THE CONCEPT OF WORSHIP-2: The Element of Worship (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

May 5th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 17 Februari 2008

The Element of Worship

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Yoh. 17:1-8

Kita telah memahami sebelumnya bahwa ibadah menyangkut seluruh aspek hidup kita tiap-tiap harinya, hidup yang memuliakan Tuhan dan taat menjalankan panggilan Tuhan bukan hanya di hari Minggu saja meskipun Sunday service, ibadah Minggu menjadi pusat dari seluruh ibadah. Ibadah kita di hari Minggu menjadi gambaran totalitas kehidupan ibadah kita sehari-hari. Betapa indah hidup yang memuliakan Tuhan sebab pada saat yang sama kita akan menikmati persekutuan yang indah di dalam-Nya. Keindahan ibadah tidak cukup hanya datang dengan sukacita dan sorak sorai ke dalam rumah Tuhan namun ada beberapa elemen yang perlu kita pahami dalam suatu ibadah. Hal ini akan menjadi perenungan kita hari ini. 

Kata “mereka” dalam injil Yohanes 17:6–8 yang dimaksud adalah umat Allah, orang-orang yang dipilih dan diberikan kepada Yesus Kristus. Hubungan yang dibentuk antara Yesus Kristus dengan Bapa di sorga melibatkan anak-anak Tuhan di dalamnya. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu (Yoh. 17:6). Disini ada tiga kelompok, yakni: 1) Bapa di sorga, 2) Yesus Kristus, 3) umat Allah yang sejati. Jelas disini, ibadah merupakan sebuah relasi. Ibadah bukan hanya sekedar votum, doa, berdiri, atau duduk. Tidak! Semua tata ibadah itu hanyalah ritual ibadah belaka tetapi yang terutama adalah relasi. 

Ketika Yesus Kristus memandang pada Bapa maka itu menjadi inti gambaran relasi bagaimana kita berelasi dengan Bapa. Allah menjadi pusat dari ibadah. Dalam Injil Yohanes 17, banyak dituliskan kata “mempermuliakan, dipermuliakan, kemuliaan.” Jadi, hubungan kita dengan Bapa dan Tuhan Yesus adalah hubungan mempermuliakan. Ibadah sejati adalah relasi dengan Allah di dalam kemuliaan-Nya. Bagaimana hidup mempermuliakan Dia? Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan:

1. Allah Sumber Kemuliaan

Mempermuliakan Allah beda dengan mempermuliakan kaisar, raja, atau penguasa-penguasa lain di dunia. Allah adalah sumber dari segala kemuliaan, Dia adalah kemuliaan itu sendiri. Mempermuliakan Allah berarti mempermuliakan diri-Nya sebaliknya, ketika kita mempermuliakan kaisar berarti kita mempermuliakan posisinya sebab ketika ia tidak menjabat jadi kaisar, kita tidak akan menghormat lagi padanya. Manusia di dunia begitu ingin dipermuliakan padahal manusia tidak layak menerima kemuliaan karena manusia adalah manusia berdosa dan hina. Hanya Allah yang patut dan layak menerima semua kemuliaan dari manusia dan seluruh makhluk yang ada di bumi. Sudah sewajarnyalah kita mempermuliakan Tuhan, kemuliaan itu melekat pada diri-Nya; kemuliaan Tuhan itu tidak dapat digeser atau berubah.

Merupakan suatu pelanggaran natur kalau manusia tidak mempermuliakan Allah sebab Allah menciptakan manusia untuk mempermuliakan Dia dan menikmati Dia. Celakanya, manusia tidak memahami hal ini bahkan cenderung tidak mau tahu namun ketidaktahuan itu tidak berarti kemudian manusia boleh tidak menyembah Allah. Tidak! Pada naturnya,  manusia dicipta untuk menyembah Allah dan pada saat kita memuliakan Dia itulah kita merasakan sukacita sejati. God deserve worship. Hanya Allah yang layak disembah, karena diri-Nya sumber kemuliaan.

2. Allah Tempat Tertinggi

Allah yang mulia berada di tempat tertinggi. Berbicara tentang kemuliaan berarti menyangkut kualitas. Seperti halnya, logam mulia, maka ia harus selalu berada di posisi atas karena berkualitas tinggi. Semua hal yang paling mulia harus berada di posisi teratas. Allah berada di tempat tertinggi. Tempat tertinggi yang dimaksud disini bukan secara geografis tetapi posisi mulia. Ketika kita berelasi dengan Allah, beribadah pada Allah maka kita harus datang menyembah Dia. Ketika kita beribadah maka kita harus mengejar kualitas tertinggi karena Allah berada di sana. 

Bertumbuh berarti harus semakin meningkat, semakin menuju pada kualitas. Ironisnya, Kekristenan tidak memahami konsep ini. Orang ingin si pengkhotbah bermutu, khotbah yang bermutu, namun pernahkah kita bertanya pada diri kita, sudahkah kita menuntut diri juga berkualitas? Sudahkah kita menjadikan seluruh aspek hidup kita sebagai ibadah? Apakah sudah mempersiapkan hati dengan sungguh-sungguh ketika datang beribadah kepada Tuhan? Betapa indah suatu ibadah kalau seluruh jemaatnya menuntut diri untuk mau bertumbuh, menuju pada kualitas tertinggi. Betapa indah suatu pujian kalau jemaat dapat memuji Tuhan misalnya memuji dengan nada yang tepat dan terbagi dalam empat suara diiringi dengan iringan musik yang indah. Suasana ibadah akan terasa sangat indah dan menikmati keindahan ibadah dan sukacita sejati memenuhi kita. Celakanya, ibadah yang terjadi hari ini justru sebaliknya, seluruh ibadah dipusatkan di atas mimbar; liturgis bagus, pemain musik hebat, pengkhotbah berkualitas tetapi jemaat tidak lebih hanya sekedar menjadi penonton.

Hari ini ibadah bukan lagi menjadi ibadah sejati. Ibadah tidak menjadikan kita semakin hari semakin berkualitas tetapi menjadikan kita semakin menurun. Hal ini juga nampak dari sikap kita ketika pergi beribadah. Kita cenderung sembarangan ketika datang dalam ibadah. Ingat, kita datang pada Allah yang mulia, Dia adalah Raja di atas segala raja tetapi kita tidak hormat datang pada-Nya. Ironisnya, kita justru lebih hormat dan bersikap rapi ketika mendapat undangan dari Presiden atau para pejabat dunia. Tuhanlah yang patut dan layak menerima semua pujian karena Dia adalah Allah yang mulia, Dia berada di posisi tertinggi.   

3. Allah Transdensi dan Imanensi

Allah adalah Allah yang transen artinya Allah jauh di sana, Allah begitu suci dan mulia sehingga tidak mungkin didekati oleh manusia berdosa; manusia akan langsung mati ketika melihat Allah secara langsung seperti yang diungkapkan dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi Allah yang jauh itu adalah Allah yang imanen yang mau dekat dan berelasi dengan manusia; Dia datang dan mengambil rupa seorang manusia demi untuk menyelamatkan kita manusia berdosa.  Tuhan Yesus, Allah yang suci dan mulia itu datang ke dalam dunia berdosa dan Dia tidak memandang kita sebagai budak tetapi Dia menyebut kita sahabat.  Namun ingat, Allah yang imanensi itu bukan berarti kita dapat meniadakan transdensi Allah. Kita harus tetap hormat kepada Allah. Celakanya, dunia modern ini orang seringkali cenderung bersikap kurang ajar ketika orang baik padanya. Seorang papa pastilah akan sangat senang kalau dapat dekat dengan anaknya, baik dengan si anak namun bukan berarti si anak boleh berlaku tidak sopan kepada sang papa. Tanpa sadar kita sudah mempermainkan Tuhan kita, Yesus Kristus. Kita seringkali menyebut nama Tuhan Yesus dengan tidak hormat. Orang langsung menyebut “Yesus” tanpa “Tuhan.” Meskipun Dia dekat dengan kita dan menyebut kita sahabat bukan berarti kita boleh memperlakukan dengan sembarangan. Ingat, kita hanyalah budak yang diangkat menjadi sahabat. Tuhan Yesus tetap adalah Allah yang suci dan mulia dan kita harus memuliakan Dia. 

Demikian pula halnya dengan ibadah, kita datang ke dalam rumah Tuhan sudahkah kita memuliakan Tuhan? Hendaklah mata kita selalu tertuju pada-Nya, Dia yang berada di posisi tertinggi, Dia yang agung dan mulia. Bangunan gereja dengan arsitek gothic terkadang juga mempengaruhi suasana ibadah, bangunan yang tinggi dan megah membuat kita merasa kecil di hadapan-Nya ketika kita datang ke dalam rumah Tuhan.  Pertanyaannya sekarang adalah apakah ibadah kita dipengaruhi oleh gedung? Tidak! Ibadah tidak dipengaruhi oleh gedung tetapi bagaimana hati kita ketika berhadapan dengan kemuliaan Tuhan. Hati kita harusnya dipersiapkan ketika datang beribadah kepada Tuhan. Perhatikan tata ibadah kita saat ini bukan dibuat dengan sembarangan tetapi seluruh liturgi sudah dipikirkan lama sejak abad 10 dan hanya mempunyai satu tujuan yaitu kemuliaan hanya bagi Tuhan; segala sesuatu dari Allah, oleh Allah dan kepada Allah, bagi Allah kemuliaan sampai selama-lamanya.

 

Tata ibadah dibagi menjadi tiga bagian, yakni: 1) worship part, persiapan untuk ibadah dimulai dari saat teduh, dimana kita harus mempersiapkan diri di hadapan Tuhan karena perasaan takut dan gemetar berhadapan dengan Allah yang Maha mulia. Berhadapan dengan Raja yang mulia maka jauh sebelumnya kita sudah melakukan persiapan dan tidak terlambat. Cobalah pikirkan apakah kita berani datang terlambat ketika kita harus menghadap Presiden? Tidak, bukan? Bahkan satu jam sebelumnya kita akan datang dan melakukan berbagai persiapan dengan bersaat teduh, menunggu kehadiran Presiden. Sekarang, bukan sekedar Presiden biasa yang kita hadapi tetapi Raja di atas segala raja, Dialah Raja yang Maha Mulia dan Maha Agung. Dilanjutkan dengan votum yang artinya undangan bagi kita semua supaya kita sadar dan erkonsentrasi kepada Allah yang menjadi pusat ibadah. Lalu disambut dengan pujian: Suci Suci Suci atau Hormat Bagi Allah yang menyatakan segala kemuliaan hanya bagi Dia saja. Inilah bagian pertama dimana seluruhnya harus berpusat pada Allah.

2) Content of worship, pada bagian ini kita berdialog dengan Allah, mengungkapkan iman, rasa syukur, doa dan segala pergumulan kita di hadapan-Nya. Disini kita mencoba mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan. Kita berespon dan berkomitmen dan mengaku iman dan kembali bersyukur. Salah satu aspek penting yang hari ini dihilangkan dalam ibadah adalah ratapan. Alkitab memberikan tempat yang penting bagi ratapan. Meratap adalah mengungkapkan seluruh isi hati kepada Tuhan dan kita menantikan Allah merespon saya. 

3) bagian penutup ditutup dengan doxology, segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Seluruh tata ibadah bagian depan dan terakhir menjadi suatu pilar dan bagian tengah menjadi isinya. Dua pilar menjadi pengunci di bagian tengah. Celakanya, hari ini gereja membuang dua pilar ini dan hanya memakai bagian tengah saja. Tata ibadah yang dipakai hanyalah pujian, firman, doa dan persembahan seperti yang kita temui di umumnya gereja hari ini. Seluruh ibadah hanya memuaskan kenikmatan diri belaka. Tuhan tidak lagi menjadi pusat dari ibadah. Firman Tuhan menegaskan ibadah sejati adalah mempermuliakan Tuhan dan hal ini dimungkinkan karena umat pilihan yang diberikan oleh-Nya kepada Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus mendidik mereka di dalam  Firman sehingga mereka mendapatkan hidup kekal. Hidup kekal bukan masuk surga seperti yang manusia pikirkan. 

Tuhan Yesus menegaskan hidup kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus KRistus yang telah Engkau utus (Yoh. 17:3). Jelaslah, ibadah tidak bisa dilepaskan dari Yesus Kristus. Ibadah sejati adalah Yesus Kristus melepaskan dari ikatan dosa. Tuhan Yesus sudah mati bagi kita, kita yang tadinya mati kini kita dihidupkan kembali oleh Dia sehingga kita dapat berdamai dengan Bapa dan boleh mengenal dengan Allah Bapa. Tanpa anugerah pertobatan, mustahil kita dapat beribadah. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat mengenal Dia. Siapakah kita manusia berdosa sehingga Dia mau datang mengangkat kita dari jerat dosa. Biarlah kita mau pakai seluruh hidup kita untuk memuliakan Dia, taat mutlak dalam pimpinan tangan-Nya. Karena kita tahu pimpinan-Nya tidak pernah salah. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.  Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080217.htm

THE CONCEPT OF WORSHIP-1: The Beauty of Worship (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

April 28th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 10 Februari 2008

The Beauty of Worship

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mzm. 100:1-5

Ibadah atau worship merupakan bagian dari setiap orang yang mengaku beriman. Yang dimaksud ibadah disini bukanlah sekedar satu hari berada di tempat ibadah. Ibadah terkait dengan seluruh  hidup yang mengabdi kepada Allah secara totalitas tiap-tiap harinya dimanapun kita berada. Ibadah berasal dari kata aboda (bahasa Ibrani) proskuneo (bahasa Yunani) yang berarti melenturkan tubuh sampai ke tanah. Ibadah Kristen berpusat total di kebaktian Minggu, Sunday service maka kalau worship service itu kita abaikan dan merasa cukup beribadah di rumah saja maka dapatlah dipastikan pelan namun pasti kerohanian kita menjadi kering. Kebaktian Minggu merupakan inti dari ibadah. 

“Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak sorai!” Ibadah harusnya mendatangkan sukacita sejati atas kita. Wesminster short catechism menyatakan bahwa tujuan manusia dicipta adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia. Yang menjadi pertanyaan adalah apa artinya menikmati? Apakah kita boleh memakai semua bentuk gaya ke dalam ibadah? Bagaimana halnya dengan ibadah dimana yang hadir di dalamnya adalah orang-orang dari berbagai bangsa? Apakah setiap orang dari berbagai suku bangsa di dunia itu boleh memasukkan unsur budaya seperti musik dan bahasa ke dalam ibadah? Pertanyaannya adalah what is enjoyment? Kalau kenikmatan ibadah itu tergantung pada kita maka bolehkah unsur musik hard rock metal dimasukkan dalam ibadah untuk menarik anak-anak muda? 

Tujuan hidup kita sekaligus menjadi tujuan ibadah kita, yaitu memuliakan Dia dan menikmati Dia secara utuh. Inti ibadah bukan sekedar kenikmatan atau sekedar sukacita sesaat belaka. Esensi ibadah berada di obyek ibadah. Ketika kita datang beribadah maka bukan kita yang menjadi obyek ibadah tetapi Tuhanlah sebagai obyek. Kita harusnya dengan gemetar datang di hadapan-Nya sebab kalau Dia berkenan maka kita hidup tapi kalau tidak, kita akan mati. Jadi, kenikmatan bukan tergantung saya tapi ketika kita memuliakan Dia maka disana kita merasakan kenikmatan. Pertanyaannya adalah apakah Tuhan berkenan atas seluruh ibadah yang kita lakukan? 

Memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan saling terkait erat. Adalah mustahil orang dapat menikmati ibadah tetapi tidak memuliakan Tuhan. Ibadah adalah meletakkan Allah yang merupakan obyek dari ibadah itu sendiri sebagai pusat dan kita berada di dalamnya memuliakan dan menikmati Dia. Sangatlah mengerikan, di dunia modern sekarang Tuhan tidak lagi sebagai obyek ibadah tapi dirilah yang menjadi obyek. Orang hanya berpikir untung dan rugi ketika datang beribadah. Kitab Mazmur pasalnya yang ke-100 seringkali dipakai sebagai votum dalam ibadah. Mazmur membukakan kita akan apakah ibadah sejati dan kedahsyatan ketika kita datang beribadah kepada Tuhan Allah. 

Pemazmur membagi Mazmur 100 menjadi dua bagian, dimana setiap bagian mempunyai isi yang sama, yakni masing-masing terdapat tiga ajakan dan tiga alasan, yaitu:

Bagian Pertama (Mzm. 100:1-3): 1) tiga ajakan: Bersorak-soraklah bagi Tuhan hai, seluruh bumi! (ay. 1), beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita (ay. 2a), datanglah ke hadapan-Nya dengan sukacita (ay. 2b); 2) tiga alasan: Dialah yang menjadikan kita, punya Dialah kita, umat-Nya, kawanan domba gembalaan-Nya (ay.3).

Bagian Kedua (Mzm. 100:4-5): 1) tiga ajakan: Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya; 2) tiga alasan: Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun. Kitab Mazmur 100 membukakan pada kita keindahan ibadah.

Apa yang menjadi dasar kita beribadah dengan sorak sorai?Jawabannya karena Tuhan Allah itu sendiri. Hari ini banyak orang tidak memahami akan konsep  datang beribadah dengan sorak sorai. Orang malah merasa tidak perlu untuk beribadah pada hari Minggu. Orang tidak dapat melihat indahnya ibadah, bertemu dan memuliakan Tuhan di dalam ibadah; orang menganggap ke gereja hanya kewajiban yang harus dijalankan oleh orang Kristen. Celakanya, ada orang yang ke gereja karena alasan takut diinterograsi atau dibezuk oleh para pengurus gereja, ada juga orang yang ke gereja karena untuk mendapatkan keuntungan. Bagaimana kita dapat merasakan sukacita sejati kalau kita beribadah dengan alasan demikian? 

