Eksposisi Injil Matius 18: LIFE-COMMUNITY OF THE KINGDOM OF HEAVEN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)
Sunday, July 13th, 2008|
Ringkasan Khotbah: 01 Juni 2008
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Matius 18:1-5
|
Khotbah minggu ini membahas tentang Matius 18. Pada minggu-minggu yang lalu kita telah membahas tentang Matius 17 yang bertemakan IMAN. Iman yang sejati adalah reaksi yang benar kepada objek iman yang benar yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita memiliki reaksi yang benar tapi bukan kepada objek iman yang benar atau sebaliknya, maka itu tidak bisa disebut sebagai iman yang benar. Reaksi para murid tidak seperti yang Kristus inginkan, sehingga perlu masuk ke dalam pembahasan lebih lanjut dalam Matius 18.
Menurut John Nolland, tema pembahasan Matius 18 merupakan kelanjutan dari Matius 17 yaitu bagaimana kita hidup kembali kepada apa yang Tuhan inginkan sehingga kita bisa hidup dalam suatu komunitas iman. Sedangkan Leon Morris mengatakan bahwa tema yang tepat dari Matius 18 adalah bagaimana kita hidup dalam komunitas kehidupan Kerajaan Surga.
Orang yang hidup dekat dengan Kristus ternyata tidak sama dengan hidup berbagian di dalam Kristus. Para murid yang hidup dekat dengan Kristus, ketika tidak memiliki konsep hidup yang benar, mereka menjadi tidak berbagian di dalam Kristus. Kita harus mengejar hidup bukan sekedar dekat dengan Kristus tetapi bagaimana berbagian di dalam Kristus atau di dalam Kerajaan Surga. Hidup di dalam komunitas Kerajaan Surga ternyata tidaklah mudah, kita harus mengalami koreksi total seluruh pola pikir kita, seluruh cara kita, seluruh apa yang kita hidupi, semuanya terbalik total.
Matius 18:1-5 ini merupakan titik tolak bagaimana kita hidup berbagian di dalam Kerajaan Surga. Diceritakan dalam Matius 18:1 bahwa ketika Tuhan Yesus sampai di Kapernaum, Tuhan Yesus mendapat satu pertanyaan klasik yang terus dipertanyakan sejak 2000 tahun yang lalu hingga saat ini yaitu: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Pertanyaan ini ada di benak semua murid bahkan juga di dalam benak orang Kristen abad ini. Orang selalu ingin untuk menjadi yang terbesar. Murid-murid selalu berusaha dan bersaing untuk menjadi yang terbesar. Kita juga sering dipacu dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar. Ambisi ini akan memukul dan mencelakakan diri sendiri, karena kehidupan anak Tuhan ditetapkan bukan untuk menjadi yang terbesar.
3 hal yang perlu dipikirkan mengenai keinginan untuk menjadi yang terbesar yaitu :
1. Sesuaikah dengan kehendak Tuhan?
Waktu ingin menjadi yang terbesar, kita tidak pernah memikirkan apakah hal ini sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Menjadi yang terbesar bukanlah keinginan Allah Sang Pemilik Kerajaan Surga, jadi kalau kita berkeinginan menjadi yang terbesar berarti kita sudah berlawanan dengan Allah.
Pergumulan yang paling serius dalam kehidupan orang Kristen adalah pertentangan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Ketika kita mengutamakan ambisi kita, kita akan menjadi orang yang tidak pernah dapat taat kepada Tuhan, kita tidak peduli kepada kehendak Tuhan. Ambisi seperti ini memposisikan kita sebagai lawan Allah. Kalau Allah mau kita ke kanan, kita mau ke kiri; kalau Allah mau kita maju, kita malah mundur.
Manusia ingin menjadi yang terbesar karena manusia ingin menggantikan posisi Tuhan. Inilah yang dikatakan sebagai dosa. Di era new age ini, manusia menyatakan diri sebagai allah; Allah itu tidak ada, kalaupun ada Allah, Allah yang harus taat kepada manusia. Kalau manusia bersikap seperti ini, manusia tidak dapat berbagian dalam Kerajaan Surga. Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Surga (Matius 7:21).
