bertobat di sini adalah bukan sekedar percaya kepada Tuhan Yesus (kata: metanoia) tetapi kata yang dipakai dalam ayat di atas adalah stravein yang berarti diputar balik 180 derajat. Bertobat yang dimaksud di sini adalah putar arah, seluruh format hidup kita harus diputar balik, kalau kita semula ingin menjadi yang terbesar harus berubah menjadi: ingin menjadi yang terkecil. Menjadi yang terkecil ini sepertinya meniadakan harga diri. Orang dunia sangat sulit untuk bisa meniadakan nilai diri ini, orang tidak bisa terima kalau dianggap tidak ada apa-apanya, orang mau menjadi yang terbesar. Justru kekristenan yang asli menuntut kita untuk menjadi tidak ada apa-apanya. Putar arah nilai hidup kita.

Kita seringkali terjepit dengan konsep nilai diri. Orang yang jujur sulit untuk menjadi kaya, orang yang tidak kaya (tidak memiliki mobil mewah) tidak dihargai oleh orang lain; sedangkan orang yang korupsi akan menjadi kaya (memiliki mobil mewah) dan dihormati oleh orang lain. Bagaimana seharusnya kita memberikan penilaian diri yang tepat, pada sesuatu yang ditempelkan pada dirikah atau pada esensi dari diri. Manusia berdosa dinilai oleh iblis. Putar arah nilai kita untuk dapat berbagian dalam Kerajaan Surga.

Tahun lalu ada satu seminar yang berjudul “The Up Side Down World” (dunia yang terbalik). Dunia, uang, diri menjadi di atas, Tuhan yang di bawah; Allah dipermainkan menjadi alat. Keadaan seperti ini sebenarnya bukan up side down world tetapi up side down self (diri yang terbalik). Allah tetap di atas karena esensinya memang di atas, Allah tidak bisa berada di bawah. Waktu diri kita terbalik, yang kita lihat di atas adalah setan, dunia, dan uang, yang kita lihat di bawah adalah Tuhan. Waktu itu, di kala kita merasa maju justru kita sebenarnya mundur dan menuju kematian. Jalan satu-satunya supaya kita bisa naik adalah kita harus putar balik. Hanya saja, waktu kita putar balik, kita akan ditertawakan oleh dunia yang orang-orangnya mayoritas terbalik karena sudut pandangnya dari mayoritas. Mari kita balik arah, tidak menuju kepada kebinasaan.

Orang yang mau berbagian dalam Kerajaan Surga adalah orang yang mau menjadi yang terkecil, yang sangat bergantung seperti seorang anak kecil. Seorang anak kecil merasa dirinya lemah, perlu bantuan orang tuanya atau orang lain, perlu percaya kepada orang lain. Kalau seorang anak kecil tidak dapat menemukan orang yang dapat dipercayai, yang dapat dijadikan pegangan, dia akan bertumbuh menjadi orang yang merasa tidak perlu orang lain dan akhirnya merasa tidak perlu Tuhan. Dia sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa konsultasi dengan orang tua, semuanya tergantung pada pikirannya sendiri, di dalam kekristenanpun dia akan berjalan menurut pikirannya sendiri dan tidak peduli kepada Tuhan.

Apakah ketika kita merasa lemah seperti seorang anak kecil berarti kita kehilangan nilai diri? Matius 18:4 mengajarkan bahwa barangsiapa yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Point yang terpenting di sini adalah merendahkan diri, menjadi tidak ada apa-apanya. Dunia mengejar kesombongan diri, merendahkan diri merupakan kelemahan bagi dunia. Dunia memotivasi orang untuk meninggikan diri, mengangkat diri, meninggikan nilai diri, sedangkan kekristenan mengajar orang untuk merendahkan diri, manusia tidak memiliki apa-apa yang patut dibanggakan, semua manusia sudah berdosa. 2 nilai ini begitu berlawanan.

