Eksposisi Injil Matius 17: IMAN BUKAN KEBIASAAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah : 25 Mei 2008

 
   
      

   

 

      

Iman
Bukan Kebiasaan

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Matius
17:24-27

 

   
 

 

Tema yang hendak
disampaikan dalam Matius 17 adalah tentang IMAN. Iman sejati adalah reaksi yang
tepat kepada Kristus sebagai objek iman yang sejati. Banyak penafsir beranggapan
bahwa  Matius 17:24-27 adalah berbicara mengenai bea Bait Allah. Kalau memang
demikian, berarti pembahasan ayat di atas lepas dari tema IMAN yang sedang
dibahas pada ayat-ayat sebelumnya.

Matius 17:1-13 membahas
tentang bagaimana kita seharusnya beriman yaitu dengan mendengarkan Kristus
kemudian taat kepada Dia. Iman sejati mempunyai 2 unsur yaitu reaksi yang tepat
dan objek iman yang benar dan tepat yaitu Kristus. Kalau hanya terpenuhi 1 unsur
saja maka dapat dikatakan bukan merupakan iman sejati.

Matius 17:14-21
membahas tentang iman bukan dilihat dari besar atau kecilnya iman. Iman
dikatakan besar atau kecil hanya dalam hal pertumbuhan iman, yaitu bagaimana
kita semakin mengerti iman kita, seharusnya kita semakin taat dan setia kepada
Kristus.  Masalah yang utama adalah punya iman atau tidak. Kalau punya iman,
walau sebiji sesawi pun akan sanggup memindahkan gunung. Kalau kita taat kepada
Kristus sebagai objek iman sejati maka kita akan berhasil, bukan karena kita
yang hebat tapi karena Kristus sendiri yang bekerja; tapi kalau kita menuruti
ambisi diri maka kita akan gagal dan hancur. Kalau Tuhan yang mau, maka jadilah.

Matius 17:22-23
membahas tentang implikasi iman dalam hidup kita. Problem iman yang besar adalah
bagaimana kita bereaksi kepada Kristus yang adalah Mesias dan Anak Allah yang
hidup. Dalam ayat di atas diceritakan bahwa murid-murid Tuhan Yesus masih belum
bisa percaya bahwa salib adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, salib
adalah satu-satunya jalan mengatasi problema dosa.

Matius 17:24-27 bukan
membahas tentang bea Bait Allah, tetapi membahas tentang di mana letak
permasalahannya dan bagaimana caranya supaya kita bisa beriman dengan tepat.

1.
Dengan iman yang tepat kita akan bisa menerobos batas (break through)

Dalam Matius 17:24-27
diceritakan bahwa Petrus didatangi pemungut bea Bait Allah. Tidak jelas sejak
kapan bea ini menjadi sesuatu yang rutin dan wajib dikerjakan. Semula bea ini
merupakan persembahan untuk pendamaian nyawa (Keluaran 38:25-26). Persembahan
ini sebenarnya hanya sekali saja dilakukan, tapi dalam perjalanannya menjadi
iuran wajib. Hal seperti ini seringkali terjadi di dalam gereja, misalnya
persembahan persepuluhan yang semula merupakan komitmen kita untuk
mempersembahkan kepada Tuhan 10% dari berkat yang telah kita terima dari Tuhan
kemudian dijadikan iuran wajib oleh gereja. Bagaimana seharusnya reaksi yang
tepat terhadap hal seperti ini? Bagaimana kita bisa menghidupi reaksi yang tepat
kepada Tuhan dalam menghadapi setiap persoalan dalam hidup ini? Kalau kita tidak
bisa bereaksi dengan tepat kepada Tuhan maka kita akan bereaksi tidak tepat pula
(ngawur) terhadap dunia ini.

Cerita dalam Matius
17:24-27 ini dimulai dengan Tuhan Yesus dan murid-muridNya kembali ke Kapernaum,
yaitu markas Tuhan Yesus. Kapernaum adalah kota kecil di dekat Galilea tapi
tidak nempel dengan danau. Dugaan beberapa penafsir, Tuhan Yesus menginap di
rumah Petrus di Kapernaum, tapi agak sulit diterima kalau Petrus sebagai nelayan
tinggal di Kapernaum yang tidak nempel dengan danau, tapi mungkin juga Petrus
sudah tidak lagi menjadi nelayan. Petrus menjadi juru bicara Tuhan Yesus. Tuhan
Yesus sudah 3 tahun di Kapernaum, jadi orang-orang di Kapernaum pasti tahu Tuhan
Yesus. Konyolnya, pemungut bea tidak bertanya langsung kepada Tuhan Yesus tapi
bertanya kepada Petrus.