Beberapa aspek yang membuat kita merasakan sukacita sejati ketika kita datang beribadah kepada Tuhan, yaitu:

I. ALASAN ONTOLOGIS

1. Allah adalah Pencipta

Allah menciptakan kita, Dia pencipta kita maka betapa indah dan nyamannya kalau kita kembali pada Sang Pencipta kita. Celakanya, dunia telah dicengkeram konsep evolusi akibatnya manusia kehilangan perasaan, tidak ada relasi dengan Tuhan Sang Pencipta. Sadarlah kita adalah ciptaan yang bergantung mutlak pada Sang Pencipta. Betapa sukacita kalau kita bisa berada di rumah Tuhan. Sukacita itu bukan tergantung pada kita tetapi karena Tuhan itu sendiri. Seperti halnya seorang yang lagi kasmaran maka bisa datang ke rumah dan bertemu dengan sang kekasih akan membawa sukacita tersendiri, orang tidak akan peduli hal yang lain karena ada relasi. Bayangkan, kalau kita datang ke rumah Tuhan tetapi ribut dengan diri sendiri tentu saja kita tidak akan merasa sukacita. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat bertemu dengan Tuhan. Pemahaman dan semangat seperti inilah yang harusnya muncul ketika kita datang beribadah kepada Tuhan.

2. Allah adalah Penebus

Manusia adalah ciptaan-Nya berarti manusia milik kepunyaan-Nya namun manusia telah jatuh ke dalam dosa sehingga kita tidak lagi jadi milik kepunyaan Tuhan tetapi kita jadi milik iblis. Kristus datang dari sorga mulia, mati dan menggantikan kita manusia berdosa sehingga hubungan manusia yang terputus dipulihkan kembali sehingga sekarang, kita menjadi milik Tuhan kembali. Hal inilah yang seharusnya menjadikan kita bersukacita karena kita yang binasa, kini diselamatkan kembali dan kita bisa dimungkinkan kembali datang dan berada dalam rumah-Nya.

3. Allah adalah Pemelihara

Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya (Mzm. 100:3). Betapa indah Firman-Nya, Dia tidak hanya hanya mencipta dan menebus tetapi Dia juga memelihara hidup kita. Tuhan adalah gembala yang agung yang menuntun hidup kita ke padang yang berumput hijau, Dia membawa kita ke air yang tenang. Dia memelihara sehingga hidup kita menjadi tenang dan merasakan kenikmatan berada dalam pelukan-Nya. Hari ini begitu banyak orang yang ketakutan, paranoid; mereka takut mati. Hal ini disebabkan karena mereka tidak punya Tuhan, mereka tidak pernah tahu kalau ada Tuhan yang memelihara dan betapa indah hidup berada dalam pemeliharaan-Nya. Sejauh kita taat pada Sang Gembala maka Dia tidak akan membiarkan kita tersesat ataupun celaka. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita? Tidak ada! Kristus Yesus adalah Gembala yang baik. Hal inilah yang harusnya menjadikan kita merasa sukacita.

Hari ini, ibadah tidak lagi disandarkan pada penciptaan, penebusan, dan pemeliharaan tapi orang memakai semangat emosi. Kalau ibadah itu hanya untuk memuaskan keinginan kita maka kita tidak akan pernah merasakan sukacita sejati. Banyak gereja yang melakukan segala cara untuk menyenangkan jemaat tapi semua itu hanyalah sukacita semu. Tuhan Allah sebagai pencipta, penebus dan pemelihara maka ketiga hal ini menjadi dasar yang hakiki, ontologism tidak dapat diganggu gugat untuk kita bersukacita dalam ibadah. Namun kalau hanya karena ketiga hal ini maka lama kelamaan kita akan menjadi bosan tapi ada alasan lain yang membuat kita bersukacita dalam ibadah: 

II. ALASAN PRAKTIS

1. Allah itu Baik

Karakter baik itu barulah bernilai kalau direlasikan dengan suatu obyek. Demikian pula halnya dengan karakter yang lain seperti: kasih, setia, adil dan lain-lain. Tuhan itu baik itu merupakan karakter asli Allah. Banyak hal kita tidak mengerti akan kebaikan Allah khususnya ketika kita berada dalam kesulitan dan penderitaan maka orang akan bertanya dimanakah kebaikan Tuhan? Marilah kita renungkan dalam kehidupan kita sehari-hari bahwasanya Tuhan itu baik atas kita tetapi orang seringkali menganggap remeh hal-hal yang kelihatan kecil dan remeh. Sebagai pengalaman pribadi, saya merasakan kebaikan Tuhan dalam perjalanan saya di Amerika dan selama berada di sana. Mulai dari airport dimana harus menghadapi pihak imigrasi, cuaca dingin dan Tuhan juga mengirimkan seseorang untuk membantu ketika harus melakukan beberapa hal penting. Tuhan bekerja tepat pada waktu-Nya dan Dia itu baik.Kebaikan Tuhan itu tidak bersifat kondisional, hari ini baik dan besok jahat. Tidak! Tuhan itu baik karena esensi itu menjadikan kita bersukacita.

2. Allah itu Kasih Setia

Tuhan itu baik dan kasih setia-Nya sangatlah luar biasa. Kalau hanya baik tapi tidak setia maka itu sama dengan bohong. Kasih setia-Nya kekal, tidak berubah; Dia tetap baik meski kita berulang kali menyakiti Dia. Kasih setia-Nya terus memimpin langkah hidup kita, kasih setia-Nya terus mengampuni, kasih setia-Nya senantiasa memelihara hidup kita. Tuhan juga tidak menuntut balas apapun dari kita atas kebaikan yang Dia berikan. Berbeda halnya dengan iblis, ketika dia memberi maka ia pasti akan menuntut suatu balasan. Adalah konsep yang salah bahwa dosaku banyak maka aku tidak ke gereja. Salah! Tidak datang beribadah justru akan membuat kita makin tersesat. Tuhan ingin kita semakin dekat pada-Nya kasih setia-Nya terus mengampuni kita. Hal ini menjadikan kita bersukacita dalam ibadah. 

3. Allah itu Setia

Tuhan tidak pernah berubah. Tuhan tidak dapat melanggar natur-Nya sendiri. Dia tetap setia meski kita tidak setia; Dia tetap baik meski kita seringkali melawan Dia. Bayangkan kalau Tuhan selalu berubah, hari ini baik tapi besok tidak baik atau hari ini sukacita tetapi besok sedih maka dapatlah dipastikan seluruh relasi kita dengan sesama akan menjadi buruk, setiap orang akan saling curiga. Tuhan itu kekal, Dia tidak dapat digeser oleh apapun. Hal ini menjadikan kita bersukacita karena kita mempunyai jaminan hidup di dalam Dia dan menjadikan kita setiap hari disegarkan ketika datang beribadah kepada Tuhan. 

Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah dengan nyanyian sykur ke dalam pelatarannya dengan nyanyian pujian; bersyukurlah pada-Nya dan pujilah nama-Nya, sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya dan tetap turun murun. Pertanyaannya ketika kita datang ke dalam Rumah Tuhan hal apa yang kita lakukan?  Marilah kita evaluasi ibadah kita, ketika kita datang ke hadapan Tuhan, apa yang kita bawa di hadapan-Nya? Ataukah kita hanya datang sekedar rutinitas belaka? Setiap ibadah melihat unsur pencipta dan ciptaan, antara pemilik dan yang dimiliki, antara pemelihara dengan yang dipelihara. Ibadah itu menjadikan iman kita diperkaya, makin lama makin berakar kuat. Kehidupan ibadah akan mempengaruhi seluruh hidup kita. Kiranya Firman Tuhan ini menyadarkan kita kembali akan indahnya ibadah dengan demikian kita merasakan sukacita dan menikmati Dia ketika kita berada dalam rumah Tuhan.  Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080210.htm

Eksposisi Amos 3:1-2; 7:10-12; 9:11-15: THE OTHER SIDE OF PROVIDENCE OF GOD (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

April 21st, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 13 Januari 2008

The Other Side of Providence of God

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Amos 3:1-2; 7:10-12; 9:11-15

Sebelumnya kita telah memahami bahwa di tengah dunia ini ada dua pertentangan besar, yakni antroposentris, sekelompok orang yang hanya berpusat pada diri, human centre dan sekelompok orang yang mau kembali pada Tuhan, God centre. Seorang anak Tuhan sejati haruslah hidup setia dan taat pimpinan Tuhan. Alangkah indah hidup berada di dalam pimpinan Tuhan namun ironis, di satu sisi orang sadar perlu dipimpin Tuhan tapi di sisi lain, orang tidak mau dipimpin Tuhan karena cara Tuhan dirasakan tidak cocok dengan kemauannya. Allah adalah Allah yang berdaulat, manusialah yang harusnya taat bukan sebaliknya. Allah yang berdaulat tidak akan membiarkan anak-anak-Nya berjalan sendiri, Ia pasti memimpin dan memelihara setiap anak-anak-Nya. Pemeliharaan Allah tidak diberikan kepada semua orang tapi pemeliharaan Allah hanya diberikan pada anak Tuhan yang mau hidup taat pada-Nya. Hari ini kita akan merenungkan the other side of providence of God dengan demikian kita tidak salah dan dapat berespon dengan tepat.

Kita berada di tengah dunia yang humanis dan materialis; berbagai cara dilakukan supaya bisa menjadi berkuasa dan sukses. Perhatikan, manusia tidak dicipta sebagai penguasa tunggal dan berada di posisi paling atas, ultimate position. Tidak! Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas dan lemah, manusia dicipta sebagai makhluk yang bergantung mutlak, dependent: 1) orang yang berada di posisi atas justru menjadikan seseorang tidak dapat hidup nyaman, ia selalu dihantui rasa ketakutan, takut kehilangan posisi. Pada saat itu, orang menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung dan selalu curiga pada orang lain khususnya mereka yang mempunyai potensi lebih dari dirinya. Orang saling menjatuhkan antara satu dengan yang lain dan hal ini banyak terjadi di profesi apa pun dan dimana pun. Berbagai cara dilakukan demi mempertahankan dan mendapatkan kekuasaan dan kekayaan, 2) orang yang selalu gagal, ia akan menjadi sangat sensitif dan mudah marah apalagi ketika ia melihat orang-orang dekat di sekelilingnya berhasil; orang seperti ini tidak dapat menerima realita, 3) orang yang berada di posisi post power syndrom, orang yang memasuki usia sekitar  50 tahun ke atas. Semangat tinggi ingin mengerjakan banyak hal tetapi tenaga kurang maka ketika ada orang lain yang lebih mudah menolongnya, ia akan sangat sensitif dan marah. Semua ini cuma membuktikan kelemahan manusia dan manusia membutuhkan Tuhan namun orang tidak mau mengakui kelemahannya. Tanpa sadar orang telah membangun antroposentric position. 

Kitab Amos membukakan akan pemeliharaan Allah yang tidak tiada henti khususnya pada umat-Nya. Allah yang menuntun bangsa Israel keluar dari tanah Mesir (Am. 3:1). Allahlah yang menuntun mereka keluar, Allahlah yang berperang melawan bangsa Mesir, Allahlah yang menghancurkan bangsa Mesir, dan Allahlah yang menuntun mereka sampai tanah Kanaan. Jadi, bukan karena hebat dan gagahnya bangsa Israel tapi semua itu semata-mata karena Tuhan yang memelihara dan menolong mereka. Manusia dicipta sangat lemah yang harus bergantung pada oknum yang lain. Sedari bayi, kita perlu orang lain yang merawat dan memelihara kita. Bukan hanya secara fisik kita membutuhkan orang lain tetapi secara rohani, kita butuh Tuhan yang memimpin langkah hidup kita dan Tuhan menegaskan: “Aku akan menuntun engkau.” Pertanyaannya adalah maukah kita dipimpin dan berada dalam pemeliharaan Allah?   

Perhatikan Firman Tuhan yang mengatakan: “Hanya kamu yang Kukenal…” (Am. 3:2) disini kita merasakan betapa indah dan luar biasa, diantara berjuta-juta umat manusia, Tuhan hanya mengenal satu bangsa. Inilah providensia Allah. Tuhan hanya mengenal anak-anak-Nya saja termasuk anda dan saya. Siapakah kita sehingga Tuhan mau memilih, memanggil dan memakai kita menjadi anak-Nya? Hebatkah kita? Tidak! Pandaikah kita? Tidak! Kayakah kita? Tidak! Di luar sana masih banyak orang yang lebih hebat, lebih pandai, lebih kaya, lebih segala-galanya dari kita. Kita tidak lebih hanyalah seorang pemberontak yang selalu melawan Tuhan. Lalu mengapa Tuhan memilih kita? Why have You chosen me?  JawabanNya hanya satu, yakni semua hanya karena anugerah-Nya. Tuhan begitu mengasihi kita sehingga Dia mengenal kita secara pribadi. Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia memelihara kita seperti biji mata-Nya; Tuhan menjaga, memelihara, memimpin setiap anak-Nya. Namun ironis, kita melihat bagaimana respon bangsa Israel? Mereka tidak suka berada dalam anugerah dan dipimpin oleh Tuhan sebaliknya mereka melawan Tuhan. Inilah sifat manusia berdosa yang selalu ingin memimpin dan tidak mau dipimpin. Manusia berdosa ingin Tuhan yang harusnya menurut padanya. Tidak! Allah adalah Allah yang berdaulat, kita yang seharusnya tunduk pada-Nya. Cara Allah memimpin tidaklah sama seperti yang kita pikirkan. 

Pertama, Sepintas orang membaca Amos 3:2 akan merasa jengkel dan kesal, disana tertulis: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” Setelah kalimat positif di bawahnya muncul kalimat negatif; Tuhan mengenal kita tetapi Tuhan menghukum. Inilah konsep berpikir manusia berdosa. Manusia berdosa ingin kalau Tuhan benar memelihara maka Tuhan harus menuruti semua keinginannya. Tidak! Itu bukan sayang tetapi justru akan membunuh kita. Orang tua yang baik dan mengasihi anaknya tidak akan menuruti semua keinginan si anak. Orang tua yang baik tahu bagaimana mengarahkan hidup si anak supaya tidak salah. Tapi jika anak tidak mau balik, ia harus pukul si anak. Kenapa? Karena kasihnya, dia ingin si anak hidup baik dan benar.

Karena Tuhan kenal kita maka Ia menghukum kesalahan kita. Ini providensia Allah. Seringkali kita mau Tuhan memelihara menurut cara kita. Ketika Tuhan mendidik dan menghukum kita karena perbuatan dosa, orang tidak berterima kasih dan kembali pada Tuhan malah sebaliknya, orang pergi meninggalkan Tuhan. Itulah kecelakaan fatal bagi kita. Tuhan Allah adalah Tuhan yang melampaui semua bijaksana yang ada di muka bumi. Tuhan ingin supaya anak-anak-Nya kembali pada-Nya dan hidup benar. Tuhan berkali-kali memperingatkan mereka, Tuhan kirim nabi untuk menegur mereka dan bertobat tapi mereka justru menganiaya bahkan membunuhnya. Tuhan memukul bangsa Israel dengan sangat keras, Tuhan membuang bangsa Israel. Kalau dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana Tuhan menghukum bangsa Israel secara langsung maka hari ini, Tuhan telah memberikan Firman-Nya lengkap maka Tuhan ingin supaya kita menjadi lebih dewasa. 

Tuhan menegaskan justru karena kita anak maka Ia menghajar dan menyesah kita sebaliknya kalau Tuhan tidak menghukum kita ketika kita berbuat dosa berarti kita anak haram (Ibr.12:5-7). Kalau Tuhan tidak menegur ketika kita melakukan kesalahan maka hati-hati, itu berarti titik matinya kita. Seorang Bapa yang sayang anak-Nya maka Ia menegur bahkan menghukum ketika anak-Nya melakukan kesalahan, sebab Dia ingin kita hidup dalam kebenaran. Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa ketika kita sakit, dokter masih berusaha keras menyembuhkan kita dengan obat pahit, suntik atau operasi maka berbahagialah kita sebab itu berarti masih ada harapan untuk sembuh tapi kalau dokter membebaskan kita melakukan apa saja dan makan apa saja berarti waktu kita tidak banyak. Ingat, kalau Tuhan mendidik itu bukan berarti Ia tidak sayang. Tidak! Justru kita harusnya bersyukur sebab Tuhan masih sayang pada kita, Ia ingin kita hidup dalam kebenaran. 

Kedua, Di tengah bangsa Israel yang jahat dan menyembah berhala, Tuhan masih memeliharakan Amos, seorang yang setia. Tuhan memakai Amos untuk memperingatkan bangsa Israel supaya bertobat. Perbuatan Amos tersebut membuat Imam Amazia marah, merasa terancam kedudukannya sebagai imam maka Amazia dengan licik memfitnah Amos di depan Raja Yerobeam dengan mengatakan bahwa Amos dan komplotannya akan memberontak dan Yerobeam akan mati dengan pedang. Yerobeam tidak bisa berpikir jernih, bagaimana mungkin Amos seorang peternak biasa dapat bersekongkol dan memberontak? Yerobeam takut kedudukannya terancam maka ia pun mengusir Amos ke Yehuda. Inilah sisi lain pemeliharaan Allah. Seorang yang taat tapi Tuhan biarkan ia menderita. Cara Tuhan berbeda dengan cara dunia. Dunia akan berpikir bahwa seorang yang taat harusnya tidak dibiarkan menderita, Allah seharusnya menghukum Amazia dan Yerobeam dengan keras tapi Tuhan justru sebaliknya, Ia membiarkan Amos dalam penderitaan. Iman Kristen bukanlah iman yang memanjakan. Namun Alkitab mencatat Amos bukanlah sebagai pihak yang kalah sebaliknya saat dimana Yerobeam mengindahkan peringatan Amos maka itulah titik kehancurannya. Tuhan memberikan bangsa Israel ke tangan bangsa Asyur. Seandainya, Amos tidak diusir keluar dari Israel, ia akah hancur karena serbuan asyur. Lihat, inilah cara Tuhan memelihara anak-Nya yang taat dan setia pada-Nya. Tuhan menginginkan kualitas. 

Kualitas seseorang barulah terlihat ketika ia diuji, ia tetap setia pada kebenaran seberat apapun ujian tersebut. Inilah kualitas iman Kristen. Seperti halnya, seorang anak, orang tua yang baik memeliharakan hidupnya dan menyekolahkannya dan ia harus melewati ujian untuk mencapai jenjang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Tokoh iman yang lain adalah Ayub, ia tetap setia meski menderita. Hidup Kekristenan bukanlah hidup yang lancar dan nyaman. Tidak! Tuhan memelihara berarti kita harus melewati ujian dan tantangan; semua itu dimaksudkan untuk mempertumbuhkan iman kita. Tuhan mau kita jadi orang berkualitas. Pertanyaannya adalah relakah hidup kita dipimpin oleh Tuhan masuk dalam ujian? Hendaklah kita bersetia dalam kebenaran Tuhan, percayalah Tuhan mengenal setiap kita, Dia memelihara hidup anak-anak-Nya, Ia akan beserta dengan kita melewati segala tantangan dan pada akhirnya, kita menunjukkan kualitas indah, show up our quality. Inilah iman sejati. 