Manusia sangat peduli dengan nilai diri, dengan kesombongan diri, tapi di sisi lain manusia juga benci dengan orang yang sombong. Orang yang sering mengatai orang lain sombong adalah orang yang paling sombong. Kenapa kita harus pusing kalau ada orang lain yang sombong, itu menunjukkan bahwa kita lebih sombong; kalau kita tidak ada apa-apanya, kita tidak akan pusing kalau orang lain sombong. Kita harus bisa merendahkan diri yaitu menempatkan diri di posisi yang sebenarnya yaitu sebagai manusia berdosa, yang rendah, yang bisa hidup hanya karena anugerah Tuhan.

Kalau orang dunia merendahkan diri, dia akan habis; tapi kalau anak Tuhan yang merendahkan diri, Tuhan akan semakin ditinggikan, Tuhan akan semakin pakai kita. Waktu kita merendahkan diri sekecil-kecilnya, kita akan bisa mentaati Tuhan sebesar-besarnya. Contoh dalam Alkitab : Saulus memiliki ambisi rohani yang luar biasa besar untuk menghabisi orang Kristen, ketika Tuhan mencelikkan dia, dia merasa ambisinya tidak berarti apa-apa, dia berganti nama menjadi Paulus. Saulus berarti si besar, Paulus berarti si kecil. Waktu menjadi Paulus, dia sangat dipakai Tuhan.

Waktu kita merendahkan diri, Tuhan akan pakai kita sehingga hidup kita bukan untuk aktualisasi diri tapi untuk aktualisasi rencana Allah. Waktu kita membiarkan Tuhan membentuk dan mengarahkan hidup kita, hidup kita baru menjadi besar dan memiliki nilai. Tapi jangan kita jatuh ke dalam kesalahan sebaliknya yaitu kita mengecilkan diri untuk menjadi besar, ini motivasi yang salah. Kita juga seringkali ingin meniru kehebatan seseorang seperti Paulus tapi kita lupa untuk meniru bagaimana Paulus mengecilkan diri. Orang yang besar di mata Tuhan adalah orang yang berhasil mengecilkan diri.

Kita dituntut bukan merendahkan diri hanya sebatas diri, hanya untuk kepentingan diri, hanya untuk membentuk diri tapi supaya kita juga dapat menolong orang lain. Orang berusaha menempatkan diri di posisi atas supaya bisa memakai orang lain, inilah kebrengsekan manusia.

Matius 18:5 mengatakan bahwa barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama Tuhan, ia menyambut Tuhan. Banyak orang tidak menghargai anak kecil, anak kecil dianggap sebagai aset semata. Para murid juga tidak menghargai anak kecil, anak kecil dianggap mengganggu dan bikin repot, Tuhan Yesus tidaklah demikian. Banyak orang juga seperti para murid, memandang orang lain hanya sebatas manfaat, apakah memberikan manfaat atau tidak bagi diri kita, karena orang hanya mau mendapatkan sesuatu tanpa mau berbagi sesuatu. Ketika akan melayani juga menanyakan apa manfaat yang diperoleh, pelayanan yang tampil di depan publik itu yang banyak disukai orang. Sebagai anak Tuhan kita seharusnya memandang orang lain dari esensi hidupnya bukan dari ekstensi hidupnya (semua yang nempel di permukaan). Mari kita meneladani Kristus yang mau datang dan mati untuk orang berdosa, Dia begitu menghargai kita.

Jadi untuk dapat berbagian dalam komunitas Kerajaan Surga kita harus bertobat, dalam arti putar arah nilai hidup kita, merendahkan atau mengecilkan diri, dan menjadi seperti anak kecil yang percaya penuh dan bergantung sepenuhnya hanya pada Tuhan Yesus. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080601.htm

Eksposisi Injil Matius 17: IMAN BUKAN KEBIASAAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Monday, July 7th, 2008

Ringkasan Khotbah : 25 Mei 2008

 
   
      

   

 

      

Iman
Bukan Kebiasaan

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius
17:24-27

 

   
 

 

Tema yang hendak
disampaikan dalam Matius 17 adalah tentang IMAN. Iman sejati adalah reaksi yang
tepat kepada Kristus sebagai objek iman yang sejati. Banyak penafsir beranggapan
bahwa  Matius 17:24-27 adalah berbicara mengenai bea Bait Allah. Kalau memang
demikian, berarti pembahasan ayat di atas lepas dari tema IMAN yang sedang
dibahas pada ayat-ayat sebelumnya.