Kalau kita bisa taat, sejalan dengan kehendak Tuhan, itulah ciri bahwa kita berbagian di dalam Kerajaan Surga. Berbagian di dalam Kerajaan Surga berarti kita percaya penuh kepada Kristus, kita menjadikan Kristus sebagai raja yang berotoritas penuh atas hidup kita. Banyak orang yang mengaku percaya kepada Kristus tapi sebenarnya tidak percaya karena orang tersebut tidak mempedulikan dan melakukan apa yang Kristus inginkan tetapi hanya menuruti keinginan diri. Percaya yang dituntut oleh Kristus adalah percaya yang disertai dengan ketaatan mutlak kepada Kristus, bersikap sebagai budak di hadapan Kristus.
2. Menjadi terbesar di tempat yang terbesar.
Manusia menginginkan bukan sekedar menjadi yang terbesar tapi juga berada dalam tempat yang terbesar, bukan sekedar di dunia tapi juga di Kerajaan Surga. Banyak orang Kristen yang konsepnya sangat duniawi, sangat humanis, yang menghantar kita masuk ke dalam era
dispensasional. Aliran dispensasi ini mengajarkan bahwa nanti waktu Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya ke dalam dunia ini, Dia akan duduk di singgasana di Yerusalem sebagai raja, umat Tuhan juga akan turut memerintah sebagai punggawa-punggawaNya atas orang-orang kafir; orang Kristen akan menjadi orang yang berkuasa, menjadi pemimpin atas dunia ini. Konsep eskatologi ini sangat diterima oleh mayoritas orang Kristen karena cocok dengan ambisi manusia untuk menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Tuhan Yesus justru mengajarkan bahwa untuk menjadi yang terbesar harus menjadi yang terkecil.
3. Gereja memotivasi untuk menjadi yang terbesar.
Gereja juga ingin menjadi yang terbesar. Ajaran yang memotivasi diri untuk menjadi yang terbesar diajarkan di gereja-gereja. Ajaran Tuhan diputarbalik menjadi ajaran yang berbau psikologi, hedonisme modern, humanis. Gereja tidak lagi mengajarkan bagaimana kita harus merendahkan diri dan taat kepada Tuhan tetapi justru mengajarkan bagaimana kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Kita beriman, maka apa yang kita inginkan akan tercapai.
Celakalah kita kalau sudah bertahun-tahun ke gereja tapi nantinya dibuang ke neraka. Jalan yang lebar, arus yang besar justru menuju ke neraka, sedangkan jalan yang sempit, pintu yang sempit yang menuju ke Surga.
Apa yang dipandang sebagai sukses oleh dunia bukanlah sukses menurut kacamata kekristenan yang asli. Apa yang hebat menurut dunia adalah kehinaan menurut kekristenan yang asli. Sukses bukan ketika apa yang kita inginkan tercapai tetapi sukses adalah waktu kita menjalankan apa yang Tuhan inginkan, hidup yang menggenapkan rencana Allah, sampai nanti waktu kita berjumpa dengan Tuhan kita akan mendengar Dia berkata :”Masuklah hambaKu yang setia, mari ikut ke dalam perjamuanKu.” Semua sukses duniawi kalau tidak kembali kepada Tuhan hanya akan berakhir kepada kebinasaan.
Matius 18:2 menceritakan bahwa Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan pada Matius 18:1 tetapi Tuhan Yesus memanggil seorang anak kecil. Di sini Tuhan Yesus ingin mengajarkan sesuatu yang penting. Anak kecil di ayat di atas menggunakan kata “infant” yang berarti bayi, tapi dalam konteks ayat ini anak kecil pasti bukan bayi karena dapat dipanggil oleh Tuhan Yesus, jadi perkiraan umur anak kecil tersebut di bawah lima tahun. Anak kecil ini menjadi alat peraga atau contoh dari pengajaran yang hendak disampaikan oleh Tuhan Yesus. Para murid seharusnya sadar bahwa konsep untuk menjadi yang terbesar adalah salah dengan dipanggilnya seorang anak kecil ini.