Ketika Petrus ditanya
apakah Gurunya membayar bea, dia menjawab dengan spontan, “Memang membayar.”
Jawaban spontan ini keluar karena hal membayar bea dianggap sebagai hal biasa.
Di dunia ini banyak orang yang hanya bisa menjadi ekor yang hanya mengikuti
orang lain tanpa alasan yang tepat tetapi hanya karena alasan “biasa”. Orang
yang “sukses” adalah orang yang bisa menerobos batas. Pembentuk trend adalah
orang yang tidak “biasa”, nanti akan ada yang menjadi pengikutnya.

Menerobos batas ada 2
macam yaitu :

  1. eksentrik (keluar
    dari pusat, arus putar ke luar), membentuk orang nyentrik, orang yang tambah
    gila, misalnya baju yang sebelah kiri warna hijau dan sebelah kanan warna
    merah.

  2. konsentrik (menuju
    ke pusat yaitu arus putar ke dalam). Orang Kristen seharusnya demikian,
    kalau dunia putar ke luar, kita putar balik ke dalam. Reformed Theology
    meneriakkan kembali kepada Alkitab, tambah hari tambah balik ke pusat yang
    asli yaitu kebenaran sejati. Konsentrik akan menjadikan kita  stabil,
    sedangkan eksentrik akan menjadikan kita labil dan bingung.

2.
Dengan iman yang tepat kita akan bisa memberikan jawaban yang tepat.

Dalam Matius 17:25
diceritakan bahwa Tuhan Yesus mendahului bertanya kepada Petrus sebelum Petrus
masuk ke rumah. “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini
memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Petrus menjawab,
“Dari orang asing!” Jawaban ini tidak cocok dengan jawaban Petrus kepada
pemungut bea. Berarti Petrus menjawab dengan ngawur, sehingga kepada tiap orang
jawabannya lain dan tidak sambung / bertentangan satu sama lain. Hal ini terjadi
karena reaksi Petrus kepada Kristus tidak tepat. Respon sejati seharusnya
dipikir baiik-baik, sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Kalau kita menjawab
karena takut kepada manusia dan ingin menyenangkan manusia maka jawaban kita
menjadi ngawur. Basis jawaban kita seharusnya berpusat kepada Kristus yang
berdaulat atas kita. Jangan asal jawab ! Iman sejati memberikan kepada kita
jawaban sejati.

Iman bukan hanya ada di
awang-awang tapi iman itu nyata, yaitu bagaimana kita menghadapi persoalan di
dunia ini, bagaimana kita bereaksi dengan tepat kepada Kristus ketika kita
menghadapi persoalan di dunia ini. Kalalu iman kita tepat maka jawaban kita juga
tepat.

Raja dunia kalau
menarik pajak dari siapa ? Petrus mengakui Kristus adalah Tuhan, Raja di atas
segala raja. Kalau memang demikian, seharusnya Petrus menjawab bahwa Tuhan Yesus
tidak perlu bayar bea, Dialah pemilik alam semesta ini, justru seharusnya
manusia yang harus bayar kepada Tuhan Yesus. Semua persembahan seharusnya
diberikan kepada Tuhan. Kita seringkali tidak menempatkan Kristus sebagai Allah
kita. Kalau ada yang tanya tentang Kristus, seharusnya kita jawab bahwa Dia
adalah Tuhan, Raja di atas segala raja. Kita seringkali takut menyatakan
kebenaran. Konsep tentang Allah adalah pemilik hidup kita seringkali tidak
diaplikasikan dalam hidup kita. Iman sejati adalah iman yang menyatakan siapakah
Kristus itu. Hampir seluruh kekristenan sudah salah memandang kepada Kristus.
Kristus diperlakukan sebagai pembantu, sebagai teman baik. Kristus adalah
satu-satunya objek iman yang patut kita pegang. Kalau kita berpegang kepada
Kristus kita tidak akan hanyut oleh arus dunia.