Matius 17:1-13 membahas
tentang bagaimana kita seharusnya beriman yaitu dengan mendengarkan Kristus
kemudian taat kepada Dia. Iman sejati mempunyai 2 unsur yaitu reaksi yang tepat
dan objek iman yang benar dan tepat yaitu Kristus. Kalau hanya terpenuhi 1 unsur
saja maka dapat dikatakan bukan merupakan iman sejati.

Matius 17:14-21
membahas tentang iman bukan dilihat dari besar atau kecilnya iman. Iman
dikatakan besar atau kecil hanya dalam hal pertumbuhan iman, yaitu bagaimana
kita semakin mengerti iman kita, seharusnya kita semakin taat dan setia kepada
Kristus.  Masalah yang utama adalah punya iman atau tidak. Kalau punya iman,
walau sebiji sesawi pun akan sanggup memindahkan gunung. Kalau kita taat kepada
Kristus sebagai objek iman sejati maka kita akan berhasil, bukan karena kita
yang hebat tapi karena Kristus sendiri yang bekerja; tapi kalau kita menuruti
ambisi diri maka kita akan gagal dan hancur. Kalau Tuhan yang mau, maka jadilah.

Matius 17:22-23
membahas tentang implikasi iman dalam hidup kita. Problem iman yang besar adalah
bagaimana kita bereaksi kepada Kristus yang adalah Mesias dan Anak Allah yang
hidup. Dalam ayat di atas diceritakan bahwa murid-murid Tuhan Yesus masih belum
bisa percaya bahwa salib adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, salib
adalah satu-satunya jalan mengatasi problema dosa.

Matius 17:24-27 bukan
membahas tentang bea Bait Allah, tetapi membahas tentang di mana letak
permasalahannya dan bagaimana caranya supaya kita bisa beriman dengan tepat.

1.
Dengan iman yang tepat kita akan bisa menerobos batas (break through)

Dalam Matius 17:24-27
diceritakan bahwa Petrus didatangi pemungut bea Bait Allah. Tidak jelas sejak
kapan bea ini menjadi sesuatu yang rutin dan wajib dikerjakan. Semula bea ini
merupakan persembahan untuk pendamaian nyawa (Keluaran 38:25-26). Persembahan
ini sebenarnya hanya sekali saja dilakukan, tapi dalam perjalanannya menjadi
iuran wajib. Hal seperti ini seringkali terjadi di dalam gereja, misalnya
persembahan persepuluhan yang semula merupakan komitmen kita untuk
mempersembahkan kepada Tuhan 10% dari berkat yang telah kita terima dari Tuhan
kemudian dijadikan iuran wajib oleh gereja. Bagaimana seharusnya reaksi yang
tepat terhadap hal seperti ini? Bagaimana kita bisa menghidupi reaksi yang tepat
kepada Tuhan dalam menghadapi setiap persoalan dalam hidup ini? Kalau kita tidak
bisa bereaksi dengan tepat kepada Tuhan maka kita akan bereaksi tidak tepat pula
(ngawur) terhadap dunia ini.

Cerita dalam Matius
17:24-27 ini dimulai dengan Tuhan Yesus dan murid-muridNya kembali ke Kapernaum,
yaitu markas Tuhan Yesus. Kapernaum adalah kota kecil di dekat Galilea tapi
tidak nempel dengan danau. Dugaan beberapa penafsir, Tuhan Yesus menginap di
rumah Petrus di Kapernaum, tapi agak sulit diterima kalau Petrus sebagai nelayan
tinggal di Kapernaum yang tidak nempel dengan danau, tapi mungkin juga Petrus
sudah tidak lagi menjadi nelayan. Petrus menjadi juru bicara Tuhan Yesus. Tuhan
Yesus sudah 3 tahun di Kapernaum, jadi orang-orang di Kapernaum pasti tahu Tuhan
Yesus. Konyolnya, pemungut bea tidak bertanya langsung kepada Tuhan Yesus tapi
bertanya kepada Petrus.