Ketiga, Pemeliharaan Tuhan tidak bersifat fragmental atau kepingan-kepingan. Iman reformed mengajarkan bahwa segala sesuatu haruslah dilihat secara keseluruhan, yakni konsep CRFC: Creation, Fall, Redemption, Consummation. Tuhan menegaskan Tuhan akan memulihkan sampai pada kesempurnaan pada hari terakhir. Apa yang kita pikir tidak mungkin, yang hancur berantakan akan Tuhan sempurnakan (Am. 9). Sejarah tidak berhenti di penciptaan (creation), kejatuhan (fall) atau penebusan (redemption) tapi berhenti di penyempurnaan akhir (consummation). Secara makro kosmik kita melihat dari konsep CRFC, tetapi secara mikro kosmik, Tuhan memimpin hidup keseluruhan kita. Providensia Allah itu berjalan total pada ketuntasan total. Perhatikan bagaimana Tuhan memimpin bangsa Israel sampai pada kesudahan (Am. 9:11-15). 

Hat-hati iblis berusaha memutar konsep Firman dan hal ini mulai nampak pada beberapa film yang selalu diakhiri dengan kejahatan sebagai pemenang. Inilah yang menjadi teriakan dunia berdosa yang tidak ada pengharapan. Sebagai anak Tuhan sejati, kita harus mewartakan bahwa dalam Tuhan Yesus ada pengharapan sejati. Kalau Tuhan membiarkan kita berada dalam penderitaan, bukan berarti Tuhan tidak cinta. Salah! Justru sebaliknya, Tuhan punya maksud dan tujuan indah ketika Ia mencipta kita. Tuhan mencipta manusia sebagai mahkota ciptaan-Nya dan sebagai wakil kemuliaan Dia. Kemuliaan Tuhan yang agung merupakan konsumasi akhir. Janganlah melihat kekinian tapi lihatlah perjalanan sampai pada akhir. Jangan hanya melihat kepingan-kepingan dan menafsirnya dengan konsep manusia berdosa. Kita harus melihat secara keseluruhan dan totalitas, disana kita melihat rencana Allah yang indah atas hidup kita. Itulah iman sejati.

Diantara berjuta-juta umat di dunia sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan memilih dan memanggil kita menjadi anak-Nya. Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia berkenan memeliharakan hidup kita; Dia akan memimpin setiap langkah kita sampai pada titik akhir, kesempurnaan. Alangkah indah hidup berada dalam pemeliharaan Tuhan. Maukah kita hidup dalam pemeliharaan Allah? Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber: http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080113.htm

Eksposisi Amos 2:4-16; 5:4: GOD AND MAN (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

April 15th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 6 Januari 2008

God and Man

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Amos 2:4-16; 5:4

Menapaki tahun 2008, tahun yang baru bukanlah semakin bertambah baik. Hari-hari pertama tahun 2008, kita telah diterpa dengan berbagai bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, kecelakaan pesawat, dan lain-lain. Berbagai bencana yang terjadi ini seharusnya menyadarkan siapakah kita manusia? Manusia adalah makhluk yang rentan, tidak berdaya bahkan untuk menghadapi alam pun, manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Namun ironis, manusia begitu sombong, merasa diri dapat mengatur segala sesuatu sendiri dengan kekuatannya sendiri; manusia ingin menjadi Tuhan yang berkuasa atas segala aspek. Dengan segala cara, dunia berusaha menunjukkan kekuatan dirinya namun sepandai-pandainya manusia, sekuat-kuatnya manusia, sebesar apapun kekuasaannya tetaplah tak berdaya ketika menghadapi kebesaran alam. Sebagai contoh, apa yang bisa dilakukan manusia ketika ia berada dalam pesawat terbang di udara? Cobalah pikir, kekuatan manusia yang manakah dan kepandaian manusia seperti apakah yang bisa menghentikan alam ketika ia harus berhadapan dengan alam? Tuhan berulang kali memperingatkan kepada manusia bahwa manusia bukanlah siapa-siapa; manusia hanyalah ciptaan dan Allah adalah Sang Pencipta, Ia pemilik hidup kita dan Allah menuntut keadilan dan pertanggungjawaban dari manusia. 

Kitab Amos membukakan pada kita suatu realita, yakni manusia hidup berada dalam dua ketegangan, between God and Man. Kitab Amos pada pasalnya yang pertama dan kedua membukakan tentang perbuatan jahat yang dilakukan manusia-manusia yang merasa diri hebat. “Karena tiga perbuatan jahat Israel bahkan empat…” ungkapan ini biasa dipakai dalam Perjanjian Lama untuk membangun struktur superlative, menunjukkan betapa banyak perbuatan yang telah dilakukan. Amos bukanlah seorang pejabat atau seorang nabi atau seorang imam yang mempunyai kedudukan di Bait Allah. Tidak! Amos hanyalah seorang peternak dan seorang pemungut buah ara, ia sangat sederhana namun Tuhan berkenan memakai dia untuk menegur dua orang raja besar, yakni Raja Yerobeam II, Raja Israel dan Raja Uzia atau disebut juga Azaria, Raja Yehuda. Pada masa pemerintahan Yerobeam II, bangsa Israel berada di atas puncak kejayaan. Raja Yerobeam II adalah seorang raja yang kejam dan sangat berkuasa (2Raj. 14, 2Taw. 6). Raja Uzia adalah seorang raja yang sepertinya “baik,” ia menghapuskan seluruh berhala dan berusaha hidup benar di hadapan Tuhan namun dalam perjalanannya ternyata ada motivasi jahat di balik perbuatannya. Namun pada masa pemerintahan mereka, para pejabat hidup penuh dengan berkelimpahan dan rusak moral; mereka merasa diri hebat dan berjaya, siapapun yang tidak sejalan dengan mereka ditindak dan dihabisi; mereka menggunakan kekuasaan untuk berbuat amoral, (Am. 2:6-8). Adalah Amos, seorang yang sangat sederhana berteriak keras dan memperingatkan bangsa Israel dan Yehuda. Namun semua peringatan keras Amos tidak digubris bahkan mereka semakin ingin menunjukan kekuatan. 

I. Dunia Berdosa

Kondisi yang sama juga persis terjadi di abad modern sekarang ini, dimana yang kuat menindas yang lemah, orang menggunakan kekuasaan dengan semena-mena demi untuk keuntungan diri sendiri. Inilah dunia berdosa. Di tengah-tengah kondisi demikian ini, ada seorang yang berkuasa besar datang ke tengah dunia berdosa dan Ia memakai kuasa-Nya demi untuk menjadi berkat bagi banyak orang; dengan kuasanya itu, Ia mengorbankan diri-Nya demi menghidupkan orang lain sementara diri-Nya sendiri dihancurkan. Dialah Yesus Kristus. Dunia hanya tahu menggunakan kuasa demi kepentingan diri. Think it and get it, create your own reality, inilah yang diteriakan oleh dunia. Tuhan memakai Amos, seorang yang biasa untuk meneriakkan kuasa besar untuk mempermalukan orang yang berkuasa besar. Di tengah jaman berdosa ini, gejala seperti apa yang kita perlukan? Suara seperti apakah yang kita perlukan? Apakah mata kita hanya terpaku ke dalam situasi dunia yang menginginkan cara berdosa lalu menjalankan sistim berdosa dan mengembangkan ego  dosa, mencari kenikmatan diri yang berdosa lalu menjadikan diri sebagai “Tuhan”? Ataukah manusia mau bertobat dan kembali pada Tuhan Yesus yang sejati? Ingat, Allah adalah Allah yang berdaulat. Apa yang dikatakan Amos benar-benar terjadi – 40 tahun kemudian bangsa Asyur datang menghancurkan seluruh bangsa Israel, Babel datang menghancurkan bangsa Yehuda. Manusia boleh merasa diri hebat tetapi kalau Tuhan sudah berkehendak maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Hal ini membuktikan satu hal, manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Manusia bukanlah makhluk independen, yang tidak bergantung pada siapapun. Tidak! Dan manusia juga bukan makhluk yang dicipta di titik paling atas, ultimate being. Tidak! Manusia dicipta sebagai makhluk dependent, bergantung mutlak pada Allah; manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah, man is created according to image of God.  Tuhan mencipta kita sebagai makhluk yang teragung, menjadi tuan atas seluruh makhluk ciptaan, manusia adalah wakil Allah untuk mengelola seluruh alam ciptaan untuk memelihara dan mengusahakan alam semesta. Manusia adalah cermin dari bijaksana Allah dan otoritas Allah di tengah dunia namun adalah iblis, malaikat yang ingin menjadi Allah, pemberontak itu kini berusaha menjatuhkan manusia supaya manusia jatuh dalam dosa. Sejarah kejatuhan pun terjadi, FALL, manusia jatuh dari naturnya yang sejati. Manusia mau menjadi sama seperti Allah. Iblis telah sukses membujuk manusia menjadi pemberontak dan pelawan Tuhan. Inilah mulainya kehancuran manusia, ketika manusia memuncakkan dirinya dan ingin setara dengan Allah. Celakanya, manusia tidak menjadi setara sebaliknya, manusia malah jatuh ke tempat yang paling rendah, yakni di bawah iblis. Sebelum kejatuhan, ordo yang benar adalah: Allah – manusia – malaikat – alam. Malaikat dicipta untuk melayani Allah dan manusia tetapi malaikat itu talah jatuh maka Allah membuangnya ke tempat paling rendah, yakni di bawah alam maka sekarang ordo menjadi Allah – manusia – alam – malaikat yang jatuh (iblis) dan sekarang manusia jatuh dalam dosa, ia lebih taat iblis berarti manusia berada di tempat yang paling rendah. Maka tidaklah heran kalau manusia begitu takut pada iblis dari pada Tuhan bahkan terhadap alam pun, manusia tidak berdaya, manusia harus takluk terhadap alam.

Sebelum kejatuhan manusia dalam dosa, relasi yang tercipta antara ciptaan dalam taman Eden sungguh indah namun setelah kejatuhan, seluruh relasi menjadi rusak total. Sifat dosa manusia sudah membawa kehancuran, kerusakan tidak hanya pada diri manusia saja tetapi seluruh lingkungan. Semakin manusia makin menyatakan hidup berdosa maka ia makin terbuang. Hanya ada satu jalan keluar supaya relasi manusia dapat dipulihkan, yakni ”Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” Tidak ada jalan lain kecuali manusia merendahkan diri di hadapan Tuhan, mengaku diri sebagai manusia berdosa. Janganlah tertipu dengan segala kuasa atau tipuan dunia yang menawarkan kenikmatan semu dan berakhir pada  kebinasaan kekal. Ingatlah, semua kenikmatan itu tidaklah berarti dibandingkan dengan nyawa kita. Apalah artinya kita mendapatkan seluruh dunia kalau kita kehilangan nyawa kita? Pertanyaannya sekarang adalah apa arti hidupmu? Dimanakah engkau meletakkan nilai hidupmu? Realita inilah yang ingin dibukakan oleh Tuhan dengan demikian kita tidak mudah tertipu atau terbujuk dengan segala macam godaan iblis.   

II. Dua Arah Kehidupan

Setelah orang disadarkan untuk keluar dari sikap berdosa, dan orang Kristen dipanggil untuk menjadi terang di tengah dunia berdosa maka orang pun mulai berpikir untuk menjadi mayoritas. Dengan menjadi mayoritas berarti Kekristenan akan menjadi kuat karena kita mendapatkan dukungan dari banyak orang. Pikiran yang salah! Jangan pernah berpikir Kekristenan akan menjadi mayoritas. Tidak! Kekristenan sejati akan selalu menjadi minoritas. Dalam suatu pembicaraan tentang topik “Dunia dan Peranan Orang Kristen,” salah seorang berpendapat bahwa orang Kristen harus mempengaruhi dunia dan dunia menjadi Kristen. Perhatikan, pendapat itu tidak salah, memang, orang Kristen dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia tetapi Tuhan tidak memanggil kita untuk merubah dunia. Jangan pernah bermimpi untuk menjadikan Kristen sebagai mayoritas sebab justru ketika Kekristenan menjadi mayoritas maka Kekristenan tidak lagi menjadi Kristen. Tuhan tidak pernah menciptakan Kekristenan menjadi mayoritas. Kekristenan sejati selalu minoritas dimanapun juga. Ingat, jalan yang lebar dan bebas hambatan, ujungnya adalah maut sebaliknya, Alkitab menyatakan Kekristenan itu jalannya sempit, hanya sedikit yang bisa masuk. Firman Tuhan menegaskan banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. 

Adalah pandangan yang salah bahwa semua yang mayoritas akan menjadikan hidup lebih sejahtera dan nyaman. Salah! Mayoritas justru menjadi titik kehancuran bagi Kekristenan. Namun satu hal yang Pdt. Stephen Tong tegaskan dan menjadi prinsip penting dalam Kekristenan adalah bagaimana kita menjadikan diri kita yang minoritas di dalam mayoritas, minority in majority. Minoritas itu bukanlah minoritas yang egois tetapi minoritas itu harus menjadi berkat, minoritas harus hidup dalam kebenaran maka minoritas itu akan dicintai, dibela oleh banyak orang. Meski minoritas tetapi ketika kita menyatakan terang sejati dan rela berkorban untuk banyak orang maka minoritas ini akan menjadi milik mayoritas dan mayoritas tidak akan rela ketika minoritas ini disakiti dan dibuang. Di satu sisi minoritas dibenci banyak orang tetapi di sisi lain, minoritas ini juga dikasihi oleh banyak orang. Inilah paradoks. Namun perhatikan, meskipun minoritas ini dikasihi oleh mayoritas bahkan telah menjadi teladan bagi mayoritas tetapi minoritas ini tidak akan pernah menjadi mayoritas. Minoritas tetaplah minoritas dan mayoritas akan tetap menjadi mayoritas. Hal ini disebakan karena di dalam minoritas ada kualitas yang tidak didapati dalam diri mayoritas. Amos adalah salah satu minoritas dan hidup sebagai minoritas tidaklah mudah, kita harus menanggalkan segala egoisme kita. Itulah sebabnya ketika Tuhan meminta pada seorang muda yang kaya untuk menjual seluruh hartanya, ia langsung pergi meninggalkan Tuhan Yesus karena hartanya banyak. Tuhan menuntut adanya kualitas. Tuhan memerintahkan kepada setiap kita untuk mencari Dia. Mencari Tuhan bukanlah hal yang sederhana sebab itu berarti kita harus menanggalkan segala egoisme, menanggalkan dosa dan  hidup dalam kebenaran maka pada saat itu, mayoritas akan melihat kita berbeda dan kita pun menjadi minoritas. Minoritas mendapat anugerah, yaitu anugerah keselamatan; minoritas akan mendapatkan hidup sedangkan mayoritas akan hancur dalam kebinasaan kekal. 

Perjalanan sejarah akan berakhir pada suatu titik kiamat. Kiamat adalah kehancuran global seluruh alam semesta, itulah titik puncak dari egoisme manusia. Memasuki era globalisasi sekarang ini sangatlah menakutkan,  tidak ada lagi batas persaingan, setiap orang berjuang dengan sekuat tenaga, siapa kuat, dialah yang akan bertahan dan menang. Salah tokoh evolusionis, Sir Julian Huxley  mengungkapkan survival of the fittest akan makin nyata di dunia modern sekarang ini dan siap atau tidak kita harus menghadapi persaingan itu karena saat ini kita sudah berada di dalamnya. Dunia semakin hari semakin merosot, decline sementara pada saat yang sama ada sekelompok kecil yang mengarah ke atas, incline, yakni sekelompok anak Tuhan yang hidup mencari Tuhan, hidup dalam kebenaran. Antara yang decline dan incline terdapat kesenjangan, gap yang semakin besar. Anak Tuhan dituntut untuk berkorban dan menjadi berkat bagi banyak orang di dunia yang semakin decline. Sepintas, Amos berada di pihak yang kalah sedang para penguasa hari itu sebagai pihak yang menang. Namun Alkitab mencatat, Amos keluar sebagai pihak yang menang sedang Raja Yerobeam II dan Raja Uzia dikalahkan. Inilah realita dunia, semua kekuasaan dunia seperti debu yang hilang lenyap sebaliknya orang yang mencari Tuhan dan berjalan bersama Tuhan akan keluar sebagai pemenang. Pertanyaannya adalah dimanakah posisi kita? Jalur manakah yang kita ambil? Jalan lebar ataukah jalan sempit? Hari ini  kalau kita diberi kesempatan untuk mencari Tuhan maka jangan buang kesempatan ini. Perhatikan, Tuhan yang membukakan semua kemungkinan, bukan karena kehebatan kita kalau kita dapat bertemu dengan Tuhan, tetapi semata-mata karena Tuhanlah yang memberikan anugerah kepada kita. Selama Tuhan masih berkenan membukakan diri-Nya pada kita maka janganlah sia-siakan anugerah itu. Celakalah hidup kita kalau kita melewatkan anugerah Tuhan yang begitu indah. 

III. Hidup Mencari Tuhan

Tuhan menegaskan “Carilah Aku maka engkau akan hidup” dibalik kalimat ini ada suatu keagungan, menggambarkan seluruh esensi dari hati yang mencari Tuhan. Raja Yerobeam adalah seorang raja yang jahat dan kejam. Sepintas, Raja Uzia adalah seorang Raja yang sangat baik, ia menjadi raja di umur 16 tahun dan pertama kali, ia naik menjadi raja, ia menghancurkan seluruh penyembahan berhala. Namun apa yang dikerjakan oleh Uzia ini tidak keluar dari hati yang terdalam. Ingat, Tuhan bukan melihat fenomena, ia menelusur sampai ke dalam hati manusia. Kalau Yerobeam lebih memilih hidup dalam jalan iblis dan berakhir dengan kebinasaan maka Uzia memilih hidup di jalan Tuhan, menyenangkan Tuhan tetapi ada motivasi jahat di balik semua itu, Uzia memanipulasi Tuhan. Disini kita dibukakan tentang dua macam orang yang sama-sama berpusat pada diri, yakni Yerobeam yang duniawi dan Uzia yang sepertinya rohani tetapi sangat duniawi. Alkitab mencatat ternyata tidak semua berhala dihancurkan oleh Uzia. Hal yang sama terjadi di pemerintahan Indonesia, sepintas pemerintahan ini sangat baik, semua itu hanya menyentuh di kalangan bawah saja tetapi tidak para koruptor yang di kalangan atas. 