Bea Bait Allah sebesar
2 dinar adalah setara dengan gaji 2 hari kerja waktu itu, tidak terlalu besar.
Masalah besarnya uang 2 dinar tidaklah penting tapi yang penting adalah harus
bayar atau tidak. Respon kita benar atau tidak dalam hal ini. Petrus gagal
melihat bahwa Tuhan Yesus adalah Allah, sehingga orang lain juga hanya bisa
melihat Tuhan Yesus sebagai Guru bukan Tuhan. Seberapa jauh kita menjadi pembawa
berita kebenaran yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan dan Raja di atas
segala raja?

3.
Dengan iman yang tepat kita akan melihat perubahan drastis.

Iman bukan sekedar
teori tapi terobosan yang dasyat di dalam bijaksana terbesar. Iman Kristen bukan
iman duniawi, memakai cara duniawi dengan format duniawi. Itu bukan iman
Kristen. Kekristenan asli adalah menerobos dengan iman sejati berdasarkan
bijaksana sejati.

Matius 17:27
memperlihatkan bijaksana yang dasyat dari Kristus. Petrus sadar dia sudah salah
jawab kepada pemungut bea. Dalam kondisi seperti ini, ada macam-macam pilihan
reaksi yang dapat timbul yaitu :

  1. Karena sudah berani
    bicara, maka harus lakukan, dalam hal ini bayar bea. Tetapi hal ini dapat
    berdampak buruk terhadap status  Tuhan Yesus. Dia yang adalah Allah, Raja di
    atas segala raja masakan dibayarkan oleh anak buah.

  2. Mencabut
    omongan, katakan kalau tidak mau bayar. Hal ini akan memalukan Petrus.

  3. Yesus yang bayarkan.
    Hal ini salah juga, karena Raja di atas segala raja seharusnya tidak perlu
    bayar.

Situasi ini cukup pelik.
Cara penyelesaian yang dilakukan Kristus adalah secara totalitas (keseluruhan),
merupakan cara neither nor. Kalau diberi pilihan a atau b, jawabnya adalah z.
Jangan mau di dikte. Tuhan kita adalah satu-satunya pemberi solusi terbaik,
jawaban terbaik. Waktu Kristus dihadapkan dengan perempuan yang berzinah, Dia
ditanya oleh orang banyak, perempuan itu harus dirajam atau tidak. Tuhan Yesus
dihadapkan pada 2 pilihan saja yaitu rajam atau tidak. Jawaban Yesus : siapa
yang tidak berdosa lempar batu pertama; Tuhan Yesus tidak dikunci oleh pilihan.

Jawaban Tuhan Yesus
atas persoalan yang dihadapi Petrus di atas adalah : Petrus harus jalan ke danau,
lalu mancing, di dalam mulut ikan pertama yang diperoleh ada uang 4 dirham,
pakai uang tersebut untuk bayar bea. Jadi yang bayarkan bea adalah ikan yang
dipakai Tuhan. Petrus tidak menjadi malu, Tuhan Yesus sebagai Raja di atas
segala raja juga tidak melakukan pembayaran.

Tuhan punya cara dan
sistim yang diluar pemikiran kita. Otak kita cuman 300 cc, tidak sanggup
memikirkan pemecahan persoalan dunia. Percayakan kepada Kristus, maka Dia yang
akan menyelesaikannya. Iman Kristen adalah realistis. Beriman kepada Kristus
berarti kita melakukan terobosan. Saat kita terjepit, Tuhan akan menaruh
perkataan dalam mulut kita. Allah memelihara kita  senantiasa (providensia
Allah). Cara kita sendiri tidak akan sanggup menyelesaikan masalah, perlu balik
kepada Tuhan sebagai bijaksana tertinggi. Dunia tidak butuh orang pintar tapi
butuh orang bijaksana yang setiap kali jalan berdasarkan ketaatan kepada
kehendak Tuhan. Mari kita pakai cara Tuhan. Kita harus kembali kepada Tuhan,
beriman kepada Tuhan.

Matius 17:27 meminta
kita untuk tahu bagaimana menyelesaikan pergumulan hidup, tahu bagaimana
bijaksana Tuhan menyelesaikan setiap persoalan, tahu beriman kepada Tuhan. Hal
ini akan membawa kita kepada kebahagiaan. Iman Kristen bukan hanya untuk hari
ini saja, tapi untuk seluruh perjalanan waktu hidup kita, kita harus jatuh
bangun dalam menghidupi iman kita, yang akan membawa kita semakin hari semakin
bersandar kepada Tuhan. Itulah pertumbuhan, itulah proses pengudusan
(sanctification). Amin 

?

 

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa
oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080525.htm

Leave a Reply