Ketika Petrus ditanya
apakah Gurunya membayar bea, dia menjawab dengan spontan, “Memang membayar.”
Jawaban spontan ini keluar karena hal membayar bea dianggap sebagai hal biasa.
Di dunia ini banyak orang yang hanya bisa menjadi ekor yang hanya mengikuti
orang lain tanpa alasan yang tepat tetapi hanya karena alasan “biasa”. Orang
yang “sukses” adalah orang yang bisa menerobos batas. Pembentuk trend adalah
orang yang tidak “biasa”, nanti akan ada yang menjadi pengikutnya.

Menerobos batas ada 2
macam yaitu :

  1. eksentrik (keluar
    dari pusat, arus putar ke luar), membentuk orang nyentrik, orang yang tambah
    gila, misalnya baju yang sebelah kiri warna hijau dan sebelah kanan warna
    merah.

  2. konsentrik (menuju
    ke pusat yaitu arus putar ke dalam). Orang Kristen seharusnya demikian,
    kalau dunia putar ke luar, kita putar balik ke dalam. Reformed Theology
    meneriakkan kembali kepada Alkitab, tambah hari tambah balik ke pusat yang
    asli yaitu kebenaran sejati. Konsentrik akan menjadikan kita  stabil,
    sedangkan eksentrik akan menjadikan kita labil dan bingung.

2.
Dengan iman yang tepat kita akan bisa memberikan jawaban yang tepat.

Dalam Matius 17:25
diceritakan bahwa Tuhan Yesus mendahului bertanya kepada Petrus sebelum Petrus
masuk ke rumah. “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini
memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Petrus menjawab,
“Dari orang asing!” Jawaban ini tidak cocok dengan jawaban Petrus kepada
pemungut bea. Berarti Petrus menjawab dengan ngawur, sehingga kepada tiap orang
jawabannya lain dan tidak sambung / bertentangan satu sama lain. Hal ini terjadi
karena reaksi Petrus kepada Kristus tidak tepat. Respon sejati seharusnya
dipikir baiik-baik, sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Kalau kita menjawab
karena takut kepada manusia dan ingin menyenangkan manusia maka jawaban kita
menjadi ngawur. Basis jawaban kita seharusnya berpusat kepada Kristus yang
berdaulat atas kita. Jangan asal jawab ! Iman sejati memberikan kepada kita
jawaban sejati.

Iman bukan hanya ada di
awang-awang tapi iman itu nyata, yaitu bagaimana kita menghadapi persoalan di
dunia ini, bagaimana kita bereaksi dengan tepat kepada Kristus ketika kita
menghadapi persoalan di dunia ini. Kalalu iman kita tepat maka jawaban kita juga
tepat.

Raja dunia kalau
menarik pajak dari siapa ? Petrus mengakui Kristus adalah Tuhan, Raja di atas
segala raja. Kalau memang demikian, seharusnya Petrus menjawab bahwa Tuhan Yesus
tidak perlu bayar bea, Dialah pemilik alam semesta ini, justru seharusnya
manusia yang harus bayar kepada Tuhan Yesus. Semua persembahan seharusnya
diberikan kepada Tuhan. Kita seringkali tidak menempatkan Kristus sebagai Allah
kita. Kalau ada yang tanya tentang Kristus, seharusnya kita jawab bahwa Dia
adalah Tuhan, Raja di atas segala raja. Kita seringkali takut menyatakan
kebenaran. Konsep tentang Allah adalah pemilik hidup kita seringkali tidak
diaplikasikan dalam hidup kita. Iman sejati adalah iman yang menyatakan siapakah
Kristus itu. Hampir seluruh kekristenan sudah salah memandang kepada Kristus.
Kristus diperlakukan sebagai pembantu, sebagai teman baik. Kristus adalah
satu-satunya objek iman yang patut kita pegang. Kalau kita berpegang kepada
Kristus kita tidak akan hanyut oleh arus dunia.

Bea Bait Allah sebesar
2 dinar adalah setara dengan gaji 2 hari kerja waktu itu, tidak terlalu besar.
Masalah besarnya uang 2 dinar tidaklah penting tapi yang penting adalah harus
bayar atau tidak. Respon kita benar atau tidak dalam hal ini. Petrus gagal
melihat bahwa Tuhan Yesus adalah Allah, sehingga orang lain juga hanya bisa
melihat Tuhan Yesus sebagai Guru bukan Tuhan. Seberapa jauh kita menjadi pembawa
berita kebenaran yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Raja di atas
segala raja?