Uzia membawa ukupan ke dalam Bait Allah, ia ingin mempunyai kekuasaan secara rohani maka pada saat itu para imam memperingatkan kesalahan Uzia tetapi Uzia malah marah dan menghantamkan bokor membara yang ada di tangannya. Tuhan murka, pada saat yang sama Uzia kusta dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia diusir dan turun dari tahta. Jangan pikir Tuhan dapat dipermainkan. Secara fenomena, kita sepertinya beribadah, sepertinya kita ingin menyenangkan hati Tuhan tetapi ada motivasi lain di balik itu. Ingat, Tuhan tidak bisa ditipu. Tuhan jijik pada ibadah yang dilakukan bangsa Israel karena semua ibadah yang mereka lakukan tidak lebih hanyalah ibadah palsu belaka, yang hanya mencari kenikmatan diri. Hidup sejati adalah hidup kembali pada Tuhan yang sejati, Dia adalah pemilik seluruh hidup. Hendaklah kita hidup setia dan taat pada-Nya maka kita akan hidup. Celakalah hidup kita kalau kita menghinakan Dia, melecehkan Dia, memanipulasi Dia maka hidup kita akan berakhir pada kebinasaan kekal. Menapaki tahun 2008, hendaklah kita mengevaluasi hidup kita, sudahkah kita mencari Tuhan? Apakah seluruh konsep berpikir kita yang duniawi selama ini mau diubahkan seturut dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan? Maukah hidup kita dibentuk oleh Tuhan? Relakah hidup kita dituntun oleh Tuhan? Biarlah ”menyenangkah hati Tuhan” itu motivasi hidup kita dalam menapaki hari-hari di tahun 2008. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2008/20080106.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Final Glory (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

April 7th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 9 Desember 2007

Messiahship of Christ: The Final Glory

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:27-28

Hari ini kita masuk pada bagian klimaks ”Kemesiasan Kristus” yang menjadi tema utama dari Injil Matius 16. Secara keseluruhan Injil Matius membukakan tentang hal Kerajaan Sorga dan titik puncaknya, Kristus Sang Mesias, Raja di atas segala raja itu hadir di tengah dunia. Namun sangatlah disayangkan, konsep Mesias yang dimengerti oleh manusia bertentangan dengan konsep Mesias yang Kristus bukakan maka tidaklah heran kalau orang kemudian memanipulasi ayat-ayat Firman Tuhan demi kenikmatan diri. Bayangkan, orang berharap mendapatkan kenikmatan ketika mereka mengikut Mesias namun berita yang keluar pertama kali dari mulut Mesias justru tentang kesengsaraan-Nya, tentu saja hal ini tidak mudah diterima oleh Petrus maupun dunia pada umumnya. 

Dunia modern yang egois dan humanis hanya menginginkan kenikmatan, tak terkecuali orang Kristen. Filsafat utilitarianisme yang dicetuskan oleh John Stuart Mill, Jeremy Bentham dan kawan-kawan telah mempengaruhi pemikiran manusia sedemikian rupa. Utilitarianisme mendualismekan antara pleasure and pain; hidup adalah kenikmatan dan penderitaan adalah kejahatan. Tuhan Yesus menegaskan setiap orang yang mau mengikut  Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku; dan pada bagian lain, Kristus juga menegaskan serigala punya liang, burung punya sarang tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala. Mengikut Kristus berarti harus melalui jalan via dolorosa dan berjalan dalam penderitaan. Dunia sulit menerima konsep ini, dunia mengajar orang untuk menjadi ambisius dan mengejar kenikmatan duniawi. Alkitab mengajarkan sebaliknya, kita harus menyangkal diri, yakni berkata ”tidak” pada apa yang menjadi keinginan kita. Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah kita menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia? Sebagai seorang Kristen sejati, kita harus taat pada Firman Tuhan, tidak menyeleweng keluar dari jalan-Nya. Memang bukanlah hal yang mudah untuk taat Firman Tuhan namun percayalah, dengan kekuatan dari Tuhan, Dia akan memampukan kita. Pertanyaannya maukah kita dipimpin oleh Dia?

Adalah mustahil kalau orang mengatakan taat Firman tetapi di sisi lain, orang justru melawan Firman. Konsep pemikiran manusia telah dicengkeram oleh berbagai filsafat dunia maka tidaklah heran kalau orang mempunyai pola pikir yang sangat humanis dan materialis. Secara moral, dunia semakin hari semakin merosot, dunia tidak mempunyai semangat juang untuk hidup. Sungguh amatlah memprihatinkan, Indonesia tidak menanamkan moralitas yang baik pada rakyatnya tetapi para pejabat justru memberikan teladan buruk bagi rakyatnya dengan memperlihatkan mentalitas pengemis. Hal ini nampak di tengah hidup bermasyarakat, mulai dari pejabat hingga anak-anak tidak ada semangat kerja keras; orang ingin mendapat nikmat tapi tidak mau bekerja keras maka cara yang mudah adalah mengemis. Orang harusnya menuntut diri untuk bekerja dengan sebaik mungkin dan menaikkan kualitas tidak hanya ribut masalah upah namun hari ini yang terjadi malah sebaliknya, orang menuntut upah besar tetapi kualitas kerja sangat buruk. Inilah wajah dunia berdosa yang rusak moral. Semua ini tidak lepas dari pendidikan yang diajarkan oleh dunia. Dunia ini tidak butuh orang pintar tapi dunia butuh orang bijaksana, orang yang dapat mempertimbangkan semua aspek dan mengambil keputusan dengan tepat, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Karenanya, Mesias datang ke dunia, Dia datang mengangkat kita dari lumpur dosa. Mesias datang untuk merombak konsep pemikiran kita yang salah untuk dikembalikan pada kebenaran sejati. Tuhan ingin membukakan pada setiap kita tentang nilai hidup yang sejati, hidup bukan mengejar materi belaka tetapi ada hal yang lebih berharga yang bersifat kekal. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita bisa menyadari akan dosa dan merubah konsep pemikiran kita yang salah, semua itu bukan karena kita tapi Tuhanlah yang berkenan memanggil kita, Dia begitu mengasihi kita yang berdosa. 

Pada bagian klimaks ini Tuhan Yesus membukakan seluruh visi Mesias yang menjadi titik final sekaligus alasan mengapa hidup harus berpusat pada kristus? Mengapa harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus? Mengapa harus rela melepas nyawa untuk Kristus? Mengapa harus mengejar kemuliaan sorgawi lebih dari kemuliaan dunia?

Merupakan kesalahan fatal dari penafsir yang menggabungkan Mat. 16:27 dan Mat. 16:28 sebagai satu kesatuan. Ayat 27 berbicara tentang akhir jaman, eskatologi sedang ayat 28 merupakan titik awal yang berbicara tentang Tuhan Yesus sebagai Raja.

Matius 16:27

Sebab anak manusia akan datang dalam kemulian Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikatnya dan pada waktu itu dia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (Mat. 16:27). Hanya Allah, pencipta alam semesta yang tahu titik final, hanya Allah satu-satunya yang bisa memberikan pernyataan secara sah dan tepat tentang keadaan akhir dunia ini. Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini dari tidak ada menjadi ada, ex nihilo namun ironis, hari ini beberapa teolog menentang hal ini. Adalah pendapat yang salah yang menyatakan bahwa segala sesuatu telah ada sebelumnya dan Allah mencipta yang lain. Tidak!

Alkitab secara jelas membukakan bahwa Allah mencipta alam semesta ini dari tidak ada menjadi ada (Kej.1). Allah adalah Alfa dan Omega, Dia adalah awal dan akhir. Namun Firman Tuhan itu coba dianulir dan direndahkan. Dunia menurunkan nilai kekekalan ke dalam kesementaraan. Tuhanlah yang menata seluruh alam semesta ini mulai dari titik alfa hingga titik omega dan di titik paling akhir adalah kemuliaan, glorious. Sesungguhnya, orang suka titik final namun orang takut ketika harus berhadapan dengan titik final maka tidaklah heran, orang berusaha keras untuk memperpanjang waktu hidup di dunia. Dunia berusaha  menghilangkan titik omega dengan berbagai teori, seperti teori unlimited yang menyatakan sejarah dunia merupakan perputaran unlimited. Tidak! Alkitab menegaskan dunia ini terbatas. 

Garis pun pasti ada titik awal dan titik akhir, tapi dunia menganulirnya dengan memberikan tanda tidak terbatas; garis itu ditarik terus mencoba sampai tidak terbatas. Dunia tidak mau titik omega maka garis itupun diputar sedemikian rupa dan orang menyebutnya reinkarnasi. Berputar terus sampai tak terbatas, unlimited. Dunia mencoba berbagai cara menghilangkan titik omega point. Matius 16:27 merupakan pernyataan yang tajam sekaligus menggetarkan – Kristus Anak Manusia itu datang dengan kemuliaan Bapa-Nya untuk menghakimi umat manusia. Tiga jabatan sekaligus ada dalam diri Kristus, yakni sebagai raja, sebagai imam, dan sebagai nabi. Kristus adalah Raja, Dialah pemegang otoritas tertinggi melakukan semua tindakan, Dia imam yang melakukan penebusan bagi setiap manusia berdosa dan mereka yang sudah menerima penebusan mendapat keselamatan, Dia adalah nabi yang membawa berita kebenaran Allah di tengah dunia. 

Ketiga hal ini merupakan tugas Mesianik yang telah Kristus kerjakan dan Dia punya hak penuh dan sah untuk menghakimi seluruh umat manusia. Hal ini menjadikan kita memiliki kekuatan hidup di tengah dunia yang rusak ini karena kita memandang pada Kristus, hakim yang agung maka seluruh perjalanan hidup kita menjadi perjalanan yang berarti. Menyadari adanya titik omega menentukan setiap langkah hidup kita sehingga hidup itu tidak dibuang dengan sia-sia sebab kita tahu sekarang nilai hidup kita, yakni mengejar hal-hal yang bernilai kekekalan. Karena itu, sadarlah dan mulai hari ini janganlah sia-siakan hidupmu. Raja Salomo, seorang yang dikarunia bijaksana, seorang yang sukses menyatakan semuanya adalah kesia-siaan. Sebelum terlambat, bertobatlah dan kembali pada Kristus; hidup taat pada pimpinan-Nya, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus maka disana kita akan merasakan hidup itu tidak sia-sia. Sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Luk. 4:12). Kristus Sang Mesias itu menjadi kekuatan bagi kita yang menjadikan hidup kita tidak sia-sia. Kristus akan datang dengan kemuliaan Bapa untuk menghakimi seluruh umat manusia dan tidak ada satu pun yang bisa lolos. Inilah titik final. 

Matius 16:28

Ayat ini menjadi jaminan: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya. Artinya orang akan sampai pada suatu kesadaran dimana orang melihat bahwa Kristus adalah Mesias sejati. Pada pasal selanjutnya, yakni Matius 17, Tuhan Yesus mengajak tiga murid naik keatas gunung, disana mereka melihat Tuhan Yesus yang penuh dengan kemuliaan itu berbincang-bincang dengan Elia dan Musa. Kedua tokoh ini sangat dihormati oleh orang Israel, di sini Tuhan Yesus mau membukakan siapa diri-Nya yang sejati, Dia adalah Mesias sejati. Orang banyak menghinakan Dia karena Dia tidak memiliki penampilan layaknya seorang raja tetapi disini kita melihat Kristus Yesus memiliki kemuliaan sorgawi yang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan dunia. Orang hanya melihat fenomena, orang hanya ingin mendapat kenikmatan diri maka tidaklah heran kalau mereka tidak dapat melihat esensi sejati. Manusia terlalu sibuk dengan kehinaan diri sendiri sehingga tidak dapat melihat keagungan-Nya. Hal yang serupa terjadi hingga hari ini, ketika seseorang datang dan memberikan pertolongan atas semua kesulitan yang kita hadapi maka apa yang kita lihat, perbuatannya yang mulia ataukah sebaliknya kita malah berlaku seperti layaknya seorang pengemis yang meminta supaya diberikan lebih, kita malah datang dan menyodorkan segala kebutuhan kita? Manusia tidak dapat melihat hal yang mulia, manusia hanya ingin meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dari seseorang yang mulia. Inilah manusia berdosa.

Kristus datang mengubahkan konsep kita yang salah untuk dibawa pada kemuliaan sejati dan mengerjakan sesuatu mulia. Kristus membukakan inagurasi pada tiga murid saja sebab waktu-Nya belum tiba. Sebagian besar penafsir menyatakan apa yang Yesus bukakan dalam Mat. 16:28, realisasi aslinya pada saat Tuhan Yesus bangkit dan naik ke surga. Ketika kuasa kematian dihancurkan, Kristus  sudah menjadi raja, duduk di tahta kerajaan-Nya. Inilah kemenangan sejati dalam iman Kristen. Sepanjang sejarah manusia berusaha mengalahkan kematian, manusia ingin mendapatkan hidup kekal tetapi tidak bisa. Hanya Kristus satu-satunya yang sudah mengalahkan kuasa kematian, kuasa terbesar yang menghancurkan. 

Tuhan Yesus akan datang dengan kemuliaan Bapa, diiringi dengan malaikat, dan menghakimi manusia – itu menjadi titik akhir dan buktinya, nanti akan ada diantara para murid yang tidak mati sebelum melihat Tuhan Yesus menjadi Raja. Kapan? Sesudah kebangkitan-Nya. Dan terbukti, sebagian besar para murid belum mati, mereka melihat Yesus bangkit, artinya Dia adalah Mesias sejati dan apa yang menjadi ketakutan Petrus karena konsep Mesiasnya yang salah telah terpatahkan. Kristus telah membuktikan bahwa Dia ada Mesias sejati. 

Seandainya Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita (1 Kor. 15) sehingga kita mempunyai  jaminan. Kemesiasan Kristus menjadi dasar hidup kita masuk ke dalam hidup yang penuh dengan kemuliaan, glorious life. Hidup yang berkemuliaan meliputi beberapa aspek:

1. Kualitas tertinggi. Kualitas yang dimaksud disini bukanlah kualitas produksi tapi kualitas rohani. Dunia justru terbalik sesuatu yang sifatnya fisik dan fenomena itulah yang digarap terlebih dahulu daripada rohani kita. Bukanlah hal yang mudah untuk mengerti kualitas tertinggi, perlu perjuangan untuk merombak konsep kita yang lama. Janganlah demi berkompromi dengan dunia kemudian kita menurunkan kualitas kita menjadi rendah. 

2. Bersifat kekal. Semua hal yang mulia sifatnya kekal tidak digeser oleh waktu sebaliknya hal yang rendah sifatnya sementara, mudah terkikis oleh waktu. Sebagai contoh, lagu duniawi sekarang ngetop namun tidak bersifat kekal berbeda dengan lagu rohani yang keluar dari pergumulan seorang anak Tuhan tidak akan pernah pudar oleh jaman. Model jam tangan Rolex dari dulu sampai sekarang tidak berubah, nilainya kekal, itu menunjukkan kualitas tertinggi. 

3. Kesempurnaan. Kesempurnaan menjadi titik final dari hidup yang berkemuliaan. Dunia tidak pernah mendidik kita untuk mengejar kemuliaan sorgawi yang menjadi standar tertinggi nilai hidup kita. Sesungguhnya, orang memahami akan kesempurnaan, orang tahu membedakan mana yang berkualitas dan tidak. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka manusia seharusnya mengejar dan hidup sesuai dengan citra Allah, segala sesuatu harus ditarik pada titik kesempurnaan. 

Alangkah indah hidup yang berada dalam pimpinan Tuhan; Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita, Dia akan selalu beserta dalam setiap perjuangan dalam kita mengejar kemuliaan sorgawi tertinggi. Pertanyaannya adalah maukah kita hidup taat pada-Nya, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia? Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071209.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Response of the Creed (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

April 1st, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 2 Desember 2007

 
   
      

   

 

      


Messiahship of Christ: The Response of the Creed

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Nats
: Mat. 16:21-24

 

   
 

 

Sebelumnya
kita telah memahami signifikansi credo “Kristus adalah Anak Allah yang Hidup”
yang menjadi dasar dari hidup iman kita. Tuhan Yesus juga membukakan apa yang
menjadi isi dari credo itu, yakni konsep Mesias sejati. Yesus adalah Mesias,
Anak Allah yang hidup itu harus pergi Yerusalem, menanggung
banyak penderitaan dari pihak tua-tua,  imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat,
lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
Konsep Mesias ini sangat
kontras dengan konsep dunia, yakni Mesias adalah seorang raja besar yang
kekuasaannya sangat besar, membuat banyak mujizat yang sifatnya hedonis. Konsep
sorgawi dan duniawi berbeda total bahkan sampai hari ini pun banyak orang yang
tidak memahami konsep Mesias sejati maka tidaklah heran kalau orang menunjukkan
reaksi seperti yang Petrus lakukan. Hal ini membuktikan satu hal orang tidak
mengerti secara teologis.

Konsep agama dunia
bersifat egois; orang beragama hanya demi mendapat berkat, hidup nyaman, kaya,
sehat, dan masih banyak lagi keinginan daging yang sifatnya dosa. Agama itu
tidak lebih menjadi pelampiasan dari keberdosaan. Seorang teolog berpendapat
agama bukan membuat manusia datang kepada Allah, tetapi agama adalah pelarian
dari Allah, religion is not what man come to God, but escaping from God; orang
membuat “allah” seperti keinginan mereka dan menyembahnya.

Mesias harus menderita
sengsara, mati dan bangkit pada hari ketiga sangat sulit diterima oleh manusia
berdosa. Bagaimana mungkin Allah membiarkan Kristus, Anak-Nya yang tunggal itu
menderita sampai mati demi manusia berdosa? Bukankah seorang ayah akan membela
dan menolong anaknya ketika berada dalam kesulitan? Konsep yang sangat duniawi
inilah yang menyebabkan orang tidak dapat mengerti konsep Mesias sejati. Jalan
salib inilah jalan yang terbaik yang merupakan implementasi bijaksana Allah yang
maha dahsyat. Murka Allah yang dahsyat dipuaskan, keadilan Allah ditegakkan, dan
cinta kasih Allah digenapkan; semuanya hanya dapat diselesaikan dengan kematian
Kristus di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga.