Dalam Matius 18:3 Tuhan Yesus menyerukan kepada para murid untuk bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini untuk bisa berbagian dalam Kerajaan Surga. Arti kata bertobat di sini adalah bukan sekedar percaya kepada Tuhan Yesus (kata: metanoia) tetapi kata yang dipakai dalam ayat di atas adalah stravein yang berarti diputar balik 180 derajat. Bertobat yang dimaksud di sini adalah putar arah, seluruh format hidup kita harus diputar balik, kalau kita semula ingin menjadi yang terbesar harus berubah menjadi: ingin menjadi yang terkecil. Menjadi yang terkecil ini sepertinya meniadakan harga diri. Orang dunia sangat sulit untuk bisa meniadakan nilai diri ini, orang tidak bisa terima kalau dianggap tidak ada apa-apanya, orang mau menjadi yang terbesar. Justru kekristenan yang asli menuntut kita untuk menjadi tidak ada apa-apanya. Putar arah nilai hidup kita.
Kita seringkali terjepit dengan konsep nilai diri. Orang yang jujur sulit untuk menjadi kaya, orang yang tidak kaya (tidak memiliki mobil mewah) tidak dihargai oleh orang lain; sedangkan orang yang korupsi akan menjadi kaya (memiliki mobil mewah) dan dihormati oleh orang lain. Bagaimana seharusnya kita memberikan penilaian diri yang tepat, pada sesuatu yang ditempelkan pada dirikah atau pada esensi dari diri. Manusia berdosa dinilai oleh iblis. Putar arah nilai kita untuk dapat berbagian dalam Kerajaan Surga.
Tahun lalu ada satu seminar yang berjudul “The Up Side Down World” (dunia yang terbalik). Dunia, uang, diri menjadi di atas, Tuhan yang di bawah; Allah dipermainkan menjadi alat. Keadaan seperti ini sebenarnya bukan up side down world tetapi up side down self (diri yang terbalik). Allah tetap di atas karena esensinya memang di atas, Allah tidak bisa berada di bawah. Waktu diri kita terbalik, yang kita lihat di atas adalah setan, dunia, dan uang, yang kita lihat di bawah adalah Tuhan. Waktu itu, di kala kita merasa maju justru kita sebenarnya mundur dan menuju kematian. Jalan satu-satunya supaya kita bisa naik adalah kita harus putar balik. Hanya saja, waktu kita putar balik, kita akan ditertawakan oleh dunia yang orang-orangnya mayoritas terbalik karena sudut pandangnya dari mayoritas. Mari kita balik arah, tidak menuju kepada kebinasaan.
Orang yang mau berbagian dalam Kerajaan Surga adalah orang yang mau menjadi yang terkecil, yang sangat bergantung seperti seorang anak kecil. Seorang anak kecil merasa dirinya lemah, perlu bantuan orang tuanya atau orang lain, perlu percaya kepada orang lain. Kalau seorang anak kecil tidak dapat menemukan orang yang dapat dipercayai, yang dapat dijadikan pegangan, dia akan bertumbuh menjadi orang yang merasa tidak perlu orang lain dan akhirnya merasa tidak perlu Tuhan. Dia sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa konsultasi dengan orang tua, semuanya tergantung pada pikirannya sendiri, di dalam kekristenanpun dia akan berjalan menurut pikirannya sendiri dan tidak peduli kepada Tuhan.
Apakah ketika kita merasa lemah seperti seorang anak kecil berarti kita kehilangan nilai diri? Matius 18:4 mengajarkan bahwa barangsiapa yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Point yang terpenting di sini adalah merendahkan diri, menjadi tidak ada apa-apanya. Dunia mengejar kesombongan diri, merendahkan diri merupakan kelemahan bagi dunia. Dunia memotivasi orang untuk meninggikan diri, mengangkat diri, meninggikan nilai diri, sedangkan kekristenan mengajar orang untuk merendahkan diri, manusia tidak memiliki apa-apa yang patut dibanggakan, semua manusia sudah berdosa. 2 nilai ini begitu berlawanan.