3.
Dengan iman yang tepat kita akan melihat perubahan drastis.

Iman bukan sekedar
teori tapi terobosan yang dasyat di dalam bijaksana terbesar. Iman Kristen bukan
iman duniawi, memakai cara duniawi dengan format duniawi. Itu bukan iman
Kristen. Kekristenan asli adalah menerobos dengan iman sejati berdasarkan
bijaksana sejati.

Matius 17:27
memperlihatkan bijaksana yang dasyat dari Kristus. Petrus sadar dia sudah salah
jawab kepada pemungut bea. Dalam kondisi seperti ini, ada macam-macam pilihan
reaksi yang dapat timbul yaitu :

  1. Karena sudah berani
    bicara, maka harus lakukan, dalam hal ini bayar bea. Tetapi hal ini dapat
    berdampak buruk terhadap status  Tuhan Yesus. Dia yang adalah Allah, Raja di
    atas segala raja masakan dibayarkan oleh anak buah.

  2. Mencabut
    omongan, katakan kalau tidak mau bayar. Hal ini akan memalukan Petrus.

  3. Yesus yang bayarkan.
    Hal ini salah juga, karena Raja di atas segala raja seharusnya tidak perlu
    bayar.

Situasi ini cukup pelik.
Cara penyelesaian yang dilakukan Kristus adalah secara totalitas (keseluruhan),
merupakan cara neither nor. Kalau diberi pilihan a atau b, jawabnya adalah z.
Jangan mau di dikte. Tuhan kita adalah satu-satunya pemberi solusi terbaik,
jawaban terbaik. Waktu Kristus dihadapkan dengan perempuan yang berzinah, Dia
ditanya oleh orang banyak, perempuan itu harus dirajam atau tidak. Tuhan Yesus
dihadapkan pada 2 pilihan saja yaitu rajam atau tidak. Jawaban Yesus : siapa
yang tidak berdosa lempar batu pertama; Tuhan Yesus tidak dikunci oleh pilihan.

Jawaban Tuhan Yesus
atas persoalan yang dihadapi Petrus di atas adalah : Petrus harus jalan ke danau,
lalu mancing, di dalam mulut ikan pertama yang diperoleh ada uang 4 dirham,
pakai uang tersebut untuk bayar bea. Jadi yang bayarkan bea adalah ikan yang
dipakai Tuhan. Petrus tidak menjadi malu, Tuhan Yesus sebagai Raja di atas
segala raja juga tidak melakukan pembayaran.

Tuhan punya cara dan
sistim yang diluar pemikiran kita. Otak kita cuman 300 cc, tidak sanggup
memikirkan pemecahan persoalan dunia. Percayakan kepada Kristus, maka Dia yang
akan menyelesaikannya. Iman Kristen adalah realistis. Beriman kepada Kristus
berarti kita melakukan terobosan. Saat kita terjepit, Tuhan akan menaruh
perkataan dalam mulut kita. Allah memelihara kita  senantiasa (providensia
Allah). Cara kita sendiri tidak akan sanggup menyelesaikan masalah, perlu balik
kepada Tuhan sebagai bijaksana tertinggi. Dunia tidak butuh orang pintar tapi
butuh orang bijaksana yang setiap kali jalan berdasarkan ketaatan kepada
kehendak Tuhan. Mari kita pakai cara Tuhan. Kita harus kembali kepada Tuhan,
beriman kepada Tuhan.

Matius 17:27 meminta
kita untuk tahu bagaimana menyelesaikan pergumulan hidup, tahu bagaimana
bijaksana Tuhan menyelesaikan setiap persoalan, tahu beriman kepada Tuhan. Hal
ini akan membawa kita kepada kebahagiaan. Iman Kristen bukan hanya untuk hari
ini saja, tapi untuk seluruh perjalanan waktu hidup kita, kita harus jatuh
bangun dalam menghidupi iman kita, yang akan membawa kita semakin hari semakin
bersandar kepada Tuhan. Itulah pertumbuhan, itulah proses pengudusan
(sanctification). Amin 

?

 

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa
oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080525.htm