Pertanyaannya adalah
bagaimana respon kita melihat karya keselamatan yang dikerjakan Allah dengan
begitu dahsyat? Bagaimana sikap kita ketika melihat Kristus yang harus menderita
sengsara dan aniaya dan mati untuk kita? Apa yang menjadi respon kita ketika
kita mengatakan: “Kau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup?” Pengakuan iman
bukan sekedar muncul di mulut kita. Tapi pengakuan iman adalah satu sikap respon
karena kita kenal Kristus adalah Mesias anak Alalh yang hidup. Ada empat aspek
yang seharusnya menjadi respon setiap kita yang mengaku bahwa Kristus adalah
Mesias, yakni:

1.
Berserah total

Tuhan Yesus menegaskan:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikut Aku.” Tuhan Yesus ingin kita berserah diri secara total
pada pimpinan-Nya, total surrender. Adalah sifat manusia berdosa yang selalu
melawan Tuhan, memaksakan kehendak diri, tidak mau hidup dipimpin oleh Allah,
manusia merasa diri lebih pandai dan mau mengatur Tuhan. Itulah sebabnya, Tuhan
sangat marah dan menghardik Petrus dengan keras karena respon Petrus yang salah.
Pertanyaannya adalah siapakah manusia sehingga mau mengatur Allah sang pemilik
alam semesta dengan mengatakan bahwa cara Mesias menyelamatkan manusia bukan
melalui kayu salib. Sadarlah, manusia hanyalah ciptaan yang terbatas, manusia
tidak lebih bijaksana dari Allah – Allahlah sumber dari semua bijaksana.
Satu-satunya cara untuk menyelesaikan dosa adalah Kristus harus pergi ke
Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua,  imam-imam kepala,
dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Jalan
salib merupakan implementasi bijaksana Allah. Di atas salib, murka Allah nyata,
kesucian Allah ditegakkan, keadilan Allah dituntaskan, dan cinta kasih Allah
digenapkan. Salib merupakan tempat dimana seluruh variabel yang saling
berlawanan ini dapat terselesaikan.

Ketika keadilan Allah
benar-benar ditegakkan maka semua orang harus mati sebab upah dosa adalah maut
dan di muka bumi ini semua manusia berdosa. Dan kalau hanya cinta kasih Allah
saja yang dinyatakan dapatlah dibayangkan dunia akan menjadi sangat kacau, chaos
– semua orang akan melakukan apa yang menjadi keinginan daging dan hawa nafsu
mereka. Cinta kasih tanpa keadilan menjadikan dunia makin kacau demikian juga
halnya cinta kasih tanpa kesucian Allah; keadilan tanpa cinta kasih akan membuat
dunia menjadi kejam. Semua aspek yang meliputi kasih Allah, keadilan Allah,
kesucian Allah, murka Allah, pemeliharaan Allah hanya dapat dituntaskan dan
dituntaskan di atas salib oleh Sang Mesias. Jadi, masih adakah orang yang berani
mengatakan bahwa dirinya lebih bijaksana dan lebih pandai dari Allah yang adalah
diri-Nya bijaksana?

Paulus sebelum bertobat
adalah seorang yang merasa diri pandai dan tahu banyak hal namun pengenalannya
akan Kristus Yesus menyadarkan dia bahwa dia bukanlah siapa-siapa. Paulus
menyadari betapa dalam kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah sehingga siapakah
manusia sehingga dapat mengetahui pikiran Tuhan dan menjadi penasihat-Nya? Atau
siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga ia harus
menggantikannya? (Rm. 11:33-36). Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita
dapat mengerti akan Kemesiasan Kristus maka sebagai respon dari pengakuan iman
adalah berserah total.

Sadarlah kita hanyalah
manusia lemah yang berdosa dan terbatas karena itu janganlah kita memegahkan
diri dan merasa diri hebat sehingga kita tidak memerlukan Tuhan memimpin hidup
kita. Tidak! Hidup di dunia ini semakin hari semakin berat, tantangan dan
penderitaan tidak akan pernah habis maka di tengah-tengah kesulitan ini hanya
berserah total kepada pimpinan Tuhan sajalah akan membuat hidup kita indah dan
nyaman. Pertanyaannya adalah maukah kita berserah penuh, total surrender dan
taat dipimpin oleh Dia? Betapa indah hidup yang dipimpin dan dituntun oleh
Kristus Yesus Anak Allah yang hidup; kita tidak perlu kuatir sebab Dia adalah
Allah tahu apa yang terbaik bagi setiap anak-anak-Nya. 

2.
Merubah arah hidup

Total surrender bukan
berarti pasif, hanya terima nasib. Taat mutlak bukan berarti tidak mempunyai
semangat juang. Adalah pendapat yang salah bahwa orang Reformed tidak mempunyai
daya juang. Tidak! Perhatikan, semangat juang, fighting spirit bukan ditentukan
dari apa yang menjadi ambisi, target atau tujuan hidup barulah orang mempunyai
semangat hidup. Salah! Paulus adalah seorang yang taat mutlak; seluruh hidupnya
hanya untuk Tuhan. Bahkan dia tidak menghiraukan nyawanya sedikit pun, asal aku
dapat menggenapkan apa yang Tuan perintahkan kepadaku. Pertanyaannya apa yang
menjadi penyebab demi untuk Tuhan, Paulus tidak mempedulikan nyawanya sendiri?
Alkitab mencatat, setelah Paulus bertobat, pengenalannya yang benar akan Allah
yang sejati tidak menjadikan dia patah semangat atau tidak mempunyai motivasi
hidup. Tidak! Sebaliknya, ia berjuang mati-matian demi Injil diberitakan bahkan
penderitaan, sengsara dan aniaya tidak menjadikan dia undur. Disini kita melihat
ketaatan mutlak itu justru menjadikan orang mempunyai semangat juang tetapi
bedanya, semangat juang itu datangnya dari Tuhan. Total surrender berarti
kepasifan yang aktif. Seorang yang mengaku Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang
hidup maka seluruh arah hidup yang tadinya demi memenuhi egois diri, ambisi diri
kini hidup diarahkan pada Kristus. 

Alkitab mencatat ketika
Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya hanya satu kalimat pendek yang diucapkan,
“Ikutlah Aku.” Kalimat follow Me berarti orang harus pasif pada dirinya dan
aktif terhadap perintah-Nya. Orang yang masih tetap aktif dengan keinginan diri
tidak akan pernah bisa mengikut. Ketika seseorang mengajak kita untuk mengikuti
dia akan tetapi kita masih mengajukan berbagai syarat maka selamanya ia tidak
akan pernah ikut bersama dia. Ikutlah Aku berarti kita harus menanggalkan segala
hal yang menjadi keinginan kita; di satu sisi kita pasif dengan segala keinginan
kita, namun di sisi lain, aktif dengan keinginan saya untuk menanggapi panggilan
Tuhan itu dan Ia telah siap mengarahkan seluruh hidup kita. Sejarah membuktikan,
Tuhan memimpin kita selangkah demi selangkah asal kita taat dan menyerahkan
seluruh hidup hanya pada-Nya. Betapa indah, hidup kita ketika dipimpin Tuhan.
Ironisnya, dunia tidak mengajarkan kita untuk taat sebalikany, orang diajar
untuk jadi pemberontak. Dunia modern meneriakan setiap manusia mempunyai hak
bahkan seorang anak pun punya hak. Orang tua tidak boleh dipukul sebab ada
undang-undang yang menjaga hak anak. Pertanyaan balik ketika si anak nakal,
siapa yang harus dihukum? Inilah kecelakaan dunia yang hanya menuntut hak tapi
tidak menjalankan kewajiban. Sejak kecil telah dirasuki oleh konsep duniawi yang
rusak seperti yang diajarkan dalam pendidikan montesori yang menekankan bahwa
guru dan orang tua hanyalah fasilitator belaka maka jangan kaget kalau besar
nanti, Tuhan pun dianggap sebagai fasilitator yang harus menuruti segala
keinginannya. Fasilitator berarti pemberi fasilitas untuk kita dan kita yang
menjadi tuan, jadi sebagai fasilitator, Tuhan harus memberikan semua keinginan
kita. Perhatikan, Tuhan bukanlah fasilitator; Dia adalah Tuhan yang mengarahkan
seluruh hidup kita. Jangan membalik ordo. Theologi Reformed dengan jelas
menegaskan bahwa Tuhanlah yang berada di posisi atas sedang manusia harus tunduk
di bawah-Nya. Sadarlah, Yesus adalah Mesias itu adalah Tuan atas segala tuan,
maka kita harus berespon taat mutlak dan membiarkan diri diarahkan oleh-Nya. 

3.
Merubah nilai hidup 

Setelah kita berserah
total dan menyerahkan hidup dalam pimpinan Tuhan maka kita juga harus merombak
konsep berpikir kita dari duniawi menuju sorgawi. Hal ini tidaklah mudah, sebab
pemikiran duniawi kita lihat dari konsep sorgawi maka muncullah dua realm yang
sifatnya paradoks. Matius 16:25 sangat sulit untuk dimengerti kalau orang
memakai konsep duniawi: Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan
memperolehnya. Secara duniawi, sulit diterima logika, orang yang menjaga nyawa
akan kehilangan nyawa dan orang yang melepas nyawa malah akan mendapatkannya.
Ini menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka yang tidak memahami akan konsep
kebenaran sejati. Disinilah signifikansi konsep paradoks. 

Manusia satu-satunya
makhluk yang dapat menggabungkan dua dunia yang berbeda, yakni kekekalan dan
kesementaraan secara simultan tanpa terjadi konflik. Sesuatu yang sifatnya
sementara apabila direalisasikan maka hasil yang keluar sifatnya linear.
Sebaliknya, ketika kesementaraan itu ditarik ke kekekalan maka paradoks, semua
yang tadinya bergerak dalam ruang dan waktu kini menjadi diam; semua hancur,
kini sifatnya kekal. dunia kesementaraan dan dunia kekekalan itu berlawanan
total tapi berhubungan secara lansung. Manusia terdiri dari tubuh yang bisa
hancur setiap saat dan juga roh yang sifatnya kekal, tidak dapat hancur.

Tuhan Yesus mengajak
kita melihat dua hubungan yang paradoks; ketika melepas maka kita akan mendapat
sebaliknya ketika kita mempertahankan nyawa maka kita akan kehilangan. Tuhan
membukakan pada kita tentang sistem nilai yang lebih berharga dibanding dengan
segala sesuatu yang sifatnya sementara. Apa gunanya orang seorang memperoleh
seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya
sebagai ganti nyawanya? (Mat. 11:26). Mengaku Yesus adalah Mesias menyadarkan
kita akan nilai sejati yang sifatnya kekal, yakni nilai hidup yang sejati hanya
ada di dalam Kristus. 

4.
Hidup Berkemuliaan

Glorious life, hidup
mulia hanya bisa terjadi kalau kita mempunyai konsep berpikir sorgawi, selalu
berpikir untuk kekekalan. Matius 16:27-28 adalah titik puncak Kemesiasan Yesus
dan menjadi titik penting kita sebagai pengikut Kristus. Misi Kristus datang dan
berinkarnasi adalah demi mengangkat kita dari lumpur dosa, membebaskan kita dari
jebakan kebinasaan dunia dan mengeluarkan kita dari kehinaan menuju pada
kemuliaan. Dunia ini semakin hari tidak menjadi lebih baik, dunia semakin hari
makin rusak moral. Di satu sisi, orang ingin mencoba keluar dari kerusakan ini
tetapi malah terjebak jatuh pada kerusakan yang lain. Sebagai contoh, orang
meneriakkan anti HIV dan AIDS dengan memakai poster yang justru mempromosikan
sex bebas. Sangatlah menyedihkan, ini wajah dunia berdosa; hal yang buruk itu
justru lebih mudah mempengaruhi hal yang baik. Celakanya, gereja yang seharusnya
menegur dosa, memberitakan kebenaran sejati di tengah jaman yang bobrok ini
malah berkompromi dengan menggunakan konsep dunia dan akhirnya menjadi serupa
dengan dunia. Hendaklah kita sebagai pengikut Kristus dipakai menjadi saksi-Nya,
mulailah dari diri dengan selalu berpikir kepada kekekalan, apapun yang kita
lakukan, lakukanlah itu untuk Allah. Kiranya Firman Tuhan menyadarkan untuk kita
sehingga kita mempunyai respon yang benar sebagai seorang pengikut Kristus yang
sejati dan memancarkan citra Kristen. Amin

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa
oleh pengkhotbah)


Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071202.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Content of the Creed (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

March 26th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 25 November 2007

Messiahship of Christ: The Content of the Creed

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:21-24

Tema utama Matius 16 adalah Messiahship of Christ dan puncaknya adalah credo yang diungkapkan oleh Petrus, yaitu Engkau adalah Anak Allah yang hidup. Hari ini banyak orang yang tidak paham esensi credo dan celakanya, gereja pun mulai meniadakan credo yang adalah dasar dari kebenaran Firman. Alangkah bodohnya kalau orang mengaku alkitabiah tetapi meniadakan credo dan tidak dapat mempertanggungjawabkan iman dari credo yang ia ungkapkan. Iman sejati harus dimengerti dengan tepat dan hal ini dimulai dari sebuah pengakuan iman. Kristus adalah Mesias merupakan credo pertama yang ada dalam sejarah Kekristenan. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauhkah kita mengerti isi credo yang menjadi inti kepercayaan kita? Hal ini akan menjadi perenungan kita hari ini. 

Hari ini banyak orang yang mengatakan yang penting percaya Yesus maka kita akan masuk sorga. Tidak! Pertanyaannya adalah Yesus yang manakah yang kita percaya? Yesus seperti apakah yang kita percaya? Paulus dengan sengit menegaskan supaya kita waspada terhadap Yesus yang lain, Injil yang lain dan Roh yang lain (2Kor. 11:4). Tidaklah mudah membedakan antara Yesus yang asli dan Yesus yang palsu, Injil yang asli dan Injil yang palsu, Roh yang asli dan Roh yang palsu, semuanya menjadi kabur maka tidaklah heran kalau kemudian muncul banyak bidat hari ini. Itulah sebabnya ketika Petrus mengeluarkan suatu pernyataan iman bahwa Kristus adalah Anak Allah yang hidup maka Kristus merasa perlu membereskan pemahaman dan pengertian akan Mesias Anak Allah. Matius 16:21 menjadi titik putar, pivotal point dimana Tuhan Yesus membukakan apa yang menjadi isi dari pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Mesias Anak Allah yang hidup. Dari tindakan-Nya, mujizat-Nya, berita-Nya dan pengajaran-Nya seharusnya orang melihat kebenaran bahwa Yesus adalah Mesias khususnya para tokoh agama Yahudi. Namun ironis, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki tidak melihat dan ironisnya, mereka meminta tanda. Tanda itu diminta bukan karena mereka ingin melihat kebenaran. Tidak! Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi maksud dan rencana mereka maka Tuhan Yesus hanya memberikan tanda Yunus lalu meninggalkan mereka.

Tuhan Yesus mulai membukakan apa yang menjadi misi Mesias, yaitu pergi ke Yerusalem, menanggung penderitaan dari pihak tua-tua dan imam-imam dan ahli Taurat, dibunuh mati lalu bangkit pada hari ketiga. Injil Matius mencatat tentang berita ini paling sedikit 4 kali dan pertama kali diungkapkan di ayat 21. Sejak Perjanjian Lama, bangsa Yahudi menantikan Mesias sampai pada jaman Daud, mereka lebih menantikan Kristus Yang Diurapi. Seorang Mesias menyangkut 3 fungsi yang menyatu, yaitu Raja, Imam dan Nabi. Konsep Mesias orang Israel adalah Raja yang berkuasa sangat besar bahkan kuasa dan kerajaannya melampaui Raja Daud; Mesias menjadi Imamat dan Penebus yang membawa manusia pada keselamatan; Ia adalah Juruselamat umat manusia dan Ia adalah Nabi yang membawa pengajaran yang sejati. Dan setiap orang Yahudi sangat ingin kalau Mesias itu hadir dari keturunan merekan itulah sebabnya pada jaman Perjanjian Lama ketika seorang wanita mandul maka itu dianggap sebagai suatu kutukan dan mereka sangat bersedih karena itu berarti menutup semua kemungkinan dan pengharapan akan lahirnya seorang Mesias dari keturunan mereka. Petrus dapat mengeluarkan pernyataan dahsyat kalau Yesus adalah Mesias tetapi konsep Mesias yang ada dalam pemikiran Petrus tidak ubahnya seperti konsep orang Yahudi sejak Perjanjian Lama, yakni sangat duniawi; apa yang dikatakan dengan pengertian di balik pernyataan tersebut sangatlah berbeda. Mereka berpikir Mesias itu akan mengalahkan dan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Mesias atau Kristus itu akan duduk di tahta-Nya yang maha indah dan dahsyat dan pada saat itu para murid membayangkan mereka akan menjadi perdana menteri yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Mereka akan memiliki tentara yang besar yang mengalahkan semua kerajaan yang ada dunia. Konsep Mesias yang ada dalam pemikiran mereka sangatlah duniawi, the succesfull Mesianic wordly concept. Itulah sebabnya Kristus datang menghadirkan konsep Mesias sejati.

Ironisnya, konsep Mesias yang sangat duniawi itu juga merasuk pemikiran dunia modern ini; kalau Kristus adalah Raja maka setiap orang yang percaya pada-Nya berarti anak Raja dan anak Raja akan hidup berkelimpahan. Kristus adalah Mesias Anak Allah yang hidup, dalam bahasa Indonesia kalimat ini bisa mempunyai 2 arti, yakni: 1) Anak/Allah yang hidup, 2) Anak Allah yang hidup namun dalam bahasa aslinya, yang lebih tepat adalah arti yang pertama.

Itulah sebabnya, Tuhan Yesus perlu menjelaskan bahwa yang namanya Mesias, yang disebut Mesias, dan hadirnya Mesias – tugas dan fungsi Mesias tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Mesias itu harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat lalu dibunuh dan bangkit hari ketiga. Pernyataan Tuhan Yesus sungguh diluar dugaan, konsep Petrus berbeda dengan konsep Mesias yang benar, ia pun langsung memegang tangan Tuhan Yesus dan menarik Dia ke samping dan marah: “Tuhan, kiranya Allah akan menjauhkan hal itu.“ Kalau sebelumnya Petrus mengakui: Kristus adalah Anak Allah yang hidup berarti sebagai Anak Allah seharusnya Ia lebih tahu apa yang Bapa pikirkan daripada Petrus, bukan? Namun Petrus merasa dirinya lebih mengerti dari Kristus. Tindakan Petrus ini keluar dari konsep Mesianik yang salah. Apa yang menjadi penyebab sehingga kita bisa berpikir salah tentang konsep Mesias?