Manusia sangat peduli dengan nilai diri, dengan kesombongan diri, tapi di sisi lain manusia juga benci dengan orang yang sombong. Orang yang sering mengatai orang lain sombong adalah orang yang paling sombong. Kenapa kita harus pusing kalau ada orang lain yang sombong, itu menunjukkan bahwa kita lebih sombong; kalau kita tidak ada apa-apanya, kita tidak akan pusing kalau orang lain sombong. Kita harus bisa merendahkan diri yaitu menempatkan diri di posisi yang sebenarnya yaitu sebagai manusia berdosa, yang rendah, yang bisa hidup hanya karena anugerah Tuhan.
Kalau orang dunia merendahkan diri, dia akan habis; tapi kalau anak Tuhan yang merendahkan diri, Tuhan akan semakin ditinggikan, Tuhan akan semakin pakai kita. Waktu kita merendahkan diri sekecil-kecilnya, kita akan bisa mentaati Tuhan sebesar-besarnya. Contoh dalam Alkitab : Saulus memiliki ambisi rohani yang luar biasa besar untuk menghabisi orang Kristen, ketika Tuhan mencelikkan dia, dia merasa ambisinya tidak berarti apa-apa, dia berganti nama menjadi Paulus. Saulus berarti si besar, Paulus berarti si kecil. Waktu menjadi Paulus, dia sangat dipakai Tuhan.
Waktu kita merendahkan diri, Tuhan akan pakai kita sehingga hidup kita bukan untuk aktualisasi diri tapi untuk aktualisasi rencana Allah. Waktu kita membiarkan Tuhan membentuk dan mengarahkan hidup kita, hidup kita baru menjadi besar dan memiliki nilai. Tapi jangan kita jatuh ke dalam kesalahan sebaliknya yaitu kita mengecilkan diri untuk menjadi besar, ini motivasi yang salah. Kita juga seringkali ingin meniru kehebatan seseorang seperti Paulus tapi kita lupa untuk meniru bagaimana Paulus mengecilkan diri. Orang yang besar di mata Tuhan adalah orang yang berhasil mengecilkan diri.
Kita dituntut bukan merendahkan diri hanya sebatas diri, hanya untuk kepentingan diri, hanya untuk membentuk diri tapi supaya kita juga dapat menolong orang lain. Orang berusaha menempatkan diri di posisi atas supaya bisa memakai orang lain, inilah kebrengsekan manusia.
Matius 18:5 mengatakan bahwa barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama Tuhan, ia menyambut Tuhan. Banyak orang tidak menghargai anak kecil, anak kecil dianggap sebagai aset semata. Para murid juga tidak menghargai anak kecil, anak kecil dianggap mengganggu dan bikin repot, Tuhan Yesus tidaklah demikian. Banyak orang juga seperti para murid, memandang orang lain hanya sebatas manfaat, apakah memberikan manfaat atau tidak bagi diri kita, karena orang hanya mau mendapatkan sesuatu tanpa mau berbagi sesuatu. Ketika akan melayani juga menanyakan apa manfaat yang diperoleh, pelayanan yang tampil di depan publik itu yang banyak disukai orang. Sebagai anak Tuhan kita seharusnya memandang orang lain dari esensi hidupnya bukan dari ekstensi hidupnya (semua yang nempel di permukaan). Mari kita meneladani Kristus yang mau datang dan mati untuk orang berdosa, Dia begitu menghargai kita.
Jadi untuk dapat berbagian dalam komunitas Kerajaan Surga kita harus bertobat, dalam arti putar arah nilai hidup kita, merendahkan atau mengecilkan diri, dan menjadi seperti anak kecil yang percaya penuh dan bergantung sepenuhnya hanya pada Tuhan Yesus. Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080601.htm