1. Seorang Raja tidak boleh kalah ataupun mengalami penderitaan ataupun jatuh dan gagal. Alkitab menegaskan kemenangan itu bukanlah bersifat fisik atau materi. Dunia ingin mencapai posisi tinggi tetapi dengan cara yang penuh dengan intrik dan kompromi jadi sesungguhnya, ia kalah dalam banyak aspek. Adalah pemikiran yang salah kalau kekuasaan tinggi dan  Tidak! Justru sebaliknya semakin kaya seseorang dan semakin besar kekuasaannya maka ia semakin menderita.  Ayub tidak akan pernah mengalami kasus Ayub kalau ia tidak kaya. Seandainya Ayub adalah seorang yang saleh tetapi miskin maka setan tidak akan mencobai Ayub. Alangkah bodohnya kalau kita berpikir uang dan kekuasaan itu adalah segala-galanya dalam hidup namun sayang, konsep inilah yang banyak dipikirkan oleh manusia. Di tengah-tengah dunia ini tidak ada satu kuasa pun yang bisa mencapai kemutlakan, hanya kembali pada Allah sajalah maka disitu ada kemutlakan sejati. 

2. Tuhan Yesus sangat jelas tahu bahwa apa yang akan terjadi di Yerusalem, yakni menderita sengsara, mati dan bangkit. Yang sulit dimengerti adalah kalau Tuhan Yesus sudah tahu apa yang akan terjadi lalu mengapa Ia harus pergi ke Yerusalem? Kalau hal yang sama kita kenakan pada kita, pasti kita akan menghindar dari segala  tantangan dan penderitaan bahkan celakanya, mereka berani menggunakan ayat Alkitab untuk membenarkan tindakan mereka tersebut. Perhatikan, Tuhan Yesus, Paulus maupun para rasul yang lain tidak pernah menghindar dari penderitaan atau tantangan. Tuhan Yesus harus pergi karena memang waktu-Nya belum tiba tetapi ketika waktu-Nya tiba, Dia datang ke Yerusalem untuk menderita sengsara dan mati, demikian pula halnya dengan Paulus, dalam banyak aspek, ia menghindar tapi ketika waktu-Nya tiba, ia pergi ke Yerusalem juga meskipun berulang kali Agabus memperingatkan dia. Inilah iman sejati. Dunia justru berpikir sebaliknya, yakni anak Tuhan itu sekali-kali tidak akan mengalami penderitaan dan menghindari penderitaan. Tidak! Kalau tiba waktu Tuhan yang mengharuskan kita harus menderita maka kita harus taat.

3. Tuhan Yesus sangat baik maka Allah pasti akan menjaga orang baik, Ini merupakan kesalahan konsep keadilan di tengah-tengah hidup orang berdosa. Merupakan konsep yang salah kalau dunia berpikir bahwa Tuhan pasti akan menjaga orang baik sehingga orang baik pasti tidak akan mengalami penderitaan, orang baik tidak akan sakit, orang baik tidak akan bangkrut, dan masih banyak lagi pemikiran salah yang tertanam dalam konsep mereka. Konsep ini menjadikan orang tidak takut akan dosa; orang justru merasa nyaman sebab hukuman dosa itu belum dirasakan. Perhatikan, Tuhan tidak mempunyai tanggung jawab sedikitpun untuk menjagai kita. Tidak! Memang seberapa baikkah kita sehingga Tuhan harus menjagai kita? Semua kebaikan kalau hanya untuk mencari kenikmatan hidup bukanlah kebaikan sejati. Konsep keadilan Tuhan telah diselewengkan ketika orang mendapatkan kesulitan dan penderitaan berarti ia berdosa sebaliknya, orang yang “sukses“ secara dunia berarti kita tidak berdosa dan menganggap diri baik sehingga hal ini semakin menjadikan kita semakin berbuat dosa lagi. Kalau keadilan Tuhan itu benar-benar ditegakkan di tengah dunia ini maka tidak ada satu orang pun yang lepas dari murka Tuhan sebab upah dosa adalah maut. Habakuk pun pernah protes pada Tuhan sebab sebagai seorang nabi Tuhan, ia tidak seharusnya mengalami bahkan melihat segala kekacauan dan penderitaan pun seharusnya tidak. Tuhan membukakan pemikiran Habakuk sehingga keluar suatu pernyataan indah yang ditulis Hab. 3:17. Hal yang sama juga ada dalam konsep ketiga teman Ayub yang menganggap penderitaan Ayub itu karena kesalahan Ayub dan sampai Perjanjian Baru, Petrus juga mempunyai konsep yang salah akan Mesias – Mesias tidak boleh menderita maka Petrus pun langsung menarik tangan Tuhan Yesus dan menjauhkan hal itu. Tuhan yesus dengan keras menghardik Petrus: ”Minggir, setan” (bahasa asli) sebab engkau tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah tetapi engkau hanya memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia. Petrus sulit menerima konsep Mesias yang benar sebab di lain pihak, ia tidak siap harus menerima tantangan dn penderitaan dan hal ini terbukti ketika seorang gadis kecil menghampiri Dia dan menanyakan kedekatan-Nya dengan Tuhan Yesus maka serta merta Petrus menjadi takut dan menyangkali Tuhan Yesus.

Hidup dalam kebenaran sejati berarti harus menerima segala resiko dan menderita aniaya (2 Tim. 3:12). Ironisnya, konsep Mesias jaman Perjanjian Lama hingga dunia modern tidak berubah. Tuhan Yesus datang membukakan konsep Mesias sejati, tugas dan misi Mesias:

1. Menyadarkan manusia akan realita dosa. Kristus berinkarnasi datang ke tengah dunia untuk menderita sengsara dan mati di salib hanya membuktikan satu hal, yakni karena dosa. Kalau manusia tidak berdosa maka Kristus tidak perlu hadir ke tengah dunia. Manusia sudah melawan Allah, manusia hidup dalam dosa namun di tengah dunia, orang berdosa tidak mau mengakui dosanya lalu merasa dirinya tetap baik; ini merupakan dosa yang paling dosa. Apa artinya kehadiran Yesus kalau Ia datang ke Yerusalem, mengalahkan semua musuh, mempunyai singgasana, bermahkota dan berpakaian maha indah dan para murid duduk di sebelah kanan dan kiri lalu hidup berpesta pora dan mengalami kebinasaan kekal. Apakah hal seperti itu yang diharapkan? Banyak orang Kristen hari ini memandang kesuksesan berarti mempunyai kuasa dan kaya. Ingatlah, untuk apa semua harta kekayaan kita kalau kehilangan nyawa; semua itu hanyalah kesia-siaan. Mesias datang untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal. Mesias hadir untuk menyelesaikan problema manusia terbesar, yaitu dosa. Ia datang bukan untuk mendirikan kerajaan dunia tetapi menegakkan kerajaan spiritual dan mengeluarkan manusia dari jerat dosa supaya kita kembali pada Allah sejati. He is the true King with the true Kingdom.

2. Dosa hanya dapat diselesaikan melalui penebusan Kristus. Orang mencoba melunakkan dosa dengan mengatakan dosa itu sebagai kelemahan. Dosa bukan sekedar kelemahan, tetapi dosa adalah memberontak terhadap Allah. Orang sadar akan dosa tetapi orang sengaja melupakan dosa. Hati nurani manusia tidak dapat dibohongi, sekeras apapun orang berusaha melupakan dosa, orang tidak bisa lari dari dosa itu tetap ada dan upah dosa adalah maut. Orang mencoba menyelesaikan problema dosa dengan melakukan perbuatan baik dan menganggap perbuatan baik itu sudah cukup membuatnya masuk dalam Kerajaan sorga. Tidak! Perbuatan baik yang dilakukan karena ingin mendapatkan sorga maka itu bukan perbuatan baik; orang semakin berbuat baik maka orang akan semakin berdosa. Perbuatan baik yang asli dapat dikerjakan sesudah ia mendapat sorga bukan sebaliknya, berbuat baik untuk mendapatkan sorga maka satu-satunya cara adalah Kristus Sang Mesias itu datang dan menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Penebusan menjadi titik penting dalam Kekristenan. Theologi Reformed melihat seluruh hidup dalam 4 titik penting, yakni CFRC – Creation, Fall, Redemption, Consummation. Inilah Kemesiasan Kristus tanpa penebusan kita tidak akan keluar dari jerat dosa. Orang berdosa menyelesaikan problema dosa, menganalisa problema dosa dengan cara berdosa dan hasilnya pastilah dosa. Kunci pertama untuk kita dapat melihat dan kembali pada Kristus adalah menyangkal diri, membuang segala keinginan, menggagalkan semua ambisi pribadi maka selamanya kita tidak akan pernah mengerti kebenaran. Creation menjadi titik acuan dimana orang tahu kalau ternyata kita berada dalam posisi fall; untuk keluar dari titik fall, harus ada redemption, Kristus yang menggantikan hukuman manusia berdosa dan menjadi tebusan sehingga kita dihidupkan kembali. Kristus menjadi domba Paskah menggantikan dosa manusia. Betapa besar kasih Kristus untuk manusia berdosa, Ia rela memberikan diri-Nya dan menjadi tebusan bagi kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:7-8). Kalau untuk orang baik, orang mau berkorban tapi untuk orang benar siapa orang mau berkorban untuk dia? Dunia tidak mau berkorban untuk orang benar apalagi untuk orang berdosa masih adakah orang yang mau berkorban untuk dia? Kristuslah jawabannya, Dia mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Kuasa penebusan Kristus adalah kuasa dahsyat yang berubah hidup kita. Kasih pengorbanan Kristus seharusnya menjadikan kita sadar dan hidup dalam kebenaran-Nya sejati dan taat pada-Nya.

3. Kemenangan dan kemuliaan kebangkitan Kristus. Kristus bangkit pada hari ketiga, Dia menang atas kuasa dosa, Dia menghancurkan kuasa kematian dan membawa kita pada kehidupan kekal. Hanya Kristus satu-satunya yang dapat mengalahkan maut. Mesias telah memberikan pada kita mujizat terbesar dam kalau orang dapat mengaku dosa dan percaya pada Kristus Sang Mesias maka itu merupakan mujizat terbesar. Sebab bukanlah hal yang mudah orang mengaku dosa ketika ia ditegur akan dosanya. Upah dosa adalah maut dan hanya kembali pada Kristus sajalah dan hidup dalam kebenaran-Nya maka kita akan diselamatkan. Injil sejati menjadikan orang sadar akan dosa dan mengaku dosa. Hal inilah yang terjadi ketika John Sung mengabarkan tentang Injil sejati, mujizat besar terjadi yakni banyak orang berdosa mengaku dosa. Ketika gereja Tuhan mengalami kesulitan dan penderitaan disana Tuhan memimpin maka itu merupakan suatu mujizat. Mujizat Tuhan bukanlah miskin jadi kaya, sakit jadi sehat, hidup nyaman. Tidak! Mujizat sejati tidak bersifat hedonis dan humanis. Kuasa sejati Kristus adalah kuasa mengalahkan dosa bukan kuasa untuk berbuat dosa. Mesias sejati bukanlah seperti yang Petrus pikirkan sehingga konsep Petrus harus dibongkar dan diperbaiki untuk kembali pada Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus adalah kuasa hidup, kuasa yang mengalahkan kematian, kuasa yang mengalahkan dosa dan membawa kita pada terang-Nya yang ajaib. Konsep Mesias dan isi dari pengakuan merupakan satu kesatuan, apa yang kita katakan dengan isi memadu menjadi satu dan menjadi kekuatan bagi kita. Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071125.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Content (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

March 18th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 04 November 2007

Messiahship of Christ: The Content

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:5-12

Injil Matius 16:5-12 ini sangat berkaitan erat dengan ayat sebelumnya. Disini kita melihat bagaimana setiap orang mempunyai konsep berpikir tersendiri. Demikian pula halnya dengan orang-orang Yahudi mempunyai suatu ajaran/doktrin namun ajaran itu diselewengkan sedemikian rupa, yakni menurut apa yang mereka anggap benar. Ajaran yang benar harus kembali pada kebenaran sejati yang absolut bukan menurut kebenaran menurut manusia. maka tidaklah heran kalau mereka bersikeras untuk meminta tanda padahal Tuhan Yesus telah membuat banyak tanda yang membuktikan akan Kemesiasan-Nya seperti orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan masih banyak tanda lain. Hanya Mesias saja yang dapat melakukan mujizat tersebut namun mereka tidak pernah mengerti tanda. Mereka ingin tanda itu haruslah seperti yang mereka minta yang sesuai dengan konsep mereka maka tidaklah heran kalau selamanya mereka tidak akan pernah mengerti tanda. Tuhan Yesus tahu akan hal ini maka Ia pun tidak meladeni dengan lama; Tuhan Yesus hanya memberikan tanda Yunus lalu meninggalkan mereka dan pergi. 

Para murid sama sekali tidak memperlihatkan setitik kepedulian akan apa terjadi antara Tuhan Yesus dan orang Farisi dan Saduki. Para murid mempunyai doktrin tersendiri, yakni bagi mereka yang penting hidup sejahtera tidak peduli siapa orang yang kepadanya mereka ikut. Lihat respon mereka yang kebingungan ketika mereka lupa membawa roti. Tuhan Yesus meminta para murid untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus dengan jelas mengungkapkan yang dimaksud ragi disini adalah ajaran/doktrin orang Farisi dan Saduki namun para murid malah berpikir ragi tersebut berhubungan dengan roti yang lupa mereka bawa. Jelaslah disini, doktrin yang telah tertanam sebelumnya dalam pikiran kita itulah yang menjadi penyebab dari pemahaman yang salah; apa yang dikatakan oleh seseorang itu ditangkap kemudian keluar interpretasi atau cara pikir yang tidak pas akibatnya mereka salah melihat hidup dan salah mengerti kebenaran sejati. Tuhan Yesus melihat dampak yang sangat serius daripada ajaran atau doktrin namun banyak orang yang menolak untuk kembali pada doktrin yang benar. Beberapa aspek penyebabnya, yaitu:

1. Iblis perusak doktrin yang benar, Iblis adalah bapa orang berdosa maka ia berusaha sedemikian rupa menjatuhkan manusia dalam dosa. Manusia berdosa akan mempunyai konsep berpikir seperti iblis. Seorang ayah yang mempunyai pemikiran materialis maka cara ia mendidik anaknya pun akan materialis dan tentu saja pemikiran ini akan terbawa sampai si anak bertumbuh dewasa kecuali ia bertemu Tuhan secara pribadi dan Tuhan mengubahkan. Seringkali kita menjumpai kasus dimana seorang ayah hanya tersenyum bahkan tidak peduli ketika anaknya memecahkan sebuah gelas murah yang didapat secara gratis namun ia menjadi sangat marah ketika anaknya memecahkan sebuah gelas yang harganya jutaan. Seorang anak kecil tidak pernah memahami harga karena bagi dia, perbuatan yang ia lakukan sama, yakni memecahkan sebuah gelas. Dari kalimat kemarahan si ayah, doktrin materialis telah tertanam pikiran si anak. Maka tidaklah heran, hari ini banyak orang bertanya untung rugi ketika mengikut Kristus. Hati-hati dan waspadalah dengan akal licik si iblis yang sengaja menanam konsep materialis humanis pada manusia sejak dari kecil.

2. Dua contoh sejarah pergeseran doktrin: a) Agama Yudaisme, semua bentuk keagamaan palsu selalu melawan kebenaran sejati, dia memposisikan diri sebagai kebenaran lalu menanamkan “kebenaran“ tapi kebenaran tersebut malah melawan kebenaran. Orang Farisi menganggap dia sedang mengajarkan kebenaran dan menanamkan kebenaran tetapi ketika kebenaran sejati itu datang, mereka telah siap melawan dan menghancurkan kebenaran sejati. Agama Yahudi, agama yang dimana orang-orangnya dikenal sangat religius dan beribadah tetapi ketika mereka bertemu dengan Sang Allah, Sang Kebenaran, Sang Kesalehan datang di hadapan mereka namun mereka justru hendak menghancurkan Tuhan Yesus. Kalau kita tidak berhati-hati maka kita akan masuk dalam kondisi yang sama seperti orang Yahudi. Seberapa jauhkah peringatan Tuhan Yesus untuk kita senantiasa “waspada“ itu terngiang dan menjadikan kita lebih berhati-hati dan dengan rendah hati membongkar semua keabsolutan palsu diri dan kembali pada kebenaran sejati? b) Gereja Roma Katolik, dalam perjalanan sejarah, ajaran gereja semakin menyeleweng  dari kebenaran Firman, bukan kebenaran sejati yang ditegakkan tetapi tradisi, otorisasi Paus, semangat humanisme itulah yang ditegakkan. Diperparah dengan konsep natural theology yang dicetuskan Thomas Aquinas dimana pikiran Aristotle dikawinkan dengan Kekristenan. Gereja juga membangun kemiliteran, tentara dan senjata perang untuk menaklukkan kekaisaran dunia. Ironis, gereja bukannya membangun kerohanian tetapi malah berperang. Kesombongan itu semakin memuncak yang ditandai dengan ambisi membangun Kathedral Vatikan Church yang sangat megah yang menghabiskan biaya sangat besar. Untuk membiayainya, Yohan Tetzel mencetuskan suatu konsep uang yang berdenting dalam kotak persembahan akan membuat satu nyawa melompat dari api penyucian ke sorga maka surat indulgensia atau surat pengampunan dosa mulai diperjualbelikan. Ajaran humanisme materialisme telah meracuni gereja Roma Katolik. Gereja yang tidak kembali pada Firman, gereja hanya mementingkan materialis dan humanis maka gereja semakin hari akan semakin merosot dan terpecah. Disini kita melihat bagaimana ragi itu sangat mempengaruhi gereja Tuhan dimana orang-orang di dalamnya akan dididik menjadi orang yang sangat egois, hanya memikirkan keuntungan dan kepentingan diri.

Tuhan Yesus sangat memahami bahayanya ragi atau ajaran ini, itulah sebabnya Ia memperingatkan supaya kita berhati-hati dan waspada maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

1. Kembali pada Firman. Melihat pergeseran doktrin yang semakin parah, Martin Luther pun berteriak keras, ia menempelkan 95 dalil di depan gereja Withenberg maka hari itu gereja mulai disadarkan untuk kembali pada kebenaran Firman. Tidak berhenti sampai disitu Calvin, Luther, Beza, Zwingli, John Locks juga berjuang mati-matian mengajak orang untuk kembali pada iman sejati. Perdebatan yang terjadi antara Tuhan Yesus dan orang Farisi – Saduki janganlah dilihat sebagai dua pandangan yang masing-masing boleh mempunyai pendapat sendiri. Tuhan Yesus menegaskan ajaran berkait erat dengan kebenaran maka ajaran harus kembali pada absolut position. Namun sebaliknya dunia posmodern mengajarkan bahwa setiap orang boleh mempunyai konsep dan ajaran sendiri dan semua itu dianggap benar. Celakanya, cara berpikir dunia ini diterapkan di dalam gereja. Bagi Tuhan Yesus, ajaran orang Farisi dan Saduki bukanlah sebuah option atau pilihan tetapi ajaran mereka itu layaknya sebuah ragi yang bekerja dari dalam dan mempengaruhi seluruh adonan dan akhirnya rusak. Tuhan Yesus sangat peduli akan hal ini. Dalam konteks orang Yahudi, berbicara tentang ragi bukanlah hal yang positif tetapi ragi mempunyai pengaruh yang sangat negatif. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus dengan keras menegaskan pada para murid-Nya untuk berwaspada. Tuhan Yesus melihat doktrin atau ajaran itu bukanlah hal yang sederhana. Bagi dunia, doktrin atau ajaran itu merupakan hal yang sepele bahkan seandainya ajaran itu tidak ada maka hal itu tidak akan mempengaruhi kehidupan. Inilah ajaran posmodern. Tuhan Yesus sangat peduli pada setiap kita, Ia melihat betapa ragi ini sangat berbahaya kalau kita tidak mau kembali pada kebenaran sejati. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus dengan keras memperingatkan kepada setiap kita untuk waspada, berhati-hati terhadap ragi orang Farisi.

2. Peka akan iman dan kebenaran. Hati-hati dengan akal licik iblis yang terus berusaha menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Kalau secara frontal tidak berhasil – kebenaran absolut Kristus langsung melawan kebenaran absolut Yudaisme apalagi di abad ke-21 ini, orang tidak suka dengan sesuatu yang sifatnya frontal maka iblis merombak caranya dengan memecah-mecah kemutlakan menjadi kemutlakan yang sifatnya kecil-kecil sehingga orang tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Cara pluralisme inilah yang diterapkan hari ini, orang ditawarkan dengan berbagai opini, multiple opinion; semua opini itu mempunyai kebenarannya masing-masing dan orang harus menghargai kebenaran tersebut. Dunia sangat suka dengan pandangan ini karena sepertinya membela hak asasi manusia tetapi lebih tepat kalau dikatakan sebagai membela egois diri. Bayangkan, kalau setiap orang mempunyai opini dan setiap orang menyatakan opininya sebagai kebenaran tanpa kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, dunia menjadi rusak total. Inilah kepalsuan kebenaran, pseudo truth sepertinya benar tapi sesungguhnya melawan kebenaran sejati. Pluralisme menjadi suatu opini yang sangat berbahaya di abad ke-20. Kita harus kembali pada kebenaran sejati.

Memang, banyak opini di dunia namun bukan berarti kita harus menyetujui semua opini. Tidak! Kebenaran dan ketidakbenaran itu sifatnya tunggal bukan plural. Pertanyaannya apakah kita mau mengejar kebenaran sejati atau tidak? Setiap orang harus bertanggung jawab. Hari ini banyak orang anti doktrin karena itulah, Tuhan Yesus sangat keras memperingatkan pada kita untuk berhati-hati terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki. Memang, mereka tidak pernah menyebut doktrin tapi justru dibalik tingkah laku, jelas terlihat pengaruh doktrin. Konsep mesianik yang salah itu telah meracun pikiran para murid bahkan sampai menjelang akhir Tuhan Yesus akan naik ke kayu salib, mereka tetap tidak mengerti. Selama mereka bersama Tuhan Yesus, mereka masih merasa nyaman dan terjamin hidupnya maka mereka tidak mengerti doktrin barulah setelah Tuhan Yesus pergi naik ke sorga dan mereka dianiaya saat itulah Roh Kudus bekerja dan mereka baru memahami pengaruh doktrin. Saat itu mereka sangat keras menentang ajaran yang salah.

Sebagai anak Tuhan sejati, janganlah biarkan diri kita dirusak oleh iblis. Janganlah iblis sebagai bapa kita (Yoh. 8). Perhatikan, di ayat 30, banyak orang Yahudi percaya pada Tuhan Yesus akan tetapi ketika Tuhan menuntut untuk kembali pada kebenaran, mereka melawan. Tuhan Yesus membukakan pada mereka realita sesungguhnya kenapa mereka menolak kebenaran, yakni karena iblislah yang menjadi bapa mereka. Orang yang sudah masuk dalam jebakan iblis akan sukar bagi mereka untuk keluar dari jebakan iblis. Hati-hati, iblis akan menawarkan apapun untuk mendapatkan satu jiwa karena iblis sangat tahu, betapa mahal dan berharganya satu jiwa. Iblis akan menawarkan segala bentuk kenikmatan duniawi sampai kita jatuh dalam jebakannya dan tercengkeram olehnya saat itulah ganti kita yang dibinasakan. Iblis sengaja membuat kita jauh dari Tuhan Sang Kebenaran sejati.

3. Sikap dan komitmen kembali pada Allah. Para murid seharusnya bergumul dan mencoba untuk memahami dengan bertanya pada Tuhan Yesus kenapa mereka harus waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Para murid justru berpikir tentang roti, mereka peduli kenikmatan diri dan ketakutan kalau mereka tidak dapat makan. Hal yang sama terjadi hari ini di dunia modern, orang tidak peduli akan pentingnya ajaran atau doktrin asal mereka kaya, nyaman, sehat maka lupakan semua doktrin atau ajaran. Tuhan Yesus sangat peduli dan kuatir akan kondisi ini dan terbukti, pikiran orang Farisi dan Saduki yang duniawi telah merasuk pikiran mereka; mereka tidak peduli akan ajaran atau doktrin. Ketika orang dituntut untuk kembali pada Kristus, mempunyai pemikiran yang sama seperti halnya Kristus maka nampak jelas kalau pikiran kita sangatlah duniawi dan berlawanan dengan Kristus. Di satu sisi, sepertinya para murid begitu dekat dengan Tuhan Yesus namun di sisi lain, cara berpikir mereka sangatlah bertentangan. Doktrin yang  tidak benar terimplikasi keluar, hal ini nampak dari reaksi Petrus yang mencoba menghalangi dan menarik lengan Tuhan Yesus ketika Tuhan Yesus memberitahukan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak para tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat. 16:21). Tuhan Yesus kembali menghardik dengan keras untuk mengkoreksi pemikiran mereka yang salah. Sungguh sangatlah memprihatinkan, hari ini kebenaran telah diselewengkan sedemikian rupa menjadi doktrin yang sifatnya humanis materialis dan telah merasuk di dalam Kekristenan. Inilah cara kerja ragi yang merasuk dan mempengaruhi kehidupan namun ragi itu sendiri hilang dan tak berbentuk lagi.

Dunia semakin ke belakang semakin sulit, tantangan dan penderitaan semakin berat maka hati-hatilah, pada saat itu, iblis datang menawarkan jalan keluar yang kelihatan ”legal” dan nikmat. Karena itu, waspadalah dengan segala ajaran yang salah yang ada di sekitar kita dan Tuhan membentuk kita barulah kita dimengertikan akan kebenaran. Jelaslah, kembali pada kebenaran bukanlah hal yang sepele dan mudah; kita harus dihancurkan terlebih dahulu dan dibentuk kembali oleh Tuhan. Hendaklah kita kembali pada ajaran yang sehat, the sound doctrine dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam ajaran sesat yang plural. Sangatlah memprihatinkan, hari ini kembali lagi gereja telah menyeleweng dari kebenaran sejati. Ajaran yang materialis humanis telah meracuni dan mempengaruhi kehidupan manusia. Doktrin yang salah akan berakibat sangat fatal, bukan saja meracuni diri kita tetapi akan meracuni orang lain juga.

Biarlah peringatan Tuhan Yesus supaya kita terus waspada dan berhati-hati terhadap ajaran orang Farisi terus terngiang dalam hidup kita. Hendaklah kita mengevaluasi diri, bagaimanakah sikap kita terhadap doktrin yang benar?  Sudahkah kita disadarkan betapa bernilainya hidup kita, hidup tidak bisa ditukar oleh apapun yang sifatnya materi. Apa artinya kita mendapatkan seluruh dunia ini kalau kita kehilangan nyawa. Apakah kita mau menuntut diri untuk kembali pada Kebenaran sejati? Maukah kita berkomitmen untuk kembali dan setia pada Kebenaran Firman? Amin ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071104.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Concern (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

March 10th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 21 Oktober 2007

Messiahship of Christ: The Concern

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:5-12

Sepertinya orang Farisi dan orang Saduki ini sangat religius tetapi di balik semua yang kelihatan rohani tersebut terdapat motivasi buruk tak terkecuali dengan para murid. Setelah terjadi perdebatan dan diskusi yang sangat sengit dengan orang Farisi dan Saduki, mereka hanya berpikir tentang materi, yakni roti. Kemungkinan besar kita sama seperti mereka, kita tidak pernah peduli hal yang esensial, orang hanya peduli hal yang duniawi yang menyangkut diri mereka. Tuhan Yesus meminta para murid untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus bukan sekedar ingin berdebat dengan orang Farisi dan Saduki atau ingin menunjukkan kehebatannya dalam berdebat dan Ia yang akan keluar sebagai pemenang. Tidak! Tuhan Yesus sangat peduli akan hal ini, Ia terenyuh melihat ketidakpedulian mereka akan hal yang lebih esensial, hal ini menunjukkan para murid berada di posisi dan mempunyai cara pikir yang sama seperti orang Farisi dan Saduki. 

Tuhan Yesus mempunyai kepekaan yang sangat luar biasa, Ia melihat bahayanya akan ajaran orang Farisi dan Saduki sehingga Ia memperingatkan para murid untuk waspada akan ragi orang Farisi dan Saduki. Kepekaan yang disertai dengan kebenaran akan membawa seseorang kepada dunia dan seluruh lingkungan akan membawanya melihat jauh lebih tajam yang disertai dengan cinta kasih sejati. Inilah kasih Ilahi yakni kepekaan ketika melihat orang berdosa sedang berjalan di tengah dunia berdosa menuju pada kebinasaan. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang tidak peka akan jiwa-jiwa yang tersesat. Orang hanya peduli  pada hal-hal yang sifatnya materi, orang lebih peduli pada apa yang menjadi kebutuhan jasmani belaka. Namun ingat, hal ini bukan berarti kita tidak boleh berbagi pada mereka yang kekurangan. Tidak! Dalam hal ini betapa celaka kalau kita hanya peduli pada apa yang menjadi kebutuhan tetapi kita tidak pernah peduli akan pertumbuhan iman. Tuhan Yesus membukakan pada kita bahwa kepekaan itu janganlah dilihat dari sudut pandang manusia tetapi kita harus melihatnya dari sudut pandang yang tepat, yakni iman, believe. 

Ironis, ketika Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan saduki, para murid tidak memahami apa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Hal ini nampak dari jawaban mereka; jawaban yang mereka berikan atas peringatan Tuhan Yesus tidak berkait sama sekali. Para murid justru meributkan tentang roti, mereka tidak membawa roti. Disini jelas, tidak ada hubungan antara pernyataan Tuhan Yesus tentang ragi orang Farisi dan Saduki dengan tidak membawa roti namun apapun itu meski tidak berkait, manusia berdosa akan mengkait-kaitkannya dan membuatnya jadi saling terkait bahkan hal yang positif akan menjadi negatif. Inilah manusia berdosa. Jelas disini, iman percaya itulah yang menjadi dasar, faith seeking understanding. Orang yang beriman salah akan mempengaruhi seluruh pemikiran kita dan tindakan kita bahkan semua hal dapat diatur sedemikian rupa sepertinya sangat logis namun semua yang kelihatan logis itu sesungguhnya tidaklah logis. 

Kristus telah memberikan teladan indah pada kita akan kepedulian:

1. Kepedulian Spiritual

Kristus peduli akan hal-hal yang esensi, khususnya yang bersifat kekal dan rohani. Sebaliknya, dunia hanya berpikir pragmatis dan sifatnya materi belaka; dunia tidak peduli dengan sesuatu yang sifatnya kekal; orang tidak peduli apakah Tuhan ada atau tidak karena bagi mereka yang penting sekarang, yang penting perut dikenyangkan. Merupakan kesalahan fatal, orang gagal menangkap hal yang sifatnya esensial. Orang yang mempunyai keagungan hidup, tidak akan meributkan apakah ia lapar atau tidak sebab ia tahu ada sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar makan dan kenyang. Bahkan orang yang sangat egois pun demi memuaskan dirinya sendiri, ia tidak akan pernah merasa lapar, sebagai contoh orang sudah tergila-gila menonton film maka ia tidak peduli apapun bahkan tidak merasakan lapar. Betapa hinanya manusia kalau hanya berpikir tentang aspek-aspek yang sifatnya pragmatis belaka. 

Tuhan Yesus berulang kali memperingatkan pada kita; jangan takut dengan hal-hal yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak bisa membunuh jiwa tetapi takutlah pada Dia yang dapat membunuh tubuh sekaligus jiwa. Biarlah kita mengevaluasi diri apa yang membuat kita takut dan kuatir? Apakah hal-hal sifatnya keduniawian ataukah hal yang sifatnya spiritual dan esensi? Hendaklah kita mengubah konsep berpikir kita yang salah, ingat, segala hal yang duniawi sifatnya sekunder dan hal yang esensi merupakan hal yang terpenting dan utama, first thing first. Dunia tahu apa yang menjadi prioritas utama, tetapi dunia gagal mengembalikan pada Allah sejati sebagai the true first thing first. Kepedulian pada hal yang rohani dan kekal akan menjadikan kita menjadi seseorang seperti apa yang Tuhan inginkan. Ketika orang tidak peduli akan hal-hal yang sifatnya kekal maka di titik pertama, hidupnya akan celaka dan membawa pada kebinasaan. Spiritualitas merupakan hal yang utama dan terpenting, karena itu hendaklah kita peduli pada apa yang menjadi kepedulian kita.

2. Kepedulian Kebenaran

Tuhan Yesus memperingatkan para murid untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Yang dimaksud ragi disini adalah sesuatu yang kelihatan sangat rohani tetapi negatif. Tuhan Yesus mengajak kita pada sesuatu yang lebih  tajam, yang sifatnya mengerucut dan peduli pada hal yang sifatnya esensi namun dunia lebih suka hal yang pragmatis, hanya mau gampang, orang tidak suka kalau harus belajar untuk sesuatu yang sifatnya kebenaran dan orang tidak suka pada hal-hal yang sifatnya mutlak. Pengaruh filsafat posmodern dan relativisme kuat mencengkeram manusia sedemikian rupa. Hari ini banyak berbagai macam ajaran ditawarkan di tengah dunia, pertanyaanya kita mau mengikut ajaran yang mana? Kalau kita tidak mengerti hal yang esensi maka kita akan mudah sekali diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran dunia dan yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sikap kita menghadapi berbagai ajaran itu? Apakah kita mau menuntut diri untuk belajar dan berusaha mendapatkan kebenaran sejati? Ataukah kita bersifat pragmatis, menganggap ajaran itu benar kalau menurut kita benar. 

Tuhan Yesus mengajak kita untuk peduli akan kebenaran. Tuhan Yesus sedang membukakan pada para murid apa motivasi orang Farisi dan Saduki di balik pertanyaan tersebut dan bagaimana mereka harusnya berespon seperti Tuhan Yesus berespon. Namun respon yang ditunjukkan oleh para murid justru sebaliknya, mereka hanya peduli masalah perut. Inilah dunia berdosa, apa yang seharusnya kita pelajari dan teliti dengan baik justru kita lewatkan namun untuk sesuatu yang tidak esensi kita justru pikirkan maka tidaklah heran kalau hidup kita menjadi kacau. Biarlah sebagai anak Tuhan sejati, kita mengevaluasi diri sudahkan kita memiliki kepedulian seperti Kristus? Apakah kita berpikir seperti yang Kristus pikir? Banyak orang yang mengaku Kristen bahkan sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Kristen tapi mereka tidak mempunyai kepedulian akan kebenaran sejati.

3. Kepedulian Altruistik

Ketika para murid sedang memikirkan tentang diri mereka karena tidak membawa roti maka pada saat itu, Kristus sedang memikirkan keadaan mereka. Kristus bukan peduli dengan diri-Nya sendiri. Tidak! Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Inilah kepedulian sejati. Dunia mengajarkan sebaliknya, pedulilah terhadap dirimu sendiri lebih daripada engkau peduli pada dunia sebab orang lain tidak akan peduli pada dirimu; concern with yourself, nobody will concern you.  Dunia begitu egois, tidak akan pernah peduli pada orang lain. Memang kita tidak mempunyai hak untuk dipedulikan oleh orang lain atau meminta orang lain untuk mempedulikan kita namun bukan berarti hal ini menjadikan kita egois dengan kita tidak mau peduli orang lain. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, Dia tidak mengharap atau meminta supaya dunia peduli pada-Nya. Tidak! Tuhan Yesus tahu persis seperti apakah jiwa manusia berdosa, apa yang menjadi motivasi manusia dibalik kepedulian mereka namun Tuhan Yesus tetap peduli pada kita meski kita tidak peduli pada-Nya. Kristus datang ke tengah dunia untuk peduli. Inilah jiwa yang harus dimiliki seorang Kristen sejati. Sama seperti Anak Manusia bukan datang untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menyerahkan nyawa untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Tuhan memanggil kita untuk peduli. Apakah kita mempunyai hati seperti Kristus, yang peduli akan jiwa-jiwa yang sesat? Maukah kita peduli bahkan berkorban untuk mereka yang berada dalam kesesatan? 

Adalah tugas setiap Kristen sejati untuk peduli pada jiwa-jiwa yang tersesat, memberitakan berita kebenaran pada mereka yang berada dalam kegelapan dengan demikian mereka kembali pada Allah sejati. Memang bukan kehebatan kita kalau orang dapat kembali pada Tuhan namun janganlah hal ini kemudian menjadikan kita tidak pergi menginjili dan tidak peduli akan jiwa yang sesat. Tuhan mau pakai kita sebagai alat-Nya, Dia mau supaya kita yang peduli pada dunia berdosa. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang mengajarkan supaya manusia menggerogoti anugerah Tuhan bukannya ingin menjadi saluran berkat bagi orang lain. Orang pikir anugerah Tuhan itu sebagai suatu hak dimana orang berhak menuntut Tuhan; orang tidak melihat anugerah Tuhan sebagai kepedulian dan cinta kasih. Pertanyaan apa hak kita sehingga kita menuntut Tuhan untuk memberikan anugerah kepada kita? Anugerah berarti seharusnya kita tidak berhak mendapatkan dari Tuhan tetapi Dia rela beranugerah pada kita. Bagaimana respon kita terhadap anugerah Tuhan? Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus yang peduli akan orang lain, tidak menjadi egois tetapi kita menjadi saluran berkat bagi dunia. Hendaklah kita mau menuntut diri untuk belajar akan kebenaran sejati, membangun karakter dan serupa dengan Kristus. Banyak orang yang hidup terombang-ambing; wrong believe bring wrong thinking and wrong thinking bring wrong action. Sudahkan kita menangis dan peduli pada mereka yang tersesat? Amin.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071021.htm

Eksposisi Injil Matius 16: MESSIAHSHIP OF CHRIST: The Sign (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

March 4th, 2008 by dennyts

Ringkasan Khotbah : 14 Oktober 2007

Messiahship of Christ: The Sign

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 16:1-4

Tema utama dari Injil Matius pasal 16 adalah Kemesiasan Yesus Kristus, the Messiahship of Christ. Lembaga Alkitab Indonesia membaginya dalam empat segmen dan hari ini kita akan merenungkan segmen pertama dimana segmen pertama ini berkaitan erat. Tuhan bukanlah Tuhan yang jauh di sana tetapi Ia berinkarnasi datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Dengan demikian kita mendapatkan suatu gambaran utuh tentang Kristus Tuhan dan Mesias dalam tugas dan kepribadian-Nya. 

Orang Farisi dikenal sangat religius, saleh dan percaya Allah namun ironis, mereka justru melawan Tuhan. Mereka tidak memahami esensi agama sejati tetapi agama tidak lebih humanistik, orang memanipulasi Tuhan demi kepentingan diri. Manusia dicipta oleh Tuhan harusnya kembali pada Sang Pencipta dan taat mutlak pada Sang Pencipta sebagai Allah yang berdaulat. Perhatikan, kedaulatan Allah tidak bersifat diktator, Dia tidak mencipta kita seperti robot dan mengatur setiap langkah dan gerak kita. Tidak! Kedaulatan Allah adalah manusia yang memahami Firman dengan pengertian yang tepat bahwa Tuhan itulah Raja di atas segala raja yang berdaulat lalu dengan kesadaran penuh dan hati yang penuh cinta kasih kita taat dan melakukan semua Firman-Nya. Sebagai anak Tuhan sejati, Firman Tuhan itu harusnya menjadi dasar dan terimplikasi dalam seluruh aspek hidup kita namun hal itu tidaklah mudah, banyak hal bertentangan dengan dunia.

Kembali orang Farisi berusaha mencobai Tuhan Yesus dan kali ini ia bersekongkol dengan orang Saduki. Padahal kedua golongan ini sangat bertentangan tetapi mereka bisa bersepakat dan bersatu ketika menghadapi Tuhan Yesus. Dalam sejarah bangsa Israel terdapat 3 golongan besar, yakni: 1) golongan Farisi, orang yang sangat ekstrim religius dan anti politik. Mereka sangat sengit melawan pemerintahan khususnya pemerintahan Herodes dan Romawi. Orang Farisi berpendapat Israel harusnya diperintah secara theokratis dimana Allah Yahweh sebagai pemegang pemerintahan atas orang-orang Yahudi seperti dalam konsep Perjanjian Lama; 2) golongan Saduki, kelompok Yahudi liberal, mereka mengkompromikan aspek agama dengan politik. Mereka percaya, orang Yahudi seharusnya merdeka tetapi mereka tidak pernah memikirkan pemerintahan Yahudi sebagai pemerintahan yang theokratis. Orang Saduki percaya Allah tetapi mereka tidak percaya kebangkitan pada orang mati. Agama hanya berjalan di dunia sekarang dan setelah mati, kehidupan pun berhenti. Perbedaan yang sangat drastis secara metafisika dengan orang Farisi yang percaya adanya kebangkitan. Kedua golongan ini berdiri secara agama tetapi mempunyai theologi yang berbeda itulah sebabnya mereka selalu bertentangan, 3) golongan Herodian, murni bergerak di politik, tidak berurusan dengan agama bahkan cenderung anti agama, mereka hanya peduli kekuasaan. Ketiga golongan ini tidak pernah saling akur namun ironis, golongan Farisi dan golongan Saduki bersatu untuk menghadapi Tuhan Yesus. Bagi orang Farisi, Tuhan Yesus dianggap terlalu liberal karena melanggar semua peraturan atau adat istiadat yang telah ditetapkan dan bagi orang Saduki, Tuhan Yesus dianggap terlalu religius karena Ia percaya akan kebangkitan orang mati. 

Maka celakalah kita kalau mau menyenangkan semua orang, kita lebih mirip seperti bunglon dan akhirnya, kita akan menjadi musuh semua orang. Karenanya, kita harus kembali pada kebenaran sejati maka kita tidak akan mudah tergoyahkan meski diserang dari segala arah. mendapatkan hidup sejati. Manusia hidup bukan ditentukan oleh orang lain tetapi hidup manusia ditentukan oleh kebenaran Allah. Celaka kalau hidup kita ditentukan oleh sesuatu yang relatif, kita akan diombang-ambing berbagai permainan palsu yang licik dan menyesatkan kemudia berakhir dengan kebinasaan. Kristuslah satu-satunya kebenaran; Ia telah memproklamasikan kebenaran, menghidupkan kebenaran, membuktikan kebenaran dan menyatakan kebenaran di tengah dunia. 

Sebelumnya orang Farisi menyerang Tuhan Yesus karena Ia dianggap telah melanggar Taurat maka sekarang kembali mereka menyerang Kemesiasan Kristus. Mereka meminta tanda yang menyatakan bahwa benar Ia adalah Mesias. Istilah tanda, hari ini banyak digunakan oleh orang Kristen; dalam hal apapun selalu meminta tanda dari Tuhan. Ingat, Christianity not build by experience. Dunia ingin mendapatkan kebenaran dan sesuatu itu dianggap benar dilihat dari 4 aspek, yakni: 1) rasionalisme, segala sesuatu dianggap benar kalau cocok dengan logika. Pertanyaannya adalah seberapa besarkah rasio kita? Apakah semua yang rasional menurut kita itu pasti benar? Tidak! Sebab banyak aspek sifatnya supra rasional. Rasio hanyalah sarana untuk melihat kebenaran. Rasio lebih kecil dan lebih rendah dari kebenaran maka ia tidak berhak menentukan kebenaran. Dunia sangat terjebak dengan konsep ini, akibatnya dunia sulit menerima hal kebangkitan Tuhan Yesus atau Tuhan Yesus berjalan di atas air – agama dikunci di aspek logika, 2) empirisme, kebenaran tergantung dari pengalaman. Pertanyaannya adalah apakah setiap orang mempunyai pengalaman yang sama? Tidak! Lalu bagaimana mungkin kebenaran ditentukan oleh pengalaman? Pengalaman siapakah yang berhak sebagai penentu kebenaran? Pengalaman hanyalah sarana sebab banyak pengalaman yang bersifat negatif. Apakah kita perlu mencoba mengalami terlebih dahulu kalau jatuh dari lantai 20 pasti akan mati? Tidak, bukan? Kalau semua aspek harus kita alami celakalah hidup kita. Truth is not according to the experience, knowledge is not according to the experience but knowledge is back to the Truth in Words, 3) subyektifisme, 4) otorianisme. Untuk dua aspek terakhir ini tidak akan dijelaskan lebih detail.

Sesungguhnya, Tuhan Yesus telah memberikan banyak tanda mulai dari kelahiran-Nya, ketika Ia dibaptis, khotbah di atas bukit, orang buta dicelikkan, orang lumpuh berjalan, dan masih banyak lagi tanda yang semuanya sangat jelas tetapi mereka tidak pernah melihat semua tanda itu sebab mereka menetapkan diri sebagai subyek penentu kebenaran. Manusia ingin menjadi tuan atas kebenaran. Inilah kegagalan iman di titik pertama. Jelaslah, kalau orang sudah tidak mau percaya pada Kristus maka ia tidak akan pernah mengerti kebenaran sejati selama hidupnya, hal ini sangat dipahami oleh Agustinus dan ditajamkan oleh Anselmus lalu ditegaskan kembali oleh Calvin. Hanya kembali pada Allah dan kebenaran-Nya sajah kita akan memahami tentang kebenaran dan semua akan ditambahkan padamu. Agustinus menegaskan iman adalah yang utama dan rasio seperti “pembantu“ dimana iman itulah “tuan.“ Pernyataan yang tajam diungkapkan oleh Anselmus, credo ut intelligum, i believe than i understand. Sebaliknya, dunia menyatakan mengerti dulu baru mau percaya maka tidaklah heran kalau orang tidak pernah memahami kebenaran sejati. Inilah kebebalan manusia. 

Percaya itu menjadi kunci utama maka seluruh kepercayaan itu akan membangun seluruh pengertian yang sejati. Pengertian yang sejati hanya ada dalam Firman Tuhan saja. Iman menentukan semua hal. Seorang rasionalis yang percaya pada rasio maka ia akan mendapatkan semua pengertian yang berbasiskan rasionalis. Untuk hal-hal yang sifatnya irasional maka selamanya, ia tidak akan pernah mengerti. Maka percuma semua tanda kalau orang tidak mau percaya pada Kristus Tuhan, sebanyak apapun tanda tidak akan membuat mereka percaya. Orang hanya mau tanda yang cocok dengan pemikirannya. Ketika orang Farisi dan Saduki menuntut jawaban dari Tuhan Yesus maka Tuhan Yesus menyindir dengan satu kalimat tajam tentang tanda pada alam (Mat. 16:2-3). Tuhan Yesus tidak merasa perlu memberikan tanda pada orang bebal. Hanya satu hal yang Tuhan Yesus tegaskan yakni tanda Yunus lalu Tuhan Yesus pun meninggalkan mereka pergi. 

Orang Palestina umumnya hidup dari pertanian, peternakan dan perikanan sehingga mereka sangat bergantung pada alam dan cuaca karena itu menentukan nasib mereka. Demi kepentingan diri, orang mau belajar namun untuk kepentingan orang lain, orang tidak peduli. Inilah sifat manusia berdosa, hanya mementingkan diri dan tidak pernah peduli orang lain. Hal yang sama diperlakukan pada Tuhan Yesus, mereka meminta tanda yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan diri. Tuhan Yesus tidak memberikan tanda itu sebab sesungguhnya, mereka tidak pernah mau mengerti tanda. Pertanyaannya bagaimana respon kita? Kita mau mengikut iblis atau Tuhan? Iblis pasti akan memberikan tanda itu yang seperti yang kita minta. Hari ini tanpa sadar, Kekristenan telah masuk dalam format iblis, mereka menyeleweng dari Firman Tuhan; orang hanya berpikir humanistik. Orang tidak berpikir seperti Kristus berpikir, tidak mempunyai perasaan seperti perasaan Kristus – orang hanya mempunyai perasaan senasib sebagai sesama orang berdosa. Ironisnya, ketika orang berdosa dibukakan akan realita bahwa kita adalah orang berdosa, orang menjadi marah. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah iman yang sejati? Apakah yang dimaksud dengan tanda sejati?

Tanda apapun tidak akan membuat orang percaya sebab titik permasalahan adalah iman percaya. Apakah kita mau merombak seluruh pemikiran kita untuk percaya mutlak pada Kristus? Inilah iman sejati. Tuhan Yesus sedang mengajak kita untuk merombak cara berpikir dengan demikian kita tidak hanya mengerti Kristus sebagai Tuhan tetapi kita juga mengerti konsep Mesianik secara total. Mesias berarti Juruselamat, Dia yang diurapi datang untuk menyelamatkan manusia. Mesias sangat dinantikan oleh bangsa Israel namun mereka tetap tidak dapat mengerti kalau Mesias itu telah datang di depan mata bahkan telah menuntaskan tugas Kemesiasan-Nya dan kembali ke sorga, mereka tetap tidak mengerti Kristus adalah Mesias bahkan sampai hari ini mereka masih menantikan Mesias sebab Mesias yang datang tidak sesuai dengan harapan mereka.

Matius 16:1-4 mengajarkan pada kita satu hal, yakni credo ut intelligum, believe than understand. Orang harus percaya mutlak pada Firman, back to the Bible. Ketaatan berarti kembali pada kebenaran sejati dan apapun yang tidak kita suka tetap harus taat dan hal ini sangat sulit bagi orang Kristen sebab pada dasarnya, manusia adalah manusia berdosa dan pemberontak Allah. Sebagai Kristen sejati, kita harus taat mutlak pada Allah Sang Pencipta karena Ia adalah Tuhan di atas segala tuhan. Iman kepercayaan pada Kristus itulah dasar dan pondasi yang menentukan seluruh cara berpikir kita yang selama ini diisi oleh konsep berdosa.

Mengapa Kristus sebagai satu-satunya yang sah? Ada tiga aspek, yakni:

1. Kristus adalah Kebenaran absolut

Kalau orang mau melawan Kristus maka dengan mudah orang bisa mengatakan Kristus bukanlah kebenaran absolut dan tidak percaya pada-Nya maka percuma semua tanda atau pembuktian apapun diberikan sebab di titik awal orang sudah tidak percaya. Tanda apapun dan bagaimanapun akan dilawan maka orang tidak pernah mendapatkan jawaban. Kunci utama dan terpenting adalah percaya mutlak. Namun orang tidak mau percaya dan ingin menjadi penentu kebenaran, segala sesuatu dianggap benar kalau menurut dia benar. Itu bukan kebenaran sejati.

3. Kristus adalah verifikator

Kristus adalah Tuhan atas alam semesta, Dia adalah kebajikan tertinggi, summum bonum maka Dia  berhak dan layak menjadi penentu absolut apapun yang ada di dunia, menentukan baik/tidak baik, benar/tidak benar, suci/tidak suci, mulia/tidak mulia – semua value system, epistemologi dan axiologi di tangan-Nya. Kristus adalah pemegang otoritas tertinggi maka kalau kita beriman pada-Nya maka itu menjadi suatu kekuatan dalam hidup kita.

2. Kristus adalah otoritas final

Semua otoritas di bawah boleh berpendapat benar tapi kalau Sang otoritas tertinggi berkata “salah” maka semua yang benar tadi adalah salah. Sebagai contoh, pada suatu perusahaan, kepala staf, kepala departemen, manajer bersepakat dan setuju namun kalau komisaris tertinggi sebagai penentu tertinggi, tidak setuju maka semua otoritas di bawahnya gugur dengan sendirinya. Itu hanya contoh kecil dari suatu perusahaan sebab Kristus adalah pemegang otoritas tertinggi dari semua otoritas di dunia. Penentuan terakhir berada di tangan Kristus, tidak peduli apakah kita suka atau tidak suka, Dia yang menentukan semua. Dia adalah penuntun dan pemimpin langkah hidup kita maka kalau kita kembali pada Dia, alangkah indah hidup kita, hidup kita menjadi jelas ketika kita melangkah karena kita berpaut pada kebenaran sejati. Celakalah kalau kita mentautkan hidup kita pada iblis, kita akan binasa. Orang yang hidup berpaut pada Kristus akan takut untuk berbuat dosa, orang akan berusaha keras untuk hidup dalam kebenaran; ketika ia melakukan hal yang salah maka ia akan merasa risih. Firman selalu mengingatkan kita, seperti rem yang mengerem kita. Berbeda halnya kalau orang berpaut pada iblis, bapa segala penipu maka segala sesuatu yang ia kerjakan yang sifatnya berdosa, orang tidak merasa bersalah atau berdosa. Dunia tidak takut pada esensi dosa, dunia hanya takut pada akibat dosa, seperti hukuman-hukuman yang akan diterima, dan  lain-lain. Selama orang hanya takut pada akibat dosa dan tidak kembali pada penentu Allah yang final maka seluruh perbuatan dosa dapat dianulir, seluruh perbuatan jahat bisa diabaikan dan hal itu akan menjadikan kita berdosa.

Tanda Yunus menjadi tanda unik, refleksi Kemesiasan Kristus – Kristus akan mati, disalib dan tiga hari, Ia akan tinggal dalam perut bumi dan bangkit pada hari ketiga. Inilah pertama kali, Kristus membuka misi Mesias. Mesias yang hadir berbeda dengan konsep Mesias yang dimengerti oleh orang berdosa. Dalam konsep bangsa Israel, Mesias yang hadir akan menjadi Raja, keturunan Daud yang bertahta dan menguasai Kerajaan sampai menguasai seluruh wilayah Salomo bahkan lebih daripada itu, yakni kerajaan itu haruslah sebesar Kerajaan Romawi Raya. Ternyata, Mesias yang hadir berbeda total dari konsep mereka; Mesias lahir di kandang, menderita sengsara dan hina, bermahkota duri, naik ke kayu salib, mati dan bangkit. Tuhan sedang membukakan suatu status yang sangat unik tentang kehadiran-Nya, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Inilah misi Mesianik.

Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat percaya dan beriman pada Kristus, kita dibukakan dan mengerti akan kebenaran sejati bahwa Kristus adalah Mesias. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita seorang Kristen sejati? Seorang Kristen sejati akan beriman sejati – taat mutlak pada Kristus sebagai kebenaran mutlak, otoritas final dan penentu yang sah. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita seberapa jauhkan kita mengerti ”tanda”? Sudahkah hidup kita bertaut pada Kristus Sang Kebenaran sejati? Amin.  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2007/20071014.htm